Serba Serbi Perjalanan KA Walahar yang Sangat Diminati Masyarakat

Perjalanan dari Cikarang menuju Purwakarta maupun sebaliknya memang tak luput dari incaran masyarakat. Setiap hari rangkaian kereta api (KA) selalu dipadati penumpang dari stasiun keberangkatan maupun dari stasiun yang dilewati. Ya, beginilah kondisi KA lokal yang sangat terjangkau itu dinamakan Walahar.

KA Walahar merupakan kereta api lokal kelas ekonomi yang melayani rute Cikarang – Purwakarta dan sebaliknya, dengan tarif Rp4.000 dan dilengkapi pendingin udara serta rak bagasi. Nama “Walahar” diambil dari Bendungan Walahar di Karawang, dan kereta ini dulunya bernama KA Cilamaya. Rute ini melalui beberapa stasiun penting, seperti Karawang dan Cikampek.

Dengan bagian interior yang terdiri dari 106 tempat duduk membuat penumpang yang naik bisa menempati kursi secara bebas tanpa harus sesuai dengan nomor kursi yang tertera di kereta. Terlebih batas maksimal penumpang KA Walahar adalah 150 persen, itu berarti penumpang yang tidak kebagian tempat duduk harus rela berdiri.

Siap-siap, Beli Tiket KA Jatiluhur dan Walahar akan Dilakukan Secara Online

Perjalanan KA Walahar memakan waktu lebih dari satu setengah jam, tergantung pada jam-jam tertentu. Karena ada sebagian jadwal KA Walahar ini berhenti di beberapa stasiun dengan cukup lama akibat disusul dengan kereta api jarak jauh. Meski begitu penumpang yang biasa menggunakan KA Walahar sudah biasa menunggu di stasiun yang cukup lama, bahkan mereka pun tahu jadwal mana yang harus menunggu dengan cukup lama.

 

KA Walahar berhenti di semua stasiun, mulai dari Stasiun Cikarang, Stasiun Lemah Abang, Stasiun Kedunggedeh, Stasiun Karawang, Stasiun Klari, Stasiun Kosambi, Stasiun Dawuan, Stasiun Cikampek, Stasiun Cibungur, dan berakhir di Stasiun Purwakarta.

Mengintip sejarah sebelum dioperasikan dengan nama ‘Walahar’, kereta ini diberi julukan ‘odong-odong’. Padahal istilah tersebut merujuk nama kereta lokal dengan rute Jakarta Kota/Tanjung Priok sampai dengan Cikampek pulang pergi. Uniknya lagi rangkaian kereta tersebut menggunakan jenis KRD (Kereta Rel Diesel). Tapi kereta ini sudah tidak lagi sebagai KRD, kereta ekonomi biasa yang ditarik lokomotif.

Nah, KA Walahar ini sempat terhenti pengoperasian sejak 24 April 2020 karena Pandemi Covid-19. Tapi saat mulai 1 Januari 2021 KA Walahar kembali dioperasikan. Tidak lupa PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mengingatkan kepada masyarakat yang ingin menggunakan layanan KA Lokal Walahar dapat melakukan pemesanan tiket melalui Aplikasi KAI Access H-7 sebelum keberangkatan.

Pastikan juga masyarakat memastikan jadwal KA Walahar tersebut melihat melalui aplikasi KAI Accees di ponsel atau bisa datang langsung ke stasiun yang disinggahi kereta tersebut. Namun, bagi masyarakat yang ingin membeli KA Walahar di stasiun, sudah tidak bisa dilakukan. Mengingat adanya perubahan peraturan kepada penumpang agar membeli melalui pemesanan di aplikasi KAI melalui ponsel.

Mengenal Walahar Express, Kereta “Odong-Odong” dari Purwakarta

[Hari ini 22 Tahun Lalu] Penerbangan Terakhir Concorde Pasca Polemik di Belakangnya

Tentu Anda semua sudah tidak asing lagi dengan nama Concorde, bukan? Ya, ini merupakan pesawat penumpang bertenaga supersonik buatan perusahaan Inggris – Perancis. Nama Concorde menjadi sangat terkenal hingga saat ini karena kecepatan maksimumnya yang sangat fantasis, menembus dua kali kecepatan suara atau yang berkisar 2.180 km per jam.

Namun sayang, umur pesawat ini tidaklah lama, hanya 27 tahun saja. Ya, pesawat yang pertama kali dipamerkan ke publik pada 21 Januari 1976 ini mengakhiri masa tugasnya pada 24 Oktober 2003 – dan tahukah Anda, bahwa hari ini, 26 November, persis 22 tahun yang lalu, Concorde melakukan penerbangan terakhirnya.

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, penerbangan terakhir dari Concorde yang jatuh pada tanggal 26 November 2003 ini terjadi manakala sang pesawat supersonik hendak kembali ke pangkalan udara yang berada di dekat Bristol, sebelah barat daya Inggris dari London Heathrow.

Lekang dalam ingatan, ada dua maskapai kenamaan dunia yang menggunakan jasa dari Concorde – Air France dan British Airways. Concorde sendiri tercatat mengalami beberapa kecelakaan, namun satu yang menjadi titik balik dari pesawat ini adalah manakala Concorde Air France (AF) 4590 jatuh beberapa saat setelah pesawat tinggal landas dari Bandara Charles de Gaulle Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Kala itu, pesawat hendak bertolak menuju New York, Amerika Serikat dan sekitar 56 detik setelah mengudara, mesin nomor 2 dari pesawat ini terbakar dan jatuh di sebuah hotel di daerah Gonesse, dekat Paris , sekitar 2,7 km dari Bandara Charles de Gaulle Paris. Walhasil, sebanyak 100 penumpang, 9 awak pesawat, dan 4  orang lainnya yang ada di  darat menjadi korban tewas dari insiden ini.

Ya, kecelakaan ini merupakan awal dari runtuhnya era penerbangan supersonik di dunia.

Pasca kecelakaan ini, seluruh pesawat Concorde yang ada dilayanan ditarik oleh pihak operator dan beragam upaya coba dilakukan oleh pihak pengembang agar pesawat ini bisa kembali mengudara. Ya, Concorde memang sempat dinyatakan sudah layak terbang pada November 2001, namun kepercayaan penumpang mulai pudar seiring gaung kecelakaan AF 4590 semakin melebar.

Belum lagi biaya pengoperasian yang sangat besar membuat pihak maskapai seolah enggan untuk ‘mempekerjakan’ pesawat ini kembali. Mimpi buruk bagi Concorde muncul ketika pada 31 Mei 2003, pihak Air France menghentikan seluruh pengoperasian dari pesawat ini, menyusul British Airways pada 24 Oktober 2003.

Dan kembali pada pokok permasalahan di atas, last-ever flight dari Concorde ini jatuh pada 26 November, 16 tahun silam. Terima kasih Concorde atas kenangan penerbangan supersonik yang sangat berkesan!

Pramugari Tolak Beri Upgrade Gratis, Penumpang Emirates Ini Justru Nikmati Penerbangan 14 Jam Sendirian

Pengalaman terbang sendirian di pesawat komersial, apalagi dalam penerbangan jarak jauh, adalah mimpi bagi setiap pelancong. Inilah yang dialami seorang penumpang wanita dalam penerbangan Emirates dari Brisbane, Australia, menuju Dubai. Namun, ada kejutan yang terjadi ketika ia meminta upgrade ke kelas yang lebih tinggi.

Wanita tersebut, yang terbang di kelas ekonomi, menemukan bahwa pesawat yang ia tumpangi—yang memiliki kapasitas ratusan kursi—hampir seluruhnya kosong. Dalam video yang ia bagikan, terlihat jelas deretan demi deretan kursi di depan dan belakangnya benar-benar tidak berpenghuni. Perjalanan 14 jam itu, menurutnya, terasa seperti “mimpi” karena ia memiliki kebebasan ruang tak terbatas.

Tertidur Sepanjang Perjalanan, Penumpang Air Canada Terbangun dalam Kabin Gelap dan Kosong

Ditawari ‘Poor-Man’s Lie-Flat’ Gratis
Merasa mendapatkan kesempatan emas, penumpang tersebut berniat meminta upgrade ke kelas bisnis (Business Class) atau kelas satu (First Class), bahkan ia bersedia membayar atau menggunakan poin miles yang dimilikinya.

Namun, di sinilah keunikan pelayanan maskapai Emirates terjadi. Ketika permintaannya disampaikan, salah satu pramugari justru memberikan saran yang tidak biasa. Pramugari tersebut menyarankan penumpang untuk tidak membuang-buang uang untuk upgrade.

Alasannya sederhana, dengan ruang yang begitu melimpah di kelas ekonomi, penumpang bisa mendapatkan manfaat utama dari kursi kelas bisnis—yaitu tempat tidur yang rata (lie-flat)—secara gratis dengan merebahkan diri melintasi deretan kursi kosong.

Kebahagiaan Kursi Kosong
Penumpang tersebut kemudian memutuskan untuk mengikuti saran pramugari tersebut. Alih-alih mendapatkan kenyamanan eksklusif suite kelas atas, ia menikmati kemewahan ruang: merebahkan tubuhnya melintasi tiga hingga empat kursi kosong di kelas ekonomi.

Pengalaman ini sering dijuluki oleh para frequent flyer sebagai “poor-man’s lie-flat seat” (kursi datar versi ‘orang miskin’). Berkat ruang yang tak terbatas, ia bisa tidur nyenyak sepanjang penerbangan 14 jam tersebut dan tiba di Dubai dalam keadaan segar dan beristirahat penuh.

Meskipun Emirates memiliki kebijakan upgrade yang ketat dan tidak memberikan upgrade gratis dengan mudah, dalam kasus ini, pramugari memilih memberikan solusi praktis. Kisah ini menjadi pengingat bahwa terkadang, ruang kosong di kelas ekonomi bisa memberikan pengalaman yang sama berharganya dengan kursi mahal di kelas bisnis.

Apakah Pramugari Izinkan Penumpang Tidur di Kursi Pesawat yang Kosong Bak di Kasur?

Motis Bakal Hadir Sambut Nataru 2025/2026, Catat Tanggal dan Syaratnya

Angkutan kereta api (KA) saat jelang tahun baru 2025 nanti masyarakat sudah ramai memesan tiket. Apalagi akhir tahun ini rangkaian KA akan ditambah jadwal perjalanannya sebagai KA tambahan yang bisa dipesan pada pertengahan Desember 2025 mendatang.

Dari beberapa KA tambahan yang bakal tersedia, masyarakat bisa juga membawa kendaraan seperti sepeda motor secara gratis yang akan hadir saat angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Ya, angkutan Motor Gratis (Motis) ini bakal kembali hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna KA yang ingin membawa kendaraannya.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan seluruh unsur KAI Group telah menyiapkan layanan menyeluruh. Peran transportasi publik menjadi kunci kelancaran perjalanan dan penggerak ekonomi lokal. KAI Group menyediakan kapasitas angkut 49.635.448 tempat duduk sepanjang masa Nataru tahun ini. Jumlah itu meningkat 8,9 persen dibanding tahun sebelumnya.

Angkutan Motor Gratis (Motis). Foto: Dok. KAI

Pendaftaran Motis ini bisa dilakukan mulai tanggal 1 Desember 2025 sampai 4 Januari 2026 dengan menyiapkan 14 lokasi pendaftaran, yakni di Stasiun Jakarta Gudang, Tangerang, Bekasi, Depok Baru, Cirebon Prujakan, Tegal, Pekalongan, Semarang Tawang, Purwokerto, Kebumen, Kutoarjo, Lempuyangan, dan Purwosari.

Untuk mengantisipasi tingginya permintaan, KAI menambah 54 perjalanan antarkota per hari sebagai opsi tambahan. KAI pun mengoperasikan ribuan perjalanan kereta untuk menyukseskan angkutan Nataru 2025/2026. Total perjalanan kereta api yang disiapkan mencapai 7.982 perjalanan yang terdiri dari reguler dan tambahan.

KAI juga kembali mendukung program pemerintah dengan menyelenggarakan Angkutan Motor Gratis (Motis) bersama DJKA. Motis menyediakan kapasitas 5.568 unit motor dan 12.720 penumpang pada 23–30 Desember 2025 dan 2–5 Januari 2026.

Pendaftaran Motis dibuka 1 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 di 14 stasiun yang ditetapkan. Selain itu, KAI memberikan diskon 30 persen untuk kelas Ekonomi Komersial dengan kuota besar.

Dikutip dari laman resmi DJKA Kemenhub, berikut beberapa ketentuan mendaftar Motis.
• Satu peserta harus memiliki KTP, Kartu Keluarga, SIM C.
• Motor dengan kapasitas mesin maksimal 200 cc.
• Satu motor dapat difasilitasi pembelian 2 tiket penumpang dan satu tiket infant (anak umur di bawah 3 tahun), dengan persyaratan:
– Pembelian tiket kereta api untuk peserta Motis adalah sesuai dengan nama peserta Motis yang terdaftar

– Penumpang kedua tercantum dalam Kartu Keluarga peserta yang terdaftar

– Tiket yang telah dibeli tidak dapat dibatalkan, diubah jadwal, dan perubahan nama penumpang

• Bagi peserta yang sudah berhasil mendaftar secara online wajib melakukan verifikasi ke Posko, sesuai dengan waktu verifikasi yang telah dipilih pada saat mendaftar, untuk menghindari terjadinya penghapusan pendaftaran secara otomatis.
• Sepeda motor diserahkan H-2 atau dua hari sebelum tanggal keberangkatan sepeda motor.
• Pada saat penyerahan sepeda motor, peserta wajib menunjukkan KTP Asli pendaftar dan bukti pendaftaran.
• Sepeda motor yang masuk di stasiun penyerahan maupun yang keluar di stasiun tujuan, akan dikenakan biaya parkir oleh pengelola parkir resmi stasiun.
• BBM wajib untuk dikosongkan pada saat penyerahan.
• Kode booking tiket kereta api akan diberikan pada saat penyerahan sepeda motor.

Yuk Mengenal Koleksi KA Lokal yang Dimiliki Wilayah Daop 8 Surabaya

Qatar Airways Umumkan Lebih dari 100 Pesawat Widebody Telah Dilengkapi Akses Internet Starlink

Qatar Airways, operator dengan jumlah pesawat widebody terbanyak yang dilengkapi Starlink, telah mencapai tonggak penting dalam program peluncuran Starlink-nya dan melengkapi lebih dari 100 pesawat widebody dengan WiFi tercepat di udara. Pencapaian ini merupakan salah satu program pemasangan Starlink paling cepat dan ambisius dalam industri penerbangan, yang diterapkan lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan semula, untuk menghadirkan layanan ini kepada penumpang lebih awal.

Dengan lebih dari 50 persen armada widebody-nya kini terhubung Starlink, Qatar Airways telah mengoperasikan lebih dari 30.000 penerbangan dengan konektivitas berkecepatan tinggi tanpa gangguan, dari gerbang ke gerbang*. Kecepatan ini semakin memperkuat posisi Qatar Airways sebagai satu-satunya maskapai di kawasan MENA yang saat ini menawarkan Starlink di pesawat, dan pemimpin global dalam konektivitas jarak jauh dan jarak ultra-jauh yang didukung Starlink.

Chief Executive Officer Qatar Airways Group, Engr. Badr Mohammed Al-Meer, mengatakan: “Qatar Airways terus memimpin industri dengan menetapkan standar baru melalui aksi nyata, bukan sekadar janji. Kami telah mempercepat peluncuran Starlink, melampaui jadwal semula karena menghadirkan pengalaman perjalanan terbaik bagi penumpang adalah prioritas kami, bukan sekadar rencana jangka panjang. Lebih dari 100 pesawat widebody telah dilengkapi Starlink sejak penerbangan pertama pada Oktober 2024, menegaskan komitmen tersebut. Kini hingga 200 penerbangan harian menuju destinasi utama telah terhubung Starlink, memungkinkan penumpang menikmati koneksi tanpa hambatan dengan kecepatan yang bahkan melampaui banyak layanan WiFi rumah. Baik untuk bekerja, streaming film dan olahraga, maupun tetap berkomunikasi dengan orang terdekat, konektivitas di ketinggian 35.000 kaki tidak pernah semudah ini.”

Starlink Sukses Uji Layanan WiFi Starlink di Boeing 777 Qatar Airways, Akses Gratis Buat Penumpang di 2025

Hingga saat ini, Qatar Airways telah menyelesaikan program peluncuran Boeing 777 dan dengan cepat menyelesaikan peluncuran Starlink di seluruh pesawat Airbus A350-nya, yang juga direncanakan selesai dalam waktu singkat. Seiring maskapai ini terus memperluas konektivitas Starlink di seluruh jaringan penerbangan globalnya yang mencakup lebih dari 170 destinasi, penumpang di setiap kabin menikmati konektivitas gratis, ultra-cepat, dari gerbang ke gerbang* pada penerbangan yang mencakup enam benua, termasuk penerbangan ke sebagian besar destinasi yang dilayani oleh Qatar Airways di Amerika dan Australia, serta pada rute-rute utama di Afrika, Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Terobosan dalam layanan ini mentransformasi pengalaman di pesawat bagi pelancong bisnis maupun liburan dengan memungkinkan streaming, bermain game, dan bekerja di ketinggian 35.000 kaki.

Qatar Airways adalah operator dengan jumlah pesawat widebody terbanyak yang dilengkapi Starlink dan satu-satunya maskapai di kawasan MENA yang saat ini menawarkan konektivitas Starlink dalam penerbangan, menegaskan kembali posisinya sebagai maskapai penerbangan terkemuka di dunia untuk inovasi, keandalan, dan pengalaman penumpang yang tak tertandingi.

Revolusi Langit: Starlink Bawa WiFi Berkecepatan Tinggi ke Pesawat Komersial

Gubernur DKI Targetkan Stasiun JIS Beroperasi Akhir Tahun 2025

Stasiun Commuter Line pada lintas Jakarta Kota – Tanjung Priok memang sudah cukup lama dan tak kunjung selesau. Ya, Stasiun Jakarta Internasional Stadium (JIS) yang saat ini masih belum bisa digunakan untuk masyarakat. Padahal pembangunan stasiun ini digadang-gadang agar lebih terjangkau dan mudah untuk masyarakat yang akan berkunjung ke-JIS tersebut.

Stasiun yang terletak di Jalan RE Martadinata, Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara ini terletak bersebelahan secara langsung dengan stadion JIS. Stasiun itu berada tepat di tengah-tengah antara proyek pembangunan jalan tol Harbour Road III dan gedung Kampung Susun Bayam.

Selama ini, seluruh pengunjung JIS dari luar Jakarta harus turun di Stasiun Commuter Ancol dan naik angkot M15 untuk menuju JIS. Moda transportasi lain adalah Transjakarta Koridor 14, 14A, 14B, dan 12P. Meski rencana akhir tahun stasiun ini akan rampung, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung selalu optimistis nantinya sudah bisa digunakan oleh masyarakat sebagai transportasi yang mudah dan praktis.

Peninjauan area lokasi Stasiun JIS oleh KAI dan jajaran lainnya. (Foto: Dok. KAI)

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga mengatakan stasiun baru di kawasan JIS akan meningkatkan kemudahan akses transportasi bagi masyarakat. Kawasan stadion sering menjadi pusat kegiatan besar yang membutuhkan dukungan transportasi publik yang lebih efisien.

Alasan awal Stasiun JIS dibangun yang berada di antara Stasiun Ancol dan Stasiun Tanjung Priok ini sebagai simpul baru jaringan mobilitas Jakarta. Lokasi ini dipilih untuk memperkuat peran kereta api dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta konektivitas kawasan perkotaan.

Kehadiran Stasiun JIS tentu akan mendukung pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) berbasis transportasi massal modern. Konsep ini mendorong masyarakat beraktivitas menggunakan moda publik yang ramah lingkungan dan efisien.

Pramono mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono terkait operasional Stasiun KRL JIS. Jika nantinya hal ini terwujud, kawasan JIS bisa menjadi legasi yang luar biasa.

Sebelumnya, Pramono mengakui masalah transportasi dan aksesibilitas menuju JIS selama ini dikeluhkan masyarakat, terutama saat acara besar seperti konser dan pertandingan sepak bola. Untuk mengatasi hal ini, Pemprov DKI Jakarta berencana mengintegrasikan area parkir Ancol dengan JIS.

Menurut Pramono, dalam waktu dekat wajah JIS akan berubah karena adanya pembangunan infrastruktur yang saling terhubung. Salah satunya adalah rencana pembangunan jembatan sepanjang 350 meter yang akan menghubungkan JIS dengan kawasan Ancol.

Dengan beroperasinya Stasiun JIS nanti, kedepannya masyarakat tentu akan memperoleh akses lebih mudah menuju kawasan utara Jakarta pada berbagai kegiatan besar. Proyek ini juga memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) dalam menghadirkan layanan transportasi publik berkelanjutan.

Jalur KRL Lintas Kemayoran – Ancol Hingga Kini Belum Digunakan, Ini Alasannya

Meski Vakum Selama 4 Tahun, Stasiun Argopuro Ternyata Memiliki Keunikan

Yang sering naik kereta api (KA) ke wilayah paling timur Pulau Jawa, pasti tidak asing dengan stasiun yang satu ini. Meski namanya tak berpengaruh dengan brand eksekutif, namun ternyata memiliki keunikan tersendiri. Ya, ini dia Stasiun Argopuro. Dari namanya memang tertulis “argo” yang tentu tahu merupakan kata lain selain eksekutif, tapi tentu bukan hal itu yang dimaksud.

Seperti yang dikabarkan dari berbagai sumber, ternyata stasiun kecil (kelas III) ini sempat beroperasi selama 4 tahun. Maksud dari tidak beroperasi tentunya bukan di non aktifkan, melainkan tidak digunakan sebagai angkutan penumpang. Jadi tidak ada kereta api penumpang yang singgah maupun berhenti di stasiun ini. Stasiun Argopuro berhenti melayani naik-turun penumpang hingga sekitar tahun 2021.

Dilihat dari keunikannya, ternyata stasiun ini memiliki bangunan yang mirip dari stasiun lain. Karena informasinya memang dibangun di waktu yang hampir bersamaan. Sejarahnya Karena ada tiga stasiun yang dibangun di sepanjang jalur kereta api sampai dengan Banyuwangi, yaitu Stasiun Karangasem (sekarang Banyuwangi Kota), Stasiun Argopuro, dan Stasiun Banyuwangi Baru (sekarang stasiun Ketapang).

Sejarah menyebutkan, saat itu jalur kereta api di Banyuwangi masih menggunakan jalur peninggalan Staatspoorwegen, perusahaan milik pemerintah Kolonial Belanda, yang dibuka pada tahun 1903 dan membentang dari Stasiun Kalisat hingga Stasiun Banyuwangi (lama).

Dari sana, angkutan pupuk dan barang kemudian diantar dengan kereta api hingga kawasan Pelabuhan Boom. Hanya, karena proses sedimentasi di sana, akhirnya pemerintah membangun Pelabuhan Tanjung Wangi (Pelabuhan Meneng).

Pemindahan pelabuhan itu berdampak pada aktivitas ekspor impor dan distribusi pupuk berpindah. Sehingga pemerintah berupaya membuat jalur baru KA hingga Pelabuhan Tanjung Wangi.

Saat ini, Stasiun Argopuro hanya melayani satu jenis kereta, yaitu KA Pandanwangi. Meskipun demikian, ke depan, stasiun ini direncanakan untuk melayani lebih banyak kereta baik jarak jauh maupun kereta komersial lainnya. Dengan kata lain, ada harapan untuk memperluas layanan dan meningkatkan konektivitas antar daerah.

KA Pandanwangi melintas di Stasiun Argopuro. (Foto: Dok. Radar Banyuwangi)

Dilansir dari laman stasiunfakta, berikut jadwal KA Pandanwangi yang berhenti di Stasiun Argopuro: KA 491A Pandanwangi berangkat dari Jember pukul 05.10, tiba di Argopuro pukul 08.11 dan melanjutkan perjalanan ke Ketapang. KA 493A Pandanwangi berangkat dari Jember pukul 14.15, dan tiba di Argopuro pukul 17.08. Selain itu, terdapat pula jadwal kereta dari arah Ketapang, yaitu KA 492A Pandanwangi yang berangkat pada pukul 09.50 dan KA 494A Pandanwangi pada pukul 18.15.

Cukup dengan Rp8.000 Sudah Bisa Merasakan Lewati Dua Terowongan Kereta Bersejarah

Zapata AirScooter: Wahana Terbang Pribadi Hybrid $200.000, Dirancang Tanpa Lisensi Pilot

Di balik perusahaan Zapata berdiri penemu dan juara jet ski Perancis, Franky Zapata. Setelah meraih ketenaran dunia dengan Flyboard Air (papan hover berdaya jet), Zapata kini meluncurkan produk yang lebih fokus pada pasar sipil yang disebut AirScooter.

Meskipun laporan awal mengaitkan harga US$250.000 dengan varian militer Flyboard Air (EZ-Fly), produk terbaru yang bernama AirScooter diperkirakan akan dijual sekitar US$200.000 per unit.

Dirancang oleh Franky Zapata, melalui perusahaannya Zapata Racing (sekarang menjadi Zapata Company), menciptakan kendaraan VTOL (Vertical Take-off and Landing) berkursi tunggal yang mudah dioperasikan (seperti skuter), sangat aman, dan dapat diterbangkan oleh masyarakat umum dengan pelatihan minimal.

Wahana ini didesain agar mudah diakses, mematuhi regulasi penerbangan ringan (seperti FAA Part 103 di AS), sehingga memungkinkan pengguna menerbangkannya tanpa memerlukan lisensi pilot setelah menjalani pelatihan singkat berbasis simulator.

Zapata AirScooter mengusung propulsi hybrid-electric (mesin bensin/jet fuel dan motor listrik). Berkat sistem propulsi hybrid yang efisien, jejak karbon AirScooter diklaim sebanding dengan mobil penumpang biasa.

Endurance terbangnya disebut lebih dari 2 jam, sementara kecepatan maksimalnya 100 km per jam dan kecepatan jelajah sekitar 80 km per jam. Untuk keamana, Zapata AirScooter menggunakan sistem Distributed Electric Propulsion (DEP) dengan banyak baling-baling/rotor, yang memberikan redundansi. Jika satu baling-baling mati, perangkat lain dapat mengambil alih, meningkatkan keselamatan penerbangan.

Zapata AirScooter mengusung kendali fly-by-wire berbantuan Komputer (dioperasikan dengan dua joystick). Kontrol fly-by-wire dirancang agar intuitif, sehingga pelatihan yang dibutuhkan minimal, biasanya hanya melalui kursus virtual reality dan simulator.

Berat kosong skuter udara ini adalah 112 kg, dan kapasitas muatan sekitar 120 kg. Secara teknis skuter ini mampu mencapai ketinggian hingga sekitar 3.000 meter.

Toyota dan Joby Aviation Tuntaskan Uji Terbang Taksi Udara Pertama di Jepang

Indonesia Menjadi Negara Pertama di Dunia yang Terapkan “Seamless Corridor” Biometrik

Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia telah menjadi otoritas pertama di dunia yang memperkenalkan koridor biometrik dalam skala besar dengan teknologi biometrik on-the-move (biometrik saat bergerak).

Inovasi baru dari Amadeus ini menggunakan biometrik berkemampuan AI (Kecerdasan Buatan) untuk memvalidasi identitas penumpang “sambil bergerak” melalui koridor lebar, tanpa perlu berhenti untuk menunjukkan dokumen secara manual kepada petugas perbatasan atau di konter. Teknologi ini mengubah proses imigrasi dari proses yang lambat dan dicirikan oleh antrean menjadi pengalaman yang cepat, lancar, dan tanpa hambatan.

Sebagai bagian dari inisiatif “All Indonesia,” sebuah program transformasi digital besar yang dipimpin pemerintah yang bertujuan merampingkan proses masuk bagi wisatawan internasional. Otoritas imigrasi Indonesia telah menyebarkan dua koridor biometrik di Bandara Jakarta (Soekarno-Hatta), dan satu koridor biometrik ketiga telah dipasang di Bandara Juanda Surabaya.

Proses Imigrasi Makin Cepat, Kini Total Ada 69 Unit Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Koridor ini akan memberikan prioritas pada lansia dan penumpang penyandang disabilitas di fase pertama. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia untuk merangkul teknologi transformatif bagi semua orang.

Dalam jangka panjang, aplikasi di masa depan diharapkan dapat diperluas untuk semua penumpang di seluruh infrastruktur bandara negara.

Wisatawan yang memerlukan bantuan khusus dapat mendaftar untuk menggunakan koridor biometrik baru melalui aplikasi “All Indonesia,” yang menyatukan deklarasi imigrasi, bea cukai, kesehatan, dan karantina menjadi satu pengalaman digital yang sederhana.

Sebagai verifikasi awal, pelancong dapat membagikan detail paspor mereka dari rumah, memungkinkan layanan imigrasi melakukan pemeriksaan latar belakang lanjutan sebelum pelancong tiba di bandara.

Di imigrasi, pelancong dapat berjalan dengan lancar melalui koridor khusus, yang memindai wajah mereka dan mencocokkannya dengan foto yang tersimpan untuk mengonfirmasi identitas mereka secara akurat saat mereka melintasi perbatasan.

Teknologi ini sebelumnya telah diuji selama musim haji, di mana telah memfasilitasi perjalanan sekitar 220.000 orang antara Indonesia dan Arab Saudi setiap tahun. Selama periode itu, koridor tersebut mampu memproses lebih dari 30 lintasan perbatasan per menit, peningkatan sepuluh kali lipat dalam kapasitas dibandingkan e-Gate biometrik biasa.

Inovasi seamless corridor ini diklaim sebagai peningkatan dari proyek biometrik yang pernah diumumkan oleh Emirates di Bandara Internasional Dubai pada 2018, karena teknologi ini menghilangkan kebutuhan akan e-Gate fisik (penumpang tidak perlu berhenti sama sekali).

Bikin Cemas dan Panik , Ini Beberapa Sebab Pemeriksaan Paspor di Bandara Bisa Berlangsung Lama

Setelah Jepang, Belanda dan Singapura, Airbus Luncurkan Tech Hub di Korea Selatan

Airbus mengumumkan pendirian Airbus Tech Hub di Korea Selatan. Berlokasi di Daejeon, pusat ekosistem riset dan pengembangan (R&D) nasional, pusat baru ini akan menjadi pusat riset dan inovasi kolaboratif, sekaligus memperkuat peran Korea Selatan sebagai mitra teknologi strategis bagi Airbus.

Airbus Tech Hub akan berfokus pada tiga pilar riset utama yang memanfaatkan kekuatan industri Korea Selatan, yakni pengembangan teknologi energi masa depan, komposit ringan tingkat lanjut, serta teknologi pertahanan dan antariksa generasi berikutnya.

Pendirian Airbus Tech Hub di Korea Selatan dilakukan melalui kerja sama erat dengan Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya (Ministry of Trade, Industry and Resources/MOTIR) serta Pemerintah Kota Daejeon.

“Setelah lebih dari lima dekade kemitraan industri yang sukses dengan Korea Selatan, peluncuran Airbus Tech Hub di Daejeon menjadi wujud nyata dari komitmen kami yang semakin kuat. Tech Hub ini memungkinkan Airbus untuk mengakses berbagai teknologi canggih di Korea Selatan, yang akan mempercepat pengembangan teknologi pesawat masa depan sekaligus memperkuat posisi Korea Selatan sebagai mitra jangka panjang yang tepercaya,” ujar Mark Bentall, Head of R&T Programme Airbus.

Untuk mempercepat misi Tech Hub, Airbus menandatangani tiga nota kesepahaman (MoU) dalam upacara peluncuran tersebut:

MoU pertama, dengan MOTIR, membentuk kerangka kerja yang memungkinkan Airbus meluncurkan proyek riset dan inovasi dengan cepat di dalam ekosistem teknologi Daejeon.

MoU kedua, dengan Pemerintah Kota Daejeon, menegaskan komitmen untuk mendukung dan mempercepat inisiatif riset dan inovasi Airbus di wilayah tersebut.

MoU ketiga, dengan Korea International Trade Association (KITA), berfokus pada pemanfaatan platform inovasi terbuka KITA untuk menjaring dan melibatkan mitra baru sesuai dengan area fokus teknologi Airbus.

Di antara proyek yang diumumkan pada peluncuran Airbus Tech Hub di Korea Selatan, Airbus menjalin kemitraan dengan LIG Nex1 untuk mengembangkan teknologi antena chip satelit (space chip antenna) yang digunakan untuk transmisi dan penerimaan sinyal komunikasi. Secara terpisah, Airbus menggandeng EMCoretech untuk mengembangkan teknologi penyaringan aktif (active filtering) yang dibutuhkan pada aplikasi elektrifikasi guna meredam electromagnetic interference (EMI).

Hubungan Airbus dengan Korea Selatan telah terjalin selama lebih dari 50 tahun, dimulai pada tahun 1974 saat Korean Air memesan pesawat berbadan lebar A300B4 edisi pertama. Sejak saat itu, Korea Selatan telah menjadi pelanggan sekaligus mitra utama bagi Airbus berbagai di lini bisnis termasuk pesawat komersial, pertahanan, antariksa, dan helikopter.

Sejarah Panjang Korean Air, Maskapai Nasional yang Awalnya Dimiliki Pemerintah

Kehadiran industri Airbus di Korea juga diperkuat oleh kemitraan jangka panjang dengan pemasok tingkat utama seperti Korea Aerospace Industries (KAI) dan Korean Air Aerospace Division (KAL-ASD).  Mereka memproduksi komponen penting untuk program pesawat sipil Airbus, termasuk struktur sayap, perakitan badan pesawat (fuselage), serta komponen komposit pesawat untuk keluarga A320, A330, dan A350. Selain itu, sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Korea Selatan juga berkontribusi dalam rantai pasok Airbus. Saat ini, pengadaan Airbus di Korea Selatan telah mendukung sekitar 6.000 tenaga kerja terampil dan memberikan kontribusi sekitar USD 600 juta per tahun bagi perekonomian lokal.

Tech Hub baru ini melengkapi pembukaan Composite Technology Centre (CTC), anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Airbus, di Busan. Kantor CTC yang baru akan bekerja sama dengan Busan Techno Park dalam riset dan pengembangan material komposit dan proses manufaktur yang canggih untuk industri kedirgantaraan.

Korea Selatan menjadi lokasi keempat dalam jaringan global Airbus Tech Hubs, mengikuti Jepang, Belanda, dan Singapura dengan fasilitas serupa. Proyek ini dirancang untuk mendorong kolaborasi antara industri, akademisi, lembaga pemerintah, dan start-up guna mempercepat inovasi dan mendorong batas-batas teknologi kedirgantaraan.