Pasar Turis Asing Didominasi Malaysia, Penjualan Tiket Kereta Cepat Whoosh Tembus 1.150 Per Hari

Wisatawan asal Malaysia menjadi penyumbang terbesar pengguna asing untuk moda transportasi kereta cepat pertama di Asia Tenggara, Whoosh. Berdasarkan data terbaru dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), wisatawan asal Negeri Jiran mencatatkan rata-rata pembelian hingga 1.150 tiket Whoosh per hari sepanjang bulan September.

Tren positif ini makin memperkokoh dominasi turis Malaysia sebagai segmen penumpang mancanegara utama di koridor Jakarta-Bandung.

Sejak Whoosh beroperasi secara komersial hingga Agustus lalu, warga negara Malaysia tercatat telah melakukan 403.600 perjalanan penumpang. Angka tersebut mencakup 42,8% dari total 944.100 perjalanan yang dilakukan oleh wisatawan asing secara keseluruhan. Konsistensi minat ini terus berlanjut sepanjang periode Januari hingga Agustus, di mana turis Malaysia membukukan 105.100 perjalanan, atau sekitar 40% dari total penumpang internasional.

General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengungkapkan bahwa efisiensi waktu menjadi faktor utama kereta cepat ini sangat diminati oleh turis Malaysia. Kehadiran Whoosh memangkas waktu tempuh antara Jakarta dan Bandung secara signifikan, memungkinkan para wisatawan menjelajahi lebih banyak destinasi dalam satu kunjungan yang terbatas.

Pola perjalanan favorit para turis umumnya menghabiskan waktu 4 hari 3 malam atau 5 hari 4 malam, dengan membagi waktu menginap di Jakarta dan Bandung untuk berbelanja, berwisata kuliner, serta berkunjung ke kawasan Lembang dan Ciwidey.

Peningkatan jumlah penumpang ini juga didukung oleh kolaborasi erat antara agen perjalanan (travel agent) di Malaysia dengan mitranya di Jakarta dan Jawa Barat.

Menariknya, KCIC mencatat bahwa banyak turis Malaysia tidak hanya menjadikan Whoosh sebagai sarana transportasi antar kota, melainkan menganggap pengalaman menjajal kereta cepat itu sendiri sebagai salah satu atraksi wisata utama. Ke depan, KCIC berkomitmen terus menjaga kualitas layanan dan memperkuat kolaborasi industri pariwisata lintas negara demi mempermudah konektivitas wisata terpadu di kawasan.

Wow! Ada Layanan Dining Car di Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung

Prediksi Proyeksi Airbus: Kawasan Asia-Pasifik Butuh 19.120 Pesawat Baru Hingga Tahun 2045

Kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan bakal terus menjadi poros utama pertumbuhan industri penerbangan komersial global dalam dua dekade mendatang. Berdasarkan laporan Global Market Forecast (GMF) 2026–2045 yang dirilis oleh Airbus di Hong Kong, pertumbuhan lalu lintas penumpang di kawasan ini diperkirakan mencapai laju pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 5,1%.

Angka tersebut secara signifikan melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,9%, sehingga volume penumpang di Asia-Pasifik diprediksi meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2045.

Untuk menopang Lonjakan lalu lintas udara tersebut, Airbus memperkirakan kawasan Asia-Pasifik membutuhkan hingga 19.120 pesawat penumpang baru. Kebutuhan besar ini menyerap 45% dari total permintaan armada baru dunia yang mencapai 42.060 unit sepanjang dua dekade mendatang.

Dari 19.120 pesawat baru di kawasan tersebut, sepertiganya akan difokuskan untuk program peremajaan armada lama, sementara dua pertiga sisanya dialokasikan langsung untuk ekspansi jaringan penerbangan. Pendorong utama tren ini adalah menguatnya fundamental ekonomi kawasan, termasuk proyeksi lonjakan populasi kelas menengah yang diperkirakan menembus 3 miliar orang pada tahun 2045.

Dalam pembagian kategori pesawat, Asia-Pasifik bakal menyerap porsi terbesar untuk pasar pengiriman pesawat berbadan lebar (widebody) global, dengan total permintaan mencapai 3.420 unit baru. Jumlah tersebut mewakili hampir separuh dari seluruh kebutuhan pesawat widebody dunia.

Lini produk seperti Airbus A350 dan A330neo terus mendominasi pesanan di wilayah ini. Bahkan, varian terbesar A350-1000 kini kian diposisikan oleh Airbus sebagai penerus alami yang ideal bagi armada Boeing 777-300ER untuk rute-rute antarbenua jarak jauh.

Di sisi lain, tulang punggung konektivitas intrakawasan dan jaringan domestik tetap bertumpu pada segmen pesawat lorong tunggal (single-aisle) berkapasitas 100 hingga 244 kursi, dengan kebutuhan mencapai 15.700 unit hingga 2045. Pengoperasian tipe pesawat lorong tunggal generasi baru berdaya jelajah ekstra jauh seperti A321XLR dan A220 dinilai membuka era baru dalam peta penerbangan.

Khusus untuk A220, produsen asal Eropa ini melihat potensi besar penerbangan di rute-rute baru (thin routes), dengan peluang membuka lebih dari 800 rute antarkota baru di Asia-Pasifik yang saat ini belum terlayani.

President Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley, menjelaskan bahwa saat ini sedang terjadi evolusi mendasar pada pola konektivitas udara di Asia-Pasifik. Maskapai penerbangan kini tidak lagi hanya bergantung pada jaringan hub-and-spoke tradisional yang berpusat di bandara-bandara megacity. Sebaliknya, terdapat kecenderungan kuat untuk menyambungkan kota-kota sekunder secara langsung ke jaringan perekonomian global memanfaatkan pesawat generasi terbaru yang lebih efisien.

Posisi pasar Airbus di Asia-Pasifik sendiri tergolong sangat solid. Hingga akhir Agustus 2026, sebanyak 119 maskapai di kawasan ini telah mengoperasikan sekitar 5.000 pesawat komersial Airbus, yang menguasai 58% pangsa pasar operasional. Selain itu, Airbus memegang hampir 3.500 pesanan pesawat (backlog) untuk pengiriman masa depan, yang setara dengan 61% dari total backlog seluruh produsen pesawat jet komersial di atas kapasitas 100 kursi di Asia-Pasifik.

Proyeksi Boeing: “Lonjakan Kebutuhan Pesawat Dorong Peningkatan Tenaga Kerja Untuk Awak Kabin, Pilot dan Teknisi”

Stasiun Shin-Osaka Hadirkan Vending Machine Kerupuk Cumi Khas Osaka di Peron Shinkansen

Perjalanan menggunakan kereta cepat Shinkansen di Jepang terkenal akan kecepatannya yang presisi. Bagi para penumpang yang memiliki jadwal padat dan harus berpindah kota dalam waktu singkat, membeli oleh-oleh khas daerah kerap kali menjadi kendala akibat terbatasnya waktu untuk berbelanja di dalam stasiun.

Menjawab kebutuhan tersebut, sebuah vending machine berdesain kuning mencolok kini hadir secara khusus di peron Shinkansen Stasiun Shin-Osaka untuk menjajakan kudapan khas lokal secara serba cepat.

Mesin berpendingin ini menjual produk Osaka Ikaten, yakni kripik cumi panggang bersalut adonan (sea squid crackers) buatan produsen camilan bersejarah asal Nagoya, Bankaku Sohonpo.

Meski perusahaan tersebut telah berdiri sejak 127 tahun lalu dan terkenal dengan produk olahan udangnya (Yukari), mereka meracik Osaka Ikaten khusus untuk menangkap esensi kuliner khas Osaka, yaitu ikayaki (pancake cumi panggang tradisional). Kombinasi rasa cumi gurih yang dipadukan dengan sentuhan daun shiso (kemangi Jepang) menjadikan kripik ini salah satu buah tangan paling populer sejak pertama kali diperkenalkan 11 tahun lalu.

Inisiatif penempatan vending machine di dalam peron ini bertujuan memudahkan penumpang yang ingin langsung membeli oleh-oleh tanpa harus keluar dari area peron atau mengantre di toko suvenir stasiun.

Mesin ini ditempatkan di peron jalur 25 dan 26 Stasiun Shin-Osaka, tepatnya di dekat titik pemberhentian Gerbong 9 Shinkansen. Satu kemasan isi 12 porsi Osaka Ikaten dijual seharga 950 yen (sekitar Rp99.000) dan hanya menerima pembayaran nontunai (cashless payment) demi mempercepat proses transaksi.

Langkah ini menambah deretan otomatisasi fasilitas di Stasiun Shin-Osaka yang semakin memanjakan para pengguna jasa kereta api. Sebelumnya, JR Central juga telah mengoperasikan berbagai vending machine unik di sepanjang peron Shinkansen, mulai dari mesin penyedia es batu Rock Ice Glass, kopi segar, hingga es cream populer. Kehadiran inovasi ini membuktikan bahwa efisiensi transportasi modern di Jepang dapat berjalan berdampingan dengan promosi kekayaan kuliner lokal.

Jepang Punya Vending Machine ‘Tanggap Darurat’ – Gratiskan Makanan dan Minuman Saat Terjadi Bencana Alam

Terowongan Karangkates I dan II: Bangunan Ikonik Karya Anak Bangsa Sejak Tahun 1970

Keindahaan jalur kereta api saat melakukan perjalanan tentu penumpang sangat menikmatinya. Ditambah lagi jalurnya yang melewati berbagai kawasan yang sangat terkenal dengan pemandangan yang menawan, tentu bisa memanjakan mata yang melihatnya. Ya, berbagai kawasan sepanjang jalur kereta api di Pulau Jawa terdapat kawasan yang bisa dibilang terkenal dengan panorama yang menakjubkan.

Berbagai pemandangan gunung, sawah, latar belakang pedesaan bahkan lembah yang dilewati kereta api menambah daya tarik penumpang selama di perjalananan. Tak hanya itu, melewati terowongan yang tersebar di jalur Pulau Jawa pun memiliki cerita bahkan legenda yang hingga kini masih kental dengan sejarahnya. Apalagi diketahui bahwa jika kereta api melintasi terowongan seakan bisa menembus gunung atau bukit di kegelapan. Namun, bagaiamana jadinya jika terowongan yang dilewati kereta api menembus perairan bahkan waduk?

Ya, saat memasuki wilayah Jawa Timur, jalur kereta api ini dikelilingi oleh lanskap pegunungan dan waduk besar. Antara Stasiun Pogajih dan Sumberpucung, kereta melintasi dua terowongan berdekatan, yaitu Terowongan Karangkates I dan II, serta menyeberangi Jembatan Lahor. Dari kejauhan, kemegahan Bendungan Ir. Sutami (Karangkates) terlihat membentang luas dipadu dengan hijaunya pepohonan dan lereng gunung yang menyeimbangkan perjalanan.

Pembangunan terowongan ini tidak lepas dari proyek raksasa pemerintah Indonesia saat itu yang ingin membendung air Sungai Brantas lewat pembuatan Waduk Karangkates. Tujuan utama pembangunan Waduk Karangkates adalah untuk membangkitkan energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan menyediakan air irigasi untuk pertanian.

Sebenarnya, di area tersebut, Belanda pernah membangun jalur kereta api aktif. Akan tetapi, karena ada pembangunan waduk yang memakan area jalur kereta api, pemerintah pun harus merelokasinya dan membuat jalur yang baru.

Akhirnya, pemindahan dilakukan ke arah utara. Hasil dari studi kelayakan yang dilakukan saat itu, jalur rel kereta api berada di ketinggian 240 mdpl. Namun, air yang direncanakan terbendung di area bendungan bisa mencapai 279 mdpl. Kondisi alam ini membuat pemerintah harus membangun jalur baru dan dua buah terowongan. Dari sini, lahirlah Terowongan Karangkates I dan II yang menjadi terowongan buatan Indonesia pertama pascakemerdekaan.

Dari sejarah yang terungkap, pembangunan terowongan ini sebenarnya sudah dimulai pada 1965, tetapi sempat terhenti akibat kendala biaya. Proyek terowongan karya anak bangsa itu diresmikan pada 1970.

Dalam sebuah unggahan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI di akun Instagram, terowongan Karangkates I memiliki panjang hingga 892 meter. Terowongan ini juga menjadi salah satu terowongan terpanjang di Indonesia.

Sementara itu, Terowongan Karangkates II memiliki panjang 440 meter. Terowongan itu terletak tak jauh dari Terowongan Karangkates I, hanya berjarak kurang lebih 500 meter saja.

Terowongan Karangkates pernah tertutup material longsor di tahun 2022. Akibatnya, perjalanan kereta sempat tertahan dan ada yang memutar melalui jalur lain. Sampai saat ini, Terowongan Karangkates menjadi infrastruktur perkeretaapian aktif yang dilewati ‘ular besi’ setiap harinya. Pembangunannya di masa transisi setelah kemerdekaan menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kemampuan teknik dan keahlian yang mumpuni, menunjukkan kemandirian bangsa di bidang konstruksi.

Tiga Terowongan Jalur Ganda ‘Hiasi’ Jalur Kereta Api Lintas Selatan Jawa

Mengapa Banyak Awak Kabin Memilih “Commute” Jarak Jauh ke Bandara Tempat Berdinas?

Bagi sebagian besar pekerja Kantoran, perjalanan lintas kota atau memakan waktu lebih dari dua jam setiap hari menuju tempat kerja sudah dianggap sangat menguras tenaga. Namun, dalam dunia penerbangan, tidak sedikit awak kabin (flight attendant) maupun pilot yang justru memilih tinggal di kota lain—bahkan negara lain—yang jaraknya ratusan hingga ribuan mil dari bandara basis tempat mereka ditugaskan (home base).

Fenomena yang dikenal di industri penerbangan sebagai commuting by air ini melibatkan para awak kabin yang harus terbang menumpang penerbangan lain terlebih dahulu hanya untuk mencapai bandara awal tugas mereka. Di balik risiko kelelahan dan kerumitan logistik tersebut, terdapat sejumlah alasan strategis mengapa profesi ini memilih gaya hidup commute jarak jauh.

1. Fleksibilitas Menentukan Tempat Tinggal dan Keseimbangan Hidup
Salah satu keunggulan terbesar bekerja di maskapai penerbangan adalah kebebasan relatif untuk memilih tempat tinggal. Banyak bandara pusat (hub) utama tempat awak kabin ditempatkan berada di kota-kota megapolitan dengan biaya hidup (cost of living) dan harga hunian yang sangat tinggi, seperti New York, San Francisco, atau London.

Dengan memilih commute, awak kabin dapat tetap tinggal di kota-kota kecil atau daerah yang harga propertinya jauh lebih terjangkau. Bahkan bagi penerbangan lintas negara, perbedaan nilai tukar mata uang memungkinkan awak kabin menikmati standar hidup yang lebih tinggi di negara asalnya sembari memegang gaji berstandar bandara hub utama. Selain urusan finansial, keberadaan keluarga, pasangan yang bekerja di lokasi tertentu, hingga sekolah anak menjadi alasan kuat mengapa mereka enggan berpindah domisili setiap kali mendapatkan alokasi basis baru.

2. Alokasi Base dan Tingkat Senioritas (Seniority)
Di awal karier, pramugari atau pramutra umumnya tidak memiliki kebebasan penuh untuk memilih bandara base mereka. Maskapai menempatkan anggota kru baru sesuai kebutuhan operasional, yang kerap kali berlokasi jauh dari kampung halaman sang awak kabin.

Bagi mereka yang berada di tingkat senioritas rendah (junior), opsi untuk mengajukan pindah base membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dibandingkan harus memindahkan seluruh kehidupan dan rumah tangganya secara permanen ke kota base yang belum tentu bertahan lama, banyak awak kabin muda memilih untuk commute secara berkala hingga senioritas mereka cukup untuk mengajukan mutasi ke bandara yang diinginkan.

3. Fasilitas Staff Travel dan Standby Flight
Sistem perjalanan commute ini dimungkinkan berkat adanya fasilitas staff travel atau tiket konsesi yang disediakan oleh maskapai maupun jaringan kemitraan antar-maskapai. Awak kabin dapat terbang menuju base mereka tanpa biaya atau dengan biaya yang sangat terpotong.

Kendati demikian, penerbangan ini menggunakan status standby (non-revenue). Artinya, awak kabin baru bisa mendapatkan kursi jika seluruh penumpang berbayar telah terakomodasi. Risiko tidak mendapatkan tempat duduk di tengah tingginya tingkat keterisian pesawat (load factor) menjadi tantangan tersendiri, sehingga para commuter harus memperhitungkan jadwal penerbangan cadangan jauh-jauh hari agar tidak terlambat melapor untuk dinas (check-in duty).

Sisi Lain: Risiko Kelelahan dan Pengeluaran Tambahan
Meski menawarkan fleksibilitas gaya hidup, commuting antar-kota atau lintas negara bukan tanpa kendala. Maskapai penerbangan pada dasarnya tidak mendorong skenario ini karena potensi risiko keterlambatan serta manajemen risiko kelelahan (fatigue). Sebelum memulai tugas penerbangan jarak jauh, awak kabin dituntut berada dalam kondisi fisik yang prima.

Selain itu, biaya tambahan seperti sewa crash pad (hunian bersama sementara untuk kru) atau hotel di dekat bandara base sebelum hari H penerbangan, hingga pajak atau retribusi bandara tertentu pada tiket standby, tetap membutuhkan alokasi anggaran pribadi yang tidak sedikit.

Pada akhirnya, commuting by air adalah bentuk penyesuaian gaya hidup unik di industri penerbangan. Bagi para awak kabin yang telah terbiasa, pengorbanan waktu dan tenaga di perjalanan terbayar dengan kualitas waktu istirahat yang utuh bersama keluarga di rumah saat hari libur tiba.

“Jam Tubuh” Berubah, Pilot dan Awak Kabin Berpotensi Kelelahan Fisik dan Mental

Kendaraan Ini Termasuk Prioritas Tapi Tetap Dahulukan Perjalanan Kereta Api, Apa Saja?

Tentunya sudah pasti tahu, bahwa setiap pengguna jalan raya saat lewat di perlintasan kereta api harus waspada dan berhati-hati. Meskipun sudah memiliki palang pintu dan pos penjagaan resmi maupun yang tidak memiliki palang pintu, kendaraan yang lewat tentu harus menaati peraturan lalu lintas.

Di jalan raya tentu banyak kendaraan yang menjadi prioritas bahkan dalam keadaan darurat. Namun, saat melintasi perlintasan kereta api yang sedang tertutup wajib berhenti dan mendahulukan jalannya kereta api. Nah, tentu saja kereta api tetap harus didahulukan ketika akan melintas di perlintasan sebidang, termasuk saat ambulans atau mobil pemadam kebakaran berada di jalan yang sama.

Status sebagai kendaraan prioritas tidak memberi hak untuk melintas lebih dulu di atas jalur rel. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh pengguna jalan yang menghadapi perpotongan langsung antara jalan raya dan rel kereta api. Bahkan menurut pihak berwajib menegaskan kendaraan prioritas tetap wajib memberi kesempatan kereta api melintas. Artinya, kendaraan prioritas sekalipun tetap wajib mengalah dan memberikan kesempatan kepada kereta api untuk melintas.

Perlintasan sebidang merupakan lokasi ketika jalur kereta api dan jalan raya bertemu pada bidang yang sama. Pada area ini, pengguna jalan perlu memperhatikan perjalanan kereta api sebelum melanjutkan perjalanan. Hak utama kereta api di perlintasan sebidang tercantum dalam Pasal 124 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Pasal itu menegaskan pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api pada perpotongan sebidang antara jalur rel dan jalan.

Ketentuan tersebut berbeda dengan aturan mengenai urutan kendaraan yang memperoleh prioritas saat menggunakan jalan raya. Karena itu, daftar kendaraan prioritas tidak menghapus kewajiban untuk mendahulukan kereta api di perlintasan sebidang. Mobil pemadam kebakaran yang sedang menjalankan tugas tetap perlu memberi kesempatan ketika kereta api akan melintas. Prinsip yang sama juga berlaku bagi ambulans yang membawa orang sakit dan kendaraan lain yang mendapat prioritas.

Menurut Pasal 134 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur tujuh kelompok kendaraan yang berhak memperoleh prioritas. Hak tersebut berlaku saat kendaraan menjalankan kepentingan sesuai fungsi masing-masing di jalan raya, seperti berikut ini:
1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas.
2. Ambulans yang mengangkut orang sakit.
3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.
4. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia.
5. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara.
6. Iring-iringan pengantar jenazah.
7. Konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Ketika kendaraan prioritas mendekati rel dan kereta api akan melintas, perjalanan kereta api tetap menjadi yang harus didahulukan. Ketentuan itu berlaku pula bagi kendaraan pimpinan lembaga negara maupun kendaraan pejabat negara asing.

Pengguna jalan tidak dapat menggunakan status kendaraan prioritas sebagai alasan untuk melewati jalur kereta api lebih dahulu. Kewajiban tersebut tetap mengacu pada Pasal 124 Undang-Undang tentang Perkeretaapian.
Aturan keselamatan di perlintasan sebidang berjalan berdampingan dengan ketentuan prioritas kendaraan di jalan raya. Setiap kendaraan dalam daftar Pasal 134 tetap wajib memberikan kesempatan kepada kereta api untuk melintas.

Benda Ini Sangat Penting Saat Kereta Api Akan Melintas di Perlintasan, Inilah Bentuk dan Cara Kerjanya

Jangan Ngeyel! Ini Aturan Pemakaian Stop Kontak di Kereta Api yang Benar

Kejadian di Kereta Api (KA) Argo Semeru rute Surabaya Gubeng – Gambir terjadi pada penumpang yang mengisi daya power bank di stop kereta api tiba-tiba meledak dan mengeluarkan asap putih pekat. Ya, peristiwa tersebut tentu sangat beresiko pada perjalanan kereta api karena bisa saja terjadi kebakaran yang tidak diduga akibat kelalaian penumpang itu sendiri.

Beruntung, Petugas KAI yang sedang bertugas, termasuk tim pemeriksaan tiket dan kondektur, bergerak cepat menangani munculnya asap tersebut. Diduga, powerbank tersebut milik seorang penumpang yang sedang mengisi daya menggunakan stopkontak saat perjalanan. Kejadian tersebut  diunggahan oleh pengguna X @sahabat_kereta pada Rabu (9/9/2026).

Unggahan tersebut mendapat tanggapan dari akun X resmi PT Kereta Api Indonesia @KAI121. PT KAI melalui tanggapannya di X menyampaikan bahwa fasilitas stopkontak atau colokan listrik yang ada di dalam kereta api hanya diperuntukkan guna mengisi daya gawai seperti handphone, tablet, laptop, dan TWS yang tidak memiliki konsumsi watt besar. Melalui unggahan di akun instagram resmi @kai121_, PT KAI kembali mengingatkan calon penumpang untuk memperhatikan aturan penggunaan powerbank di dalam kereta api.

Yuk, kenali lagi, seperti apa aturan penggunaan stop kontak di kereta api:

1. Hanya untuk alat elektronik berdaya kecil
Di kabin penumpang kereta api, tersedia dua stop kontak yang menempel di dinding kereta api di tiap satu set kursi. Stop kontak tersebut boleh dimanfaatkan oleh para penumpang. Namun, penumpang tak boleh seenaknya menggunakan stop kontak tersebut untuk seluruh barang elektroniknya.

Fasilitas stop kontak hanya boleh digunakan untuk mengisi daya gawai saja, seperti ponsel, laptop, tablet, konsol game, true wireless stereo (TWS), power bank, dan perangkat elektronik lain yang tidak membutuhkan konsumsi daya watt yang besar.

2. Penggunaan elektronik berdaya besar dapat menyebabkan gangguan kelistrikan di kereta
Stop kontak di kereta api tidak boleh digunakan untuk menyalakan alat elektronik untuk daya yang besar. Perangkat elektronik rumah tangga, seperti kipas angin, rice cooker, panci listrik, catokan rambut, dan setrika dilarang untuk digunakan di kereta api.

Jika penumpang menyalakan alat elektronik berdaya watt besar di kereta, maka akan mengganggu fungsi kelistrikan kereta secara keseluruhan. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan membahayakan penumpang serta awak kereta lainnya.

3. Penggunaan stop kontak yang tidak bijak menimbulkan kerugian
Terdapat batasan kapasitas daya listrik di kereta api. Apabila ada konsumsi daya listrik yang besar dalam waktu yang bersamaan dan melebihi kapasitas daya akan menimbulkan banyak masalah, seperti potensi mati listrik dan gangguan sinyal telekomunikasi di kereta.

Gangguan listrik juga akan menyebabkan gangguan lampu di dalam kabin kereta, gangguan AC, hingga gangguan kereta makan. Hal ini akan menyebabkan pelayanan terhambat dan tidak optimal yang mengakibatkan penumpang jadi tidak puas.

Oleh karena itu, hindari penggunaan stop kontak untuk alat elektronik berdaya besar agar tidak merugikan dan membahayakan penumpang maupun awak kereta api. Di dinding kereta api juga sudah dipasangi informasi mengenai barang elektronik yang boleh dicolokan di stop kontak. Demi kenyamanan bersama, aturan penggunaan stop kontak ini harus ditaati bersama.

Yuk Disimak, Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Kita Naik Kereta Api

Kapal Ro-Ro KM Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Misi Pencarian Ratusan Penumpang Terus Dikerahkan

Tragedi pelayaran melanda perairan Laut Jawa pada Minggu dini hari. Kapal motor penumpang berjenis Roll-on/Roll-off (Ro-Ro), KM Virgo Transport 8, terbalik dan tenggelam saat berlayar dalam rute Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.

Kapal yang membawa total 243 orang—terdiri dari 213 penumpang dan 30 awak kapal—dihantam cuaca ekstrem dengan ketinggian gelombang mencapai lebih dari 2,5 meter. Tim SAR gabungan berhasil menyelamatkan lebih dari 100 korban selamat, sementara proses evakuasi dan pencarian korban lainnya terus dilakukan di lokasi kejadian.

Insiden mengerikan tersebut terjadi ketika kapal miring secara mendadak akibat gempuran ombak besar sebelum akhirnya terbalik. Kesaksian dari salah satu korban selamat menggambarkan kepanikan luar biasa di atas kapal; ia terpaksa berpegangan erat pada railing saat badan kapal mulai miring hingga akhirnya memanjat ke bagian lambung yang lebih tinggi demi menyelamatkan diri.

Operasi pencarian dan pertolongan skala besar terus dikerahkan dengan melibatkan helikopter, kapal perang TNI AL, kapal Basarnas, serta dukungan dari kapal-kapal niaga yang melintas di sekitar koordinat kejadian. Sementara itu, suasana haru menyelimuti para keluarga korban yang menunggu kepastian kabar di posko Pelabuhan Trisakti maupun Tanjung Perak.

Dari aspek teknis pelayaran, KM Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis Passenger/Ro-Ro Cargo Ship yang terbilang berusia lanjut. Kapal dengan nomor IMO 8625179 ini dibangun di galangan kapal Kurushima Dockyard, Onishi, Jepang, pada tahun 1987.

Sebelum berganti nama dan berbendera Indonesia untuk melayani rute lintas pulau, armada ini beroperasi selama puluhan tahun di perairan Jepang di bawah nama Ferry Kurushima untuk melayani rute Matsuyama–Kokura. Kapal berbobot kotor 4.277 Gross Tonnage (GT) dan Deadweight (DWT) 2.612 ton ini memiliki dimensi panjang keseluruhan (Length Overall/LOA) mencapai 119 meter serta lebar 21,01 meter.

Karakteristik propulsi KM Virgo Transport 8 didukung oleh dua unit mesin diesel 8-silinder yang sanggup menghasilkan total daya sebesar 8.238 kW atau setara 11.200 PS. Saat beroperasi ideal, kapal ini mampu melaju pada kecepatan jelajah sekitar 14,5 knot hingga kecepatan maksimum 17,2 knot, walau rancangan awalnya di Jepang sanggup dipacu hingga 21 knot.

Kapal Ro-Ro ini sejatinya memiliki kapasitas angkut maksimum yang cukup besar, yakni hingga 756 penumpang serta sanggup memuat hingga 73 unit truk dan 41 mobil penumpang pada geladak kargonya.

Kendati angka manifes 243 orang pada pelayaran nahas tersebut berada di bawah batas kapasitas maksimum penumpang, faktor umur kapal yang telah menginjak 39 tahun serta hantaman ombak tinggi diduga kuat menjadi faktor kritis yang memicu ketidakstabilan struktur kapal saat mengarungi cuaca buruk.

Penyelidikan mendalam mengenai faktor penyebab pasti tenggelamnya KM Virgo Transport 8 nantinya akan ditangani oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) setelah prioritas utama evakuasi dan pencarian korban di Laut Jawa diselesaikan oleh tim SAR gabungan.

Mengenal Jenis dan Kapasitas Sekoci (Perahu Penyelamat) di Kapal Penumpang

Diresmikan Bulan September, Naik LRT Manggarai – Kelapa Gading Bisa Ditempuh Cuma 28 Menit

Kabar bahwa perjalanan Light Rapid Transit atau LRT rute Manggarai – Kelapa Gading akan diresmikan dalam kurun waktu bulan September 2026. Sebelumnya LRT Jakarta tersebut bisa dioperasikan untuk masyarakat umum pada Agustus kemarin. Namun karena adanya suatu hal termasuk ditundanya peresmian oleh Presiden RI Prabowo Subianto, maka peresmian dibatalkan.

Namun, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan LRT Jakarta rute Manggarai – Kelapa Gading diresmikan bulan September ini. Dia memastikan kesiapan operasional LRT tersebut sudah hampir sepenuhnya rampung. Pramono mengatakan LRT Manggarai – Kelapa Gading sudah siap dari sisi persinyalan hingga perkeretaapian. Penataan kawasan di sekitar stasiun juga terus dilakukan untuk mendukung operasional LRT.

Diketahui bahwa LRT tersebut menjalani uji coba operasional pada Kamis, 10 September 2026. Dalam uji coba tersebut, kereta melaju dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.
Uji coba perdana operasional dan layanan LRT rute Kelapa Gading (KPG)-Manggarai (MGI). Uji coba ini diikuti Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaludin, Dirut LRT Aditia Kesuma Negara, Dirut Jakpro Iwan Takwin, dan jajaran lainnya.

Dalam uji coba itu, LRT Jakarta dioperasikan sebanyak dua kali perjalanan pulang-pergi atau round trip menggunakan dua trainset. Perjalanan pertama dimulai pukul 14.55 WIB. Masing-masing perjalanan melayani rute Stasiun Kelapa Gading menuju Stasiun Manggarai dan kembali lagi ke Stasiun Kelapa Gading.

Kereta kemudian bergerak menuju Stasiun Manggarai dengan melewati 10 stasiun. Perjalanan dari Kelapa Gading menuju Manggarai berlangsung sekitar 28 menit. Selama perjalanan, LRT melaju dengan kecepatan maksimal 40 km/jam.

Selama uji coba, kecepatan kereta dibatasi maksimal 40 km/jam dengan kapasitas layanan maksimal 100 penumpang. Direktur Utama Jakpro Iwan Takwin mengatakan uji coba dilakukan untuk memastikan kesiapan layanan sebelum LRT Jakarta memasuki operasional penuh.

Selain itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan uji coba dilakukan sebagai tindak lanjut rapat dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA). Uji coba dilakukan untuk menyempurnakan layanan sebelum resmi beroperasi.

Budi mengatakan mekanisme pendaftaran untuk masyarakat umum nantinya akan diumumkan lebih lanjut melalui website LRT Jakarta. Untuk tahap awal, masyarakat yang ikut uji coba akan mendapatkan undangan. Dalam uji coba hari ini, perjalanan dilakukan pada rute Kelapa Gading hingga Manggarai. Budi mengatakan masukan dari berbagai pihak yang sebelumnya telah melakukan uji coba juga telah ditampung untuk penyempurnaan layanan.

Untuk sementara, masyarakat yang mengikuti uji coba tidak dikenakan biaya. Penumpang juga diberikan kartu untuk mencoba sistem ticketing, termasuk mekanisme tap in dan tap out. Budi menambahkan pelaksanaan uji coba hari ini salah satunya difokuskan untuk memastikan sistem gate dan ticketing berjalan dengan baik.

Nantinya, Stasiun Manggarai akan menjadi titik integrasi LRT dengan KRL Commuter Line, Transjakarta, serta kereta bandara menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Integrasi tersebut dirancang untuk memperkuat konektivitas antarmoda di Jakarta. Kehadiran jalur baru juga diharapkan membantu menekan emisi karbon dan mendukung target Net Zero Emission pemerintah.

Inilah yang Terjadi Jika Stasiun Manggarai Terintegrasi dengan LRT Jakarta

Mundur Lagi dari Jadwal, Kereta Cepat Generasi Baru TGV-M Baru Bisa Dinaiki Penumpang Musim Gugur Ini

Operator kereta api nasional Perancis, SNCF Voyageurs, kembali memutuskan untuk menunda jadwal peluncuran komersial kereta cepat generasi terbarunya, TGV-M (Avelia Horizon). Kereta super cepat buatan manufaktur Alstom yang awalnya dijadwalkan mulai melayani jalur utama pada libur musim panas pertengahan tahun ini, kini jadwal pengoperasiaannya digeser ke musim gugur (September 2026).

Penundaan ini diambil demi mematangkan serta menyempurnakan detail-detail teknis dan perangkat lunak (software) kendaraan hingga ke tingkat paling presisi sebelum benar-benar diizinkan mengangkut penumpang secara reguler.

Meskipun otoritas regulator keselamatan perkeretaapian Uni Eropa (European Union Agency for Railways / ERA) telah menerbitkan izin edar dan otorisasi komersial resmi, manajemen SNCF memilih bersikap ekstra hati-hati. Pihak operator menolak terburu-buru mengoperasikan kereta cepat baru tersebut di tengah puncak musim liburan demi menghindari potensi gangguan teknis maupun mogok di jalur padat.

Sebagai gantinya, periode pra-komersial akan diperpanjang selama beberapa minggu dengan melibatkan ratusan personel untuk menguji keandalan sistem elektronik terintegrasi, fungsionalitas fasilitas di dalam kabin, hingga penyempurnaan simulasi operasional kru di lapangan.

Keputusan penundaan ini sekaligus mengubah skema komersialisasi awal yang disiapkan SNCF. Daripada meluncurkan hanya empat rangkaian (trainset) pada bulan Juli, penundaan hingga musim gugur memungkinkan SNCF mengoperasikan sekaligus enam rangkaian TGV-M yang sudah benar-benar matang dan siap tempur untuk memperkuat armada layanan TGV INOUI di rute padat seperti Paris-Lyon-Marseille. Jumlah armada TGV-M ini ditargetkan terus bertambah hingga mencapai 13 rangkaian pada akhir tahun 2026 dari total 130 unit yang telah dipesan oleh grup SNCF.

Kereta TGV-M sendiri digadang-gadang sebagai armada masa depan perkeretaapian Perancis karena menawarkan peningkatan kapasitas penumpang hingga 740 kursi (naik 20% dibandingkan armada TGV generasi sebelumnya), efisiensi konsumsi energi hingga 20% lebih hemat, serta efisiensi biaya perawatan hingga 30%.

Meski publik dan penumpang reguler harus sedikit lebih bersabar hingga musim gugur tiba, langkah SNCF mematangkan detail teknis ini dipandang sangat krusial untuk menjaga standar keselamatan dan kenyamanan layanan kereta cepat Prancis di tengah makin ketatnya persaingan dengan operator kereta swasta di Eropa.

Lolos Uji Sertifikasi Eropa, Kereta Cepat Dua Tingkat TGV-M Siap Melesat 320 Km/Jam!