Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah

Mungkin teknologi face recognition atau yang akrab disebut pemindai wajah ini masih terdengar asing di Indonesia, namun sudah berkembang pesat di negara-negara lain. Ambil contoh beberapa bandara di luar negeri yang sudah menggunakan teknologi pemindai wajah untuk mempercepat proses imigrasi. Tentu teknologi mutakhir semacam ini sudah terbukti dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupannya secara lebih efisien.

Baca Juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di Bandara

Memang, jika dikembangkan secara bijak, teknologi modern seperti pemindai wajah ini dapat diselipkan pada kehidupan sehari-hari yang dapat menunjang kehidupan para aktor yang bergelut di dalamnya. Seperti yang dilakukan oleh Cina, dimana otoritas Negeri Tirai Bambu memberlakukan teknologi pemindai wajah ini di hampir semua sektor kehidupan masyarakatnya.

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman chicagotribune.com (7/1/2018), seorang bernama Mao Ya menjadi satu dari sekian banyak warga Cina yang merasakan efisiensi penggunaan teknologi pemindai wajah dalam kesehariannya. “Jika saya membawa kantung belanja di kedua tangan, saya tidak perlu lagi repot-repot mencari kunci untuk masuk ke dalam apartemen. Cukup menegakkan kepala di depan pintu, dan pintu apartemen akan terbuka,” tuturnya.

“Teknologi ini juga dapat memudahkan anak perempuan saya yang berumur lima tahun untuk masuk ke dalam apartemen, karena sebelumnya ia sering sekali kehilangan kunci,” imbuh wanita berumur 40 tahun tersebut. Teknologi pemindai wajah menjadi topik perbincangan panas di ranah teknologi baru di China. Sebut saja bank, bandara, hotel dan bahkan toilet umum, semuanya mencoba untuk memverifikasi identitas setiap orang dengan menganalisis wajah mereka. Tapi diantara semuanya, otoritas keamanan negara Cina menjadi yang paling antusias untuk merangkul teknologi baru ini.

Pihak kepolisian Cina mengutarakan bahwa penggabungan teknologi pemindai wajah dan kecerdasan buatan dapat memudahkan tugas mereka dalam mencari pelaku tindak kriminal, memprediksi tindak kejahatan yang mungkin akan terjadi, mengkoordinir pekerjaan pelayanan darurat, menganalisis, hingga mengawasi perilaku orang-orang yang melakukan gerak-gerik mencurigakan.

Andai terrealisasi, hampir dapat dipastikan tingkat kriminalitas di salah satu negara yang menyumbang jumlah penduduk terbesar di dunia ini akan berangsur menurun. Pemerintah juga berharap pada tahun 2020 mendatang, Cina akan mulai menggunakan jaringan pengawasan video, dimana sistem “Eye of God” ini melakukan pemantauan di setiap titik, saling terintegrasi, dan bekerja 24/7.

Baca Juga: Tak Hanya di Imigrasi Bandara, Restoran Cepat Saji Mulai Adopsi Pemindai Wajah Untuk Pemesanan

Jika di teknologi pemindai wajah di Cina sudah menyebar di keseharian warganya, maka berbeda dengan yang terjadi di Amerika, dimana teknologi serupa secara khusus ‘dipekerjakan’ oleh petugas kepolisian dalam melakukan tugasnya. Ambil contoh kasus yang ditangani oleh kepolisian Chicago, dimana mereka berhasil mengidentifikasi dan pihak pengadilan menjatuhkan hukuman kepada seorang pencuri berkat campur tangan teknologi pemindai wajah pada tahun 2014 silam.

Walaupun sempat menuai pro dan kontra hingga isu penyalahgunaan Hak Asasi Manusia di awal kemunculannya, namun teknologi pemindai wajah tidak akan hilang, dan ini menjanjikan untuk menjadi alat ampuh untuk mempertahankan kontrol masyarakat Tionghoa yang terkenal bejibun ini.

Stasiun Jatinegara, Gerbang Keluar Masuk Jalur Kereta di Ibu Kota

Siapa yang tak kenal dengan Jatinegara? Wilayah yang terletak di Jakarta Timur ini hampir setiap hari ramai dengan masyarakat baik yang ingin belanja ke pasar maupun hanya sekedar lewat atau menuju stasiun. Tapi, tahukah Anda stasiun Jatinegara dulu juga pernah seramai jalanan dan pasar Jatinegara?

Baca juga: Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta

Ya, karena dulu semua penumpang yang akan bepergian memulai tujunnya dari stasiun Jatinegara ke berbagai tempat. Baik tujuan Jabodetabek ataupun kereta jarak jauh di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur.

Sebab stasiun ini adalah tempat bertemunya tiga jalur kereta yakni Pasar Senen, Manggarai dan Bekasi serta dilewati ratusan kereta api setiap harinya. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa stasiun Jatinegara merupakan stasiun kereta api kelas satu.

Stasiun tersebut berada di antara Jatinegara dan Matraman tepatnya di Kelurahan Pisangan Baru, Matraman, jakarta Timur. Terletak di ketinggian +16 meter diatas permukaan laut, stasiun Jatinegara masuk dalam Daerah Operasional I Jakarta.

Stasiun Jatinegara awalnya bernama Staats Spoorwegen (SS) kemudian menjadi Meester Cornelis, diambil dari panggilan murid kepada seorang guru yang mengajar, mendirikan sekolah dan berkotbah di kawasan tersebut yakni Cornelis Senen. Kemudian pada masa penjajahan Jepang yang tidak suka adanya istilah Belanda.

Nama tersebut diganti menjadi Jatinegara dengan arti Negara Sakti sebutan dari Pangeran Jayakarta yang dulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum. Stasiun ini dibangun sejak tahun 1910 dan diperkirakan dirancang oleh seorang arsitek bernama Ir S Snuyff dan telah mengalami renovasi namun tidak menghilangkan bentuk asli dari bangunan stasiun itu sendiri.

Sayangnya stasiun Jatinegara sudah berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat ini tidak lagi menaikkan penumpang keluar Jabodetabek dan hanya bisa menurunkan penumpang saja. Karena hal tersebut, maka stasiun Jatinegara menjadi lebih sepi.

Stasiun Jatinegara tempoe doeloe

Namun, stasiun ini menjadi gerbang kedatangan berbagai penumpang kereta dari arah timur Jawa yakni Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah hingga kereta dari Jawa Barat. Tak hanya itu, stasiun Jatinegara sendiri menjadi stasiun favorit bagi penumpang yang akan mengunjungi kota jakarta bagian Timur dan Selatan atau bisa dikatakan lebih dekat dibanding turun di stasiun Gambir atau Senen.

Mirisnya, meski menjadi stasiun favorit penumpang turun karena letaknya yang strategis, jalanan depan stasiun Jatinegara ini bisa dikatakan tidak layak. Sebab banyak angkutan umum yang ngetem, bahkan bila malam hari, pedagang ramai berjualan di depan stasiun ini sehingga membuat jalanan sulit untuk dilewati kendaraan.

Memang meski sepi penumpang ke luar kota, tetapi penumpang KRL masih tetap meramaikan stasiun ini. Sebab penumpang KRL tujuan Jabodetabek masih bisa naik dan turun dari stasiun ini.

Baca juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Diketahui, KRL sendiri sudah ada di Jakarta sejak tahun 1925 dan saat itu pengelolaannya dipegang oleh Belanda. Bukan hanya di wilayah Jakarta, namun di seluruh Jawa di kuasai oleh Belanda. Namun sejak kemerdekaan RI, kereta api telah diambil alih oleh pemerintah sejak tanggal 28 September. Sehingga pada tanggal tersebut diperingati Hari Kereta Api Indonesia.

 

Guardian Optical Techonologies, Solusi Selamatkan Anak Yang “Tertinggal” di Dalam Kendaraan

Meninggalkan seorang bayi atau anak kecil di dalam mobil sendirian dengan keadaan terkunci merupakan sebuah kesalahan besar. Di Amerika Serikat, seorang anak tercatat tewas sepuluh hari sekali yang diakibatkan sengatan panas kendaraan. Biasanya dikarenakan pengasuh atau orang tua lupa bahwa anak tersebut tertinggal di kursi belakang saat turun dari mobil.

Baca juga: Stiker “Baby on Board” Ternyata Bisa Picu Kecelakaan Lalu Lintas

KabarPenumpang.com melansir dari laman businesswire.com (9/1/2018), Guardian Optical Techonologies mencari solusi tersebut dengan teknologi patent pending yang canggih untuk mengingatkan penumpang tersebut sadar akan apa yang ada di kendaraan supaya lebih aman dan tidak lagi terjadi hal fatal. Dengan menggunakan sensor ini bisa memantau seluruh isi mobil.

Sistem otomatis Guardian juga bisa mendeteksi detak jantung hingga gerakan sekecil apapun. Sistem ini dibuat untuk bekerja dengan berbagai macam perangkat baik perangkat keras maupun lunak pada otomotif. Salah satunya adalah sistem keamanan bawaan seperti sabuk pengaman dan airbag.

Adaya teknologi ini juga mampu membuat pengemudi sadar akan kondisi yang terjadi di mobil mereka dan bisa menghindari kesalahan manusia yang berbahaya. Sebab teknologi Guardian yang diadopsi ini belum bisa ditandingi teknologi manapun serta mampu menyelamatkan sekitar 37 kehidupan anak setiap tahunnya.

“Guardian didedikasikan untuk melindungi pegemudi dan penumpang, jadi kejadian dimana bayi dan anak-anak dibiarkan dalam mobil panas adalah area yang sangat sensitif bagi kita, dan kita berkomitmen untuk menghindari. Tragedi seperti ini dapat dicegah, dan kami menawarkan teknologi terobosan yang bisa membantu mereka. Misalnya, jika bayi dibiarkan sendirian di dalam mobil yang panas, sistem Guardian berpotensi memicu serangkaian alarm langsung, yang menyebabkan penyejuk udara dihidupkan, dan seruan untuk bantuan datang dari keluar,” kata pendiri dan CEO Gil Dotan.

Guardian menggabungkan pengenalan gambar video 2D, pemetaan kedalaman 3D dan analisis gerak optik mikro untuk selalu memindai, melacak penghuni serta benda di mana saja di dalam kendaraan, menggunakan komponen otomotif kelas rendah, sebuah industri yang pertama. Sensor tersebut mengidentifikasi lokasi dan dimensi fisik semua orang di dalam mobil, membedakan orang dari objek dengan mendeteksi getaran mikro, sistem dapat mendaftar dalam beberapa kasus, kehadiran bahkan tanpa penglihatan langsung.

Baca juga: Coba Peruntungan, Sony Ciptakan Mobil Otonom Futuristik!

Teknologi Guardian menggunakan pembelajaran mesin bersama dengan pengaturan optiknya yang unik. Bersifat real time, didukung big data yang  komprehensif dari analisis gerak dan masukan 3D serta digabungkan dengan analisis citra umpan video sensor, maka outputnya dapat memberikan analisis lengkap tentang kendaraan pengemudi dan penumpang.

Video ‘Debat’ dengan Pengemudi Uber Viral, Travis Kalanick Sampaikan Permintaan Maaf

Travis Kalanick, salah satu pendiri dan mantan CEO Uber meminta maaf pada pegemudi Uber Fawzi Kamel beberapa jam setelah video dirinya yang berargumen menjadi viral. Karena hal ini, Kalanick kemudian bersama beberapa eksekutif Uber lainnya memikirkan gagasan untuk meminta maaf serta membeli mobil pengemudi tersebut untuk menyelesaikan masalah.

Baca juga: Travis Kalanick dan Garrett Camp, Dua Inovator Dibalik Nama Besar Uber

Dalam video yang viral pada Februari 2017 lalu, Kamel mengeluh bahwa dirinya membeli mobil khusus untuk dikendarai Uber, tapi perusahaan tersebut menurunkan harga sehingga membuat dirinya sulit mencari penghasilan. Kalanick mengklaim Uber tidak menurunkan tarif pada layanannya.

“Anda tahu apa? beberapa orang tidak suka bertanggung jawab atas omong kosong mereka sendiri. Mereka menyalahkan segalanya dalam hidup mereka pada orang lain,” ujar Kalanick yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman recode.net (16/1/2018).

Setelah beberapa jam video tersebut muncul, Kalanick meminta maaaf kepada pengemudi tersebut dan kurang dari 48 jam kemudian dirinya kembali bertemu lagi dengan Kamel. Sebelum benar-benar menyelesaikan masalahnya, Kalanick bertemu dengan para petinggi Uber lain untuk mendiskusikan membeli dua mobil Kamel untuk memperbaiki masalah yang diucapkan dalam video tersebut.

Di sebuah apartemen mewah di San Francisco, Kalanick menghabiskan waktu selama satu jam dengan Kamel dan mengungkapkan penyesalan dan perilakunya saat itu serta banyak masalah yang mereka diskusikan dalam video tersebut.

“Travis bertemu dengan Kamel dan melakukan diskusi di mobil Kamel, di mana dia meminta maaf atas perilakunya dan keduanya melakukan diskusi yang konstruktif. Travis menghargai percakapan itu dan menganggapnya lebih memahami perspektif masing-masing orang. Pertemuan berakhir dengan catatan positif, dan Travis menghargai keterbukaan dan pemberian maaf dari Kamel,” kata juru bicara Kalanick dalam sebuah pernyataan.

Dalam video tersebut juga Kamel sempat berargumen “Tapi orang tidak mempercayaimu lagi. Saya kehilangan US$97 ribu karena Anda. Aku bangkrut karena Anda mengubahnya setiap hari.”

Tapi setelah pertemuan tersebut, tidak jelas apakah Kalanick benar-benar mengajukan tawaran pada Kamel atau tidak. Namun, seorang sumber mengatakan, mantan penasihat hukum Salle Yoo bertindak cepat dan memperjelas bahwa Kalanick harus menggunakan uangnya sendiri dan memberi perantara kesepakatan dengan penasihat hukumnya sendiri bukan melalui Uber.

Baca juga: Uber Tak Lagi Ilegal di Uni Eropa, Indonesia Kapan Bisa Terapkan Aturan Serupa?

Atas masalah ini pihak Uber dan Kamel pun tak berkomentar apapun. Argumen antara Kalanick dengan Kamel bukan hanya momen penting bagi mantan CEO Uber tersebut, melainkan bagi karyawan dan yang jelas adalah hubungan perusahaan dengan pengemudi membutuhkan perbaikan. Beberapa bulan sebelum Kalanick mengundurkan diri sebagai CEO Uber (Juni 2017) dan video tersebut viral, Uber sendiri sudah mulai melakukan kampanye agar pengemudi kembali bersama mereka.

Dari London, Telah Meluncur Bus Tingkat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia

Jika selama ini Anda disuguhkan berita mengenai kehadiran sejumlah bus listrik dari berbagai penjuru dunia, maka yang ini akan sedikit berbeda walaupun masih dalam koridor yang sama. Selain kehadirannya dipercaya dapat mengurangi tingkat polusi yang belakangan ini semakin memburuk, bus listrik juga dikenal handal dalam menaklukan medan berbukit, karena motor listrik akan bekerja lebih baik ketimbang mesin diesel pada tanjakan.

Baca Juga: Berevolusi, Black Cab London Akan Gunakan Semi-Electric Vehicle

Soal tingkat kebisingan yang dihasilkan, bus listrik juga jauh melesat meninggalkan bus diesel. Maka wajar saja jika banyak perusahaan otobus lokal maupun mancanegara yang lalu beralih meninggalkan penggunaan armada bus diesel. Dalam pemberitaan sebelumnya, sebuah manufaktur bus asal Negeri Tirai Bambu, BYD berhasil merajai produksi bus listrik di seluruh dunia, dan salah satu produk yang terkena imbas dari revolusi besar-besaran ini adalah bus double-decker.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, Transport for London (TfL) menjadi penyedia jasa layanan transportasi pertama yang mengoperasikan bus double-decker bertenaga listrik pertama di dunia. Bekerja sama dengan BYD, TfL sekaligus memesan lima model yang berbeda, dan masing-masingnya mampu menempuh perjalanan sejauh 180 mil atau yang setara dengan 290 km dalam sekali charge.

Pimpinan dari TfL mengatakan bahwa bus bisa terus beroperasi sepanjang hari tanpa perlu mengisi ulang daya. Sama seperti yang sudah dijabarkan di atas, pimpinan TfL juga mengatakan bahwa penggunaan bus double-decker (bus tingkat) bertenaga listrik dapat menurunkan tingkat emisi karbon dan turut serta membantu memperbaiki kualitas udara di London. Sebagai proyek percontohan, TfL mulai mempekerjakan bus ini para April 2016 silam, dan menuai respon positif.

Diperkirakan, kehadiran bus tingkat bertenaga listrik ini menelan dana sebesar £350.000 atau yang setara dengan Rp6,4 miliar kurs sekarang. Mungkin masih terlalu dini untuk merombak secara keseluruhan armada bus diesel yang kini mengabdi untuk TfL, namun kehadiran bus double-decker bertenaga listrik ini akan bersanding dengan armada berbahan diesel yang sudah ada, mengikuti peluncuran bus The New Routemaster, yang menggunakan sistem “hop-on-hop-off”.

Baca Juga: Routemaster, Si Double Decker Merah Ikon Kota London

Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh bus double-decker bertenaga listrik yang dioperasikan oleh TfL ini membuat beberapa otoritas transportasi dari berbagai dunia menjadikan TfL sebagai acuan, tidak terkecuali India. Dikutip dari sumber berbeda, TfL telah menyetujui program berbagi ilmu dengan India tentang bagaimana cara menerapkan praktik terbaik untuk meningkatkan efisiensi transportasi umum, membagikan pengalamannya tentang bus listrik, hingga pemberlakuan sistem smart ticketing.

“Transportasi umum yang baik sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan seiring dengan meningkatnya permintaan, penting bahwa perbaikan perlu dilakukan. Penandatanganan kerja sama ini akan memungkinkan kita memperbaiki transportasi dengan berbagi pengalaman dalam menangani beberapa masalah seperti ini,” ungkap Chief Technology Officer di TfL, Shashi Verma, dikutip dari laman cityam.com (12/1/2018).

KNKT: Kereta Api Paling Minim Alami Kecelakaan di 2017

Dalam mengakhiri serangkaian investigasi yang terjadi selama tahun 2017 kemarin, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan forum pertemuan yang betajuk “Capaian Kinerja Investigasi Keselamatan Transportasi Tahun 2017”.

Baca juga: KNKT: Standar Karet Rem Indonesia Mengaju Pada Jerman

Selain memaparkan hasil investigasi kecelakaan multi-moda, acara yang dipimpin langsung oleh Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono ini merupakan bentuk tanggung jawab KNKT kepada masyarakat.

Berdasarkan pantauan langsung KabarPenumpang.com, acara yang diadakan di Aula KNKT, Kamis (18/1/2018) turut dihadiri oleh sejumlah Kasubkom terkait, seperti Kasubkom Penerbangan, Kasubkom LLAJ, Kasubkom Pelayaran, dan Kasubkom Perkeretaapian.

Dari keempat moda yang diinvestigasi oleh KNKT, Kereta Api menjadi moda yang paling sedikit mengalami kecelakaan selama tahun 2017, dengan jumlah 7 kasus. Dari 7 kasus tersebut, hanya ada satu kasus tabrakan dan enam lainnya merupakan kasus kereta anjlok.

Walaupun jumlah kasus kecelakaan kereta api yang terjadi pada tahun 2017 ini mengalami peningkatan sebanyak satu kasus, namun ini merupakan tahun kedua KNKT menginvestigasi kasus tanpa adanya korban jiwa maupun luka.

Sedangkan Kasubkom Penerbangan, Capt. Nurcahyo Utomo, Dip. TSI mengatakan ada satu kasus yang paling menonjol selama tahun 2017, dimana pesawat Batik Air PK-LBS bertabrakan dengan pesawat ATR 42-500 (PK-TNJ) milik maskapai Trans Nusa di Bandara Halim Perdanakusuma pada 4 April silam.

Baca juga: Kecelakaan Terus Berulang, Rekomendasi KNKT Sebagian Besar Tak Diindahkan

Menurut Capt Nurcahyo, tabrakan ini terjadi lantaran adanya miss communication, penyalahan aturan, hingga tata pencahayaan dan kondisi lingkungan yang tidak memadai.

Kenakan Pakaian Berlapis-Lapis, Pria Ini Dicekal di Bandara Keflavik!

Ada-ada saja memang ulah penumpang pesawat, mulai dari menanggalkan pakaiannya di apron, adu jotos dengan penumpang lainnya, hingga yang baru-baru ini menjadi topik perbincangan hangat para warganet adalah seorang turis yang dilarang mengudara karena menggunakan pakaian terlalu ‘tebal’. Lho, kok bisa ya?

Baca Juga: Terlibat Adu Jotos di Dalam Kabin, Penumpang Ini Terpaksa Diturunkan

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailystar.co.uk (16/1/2018), seorang pria yang diidentifikasi bernama Ryan Carney Williams ini mengenakan delapan celana dan 10 atasan sekaligus untuk memangkas biaya bagasi yang dikenakan untuk kopernya. Namun, usaha travel hack yang ia lancarkan tidak berjalan mulus dan berakhir dengan bencana. Ryan malah diamankan petugas bandara dan dilarang untuk masuk ke dalam pesawat.

Penolakannya mengudara bersama British Air didasarkan pada kriteria tunjangan bagasi yang tidak dipenuhi oleh Ryan. Aneh mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh petugas, Ryan lalu merekam momen ketika ia meminta penjelasan dari sejumlah petugas yang mengenakan rompi berwarna kuning kehijau-hijauan tersebut.

Dalam video singkat yang ia unggah ke jejaring sosial Twitter ini, nampak salah seorang petugas berusaha untuk menutupi mukanya dari sorot kamera, sedangkan yang lainnya nampak acuh dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ryan. Hingga seorang petugas wanita mendatangi Ryan dan menjawab pertanyaan, “Kenapa saya tidak diperbolehkan untuk terbang?” yang dilontarkan oleh pria berambut gimbal tersebut. Meskipun Ryan bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah, namun ancaman datang dari salah seorang petugas bandara yang bertanya apakah perlu dirinya memanggil polisi.

Dalam video terpisah, Ryan mengunggah ‘penampakan’ dirinya yang dibungkus oleh pakaiannya sendiri. Cukup menggelikan melihat tampilan Ryan kala itu, dimana ia menjadi terlihat sangat besar akibat pakaian berlapis-lapis yang membebat dirinya, lengkap dengan syal yang terikat di lehernya.

Sumber: Twitter

Melengkapi video yang ia unggah ke Twitter, Ryan menuliskan, “Tertahan di bandara Keflavik, Islandia karena saya telah mengenakan semua pakaian dan tidak memiliki barang bawaan, dan mereka tetap tidak mengizinkan saya untuk terbang. Adakah isu ras di sini? Atau …”

Sejurus sesaat, cuitan tersebut menuai respon dari Londoners yang mengklaim bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran sebelumnya, sehingga ia tidak diijinkan untuk terbang. Pada tanggal 11 Januari, atau tepatnnya sehari setelah Ryan mengunggah video tersebut, dirinya kembali menelurkan cuitan yang berbunyi, “DAN LAGI, dilarang mengudara dua kali oleh dua maskapai yang berbeda dalam waktu  dua hari berturut-turut!”

Baca Juga: Salah Paham, Penumpang IndiGo Airways Adu Jotos dengan Petugas di Apron

Diduga, Ryan yang ditolak mengudara bersama British Airways lalu mengganti maskapai dengan menggunakan easyJet. Namun sayangnya, ia kembali ditolak. Salah seorang juru bicara dari British Airways mengatakan bahwa penolakan penerbangan Ryan bukan didasarkan pada pakaian berlapis yang ia kenakan, tapi karena sehari sebelum pemberangkatan, Ryan telah melakukan tindakan kekerasan.

Senada dengan British Airways, juru bicara easyJet menambahkan, “Kapten pesawat dan ground crew mengkhawatirkan laporan kekerasan yang dilakukan Ryan pada hari sebelumnya sehingga kami memutuskan untuk memberikan pengembalian dana dan menyarankannya untuk terbang menggunakan maskapai lain.”

Menilik Asam Garam Becak di Ibu Kota, Sempat Tenggelam Hingga Rencana Penghidupan Kembali

“Becak, becak, coba bawa saya. Saya duduk sendiri, sambil mengangkat kaki, melihat dengan asyik, ke kanan dan ke kiri..”

Tentu Anda semua pernah mendengar penggalan lirik lagu anak-anak di atas. Ya, lagu ciptaan Ibu Sud berjudul “Naik Becak” ini seolah membangkitkan kembali kenangan kita di masa kecil. Bicara soal becak, ternyata kehadiran salah satu moda transportasi yang sarat akan nilai kearifan lokal ini sempat menuai kecaman dari berbagai pihak, khususnya di Ibu Kota.

Baca Juga: Becak: Dikagumi di Eropa, Tersingkir di Dalam Negeri

Banyak kalangan yang menilai becak tidaklah masuk ke dalam klasifikasi sebagai kendaraan angkutan umum. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa becak menjadi biang kerok masalah ketertiban di Jakarta. Lalu, bagaimana sepak terjang si moda beroda tiga ini di Indonesia? Terkait dengannya, apakah kebijakan ‘menghidupkan kembali’ becak yang ditempuh oleh Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta akan berjalan mulus?

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, tahun 1936 diyakini sebagai titik mula becak beroperasi di Jakarta. Banyaknya warga yang menggunakan jasa kereta kayuh kala itu membuat pertumbuhan becak berkembang dengan sangat pesat. Tercatat, pada tahun 1943, jumlah becak di Ibu Kota sudah mencapai angka 3.900 unit.

Tidak berhenti sampai di situ, masifnya pertumbuhan jumlah becak melambung tinggi pada tahun  1951. Kompas.com menyebutkan jumlah becak yang beroperasi kala itu mencapai 25.000 unit, dikemudikan oleh 75.000 orang yang terbagi ke dalam tiga shift. Semakin menjamurnya becak di Ibu Kota membuat otoritas setempat perlu membuat peraturan yang dapat menekan laju pertumbuhan becak.

Hingga pada tahun 1967, DPRD-GR Jakarta mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pola dasar dan rencana induk Jakarta 1965-1985, yang antara lain tidak mengakui becak sebagai kendaraan angkutan umum. Namun keberadaan Perda tersebut seolah tidak diindahkan, sampai-sampai Gubernur DKI Jakarta kala itu (tahun 1970), Ali Sadikin geram dan mengeluarkan instruksi tentang pelarangan produksi, impor, hingga rayonisasi becak di Jakarta.

Sumber: poskotanews.com

Pada tahun 1971, Pemda DKI Jakarta mengeluarkan ultimatum tentang pelarangan becak beroperasi di sejumlah jalan protokol dan jalan lintas ekonomi Ibu Kota. Setahun berselang, populasi becak di Ibu Kota mulai mengalami degradasi, tepatnya setelah DPRD DKI mengesahkan Perda no. 4/1972 yang menyebutkan bahwa becak bukanlah moda transportasi  yang layak untuk Jakarta. Penurunan jumlahnya pun bisa dibilang sangat drastis, dari angka 160.000 terjun bebas ke level 38.000.

Usaha demi usaha terus dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk menghilangkan becak dari  peredaran. Jumlah becak pun semakin merosot tiap tahunnya. Hingga pada April 1990, lahirlah Perda No 11/1988 yang berisikan tentang pelarangan operasi becak di Ibu Kota. Beberapa tahun setelah Perda tersebut lahir, aktifitas pebecak mulai hilang dari pelupuk mata di kawasan Jakarta.

Walaupun pada 24 Juni 1998 ketika DKI Jakarta berada di bawah kepemimpinan Sutiyoso , becak sempat beroperasi kembali, namun itu hanya bertahan satu minggu saja. Sejak saat itu, eksistensi becak di Ibu Kota semakin padam, walaupun imbas dari pembersihan becak ini adalah unjuk rasa yang terjadi berulang kali.

Suksesor Gubernur yang akrab disapa Bang Yos ini juga terus mengestafetkan Perda No 11/1988. Hingga pemberitaan terakhir menyebutkan Gubernur DKI Jakarta sekarang, Anies Baswedan berencana untuk mematahkan perjuangan tersebut dengan mengeluarkan statemen yang menyebutkan bahwa dirinya akan kembali menghidupkan becak di Ibu Kota.

Baca Juga: Bajaj, Angkutan Beroda Tiga Yang Melegenda

Mantan Menteri Pendidikan ini mengaku ingin kembali menghidupkan kembali becak di suburban Jakarta, dengan dalih memperjuangkan orang-orang yang kelas ekonominya berada dibawah rata-rata. “Kami ingin di kota ini warga yang memang membutuhkan becak, bisa pakai becak. Tapi di sisi lain, kami juga mengatur jangan sampai hadirnya kendaraan becak itu memperumit masalah lalu lintas. Karena itu, mereka tidak dibuat untuk keluar dari jalur kampung,” kata Anies, dikutip dari Tribunnews.com. Menurutnya, becak yang beroperasi di kampung-kampung tetap harus diberi payung hukum.

Berbeda dengan partnernya, Sandiaga Uno yang menyebutkan bahwa becak akan ditempatkan di sejumlah objek wisata. “Jadi, kayak angling, angkutan lingkungan. Nah, untuk memastikan lapangan pekerjaan ada, terus pariwisata, kami sambungkan dengan beberapa destinasi wisata kita. Itu yang jadi pemikiran,” ujar Sandiaga, dikutip dari Kompas.com.

Jadi, akankah becak kembali beroperasi? Dimanakah lokasi beroperasinya, di daerah suburban atau di objek wisata? Kita tunggu saja!

“I Love Manado” Ramaikan Interior MRT di Guangzhou dan Shanghai

Wisatawan Cina sejak tahun 2016 menjadi wisatawan mancanegara terbanyak yang mengunjungi Indonesia dibandingkan dengan wisatawan asal Eropa, Jepang dan Timur Tengah. Ini tercatat pada tahun 2017 kemarin wisatawan asal Cina mencapai 2 juta orang.

Didorong letak geografis Cina yang relatif dekat dengan Indonesia, jumlah penduduk yang besar dan pendapatan ekonomi mereka yang tumbuh tinggi, menjadikan Cina sebagai potensi besar dalam mendukung tumbuhnya sektor pariwisata di Indonesia. Untuk itu serangkaian kampanye telah dijalankan untuk mempromosikan wisata Indonesia kepada khalayak di luar negeri. Wonderfull Indonesia bisa menjadi contoh yang menarik dalam hal ini, terutama saat armada bus tingkat wisata di Paris dipasangi livery ornamen wisata khas Nusantara pada Agustus 2017.

Baca juga: Kampanye “Wonderful Indonesia” Meriahkan Transportasi di Paris

Bila ditelisik lebih jauh lagi, ternyata tak hanya kampanye Wonderfull Indonesia saja yang melebarkan sayapnya di kancah intenasional. Baru-baru ini, Kabarpenumpang.com mendapatkan sesuatu yang menarik, yakni Manado sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Utara juga melebarkan sayapnya. Sebab pariwisata di Manado semakin hari semakin berkembang dengan pesat.

Lantai MRT Guangzhou dan Shanghai ada liveru I Love Manado (Michael Winerungan)

Salah satunya adalah promosi dengan membuat iklan seperti pada 12 gerbong MRT di Guangzhou dan Shanghai di Cina. Iklan ini terlihat dari postingan seorang netizen di akun Facebook Michael Winerungan, dimana ada beberapa video serta foto dirinya saat berada didalam MRT dengan interior promosi Visit Manado.

Dalam foto dan video yang dibagikan tampak ikon pariwisata kota Manado baik itu keindahan taman laut Bunaken, perumahan dengan cat berwarna-warni dan juga tulisan Welcome to Manado serta adapula tulisan I Love Manado. Berkat Michael yang juga seorang fotografer, postingan ini viral sejak dirinya mengunggah pada 10 Januari 2018 lalu.

Kaca dan pintu MRT Guangzhou dan Shanghai ada liveru I Love Manado (Michael Winerungan)

Postingan ini sudah dibagikan lebih dari 2600 kali dan netizen lainnya berbangga serta meninggalkan jejak mereka dalam kolom komentar di akun Facebook Michael. Kunjungan akan makin meningkat kala Maskapai Lion Air menambah tiga rute ke Tiongkok masing-masing ke kota Changsa, Shenzen, Shanghai guna melengkapi rute Guangzhou yang rutin saat ini.

Baca juga: Gandeng Merek-Merek Ternama, Wonderful Indonesia Lebarkan Sayap

Data dari Kemenpar Indonesia mencatat wisatawan Cina ini berasal dari beberapa kota diantaranya yakni Guangzhou, Changsa, Wuhan, Sanghai, Shenzen, Chongqing, Chengdu dan Kunming. Kunjungan wisatawan ke Sulawesi Utara sendiri terbantu karena adanya 19 charter flight pada periode high season per minggunya dengan penerbangan langsung dari Cina ke Manado. Adapun ketersediaan seat pesawat mencapai 200 hingga 212 kursi.

 

Canangkan Pembayaran Non Tunai, AirAsia Luncurkan Dompet Elektronik “BigPay”

Siapa yang tak kenal dengan AirAsia? Maskapai yang dinobatkan sebagai maskapai bertarif rendah terbaik di dunia dan pelopor perjalanan berbiaya rendah di Asia ini lagi-lagi menghadirkan inovasi baru untuk memudahkan para pelanggannya. Kali ini AirAsia menghadirkan bagian baru di sektor keuangannya, yakni implementasi sistem pembayaran tanpa uang tunai (cassless) bagi para pelanggan.

Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears

Chief executive AirAsia Bhd Group Tan Sri Tony Fernandes memperkenalkan e-wallet atau dompet elektronik milik kelompok tersebut dengan nama BigPay. Dimana metode pembayaran cashless ini akan diadopsi dalam waktu dekat dan perusahaan yakin BigPay memiliki masa depan cerah yang besar.

Layanan ini diumumkan Fernandes melalui akun Twitter dan mengatakan ini adalah bagian dari strategi digital perusahaan. “Suatu hari produk ini akan bernilai lebih dari @AirAsia. Banyak fitur diluncurkan. Tak ada lagi uang tunai di AirAsia,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thestar.com.my (15/1/2018).

Fernandes menambahkan, dompet elektronik BigPay pada akhirnya juga akan menawarkan pengiriman uang asing dengan kekuatan basis data AirAisa yang mencapai 63 juta nama. Layanan e-wallet yang disediakan oleh BigPay sebenarnya terdiri dari dua elemen,  yakni aplikasi mobile BigPay dan kartu prabayar BigPay.

Aplikasi ini diterima lebih dari 30 merchant yang menerima Mastercard secara global. Selain itu pengguna akan mendapatkan loyalitas dari AirAsia Big jika pengguna membelanjakan dan mendapatkan biaya pemrosesan nol saat memesan penerbangan dengan maskapai ini.

Baca juga: AirAsia Hadirkan WiFi dalam Penerbangan Domestik dan Internasional

Halaman aplikasi BigPay juga meyakinkan bahwa ini semua diatur oleh Bank Negara Malaysia dan memiliki protokol keamanan terbaru termasuk pengenalan sidik jari dan wajah untuk memverifikasi identitas pengguna. BigPay sendiri bisa diunduh melalu Google Play Store bagi pengguna Android atau Apple App Store bagi pengguna iPhone. Untuk saat ini BigPay baru bisa melayani pelanggan AirAsia di Malaysia.