Oktober 2017, Stasiun ‘Modern’ Bekasi Timur Siap Beroperasi Layani Jalur KRL

Stasiun Bekasi Timur bisa juga disebut stasiun Ampera atau Bulak Kapal ini merupakan stasiun baru yang akan dilalui CommuterLine atau kereta rel listrik (KRL). Letaknya tepat berada di Jalan Ir H Juanda, Bekasi Timur. Stasiun ini dalam tahap pembangunan dan akan melayani KRL dari Jabodetabek hingga ke Cikarang.

Sebenarnya banyak faktor sehingga diputuskan membangun stasiun iniu, salah satunya adalah kapasitas penumpang di stasiun Bekasi sudah jauh melebihi kapasitas. Saat ini di stasiun Bekasi sudah menampung kapasitas 190 persen penumpang saat pagi dan sore, yakni pada momen pergi pulang kerja masyarakat ke arah Jakarta.

Baca juga: Pembangunan Fisik Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta Rampung di Maret 2017

Diperkirakan, stasiun Bekasi Timur akan rampung pada Agustus 2017 ini. Dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (27/7/2017), Supervisor Mutsubishi-Sumitomo Join Operation (MSJO), Ferry Cristasana mengatakan saat ini tinggal tahap finishing dengan sisa penyelesaian proyek sekitar 10 persen. Adapun penyelesaian akhir fisik dari stasiun tersebut yakni bagian luar dan dalam, taman dan uji kelayakan. Biaya pembangunan Stasiun Bekasi Timur sendiri menggunakan anggaran dari Kementerian Perhubungan.

Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Stasiun yang direncanakan beroperasi pada Oktober 2017 ini bersama dengan dua stasiun lainnya yakni stasiun Cibitung dan Cikarang memiliki luas tiga hektare dengan peron sepanjang 90 meter dan klasifikasi daya tampung 12 gerbong kereta. Mengusung konsep stasiun modern, “Kami juga melengkapi stasiun ini dengan elevator dan lobi yang nyaman bagi penumpang,” kata Ferry.

Stasiun Bekasi Timur sendiri akan terdiri dari dua lantai, dimana lantai dasar diperuntukkan untuk loket dan mesin pembelian tiket yang langsung terkoneksi dengan koridor tangga menuju peron bagian barat dan timur. Stasiun Bekasi Timur juga sudah dilengkapi dengan fasilitas untuk para penyandang disabilitas dari area parkir hingga peron.

Baca juga: 

Stasiun ini dilengkapi dengan 4 tangga dan 2 lift untuk memudahkan penyandang disabilitas dan para lansia. Ada dua jalur rel kereta yang melewati stasiun ini dan juga saat ini dalam rencana pembangunan jalur kereta ganda atau double-double track (DDT). Pada stasiun baru ini akan dipasangi kamera pengawas CCTV, alarm keamanan dan alat pemadam kebakaran sederhana yang berada tak jauh dari ruang pusat pengendalian.

Jetstar Asia Buka Rute Indonesia ke Hat Yai via Singapura

Jetstar Asia, maskapai penerbangan Low Cost Carrier (LCC) atau dengan biaya rendah ini kembali membuka rute baru penerbanganya dari Indonesia menuju Hat Yai di Thailand Selatan. Tapi, perjalanan ini tak ditawarkan dalam penerbangan langsung, melainkan harus transit di Singapura terlebih dahulu.

Baca juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin

Rute baru penerbangan ini akan mulai beroperasi pada 3 November 2017 mendatang dan akan ada empat kali penerbangan dalam seminggu dari Singapura ke Hat Yai. CEO Jetstar Asia Bara Pasupathi mengatakan, Hat Yai adalah kota ketiga di Thailand yang dikunjungi Jetstar.

Pantai Hat Yai, Thailand Selatan (Istimewa)

Waktu tempuh penerbangan dari Singapura menuju Hat Yai sekitar 1 jam 40 menit. Untuk penerbangan dari Indonesia menuju Hat Yai transit Singapura dalam sekali jalan, tiket yang dijual mulai dari harga Rp599 ribu. “Nantinya rute baru ini dari Indonesia sendiri akan ada di lima kota yakni Jakarta, Medan, Surabaya, Pekanbaru dan Palembang dan transit semuanya tetap di Singapura,” ujar Pasupathi melalui siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com.

Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar

Diketahui, Hat Yai merupakan kota terbesar di selatan Thailand yang terkenal dengan destinasi belanja, hiburan, kuliner dan juga perawatan medis yang populer untuk turis dari Singapura, Malaysia dan Indonesia. Lokasi wisata di Hat Yai yang bisa dikunjungi yakni pantai, pasar apung Khlong Hae, air terjun Ton NGa Chang, danau Songkla, taman dan observatorium serta arena adu banteng.

Hat Yai sendiri sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisatawan muda maupun wisatawan yang bepergian bersama keluarga dan ingin menjelajahi Thailand lebih lanjut lagi. Dengan adanya layanan baru Indonesia menuju Hat Yai via Singapura ini Jetstar Asia sudah mengoperasikann lebih dari 51 layanan ke Thailand setiap minggunya termasuk Bangkok dan Phuket.

Baca juga: Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya

Berikut waktu operasi penerbangan dari Singapura menuju Hat Yai dengan nomor penerbangan sebagai berikut:

3K571 Singapore – Hat Yai Senin dan Minggu 20.05/20.35
3K572 Hat Yai – Singapore Senin dan Minggu 21.45/00.25
3K571 Singapore – Hat Yai Rabu 19.30/19.55
3Kib572 Hat Yai – Singapore Rabu 20.35/23.15
3K571 Singapore – Hat Yai Jumat 18.15/18.45
3K572 Hat Yai – Singapore Jumat 19.35/22.05

Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

Faktor perubahan cuaca di bandara kerap menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan, khususnya pada aktivitas lepas landas dan mendarat yang krusial untuk diperhatikan. Contoh kasus yang kerap terjadi belakangan adalah tergelincirnya pesawat di landas pacu, terutama terjadi di wilayah Papua.

Guna merespon fenomena tersebut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Universitas Diponegoro dan Lion Group dalam proyek penelitian dan pengembangan Sistem Informasi/Peringatan Dini Cuaca di Bandara untuk Operasi Keselamatan Penerbangan.

Baca juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers Humas KNKT hari ini, kerjasama dengan tiga instansi tersebut telah ditandatangani dengan nota kesepahaman Nomor KNKT/033/VII/MOU/2017 pada 18 Juli lalu. Adapun yang melatarbelakangi dari nota kesepahaman ini adalah banyaknya kecelakaan penerbangan di bandara yang disebabkan oleh faktor cuaca seperti perubahan arah dan kecepatan angin yang terjadi di bandara. ”Beberapa kecelakaan penerbangan di bandara disebabkan oleh faktor cuaca “ terang Ketua KNKT Dr. Ir. Soerjanto Tjahjono.

Pada kesempatan yang sama pula Ketua KNKT menyatakan bahwa manusia tidak boleh menyerah terhadap faktor alam seperti seperti perubahan cuaca sebagai penyebab kecelakaan tersebut. “Manusia diberikan kelebihan untuk memikirkan cara untuk mengatasinya” tegas Ketua KNKT. Salah satu solusi yang diinisiasi KNKT melalui pengembangan sistem informasi peringatan dini cuaca Low Level Windshear di Bandara. Akhir dari sambutannya, Ketua KNKT berharap tidak lanjut dari Nota Kesepahaman ini dapat mengurangi kecelakaan penerbangan di Bandara.

Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Adapun para pihak yang menandatangani nota kesepahaman ini adalah DR. Soerjanto Tjahjono selaku Ketua KNKT, Prof, DR. Yos Johan Utama, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Diponegoro, DR. Andi Eka Sakya, M.Eng selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dan Edward Sirait selaku Vice President Lion Group.

Ketua KNKT menggarisbawahi terkait maksud dari nota kesepahaman ini adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan sistem Informasi/peringatan dini cuaca di bandara untuk keselamatan penerbangan, sedangkan tujuannya adalah untuk melakukan penelitian dan pengembangan sistem informasi penringatan dini cuaca di bandara untuk keselamatan penerbangan.

Ruang lingkup nota kesepahaman ini meliputi tukar-menukar data dan/atau informasi terkait kegiatan penelitian dan pengembangan, pemanfaatan sarana dan prasarana serta peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia. Nota kesepahaman ini berlaku untuk jangka waktu lima tahun.

Seni Tingkat Tinggi Siap Hiasi Stasiun-Stasiun di Ottawa

Masyarakat Ottawa di Kanada tak lama lagi bakal mendapatkan sebuah moda transportasi baru yang akan menunjang kehidupan sehari-harinya. Sebuah Light Rapid Transit (LRT) dengan nama Confederation Line rencananya akan rampung pada tahun 2018 mendatang, namun proyek di tengah kota akan diperkirakan selesai pada tahun ini, sehubungan dengan peringatan 150 tahun konfederasi Kanada.

Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya?

Selain menantikan kehadiran LRT ini, masyarakat Ottawa juga menantikan rangkaian statiun dengan desain yang unik, seperti yang telah otoritas setempat memberikan kesempatan para warganya untuk menjadikan ruang publik ini sebagai media penyaluran ide-ide seni mereka. Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari cbc.ca (25/7/2017), pemerintah menghabiskan dana sekitar $ 7 juta untuk menghias 13 stasiun LRT ini. Berikut, beberapa konsep dari stasiun-stasiun yang nantinya akan diselimuti karya seni tingkat tinggi tersebut.

Tunney’s Pasture
Stasiun yang terletak di antara Scott Street dan Holland Avenue ini akan menampilkan dua buah mural mosaic di atas kaca besar dengan gradasi warna di kedua sisi platform. Karya seni ini semakin menarik perhatian dengan keberadaan sebuah skylight. Aktor dibalik karya seni yang diberi nama Gradient Space ini adalah Derek Root, seorang seniman asal Vancouver. Ia berharap karya seninya bisa memberikan “sense of movement” kepada seluruh pengguna stasiun.

Baca Juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

Bayview Station
Stasiun yang menghubungkan Trillium Line (layanan Diesel Light Rapid Transit di Ottawa) dengan Confederation Line ini akan dihiasi oleh karya seni yang dibuat oleh seniman asal Ottawa bernama Adrian Göllner. Karya seni yang diberi nama As the Crow Flies ini terbuat dari baja tubular dan pagar. Akan ada juga sejarah wilayah Ottawa – Gatineau dalam sebuah siluet dari Gatineau Hills and Mechanicsville sepanjang 120m.

Pimisi Station
Budaya Anishinabe akan menjadi pusat seni di stasiun yang terletak di Booth Street Bridge ini. Pimisi – yang berarti “belut” dalam bahasa Algonquin – memiliki arti penting dalam budaya. Stasiun ini akan menampilkan karya seni indoor dan outdoor yang dibuat oleh lima seniman Algonquin (Simon Brascoupé dari Ottawa; Emily Brascoupé-Hoefler dari Ottawa; Sherry-Ann Rodgers dari Gatineau; Doreen Stevens dari Kitigan Zibi Anishinabeg, Que; dan Sylvia Tennisco dari Pikwàkanagàn, Ont .

Baca Juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia

Adapun karya dari seorang seniman asal Montreal, Nadia Myre nantinya akan mencantumkan sebuah seni lukis tingkat tinggi yang sarat akan makna. Akan ada juga seratus dayung yang dilukis tangan turut menghiasi stasiun ini.

Pertama Kali Gelar Travel Fair, PT KAI Berhasil Jual 640 Ribu Tiket Eksekutif

Pameran perjalanan (KAI Travel Fair) yang digelar PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 29 dan 30 Juli 2017 kemarin, bukan hanya mendapat sambutan antusias, tetapi memberikan warna dan fenomena baru untuk promo penjualan tiket kereta api. Hal ini terlihat dari antrean pengunjung di pintu gerbang untuk masuk ke Jakarta Conventional Center yang mengular.

Pada pameran yang pertama kali dibuat oleh PT KAI ini, harga yang ditawarkan cukup menarik dan, penjualan yang dilakukan hanya pada kereta eksekutif saja. Seperti tiket tujuan Bandung dari stasiun Gambir hanya dikenakan Rp30 ribu untuk sekali jalan, padahal harga tiket regulernya mencapai Rp125 ribu.

Baca juga: Jepang Terancam Tersingkir (Lagi) dari Persaingan Peremajaan Kereta di Indonesia

Tak hanya itu, beberapa tiket murah kelas eksekutif lainnya juga tersedia tujuan Cirebon, Kutoharjo, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Hingga kabar terakhir yang KabarPenumpang.com rangkum, ada sekitar lebih dari 640 ribu lembar tiket kereta api eksekutif yang terjual dengan berbagai tujuan dan harga yang beragam pula dari Rp30 ribu hingga Rp150 ribu.

Pameran yang dilakukan pertama kali oleh PT KAI ini, juga sekaligus untuk penjualan tiket pada waktu-waktu sepi liburan. Tiket yang dijual adalah pemberangkatan per Agustus hingga Oktober 2017 dan tidak menutup kemungkinan di hari biasa, untuk akhir pekan pun bisa.

Antrian mengular di pintu gerbang sebelum masuk ke JCC untuk pamerean tiket kereta api (istimewa)

Sayangnya, dengan pameran perjalanan yang dibuat KAI ini, mengundang kontroversi yang kurang sedab. Pasalnya KAI menyebut akan menjual tiket promo hanya di pameran, ternyata disaat yang sama, salah satu aplikasi pembelian tiket online teranyar pun memberikan harga yang sama dengan penjualan saat pameran.

Baca juga: Bon Bon, Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Indonesia

Memang, walaupun terbatas tiket yang dijual melalui online, tetapi tetap beberapa pengunjung kecewa karena harus antre dari pagi, sedangkan banyak yang mudah alias hanya duduk di rumah dan membuka aplikasi serta membayar tiket dengan mudah. Dengan adanya masalah ini, pihak PT KAI meminta maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut.

“Kami baru pertama kali mengadakan pameran perjalanan ini. Banyak sekali kekurangan, kami akan evaluasi dan perbaiki,” ujar Kepala Humas PT KAI Agus Komaruddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari Harian Kompas (31/7/2017). Banyak kekecewaan yang dirasakan pengunjung, namun bisa dikatakan pameran perjalanan ini cukup berhasil dan membuat banyak pihak puas dengan adanya promo tiket pada kelas eksekutif.

Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Indonesian Air Traffic Controllers Association (IATCA) telah memperingatkan bahwa adanya risiko tabrakan pesawat dan kecelakaan lainnya mengingat beban kerja yang mereka tanggung cukup tinggi. Peringatan ini dikeluarkan sehubungan dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) yang menjadi bandara utama di negara ini tengah berjuang untuk mengatasi masalah ekspansi besar-besaran dari dunia aviasinya.

Baca Juga: PT Angkasa Pura II Tingkatkan Kapasitas Listrik Bandara Soekarno-Hatta

Pengendali lalu lintas udara Indonesia ini melayangkan komplain kepada pihak AirNav yang mengizinkan 84 penerbangan lepas landas dan mendarat dalam jangka waktu satu jam, sebagaimana yang terjadi selama eksodus di bulan Ramadhan kemarin. “Dengan membiarkan hal ini terjadi, kemungkinan terjadinya kecelakaan akan meningkat dan pengendali lalu lintas udaralah yang akan disalahkan,” ujar wakil ketua IATCA, Andre Budi, sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (27/7/2017).

IATCA menilai, 84 aktifitas baik penerbangan maupun pendaratan dalam waktu satu jam yang selama ini diberlakukan melebihi kapasitas bandara dan dianggap sudah melanggar Instruksi Menteri Perhubungan nomer 8/2016 yang membatasi aktifitas penerbangan di angka 74 pesawat per jam dan empat pesawat lainnya untuk keadaan darurat. Bukanlah isapan jempol semata, IATCA mengambil contoh dari aksi go around pilot Garuda Indonesia GA425 dari Denpasar yang akan mendarat di Bandara Soetta. GA425 melakukan aksi go around untuk menghindarkan terjadinya tabrakan di runway pada 18 Juni 2017 silam, tepat seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka

Ditambah lagi dengan kejadian senggolan pesawat yang terjadi antara dua pesawat Lion Air di Bandara Soetta pada tahun lalu. Untungnya, kejadian ini tidak menelan korban jiwa. Tidak bisa dipungkiri, Bandara Soetta merupakan salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara yang melayani lebih dari 55 juta penumpang pada tahun 2016, dengan 1.200 penerbangan per harinya. Popularitas penerbangan di Indonesia semakin mewabah seiring bermunculannya berbagai maskapai Low Cost Carrier (LCC) yang menawarkan penerbangan dengan tarif yang relatif terjangkau.

Baca Juga: Menara ATC Tintin: Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota

Dari data kecelakaan yang ada, membuat Indonesia mendapat penilaian yang buruk dalam audit keselamatan penerbangan tahun 2014 yang diadakan oleh salah satu badan pengawas penerbangan karena masalah kurangnya tenaga ahli. Andre mengatakan bahwa sebagian besar pengendali lalu lintas udara kurang mendapatkan pelatihan untuk menangani tingginya lalu lintas udara yang terpantau mulai meningkat sejak 10 hari sebelum Hari Raya.

IATCA telah mengajukan keluhan kepada pihak AirNav dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. “Kami ingin pihak yang berwenang kembali menggunakan pola 72 pesawat per jam untuk mencegah kecelakaan,” kata Andre. Tidak lupa, IATCA juga menyarankan agar pemerintah memberikan lebih banyak pelatihan kepada petugas lalu lintas udara dan memperbaiki infrastruktur bandara.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris AirNav, Didiet K. S. Radityo mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan kenaikan angka aktifitas di landas pacu tersebut, ini berlandaskan pada instruksi Kementerian Perhubungan No. 16/2017 yang telah diperbaharui. “Kenaikan tersebut untuk mengakomodasi permintaan dari pihak maskapai seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan dari sektor pariwisata,” tutur Didiet. “81 penerbangan per satu jam merupakan standar maksimum baru,” tambahnya.

Lebih lanjut, Didiet mengatakan instruksi menteri yang baru sebenarnya telah disesuaikan untuk melayani penerbangan dengan lebih baik dan untuk menghindari ‘mangkraknya’ aktifitas di bandara, terutama pada waktu-waktu tertentu. Instruksi tersebut juga berdasarkan masukan dari Unit Koordinasi Kementerian Perhubungan untuk sektor penerbangan, pihak PT Angkasa Pura II, dan firma konsultan dari Bandara Heathrow di London.

Baca Juga: Agustus 2017, Diharapkan Semua Rute Internasional Pindah ke Terminal 3 Bandara Soetta

Atas dasar tersebut, Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso membenarkan isu tentang peningkatan frekuensi penerbangan di Bandara Soetta. “Permintaan bertambah, maka frekuensi penerbangan pun mesti ditingkatkan,” tuturnya dalam sebuah pernyataan. Agus menambahkan bahwa sebagai pusat utama penerbangan domestik, kapasitas Bandara Soetta harus sesuai dengan pesatnya pertumbuhan dari sektor pariwisata dan ekonomi. “Di Bandara Heathrow, landasan pacu dapat menangani 100 pesawat per jam. Selama prosedur dan peraturan dipatuhi, akan aman.” tutupnya.

Saat Take Off and Landing, Penutup Jendela Pesawat Wajib Dibuka, Inilah Sebabnya!

Ternyata saat pesawat lepas landas dan mendarat tak hanya lampu yang dimatikan atau diredupkan, tetapi penutup jendela pun harus dibuka. Tapi tahukah apa alasan penutup jendela tersebut harus dibuka? Padahal baik di tutup atau di buka pun tak akan ada udara yang masuk dalam kabin pesawat, karena kabin pesawat seperti ruang hampa yang hanya memiliki udara dari pesawat itu sendiri.

Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini

KabarPenumpang.com mencari alasannya dari independent.co.uk, para ahli kemudian mengungkapkan alasan terkait penutup jendela pesawat yang harus dibuka. Ternyata ini adalah hal penting yakni untuk keselamatan penumpang dan mungkin dalam pikiran Anda hal ini hanya masalah sepele.

Petugas Keselamatan Penerbangan dan pengamat aviasi, Saran Udayakumar mengatakan pada pengguna Quora bahwa pada kasus darurat di pesawat awak kabin hanya memiliki waktu 90 detik untuk melakukan evakuasi. Ini juga memungkinkan awak kabin menyiapkan para penumpang dalam pesawat terbang untuk penyelamatan dan pengungsian dengan cepat. Sebab, masalah ini agar petugas darurat bisa melihat keluar dari dalam kabin untuk mengecek situasi di luar.

Baca juga: Yuk! Intip Tempat Istirahat Awak Kabin Virgin Australia

“Penumpang penasaran, oleh karena itu mereka adalah mata ekstra yang sempurna untuk melihat apakah ada yang tidak beres di luar sana. Biasanya penumpang langsung melaporkan jika terjadi keadaan darurat mendadak. Karena itu bila penutup jendela terbuka, kru bisa dengan mudah melihat kondisi luar untuk membantu mereka dalam merencanakan evakuasi yakni dengan pintu digunakan untuk evakuasi,” ujar Udayakumar.

David Robinson, seorang Aeronautical Industry Professional memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia mengatakan,jika Anda bisa menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya rendah sebelum terjadi insiden yang tidak baik, ada kemungkinan Anda akan memiliki kapasitas visual 1000 kali lebih baik dibandingkan bila tiba-tiba berada dalam kegelapan dan hanya memiliki waktu untuk turun dari pesawat selama 90 detik.

Baca juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

“Ada beberapa kasus di mana penumpang melihat terjadinya masalah teknis dengan melihat kondisi sayap atau mesin. Tentu saja, ini sangat jarang terjadi,” ujar salah seorang pilot, Kare Lohse. Sebenarnya tak hanya lampu yang redup dan penutup jendela di buka, tetapi meja yang berada di depan penumpang juga harus dilipat untuk memudahkan bila terjadi keadaan darurat dan lebih cepat keluar dari tempat duduk mereka.

Baca juga: Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin?

Pada bulan Januari 2009, penumpang Flight 1549 mendarat di Sungai Hudson dalam apa yang oleh Walikota disebut keajaiban di Hudson. Sebanyak 150 penumpang di atas pesawat selamat dan bekerja sama dengan kru untuk menilai situasi dan menjamin keselamatan sesama penumpang.

Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat

Ada-ada saja memang ulah penumpang, diberitakan baru-baru ini seorang penumpang maskapai Spirit Airlines membuat penerbangan menuju Oakland, California ini sempat tertunda beberapa waktu. Adapun penyebab keterlambatan ini dikarenakan penumpang yang identitasnya tidak disebutkan tersebut menanggalkan pakaiannya dan berjalan mendekati pramugari. Kejadian yang terjadi di Bandara Mc’Arran, Las Vegas ini terjadi pada Sabtu (29/7/2017).

Baca Juga: Sedang Gendong Anak, Penumpang Ini Malah Mendapat Bogem dari Petugas Bandara

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (30/7/2017), penumpang yang disinyalir mengalami gangguan kejiwaan tersebut melepaskan pakaiannya ketika hendak naik ke dalam maskapai. Kejadian yang terjadi pada pukul 11.30 waktu setempat ini sontak menggegerkan orang-orang di sekitarnya. Para penumpang lain yang melihat kejadian ini kemudian menghubungi pihak keamanan setempat guna menindaklanjuti aksi di luar batas tersebut.

Petugas keamanan langsung memboyongnya dan Letnan Polisi Carlos Hank yang menangani kasus ini mengatakan penumpang tersebut akan diobservasi lebih lanjut untuk mengetahui kondisi kejiwaannya. “Penumpang tersebut menerima perawatan setelah diamankan oleh petugas,” tuturnya sebagaimana tertera di laman sumber.

Baca Juga: Dua Sejoli ini Lakukan Adegan Panas di Dalam Kabin

Akibat kejadian ini, pemberangkatan Spirit Airlines sempat tertunda sekitar 30 menit dan tiba 20 menit lebih lama dibandingkan waktu normal. Sementara itu, pihak Spirit Airlines sendiri masih memilih untuk bungkam ketika ditanya mengenai kejadian memalukan tersebut.

Dengan adanya insiden seperti ini, tentu mengingatkan kita tentang banyaknya rentetan kejadian memalukan lainnya yang menghantui dunia aviasi. Mundur ke tanggal 26 September 2013 silam dimana seorang lelaki paruh baya melakukan hal serupa, yaitu menanggalkan pakaiannya lalu menantang kapten pesawat untuk berkelahi. Dilansir dari sumber berbeda, kejadian tersebut berawal ketika pria tersebut mulai mengumpat kepada penumpang lain dan menjadi tidak terkontrol.

Kapten pesawat EasyJet yang mendengar keributan tersebut lalu meninggalkan area kokpit untuk menenangkannya. Namun, setibanya pesawat tersebut di Bandara Manchester, pria yang disinyalir tengah berada di bawah pengaruh minuman beralkohol tersebut lalu menanggalkan pakaiannya lalu menantang sang kapten yang mencoba untuk menenangkannya tadi untuk berkelahi.

Baca Juga: (Lagi), Awak Pesawat Gunakan Kabel Ties Untuk Lumpuhkan Penumpang

Petugas keamanan setempat terpaksa melumpuhkannya menggunakan stun gun karena pria bertato tersebut dianggap tidak bisa diajak bekerja sama dengan menyerahkan dirinya, bahkan setelah pasangan dari pria itu menamparnya berulang kali. Ternyata, menurut keterangan yang diperoleh dari juru bicara kepolisian Manchester, ia juga sempat buang air kecil di tembok. Akibat ulahnya tersebut, ia ditahan oleh kepolisian setempat dan akan dikenakan denda atas tindakannya. Ada-ada saja ya!

Asal Usul ERP Singapura: Ketika Pembangunan Jalan Tak Setara Pertumbuhan Kendaraan

Beberapa tahun ke belakang, warga Jakarta dihebohkan dengan menyeruaknya kabar tentang pengadaan sistem baru di jalanan yang diusung-usung akan menggantikan sistem three-in-one, yaitu Electronic Road Pricing (ERP). ERP sendiri merupakan skema pemungutan biaya tol secara elektronik yang diadopsi pertama kali oleh Singapura. Adapun tujuan utama dari pemberlakuan sistem ERP ini adalah untuk mengurangi volume kendaraan yang terjadi di jalan-jalan tertentu. Untuk di Singapura sendiri, pemasangan ERP ditujukan untuk mengurangi volume kendaraan di Central Business District (CBD) dan Jalan Orchard, serta jalan tol utama.

Baca Juga: Jalan Ini Hubungkan Jepang dan Turki Sepanjang 20.000 Km!

Tidak hanya itu, sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari lta.gov.sg, tujuan lain dari pengadopsian sistem ERP adalah untuk mengoptimalkan penggunaan jaringan jalan dengan mendorong pengendara kendaraan bermotor untuk mempertimbangkan jalur alternatif lainnya yang tersedia. Selain itu, sistem ERP juga dianggap lebih wajar dalam tarif yang dikenakan kepada para penggunanya. Jadi, bagi siapa saja yang melewati jalan yang mengadopsi sistem ini, akan dikenakan biaya.

Sepintas cara kerjanya sama seperti jalan tol, namun di sini para pengendara tidak mesti berhenti untuk membayarnya, karena ada alat pemindai di setiap gerbang ERP dan On Board Unit (OBU) yang terpasang di dashboard kendaraan Anda. Layaknya sistem pembayaran menggunakan kartu, OBU pun mesti diisi ulang ketika saldonya sudah mulai “menipis”. Nantinya, saldo di OBU akan otomatis terpotong jika melewati gerbang ERP. Jika Anda melewati jalan ini ketika jam non-ERP (biasanya ERP diterapkan ketika peak hours), maka Anda akan membayar lebih murah atau bahkan sama sekali tidak mesti membayar.

Baca Juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail

Keuntungan lainnya adalah para pengemudi tidak lagi menemukan kesalahan yang ditimbulkan oleh manusia, karena semua sistem ERP sudah dilakukan sepenuhnya oleh sistem, tidak ada campur tangan manusia dalam pengoperasiannya sehari-hari.

Di Singapura sendiri, sistem ERP ini sudah diterapkan sejak September 1998 silam, karena jalan-jalan di Singapura sudah dianggap terlalu ramai dan perlu solusi untuk mengentaskan kemacetan tersebut. Dilansir dari sumber, kemacetan lalu lintas sendiri sangat mahal bagi individu dan masyarakat. Jika dikaji lebih dalam, kemacetan yang ditimbulkan berakibat pada hilangnya jam produktif, semakin meningkatnya polusi lingkungan, bahan bakar terbuang percuma, dan mempengaruhi kondisi kesehatan yang tentu saja merugikan.

Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Sistem rekayasa lalu lintas ini dinilai ampuh diterapkan di negara dengan tingkat kemacetan yang tinggi. Otoritas Singapura menilai pembangunan jalan bukanlah merupakan solusi untuk mengentaskan kemacetan karena tidak bisa mengimbangi “pertumbuhan” kendaraan bermotor di sana. Mungkin dengan alasan serupa, Indonesia khususnya Jakarta bisa merefleksikan apa yang diterapkan oleh Singapura 19 tahun yang lalu. Pihak otoritas Singapura sendiri mengakui untuk mengimplementasikan sistem ERP membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sembilan tahun. Jadi, akankah Indonesia siap mengadopsi kembali sistem ERP yang sempat tertunda tersebut?

Akankah Jakarta Mampu Terapkan ERP Seperti Singapura?

Jika Anda melewati seputaran patung Pemuda Membangun yang ada di ujung Jalan Jenderal Sudirman, atau di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Anda pasti pernah melihat sebuah tiang besi yang membentuk sebuah gawang, ya, itu adalah gerbang Electronic Road Pricing (ERP). Ini merupakan salah satu solusi yang pernah ditawarkan oleh pemerintah guna mengentaskan kemacetan yang seolah sudah mendarah daging di Ibu Kota.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau yang kerap disapa Ahok ini berencana akan memberlakukan sistem jalan berbayar ini setelah dihapuskannya sistem three-in-one karena Ahok melihat adanya penyelewengan dalam sistem ini. Namun, tampaknya Ahok terlalu terburu-buru sehingga sistem ERP yang sudah mulai dibicarakan sejak 11 tahun yang lalu ini tidak kunjung beroperasi hingga kini. Mulai dari tidak adanya payung hukum serta beberapa masalah lain menjadi pokok perbincangan para pengamat hingga pihak-pihak berwenang.

Adapun lokasi-lokasi yang akan ditetapkan sebagai jalur ERP adalah sepanjang Jalan Jendral Sudirman hingga Thamrin atau yang dikenal sebagai jalur kepala naga, dimana gedung-gedung atau landmark perkantoran dan pusat perbelanjaan kelas atas berdiri. Tidak heran jika jalur ini akan mengalami kemacetan yang sangat parah di kala peak hours. Adapun Indonesia mengadopsi sistem ERP dari negara tetangga, Singapura, karena negara tersebut sukses mengentaskan kemacetannya dengan menggunakan sistem ini.

Baca Juga: Harap Sabar, MRT Jakarta Pasang Launching Gantry di Haji Nawi, Arus Lalin Dialihkan Sementara

Untuk sistem pembayarannya sendiri, teknologi canggih akan terpasang di gerbang ERP yang akan memindai On-Board Unit (OBU) yang akan dipasang disetiap kendaraan yang melintasinya. OBU itu sendiri memiliki cara kerja yang hampir serupa dengan kartu TransJakarta atau KRL, dimana setiap penggunanya harus terlebih dahulu melakukan top-up di gerai-gerai yang ada. Saldo yang ada di OBU itu akan otomatis terpotong jika Anda melintasi jalur ERP.

Namun tampaknya pemerintah belum terlalu siap dengan kecanggihan sistem ERP ini, sehingga pada 22 Juli lalu, pemprov DKI membuka lelang pengadaan jalur berbayar tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman koran-jakarta.com (24/7/2017), Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, mengatakan pihaknya sudah menerima sekitar 19 lamaran dari perusahaan yang siap menimang sistem ini. “Baru dibuka 3 hari, sudah 19 perusahaan yang mendaftar,” tutur Andri.

Sementara dihimpun dari sumber lainnya, data statistik yang dilansir Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyatakan, persentase pengguna kendaraan pribadi diperkirakan sebesar 74,7 persen. Jumlah ini hampir 3 kali lipatnya dari jumlah angkutan umum yang tersedia. Melihat total jalan yang hanya 6.954 km, dengan rasio jalan sebesar 6,3 persen dan pertumbuhannya pun hanya 0,01 persen per tahun, tentu kemacetan akan sulit terurai. Jika kondisinya sudah seperti ini, kira-kira kapan warga Ibu Kota bisa merasakan kemajuan dari bidang infrastruktur transportasinya ya?