Lagi, Uji Coba Jembatan Simpang Joglo Libatkan Belasan Lokomotif

Jalur kereta api (KA) di Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta tengah melakukan uji coba di kawasan Solo. Jalur KA yang berupa sebuah jembatan ini berada di jalur antara Stasiun Solo Balapan dengan Stasiun Kadipiro atau jalur pintas menuju Semarang.

Nah, jembatan yang digadang-gadang merupakan jembatan sangat ikonik ini karena konstruksi yang dipakai merupakan teknologi paling mutakhir yang kali pertama dipakai di Indonesia. Strukturnya adalah baja pipa. Biasanya dari baja padat dan ini menjadi yang pertama di Indonesia. Penyambungannya juga menggunakan sistem las, berbeda dengan biasanya menggunakan sistem baut.

Mulanya, pembangunan rel layang di Simpang Tujuh Joglo, Solo, merupakan solusi terobosan untuk mengatasi kemacetan di perlintasan sebidang Simpang Joglo. Proyek ini merupakan bagian penting dari upaya pembangunan Jalur Ganda Kereta Api Solo Balapan – Kalioso, serta peningkatan rekayasa lalu lintas di Simpang Joglo, Kota Surakarta.

Nah, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) serta Kementerian Perhubungan tengah melakukan kembali uji coba jembatan tersebut. Sebelumnya uji coba dilakukan pada tahun 2024 lalu. Uji coba kali ini tetap menggunakan lokomotif dari berbagai seri, seperti seri CC 201, CC 203, dan CC 300.

8 unit lokomotif tengah uji coba beban di Jembatan Layang Simpang Joglo.

Lokomotif ini tetap dengan cara digabung masing-masing rangkakan sebanyak 8 unit. Karena total keseluruhan yang uji coba sebanyak 17 unit lokomotif. Jembatan yang memiliki jalur ganda ini melakukan uji beban dengan melangsirkan lokomotif selama berjam-jam dalam kurun 2 hari.

Sebelumnya penyusunan unit lokomotif agar menjadi satu rangkaian tersebut dilakukan di Stasiun Solo Balapan. Setelah tersusun, lokomotif tersebut berjalan menuju Stasiun Kadipiro dengan formasi masing-masing 2 unit lokomotif. Pengiriman dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Kadipjro ini memakan waktu lebih dari 2 jam yang dimulai pada pukul 16.00 WIB.

Saat semua unit terkumpul di Stasiun Kadipiro, formasi rangkaian terbentuk kembali sedikitnya 2 rangkakan yang masing-masing terdiri dari 8 unit lokomotif. Akhirnya, Selasa 18 November 2025 pukul 19.0p WIB uji coba beban jembatan pun dilakukan. Meski dibawah guyuran hujan, uji coba tersebut tak urungkan niatnya untuk mengejar target agar terselesaikan.

Tak bisa dipungkiri uji coba beban jembatan ini harus segera dilakukan agar jalur tersebut bisa dioperasikan untuk lintasan kereta api. Karena melewati jembatan ini, setidaknya telah berhasil melakukan antisipasi kemacetan yang sebelumnya sering kali terjadi di wilayah tersebut.

Uji dinamis ini telah dilakukan dengan melewati jalur KA elevated beberapa kali serta uji statis yang dilakukan dengan melakukan pengereman saat melaju hingga berhenti tepat di tengah jalur KA elevated simpang joglo. Dengan pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan KA dan kereta api dapat menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik bagi Indonesia.

Tak Sekadar Sebagai Cagar Budaya, Stasiun-stasiun di Solo Ini Jadi Daya Tarik Wisatawan

Upgrade Besar Emirates: 111 Pesawat Masuk Program Retrofit Lanjutan

Program retrofit Emirates memasuki fase berikutnya, dengan 60 pesawat A380 dan 51 Boeing 777 yang akan menerima inovasi kabin terbaru. Mulai Agustus 2026, maskapai ini akan memperkenalkan sejumlah produk baru dalam pesawat, di samping sistem hiburan dalam pesawat generasi berikutnya yang sepenuhnya imersif dan konektivitas WiFi yang ditingkatkan dengan Starlink pada pesawat-pesawat ini sebagai bagian dari upaya modernisasi armadanya yang ekstensif.

Emirates Engineering, bekerja sama dengan mitra Airbus, Safran, Recaro, Panasonic, Starlink, dan UUDS, akan memperkenalkan desain tempat duduk terkini dan lounge dalam pesawat baru pada 60 pesawat A380, dipasangkan dengan sistem hiburan dalam pesawat Astrova canggih dari Panasonic, guna menghadirkan pengalaman penumpang yang lebih baik dan konsisten pada 111 pesawat berikutnya yang akan diperbarui.

Maskapai ini telah berperan penting dalam mendorong inovasi produk bersama para mitranya, bekerja sama erat dengan produsen dan pemasok pesawat untuk terus meningkatkan kenyamanan penumpang, privasi, dan pengalaman perjalanan secara keseluruhan. Komitmen terhadap keunggulan produk berarti maskapai ini secara berkala berdialog dengan para mitra mengenai inisiatif terbaru dalam furnitur kabin, sistem hiburan dalam pesawat, dan teknologi kabin mutakhir, serta tidak ragu untuk melakukan investasi signifikan demi mencapai tujuan jangka panjangnya.

Kelas Bisnis di A380 dan Boeing 777 akan menerima peningkatan yang canggih dengan kursi generasi terbaru Emirates, terinspirasi oleh kursi kulit mewah S Lounge karya Safran, yang sudah ada di armada A350 maskapai ini. Setiap kursi menciptakan ruang yang lebih privat dengan detail yang cermat untuk meningkatkan pengalaman, mulai dari pengisian daya nirkabel yang terintegrasi di meja koktail samping hingga pencahayaan di kursi yang dapat disesuaikan. Pelanggan akan dapat menikmati hiburan ICE 4K, penyimpanan yang dirancang dengan cermat, fasilitas minibar, dan berbagai pilihan pengisian daya termasuk USB-C dan port nirkabel.

Ekonomi Premium, adalah kelas kabin terbaru Emirates, akan dilengkapi dengan teknologi tempat duduk canggih Recaro dengan sistem sandaran mekanis. Kursi kulit yang luas akan tetap menawarkan kenyamanan maksimal dengan sandaran kaki dan telapak kaki terintegrasi, sandaran kepala yang dapat disesuaikan, dan berbagai fasilitas canggih termasuk pengisian daya di kursi, meja koktail di samping, dan layar hiburan 13,3 inci, yang menciptakan keseimbangan sempurna antara nilai dan kemewahan.

Pelanggan Kelas Ekonomi akan diuntungkan dengan diperkenalkannya kursi Safran Z400 baru yang ringan, dirancang khusus untuk penerbangan jarak jauh, dengan setiap detail dirancang untuk kenyamanan dan kemudahan. Kursi ini mencakup sandaran kepala delapan arah yang dapat disesuaikan untuk penyangga leher dan kepala yang tak tertandingi, serta sentuhan teknologi canggih lainnya.

Emirates telah memilih Panasonic Avionics untuk meningkatkan produk IFE-nya pada A380 dan Boeing 777 dengan platform hiburan dalam pesawat Astrova yang canggih, yang mencerminkan komitmen maskapai untuk menghadirkan pengalaman generasi mendatang.

Pelanggan Emirates akan menikmati kejernihan visual yang memukau pada layar 4K OLED HDR10+ yang menyaingi sistem home cinema premium, dengan warna yang hidup, kontras tak terbatas, dan warna hitam sempurna yang menghidupkan setiap frame. Audio Spasial membenamkan pelanggan dalam suara yang kaya dan multidimensi, baik menggunakan headset premium Emirates maupun perangkat nirkabel mereka sendiri melalui Bluetooth.

Pengisian daya USB-C 67W yang bertenaga di setiap kursi memastikan semua perangkat tetap terisi daya selama perjalanan. Desain modular sistem ini memungkinkan peningkatan independen pada tampilan, penyaluran daya, dan konektivitas seiring perkembangan teknologi.

Platform ini juga mengintegrasikan Arc 3D 4K Moving Map dari Panasonic, menghadirkan pengalaman pelacakan penerbangan yang imersif. Terintegrasi sempurna dengan program Skywards Emirates, mesin rekomendasi cerdas platform ini mempelajari preferensi individu untuk menyarankan konten yang dipersonalisasi selama penerbangan.

Penumpang Emirates Kini Bisa Mandi Shower Selama Penerbangan, Khusus Kelas Satu

Di balik layar, wawasan interaksi real-time memungkinkan Emirates untuk terus menyempurnakan pustaka hiburannya, memastikan pilihan yang tersedia selalu mencerminkan apa yang ingin ditonton, didengar, dan dijelajahi oleh pelanggan.

Emirates semakin meningkatkan pengalaman perjalanan dengan konektivitas Starlink di seluruh armada, yang dipasang bersamaan dengan program pembaruan kabin di pesawat A380 dan Boeing 777. Strategi peluncuran terkoordinasi ini, yang mengintegrasikan instalasi konektivitas ke dalam jadwal pembaruan yang ada, mempercepat penyediaan pengalaman Emirates yang lengkap di seluruh jaringan globalnya.

Program retrofit ini dibangun berdasarkan rekam jejak investasi berkelanjutan Emirates dalam produk dan layanannya. Pertama kali diumumkan pada tahun 2021 dengan 120 pesawat yang dijadwalkan untuk pembaruan penuh, maskapai ini memperluas program retrofitnya menjadi 191 pesawat pada Mei 2024 sebelum ditingkatkan lebih lanjut menjadi 219 pesawat di akhir tahun yang sama, sebuah bukti komitmennya untuk menghadirkan pengalaman luar biasa di seluruh armadanya.

Hingga saat ini, 76 pesawat telah menjalani pembaruan, dengan setiap A380 membutuhkan waktu sekitar 22 hari dan setiap Boeing 777 membutuhkan waktu 18 hari untuk dimodernisasi. Program ini berjalan secara konsisten, dengan dua pesawat baru yang diperbarui setiap bulannya siap meningkatkan pengalaman di rute-rute penerbangan di seluruh dunia.

Garuda Indonesia Sajikan “Nasi Kapau” Sebagai In-Flight Meals di Rute Jakarta – Amsterdam

Polemik Stasiun Cikarang jadi ‘Hotel Darurat’, Masyarakat: Berharap KRL Beroperasi 24 Jam

Masih hangat dikabarkan mengenai polemik tentang para pekerja yang rela menginap di Stasiun Cikarang hingga mendapat perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) yang pertama atau saat menjelang subuh. Ya, ramai di media sosial mengenai para pekerja yang tertinggal perjalanan KRL terakhir kemudian harus rela menginap di Stasiun Cikarang.

Bak “hotel darurat” masyarakat yang pulang bekerja hingga larut malam tak mencukupi waktu untuk menggunakan KRL meskipun jam terakhir sudah selesai beroperasi. Lain halnya pekerja lembur di kawasan Cikarang, ada pula masyarakat yang tetap menginap karena mereka tak mau ketinggalan jadwal KRL pertama untuk bekerja di Jakarta.

Bagi pejuang rupiah, dengan cara seperti mereka rela menginap di stasiun dengan alasan lebih irit ongkos. Sedangkan untuk menggunakan moda transportasi lain, tentu saja harus merogoh kantong lebih dalam. Dalam keterbatasan di malam yang semakin larut, para pekerja ini tidak punya pilihan.

Antusias Masyarakat Pengguna KRL Sangat Tinggi, Perlukah Beroperasi 24 Jam?

Kursi-kursi di ruang tunggu, lantai Stasiun Cikarang yang dingin pada akhirnya jadi persinggahan sementara. Semua dilakukan demi bertahan hidup dan juga dapur bisa tetap ngebul. Fenomena ini bahkan mendapat perhatian dari Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi. Menhub berjanji akan mempertimbangkan kereta KRL Jabodetabek bisa beroperasi selama 24 jam sebagai solusinya.

Dudy akan berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI terkait kemungkinan layanan KRL 24 jam tersebut. Ia menjelaskan koordinasi dengan KAI juga untuk mempertimbangkan biaya operasional perusahaan seandainya layanan KRL berlangsung 24 jam.

Penumpang duduk dan beristitahat di tangga Stasiun Cikarang. (Foto: Dok. Tempo)

Menurut para penumpang, ruang tunggu stasiun tidak boleh digunakan setelah jam operasional berakhir. Para petugas meminta penumpang keluar, membuat mereka harus bertahan di area terbuka hingga pukul 4 pagi.

Banyak yang menilai kondisi ini tidak ideal, terlebih bagi pekerja yang berpenghasilan pas-pasan dan harus pulang tengah malam karena sistem shift. Para pekerja yang rutin bermalam di stasiun punya harapan adanya akses untuk mereka beristirahat.

Seiring berjalannya waktu, jumlah penumpang Stasiun Cikarang juga turut meningkat. Dari total 5,07 juta penumpang pada tahun kemarin naik menjadi 5,25 juta penumpang di 2025. Namun kenaikan jumlah penumpang ini ternyata tidak diiringi dengan penambahan rangkaian kereta serta jumlah keberangkatan.

Resmi Ditutup! Mulai 28 November 2025 Pintu Selatan Stasiun Bekasi Sementara Tak Bisa Diakses Masyarakat

Mulai Desember Penumpang Naik KRL ke Stasiun BNI City Bisa Lewat Stasiun Karet

Kabar yang melegakan bagi para pejuang rupiah yang tiap hari menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) khususnya lintas Tanah Abang – Manggarai. Rencana adanya jalan pintas di stasiun ini segera digunakan. Ya, sebagaimana diketahui di jalur tersebut ada tiga stasiun yang berdekatan, yakni Stasiun Karet, Stasiun BNI City dan Stasiun Sudirman.

Namun, beberapa tahun lalu kabar yang kurang baik bahwa akan dilakukan penutupan untuk Stasiun Karet. Padahal banyak masyarakat yang naik dan turun KRL di Stasiun Karet cukup banyak. Hal ini karena berdekatan dengan perkantoran dan tempat perbelanjaan di kawasan tersebut. Terlebih Stasiun Karet memang sudah ada sejak dibangunnya jalur Tanah Abang – Manggarai.

Dengan adanya kabar tersebut tentu para penumpang yang terbiasa naik dan turun di Stasiun Karet mengeluh. Karena akses mereka jika tidak dari stasiun tersebut akan terasa lebih jauh dan memakan waktu yang lebih lama. Karena mereka mau tidak mau harus naik dan turun KRL di Stasiun BNI City yang merupakan stasiun terdekat dari Stasiun Karet.

Namun, hal tersebut ternyata tidak terjadi. Stasiun Karet yang digadang-gadang akan ditutup permanen ternyata tetap dioperasikan. Pasalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan penggabungan Stasiun Karet dan BNI City rampung bulan depan. Penggabungan dua stasiun menjadi bagian dari integrasi transportasi di kawasan Dukuh Atas.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, sejumlah fasilitas pendukung penggabungan dua stasiun tersebut sudah terpasang. Namun begitu, pihaknya akan memastikan kembali kesiapan kedua stasiun tersebut. Dudy menargetkan integrasi Stasiun Karet dan BNI City rampung bulan depan.

Sebagai informasi, penggabungan Stasiun Karet dan BNI City ini menjadi bagian dari proyek Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Dukuh Atas yang ditargetkan rampung pada 2027. Dengan TOD, berbagai moda transportasi seperti LRT, MRT, KRL Commuter Line, dan Kereta Bandara diharapkan terintegrasi dalam satu lokasi.

Dudy sebelumnya menegaskan Stasiun Karet tidak akan ditutup. Nantinya, penumpang tetap bisa mengakses Stasiun Karet seperti biasa untuk naik kereta di Stasiun BNI City. Jadi penumpang bisa memilih bisa naik dari Stasiun Karet atau bisa juga dari Stasiun BNI City. Akses ini diharapkan bisa menjangkau perjalanan KRL dengan lebih mudah dan menghindari dari penumpukan penumpang jika sewaktu-waktu terjadi pada jam sibuk.

Manggarai, dari Tempat Budak Hingga Menjadi Stasiun Terbesar di Jakarta

Masa Lalu Stasiun Bekasi, Sempat Berstatus Sebagai Halte Besar

Tak hanya di Stasiun Gambir maupun Stasiun Pasar Senen, informasi soal Stasiun Bekasi yang menjadi incaran para penumpang untuk naik dan turun kereta api pun sangat diminati. Stasiun Bekasi kali ini menjadi tujuan serta keberangkatan bagi masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Bekasi dan sekitarnya.

Bahkan stasiun ini merupakan stasiun alternatif bagi penumpang yang tak sempat berangkat dari stasiun awal atau waktu yang sangat sempit. Stasiun Bekasi (BKS), atau yang juga dikenal sebagai Stasiun Bekasi Kota, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di Marga Mulya, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat pada ketinggian +19 meter, termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi I Jakarta dan KAI Commuter dengan jarak 27 km arah timur dari Jakarta Kota.

Tapi tahukah kamu bahwa Stasiun Bekasi menyimpan nilai sejarah yang tinggi? Mengutip Heritage PT KAI disebutkan cikal bakalnya pembangunan Stasiun Bekasi pada masa Hindia Belanda, di Batavia (Jakarta) terdapat beberapa perusahaan kereta api baik pemerintah maupun swasta.

Salah satunya Perusahaan Bataviasche Ooster Spoorwegmaatschappij (BOS) yang membuka jalur timur, Jakarta-Bekasi-Karawang. Berdasarkan Undang-undang 9 Juni 1898 Stablaad 222, BOS mendapatkan ijin konsensi pembangunan jaringan kereta api di Jakarta. Pembangunan ini dibagi menjadi empat tahap, yakni Jakarta-Bekasi, Bekasi-Cikarang, Cikarang-Kedunggedeh, dan Kedunggedeh-Karawang. Tahap awal dirampungkan sampai ke Bekasi. Bersamaan itu diresmikan Stasiun Bekasi pada tanggal 31 Maret 1887.

Bekasi tempo dulu. (Foto: Dok. Istimewa)

Awalnya operasional di Stasiun Bekasi dilaksanakan oleh BOS. Namun, sewaktu proses pembangunan ke Karawang, BOS mengalami kesulitan dana dan buruknya manajemen. Lalu BOS meminta bantuan dana kepada pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah pun menyepakati dengan syarat setelah pekerjaan rampung, lintas Batavia-Karawang dibeli oleh perusahaan kereta api negara yaitu Staatssporwegen (SS), termasuk Stasiun Bekasi. Pada tahun 1900 tercatat delapan kereta yang berhenti di Stasiun Bekasi.

Fyi, pada tahun 1930 silam, bahwa status Stasiun Bekasi hanyalah Halte besar. Di mana tempat naik dan turun para penumpang karena titik transportasi yang sudah terintegrasi dengan Jatinegara. Sebab, jalan raya baru dibangun pada era tahun 1911-1920 oleh seorang jendral atau kekinian bisa disebut sebagai gubernur. Sedangkan jalur kereta api baru dibangun sekitar tahun 1970-1980.

Stasiun Bekasi juga merupakan jalur ekonomi pada jamannya. Penduduk biasanya memanfaatkan stasiun untuk mengantar hasil pangan karena daerah yang dikenal Kota Patriot ini sebagai penghasil padi, karet, tebu dan gula.

Tahun 1954, Djawatan Kereta Api (cikal bakal PT KAI) menetapkan Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 tentang klasifikasi stasiun menjadi 6 kelas, Stasiun Kelas 5. Hal ini dimaksud guna menentukan fasilitas dan kondisi kebutuhan pengangkutan. Berdasarkan SK tersebut, Stasiun Bekasi masuk dalam kategori stasiun kelas 4. Kini, Stasiun Bekasi merupakan stasiun Besar B.

Semula stasiun ini hanya memiliki 4 jalur yang melayani kereta api jarak jauh, kereta rel listrik dan kereta angkutan batu bara. Namun saat ini stasiun beralih fungsi menjadi angkutan penumpang secara menyeluruh, yaitu banyaknya kereta api jarak jauh yang berhenti disini bahkan kereta kelas argo sekalipun. Staisun Bekasi dengan bangunan yang megah serta penjagaan ketat yang dipantau dari kejauhan menggunakan CCTV yang berada di setiap sudut stasiun serta penjaga keamanan stasiun yang bertugas 24 jam. Dengan adanya keamanan tersebut menjadikan Stasiun Bekasi semakin nyaman bagi para penumpang yang setia menggunakan kereta api.

Jembatan Bekasi – 130 Tahun Beroperasi dan Masih Setia Layani Lalu Lintas Kereta

Resmi Ditutup! Mulai 28 November 2025 Pintu Selatan Stasiun Bekasi Sementara Tak Bisa Diakses Masyarakat

Stasiun Bekasi merupakan stasiun besar yang berada di kawasan Bekasi Utara dan merupakan area yang ramai dengan penumpang yang naik dan turun kereta api. Tak hanya pada jam sibuk (weekdays) stasiun ini selalu ramai dengan aktivitas penumpang yang lalu lalang, namun saat hari libur (weekend) pun tak luput dari keramaian maayarakat Bekasi dan sekitarnya.

Hal ini kerap kali membuat area disekitar stasiun terjadi kemacetabn. Bahkan Stasiun Bekasi menjadi langganan kemacetan saat jam-jam ramai. Banyaknya pengendara motor, angkutan umum, bahkan kendaraan pribadi lainnya kerap memenuhi jalan di area sekitar stasiun. Terutama di Jalan Ir. H. Juanda yang merupakan jalan pintu masuk menuju Stasiun Bekasi.

Jalan ini memang akses mudah bagi penumpang yang masuk dan keluar stasiun karena bisa langsung mengarah ke Bekasi Barat dan Bekasi Timur. Tingginya volume penumpang pada jam-jam rawan kemacetan, membuat kawasan Stasiun Bekasi menjadi semerawut. Belum lagu angkot dan tukang ojek kerap kali mangkal dekat pintu masuk Stasiun Bekasi.

Maka dari itu PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) segera memutuskan untuk penutupan akses pintu selatan stasiun agar tidak terjadi kemacetan yang berulang. KAI wilayah Daerah Oparesi (Daop) 1 Jakarta menjelaskan bahwa penutupan ini bersifat sementara dan hanya berlaku di pintu selatan. Penumpang diimbau untuk menggunakan pintu utama atau pintu utara sebagai alternatif.

Alasan penutupan pintu selatan ini bertujuan untuk pengaturan alur keluar-masuk penumpang serta persiapan renovasi area selatan stasiun. Masa uji coba ini penting untuk melihat respons dan kelancaran arus penumpang. Petugas stasiun akan ditempatkan di beberapa titik strategis untuk membantu penumpang dan memberikan informasi mengenai rute keluar-masuk yang baru.

Pengguna jasa kereta api di Stasiun Bekasi diimbau untuk memperhatikan pengumuman resmi dan memperhitungkan waktu perjalanan tambahan akibat perubahan jalur keluar-masuk. PT KAI juga menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi pelayanan di stasiun.

Rencana penutupan pintu selatan Stasiun Bekasi ini justru membuat sejumlah penumpang tidak setuju. Pasalnya, dengan harus berjalan kaki ke arah pintu utara di Jalan Perjuangan akan lebih memakan waktu serta harus menyeberang perlintasan kereta api yang makin membuat masyarakat makin mengeluh.

Selama masa penutupan, akses masuk dan keluar penumpang, termasuk area parkir motor, akan dialihkan sepenuhnya melalui Jalan Raya Perjuangan sebagai pintu utama Stasiun Bekasi dan melalui Jalan Pusdiklat. KAI pun mengimbau untuk seluruh penumpang dan pengguna jalan selalu mematuhi aturan keselamatan, khususnya saat melintasi perlintasan sebidang.

Arus Balik Lebaran 2025, Penumpang Kereta Api Lebih Banyak Turun di Stasiun Bekasi

Wajib Tahu! Ini Tips Memilih Nomor Kursi Full Jendela di Kereta New Generation Modifikasi

Menggunakan kereta api (KA) kelas ekonomi New Generation Modifikasi Balai Yasa Manggarai pastinya sudah semakin nyaman. Interior yang tak jauh berbeda dengan kelas ekonomi tipe stainless steel, rangkaian modifikasi ini di desain senyaman mungkin bagi penumpang yang merasakannya. Selain itu setiap kursi juga bisa diatur sesuai keinginan, salah satunya adalah bagian sandaran kursi yang diatur sesuai dengan kenyamanan.

Rangkaian kereta jenis ekonomi New Generation modifikasi ini sudah tersebar pada beberapa kereta apu berikut ini:
• Blambangan Ekspres (Pasarsenen – Ketapang)
• Dharmawangsa Ekspres (Pasarsenen – Surabaya Pasarturi)
• Mutiara Timur (Surabaya Pasarturi – Ketapang)
• Joglosemarkerto (Purwokerto – Tegal – Solo Balapan)
• Brantas (Pasarsenen – Blitar)
• Pangrango (Bogor Paledang – Sukabumi)
• Sancaka Utara (Surabaya Pasarturi – Cilacap)
• Ranggajati (Cirebon – Jember)
• Banyubiru Ekspres (Semarang Tawang – Solo Balapan)
• Kamandaka (Semarang Tawang – Tegal – Purwokerto dan Semarang Tawang – Tegal – Cilacap)
• Ijen Ekspres (Malang – Ketapang)
• Pasundan (Kiaracondong – Surabaya Gubeng)
• Matarmaja (Pasarsenen – Malang)

Namun bagi penikmat video/fotografi termasuk railfans, hal ini terasa sedikit kurang memuaskan saat menaiki rangkaian tersebut. Alasannya ada beberapa kursi yang memang tidak memiliki posisi jendela secara penuh (full). Hal ini tentu membuat mereka mencari kursi yang tersedia dengan memilih nomor kursi terlebih dahulu sebelum naik ke kereta.

Jika dibandingkan dengan penumpang yang hanya sekadar duduk dan berharap ingin cepat sampai tentu lain ceritanya. Nah, beberapa nomor kursi pada rangkaian ekonomi New Generation modifikasi justru ada yang memiliki posisi kursi dengan jendela penuh. Sehingga penumpang merasa nyaman karena melihat pemandangan secara keseluruhan.

Interior Kereta Kelas Ekonomi New Generation kapasitas 72 kursi. (Foto: Dok. KAI)

Berikut ini kabarpenumpang memberi tips bagk kalian yang ingin menempati kursi dengan jendela full saat naik kereta New Generation modifikasi:

– Kursi No. 1 AB
– Kursi No. 3 CD
– Kursi No. 5 AB
– Kursi No. 6 CD
– Kursi No. 7 AB
– Kursi No. 8 CD
– Kursi No. 9 AB
– Kursi No. 10 ABCD
– Kursi No. 12 ABCD
– Kursi No. 14 ABCD
– Kursi No. 15 CD
– Kursi No. 16 AB
– Kursi No. 17 CD
– Kursi No. 18 AB
– Kursi No. 19 CD

Itulah daftar kursi kereta New Generation modifikasi dengan posisi full jendela. Berharap sebelum kalian naik, pastikan cek dulu ketersediaan kursinya, ya. Agar saat diperjalanan bisa menikmati pemandangan dan mengabadikan dengan kamera yang tersimpan di memori.

Sebelumnya, Balai Yasa Manggarai berhasil memodifikasi 72 Kereta New Generation sepanjang tahun 2023 dan 2024. Modifikasi ini mencakup 12 Kereta New Generation pada 2023 bersama empat kereta kompartemen, dan tiga kereta makan M1.

Sementara, sebanyak 60 Kereta New Generation dimodifikasi pada 2024, bersama satu kereta makan M1, dan dua kereta K1. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan bagi pelanggan.

Serupa Tapi Tak Sama. Inilah Perbedaan Kelas Ekonomi New Generation Buatan Balai Yasa Manggarai dan INKA

Catat! Mulai 1 Desember 2025, Ada Kereta Api yang Tak Berhenti Lagi di Stasiun Jatinegara

Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) per tahun 2025 beberapa perjalanan kereta api (KA) berhenti di Jatinegara. Selain praktis, penumpang yang naik/turun dari stasiun ini pun cukup banyak untuk tujuan berbagai kota di Pulau Jawa. Selain itu saat penumpang berada di Stasiun Jatinegara berbagai alternatif lain seperti naik Kereta Rel Listrik (KRL) untuk transit ke jalur Jabodetabek dengan mudah.

KA yang singgah di Stasiun Jatinegara pun bermacam-macam. Ada yang kelas ekonomi hingga kelas eksekutif. Nah, penumpang yang sudah memiliki tiket dari keberangkatan atau ingin turun di Stasiun Jatinegara sebenarnya merupakan alternatif selain di stasiun tujuan seperti Stasiun Gambir maupun Pasar Senen.

Informasi yang tersebar tentang berkurangnya perhentian KA di stasiun Jatinegara segera berlaku. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan menyesuaikan pola operasi pada sejumlah perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) mulai 1 Desember 2025. Penyesuaian meliputi perubahan pola perhentian kereta api keberangkatan dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen, serta kereta api kedatangan menuju Jakarta.

Penumpang kereta api. (Foto: Dok. Istimewa)

Berikut beberapa jadwal KA yang tidak melayani pemberangkatan di Stasiun Jatinegara:

• KA Manahan (61B)
Relasi Solo Balapan – Gambir
Sebelumnya: Cikarang, Jatinegara, Gambir

• KA Bogowonto (103B)
Relasi Lempuyangan – Pasar Senen
Sebelumnya: Cikarang, Bekasi, Jatinegara, Pasar Senen

• KA Gajahwong (105B)
Relasi Lempuyangan – Pasar Senen
Sebelumnya: Bekasi, Jatinegara, Pasar Senen

• KA Gunung Jati (119B)
Relasi Semarang Tawang – Gambir
Sebelumnya: Bekasi, Jatinegara, Gambir

• KA Cakrabuana (121B)
Relasi Purwokerto – Gambir
Sebelumnya: Cikampek, Bekasi, Jatinegara, Gambir

• KA Cakrabuana (121B)
Relasi Purwokerto – Gambir
Sebelumnya: Cikampek, Bekasi, Jatinegara, Gambir

• KA Parahyangan (137B)
Relasi Bandung – Gambir
Sebelumnya: Bekasi, Jatinegara, Gambir

Selain penghapusan pemberhentian kereta di Stasiun Jatinegara, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Jakarta juga menerapkan perubahan pola perhentian KA yang berangkat dari wilayah Daop 1 Jakarta. Salah satunya KA Fajar Utama Yogyakarta (110B) relasi Pasar Senen-Yogyakarta. Sebelum 1 Desember 2025, KA berhenti di Stasiun Bekasi, Karawang dan Cikampek.

Penyesuaian pola operasi ini dilakukan dalam rangka memastikan keselamatan perjalanan, meningkatkan efisiensi operasi dan memaksimalkan kelancaran arus kedatangan serta keberangkatan kereta api (KA) di wilayah Daop 1 Jakarta.

KAI berharap calon penumpang dapat menyesuaikan rencana perjalanannya dengan perubahan yang mulai berlaku 1 Desember 2025. Serta mengimbau calon penumpang untuk selalu memperhatikan jadwal terbaru di aplikasi Access by KAI, website resmi KAI serta kanal informasi lainnya.

Pendatang Wajib Tahu! Inilah Stasiun Kereta Api Paling Populer di Seputar Jakarta

Ditunda Tahun Depan, Ini Alasan Stasiun Magetan Belum Bisa Pasang Monumen Lokomotif

Stasiun Magetan makin kesini makin diminati masyarakat. Ya, selama adanya kereta api (KA) lokal yang melayani rute Caruban – Madiun – Bandara Adi Soemarmo stasiun ini menjadi daya tarik bahkan menjadi magnet untuk perjalanan jarak menengah. KA Bandara Internasional Adi Soemarmo (Bias) sudah menjadi daya tarik masyarakat karena tarifnya yang relatif terjangkau.

Stasiun Magetan yang pada awal pembangunannya antara tahun 1883 hingga 1884 dikenal sebagai Halte Barat, kini menjadi satu-satunya stasiun kereta api aktif di Kabupaten Magetan.

Pada tahun 2019, stasiun ini resmi diubah namanya dari Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan atas usulan Pemerintah Kabupaten setempat untuk memperkuat identitas Magetan sebagai bagian dari jaringan transportasi nasional.

Menurut data yang disampaikan bahwa Stasiun Magetan punya potensi bagi penumpang yang hendak menuju kota Solo maupun ke bandara. Stasiun ini mencatatkan kinerja mobilitas yang stabil dengan melayani rata-rata 270-an penumpang setiap harinya, dengan volume penumpang bulanan mencapai sekitar 8.000 penumpang. Kenaikan signifikan juga turut didukung oleh beroperasinya layanan KA Bias tersebut.

Rangkaian KA Bias berhenti di Stasiun Magetan (Foto: Dok. Istimewa)

Layanan KA BIAS terbukti efektif meningkatkan konektivitas regional, dengan mengangkut sekitar 4.700 penumpang setiap bulan dari Stasiun Magetan. Antusiasme masyarakat, termasuk rombongan pelajar sekolah dan berbagai kalangan, cukup tinggi menggunakan layanan KA BIAS.

Dengan tingginya masyarakat menggunakan KA Bias sebagai transportasi yang efisien, ternyata Stasiun Magetan rencana akan memasang monumen yang ikonik di halaman stasiun. Ya, monumen lokomotif yang nantinya akan di pasang untuk stasiun yang meskipun tergolong stasiun kecil ini.

Namun sangat disayangkan, monumen yang harusnya bisa dinikmati pada tahun ini, harus tertunda hingga tahun depan. Meski demikian, pekerjaan konstruksi penopang monumen sudah mulai berjalan di kawasan Jalan Tebon–Stasiun Magetan.

Alasan ditunda tahun depan menurut Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan, Muhtar Wahid menerangkan proyek pemasangan lokomotif tersebut sempat terkendala secara teknis pada proses lelang.

Menurutnya, proyek tersebut sebelumnya dua kali gagal lelang lantaran tidak ada penyedia yang mampu menghadirkan crane berkapasitas 45 ton untuk mengangkat lokomotif milik PT KAI yang akan dijadikan monumen.

Konstruksi saat ini masih berjalan sesuai dengan pengerjaan dari dinas DPUPR dan masih terus dilakukan hingga target tercapai. Hingga saat ini belum diketahui lokomotif jenis apa yang akan dipasang di halaman Stasiun Magetan. Yang pasti monumen ini nantinya bisa dijadikan tempat yang ikonik bagi masyarakat yang ingin berswa foto dengan latar belakang monumen lokomotif dan Stasiun Magetan.

Dengan dimulainya pembangunan monumen tersebut, kawasan Stasiun Magetan dapat berkembang sebagai ikon baru sekaligus ruang publik yang lebih representatif bagi warga dan pendatang. Serta menjadikan Stasiun Magetan yang berperan sebagai gerbang masuk alternatif bagi wisatawan menuju Magetan ataupun kawasan wisata Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Hore! Stasiun Jakarta Kota Bakal Punya Monumen KRL, Ini Kata Dirut KCI

Antusias Masyarakat Pengguna KRL Sangat Tinggi, Perlukah Beroperasi 24 Jam?

Bagi warga Jabodetabek, transportasi umum semakin diminati. Praktis, mudah dan terjangkau itulah yang mereka rasakan saat menggunakannya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sebagai pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) tentu banyak sekali keuntungan yang didapat, salah satunya menghemat biaya dan waktu.

Nah, baru-baru ini kabar beredar bahwa cukup masyarakat menginginkan perjalanan KRL untuk beroperasi selama 24 jam. Alasannya tentu bagi pekerja yang pulang hingga larut malam sangat menantikan perjalanan KRL yang masih tersedia. Namun, hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Karena banyak sekali yang harus diperhitungkan dan juga perlu kajian dari berbagai pihak.

Menanggapi fenomena penumpang yang menginap di Stasiun Cikarang demi mengejar kereta pertama keesokan harinya, Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menilai wacana pengoperasian kereta rel listrik (KRL) selama 24 jam memerlukan kajian lebih dalam.

Penumpang KRL memadati Stasiun Jakarta Kota. (Foto: Dok. KCI)

Selain kajian sementara yang masih didalami, pihak dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) rencana tetap akan menambah perjalanan yang nantinya akan memiliki rangkaian tambahan KRL buatan PT Industri Kereta Api (INKA). Rangkaian baru yang saat ini berjalan masih tahap uji coba hingga waktu yang belum ditentukan.

Ada dua aspek utama yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan pengoperasian KRL selama 24 jam:

• Waktu di luar jam operasional, baik tengah malam hingga dini hari, sangat penting dan mutlak untuk kegiatan perawatan prasarana dan sarana perkeretaapian. Perawatan mencakup jalan rel, persinyalan, listrik aliran atas, hingga rangkaian KRL.

• Meski ada permintaan, KCI tetap harus mempertimbangkan kondisi jumlah penumpang pada lewat tengah malam yang umumnya sudah sangat sedikit. Hal ini berpotensi menimbulkan tantangan dari sisi efektivitas operasional maupun finansial.

Joni menyoroti pentingnya peningkatan keamanan bila operasional KRL benar-benar diperpanjang menjadi 24 jam. Ia menilai KCI perlu memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi penumpang yang terpaksa menginap di stasiun untuk menunggu kereta pertama.

Disisi lain, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga perlu berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dan melakukan perhitungan yang matang, baik dari sisi biaya maupun sisi pelayanan. Ketika waktu sudah lewat tengah malam, jumlah penumpang KRL semakin sedikit. Ini harus menjadi pertimbangan utama.

Meski begitu, bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi malam hari tetap ada. Serta adanya opsi pengoperasian KRL 24 jam yang tidak harus dilakukan secara penuh di semua jalur.

KRL Pakuan Ekspres – 39 Tahun Mengular Bogor-Jakarta Kini Digantikan Commuter Line