Tiket Kereta Api (KA) Lebaran 2017 sudah bisa mulai dibeli pada 17 Maret mendatang, bagi Anda yang berniat Mudik bersama keluarga, maka bersiap-siaplah untuk berburu tiket KA, baik dengan pembelian langsung ke loket di stasiun, atau bisa juga lewat jalur online yang kini mendominasi transaksi. Namun perlu diingat, kini PT KAI sudah menerapkan sistem check in dan pemberlakukan boarding pass, mirip dengan metode naik pesawat terbang. Karena berlaku sistem khas pesawat terbang, maka Anda yang membeli tiket jauh-jauh hari, baik beli langsung dan via online tidak akan memperoleh tiket langsung.
Per 23 Juni 2016 PT KAI telah menerapkan sistem check in dan boarding pass, dimana penerapan perdana sistem ini dilakukan di Stasiun Senen, Jakarta Pusat. Dengan sistem ini, penumpang yang telah membeli tiket dan telah memiliki kode booking, serta penumpang yang telah mencetak tiket selanjutnya melakukan check in pada mesin check in mandiri yang ada di stasiun. Nah, yang perlu dicatat bahwa proses check in bisa dimulai calon penumpang dua belas jam sampai sepuluh menit sebelum jadwal keberangkatan KA, tidak ada lagi sistem dengan model penukaran tiket di stasiun jauh-jauh hari sebelum jadwal keberangkatan.
Bagi kebanyakan penumpang,sistem check in dan boarding pass ini memberi beberapa manfaat, contohnya dapat meminimalkan risiko tiket hilang, kebanyakan kasus dari penukaran tiket jauh-jauh hari adalah hilangnya tiket di tangan penumpang sendiri. “Latar belakang penerapan sistem baru ini disebabkan banyaknya komplain dari penumpang yang struk tiketnya sering hilang,” ujar M. Kuncoro Wibowo, Direktur Komersial PT KAI kepada KabarPenumpang.com. Kuncoro juga menepis anggapan bahwa proses check in mandiri dengan limitasi 12 jam sebelum keberangkatan karena kapasitas database server.
Meski menawarkan kemudahan bagi calon penumpang, harus diakui ada segmen calon pemumpang yang menghendaki cara lama, seperti calon penumpang “tradisional” yang lebih tenang bila jauh-jauh hari sudah memegang tiket keberangkatan, untuk itu PT KAI kini sedang menjajaki sistem baru yang dapat mengakomodir keinginan penumpang. Seperti apakah bentuknya nanti? Kita tunggu saja tanggal mainnya, semoga solusi kedepan dapat menutupi kekurangan dari sistem yang ada saat ini.




Di apron Terminal 3, saat ini juga ssudah terpasang visual docking guidance system atau VDGS. Ini merupakan alat dengan teknologi modern untuk memandu parkir pesawat dan terhubung dengan Command Center AMC.
Setiap harinya Skylift ini bisa mengangkut puluhan ribu penumpang. Namun sayang, saat ini hanya tinggal 75 Skylift yang beroperasi dan masih bisa dinikmati pengunjung untuk melihat keindahan TMII dari atas. Untuk menikmati kereta gantung ini, Anda bisa membayar Rp40 ribu untuk satu orang.
Hal ini akan langsung dirasakan penumpang GoCar, saat mencari mobil di fitur GoCar, biasanya bila GoCar berplat hitam tidak mengambil, taksi Bluebird lah yang akan mengambil pesanan itu. Untuk masalah harga pun tarifnya akan sama baik menggunakan mobil dengan plat hitam ataupun taksi BlueBird.
Melihat ini, baik pengemudi Bluebird, penumpang dan Gojek sendiri memang tidak dirugikan sama sekali dan akan merasakan untung. Tak hanya itu, bila Anda mendapat BlueBird, saat agrometer terpasang dan berjalan, bila di aplikasi Anda tertera Rp27 ribu dan argometer Rp50 ribu, pengemudi akan mendapat tambahan Rp23 ribu dari Bluebird. Hal ini dibuat untuk mengkompare harga di argo meter dengan di aplikasi si pengemudi. sebaliknya pun begitu, bila lebih mahal di aplikasi dan di argometer lebih murah, maka hanya tinggal dikurangi dari aplikasi pengemudi.