Jan Philip de Bordes – Pelopor Pembangunan Kereta Api di Wilayah Tropis (Indonesia)

Bordes. Apa yang Anda ketahui tentang bordes? Mungkin sebagian dari Anda akan mengetahui bordes merupakan bagian paling ujung yang ada di gerbong kereta, dimana Anda bisa menemukan kamar mandi di sini ataupun jalan menuju gerbong lain. Jika ditelusuri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, Anda akan menemukan defisini dari bordes adalah tangga untuk naik ke pintu (kereta api dan sebagainya).

Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!

Namun apakah Anda tahu bahwa kata bordes ini diambil dari nama seorang meneer Belanda yang pada tanggal 17 Juni 1864 silam memprakarsai pencangkulan pertama jalur kereta api di desa Kemijen, Jawa Tengah? Ya, ia adalah Jan Philip de Bordes. Lahir di Amsterdam, 7 Juni 1817, Bordes bisa dibilang sebagai anak dari pedagang yang kaya raya.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Bordes tidaklah diberkahi orang tua yang ‘berkecukupan’ saja, melainkan otak yang cukup encer. Ini terbukti dari penempatan Bordes di kamp pelatihan militer dan ditempatkan bersama orang-orang jenius lainnya pada tahun 1837. Dua puluh tahun berselang, Bordes mendapat kepercayaan untuk menyandang pangkat Kapten.

Singkat cerita, di tahun 1860 Bordes mengundurkan diri dari dunia kemiliteran dan ditunjuk menjadi sekretaris dari Commissie tot Aanleg van Staatsspoorwegen atau Komisi Pembangunan Kereta Api Negara. Setahun menjabat sebagai sekretaris, Bordes lalu dipercaya untuk memimpin Raad van Toezicht op de Spoorwegdiensten atau Dewan Pengawas Layanan Kereta Api.

Karir Bordes di dunia perkeretaapian semakin melesat dengan mandat untuk memimpin pembangunan jalur kereta api Semarang – Vorstenlanden di tahun 1863. Di bawah bendera Naamloze Vennootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (Perseroan Terbatas Perkeretaapian Hindia Belanda) yang dibawanya, Bordes pun menjalani tugasnya dengan baik.

Tujuh tahun berselang setelah penunjukkan dirinya sebagai pemimpin pembangunan jalur kereta api Semarang – Vorstenlanden, Bordes diberhentikan secara tidak terhormat oleh pihak perusahaan dengan alasan yang tidak diekspos. Kendati begitu, Bordes tidak begitu saja meninggalkan dunia perkeretaapian yang sudah membesarkan namanya. Ini dibuktikan dengan rajinnya ia menulis artikel tentang dunia perkeretaapian di tabloid The Economist.

Jan Philip de Bordes dikabarkan meninggal pada 5 Januari 1899 di usianya yang ke 82 tahun. Sebagai apresiasi atas apa yang telah dilakukannya, nama bordes diabadikan sebagai nama dari sambungan yang ada di gerbong kereta api.

Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

Warga asli atau pelancong banyak menggunakan MRT dalam perjalanan mereka baik untuk bekerja maupun berwisata. Namun, ternyata banyak hal menarik yang tidak diketahui tentang fakta dari stasiun MRT di Singapura. KabarPenumpang.com melansir timeout.com, berikut ini adalah cerita di balik nama-nama stasiun MRT di Singapura.

Baca juga: Inilah Lima Stasiun MRT dengan Desain Terunik di Singapura

Bishan
Banyak dari stasiun MRT di Singapura yang dulunya adalah kuburan dan tidak terkecuali Bisha. Ini pernah menjadi rumah bagi pemakaman Kwong Wai Siew Peck San Theng yang didirikan imigran Hakka dan Kanton. Namun pada 1980-an ketika pemerintah mengambil alih tanah tersebut, banyak kuburan digali dan setelahnya tidak lagi dikubur melainkan di kremasi. Meski begitu pelancong masih bisa mengunjungi pusat budaya dan kolumbarium Kwong Wai Siew Peck San Theng yang terletak dekat dengan stasiun MRT.

Dhoby Ghaut
Sebelum dikenal sebagai salah satu stasiun MRT tersibuk di kota, Dhoby Ghaut pernah ramai dengan dhobis, atau tukang cuci India yang bekerja di daerah tersebut. Ghaut mengacu pada ‘ghat’ yang merupakan kata Hindi untuk langkah-langkah yang mengarah ke sungai. Dulu, para dhobi akan mengambil air dari Sungai Bras Basah dan mencuci pakaian pelanggan mereka di tempat Dhoby Green sekarang.

Toa Payoh
Nama ini mengambil referensi dari daerah rawa besar di kota itu dulu dan toa adalah kata Hokkien untuk besar dan payoh adalah kata Melayu untuk rawa. Are juga terkenal dengan penghuni liar yang dipindahkan untuk memberi jalan bagi flat dan perkebunan HDB.

Orchard
Hingga saat ini daerah Orchard adalah tempat belanja pelancong. Ternyata, dulunya Orchard Road penuh dengan kebun buah-buahan dan merupakan rumah bagi kebun buah pala, cabai, merica, dan banyak lagi.

Novena
Namanya cukup unik dan area stasiun MRT Novena dulunya merupakan bagian dari pemakaman Yahudi. Meski begitu ini bukan situs pertama dan yang asli terletak di belakang Fort Canning dan dikenal sebagai Old Cemetery. Pada tahun 1985, lahan tersebut dibuka karena pembangunan jalur MRT.

Bugis
Stasiun MRT Bugis awalnya bernama Victoria dan berganti nama menjadi Bugis pada tahun 1985. Sebelum kedatangan Inggris, kanal besar yang melintasi daerah itu adalah tempat orang Bugis yang adalah suku pelaut terkenal dari Sulawesi Selatan.

Bedok
Bedok mendapatkan namanya dari kata Melayu ‘bedoh’ yang merupakan gendang besar. Kembali pada hari-hari, sebuah drum besar digunakan di Masjid Al-Taqua terdekat sebagai panggilan doa bagi umat Islam yang tinggal di daerah tersebut.

Simei
Simei mendapatkan namanya dari Jalan Soo Bee yang sebenarnya masih ada di Upper Changi Road hingga saat ini. Sementara beberapa orang tidak setuju bahwa Simei (terjemahan Mandarin dari Soo Bee) mengacu pada empat keindahan legendaris Tiongkok kuno (yaitu Xishi, Diaochan, Zhaojun dan Guifei), Anda akan menemukan empat mural di sekitar kota para wanita ini sendiri yang membuat lebih banyak orang percaya.

Bukit Merah
Juga dikenal sebagai Bukit Merah, sejarah di balik nama itu sangat menarik. Menurut catatan sejarah Melayu, Singapura dulu diganggu oleh ikan todak yang akan menyerang orang-orang yang tinggal di pantai.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Tiong Bahru
Seperti Novena dan Bishan, Tiong Bahru juga pernah menjadi kuburan. Kata ‘tiong’ adalah kuburan dalam bahasa Hokkien sedangkan ‘bahru’ berarti baru dalam bahasa Melayu. Sebelumnya, jalan tersebut diberi nama Jalan Tanah Pemakaman karena mengarah dari Jalan Outram ke daerah yang dikelilingi oleh banyak kuburan Cina.

“Rotate!” – Mengapa Pilot Ucapkan Kata Tersebut Saat Lepas Landas

Bagi Anda yang pernah naik pesawat dengan kursi tak jauh dari kokpit, mungkin akan mendengar kata “rotate” yang diucapkan oleh pilot. Bagi yang penasaran, tentu itu mengundang tanya, perihal apakah maksud dari kata rotate tadi? apakah artinya pesawat akan berputar? Berikut penjelasannya.

Baca juga: Mengapa Pesawat Berhenti Sejenak Sebelum Lepas Landas? Ini Jawabannya

Kata “rotate” adalah istilah yang digunakan oleh pilot pesawat saat proses lepas landas (take-off) untuk memberi instruksi kepada kopilot atau pilot yang mengendalikan pesawat untuk mulai mengangkat hidung pesawat dari landasan. Ini adalah tahap penting dalam lepas landas, di mana pilot bertanggung jawab untuk mengatur sudut serangan pesawat sehingga sayap menghasilkan daya angkat yang cukup untuk mengangkat pesawat dari landasan.

Dikutip dari Simple Flying, disebutkan bahwa kata “rotate” merupakan istilah yang berasal dari bahasa Inggris dan merujuk pada gerakan memutar atau mengangkat hidung pesawat. Setelah mendengar instruksi “rotate” dari pilot, kopilot atau pilot yang bertugas di kendali akan menarik kemudi atau yoke pesawat ke belakang dengan lembut untuk meningkatkan sudut serangan sayap. Ini akan mengakibatkan pesawat mulai mengangkat hidungnya dari landasan dan bergerak ke dalam posisi penerbangan.

Baca juga: “Pre-Flight Check”, Inilah Lima Inspeksi Wajib yang Dilakukan Sebelum Pesawat Lepas Landas

Sejarah penggunaan kata ini dalam penerbangan dapat dikaitkan dengan perkembangan awal industri penerbangan dan bahasa yang digunakan dalam komunikasi antara pilot dan personel darat atau antarpilot.

Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta memang menimbulkan efek besar, terutama pada jalur-jalur tertentu. Mulai dari polusi yang ditimbulkan, hingga kemacetan yang terjadi setiap saat membuat sebagian warga Jakarta menggerutu akibat lamanya pengerjaan dari proyek ini. Namun, sebagian lainnya tetap bersabar menantikan kehadiran dari sarana transportasi yang diharapkan dapat mengentaskan kemacetan Ibu Kota.

Baca juga: Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

Dibalik semua reaksi yang ditimbulkan oleh warganya, proses pengerjaan proyek MRT tetaplah berlanjut sesuai dengan apa yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Ternyata berkaca pada negara tetangga yang sudah terlebih dahulu memiliki sistem transportasi serupa, yaitu Singapura yang juga pernah mengalami kejadian serupa dimana pembangunan MRT sempat mengalami gejolak sebelum akhirnya sistem transportasi ini menjadi salah satu andalan dari  negara yang kadang disebut sebagai Kota Singa tersebut.

Pada awalnya, pengadaan MRT dilandasi oleh hasil dari The Comprehensive Traffic Study pada tahun 1981 yang menunjukkan bahwa seluruh sistem bus di Singapura dinilai tidak praktis dan efisien. Hasil dari studi tersebut seolah mendapat dukungan dari Perdana Menteri Singapura pada masa itu, Lee Kuan Yew yang menyimpulkan bahwa sistem transportasi dengan hanya menggunakan bus tidak akan mencukupi kebutuhan warga Singapura karena akan memerlukan jalur jalan yang besar sementara masalah utama dari negara tersebut adalah keterbatasan lahan.

Sumber: techinasia.com

Biaya konstruksi awal MRT sebesar 5 miliar dolar Singapura merupakan gelontoran dana termahal yang pernah dikeluarkan untuk sebuah proyek pada waktu itu. Pembangunan awal  proyek MRT dimulai di Toa Payoh dan Noveda pada 22 Oktober 1983 setelah tahapan ground-breaking yang diadakan di Jalan Shan. Jaringan MRT dibangun secara bertahap dimulai dari Jalur Utara – Selatan karena melewati daerah pusat kota yang dinilai sangat memerlukan transportasi publik. Adalah Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) Corp. yang sebelumnya bernama Mass Rapid Transit Corporation (MRTC) yang kemudian mengelola proyek pembangunan MRT ini.

Warga Singapura harus mengapresiasi para pekerja yang bersusah payah membangun salah satu moda transportasi darat ini, mengingat bukanlah perkara mudah untuk “melubangi bumi” pada masa itu. Momen berbahagia terjadi pada 7 November 1987 dimana jalur pertama dari MRT Singapura secara resmi dibuka. Wakil Perdana Menteri Singapura pada masa itu, Ong Teng Cheong bahkan menggambarkannya sebagai prestasi luar biasa setelah 20 tahun mengalami masa-masa sulit dalam tahap perencanaan hingga pembangunan.

Baca juga: Siap Hadapi Perang, Stasiun MRT Singapura Punya Fungsi Ganda Sebagai Bunker Berkapasitas Besar

Publik menyambut moda anyar tersebut dengan sangat antusias, terlihat dari ramainya massa yang datang ke Toa Payoh MRT Station. Kebanyakan dari mereka ingin merasakan pengalaman menaiki moda anyar tersebut. Dalam perjalanan pertamanya, MRT ini membawa 400 tamu VIP dan regular bertolak dari Toa Payoh menuju Yio Chu Kang dalam waktu 15 menit saja. Berselang tiga minggu dari grand opening tersebut, tercatat sudah satu juta orang yang menggunakan jasa MRT ini.

Sebuah apresiasi pun diberikan oleh bos konstruksi tersebut kepada para pegawainya, tiga diantaranya adalah wanita Samsui, dengan memberikan waktu libur kepada mereka dan turut menikmati perjalanan menaiki kereta baru. Ini merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap mereka yang sudah bekerja keras selama empat tahun belakangan untuk membangun salah satu tulang punggung transportasi di Singapura ini.

Dengan lima jalur lintasan utama, saat ini MRT Singapura memiliki 113 stasiun dengan panjang rel mencapai 152,9 kilometer.

Pakistan Diguncang Krisis Ekonomi, Maskapai Nasional (PIA) Bakal Diprivatisasi

Dampak dari krisis ekonomi yang melanda Pakistan telah berimbas langsung pada kelangsungan maskapai plat merah negeri di Asia Selatan itu. Sebagai bagian dari kucuran bantuan dana IMF senilai US$3 miliar (setara Rp45 triliun), pemerintah Pakistan harus melakukan langkah privatisasi pada beberapa perusahaan nasional, yang salah satunya adalah Pakistan International Airlines (PIA).

Baca juga: Dibalut Ketegangan, Boeing 777 Pakistan International Airlines (PIA) ‘Nyasar’ ke Wilayah India

Seperti dikutip Simple Flying, Pemerintah Pakistan telah mengumumkan niatnya untuk memprivatisasi PIA, sebagai bagian dari program privatisasi yang sedang berlangsung. Langkah signifikan ini dilakukan ketika Pakistan berupaya untuk mengalihdayakan operasi bandaranya, sejalan dengan persyaratan kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional – International Monetary Fund (IMF).

Dalam langkah penting menuju reformasi ekonomi, Komite Kabinet Privatisasi, yang diketuai oleh Menteri Keuangan Ishaq Dar, telah memasukkanPIA ke dalam daftar aktif proyek privatisasi. Keputusan strategis ini mengikuti amandemen undang-undang baru-baru ini oleh Parlemen, yang memfasilitasi dimasukkannya PIA dalam agenda privatisasi yang sedang berlangsung.

Reputasi PIA telah dirusak oleh serangkaian masalah, yang berpuncak pada keputusannya untuk mengejar privatisasi. Salah satu pukulan paling signifikan terhadap reputasi maskapai ini adalah penangguhan penerbangannya ke Eropa dan Inggris pada tahun 2020. Penangguhan ini terjadi setelah Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mencabut otorisasi PIA untuk terbang ke wilayah tersebut karena skandal yang melibatkan lisensi pilot palsu. Insiden ini tidak hanya membahayakan kredibilitas maskapai tetapi juga menyoroti perlunya reformasi menyeluruh dalam operasi penerbangan.

Awal tahun ini, sengketa pajak muncul dengan Dewan Pendapatan Federal Pakistan (FRB), yang mengakibatkan pembekuan rekening bank operator beberapa kali. Masalah keuangan PIA meningkat, terutama karena salah urus dana dan kenaikan biaya bahan bakar.

Baca juga: Buntut Lisensi Palsu Pilot, Pakistan International Airlines Ditolak Masuk Uni Eropa Enam Bulan

Saat ini armada PIA terdiri dari 33 pesawat, 12 di antaranya tidak aktif, menurut data dari ch-aviation. PIA memiliki 16 Airbus A320ceo, empat ATR 42-500, satu ATR-72-500, delapan Boeing 777-200S, dan empat B777-300.

FAA Keluarkan Peringatan Potensi Bahaya Selama Proses ‘Anti Icing’ pada Boeing 737 Max

Administrasi Penerbangan Federal (Federal Aviation Administration/FAA) selaku regulator penerbangan di AS, belum lama ini telah memperingatkan bahaya atas keselamatan dari rumah mesin (engine housing) pada pesawat Boeing 737 Max selama proses anti icing (anti es).

Baca juga: Mengenal Traffic Collision Avoidance System (TCAS) – Perangkat ‘Anti Tabrakan’ di Pesawat Udara

Seperti dikutip dari reuters.com (9/8/2023), FAA memperingatkan maskapai penerbangan untuk membatasi penggunaan sistem anti-es pada Boeing 737 Max di udara kering untuk menghindari bagian rumah mesin menjadi terlalu panas, yang dapat menyebabkan mereka lepas dari struktur pesawat.

FAA mengatakan risiko bagi publik penerbangan cukup serius atas hal ini, sehingga akan memberlakukan perintah hanya dalam 15 hari, dan tanpa mengizinkan komentar publik terlebih dahulu. FAA mengatakan jika saluran masuk mesin terlalu panas, bagian dari rumah mesin bisa lepas dan menabrak jendela. Dan yang paling fatal dapat menyebabkan dekompresi dan bahaya bagi penumpang di kursi dekat jendela.

Jika bagian tersebut terlepas dari rumah mesin, itu tidak hanya dapat merusak jendela tetapi juga dapat mengenai bagian penting lainnya dari pesawat, menyebabkan pilot kehilangan kendali, kata FAA.

Temuan ini mempengaruhi mesin LEAP-1B yang digunakan pada semua versi Max. Mesinnya dibuat oleh CFM International, perusahaan patungan antara General Electric dan Safran Prancis.

Pada tahun 2018, seorang penumpang Southwest Airlines meninggal setelah bagian dari rumah mesin pada jet Boeing 737 versi lama terbang dan memecahkan jendela di samping tempat duduknya. Kegagalan mesin itu dimulai dengan bilah kipas yang patah.

FAA mengatakan belum ada laporan tentang masalah panas berlebih yang terjadi pada penerbangan Max. Dikatakan potensi kerusakan ditemukan selama pengujian dan analisis penerbangan pada bulan Juni.

Boeing mengatakan inlet yang terlalu panas – yang dibuat oleh Boeing, bukan CFM – hanya dapat terjadi dalam kondisi “sangat spesifik” dan tidak diketahui hingga saat ini.

“Boeing telah mengidentifikasi langkah-langkah untuk mengurangi potensi masalah dan (sedang) bekerja dengan pelanggan kami untuk menerapkan langkah-langkah tersebut sementara perbaikan permanen dikembangkan,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Masalah yang disorot oleh FAA melibatkan sesuatu yang disebut proses anti icing, di mana udara panas dari mesin digunakan untuk memanaskan rumah dan mencegah pembentukan es yang dapat tersedot ke dalam mesin.

Baca juga: Apa Itu Tes ‘Rendam’ Dingin Ekstem pada Pesawat dan Mengapa Diperlukan?

Anti icing pada pesawat adalah proses atau sistem yang dirancang untuk mencegah atau menghilangkan pembentukan es atau penumpukan es pada permukaan eksternal pesawat selama operasi di lingkungan yang dingin atau cuaca yang membeku. Pembentukan es pada permukaan pesawat dapat mengganggu aliran udara di sekitar sayap, ekor, dan bagian lainnya, yang dapat mengurangi kinerja dan stabilitas pesawat.

Sistem anti icing yang digunakan pada pesawat terdiri dari beberapa elemen, termasuk pemanas listrik atau elemen pemanas yang ditempatkan di sepanjang permukaan kritis pesawat.

“Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Namanya memang Stasiun Tanggung dan menjadi stasiun kereta api nomor dua tertua dan masih beroperasi hingga kini. Terletak di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, stasiun Tanggung merupakan stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil.

Baca juga: Hari ini 156 Tahun Lalu, Jalur Kereta Api Penumpang Pertama di Indonesia Resmi Beroperasi

Berada di ketinggian +20 meter dari permukaan laut, stasiun Tanggung masuk dalam Daerah operasional (Daop) IV Semarang dan memiliki dua jalur dengan jalur dua sebagai sepur lurus. KabarPenumpang.com mengabarkan dari berbagai sumber, awalnya stasiun Tanggung memiliki lebar rel 1435 mm yang merupakan standar Eropa, kemudian pada masa penjajahan Jepang, jalur rel tersebut digeser hingga menjadi 1067 mm sampai sekarang.

Stasiun ini memiliki gaya arsitektur Swiss Chalet yang berasal dari Swiss dan biasanya bentuk bangunan tersebut digunakan pada lumbung, kandang ataupun rumah tinggal. Gaya ini sangat sederhana tetapi sangat cantik bila melihat dari sisi seninya. Ciri Swiss Chalet ini bisa terlihat di bagian atap pelana yang diberi dekorasi dan ekspose tiang konstruksi.

Namun entah bagaimana gaya arsitektur milik pegunungan Swiss dipakai untuk gaya stasiun ini. Ada kemungkinan, gaya arsitektur ini sesuai dengan bangunan stasiun Tanggung yang kecil dengan tanpa mengurangi nilai estetika atau keindahannya.

Stasiun Tanggung memiliki empat ruang pada bangunan stasiunnya yakni ruang kepala stasiun yang juga digunakan untuk loket, gudang, ruang tunggu dan ruang PPKA.

Gaya arsitektur Swiss Chalet terlihat di bangunan Stasiun Tanggung tempo dulu

Stasiun ini pertama kali dibangun tahun 1867. Kemudian pada 1910 dibangun kembali dan berdiri hingga saat ini dan mengalami perubahan bentuk atap dari yang semula berupa kombinasi atap pelana pada bagian atas dan atap jurai di bagian bawah menjadi bentuk atap pelana serta teras berkanopi dibagian depan dan overstek di bagian belakang.

Diketahui, stasiun ini sudah empat kali direnovasi, yakni pertama tahun 1984, kedua setelah banjir 1996 tepatnya tahun 1997, ketiga kali renovasi pada tanggal 15 Maret 2000 dan terakhir kali banjir pada Desember 2006 tepatnya pada bulan Februari 2007.

Pada pertengahan tahun 1980an, stasiun ini pernah hendak dibongkar dan ditempatkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, untungnya tidak jadi dan tetap berada di tempatnya semula. Stasiun ini juga sudah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya berdasarkan UU Cagar Budaya No.5/1992.

Ada beberapa keunikan yang terlihat dari stasiun ini, yang pertama saat masuk akan terlihat sebuah tugu peringatan dengan tulisan “Di Bumi iniliah kita bermula” sebagai pegingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia. Keunikan kedua adalah sebuah rumah tua kecil yang dulunya menjadi rumah dinas kepala stasiun Tanggung dan masih ada hingga saat ini.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Karena sulitnya moda transportasi umum ke stasiun ini, akhirnya stasiun Tanggung beralih fungsi sebagai stasiun pemantau. Saat ini satu-satunya kereta api yang berhenti di stasiun Tanggung adalah KA Bangunkarta tujuan Jakarta untuk bersilang dengan sesamanya tujuan Surabaya yang melintas langsung.

Hari ini 156 Tahun Lalu, Jalur Kereta Api Penumpang Pertama di Indonesia Resmi Beroperasi

Hari ini 156 tahun lalu, yang bertepatan dengan 10 Agustus 1867, merupakan momen besar yang tak bisa dilupakan dalam sejarah ‘kuda besi’ di Tanah Air. Persisnya, pada tanggal tersebut jalur kereta api penumpang pertama di Indonesia resmi beroperasi.

Baca juga: Peringatan 155 Tahun Perjalanan Pertama Kereta Api Indonesia, KAI Lakukan Perjalanan Khusus Semarang – Tanggung pp

Jalur tersebut menghubungkan dua stasiun di Jawa Tengah, yakni Stasiun Samarang di Semarang dengan Stasiun Tanggung di Kabupaten Grobogan. Pembangunan jalur kereta api ini dipegang oleh perusahaan kereta api swasta asal Belanda bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Selain diperuntukkan untuk angkutan penumpang, jalur kereta tersebut juga digunakan untuk angkutan hasil bumi. Setelah itu, NIS melanjutkan pembangunan jalur kereta api ke Yogyakarta dan Surakarta yang selesai pada 1872.

Dengan pembukaan jalur kereta pada 10 Agustus 1867, maka Semarang–Tanggung merupakan dua kota yang pertama kali terkoneksi melalui jalur kereta api di Indonesia. Sebelumnya, jalur tersebut mulai dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron Sloet van de Beele pada 17 Juni 1864.

Jalur kereta perdana tersebut dibangun sepanjang 25 kilometer dan lebar 1.435 milimeter, dan turut melewati dua stasiun pemberhentian yakni Stasiun Brumbung dan Stasiun Alastua. Setelah memakan waktu tiga tahun masa pembangunan, jalur Tanggung-Kemijen kemudian selesai dibangun dan mulai beroperasi pada 10 Agustus 1867.

Pembangunan dan pengelolaan jalur itu dilakukan oleh NIS yang merupakan kantor perkeretaapian pertama di Indonesia dengan berpusat di Semarang.

NIS saat itu memberlakukan tarif naik kereta api Semarang-Tanggung mulai dari 0,45 gulden, 1,5 gulden hingga 3 gulden sesuai dengan kelas yang dipesan.

Kereta api di jalur tersebut tidak hanya digunakan untuk manusia berpergian, namun juga hewan ternak, hasil bumi, pedati, hingga gerobak dapat dinaikkan ke dalam kereta.

Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Kereta api Semarang-Tanggung beroperasi dua kali sehari pada pagi dan sore dengan waktu tempuh selama 1 jam. Kereta akan berangkat dari Stasiun Semarang pada pagi hari pukul 07.00 dan akan tiba di Stasiun Tanggung pada pukul 08.00 pagi.

Sedangkan pada sore harinya, kereta akan berangkat pada pukul 16.00 dari Stasiun Tanggung dan tiba pada pukul 17.00 di Stasiun Semarang.

Di India, Pengguna Lift dan Eskalator Mendapat Perlindungan Asuransi

Maraknya kecelakaan pada sarana dan pra sarana publik kerap terjadi di India, salah satu pangkal musababnya adalah faktor perawatan yang rendah. Selain peliknya problem transportasi di Negeri Anak Benua tersebut, kini kecelakaan yang terjadi di dalam gedung bertingkat juga mendapat perhatian serius dari regulator.

Baca juga: Laju Eskalator Stasiun Bawah Tanah Terlalu Kencang, Manula di Perth Kerap Jadi Korban

Di India, pengguna lift dan eskalator akan mendapat asuransi atau biaya pertanggungan jika terjadi kecelakaan. Menteri Energi Chandrashekhar Bawankule mengatakan bahwa Maharashtra Lifts Act 1939 belum diubah selama 78 tahun terakhir. RUU tersebut disahkan oleh majelis tanpa ada diskusi dan saat ini sedang dikirim kepada Dewan untuk menentukan hasilnya.

Dalam RUU tersebut menyebutkan bahwa pemilik lift dan eskalator wajib memberikan asuransi pada pihak ketiga jika terjadi kecelakaan. Perusahaan pemilik eskalator dan lift dapat di adili dan bertanggung jawab untuk mendapatkan hukuman berdasarkan Undang-undang tersebut jika terjadi kecelakaan pada lift atau eskalator karena tidak berfungsinya salah satu ketentuan keselamatan.

Eksalator dan elevator atau lift, merupakan dua teknologi pengangkut orang dalam gedung yang berbeda kapasitas. Bisa dikatakan setiap gedung perkantoran, mall, stasiun hingga bandara memiliki dua alat pngangkut ini, selain untuk memudahkan pengangkutan, keduanya juga mempercepat orang berjalan jika dibandingkan berjalan biasa melewati tangga manual.

Keduanya sebenarnya diperlukan untuk memudahkan pengangkutan orang dalam gedung. Walaupun memiliki persamaan tetapi eskalator dan lift juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, perbedaan keduanya dimana eskalator merupakan tangga berjalan yang bisa memindahkan orang lebih banyak. Sedangkan lift adalah tabung atau ruang kecil dengan pengungkit untuk mengangkat  orang dan memiliki kapasitas terbatas dalam mengangkut.

Selain itu jika menggunakan eskalator, kereta dorong bahkan kursi roda tidak bisa naik dalam eskalator. Tetapi jika menggunakan lift keduanya bisa masuk, terlepas dari yang ditakuti seperti terjebak dalam lift, atau tiba-tiba lift jatuh ke beberapa lantai bawahnya.

Tak hanya itu, bisa dikatakan, lift lebih hemat energi dibandingkan eskalator. Sebab, lift jika tidak digunakan akan mati secara otomatis sedangkan eskalator jika tidak digunakan ada energi yang tetap berjalan.

Baca juga: Intip Eskalator Stasiun Bersejarah di Sydney, Disulap Jadi Karya Seni Nan Artistik

Di dalam RUU tersebut juga menyatakan bahwa siapa pun yang melanggar ketentuan dalam Undang-undang atau peraturan atau persyaratan lisensi atau petugas pemeriksa listrik ini harus dihukum dengan denda sampai Rs50 ribu jika terbukti bersalah. Undang-undang baru tersebut juga mewajibkan bangunan yang memiliki eskalator untuk mendapatkan lisensi dalam retrospeksi.

F-16 AU Singapura ‘Scramble’, Lebih dari 20 Penerbangan di Bandara Changi Mengalami Delay

Tak kurang dari 20 penerbangan dari Bandara Internasional Changi mengalami penundaaan setelah flight jet tempur F-16 Fighting Falcon milik Angkatan Udara Singapura diterbangkan dalam moda siaga tempur. Flight jet tempur F-16 dikerahkan secara cepat dalam scramble untuk melakukan intercept, sebagai tanggapan atas penerbangan helikopter sipil tanpa izin di kawasan Changi.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) menerbangkan dua jet tempur F-16 pada Rabu sore (9 Agustus 2023) sebagai tanggapan atas helikopter sipil, kata Kementerian Pertahanan (MINDEF) dan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS). “Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa helikopter itu adalah milik sipil dan terdaftar di perusahaan asing,” tambah mereka.

“Setelah memastikan bahwa keamanan kami tidak terganggu, jet tempur F-16 kemudian didaratkan, dan penerbangan komersial dari Bandara Changi dapat dilanjutkan.” Dikutip dari akun Twitter @alert5, kedua jet tempur F-16 dikerahkan sekitar pukul 12.40 siang.

Operasi di Bandara Changi terpengaruh selama sekitar 40 menit, antara pukul 12.50 dan 13.28, kata pihak berwenang. Sebanyak sembilan penerbangan kedatangan dan 11 penerbangan keberangkatan mengalami beberapa delay.

Dengan menggunakan layanan pelacakan penerbangan online Flightradar24, pengguna akun mengatakan jet tempur telah melakukan scramble sebagai tanggapan atas “helikopter terdaftar Malaysia” yang memasuki wilayah udara Bandara Changi.

Wartawan pertahanan Roy Choo menambahkan bahwa helikopter yang dimaksud terdaftar di Malaysia dan diketahui dari jenis AS350 atau Squirrel produksi Airbus Helicopters.

Baca juga: Amankan Jalur Penerbangan, Pesawat Timnas Polandia Dikawal Jet Tempur F-16

Sebagai catatan, scramble adalah istilah dalam dunia kemiliteran, yang artinya jet tempur harus take-off secara cepat, salah satunya penerbang harus sudah mengudara maksimal 12-15 menit sejak perintah operasi diturunkan oleh pimpinan.