Klarifikasi KCIC Usai 31 Penumpang Ketinggalan Kereta Cepat Whoosh: KA Feeder Dioperasikan Daop 2 KAI

Sebanyak 31 penumpang ketinggalan Kereta Cepat Whoosh lantaran KA Feeder relasi Padalarang-Bandung terlambat datang akibat gangguan mesin. Berdasarkan schedule KA Feeder, seharusnya penumpang tiba di Stasiun KAI Padalarang pada 6.41 WIB untuk kemudian berjalan menuju Skybridge dan berangkat menuju Halim dari Stasiun Whoosh Padalarang pada 6.56 WIB.

Baca juga: Hari ke-2 Operasional Berbayar, Okupansi Kereta Cepat Whoosh Rata-rata 50 Persen

Usai insiden penumpang tertinggal tersebut, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), yang mengoperasikan Whoosh pun menjadi sasaran kritik dari masyarakat. Seperti diketahui, KA Feeder bukan dioperasikan oleh KCIC melainkan oleh Daop Bandung KAI.

“(KA Feeder dioperasikan) Daop 2,” jelas Eva Chairunisa, Corporate Secretary PT KCIC, saat dikonfirmasi KabarPenumpang.com lewat pesan singkat, (19/10/2023).

Eva menjelaskan, pihaknya mengutamakan ketepatan waktu dalam operasionalnya dengan tingkat ketepatan waktu keberangkatan yang mendekati 100 persen. Sehingga Kereta Cepat Whoosh tidak dapat menunggu penumpang di luar jadwal keberangkatannya. Pengaturan operasional perjalanan kereta cepat sangat mengutamakan keselamatan dan keamanan.

Kendati kesalahan bukan berada di pihaknya, sebagai bentuk kompensasi atas kejadian tersebut, sebanyak 30 penumpang yang mengalami keterlambatan dan tertinggal kereta diperkenan untuk mengikuti perjalanan Kereta Cepat Whoosh selanjutnya pada pukul 09.02 WIB tanpa harus membeli tiket baru. Selama menunggu di hall Stasiun Padalarang KCIC juga memberikan snack serta minuman.

Sementara satu penumpang lainnya yang memilih untuk pembatalan tiket juga telah dilayani melalui loket Stasiun Padalarang dengan pengembalian bea tiket 100 persen.

PT KCIC dalam hal ini memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang Kereta Cepat Whoosh yang mengalami keterlambatan karena adanya kendala operasional kereta feeder dari Stasiun Bandung.

Untuk mencegah agar hal ini tidak kembali terjadi, KCIC akan terus berkoordinasi bersama KAI untuk pelayanan yang lebih baik. Kedepannya KAI juga akan menyiapkan satu rangkaian cadangan KA Feeder di Stasiun Bandung sebagai bentuk antisipasi.

Sementara itu, Manager Humas Daop 2 Bandung Mahendro Trang Bawono, mengatakan bahwa KA Feeder sejatinya dapat menempuh kecepatan rata-rata 90 km per jam. Sehingga dengan begitu, relasi Padalarang-Bandung atau sebaliknya sejauh 18 km dan melewati sembilan perlintasan sebidang dapat ditempuh dengan rata-rata waktu 19 menit.

Baca juga: Mulai Berbayar, Berikut Jadwal Keberangkatan Kereta Cepat Whoosh dan KA Feeder Kereta Cepat

Total, dari Halim ke Bandung atau sebaliknya menjadi 49 menit (Halim-Padalarang 30 menit).

Hanya saja, dalam insiden penumpang terlambat naik Kereta Cepat Whoosh, terjadi KA Feeder mengalami gangguan pada sistem bahan bakar. “KAI Daop 2 memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh penumpang yang tertinggal KA Whoosh,” tutupnya.

 

 

Tragedi Bintaro I – Jadi Kecelakaan Kereta Terburuk dan Paling Tragis di Indonesia

Masih ingat film Tragedi Bintaro (1989)? Film ini mengisahkan kesedihan anak kecil bernama Juned yang harus kehilangan satu kaki, nenek dan saudara-saudaranya karena menjadi korban tabrakan antar dua kereta di daerah Bintaro pada 19 Oktober 1987. Kecelakaan kereta api Bintaro pada 1987 tersebut dikenal dengan Tragedi Bintaro I dan menjadi yang paling tragis dan terburuk di Indonesia.

Baca juga: Hari ini, 52 Tahun Lalu, Kecelakaan Kereta di Ratu Jaya Depok Tewaskan 116 Penumpang

Di mana dua kereta api terlibat kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, dalam kecelakaan ini, rangkaian kereta api Patas Merak relasi Tahan Abang ke Merak yang berangkat dari Stasiun Kebayoran (KA 220) bertabrakan dengan kereta api lokal Rangkas relasi Rangkasbitung ke Jakarta Kota (KA 225) yang berangkat dari Stasiun Sudimara.

Dalam kecelakaan kereta ini, sebanyak 139 tewas dan 254 orang lainnya luka berat. Setelah kecelakaan tersebut, proses evakuasinya penumpang kereta api menjadi tantangan mengingat kerasnya tabrakan head-to-head. Kemudian tragedi ini akhirnya diselidiki dan menunjukkan adanya kelalaian petugas Stasiun Sudimara yang memberikan sinyal aman bagi kereta api dari arah Rangkasbitung, padahal tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran.

Hal ini dilakukan karena tidak ada jalur yang kosong di Stasiun Sudimara. Berdasarkan keterangan resmi dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), lokasi kecelakaan berada pada km 17+252 lintas Angke–Tanahabang–Rangkasbitung–Merak. Lokasi tersebut berada pada tikungan S yang diapit Jalan Tol Jakarta–Serpong di barat dan Jalan Tol TB Simatupang di timurnya. Lokasi ini juga terletak sekitar 1,5 km di sebelah barat daya TPU Tanah Kusir.

Adapun saat itu KA 225 berjalan dengan kecepatan 30 kilometer per jam. Tak hanya kelalaian, banyaknya korban yang jatuh saat itu juga disebabkan kondisi gerbong kereta yang dipenuhi penumpang. Apalagi tenyata KA 225 dipenuhi penumpang dan di luar kapasitasnya.

Pada setiap gerbong, tersedia 64 kursi rotan dan saat itu dipenuhi oleh para penumpang. Namun, kapasitas yang disediakan tak cukup untuk menampung banyaknya orang yang ingin menempuh perjalanan yang sama. Akhirnya, atap gerbong dan ruang kosong di kiri-kanan lokomotif pun juga dijejali penumpang sebagai tempat tangkringan sementara.

Lokasi kecelakaan yang berada di tikungan juga membuat kedua masinis tidak dapat saling melihat. Ketika menyadari ada kereta lain di jalur yang sama, sudah terlambat bagi masinis untuk menghentikan laju kereta karena jarak antara keduanya sudah terlalu dekat. Selain itu, pihak petugas palang pintu kereta juga tak mengetahui simbol genta yang menyebabkan kedua kereta itu berhadapan di rel yang sama.

Baca juga: Darman Prasetyo – Masinis Muda Heroik di Tragedi Bintaro 2 Yang Terlupakan

Selain korban jiwa, masinis dua kereta tersebut yakni Suradio divonis hukuman lima tahun penjara dan kehilangan pekerjaanya sebagai masinis pada 1994. Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Syafei harus mendekam di penjara selama 2,5 tahun. Sedangkan PPKA Djamhari dan Umrihadi dihukum 10 bulan penjara

Jelang Akhir Tahun, Garuda Indonesia Geber Frekuensi Penerbangan Internasional

Jelang akhir tahun, Garuda Indonesia terus mengoptimalkan langkah perluasan jaringan penerbangan guna memaksimalkan momentum pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Komitmen tersebut yang dijalankan melalui langkah peningkatan frekuensi penerbangan pada rute-rute penerbangan yang menjadi preferensi utama pilihan pengguna jasa.

Baca juga: Tuntas Uji Coba Sustainable Aviation Fuel, Garuda Indonesia Jajaki Gunakan Energi Terbarukan pada Penerbangan Komersial

Langkah peningkatan frekuensi rute penerbangan tersebut dilakukan secara bertahap pada periode November hingga Desember 2023 mendatang.

Pada bulan November 2023 mendatang sejumlah frekuensi rute penerbangan akan ditingkatkan diantaranya adaah Narita – Denpasar pp dari yang sebelumnya 5 kali seminggu menjadi 7 kali seminggu, Guangzhou – Jakarta pp yang sebelumnya dilayani 3 kali seminggu akan menjadi 4 kali seminggu, Shanghai-Jakarta pp yang sebelumnya dilayani 2 kali seminggu akan menjadi 3 kali seminggu, Melbourne – Denpasar pp yang sebelumnya dilayani 3 kali setiap minggunya menjadi 4 kali per minggu, dan Singapura – Denpasar pp yang sebelumnya dilayani 5 kali dalam seminggu menjadi 7 kali seminggu.

Sedangkan di bulan Desember 2023, Garuda Indonesia juga berencana untuk menambah frekuensi pada rute Sydney-Jakarta pp yang sebelumnya dilayani 4 kali dalam seminggu menjadi 5 kali setiap minggu, Seoul – Denpasar pp yang yang sebelumnya dilayani 2 kali setiap minggunya menjadi 4 kali setiap minggu serta Sydney – Denpasar pp yang sebelumnya dilayani sebanyak 4 kali setiap minggu menjadi 5 kali setiap minggunya.

Baca juga: Garuda Indonesia Kedatangan Boeing 737-800NG PK-GUA, Sebelumnya Milik Oman Air

Sejalan dengan momentum kebangkitan sektor pariwisata nasional, Garuda Indonesia terus mencatakan pertumbuhan trafik penumpang khususnya pada sektor penerbangan internasional. Hingga awal kuartal 3-2023 lalu, Garuda Indonesia mencatatkan pertumbuhan penumpang rute internasional hingga mencapai 215 % menjadi 859.061 penumpang,jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Tahun 2024, Surya Airways Beroperasi Layani Rute Domestik dengan ATR 72-600

Tahun 2024 bukan hanya akan diraimaikan dengan jadwal kampanye dan pemilu, di dunia dirgantara, tahun depan juga akan diramaikan dengan kehadiran maskapai baru, yakni Surya Airways, yang akan melayani penerbangan domestik dan luar negeri jarak dekat.

Baca juga: Sejarah ATR, Produsen Pesawat Regional Terbesar Dunia Besutan Perancis-Italia

Dilihat dari situsnya, surya-airways.co.id, terlibat maskapai yang berbasis di Yogyakarta ini akan menyasar penerbangan ke Jakarta, Denpasar, Medan, Gunung Sitoli, Batam dan luar negeri, Penang di Malaysia.

Dikutip dari beberapa media lokal, dalam tahap awal Surya Airways akan meluncurkan layanan denan tiga pesawat, dan secara bertahap akan memperluas armada hingga 10 init pesawat terbaru dari jenis ATR 72-600.

Dikutip dari Bisnis Indonesia – ekonomi.bisnis.com (17/10/2023), disebut bahwa Surya Airways beroperasi di bawah nama PT Surya Mataram Indonesia.Surya Airways telah memperoleh Sertifikat Standar Angkutan Niaga Berjadwal pada 9 Oktober 2023. Surya Airways telah mendapatkan Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha untuk penerbangan rute domestik dan internasional, termasuk kargo udara. Adapun, status penanaman modal dikatakan berasal dari dalam negeri.

Komisaris Utama Surya Airways Benny Rustanto mengatakan maskapai tersebut bakal melayani rute penerbangan domestik khususnya kota tier kedua. Alasannya, agar bisa meningkatkan konektivitas udara di Indonesia yang merupakan negara kepulauan usai pandemi Covid-19.

Baca juga: Inilah ATR EVO, Pesawat Hybrid 100 Persen Ramah Lingkungan: Tahun 2030 Beroperasi

“Rencana ke depan kami akan operasikan empat unit pesawat wide body seperti Boeing 777-300ER untuk melayani jemaah umrah secara direct flight ke Tanah Suci,” ujar Benny Rustanto, seperti dikutip dari Bisnis Indonesia.

Hari Ini, 96 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Layani Penerbangan Internasional

Pada hari ini, bertepatan dengan 19 Oktober 1927, maskapai legendaris Amerika Serikat (AS), Pan American Airways (Pan Am) jadi maskapai pertama di Negeri Paman Sam yang mengoperasikan layanan penerbangan internasional berjadwal, dari Key West, Florida — Havana, Kuba, menggunakan pesawat amfibi.

Baca juga: Hari Ini, 79 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Keliling Dunia dengan Pesawat Komersial

Di balik keberhasilan Pan Am terbang mengoperasikan layanan internasional perdana, terdapat banyak sekali batu sandungan; terutama dari pesaing bisnis maskapai.

Dilansir panam.org, sekitar pertengahan tahun 1927, setidaknya ada tiga maskapai penerbangan yang berebut kontrak proyek dari U.S. Post Office untuk mengirimkan pos ke Havana, Kuba, dari Key West, Florida. Ini bukan sekedar kontrak dari Florida-Havana, melainkan lebih dari itu, berpeluang untuk mendapatkan kontrak di proyek lanjutan di luar Amerika Latin.

Intrik politik dan bisnis, manuver keuangan, dan sebagainya pun terjadi. Semuanya dilakukan demi mendapat kontrak layanan pos udara pertama AS ke Kuba.

Juan Trippe, mantan sales obligasi berusia dua puluh tujuh tahun tergabung dalam The Aviation Corporation of America. Pan American Airways, yang didirikan oleh empat perwira militer Amerika, di antaranya hanya Kapten Angkatan Laut AS J.K. Montgomery menjadi maskapai kedua yang berebut dalam proyek tersebut. Adapun maskapai ketiga ialah Florida Airways yang didalangi oleh veteran Perang Dunia I.

Entah bagaimana ceritanya, Kantor Pos AS akhirnya memberikan kontrak layanan pos udara pertama AS ke Kuba kepada Pan American Airways pada 16 Juli 1927.

Menariknya, bila di awal tender Juan Trippe disebut membekingi The Aviation Corporation of America, disebut telah bergabung dengan Pan Am dan memperjuangkan maskapai agar sukses melaksanakan kontrak perjanjian dengan Kantor Pos AS.

Sebab, ketika maskapai memenangkan tender, mereka belum mempunyai izin mendarat di Kuba. Di sinilah peran Trippe dalam melobi pihak Kuba melalui tangan-tangan pejabat AS.

Akan tetapi, pesaing bisnis yang senang dengan keberhasilan Pan Am menggarap proyek ini terus berupaya menjegal.

Seminggu menjelang 19 Oktober 1927, izin mendarat memang sudah didapat Pan Am, tetapi, mereka belum mempunyai bandara dan armada pesawat yang pas untuk melayani penerbangan itu. Namun, keberuntungan menghampiri maskapai.

Baca juga: Kala Kolaborasi Boeing 707 dan American Airlines Ubah Peta Penerbangan AS 62 Tahun Silam

Secara tidak sengaja, melihat pesawat apung atau pesawat amfibi Fairchild FC-2 melintas di depan Trippe. Dari sini, ia kemudian terpikir untuk mencharter pesawat tersebut dan tak jadi menggunakan pesawat Fokker F-VII tri-motor yang sudah dipesan.

Pada tanggal 19 Oktober 1927, pesawat amfibi tersebut akhirnya sukses terbang membawa pos dari Key West, Florida — Havana, Kuba untuk pertama kalinya oleh pilot berkebangsaan Kanada, Cy Caldwell.

 

Hari ke-2 Operasional Berbayar, Okupansi Kereta Cepat Whoosh Rata-rata 50 Persen

Kereta Cepat Whoosh mulai menerapkan tiket berbayar sejak tanggal 17 Oktober 2023 lalu. Memasuki hari ke-2, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) mencatat rata-rata okupansi atau tingkat keterisian tempat duduk Kereta Cepat Whoosh di hari kerja mencapai 50-60 persen dari total ketersediaan tempat duduk di setiap rangkaian atau mengangkut sekitar 4.000 penumpang. Bila dirinci, pagi hari okupansi sekitar 30 persen dan siang ke sore 40 persen.

Baca juga: Mulai Berbayar, Berikut Jadwal Keberangkatan Kereta Cepat Whoosh dan KA Feeder Kereta Cepat

Saat ini untuk pemesanan hingga tanggal 23 Oktober 2023 tercatat sudah mencapai sekitar 15.000 tiket Kereta Cepat Whoosh yang terjual. Jumlah tersebut sangat dinamis dan akan terus meningkat karena pemesanan tiket terus berlangsung.

Adapun pemesanan tiket saat ini dapat dilakukan hingga perjalanan 7 hari kedepan, adapun batas waktu pemesanan tiket dapat dilakukan hingga 30 menit sebelum jadwal keberangkatan yang akan dipilih.

Bagi masyarakat yang ingin menggunakan kereta cepat Whoosh, tiket kereta bisa dibeli melalui aplikasi mobile Whoosh Kereta Cepat dan aplikasi penjualan tiket lainnya seperti Access by KAI dan Livin Mandiri. Sementara untuk metode pembayaran pada sejumlah channel penjualan kini juga telah dapat menggunakan transfer melalui virtual account dari bank yang telah bekerjasama diantaranya Mandiri, BNI dan BRI.

Selain itu melalui aplikasi masyarakat juga bisa mendapatkan tiket melalui tiket vending machine dan juga di loket di setiap stasiun.

Pada masa promo ini, tiket yang dijual adalah tiket untuk kelas premium economy dengan harga Rp150 ribu untuk satu perjalanan termasuk gratis perjalanan KA Feeder tujuan Stasiun Cimahi dan Stasiun Bandung.

Masyarakat dapat memanfaatkan periode promo kereta cepat Whoosh ini dengan segera melakukan pemesanan melalui seluruh channel penjualan resmi.

Kereta Cepat Whoosh 601 penumpang dengan berbagai kelas, dengan rincian 18 first class, 28 kelas bisnis, dan 555 kursi kelas economy premium.

Baca juga: Ultah KCIC ke-8, Tiket Kereta Cepat Whoosh Promo Jadi Rp150 Ribu: Harus Beli Lewat Aplikasi Whoosh

KCIC mengimbau kepada masyarakat yang telah membeli tiket agar memperhatikan jadwal keberangkatan mengingat gate boarding akan ditutup 5 menit sebelum waktu keberangkatan dan tiket yang telah dibeli tidak dapat dikembalikan jika tertinggal kereta.

Masyarakat dapat mengetahui beragam informasi terkait perjalanan Kereta Cepat Whoosh melalui seluruh saluran informasi resmi Whoosh Sosial media Kereta Cepat ID, Website: kcic.co.id, dan Contact Center 121.

19 Oktober 2004, Pilot ‘Salah Lihat’ Bikin Corporate Airlines Flight 5966 Berakhir Nahas

Hari ini 19 tahun yang lalu, atau bertepatan dengan 19 Oktober 2004, pesawat British Aerospace 3201 Jetstream 32EP Corporate Airlines dengan nomor penerbangan 5966, jatuh dan menabrak pepohonan. Hasil investigasi pihak berwenang menemukan pilot lalai dalam mengikuti prosedur pendaratan dan mengambil keputusan tanpa referensi visual.

Baca juga: Mengenal Istilah Pilot Error, Gagalnya Keputusan Pilot yang Berujung Kecelakaan

Corporate Airlines sendiri merupakan bagian dari jaringan American Connection, afiliasi American Airlines yang menyediakan penerbangan feeder untuk maskapai terbesar di dunia.

Adapun Corporate Airlines flight 5966 adalah penerbangan domestik berjadwal reguler dari Bandara Internasional Saint Louis-Lambert ke Bandara Regional Kirksville di Missouri, Amerika Serikat (AS).

Dilansir Simple Flying, kedua pilot pada penerbangan tersebut sama-sama memiliki pengalaman terbang bersama British Aerospace 3201 Jetstream 32EP. Kapten pilot, William Sasse, 48 tahun (ketika itu) memiliki jam terbang total 4.234 jam dimana 2.510 di antaranya bersama Jetstream 32. Mantap instruktur penerbangan itu telah tiga tahun lamanya bekerja di Corporate Airlines.

Kopilot Jonathan Palmer, 29 tahun, yang sama-sama sudah tiga tahun bergabung dengan Corporate Airlines, hanya mencatat 2.856 jam terbang, dimana 107 di antaranya bersama Jetstream 32.

Pada pukul 18.42 waktu setempat, pesawat lepas landas dari St. Louis untuk penerbangan singkat sejauh 149 mil ke barat laut ke Kirksville. Di awal-awal, penerbangan lancar dan tak ada tanda-tanda apapun. Sampai ketika 23 menit menuju Kirksville, jarak pandang turun menjadi sekitar empat mil akibat cuaca buruk dan banyak pertumbuhan awan rendah.

Sebagai bandara kecil (bandara regional), Kirksville tidak memiliki nstrument Landing System (ILS). Meskipun demikian, pilot memutuskan untuk melanjutkan daripada mengalihkan ke bandara lain. Air Traffic Control (ATC) mengizinkan pesawat untuk turun dari 12.000 ke 8.000 untuk persiapan pendekatan Distance Measuring Equipment (DME) ke runway 36.

Pada jam 19.20, pilot diberitahu bahwa jarak pandang memburuk dan turun menjadi tiga mil. Ketika pesawat mendatar di 8.000 kaki, ATC membersihkannya untuk turun ke 3.000 kaki. Setelah menerima vektor untuk landasan 36, kapten mendatar pada ketinggian 3.100 kaki.

10 menit setelahnya, pesawat berada 11 mil dari runway dan diizinkan ATC mendarat. Pilot pun merespon dengan menurunkan flap dan landing gear. Pukul 19.36, saat pesawat turun ke ketinggian 1.450 kaki, Sistem Peringatan Jarak Dekat (GPWS) di kokpit berbunyi “minimum, minimum” dan kapten berkata “saya tidak bisa melihat ground”. Kopilot pun berkata hal serupa. Namun, pesawat terus kehilangan ketinggian.

Beberapa detik kemudian, kapten melihat ada lampu landasan di depan mata dan memutuskan untuk lanjut mendarat. Pesawat akhirnya menabrak pohon dan jatuh.

Baca juga: Smartsealz, Headset Berteknologi Augmented Reality, Sanggup Bantu Tugas Pilot!

Dari hasil penyelidikan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) AS, didapatkan dua kesimpulan. Pertama, pilot gagal mengikuti prosedur pendaratan instrumen non-presisi di malam hari.

Kedua, lalai dengan menurunkan ketinggian pesawat tanpa memiliki referensi visual atau tanpa melihat ground dengan jelas. Ini fatal karena pilot dan kopilot menjadi tidak sadar seberapa tinggi/rendah mereka.

Imbas Pendaftaran Capres-Cawapres ke KPU, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan

Pasangan Capres-Cawapres hari ini mulai mendaftar ke KPU. Ramainya simpatisan yang datang, membuat Transjakarta melakukan sejumlah penyesuaian rute. Ada sebanyak dua rute yang mengalami penyesuaian yaitu TU GAS – Bundaran Senayan (4C) dan rute Ragunan – MH Thamrin via Kuningan (6A).

Baca juga: Transjakarta Operasikan Tiga Rute Baru Mikrotrans, Jangkau Tanjung Priok-Depok

Berikut rute penyesuaian yang diberlakukan:

TU GAS – Bundaran Senayan (4C)
Arah Bundaran Senayan
Dari lampu merah KPU Langsung belok ke kanan – Masuk jalur Jln Cokroaminto – Lampu merah Cokroaminto pertama langsung belok kiri – Jalur jln Muhammad Yamin – Lurus aja sampe masuk jalur jln Agus salim.

Bus stop yang tidak melayani pelanggan:
• Bus Stop KPU;
• Bus Stop Graha mandiri.

Arah TU Gas
Dari Bus Stop Imam Bonjol – Lampu merah pertama Belok kiri – Masuk Jalur Hj Agus Salim – Lampu merah pertama Agus Salim Langsung Belok kanan – Masuk jalur jln Moh. Yamin – Lurus Terus sampai Lampu merah pertama Langsung Belok ke kanan – masuk Jalur Jln Cokroaminto perempatan pertama belok kekiri langsung masuk jl. Imam Bonjol.

Bus Stop yang tidak melayani pelanggan:
• Bus Stop Kartini

Ragunan – MH Thamrin via Kuningan (6A)
Arah MH Thamrin
Ragunan – Jln H Cokroaminoto – Lampu merah KPU – Lurus lampu merah Taman Menteng belok Kiri – Jl Indramayu – Jl H Agus Salim – Tembusan lampu merah Mandiri – Belok Kanan Bundaran HI – MH Thamrin

Arah Ragunan
IRTI – Lampu merah Sarinah Belok kiri – Jl KH Wahid Hasyim – Jl Agus Salim – Lampu merah Menteng belok kanan – HS Cokroaminoto – Setiabudi – Ragunan

Halte yang tidak melayani pelanggan:
• Halte Mh Thamrin;
• Halte Bundaran HI.

Baca juga: Transjakarta Operasikan Dua Rute Pengumpan Mikrotrans Terintegrasi LRT Jabodebek, Lengkapi 11 Halte Terintegrasi LRT Jabodebek

Transjakarta secara berkala menginformasikan penyesuaian layanan kepada pelanggan demi kenyamanan,

Sebagaimana diketahui, Transjakarta telah membukukan rekor baru dalam dengan melayani 1.128.713 pelanggan pada 17 Oktober 2023 lalu melalui layanan BRT, non BRT hingga Mikrotrans.

19 Oktober 1999: Timor Timor Lepas dari Indonesia, Maskapai Air Timor Kini Jadi Tumpuan

Usai Timor Timur (sekarang bernama Timor Leste) resmi lepas dari NKRI pada 19 Oktober 1999, negara tersebut masih mengandalkan maskapai asal Indonesia, seperti Garuda Indonesia dan Merpati Airlines, untuk tetap menghubungkan negaranya dengan dunia luar.

Baca juga: Usai 56 Tahun, BN2 Islander Tetap Diproduksi! Pernah Ikut Operasi Seroja di Timor-Timur

Ketika itu, Timor Leste belum mempunyai maskapai penerbangan sendiri. Kapanpun maskapai dari Indonesia dan negara lainnya memutuskan stop operasi, sudah pasti mereka terisolir. Namun, itu tak akan terjadi pasca lahirnya Air Timor.

Dihimpun dari berbagai sumber, Air Timor resmi berdiri pada tahun 2010. Sebelum itu, maskapai tersebut beroperasi dengan brand Austasia Airline, mengoperasikan penerbangan charter berjadwal antara Australia dan Indonesia dari tahun 2001 sampai 2007.

Di tahun 2007, maskapai itu berkantor di Dili, Timor Leste dan terdaftar sebagai Air Operator Certificate (AOC) di sini selain juga terdaftar AOC di Singapura.

Setelah mendapat persetujuan dari Pemerintah Timor Leste, Austasia Airlines memulai penerbangan charter berjadwal pertamanya dari Singapura ke Dili pada Agustus 2008 dengan melayani penerbangan seminggu dua kali pada hari Selasa dan Sabtu dengan pesawat Airbus A319 wet lease dari Silk Air.

Setelah lama beroperasi di Timor Lester, barulah pada tahun 2010, Austasia Airlines mengajukan permohonan untuk menjadi perusahaan nasional (bukan maskapai penerbangan nasional karena sampai detik ini Timor Leste belum mempunyainya) dan mengubah namanya menjadi Air Timor SA. Ini pun disetujui Pemerintah Timor Leste.

Usai menjadi maskapai nasional Timor Leste, Air Timor makin menggeliat. Di tahun 2015, Air Timor sempat melontarkan niatnya turut meramaikan pasar penerbangan perintis di Timur Indonesia, mulai dari Kupang sampai Makassar.

Hanya saja, di tahun yang sama Air Timor mengaku mulai kesulitan lantaran kebijakan pemerintah memberikan izin terbang dari dan ke Dili kepada maskapai asing.

Sebelumnya, Air Timor memang aktif menghubungkan Timor Leste dengan Indonesia, Singapura, dan Australia. Armadanya sendiri didapat dengan cara menyewa ke maskapai di tiga negara itu. Untuk rute Dili-Denpasar, Air Timor mempercayakannya pada Citilink, baik terbang langsung antar dua kota itu ataupun menyewa pesawat darinya.

Baca juga: MyTimor, Aplikasi Ride Hailing Besutan Telkomcel untuk Masyarakat Timor Leste

Begitu juga dengan rute Dili-Singapura dan Dili-Darwin, Air Timor mengoperasikannya berkat dukungan airlines lokal; Silk Air dan Airnorth.

Di akhir tahun 2015, Sriwijaya Air dan anak perusahannya, Nam Air, diizinkan menerbangi rute Dili-Denpasar berjadwal. Sejak kehadiran maskapai tersebut, bisnis Air Timor kacau dan di tahun 2017 maskapai mengaku dalam kondisi sulit. Bahkan, maskapai membukukan kerugian mencapai US$4 juta.

 

Airbus dan GMF Perbarui Kontrak Pelatihan Perawatan Pesawat

Airbus memperkuat kemitraannya dengan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) lewat pembaruan perjanjian layanan pelatihan perawatan pesawat (Maintenance Training Services/MTS) untuk lima tahun ke depan. Perjanjian baru ini ditandatangani di Tangerang pada 18 Oktober 2023, dan akan berlaku mulai tahun 2023 hingga 2028.

Baca juga: Empat Fasilitas MRO Pesawat Terbesar di Dunia, Nomor 3 Ada di ASEAN, GMF Kah?

Kerja sama layanan pelatihan perawatan pesawat dengan anak perusahaan Garuda Indonesia yang bergerak di bidang maintenance, repair and overhaul (MRO) ini terjalin sejak tahun 2013. Melalui kerja sama ini, para instruktur GMF dan GMF Training Centre telah terintegrasi ke dalam organisasi pelatihan perawatan pesawat Airbus di seluruh dunia.

Dengan adanya pembaruan perjanjian ini, para pelanggan Airbus di Asia Tenggara dapat terus memenuhi kebutuhan mereka akan pelatihan perawatan pesawat A320 dan A330 tanpa harus pergi jauh dari wilayahnya. Kemudian, layanan pelatihan ini pun akan mengusung standar global dari Airbus.

Airbus Asia-Pacific Head of Customer Services Raymond Lim mengatakan, “Pembaruan perjanjian ini mencerminkan hubungan kerja sama yang kuat antara Airbus, Garuda Indonesia, dan GMF. Berbagai pelanggan Airbus telah mendapatkan manfaat dari pelatihan yang diselenggarakan oleh GMF dan para instrukturnya. Kami percaya bahwa manfaat dari kerja sama ini akan dapat dirasakan oleh peserta pelatihan ke depannya, seiring dengan persiapan pertumbuhan industri penerbangan di masa depan.”

Baca juga: GMF AeroAsia Jadi Pelaksana Program Modernisasi Digital Armada C-130H Hercules TNI AU

Airbus telah lama memiliki hubungan yang baik dengan maskapai penerbangan di Indonesia, tepatnya sejak tahun 1979, ketika Garuda Indonesia memesan pesawat A300B4 untuk pertama kalinya. Saat ini, hampir 210 pesawat Airbus dalam berbagai jenis telah beroperasi di Indonesia.