Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Setelah pada artikel sebelumnya sudah dibahas tentang fakta-fakta unik dari Qatar Airways, agaknya kurang lengkap jika tidak mengulas pula fakta-fakta unik dari pesaing utamanya yaitu Emirates. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Emirates merupakan salah satu maskapai Timur Tengah yang menjadi sponsor beberapa klub raksasa sepak bola dunia, seperti Real Madrid, AC Milan, Paris Saint-German, hingga Arsenal.

Baca juga: 5 Fakta Unik Tentang Qatar Airways yang Mungkin Baru Anda Tahu!

Nah, selain rahasia umum di atas, kira-kira apalagi ya yang unik dari maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab ini? Berikut KabarPenumpang.com himpun beberapa fakta unik dari maskapai Emirates.

Punya Shower di Dalam Armada!
Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya, Emirates punya shower di armada A380 yang dimilikinya. Ternyata, tidak hanya di armada spesial Real Madrid saja yang memiliki fasilitas khusus ini. Bagi Anda yang ingin menjajal fasilitas ini, Anda bisa meng-upgrade seat Anda menjadi first class. Namun itu juga tidak bisa dijadikan jaminan bagi Anda untuk mencoba fasilitas ini.

Awak Kabin dari Berbagai Negara
Saking tenarnya Emirates, sampai-sampai ada banyak orang yang berbondong-bondong ingin menjadi bagian dari maskapai yang mulai beroperasi pada 25 Oktober 1985. Tercatat, awak kabin di Emirates terdiri dari 150 negara yang berbeda!

Penerbangan Perdana yang Bersejarah
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Emirates untuk mulai aksi perdananya – hanya sekitar tujuh bulan dari waktu pertama kali maskapai ini didirikan (25 Maret 1985). Dalam penerbangan perdananya, Emirates berhasil mengangkut Royal Family menuji Karachi di Pakistan, lho! Kala itu, penerbangan dengan kode EK600 tersebut masih mengunakan armada Boeing 727.

Hanya Mengoperasikan Dua Jenis Pesawat
Kendati namanya sudah mendunia, tapi percayalah bahwa Emirates hanya mengoperasikan dua jenis pesawat saja. Tidak seperti maskapai lain yang bisa mengoperasikan lebih dari dua jenis pesawat, Emirates hanya menggunakan Airbus A380 dan Boeing 777 saja. Ingin tahu jumlah keseluruhan dari armada Emirates ini? Lebih dari 250 pesawat!

Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Tidak Bergabung Dengan Aliansi Penerbangan Manapun
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, ada tiga aliansi penerbangan di dunia aviasi: Star Alliance yang mencakup Lufthansa, Thai Airways, dan beberapa maskapai lain ; OneWorld yang mencakup British Airways, Qatar Airways, dan lain-lain ; serta Skyteam yang mencakup China Southern, Garuda Indonesia, dan lain-lain.

Besarnya nama Emirates saat ini ternyata tidak disokong oleh aliansi penerbangan manapun. Keren!

Gerbong dan Lokomotif Ini Disulap Menjadi Sebuah Penginapan Luxury!

Masih ingatkah Anda dengan sebuah bangkai pesawat Convair CV-440 yang bertranformasi menjadi sebuah salon di Lanarkshire, Skotlandia? Atau sebuah Boeing 747 yang beralih fungsi menjadi sebuah restoran di Pakistan? Sebenarnya masih banyak sarana transportasi baik darat, laut, maupun udara yang disulap menjadi sebuah tempat yang menarik perhatian publik dunia. Tentu saja moda-moda transportasi ini berstatus sudah tidak lagi digunakan oleh operatornya masing-masing.

Baca Juga: Wanita Pirang Ini Sulap Convair CV-440 Jadi Sebuah Salon Mewah!

Sama halnya seperti Izaak Walton Inn yang berada di Essex, Montana, Amerika Serikat. Jika Anda mengira ini hanyalah penginapan biasa yang menyuguhkan pelayanan mewah, maka Anda salah besar. Siapa sangka bahwa penginapan yang berada dekat dengan Glacier National Park ini merupakan hasil modifikasi dari kereta api yang sudah memasuki masa pensiun!

Kabin Masinis di Lokomotif. Sumber: dailyinterlake.com

Sejumlah gerbong dan lokomotif yang sudah tidak terpakai dirombak habis-habisan sehingga menciptakan sebuah ruang yang cukup besar. Gerbong dan lokomotif yang sudah dibongkar ini lalu didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai sebuah kamar hotel berbintang, lengkap dengan dapur, kamar tidur, dan ruang tamu. Tidak hanya itu, kamar ini juga dilengkapi dengan polesan aksen kayu dan motif Great Northern Railroad yang semakin menambah kesan mewah dari penginapan ini.

Kamar di Lokomotif. Sumber: dailyinterlake.com

Salah satu fitur yang paling menarik perhatian pengunjung penginapan Izaak Walton Inn adalah eksistensi dari kabin masinis yang juga sudah mengalami perombakan, namun tetap mempertahankan keasliannya. Ini merupakan cara yang ditempuh pihak penginapan untuk mempertahankan nilai sejarah dari lokomotif dan gerbong-gerbong yang ada di Izaak Walton Inn.

Sumber: dailyinterlake.com

Satu gerbong penginapan dipatok dengan varian harga yang beragam, tergantung dari durasi menginap si pengunjung. Satu gerbong ini mampu menampung hingga enam tamu sekaligus. Empat dari delapan gerbong yang tersedia di Izaak Walton Inn pun memiliki fasilitas tambahan berupa perapian. “Nilai klasik dari gerbong tetap dipertahankan agar tidak melunturkan nilai sejarahnya,” ungkap Manajer Umum Izaak Walton Inn, Cristinna Gebbia.

Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba sensasi bermalam di gerbong kereta ini, persiapkan kocek Anda terlebih dahulu, karena harga yang dipatok tidaklah murah. Untuk kelas gerbong, harga dibanderol US$249 per malam, sedangkan untuk pilihan waktu yang lebih lama, harga berada di kisaran US$169 hingga US$199 permalam. Sedangkan untuk kelas lokomotif, harga dipatok mulai dari US$329 per malam.

Anda bisa melakukan pemesanan secara online melalui aplikasi pemesanan hotel luar negeri. Bagaimana, tertarik untuk mencobanya?

Sejarah ATR, Produsen Pesawat Regional Terbesar Dunia Besutan Perancis-Italia

Manufaktur pesawat asal Perancis tidak hanya soal Airbus, tetapi juga ATR (Aerei da Trasporti Regionale atau Avions de transport régional; Regional Transport Airplanes dalam bahasa Inggris). Siapa sangka, manufaktur pesawat regional terbesar di dunia ini adalah anak perusahaan dari Airbus.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Dilansir laman resmi perusahaan, ATR didirikan pada tahun 1981 oleh Aérospatiale dari Perancis (sekarang Airbus) dan Aeritalia (sekarang Leonardo) dari Italia. Itu sebab, ATR disebut sebagai anak perusahaan Airbus.

Sebelum itu, berbagai aksi korporasi dan kolaborasi antar manufaktur Eropa masif terjadi sepanjang dekade 60-an dan 70-an. Dari sana tercetuslah ide antar pemimpin kedua perusahaan, Renato Bonifacio (Aeritalia) dan Jacques Mitterrand (Aérospatiale), untuk turut berkolaborasi.

Dalam prosesnya, kedua pemimpin perusahaan tak menemukan titik terang dalam mendirikan perusahaan patungan. Alhasil, keduanya mengembangkan pesawat regional masing-masing di tahun 1978. Aérospatiale membuat konsep desain AS 35, sedangkan Aeritalia merilis AIT 230.

Setelah dirasa kurang dilirik, akhirnya kedua perusahaan memutuskan berkolaborasi pada tanggal 4 November 1981. Desain pesawat keduanya yang sudah dibuat pun akhirnya disatukan, ditambah beberapa pengembangan.

Pesawat pertama ATR dari hasil penggabungan dan pengembangan dua desain tadi akhirnya rampung pada 16 Agustus 1984 sebagai ATR 42–200 dan sukses terbang perdana di tanggal tersebut. Setahun berikutnya, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Prancis (DGCA) memberikan sertifikasi ke pesawat ATR 42-300 dan sukses dikirim ke pelanggan pertama, Air Littoral, di tahun yang sama.

Pada September 1989, ATR berhasil mencetak penjualan 400 pesawat, sesuai dengan target dan meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, setahun sebelumnya, ATR baru mencetak penjualan ke-200 saat mengirim pesawat ke Thai Airways.

Di tahun 1990-an, popularitas ATR di segmen pesawat regional terus menguat dengan kehadiran ATR 72. Pada tahun 1997, ATR berhasil mencetak pengiriman pesawat ke-500 saat merampungkan serah terima pesawat ke maskapai American Eagle.

Di tahun ini pula, ATR terus mengembangkan pesawat-pesawat buatannya, sehingga lahirlah ATR 42-320, ATR 42-300QC untuk memudahkan operator mengubah fungsi pesawat dari freight atau kargo ke mode penumpang, sampai ATR 42-500.

Di dekade berikutnya, ATR mulai fokus pada pengembangan ATR 72, dengan meluncurkan ATR 72-500, -600, dan -700. Meski begitu, pengembangan ATR 42 juga tak dilupakan, dengan diluncurkannya ATR 42-600, bersama dengan varian ATR 72-600, pada 2 Oktober 2007.

Kedua pesawat ini menawarkan berbagai keuntungan, mulai dari efisiensi, tangguh, hemat bahan bakar, dan biaya pengoperasian yang lebih rendah dibanding kompetitor.

Di dekade berikutnya lagi atau pada tahun 2010-an, ATR berhasil mencetak pengiriman pesawat yang ke-900, saat sebuah ATR 72-500 sukses dikirim ke maskapai Brasil, TRIP Linhas Aéreas pada 10 September 2010.

Setahun berikutnya, ATR mencetak pengiriman ke-1.000 usai pengiriman ATR 72-600 ke Air Nostrum Spanyol pada 3 Mei 2012 rampung.

Baca juga: ATR 42-600S – Jawara Terbang di Atas Pegunungan dengan Kemampuan STOL

Pada bulan Oktober tahun 2018, ATR sudah mencatat pengiriman 1.500 pesawat dan pesanan pesawat yang ke 1.700. Sejak tahun 2010, ATR disebut sudah mengusai pangsa pasar pesawat regional sekitar 75 persen. Bila di tahun segitu saja sudah sebesar itu, apalagi tahun 2018? Pasti pangsa pasar yang dikuasai ATR sudah jauh lebih besar.

Tak heran bila di tahun 2018 ATR mengklaim mencatat lebih dari 5.000 penerbangan per hari, mencatat 30 juta jam terbang bersama maskapai, dan lepas landas ataupun mendarat setiap 8 detik.

 

Wings Air Kembali Buka Penerbangan Banyuwangi-Surabaya, Hanya Berdurasi 11 Menit!

Setelah sempat dihentikan, ada kabar bahwa Wings Air (Lion Air Group) akan kembali membuka penerbangan jarak pendek yang menghubungkan Banyuwangi dan Surabaya. Penerbangan singat dengan durasi 11 menit tersebut rencananya akan kembali dibuka mulai 30 Agustus 2023. Keputusan ini akan membuka pintu peluang baru menuju destinasi unggulan, serta mendekatkan jarak dan mempersingkat waktu yang membangkitkan semangat Jawa Timur.

Baca juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi

Rute Banyuwangi – Surabaya pergi pulang (PP) akanmenghidupkan kembali jaringan intra Jawa Timur. Surabaya dan Bandar Udara Internasional Juanda memiliki peran yang signifikan sebagai tempat transit terbaik bagi perjalanan menuju dan dari Banyuwangi. Dan kesempatan penumpang dari Banyuwangi untuk terhubung ke jalur internasional melalui Bandar Udara Internasional Juanda.

Banyuwangi terkenal karena pesona alamnya yang memukau, seperti Pantai Pulau Merah, Kawah Ijen, Taman Nasional Balura, dan lainnya. Rute ini memungkinkan para wisatawan untuk dengan mudah menikmati keindahan alam yang beragam dan eksotis di Banyuwangi. Dari pemandangan pantai hingga gunung berapi yang menakjubkan.

Penerbangan singkat Banyuwangi-Surabaya dilayani pesawat turboprop ATR 72-600 (kapsitas 72 kursi kelas ekonomi), dan berikut di bawah ini adalah jadwal penerbangan yang dirilis Wings Air dalam siaran pers.

Mengenal Lebih Dalam Emplasemen, Istilah Perkeretaapian Yang Terlupakan

Bagi Anda yang sering atau pernah menggunakan jasa yang ditawarkan oleh PT KAI untuk plesir ke luar kota, mungkin pernah melihat sebuah lahan kosong yang berada di setiap ujung stasiun, baik stasiun besar maupun yang kecil. Biasanya lahan kosong tersebut berisikan patok atau plang nama stasiun, lengkap dengan elevasi stasiun. Bahkan beberapa diantaranya dilengkapi dengan pagar pembatas, seperti yang ada di stasiun Kiaracondong, Bandung.

Baca Juga: Sering Naik Kereta? Kini Saatnya Anda Mengenal Jenis dan Karakter Peron di Stasiun

Bagi Anda yang belum tahu, lahan tersebut merupakan emplasemen. Ya, salah satu istilah di dunia perkeretaapian ini memang terdengar asing di telinga kita. Secara etimologi, emplasemen merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, emplacement. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), emplasemen merupakan tempat terbuka atau tanah lapang yang disediakan untuk jawatan atau satuan bangunan (seperti tanah lapang di dekat stasiun untuk keperluan jawatan kereta api).

Rangkuman KabarPenumpang.com dari berbagai sumber dan literatur, emplasemen sendiri terbagi dari beberapa jenis, dilihat dari fungsi dan kegunaannya.

Emplasemen Stasiun/Penumpang
Emplasemen penumpang yang gunanya untuk memberi kesempatan kepada penumpang untuk membeli karcis, menunggu datangnya kereta api sampai naik ke kereta api melalui peron.

Emplasemen Barang
Khusus melayani pengiriman dan penerimaan barang dan letaknya dekat dengan daerah industri, perniagaan, dan lalu lintas umum. Sepur gudang dapat dibuat di satu sisi atau pada kedua sisi gudang dan di dalam gudang satu sepur atau lebih. Untuk cadangan perluasan dan ketentraman kota bisa dibuat di luar kota.

Emplasemen Langsir
Kereta Api barang dari semua jurusan yang menuju ke emplasemen langsir gerbong-gerbongnya dipisah-pisahkan dalam kelompok-kelompok menurut jurusan dan tempat tujuannya. Letak emplasemen harus jauh dari pemukiman agar pekerjaan melangsir gerbong tidak mengganggu ketertiban umum.

Emplasemen Penyusun/ Depo Kereta
Tempat untuk membersihkan, memeriksa, memperbaiki kerusakan kecil dan melengkapi kereta-kereta kembali menjadi rangkaian kereta api untuk disiapkan di sepur yang nantinya akan diberangkatkan dari emplasemen penumpang.

Emplasemen Depo Lokomotif
Untuk kebutuhan lokomotif-lokomotif yang menginap. Diperlukan ditempat-tempat peralihan dari jalan dataran ke jalan pegunungan untuk pergantian lokomotif dan di tempat-tempat yang harus melayani lokomotif-lokomotif untuk keperluan di emplasemen langsir.

Emplasemen Pelabuhan
Terdiri dari dua jurusan, yaitu dari daerah pedalaman ke pangkalan sebaliknya. Kereta api barang yang datang dari pedalaman diceraikan di emplasemen pelabuhan menurut kelompok-kelompok pembagi, kemudian gerbong-gerbong dibawa ke kelompok pembagi masing-masing, dimana dilakukan penyusunannya menurut pangkalan-pangkalan dan gudang-gudang.

Sumber: flickr.com

Jika dilihat dari beragam jenis emplasemen di atas, maka bisa disimpulkan bahwa emplasemen mencakup keseluruhan lahan di sebuah stasiun. Sebagai salah satu negara di dunia yang paling lama mencantumkan kereta api sebagai salah satu moda transportasinya, maka tidak heran jika bergam ‘penghargaan’ disematkan di perusahaan plat merah ini. Sebut saja emplasemen terpanjang di Indonesia terdapat bukan di Jawa, melainkan di Sumatera, tepatnya di Stasiun Tulungbuyut.

Baca Juga: Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Stasiun dengan kode TLY ini berada di Tulung Buyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara. Stasiun ini terletak di dekat perbatasan antara Kabupaten Lampung Utara dengan Kabupaten Way Kanan, menjadikan stasiun Tulungbuyut terletak paling utara dan barat di Lampung Utara. Untuk emplasemen dari stasiun ini sendiri memiliki panjang 2 kilometer dan dapat mengakomodir persilangan dua KA Babaranjang. Stasiun yang berada di bawah wilayah operasi Divisi Regional IV Tanjungkarang ini terletak di Jalur Kereta Api Panjang-Prabumulih, yang diapit oleh dua stasiun, yaitu Stasiun Negararatu dan Stasiun Negeriagung.

Awak Kabin Etihad Tampilkan “The Skydiving Orchestra Stunt” ala Mission Impossible

Tak ingin kalah aksi dari Emirates yang menampilkan aksi pramugari berdiri di puncak Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia, maka Etihad Airways yang juga berasal dari Uni Emirat Arab (UEA), membuat gebrakan dengan meluncurkan video awak kabin (pramugara dan pramugari) yang melakukan aksi terjung payung (skydiving) sembari memainkan alat musik.

Baca juga: Pramugari Emirates Berdiri di Puncak Burj Khalifa, Apa Tujuannya?

Video spektakuler tersebut melibatkan Emirates Airways yang menggandeng Paramount Pictures, yang menaungi produksi dan promosi global film “Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One.” Dengan jutaan pemirsa yang menonton melalui platform media sosial maskapai, aksi unik ini siap meninggalkan jejak yang tak terhapuskan baik di industri penerbangan maupun hiburan.

Apa yang disuguhkan Etihad adalah The Skydiving Orchestra Stunt, yang membuat jantung berdebar kencang. Tindakan berani tersebut menampilkan sekelompok musisi terjun payung yang membawakan lagu tema Mission: Impossible yang ikonik sambil meluncur melintasi langit dari ketinggian 13.000 kaki (sekitar 4.000 meter). Meluncur (terjun bebas) dengan kecepatan 193 km per jam, ansambel ini menentang gravitasi dan konvensi untuk menciptakan simfoni yang memompa adrenalin jauh di atas awan.

Di belakang layar, sebuah rencana yang cermat dibuat untuk melaksanakan upaya yang berani ini. Etihad Airways berkolaborasi erat dengan agensi kreatif mereka, Impact BBDO, untuk mengatasi tantangan yang datang dengan menggabungkan seni musik dan kehebatan skydiving.

Berminggu-minggu persiapan yang ketat dijalani, dengan setiap penerjun menerima segmen tertentu dari komposisi musik untuk dikuasai. Tuntutan bagi mereka untuk menjalankan bagian mereka dengan sempurna meskipun terjadi turbulensi saat terjun bebas. Selain itu, rigging khusus dirancang dengan cermat untuk setiap instrumen guna memastikan para penerjun payung dapat bermain dengan aman sambil mengatur parasut mereka secara bersamaan.

Baca juga: Airbus A380 Emirates Nyaris ‘Tabrak’ Pramugari di Atas Burj Khalifa

Untuk mengabadikan setiap momen yang menakjubkan, seorang sinematografer terjun payung yang terampil menemani ansambel di setiap lompatan, mencatat prestasi luar biasa mereka untuk anak cucu. Sepanjang seluruh proses, keselamatan tetap yang terpenting.

Bus Merah Muda Hadir di Tokyo untuk Gadis yang ‘Terlantar’

Banyaknya gadis-gadis belia yang berkeliaran di Shinjuku dan Shibuya, Tokyo membuat anggota kelompok sipil Colabo menghadirkan sebuah bus unik. Bus dengan warna merah muda atau pink ini dihadirkan untuk menawarkan perlindungan bagi gadis-gadis yang rentan di tempat hiburan malam Tokyo, Jepang.

Baca juga: Hino Motors Kembangkan Bus Mini Otonom di Bandara Haneda

Mirip dengan bus kemping, bus yang dijuluki Tsubomi (Bud) Cafe ini memiliki livery lukisan bunga. Tak hanya itu, bus tersebut memberikan makanan dan minuman gratis serta ruang untuk berbincang secara eksklusif bagi para gadis remaja di distrik Shinjuku dan Shibuya.

Bus ini hadir pertama kali di Tokyo, Jepang pada 17 Oktober 2018 di distrik dekat lampu merah Kabukicho di Shinjuku Ward. Seorang staf Colabo tersenyum dan mengajak dua gadis yang penasaran dengan bus itu untuk masuk dan mengatakan mereka bisa ke dalam.

“Kami menghadirkan bus ini, untuk menjalin hubungan dengan para gadis-gadis muda itu dibandingkan menawarkan bantuan hidup untuk mereka,” ujar Yumeno Nito salah seorang perwakilan Colabo.

Dia berharap hadirnya bus tersebut akan memberikan kenyamanan pada para gadis remaja dan bercerita kekhawatiran mereka dimana telah diabaikan oleh orang tua karena kemiskinan atau korban kekerasan. Bus ini juga bisa menjadi tempat untuk melindugi mereka dari eksploitasi seksual.

Konsep bus malam tersebut awalnya berasal dari Seoul saat Nito mengunjungi Ibukota Korea Selatan dan melihat gadis-gadis remaja yang mengalami hal sama dengan yang ada di Jepang. Ini yang membuatnya menghadirkan konsep bus tersebut di Tokyo.

Tsubomi (Bud) Cafe bus akan parkir seminggu sekali baik di Shinjuku atau Shibuya. Pemilihan proyek ini dihadirkan sebagai model untuk mendukung gadis remaja yang rentan oleh pemerintah pusat dan pemerintah kota Tokyo.

Seiko Kitazawa, kepala divisi promosi kesetaraan gender Shinjuku Ward, mengatakan dia telah melihat gadis-gadis datang ke Shinjuku setelah tidak lagi merasa aman di rumah mereka karena kemiskinan atau pelecehan. Kitazawa menekankan pentingnya dukungan sebaya.

“Jika kita mengatakan ‘Kami dari kantor lingkungan dan kami akan membantu Anda,’ saya yakin tidak ada yang akan menerima bantuan. Orang-orang yang dekat dengan usia mereka perlu mendekati mereka dan menciptakan kesempatan untuk memberi dukungan,” katanya.

Tak hanya itu, Nito juga ikut menggemakan pandangan itu. “Beberapa gadis tampaknya merasa tidak nyaman menerima bantuan umum karena mereka tidak mempercayai orang dewasa, jadi kami adalah orang-orang yang harus mencoba keluar untuk melihat dan berbicara dengan mereka,” katanya.

Yukiko Sakamoto, kepala kelompok lokal yang mendukung rehabilitasi pelanggar, bergabung dengan proyek bus Colabo pada hari pertama.

Baca juga: Kecewa Pada Perusahaan, Sopir Bus di Jepang Tak Tarik Biaya Perjalanan!

“Aku yakin para gadis itu tidak berkeliaran di malam hari karena pilihan. Mereka pasti memiliki beberapa alasan untuk tidak bisa pulang ke rumah. Beberapa dari mereka menderita kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah atau saudara tiri dan yang lainnya ditutup oleh pacar ibu mereka,” kata Sakamoto.

Sakamoto mengatakan dia terkejut ketika dia mendengar warna bus akan berwarna merah jambu. Tetapi penting untuk menonjol untuk menarik penumpang dan Yumeno benar-benar ingin menyelamatkan gadis-gadis itu.

Diet Coke, Inilah Minuman Yang Dibenci Pramugari

Minuman bersoda memang nikmat untuk melepas dahaga dalam suatu penerbangan, tapi tahukah Anda bahwa dalam penerbangan sebenarnya tidak disarankan untuk mengkonsumsi minuman bersoda. Para pramugari atau awak kabin malah sebenarnya kurang menyukai bila ada penumpang yang meminta minuman bersoda, terkhusus adalah diet coke.

Baca juga: Ada ‘Sesuatu’ di Hidangan Full Service, Antara Fakta dan Sensasi dalam Penerbangan

Ditengah padatnya aktivitas melayani banyak penumpang, menyajikan diet coke dianggap dapat merepotkan pekerjaan pramugari. Meski begitu, hampir semua maskapai hingga saat ini masih tetap menyajikan minuman bersoda dalam kemasan kaleng dalam berbagai rasa dan merek. Lantas apa yang ‘salah’ dari diet coke?

Salah satu awak kabin mengatakan, permintaan yang paling membuat kesal adalah memberikan minuman segelas diet Coke. Hal ini diungkapkan seorang awak kabin yang menuliskan di blognya yang bernama Wings Gold, dimana salah satu tuntutan pelanggan, dan ketakutan pramugari adalah waktu menuangkan minuman bersoda, banyak waktu yang tersita untuk menuangkan soda.

news.com.au

Baca juga: Nikmati Perjalanan dengan Makanan dan Minuman Sehat

Pangkal musababnya  ternyata minuman bersoda yang berada di udara bertekanan rendah seperti kabin pesawat, akan lebih mudah melepaskan CO2 yang menjadi salah satu kandungan utama diet coke. Ia juga menuliskan waktu atau durasi yang dibutuhkan untuk menuangkan satu gelas diet coke oleh seorang pramugari sebenarnya sudah bisa melayani minuman untuk tiga orang penumpang.

“Seperti yang Anda tahu, kabin pesawat tidak bertekanan ke permukaan laut, tapi setara dengan sekitar tujuh atau delapan ribu kaki. Ini berarti beberapa penumpang mungkin merasa sedikit pusing atau alkohol mempengaruhi mereka hampir dua kali lipat seperti di tanah. Ini juga berarti minuman ringan membengkak lebih banyak saat dituangkan dari kaleng, dan minuman dengan karakter seperti yang disebutkan mengarah pada diet coke. Saya benar-benar harus duduk dan menunggu gelembung (busa) jatuh sebelum saya dapat terus menuangkannya,”ujar awak kabin tersebut.

Baca juga: SpiceJet Tega Buat Penumpang Menunggu 7 Jam Tanpa Kepastian dan Minum

Sebenarnya, diet coke bukanlah satu-satunya minuman yang harus dihindari dalam penerbangan, sebab air panas, teh dan kopi juga bisa menjadi minuman yang dihindari namun tidak terlalu seperi diet coke. Alasannya? Tangki air panas yang ada di pesawat sangat jarang dibersihkan, sehingga air yang digunakan untuk menyeduh tidak 100 persen higienis.

 

Inilah 10 Makanan yang ‘Dilarang’ Dibawa Masuk ke Kabin Pesawat

Mengacu pada standar yang berlaku di dunia penerbangan, maka ada pembatasan jenis makanan yang diizinkan atau tidak diizinkan dibawa ke dalam kabin pesawat. Dan hal tersebut memiliki beberapa tujuan utama, terutama terkait dengan faktor keamanan, higiene, dan kenyamanan penumpang. Meski begitu, perlu diketahui bahwa persyaratan makanan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan di pesawat dapat bervariasi antara maskapai penerbangan dan negara.

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

Berikut ini adalah beberapa contoh jenis makanan yang umumnya memiliki batasan atau tidak diizinkan untuk dibawa di pesawat:

1. Makanan Cair Berlebihan
Ini termasuk saus, sup, selai, minyak, dan produk cair lainnya. Cairan harus dimasukkan dalam kantong plastik transparan dengan volume terbatas sesuai peraturan.

2. Makanan Mudah Rusak
Produk susu segar, daging mentah, dan makanan laut segar mungkin memiliki batasan karena risiko kerusakan atau kontaminasi.

3. Makanan dengan Aroma Kuat
Makanan dengan aroma kuat seperti durian atau makanan yang berbumbu sangat kuat mungkin mengganggu penumpang lain.

4. Makanan Tumpah atau Bocor
Minuman dalam botol yang tidak rapat atau makanan yang mudah bocor dari kemasannya mungkin tidak diizinkan.

5. Makanan dengan Kemasan Terbuka
Makanan dengan kemasan yang sudah terbuka atau rusak mungkin tidak diizinkan karena alasan higiene.

6. Makanan dengan Potensi Alergi atau Reaksi
Makanan yang berpotensi menyebabkan alergi atau reaksi serius pada penumpang lain mungkin memiliki batasan.

7. Makanan dengan Bahan Terlarang
Makanan yang mengandung bahan yang dilarang oleh peraturan kesehatan atau hukum setempat mungkin tidak diizinkan.

8. Makanan Panas
Makanan panas atau masih panas mungkin tidak diizinkan karena risiko keamanan.

9. Makanan dalam Wadah Besar
Makanan yang dimasukkan dalam wadah besar atau bahan non-transparan mungkin diperiksa lebih ketat oleh petugas keamanan.

Baca juga: Telur dan Tuna Berada di Urutan Teratas Daftar Makanan yang Tidak Boleh Dimakan di Dalam Kabin!

10. Makanan yang Melanggar Aturan Karantina atau Peraturan Kesehatan
Terutama dalam situasi pandemi, makanan yang melanggar aturan karantina atau peraturan kesehatan mungkin tidak diperbolehkan.

Jan Philip de Bordes – Pelopor Pembangunan Kereta Api di Wilayah Tropis (Indonesia)

Bordes. Apa yang Anda ketahui tentang bordes? Mungkin sebagian dari Anda akan mengetahui bordes merupakan bagian paling ujung yang ada di gerbong kereta, dimana Anda bisa menemukan kamar mandi di sini ataupun jalan menuju gerbong lain. Jika ditelusuri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, Anda akan menemukan defisini dari bordes adalah tangga untuk naik ke pintu (kereta api dan sebagainya).

Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!

Namun apakah Anda tahu bahwa kata bordes ini diambil dari nama seorang meneer Belanda yang pada tanggal 17 Juni 1864 silam memprakarsai pencangkulan pertama jalur kereta api di desa Kemijen, Jawa Tengah? Ya, ia adalah Jan Philip de Bordes. Lahir di Amsterdam, 7 Juni 1817, Bordes bisa dibilang sebagai anak dari pedagang yang kaya raya.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Bordes tidaklah diberkahi orang tua yang ‘berkecukupan’ saja, melainkan otak yang cukup encer. Ini terbukti dari penempatan Bordes di kamp pelatihan militer dan ditempatkan bersama orang-orang jenius lainnya pada tahun 1837. Dua puluh tahun berselang, Bordes mendapat kepercayaan untuk menyandang pangkat Kapten.

Singkat cerita, di tahun 1860 Bordes mengundurkan diri dari dunia kemiliteran dan ditunjuk menjadi sekretaris dari Commissie tot Aanleg van Staatsspoorwegen atau Komisi Pembangunan Kereta Api Negara. Setahun menjabat sebagai sekretaris, Bordes lalu dipercaya untuk memimpin Raad van Toezicht op de Spoorwegdiensten atau Dewan Pengawas Layanan Kereta Api.

Karir Bordes di dunia perkeretaapian semakin melesat dengan mandat untuk memimpin pembangunan jalur kereta api Semarang – Vorstenlanden di tahun 1863. Di bawah bendera Naamloze Vennootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (Perseroan Terbatas Perkeretaapian Hindia Belanda) yang dibawanya, Bordes pun menjalani tugasnya dengan baik.

Tujuh tahun berselang setelah penunjukkan dirinya sebagai pemimpin pembangunan jalur kereta api Semarang – Vorstenlanden, Bordes diberhentikan secara tidak terhormat oleh pihak perusahaan dengan alasan yang tidak diekspos. Kendati begitu, Bordes tidak begitu saja meninggalkan dunia perkeretaapian yang sudah membesarkan namanya. Ini dibuktikan dengan rajinnya ia menulis artikel tentang dunia perkeretaapian di tabloid The Economist.

Jan Philip de Bordes dikabarkan meninggal pada 5 Januari 1899 di usianya yang ke 82 tahun. Sebagai apresiasi atas apa yang telah dilakukannya, nama bordes diabadikan sebagai nama dari sambungan yang ada di gerbong kereta api.