Bikin Heboh, Maskapai Nasional Israel El AL Ajukan Izin Layanan Penerbangan Haji

Berita yang satu ini boleh jadi akan menuai perhatian publik di Indonesia dan internasional, pasalnya maskapai plat merah Israel, El AL tengah mengajukan izin untuk mengopersikan penerbangan Haji ke Arab Saudi. Persisnya, Pemerintah Israel telah mengeluarkan permintaan resmi dan mengatakan sedang dibahas secara bilateral.

Baca juga: Bukan Nama Anak Artis, Ini Dia Fakta Unik Seputar El Al Airlines

Dikutip dari Simple Flying, Israel berharap pihak berwenang di Arab Saudi akan mengizinkan maskapai penerbangan Israel untuk mengoperasikan penerbangan langsung ke Arab Saudi, yakni guna melayani warga muslim di wilayah Israel yang ingin menunaikan ibadah Haji, yang notabene akan berlangsung bulan depan.

Berbicara tentang masalah di Yerusalem kemarin, Menteri Luar Negeri Israel, Eli Cohen, mengatakan kepada wartawan bahwa permintaan resmi telah diajukan dan saat ini sedang dalam pembahasan intens.

Jutaan Muslim di seluruh dunia melakukan perjalanan setiap tahun ke Mekkah di Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah Haji, ziarah yang mengikuti tindakan Nabi Muhammad 1.377 tahun yang lalu.

Permintaan resmi tersebut mengikuti persetujuan Arab Saudi untuk menjalin hubungan dengan Israel dengan negara Teluk lainnya, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain, pada tahun 2020. Meskipun demikian, Kerajaan sejauh ini telah menunda untuk mengikutinya.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari para menteri yang berbasis di Riyadh, ibu kota Saudi, terkait permintaan penerbangan Haji oleh maskapai Israel.

Penerbangan langsung terkait haji antara kota-kota Israel dan Arab Saudi dipandang penting untuk memungkinkan 1,7 juta populasi muslim yang kuat di negara itu (Israel) untuk menunaikan ibadah Haji. Jumlah penduduk muslim menyumbang sekitar 18 persen dari total populasi Israel.

Saat ini, umat muslim dari Israel dan wilayah Palestina harus melakukan perjalanan ke Mekkah melalui negara pihak ketiga, yang berarti tambahan biaya dan waktu yang dikeluarkan untuk perjalanan keluar dan pulang untuk menunaikan ibadah Haji.

Sejak 2020, Arab Saudi telah mengizinkan maskapai penerbangan Israel untuk menggunakan wilayah udaranya untuk terbang ke Uni Emirat Arab dan Bahrain, negara-negara di kawasan yang telah menjalin hubungan lebih baik belakangan ini. Koridor ini telah diperluas oleh Arab Saudi dan tetangganya Oman untuk memasukkan tujuan lain.

Baca juga: Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal 

Israel dan Arab Saudi sejauh ini tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun, kedua pemerintah masing-masing telah membuat kemajuan bertahap menuju normalisasi hubungan antara negara-negara tersebut sejak 2020, sebagai bagian dari dorongan yang disponsori AS agar Israel berdamai dengan negar-negara di Teluk.

Boeing Akan Gunakan Sayap Ultra Tipis di Prototipe Pesawat Transonik

Salah satu raksasa manufaktur pesawat, Boeing dikabarkan telah mengambil kesimpulan dari konsep sayap ultra tipis baru yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pesawat transoniknya. Penggunaan sayap ultra tipis ini memungkinkan pesawat untuk ngebut hingga kecepatan Mach 0,8 atau yang setara dengan 955 km per jam. Selain itu, versi terbaru dari Transonic Truss-Braced Wing (TTBW) juga dapat mengudara lebih tinggi dan lebih cepat dari varian sebelumnya berkat dukungan truss yang dioptimalkan dan sudut sapuan sayap yang disesuaikan.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com, wacana tentang angkutan udara berkecepatan supersonik – atau bahkan hipersonik memang tengah dimatangkan oleh sejumlah produsen pesawat, tetapi ujung tombak nyata dalam teknik kedirgantaraan saat ini adalah dalam penerbangan transonik. Hampir semua yang terbang di luar lingkaran militer (sipil) terjadi di dunia subsonik, artinya, kecepatan di bawah Mach 0,8 atau yang setara dengan 980 km per jam. Namun, di dunia yang sangat kompetitif dari angkutan penumpang dan kargo, itu semua tidak cukup.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, jika kecepatan suara adalah Mach 1 (1.235 km per jam), mengapa kecepatan subsonik berada di bawah Mach 0,8? Jawabannya sederhana, karena rentang antara Mach 0,8 dan Mach 1,2 adalah apa yang dikenal sebagai transonik. Artinya, rentang kecepatan sesaat sebelum menembus penghalang suara, dan tepat setelah itu ditandai dengan peningkatan hambatan udara dan faktor-faktor lain yang bisa membuat pesawat terguncang.

Para insinyur ingin mendekati kecepatan transonik sedekat mungkin tanpa mendorong penghalang suara, namun itu jauh dari kata mudah – tidak hanya sekedar meningkatkan ‘kasta’ pesawat subsonik menuju transonik. Ketika sebuah pesawat mendekati titik transisi (contohnya subsonik menuju transonik), maka ada beberapa bagian pesawat yang akan melampaui batas, sementara bagian yang lain akan tertinggal dibelakangnya (perubahan struktur dan bentuk pesawat harus menyeluruh dan tidak bisa hanya sekedar mengganti mesinnya saja).

Baca Juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Menurut pihak Boeing sendiri, TTBW pada awalnya dirancang untuk beroperasi dalam kisaran Mach 0,70 hingga 0,75 (835 hingga 895 km per jam). Tetapi ketika menggunakan rangka (airframe) baru, bentang sayap yang beda dan lebih tipis, dan desain yang terintegrasi, maka memungkinkan peningkatan kinerja di segi kecepatan dan ketinggian yang lebih baik. Sebagai informasi tambahan, sayap yang digunakan Boeing untuk TTBW ini dikembangkan oleh NASA sebagai bagian dari program Subsonic Ultra Green Aircraft Research (SUGAR).

 

 

 

Q1 2023: Garuda Indonesia Group Bukukan Pendapatan Usaha Hingga 72 Persen

Garuda Indonesia secara grup berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan usaha hingga 72% pada Kuartal 1 – 2023 menjadi US$ 602,99 juta jika dibandingkan dengan catatan pendapatan usaha pada 3 bulan pertama di tahun 2022 sebesar US$ 350,15 juta. Pertumbuhan pendapatan usaha ini selaras dengan peningkatan trafik penumpang yang berhasil dicatatkan Garuda Indonesia Group pada Kuartal 1-2023 yang sedikitnya berjumlah 4,5 juta penumpang atau tumbuh sekitar 60 persen jika dibandingkan periode yang sama pada Kuartal 1-2022 sebesar 2,7 juta penumpang.

Baca juga: Upaya Kurangi Emisi Karbon, Garuda Indonesia Gelar Program Carbon Offsetting

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia pada Kuartal 1-2023 ini menjadi outlook positif tersendiri bagi kinerja usaha di sepanjang tahun 2023. Di tengah periode awal tahun yang dikenal sebagai periode low season bagi sektor industri penerbangan, Garuda Indonesia berhasil mencatatkan kinerja solid pada pendapatan usahanya dengan kinerja operasional yang semakin komprehensif melalui pembukuan arus kas positif (cash flow) di mana perusahaan berhasil mencatatkan komposisi pencatatan kas masuk yang lebih besar dibandingkan beban operasi.

“Capaian ini menjadi langkah berkesinambungan dan awal transformasi kinerja yang secara konsisten menunjukan outlook positif dari upaya perbaikan kinerja usaha yang terus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini juga menjadi tindak lanjut dari dirampungkannya tahapan restrukturisasi perusahaan pada tahun 2022 lalu, dimana atas capaian restrukturisasi tersebut Garuda Indonesia secara kinerja operasi juga membukukan kinerja positif dalam kaitan laba usaha yang turut dikontribusikan oleh pencatatan laba buku hasil restrukturisasi”, jelas Irfan.

Adapun pertumbuhan pendapatan usaha Garuda Indonesia pada Kuartal 1 – 2023 tersebut ditunjang oleh capaian pendapat penerbangan berjadwal US$ 506,82 juta yang tumbuh sebesar 87% serta komposisi pendapatan lainnya yang tumbuh sebesar 50% menjadi US$ 83,35 juta pada tiga bulan pertama di tahun 2023 ini. Lebih lanjut hingga Maret 2023, Garuda Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan EBITDA hingga 92% yakni menjadi US$ 71 juta atau membaik dibandingkan dengan EBITDA pada periode yang sama di tahun 2022 sebesar US$ 37 juta.

Lebih lanjut, pada Kuartal 1-2023 ini, Garuda Indonesia juga mencatatkan penurunan rugi bersih sebesar 50,91 % menjadi US$110,03 juta dari Kuartal 1-2023 lalu sebesar US$224,14 juta. Adapun pencatatan rugi bersih pada tahun kinerja berjalan ini dipengaruhi oleh penerapan standar akuntansi PSAK 73 yang mengatur tentang pembukuan transaksi sewa pada beban operasi.

“Terlepas dari adanya penerapan PSAK tersebut, Garuda Indonesia secara fundamen operasional kinerja terus mencatatkan kinerja yang positif. Hal ini terlihat dari sejumlah indikator penting pada kinerja usaha baik dari sisi EBITDA, cash flow hingga peningkatan trafik penumpang,” jelas Irfan.

Sejalan dengan kinerja usaha yang semakin solid tersebut, Garuda Indonesia pada akhir Maret 2023 lalu juga telah menyelesaikan pemenuhan kewajiban terhadap kreditur yang termasuk dalam klasifikasi kreditur dengan nilai tagihan hingga Rp255 juta. Pemenuhan kewajiban tersebut sejalan dengan Perjanjian Perdamaian PKPU yang sebelumnya telah disahkan melalui putusan homologasi PN Jakarta Pusat, dan dalam implementasinya turut diselaraskan dengan fokus misi transformasi yang berjalan. Penyelesaian kewajiban Garuda Indonesia tersebut telah dirampungkan terhadap 254 kreditur yang memiliki nilai tagihan hingga Rp255 juta, dengan total nilai tagihan yang dibayarkan mencapai hingga Rp15.432.720.782.

Irfan memaparkan, “Dirampungkannya pemenuhan kewajiban Garuda Indonesia terhadap kreditur dengan nilai tagihan hingga Rp255 juta tersebut menjadi penanda penting atas capaian akselerasi kinerja usaha yang semakin solid, khususnya dalam menjalankan misi transformasi menjadi entitas bisnis yang semakin agile dan adaptif serta memenuhi kewajiban usahanya kepada seluruh kreditur. Hal tersebut yang ke depannya akan terus kami selaraskan dengan komitmen terhadap kreditur sebagai bagian dari implementasi perjanjian perdamaian di mana Perusahaan juga telah membukukan ketersediaan sinking fund yang proporsional sebesar US$61 juta hingga akhir Kuartal 1-2023 dalam kaitan pemenuhan kewajiban usaha seperti yang tertuang dalam Perjanjian Perdamaian PKPU. Secara bertahap kami juga berupaya mengakselerasikan pemenuhan kewajiban usaha untuk kreditur dengan klasifikasi lainnya selaras terhadap komitmen implementasi perjanjian perdamaian dapat terus berjalan on the track sesuai dengan kesepakatan yang telah dicapai bersama.”

Lebih lanjut, dari aspek operasional Garuda Indonesia sebagai mainbrand juga terus mencatatkan pertumbuhan signifikan pada angkutan penumpangnya yang tercatat tumbuh sebesar 98,2% pada Kuartal 1-2023 menjadi 1,8 juta penumpang. Lebih lanjut, Garuda Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan angkutan penumpang penerbangan internasional yang signifikan tumbuh lebih dari 438 % dimana pada Kuartal 1-2023 ini, Garuda Indonesia mencatatkan angkutan penumpang penerbangan internasional sebesar 363 ribu orang dari sebelumnya berjumlah 66 ribu penumpang pada kuartal 1-2022. Sedangkan untuk penumpang penerbangan domestik Garuda Indonesia sebagai mainbrand mencatatkan pertumbuhan lebih dari 72% menjadi 1,4 juta penumpang.

Baca juga: Garuda Indonesia dan Ditjen Imigrasi Luncurkan “Special Lane” Keimigrasian di Bandara Soetta dan Ngurah Rai

“Di tengah fase transformasi kinerja yang terus dioptimalkan, kami optimistis outlook kinerja yang saat ini terefleksikan melalui capaian kinerja usaha di Kuartal 1-2023 ini dapat menjadi fondasi penting atas langkah akseleratif kinerja usaha yang kedepannya akan terus kami optimalkan memaksimalkan momentum transformasi kinerja secara on the track. Tentunya langkah transformasi ini akan terus dilakukan secara bertahap dan terukur dengan turut memaksimalkan momentum pertumbuhan penumpang maupun peningkatan Kapasitas produksi,” tutup Irfan.

Inggris Kembangkan Pesawat Penumpang Hipersonik, Hubungkan New York dan London dalam Satu Jam

Seiring penggunaan rudal balistik yang mampu melesat dengan kecepatan hipersonik, maka secara tidak langsung membawa pengaruh pada pengembangan wahana transportasi. Bila di era Concorde, pengguna jasa penerbangan pernah dimanjakan dengan kecepatan pesawat di level supersonik, maka proyeksi selanjutnya adalah menghadirkan pesawat penumpang di level hipersonik.

Baca juga: Pesawat Terbesar di Dunia The Roc Sukses Terbang Perdana Bawa Pesawat Uji Hipersonik

Bukan sekedar proyeksi tanpa kalkulasi, Badan Antariksa Inggris (UK Space Agency) mengumumkan rencananya untuk membangun “pesawat luar angkasa” yang dapat melakukan perjalanan antara New York dan London dalam satu jam. UK Space Agency memperkirakan bahwa pesawat ini dapat terbang pada tahun 2030-an.

Dikutip dari traveller365.com, disebutkan pesawat penumpang ini dapat terbang dengan kecepatan di Mach 5.4, atau lima kali kecepatan suara.

CEO UK Space Agency dalam konferensi pers di Wales mengungkapkan bahwa pesawat atau roket ulang-alik berteknologi tinggi ini akan ditenagai oleh mesin hipersonik. Kemampuan kecepatan ini akan mengubah perjalanan udara, mampu menempuh lima menit dengan kecepatan suara.

Dan yang cukup mengejutkan, mesin SABRE (Synergetic Air-Breathing Rocket Engine) yang akan digunakan, dilengkapi dengan sistem pendingin yang kompleks, jauh melampaui apa yang dibawa oleh pesawat pada umumnya. Mesinnya tidak buruk bagi lingkungan, kabarnya akan menjadi opsi perjalanan hipersonik untuk penumpang komersial. Yang utama adalah menyalakan mesin seperti hibrida roket dan mesin aero yang berbahan bakar kombinasi Oksigen, hidrogen, sehingga memungkinkan roket menghirup udara. SABRE seharusnya lebih hijau dan lebih murah daripada perjalanan udara saat ini.

Menurut Program Director Shaun Driscoll dari Reaction Engines pada konferensi tersebut diungkapkan, bahwa panas telah menjadi faktor pembatas. Pra-pendingin sangat penting dalam pengembangan pesawat karena mengandung helium cair yang dapat mendinginkan mesin lebih dari 10.000 derajat Celcius ke suhu kamar dalam seperduapuluh detik.

SABRE dimaksudkan untuk memberikan sistem propulsi yang ringan dan efisien untuk membuat pesawat ruang angkasa yang menarik Oksigen ke dalam mesin untuk digunakan untuk pembakaran dari lepas landas hingga mencapai lebih dari 4000 mph.

SABRE diklaim dapat membawa mesin roket yang jauh lebih ringan dan nyaman karena akan membawa lebih sedikit oksidan bahan bakar dan mesin 50 persen lebih cepat daripada Concorde turbojet supersonik.

Sejauh ini, Pemerintah Inggris telah menginvestasikan US$74 juta dalam program SABRE. Sebaliknya, mesin Reaction terus menggunakan mesin eksperimental pesawat ruang angkasa hingga mencapai 25 kali kecepatan suara untuk memasuki ruang angkasa.

Baca juga: Kenapa Jendela Pesawat Supersonik Concorde Sangat Kecil? Ini Rahasianya

Namun, perusahaan tersebut bertujuan untuk menciptakan kendaraan yang dapat digunakan kembali yang menggunakan bahan bakar secara efisien, seperti mesin jet dengan tenaga roket. Pesawat hipersonik berusaha untuk mencocokkan model supercepat Rolls-Royce, BAR Systems, dan Boeing untuk membawa orang atau kargo ke luar angkasa dan kembali hanya dengan sebagian kecil dari biaya saat ini.

Hari ini Dalam Sejarah, Boeing 747SP Pecahkan Rekor Terbang Keliling Dunia Selama 46 Jam

Hari ini, 47 tahun lalu yang bertepatan dengan 3 Mei 1976, diperingati sebagai momen besar dalam sejarah dunia kedirgantaraan, khususnya pada keluarga pesawat jumbo jet “Queen of The Skies” Boeing 747, di mana saat itu Boeung 747SP “Liberty Bell Express” Pan Am, melakukan penerbangan keliling dunia dalam waktu 1 hari 22 jam.

Baca juga: Operasi Solomon, “Queen of The Skies” Israel Pecahkan Rekor Dunia, Angkut 1.082 dalam Sekali Terbang!

Rute keliling dunia dimulai dari penerbangan ke arah timur dari Bandara New York JFK (Jon F Kennedy) dalam waktu singkat antara 1 – 3 Mei 1976.

Boeing 747SP Pam Am dengan 98 penumpang berangkat dari New York JFK. Pada saat mendarat kembali di Big Apple, pesawat itu menjadi pemegang rekor dunia. Bagian pertama pengembaraannya membawanya ke timur ke New Delhi, India. Menurut This Day In Aviation, itu menempuh jarak 13.000 kilometer dengan kecepatan rata-rata 870 km per jam (470 knot).

Etape berikutnya, mengambil penerbangan ke Bandara Tokyo Haneda, 12.130 km jauhnya. Penerbangan ditunda beberapa jam karena pemogokan di ibu kota Jepang, tetapi ini tidak mencegahnya membuat sejarah. Penerbangan kembali langsung dari Tokyo ke New York dengan kecepatan rata-rata 912,5 km per jam (493 knot).

Etape ketiga dan terakhir ini menempuh jarak 12.100 km (6.530 NM). Setelah 37.230 km (20.080 NM) terbang, ‘Liberty Bell Express’ mendarat di JFK lebih dari 46 jam setelah berangkat. Saat ini, Boeing mengonfirmasi kemarin di Twitter bahwa ia terbang selama 39 jam, 25 menit, dan 53 detik. Ini mengalahkan rekor Flying Tiger Line lebih dari 16 jam.

Pan Am melaporkan bahwa ‘Clipper Liberty Bell’ adalah salah satu dari beberapa nama yang dikenakan oleh 747SP yang memecahkan rekor selama berada di maskapai tersebut.

Pesawat itu memiliki registrasi N533PA, dan, menurut Planespotters.net, melayani Pan Am kurang dari satu dekade. Setelah tiba pada Maret 1976, akhirnya berangkat dari maskapai ke United Airlines yang bermarkas di Chicago pada Februari 1986.

Di sini, ia memakai konfigurasi tiga kelas, 244 kursi (18 kelas satu, 62 kelas bisnis, 164 kelas ekonomi). Setelah lebih dari satu dekade di United sebagai N143UA, akhirnya dibubarkan di Bandara Ardmore Municipal, Oklahoma, pada Desember 1997.

Baca juga: Boeing 747SP, Varian “Queen of the Skies” yang Hanya Bertahan Seumur Jagung

Pesawat ini sayangnya tidak memiliki karir yang panjang atau termasyhur seperti 747SP yang memecahkan rekor. Itu menghabiskan lebih dari empat tahun dengan Pan Am, antara Agustus 1987 dan November 1991, sebelum pindah ke Delta. Pada tahun 1994. pesawat bersejarah ini telah bergabung dengan TAROM, dan mengalami insiden tragis jatuh setelah meninggalkan Bucharest pada Maret 1995, menewaskan semua 60 penumpang dan awaknya.

“Garuda Miles” Raih Best Airline Customer Service Dalam Freddie Awards 2023

Program loyalitas pelanggan Garuda Indonesia, GarudaMiles, pada Jumat (28/4) lalu berhasil menerima penghargaan dalam ajang Freddie Awards 2023 yang diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat, sebagai “Best Airline Customer Service” terbaik di wilayah Timur Tengah dan Asia/Oseania dengan rating 9.31.

Baca juga: Garuda Indonesia Kerahkan Boeing 777-300 untuk Evakuasi WNI di Sudan

Raihan kategori “Best Airline Customer Service” tersebut melengkapi sejumlah predikat lainnya yang diperoleh Garuda Indonesia pada ajang tersebut yakni Best Elite Program: (Rank 3), Best Promotion (Rank 3), Best Redemption Ability (Rank 2), Best Loyalty Credit Card (Rank 2), dan Program of The Year (Rank 3).Lebih lanjut, rekoginisi penghargaan terhadap GarudaMiles tersebut didasarkan pada hasil akhir dari survei yang dibuka pada 15 Februari sampai dengan 31 Maret 2023 lalu bagi seluruh frequent flyer global.

Adapun Freddie Awards sendiri merupakan ajang penghargaan tahunan untuk program loyalitas dunia dalam industri travel loyalty yang telah terselenggara sejak tahun 1988.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan, “Capaian penghargaan GarudaMiles di ajang Freddie Awards tahun 2023 ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri sekaligus sebagai dorongan bagi kami untuk terus melakukan perubahan yang menyesuaikan dengan kebutuhan para pelanggan setia Garuda Indonesia terutama dari sisi manfaat berkelanjutan yang dirasakan oleh anggota GarudaMiles.”

“Apresiasi yang diberikan selama dua tahun berturut-turut dalam ajang Freddie Awards, di mana di tahun sebelumnya GarudaMiles memperoleh predikat sebagai “The 210 Awards: Best Up and Coming Program” di wilayah Timur Tengah & Asia/Oseania menjadi bukti dukungan dan kepercayaan masyarakat di Indonesia khususnya yang senantiasa memilih layanan penerbangan Garuda Indonesia dalam kaitan kenyamanan mobilitas dengan transportasi udara,” tambah Irfan.

Baca juga: Jelang Musim Haji 1444H, Garuda Indonesia Siapkan 14 Unit Pesawat Berbadan Lebar

“Kami berharap melalui penghargaan ini juga dapat merefleksikan komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia sebagai national flag carrier untuk senantiasa menghadirkan layanan penerbangan terbaik secara menyeluruh, di tengah berbagai kondisi dan situasi selaras dengan visi untuk untuk selalu mengedepankan perspektif pengguna jasa dalam seluruh lini layananan kami termasuk didalamnya program loyalitas pelanggan GarudaMiles” tutup Irfan.

Swedia Bangun E-Motorway – Jalan Tol Listrik Pertama di Dunia, Mengisi Daya Kendaraan Elektronik Saat Tengah Melaju

Segmen kendaraan listrik mengalami kemajutan pesat dengan beragam inovasi yang bermunculan. Seperti dari Skandinavia, Swedia dikabarkan sedang membangun jalan tol listrik pertama di dunia yang memungkinkan mobil dan truk mengisi ulang daya saat mengemudi.

Baca juga: Tunjang Mobilitas di Masa Depan, Seres SF5 Gabungan Kendaraan Listrik dengan Konektivitas Mutakhir

Disebut sebagai ‘E-Motorway’, jalur ini akan dibangun sepanjang 13 mil dari rute Eropa E20 yang menghubungkan Hallsberg dan Örebro, terletak di antara tiga kota besar Swedia Stockholm, Gothenburg dan Malmö. Pengembangan E-motorway dilakukan setelah Uni Eropa mengeluarkan undang-undang bulan lalu yang mewajibkan semua mobil baru yang dijual memiliki emisi CO2 nol mulai tahun 2035.

Direktur Pengembangan Strategis di administrasi transportasi Swedia Jan Pettersson menyambut baik perkembangan tersebut dan mengatakan elektrifikasi jalan tol sangat penting untuk ‘dekarbonisasi sektor transportasi’.

Sebelumnya pada tahun 2018, Swedia menguji rel pengisian daya pertama di dunia untuk kendaraan listrik di sepanjang jalan sepanjang 1 mil antara Bandara Arlanda, Stockholm, dan Rosersberg.

Dikutip dari dailymail.co.uk, proyek E-Motorway sedang dalam tahap pengadaan dan diharapkan akan dibangun pada tahun 2025. Metode pengisian untuk jalan tol belum diputuskan tetapi ada tiga jenis metode pengisian: sistem catenary, sistem induktif, dan sistem konduktif.

Sistem catenary hanya dapat digunakan untuk kendaraan tugas berat karena menggunakan kabel di atas kepala (pantograf) untuk menyediakan listrik ke jenis bus atau trem khusus.
Sementara pengisian konduktif berfungsi seperti pengisi daya nirkabel untuk ponsel cerdas dengan kendaraan listrik yang menerima energi dari bantalan atau pelat di jalan.

Sementara sistem pengisian induktif menggunakan peralatan yang terkubur di bawah jalan yang mengirimkan listrik ke koil di kendaraan listrik.

Baca juga: Tilang Elektronik Mulai Berlaku di Jalan Tol, Tujuh Kamera Siap Capture Kendaraan yang Melanggar

Swedia memiliki 310.685 mil jalan tetapi hanya berencana untuk melistriki jalan sepanjang 1.900 mil pada tahun 2045 dan telah bermitra dengan Jerman dan Prancis untuk bertukar pengalaman melalui kolaborasi penelitian. Swedia dan Jerman telah memiliki fasilitas percontohan di jalan umum selama beberapa tahun dan Perancis berencana untuk mengadakan bagian percontohan dengan jalan listrik.

Inilah Technobus Gulliver U520, Bus Terpendek di Dunia Berkapasitas 10 Penumpang

Autotram Extra Grand dinobatkan sebagai bus terpanjang di dunia dengan 30 meter lebih dengan kapasitas 256 penumpang. Ada terpanjang, tentu ada terpendek dan bus terpendek di dunia adalah Technobus Gulliver U520 buatan Italia. Bus ini menjadi yang terpendek di dunia karena hanya memiliki panjang 5,3 meter, lebih pendek dari Toyota All New Hiace yang memiliki panjang 5,915 meter.

Baca juga: Volvo Gran Artic 300 – Bus dengan Kapasitas Angkut Terbesar, Bisa Dimuati 300 Penumpang!

Technobus Gulliver U520 adalah bus buatan Technobus SPA yang berbasis di Frosinone, Italia. Ide awal pembuatan bus terpendek di dunia tersebut untuk menghadirkan bus perkotaan di kota-kota kecil, memberikan pilihan kepada masyarakat untuk bisa naik public transport atau berjalan kaki dan naik sepeda.

Di Eropa, kota-kota kecil dengan populasi penduduk minim cukup banyak. Itu kenapa Technobus Gulliver U520 memiliki dimensi sangat mungil, hanya 5,3 meter (17,3 kaki) dan lebar 2 meter (6,8 kaki). Kapasitasnya, paling sedikit memuat 10 penumpang dan maksimal 20 penumpang.

Dilansir curbsideclassic.com, meski namanya tidak sepopuler pabrikan bus lainnya seperti Volvo, Scania, bahkan Mercedes, Technobus Gulliver U520 sudah hadir sejak tahun 1996. Bahkan, di tahun tersebut, bus mini itu sudah menggunakan tenaga baterai lead-acid sebagai penggerak. Jangkauannya sekitar 40-60 km. Sangat pendek memang, namun sesuai peruntukannya, yaitu untuk rute-rute pendek di kota-kota kecil di Eropa.

Saat baterai bus habis, biasanya operator tidak mengecasnya melainkan mengganti baterainya selama beberapa menit dan melanjutkan operasi.

Meski begitu, penumpang membutuhkan bus yang lebih tangguh alias jangkauan yang lebih jauh. Dari situ, Technobus mengembangkan Gulliver U520 dan pada pertengahan tahun 2000an merilis model baru menggunakan baterai lithium, menggantikan baterai lead-acid. Ini menambahkan jangkauan bus terpendek di dunia menjadi 120 km per sekali jalan dalam kondisi baterai penuh.

Keberadaan baterai lithium tersebut juga membuat semburan AC menjadi lebih kencang dan lebih dingin dari sebelumnya, membuat penumpang lebih nyaman.

Tak puas, Technosbus pada tahun 2017 lalu merilis model terbaru dengan mengusung teknologi sel bahan bakar yang memungkinkan jangkauan lebih dari 250 km.

Banyak kota-kota di Eropa telah membeli Gulliver sebagai angkutan perkotaan di kota-kota kecil, dimana kebanyakan masyarakat berjalan kaki, naik sepeda, atau naik mobil dalam melakukan mobilitas sehari-hari. Roma saat ini merupakan operator terbesar dengan lebih dari 50 bus.

Baca juga: Double Decker Minggir, Bus di Inggris Ada yang Sampai Empat Tingkat (Quad Decker)

Selain Italia dan Eropa, Technobus Gulliver U520 bus terpendek di dunia sudah menembus pasar ekspor lintas benua, seperti Kanada, Argentina, dan lainnya.

Di Kanada, tepatnya di kota Quebec, bus mini tersebut igunakan di distrik “Old Quebec” sebagai antar-jemput gratis.

“Tanjung Perak Tepi Laut”, Riwayat Pelabuhan Kedua Tersibuk di Indonesia

“Tanjung Perak tepi laut, siapa suka boleh ikut…..” lirik lagu yang populer dari daerah Jawa Timur ini kerap mengingatkan kita akan pelabuhan yang terletak di Surabaya. Tapi tahu kah Anda bahwa Tanjung Perak yang berada di Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan adalah pelabuhan tersibuk kedua setelah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, dan Tanjung Perak juga menjadi pusat perdagangan menuju Kawasan Indonesia Bagian Timur.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Ciwandan – Pelabuhan Khusus Pemudik Motor di Lebaran 2023

Pelabuhan ini, tak hanya pelabuhan untuk penyeberangan kapal besar untuk angkutan penumpang saja, tetapi di Tanjung perak juga terdapat terminal untuk peti kemas. Ini dikarenakan Tanjung Perak memiliki letak yang strategis dan didukung oleh dataran gigir atau hinterland yang potensial. Dengan letak strategis ini membuat Tanjung Perak juga menjadi pusat pelayaran interinsulair kawasan timur Indonesia.
Ombudsman-Keluhkan-Dwelling-Time-Tanjung-Perak-SurabayaPelabuhan ini juga memiliki dermaga untuk kapal pesiar baik dari dalam maupun luar negeri. Pelabuhan penumpang ini menghubungkan Surabaya dengan kota-kota yang memiliki pelabuhan lainnya di Indonesia. Di Tanjung Perak, sama dengan pelabuhan lain yang memiliki terminal di dalamnya yang bernama Gapura Surya Nusantara.

Terminal ini menjadi terminal penumpang termewah di Indonesia. Tak heran adanya GSN menjadi terminal termewah, karena Pelabuhan Tanjung Perang memiliki dermaga untuk kapal pesiar. Fasilitas di dalam terminal ini seperti memasuki bandara internasional yang dilengkapi dengan fasilitas dua buah garbarata untuk kapal yang. Ini membuat Tanjung Perak menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang menyediakan fasilitas ini.

Kapal ferry yang berangkat dari Tanjung Perak memiliki dua rute yakni Surabaya-Banjarmasin dan Surabaya makasar. Tak hanya itu kapal penumpang yang berangkat dari Tajung Perak memiliki rute hingga ke Papua di ujung Timur Indonesia dan Tanjung Priok di ujung Barat Indonesia. Namun, dari Tanjung Perak tidak melayani rute kapal penumpang menuju pulau Sumatera karena rata-rata berangkat dari Tanjung Priok.
3933_2984_7-Juli-oke-Garbarata-Perak-Dulunya, sebelum menjadi pelabuhan Tanjung Perak, kapal-kapal bongkar muat barang di Selat Madura dibawa ke Jembatan Merah yang menjadi pelabuhan pertama. Pelabuhan yang berada dijantung kota Surabaya ini melintasi sungai Kalimas. Semakin lama, semakin berkembangnya lalulintas perdagangan dan meningkatnya arus barang dan transportasi membuat Jembatan Merah tak mampu lagi menampung. Hingga akhirnya tahun 1875 Ir. W. de Jonght merencanakan pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak untuk pelayanan lebih baik. Namun, pembangunan ini ditolak karena biaya yang dikeluarkan sangat besar.

Kemudian pada 1910 pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak akhirnya dimulai dan banyak permintaan untuk menggunakan kade/tambatan untuk kapal-kapal tersebut. semenjak adanya pelabuhan Tanjung Perak, perlahan-lahan pelabuhan di Jembatan Merah mulai di tinggalkan. Tak hanya menjadi pelabuhan baru, Tanjung Perak setelah resmi digunakan menjadi pemberi kontribusi yang cukup besar untuk perkembangan ekonomi dan memiliki peranan penting.

Baca juga: Mengapa Penumpang (Pemotor) Terus Kenakan Helm di Ruang Terminal Pelabuhan? Ini Jawabannya

Kemudian, tahun 1983, terminal Mirah selesai dibangun, terminal ini untuk penghubung antar pulau sama dengan terminal Jamrud disebelahnya. Kemudian dibanguan terminal untuk kapal ferry dengan layanan penumpang 24 jam penuh dari Surabaya-Madura, sekarang terminal ini dikenal dengan nama Pelabuhan Ujung. Kemudian dibangun terminal peti kemas bertaraf internasional dan selesai tahun 1992 dan dikenal dengan nama Terminal Peti Kemas Surabaya.

Garuda Indonesia Kerahkan Boeing 777-300 untuk Evakuasi WNI di Sudan

Garuda Indonesia mengoperasikan penerbangan evakuasi bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Sudan imbas situasi konflik yang terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Penerbangan evakuasi WNI yang merupakan komitmen penuh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI tersebut, tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 05.46 WIB melalui pemberangkatan Jeddah pada pukul 16.24 Local Time di mana sebelumnya secara bertahap para WNI tersebut mulai dievakuasi melalui jalan darat dari Ibu kota Sudan, Khartoum ke Port Sudan kemudian dilanjutkan perjalanan ke Jeddah baik melalui jalur laut dan udara.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa “Sebanyak 385 Warga Negara Indonesia telah tiba dengan selamat di tanah air pada pagi hari ini setelah melalui perjalanan panjang dari Khartoum, ibu kota Sudan menuju Jeddah yang kemudian melanjutkan perjalanan jalur udara menuju tanah air. Penerbangan evakuasi ini menjadi wujud kolaborasi yang dinamis antara Pemerintah serta seluruh stakeholder terkait dalam memastikan upaya pemulangan WNI berjalan dengan aman dan lancar.”

Proses pemulangan WNI ini dioperasikan dengan penerbangan GA 991 yang diterbangkan dari Jeddah dengan armada B777-300ER. Adapun penerbangan evakuasi tersebut terdapat 15 awak pesawat yang bertugas dan terdiri dari 3 cockpit crew, 1 FSM dan 13 awak kabin.

Irfan menambahkan, “Penerbangan evakuasi ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia dalam menjalankan mandat sebagai national flag carrier yang salah satunya diwujudkan melalui penyediaan aksesibilitas layanan penerbangan bagi masyarakat Indonesia yang akan kembali ke tanah di tengah situasi konflik yang terjadi saat ini di Sudan”.