Thailand Rayakan Festival Cahaya “Loy Krathong”, Ini Pilihan Destinasi Terbaik untuk Anda

Thailand akan tampak indah bercahaya selama perayaan salah satu festival budayanya yang paling berwarna dan menawan – Loy Krathong, yang juga dikenal sebagai Festival Cahaya pada bulan November ini.

Baca juga: Airbnb Rilis Data Terbaru Tentang Industri Wisata di Asia Tenggara, Thailand Jawara di 2022

Dalam rangka merayakan dewi air Phrae Mae Khongkha, jutaan warga Thailand mengapungkan (loy) rakit kecil (krathong) yang biasanya terbuat dari batang pisang yang dihiasi dengan bunga dan lilin. Krathong membawa harapan, keinginan, dan rasa syukur setiap orang, serta merepresentasikan tindakan untuk melepaskan yang lalu dan menyambut yang baru.

Loy Krathong dirayakan secara nasional di Thailand setiap tahunnya pada malam bulan purnama di bulan kedua belas kalender lunar Thailand. Festival ini akan berlangsung pada tanggal 27 November dan menjadi acara yang spesial bagi warga Thailand serta wisatawan manca negara.

Jika Anda berencana untuk mengunjungi Thailand pada musim liburan ini, jadikanlah liburan Anda tak terlupakan dan bergabunglah dalam perayaan ini! Berikut ini beberapa rekomendasi destinasi dan tempat menginap terbaik untuk menikmati Loy Krathong.

Chiang Mai
Terkenal dengan pegunungan dan hutannya yang rimbun, Chiang Mai yang terletak di bagian utara Thailand merupakan pusat budaya tradisional Lanna. Perayaan Loy Krathong ditandai dengan upacara besar dan kuil-kuil yang diterangi lampu, diadakan bersamaan dengan festival Yee Peng, di mana warga Thailand melepaskan ribuan lentera kertas (khom loi) ke langit malam dan menjadikannya pemandangan yang sangat menakjubkan.

Sungai Ping yang mengalir melalui jantung provinsi Chiang Mai merupakan tempat yang populer di kalangan penduduk setempat dan bagi para pengunjung untuk mengapungkan krathong. Selain itu, ada juga Gerbang Tha Phae yang terletak di sisi timur tembok kota tua. Parit di sekitarnya merupakan tempat favorit dan populer di kalangan penduduk setempat untuk berkumpul, sementara Monumen Tiga Raja di depan balai kota tua memiliki suasana yang ramai dan menarik banyak orang untuk ikut serta dalam kegiatan.

Sebelum beranjak dari Chiang Mai, pastikan Anda mencoba berbagai pilihan makanan lokal yang lezat. Beberapa yang wajib dicoba adalah sai oua (sosis khas Thailand utara), nam ngiao (mie asam dan pedas dengan sup tomat), dan khao soi yang populer (kari kelapa kental dengan mie renyah).

Bangkok
Ibukota Thailand akan berubah jadi penuh warna setiap Loy Krathong, merangkul akar budaya dan tradisinya dalam sebuah pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan. Sungai Chao Phraya di Bangkok merupakan destinasi populer bagi pengunjung dan penduduk setempat untuk mengapungkan krathong, di mana Anda dapat bergabung dalam kemeriahannya dengan latar belakang ikonik seperti Wat Arun. Selain itu, Anda dapat mengunjungi Wat Saket di mana Anda dapat menikmati Loy Krathong yang tak terlupakan di salah satu kanal tertua di Bangkok, Khlong Maha Nak, dan menjelajahi Golden Mount yang ikonis yang terletak tidak jauh dari sana.

Tidak jauh dari Chao Phraya, terdapat kawasan Song Wat yang trendi – dan baru saja terpilih sebagai salah satu dari 40 kawasan paling keren di dunia pada tahun 2023 oleh media pariwisata TimeOut – dengan perpaduan eklektik antara galeri seni dan bangunan bersejarah yang dapat Anda jelajahi. Saat menjelajahi Bangkok, jangan lupa untuk mencoba berbagai hidangan di kota ini, mulai dari pedagang kaki lima yang menawarkan makanan khas Thailand seperti pad thai dan pad krapow, hingga pasar seperti Jodd Fair dan restoran berbintang Michelin.

Phuket
Ada begitu banyak hal di Phuket yang bisa dinikmati. Terkenal dengan pantai dan pulau-pulaunya, Phuket kaya akan sejarah, dihiasi dengan kuil-kuil dan tempat suci yang menciptakan pengalaman unik Loy Krathong dengan nuansa ala pulau. Terdapat lebih dari 30 pantai di mana penduduk setempat sering mengapungkan krathong mereka. Selain itu, Anda juga dapat menjelajahi beberapa tempat yang tidak terlalu ramai turis tapi sama populernya, seperti Danau Sapan Hin dan Taman Suan Luang di Kota Phuket, atau Danau Nai Harn di selatan atau Danau Bang-Ma-Ruan di utara.

Baca juga: Manjakan Para Turis, Thailand Bangun “Kota Penerbangan” U-Tapao

Ketika berada di Phuket, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati hidangan laut paling segar yang ditangkap setiap hari dari laut Andaman. Hidangan lezat khas selatan yang patut dicoba adalah kaeng som (sup asam pedas), massaman (kari Thailand penuh cita rasa yang sedikit manis) dan kaeng tai pla (kari pedas dengan ikan fermentasi).

“Nopia.. Nopia..,” Oleh-oleh Khas Tak Terlupakan dari Stasiun Purwokerto

Kulineran dan membeli oleh-oleh saat melancong ke suatu tempat sepertinya hal lumrah, apalagi bila destinasi yang dikunjungi memang memiliki makanan tertentu dan tidak ada di kota lain alias khas kota tersebut. Seperti halnya pada masa lalu, saat belum adanya zona sterilisasi di bagian dalam stasiun, setiap pedagang boleh bahkan hampir terlihat wara-wiri ketika ada kereta yang berhenti untuk langsir. Bahkan saking ‘nyaringnya’ pekikan para pedagang keliling tersebut, bisa menjadi ‘penanda’ bahwa Anda telah tiba di stasiun-stasiun tertentu.

Baca juga: Cari Pecel Pincuk? Yuk Ke Stasiun Garahan!

Biasanya para pedagang ini menjajakan kuliner asli di kota tempat stasiun tersebut berada. Seperti lanting yang dijual di Stasiun Gombong dan pecel pincuk di Stasiun Garahan. Kali ini KabarPenumpang.com akan membahas nopia, makanan khas dari Purwokerto. Dulu, penjual nopia masih bisa bebas keluar masuk stasiun bahkan ke dalam kereta pun tak segan menjajakan jualan mereka.

Ilustrasi (istimewa)

Namun, kini masa telah berganti, seiring sterilisasi stasiun, pedagang sudah ditertibkan tak lagi boleh masuk ke dalam stasiun ataupun kereta api. Tetapi, nopia ini bisa seperti lanting yang dijual oleh pedagang di kios-kios stasiun. Mungkin, bagi penumpang yang niat dan ingin makan nopia, rela untuk berlari menuju kios demi mendapatkannya menjadi hal yang wajar. Meski pada faktanya, tak banyak yang nekat, lantaran perhentian kereta api jarak jauh di Stasiun Purwokerto hanya terbilang singkat, tidak seperti di Stasiun Cirebon.

Sebenarnya apa sih nopia itu? Nopia sendiri merupakan makanan khas Purwokerto yang sulit ditemukan di daerah lain. Nopia merupakan salah satu jajanan yang memiliki bentuk bulat yang khas dimana bulat tetapi sisi sebelahnya rata sehingga bentuknya tidak bulat sempurna. Jajanan ini memiliki cita rasa yang manis khas gula jawa. Apa saja sih bahan-bahannya dan kenapa bisa manisnya berbeda dengan jajanan lain?

Ternyata nopia dibuat hanya dari tiga bahan dasar yakni tepung terigu, gula merah dan air serta dipanggang dengan tungku khusus. Memang sederhana, tapi ternyata pembuatannya tidak sesederhana bahan-bahan pembuat. Sebab, nopia ini harus dibuat dua adonan terlebih dahulu yakni kulit dan adonan isi. Pertama, untuk kulit dengan mencampur terigu, gula pasir, air dan minyak sayur, kemudian digiling hingga bisa digulung.

Kemudian, buat adonan isi dengan campuran terigu dan gula merah. Setelahnya, bulatkan adonan isi sebesar bola ping pong dan dibungkus adonan kulit. Nopia ini dimasukkan dalam gentong atau diletakkan di atas tungku khusus yang terbuat dari tanah liat dan dibakar dengan kayu bakar yang berasal dari pelepah pohon kelapa. Namun saat ini bisa dipanggang dengan oven. Dulu hanya ada dua macam rasa yakni manis karena berasa gula merah dan rasa bawang goreng.

Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Tetapi kini nopia sudah berisi berbagai rasa seperti cokelat, durian, nangka dan lainnya. Tak hanya nopia, ada juga mino atau mini nopia dengan ukuran lebih kecil. Mino ini memiliki bentuk bulat tetapi gula merah isiannya biasanya menempel pada dinding dalam kulit nopia. Karena memiliki tekstur keras, nopia sendiri mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama. Harga jualnya pun bervariasi mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per bungkusnya.

Dubai Jadi Kota Nomer Satu Paling Diminati, Jakarta Nomer Berapa?

Dubai di Uni Emirat Arab (UEA) mengukuhkan posisinya sebagai kota yang paling diminati untuk dihuni oleh banyak orang. Kota ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tinggal di luar negeri, mengalahkan Miami, Paris, dan New York.

Baca juga: Trem di Dubai Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Monitor Keselamatan Penumpang

Menurut data dari Remitly, penyedia layanan keuangan, pencarian data Google selama 12 bulan menunjukkan Dubai sebagai destinasi yang paling diminati untuk dihuni oleh ekspatriat. Frasa ‘pindah ke kota’ dianalisis di 164 negara dan menunjukkan Dubai sebagai destinasi favorit. Hal ini menjadikan Dubai peringkat satu dalam daftar tersebut.

Dubai menjadi kota favorit karena pelayanannya yang canggih, adanya kebijakan ramah ekspatriat, dan gaji bebas pajak. Hal ini membuat banyak orang semakin tertarik untuk pindah ke kota ini.

Berikut adalah sepuluh kota yang paling diinginkan untuk dihuni:
1. Dubai
2. Miami
3. Paris
4. New York City
5. Madrid
6. Singapura
7. London
8. Brussels
9. Toronto
10. Washington DC

Di tahun 2021, Dubai menduduki peringkat kota terbaik di dunia berkat beragam inovasi, rekor dunia yang tak tertandingi, dan pilihan hiburan yang beragam. Tahun ini, Dubai juga masuk dalam daftar tempat yang sangat aman untuk dihuni, bersamaan dengan beberapa kota lainnya seperti Ajman di posisi keempat dan Sharjah di posisi kelima.

Baca juga: Diterpa Gelombang Panas, Dubai Buat Hujan Buatan dengan Drone

Selain kemudahan yang diberikan lewat kebijakannya, Dubai juga menjadi daya tarik sendiri karena keanekaragamannya. Mulai dari arsitekturnya yang modern, kehidupan malam yang semarak, sinar matahari sepanjang tahun, dan peluang kerja yang berlimpah. Hal ini ditandai dengan meningkatnya populasi di Dubai hampir 100.000 selama periode 12 bulan antara tahun 2022 dan 2023.

Ratusan Ribu Penumpang KA Argo Parahyangan Pindah ke Whoosh, KAI: Belum Ada Penurunan Signifikan

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengungkap ada ratusan ribu penumpang KA Argo Parahyangan yang naik Kereta Cepat Whoosh. Merespon hal itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyebut belum ada penurunan yang signifikan pada KA Argo Parahyangan.

Baca juga: 1 Bulan Beroperasi, Kereta Cepat Whoosh Sukses “Curi” Ratusan Ribu Penumpang Argo Parahyangan

“Terkait dengan beroperasinya Kereta Cepat Whoosh, dapat kami sampaikan bahwa sejauh ini belum ada penurunan penumpang yang signifikan pada KA Argo Parahyangan,” jelas Vice President Public Relations, Joni Martinus, kepada KabarPenumpang.com, Jumat (17/11/2023) melalui pesan singkat.

Adanya Kereta Cepat Whoosh, lanjut Joni, yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) kebanggaan Indonesia serta KA Argo Parahyangan adalah merupakan pilihan bagi masyarakat untuk bepergian dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya.

Kedua transportasi massal berbasis rel tersebut mempunyai keunggulan dan ke-khas-an masing-masing dan saling melengkapi.

KA Argo Parahyangan ditujukan bagi penumpang yang memiliki waktu longgar dan ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, sehingga cocok untuk pariwisata.

Sedangkan Kereta Cepat Whoosh lebih cocok bagi penumpang yang ingin perjalanan dalam waktu singkat, sehingga menjadikan Jakarta-Bandung sebagai kota komuter.

Lebih lanjut, Joni menjelaskan bahwa pihaknya belum melakukan strategi khusus berupa pemberian promo dan sejenisnya, demi mencegah penumpang KA Argo Parahyangan beralih ke Whoosh.

Sebelumnya, Direktur Utama PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi hadir dalam acara World Railway Cooperation and Development Forum yang digelar di China. Dalam kesempatan itu, KCIC menyampaikan pencapaian-pencapaian Kereta Cepat Whoosh di hadapan seluruh stakeholder perkeretaapian dunia.

“Sampai dengan 14 November 2023, 352 ribu orang telah melakukan perjalanan Jakarta-Bandung sejak Kereta Cepat Whoosh beroperasi secara komersial. Hal ini menunjukkan jika Whoosh telah menjadi salah satu pilihan moda transportasi penting dalam mobilitas masyarakat di wilayah Jakarta-Bandung,” ujarnya.

Baca juga: Yang Ngangenin dari KA Argo Parahyangan, dari Nasi Goreng ‘Gopar’ Hingga Jembatan Cisomang

Berdasarkan survey yang dilakukan kepada seluruh penumpang, 53 persen responden menggunakan kereta cepat whoosh untuk berlibur, 23 persen untuk urusan bisnis, sedangkan sisanya untuk kegiatan pendidikan, komuter, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Whoosh mendukung peningkatan perekonomian melalui tingginya masyarakat yang berlibur dan menggunakannya untuk kepentingan pekerjaan.

Sebanyak 48 persen responden sebelumnya merupakan pengguna kendaraan pribadi, 23 persen merupakan pengguna kendaraan Bus atau Travel, dan sisanya 29 persen merupakan pengguna kereta api konvensional atau dalam hal ini KA Argo Parahyangan.

Emirates Bukukan Pesanan 65 Unit Airbus A350-900, Spesial untuk Penerbangan 15 Jam dari Dubai

Di Dubai Airshow 2023, maskapai super tajir asal Uni Emirat Arab (UEA), Emirates, melakukan penandatangan pemesanan pesawat dalam jumlah yang fantastis. Selain mengorder 90 unit Boeing 777x senilai US$52 miliar, rupanya Emirates juga mengingat kontrak jumbo dengan pabrikan asal Eropa, Airbus, yakni dengan pemesanan (tambahan) lagi 15 unit A350-900.

Baca juga: Emirates Borong 90 Unit 777x Senilai US$52 Miliar, Pertahankan Gelar Maskapai Terbesar Pengguna Boeing 777 Series

Emirates telah menandatangani pesanan tambahan 15 pesawat A350-900 di Dubai Airshow 2023, sehingga total pesanannya menjadi 65 pesawat. Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, Chairman dan Chief Executive, Emirates Airline and Group mengatakan, “A350-900 akan menambah komposisi armada kami dan kami dengan bangga mengumumkan pesanan tambahan untuk jenis pesawat ini.”

Ia mengatakan, dengan armada pesawat baru, Emirates berencana mengerahkan A350 untuk melayani berbagai pasar baru termasuk misi jarak jauh dengan waktu terbang hingga 15 jam dari Dubai. “Kami akan bekerja sama dengan Airbus dan Rolls-Royce untuk memastikan pesawat kami memberikan efisiensi pengoperasian dan pengalaman terbang terbaik bagi pelanggan kami,” kata Sheikh Ahmed.

A350 adalah pesawat berbadan lebar paling modern dan efisien di dunia serta pemimpin jarak jauh dalam kategori kursi 300-410, terbang secara efisien di sektor apa pun mulai dari rute jarak pendek hingga jarak sangat jauh hingga 9.700nm.

Baca juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Desainnya yang bersih mencakup teknologi tercanggih, aerodinamis, material ringan, dan mesin generasi terbaru yang bersama-sama memberikan keunggulan 25% dalam pembakaran bahan bakar, biaya pengoperasian, dan emisi CO₂, serta pengurangan kebisingan sebesar 50% dibandingkan pesaing generasi sebelumnya. pesawat terbang.

1 Bulan Beroperasi, Kereta Cepat Whoosh Sukses “Curi” Ratusan Ribu Penumpang Argo Parahyangan

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Dwiyana Slamet Riyadi, memamerkan capaian Kereta Cepat Whoosh dalam World Railway Cooperation and Development Forum di Cina. Salah satu capaiannya menarik ratusan ribu kereta konvensional atau KA Argo Parahyangan yang dioperasikan PT KAI.

Baca juga: Piala Dunia U-17 di Bandung, Official Tim FIFA-PSSI Naik Kereta Cepat Whoosh

“Sampai dengan 14 November 2023, 352 ribu orang telah melakukan perjalanan Jakarta-Bandung sejak Kereta Cepat Whoosh beroperasi secara komersial. Hal ini menunjukkan jika Whoosh telah menjadi salah satu pilihan moda transportasi penting dalam mobilitas masyarakat di wilayah Jakarta-Bandung,” ujarnya.

Tak hanya itu, berdasarkan survey yang dilakukan kepada seluruh penumpang, 53 persen responden menggunakan Kereta Cepat Whoosh untuk berlibur, 23 persen untuk urusan bisnis, sedangkan sisanya untuk kegiatan pendidikan, komuter, dan lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Whoosh mendukung peningkatan perekonomian melalui tingginya masyarakat yang berlibur dan menggunakannya untuk kepentingan pekerjaan.

Sebanyak 48 persen responden sebelumnya merupakan pengguna kendaraan pribadi, 23 persen merupakan pengguna kendaraan Bus atau Travel, dan sisanya 29 persen merupakan pengguna kereta api konvensional. Hal ini menunjukkan mulai ada pergeseran penggunaan transportasi pribadi ke transportasi massal melalui kehadiran kereta cepat yang nyaman dan dapat diandalkan.

Meski begitu, dari data tersebut dapat dilihat bahwa Whoosh mulai memberikan kontribusi dalam upaya pengurangan polusi udara dan kemacetan di jalan raya.

Jumlah perjalanan harian terus bertambah seiring besarnya minat masyarakat untuk beralih menggunakan Whoosh dalam melakukan perjalan Jakarta-Bandung. Dari awalnya 14, 18, 22, 25, 28, 32, hingga saat ini mencapai 36 perjalanan per hari.

Baca juga: PT KAI Sebut KA Feeder Kereta Cepat Whoosh Anjlok di Bandung Tak Ganggu Layanan

Dwiyana menjelaskan, Kehadiran KCIC di ajang ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan bahwa Indonesia kini telah setara dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu mengoperasikan kereta cepat. Kereta Cepat Whoosh mulai menjadi suatu budaya baru di Indonesia untuk melakukan mobilitas di antara Jakarta dan Bandung.

“Kereta Cepat hadir di Indonesia untuk meningkatkan perekonomian dan mempermudah masyarakat dalam bertransportasi. Kecepatan, kenyamanan, dan keamanan yang ditawarkan menjadi keunggulan yang ditawarkan dari kehadiran kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini,” tutupnya.

PO Sudiro Tungga Jaya – Dari Magetan dengan Jargon ELKUSLA (Eling Kuat Selamet)

Belakangann setelah kenaikan tarif tiket pesawat, masyarakat kembali beralih menggunakan transportasi darat baik kereta api ataupun bus antar kota antar provinsi (AKAP). Hal ini kemudian membuat para pemilik perusahaan otobus (PO) semakin mengembangkan sayapnya seperti menambah armada bus yang baru atau membuka anak perusahaan baru yang melayani penumpang.

Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan?

Salah satu yang memanfaatkannya adalah PO Agam Tungga Jaya dimana awalnya bisnis PO ini adalah persewaan bus pariwisata. Kemudian seiring waktu berjalan PO ini membuka PO Sudiro Tungga Jaya yang melayani rute AKAP.

Pada pertengahan Juni 2017 kemarin PO Sudiro Tungga Jaya membuka dua trayek yakni Ponorogo – Ciledug PP dan Ponorogo – Bogor PP. Kemudian di Agustus pada tahun yang sama, membuka trayek ketiganya dari Ponorogo ke Jakarta PP.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, PO Sudiro Tungga Jaya berasal dari Maospati, Magetan, Jawa Timur. PO bus yang satu ini ternyata memiliki perbedaan yang unik dan signifikan dibandingkan PO lainnya dengan trayek sama yakni armadanya mampu mencatatkan waktu yang lebih cepat dengan jarak tempuh yang cukup panjang.

Penasaran kenapa bisa sampai secepat itu? Ternyata PO Sudiro Tungga Jaya sering melaju dengan kecepatan 100 km per jam lebih saat jalanan terlihat agak sepi sehingga wajar bila waktu tempuhnya lebih cepat dan viral dikalangan warganet serta penumpang yang sering menggunakan armada PO bus ini. Selain itu, armada-armadanya juga terkenal sering berovertake di jalanan baik kondisi jalanan sepi maupun jalanan ramai sekalipun.

PO Sudiro Tungga Jaya juga memiliki jargon ELKUSLA (Eling Kuat Selamet) yang jika dalam bahasa Indonesia memiliki arti Ingat Kuat dan Selamat. Armada PO Sudiro Tungga Jaya ini menggunakan body bus jenis Jetbus 2+ SHD dari Karoseri Adi Putro Malang dan yang terbaru menggunakan Zeppelin G3 HDD buatan Gunung Mas. Sedangkan untuk chassisnya sendiri PO Sudiro Tungga Jaya menggunakan chassis bus buatan Hino dengan tipe Hino R260 atau yang biasa disebut RK8, dan Hino RN 285.

Baca juga: PO Intra, Kondektur Bukan Hanya Pengutip Ongkos Tapi Juga Navigator untuk Menyalip

PO Sudiro Tungga Jaya ini melayani kelas eksekutif dengan total jumlah tempat duduk untuk penumpang sebanyak 32 kursi. Ditambah fasilitas-fasilitas seperti recleaning seat, bantal, selimut, servis makan, snack, toilet, hiburan LED TV dan juga ada free wifinya juga. Tarif dari bus ini untuk jurusan Jawa Timur – Jabodetabek diharga Rp180 ribu, sedangkan untuk Jawa Tengah – Jabodetabek diharga Rp160 ribu jika belum ada perubahan.

Stasiun Blitar, Sejarah Panjang dari Fokker Hingga Soekarno

Blitar kota kecil yang letaknya lebih kurang 167 km dari Surabaya dikenal sebagai kota tempat keberadaan makam Presiden RI pertama Ir Soekarno. Namun tak hanya itu, stasiunnya pun cukup dikenal orang karena di hall area stasiun Blitar terpasang poster Bung Karno untuk mengenang jasa-jasa beliau sejak direnovasi tahun 2013-2014 kemarin.

Baca juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Nah, untuk mengenal dekat lagi stasiun Blitar, KabarPenumpang.com telah merangkum dari berbagai sumber bahwa stasiun ini persisnya berada di ketinggian +167 meter dan masuk dalam Daerah Oeprasional (Daop) VII Madiun, tetapi sejak 1 Agustus 2016 stasiun ini masuk Daop VIII Surabaya.

Pastinya bangunan stasiun Blitar ini merupakan peninggalan masa Hindia Belanda dan pembangunannya bersamaaan dengan jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pengerjaan ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda dan dimulai pengerjaannya tahun 1883 yang kemudian diresmikan 16 Juni 1884.

Adanya kereta api di jalur Blitar, awalnya untuk memenuhi kebutuhan para pejabat Belanda dan pengusaha sebagai sarana mobilitas atau alat pengangkut hasil produksi perkebunan serta industri mereka sendiri. Blitar sendiri pada jaman penjajahan Belanda dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan yang berada di lereng Gunung Kelud dan lembah sungai Brantas.

Awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan orang-orang Eropa pada 1939 dan mencatat ada 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong dan kelapa. Tahun 1950, bangunan stasiun Blitar mengalami perombakan dimana bangunan depan pintu masuk stasiun yang menjulang serta ornamen pintu dan jendela yang menandakan bahwa bangunan stasiun bergaya Indische Empire.

Adanya sistem Overkapping yang menggunakan rangka penopang berbahan kayu menambah satu keunikan tersendiri di stasiun ini. Identitas lain, di stasiun Blitar juga terdapat dipo lokomotif, dipo kereta dan menara air.

Adanya hal tersebut menandakan dulunya stasiun ini sangat ramai dengan berbagai akivitas dari pergantian lokomotif uap hingga langsiran penambahan ataupun pengurangan kereta. Stasiun ini memiliki enam jalur dengan dua jalur sepur lurus dan satu jalur menuju area depo. Dibagian selatan stasiun terdapat jalur putar untuk lokomotif.

Stasiun Blitar termasuk stasiun besar yang terdapat di Daop VIII Surabaya, dimana semua kereta ekonomi, bisnis dan eksekutif berhenti di stasiun ini. Karena banyaknya objek wisata di Blitar, kedepannya stasiun tersebut akan dijadikan sebagai meeting point wisata kereta api, sejarah dan budaya.

Baca juga: Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara

Selain Bung Karno, sebenarnya ada lagi yang terkenal dari Blitar. Ya, Anthony Herman Gerard Fokker seorang insinyur Belanda, sang perintis brand aviasi Fokker diketahui lahir di Blitar pada 6 April 1890. Anda akan bertanya-tanya kenapa seorang penemu besar dan pesawatnya pernah di pakai Indonesia bisa lahir di Blitar?

Ini karena ayahnya, Herman Fokker Sr merupakan seorang pemilik perkebunan kopi milik Belanda. Ketika menginjak usia 4 tahun, Ia dipulangkan ke Amsterdam, Belanda untuk mengenyam bangku pendidikan yang lebih layak ketimbang di negeri jajahan. Dan dipercaya bahwa Fokker kecil pernah menggunakan akses stasiun Blitar.

Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Dari perjalanan lebih dari setengah abad melayani penerbangan domestik dan internasional, terbesit pertanyaan dari warganet, sudah berapa jenis pesawat yang pernah dioperasikan Garuda Indonesia sepanjang pengadiannya? Kemudian pertanyaan mengerucut, jenis pesawat apa yang paling banyak digunakan? Pertanyaan tentang sejarah pesawat selalu menarik, khususnya terkait armada yang memperkuat flagship airlines.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Dan tahukah Anda, bahwa jumlah pesawat terbanyak yang pernah dioperasikan Garuda Indonesia justru bukan dipasok oleh manufaktur seperti Boeing, McDonnel Douglas atau Airbus. Armada pesawat terbanyak Garuda Indonesia justru dipasok oleh manufaktur asal Belanda, Fokker. Garuda Indonesia dalam sejarahnya pernah menggunakan pesawat turbopropeller Fokker F-27 (1969) dan jet Fokker F-28 Fellowship (1971 – 2001). Nah yang disebut terakhir F-28, menjadi pesawat dengan unit terbanyak yang pernah digunakan dalam sejarah perjalanan Garuda Indonesia, bahkan beberapa orang menyebut Fokker F-28 menjadi tulang punggung Garuda Indonesia di periode tersebut.

Dari segi desain, Fokker F-28 mirip Douglas DC-9 yang juga dioperasikan Garuda Indonesia (1969 – 1989) namun dengan fuselage lebih pendek. Dalam sejarahnya GIA pernah mengoperasikan 3 versi F28, yaitu Mk1000, Mk3000 dan Mk4000. Fokker F-28 diluncurkan pada tahun 1962, pesawat ini merupakan hasil kerja dari aliansi yang terdiri dari Fokker dari Belanda, MBB dan Fokker-VFW dari Jerman serta Short Brother dari Inggris.

Sejumlah 62 pesawat Fokker F-28 dalam 3 versi pernah diterbangkan Garuda Indonesia sejak September 1971 hingga 5 April 2001. Garuda Indonesia adalah perusahaan penerbangan di dunia yang pernah paling banyak mengoperasikan Fokker F-28. Pada tahun 1968, Direktur Garuda Indonesia Airways, Wiweko Soepono berkeinginan pesawat Garuda Indonesia dapat menyinggahi semua kota-kota di Indonesia dalam satu hari penerbangan. Wiweko menjual pesawat DC-8 dan menggantinya dengan 12 pesawat Fokker F-27 yang bermesin turboprop dengan pertimbangan kemudahan transisi pilot Garuda menuju Fokker F-28.

Pembelian Fokker F-28 untuk Garuda Indonesia dimulai tahun 1969-1970. Sejumlah 8 calon pilot, 2 calon co-pilot, dan seorang juru mesin dikirim ke Amsterdam untuk menjalani pelatihan. Pesawat Fokker F-28 pertama untuk Garuda Indonesia (PK-GJZ) diterbangkan dari Bandar Udara Schipol, Amsterdam menyinggahi Teheran, Karachi, Kalkuta, Bangkok, dan sampai di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta pada 11 Agustus 1971 pukul 10 pagi. Sebelum dioperasikan, pesawat Fokker F-28 pertama Garuda Indonesia dibawa berkeliling Indonesia untuk uji coba landasan selama 5 hari. Pesawat tersebut ternyata mampu mendarat di semua bandar udara di kota-kota besar di Indonesia, hingga bandara berumput dan berkerikil.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Pada awal 1980-an, sejumlah 17 Fokker F-28 MK-3000 dihibahkan kepada Merpati Nusantara, sedangkan pesawat sisanya dihapus dari armada Garuda Indonesia pada 5 April 2001 untuk digunakan oleh Citilink.

Fokker F-28 Citilink

Meski disebut Garuda Indonesia pernah mengoperasikan 62 unit Fokker F-28, namun bukan berarti Garuda Indonesia membeli sebanyak itu, karena pada F-28 ser MK-3000 dibeli lewat tukar-tambah dengan MK-1000. Sehingga jumlah pesawat yang Garuda Indonesia yang dibeli adalah 34 unit.

Berkat Coldplay, MRT Jakarta Catat Rekor Penumpang Terbesar dalam Sejarah

Konser Coldplay di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Rabu kemarin memberikan dampak positif bagi MRT Jakarta. Tak main-main, penumpang MRT Jakarta tembus 163.162 orang per hari pada 15 November. Ini merupakan rekor penumpang harian terbesar MRT Jakarta sepanjang sejarah atau sejak pertama kali beroperasi pada tahun 2019.

Baca juga: Jelang Konser Coldplay, Jumlah Penumpang yang Datang di Stasiun Gambir Meningkat

Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi banyak pihak mulai dari masyarakat yang mempercayakan MRT Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan yang mendukung gelaran konser Coldplay kemarin dengan memperpanjang waktu operasional hinggal 01.30 WIB dan seluruh insan MRT Jakarta yang bertugas dalam memberikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat.

Selain itu, posisi stasiun MRT Jakarta yang memang sangat berdekatan dengan Stadion GBK menjadikan moda ini sangat diminati penumpang, dalam hal ini penonton Coldplay. Tak heran, usai konser selesai pada jam 11 malam, antrean masuk Stasiun MRT Jakarta Istora Mandiri pun mengular sampai jalan.

Begitu konser berakhir, penumpang berbondong-bondong menyerbu stasiun MRT Jakarta terdekat. Ini tentu berbeda dengan saat sebelum konser dimulai dimana waktu kedatangan penonton ke Stadion GBK berbeda-beda.

Meski mencapai on time performance (OTP) nyaris 100 persen dan headway rata-12-15 menit, rupanya antrean penumpang MRT Jakarta tetap mengular sampai beberapa waktu. Sebagian penumpang berharap melalui laman X resmi MRT Jakarta, seharusnya di rentang waktu pukul 11 malam sampai 1.30 dini hari, headwaynya bisa di kisaran 10 menit agar kepadatan cepat terurai.

Perpanjangan jam operasional ini sudah beberapa kali dilakukan oleh MRT Jakarta demi membantu mobilitas warga dalam menghadiri acara-acara yang diselenggarakan di sekitar Stasiun MRT Jakarta. Sebelumnya hal ini juga dilakukan saat gelaran acara SMTOWN di Jakarta.

Hal ini sejalan dengan kampanye MRT Jakarta #UbahJakarta, di mana hal ini menjadikan MRT Jakarta bagian dari gaya hidup masyarakat.

Baca juga: Coldplay ke Jakarta Kampanyekan ‘Sustainable Aviation Fuel’

“Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mempercayakan MRT Jakarta sebagai transportasi publik pilihan dalam bermobilisasi dan telah berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon di Jakarta,” jelas MRT Jakarta dalam laman X resminya.

“Kami percaya bahwa transportasi publik dapat juga diandalkan untuk bermobiliasi aman dan nyaman oleh masyarakat dalam acara-acara besar level nasional hingga internasional,” tutupnya.