Australia Ciptakan Ambulans Udara eVTOL Paling Efisien di Dunia Bertenaga Hidrogen

Start-up asal Australia, AMSL Aero, akhirnya mulai unjuk gigi terkait proyek ambulans udara all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL) bertenaga hidrogen. Perusahaan tersebut, belum lama ini, merilis prototipe ambulans udara mereka, Vertiia, dengan jangkauan terbang hingga 800 km; tergolong jauh dibanding wahana serupa. Tak hanya itu, eVTOL ini juga diklaim sebagai yang paling efisien di dunia.

Baca juga: Uber Elevate Gandeng GE Aviation Guna Wujudkan Taksi Udara eVTOL Ridesharing 2023

Dilansir New Atlas, wahana udara atau ambulans udara yang dilengkapi dengan delapan rotor yang menempel pada dua tiang serat karbon lebar dan membentang dari ekor atas serta depan ini, dikembangkan bersama dengan tim dari University of Sydney, mencakup sistem, spesialis otomatisasi dan sensor.

Kedelapan rotor tersebut bisa berfungsi dalam mode vertikal maupun horizontal, sehingga bisa memudahkan Vertiia lepas landas dan mendarat secara vertikal ataupun sebaliknya, lepas landas dan mendarat secara horizontal, layaknya pesawat komersial pada umumnya.

Selain itu, ambulans udara ini juga dibekali dengan vertical stabilizer -yang juga berfungsi sebagai pengait badan Vertiia dengan tiang karbon- serta flap untuk memasksimalkan aerodinamika pesawat untuk membuat penerbangan jadi lebih efisien.

Di luar fungsinya sebagai ambulans udara, Vertiia juga bisa difungsikan sebagai taksi udara, memuat sekitar dua-empat penumpang dengan jarak jelajah di kecepatan rata-rata 300 km per jam. Lagi-lagi, kemampuan tersebut tergolong cepat dibandingkan dengan kompetitor. Sudahlah cepat, jarak jangkau tergolong jauh, mencapai 800 km, tentu Vertiia patut ditunggu kehadirannya.

Tak cukup sampai di situ, AMSL Aero juga mengklaim Vertiia sebagai eVTOL paling efisien di dunia, berkat dimensi kabin yang kecil dan efektif serta penggunaan serat karbon di hampir seluruh komponennya.

Selain membuat ambulans udara dan taksi udara bertenaga powertrain hidrogen dengan jangkauan terbang sejauh 800 km, AMSL Aero juga membuat Vertiia bertenaga baterai, dengan jarak tempuh mencapai 250 km. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Dari segi efektivitas saat men-charge, powertrain hidrogen disebut tak membutuhkan waktu lama, berbanding terbalik dengan versi baterai.

AMSL Aero menargetkan, ambulans udara, yang nantinya akan dioperasikan oleh CareFlight -sebuah perusahaan aeromedis yang ingin menggunakan eVTOL yang bersih dan nyaman ini sebagai ambulans udara- bisa memulai layanan pada 2023 mendatang; tentu setelah eVTOL Vertiia berhasil mendapatkan sertifikasi dari regulator penerbangan sipil Eropa, Australia, dan Amerika.

Baca juga: Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Sertifikasi selama ini memang kerap menjadi tantangan terberat start-up produsen taksi udara eVTOL di seluruh dunia. Bukan masalah teknologi atau keamanan penerbangan semata, sertifikasi menjadi sulit untuk dilalui karena biayanya yang cukup mahal.

Akan tetapi, sepertinya itu tak akan menjadi masalah serius bagi AMSL Aero. Belum lama ini, perusahaan tersebut berhasil mendapat kucuran dana sebesar US$2,2 dari Cooperative Research Centres Project serta tambahan dengan nominal serupa dari IP Group.

Satu Tahun Proyek Bandara Jewel Changi, Safdie Architects Rilis Film Pendek

Bandara Jewel Changi Singapura yang sangat futuristik terlihat hampir tidak terasa nyata. Sebab bandara ini setengahnya sebagai pusat perbelanjaan bahkan pusat bandara pun setengahnya taman yang menyediakan sisi hiburan darat 24 jam untuk semua pengunjung.

Baca juga: Megah dan Bertabur Hiburan Mewah, Jewel Bandara Changi Siap Dibuka 17 April 2019

Nyatanya, Bandara Jewel Changi Tak terasa sudah satu tahun hadir untuk menemani pelancong dan penumpang yang transit atau tiba di Negeri Singa ini. Karena hal tersebut Safdie Architects, perang Jewel Changi merilis film untuk merayakan satu tahun proyek tersebut.

Safdie menghadirkan film pendek yang berisi bagian penting dari bandara Singapura yakni air terjun dalam ruangan tertinggi di dunia sebagai bintang utamanya. Selain itu lembah hutan yang mengelilinginya, taman empat lantai yang dipenuhi dengan ribuan jenis tanaman serta pohon.

KabarPenumpang.com melansir dari laman mymodernmet.com (22/11/2020), film pendek empat menit tersebut dibuat oleh Helen Han dengan judul Garden of Wonder. Film ini bisa membuat yang melihatnya seolah berada di sana dan menangkap keanggunan struktural desain dari Safdie.

Bahkan menawarkan sekilas program yang berpusat pada komunitas yang memupuk konektivitas dalam penggunaan normal bandara sehari-hari. Dalam karyanya ini, Helen berfokus pada dimensi eksperiensial arsitektur dan artikulasi serta terungkapnya berbagai narasi melalui berbagai mode representasi.

Helen menjelaskan bagaimana dia berharap dapat menjangkau mereka yang menonton film pendek tersebut.

“Saya menyadari hak istimewa untuk dapat belajar dan terpapar pada profesi arsitektur. Saya menawarkan pekerjaan saya sebagai lensa bersama, untuk mengekspos dan memperluas pemahaman kritis orang-orang terhadap peran arsitektur dalam membentuk lingkungan global,” kata Helen.

Sehingga bagi pelancong mancanegara yang belum menjadikan Bandara Changi Singapura dalam daftar tujuan perjalanan, bisa memasukkannya. Selain menikmati hiburan dari air terjun, pelancong juga bisa berinteraksi di taman, jaring langit dan labirin pagar.

Baca juga: Jewel Changi, Berawal dari Ide Tempat Parkir Kini Menjadi Taman Spektakuler Dalam Ruangan

Diketahui, Bandara Changi Singapura mendapatkan gelar Bandara Terbaik Dunia selama delapan tahun berturut-turut. Safdie Architects adalah biro desain arsitektur yang dimiliki oleh Moshe Safdie, seorang arsitek Israel-Kanada yang lahir pada 14 Juli 1938.  Safdie terkenal sebagai desainer perkotaan, pendidik, ahli teori, dan penulis. Dia paling dikenal dengan merancang Marina Bay Sands dan Bandara Jewel Changi.

Asrama Bersejarah Pramugari ‘Astronot’ Braniff Airways Disulap Jadi Hotel Mewah

Sebuah bangunan bersejarah di AS, Braniff International Hostess College, yang kondang dikenal sebagai bangunan bekas asrama pramugari Braniff International Airways, belum lama ini dialihfungsikan menjadi hotel mewah di Dallas, Amerika Serikat (AS); Hotel Braniff.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Hotel mewah dengan 75 kamar mewah ini nantinya tak akan menghilangkan nuansa atau esensi sejarah dari bangunan itu sendiri. Hotel itu disebut bakal menampilkan tema desain maskapai yang didirikan sejak 1928 dan stop operasi pada Mei 1982 tersebut.

Dilansir thepointsguy.com, asrama yang terletak tak jauh dari jalan tol Dallas North ini didirikan pada tahun 1968. Braniff International Hostess College dirancang oleh firma desain lokal Pierce, Lacey and Associates. Menurut Texas Historical Commission, gedung lima lantai ini menampilkan desain “Mid-century internationalism style” atau dapat diartikan “abad pertengahan gaya internasionalisme.”

“Kain dan karya seni warna-warni dari Meksiko dan Amerika Selatan memberi ruang itu nuansa mod sangat kental,” tulis kritikus arsitektur Dallas Morning News, Mark Lamster pada tahun 2014 silam.

“Bahkan dindingnya sangat seksi, terbuat dari sprayed concrete dibiarkan dalam keadaan kasar yang disengaja tetapi dengan lapisan slick plastic. Profil mereka yang melengkung dibuat secara dramatis oleh lantai travertine hitam,” tambahnya.

Sayangnya, karena berbagai alasan, asrama ikonik maskapai dengan tagline “You can fly with us seven times and never fly the same color twice” tersebut harus dijual pada tahun 1975 atau sekitar tujuh tahun pasca didirikan. Usai dijual, silih berganti, asrama dimiliki empat bos baru hingga akhirnya jatuh ke tangan Centurion American Development Group, pengembang ternama di Dallas.

Hanya saja, sampai saat ini, belum dijelaskan dengan detail akan seperti apa Hotel Dallas bekas asrama pramugari maskapai Braniff International Airways tersebut. Yang pasti, Hotel Dallas ini tak akan menyuguhkan pemandangan pesawat serta suasana bandara, layaknya TWA Hotel, yang notabene terletak di area Bandara Internasional John F. Kennedy, New York, AS.

Seragam pramugari Braniff Airways yang mengenakan helm. Foto: Perpustakaan Eugene McDermott dari University of Texas

Sedikit tentang Braniff International Airways, mungkin tak banyak avgeeks atau pecinta penerbangan saat ini yang sering mendengar. Namun, maskapai ini bisa dibilang sangat terkenal di zamannya. Banyak hal yang melatarbelakangi hal itu, salah satunya seragam pramugarinya.

Dalam sebuah penelusuran mendalam di berbagai sumber, seperti foto-foto yang dipublish oleh Perpustakaan Eugene McDermott dari University of Texas, wajar saja bila seragam maskapai Braniff jadi pusat perhatian. Betapa tidak, seragam pramugari maskapai itu sangat out of the box hingga terlihat seperti seragam astronot.

Baca juga: Nostalgia dengan 5 Peta Jadul Jangkauan Maskapai, Mana Lebih Kreatif?

Bayangkan saja, pakaian pramugarinya adalah dress dengan helm kaca di kepala. Helmnya berbentuk bulat dan bagian tengahnya bolong. Walau memakai helm, rambut para pramugarinya masih dihiasi scarf.

Selain itu, Braniff International Airways juga menyokong tagline aneh yang mendorong pergantian seragam pramugari saat di udara sekitar tahun 1965. Dalam sekali penerbangan, pramugari bisa bergonta-ganti pakaian hingga empat kali. Semua dilakukan semata-mata untuk menghibur pelanggan, khususnya setiap penerbangan jarak jauh. Perancang seragam tersebut pun juga dirancang oleh desainer kenamaan dunia, Emilio Pucci.

Pengamat: Beijing Mau Terapkan ADIZ di Laut Cina Selatan, tapi Takut ASEAN ‘Ngamuk’

Sejak 2010 lalu, Beijing memang telah merancang Air Defense Identification Zone (ADIZ) di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan (LCS). Di Laut Cina Timur, tepatnya di atas pulau yang diperebutkan antara Jepang dan Cina yaitu Senkaku atau Diaoyu, Beijing sudah menerapkan ADIZ sejak 23 November 2013.

Baca juga: Insiden Penembakan Korean Air 007 Ingatkan Dunia pada ADIZ, Apa Itu?

Meskipun terlihat gagah dengan kekuatan militernya, banyak pengamat menilai pengumuman ADIZ di Laut Cina Timur tidak dibarengi dengan kesiapan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). PLA dianggap tak memiliki kemampuan untuk mendeteksi, melacak, menjaga, dan mengintersep armada musuh. Bila wilayah yang tak seluas LCS saja PLA belum sanggup, bagaimana bisa Beijing berani menerapkan ADIZ di LCS?

Dilansir South China Morning Post, Lu Li-Shih, mantan instruktur Akademi Angkatan Laut Taiwan di Kaohsiung, berujar, saat ini, Beijing masih sibuk membangun dan mengembangkan pulau-pulau buatan di Fiery Cross, Subi, dan Mischief reefs. Semua itu dilakukan dalam rangka persiapan penerapan ADIZ.

“Citra satelit baru-baru ini menunjukkan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat telah mengerahkan pesawat pencegat KJ-500 dan pesawat patroli anti-kapal selam KQ-200 di Fiery Cross Reef,” katanya, mengacu pada gambar yang diambil oleh ImageSat International Israel dan Asian Maritime Transparency Initiative di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS), sebuah think tank yang berbasis di Washington, AS.

Gambaran wilayah kedaulatan Cina jika ADIZ jadi diterapkan di LCS. Foto: Centre for International Governance Innovation

Menurut sebuah sumber di PLA, Cina, walau bagaimanapun, tetap tidak akan berani melangkah sampai sejauh itu (menerapkan ADIZ). Sebab, tentu saja hal itu akan merusak hubungan diplomatik Beijing dengan ASEAN serta pertimbangan lainnya. “Beijing ragu untuk mendeklarasikan ADIZ di Laut China Selatan karena sejumlah pertimbangan teknis, politik, dan diplomatik,” katanya.

Senada dengan pendapat di atas, seorang peneliti senior terkait kebijakan publik, Drew Thompson, melihat selama ini negara-negara di ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei bisa dibilang diam saja dengan klaim Cina atas LCS. Terbukti, proyek pembangunan pulau Pratas, Paracel, dan Spratly serta pulau-pulau lainnya tak sampai berhenti dibuatnya.

Namun demikian, bila Cina sampai menerapkan ADIZ di LCS, lanjutnya, diyakini negara-negara itu, termasuk Indonesia, tidak akan tinggal diam. Terlebih, ada sekutu kuat (Amerika Serikat) yang siap membantu melawan Beijing. Lebih dari itu, bukan tak mungkin negara-negara itu akan bersatu melawan demi kedaulatan negara tanpa harus bergantung dengan AS.

“Deklarasi seperti itu (ADIZ) akan sangat merusak hubungan Cina dengan negara-negara Asia Tenggara, yang sampai sekarang sebagian besar menyetujui ketegasan dan provokasi Cina, termasuk pulau reklamasi dan militerisasi di LCS,” katanya.

“Tetapi jika Cina mendeklarasikan ADIZ, mereka akan dipaksa untuk memilih, bukan antara AS dan Cina, tetapi antara hubungan ekonomi mereka dengan Cina dan kedaulatan mereka sendiri,” tambahnya.

Sekilas tentang ADIZ, mungkin ada yang bertanya, apa itu ADIZ? Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), ADIZ adalah zona bagi keperluan identifikasi dalam sistem pertahanan udara suatu negara, dimana zona tersebut pada umumnya terbentang mulai dari wilayah teritorial negara yang bersangkutan hingga mencapai ruang udara di atas laut lepas yang berbatasan dengan negara tersebut.

Baca juga: AS Kirim Pesawat Mata-mata Berbendera Sipil, Rudal Intai Penerbangan Komersial di Sekitar LCS

Penerapan ADIZ oleh suatu negara tidak dimaksudkan untuk memperluas kedaulatan negara pemilik ADIZ tersebut, namun lebih pada kepentingan pertahanan udara bagi negara pengadopsi.

Dikutip dari Indomiliter.com, jangkauan zona ADIZ bervariasi, tergantung doktrin pertahanan dan supermasi sipil suatu negara; tepatnya antara puluhan hingga ratusan kilometer terhitung mulai dari batas terluar wilayah kedaulatan – sejauh ini tidak ada standar baku.

(Video) Boeing 747 British Airways Tiba-tiba Terbakar Saat di Bandara

Bandara Teruel, yang berada sekitar 161 km di utara kota Valencia, Spanyol, memang termasuk jenis bandara yang disebut aircraft graveyard atau kuburan pesawat dan menjadi salah satu kuburan pesawat ternama di Eropa, bersama kuburan pesawat di Tarbes dan Francazal, Perancis, serta kuburan pesawat di Bandara Cotswold, Gloucestershire, sebelah Barat London, Inggris.

Baca juga: Boeing 747 British Airways Disulap Jadi Museum dan Bioskop

Khusus untuk Spanyol, selain Teruel, sebetulnya ada lagi kuburan pesawat lain yang tak terlalu masyhur, tepatnya di Castellón, sebelah timur Negeri Matador. Meski masih kalah pamor dibanding kuburan pesawat di Teruel, namun, belakang kuburan pesawat Castellón menjadi sorotan di jagat penerbangan akibat kebakaran yang melibatkan Boeing 747 British Airways.

Dilansir newshub.co.nz, dalam sebuah tayangan video, terlihat Queen of the Skies British Airways dengan livery One World mengeluarkan asap hitam. Sumber kebakaran atau asap hitam itu diduga berasal dari area di belakang kokpit. Otoritas Pemadam Kebakaran (SIAB) setempat sejauh ini belum mengetahui penyebab kebakaran. Penyelidikan masih dilakukan guna mencari kronologi dan penyebab utama kebakaran.

Sejatinya, pesawat Boeing 747 British Airways dengan nomor registrasi G-CIVD atau dikenal juga dengan ‘City Of Coventry’ itu akan dibongkar atau didaur ulang. Pesawat diketahui sudah dipensiunkan oleh maskapai setelah 26 tahun beroperasi.

Bisnis daur ulang atau membongkar pesawat purna tugas lama-kelamaan memang semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.

Kondisi pesawat usai kebakaran. Foto: newshub.co.nz

Melihat hal itu, riset di Eropa coba mencari teknik pembuangan yang paling ekonomis dan ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.

Baca juga: Boeing 747 Cathay Pacific Legendaris Dijual Rp525 Ribu! Tidak Percaya?

Valliere Aviation, salah satu raksasa daur ulang pesawat tua di Eropa, mengerti betul betapa menggiurkannya pesawat tua. Biasanya pesawat tua dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Semua itu untuk dijual kembali di pasar suku cadang internasional. Namun, itu bukan bisnis satu-satunya. Di Eropa, tepatnya di Jerman, pesawat purna tugas dibongkar dan dijadikan souvenir atau gantungan kunci oleh Aviationtag.

IATA: Sepanjang 2020/2021, Maskapai Penerbangan Global Rugi Rp2.219 Triliun

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Baca juga: IATA Serukan Pemerintah Kucurkan Dana Rp1.133 Triliun, Jika Tak Ingin Maskapai Bangkrut

“Krisis ini menghancurkan dan tak henti-hentinya,” kata Direktur Jenderal IATA, Alexandre de Juniac dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari CNN International.

Lebih lanjut, De Juniac, menyebut wabah Covid-19 menjadikan tahun 2020 sebagai tahun keuangan terburuk dalam sejarah. Industri penerbangan diprediksi akan merugi sebesar US$118,5 miliar atau setara Rp1.667 triliun (kurs 14.135) pada 2020, lebih buruk dari diperkirakan semula sebesar US$84,3 miliar atau sekitar Rp1.187 triliun (kurs 14.135) pada bulan Juni lalu.

Hal itu kemudian dilengkapi dengan kerugian di tahun 2021 sebesar US$38,7 miliar, setara Rp537 triliun (kurs 14.135), jauh lebih besar dari perkiraan semula pada bulan Juni lalu, sebesar US$15,8 miliar atau setara Rp212 triliun (kurs Rp14.135)

“Kami perlu membuka kembali perbatasan (penerbangan internasional) dengan aman tanpa karantina sehingga orang akan terbang lagi. Dengan maskapai penerbangan yang diperkirakan akan mengeluarkan uang tunai setidaknya hingga kuartal keempat tahun 2021 tidak ada waktu untuk merugi,” jelas De Juniac.

Di kesempatan lain, IATA menyebut, pandemi virus Corona telah membuat industri penerbangan rugi hingga US$510 miliar atau setara Rp7.028 akibat lost sales atau kehilangan penjualan. Traffic penumpang saat ini juga diperkirakan turun sekitar 60 persen menjadi hanya sekitar 1,8 miliar, jumlah yang kira-kira sama dengan traffic penumpang di tahun 2003.

Akibat dari itu, tentu saja banyak maskapai yang mem-PHK karyawan. Bahkan, tak sedikit maskapai yang bangkrut akibat pandemi virus Corona. Terbaru, belum lama ini, maskapai Norwegian Air dilaporkan tengah menempuh prosedur anti bangkrut (bankruptcy protection) kepada pemerintah agar mereka tetap bisa bertahan setidaknya hingga kuartal pertama 2021.

Sejauh ini, pemerintah global telah mengucurkan setidaknya US$173 miliar atau setara Rp2.445 triliun (kurs 14.135), semata mencegah agar tak lebih banyak maskapai jatuh bangkrut. Stimulus dari pemerintah termasuk di dalamnya bantuan hukum atau lobi-lobi ke kreditur agar mau memberikan keringanan atau restrukturisasi utang.

Meski virus Corona masih mewabah di seluruh dunia, namun, perkembangan vaksin Covid-19 yang amat menjanjikan telah membawa angin segar untuk mengembalikan kepercayaan penumpang terhadap transportasi udara.

Baca juga: Qantas Wajibkan Penumpang Divaksin Covid-19 Sebelum Terbang

Pasalnya, IATA menganggap, sekalipun mengalami peningkatan sekitar 15 persen dibanding tahun lalu menjadi US$117,7 miliar atau setara Rp1.653 triliun (kurs 14.135), penerbangan kargo dianggap tak dapat menggantikan revenue maskapai atas penumpang.

Jumlah penumpang diperkirakan akan tumbuh menjadi 2,8 miliar pada 2021, jauh dari angka tahun lalu mencapai 4,5 miliar. Paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik diperkirakan akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.

IATA Kembangkan Aplikasi Seluler untuk Bantu Perjalanan di Masa Pandemi

International Air Transport Association atau IATA belum lama ini mengembangkan aplikasi seluler untuk perjalanan di masa pandemi Covid-19. Aplikasi ini hadir untuk membantu penumpang menavigasi pembatasan perjalanan Covid-19 dan secara aman membagikan sertifikat uji dan vaksin maskapai serta pemerintah.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

Sebagai badan penerbangan yang mewakili banyak maskapai besar dunia, IATA berencana untuk menguji coba platform Travel Pass pada akhir tahun dan menerapkannya untuk ponsel Android dan iOS pada paruh pertama tahun depan. KabarPenumpang.com melansir dari laman thejakartapost.com (24/11/2020), maskapai penerbangan mendesak pemerintah untuk mengganti persyaratan karantina.

Hal ini agar lalu lintas dengan pengujian Covid-19 yang sistematis dengan beberapa keberhasilan.

“Prioritas utama kami adalah membuat orang bepergian lagi dengan aman,” kata kepala keamanan IATA Nick Careen.

Careen mengatakan, hal ini berarti memberi kelayakan pada pemerintah bahwa pengujian Covid-19 yang sistematis dapat berfungsi sebagai pengganti persyaratan karantina. Dia juga menyebutkan, kesehatan penumpang dan data lainnya tidak tersimpan secara terpusat tetapi diautentikasikan dengan blockchain.

Sehingga para penumpang pun bisa dengan mudah untuk mengontrol apa yang mau mereka bagikan. IATA menambahkan, aplikasi Perjalanan Tanpa Kontak, baru akan menggabungkan informasi paspor dengan sertifikat tes dan vaksinasi yang diterima dari laboratorium yang juga berpartisipasi.

Baca juga: IATA: Maskapai Kehilangan Revenue dari Penumpang Sebesar 55 Persen

IATA mengatakan, bahwa ini juga akan mengacu pada daftar global persyaratan kesehatan dan pusat pengujian serta vaksinasi. Untuk diketahui, platform ini dibuat dengan standar open source dalam membantu interoperabilitas dengan sistem yang ada termasuk aplikasi pelanggan maskapai anggota.

Satelit GPS III Generasi Ke-4 Buatan Lockheed Martin Resmi Meluncur, Ini Deretan Manfaatnya

Satelit GPS III-SV04 milik Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (AS) atau US Space Force sukses meluncur pada Kamis, 5 November lalu. Satelit seberat 2 ton lebih yang mengorbit di ketinggian sekitar 12.500 mil itu meluncur bersama Roket Falcon 9 dari Space Launch Complex 40 di Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral, AS.

Baca juga: Foto Citra Satelit “Before-After” Kawah Bekas Ledakan Besar di Beirut Lebanon

Penerbangan satelit ini menandai pengiriman GPS ketiga untuk SpaceX. Rencananya, militer AS akan meluncurkan 10 satelit GPS untuk menggantikan seluruh satelit lama yang saat ini beredar di konstelasi.

Disadari atau tidak, manfaat dari satelit GPS III sangat terasa di kehidupan sehari-hari, seperti mencatat transaksi keuangan dan perdagangan saham, panggilan telepon, ramalan cuaca, deteksi gempa bumi, hingga menjaga jaringan listrik tetap bekerja. Selain itu, tentu saja GPS atau Global Positioning System sangat berguna sebagai penunjuk arah.

“Ini lebih dari sekadar petunjuk arah mengemudi,” kata Tonya Ladwig, wakil presiden sistem navigasi luar angkasa Lockheed Martin, divisi yang membuat satelit tersebut, sebagaimana dikutip dari cnet.com.

Saking berdampaknya, pundi-pundi uang yang dihasilkan pun juga cukup besar. Menurut sebuah studi tahun lalu yang dipimpin oleh Institut Standar dan Teknologi Nasional, GPS memiliki dampak ekonomi sekitar US$1 miliar per hari di AS. Itu baru di AS, bagaimana dengan dunia? Terkait itu, Greg Milner, seorang penulils asal AS mungkin punya jawabannya.

“Mengukur nilai keseluruhan GPS hampir tidak mungkin,” tulis Greg Milner dalam Pinpoint, sebuah buku keluaran tahun 2016 tentang bagaimana sistem berbasis ruang angkasa muncul dan pengaruhnya terhadap dunia.

Pertanyaannya, bagaimana GPS bekerja hingga menjadi se-vital itu? Saat ini, setidaknya ada sekitar 31 satelit di konstelasi GPS dan 24 di antaranya dianggap tak terlalu canggih. Kesemua satelit memancarkan sinyal dan ditangkap oleh ponsel di darat.

Sampai di sini, GPS sebetulnya belum bisa menemukan lokasi ponsel berada, hanya bisa memancarkan sinyal dan diterima ponsel, layaknya siaran radio. Untuk bisa menemukan sebuah lokasi, dibutuhkan integrasi serta pengaturan waktu dalam bentuk lintang, bujur, dan ketinggian – serta kecepatan dan arah. Di sinilah Google Maps, Apple Maps, dan sistem informasi geografis lainnya berperan.

Kembali ke GPS III, satelit seri keempat buatan Locheed Martin ini tentu memiliki sejumlah keunggulan dibanding GPS pendahulunya yang pertama kali diluncurkan pada April 1995. GPS III dinilai akan membuat sinyal tiga kali lebih kuat, anti buffering hingga delapan kali lipat, dan mampu bertahan di orbit hingga 15 tahun.

Baca juga: Airbus A320 Qingdao Airlines Dilengkapi Sistem Internet Satelit Berkecepatan Tinggi 100 Mbps

Tak hanya itu, GPS III juga terintegrasi dengan satelit Galileo milik Uni Eropa; dan sebaliknya, tidak terintegrasi dengan sistem satelit navigasi global atau global navigation satellite systems (GNSS) lainnya, seperti Glonass Rusia dan BeiDou China. Dengan begitu, lokasi ponsel akan jadi jauh lebih akurat.

Di medan pertempuran, GPS III generasi keempat ini juga akan membuat pengiriman pesan jauh lebih aman karena terenskripsi tingkat tinggi. Selain itu, tentu saja anti lemot, kemampuan spot beam untuk sinyal yang terfokus di area pertempuran serta penambahan array retro-reflektor laser di masa mendatang yang memungkinkan pemosisian satelit disempurnakan melalui laser berbasis darat.

Naik Emirates dan Transit di Dubai Lebih dari 10 Jam? Penumpang Bisa Menginap Gratis di Hotel

Untuk menikmati penerbangan di masa pandemi saat ini tidaklah mudah dan bisa dikatakan tahun 2020 sangat menegangkan untuk bepergian. Bahkan di awal Covid-19 banyak penerbangan yang di batalkan dan negara-negara lain menutup akses. Nah, saat ini meski masih berada dalam masa pandemi, penerbangan dan negara di dunia pun mulai membuka akses mereka.

Baca juga: Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

Sehingga membuat pelancong atau pebisnis bisa mulai kembali perjalanan mereka. Emirates memberikan kabar baik bagi pelanggan mereka yang singgah di Dubai selama lebih dari sepuluh jam. Maskapai ini memberikan penginapan gratis di hotel. Maskapai Uni Emirat Arab ini, melanjutkan layanan Dubai Connect pada 1 Desember mendatang.

(cnn.com)

Hal ini membuat perjalanan menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang menavigasi jadwal penerbangan yang diubah oleh pandemi virus corona. Untuk pemesanan layanan ini, Anda harus menjadi penumpang transit yang melakukan perjalanan dengan dua penerbangan Emirates.

Selain itu juga menggunakan koneksi terbaik yang tersedia untuk perjalanan pilihan penumpang sehingga tidak ada kecurangan ketika memesan penerbangan dengan waktu singgah yang lebih lama. Dilansir KabarPenumpang.com dari cnn.com (25/11/2020), jika singgah Anda antara sepuluh hingga 24 jam, Anda dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan malam gratis di hotel bintang empat atau lima.

Kemudian ditambah transfer darat bandara, makan di hotel dan bantuan dengan visa UEA Anda pada saat kedatangan, jika diperlukan. Bahkan Anda dapat mengharapkan untuk menginap di Copthorne Hotel Dubai bintang empat atau Le Meridien Dubai Hotel & Conference Centre bintang lima, tetapi maskapai penerbangan juga harus menempatkan penumpang di akomodasi alternatif.

Layanan ini terbuka untuk semua penumpang, apa pun kelas perjalanannya kecuali jika mereka bepergian ke tujuan yang membutuhkan tes PCR untuk Covid-19 pada saat kedatangan. Dalam hal ini, penumpang bisnis dan kelas satu dapat menginap di Dubai International Hotel di Bandara Dubai tergantung ketersediaan dan diberi akses ke ruang tunggu bandara Dubai Connect Emirates.

Baca juga: Emirates Kini Suruh Pramugari Juga Bersihkan Toilet Demi Penumpang

Lounge ini memiliki fasilitas untuk makan, minum, dan bersantai, dan penumpang kelas ekonomi dengan persinggahan yang lebih lama juga akan mendapat kesempatan untuk nongkrong di sini. Awal tahun ini Emirates menjadi maskapai penerbangan pertama yang menawarkan untuk menanggung biaya medis pelanggan dan biaya karantina jika mereka tertular Covid-19 selama perjalanan mereka.

Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

Setelah pensiun sejak 2018 lalu dan hidup damai di sebuah pedesaan di pinggiran Washington, Amerika Serikat (AS), sales terbaik Airbus atau mungkin sales pesawat terbaik di dunia, John Leahy, akhirnya buka suara atas kegagalan Airbus A380 bersaing lebih jauh dengan widebody kompetitor, Boeing 747.

Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama airlineratings.com belum lama ini, sales yang sudah menjual lebih dari 15 ribu unit pesawat sepanjang karirnya itu menyebut biang keladi Airbus A380 lambat laun ditinggalkan oleh maskapai penerbangan ialah mesin atau lebih tepatnya dibohongi produsen mesin terkait mesin buatannya.

“Saya yakin kami mendapat masalah serius ketika kami termakan perkataan dari produsen mesin. Mereka meyakinkan kami bahwa konsumsi bahan bakar mesin generasi baru akan lebih efisien dan perlu setidaknya 10 tahun lagi untuk membuat mesin yang jauh lebih baik dari itu,” jelasnya, saat mengulang cerita sebelum peluncuran A380 yang lekat dengan lobi-lobi kelas dewa, baik oleh maskapai maupun dengan mitra produsen mesin.

Namun, siapa nyana, John Leahy yang sudah menjadi sales pesawat di Airbus sejak tahun 1985, serta ikut merayu dan menyerap aspirasi maskapai agar mau bergabung dalam program A380, dikejutkan dengan kehadiran Boeing 787 Dreamliner di penghujung tahun 2009, atau empat tahun setelah penerbangan perdana A380 pada 27 April 2005.

Betapa tidak, pesawat widebody pesaing A380 itu disebut menggunakan mesin Rolls-Royce Trent 1000 dan mesin General Electric GEnx 1B-12 yang inovatif dan lebih efisien 10-15 persen dari generasi sebelumnya.

Suasana keramaian di Runway Visitor Park, Inggris. Foto: Manchesterairport.co.uk

Tak sampai di situ, derita A380 juga ditambah saat Boeing meluncurkan varian terbaru Queen of the Skies, 747-8, pada Februari 2010 yang notabene menggunakan mesin General Electric GEnx 2B-67. Mesin itu diklaim jauh lebih inovatif dari versi sebelumnya yang dipakai Boeing 787 Dreamliner.

Dengan tingkat kebisiangan rendah dan efisiensi hingga 10-15 persen, Boeing 787 Dreamliner dan Boeing 747-8 yang muncul setelah A380, otomatis lebih diminati maskapai dibanding A380. Bila maskapai ingin widebody twinjet, 787 Dreamliner jadi pilihan tepat. Bila widebody quadjet atau empat mesin yang dibutuhkan, 747-8 Queen of the Skies jadi pilihan menarik.

Seiring pergeseran kebutuhan maskapai, A380 pun semakin tertinggal hingga diputuskan stop produksi, di saat Boeing 747 masih terus diproduksi. Padahal, A380 lahir jauh sesudah Boeing 747, tetapi pada akhirnya harus berakhir sebelum Boeing 747. Itulah sebab mengapa A380 disebut gagal dan semua itu disebabkan oleh mesin. Setidaknya, itulah pendapat John Leahy, sang legenda sales pesawat.

Seperti diketahui, Airbus telah menghentikan produksi super-jumbo jet rakitannya, A380 pada awal tahun 2019 lalu. Sebelumnya, raksasa manufaktur asal Benua Biru ini mendapatkan pembatalan pesanan dari sejumlah maskapai yang telah atau hendak menggunakan armada widebody ini, mulai dari Qantas, Singapore Airlines, Etihad hingga pengguna terbesarnya, Emirates.

Baca juga: Airbus Umumkan Produksi A380Ultra, Pesawat Mewah Tiga Lantai

Airbus A380 terakhir awalnya diprediksi akan meninggalkan jalur perakitan pada tahun 2021 mendatang. Namun, ketika wabah virus Corona mengguncang dunia dan mengacaukan jalur produksi, traffic penumpang, dan industri penerbangan secara keseluruhan, mulai dari hulu hingga hilir, Airbus A380 akhirnya meninggalkan jalur perakitan lebih cepat dari prediksi semula.

Betul saja, akhir Juni lalu, A380 terakhir dikirim dari pabrik Saint-Nazaire ke fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis. Pesawat dengan kode registrasi MSN 272 tersebut tak disebutkan dengan detail akan dikirim kemana.