TransPakuan, Solusi Kemacetan Bogor yang Kurang Perhatian

Sumber: KabarPublik.com

Berjuluk kota hujan, Bogor selalu ramai diperbincangkan karena angkot yang ada di sana selalu ngetem sembarangan dan akhirnya membuat kemacetan yang khas. Ya, Bogor, kota yang secara geografis masuk ke dalam wilayah Jawa Barat ini memang sangat terkenal dengan salah satu sarana transportasinya itu. Keberadaan angkot yang selalu membuat macet tidak jarang menuai kritik pedas dari berbagai kalangan.

Bak rantai makanan yang tak pernah putus, pada 20 Maret 2017 ratusan sopir angkot berdemo di depan Balai Kota Bogor menuntut agar angkutan berbasis aplikasi dihapus. Tindakan itu justru bertolak belakang dengan banyaknya suara masyarakat yang ingin angkot dihapus.

Namun, dibalik semua polemik yang melanda dunia transportasi di Bogor, TransPakuan hadir dengan harapan menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di sana. Diresmikan pada tahun 2007, Bus Rapid Transit di Bogor ini dikelola oleh PDJT (Perusahaan Daerah Jasa Transportasi). Adapun rute awal dari bus ini adalah Bubulak – Baranang Siang dengan 16 halte di sepanjang rute itu. Dengan membayar Rp1.500 pada waktu itu, Anda sudah dapat menaiki bus ini.

Banyak yang bilang Bus TransPakuan memiliki sistem yang mirip dengan Bus TransJakarta, tapi lebih tepatnya Bus TransPakuan lebih mirip dengan sistem yang diadaptasi oleh Bus Trans Jogja. Sama seperti Bus Rapid Transit lainnya di Indonesia, Bus TransPakuan pun berhenti di setiap halte sesuai dengan rute perjalanannya. Ini berarti para penumpang tidak mungkin menggunakan bus ini dengan cara memberhentikannya di pinggir jalan. Selain itu, faktor lain yang menambah kemiripannya dengan Bur Trans Jogja adalah moda yang digunakan, yaitu bus berukuran sedang yang mampu menampung penumpang hingga 34 orang. Kemiripan lainnya muncul dari jalur Bus TransPakuan yang tidak memiliki separator layaknya Bus TransJakarta, sama seperti Bus Trans Jogja.

Bus yang menjadi diharapkan menjadi solusi kemacetan yang terjadi di Bogor ini sudah banyak mengalami perkembangan, salah satunya adalah penambahan rute perjalanan yang cukup signifikan. Terdapat 4 rute yang aktif saat ini, yaitu Teminal Bubulak – Cidangiang (Koridor 1), Cidangiang – Ciawi Harjasari (koridor 2), Cidangiang – Mall Bellanova (koridor 3), dan Cidangiang – Sentul City (koridor 3A). Semua koridor tersebut melewati jalan-jalan protokol di Bogor yang disinyalir menjadi pusat kemacetan, seperti Jl. Pajajaran, Jl. Siliwangi, serta daerah Tajur.

Sumber: baruaja.com
Sumber: baruaja.com

Namun dewasa ini, banyak penumpang yang mengeluhkan soal tampilan dari Bur TransPakuan yang terkesan kurang perhatian. Ini terlihat dari kulit jok penumpangnya yang sudah mulai robek. Begitu juga dengan AC yang sudah tidak terlalu sejuk pada bagian tengah bus, namun masih sejuk di bagian belakang. Anda juga dapat menemukan beberapa coretan spidol dari tangan-tangan jahil pada dinding bus.

Sumber: Bogor.TribunNews.com
Sumber: Bogor.TribunNews.com

Kondisi dari Bus Trans Pakuan yang kurang terawat bukan hanya terlihat pada sarananya saja, tapi juga dari pra sarananya. Berdasarkan berita yang dilansir KabarPenumpang.com dari TribunNewsBogor, Direktur PDJT, Krisna Kuncahyo mengatakan pihaknya pernah mencabut kursi calon penumpang yang berada di Jl. Pajajaran dekat Rumah Sakit Azra karena ada laporan halte tersebut dijadikan tempat tinggal sementara oleh orang-orang tunawisma. “Iya ada yang lapor kalau kursi disitu sering dipakai tidur jadi orang pada takut, makanya sementara kita cabut dulu, dan nanti kita pasang lagi, dan kita awasi,” ujar Krisna, Senin (10/10/2016).

Tentu saja ini menjadi pertanyaan besar bagi khalayak ramai, bagaimana bisa bus yang diusung sebagai solusi kemacetan di Bogor kurang mendapatkan perhatian sehingga terkesan terbengkalai?