BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

Ride hailing teratas di Cina Didi Chuxing bersama dengan BYD yang merupakan produsen kendaraan listrik menghadirkan hatcback hijau yang menggemaskan. Ini merupakan mobil listrik pertama yang di rancang khusus untuk ride hailing. Hatcback hijau ini diberi nama D1.

Baca juga: Hadirkan Kendaraan Listrik untuk Ride Hailing, Didi Bermitra dengan BYD

D1 akan mampu melaju sejauh 260 mil atau sekitar 418 km seperti yang dinilai oleh New European Driving Cycle (NEDC). Mereka juga menjelaskan beberapa sentuhan desain lebih menarik yang membuat kendaraan ini sangat cocok untuk ride hailing berbasis aplikasi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari theverge.com (17/11/2020), kedua perusahaan ini mengatakan ada layar berukuran sedang di dashboard mobil serta dua lagi layar sentuh di bagian belakang kedua sandaran kepala penumpang untuk mengakses navigasi dan informasi lainnya.

Selain itu satu layar kecil di belakang setir berfungsi sebagai cluster instrumen. Mobil ini unik karena dilengkapi dengan pintu geser yang bisa mencegah pengendara menabrak penumpang atau pengendara sepeda secara tidak sengaja. Bahkan kursi pengemudi dibuat agar sangat nyaman untuk pengunaan yang lama dan ruang kaki tambahan di kursi belakang.

D1 akan hadir dengan sistem bantuan pengemudi Level 2 yang mencakup peringatan keberangkatan, pengereman otomatis dan peringatan tabrakan pada pejalan kaki. Ini juga akan ada sistem pemantauan pengemudi untuk memastikan bahwa pengemudi tetap memegang kemudi dan tetap fokus di jalan.

Mobil listrik tersebut dilengkapi dengan lima tempat duduk terbuat dilengkapi motor listrik 136bhp (100kW) dan baterai lithium-ion dari pabrik BYD Fudi di Chongqing. Didi mengatakan pihaknya menggunakan data yang dikumpulkan dari 550 juta penumpang terdaftar dan 31 juta pengemudi untuk merancang D1.

“Untuk memastikan pasokan yang andal dan lebih hemat biaya untuk jaringan pengemudi yang saat ini mengirimkan sebanyak 60 juta perjalanan per hari, DiDi China telah membangun ekosistem otomotif yang lebih dalam untuk layanan mobilitas intinya dengan menjalin aliansi yang luas dengan produsen, penyedia energi dan pemain industri lainnya dalam rantai nilai,” kata perusahaan itu.

Untuk diketahui, produsen mobil telah merancang mobil untuk layanan taksi komersial selama beberapa dekade. “Taxi of Tomorrow” Kota New York adalah Nissan NV200 yang terkenal hanya bertahan tujuh tahun sebelum kehilangan kesepakatan eksklusifnya. Taksi hitam ikonik London dirancang dan dibangun oleh sebuah perusahaan bernama London Taxi Company.

Baca juga: Platform Didi Turunkan Usia Penumpang Taksinya Menjadi 16 Tahun

Perusahaan itu dibeli oleh Geely China pada 2015 dan sekarang membuat mobil listrik. Uber dan Lyft sama-sama membuat langkah untuk meningkatkan jumlah EV yang tersedia di aplikasinya. Didi mengatakan pihaknya memiliki “sekitar satu juta” mobil listrik di platformnya saat ini.

Bandara Komodo Ingin Diserahkan ke Asing, Chappy Hakim Sebut Pemerintah Begini

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, belum lama ini, mengatakan dalam audiensi dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membidangi transportasi, bahwa pengelolaan Bandara Internasional Komodo, di destinasi wisata ternama Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, akan dikontrakkan ke konsorsium yang dipimpin oleh perusahaan Singapura.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Dalam pengamatannya, Indonesia kerap dirugikan dengan sejumlah kontrak dengan pihak asing. Di samping itu, terkait pengelolaan bandara selama 20 tahun terakhir, juga terdapat banyak sekali kekurangan di sana sini.

Pertumbuhan penumpang yang cukup tinggi dinilai tidak dibarengi dengan pengelolaan bandara dan pembangunan infrastruktur penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta, misalnya, ketika sudah kewalahan menghadapi membludaknya penumpang, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub), malah memindahkan sebagian kelebihan lalu lintas udara ke Bandara Halim Perdanakusuma mulai 2014 lalu dan berbagi peran serta fungsi dengan TNI AU; bukannya melakukan analisis mendalam dan menyusun rencana pembangunan.

Akibat dari keputusan tersebut, dua tahun berikutnya, tabrakan antara dua pesawat di runway Bandara Halim Perdanakusuma pun terjadi. Menurut mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2002-2005 ini, dalam sebuah tulisan di The Jakarta Post, dari sini, administrator (Kemenhub) bisa dibilang tak mengerti penunjukan bandara untuk kepentingan penerbangan sipil komersial dan fungsi pangkalan Angkatan Udara.

Berbiacara terkait pengelolaan bandara oleh Kemenhub dalam 20 tahun terakhir, tak lengkap rasanya bila tak membicarakan Bandara Internasional Kertajati. Dengan total investasi senilai Rp 2,1 triliun, bandara ini kurang bisa dimaksimalkan dengan baik.

Meskipun sempat dipaksakan ramai dengan memindahkan penerbangan ke bandara yang terletak di Majalengka itu, pada akhirnya, bandara kembali sepi akibat maskapai memutuskan kembali memusatkan penerbangan di Bandara Husein Satranegara, Bandung, yang notabene dekat dengan pusat kota.

Berkaca dari kasus ini, mantan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia itu menilai, Kemenhub terindikasi bias dalam melihat bandara mana yang harus berfungsi sebagai bandara internasional atau bandara domestik karena klasifikasi ini menentukan jenis manajemen yang diperlukan.

Persoalan terkait bandara internasional juga sempat menjadi perhatian Presiden Jokowi. Agustus lalu, Jokowi menyatakan jumlah bandara internasional terlalu banyak dan juga tidak tersebar merata di dalam negeri. Makanya, ia memerintahkan jajarannya agar membuat letak bandara lebih proporsional.

“Saya melihat airline hub yang dimiliki terlalu banyak dan tidak merata. Jadi dilihat lagi. Saat ini ada 30 bandara internasional. Apakah dibutuhkan sebanyak ini,” ungkap Jokowi dalam video conference, seperti diberitakan CNN Indonesia.

Baca juga: Keberadaan Runway 3 Bandara Soetta Disebut Tak Berfungsi Optimal, Ini Sebabnya!

Kembali ke masalah pengelolaan bandara-bandara di lokasi strategis oleh asing, menurut Chappy, tak masalah hal itu dijajaki. Sebab, infrastuktur penerbangan harus terus dikebut. Bila pemerintah tak cukup mampu untuk membangun infrastruktur, maka, tak ada salahnya menyerahkan hal itu kepada asing. Hanya saja, selama kontrak dengan asing berjalan, persyaratan transfer teknologi, keterampilan, dan keahlian harus tertuang agar kontrak yang dijajaki tak menguntungkan pihak asing saja.

Harus diakui, pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan tenaga terampil di bidang penerbangan memang belum terlalu mendapat perhatian pemerintah. Bekerja sama dengan pihak asing merupakan salah satu langkah yang harus diperhatikan mengingat kurangnya tenaga ahli di bidang penerbangan dan manajemen bandara. Berkaitan dengan hal tersebut, kerjasama harus difokuskan pada bidang pelatihan dan pendidikan di bidang manajemen penerbangan.

“Nose Team,” Hadir Sebagai Spesialis Pengendus ‘Bau’ di Mobil Baru

Bau yang tercium dalam sebuah mobil baru bisa membuat pengemudi atau penumpang merasa tidak nyaman. Adanya hal ini membuat produsen mobil menghadirkan Nose Team agar bisa mencium bau dengan benar, karena bau tak sedap sekecil apapun dapat menghantui pemilik seumur hidup.

Baca juga: Ingin Hilangkan Bau Rokok di Dalam Mobil? Tinggalkan Pengharum Kemasan dan Beralih Menuju Bahan Alami

Salah satu yang memiliki Nose Team yakni adalah produsen mobil Audi. Mereka mempekerjakan seluruh tim ilmuwan untuk mencium setiap permukaan di dalam mobil sembari mengenakan jas lab resmi. Nose Team sendiri sudah ada sejak tahun 1985 dan menjadi yang paling tenang.

Sebab Nose Team telah bekerja keras untuk memastikan bahwa ilmu penciuman pabrikan itu tepat sasaran. KabarPenumpang.com mengutip dari thedrive.com (13/5/2020), tujuan Nose Team sangat sederhana yakni untuk memastikan kendaraan Audi tidak mengeluarkan bau busuk di dalam mobil.

Ini juga berarti memastikan bahwa kendaraan tidak memiliki bau kimiawi yang kuat saat keluar untuk di jual. Bahkan hal tersebut tidak sesederhana menggantungkan pengharum ruangan di kaca spion. Ilmuwan Audi tahu bahwa tidak mungkin memiliki mobil bebas bau, jadi alih-alih berusaha menutupi aromanya, mereka bertujuan agar bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan dibuat senetral mungkin.

Mereka mengatakan, jika kulit berbau terlalu banyak seperti minyak ikan atau alas lantai seperti bawang, tim mengirim produk kembali ke pabrik. Salah satu ahli kimia Audi, Heiko Lüßmann-Geiger, telah memimpin tim pengendus lima orang di Audi’s Bavarian Quality Center sejak awal tahun 2000-an.

Heiko menjelaskan kenyamanan kendaraan sebagai “piramida”, mencatat bahwa bau yang dikeluarkan oleh kendaraan adalah salah satu fitur kenyamanan paling mendasar yang dapat membuat atau menghancurkan kepemilikan kendaraan.

“Di ujung piramida hierarki ini adalah kesejahteraan pelanggan, tepat di dasar adalah baunya. Jika pelanggan sekarang terganggu oleh bau dari bawah ini, dia tidak akan lagi melihat dengan benar semua sifat positif kenyamanan kendaraan lainnya. Dia terlalu jengkel oleh stres yang disebabkan oleh bau itu,” kata Heiko.

Heiko menambahkan, bau ini akan dinilai dalam skala dari satu yang berarti tidak berbau sampai enam yakni tak tertahankan. Kaca, keramik dan logam sering kali dinilai sebagai salah satu komponen utama kendaraan. Bahan lain harus diberi peringkat di bawah empat (“mengiritasi”) agar lulus uji mengendus.

Jika Anda tidak percaya bahwa para ilmuwan ini menganggap serius pekerjaan mereka sebagai pencium profesional, lihat saja wajah tanpa ekspresi mereka bekerja pada gambar-gambar dari pertengahan tahun 2000-an ini. Namun, pekerjaan tersebut tidak selesai setelah kendaraan meninggalkan tempat parkir.

Audi mengatakan bahwa mereka juga secara acak menarik kendaraan produksi ke laboratorium untuk memastikan bahwa kendaraan tidak mulai mengeluarkan bau tidak sedap setelah mereka meninggalkan lantai ruang pamer. Jika bau mulai muncul dengan sendirinya, tim mengevaluasi apakah ada perubahan dalam proses produksi, atau jika pemasok suku cadang menggunakan bahan baru dan ada banyak hal yang harus dilakukan di dalam kendaraan.

Baca juga: Bertarung Melawan Bau Busuk, Inilah Peran Petugas Pembersih Limbah Toilet Kereta

Audi bukan satu-satunya produsen mobil yang memiliki ukuran untuk mencium mobil. Ini adalah bagian penting dari pabrikan mobil dan sesuatu yang bahkan bervariasi secara budaya.

FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

Regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA), belum lama ini, resmi mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX. MAX sudah diizinkan kembali terbang mulai 20 November 2020. Beberapa maskapai di Amerika Serikat (AS) pun telah bersiap untuk menerbangkan MAX dalam waktu dekat.

Baca juga: Ironis, Boeing 737 MAX Sudah Boleh Terbang tapi Maskapai, Pramugari, hingga Penumpang Ragu

American Airlines besar kemungkinan menjadi maskapai pertama di dunia yang menerbangkan kembali Boeing 737 MAX pasca pencabutan larangan terbang. Maskapai itu berencana menerbangankan MAX mulai 29 Desember 2020 hingga 4 Januari 2021, menghubungkan Bandara Internasional Miami dan Bandara La Guardia di New York dengan menggunakan sekitar 36 armada MAX.

Akan tetapi, tidak demikian dengan maskapai-maskapai Eropa. Sebab, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), dipastikan bakal melakukan sertifikasi sendiri. Selama ini, EASA secara otomatis selalu memvalidasi arahan FAA.

“Ada cukup alasan untuk meminta tindakan tambahan tertentu, yang dianggap perlu untuk memastikan operasi yang aman dari (pesawat) yang terkena dampak, termasuk pelatihan pilot,” kata EASA, dalam sebuah pernyataan mengenai catatan non-adopsi. Hanya saja, notes EASA belum merinci detail spesifik, tetapi direction otoritas mungkin akan berbeda dari direction atau arahan FAA.

Belum ada kepastian kapan prosedur sertifikasi ulang EASA akan tuntas untuk memungkinkan publik kembali melihat 737 MAX terbang di langi Eropa pasca diizinkan kembali terbang. Yang jelas, secara formal, proposal atau arahan dari EASA akan diserahkan ke konsultan publik terlebih dahulu setelah rampung untuk memungkinkan tercapainya arahan akhir yang paten dan dijadikan dasar sertifikasi ulang di Eropa.

Terlepas dari hal itu, kepala FAA, Stephen Dickson, percaya bahwa Boeing sudah mengakomodir seluruh masukan dari regulator, salah satunya flight-control software. Ia pun dengan sangat percaya diri menyebut, “Saya 100 persen nyaman dengan keluarga saya terbang di atasnya.” Di samping itu, pihaknya juga sudah bekerja dengan teliti untuk memastikan Boeing 737 MAX aman sebelum akhirnya diputuskan mencabut larangan terbang.

Begitu juga dengan The Air Line Pilots Association International atau Asosiasi Pilot Internasional (ALPA). Asosiasi yang mewakili hampir 60 ribu pilot di Amerika Utara itu mengaku yakin dan percaya kepada teknisi yang bekerja. Secara tidak langsung, ALPA siap untuk menerbangkan MAX.

Meski demikian, berbagai maskapai di AS mengaku masih wait and see menyikapi pencabutan larangan terbang Boeing 737 MAX. Maskapai United Airlines, berencana baru akan menerbangkan pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah Boeing itu pada kuartal II 2021, menunggu lebih dari 1.000 jam penerbangan, pelatihan ulang (pilot), dan hasil uji terbang mandiri oleh internal maskapai.

Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Southwest Airlines, sang operator Boeing 737 MAX terbesar di dunia, menyatakan tidak berencana menggunakan pesawat itu hingga pertengahan 2021. Tak hanya itu, seluruh pimpinan maskapai akan lebih dahulu menjajal keamanan pesawat sampai berkali-kali terlebih dahulu, sebelum mulai mengangkut penumpang. Strategi itu ditempuh sebagai salah satu cara meyakinkan penumpang bahwa pesawat sudah aman.

Alaska Airlines, yang baru akan kedatangan MAX pada awal tahun depan, berencana baru akan menerbangkan MAX di bulan Maret. Bahkan, Delta Airlines, salah satu maskapai terbesar AS, sudah bulat memutuskan tidak lagi terbang dengan Boeing 737 MAX. Maskapai dari Brasil, Kanada, dan Cina, juga dipastikan belum akan terbang dalam waktu dekat sampai regulator penerbangan sipil mereka tuntas melakukan sertifikasi ulang secara mandiri dan tidak berkiblat ke FAA.

Teknologi Geolokasi Real Time Mudahkan Perbaikan Masalah di Kereta Api

Hingga saat ini kereta api masih menjadi moda transportasi favorit yang digunakan oleh masyarakat. Bahkan kereta menjadi bagian penting dari ekonomi global di mana selain mengangkut penumpang juga kargo yang melintasi kota ataupun perbatasan nasional serta internasional.

Baca juga: Refund Tiket Kereta di India, Bisa Dilacak Real Time dan Hanya Butuh Proses 5 Hari

Dilansir KabarPenumpang.com dari cnbc.com (16/11/2020), karena hal ini, maka ketika kereta api mengalami penundaan dapat melumpuhkan perjalanan sehingga membuat penumpang frustasi dan bisnis yang dijalankan terhambat. Seiring dengan berkembangnya teknologi, mereka yang bertanggung jawab dalam pengoperasian kereta api mencoba untuk mengintegrasikan teknologi baru ke dalam sistem untuk menemukan dan memperbaiki masalah dengan cepat.

Untuk hal ini kemudian SNCF Reseau yang mengelola infrastruktur perkeretaapian Prancis dan Capgemini mengumumkan kemitraan mereka. Di mana keduanya menerapkan teknologi baru untuk meningkatkan cara penyelesaian masalah di jaringan agar dipantau dan diselesaikan.

Ide ini akan menggunakan teknologi geolokasi yang menunjukkan masalah di jalur kereta api secara real time. Dengan sistem ini memungkinkan tim di SNCF Reseau untuk melokalkan insiden pada peta yang menampilkan infrastruktur dan memandu pekerja ke tempat yang tepat untuk memperbaiki masalah.

Kemudian staf lapangan dapat bekerja sama dengan kolega mereka dan memberikan pembaruan tentang masalah tersebut serta penjelasan kapan akan diselesaikan. Menurut Capgemini, SNCF Réseau telah menggunakan teknologi tersebut di wilayah Auvergne Rhône-Alpes sejak musim panas.

Idenya adalah untuk sistem, yang dijuluki “Pengawasan Generasi Baru”, yang akan diluncurkan ke bagian lain negara itu pada tahun 2021 dan 2022. Olivier Bancel, wakil direktur produksi umum di SNCF Réseau, menjelaskan bahwa penerapan sistem akan “memungkinkan untuk meningkatkan tidak hanya penanganan insiden, dan oleh karena itu keteraturan lalu lintas, tetapi juga informasi penumpang”.

“Secara keseluruhan, kami akan beralih dari pemeliharaan yang sangat sistematis ke pemeliharaan yang lebih mendekati kebutuhan, lebih tepat dan dalam waktu nyata: pemeliharaan jaringan pada waktu dan tempat yang tepat,” kata Oliver.

Prancis ternyata bukan satu-satunya negara yang melakukan upaya peningkatan kinerja transportasi kereta api yang menggunakan teknologi. Pemerintah Inggris mengumumkan £350 juta, pendanaan untuk sistem persinyalan kereta api digital dalam upaya untuk mengurangi penundaan dan meningkatkan infrastruktur yang sudah tua.

Di bawah rencana tersebut, sinyal tradisional di bentangan Jalur Utama Pantai Timur akan digantikan oleh sistem digital, memungkinkan staf untuk melihat lokasi kereta secara tepat selama perjalanannya. Dalam sebuah pernyataan, Departemen Perhubungan mengatakan bahwa pensinyalan “pintar” yang baru akan mengenali berbagai jenis kereta, “memungkinkan kereta api dan jalur untuk berbicara satu sama lain terus menerus dalam waktu nyata.”

“Sistem ‘dalam kabin’ ini berarti mengakhiri persinyalan konvensional di sisi rel pertama kali digunakan di era Victoria,” ujar depertemen perhubungan.

Baca juga: Gandeng Huawei, Saudi Railway Company Siap Hadirkan Jaringan Kereta Api Pintar

Selain itu, perusahaan kereta api yang digunakan juga mulai berubah dengan teknologi sel bahan bakar hidrogen menawarkan sekilas gambaran menarik tentang bagaimana perjalanan kereta api tahun-tahun mendatang dapat diberdayakan.

Bagaimana Nasib Awak Kabin di Masa Pandemi?

Kehidupan awak kabin, pilot dan staf maskapai penerbangan di masa pandemi ini sangat kompleks. Pasalnya dunia penerbangan mengalami pembatasan yang cukup besar dan membuat maskapai menarik ikat pinggang mereka cukup kuat demi mempertahankan pendapatan mereka.

Baca juga: Gegara Pandemi, 1600 Pilot dan 8000 Awak Kabin Diberhentikan American Airlines Pada Oktober 2020

Dirangkum KabarPenumpang.com dari nytimes.com (21/10/2020), banyak awak kabin dilarang terbang selama berbulan-bulan. Tetapi sejak cuti diumumkan, jumlahnya melonjak. Sekarang mereka terpaksa menunggu karena pemerintah sedang mempertimbangkan paket stimulus.

Karena masih belum jelas tentang perjalanan udara, diantara mereka mempertimbangkan untuk melepaskan karier dan mencari pekerjaan baru untuk bertahan hidup. Seperti yang terjadi pada beberapa awak kabin salah satunya adalah Robert Garcia Remmert. Wanita 45 tahun tersebut merupakan awak kabin United Airlines yang terbang dari Chicago dan tinggal di Houston bersama suami yang memiliki profesi sama dengan dirinya.

“Saya tidak tahu itu akan menjadi penerbangan terakhir saya,” ujarnya.

Bahkan pada Maret lalu, suami Garcia memutuskan mengambil cuti sukarela karena mengidap penyakit autoimun. Selain itu Allie Malis memutuskan untuk mengambil peran di serikat American Airlines, Association of Professional Flight Attendants. Sebagai perwakilan urusan pemerintah, dia telah berjuang untuk memperpanjang Program Dukungan Penggajian.

“Saya sudah melakukan ini selama empat tahun. Kami memiliki masalah yang kami aktifkan, seperti waktu istirahat minimum, tetapi ini sangat besar dibandingkan dengan masalah lain yang kami tangani. Para pramugari menjadi lebih terlibat daripada sebelumnya,” kata Malis.

Tetapi setelah berbulan-bulan menyaksikan Kongres merundingkan RUU tersebut, Malis mengatakan dia merasa bahwa dia dan rekan kerjanya adalah pion politik. Di mana dia mengatakan hal tersebut sulit karena awak kabin adalah hidup dan mata pencaharian mereka. Bahkan keluarga bergantung pada mereka.

Tak hanya itu, Phillip Delahunty telah bergabung dengan rekan-rekannya di industri penerbangan untuk menggalang perpanjangan Program Dukungan Penggajian di Florida, tempat tinggalnya, dan di Texas. Pada awal September, dia dan 30 orang lainnya melakukan penjagaan di luar kantor Ted Cruz, senator Texas.

Bapak Delahunty, 27 tahun, telah terbang dengan American Airlines selama enam tahun dan tergabung dalam Asosiasi Pramugari Profesional. Melihat rekan-rekannya bergabung bersama untuk memperjuangkan pekerjaan mereka membuatnya berharap.

“Ada yang mau berorganisasi pada 2020. Kami menganggap generasi ini sebagai Netflix dan Facebook, tapi saya jelas telah melihat kebangkitan tenaga kerja yang terorganisir,” ujarnya.

Delahunty mengikuti jejak orang tuanya, seorang kapten dan awak kabin, ketika dia bergabung dengan American Airlines. Karena dia berbicara bahasa Prancis dan Italia, Delahunty secara teratur terbang ke Montreal, Milan dan Paris.

“Gaya hidup terasa alami. Begitulah cara saya tumbuh, bepergian terus-menerus,” katanya.

Tapi terbang dalam pandemi menghadirkan tantangan baru pada pekerjaan yang sudah menuntut seperti kepatuhan masker adalah masalah besar di pesawat

“Kami diajari cara meredakan situasi. Itulah penekanan dari pelatihan naik turun kami, dan diplomasi. Ambillah situasi tegang dan buat itu bertahan selama beberapa jam ke depan. Jika ada satu orang yang tidak memakai topeng, ada tiga orang yang gelisah di sekitar mereka,” ujarnya.

Delahunty mengharapkan untuk mengajukan tunjangan pengangguran dalam beberapa bulan dan kembali tinggal bersama orang tuanya, yang mengatakan ini lebih buruk daripada krisis apa pun yang mereka lihat selama mereka bekerja di industri.

Baca juga: United Airlines Larang Awak Kabin Berbagi Kasur dalam Penerbangan Jarak Jauh

“Itu cerita yang akan sering kamu dengar. Saya berusia 27 tahun. Generasi saya tidak memiliki stabilitas finansial yang sama seperti yang dialami orang tua kami pada usia ini. Rasanya kita selalu tertinggal. Itu adalah bagian dari masalah di sini. Saya memiliki pekerjaan serikat yang solid yang dibayar dengan baik dan memiliki keuntungan besar. Sekarang itu akan pergi,” ujarnya.

Y999 Love-Pursuit Train, Kereta Khusus Jomblo Pencari Cinta Sejati!

Menikmati perjalanan kereta api bersama pasangan terkasih memang akan meninggalkan kenangan manis yang sulit untuk dilupakan. Namun apa jadinya jika Anda ‘mengular’ bersama lawan jenis yang kemungkinan mereka adalah pasangan Anda di masa yang akan datang? Wah, tentu saja ini akan menjadi pengalaman ‘kopi darat’ tak terlupakan, ya! Inilah yang terjadi di Cina sana, dimana ada lebih dari 1000 muda-mudi yang melancong, dan diharapkan dapat pulang membawa gandengan.

Baca Juga: 10 Fakta Seputar Kereta Cepat di Cina

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (28/8), adalah Y999 ‘Love-Pursuit Train’, kereta 10 gerbong yang membawa ribuan muda-mudi tersebut ternyata sudah diluncurkan sejak tiga tahun lalu, sebagai salah satu platform kreatif muda-mudi untuk menghabiskan waktu bersama selama dua hari semalam. Bukan hanya sekedar ‘kereta pencari jodoh’ biasa, tapi Y999 Love-Pursuit Train ini terbukti sudah mempertemukan banyak pasangan dan 10 diantaranya sampai melenggang ke jenjang pernikahan. Kabarnya, sudah ada lebih dari 3.000 muda-mudi yang mencoba peruntungannya di sini, lho!

Salah satu permainan yang diselenggarakan di dalam love-pursuit train. Sumber: dailymail.co.uk

Pada perjalanan terakhirnya ini, Y999 Love-Pursuit Train berangkat dari Chongqing North Station pada Rabu (21/), membawa ratusan jomblo dan jomblowati , termasuk 70 diantaranya merupakan pegawai dari Biro Kereta Api Chengdu. Agar perjalanan tersebut tidak membosankan, pihak penyelenggara menyediakan sejumlah permainan dan acara makan bersama untuk menghilangkan rasa canggung.

Tidak hanya itu, penumpang juga diajak berkunjung ke Zhuo Shui, sebuah kota kuno guna menikmati suguhan pagelaran tradisional dan jamuan makan bersama.

Suasana di Zhuo Shui. Sumber: dailymail.co.uk

“Kami mengenal satu sama lain di perjalanan pulang dan menyadari bahwa masing-masing dari kami memiliki sejumlah pandangan dan pola pikir yang sama,” ujar salah satu peserta, Yang Huan.

“Kami sangat menikmati perjalanan unik ini,” lanjutnya.

Baca Juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Dengan latar belakangan kesejangan gender yang begitu timpang, tingkat perkawinan Cina mencapai level terendah dalam satu dekade pada tahun 2018 lalu – dimana hanya 7,2 orang dari setiap 1.000 yang menikah.

Wah, bagi Anda yang masih melajang hingga saat ini, boleh dicoba nih layanan Y999 Love-Pursuit Train yang ada di Cina!

Eh, tapi sepertinya akan menjadi hal unik apabila kereta semacam ini juga diadakan di Indonesia ya!

 

Australia Bangun Kapal Ferry Berbahan Bakar Hidrogen Untuk Kurangi Emisi

Di Queensland, Australia, sebuah kapal ferry berbahan bakar hidrogen tengah dalam pembuatan. Kapal ferry ini rencananya akan mulai diluncurkan di perairan pada kuartal pertama tahun 2021. Kapal ferry tersebut dikembangkan oleh H2X Marine.

Baca juga: Toyota Meluncur di Air dengan Kapal Balap Bertenaga Hidrogen

Ini merupakan perusahaan pembuat kapal baru dari produsen ototmotif H2X Australia yang bekerja sama dengan spesialis pembuatan kapal Wildcat Marine. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman h2-view.com (17/11/2020), kedua perusahaan akan bersama-sama mengembangkan berbagai kapal ferry penumpang tanpa emisi untuk penggunaan di bidang industri dan komersial yakni dengan bahan bakar hidrogen.

Lambung kapal ferry ini akan menggunakan aluminium dan mampu menampung penumpang sebanyak 50 orang. Kapal ferry dilengkapi dengan dua mesin tenaga listrik 120kW yang digerakkan oleh hidrogen hijau. CEO H2X Marine, Sam Blackadder mengatakan, perusahaan ini bertujuan akan memproduksi hingga 30 kapal ferry di pabriknya yang berbasis di Brisbane, Australia.

“Kami telah memulai konstruksi dan kami akan mempekerjakan hingga 40 pembuat kapal dan spesialis drivetrain hidrogen ketika kami mencapai kapasitas produksi,” kata Blackadder.

Dia menambahkan, pihaknya juga akan membangun berbagai kapal yang lebih besar, kapal rekreasi yang lebih kecil serta termasuk menyediakan fasilitas retrofit untuk kapal laut yang ada. Blackadder menyebutkan, Australia berdiri di garis depan ekonomi hidrogen masa depan.

Di mana potensi ini dapat mewakili miliaran dolar melalui penjualan domestik dan ekspor dari waktu ke waktu secara lokal. Ini juga memberikan peluang kerja stabil jangka panjang yang bernilai tinggi.

“Saya sangat yakin kita harus memimpin dengan memberi contoh dan tidak menunggu negara lain memberikan jalannya, H2X Marine dapat melakukannya,” ungkap Blackadder.

Baca juga: Bill Gates Ramai Disebut Telah Beli Kapal Pesiar Mewah Seharga Rp8,8 Triliun, Ini Faktanya!

“Kami melakukan investasi modal yang signifikan dalam industri baru ini karena kami sangat yakin bahwa penggunaan green hydrogen adalah bahan bakarnya. untuk mendorong industri Australia saat kami menghentikan penggunaan bahan bakar fosil,” tambah Chairman H2X Marine Craig Elvin.

Eva Air Tawarkan Kencan Antar Penumpang ‘Jomblo’ Secara Acak di Udara, Tiket Ludes dalam Sekejap

Masih dalam program flight to nowhere atau terbang tanpa tujuan, Eva Air belum lama ini resmi meluncurkan “Fly! Love is in the Air”, sebuah program kencan antar penumpang secara acak di udara. Sekalipun nampak tak masuk akal, ditambah sederet kualifikasi rumit, nyatanya tiket program tersebut ludes terjual dalam sekejap.

Baca juga: Y999 Love-Pursuit Train, Kereta Khusus Jomblo Pencari Cinta Sejati!

CNN International melaporkan, program kencan di ketinggian sekitar 32 ribu kaki ini meruakan hasil kerjasama dengan biro perjalanan lokal, Mobius. Program itu akan dihelat hanya tiga hari; hari Natal (didahului dengan sajian teh sore), malam tahun baru (didahului dengan dinner), dan tahun baru (didahului dengan sarapan).

Layaknya flight to nowhere, penerbangan kencan di udara akan berlangsung selama tiga jam, dengan berkeliling ke sekitaran Taiwan hingga ke perbatasan Taiwan-Jepang dan lepas landas serta mendarat di bandara yang sama . Sekitar 20 penumpang pria dan 20 penumpang wanita, dengan kualifikasi rumit, seperti harus bergelar sarjana, lajang (jomblo), berdomisili di Taiwan, hingga rentang usia tertentu, akan dipasang-pasangkan secara acak.

Bila proses kencan atau mungkin lebih tepatnya ‘perjodohan’ itu gagal, mengingat penumpang satu sama lain baru pertama kali dipertemukan di pesawat, penumpang bisa mengisi waktu dengan menikmati pemandangan pegunungan pantai timur dan ujung barat Kepulauan Ryukyu, Jepang, yang indah.

Pada penerbangan malam hari di malam tahun baru, pemandangan lampu-lampu kota dan bulan akan lebih memanjakan mata -layaknya lagu Fly Me to the Moon karya Frank Sinatra- dibanding penerbangan siang di hari natal dan penerbangan pagi di hari tahun baru.

Selain itu, penumpang juga bebas bergerak di sekitar area kabin serta menikmati es krim Häagen-Dazs gratis. Bila perlu, penumpang bisa mendatangi dewa-dewi asmara yang diperankan oleh pramugari dan pramugara, untuk tetap bisa merasakan kencan di udara.

“Ketika pria dan wanita jomblo bepergian, selain menikmati kesenangan dalam perjalanan, mereka mungkin ingin bertemu seseorang, seperti adegan dalam film romantis,” kata juru bicara, Mobius.

“Keuntungan terbesar dari kencan kilat dalam penerbangan berasal dari keseriusan peserta kami,” tambahnya.

Bila program kencan itu berhasil, penumpang akan diberi tambahan “romantic date time” atau dua jam ekstra di darat. Setelah seluruh rangkaian program usai, akan ada sejenis sesi pengakuan untuk para pasangan yang berhasil menemukan jodoh mereka.

Baca juga: EVA Air – Anak Perusahaan Evergreen Group, Pernah Memasang Livery Terlucu dalam Sejarah

Di masa pandemi virus Corona, Eva Air memang sangat inovatif semata agar tetap mendapat pemasukan. Maskapai ini menjadi pelopor flight to noweher selama pandemi.

Lagi pula, sekalipun traffic penumpang sangat anjlok -sebagaimana banyak maskapai di dunia- maskapai yang pernah menggunakan livery imut dan lucu bertemakan Hello Kitty pada pesawat Boeing 777-300ER-nya itu berhasil meraup untung besar hingga pertengahan tahun 2020. Hal itu dikarenakan penerbangan kargo melonjak drastis di angka 136 persen di tahun ini, seiring posisi Taiwan sebagai salah satu pemasok utama masker medis dan APD ke seluruh dunia.

Medan Kini Punya Transmetro Deli, Gratiskan Tiket Penumpang Hingga Akhir 2020

Jakarta punya TransJakarta, Yogyakarta punya Trans Jogja, ternyata Medan pun tak mau kalah dengan menghadirkan Transmetro Deli. Bus ini hadir dan meramaikan transportasi umum di Medan, Sumatera Utara. Transmetro Deli ini mulai beroperasi sejak 16 November kemarin.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Armada ini beroperasi sebanyak 39 bus dan ada empat bus lainnya disiapkan untuk cadangan. Kepala Bagian Operasional Bus Trans Metro Deli, Jimmy Petrus Tamba mengatakan, pada pengoperasian awal ini, bus Transmetro Deli melayani tiga rute perjalanan.

KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, akan ada lima koridor nantinya yang akan dilayani Transmetro Deli. Namun saat ini baru tiga koridor yang beroperasi yakni koridor 2 Lapangan Merdeka menuju ke Terminal Amplas, koridor 4 Lapangan Merdeka ke Tuntungan dan koridor 5 Tembung ke Lapangan Merdeka.

Koridor 2 yang melayani trayek dari Lapangan Merdeka menuju ke Amplas, penumpang yang naik dari Terminal Amplas bisa naik bus yang berada tidak jauh dari pintu masuk terminal. Bus yang di koridor 2 akan melintasi Jalan SM Raja, dengan berhenti di halte yang sudah di beri tanda selama perjalanan.

Beberapa tempat yang menjadi perhentian bus koridor 2 ini adalah loket bus ALS, depan kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumut, di depan Pasar Simpang Limun, Universitas Budi Darma, Taman Sari Deli dan Rumah Tjong A Fie. Jimmy mengatakan untuk pembayaran hanya menerapkan sistem pembayaran non tunai sehingga tak lagi perlu mengeluarkan uang cash.

“Warga tidak bisa membayar secara tunai. Untuk pembayaran bisa dengan e-money, Brizzi ataupun BRI,” kata Jimmy.

Bus ini memiliki kapasitas kursi sebanyak 40 dan hanya setengahnya yang bisa diduduki karena ada tanda batas selama masa pandemi. Tak hanya itu, Transmetro Deli juga menyiapkan tempat untuk pengguna kursi roda.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Untuk diketahui, di dalam bus juga sudah dilengkapi dengan handsanitizer, mesin pembayaran elektronik, CCTV, safety belt dan selama proses uji coba hingga akhir Desember 2020, penumpang belum akan dikenakan tarif dan baru dikenakan pada awal Januari 2021. Bus dengan program Buy The Service ini telah hadir di lima kota besar, yakni Palembang, Solo, Denpasar, Medan, dan Yogyakarta.