Arus balik pertama 24 April hingga 25 April 2023 telah terlaksana dengan lancar. Untuk arus balik kedua akan diantisipasi dengan ketersediaan layanan dari Transjakarta dari terminal Pulogebang ke sejumlah terminal di Jakarta mulai 26 April hingga 1 Mei 2023 mulai pukul 22:00 WIB -05:00 WIB.
“Transjakarta menyediakan sebanyak 6 (enam) rute tambahan dari Terminal Pulogebang menuju ke terminal lainnya antara lain Terminal Senen, Tanjung Priok, Kampung Rambutan, Pasar Minggu, Kalideres, dan Pulogadung,” kata Apriastini Bakti Bugiansri
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).
Penyediaan layanan Transjakarta dari Terminal Pulogebang ke sejumlah terminal mulai pukul 22:00 WIB – 05:00 WIB.
Ia mengatakan, terminal Pulogebang menjadi pusat pergerakan penumpang bus. Dengan ketersediaan layanan dari Transjakarta akan memudahkan masyarakat yang tiba dari kampung halaman untuk menuju ke tujuan masing-masing dengan aman dan nyaman.
Masyarakat bisa memanfaatkan layanan Transjakarta yang beroperasi 24 jam untuk 13 koridor utama.
Garuda Indonesia terus memperkuat kesiapan operasional penerbangannya jelang musim Haji 1444H/ 2023, salah satunya dengan menyiapkan sedikitnya 14 armada untuk melayani calon jemaah Haji asal Indonesia.
Adapun ke-14 armada tersebut nantinya akan melayani calon jemaah Haji asal Indonesia dari dan menuju Tanah Suci mulai tanggal 24 Mei – 2 Agustus 2023, dimana pada tahun ini Garuda Indonesia mendapatkan kepercayaan untuk menghadirkan layanan penerbangan Haji bagi sedikitnya 104.172 calon jemaah Haji.
Kesiapan operasional penerbangan haji tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama pengangkutan udara jemaah haji regular dan petugas penyelenggara ibadah haji kelompok terbang tahun 1444 Hijriah /2023 Masehi yang dilaksanakan langsung oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji & Umrah Kementerian Agama RI, Hilman Latief di Kantor Pusat Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa sebagai national flag carrier, dengan pengalaman melayani haji selama hampir 7 dekade, Garuda Indonesia terus mengoptimalkan komitmennya untuk menjalankan tugas penting melayani jemaah Haji asal Indonesia ke Tanah Suci dengan menghadirkan penerbangan yang aman dan nyaman.
“Komitmen tersebut salah satunya kami laksanakan dengan memastikan ketersediaan armada dimana pada tahun ini Garuda Indonesia akan mengoperasikan 14 pesawat yang 7 diantaranya disediakan melalui skema wet lease dengan pihak lessor. Kami juga memastikan bahwa seluruh pesawat berbadan lebar (wide body) yang akan digunakan untuk melayani calon jemaah haji dalam keadaan prima dan layak terbang melalui serangkaian inspeksi berlapis, termasuk perawatan menyeluruh terhadap mesin pesawat serta keseluruhan komponen vital pesawat lainnya.”, jelas Irfan.
Seluruh 104.172 calon jemaah Haji tahun ini akan dibagi ke dalam 287 kelompok terbang (kloter) dan akan diberangkatkan dari 9 (sembilan) embarkasi yaitu Aceh, Medan, Padang, Jakarta, Solo, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, dan Lombok. Dalam musim Haji ini Garuda Indonesia akan mengoperasikan 7 (tujuh) Boeing B777-300, 4 (empat) Airbus A330-300, 3 (tiga) Airbus A330-900.
Lebih lanjut, sebagai upaya untuk memberikan nilai tambah layanan bagi para jemaah, Garuda Indonesia akan menghadirkan berbagai pilihan hiburan In-flight Entertainment bernuansa islami selama penerbangan. Tak hanya itu, para jemaah juga akan mendapatkan inflight catering sesuai menu khas daerah embarkasi.
Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji & Umrah Kementerian Agama RI, Hilman Latief turut mengungkapkan bahwa, “Kami mengucapkan apresiasi kepada Garuda Indonesia yang terus berdiskusi intensif dalam mempersiapkan kesiapan operasional penerbangan haji tahun ini. Insya Allah, Garuda Indonesia akan memberangkatkan haji regular sebanyak 104.172 yang terdiri dari 9 embarkasi.
Hilman menambahkan, “Dapat kami sampaikan, 30 persen jemaah Indonesia tahun ini berusia diatas usia 65 tahun. Untuk itu, kebijakan pendampingan lansia harus terus ditingkatkan termasuk dukungan dari penyedia layanan penerbangan termasuk Garuda Indonesia untuk menghadirkan kemudahaan bagi kebutuhan jamaah lansia selaras dengan visi kita bersama memberikan layanan yang inklusif bagi seluruh jamaah haji”.
Terkenal sebagai kota yang sarat akan perguruan tingginya membuat sebuah kota kecil di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat bernama Jatinangor ini seolah menjadi kota idaman setiap muda-mudi yang hendak melanjutkan pendidikannya ke bangku perkuliahan. Walaupun hanya ada satu main road di kota yang terletak di sebelah timur Bandung ini, tapi siapa sangka kehadiran beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia telah mengubah takdirnya, yang semula hanyalah sebuah kota kecil yang menjadi penghubung antara Bandung – Sumedang, kini telah berevolusi menjadi kota yang ramai oleh anak kuliahan.
Nah, bagi Anda yang pernah mengenyam masa pendidikan di Jatinangor, tentu sudah tidak asing lagi dengan salah satu jembatan peninggalan Belanda yang kerap diidentikkan dengan cerita mistis. Ya, Jembatan Cincin. Sebenarnya, apa sejarah yang menyelimuti jembatan yang berdiri di atas lahan persawahan warga ini? Lalu apa yang membuat para mahasiswa atau warga enggan melintasi jembatan ini ketika hari mulai gelap?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jembatan ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik Belanda, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1917 silam. Tujuannya sederhana, yaitu untuk menghubungkan daerah Rancaekek dan Tanjungsari, sedangkan keretanya sendiri menunjang kelancaran akomodasi warga dan hasil komoditas utama di sana yaitu karet.
Pada awalnya, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf hanya akan membangun jalur kereta yang menghubungkan Rancaekek – Jatinangor saja yang panjangnya kurang lebih 5,25 km untuk keperluan mengangkut hasil perkebunan. Namun, pihak militer Belanda kala itu meminta agar pembangunan jalur kereta juga diperuntukkan bagi para warga. Alhasil, diperpanjanglah rencana pembangunannya hingga ke Tanjungsari dan Citali sepanjang 11,5km.
Keterbatasan dana akhirnya memaksa para penguasa kala itu untuk kembali merubah rencananya dan mengurungkan niat mereka membangun jalur kereta hingga daerah Citali. Akhirnya, jalur Rancaekek – Jatinangor – Tanjung Sari resmi beroperasi pada tahun 1921 dan digunakan untuk mengangkut teh dan hasil bumi dari daerah Sumedang Barat. Adapun stasiun yang menunjang pengoperasian di jalur ini antara lain Stasiun Rancaekek, Halte Bojongloa, Halte Jatinangor, Halte Cileles, dan Stasiun Tanjungsari.
Jembatan Cincin Jaman Doeloe. Sumber: istimewa
Lain Belanda, lain pula Jepang. Nippon yang mulai menduduki Bumi Pertiwi sejak 1942 hingga 1945 membawa dampak besar pada kehidupan Pribumi, tidak terkecuali Jembatan Cincin. Rel kereta di jembatan ini dibongkar dan dipindahkan ke Banten untuk pembangunan jalur kereta Saketi-Bayah yang desas-desusnya kaya akan batu bara. Tak ayal, hanya pondasi jembatan kereta tanpa rel yang tersisa hingga kini.
Kerasnya sistem Kerja Rodi yang diterapkan Belanda ketika membangun jembatan yang memiliki 11 tiang dan 10 lekukan seperti cincin ini tak ayal banyak menelan korban jiwa. Maka tidak heran jika Jembatan Cincin kerap dihubungkan dengan hal-hal berbau mistis. Lokasi pemakaman yang berada tepat di bawah jembatan pun makin memperkuat Urban Legend yang sebelumnya sudah beredar di kalangan warga yang tinggal di sekitar.
Hanyalah memori kelam, cerita soal masa kejayaan, dan hal-hal berbau magis yang kini bersemayam menyelimuti jembatan yang fisiknya sudah mulai tergerus usia ini. Padahal, pemandangan yang disuguhkan dari atas jembatan ini sangatlah indah, mulai dari komplek Universitas Padjadjaran, Gunung Manglayang, Gunung Geulis, hingga jalur Bandung – Sumedang yang meliuk-liuk. Perawatan menyeluruh terhadap jembatan ini diyakini dapat menampik semua pemberitaan negatif di Jembatan Cincin. Sebagai bangunan yang memiliki andil besar pada masanya, alangkah bijaksananya jika kita semua turut melestarikan salah satu situs peninggalan bersejarah ini.
Jika Anda yang belum tahu dan ingin melihat langsung penampakan Jembatan Cincin dari dekat, silakan menyempatkan diri untuk mampir ke Jatinangor. Akses menuju lokasi bisa dibilang cukup mudah dan bervariasi. Anda bisa menjangkaunya melalui daerah Cisaladah, Cikuda, Gang Mawar, atau melalui jalan tembus yang dibuat warga di dalam komplek Universitas Padjadjaran. Bagaimana, apa Anda tertarik untuk mendatanginya?
Berperan sebagai pengatur waktu keberangkatan bus atau headway angkutan umum sering juga disebut dengan istilah timer. Biasanya timer mengatur jadwal keberangkatan bus agar tidak terjadi penumpukan, apalagi bila berada di jalur yang sama. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, seorang timer dulunya bukanlah hanya seorang pengatur waktu keberangkatan tetapi juga mengawasi jumlah penumpang yang ada di dalam bus.
Bus-bus yang diatur seorang timer juga bukan hanya bus antar kota antar provinsi melainkan juga angkutan dalam kota, Mikrolet, Metromini, Kopaja atau bus kota lainnya. Para timer ini adalah orang-orang yang ditugaskan khusus oleh pihak operator untuk mengontrol jumlah penumpang pada saat-saat tertentu. Sebab dengan pengontrolan seperti ini juga bisa mengontrol pendapatan pengelola.
Sayangnya, peran timer kini banyak dipersepsikan negatif, seperti ada kesan berperan sebagai kepanjangan tangan dari pungutan liar (pungli), setiap perjalanan angkutan umum para timer mencoba untuk membuat penumpang untuk naik dalam kendaraan umum dan sebelum jalan meminta jatah uang penumpang pada para pengemudi angkutan. Atau ada oknum yang bergaya ala timer meminta uang saat angkutan melintasi suatu tikungan. Miris bila dikatakan, dengan kondisi saat ini yang semakin sedikit penumpang naik kendaraan umum pastinya pendapatan berkurang lebih lagi harus membayar kepada para timer yang sesukanya.
Memang tidak bisa semua disalahkan, karena penggunaaan tiket manual dalam perjalanan juga bisa menjadi salah satu kecurangan dan kebocoran pendapatan operator. Namun, dengan kondisi Indonesia sebagai negara berkembang, sistem tiket berupa elektronik sudah mulai digunakan apalagi di negara maju, sistem ini justru bisa menjadi kendali atau pengawas otomatis tanpa melibatkan manusia untuk mengaturnya.
Di Indonesia saat ini, sudah dilakukan mirip dengan negara maju seperti TransJakarta dan TransJogja yang memang dimana operator tidak lagi berhubungan langsung dengan penumpang karena hanya sebatas pelayanan saja. Apalagi kendali sistem kedua moda transportasi ini dikendalikan langsung oleh pemerintah sehingga tak mengenal lagi adanya timer sebab sudah menggnakan headway yang terkontrol dan terjadwal.
Diketahui, seorang timer biasanya berada di pinggir jalan atau di terminal dengan membawa catatan untuk menulis waktu keberangkatan dan passtinya seorang timer menggunakan jam agar tahu jam berapa saat kendaraan umum berangkat. Tak hanya saat kendaraan yang berjalan di terminal, saat melintas dan berhenti sejenak juga di catat oleh para timer.
Dewasa ini dengan hadirnya fasilitas GPS (Global Positioning System) di armada bus, maka monitoring dan tracking perjalanan bus dapat dipantau secara online dari pusat kendali, bahkan memungkinkan bagi pengguna jasa secara langsung untuk memantau pergerakan moda angkutan lewat aplikasi.
Berawal dari sebuah kota di Jawa Tengah, tepatnya di Magelang di tahun 1970-an, sebuah Perusahaan Otobus (PO) dirintis untuk membantu moda transportasi masyarakatnya. Dirintis oleh sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter, yakni dr. Anwar Sani, PO Santoso memulai meluncurkan busnya di trayek buk ekonomi (bumel) Jogja-Magelang-Semarang dan Gombong-Purworejo-Magelang-Semarang.
Dulunya sebelum besar seperti sekarang, ternyata PO Santoso berawal dari PO Tresno atau milik orang tua dokter tersebut dan diawariskan kepada ketiga anaknya yang terpecah menjadi PO Hidup baru (Kutoarjo-Purworejo), PO Kencana Jaya pool di Kutoarjo dan PO Santoso di Magelang. Namun dua lainnya tak bertahan lama dan PO Santoso masih meluncur di jalan untuk moda transportasi masyarakat Magelang.
Bahkan untuk memperlancar usaha PO Santoso, Anwar Sani rela tidak praktik dan tetap bekonsentrasi di bisnis ini. Tetapi, istrinya masih praktik dan selalu mengutamakan pelayanan kesehatan pada keluarga karyawannya. Kini PO Santoso diwariskan ke anaknya setelah beliau wafat.
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, PO Santoso memulai trayeknya dengan berbekal armada Mitsubishi Fusi T653 dan Mercedes Benz LP 911 yang menguasai jalur Jogja-Magelang-Semarang, Purwokerto-Magelang-Semarang dan Cilacap-Magelang-Semarang. Kemudian di awal tahun 80an, dengan bertambahnya armada, Anwar Sani lantas membangun garasi yang lebih besar di Kupatan yang merupakan sebuah kampung di ujung kota Magelang.
PO Santosa kemudian mulai fokus menggunakan armada Mercedes Benz seiring datangnya tipe baru MB OF 1112. Akhir tahun yang sama yakni 80-an, PO ini mencoba peruntungan di jalur bus malam dengan trayek ke Jakarta. Langkah imi cukup sukses dengan melayani penumpang di jalur Wonosari-Klaten-Jogja-Jakarta-Merak.
Dulu pada awal berdiri, pool PO Santoso berada di Jalan Ahmad Yani atau Pontjol dan tahun 90-an semua garasi berpidah ke kantor puast jalan Soekarno Hatta. Mencoba peruntungan di bus malam, PO ini menjual ketepatan waktu dan digawangi oleh mekanik serta pengemudi yang handal dan menjadi salah satu PO yang bertahan hingga hampir 50 tahun.
Tak hanya menjadi bus malam AKAP dan AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi), PO ini kemudian merambah layanan pariwisata dan ekspedisi jasa pengiriman barang. Selain mengembangkan bisnisnya, PO Santoso mengembangakan juga jurusannya ke beberapa kota lain seperti Bogor, Bandung, Tangerang, Bekasi dan Surabaya. Bahkan juga merambah hingga beberapa kota di Pulau Sumatera.
Trayek Sumatera dan Jakarta ternyata tak hanya diminati masyarakat Magelang, tetapi imigran dan transmigran di wilayah sekitaran Gunung Kidul dan Klaten pun ikut merasakannya. Maka tak heran bus Santoso yang berangkat dari Wonosari dan Klaten selalu penuh dengan penumpang.
Kemana kursi bekas pesawat saat tak lagi digunakan? Mungkin pertanyaan ini jarang muncul tapi bisa juga membuat penasaran. Ternyata kursi ini tak terbuang sia–sia, sebab salah satu perusahaan otobus (PO) di Indonesia menggunakan kembali kursi pesawat untuk kursi penumpang di armada mereka.
Penasaran PO apa yang menggunakannya dan menjalankan trayek kemana? KabarPenumpang.com menelusuri hal ini dan data menunjukkan bahwa sebuah PO yang berbasis di Wonogiri inilah yang menggunakan kursi bekas pesawat pada armadanya. PO tersebut bernama Raya yang setia mengantarkan penumpangnya sejak 1982 lalu.
Kursi pesawat bekas digunakan pada armada PO Raya (mobil komersial.com)
PO Raya merupakan operator bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Tengah khususnya Sukoharjo, Solo dan sekitarnya. PO yang satu ini membuka trayek bus malam Jakarta – Solo dengan mengandalkan empat armada dengan sasis dari Mercedes-Benz OF 1113.
Di mana keempat armadanya terdiri dari dua unit kelas Non AC dan AC, dua unit VIP dengan 28 kursi yang mana susunannya dua kiri dan dua kanan. Di kelas VIP inilah kursi bekas pesawat diaplikasikan dalam armada busnya. Dengan kursi lebih empuk karena memiliki busa yang cukup tebal. Bisa dikatakan, saat itu, PO Raya menjadi bus AKAP dengan kursi paling nyaman.
Hingga saat ini pun kenyamanan tersebut masih ada dan PO Raya masih setia dengan bodi buatan Laksana dan sasis dari Mercedes-Benz. Nyatanya kursi pesawat ini tak hanya ada di kelas VIP saja, tetapi di semua kelas yakni Supertop, Executive dan Junior Executive.
Karena kursi pesawat lebar, maka penumpang akan sedikit kesulitan berjalan di lorongnya. Armada bus PO Raya juga dilengkapi dengan toilet yang bisa digunakan untuk buang air kecil dan saat berjalan. Kenyamanan lainnya dari PO Raya adalah perjalanannya yang tidak ugal-ugalan.
Hal ini karena kemahiran para pengemudinya mengendarai bus kapan harus melaju dengan cepat atau tidak. Untuk diketahui, armada Junior Executive 3 menggunakan bodi Legacy SR2 HD Prime buatan karoseri Laksana yang dipasangkan ke sasis Mercedes Benz OH 1526. Armada ini memiliki 36 kursi dengan leg room terbilang sangatlah cukup di kursi paling depan.
Namun sayang, model Legacy SR2 HD Prime yang double glass, membuat pandangan ke depan agak terhalang oleh sekat atau bando. Sedangkan untuk kelas Supertop dengan susunan kursi 1-2 yang lebih lebar dari kelas Executive.
Awalnya, sebelum menjadi PO Raya, ditahun 1959, sang pemilik yakni Witikno dan Ranu Wijaya mendirikan bisnis truk bernama Radar. Beberapa tahun kemudian, nama PO Raya lahir dengan satu unit armada bus bekas keluaran tahun 1960 yang dibeli dari PO Suka Mulya.
Perusahaan Otobus (PO) Putera Mulya memiliki perjalanan tersendiri hingga bisa sukses seperti sekarang ini. Berawal dari tahun 1985, PO ini didirikan oleh P.H Soegiyono asal Wonogiri dan hanya memiliki dua unit mikrobus kapasitas 12 penumpang.
Trayek mikrobusnya pun dari Ngadirojo-Jatipuro-Wonogiri-Jatisrono. Kemudian di tahun 1992, Soegiyono akhirnya memantapkan diri untuk mendirikan PO dan merintis angkutan pedesaan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dengan modal nekat, niat dan semangat.
PT Putera Mulya Sejahtera
KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pendirian PO ini sendiri setelah satu tahun sebelumnya, Soegiyono mengajukan ijin prinsip ke Bupati Karanganyar, Wonogiri dan Walikota Surkarta. Hingga akhirnya tahun 2000, PO Putera Mulya mengmbangkan sayapnya dan membuka trayek Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) ke Jakarta hingga ke Lampung.
Trayek akap pertamanya adalah Ponorogo-Purwantoro-Wonogiri-Solo-Jakarta (PP), kemudian trayek Ponorogo-Madiun-Ngawi-Solo-Jakart-Merak-Bandar Lampung (PP). Sebelas tahun kemudian tepatnya 2011, PO Putera Mulya berganti nama menjadi Putera Mulya Sejahtera atau biasa disebut dengan PUMAS.
Tahun 2016, kemudian PUMAS memiliki enam unit Mercedes-Benz O 500 R-1836 dan empat unit Hino R-260 menjadi modal awal melayani pelanggan. Pada akhir tahun 2016 PT.Putera Mulya Sejahtera membuat gebrakan dalam dunia transportasi Indonesia dengan membeli dua unit bus Jetbus 2+ Super Double Decker bermesin Scania yang dioperasikan untuk rute Jakarta – Wonogiri.
Akhir tahun 2017 Putera Mulya Sejahtera menambah 12 armada. Hal ini untuk melanjutkan tradisi peluncuran 12 unit bus seperti saat mulai beroprasi tahun 2016. Saat ini, PUMAS sendro memiliki kurang lebih 80 agen yang berperan penting dalam kemajuannya.
Uniknya, PO Putera Mulya Sejahtera memiliki sebutan khusus untuk awaknya yakni Cokro. Mereka sudah dibekali panduan, tata tertib perusahaan yang tidak hanya mengatur agar tidak ugal – ugalan selama berkendara, tetapi juga memperhatikan kerapian dirinya sebagai ujung tombak pelayanan PUMAS.
Salah satu fasilitas yang disediakan PUMAS adalah Shuttle dimana penumpang dari agen yang tidak dilewati bus PUMAS akan diantarkan menggunakan shuttle. Contohnya dari agen Pinangranti dan Pasar Minggu akan diantarkan ke Jatiasih karena unit hanya melewati Jatiasih.
Pada awal tahun 2019 lalu juga bus asal Wonogiri, Jawa Tengah ini menjadi trending topik dengan menghadirkan bus tingkat yang resmi menjadi bus Trans Jawa. Fasilitas yang ditawarkan PUMAS pun terbilang sangat mewah, dan didukung dengan chasis bus kelas premium yang tentunya memiliki fitur keamanan yang baik.
Berikut ini beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh PUMAS dibus tingkat Trans Jawa yakni AVOD, USB Charger, Toilet, Bantal & Selimut, AC, Coffee Maker, Smoking Room dan Emergency Exit. Tiket busnya pun beragam, Patas AC tarif tiketnya Rp155 ribu-Rp160 ribu, VIP Rp165 ribu-Rp180 ribu, Eksekutif Rp180 ribu-Rp190 ribu. Untuk bus double decker, deck atas diabndrol dengan tarif Rp195 ribu dan deck bawah Rp325 ribu.
Tak sulit untuk mengenali PO (Perusahaan Otobus) yang satu ini, pasalnya di setiap armada bus-nya tergambar sosok gajah dengan latar pepohonan hijau sebagai livery-nya. Dan karena hal tersebut, PO Safari Dharma Raya dijuluki Si Gajah dari Temanggung. Dulu sebelum sah dengan nama PO Safari Dharma Raya, perusahaan otobus ini dikenal dengan PO OBL atau singkatan dari nama pendirinya Oei Bei Lay atau Darmoyuwono.
Baca juga:Hiba Utama, PO Legendaris yang Berkibar di Bisnis Bus Pariwisata
Hadirnya PO Safari Dharma Raya berawal dari kendala penduduk Temanggung dalam mengangkut hasil bumi tahun 1951 silam. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata Oei Bei Lay melihat ini sebagai peluang besar untuk melayani permintaan sekaligus mengembangkan bisnis ekspedisi di daerahnya.
Pertama kali Oei Bei Lay (OBL) membuka usahanya dengan dua kendaraan mini bus rakitan dari mobil sedan dengan label perusahaan Truk Hein dengan trayek pendek Magelang-Ngadirejo. Dalam perkembangannya, ternyata kebutuhan mobilitas masyarakat antar kota meningkat dan membuat OBL melakukan ekspansi layanan perusahaan.
Bermodalkan lima bus OBL kemudian membuka layanan bus antar kota tahun 1960 dengan trayek Temanggung-Magelang-Candiroto dan Temanggung-Wonosobo-Purwokerto dibawah nama Safari Dharma Raya. Tahun 1971 kemudian PO Safari Dharma Raya melebarkan jangkauannya dengan membuka trayek Temanggung-Surabaya-Malang dan empat tahun kemudian tepatnya 1974 PO ini membuka layanan Yogyakarta-Jakarta dengan bus malamnya.
Kemudian setelah itu diikuti dengan pembukaan trayek Jakarta-Denpasar dan Temanggung-Yogyakarta-Denpasar. Hingga akhirnya PO ini berfokus pada bus malam dengan kelas eksekutif sehingga trayek bus siang ditiadakan sejak tahun 1984.
Akhirnya kerja keras membuahkan hasil dimana PO Safari Dharma Raya ini terdaftar secara resmi sebagai Perseroan Terbatas (PT) dengan nama Safari Dharma Sakti tahun 1981 lalu. PT ini menjadi penyedia layanan transportasi dan pengiriman paket cepat antar kota antar provinsi (AKAP).
Delapan tahun berlalu yakni 1989 sepeninggal Darmoyuwono perusahaan kemudian diteruskan oleh kedua putranya. Dimana Bapak Hendro Darmoyuwono menjalankan perusahaan dengan berkantor di Jakarta dan Bapak Santoso Dharmoyuwono berkantor di Temanggung, meski begitu keduanya dibawah pengawasan lbu Soetari Darmoyuwono.
Menanjaknya perjalanan PO Safari Dharma Raya terlihat tahun 1997 dengan dibukanya trayek Jakarta-Mataram dan Temanggung-Yogyakarta-Mataram. Di tahun 2001, trayek Solo-Semarang-Jakarta, Jakarta-Bima dan Temanggung-Yogyakarta-Bima dibuka.
Bukan hanya mengjangkau bus AKAP, PO ini bersinar ditahun 1999 dimana PT Safari Dharma Sakti menjadi salah satu operator bus bandara Juanda Surabaya. Tahun 2002 mendapatkan kepercayaan dari PT Gapura Angkasa sebagai operator bus di Bandara Ngurah Rai Denpasar.
Bus asal Temanggung ini juga ikut masuk ke bisnis layanan bus pariwisata atas banyak permintaan dari para pelanggan dan biro perjalanan. PO Safari Dharma Raya pun kemudian menyiapkan armada bus eksekutif dan super eksekutif khusus untuk pariwisata.
PO ini sendiri menyediakan 200 armada dan 500 tim Safari Dharma Raya yang tersebar di Jawa-Bali-Nusa Tenggara Barat. Pencapaiannya tersebut tak lepas pula dari dukungan OBL mania yang selalu setia mendukung Safari Dharma Raya untuk selalu memberikan layanan terbaik dan memenuhi kebutuhan transportasi Indonesia.
Safari Dharma Raya sendiri mengambil komitmen dimana Safety adalah harga mati. Komitmen tersebut diambil bukan untuk mengangkat nama PO sendiri melainkan untuk kenyamanan serta keamanan penumpang.
Untuk harga tiket bus PO Safari Dharma Raya berikut ini
Banyak orang yang memandang sebelah mata ketika bepergian dengan bus dan mereka beranggapan naik bus akan terkena macet, tidak nyaman dan mungkin ugal-ugalan. Tetapi sayangnya hal itu kini bisa terbantahkan. Sebab, bus antar kota antar provinsi (AKAP) kini memiliki kenyamanannya tersendiri dan bahkan mungkin Anda tidak akan menyangka sedang berada di dalam bus.
Penasaran seperti apa perubahan bus AKAP saat ini sehingga tak lagi dipandang sebelah mata? Berikut ini, fasilitas yang ada di dalam bus AKAP yang bisa memberi kenyamanan bagi penumpang yang naik dan menikmati perjalanan mereka.
a. Smooking room
bagi sebagian perokok, maka perjalanan yang cukup lama tanpa menghisap tembakau akan menjadi hal yang membosankan, oleh sebab itu di beberapa bus terutama bus antar kota antar propinsi terdapat ruangan khusus merokok. Ruangan ini tentu membuat perokok bisa merokok tanpa mengganggu penumpang lain dengan asap rokok.
b. Audio video on demand
Jika biasanya TV di dalam bus hanya terdapat di bagian depan, maka saat ini sudah banyak perusahaan bus yang menyediakan TV di tiap seat yang mereka jual. Hal ini memungkinkan penumpang bebas memilih apa yang ingin mereka tonton sepanjang perjalanan, dan lagi jika terkoneksi dengan internet, maka melakukan perjalanan bersama bus malam sembari youtuban atau bahkan menikmati netflix adalah hal yang dimungkinkan.
c. Kursi pijat
Mungkin punggung kita terasa lelah atau bahkan pegal selama perjalanan dengan bus, kursi pijat jadi solusi yang ditawarkan beberapa perusahaan otobus. Meski tidak banyak perusahaan otobus yang menyediakan fasilitas ini dalam armada-armadanya, tapi semakin kesini fasilitas kursi pijat mulai jadi daya tarik sendiri bagi penumpang bus.
d. Dispenser
Meski terkesan sepele, tapi sepertinya menikmati minuman hangat dalam perjalanan menggunakan bus menjadi hal yang bisa membuat perjalanan semakin menyenangkan dan tidak membosankan. Sekarang, semakin banyak perusahaan otobus yang melengkapi armada-armadanya dengan dispenser. Penumpang bisa menikmati naik bus sembari minum teh hangat atau kopi hangat.
e. CCTV
Untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan baik bagi penumpang maupun bagi perusahaan otobus itu sendiri, maka tidak jarang armada-armada bus malam sekarang ini dilengkapi dengan kamera CCTV.
Nah, beberapa fasilitas-fasilitas mungkin bisa saja tidak kita bayangkan ada di dalam bus antar kota antar provinsi, tapi nyatanya ada. (Senna Aditiya – Pecinta Bus)
Semenjak era layanan penerbangan murah (low cost carrier) populer di Indonesia, maka perjalanan dengan bus jarak jauh atau memakan waktu lama, sudah semakin jarang dilakukan para pelancong. Tapi dikala mudik saat lebaran, bus jarak jauh masih digunakan dan menjadi andalan pemudik. Selain harga yang murah, bus juga menjadi salah satu alternatif jika tiket transportasi lainnya habis. Namun, saat menggunakan bus, Anda harus menyiapkan fisik dan waktu.
Alasannya, selain memakan durasi perjalanan berhari-hari, seluruh tubuh juga akan terasa pegal dan kaku. Nah, Anda pernah dengar bus Antar Lintas Sumatera atau ALS? Ya, ini adalah salah satu PO (Perusahaan Otobus) yang ber-homebase di Medan yang memiliki trayek terpanjang yakni dari Medan menuju Surabaya.
Selain bus angkutan penumpang, bus ini juga menjadi bus paket yang biasanya diletakkan di bagian atas. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bus yang identik dengan cat warna hijau ini, ternyata punya sejarah yang panjang selama melintasi jalanan Sumatera-Jawa.
Bus ALS masa kini
PO ALS sendiri didirikan 29 September 1966 di Kotanopan, Mandailing Natal di Sumatera Utara. Awalnya ALS hanya memiliki trayek Medan-Kotanopan dan berkembang Medan-bukittinngi. Tahun 1972, ALS kemudian membuka trayek ke berbagai kota di Sumatera yakni Banda Aceh, Padang, Pekan Baru, Jambi, Bengkulu, Palembang dan Bandar Lampung. Baru pada tahun 1970-an juga, dimana mobil belum bisa menyeberang ke Jawa dengan kapal ferry ro-ro, ALS sudah membuka trayek ke berbagai tujuan di Pulau Jawa.
Penyeberangannya ini ALS memakai jasa agen yang mengurus pemberangkatan penumpang dari pelabuhan Merak dengan kendaraan lain. Tahun 1980-an, saat mobil sudah bisa menyeberang ke Jawa dengan kapal ferry ro-ro, ALS membuka trayek langsung ke Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Kemudian menyusul trayek ke kota Malang dan Jember.
Tidak berpuas diri di Pulau Jawa saja, perusahaan bus ini juga mulai menginjakan rodanya di Pulau Bali. PO ALS sendiri terlihat memperbaharui armada busnya. Namun bus Sumatera ini setia mempertahankan warna hijau pada liverynya. Padahal dulunya warna bus ini orange tapi entah kenapa berubah menjadi hijau seperti sekarang ini.
Dari segi kendaraan, PO sangat hati-hati memilih model bus dari karoseri. Mengingat jalur jalanan Sumatera yang menjadi trayeknya sangatlah menantang. Untuk harga tiket, ALS sendiri menyediakan harga kisaran Rp379.600 hingga Rp694.600. Untuk pilihan kelasnya, tersedia AC Ekonomi dan Super Eksekutif dengan fasilitas seperti AC, bantal, makan, minum, musik, port charger, selimut, dan lainnya.