Jepang Terancam Tersingkir (Lagi) dari Persaingan Peremajaan Kereta di Indonesia

Dalam upayanya untuk meremajakan salah satu moda transportasinya, pemerintah Indonesia kerap meminta bantuan pendanaan dari pihak asing, terlebih bila menyangkut pengadaan transportasi yang bernilai strategis dan berbiaya ekstra tinggi, seperti pembangunan infrastruktur kereta cepat.

Namun ada yang menjadi sengkarut terkait hal tersebut, Indonesia mulai meminta bantuan kepada pihak asing walaupun pada saat ini, Indonesia masih terikat kerjasama dengan pihak Jepang dalam hal peremajaan kereta apinya. Presiden Joko Widodo dikabarkan tengah menyusun rencana untuk mengundang negara asing lainnya untuk turut serta dalam proyek tersebut guna menekan pengeluarannya.

Baca Juga: Utamakan Produk Dalam Negeri, Indonesia Pertimbangkan Pembatasan Impor Kereta dari Jepang

Sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari asia.nikkei.com (18/7/2017), hubungan antara Jepang dan Indonesia bisa saja semakin meradang jika proyek ini gagal, mengingat sebelumnya, Indonesia lebih memilih Cina ketimbang Jepang dalam proyek kereta cepat pada tahun 2015 silam. Proyek peremajaan ini bertujuan untuk memangkas waktu tempuh Jakarta – Surabaya yang hingga kini memakan waktu perjalanan kurang lebih 11 jam tersebut. Selain itu, tujuan lainnya adalah perombakan jalur yang sudah ada sebelumnya, yang notabene jalur tersebut dibangun pada era kolonial Belanda.

Pada awalnya, pihak Indonesia setuju dengan penawaran Jepang, yaitu menutup semua jalur perlintasan agar kereta dapat melaju lebih cepat. Namun, untuk meningkatkan kecepatan, kereta yang digunakan mestilah kereta listrik dan meningkatkan perkiraan biaya menjadi lebih dari 800 miliar Yen atau setara dengan 96 triliun rupiah. Melihat pembengkakan tersebut, proyek tersebut mulai terlihat keruh.

Indonesia sendiri yang sudah banyak memiliki pinjaman pihak asing tentu merasa gentar melihat lonjakan harga tersebut. Awalnya, pihak Jepang menawarkan pinjaman dan Indonesia tampak senang dengan gagasan tersebut. Namun, tawaran pinjaman tersebut ditolak manakala Presiden Joko Widodo menunjuk Sri Mulyani untuk mengisi posisi sebagai Menteri Keuangan. Prinsip Sri Mulyani untuk menjaga disiplin fiskal lantas memilih untuk menempuh jalur kemitraan publik – swasta daripada menerima pinjaman Yen tersebut, yang nantinya hanya akan menambah hutang negara.

Baca Juga: CRH380A, Kereta Tercepat Kedua di Dunia, Siap Layani Jalur Jakarta – Bandung

Lalu pada Desember 2016 lalu Kementerian Perhubungan (Kemenhub) lalu mengeluarkan pernyataan yang mengatakan pihak Indonesia sudah sepakat untuk menjalin kerja sama dengan Jepang dalam proyek perkeretaapiannya. Namun, walaupun kerja sama sudah dijalin diantara keduanya, Indonesia tetap melelang proyek tersebut kepada negara asing lainnya.

Disebutkan, Kementerian telah menyusun rencana pelelangan, termasuk melampirkan persyaratan seperti kererta harus menggunakan tenaga listrik dan kerja sama dijalin dengan hubungan Public Private Partnership (PPP). Dengan kata lain, hal ini mempengaruhi hubungan kerja sama yang telah dijalin dengan Jepang sebelumnya, dengan kemungkinan terburuk yaitu pembatalan kerja sama. Namun pemerintah tidak mau terburu-buru dan masih menunggu keputusan dari Presiden.

Baca Juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura

Tentu saja, ini merupakan pertanda buruk bagi Jepang yang seolah siap untuk menelan kembali pil pahitnya setelah kejadian dua tahun lalu dimana pemerintah lebih memilih Cina untuk memfasilitasi proyek kereta cepat Jakarta – Bandung. Kala itu, Jepang hampir dipastikan untuk mengekspor Shinkansen ke Indonesia namun gagal karena Presiden Jokowi lebih memilih Cina yang mengajukan PPP dan tidak menuntut kontribusi keuangan dari pemerintah Indonesia pada Oktober 2014 silam.

Sekretaris Kabinet Jepang,Yoshihide Suga mengatakan keputusan yang diambil oleh Indonesia merupakan sesuatu pilihan di luar akal sehat. Sejak saat itu, hubungan Indonesia dengan negara yang pernah menjajahnya tersebut kian memburuk. Dilansir dari sumber yang sama, kemungkinan keputusan terakhir tentang nasib proyek ini akan dibuat Presiden pada awal Agustus mendatang.

Atasi Lonjakan Trafik, Sydney Bersiap Bangun Bandara Internasional Kedua

Meski bukan Ibu Kota Negara, namun Sydney adalah salah satu gerbang utama bagi wisatawan dan pebisnis untuk menuju Australia. Sebagai kota dengan populasi terbesar di benua Australia (6 juta jiwa per Juni 2017), di Sydney saat ini terdapat dua bandara, yakni Sydney Airport (Kingsford Smith) dan Curfew Time Airport. Yang utama adalah Kingsford Smith karena merupakan bandara internasional, sementara Curfew Time dominan melayani penerbangan domestik dan jet bisnis, namun jam operasionalnya terbatas.

Dipicu peningkatan trafik penerbangan ke Sydney yang terus melonjak, maka pemerintah Australia mengumumkan akan membangun bandara internasional keduanya di Sydney, setelah operator bandara menolak rencana pembangunan tersebut. Diperkirakan, pembangunan bandara ini akan menghabiskan dana sekitar 5 miliar dollar Australia dan akan menjadi bandara pertama yang dikembangkan oleh pemerintah setempat dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Nantinya, West Sydney Airport (WSA) akan dibangun di Badgerys Creek, 50 km sebelah barat dari pusat kota.

Baca Juga: Koneksi Data Bermasalah, Ribuan Penumpang di Australia Lakukan Cek Paspor Manual

Tidak hanya membangun, pemerintah setempat juga mengatakan akan mengambil alih pengembangan proyek dan pengoperasiannya kelak, sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman airport-technology.com (24/7/2017). Penetapan lokasi pembangunan bandara ini sendiri sebenarnya sudah tercetus sejak tahun 1999 silam.

Adapun tujuan dari dibangunnya bandara internasional baru ini merupakan tindak lanjut dari dua laporan terpisah pada tahun 2012 – 2013 yang mengatakan Sydney Airport tidak akan mampu mengakomodasi penerbangan tambahan pada tahun 2027 kelak, dan pada tahun 2060, bandara ini akan membawa kerugian sebesar 60 miliar dollar Australia karena kapasitasnya yang sudah tidak mumpuni.

Bukan sekedar wacana, pembebasan lahan seluas 1.780 hektar hingga penutupan sejumlah jalan di Badgerys Creek sudah mulai dilakukan. Pembangunan WSA sendiri rencananya akan dimulai pada akhir tahun 2018 dan diperkirakan rampung pada tahun 2026.

Baca Juga: Hanya Dengan Single Runway, Bandara di Mumbai Layani 837 Penerbangan Per Hari

Lokasi pembangunan bandara ini pun dikenal sebagai surga dari beragam vegetasi, seperti padang rumput, lahan pertanian, hutan eukaliptus, dan semak belukar. Tidak hanya itu, Badgerys Creek juga terkenal dengan rumah dari berbagai fauna, seperti burung, reptile, kelelwar, katak, dan ikan.

Lebih lanjut, pembangunan bandara ini pun dinilai akan membuka sebanyak 20.000 lapangan pekerjaan baru dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sydney Barat. Nantinya, WSA akan memiliki landas pacu sepanjang 3,7 km dan diusung-usung mampu menampung 10 juta penumpang setiap tahunnya, dimana nilai tersebut setara dengan daya tambung Bandara Adelaide.

Pada bulan Juni kemarin, Menteri Perhubungan Australia, Andrew Constance mengatakan akan melengkapi WSA dengan layanan kereta cepat metro yang akan menghubungkan bandara dengan sejumlah titik penting di Negeri Kangguru tersebut.

Adapun pembangunan bandara ini mendapat dukungan dari masyarakatnya. Ini dapat dilihat dari hasil jajak pendapat yang menunjukkan sebanyak 56 persen masyarakat mendukung pembangunan bandara, 25 persen netral, dan 11 persen lainnya menolak proyek pembangunan tersebut dengan berbagai alasan, salah satunya adalah dampak terhadap salah satu situs warisan dunia, Blue Mountain.

Kawasan wisata Blue Mountain. Sumber: bluemts.com.au

Blue Mountain sendiri merupakan sebuah situs seluas 1,03 juta hektar berupa dataran tinggi yang terbentuk dari batu pasir, tebing curam dan ngarai. Blue Mountain didominasi oleh hutan eukaliptus berukuran sedang, yang dimana lokasinya hanya berjarak 7 km dari bandara yang hendak dibangun ini.

Secara gamblang, walikota Blue Mountains dan Blacktown menolak adanya pembangunan bandara ini. Mereka menilai pembangunan infrastruktur transportasi tersebut sangat tidak memadai, tepat sebelum penyelenggaraan forum diskusi publik bertajuk “Western Sydney Airport Exposed” pada Juli kemarin.

Baca Juga: Multimobby, Antar Penumpang di Bandara Hingga Keluar Masuk Lift

Menanggapi hal tersebut, pihak promotor sontak menepis anggapan tersebut dan menyatakan bahwa pembangunan bandara ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap salah satu situs warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2000 silam. Barang tentu, pembangunan proyek besar kerap kali mengundang kontroversi. Namun, seperti yang sudah disebutkan di atas, keberadaan bandara ini kelak akan menunjang kehidupan khususnya Sydney sebelah barat, dan umumnya untuk seluruh warga Australia.

Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia

Satu lagi kabar membanggakan dalam dunia penerbangan di Tanah Air, tiga bandara internasional dikelola PT Angkasa Pura I (Persero) atau lebih dikenal Angkasa Pura Airports menempati peringkat 10 besar dunia dengan tingkat kepuasan penumpang (Airport Service Quality/ASQ) tertinggi di periode triwulan II 2017. Penilaian itu dilakukan oleh Airports Council International (ACI).

Baca juga: Inilah Alasan PT Angkasa Pura I Berganti Jadi “Angkasa Pura Airports”

Ketiga bandara yang dimaksud adalah Bandara Internasional Sultan Aji Muhamad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, dan Bandara Internasional Juanda Surabaya.Untuk Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan menduduki peringkat pertama (tertinggi) dari total 85 bandara dunia yang disurvei. Sementara itu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menduduki peringkat 2 pada triwulan II 2017 dari total 37 bandara. Sedangkan Bandara Internasional Juanda Surabaya menduduki peringkat 10 pada kategori yang sama.

ASQ sendiri merupakan program benchmarking global yang mengukur tingkat kepuasan penumpang di bandara yang dilakukan oleh Airports Council International (ACI), sebuah organisasi kebandarudaraan terkemuka di dunia yang berbasis di Montreal, Kanada. Dikutip KabarPenumpang dari harianterbit.com (24/7), Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro mengatakan, peningkatan peringkat kepuasan penumpang pesawat udara di bandara melalui survei ASQ pada triwulan dua oleh ACI ini menunjukkan komitmen kami untuk selalu berupaya menjaga dan meningkatkan standar layanan kami bagi pengguna jasa bandara, khususnya penumpang pesawat, agar terwujud service excellence. “Selain itu, peningkatan ini merupakan indikator perwujudan visi Angkasa Pura I yang ingin menjadi salah satu dari sepuluh besar pengelola bandara terbaik di Asia,” kata Danang S. Baskoro.

Baca juga: Airport City, Tantangan Impelementasi Terbesar PT Angkasa Pura I

Sementara itu, pada tingkat Asia Pasifik, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali menduduki posisi 8 dari total 96 bandara yang dinilai pada ASQ triwulan II 2017. Posisi Bandara I Gusti Ngurah Rai ini naik 4 peringkat dari posisi 12 pada triwulan I 2017. “Kami harap hingga triwulan IV tahun ini kinerja pelayanan kami untuk penumpang di bandara dapat meningkat dan meraih peringkat terbaik secara akumulatif pada akhir tahun,” ucap Danang.

Dalam survei ini, diukur opini melalui 34 indikator kinerja, diantaranya akses bandara,check-in, security screening, fasilitas belanja dan restoran, serta toilet. Pertanyaan dan mekanisme survei dilakukan sama di semua bandara untuk menciptakan basis data industri yang memungkinkan setiap bandara membandingkan diri mereka dengan bandara lain di dunia. Metodologi ilmiah, prosedur quality control yang ketat, serta komitmen untuk tidak berpihak dalam setiap penilaian survei ASQ ini menjadikannya sebagai standar untuk mengukur kepuasan penumpang di bandara.

Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?

Bagi Anda yang kerap kali bepergian menggunakan kereta, tentu sering merasa lelah akibat duduk terlalu lama, apalagi jika jarak tempuhnya yang bisa dibilang tidaklah dekat. Baru-baru ini, PT KAI mengeluarkan statemen yang menyatakkan bahwa salah satu BUMN itu tengah bekerja sama dengan PT INKA dalam pengadaan sleeper train atau kereta tidur. Seperti yang KabarPenumpang.com sarikan dari berbagai sumber, salah satunya adalah viva.co.id (14/7/2017), Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan dengan adanya layanan sleeper train, maka penumpang bisa beristirahat selama perjalanan.

Baca Juga: Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur di Indonesia

“Kami akan mencoba kerja sama dengan INKA membuat kereta (penumpang) yang langsung bisa tidur, sleeper. Bukan kamar lagi ya. Bukan kamar, jadi seperti bisnis di pesawat, kami akan coba dulu,” ujar Edi. Walaupun kerja sama dengan PT INKA sudah terjalin, namun PT KAI tidak mau terburu-buru dalam hal pemesanan sleeper train dalam jumlah banyak. “Jika permintaan meningkat atau minat masyarakat tinggi maka jumlahnya akan diperbanyak,” tutur suksesor eks-Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan tersebut.

Lebih lanjut, Edi belum bisa memastikan kapan layanan kereta tersebut bisa mengular di Indonesia. “Sesegera mungkin, jadi kami putuskan akan coba itu, kalau (penumpang) bisa istirahat di kereta api kan bisa membantu,” ujar Edi dilansir dari sumber terpisah. Berbicara tentang sleeper train, sudah barang tentu layanan ini hanya akan ditemui di rute perjalanan jarak jauh. Hal tersebut juga diamini oleh Edi. “Pasti (jarak jauh). Sebab perjalanan jarak jauh itu masyarakat ingin istirahat. Nantinya satu gerbong hanya 30-34 kursi saja,” ujar mantan Direktur Aset Non-produksi PT KAI ini.

Baca Juga: Belmond Andean Explorer, Kereta Tidur Pelintas Pegunungan Andes

Namun untuk masalah tarif, Edi nampaknya belum mau sesumbar. Ia menahan diri untuk terlebih dahulu menitik beratkan fokus pada pengadaannya terlebih dahulu. “Nanti dulu. Mau dulu masyarakat, baru bisa diluncurkan. Kalau pada tidak mau gimana bayarnya,” ujarnya.

Layanan sleeper train di Indonesia bukanlah perkara baru. Jika melirik sejarahnya, kereta tidur sudah pernah dioperasikan per tanggal 1 Juni 1967 silam, yang terdiri dari dua rangkaian, yaitu Bima 1 dan Bima 2. Tidak hanya terkenal sebagai pionir sleeper train, KA Bima juga dikenal sebagai kereta pertama yang menggunakan gerbong pembangkit untuk sumber tenaga listrik dan kereta pertama yang menggunakan sistem AC berfreon yang umum dipakai sekarang. Dilihat dari namanya, ternyata Bima sendiri merupakan singkatan dari Biru Malam, karena, pada awal peluncurannya, rangkaian kereta api ini bercat biru dan beroperasi pada malam hari.

Secara tampilan, kereta yang menghubungkan Jakarta – Malang ini bisa dibilang memiliki kelengkapan yang setara dengan sebuah hotel. Masing-masing kamar terdiri dari 2 tempat tidur yang posisinya bertingkat. Pada saat awal perjalanan, tempat tidurnya dalam posisi terlipat, dan sebagai gantinya penumpang duduk di kursi secara berhadapan. Di sebelahnya terdapat wastafel cuci tangan yang bisa dilipat, serta tempat untuk menyimpan botol air minum mineral untuk penumpang. Selain juga terdapat lemari untuk menyimpan pakaian.

Namun amat disayangkan, kereta ini terpaksa mengakhiri layanannya pada awal tahun 1990 karena isu sosial yang berkembang, seperti penggunaan bilik kamar sebagai ajang mesum. Tentu ini merupakan tantangan besar bagi PT KAI untuk menghapuskan image tersebut. Akankah sleeper train dapat kembali mengular di Indonesia?

Sabuk Pengaman Juga Bisa Berakibat Fatal, Lho!

Keberadaan sabuk pengaman (safety belt) di mobil-mobil memegang peranan yang cukup vital jika terjadi kecelakaan. Alih-alih mengalami cidera yang jauh lebih serius atau bahkan menyebabkan kematian, para penumpang dipaksa “diikat” di bangkunya masing-masing guna mengamankan keselamatan jiwanya. Namun, tidak semua jenis sabuk pengaman dinilai mampu memberikan pengamanan ekstra kepada setiap penggunanya, terbukti jika terjadi kecelakaan, sabuk pengaman yang biasanya ditemui di mobil keluaran lama malah membahayakan para penggunanya, karena bisa mematahkan tulang rusuk mereka.

Baca Juga: Ternyata, Sabuk Pengaman Lindungi Anda dari Lima Arah

Seperti yang KabarPenumpang.com himpun dari laman nbcnewyork.com, beberapa produsen kendaraan lalu memodifikasi salah satu alat keselamatan dalam berkendara tersebut. Dewasa ini, hampir semua kendaraan pribadi menggunakan safety belt keluaran terbaru (spool out – on impact) dimana sabuk pengaman akan mengendur hingga penggunanya menghantam airbag yang muncul ketika terjadi benturan dari arah depan. Studi menunjukkan, teknologi ini terbukti telah menyelamatkan banyak nyawa dalam kecelakaan. Namun, konsekuensi yang lebih besar harus ditanggung oleh pengguna jika mobil yang ia gunakan mendapat hantaman dari arah samping dan airbag tidak akan mengembang jika mobil ditabrak dari sebelah sisi maupun belakang.

Contoh kasus seperti ini dialami oleh seorang bernama John Cancelleri dimana ia terpaksa menjadi kaum penyandang disabilitas setelah sebuah kecelakaan yang terjadi pada 2010 silam. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa John tersebut terjadi tidak jauh dari rumahnya. Airbag yang ada di mobil John tidak mengembang karena mobil yang ia kendarai mendapat hantaman yang cukup keras dari bagian samping. Dilansir dari dokumen pengadilan, John terpental kea rah depan, padahal ia sudah mengenakan sabuk pengamannya.

Menurut pengakuan istrinya, Rosetta Cancelleri, John hingga kini belum bisa berjalan pasca kejadian tersebut, bahkan pada tahun 2015 silam, ia terpaksa kehilangan salah satu kakinya akibat penggumpalan darah di bawah lutut. Para penyelidik mengatakan, mobil John dilengkapi oleh sistem sabuk pengaman spooling yang baru, dimana diselipkan teknologi pembatas beban. Akibat kejadian itu, pihak John melalui pengacaranya, lantas menuntun pihak Ford, mobil John, akibat alat keselamatan yang dinilai tidak dapat bekerja secara maksimal tersebut.

Baca Juga: Warga UEA Setujui Aturan Penggunaan Sabuk Pengaman dan Car Seat

Don Phillips, pakar keselamatan mobil yang turut memberikan kesaksian tentang kasus Cancelleri melawan Ford, mengatakan mungkin ada cara yang lebih baik untuk kinerja dari sabuk pengaman. Harus ada batasan seberapa jauh seseorang bisa bergerak maju. “Kita perlu mendesain ulang sistem itu sedikit,” tutur Phillips.

National Highway Traffic Safety Administration mengamini apa yang selama ini para peneliti percaya, yaitu sistem sabuk pengaman jenis terbaru ini mampu menyelamatkan lebih banyak jiwa ketimbang model yang lama. Namun, tetap saja pihaknya masih meneliti dan mengembangkan sistem keamanan kendaraan tersebut sehingga menjadi lebih baik. Senada dengan National Highway Traffic Safety Administration, Insurance Institute for Highway Safety pun mengatakan hal serupa yang setuju dengan metode spooling yang diaplikasikan di sistem sabuk pengaman modern.

Prahara di Atas Laut Mediterania, 40 Menit Kondisi Darurat Tanpa Pendingin Udara

Belum lama ini  prahara di udara sempat menimpa para penumpang yang berada dalam penerbangan low cost carrier Jet2 yang berangkat dari Ibiza, Spanyol menuju Leeds di Inggris. Kejadian ini bukan hanya membuat panik, melainkan ketakutan yang amat sangat pada semua penumpang pesawat karena pesawat mendadak seperti meluncur turun dari ketinggian.

KabarPenumpang.com mengabarkan dari lep.co.uk (20/7/2017), seorang penumpang bernama Tom Miller saat kejadian tersebut sempat mengirimkan pesan teks kepada sang istri yang bertuliskan “I Love You Babe.” Hal ini dilakukannya saat pesawat yang ditumpanginya tiba-tiba seperti turun dari ketinggian yang berada tepat di atas laut Mediterania.

Dia mengatakan, awak kabin sempat saling memandang dan langsung bertindak. Troli makanan yang dibawa langsung dikembalikan pada tempatnya, kemudian masker oksigen langsung turun dan pesawat menukik ke bawah sekitar 40-50 derajat. “Sepertinya terus berlanjut, tapi sempat terlihat ke belakang beberapa menit, rasanya seperti jatuh dari langit,” ungkap Tom.

Penerbangan Jet2 saat itu membawa 180 penumpang dan seperti ada kesalahan kecil sehingga membuat pilot harus melakukan penyelamatan darurat. Dalam penerbangan darurat, Tom bersama 14 teman dan seorang anaknya. “Aku melihat teman-teman dan kamu tidak tahu apa yang bisa kami lakukan. Beberapa yang duduk dekat jendaela hanya saling memandang dan berkata ‘beginilah akhirnya’. Suara-suara penumpang yang ketakutan ini membuat saya mengirim pesan kepada istri bahwa saya mencintainya,” jelas Tom.

Setelah pesawat berhasil dikendalikan, pilot menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Tom menceritakan, bahwa ada masalah di kabin sehingga pilot harus menurunkan pesawat ke ketinggian yang aman. Untuk alasan keamanan, penerbangan tersebut akhirnya mendarat di Barcelona untuk permeriksaan teknis pada pesawat.

Selama 40 menit prahara di udara, penumpang mandi keringat akibat pendingin udara tidak berfungsi. Setelah empat jam menanti di Barceloba, para penumpang kemudian diberangkatkan ke Leeds dengan penerbangan lain. Meski para penumpang masih diselimuti ketakutan, respon positif dari Jet2 untuk meminta maaf patut diapresiasi.

 

 

 

Swedia Bebaskan Rakyatnya Pilih Nama Sebuah Kereta

Operator kereta api Swedia, MTR Express berjanji akan memberikan nama salah stau armada kereta terbarunya dengan nama “Trainy McTrainface” setelah pilihan nama tersebut mengalahkan beberapa calon nama lainnya. Bukan tanpa alasan, operator kereta api Swedia mengatakan pemilihan nama ini akan memberikan kebahagiaan, terutama bagi warga Inggris yang kecewa karena usulan nama Boaty McBoatface untuk sebuah kapal penelitian kutub dalam jajak pendapat serupa pada April 2016 silam ditolak.

Baca Juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat

Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman smh.com.au (21/7/2017), Trainy McTrainface unggul 49 persen suara dalam sebuah kompetisi penamaan. Lewat polling yang dilakukan secara online oleh MTR Express dan media cetak Swedia, mengalahkan pilihan nama lainnya, seperti Hakan, Miriam, dan Poseidon.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis oleh pihak MTR, pemilihan nama Trainy McTrainface akan diterima oleh masyarakat luas. “Ini merupakan sebuah berita yang akan diterima oleh semua orang dengan rasa gembira, bahkan untuk orang-orang di luar Swedia,” tulis MTR dalam pernyataan tersebut.

Sumber: independent.co.uk

Nantinya, kereta ini akan menghubungkan Ibu Kota Swedia, Stockholm dengan Gothenburg, kota terbesar kedua di salah satu negara Skandinavia ini. Bagaikan suksesor Inggris, Swedia berhasi menunjukkan kepada dunia bahwa negara tersebut bisa lebih demokratis dalam menentukan sebuah nama salah satu moda transportasinya.

Tahun lalu, Inggris mendatangkan sebuah kapal penelitian kutub dan akan melakukan jajak pendapat secara online untuk menentukan penamaan dari kapal tersebut. Kala itu, hasil polling menunjukkan nama Boaty McBoatface-lah yang keluar dengan suara terbanyak. Namun entah bagaimana caranya, pemerintah Inggris tidak setuju dengan polling yang sudah dilakukan tersebut, sehingga kekecewaan pun merundung warga Inggris. Padahal, warga Inggris percaya penamaan Boaty McBoatface akan menabah kesan anggun pada siapapun yang menggunakannya.

Baca Juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

Berbeda dengan dalam negeri, dimana setiap nama suatu armada transportasi ditentukan langsung oleh perusahaan yang berkaitan, seperti penamaan kereta Argo Parahyangan, Dwi Pangga, dan Gajayana merupakan segelintir nama kereta yang langsung dipilih oleh PT KAI tanpa melempar polling kepada masyarakat.

Tentu, penentuan nama suatu armada transportasi baik dengan cara voting maupun penentuan langsung dari perusahaan terkait memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Ketika sebuah polling dilempar ke masyarakat, berarti peran serta mereka menentukan penamaan tersebut. Namun jika perusahaan langsung yang menentukan pemilihan nama, maka kesalahpahaman seperti yang terjadi di Inggris akan dapat diminimalisir.

Butuh 90 Menit Tenangkan Turis Australia Yang Depresi di Bandara Ngurah Rai

Seorang turis asal Australia yang harusnya menaiki pesawat dalam penerbangan menuju Kuala Lumpur dari Bali membuat masalah di dalam kabin. Pria ini tiba-tiba berteriak dan memukul-mukul pintu kokpit saat berada di dalam pesawat tersebut.

Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar

Dilansir KabarPenumpang.com dari coconuts.co (19/7/2017), pria tersebut diketahui bernama Gregory Butler usia 46 tahun yang akan terbang menggunakan peswat AirAsia menuju Kuala Lumpur dari Bali pada Senin (17/7/2017) malam. Saat dirinya memukul pintu kokpit, Ia mengaku bahwa ada yang ingin mencoba membunuhnya sehingga membuat panik pilot yang mengemudikan pesawat.

https://youtu.be/FCFMt9kc1s4
Akibat kelakuan Butler, pilot kembali mengemudikan pesawat menuju ke apron demi alasan kemanan. Namun, kelakuan Butler ternyata tak hanya sampai di situ saja, saat berada di bandara, dirinya pergi ke atas dan berada di luar pembatas seperti akan bunuh diri sembari teriak-teriak sehingga membuat panik pengunjung Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Baca juga: AirAsia X Tujuan Kuala Lumpur Alami Turbulensi, Lima Penumpang Terluka

Untuk meredakan ketenganan, seorang pria Australia lainnya lagsung mendekati dan berada di samping Butler, dirinya mulai berbicara untuk bernegosiasi serta menenangkannya. Setelah Butler mau di ajak bernegosiasi dan agak tenang dari sebelumnya, dirinya langsung diamankan oleh para petugas keamanan Bandara Ngurah Rai setelah 90 menit bernegosiasi. “Saya bilang padanya, semua orang disini punya masalah. Saya memiliki lebih banyak masalah daripada Anda,” ujar Erol Buyuk usai membantu petugas kemanan untuk bernegosiasi dengan Butler.

Baca juga: Diterjang Bau Kentut, Tiga Awak Kabin Tumbang

Setelah Butler diamankan oleh petugas keamanan bandara serta polisi, dirinya sempat di interogasi untuk apa yang dilakukannya. Butler mengaku untuk menarik perhatian pejabat pemerintah yang korup. “Saya tidak ingin melompat, saya berdiri di pinggir. Saya ingin memperhatikan situasi tertentu mengenai pejabat pemerintah, oleh karena itu saya pikir saya bisa melakukannya,” kata Butler.

Baca juga: Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia

Sayangnya tidak ada penjelasan untuk langsung menahan Butler. Tetapi ternyata setelah di geledah, ditemukaan ada obat antidepresan pada Butler, kemudian dirinya dibawa ke rumah sakit Sanglah, Denpasar untuk pengujian medis dan kejiwaan setelah diberi obat penenang.

Pria Ini Makan Gratis Selama Setahun Bermodalkan Tiket First Class, Kok Bisa?

Bagaimana rasanya jika Anda mendapatkan makanan gratis selama hampir satu tahun penuh? Ditambah makanan tersebut merupakan hidangan yang tersedia di ruang VIP bandara (executive lounge). Tentu sangat menggiurkan bukan? Hal inilah yang didapatkan oleh seorang pria asal Cina. Bukan karena dia menang undian atau mendapatkan sebuah doorprize, melainkan dia memanfaatkan layanan makanan gratis yang disediakan oleh pihak Eastern China Airlines, setelah pria “jenius” ini membeli sebuah tiket kelas satu.

Baca juga: Pilah-Pilih Lounge Eksekutif di Bandara

Dilansir KabarPenumpang.com dari news.com.au, seorang pria yang tidak disebutkan namanya ini memanfaatkan celah yang ada setelah ia membeli tiket dan mendapatkan layanan makanan gratis dalam rentan bulan Januari 2013 hingga awal tahun 2014. Entah apa yang ia pikirkan pada saat itu, namun apa yang ia lakukan bisa dibilang cukup pintar. Setelah selesai makan, ia lalu mengatur ulang jadwal pemberangkatannya menjadi keesokan harinya. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Ia kembali lagi keesokan harinya ke Bandara Internasional Xi’an hanya untuk menikmati hidangan gratisnya tersebut.

Tidak hanya sampai di situ, ia terus melakukan hal tersebut hingga kurang lebih 300 kali. Luar biasanya lagi, ketika pria ini menghentikan aksi jeniusnya tersebut, ia mengembalikan tiket tersebut dengan pengembalian penuh. Tentu kejadian ini membuat pihak Eastern China Airline kebingungan. Walaupun nasi sudah menjadi bubur, para pejabat di Eastern China Airline tidak dapat berbuat banyak, hanya menggeleng-gelengkan kepala karena kebingungan dengan aksi yang dilakukan oleh pria tersebut.

Baca Juga: Rajin Naik Garuda Indonesia, Terbang ke Jepang dengan First Class Hanya Bayar US$76

Salah seorang juru bicara dari Eastern China Airline menyebutkan tindakan makan gratis yang dilakukan oleh pria tersebut merupakan tindakan yang amat sangat langka, dan baru pertama kali mereka menemui kasus seperti ini. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bisa saja pria tersebut menjadi inspirasi bagi orang lain yang ingin mencoba makan gratis selama setahun.

Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’

Banyak hal unik terjadi dalam penerbangan dari awal Anda masuk bandara, check in, mengirim barang untuk masuk ke bagasi pesawat hingga boarding. Biasanya hal terunik lebih banyak saat memasukkan barang ke kabin pesawat saat check in, yakni barang berlebih hingga menambah beban muatan, selain itu yang terjadi baru-baru ini sebuah minuman kaleng yang diketahui bir, masuk dalam kabin pesawat sebagai daftar barang bawaan. Kali ini, seorang pria di Australia melakukan hal konyol untuk menyimpan sekaleng bir dengan tanda (tag) bagasi pesawat dalam penerbangan domestik.

Baca juga: 6 Hal Ini Bisa Memicu Keributan Selama Penerbangan

KabarPenumpang.com melansir bbc.com (12/7/2017), pria yang melakukan hal aneh tersebut diketahui bernama Dean Stinson. Stinson mengatakan, bahwa dirinya dan seorang teman lainnya membuat gagasan untuk memasukkan satu kaleng bir dalam bagasi pesawat merupakan sebuah hiburan dan lelucon.

Mungkin hal ini terlihat aneh bagi Anda yang mendapatkan sebuah kaleng bir baru yang belum di buka sesudah tiba di bandara Perth dan berada di ban berjalan tempat mengambil barang bawaan dari bagasi pesawat. Apalagi melihat kaleng bir dengan sebuah tanda bagasi setelah empat jam perjalanan dari Melbourne.

Kaleng bir yang masuk ke bagasi pesawat Qantas (BBC)

Diketahui, maskapai yang mengangkut Stinson dengan bagasi sebuah kaleng minuman adalah Qantas. Dengan adanya hal ini, pihak maskapai Qantas mengatakan, bahwa kejadian seperti meletakkan kaleng bir tersebut untungnya tidak diikuti oleh penumpang lainnya yang mengunakan Qantas. Sebab hal ini bukannya membuat semakin baik citra maskapai justru bisa membuat citra maskapai merosot di mata publik.

Baca juga: Asap Penuhi Kabin Aero Contractors, 53 Penumpang Selamat

“Orang ini telah melakukannya dan dia memenangkan warga internet untuk hari ini, jadi kami senang untuk melanjutkan,” kata seorang juru bicara dari Qantas. Saat memasukkan sekaleng bir tersebut dalam bagasi, Stinson mengakui dirinya senang karena bisa sampai dengan selamat pada sabtu (15/7/2017). Dan itu dalam kondisi sempurna, Untungnya maskapai Qantas juga tidak memberikan biaya tambahan untuk bagasi yang tercatat.

Baca juga: Ini Lho Fungsi Lain dari Airplane Mode!

Mungkinkah hal ini akan terjadi pada maskapai lain baik penerbangan domestik maupun internasioanl? Sebenarnya yang patut jadi pertanyaan adalah peran petugas di check in counter, mengapa bisa menyetujui sebuah kaleng bir dimasukkan ke bagasi dan kemudian diberi tag layaknya tas atau koper.