Inilah En Suit, Kursi First Class Masa Depan yang Terinspirasi dari Hotel Mewah! Dilengkapi Toilet Pribadi

Kursi first class atau kelas satu sejatinya sudah terpisah dengan penumpang kelas bisnis dan ekonomi. Hanya saja, mereka tetap harus berbagi toilet dengan penumpang yang membayar biaya tiket lebih murah (kelas ekonomi). Hal itulah yang pada akhirnya mendorong firma desain asal London, Factorydesign, meluncurkan En Suite, sebuah konsep baru penumpang first class.

Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Terinspirasi dari hotel mewah, En Suite dikembangkan untuk memberi kenyamanan tinggi ke para penumpang ultra-premium, baik itu berupa toilet pribadi maupun detail kebutuhan lainnya, baik saat on board ataupun tidak.

“Saat ini, dengan pengecualian Etihad’s The Residence, bahkan traveler Kelas Premium yang paling istimewa pun diwajibkan untuk berbagi kamar mandi. Dapatkah Anda membayangkan hal itu dapat diterima di Four Seasons atau Shangri-La Hotel mana pun?” terang Factorydesign dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Simple Flying.

En Suite menawarkan penerbangan sangat mewah ke penumpang. Betapa tidak, sekalipun dengan space kecil, penumpang diberikan ruang khusus untuk makan, tidur, bersantai sambil menonton film, serta yang paling penting, kamar mandi pribadi.

Konsep double bed room untuk penumpang tandem. Foto: Factorydesign

Selain itu, En Suite juga didesain multi fungsi. Untuk pasangan, kursi first class rancangan En Suite menawarkan double bedroom dengan tetap mempertahankan privasi berupa toilet pribadi. Di luar pasangan, kabin first class memang tetap membuat penumpang berdampingan dengan penumpang first class lain, tetapi, keduanya tetap mendapat sharing toilet.

Yang terpenting dari semua itu, privasi penumpang first class akan jauh lebih terjaga berkat adanya sekat tinggi sampai ke langit-langit kabin -tak seperti kursi first class saat ini yang sekatnya hanya setinggi dada orang dewasa- memungkinkan pasangan penumpang bercinta saat on board.

“Melalui inovasi kami di kabin pesawat Ultra-First Class dan Luxury, Factorydesign telah mengambil langkah selanjutnya dalam benar-benar berinovasi dalam penawaran perjalanan super mewah. Privasi tertinggi, hak istimewa tertinggi, ruang bersama terbaik: benar-benar kemajuan berikutnya dalam perjalanan komersial mewah,” bunyi keterangan lain perusahaan.

En Suite sebetulnya bukan konsep baru. Pada tahun 2019 silam, konsep ini pernah memenangkan penghargaan International Yacht and Aviation (IY&A). Penghargaan tersebut merupakan yang kedua kalinya di kancah internasional untuk Factorydesign, setelah yang pertama pada perhelatan Delta One Suites.

Konsep kabin first class En Suite untuk penumpang tunggal. Foto: Factorydesign

Hanya saja, untuk ukuran beberapa tahun lalu, konsep En Suite belum terlalu relevan. Namun, setelah virus Corona merebak ke seluruh dunia, konsep tersebut rasional untuk dihadirkan.

Baca juga: 1001 Inovasi di Ajang Crystal Cabin Award Berikan Kenyaman dan Keamanan Penumpang

Dalam sebuah penelitian Inmarsat baru-baru ini tentang Passenger Confidence Tracker, 28 persen penumpang menganggap toilet sebagai tempat yang tak aman untuk dikunjungi ketika di pesawat. Karenanya, dengan menghadirkan toilet pribadi, bukan tak mungkin 28 persen penumpang tersebut berani merogoh kocek lebih semata demi mendapatkan akses toilet pribadi di pesawat.

Akan tetapi, saat perekonomian tak stabil serta traffic penerbangan tengah tiarap akibat pembatasan perjalanan, kebijakan karantina mandiri selama 14 hari, serta belum tersedianya vaksin Covid-19 secara massal, En Suite besar kemungkinan bakal mematuk harga tinggi, sesuatu yang nampaknya bukan pilihan terbaik.

Ini Kisah Pramugari Tentang Masak Makanan di Pesawat yang Sedang Mengudara

Setiap pramugari harus selalu siap dalam menangani kemanan dan kenyamanan penumpang. Tak hanya itu, bahkan beberapa maskapai membuat pramugari juga harus bisa menjadi koki dan mengikuti aturan memasak yang ketat. Salah satunya adalah maskapai Pan Am yang mana, dahulu pramugarinya harus memasak ada dan insiden yang agak memalukan bagi salah seorang di antara mereka.

Baca juga: Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Apalagi maskapai Amerika Serikat tersebut dipuji sebagai kemewahan industri penerbangan selama tahun-tahun operasionalnya. Bisa dikatakan, maskapai Pan Am memiliki daya pikat pada layanan di kabinnya dan makanan mereka menyaingi restoran Prancis yang paling mewah.

Dilansir KabarPenumpang.com dari express.co.uk (2/12/2020), untuk diketahui, pramugari tidak hanya dilatih cara menyajikan makanan yang tepat, mereka juga harus memasak banyak makanan segar di pesawat yang tengah mengudara. Namun meski begitu, segala sesuatunya tak selalu berjalan mulus ketika mencoba menyiapkan makanan di ketinggian 30 ribu kaki.

Dr Bryce Evans, profesor sejarah di Liverpool Hope University mewawancarai seorang pramugari untuk mempersiapkan bukunya. Salah satu yang diwawancarainya menceritakan kejadian yang sangat menegangkan di dapur dan membuat pipinya agak merah. Helen Davey seorang pramugari antara tahun 1965 hingga 1986, mengungkapkan bagaimana memasak ratusan telur sesuai pesanan terbukti rumit selama penerbangan yang dilanda turbulensi.

“Memantul ke atas dan ke bawah, saya bertekad untuk memasak telur bodoh itu dengan sempurna, melawan segala rintangan. Entah bagaimana, rekan pramugari saya dan saya masuk ke ‘zona’ dan kami berhasil, baris demi baris, untuk memberikan telur orak-arik dan sosis yang indah dan lembut,“ kata Helen.

Dia mengatakan, setiap hidangan diberikan satu tangkai peterseli hijau cerah atau dikenal sebagai mawar Pan Am, karena tidak ada makanan yang lengkap tanpa garnis ini.

“Rekan pramugari saya dan saya merasa sangat bersyukur ketika beberapa penumpang melakukan perjalanan khusus kembali ke dapur untuk memberi tahu kami bahwa itu adalah makanan paling enak yang pernah mereka makan di pesawat!” ujarnya.

Helen mengaku, dirinya sedikit malu ketika turun dari pesawat, di mana dirinya menjadi salah satu pemandangan yang menyedihkan ketika turun dari pesawat di pagi musim panas yang indah, cerah dan terik.

“Saya tidak bisa menutupi diri saya dengan mantel saya karena terlalu panas. Telur bertatahkan rambut, seragam, sepatu, dan dompet saya. Ketika saya tiba di kamar hotel dan menanggalkan pakaian, bahkan ada sisa telur orak-arik di BH saya!” ungkap Helen.

Baca juga: Troli Virtual, Awak Kabin Tak Lagi Langsung Bersentuhan dengan Penumpang

Meskipun demikian, mantan awak kabin itu mengatakan itu semua akan sepadan dan perasaan puas adalah sesuatu yang tidak pernah dirinya lupakan.

“Kru saya dan saya telah menemukan cara untuk menertibkan dari kekacauan, dan telur-telur itu tidak mengalahkan saya,” tambah Helen.

Cegah Penyebaran Covid-19, Otoritas Penerbangan Cina Rekomendasikan Awak Kabin Gunakan Popok Selama Bertugas

Belum lama ini Otoritas Penerbangan Sipil Cina atau Civil Aviation Administration of China (CAAC) mengeluarkan arahan baru bagi awak kabin dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Dokumen setebal 38 halaman itu berisi rekomendasi khusus untuk penerbangan charter ke dan dari wilayah yang terinfeksi virus.

Baca juga: Penerbangan di Era New Normal, ICAO: Akses Penumpang ke Toilet Dibatasi

KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (11/12/2020), arahan tersebut berisi rekomendasi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Di mana semua awak kabin harus menggunakan masker bedah, sarung tangan lapis ganda, kacamata pelindung, topi, pakaian pelindung dan penutup sepatu yang semuanya sekali pakai.

Selain itu, CAAC juga merekomendasikan agar awak kabin pada rute ke tujuan berisiko tinggi memakai popok atau pempers guna menghindari penggunaan toilet. Ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko infeksi, dengan meminimalkan kontak permukaan bagi pada staf maskapai.

Tak hanya awak kabin, CAAC juga menyarankan awak kokpit menggunakan masker dan kacamata, tetapi bedanya mereka tidak diharuskan menggunakan pempers selama penerbangan tersebut. Dalam dokumen juga dituliskan pada penerbangan berisiko tinggi, maskapai harus menetapkan area karantina darurat di tiga baris belakang kabin.

Bahkan maskapai harus membagi kabin menjadi beberapa bagian di mana ada area bersih, zona penyangga dan area tempat duduk penumpang yang akan dipisahkan dengan tirai sekali pakai. Saat ini penerbangan domestik di Cina telah pulih dengan luar biasa dan sudah kembali ke kapasitas hampir penuh seperti tahun 2019.

Baca juga: India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Perekonomian tampaknya telah berhasil menciptakan pemulihan berbentuk V yang sangat diinginkan oleh proyeksi yang lebih optimis seperti telah diramalkan pada awal krisis. Bahkan pada 9 Desember kemarin, hanya ada 12 kasus virus corona baru di Negeri Tirai Bambu tersebut.

 

 

Aptera Tawarkan Desain Mobil Listrik Bertenaga Surya dengan Jarak Tempuh 1600 Km

Kendaraan dengan tenaga listrik atau electric vehicle (EV) semakin berkembang dan kini bahkan sudah mulai beroperasi di berbagai negara. Namun banyak yang bertanya mengapa tidak memiliki atap panel surya? Ternyata jawabannya selalu sama di mana panel surya tidak menghasilkan banyak daya.

Baca juga: BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

Tapi kemudian Aptera hadir dengan klaim bahwa 180 panel surya kecilnya yang memiliki luas tiga meter persegi, dimana panel surya ini bisa memanen energi yang cukup sehingga banyak pengemudi tidak perlu mengisi daya dalam waktu lama.

bagian dalam mobil Aptera (newatlas.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (4/12/2020), mobil milik Aptera ini memiliki spesifikasi terbaik dan dapat menempuh jarak sejauh 45 mil atau 72 km per hari dalam kondisi ideal. Jarak tempuh ini bila ditotal lebih dari dua kali jarak tempuh harian rata-rata pemilik mobil Amerika.

Bahkan ini tidak menjadi jumlah energi yang terlalu besar karena adanya penghematan yang ekstrim. Mobil dengan panel surya milik Aptera memiliki dua kursi yang tampak seperti aeronautika dimana koefisiensi drag yang belum pernah terdengar hanya 0,13.

Ini bila dibandingkan dengan konsep Volkswagen ID Space Vixxion dengan koefisien drag 0,24 yang “sangat rendah”, Aptera jauh di depan. Mobil ini dibuat dengan bahan komposit karbon/ kevlar/ rami dalam konstruksi inti sehingga membuatnya sangat ringan dan sangat kuat.

Sedangkan powertrainnya, tersedia beberapa opsi, dengan motor listrik berpendingin cairan baik di dua roda depan, atau di ketiganya. Output daya sekitar 50 kW (67 hp) per motor direncanakan terakhir kali check in. Namun setelah pengecekan, perusahaan tetap diam pada spesifikasi akhir untuk saat ini.

Dalam hal kinerja, mereka akan keluar jalur dengan cepat, melaju dengan kecepatan 0-60 mph (0-96 km per jam) dalam 3,5 detik seperti supercar dalam konfigurasi tertentu. Kecepatan tertinggi dibatasi pada 110 mph (177 km per jam) yang cukup sporty. Sehingga Anda tidak perlu bergantung pada Matahari untuk berkeliling, di mana ukuran baterai juga akan bervariasi, dan Aptera mengatakan Anda akan dapat membelinya dengan jarak 250-, 400-, atau 600-mil (400-, 644- , atau 965-km).

Tak hanya itu, Anda bisa menggunakan big daddy dengan baterai yang mampu menempuh 1.000 mil (1.600 km), kemungkinan besar dikirim dengan paket 100 kWh. Untuk memberi Anda gambaran tentang seberapa efisien kendaraan roda tiga ini, model Tesla S P100D mengalami peningkatan efisiensi yang radikal tahun ini dan sekarang dapat menempuh jarak 402 mil dari ukuran baterai yang sama.

Agar adil, Tesla benar-benar membawa mobilnya ke jalan, dan Aptera baru berhasil mencapai tahap prototipe produksi sejauh ini, dari penampilannya. Tapi sekarang sudah siap menerima reservasi untuk mobil edisi khusus “Paradigm” dan “Paradigm +” yang akan diproduksi pada tahun 2021.

Baca juga: Dalam Waktu Enam Menit, Baterai Mobil Listrik Terisi 90 Persen

Harga mobil tenaga surya Apter ini diperkirakan antara US$25.900 dan US$46.900, tergantung pada pilihan konsumen.

Dassault Aviation Luncurkan Falcon 6X, Pesawat dengan Kabin Terluas dan Tertinggi di Dunia

Meski sempat terhalang pandemi virus Corona, Dassault Aviation akhirnya resmi meluncurkan seri Falcon terbaru, Falcon 6X ultra widebody. Selain menjadi pesawat terbaru dan tercanggih dari pabrikan asal Perancis tersebut, Dassault Falcon 6X juga menjadi pesawat atau jet bisnis dengan kabin tertinggi dan terluas di dunia.

Baca juga: Dassault Falcon 20 – Sosok Jet Pribadi Unik di Halaman Depan Kantor GMF AeroAsia

“Peluncuran hari ini merupakan pencapaian yang signifikan. Saya sangat senang mempersembahkan tambahan desain pesawat baru dalam keluarga Falcon, Falcon 6X ultra widebody. Tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 membutuhkan ketekunan dan kerja sama yang luar biasa dari kami maupun mitra pendukung,” kata Eric Trappier, CEO Dassault Aviation, seperti dikutip dari Sam Chui.

“Falcon 6X merupakan keuntungan besar bagi operator jet bisnis berbadan lebar. Pesawat pemegang penghargaan kabin tertinggi dan terluas dalam penerbangan bisnis ini, memberikan tingkat keluasan, kenyamanan, produktivitas, dan keselamatan yang akan menjadi tolok ukur baru dalam segmen jarak jauh,” lanjutnya.

Falcon 6X menawarkan kenyamanan kabin, jangkauan lebih jauh, dan efisiensi terbang. Pesawat mampu terbang menjangkau jarak 5.500 mil (8.851 km) dengan kecepatan tinggi, mencapai Mach 1 atau 1.234 km per jam, untuk menghubungkan rute-rute jauh seperti Paris ke Tokyo atau Los Angeles ke Moskow non stop serta dalam waktu singkat.

Pesawat jet pribadi bermesin ganda ini dilengkapi dengan teknologi inovatif terbaru, termasuk Sistem Kontrol Penerbangan Digital (DFCS) yang dapat memberikan kemampuan manuver tak tertandingi. DFCS baru juga mengontrol semua permukaan-permukaan bergerak, termasuk area kontrol multifungsi baru yang disebut flaperon. Komponen ini diadaptasi dari pesawat tempur Dassault.

Falcon 6X menggunakan mesin Pratt & Whitney Canada PW812D. Mesin ini telah menyelesaikan pengujian udara pada awal tahun dan uji darat beberapa bulan bekalangan ini menggunakan pesawat penguji Boeing 747. Hingga saat ini PW812D telah mengakumulasi lebih dari 200 jam terbang dan lebih 1.600 jam pengujian di darat, termasuk uji serangan burung, konsumsi es, dan uji blade-off.

Mesin seri PW800 melebihi standar ICAO untuk emisi NOx dengan margin dua digit. Mesin ini menghasilkan tingkat hidrokarbon dan asap yang sangat rendah. PW812D disebut telah memenuhi peraturan CO2 di masa depan dan mencapai persyaratan kebisingan Tahap 4 dengan margin yang signifikan.

Baca juga: Dassault Mercure, Sang Penantang Boeing 737 dan Airbus A320 yang Terjegal Krisis Minyak

Falcon 6X dirancang Dassault sebagai pesawat jet pribadi untuk penerbangan jarak jauh dengan kabin tertinggi dan terluas di dunia. Pesawat memiliki panjang 25,2 m, rentang sayap 25,9 m, dan tinggi 7,5 m, memungkinkannya mengangkut penumpang sebanyak 16 penumpang.

Menariknya, Dassault Falcon 6X juga dibekali kemampuan perform safe approaches, memungkinkan pesawat mendarat di bandara-bandara kecil, terpencil, dan landasan pacu pendek. Kemampuan yang tentu saja tak dimilliki seri Falcon lainnya. Setelah dirilis, Falcon 6X dijadwalkan baru akan masuk ke layanan komersial jet pribadi pada 2022.

Nostalgia Boeing 747 Lion Air, Andalan Penerbangan Haji-Umroh yang Beralih Fungsi Jadi Restoran

Boeing 747 pernah menempati posisi penting di Indonesia, dalam hal ini terkait penerbangan haji umroh. Sang ratu langit selama beberapa tahun selalu jadi andalan maskapai pada penerbangan tersebut. Salah satunya oleh Lion Air.

Baca juga: Ikuti Jejak Garuda Indonesia, Lion Air Pensiunkan Boeing 747-400

Barisan armada Lion Air mulai dilengkapi Queen of the Skies pada 23 April 2009 silam. Selain mengoperasikan penerbangan haji umroh Jeddah dan Madinah, dua Boeing 747-400 bekas dengan nomor registrasi PK-LHF dan PK-LHG itu juga melayani penerbangan reguler ke rute-rute gemuk, seperti Soekarno-Hatta Tangerang, Medan Kualanamu, Batam, Surabaya, Denpasar dan Makassar.

Sebelum bergabung dengan Lion Air, Boeing 747-400 itu diketahui mulai beroperasi sejak tahun 1989 dengan Singapore Airlines masing-masing sebagai 9V-SMC dan 9V-SME. Keduanya terus berada di pangkuan maskapai nasional Singapura itu sampai tahun 2004. Namun, salah satunya, sempat dipinjamkan ke maskapai Air China pada 1994 selama tiga tahun, sebelum balik ke Singapore Airlines (SIA).

Dari data Planespotters.net, seperti dikutip dari Simple Flying, usai dilepas SIA, dua sejoli Boeing 747 itu sempat berpindah tangan ke berbagai maskapai, seperti Air Atlanta Icelandic, Iberia, maskapai Hong Kong Oasis, dan berakhir di Boeing Aircraft Holding Company pada tahun 2008.

Boeing 747-400 Lion Air dibongkar untuk dijadikan pesawat. Foto: Kumparan

Pada April 2009, Lion Air kedatangan pesawat tersebut dan diplot sebagai pesawat haji dan umroh, di samping rute-rute domestik. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memang jadi pasar potensial penerbangan haji umroh. Dengan kapasitas besar, mencapai 504 penumpang, terdiri dari 12 kursi kelas bisnis dan 492 kelas ekonomi, pesawat terbesar yang pernah dioperasikan Lion Air ini tentu jadi angin segar maskapai dalam mengeruk keuntungan.

Seiring berjalannya waktu Boeing 747-400 Lion Air dinilai terlalu usang untuk terus membersamai maskapai, baik untuk rute-rute regional maupun internasional. Selain itu, pesawat juga kurang efektif dalam kacamata strategi bisnis perusahaan.

Setelah sempat dipinjamkan ke Flynas Arab Saudi dan Nas Air, Lion Air akhirnya memutuskan pesawat itu pensiun pada akhir Maret 2019. Pesawat dipensiunkan usai kurang lebih 10 tahun dioperasikan maskapai.

Baca juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

“Momentum terbaik ini sekaligus menegaskan bahwa Lion Air mengedepankan program revitalisasi atau peremajaan armada,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro dalam rilis resmi.

Sebagai penggantinya, Lion Air akan mengoperasikan pesawat widebody Airbus 330-900NEO yang dikenal lebih hemat bahan bakar dan memiliki jangkauan terbang lebih panjang. Nasib PK-LHF dan PK-LHG awalnya sempat tidak jelas pasca dipensiunkan. Namun, disebutkan, salah satu di antaranya, PK-LHF, bakal disulap menjadi sebuah restoran bertema penerbangan di daerah Bekasi, Jawa Barat.

Antisipasi Penumpang Tertular Covid-19, Perancis Hadirkan Holostop di Lima Bus

Kemunculan teknologi tanpa sentuh semakin berkembang di masa pandemi Covid-19. Seperti tombol nirsentuh atau tanpa sentuh yang sedang diuji cobakan di lima bus Prancis. Di mana ini akan berlangsung selama dua bulan di wilayah Ile-de-France.

Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia

Dilasnir KabarPenumpang.com dari laman connexionfrance.com (9/12/2020), uji coba tombol nirsentuh dilakukan oleh jaringan transportasi RATP dalam rangka meningkatkan langkah-langkah keselamatan sehubungan dengan krisis kesehatan Covid-19. Tombol ini merupakan tombol holograf yang disebut sebagai Holostop.

Dengan ini, penumpang tak perlu menekan tombol dengan jari untuk menghentikan bus saat tiba di halte. Dengan Holostop, penumpang hanya perlu mengulurkan jari mereka ke dekat representasi holografik dari sebuah tombol.

Nantinya saat penumpang mengulurkan jari dekat tombol, maka tombol berubah warna dan mengeluarkan suara permintaan yang telah didaftarkan. Untuk diketahui ada lima bus di jaringan Squbus di Saine-Quentin-en-Yvelines, dijalankan oleh perusahaan transportasi umum RATP, telah menggunakan tombol virtual sejak Senin, (7/12/2020), termasuk di jalur 401 dan 415.

Seorang juru bicara RATP mengatakan ini adalah “jalur tersibuk di jaringan”. Teknologi HoloStop dikembangkan oleh perusahaan Prancis MZ Technologie sebelum pandemi dimulai.

“Kami sudah merencanakan proyek ini sebelum krisis kesehatan, tetapi pandemi mempercepat segalanya,” ujar juru bicara tersebut.

Nantinya setelah dua bulan uji coba, RATP akan memutuskan apakah akan memperluas penggunaan tombol tanpa sentuh di seluruh jaringan mereka.

“Tombol holografik adalah sebuah pencapaian; mereka mudah digunakan, biayanya terkendali dan tujuannya adalah nilai tambah nyata untuk keselamatan penumpang,” kata Sophie Hassan, direktur pemasaran cabang Pengembangan RATP.

Sejauh ini pada tahun 2020, RATP telah kehilangan €2 juta sebagai akibat dari pengurangan jumlah penumpang yang disebabkan oleh krisis kesehatan Covid-19. Diharapkan dengan meningkatkan langkah-langkah keselamatan akan mendorong penumpang untuk kembali ke jaringan, katanya.

Baca juga: Arrival Hadirkan Konsep Bus Listrik Publik dengan Beragam Fitur Khas Pandemi Covid-19

“Kami melihat pengembalian hanya 65 persen penumpang pada bulan September di jaringan bawah tanah; kami perlu meyakinkan orang untuk membuat mereka kembali,” kata juru bicara.

Catatkan 27 Ribu Penumpang Per Hari, MRT Jakarta di Masa Pandemi Masih Untung di Bisnis Non Farebox

Bagaimana kabar Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di akhir Desember ini? Sebelum masa pandemi Covid-19, MRT Jakarta awalnya menargetkan penumpang seratus ribu per hari hingga akhir tahun 2020. Namun, nyatanya hingga saat ini rata-rata penumpang per harinya 27.901.

Baca juga: Jepang Hadirkan Coworking Space di Stasiun, MRT Jakarta Pernah Wacanakan

“Jumlah penumpang kami sepanjang tahun 2020 tercatat 9.570.059 penumpang atau rata-ratanya itu 27.901 penumpang per hari. Angka ini masih terus berkembang sampai 31 Desember,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar melalui forum jurnalis virtual, Kamis (10/12/2020).

Dia menyebutkan, jumlah ini jauh dibawah pencapaian tahun lalu yang sempat 91 ribu penumpang. Sedangkan pada Januari dan Februari 2020, MRT Jakarta secara rata-rata mendapatkan penumpang di atas 80 ribu per harinya.

“Jadi kalau kita lihat sepanjang tahun perjalanan di Januari dan Februari cukup menggembirakan karena target awal seratus ribu penumpang per hari. Namun karena pandemi di awal Maret sehingga penumpang menurun drastis,” kat William.

Meski pendapatan dari tiket atau farebox menurun, William mengaku, sisi bisnis non farebox atau yang bukan tiket tengah dikembangkan. Dia mengatakan, saat ini MRT Jakarta berjalan inisiatif advertising yang memanfaatkan pilar di koridor MRT Jakarta.

“Kita pasang LED di sepanjang jalur elevated. Tahun ini ada 438 pilar neon box dan 50 pilar LED dari Lebak Bulus Grab sampai ke Asean,” ungkap William.

Dia menambahkan, nantinya kawasan depo juga akan dipasang dengan pilar neon box dan LED. Dari bisnis non farebox yang tidak terpengaruh pandemi, MRT Jakarta masih menghasilkan keuntungan bagi perusahaan sekitar Rp370 juta untuk tahun ini.

Selain itu MRT Jakarta juga punya bisnis digital bersama perusahaan startup maupun dengan anak muda di bidang ekonomi digital. William menyebutkan, nama program ini adalah MRTJ Star Track Incubation Program.

Baca juga: Sebelas Cagar Budaya Akan Dilintasi MRT Jakarta Fase 2

“Dari 100 sudah ada 25 startup yang diseleksi. Kehadiran program ini merupakan upaya MRT untuk mendorong kemajuan ekonomi digital saat sekarang dan pasca pandemi,” jelas William.

Dia mengatakan, kehadiran ekonomi digital juga akan berdampak pada lapangan pekerjaan baru, sehingga bisa membantu masyarakat saat ini.

Penumpang Masak Steak di Toilet Pesawat dan Unggah Video ke TikTok

Ketika makanan panas tak lagi ada di pesawat banyak penumpang yang merasa kehilangan layanan tersebut. Karena hal ini, seorang aktor asal New York yang dikenal karena lelucon onlinenya baru-baru ini mengunggah video dirinya melakukan sebuah aksi ke TikTok. Aktor itu ialah Marcus Monroe di mana dia membagikan videonya ketika memasak steak di toilet pesawat milik Southwest Airlines.

Baca juga: Peneliti: Penumpang Wanita Tertular Virus Corona di Toilet Pesawat

Dalam video tersebut, Marcus meletakkan tabung bahan bakar di kloset dan di dudukan diletakkan sebuah loyang aluminium. Lalu, dirinya menaruh sepotong daging diatas loyang dan menuangkan anggur putih serta menghiasi makanan dengan saus dan beberapa bayam segar yang diambil dari kantong ziplock.

KabarPenumpang.com melansir dari laman independent.co.uk (30/11/2020), bahkan setelah memasak steak, Marcus membawa makanan itu kembali ke kursinya. Meski begitu, dirinya mengaku itu hanya sebuah lelucon dan ilusi. Dia juga sudah menghapus video tersebut dari akun TikToknya.

Meski sudah menghapus videonya dari TikTok, hal itu tidak menghentikan para warganet terkait kekhawatiran adanya orang lain yang mengikuti video itu.

“Masalahnya adalah, orang mengira itu benar … Dan karena di media mereka akan mengulanginya. Itulah mengapa video ini, meskipun terbukti palsu, harus dihapus,” komentar seorang warganet pengguna TikTok.

Sedangkan warganet lain mengatakan, orang-orang berpikir hal ini tidak apa-apa untuk mengerjai atau bercanda dan orang normal tidak akan mengikuti. Warganet tersebut menambahkan, bahwa masalahnya adalah media sosial tidak hanya untuk orang waras yang tidak berpikir akan mencoba meniru ini dan melihatnya sebagai semacam tantangan.

Ini bukan pertama kalinya penumpang ditegur karena mencoba merekam video dalam penerbangan. Dua wanita dikeluarkan dari penerbangan American Airlines pada bulan Oktober setelah salah satu dari mereka berusaha bersembunyi di footwell kursi kelas bisnis temannya.

Rencananya, sang teman akan tetap di sana selama perjalanan, karena pasangan tersebut diduga mengira aksi tersebut akan “mengarahkan pemirsa ke saluran YouTube mereka.

“Sebelum berangkat pada 30 Oktober, penerbangan American Airlines 2205 dari Bandara Internasional Dallas-Fort Worth (DFW) ke Bandara Internasional Miami (MIA) kembali ke gerbang di DFW karena masalah yang melibatkan dua penumpang,” kata seorang juru bicara maskapai kepada The Independent.

Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

“Kedua penumpang yang bepergian bersama-sama tidak akan memenuhi penetapan kursi saat taksi keluar. Penegak hukum menemui pesawat di pintu gerbang, kedua penumpang keluar dari pesawat dan penerbangan berangkat tak lama kemudian,” tambahnya.

Langkah Pemerintah Hong Kong Beli 500 Ribu Tiket Pesawat Dinilai Lebih Efektif untuk Selamatkan Maskapai

Pemerintah Hong Kong pada April lalu memborong 500 ribu tiket pesawat. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan maskapai penerbangan dari kabangkrutan. Membeli tiket pesawat sebanyak itu diyakini jadi cara ampuh ketimbang memberikan utang baru yang pada akhirnya hanya memberatkan maskapai saat kondisi berangsur normal.

Baca juga: Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?

Sebelumnya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Setidaknya, di paruh kedua 2020 ini, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Saat ini, kondisi keuangan maskapai berbeda-beda. Di antara mereka, ada yang mempunyai stok uang tunai sampai delapan bulan ke depan. Sebagain besar lainnya kurang dari itu. Padahal, vaksin massal diprediksi baru akan terjadi di penghujung tahun 2021 mendatang. Asosiasi itu pun ragu melihat maskapai bertahan sampai vaksin massal terjadi tanpa bantuan pemerintah.

Sejalan dengan IATA, pemerintah Hong Kong pun mencari cara untuk bisa menyelamatkan maskapai. Alih-alih memberikan utang baru, pemerintah Hong Kong akhirnya memutuskan memborong 500 ribu tiket pesawat.

Jika diuangkan, langkah tersebut setara dengan kucuran dana sebesar US$260 juta. Secara nominal, angka segitu memang kecil. Air Canada, misalnya, untuk memperkuat likuiditas, flag carrier Kanada itu mendapatkan suntikan modal sebesar US$1,62 miliar atau sekitar Rp24 triliun lebih. Angka tersebut pun dikabarkan belum final dan masih akan ada suntikan modal lainnya seiring perkembangan industri penerbangan global.

American Airlines Group akhir Maret lalu dikabarkan telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kucuran dana sebesar US$12 miliar atau Rp196 triliun sebagai bagian dari paket pinjaman dan hibah dari pemerintah AS sebesar US$58 miliar atau Rp949 triliun untuk maskapai penerbangan. Adapun Qantas, disebut hanya akan mendapatkan dana sebesar US$636,1 juta atau sebesar Rp10 triliun (kurs Rp16.009).

Begitu juga dengan Singapore Airlines, yang mendapat suntikan modal dari Temasek International, pemilik saham mayoritas (55 persen) Singapore Airlines (SIA), dan beberapa perusahaan lainnya sebesar S$19 miliar atau Rp218 triliun (kurs Rp11.292).

Baca juga: Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan

Suntikan tersebut pun digadang-gadang akan menjadi langkah penyelamatan atau paket stimulus terbesar terhadap sebuah maskapai di tengah wabah virus Corona. Terbukti, hingga saat ini, belum ada suntikan modal ke maskapai manapun yang berhasil melebihinya.

Akan tetapi, dari segi efektivitas, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, pembelian 500 ribu tiket oleh pemerintah Hong Kong dinilai lebih brilian. Disebutkan, hal itu bisa memantik pulihnya traffic penerbangan. 500 ribu tiket dari empat maskapai lokal itu nantinya akan dibagikan ke masyarakat dan traveler asing dengan cara diundi setelah Covid-19 dianggap sudah terkendali.