Setiap Warga Singapura Wajib Gunakan “TraceTogether” di Semua Tempat

Singapura akan mulai memasuki fase ketiga pembukaan kembali, dengan begitu pada akhir Desember 2020, semua orang diwajibkan untuk melakukan check in dengan aplikasi atau token TraceTogether. Check in tersebut akan dilakukan di semua tempat populer seperti restoran, tempat kerja, sekolah hingga pusat perbelanjaan.

Baca juga: Singapura Mulai Buka Akses Wisata, Semua Pelancong Tanpa Kecuali Wajib Gunakan Alat Pelacak

Nantinya check in menggunakan aplikasi atau token TraceTogether akan menggantikan penggunaan kode QR SafeEntry dengan kamera ponsel mereka, atau melalui aplikasi seluler atau kode batang SingPass di NRIC masyarakat. Di mana sebelumnya SafeEntry merupakan sistem check in digital nasional yang diamanatkan di semua tempat itu.

Dilansir dari straitstimes.com (20/10/2020) oleh KabarPenumpang.com, penggunaan TraceTogether secara wajib akan mulai di bioskop yang berada di antara tempat-tempat dengan aktivitas yang melibatkan kelompok orang yang lebih besar. Hal ini diungkapkan oleh gugus tugas multi kementerian yang menangani Covid-19 melalui konferensi virtual pada Selasa (20/10/2020).

Mereka mengatakan, tindakan tersebut bertujuan untuk mendapatkan setidaknya 70 persen dari populasi Singapura pada program TraceTogether yang merupakan sebuah teknologi pelacakan kontak untuk mendeteksi orang-orang yang pernah dekat dengan pasien Covid-19.

Menteri Pendidikan Lawrence Wong, salah satu ketua gugus tugas mengatakan, memiliki 70 persen populasi Singapura yang menggunakan TraceTogether adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi agar Singapura memasuki fase ketiga pembukaan dari lockdown.

“Saat kami memiliki tingkat penerimaan TT (TraceTogether) yang lebih tinggi dan penerapan SafeEntry khusus TT yang lebih luas dan transmisi komunitas selama periode ini tetap rendah, maka ada peluang bagus bagi kami untuk memasuki fase tiga pada akhir tahun, “katanya.

Tempat lain dengan check in TraceTogether wajib juga akan mencakup pertunjukan langsung, acara bisnis dan tempat ibadah dengan lebih dari 100 orang, kata Smart Nation and Digital Government Group (SNDGG). Aplikasi TraceTogether menyertakan fungsi untuk memindai kode QR SafeEntry, sementara token menggunakan kode QR dengan fungsi serupa. Wong mencatat bahwa hanya sekitar 2,5 juta orang, atau 45 persen dari populasi, saat ini menggunakan aplikasi atau token TraceTogether.

“Kami ingin itu lebih tinggi, agar TraceTogether efektif,” katanya.

Baca juga: Mulai Fase New Normal, Inilah Beragam Kebijakan dari Otoritas Darat Singapura

Saat ini sudah ada 38 pusat komunitas yang mendistribusikan token. Pada akhir November, token TraceTogether akan tersedia di semua 108 pusat komunitas di seluruh pulau. Aplikasi TraceTogether dan token berfungsi dengan menukar sinyal Bluetooth jarak pendek dengan aplikasi atau token lain di sekitar. Data kedekatan ini dienkripsi dan disimpan selama 25 hari sebelum dihapus secara otomatis. Awal bulan ini, SNDGG mengatakan lebih dari seratus ribu token telah dikumpulkan.

Penerbangan Terpanjang di Dunia Singapore Airlines Beroperasi Lagi, Malah Bakal Lebih Panjang

Penerbangan terpanjang di dunia oleh Singapore Airlines disebut akan dibuka kembali pada 9 November mendatang sejak ditutup pada 23 Maret lalu akibat virus Corona. Bahkan, penerbangan akan lebih panjang dari sebelumnya.

Baca juga: ‘Berkat’ Wabah Corona, Boeing 787 Dreamliner Air Tahiti Nui Pecahkan Rekor Penerbangan Terjauh

Hal itu dikarenakan terdapat sedikit perubahan rute, dari semula sejauh 9.534 mil atau 15.322 kilometer, antara Singapura ke Newark, New Jersey, AS, menjadi 9.536 mil atau 15.346, antara Singapura ke Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York, AS.

Dilansir CNN International, pengalihan rute ini mau tak mau bakal membuat maskapai lebih selektif dalam menata komposisi kargo dan penumpang. Hal itu bertujuan agar pesawat tak kehabisan bahan bakar sebelum mencapai tujuan akhir. “Mengakomodasi campuran penumpang dan kargo dengan lebih baik. (hal itu tak sulit) dalam iklim penerbangan seperti saat ini,” tulis Singapore Airlines dalam sebuah pernyataan.

Kendati pun banyak pengamat penerbangan dunia memprediksi bahwa penerbangan jarak jauh sulit pulih alias kurang diminati di masa pandemi Covid-19, Singapore Airlines (SIA) tetap percaya diri untuk membuka kembali penerbangan terpanjang di dunia pasca lockdown tersebut.

Maskapai juga sudah membuat skema tertentu bilamana penerbangan terpanjang di dunia ini sepi peminat. “Sementara jumlah penumpang menurun, maskapai mengantisipasi permintaan kargo yang signifikan termasuk (permintaan dari) perusahaan farmasi, e-commerce, dan teknologi,” bunyi lain dalam pernyataan SIA.

Lagi pula, dengan kebijakan pembatasan masuk oleh Singapura selain warga negara Singapura, pemegang visa, dan traveller dari berbagai negara yang memenuhi syarat “Air Travel Pass” seperti Australia, Brunei Darussalam, Selandia Baru, dan Vietnam, serta Malaysia, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa provinsi di Cina daratan, jumlah penumpang di rute tersebut memang tak akan se-ramai biasanya.

Akan tetapi, penerbangan tersebut penting untuk menandakan kembalinya penerbangan internasional. Sekalipun di awal-awal cenderung sepi, tak menutup kemungkinan di beberapa bulan ke depan rute tersebut perlahan pulih, imbas rencana bepergian traveller sejak penerbangan terpanjang di dunia ini kembali dibuka.

Penerbangan tersebut dijadwalkan sebanyak tiga kali dalam sepekan, menggunakan Airbus A350-900 dengan konfigurasi 187 kursi ekonomi, 24 kelas ekonomi premium, dan 42 kelas bisnis.

Baca juga: Singapore Airlines Buka (Kembali) Penerbangan Langsung Singapura – Newark

Singapore Airlines berjanji akan sesegera mungkin membuka layanan internasional lainnya usai rute terpanjang di dunia, antara Bandara Changi dan Bandara JFK sukses mengudara selama beberapa pekan. Hal itu dilakukan untuk mengukur sejauh mana respon pasar terhadap rute-rute internasional mereka, selain juga mengamati rute internasional oleh maskapai lain.

Penerbangan dari Singapura ke JFK akan memakan waktu 18 jam 5 menit, sedangkan JFK ke Singapura akan memakan waktu 18 jam 40 menit akibat headwind.

Mengapa Jendela Belakang Airbus A340 Miring ke Atas?

Airbus A340 memiliki beberapa fitur yang membuatnya berbeda dengan pesawat lain. Misalnya, tak banyak pesawat widebody dengan empat mesin yang hanya memiliki satu dek penumpang. Hal itu berbeda dengan Boeing 747 Queen of the Skies dan pesawat jet komersial terbesar di dunia, Airbus A380 superjumbo.

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Tak cukup sampai di situ, bila diperhatikan lebih mendetail, rupanya terdapat fitur lain yang membuatnya mudah dikenali, yakni jendela belakang yang miring ke atas.

Dilansir Simple Flying, Airbus A340 pertama kali masuk ke dalam layanan bersama Lufthansa pada Maret 1993 silam. Itu berarti tahun depan, pesawat ini akan bakal merayakan hari jadinya yang ke-30. Selama periode itu, pesawat terus-menerus menghiasi langit internasional dengan desain jendela belakang pesawat yang miring.

Jendela belakang serta fuselage floor slope yang dibuat miring ke arah ekor sebetulnya tak lebih dari sekedar fitur yang juga dapat ditemukan di banyak pesawat Airbus lainnya. Menurut salah seorang sumber di Airliners.net, jendela belakang miring cukup umum ditemukan di antara pesawat widebody Airbus. Lebih lanjut, dalam forum diskusi online Quora, jendela belakang miring juga bisa ditemukan di Airbus A300, A310, A330, dan A340.

Akan tetapi, alasan logis untuk itu adalah Airbus ingin mendapatkan sedikit space di bagian bawah kabin. Dengan membuat jendela bekalang pesawat miring sekitar 1 derajat, muatan barang ke dalam kargo pesawat atau ULD (Unit Load Devices) bisa lebih maksimal.

Dalam konteks saat ini, dimana banyak pesawat umumnya tak hanya mengejar efektivitas melainkan juga efisiensi, fitur tersebut sangat berguna. Seorang pilot Airbus A320 dan 321, Anas Maaz, mengungkap bahwa fitur tersebut juga berguna untuk mengurangi biaya desain pesawat. Lebih dari itu, lantai dan jendela belakang pesawat miring akan memberikan ruang kabin yang lebih luas.

Di samping itu, Airbus A340 juga terkenal di kalangan avgeeks sebagai pesawat dengan kemampuan lepas landas panjang serta sudut yang cukup vertikal. Biasanya pesawat lepas landas dengan posisi sudut kemiringan yang tidak terlalu vertikal (sekitar 45 derajat), demi menjaga kenyamanan penumpang. Tetapi, A340 dinilai lebih dari itu.

Baca juga: Inilah Kaca Elektrokromik yang Bikin Jendela Pesawat Tak Perlu Tirai

Sehingga, dengan membuat desain jendela serta fuselage floor slope belakang miring ke atas mengikuti ekor, gesekan atau benturan antara ekor dengan runway bisa terhindar. Dari segi aerodinamika, desain tersebut menghasilkan drag yang lebih rendah dibanding desain konvensional. Drag sendiri adalah gaya hambat yang yang dikarenakan adanya gesekan dan tahanan antara permukaan pesawat (wing, fuselage, dan objek yang berada di pesawat) dengan udara.

Meski tak terlalu sukses di pasaran, namun berkat berbagai fitur uniknya, A340 dapat dikatakan legendaris; apalagi setelah Airbus mengumumkan stop produksi pada 2011 lalu. Sekalipun sempat diisukan bakal come back menjadi A340 NEO, pandemi virus Corona nampaknya benar-benar mengubur A340 sebagai salah satu pesawat ikonik Airbus yang saat ini menyisakan sekitar 370 unit di dunia, dimana sebagian besar digunakan oleh maskapai Jerman, Lufthansa.

Pramugari Beberkan Rahasia Mencengangkan Soal Emergency Evacuation Slide Pesawat

Profesi pramugari bisa dibilang mendapat tempat cukup tinggi dalam strata sosial di Indonesia. Umumnya, seseorang dengan profesi tersebut bergelimang harta dan dekat sekali dengan segala sesuatu tentang kemewahan.

Baca juga: Bak Tanpa Riasan Penuh, Inilah Rahasia Cantik ala Pramugari Singapore Airlines

Di balik semua itu, sebetulnya perjalanan pramugari mengumpulkan pundi-pundi rupiah tidaklah mudah. Di antara sekian banyak tugas dan tanggung jawabnya, yang paling utama tentu menjaga keselamatan para penumpang di pesawat dan melayani kebutuhan penumpang.

Menjaga keselamatan dan melayani kebutuhan penumpang bahkan harus tetap didahulukan sekalipun dalam kondisi genting. Representasi dari itu, insiden yang menimpa Neerja Bhanot mungkin bisa jadi cerminan tepat.

Kala itu, pramugari yang belum genap berusia 23 tahun itu harus meregang nyawa setelah diberedel senapan dari para pemberontak. Padahal, sesaat sebelum ditembak, ia memiliki kesempatan melarikan diri, namun, ia memilih untuk menyelamatkan penumpang terlebih dahulu sebelum dirinya.

Ketika terjadi kecelakaan, saat penumpang lain sibuk menyelamatkan diri, pramugari juga tak lantas melakukan hal serupa, melainkan membuka pintu pesawat serta emergency dan mengaktifkan fitur emergency evacuation slide. Setelah itu, barulah penumpang dapat melarikan diri dari kabin.

Terkait emergency evacuation slide, cara kerja fitur ini bisa dibilang mudah, begitu juga saat mengaktifkan dan menggunakannya. Hal itu –mudah mengoperasikan- sepertinya sudah menjadi sebuah kewajiban mengingat fitur tersebut dipersiapkan memang untuk keadaan darurat.

Mula-mula, saat terjadi keadaan darurat, awak kabin akan memutar tuas slide posisi armed. Letaknya ada di pintu pesawat. Setelah itu pintu dibuka dan evacuation slide siap digunakan. Biasanya –sebagaimana rekomendasi FAA- evacuation slide akan siap digunakan setelah enam detik. Penumpang cukup menjatuhkan diri ke evacuation slide dengan posisi berbaring menghadap ke langit untuk membantunya meluncur ke permukaan.

Secara teknis, mungkin cara mengaktifkan fitur emergency evacuation slide nampak cukup mudah. Namun, belum lama ini, seorang pramugari yang tak ingin disebutkan namanya membeberkan rahasia tak mengenakkan dibalik fitur tersebut.

Dilansir express.co.uk, pramugari tersebut mengungkap bahwa ia seperti tersengat listrik setiap kali mengoperasikan itu saat pelatihan. Menariknya lagi, dalam forum Reddit tersebut, ia juga terus terang bahwa karena efek kejut seperti tersengat listrik itu teramat sering terjadi, pada akhirnya ia tak pernah mengaktifkan fitur tersebut sekalipun dalam kondisi darurat.

Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

Beruntung, sengatan listrik tersebut dilaporkan tak berbahaya. Hal itu lebih dikarenakan perbedaan kondisi antara slide itu sendiri dengan permukaan tuas slide. Ketika tubuh manusia menyerap terlalu banyak elektron kecil dari kain tertentu yang bermuatan negatif – dalam hal ini, bahan seperti karet pada slide, maka, saat elektron ini bersentuhan dengan permukaan bermuatan positif, neutron bermuatan negatif melompat ke atasnya sehingga seperti menghasilkan efek kejut.

Meski demikian, belum diketahui secara pasti, apakah sesuatu yang tak mengenakkan tersebut juga terjadi oleh pramugari di seluruh dunia atau tidak, tak peduli dimana dan apa jenis pesawatnya.

100 Halte Penjemputan dan Pengantaran Taksi Nirawak Bakal Dibuka di Beijing

Sejak 10 Oktober kemarin, taksi tak berawak (nirawak) mulai beroperasi secara penuh di Beijing, Cina. Layanan taksi ini dibuka oleh China Baidu Inc yang resmi meluncurkan Apollo Go Robotaxi. Baidu sendiri menghadirkan 40 armada yang akan melayani cakupan area total terluas dan jaringan jalan terpanjang sekitar 700 km untuk area uji mengemudi otonom di Negeri Tirai Bambu.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

Bahkan saat ini sebanyak 13 halte penjemputan dan pengantaran sudah dibuka untuk umum dan sudah mendirikan hampir 100 halte yang belum dibuka di Beijing. Dilansir KabarPenumpang.com dari syncedreview.com (19/10/2020), pada saat ini layanan taksi pengemudi Baidu memberikan tumpangan gratis kepada penumpang dengan memanggil melalui Baidu Maps atau aplikasi Apollo Go tanpa perlu reservasi terlebih dahulu.

Untuk penumpangnya pun harus berusia 18 hingga 60 tahun dan anak-anak serta lansia tidak dapat ikut mencoba layanan ini. Saat ini Beijing menjadi kota ketiga yang mengoperasikan taksi tak berawak tersebut. Sebab pada April kemarin di Changsha, Hunan, dan Cangzhou di Heibei pada Agustus lalu layanan ini sudah beroperasi.

Ketua dan CEO Baidu Robin Li, teknologi self-driving diharapkan menjadi saksi penerapan komersial skala besar dalam lima tahun ke depan. Li membuat pernyataan di Baidu World 2020, konferensi teknologi andalan tahunan perusahaan yang diadakan di Beijing bulan lalu.

Menurut dia, infrastruktur cerdas berbasis sistem koordinasi kendaraan-jalan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi lalu lintas sebesar 15 hingga 30 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi absolut sebesar 2,4 persen hingga 4,8 persen.

“China memimpin dalam sektor mengemudi otonom di seluruh dunia,” kata Li Zhenyu, wakil presiden perusahaan Baidu dan manajer umum grup penggerak cerdas perusahaan.

Dia mengatakan bahwa Baidu Apollo akan terus mendorong penerapan komersial otonom mengemudi. Sebab, mengemudi secara otonom jelas merupakan arah pengembangan masa depan industri mobil. Ini tidak hanya memecahkan masalah keselamatan lalu lintas, tetapi juga sangat meningkatkan efisiensi transportasi, membawa manfaat ekonomi dan membebaskan orang dari pengemudian berulang, kata Jiang Zheng, seorang  ahli mengemudi di pusat penelitian dan pengembangan GAC China.

Baca juga: Mobil Golf Semi-Otonom Mudahkan Para Lansia di Desa Pegunungan Jepang

Jiang menambahkan, meluncuran layanan taksi tanpa pengemudi di beberapa area yang ditentukan mungkin merupakan skenario aplikasi terbaik untuk teknologi tersebut karena tingginya biaya operasional kendaraan pribadi. Cina berencana untuk mewujudkan produksi skala kendaraan yang mampu mengemudi otonom bersyarat dan komersialisasi kendaraan yang sangat otonom dalam keadaan tertentu pada tahun 2025, menurut cetak biru yang dikeluarkan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, dan sembilan lainnya.

Susul Singapore Airlines, Qatar Airways Luncurkan Menu Vegetarian

Qatar Airways belum lama ini mulai menghidangkan rangkaian menu à la carte vegan pertamanya untuk penumpang kelas bisnis di semua rute. Selain untuk memenuhi tingginya permintaan akan makanan berbahan dasar nabati, hidangan vegan (vegetarian) dalam menu à la carte itu juga ditujukan untuk memperluas khazanah kuliner para penumpang.

Baca juga: Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

Dari rilis resmi perusahaan yang diterima redaksi KabarPenumpang.com, hidangan vegan yang ditawarkan Qatar Airways termasuk moutabel asap, lukini spiral dan saus arrabbiata, tortellini tahu dan bayam, tahu barbekyu Asia, mie, daun bawang dan shiitake, tahu goreng dengan tajine sayuran, couscous kembang kol dan kalamata bruschetta, dan omelet tepung kacang arab.

Semua bahan-bahan makanan itu menggunakan campuran lokal dan internasional dengan tetap mempertahankan standar halal khas maskapai peraih predikat maskapai penerbangan terbaik di dunia tahun 2019 versi Skytrax ini. Tak hanya menonjolkan segi cita rasa, rangkaian hidangan vegan Qatar Airways juga didesain agar tetap ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Seluruh pelanggan kelas bisnis maskapai sudah bisa mencicipi menu vegan tersebut di setiap keberangkatan dari Bandara Internasional Hamad, serta sejumlah penerbangan tertentu menuju Doha, Qatar. Namun tak disebutkan dengan rinci penerbangan tertentu yang dimaksud. Entah khusus penerbangan Asia-Doha, atau penerbangan lainnya. Bila penerbangan Asia-Doha yang dimaksud, tentu sebuah kabar baik untuk pelanggan setia Qatar Airways di Indonesia.

Pasalnya, sejak 1 Juli lalu, maskapai pemegang penghargaan ‘Kelas Bisnis Terbaik di Dunia’ dan ‘Kursi Kelas Bisnis Terbaik’ ini sudah mulai melayani rute Doha – Denpasar. Layanan penerbangan Doha – Denpasar dibuka setiap hari. Penerbangan langsung jarak jauh ini menggunakan jenis pesawat Boeing 787-800 Dreamliner dengan konfigurasi 22 kursi flatbed di kelas bisnis dan 232 kursi di kelas ekonomi.

Atas terobosan hidangan vegan pertama maskapai dalam menu à la carte, CEO Qatar Airways Group, Akbar Al Baker, mengatakan, “Kami selalu berusaha memberikan pengalaman yang autentik, juga memanjakan pelanggan selagi terbang bersama kami. Kami dengan senang hati menambahkan pilihan hidangan utama vegan ke dalam menu penerbangan kami, menawarkan pilihan gaya hidup lain bagi penumpang dan memberikan ekspektasi berbeda dari sebuah maskapai bintang lima.”

Selain menyediakan menu vegan, maskapai yang belum lama ini memberikan 21 ribu tiket gratis untuk para guru ini juga menawarkan sajian khusus bagi penumpang tertentu. Menu khusus ini dapat dipesan hingga 24 jam sebelum keberangkatan.

Baca juga: Qatar Airways Kembali Layani Penerbangan Setiap Hari ke Denpasar dan Jakarta

Sajian khusus yang dimaksud seperti menu untuk penumpang anak-anak, makanan vegetarian atau makanan yang bahan dasarnya tidak termasuk dalam bahan-bahan yang dilarang oleh agama atau kepercayaan tertentu (religious meal), dan makanan untuk menunjang kebutuhan medis atau kesehatan.

Qatar Airways tentu bukan yang pertama di dunia. Sebelumnya, Singapore Airlines sudah lebih dahulu meluncurkan menu vegetarian atau berbahan dasar nabati untuk para pelanggan setianya.

United Airlines Larang Awak Kabin Berbagi Kasur dalam Penerbangan Jarak Jauh

Ketika penerbangan mulai kembali ke rute internasional, awak kabin akan kembali berbagi waktu istirahat selama penerbangan. Namun meski hal itu terjadi, United Airlines memerintahkan agar para awak kabin untuk berhenti berbagi tempat tidur di pesawat yang dilengkapi dengan tempat tidur awak.

Baca juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat

Ini dilakukan maskapai yang berbasis di Chicago tersebut untuk menghentikan penyebaran virus penyebab Covid-19. KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (17/10/2020), sebelum pandemi, awak kabin akan menggunakan ranjang yang sama saat mereka berganti shift, tetapi penasihat medis sekarang melarang awak kabin melakukan itu.

Hal tersebut karena takut awak kabin yang terinfeksi tanpa disadari juga menginfeksi rekan yang lainnya. Untuk itu, United Airlines dan Klinik Cleveland membuat aturan, di mana setiap tempat tidur hanya dapat digunakan sekali per penerbangan.

Kebijakan baru ini mulai berlaku Kamis (15/10/2020), dan memungkinkan akan tetap berlaku di masa depan. Perubahan terjadi saat United mulai meningkatkan penerbangan internasional jarak jauh di mana istirahat awak kabin adalah hal yang umum dilakukan.

United Airlines yang bekerja sama dengan Klinik Cleveland serta merek pembersih rumah tangga Clorox sejak bulai Mei lalu, mengembangkan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan baru untuk memerangi Covid-19. Bahkan pakar medis Klinik Cleveland menasihati manajer maskapai penerbangan terkait kebijakan jarak dan pembersihan sosial.

Pada bulan Agustus, United mulai menggunakan tongkat cahaya Ultraviolet C (UVC) khusus untuk mendisinfeksi kontrol dek penerbangan atas saran dari Klinik Cleveland. Sebelumnya pada bulan Juni lalu, maskapai penerbangan meluncurkan penilaian kesehatan mandiri sebelum penerbangan wajib untuk penumpang berdasarkan rekomendasi dari tim medis yang sama.

United juga mempertegas kebijakan penggunaan masker wajah dalam kabinnya dan secara efektif melarang siapa pun terbang tanpa menggunakan masker. Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat bekerja sama dengan United menemukan kemungkinan tertular Covid-19 di pesawat hampir tidak ada selama semua orang mengenakan masker.

Awak kabin dan staf United lainnya yang berhadapan dengan pelanggan harus mengenakan masker wajah setiap saat di dalam pesawat dan dapat menghadapi tindakan disipliner jika mereka tidak mematuhinya. Awak kabin dengan pengecualian medis telah dialihkan ke tugas alternatif.

Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat

Pilot, bagaimanapun, dapat melepas masker wajah mereka sekali di dek penerbangan jika menurut mereka memakai masker dapat menghambat kinerja mereka atau menimbulkan risiko keselamatan.

Qantas-Vietnam Airlines ‘Cerai’, Saham Jetstar Pacific Jadi Milik Pemerintah Vietnam

Qantas dan Vietnam Airlines dikabarkan telah mencapai kesepakatan terkait penarikan diri maskapai asal Negeri Kanguru dari maskapai joint venture mereka, Jetstar Pacific. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi Covid-19 yang membuat penerbangan penumpang di seluruh dunia anjlok hingga maskapai kesulitan keuangan.

Baca juga: Tak Seperti Negaranya, Vietnam Airlines Rugi Rp6,7 Triliun Gegara Covid-19

Dilansir Simple Flying, sinyal keluarnya Qantas dari perusahaan patungannya dengan maskapai nasional Vietnam itu sudah muncul sejak Juni lalu. Kala itu, Qantas menyatakan bahwa sudah saatnya menarik diri dari Jetstar Pacific.

Selama bulan Juni itu, kedua belah pihak membuka pembicaraan terkait masa depan maskapai. Meskipun sempat menarik perhatian di awal kemunculan, nyatanya Jetstar Pacific memang kalah bersaing dengan maskapai swasta Vietnam, seperti Bamboo Airways dan VietJet. Sebagai BUMN, Jetstar Pacific dinilai lamban untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan penumpang.

Kondisi tersebut pun diperpuruk setelah menginjak tahun 2020. Pandemi virus Corona yang berkepanjangan membuat Jetstar Pacific menjadi beban tersendiri untuk Qantas; serta, tentu saja untuk Vietnam Airlines. Maskapai nasional Australia itu pun berdalih bahwa pihaknya ingin fokus pada entitas bisnis lainnya dan merelakan Jetstar Pacific.

“Kami telah berdiskusi dengan Vietnam Airlines selama beberapa waktu tentang tantangan yang dihadapi Jetstar Pacific, yang jelas-jelas telah meningkat melalui krisis akibat pandemi Covid-19,” kata Gareth Evans, CEO Jetstar, dalam sebuah pernyataan.

Diketahui, sejak 2010 lalu, Qantas memiliki sekitar 30 persen saham. Angka tersebut meningkat dari tiga tahun sebelumnya sebesar 18 persen saham, dengan mahar sebesar US$30 juta. Nantinya, saham Qantas di maskapai yang pernah berubah nama dari Pacific Airlines menjadi Jetstar Pacific ini akan ditebus oleh pemerintah Vietnam.

“Vietnam Airlines telah melapor ke otoritas terkait dan sedang mengerjakan beberapa prosedur untuk mempersiapkan pengumuman resmi yang diharapkan pada akhir Oktober,” ujar Dang Anh Tuan, juru bicara Vietnam Airlines.

Walaupun Qantas belum resmi menarik diri dari Jetstar Pacific, Tuan mengungkap bahwa dalam waktu dekat maskapai tersebut akan berganti nama kembali menjadi Pacific Airlines, sebagaimana kemunculan maskapai di awal.

Baca juga: Di Ambang Kebangkrutan, Air Asia X Pamit dari Indonesia

Layaknya, Qantas dan maskapai lain di dunia, keuangan Vietnam Airlines juga tengah tercekik akibat pandemi virus Corona. Selama sembilan bulan atau hingga kuartal ketiga 2020, maskapai yang berdiri sejak 1956 ini tercatat membukukan kerugian bersih sebesar US$463 juta atau Rp6,7 triliun (kurs Rp14.700).

Sekalipun ‘perceraian’ Qantas-Vietnam Airlines dalam maskapai joint venture mereka lebih disebabkan penarikan diri oleh Qantas, namun, sulitnya keuangan Vietnam Airlines bukan tak mungkin juga jadi pemulus langkah tersebut.

Bos Maskapai Penerbangan Dunia: Penumpang Inginkan Sekat Partisi di Kabin Pesawat Hindari Corona

Penumpang pesawat di seluruh dunia disebut menginginkan adanya sekat partisi di kabin. Sekalipun pesawat modern sudah dilengkapi dengan filter udara HEPA, namun, penumpang membutuhkan aksi nyata dari maskapai sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap keamanan dan keselamatan di dalam kabin.

Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih

Lagi pula, tak semua penumpang percaya teknologi canggih semacam HEPA dan lebih mengkhawatirkan Covid-19 itu sendiri. Setidaknya, begitulah pandangan dari para petinggi maskapai penerbangan di dunia.

Dilansir Traveller, dalam konferensi MRO Asia-Pacific yang dihelat secara daring belum lama ini, pandemi virus Corona memang membuat maskapai udara disusupi kenormalan baru.

Selain membuat barrier atau sekat partisi di kabin, pandemi juga mendorong beberapa perubahan seperti adanya lebih banyak kursi kelas bisnis sekalipun di pesawat narrowbody, menambahkan fitur toilet tanpa sentuhan, serta konversi kabin/pesawat penumpang menjadi kargo.

Kebutuhan sekat partisi atau perisai di pesawat saat ini sedang menjadi salah satu fokus utama produsen pesawat global. Embraer, misalnya, dikabarkan sedang sibuk menyelesaikan studi tentang penggunaan sekat plastik reusable dan sekali pakai untuk seluruh jet regionalnya.

Menurut Lais Port Antunes, manager pengembangan bisnis Asia-Pasifik Embraer, tantangan untuk itu ialah bagaimana membuat sekat plastik itu ringan, tidak mudah terbakar, tidak menyulitkan proses pembersihan, dan evakuasi saat terjadi keadaan darurat.

Senada dengan Antunes, Tan Hean Seng, salah satu petinggi Singapore Technologies Engineering, menyebut, “Dengan adanya pelindung di antara kursi, penumpang dapat merasa lebih aman, terutama pada waktu makan saat penumpang melepas masker dan ada potensi kontaminasi.”

Selain produsen pesawat, perusahaan interior pesawat sebetulnya sudah sejak lama coba menawarkan solusi sekat partisi dengan beragam bahan, model, dan bentuk. Namun, tujuannya tetap sama, membatasi droplet langsung antar penumpang.

Aviointeriors, misalnya, meluncurkan desain sebuah kursi penumpang ‘anti’ corona sejak April lalu. Perusahaan yang fokus memproduksi produk-produk interior pesawat dan kursi penumpang ini menawarkan solusi aman dari corona saat di kabin dengan menambahkan semacam akrilik ke setiap kursi yang mengapit penumpang.

Desain yang disebut Glassafe tersebut diklaim mampu membatasi kontak langsung dengan penumpang yang disebelahnya (kiri dan kanan untuk kursi di bagian tengah). Bila diperhatikan lebih detail, sebetulnya konsep seperti itu sudah mulai diberlakukan di banyak sektor, mulai dari perbankan, percetakan, dan beberapa sektor lainnya yang memungkinkan adanya kontak langsung antara klien dan petugas dalam jarak kurang dari satu atau satu setengah meter.

Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Serupa tapi tak sama, cocoon concept juga menawarkan keamanan lebih saat di kabin. Konsep desain interior yang juga disebut Priva buatan Golnoosh Torkashvand, mahasiswi Florida Institute of Technology, AS, ini dinilai mampu membatasi transmisi penyebaran virus corona agar tak meluas antar penumpang yang duduk berdampingan. Bentuknya nyaris menyerupai tabung yang menutupi sebagian tubuh bagian atas penumpang.

Menariknya, bukan hanya melindungi penumpang, sekat partisi Priva juga dapat bernilai artistik dengan perubahan warna pada sekat sesuai permintaan. Begitupun juga dengan tingkat pencahayaannya. Tak lupa, inovator juga menyisipkan fitur yang dapat membuat sistem messenger antara pengguna di setiap kursi dengan pramugari.

Taksi Air Jadi Salah Satu Solusi Transportasi Bagi Warga Kerala di India

India mulai mengambangkan taksi air dan Departemen Transportasi Air Negara Bagian (SWTD) dari Alappuzha di Kerala, India meluncurkannya pada 15 Oktober 2020. Menteri Utama Pinarayi Vijayan meresmikannya pukul 11.30 waktu setempat melalui konferensi video.

Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

KabarPenumpang.com melansir timesofindia.indiatimes.com (14/10/2020), Direktur SWTD Shaji V Nair mengatakan, ini adalah layanan taksi air pertama di India dan akan dioperasikan dari Dermaga perahu Alappuzha. Orang bisa menyewa taksi dari mana saja di distrik Alappuzha tersebut.

Tarif taksi ini per jamnya cukup mahal yakni Rs1500 atau sekitar Rp301 ribu. Rute taksi air dapat mencapai Kottayam dari Alappuzha dalam waktu satu jam. Nair mengatakan, saat ini orang dapat menyewa taksi di jalan raya jika mereka tidak punya waktu untuk bepergian dengan bus atau kereta api.

Tetapi mereka tidak memiliki opsi taksi seperti itu di perairan dan operator kapal swasta mengenakan tarif yang tinggi. Sehingga taksi air ini akan menjadi anugerah bagi masyarakat untuk mencapai tujuan mereka melalui jalur air.

“ Taksi air dapat dengan mudah mencapai tujuannya karena tidak akan ada halangan lalu lintas di jalur air. Jika seseorang ingin mencapai sebuah rumah di Kuttanad saat ini, mereka harus melakukan perjalanan dengan perahu SWTD yang berhenti di hampir semua dermaga perahu dan mereka juga perlu berjalan jauh dari dermaga perahu ke rumah mereka. Tapi taksi air akan menurunkan penumpang kami di depan pintu rumah-rumah di Kuttanad tanpa berhenti di mana pun. Layanan taksi air juga akan memberikan pengalaman berbeda bagi para wisatawan,” kata Nair.

Dia menjelaskan, bagi masyarakat yang akan menggunakan layanan taksi air, mereka bisa menghubungi 9400050325,9400050322. Nair menambahkan, sebuah kapal katamaran yang digunakan untuk taksi air bertenaga diesel dengan kapasitas tempat duduk untuk sepuluh penumpang.

Kapal bermesin diesel tempel berkekuatan 250 kuda yang didatangkan dari Swedia ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 19 knot (35 km per jam). Ini memiliki power steering listrik. Kapal juga memiliki panel surya di atasnya untuk memenuhi semua kebutuhan daya termasuk lampu, kipas angin, dan sistem kontrol.

Baca juga: Urai Konsentrasi Kepadatan Lalu Lintas Darat, Phnom Penh Hadirkan Layanan Taksi Air Perdananya!

Selain itu, taksi air di Alappuzha, tiga taksi air lagi akan segera diluncurkan. Di mana layanan taksi air kedua diharapkan akan diluncurkan di Ernakulum pada November mendatang.