Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Sebuah kapal buatan Perancis tenggelam pada 80 tahun silam atau tepatnya pada 25 November 1940 di Pelabuhan Haifa, Israel. Kapal ini bernama SS Patria yang kala itu mengangkut sekitar 1800 pengungsi Yahudi dari Eropa yang diduduki Nazi.

Baca juga: Kapten Kapal Selamat, Naskah Langka William Shakespeare Hilang di SS Arctic yang Tenggelam

Pengungsi ini dideportasi oleh otoritas Inggris dari Mandat Palestina ke Mauritius karena tidak adanya izin masuk. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, tenggelamnya SS Patria yang mengangkut pengungsi Yahudi ini karena organisasi Zionis menentang adanya deportasi.

Yang kemudian kelompok paramiliter bawah tanah Haganah menanam bom yang dimaksudkan untuk melumpuhkan kapal agar tidak meninggalkan Haifa. Sayangnya bom tersebut membuat ledakan besar dan meledakkan lapis baja dari kapal SS Patria membuatnya tenggelam dalam waktu kurang dari 16 menit.

Ini membuat banyak pengungsi Yahudi di dalam kapal terjebak dan menewaskan 267 orang serta sebanyak 172 orang luka. Karena kasus ini, Inggris kemudian mengizinkan korban selamat untuk menetap di Palestina atas dasar kemanusiaan.

Namun siapa yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut masih menjadi kontroversi sampai tahun 1957 silam. Hingga akhirnya Munya Mardor, orang yang menanam bom tersebut menerbitkan sebuah buku tentang pengalamannya.

SS Patria sendiri merupakan kapal buatan Perancis yang memiliki berat 11.885 GRT dan dibuat pada 1913 untuk Compagnie française de Navigation à vapeur Cyprien Fabre & Cie (Fabre Line). Kapal ini sendiri pertama kali menjadi kapal trans atlantik yang kemudian menjadi kapal emigran.

Tahun 1932 Fabre Line menyewanya ke Services Contractuels des Messageries Maritimes , yang menjalankannya antara selatan Prancis dan Levant. Lalu setelah jatuhnya Prancis pada bulan Juni 1940, otoritas Inggris di Mandatory Palestine menangkapnya di Pelabuhan Haifa dan menempatkan SS Patria di bawah manajemen Perusahaan Navigasi Uap Inggris-India.

Setelah tenggelam di Pelabuhan Haifa pada 25 November 1940 bangkai kapal ini tetap berada di sana dan dibongkar tahun 1952. Untuk diketahui, Pelabuhan Haifa merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Mediterania timur yang mampu menangani 30 juta ton kargo per tahun.

Baca juga: Tenggelamnya MS Estonia, Kecelakaan Laut Terbesar Kedua di Abad ke-20

Letaknya berada di sebelah utara perempatan pusat kota Haifa di Mediterania. Pelabuhan ini membentang hingga sekitar tiga kilometer di sepanjang pantai tengah kota dengan kegiatan mulai dari militer, industri dan komersial.

Gandeng Hyundai Robotics, Restoran KFC Gunakan Robot untuk Goreng Ayam

Ketika robot mulai menunjukkan eksistensinya, restoran cepat saji ikut menggunakan teknologi baru ini. Salah satunya adalah KFC (Kentucky Fried Chicken), dimana robot digunakan untuk menggoreng ayam di dapur. Robot terlihat setelah restoran cepat saji itu menandatangani perjanjian penting yang menunjukkan keseriusan mereka di masa depan.

Baca juga: Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

KFC memandatangani nota kesepahaman untuk penelitian dan kerja sama dalam produksi otomatis dengan perusahaan Korea Hyundai Robotics yang berspesialisasi dalam robotika industri. Dilansir KabarPenumpang.com dari foodserviceequipmentjournal.com (18/11/2020), kerja sama ini membuat mereka mengeksplorasi bagaimana robot kolaboratif dapat digunakan untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi dalam proses produksi ayam goreng.

tangan robot mencoba penggorengan (foodserviceequipmentjournal.com)

Selain itu, robot juga untuk diperankan dalam pengaturan proses dan peralatan memasak guna meningkatkan efisiensi kerja di dapur. Hyundai Robotics akan bertugas merancang proses memasak yang efisien dan menstandarkan prosedur operasional, sementara KFC akan menyediakan keahlian manufaktur dan fasilitas penjualan.

Tak hanya itu, Hyundai Robotics berencana untuk menambahkan teknologi penginderaan penglihatan untuk mengotomatiskan proses pemilahan produk ayam dan secara bertahap memperluas penerapan teknologi terkait ke proses pembuatan.

KFC berpendapat bahwa penggunaan robot dalam proses memasak, yang risikonya tinggi dan tugasnya berulang, dapat meningkatkan stabilitas dan efisiensi. Ini juga akan memungkinkan pesanan diproses lebih cepat dan lebih akurat.

Hyundai Robotics memberikan pengalaman yang luas di pabrik pintar, di mana robot membuat robot lain, tetapi kesepakatan dengan KFC merupakan terobosan pertamanya ke pasar ‘teknologi makanan’. COO Seo Yoo Seong mengatakan penelitian menunjukkan bahwa pasar teknologi makanan diharapkan tumbuh pada tingkat tahunan rata-rata enam persen, mencapai nilai $250 miliar pada tahun 2022.

“Covid-19 telah memberi kami peluang baru yang disebut ‘food tech’ karena adanya pergeseran pola konsumsi. Kami akan menggunakan kerja sama ini untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi robotika dan berekspansi ke industri baru,” ujarnya.

Khususnya saat ini konsep koki robotik terus mendapatkan minat di sektor makanan cepat saji. Jaringan White Castle AS baru-baru ini mengonfirmasi bahwa mereka akan memasang asisten dapur pemanggang dan penggorengan otonom di sepuluh lokasi setelah uji coba teknologi yang berhasil selama pandemi.

Baca juga: Sofitel Sydney Darling Harbour Gunakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Hotel

Perusahaan berencana untuk mengimplementasikan Flippy Robot-on-a-Rail (ROAR) versi baru Miso Robotics ke beberapa dapur untuk meningkatkan kecepatan produksi, memberdayakan tim di belakang meja, dan mempertahankan kualitas dan rasa yang konsisten.

Tebak Maskapai Lewat Seragam Pramugari, Mana yang Paling Sulit?

Pramugari pernah menjadi salah satu profesi paling glamor di dunia, dengan gaya hidup mewah, gaji besar, dan jalan-jalan ke luar negeri gratis; bahkan dibayar. Meskipun saat ini pamornya mulai menurun, namun, tidak demikian dengan pesonanya.

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Sebagai garda terdepan maskapai penerbangan dalam melayani penumpang, pramugari dituntut untuk bekerja sesempurna mungkin. Begitu juga dengan busana yang dikenakan. Tak heran, dengan posisi se-strategis itu, maskapai tak ragu menyewa desainer kenamaan dunia dengan harga mahal, semata agar mendapatkan seragam terbaik untuk pramugari.

Tak sekedar dirancang indah, mewah, dan tetap anggun, pada umumnya seragam pramugari didesain juga untuk menonjolkan ciri khas maskapai. Begitu melihat pramugari, lengkap dengan seragam kebesarannya, orang-orang sudah langsung teringat maskapai pemilik seragam tersebut.

Bila Anda seorang calon pramugari, atau pecinta, pemerhati, pengamat, hingga praktisi penerbangan, pertanyaannya, seberapa dalam pengetahuan Anda terhadap maskapai melalui seragam pramugari? Dikutip dari thesun.co.uk, untuk mendapat jawaban atas itu, berikut 10 seragam pramugari yang secara tak resmi bisa jadi wadah mengukur wawasan Anda tentang maskapai-maskapai di dunia.

1. Maskapai ketiga di dunia

Foto: AFP – Getty

2. Maskapai nasional Inggris yang juga jadi salah satu maskapai paling ikonik di dunia

Foto: AFP – Getty

3. Maskapai asal Hungaria yang menawarkan tarif atau tiket pesawat sangat murah

Foto: AFP – Getty

4. Maskapai LCC yang berbasis di Irlandia

Foto: Evan Doherty

5. Maskapai asal Irlandia yang juga maskapai penerbangan nasional negara itu

Foto: AFP – Getty

6. Maskapai yang sering mendapatkan penghargaan di industri pesawat yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab

Foto: Getty Images

7. Perusahaan rekreasi, perjalanan, dan pariwisata terbesar di dunia, yang juga memiliki agen perjalanan, hotel, maskapai penerbangan, kapal pesiar, dan toko ritel

Foto: Paddle Your Own Kanoo

8. Maskapai yang sangat khas dengan warna merah

Foto: Archant

9. Seragam pramugari dari maskapai penerbangan berjadwal terbesar ketiga di Inggris

Foto: AFP – Getty

Baca juga: “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” Resmi Diluncurkan, Inilah Paras Ayu Pramugari dengan Seragam Klasik

10. Maskapai dengan livery pesawat yang cerah dan mencolok

Foto: AFP – Getty

Jawaban

  1. Qantas
  2. British Airways
  3. Wizz Air
  4. Ryanair
  5. Aer Lingus
  6. Emirates
  7. TUI
  8. Virgin Atlantic
  9. Jet2
  10. easyJet

Tahun 2022, Walt Disney World Akan Punya Stasiun Kereta Berkecepatan Tinggi

Walt Disney World telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan sistem kereta berkecepatan tinggi Brightline untuk membangun stasiun baru di Disney Springs. Stasiun kereta berkecepatan tinggi tersebut letaknya akan berada di antara Walt Disney World Resort dan Bandara Internasional Orlando.

Baca juga: Disney Bicara dengan Brightline Seputar Rencana Kereta Berkecepatan Tinggi di Properti

Jalur kereta ini juga akan terhubung ke Miami, Fort Lauderdale dan West Palm Beach. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman pennlive.com (23/11/2020), proyeksi saat ini, jalur kereta antara Florida Selatan dan Orlando akan selesai tahun 2022 dan Stasiun Disney Spring akan mengikuti di tahun berikutnya.

Bahkan dengan adanya stasiun kereta berkecepatan tinggi tersebut, Disney memperluas komplek perbelanjaan dan hiburan Disney World lebih jauh lagi dengan memasukkan Stasiun Disney Spring sebagai bagian dari kompleks wisata bermain tersebut. Stasiun Disney Springs ini seolah-olah akan memungkinkan wisatawan mengakses Walt Disney World dengan jauh lebih mudah daripada perjalanan mobil atau udara.

Kehadiran jalur kereta ini sendiri memiliki manfaat lain yakni pelancong luar negeri sekarang memiliki lebih banyak variasi pilihan tentang bagaimana merencanakan perjalanan. Seperti perjalanan yang lebih murah ke bandara lain dan tiket Brightline bisa lebih terjangkau daripada penerbangan langsung ke Orlando.

“Brightline akan menawarkan koneksi bebas mobil kepada jutaan pengunjung dari seluruh negara bagian dan dunia yang berencana menjadikan Walt Disney World Resort sebagai bagian dari liburan mereka. Misi kami selalu menghubungkan tamu kami dengan orang-orang dan tempat-tempat yang penting, dan Walt Disney World Resort adalah contoh yang luar biasa dari hal ini,” kata Patrick Goddard, Presiden Brightline.

Orlando Sentinel mencatat bahwa lokasi pasti stasiun di Disney Springs belum dikonfirmasi. Sebaliknya, Brightline telah menyatakan akan “berada di dekat” dengan taman hiburan resor, taman air dan hotel.

Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse

“Kami sangat senang bekerja sama dengan Brightline saat mereka mengejar pengembangan potensial stasiun kereta di Walt Disney World Resort, sebuah proyek yang akan mendukung ekonomi lokal kami dan menawarkan solusi transportasi yang berani dan berwawasan ke depan untuk komunitas dan tamu kami,” kata Jeff Vahle, Presiden Walt Disney World Resort.

(Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Hobi memang tidak ada duanya. Terkadang, seseorang rela merogoh kocek cukup dalam hanya untuk memuaskan hasrat atas hobinya tersebut; tak terkecuali dengan Hans Bühr. Pria asal Swiss ini diketahui menghabiskan cukup banyak uang untuk membuat model pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya, dengan skala sekitar 1:25. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas berapa banyak uang yang dikeluarkan.

Baca juga: Rusia Bakal ‘Hidupkan Kembali’ Buran, Pesawat Ulang-Alik yang Jadi Kebanggaan di Era Perang Dingin

Dilansir dari thedrive.com, model skala dari pesawat berjuluk ‘Mriya’ (‘Mimpi’ dalam bahasa Indonesia) milik Bühr ini bukanlah varian sembarangan. Sebab, alih-alih membuatnya dalam versi tunggal, ia menyematkan pesawat ulang-alik pertama Soviet yang mampu digunakan berulang kali, Buran, di bagian atas An-225.

Sejarah Antonov An-225 Mriya dengan pesawat ulang-alik Buran memang tak bisa dipisahkan. Disebutkan, An-225 Mriya sukses terbang perdana pada 21 Desember ‎1988. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pengangkut pesawat ulang-alik Buran milik Uni Soviet, menggantikan Myasishchev VM-T.

Antonov An-225 awalnya didesain untuk mengangkut Buran, sebagaimana di foto ini. Sputnik / Igor Kostin

Tak heran, dengan tugas tersebut, ia pun dibuat cukup besar hingga menyandang gelar sebagai pesawat terbesar di dunia. Setelah Uni Soviet bubar, An-225 terpaksa mencari misi lainnya sebagai pesawat kargo dengan kapasitas sebesar 250 ton, kata Alexander Galunenko, orang pertama yang menerbangkan An-225.

An-225 membawa Buran untuk pertama kalinya pada tahun 1989. Dengan sistem kontrol fly-by-wire dan hidraulik triple-redundan, serta memiliki roda pendarat utama yang berjumlah 32 roda, pesawat buatan biro desain Antonov di Kiev, Ukraina, ini memang menjadi partner terbaik Buran satu-satunya sebelum benar-benar memulai misi berat di luar angkasa bersama roket Energia.

Antonov An-225 Mriya mungkin saat ini dikenal luas sebagai angkut paling ideal dengan jumlah muatan besar. Namun, tidak demikian dengan Bühr. Ia ingin mengembalikan hakikat An-225 Mriya, meskipun dalam sebuah model skala.

Pesawat RC (remote control) Antonov An-225 setinggi 11,5 kaki dan berat 26 pon yang dibangun Bühr sukses menampilkan aksi peluncuran Buran di udara, dari atas An-225, sesuatu yang tidak pernah bisa dilihat secara langsung dan belum pernah terjadi dalam versi aslinya. Terdapat banyak alasan atas itu. Lagi pula, sekalipun ingin dipaksakan meluncur di atas An-225, dua unit Buran yang tersisa sudah lama pensiun dan disimpan apik di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.

Disebutkan, Bühr melakukan pertunjukkan RC aeromodelling Antonov An-225 pada tahun 2018. Dalam sebuah video, tampak, pesawat dengan wingspan sepanjang 3,5 meter serta berat 12kg itu meluncur mulus di sebuah landasan pacu. Setelah empat menit lebih keliling landasan, Buran akhirnya meluncur dari ‘punggung’ An-225 untuk pertama kalinya di dunia dan mengundang decak kagum dari para penonton. Sekali lagi, itu merupakan pertunjukan yang langka sekali dan tak pernah diterjadi dalam versi aslinya.

Pesawat RC model An-225 Hans Bühr memang bukanlah replika terbesar yang pernah ada. Namun, model buatannya itu diklaim sebagai satu-satunya replika An-225 yang bisa meluncurkan Buran, sesuatu yang mungkin bisa dibilang mendahului takdir.

Baca juga: Setelah 18 Bulan ‘Tidur’, Pesawat Terbesar di Dunia Antonov An-225 Kembali Mengudara

Disebut demikian, sebab, proyek pesawat air launch atau An-225 Mriya sebagai pesawat peluncur Buran masih dalam proses realisasi. Disebutkan, Presiden Airspace Industry Corporation of China (AICC), Zhang You-Sheng, mengatakan kepada BBC bahwa AICC pertama kali mempertimbangkan kerja sama dengan Antonov pada 2009 dan menghubungi mereka pada 2011.

AICC bermaksud untuk memodernisasi An-225 kedua yang masih dalam proses produksi dan mengembangkannya menjadi peluncuran udara (air launch) ke platform orbit untuk satelit komersial di ketinggian hingga 12.000m. Meskipun sempat terkatung-katung, sampai saat ini, belum ada kejelasan apakah proyek tersebut dihentikan.

Lufthansa Luncurkan “Sleeper Row” Penumpang Bisa Tidur Selonjoran di Kelas Ekonomi

Lufthansa belum lama ini meluncurkan “sleeper’s row” yang memungkinkan penumpang tidur selonjoran di kelas ekonomi. Maskapai nasional Jerman itu juga menawarkan bantal dan selimut kelas bisnis seharga US$260 untuk memungkinkan penumpang tidur dengan nyaman setara kelas bisnis. Layanan ini akan ditawarkan hingga bulan Desember mendatang, dalam penerbangan antara Frankfurt, Jerman dan São Paulo, Brasil.

Baca juga: Tidur Selonjoran di Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Garuda Indonesia Tawarkan Economy Sleeping Comfort

Hanya saja, menjual atau memblok kursi kosong untuk memungkinkan penumpang selonjoran di kursi ekonomi ini hanya bisa dipastikan saat masih di bandara saja, tidak untuk penawaran ekstra saat on board. Sedangkan, ketika di bandara, penumpang tidak mengetahui secara persis kursi atau row mana saja yang kosong dan bisa dibuat selonjoran (sleeper’s row).

Dilansir paxex.aero, program sleeper’s row ini menggunakan pesawat Boeing 747. Dengan begitu, ada sedikit ketimpangan bila penumpang ingin mengeluarkan biaya ekstra untuk bisa selonjoran di kursi kelas ekonomi, dimana kursi di sisi kiri dan kanan pesawat hanya berupa tiga kursi. Sedangkan di row tengah, penumpang yang ikut sleeper’s row mendapat total empat kursi kosong.

Secara benefit, tentu penumpang sleeper’s row di kursi tengah lebih diuntungkan. Tetapi, tak ada informasi mendetail apakah harga sleeper’s row di kursi tengah sedikit mahal dibanding kursi di sisi kiri dan kanan pesawat atau tidak.

Di masa pandemi virus Corona, dimana banyak sekali kursi kosong akibat ditinggal penumpang yang masih khawatir bepergian, konsep sleeper’s row Lufthansa mungkin bisa jadi salah satu cara untuk memaksimalkan load factor. Pada akhirnya, inovasi ini tentu akan bermuara ke pendapatan perusahaan secara keseluruhan.

Di dunia, Lufthansa tentu bukan yang pertama. Sebelumnya, maskapai Air New Zealand sudah lebih dahulu melakoninya. Bahkan, maskapai nasional Selandia Baru itu mendapat hak paten atas konsep SkyCouch, yang memungkinkan penumpang mendapat kursi jauh lebih luas untuk bisa dibuat tidur dengan memutar kursi.

Baca juga: Dalam Penerbangan, Pilih Kelas Ekonomi Premium Atau Ekonomi Biasa?

Selain itu, Garuda Indonesia juga pernah menawarkan program serupa pada Februari tahun lalu. Inovasi layanan bernama ESCort (Economy Sleeping Comfort) itu juga memungkinkan penumpang selonjoran di kursi kelas ekonomi, layaknya kelas ekonomi premium.

Berbeda dengan Lufthansa, layanan ESCort dari maskapai nasional Indonesia itu juga mencakup gratis bagasi hingga 40 kg, pelayanan setara kelas bisnis berupa makanan, perlengkapan, penanganan bagasi, hingga voucher WiFi senilai US$5 atau Rp696 ribu. Di samping itu, penumpang juga akan mendapat miles khusus sebanyak 200 persen dari yang biasanya didapat di kelas-kelas lainnya.

Qantas Wajibkan Penumpang Divaksin Covid-19 Sebelum Terbang

CEO Qantas, Alan Joyce, memastikan pihaknya bakal mewajibkan seluruh penumpang internasional divaksin Covid-19 terlebih dahulu sebelum terbang. Sebelumnya, Joyce mengungkapkan bahwa Qantas tidak berniat kembali melayani penerbangan internasional dalam waktu dekat.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

“Kami sedang mengubah syarat dan ketentuan kami untuk mengatakan, bagi penumpang internasional, bahwa kami akan memintanya untuk melakukan vaksinasi (Covid-19) sebelum mereka bisa naik pesawat,” tegasnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

“Pada (penerbangan) internasional, kami sangat optimis tentang vaksin. Kami pikir dengan peluncuran vaksin tahun depan, kami optimis bahwa kami dapat melihat perbatasan (penerbangan internasional) terbuka cukup signifikan hingga tahun 2021,” tambahnya.

Sebagian besar maskapai penerbangan, lanjut Joyce, diprediksi juga akan menerapkan peraturan serupa (divaksin Covid-19) terlebih dahulu sebelum memulai layanan internasional.

“Saya pikir itu akan menjadi hal yang biasa. Berbicara dengan kolega saya (pimpinan maskapai) di seluruh dunia, saya pikir itu akan menjadi hal yang umum di seluruh dunia,” ujarnya.

“Apa yang kami lihat adalah bagaimana Anda dapat memiliki paspor vaksinasi (sejenis sertifikat kesehatan yang menunjukkan seseorang sehat dan sudah disuntik vaksin Corona atau Covid-19), versi elektroniknya, yang mengesahkan apa vaksin itu, apakah dapat diterima di negara tujuan Anda?” ungkapnya.

“Ada banyak logistik, banyak teknologi, yang perlu diterapkan untuk mewujudkannya, tetapi maskapai penerbangan dan pemerintah sedang mengerjakannya saat ini,” jelasnya.

Meski demikian, Joyce dan Qantas tak berpangku tangan dengan vaksin Covid-19. Sambil menunggu vaksin tersedia secara luas di pasaran, Qantas tetap melayani penerbangan internasional tak berjadwal; salah satunya penerbangan repatriasi. Diharapkan, penerbangan tersebut bisa terus berlangsung hingga perayaan Tahun Baru mendatang untuk mengurangi beban keuangan perusahaan.

Pada penerbangan repatriasi, seluruh penumpang diwajibkan mendapatkan hasil negatif Covid-19 dari tes PCR. Tak hanya itu, Qantas juga melakukan apa yang disebut testing the waste water atau menguji air limbah di setiap penerbangan. Hal itu terbukti ampuh untuk mengecek apakah seseorang terinfeksi virus Corona saat di pesawat atau tidak.

Sayangnya, betapapun ketatnya Qantas melakukan langkah-langkah preventif dalam menekan penularan virus Corona di setiap penerbangan, Australia faktanya tetap menerapkan kebijakan karantina mandiri 14 hari dengan biaya sendiri bagi setiap penumpang. Kebijakan karantina 14 hari sejauh ini belum ada tanda-tanda akan dilonggarkan. Hal inilah yang pada akhirnya menghalangi Qantas untuk memulai layanan internasional.

Padahal, menurut Joyce, selagi vaksin belum tersedia, pemerintah tetap bisa menekan penyebaran virus Corona di Australia dengan memasifkan tes PCR ketimbang karantina mandiri 14 hari. Bila langkah itu diambil, tentu perekonomian akan terus berputar tanpa menimbulkan klaster baru penularan virus Corona.

Baca juga: Etihad dan Emirates: Sampai Vaksin Corona Efektif, Penerbangan Tidak Akan Normal

“Tapi mudah-mudahan, dan saya pikir hipotesis yang dimiliki para ilmuwan, adalah bahwa jika kita bisa mendapatkan data yang menunjukkan bahwa jika Anda memiliki alasan pengujian yang tepat, kita bisa menurunkan (karantina mandiri) 14 hari itu menjadi waktu yang jauh lebih singkat,” katanya.

“Jika itu terjadi, itu membuatnya (penerbangan internasional) lebih memungkinkan,” pungkasnya.

Libur Akhir Tahun Sudah Dekat, PT KAI Sudah Buka Pemesanan Tiket Kereta Jarak Jauh

Libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 tak terasa sudah berada di depan mata. PT Kereta Api Indonesia (KAI) sudah mulai membuka untuk pemesanan tiket kereta api (KA) jarak jauh untuk periode tersebut. Sehingga masyarakat yang akan memesan tiket untuk liburan akhir tahun bisa langsung membelinya melalui KAI Access, kai.id atau agen penjualan resmi lainnya.

Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, PT KAI Bagikan 10.000 Voucher Kereta untuk Guru dan Tenaga Kesehatan

VP Public Relation KAI Joni Martinus mengatakan, tiket-tiket yang dijual adalah KA Taksaka dengan relasi Gambir menuju Yogyakarta, KA Gajayana relasi Malang ke Gambir pp, KA Senja Utama Solo relasi Solo Balapan menuju Pasar Senen, KA Argo Parahyangan dari Bandung ke Gambir.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)


“KA Mutiara Selatan relasi Surabaya Gubeng menuju Bandung pp, dan lain sebagainya,“ kata Joni melalui keterangan tertulis, Senin (23/11/2020).

Joni mengatakan, dalam perjalanan menggunakan kereta, masyarakat tak perlu ragu. Karena KAI tetap mengoperasikan kereta dengan tetap menerapkan berbagai protokol kesehatan secara ketat, disiplin pada setiap waktu sejak di stasiun, di dalam kereta api dan selama perjalanan penumpang.

Dia menambahkan, untuk para penumpang yang memiliki tiket kereta api tetap harus dalam kondisi sehat tidak flu, batuk ataupun demam. Suhu tubuh pun tak melebihi 37,3 derajat Celcius serta selalu dihimbau menggunakan pakaian lengan panjang. Tak hanya itu, penumpang juga tetap harus menunjukkan surat bebas Covid-19 (Tes PCR/Rapid Test) yang masih berlaku selama 14 hari sejak diterbitkan.

penumpang menunggu masuk ke peron (PT KAI)

“Konsistensi KAI dalam menerapkan kesehatan di lingkungan kereta api telah diakui. Hal ini dibuktikan dengan didapatkannya Safe Guard Label SIBV yang sudah mengacu pada parameter yang disusun oleh ahli dan auditor kantor pusat BV, international best practices, World Health Organization (WHO), regulasi Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan danGugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,” ujar Joni.

Untuk diketahui, sejak dibukanya kembali layanan perjalanan KA pada 27 Juli 2020 hingga 22 November kemarin, jumlah pelanggan sudah mencapai 337.851. Meski begitu KAI hingga saat ini masih mengikuti Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor SE 14/2020 tanggal 8 Juni 2020 di mana KAI menjual tiket KA Jarak Jauh dan Lokal hanya 70 persen dari kapasitas tempat duduk yang tersedia untuk menerapkan jarak sosial.

Baca juga: Rayakan HUT Ke-75, PT KAI Berganti Logo yang Terinspirasi dari Rel Kereta

“Tidak perlu ragu untuk naik kereta api, karena KAI telahm enerapkan berbagai protokol kesehatan secara ketat dan disiplin setiap waktu,” kata Joni.

Bandara Shanghai Kacau Lantaran Staf Dinyatakan Positif Covid-19

Bandara Internasional Shanghai Pudong mengalami kekacauan setelah seorang pekerja dinyatakan positif Covid-19. Ini membuat para pejabat melakukan pengujian di seluruh bandara. Dalam foto yang beredar, terlihat petugas dengan menggunakan kostum hazmat terekam menahan kerumuman penumpang di area basement bandara itu.

Baca juga: Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (22/11/2020), hal ini membuat kelompok tersebut melakukan upaya massal untuk kebebasan karena kekhawatiran karantina wajib selama 14 hari. Dalam video yang beredar, para penumpang tersebut terlihat mendorong para petugas yang menggunakan kostum hazmat.

Pada video lainnya menunjukkan kumpulan massa penumpang yang mencoba melarikan diri melalui tanjakan ketika pekerja yang kalah jumlah berusaha menahan mereka. Sedangkan ratusan lainnya membentuk antrian panjang untuk pengujian.

Penerbangan dilaporkan dibatalkan setelah staf di dua zona utama bandara mengeluarkan pemberitahuan untuk pengujian wajib. Dalam beberapa laporan menunjukkan bandara hanya menguji anggota staf sedangkan penumpang mengikuti aturan baru 14 hari wajib karantina.

Untuk diketahui, pada Jumat lalu, Shanghai mengonfirmasi sepasang suami istri terinfeksi Covid-19 di distrik Pudong kota. Keduanya dicurigai karena dilaporkan dari hasil positif setelah tes swab .

Hal ini kemudian membuat tim ahli melacak orang-orang yang mungkin telah terpapar dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat. Sebuah pernyataan menyebutkan Cina daratan melaporkan 17 kasus Covid-19 baru dan pada hari Sabtu naik dari 16 hari sebelumnya dengan tiga kasus penularan lokal dan sembilan kasus berasal dari luar negeri, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada hari Minggu.

Bahkan dua dari transmisi lokal terjadi di Mongolia Dalam dan satu di Shanghai. Otoritas kesehatan Mongolia Dalam mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah mengonfirmasi dua kasus virus korona baru di kota Hulunbuir di perbatasan Cina dengan Rusia.

Baca juga: Keren, Bandara di Amerika Punya Alat Scan Covid-19! Seperti Apa?

Selain itu, kasus positif di kota itu ditemukan setelah pengujian massal menyusul infeksi seorang inspektur keamanan di Bandara Internasional Pudong dan istrinya.
Cina Daratan melaporkan 11 kasus asimtomatik lainnya pada 21 November, turun dari 18 pada hari sebelumnya. Sejauh ini telah melaporkan total 86.431 kasus COVID-19, dengan jumlah kematian resmi 4.634.

Rusia Bakal ‘Hidupkan Kembali’ Buran, Pesawat Ulang-Alik yang Jadi Kebanggaan di Era Perang Dingin

Pesawat antariksa ialah teknologi yang mahal. Pesawat seperti itu membutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk dirancang, diuji, dan dibangun. Lalu, setelah terpisah dari modul yang membawa para awak kembali ke bumi, mereka ‘dibuang’ ke antariksa pada misi pertama sekaligus terakhir mereka.

Baca juga: Mengulang 45 Tahun Lalu, Dua Astronaut NASA Mendarat di Laut dengan Kapsul SpaceX

Di masa lalu, tepatnya pada 14 April 1981, pesawat ulang-alik Columbia milik NASA, wahana antariksa pertama yang dirancang agar dapat dipakai kembali, sempat menjadi jawaban atas itu. Kala itu, pesawat ulang-alik yang juga dikenal sebagai NASA’s Space Shuttle atau Space Shuttle itu mampu mengangkut sekitar 24 ton muatan, membawa tujuh astronot, dan mengorbit selama 15-17 hari. Hal itu dirasa tak cukup.

Oleh karenanya, Uni Soviet, yang menjadi rival utama AS dalam Perang Dingin, melalui Badan Antariksa Rusia (Rocosmos), tak ingin ketinggalandan meluncurkan Buran. Pesawat ulang-alik pertama Soviet (Rusia) yang bisa digunakan kembali itu memulai debutnya (terbang perdana) 32 tahun lalu atau pada 15 November 1988, sekitar tujuh tahun setelah pesawat ulang-alik AS meluncur. Dengan roket Energia yang mengangkut pesawat itu ke ruang angkasa, Buran berhasil menyelesaikan dua orbit di sekitar Bumi dan kembali ke lokasi peluncurannya.

Buran, sebelum meluncur ke luar angkasa. Foto: roscosmos.ru

Buran diklaim jauh lebih hebat dibanding pesawat ulang-alik NASA, dengan kemampuan mengangkut 30 ton kargo, mampu mengorbit dua kali lebih lama hingga 30 hari, serta mampu membawa 10 kosmonot (astronot). Lebih canggih lagi, Buran dapat terbang dan mendarat dalam mode otomatis, sesuatu yang tak dimiliki pesawat ulang-alik AS.

Meski berhasil kembali ke bumi, namum Buran tak sepenuhnya bisa langsung digunakan kembali untuk penerbangan luar angkasa berikutnya. Badan pesawat dilaporkan penuh dengan retakan. Selain itu, mesinnya juga harus mendapat perbaikan besar. Pada akhirnya, Buran hanya menjadi kenangan; terlebih setelah hubungan AS-Soviet mencair. Usai pensiunnya Buran, misi luar angkasa Rusia digantikan dengan pesawat atau roket Soyuz.

Akan tetapi, belum lama ini, Roscosmos dilaporkan akan menghidupkan kembali Buran. Tentu dengan teknologi dan biaya, baik produksi maupun operasional, yang jauh lebih efisien. Buran versi Soviet, saat itu, secara total, di bawah proyek Energia-Buran menelan biaya lebih dari 16 miliar rubel. Uang sebanyak itu bahkan bisa digunakan untuk membangun sebuah megapolis dari nol. Singkatnya, Buran sangat mahal.

Namun, gagasan Buran, yang notabene menjadi wahana antariksa pertama Soviet yang dirancang agar dapat dipakai kembali, tetap menarik. Roscosmos sebetulnya sudah berhasil mengembangkan pesawat luar angkasa canggih bernama Oryol. Tetapi, Oryol tidak dapat digunakan kembali layaknya Buran dan dianggap belum menjadi solusi atas mahalnya proyek luar angkasa.

Antonov An-225 awalnya didesain untuk mengangkut Buran, sebagaimana di foto ini. Sputnik / Igor Kostin

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

“Kita perlu membuat pesawat yang dapat digunakan kembali dengan konfigurasi yang sama sekali berbeda – sesuatu seperti Buran dengan kemampuan mendarat di landasan pacu,” jelas kepala Roscosmos, Dmitry Rogozin, dikutip dari rt.com. Hanya saja, ia mengakui bahwa pembuatan kapal luar angkasa modern bersayap dan dapat digunakan kembali untuk menggantikan Soyuz akan membutuhkan waktu lama.

Sebagai informasi, dahulu, Buran diproduksi sebanyak lima unit. Tiga unit hancur akibat tertiban hanggar runtuh pada tahun 2002. Adapun dua lainnya saat ini masa ada dan disimpan di Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan.