Bus Otonom Apolong Baidu Level 4 Meluncur Secara Global di 2019

Kendaraan otonom atau tanpa awak saat ini semakin dikembangkan untuk dioperasikan di jalanan. Salah satu perusahaan yang mengembangkannya adalah Baidu yang merupakan mesin pencari asal Cina yang menjadi saingan Google.

Baca juga: Hadirkan Bus Otonom, Ericsson Gandeng Perusahaan Lokal Swedia

Baidu baru saja mengumumkan mini bus yang dibuatnya dan terhubung ke server mereka. Bus yang disebut Apolong tersebut kini tengah diproduksi sebanyak 100 unit. Dengan ini bus listrik otonom tersebut menjadi yang pertama dengan produksi yang cukup banyak dari Baidu.

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (5/7/2018), bus ini akan digunakan sebagai bus antar jemput di Cina sebelum diluncurkan secara global pada 2019 mendatang.

“Tahun 2018 menandai tahun pertama komersialisasi untuk mengemudi otonom. Dari volume produksi Apolong, kita dapat benar-benar melihat bahwa mengemudi otonom membuat langkah besar mengambil industri dari nol ke satu,” ujar Robin Liu dari Baidu.

Bus otonom yang saat ini dibuat oleh King Long merupakan Apolong level 4 dan menggerakan dirinya sendiri melalui platform terbuka Apollo yang dikembangkan oleh mesin pencari Baidu. Saat ini versi 3.0 sistem Apollo sudah mengumpulkan lebih dari 220 ribu baris kode melalui sepuluh ribu pengembang sejak diluncurkannya pada tahun lalu.

Tak hanya itu, pembuatan Apollo 3.0 sendiri melibatkan 116 mitra global dari bidang otomotif maupun teknologi. Bus Apolong ini sendiri diketahui telah dikembangkan sejak Oktober 2017 lalu dan mampu mengangkut 14 penumpang.

Bus otonom itu sendiri dilengkapi dengan Array sensor di dalamnya yang mencakup sistem radar, sensor laser, radar gelombang militer dan model kamera HRD serta stereo. Bus tersebut juga memiliki material dari bahan komposit ringan dengan kaca melengkung ke atas dan memiliki pintu otomatis yang lebar.

Baca juga: Pangkas Human Error, Nanyang University Gandeng Volvo Hadirkan Bus Otonom

Mini bus Apolong otonom sendiri di produksi di Xianmen di Provinsi Fujian, Cina Tenggara. Debut pertamanya akan dimulai di konferensi World Baidu di Beijing pada November 2018 mendatang.

Pada debutnya disebutkan jadwal beroperasinya di beberapa kota di Cina termasuk Beijing dan Shenzhen. Bus tersebut akan berada di kawasan seperti taman, perkantoran dan bandara. Peluncuran secara globalnya akan dimulai perdana di Jepang yang bermitra dengan SB Drive.

“Di Jepang, transportasi publik menghadapi sejumlah tantangan, termasuk pengurangan jaringan lalu lintas, kekurangan pengemudi dan penuaan pengemudi. Kami berharap teknologi self-driving akan menyelesaikan masalah ini dalam waktu dekat. Peluncuran Apolong adalah langkah penting untuk mempertahankan transportasi umum di Jepang,” kata Yuki Saji dari SB Drive.

Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun

Pemberitaan mengenai proyek Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) yang rencananya akan menghubungkan Jakarta dengan Bandung sudah santer hingga ke luar negeri. Namun sayangnya, proyek yang merupakan bentuk kerja sama antara Indonesia dengan Cina ini hingga kini masih masuk ke dalam kategori mangkrak. Soal pembebasan lahan menjadi senjata utama PT KCIC dalam menjawab banyaknya pertanyaan dari warga Indonesia yang menantikan kehadiran dari jenis kereta cepat pertama di kawasan Asia Tenggara ini.

Baca Juga: Jalan di Tempat, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Masih) Terbelit Pembebasan Lahan

Kendati warga Indonesia sendiri nampaknya sudah mulai pesimis dengan kelanjutan proyek ini, namun lain cerita dengan yang diutarakan oleh pihak China Railway Corp (CRC) selaku kontraktor. Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kontraktor yang juga menunggangi beberapa proyek kereta di daratan Eropa ini mengatakan bahwa proyek KCIC akan segera berjalan. “Kemajuan proyek sudah sampai tahap pembangunan 22 lokasi konstruksi, walaupun masih ada beberapa masalah terkati perizinan dan pembiayaan,” tutur pihak CRC, dikutip dari laman railway-technology.com (3/7/2018).

PT KCIC sendiri mencatat pembebasan lahan pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung hingga saat ini baru mencapai 86 km atau 60% dari total kebutuhan lahan yang mencapai 143 km. “40 persen sisa pembebasan lahan kereta cepat harus selesai tahun ini. Kalau mau cepat selesai harus selesai dong lahannya,” tutur Direktur Utama PT KCIC, Chandra Dwiputra. “Kami lihat sekarang yang kerjakan siapa, kontraktor yang sudah biasa mengerjakan di Cina, biasa mengerjakan ini. Harus optimis dong, kecuali yang bangun baru belajar,” imbuhnya.

Senada dengan Chandra, Menteri BUMN Rini Soemarno pun melontarkan pernyataan yang serupa. “Harus tahun ini selesai, kalau mau cepat selesai harus selesai semua lahannya tahun ini,” ungkap Rini dikutip dari laman liputan6.com (3/6/2018).

Baca Juga: Menteri Rini: “Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Dilengkapi 13 Terowongan”

Sementara itu, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, meminta proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung memperhatikan daya resapan air. “Pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung itu melintasi daerah kawasan hutan di Karawang,” kata Kepala Bappeda Kabupaten Karawang, Eka Sanatha (3/7/2018). Hal tersebut dimaksudkan agar proyek bisa tetap berjalan dan warga Karawang dapat tercegah dari bencana banjir yang mengancam apabila para pemangku kepentingan terkait tidak memperhatikan perihal daya resapan air tersebut.

 

Ada ‘Misi Rahasia’ di Balik Pembangunan Terminal T4 di Kuwait International Airport

Sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan trafik udara dan mendatangkan banyak wisawatan mancanegara, Emir Kuwait Shaikh Sabah Al-Ahmad Al Jaber Al Sabah meluncurkan terminal baru di Kuwait International Airport. Acara ini sendiri dihelat pada Rabu (4/7/2018) kemarin. Seiring dengan meningkatnya trafik udara, Emir Shaikh Sabah juga percaya bahwa hal tersebut akan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kas negara.

Baca Juga: Bangun Terminal Baru, Bandara Melbourne Siap Tangani 60 Juta Penumpang di Tahun 2033

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (4/7/2018), adapun terminal baru ini terletak di sebelah utara Kuwait International Airport. Menduduki lahan seluas 55.000 meter persegi, nantinya terminal T4 akan memiliki 14 gerbang keberangkatan yang dirancang untuk menampung penumpang sebanyak 4,5 juta orang setiap tahunnya.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, hadirnya terminal T4 ini akan memompa kas negara sebesar US$60 juta atau yang setara dengan Rp 864,4 miliar. Adapun secara keseluruhan, Menteri Negara Urusan Layanan, Janan Mohsen mengatkan bahwa terminal T4 akan meningkatkan kapasitas tahunan bandara. “saat ini masih tujuh juta, diproyeksikan akan meningkat menjadi 25 juta penumpang pada tahun 2022 mendatang,” ungkap Menteri Janan.

Di bawah program “Kuwait 2035 Vision” yang tengah digalakkan oleh pemerintah, salah satu misi ambisius yang diarah adalah mengubah Kuwait menjadi pusat perdagangan dan investor yang ramah lingkungan. Berjalan beriringan, bukan tidak mungkin juga sektor pariwisata juga akan turut terdongkrak dengan hadirnya terminal T4 ini, tergantung bagaimana otoritas berwenang di sana menindaklanjutinya.

Dalam pembangunannya, Otoritas Penerbangan Sipil Kuwait bekerja sama dengan perusahaan Korea dengan nilai kontrak sebesar US$172,3 juta atau yang setara dengan Rp2,5 triliun. Adapun perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani pada tahun 2016 silam.

Baca Juga: Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta

Tidak hanya itu, pada bulan Mei kemarin, agen negara mengontrak sebuah perusahaan asal Korea Selatan untuk mengoperasikan dan memelihara terminal baru tersebut. Diharapkan, ada sekitar 2.000 lapangan pekerjaan baru yang tercipta berkat hadirnya terminal T4.

Sedikit bocoran untuk rencana jangka panjang, seorang juru bicara pihak bandara mengatakan akan membangun terminal yang sama pada tahun 2022 mendatang.

 

Tiga Inovasi ‘Otonom’ di Bandara Internasional Changi Tuai Banyak Pujian

Seolah sudah menjadi sebuah risiko dimana minat dan tren dunia aviasi global yang terus menanjak, maka peningkatan di sektor infrastuktur pun harus mulai digenjot sedini mungkin. Wajar saja jika pemberitaan seputar dunia transportasi udara belakangan ini selalu menyinggung soal pengadaan terminal baru atau pemberdayaan robot di beberapa terminal. Semua itu dilakukan semata-mata hanya untuk menampung dan melayani para penumpang yang diperkirakan akan terus merangkak naik setiap kuartalnya.

Baca Juga: Trafik Penumpang Terus Melesat, Bandara Shenzhen Siap Operasikan Sistem Kereta Otonom

Seperti yang sudah disinggung di atas, pemberdayaan beragam inovasi baru pun sudah dapat Anda jumpai di Indonesia, seperti counter self check-in Garuda Indonesia di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta. Lalu, bagaimana dengan negara-negara lain? Tentu beberapa dari mereka sudah lebih maju ketimbang Ibu Pertiwi. Sebut saja Bandara Incheon di Korea Selatan yang mempekerjakan beberapa robot di terminalnya, dan yang baru-baru ini mengundang decak kagum warganet adalah Bandara Internasional Changi, Singapura.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (17/6/2018), salah satu bandara tersibuk di kawasan Asia ini memperkenalkan sejumlah moda otonom untuk disandingkan dengan tenaga manusia. Tidak hanya di dalam terminal, namun otomatisasi ini pun terjadi di tarmak Bandara Internasional Changi.

Seperti yang kita ketahui bersama, ada banyak sekali checklist yang harus dilakukan oleh pilot sebelum mengudara, sebut saja dokumen pra-penerbangan yang harus disertifikasi dan ditandatangani oleh sang kapten. Alih-alih mempekerjakan tenaga manusia dalam tugas ini, Bandara Internasional Changi lantas memberdayakan kendaraan otonom. Hasilnya pun tidak mengecewakan, kendaraan yang mengambil alih porsi kerja manusia ini pun menuai pujian dari banyak pihak.

Selain itu, ada juga kendaraan otonom terpandu yang menggiring Load Device (LD) menuju pintu kargo. Teknologi ini pun berpotensi untuk menggantikan peran dari towing car yang selama ini masih dioperasikan oleh tenaga manusia.

Baca Juga: Panasonic Uji Coba Kursi Roda Otonom di Bandara Haneda

Satu lagi yang menyita perhatian banyak orang adalah kursi roda pintar, yang dapat digunakan oleh penumpang lanjut usia atau penyandang disabilitas untuk masuk ke dalam pesawat dari ruang tunggu. Alih-alih seorang staf harus mendorong satu kursi roda, kini seorang staf bisa langsung mengontrol tiga kursi roda sekaligus. Untuk urusan kursi roda otonom ini, Bandara Internasional Changi bekerja sama dengan penyedia layanan ground-handling setempat, SATS.

 

Dua Stasiun di India Siap Jadi ‘Kelinci Percobaan’ Sistem Keamanan Asal Israel

Operator kereta api asal Negari Anak Benua, Indian Railways rencananya akan meningkatkan sistem keamanan di dalam jaringannya. Bekerja sama dengan pihak Israel, penggunaan teknologi ini juga disinyalir mampu memberikan keleluasaan bagi para penggunanya untuk mengambil langkah-langkah pengendalian massa menggunakan Artificial Intelligence (AI). Menindaklanjuti gagasan tersebut, Ketua Dewan Perkeretaapian India, Ashwani Lohani telah memberikan lampu hijau kepada sang operator untuk ‘mengeksekusi’ proyek percontohan ini.

Baca Juga: Demi Aman dan Nyaman, Bus di India Ini Gunakan Teknologi Pemindai Wajah

Sebagaimana yang dilansir KabarPenuampang.com dari laman dnaindia.com (28/6/2018), adapun stasiun yang akan dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk proyek ini adalah Stasiun Thane dan Kalyan. Saat ini, Central Railways tengah melihat replikasi teknologi yang digunaakn Israel di ruang publik. Secara keseluruhan, nantinya teknologi ini mirip seperti Closed Circuit Television (CCTV), namun lebih kompleks dan canggih.

Dalam hal peringatan keamanan, sistem juga akan meningkatkan kemampuan untuk mengindentifikasi sebagian dan atau semua orang dengan cara memasukan rincian data wajah ke dalam sistem. Sistem juga mampu menampilkan rincian lain dari para penumpang, contohnya adalah waktu kunjung mereka ke stasiun. “Durasi kunjungan mereka pun akan dicatat oleh sistem,” ujar salah seorang pejabat Central Railways.

Pejabat tersebut pun mengakui bahwa sistem keamanan terintegrasi yang saat ini berkembang di luaran sana masih belum memiliki sejumlah fitur futuristik tersebut. “Hal ini dikarenakan sistem keamanan terbaik di dunia yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan tengah dikembangkan di Israel, dan kami bekerja sama dengan salah satu perusahaannya,” tandas sang pejabat.

Menyinggung soal pengendali massa, nantinya teknologi berbasis kamera pengawas ini dapat menyorot titik-titik kepadatan yang ada di dalam maupun luar rangkaian kereta api. Setelah itu, para petugas kereta akan mendatangi titik kepadatan dan berupaya untuk mengurainya. Terdengar sederhana namun dapat berpengaruh besar terhadap kondisi di sekitar lokasi pemasangan.

Baca Juga: Tingkatkan Keselamatan, Otoritas Transportasi India Siap Sodorkan QR Code untuk Penumpang

Setelah mendapat lampu hijau dari Ketua Dewan Perkeretaapian India, kini Central Railways hanya tinggal menunggu sistem tersebut rampung dikembangkan. “Rencananya kami akan memasangnya sebelum akhir musim hujan ini,” kata SK Jain, Manajer Kereta Api Divisional (Mumbai) di Central Railway.

 

 

Guardian Optical Technologies Hadirkan Kenyamanan Baru di Kendaraan Otonom

Akhir-akhir ini, banyak sekali kita temui para pengemudi yang seolah mengesampingkan faktor keselamatan di jalan. Kendati itu merupakan masalah yang sangat personal, namun ternyata dampaknya bisa merembet ke orang lain yang secara tidak langsung tidak bersingungan dengan si pengendara. Tidak heran makanya ketika dewasa ini banyak perusahaan yang mengembangkan inovasi yang dapat meningkatkan kesadaran pengemudi akan keselamatan.

Baca Juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessworld.in (28/6/2018), Guardian Optical Technologies telah menerima investasi sebesar US$3,1 juta atau yang setara dengan Rp44,6 miliar untuk mengembangkan platform sensor kendaraan. Nilai investasi yang digelontorkan oleh Mirai Creation Fund, Goldbell Investments, dan TransLink Capital ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan pengalaman perjalanan para pengendara.

Sejumlah produsen mobil memahami betul bahwa mereka membutuhkan solusi deteksi ‘penghuni’ kendaraan yang menggunakan analisis 2D, 3D, dan inovasi lain guna melacak keberadaan penumpang dalam kendaraan tersebut. Nah, di sini Guardian Optical Technologies mengembangkan satu-satunya teknologi optik yang dapat mendeteksi gerakan dalam ukuran satu mikrometer, dimana hal tersebut memungkinkan pengemudi untuk lebih waspada terhadap objek yang ada di dalam mobil, termasuk anak-anak.

Tidak hanya itu, inovasi yang tengah dalam masa pengembangan ini dapat mendeteksi ukuran tubuh dari setiap penumpangnya dan menyarankan posisi duduk yang sesuai dengan postur tubuhnya. Dengan begitu, poin-poin keselamatan dapat lebih diutamakan. ”Penumpang akan lebih sadar akan keselamatan dalam berkendara, dan ini merupakan inisiasi dari teknologi di sektor otomotif masa depan,” ujar Gil Dotan, CEO Guardian Optical Technologies. “Memonitor interior kabin adalah komponen kunci untuk memastikan keselamatan dan pengalaman yang dioptimalkan untuk penumpang,” tandasnya.

Baca Juga: Baidu Uji Coba Mobil Otonom Berbasis Android Apollo

Teknologi mutakhir dari Guardian Potical Technologies dapat secara potensial menyesuaikan pengalaman perjalanan mobil otonom. Teknologi ini mampu secara otomatis mengatur stasiun radio favorit serta posisi kursi dan kemudi yang disukai. Jadi kasarnya adalah, semisal belakangan ini perusahaan yang bergerak di bidang otomotif terus berupaya untuk memanjakan penggunanya dengan menghadirkan kendaraan otonom, maka hadirnya teknologi dari Guardian Potical Technologies maka akan semakin menambah kenyamanan dan pengalaman perjalanan Anda.

 

Penumpang Kereta Jakarta-Bandung Kian Padat, KAI Tambah Jadwal Perjalanan

Seiring dengan maraknya pembangunan infrastruktur, kemacetan di jalur tol Jakarta-Bandung kian tak tertahankan, terlebih pada saat momen liburan dan akhir pekan. Sebagai reaksi kemacetan, jumlah penumpang yang naik kereta dari dan ke Bandung ikut membludak dalam beberapa waktu belakangan.

Baca juga: “Argo Muria Festival,” Upaya PT KAI Angkat KA Argo Muria Sebagai Ikon Semarang

Merespon hal tersebut, Baru-baru ini PT KAI menambahkan jumlah gerbong maupun perjalanannya pada relasi Jakarta menuju Bandung pergi pulang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, peningkatan animo penumpang disebabkan banyaknya masyarakat yang menghindari macet akibat dampak dari proyek pembangunan ruas Jalan Tol Cikampek.

“Belakangan jumlah penumpang kereta api Jakarta-Bandung PP terus melonjak. Ini kemungkinan besar karena masyarakat menghindari macet dampak proyek pembangunan di ruas Jalan Tol Cikampek,” ujar Direktur PT KAI Edi Sukmoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari republika.co.id.

Edi mengatakan, awalnya, relasi KA Jakarta-Bandung dilayani sebanyak delapan kereta atau 16 kali perjalanan pergi dan pulang. Namun, dikarenakan tingginya permintaan saat ini, pihak PT KAI menambahnya hingga sepuluh kereta atau melayani 20 trip.

Edi mengatakan, jika nantinya jumlah penumpang yang menggunakan moda kereta api dari Jakarta menuju Bandung tetap membludak, PT KAI siap menambah hingga 15 kereta atau 30 trip. Meski begitu, Edi menjelaskan, penambahan tersebut pun akan disesuaikan dengan tingkat kapasitas slot yang tersedia pada rute tersebut termasuk pengadaan kereta sendiri.

“Kami lihat tingkat kepadatan jalur yang tersedia. Apakah sarana dan prasarana mampu menanggung beban tambahan kapasitas,” ujarnya.

Dia mengatakan, selain penambahan slot pada relasi Jakarta-Bandung, KAI juga memungkinkan merevitalisasi relasi Cianjur-Padalarang-Bandung. Diketahui rute Bogor-Sukabumi-Cianjur saat ini sudah terbagun, namun rute Cianjur-Padalarang-Bandung masih mati dan bisa direaktivasi untuk membantu mengatasi kemacetan jalan raya.

Baca juga: Redam Lonjakan Penumpang KA Argo Parahyangan, PT KAI Hadirkan Empat Rangkaian yang Serba Baru!

Demikian juga antisipasi kurangnya sarana, Edi mengatakan pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan PT INKA dengan memesan kereta sebanyak 800 unit kereta.

“Sebanyak 438 di antaranya akan didatangkan hingga Lebaran 2018, yang dialokasikan antara lain untuk rute-rute yang membutuhkan seperti Jakarta-Bandung ini,” ujarnya.

Tingkatkan Keamanan Penumpang Kereta, JR East Akselerasi Instalasi Kamera Pengawas

Sehubungan dengan maraknya aksi kriminal dan vandalisme di jaringan perkeretaapian Jepang belakangan ini, maka salah satu operator kereta di Negeri Sakura East Japan Railways Co. (JR East) mengaku akan mempercepat proses pemasangan kamera pengawas di sejumlah armadanya. Kendati pemasangan kamera tidak bisa mencegah tindakan kriminal secara langsung, namun diharapkan para pengguna layanan tersebut dapat merasakan keamanan lebih.

Baca Juga: Antisipasi Bencana Alam, Tiga Operator Shinkansen Gunakan Sistem Keselamatan Baru!

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (3/7/2018), sang operator mengutarakan bahwa selain mempercepat, mereka juga memperluas rencana pemasangan kamera pengawas ini. Itu menunjukkan bahwa akan ada semakin banyak armada shinkansen dan layanan kereta lokal lain yang memiliki kamera pengawas di dalamnya.

“Akan ada 8.300 gerbong layanan komuter dan 200 gerbong bullet train yang dipasangi kamera pengawas,” ujar salah satu juru bicara dari JR East. Jauh sebelumnya, pihak operator mengatakan bahwa pada pemasangan instumen ini akan dimulai pada awal tahun 2018 dan rute pertama yang akan dipasangi kamera ini adalah Yamanote Tokyo Line. Tidak hanya di jalur tersebut, kamera pengawas juga secara otomatis akan terpasang di beberapa armada JR East yang baru.

Selain di dalam gerbong penumpang, JR East uga berencana untuk memasang kamera ini di kabin masinis, sehubungan dengan beberapa insiden kerusakan alat dan pencurian yang terjadi dalam kurun beberapa waktu ke belakang. “Kurang lebih sebanyak 2.500 kabin masinis akan kami pasangkan kamera, terutama yang mengular di wilayah Ibukota,” tutur sang juru bicara. “Sementara di setiap rangkaian layanan komuter akan dipasangkan sekitar delapan kamera pengawas,” imbuhnya.

Berkaca pada insiden penusukan yang terjadi pada bulan Juni kemarin, sudah sewajarnya jika JR East ingin memperbaiki sistem keamanan dan menambahkan perangkat semacam kamera pengawas untuk menjamin keamanan dari para penumpangnya. Dalam insiden tersebut, seorang penumpang membuat onar di dalam layanan bullet train dengan menggunakan sebilah golok yang berujung pada tewasnya seorang penumpang pria dan melukai dua penumpang lainnya.

Baca Juga: JR East Pasang Safety Guards, Apa Sih Bedanya Dengan Platform Screen Doors?

Belum lagi insiden berdarah lainnya yang terjadi pada tahun 2015 silam, dimana seorang penumpang meninggal dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan membabi buta yang dilakukan oleh salah seorang penumpang layanan bullet train.

Berkaca pada dua kejadian di atas, satu pertanyaan yang tidak kalah pentingnya muncul. Perlukah jaringan perkeretaapian Jepang ‘mempekerjakan’ mesin pendeteksi metal seperti yang sering dijumpai di bandara?

 

 

Dari Jakarta Mau Ke Danau Kelimutu? Simak Jalurnya Yuk!

Masih ingat dengan danau tiga warna yang pernah menghiasi uang pecahan Rp5 ribu pada sekitar sepuluh tahun lalu? Ya, danau tiga warna yang dikenal dengan nama Danau Kelimutu ini berada di Pulau Flores tepatnya di Kota Ende.

Baca juga: Indonesia Ferry Property Langsungkan Penyelesaian Konstruksi Area Komersial Tahap I Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo

Danau ini sendiri menjadi salah satu objek pilihan di Nusa Tenggara Timur selai Pulau Komodo dan Labuan Bajo. Bagaimana sih untuk sampai ke Danau Kelimutu? KabarPenumpang.com mencoba untuk memberikan beberapa cara untuk sampai ke danau ini.

1. Jakarta ke Ende malalui Labuan Bajo
Keberangkatan para pelancong menuju Danau Kelimutu jika dari Jakarta bisa menggunakan pesawat tujuan Labuan Bajo dan transit di Denpasar. Dari Labuan Bajo pelancong bisa menyewa mobil atau menggunakan kendaraan menuju Ende.

2. Jakarta langsung Ende
Kini, penerbangan dari Jakarta menuju Ende di Bandara H. Hasan Aroeboesman tempat Danau Kelimutu bisa dinikmati secara langsung. Meski harus transit dulu ke Kupang ataupun Labuan Bajo.

Dari dua jalur udara ini, pelancong jika sudah tiba di Ende masih akan meneruskan ke desa Moni. Dengan menggunakan travel atau bus kayu yang disebut oto kol, perjalanan dari Ende menuju Moni sekitar satu hingga dua jam. Pemilihan desa Moni sendiri dikarenakan yang paling dekat dengan Danau Kelimutu hanya berjarak 15 km.

Bila dari Ende, jarak tempuh 42 km dengan jalan kecil berliku yang dapat ditempuh selama kurang lebih satu jam setengah dengan kendaraan pribadi. Sehingga banyak pelancong yang lebih memilih untuk menuju Moni karena jaraknya yang lebih dekat.

Tetapi disarankan untuk menyewa mobil, karena angkutan umum di jalur TransFlores cukup terbatas, apalagi jika pergi dengan beberapa orang, menyewa mobil bisa menekan biaya.

Baca juga: Pulau Rote, Strategis Bagi Perbatasan, Inilah Keindahan di Ujung Selatan Indonesia

Setelah para pelancong sampai di Moni jika menggunakan kendaraan pribadi bisa langsung menuju tempat parkir. Bila menggunakan kendaraan umum, biasanya bisa menyewa ojek dari penginapan hingga ke parkiran atau pintu masuk Taman Nasional Kelimutu tersebut. Kemudian dari pintu masuk, pelancong harus berjalan atau trekking selama sekitar satu jam untuk sampai di Taman Nasional Kelimutu.

Sebagai pelancong yang menyukai matahari terbit, lebih baik tiba di Danau Kelimutu sekitar pukul 03.30 pagi. Sedangkan waktu terbaik untuk mengunjungi danau tiga warna ini sendiri pada bulan Juli atau Agustus.

Shinkansen Hello Kitty Resmi Mengular, Penggemar dan Penumpang Riuh Ramai Berselfie Ria

Akhirnya, apa yang selama ini ditunggu-tunggu oleh warga Jepang hadir juga! Ya, terhitung sejak Sabtu (30/6/2018) kemarin, secara resmi karakter kucing kartun lucu nan menggemaskan, Hello Kitty mulai mengular bersama layanan bullet train khas Negeri Matahari Terbit, Shinkansen. Dinantikan sejak lama, akhirnya sang operator kereta, West Japan Railway Co. Ltd (JR West) menepati janjinya untuk meluncurkan kereta yang didominasi warna merah muda ini.

Baca Juga: Horee! Shinkansen Hello Kitty Mengular 30 Juni Mendatang

Seperti yang dijanjikan oleh sang operator sebelumnya, kereta peluru tematik ini mengular dari Osaka yang berada di sebelah Barat Jepang menuju Fukuoka yang berada di sebelah Selatan Jepang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (1/7/2018), Shinkansen Hello Kitty ini akan beroperasi hingga bulan September 2018 mendatang. Sebagai informasi tambahan, Shinkansen Hello Kitty ini bukanlah kereta pertama yang pertama mengusung sebuah tema. Sebelumnya ada “Pokemon with you Train” dan Shinkansen 500 EVA “Evangelion”.

Beberapa saat sebelum JR West memamerkan shinkansen menggemaskan tersebut, ratusan warga Jepang telah berjejalan menunggu momen bersejarah ini di Stasiun Osaka. Ketika kereta peluru yang didominasi oleh warna putih dan merah muda ini mulai menunjukkan batang hidungnya, sontak tangan-tangan para fans setia karakter kreasi Sanrio Co. ini mengangkat sembari mengabadikannya dalam bentuk foto dan video.

Supaya lebih terkesan resmi dan mencegah terjadi tindakan yang tidak diinginkan, pihak pengelola stasiun pun memasangkan rantai pembatas di ujung peron, yang berguna untuk membatasi ruang gerak para penggemar tersebut. Ketika rantai tersebut dibuka, seolah menandakan dimulainya pengoperasian resmi dari rangkaian kereta delapan gerbong ini.

Baca Juga: Jelang Pensiun, JR West Pamerkan Kereta Peluru Tematik, Shinkansen 500 EVA “Evangelion”

Suasana semakin memanas ketika pintu kereta terbuka dan muncullah sebuah boneka Hello Kitty seukuran tubuh orang dewasa, lengkap dengan seragam dan topi khas petugas kereta. Tak pelak, boneka itu pun menjadi sasaran selfie para penggemar. Setelah menyapa para penumpang di Stasiun Osaka selama kurang lebih 16 menit, shinkansen ini pun langsung melesat kembali menuju Stasiun Fukuoka, tempat pertama kali kereta ini menunjukkan dirinya.