Hari ini, 44 Tahun Lalu, McDonnell Douglas MD-80 Terbang Perdana dengan Nama Besar DC-9

Meski kini tak lagi dioperasikan, beberapa tahun silam pesawat narrow body twin engine ini pernah menjadi andalan maskapai Lion Air. Inilah McDonnell Douglas MD-80, yang berdasarkan catatan sejarah, tepat hari ini, 44 tahun lalu, berhasil melakukan penerbangan perdana (first flight). Merupakan varian lanjutan dari pesawat regional DC-9, tak pelak debut MD-80 sangat laris dipasaran global, termasuk populer digunakan maskapai di Tanah Air, khususnya sebelum masuknya generasi Airbus A320 dan Boeing 737 Max.

Baca juga: DC-9/MD-80, Pesawat Penumpang yang Mampu Melakukan Self-Pusback!

McDonnell Douglas MD-80 melakukan penerbangan perdana pada tanggal 18 Oktober 1979. MD-80 adalah versi peningkatan dari MD-90, yang sebelumnya dikenal sebagai DC-9 Super 80. Pesawat ini merupakan anggota keluarga DC-9 yang telah terkenal sejak era tahun 1960-an. MD-80 menjadi populer sebagai pesawat penumpang berkapasitas menengah hingga panjang dengan kinerja yang handal dan efisien.

MD-80 adalah generasi kedua dari keluarga DC-9, awalnya ditetapkan sebagai DC-9-80 (DC-9 Seri 80) dan kemudian diubah menjadi DC-9 Super 80 (short Super 80). Sayap yang direntangkan dan diperbesar dan ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney JT8D-200 bypass yang lebih tinggi, program pesawat diluncurkan pada bulan Oktober 1977.

Sejarah MD-80 dimulai dengan pesawat DC-9 yang pertama kali diperkenalkan oleh Douglas Aircraft Company (kemudian digabung menjadi McDonnell Douglas). DC-9 adalah pesawat penumpang pendek hingga menengah yang pertama kali terbang pada tahun 1965. DC-9 menjadi populer di pasar penerbangan domestik Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

Meskipun penjualan DC-9 berhasil, perusahaan menyadari bahwa ada kebutuhan untuk pembaruan dan peningkatan pesawat tersebut untuk menjawab persaingan di pasar penerbangan yang semakin ketat. Seiring dengan perkembangan teknologi, ada kebutuhan untuk menghadirkan pesawat yang lebih efisien dalam hal bahan bakar dan kinerja.

Sebagai tanggapan terhadap kebutuhan di atas, McDonnell Douglas mulai mengembangkan varian yang lebih modern dari DC-9 yang kemudian diberi nama MD-80. Pesawat ini memiliki sejumlah peningkatan desain, termasuk mesin yang lebih efisien, kapasitas penumpang yang lebih besar, dan kinerja yang ditingkatkan.

Setelah melakukan perdananya, MD-80 disertifikasi pada tanggal 25 Agustus 1980. Pesawat pertama dikirimkan ke launch customer, yakni Swissair pada 13 September 1980, yang kemudian resmi mengoperasikan pada 10 Oktober 1980.

Baca juga: Setelah 36 Tahun! American Airlines Pensiunkan 26 Unit McDonnell Douglas MD-80

Seiring berjalannya waktu, keluarga MD-80 berkembang dengan munculnya berbagai varian seperti MD-81, MD-82, MD-83, MD-87, dan MD-88. Masing-masing varian memiliki peningkatan performa dan perubahan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan maskapai penerbangan.

Pada tahun 1997, Boeing mengakuisisi McDonnell Douglas, dan produksi MD-80 dilanjutkan sebagai bagian dari portofolio pesawat Boeing hingga tahun 2000-an.

Selang Sehari, Jalur Antara Sentolo – Wates Sudah Dapat Dilalui Kereta Pasca KA Argo Semeru-Argo Wilis Anjlok

Hanya butuh sehari, per Rabu (18/10), jalur hulu antara Stasiun Sentolo – Stasiun Wates sudah steril dan dapat dilalui kereta api dengan kecepatan 40 km per jam. KA pertama yang melewati yaitu KA Argo Lawu relasi Solo Balapan – Gambir pada pukul 11.35 WIB. Jalur ini sebelumnya tidak dapat dilewati kereta api lantaran terjadi ajloknya KA 17 Argo Semeru relasi Surabaya Gubeng – Gambir di KM 520 + 4 petak jalan antara Stasiun Sentolo – Stasiun Wates pada Selasa (17/10).

Baca juga: Gerbong Kricak Anjlok Sebabkan Kemacetan Lalu Lintas dan Terlambatnya KA

“KAI ucapkan terima kasih kepada semua stakeholders yang terlibat dalam proses normalisasi jalur rel antara Sentolo – Wates. Saat ini satu jalur rel sudah bisa dilalui dengan kecepatan terbatas. Sejumlah perbaikan jalur rel dengan memperkuat tubuh jalan rel terus dilaksanakan agar jalur ke dua dapat segera beroperasi kembali,” kata EVP of Corporate Secretary KAI Raden Agus Dwinanto Budiadji.

Pasca kejadian anjloknya KA Argo Semeru, KAI segera berupaya melakukan proses evakuasi sarana dan perbaikan jalur rel dengan melibatkan puluhan petugasnya. Dalam proses mengevakuasi rangkaian kereta api tersebut, KAI menggunakan 4 Crane, 1 Kereta Penolong, serta 1 MTT.

Untuk penyebab kejadian kecelakaan kereta api tersebut, KAI bersama pihak-pihak terkait seperti KNKT, Kemenhub, dan Kepolisian terus menyelediki penyebab terjadinya kecelakaan ini.

Dampak adanya insiden tersebut, beberapa KA mengalami keterlambatan kedatangan, di antaranya:
1. KA 17 (Semeru), relasi Surabaya Gubeng – Gambir datang 00.35 lambat 295 menit
2. KA 55 (Gajayana), relasi Surabaya Gubeng – Gambir datang 05.00 lambat 110 menit
3. KA 9 (Argo Dwipangga), relasi Solo – Gambir datang 05.07 lambat 97 menit
4. KA 57 (Brawijaya), relasi Malang – Gambir datang 07.06 lambat 127 menit
5. KA 59 (Bima), relasi Surabaya Gubeng – Gambir, diperkirakan datang 09.44 lambat 224 menit
6. KA 139 (Senja Utama Yogyakarta), relasi Yogyakarta – Pasar Senen, datang 01.43 lambat 40 menit
7. KA 87 (Senja Utama Solo), relasi Solo – Pasar Senen, datang 04.14 lambat 79 menit
8. KA 103 (Singasari), relasi Yogyakarta – Pasar Senen, datang 07.07 lambat 58 menit

Dalam pemberian kompensasi kepada penumpang terdampak kecelakaan ini, KAI mematuhi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api, menyatakan kompensasi keterlambatan KA antarkota adalah sebagai berikut:

1. Keterlambatan keberangkatan kereta api lebih dari 1 jam, penumpang dapat membatalkan tiket dan mendapatkan pengembalian seluruh biaya tiket. Jika tidak membatalkan tiket, maka:
a. Diberikan minuman ringan untuk keterlambatan lebih dari 1 jam.
b. Diberikan minuman dan makanan ringan berat untuk keterlambatan lebih dari 3 jam.
2. Apabila kereta api antarkota terlambat datang di stasiun tujuan, maka penumpang mendapatkan:
a. Makanan dan minuman ringan pada jam ketiga keterlambatan.
b. Makanan dan minuman berat pada jam kelima keterlambatan.
c. Penumpang dapat memilih melanjutkan perjalanan atau beralih ke transportasi lain dan mendapat penggantian uang tiket.
3. Bila terdapat hambatan dalam perjalanan, sehingga kereta tidak dapat melanjutkan ke stasiun tujuan, maka penyelenggara wajib:
a. Menyediakan kereta atau transportasi lain sampai stasiun tujuan.
b. Memberi ganti kerugian seharga tiket.

Baca juga: Hari Ini, 13 Tahun Lalu, Sempat Berjalan Miring, KA Putri Deli Anjlok di Wesel Stasiun Medan

Terkait dengan korban yang terdampak, KAI mencatat terdapat total 32 korban luka ringan dan semua sudah diberikan layanan kesehatan, dimana 4 orang di antaranya sempat dirawat di rumah sakit terdekat (3 orang di antaranya dinyatakan bisa langsung pulang dan 1 orang lainnya sedang dilakukan pendalaman).

“KAI menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang tidak diinginkan oleh semua pihak tersebut. KAI dengan pihak-pihak terkait terus melakukan upaya normalisasi jalur agar perjalanan kembali lancar,” tutup Agus.

Mulai Berbayar, Berikut Jadwal Keberangkatan Kereta Cepat Whoosh dan KA Feeder Kereta Cepat

Mulai hari ini, 18 Oktober 2023, Kereta Cepat Whoosh resmi berbayar. Tarifnya masih promo, bertepatan dengan HUT PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), dari seharusnya seharga Rp300 ribu menjadi seharga Rp150 ribu satu kali perjalanan, untuk relasi Halim – Padalarang dan Halim – Tegalluar maupun sebaliknya, sudah termasuk gratis perjalanan KA Feeder tujuan Stasiun Cimahi dan Stasiun Bandung seharga Rp50 ribu.

Baca juga: Ultah KCIC ke-8, Tiket Kereta Cepat Whoosh Promo Jadi Rp150 Ribu: Harus Beli Lewat Aplikasi Whoosh

Promo tiket Kereta Cepat Whoosh berlaku untuk keberangkatan tanggal 18 Oktober – 30 November 2023. Promo bisa didapat penumpang dengan cara pembelian melalui Aplikasi  Whoosh.

Selain itu cara pembelian tiket kereta cepat juga dapat dilakukan melalui Access By KAI dan Livin Mandiri sementara sejumlah aplikasi mobile lainnya seperti BRI mo dan BNI Mobile Banking dalam waktu dekat juga dapat mengakomodir pembelian tiket kereta cepat.

Saat ini Melalui kerjasama yang dilakukan, fitur pembayaran menggunakan virtual account dari Bank Mandiri, BNI dan BRI tersebut juga telah dapat mengakomodir pada transaksi pembelian tiket Kereta Cepat Whoosh diberbagai channel penjualan tiket.

Aplikasi Whoosh Kereta Cepat sudah bisa diunduh melalui Google Play Store dan App Store. Dengan aplikasi Whoosh, penumpang akan lebih mudah untuk melihat jadwal, melakukan pemesanan, hingga melakukan boarding melalui QR Code tiket yang akan muncul di Aplikasi setelah melakukan pemesanan.

Bagi penumpang yang sebelumnya telah membeli tiket Kereta Cepat Whoosh keberangkatan 18-23 Oktober juga akan mendapatkan tiket gratis sesuai jumlah yang telah dibeli sebelumnya sebuah sebuah reward. Untuk mendapatkan reward ticket tersebut, masyarakat dapat mengunjungi loket atau customer service di stasiun dan menunjukkan bukti transaksi yang telah didapatkan sebelumnya.

Saat ini ada 14 perjalanan Kereta Cepat Whoosh relasi Halim – Tegalluar dan Tegalluar – Halim. Senada dengan KA Feeder Kereta Cepat Whoosh relasi Padalarang – Bandung dan Bandung – Padalarang yang juga 14 perjalanan. Berikut jadwal lengkap keberangkatan perjalanan Kereta Cepat Whoosh.

15 Kereta LRT Jabodebek “Rusak”, 28 Perjalanan Hari Ini Dibatalkan! Ini Penyebab dan Nomor KA yang Dibatalkan

15 sarana kereta LRT Jabodebek dilaporkan mengalami masalah pada hari ini. Imbasnya, sebanyak 28 perjalanan kereta dibatalkan. Setidaknya, dalam beberapa hari ke depan, jadwal 28 pembatalan perjalanan itu dipastikan masih akan terus terjadi, mengingat proses perawatan kereta membutuhkan waktu yang lama dan kapasitas bengkel kereta tidak bisa langsung sekaligus melakukan perawatan.

Baca juga: Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

Manager Public Relations LRT Jabodebek Kuswardoyo pembatalan juga mengakibatkan sejumlah perjalanan LRT Jabodebek, headway atau jarak kedatangan antar kereta menjadi lebih panjang.

Saat ini, sejumlah sarana LRT Jabodebek sedang memasuki masa perawatan untuk memastikan perjalanan LRT Jabodebek aman dan nyaman. Pada masa perawatan ini mengharuskan sejumlah sarana kereta tidak dapat dioperasikan, hingga perawatan selesai dilaksanakan.

Beberapa perawatan yang dilakukan antara lain, 13 TS harus melakukan bubut roda untuk memastikan kondisi roda sesuai dengan apa yang menjadi syarat perjalanan LRT Jabodebek, sedangkan 2 TS sarana mengalami gangguan pada integrasi sistem persinyalan.

“Proses pembubutan roda untuk 1 TS memerlukan waktu antar 5-7 hari. Tentunya kita berusaha semaksimal mungkin agar pekerjaan perawatan tersebut bisa sesegera mungkin terselesaikan,” jelas Kuswardoyo.

Kondisi diperparah dengan kapasitas bengkel perawatan kereta yang terbatas, sehingga memungkinkan butuh waktu yang tidak sebentar agar perjalanan kereta LRT Jabodebek normal kembali.

“Betul hanya 1 TS untuk sekali pembubutan dan memerlukan waktu antara 5-7 hari pengerjaan,” tambahnya.

“Keamanan menjadi prioritas bagi operasional LRT Jabodebek, untuk itu kami dengan terpaksa menghentikan operasi sejumlah trainset untuk dilakukan perawatan sesuai dengan jadwal perawatan yang ada,” ungkapnya.

Baca juga: Kemenhub Sebut 4 Gangguan Utama LRT Jabodebek Selesai Akhir Oktober, INKA Disorot

LRT menyampaikan permohonan maaf atas adanya gangguan perjalanan dan pelayanan KA yang terjadi, “Saat ini kami bersama seluruh stakeholders tengah berupaya semaksimal mungkin agar proses perawatan dapat dengan segera terselesaikan, sehingga operasional perjalanan LRT Jabodebek kembali normal,” tutupnya.

Berikut jadwal sejumlah perjalanan kereta LRT Jabodebek yang dibatalkan.

Ultah KCIC ke-8, Tiket Kereta Cepat Whoosh Promo Jadi Rp150 Ribu: Harus Beli Lewat Aplikasi Whoosh

Di Hari Ulang Tahunnya yang ke-8, PT Kereta Cepat Iindonesia China (KCIC) hadirkan promo tiket Kereta Cepat Whoosh dari Rp300.000 menjadi hanya seharga Rp150.000 untuk satu kali perjalanan, sudah termasuk gratis perjalanan KA Feeder tujuan Stasiun Cimahi dan Stasiun Bandung seharga Rp50 ribu.

Promo tersebut berlaku untuk keberangkatan 18 Oktober hingga 30 November 2023. Hanya saja, promo tersebut bisa dinikmati untuk pembelian melalui aplikasi Whoosh, aplikasi mobile resmi milik KCIC.

Baca juga: Masih Gratis Sampai 16 Oktober, Begini Cara Pesan Tiket dan Jadwal Perjalanan Kereta Cepat Whoosh

Selain itu pembelian tiket kereta cepat juga dapat dilakukan melalui Access By KAI dan Livin Mandiri sementara sejumlah aplikasi mobile lainnya seperti BRI mo dan BNI Mobile Banking dalam waktu dekat juga dapat mengakomodir pembelian tiket kereta cepat.

Menariknya, bagi penumpang yang sudah membeli tiket Kereta Cepat Whoosh untuk keberangkatan tanggal 18-23 Oktober 2023 sebelum promo diumumkan, mereka akan diberikan tiket gratis 1x perjalanan untuk keberangkatan sampai tanggal 30 November 2023.

Hal tersebut merupakan hadiah atau kado yang KCIC berikan kepada penumpang yang telah antusias membeli tiket Kereta Cepat Whoosh sejak awal dibukanya penjualan. Untuk mendapatkan award ticket tersebut, masyarakat dapat mengunjungi loket atau customer service di stasiun dan menunjukkan bukti transaksi yang telah didapatkan sebelumnya.

Saat ini Melalui kerjasama yang dilakukan, fitur pembayaran menggunakan virtual account dari Bank Mandiri, BNI dan BRI tersebut juga telah dapat mengakomodir pada transaksi pembelian tiket Kereta Cepat Whoosh diberbagai channel penjualan tiket.

Berbagai promo yang dihadirkan KCIC juga merupakan bentuk upaya mendukung pemerintah untuk mengurangi kemacetan dan polusi sebagai dampak tingginya penggunaan kendaraan di jalan raya. Darapkan melalui beragam promo tiket kereta cepat Whoosh yang dihadirkan dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakan transportasi publik berbasis rel khususnya mengalihkan pengguna jalan raya yang beraktifitas di jalur Jakarta – Bandung agar menggunakan kereta cepat .

Adapun KCIC memberikan tarif promo untuk Kereta Cepat Whoosh senilai Rp 150.000 dengan rute Halim – Padalarang, Halim – Tegalluar, dan sebaliknya, sudah termasuk gratis perjalanan KA Feeder tujuan Stasiun Cimahi dan Stasiun Bandung. Promo tersebut berlaku untuk keberangkatan 18 Oktober hingga 30 November 2023.

Penerapan berbagai promo ini akan terus dilakukan karena kereta cepat Whoosh adalah kereta komersial, KCIC akan menggunakan strategy dynamic pricing sehingga penerapan tarif akan mengikuti pola permintaan atau strategi perusahaan dengan menggunakan perhitungan dan kajian yang tepat.

Sejak dibuka penjualan pada 14 Okt hingga tanggal 17 secara total terdapat sekitar 10.200 tiket yang sudah dipesan masyarakat, dimana 3.050 pemesanan tiket perorangan dan sekitar 7.150 lainnya merupakan pemesanan tiket rombongan.

Berbagai promo menarik dan aplikasi KCIC luncurkan dalam rangka menyemarakkan pengoperasian perdana Kereta Cepat Whoosh berbayar. KCIC menghimbau masyarakat agar segera download aplikasi Whoosh Kereta Cepat atau aplikasi yang telah bekerjasama lainnya untuk mendapatkan tiket Kereta Cepat Whoosh seharga Rp150.000.

Baca juga: KAI Services Beri Dukungan Tenaga Kebersihan Kereta Cepat Whoosh

Aplikasi Whoosh Kereta Cepat sudah bisa diunduh melalui Google Play Store dan App Store. Dengan aplikasi Whoosh, penumpang akan lebih mudah untuk melihat jadwal, melakukan pemesanan, hingga melakukan boarding melalui QR Code tiket yang akan muncul di Aplikasi setelah melakukan pemesanan.

KCIC mengucapkan terima kasih atas berbagai dukungan dari seluruh stakeholder dan kepercayaan dari masyarakat yang membuat KCIC dapat terus maju untuk menyelesaikan proyek strategis nasional ini. Sejak diuji coba dan digratiskan, kita sudah mulai melihat bahwa kereta cepat whoosh mulai menjadi suatu kebanggaan masyarakat Indonesia.

Hari Ini dalam Sejarah, Pertama Kali Dalam Sejarah Dua Maskapai Barter Pesawat

Hari ini dalam sejarah, yang bertepatan dengan 18 Oktober 1983, dua maskapai AS, Pan American World Airways (Pan Am) dan American Airlines sepakat barter atau tukar-menukar beberapa pesawat. Pan Am diketahui menyerahkan 15 McDonnell Douglas DC-10 sedangkan American Airlines memberikan 8 Boeing 747. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah ada dua maskapai penerbangan menyetujui barter pesawat.

Baca juga: Hari Ini, 111 Tahun Lalu, DELAG Maskapai Pertama di Dunia Asal Jerman Resmi Berdiri

Dilansir The New York Times, Jeffrey Kriendler, wakil presiden urusan publik Pan Am, mengatakan dalam sebuah wawancara pada 14 Oktober, bahwa “diskusi sedang berlangsung dan terus berlanjut” meskipun kedua maskapai belum mencapai kesepakatan.

Setelah sempat tarik ulur kepentingan selama beberapa hari dan sempat diisukan menemui jalan buntu, terhitung dari 14-18 Oktober, masing-masing maskapai akhirnya bersepakat menukar pesawat, dimana, menurut Kriendler, Pan Am menyerahkan 15 McDonnell Douglas DC-10 sedangkan American Airlines memberikan 8 Boeing 747.

Hans Plickert, analis maskapai penerbangan di E. F. Hutton, mengatakan transaksi (barter pesawat antar dua maskapai) “Pasti akan menjadi yang terbesar dari jenisnya.” Pertukaran pesawat di antara maskapai besar jarang terjadi. Mereka (maskapai) biasanya membeli pesawat baru untuk memodernisasi armada mereka.

Dengan adanya barter pesawat ini, Pan Am harus merelakan salah satu dari dua jenis pesawat trijet yang dimiliki dan menyisakan 12 pesawat trijet, Lockheed L-1011. Namun hal itu bagus untuk maskapai.

Pasalnya, selama ini, Pan Am kerap direpotkan (dipaksa keluar uang berlebih) dengan adanya dua jenis pesawat trijet itu terkait biaya perawatan serta melatih dan menjaga kemampuan pilot untuk menerbangankan kedua jenis pesawat. Nampaknya, inilah yang menjadi dasar Pan Am untuk mendapatkan pesawat yang dibutuhkan dengan jalan barter.

Pada Juli 1982, Pan Am memutuskan untuk menyederhanakan armadanya dengan menjual Lockheed L-1011 miliknya. Namun, maskapai kesulitan menemukan pembeli karena umumnya dunia juga kelebihan pasokan jet jumbo bekas. Ketika opsi barter DC-10 ke American Airlines muncul, menurut seorang pejabat industri, Pan Am memutuskan untuk memprioritaskan hal itu dan menahan rencana untuk menjual L-1011.

Plickert berujar, bahwa L-1011, yang dapat mengangkut 275 penumpang, menjadi pesawat yang ideal untuk rute Amerika Latin Pan Am, dimana traffic tengah menurun kala itu, sehingga membuat armada Boeing 747 Pan Am terlalu besar untuk rute itu. Queen of the Skies Boeing 747 diketahui dapat mengangkut hingga 450 penumpang per penerbangan.

Sebaliknya, Boeing 747, yang kala itu sudah ada 44 armada yang dimiliki Pan Am, sangat cocok untuk sebagian besar rute internasional jarak jauhnya. Dengan tambahan delapan pesawat, tentu maskapai dalam posisi yang lebih siap untuk menangani serbuan penumpang yang meningkat saat itu.

Pan Am sendiri sebetulnya tidak menginginkan DC-10. Namun, hal itu menjadi sebuah keniscayaan usai membeli National Airlines pada 1980 dan secara otomatis maskapai mendapat pesawat yang mampu mengangkut sebanyak 275 penumpang itu, mirip Lockheed L-1011 karena memang keduanya bersaing ketat.

Baca juga: Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Bak gayung bersambut, menurut Plickert, American Airlines sudah bertahun-tahun mengeluh bahwa Boeing 747 terlalu besar untuk strategi bisnis maskapai yang ingin membangun kembali jaringan domestik ke kota-kota penghubung di Amerika Serikat, sebuah strategi bisnis yang menjadikan frekuensi penerbangan sebagai fokus utama. Strategi bisnis seperti itu paling cocok dioperasikan dengan pesawat yang lebih kecil. Nampaknya inilah yang menjadi dasar maskapi menukar pesawat itu ke Pan Am.

Barter pesawat antar dua maskapai untuk pertama kalinya di dunia ini, bila diusut lebih dalam, sebetulnya merupakan hilir dari hubungan mesra dua maskapai yang sudah terjalin sejak lama. Sebelumnya, dalam koran The New York Times terbitan 21 Desember 1973, kedua maskapai dilaporkan juga sepakat untuk barter beberapa rute andalan masing-masing.

Kode Bandara Mudahkan Penumpang dan Pekerja Penerbangan

Jakarta ada CGK, Hongkong ada HKG, apakah Anda tahu ini kode apa? Pasti sebagian dari Anda tahu ini adalah kode dari bandara-bandara di seluruh dunia. Tapi pernahkah Anda sadar darimana dan kenapa ada kode-kode bandara ini?

Baca juga: IATA vs ICAO, Apa Bedanya? Berikut Ulasannya

Dilansir dari skygod.com, International Air Transport Association (IATA) mengatakan dengan adanya kode ini untuk memudahkan pilot, pengendali udara, pramugari, agen perjalanan hingga penanganan bagasi. Awalnya tahun 1903 ketika Wright bersaudara mengudara pertama kalinya bandara adalah lapangan yang nyaman dengan angin yang kencang.

Namun, saat itu, Weather Service melakukan tabulasi data dari seluruh kota di dunia dengan menggunakan sistem indikasi dua huruf. Dulunya, penerbangan hanya menyalin sistem ini, tetapi tahun 1930an saat dunia penerbangan tiba-tiba meledak ke masyarakat, kota tanpa stasiun pengendali cuaca juga ikut di identifikasi untuk mendapatkan kode-kode terbaru yang sesuai.

Blog FASTRAVEL
Blog FASTRAVEL

Kemudian beberapa bagian dari pemerintahan melakukan brainstorming dan lahirlah sistem dengan tiga huruf untuk bandara-bandara ini. Biasanya tiga huruf ini bukanlah berasal dari nama bandara itu saja melainkan dari kota-kota tempat bandar berdiri atau dibangun. Contohnya seperti Bandara Soekarno-Hatta di Indonesia yang memiliki kode CGK, karena berada di daerah Cengkareng, BOM untuk bandara di Bombay, India atau Kualanamu (KNO) di Sumatera Utara.

Selain itu singkatan tiga huruf ini juga, terkadang tidaklah sesuai dengan yang harusnya menjadi singkatan seperti O’Hare di Chicago yang disingkat ORD. Namun, semakin pesatnya pertumbuhan dunia penerbangaan membuat singkatan tiga huruf tidaklah lagi cukup untuk mengidentifikasi sebuah bandara. Ada beberpa badara yang menggunakan kombinasi angka dan huruf sebanyak empat digit seperti 2NC3(Sky-5Helipad), biasanya dengan kombinasi ini digunakan untuk landasan milik militer atau landasan helikopter.

Adanya kode ini, sekarang pengidentifikasian yang semakin berkembang dengan kompleksitas yang tinggi, maka kode-kode ini digunakan dalam sistem pemesanan melalui komputer dan manajemen penerbangan. Saat ini tren terbarunya adalah teknologi pemberian label dengan kode bar yang dicetak laser untuk sistem bagasi otomatis.

Baca juga: Bandara Mana yang Paling Mudah untuk Pilot Lepas Landas dan Mendarat?

Kode bandara ini biasanya tidak akan sama dengan kode booking atau kode pemesanan pada tiket pesawat. Namun, biasanya kode bandara tujuan berada di tiket dan boarding pass yang Anda punya untuk menaiki pesawat. Di Indonesia maupun di Internasional hampir semua bandara pasti memiliki kode tiga huruf ini, baik yang sesuai nama bandara ataupun nama kota tempat bandara itu berada.

Bawa Bagasi Besar Saat Naik Pesawat, Ini yang Perlu Diketahui

Tak jarang para wisatawan asing yang tiba di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, membawa papan selancar. Dilihat dari dimensinya yang besar dan terbilang berat, kemudian banyak mengundang tanya, bagaimana prosedur membawa bagasi kargo dalam ukuran yang sedemikian besar. Sudah jelas akan ada biaya ekstra, karena ukuran barang seperti papan selancar bukanlah barang standar.

Baca juga: Seringkali ‘Ghaib’, Mungkinkah Bagasi Pertama di Baggage Carousel cuma Buat Testing?

Perihal bagasi besar tentu banyak ragamnya, selain papan selancar, rombongan pemusik/band umumnya juga membawa bagasi dalam ukuran besar saat menggunakan jasa penerbangan. Nah, berapa biaya tambahan dan prosedur apa yang harus dilalui tatkala Anda harus membawa bagasi besar? Mungkinkah Anda bisa menghindari pengenaan biaya berlebih yang sangat besar?

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa bagasi besar adalah bagasi yang saat check in bobotnya melebihi batas berat dan ukuran standar yang ditetapkan oleh pihak maskapai.

Dikutip dari SimpleFlying, British Airways, misalnya, memiliki bagasi terdaftar standar maksimum berukuran (90 x 75 x 43 cm) – apa pun yang lebih besar dari ini dianggap terlalu besar. Demikian pula, pada penerbangan American Airlines, satu bagian yang melebihi gabungan panjang + lebar + tinggi 62 inci (158 cm) dianggap terlalu besar. Barang-barang berukuran ganjil seperti peralatan olahraga dan alat musik juga diberi label berukuran besar.

Namun, meskipun barang Anda termasuk dalam kategori besar, bukan berarti Anda dapat mendaftarkan barang dengan ukuran apa saja. British Airways hanya akan menerima bagasi check-in berukuran besar yang berukuran 190 x 75 x 65 cm. American Airlines tidak menerima bagasi terdaftar yang berukuran lebih dari 126 inci (320 cm). Jika tas Anda melebihi dimensi ini, Anda harus mengatur layanan kargo atau pengiriman.

Meskipun biasanya Anda tidak perlu memberi tahu maskapai terlebih dahulu tentang tas yang terlalu besar (kecuali jika Anda membawa barang berukuran ganjil), Anda harus tiba di konter check-in lebih awal. Beberapa maskapai penerbangan akan memasang label khusus pada tas untuk memperingatkan penangan bagasi tentang sifatnya yang terlalu besar atau kelebihan berat badan.

Perhatikan bahwa tas yang terlalu besar mungkin tidak masuk melalui conveyor belt bagasi biasa karena berbahaya untuk diangkat dari belt. Jika Anda tidak dapat menemukan tas besar Anda, Anda mungkin perlu mengambilnya dari konter bagasi besar di aula kedatangan.

Hal lain yang harus dipersiapkan adalah mahalnya biaya check in bagasi yang terlalu besar. Meskipun Anda mungkin tidak dikenakan biaya untuk mengangkut barang berukuran besar yang termasuk dalam batas berat yang Anda berikan, beberapa maskapai penerbangan mengenakan biaya untuk tas berukuran besar.

Seperti British Airways memungkinkan Anda mendaftarkan alat musik tanpa biaya tambahan jika masih dalam jatah 23 kg, tetapi biaya bagasi besar American Airlines berkisar antara U$150 hingga U$200 sekali jalan.

Baca juga: Kenapa Maskapai Batasi dan Kenakan Biaya Bagasi ke Penumpang?

Dari sudut pandang ekonomi, semakin berat pesawat, semakin banyak bahan bakar yang dibakar. Demikian pula, semakin banyak volume yang diambil oleh bagasi, semakin sedikit ruang yang tersisa untuk mengangkut barang di dalam perut. Maka karena itu, biaya bagasi berukuran besar akan relatif mahal pada setiap maskapai, yang tentunya juga akan bergantung pada jarak penerbangan itu sendiri.

Teknologi Skrining Baru di Bandara: Tak Perlu Lepas Sepatu!

Beberapa bandara bertaraf internasional selalu melakukan pemeriksaan sedetail mungkin untuk memperkecil kemungkinan ada barang selundupan. Bahkan, tak jarang ada pihak keamanan bandara yang meminta turis asing untuk melepas pakaian juga sepatu yang dikenakan.

Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

Saat sedang terburu-buru, tentu ini akan sangat merepotkan dan membuat pergerakan Anda terhambat. Waktu Anda pun banyak terbuang di sini.

Bagi petugas, penumpukan penumpang yang menanti di skrining bukan hanya membuat tak nyaman, melainkan juga menjadi celah para oknum penumpang untuk mempelajari situasi dan kondisi untuk bisa menyelundupkan barang ilegal. Tetapi, itu dulu. Sekarang sudah ada teknologi mutakhir untuk menghindari itu.

Teknologi pemindai sepatu yang baru dikembangkan oleh U.S. Department of Energy’s Pacific Northwest National Laboratory (PNNL), melalui pendanaan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (AS), ditambah peningkatan teknologi pemindaian tubuh (body scanner), penumpang dijamin bakal sampai di gate lebih cepat tanpa perlu membuka sepatu.

Kedua teknologi tersebut saat ini tengah diproses kembali oleh perusahaan keamanan Liberty Defense Holdings sebelum di pasang di berbagai bandara di AS. Rencananya, shoes scanner atau alat pemindai sepatu serta body scanner mutakhir yang lebih canggih hasil pengembangan PNNL itu baru akan tersedia di bandara mulai 18 bulan ke depan.

Cara kerjanya cukup mudah. Penumpang diminta untuk berdiri di tempat sudah ditentukan selama dua detik dengan tetap mengenakan sepatu. Gelombang elektromagnetik dari shoes scanner kemudian akan mengambil gambar bagian bawah dan dalam sepatu.

Dengan demikian, hampir bisa dibilang mustahil ada barang ilegal yang lolos dari skrining sepatu ini dan meminimalisir ancaman terorisme di dunia penerbangan.

Upaya meloloskan barang ilegal, berbahaya maupun tak berbahaya, bukan sekali dua kali terjadi. Pada bulan Desember 2001, tiga bulan setelah serangan teroris 9/11, Richard Reid berusaha meledakkan bahan peledak yang disembunyikan di sepatu ketsnya dalam penerbangan American Airlines dari Paris ke Miami.

Ketika itu, sebagaimana dikutip dari axios.com, upaya terorisme di dunia penerbangan itu berhasil digagalkan oleh penumpang. Pesawat pun berhasil mendarat dengan selamat dan penumpang tersebut berhasil diamankan petugas tanpa perlawanan.

Baca juga: Inilah Alasan Perlunya Dua Kali Skrining Keamanan di Bandara

Sejak tahun 2006, penumpang pesawat diharuskan untuk melepas sepatu sebelum melewati body scanner kecuali mereka sudah melewati TSA Pre-Check.

Meskipun teknologi tersebut baru tersedia di AS, bukan tak mungkin ke depan teknologi pemindai sepatu akan hadir di banyak bandara di seluruh dunia; termasuk Indonesia.

Inilah Alasan Perlunya Dua Kali Skrining Keamanan di Bandara

Terjadi sebuah pelanggaran dalam pemeriksan keamanan adalah hal yang bisa saja terjadi di bandara, meski dipastikan frekuensinya tidak akan besar. Pasalnya mesin skrining sering tidak membaca dengan jelas apa yang ada di dalam barang bawaan penumpang.

Baca juga: Seorang Wanita Bawa Pisau dan Lolos dari Alat Pemindai, 3 Ribu Penumpang Tertahan di Bandara Auckland

Sehingga prosedur pemeriksaan keamanan perlu dilakukan dua kali, pertama di pintu masuk dan kedua sebelum masuk ke ruang tunggu (boarding room). Beberapa waktu lalu seperti di Bandara Auckland, Selandia Baru, dimana ada seorang penumpang yang membawa pisau melewatkan pemeriksaan keamanan di terminal domestik dengan melompati penghalang dan melewati pintu kedatangan.

Kemudian karena hal tersebut penumpang yang sudah melalui keamanan mau tak mau harus kembali diperiksa. Ternyata pelanggaran keamanan seperti ini beberapa tahun terakhir pernah terjadi.

Juru bicara Aviacion Security Service (Avsec), Mike Richards mengatakan setiap orang yang telah melalui pemeriksaan keamanan harus kembali diperiksa setelah terjadinya pelanggaran. Karena, petugas keamanan tidak ingin adanya masalah hingga pelanggar masuk dalam pesawat untuk menikmati penerbangannya.

Richards mengatakan, pihak keamanan tidak tahu barang apa yang dibawa oleh pelanggar dan bisa saja itu termasuk berbahaya atau terlarang serta diteruskan ke orang lain.

“Seringkali bahkan CCTV yang canggih pun bisa terkecoh dan banyak waktu berlalu sebelum orang tersebut ditemukan dan di interogasi. Dalam keamanan penerbangan, keselamatan penumpang yang bepergian adalah prioritas kami dan kami tidak dapat membiarkan risiko yang tidak teridentifikasi memasuki area steril di bandara,” ujar Richards.

Baca juga: Bergurau Soal Bom, Penumpang Lion Air (Kembali) Digelandang Petugas Keamanan Bandara

Seorang juru bicara Bandara Auckland mengatakan, pelanggaran tersebut membuat Avsec harus menyaring kembali semua penumpang yang menunggu penerbangan mereka dan menghentikan penumpang sementara sebelum masuk ke pemeriksaan keamanan. Namun, untuk menghindari hal tersebut kembali terjadi, juru bicara tersebut mengatakan, belum tahu seperti apa untuk mencegah atau mengurangi pelanggaran seperti itu di masa depan.

Masalah pelanggaran merupakan masalah bersama baik keamanan petugas bandara hingga maskapai penerbangan. Juru bicara Jetstar mengatakan keselamatan adalah prioritas nomor satu maskapai. “Kami sepenuhnya mendukung penyaringan yang diperlukan dalam situasi ini”.