Menjadi Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan, Stasiun Rangkasbitung juga Sebagai Tombak Perekonomian

Stasiun Rangkasbitung masa kini

Rangkasbitung salah satu kota metropolis di Lebak, Banten. Kota ini memiliki stasiun bernama Rangkasbitung yang beroperasi sejak 1 Juli 1900 dan menjadi satu-satunya stasiun terbesar di Provinsi Banten saat ini.

Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini merupakan salah satu sarana transportasi kota Rangkasbitung sebagai kota industri di Banten pada masa kolonial. Tak hanya itu, stasiun ini juga menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Banten, dimana kelancaran perputaran transportasi untuk menjadi sarana pembawa hasil perkebunan dan pertanian ke Jakarta.

Stasiun ini juga menjadi jalur perjuangan dan pertempuran pada zaman perang kemerdekaan. Meski menjadi jalur pertempuran melawan penjajah kolonial pihak Djawatan Kereta Api (DKA) yang saat ini menjadi KAI masih mengoperasikan kereta api Rangkasbitung menuju Parungpanjang.

Hanya saja untuk melewati Parungpanjang menuju Serpong tidak bisa dikarenakan jalur kereta api dirusak pejuang untuk siasat pertempuran. Dari stasiun Rangkasbitung ini juga, ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno menapaki jalan pertamanya menuju Jakarta.

Soekarno di stasiun Rangkasbitung pada masa Kemerdekaan Indonesia

Menjadi saksi sejarah, berarti stasiun ini sudah cukup lama dan tua, berada di Muara Ciujung Timur, Rangkasbitung, Lebak. Sayangnya perkembangan stasiun ini cukup lamban, sebab setelah Indonesia Merdeka 70 tahun, jalur ini baru berkembang hingga stasiun Maja.

Itupun dari Parungpangjang menuju Maja masih satu rel meski sudah dibangun double track. Tetapi pengoperasiannya sempat mangkrak, padahal jika berjalan baik, bisa mengurangi kemacetan Tol Merak-Jakarta.

Stasiun ini terletak pada ketinggian +22 meter dan masuk dalam Daerah Operasional I. Stasiun Rangkasbitung juga menjadi salah satu Benda Cagar Budaya berdasarkan UU No.5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten.

Semua kereta api yang melintasi jalur kereta api Tanahabang-Merak pasti berhenti di stasiun ini. Keberadaan jalur ini sangatlah strategis karena bukan saja menghubungkan Jakarta dengan kota Rangkasbitung tapi jalur ini juga menghubungkan pelabuhan Merak. Sehingga jalur ini terintegrasi dengan moda penyebarangan laut.

Sebab pada era tahun 70 hingga awal 80-an, PJKA (Perusahan Jasa Kereta Api) kala itu juga menyediakan fasilitas kapal penyeberangan menuju pulau Sumatra. Di stasiun ini juga terdapat dipo kereta dan dipo lokomotif yang menyimpan serta merawat gerbong KA Lokal Merak dan lokomotif jenis CC201, CC203 atau CC206 yang didatangkan dari Dipo lokomotif Jatinegara dan Tanahabang.

Dulu, terdapat jalur kereta api menuju Labuan melewati Pandeglang. Jalur ini sudah tidak aktif sejak tahun 1984. Pada jalur ini terdapat percabangan jalur kereta api di Saketi menuju Bayah. Jalur ini dibangun oleh tawanan perang Jepang yang lebih dikenal sebagai romusha pada masa pendudukan Jepang saat Perang Dunia II. Ribuan orang meninggal karena perlakuan tentara Jepang yang tak berperikemanusiaan.

Baca juga: Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya

Sempat beredar kabar, jalur mati ini akan dibuka kembali karena banyaknya peminat kereta api yang berasal dari Pandegalang dan sekitarnya. Pada 1 April 2017 kemarin, stasiun ini sudah melayani KRL Commuter Line Green Line dengan relasi Rangkasbitung-Tanahabang PP setelah adanya pemasangan kabel listrik aliran atas di halur lintas Maja-Rangkasbitung.