Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turis

Jepang telah mengkonfirmasi temuan lima kasus mutasi virus Corona baru dari Inggris pada Jumat lalu. Kasus itu ditemukan dari penumpang pesawat yang datang dari Inggris. Tak lama kemudian, Negeri Matahari Terbit itu pun mengeluarkan kebijakan larangan masuk bagi turis asing (WNA), efektif mulai 28 Desember 2020 sampai Januari 2021.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Meski varian baru virus Corona dari Inggris sudah ditemukan, sebetulnya, Jepang sudah mengambil langkah antisipatif sejak beberapa hari sebelumnya.

Laporan Japan Today, sebelum varian atau jenis baru virus Corona hasil mutasi dari Covid-19 masuk ke Jepang, Negeri Sakura itu sudah mulai memperketat akses masuk dengan melarang wisatawan, baik itu tujuan bisnis maupun studi, untuk sementara waktu.

Pada fase ini, warga negara Jepang dan penduduk asing yang sudah lama menetap di Jepang masih diperbolehkan masuk. Tentu dengan syarat harus mendapat hasil negatif pada tes PCR 72 jam sebelum keberangkatan pesawat serta karantina mandiri selama 14 hari. Mereka juga diminta untuk mengunduh aplikasi kontak tracing Covid-19 agar data lokasinya bisa diakses otoritas selama yang bersangkutan berada di Jepang.

Beberapa hari sebelumnya, Jepang juga sudah melarangan wisatawan asal Inggris masuk untuk alasan apapun.

Kepala Sekretaris Kabinet, Katsunobu Kato, mengatakan langkah Jepang melakukan pembatasan sampai larangan masuk bagi warga negara asing diambil semata untuk memberikan rasa aman, menyusul kemunculan varian baru virus Corona yang pertama kali ditemukan di Inggris.

“Kami telah memutuskan untuk segera mengambil tindakan guna mencegah penyebaran virus secara menyeluruh di Jepang dan membuat orang merasa aman,” kata Kato, dalam sebuah konferensi pers rutin.

Terlepas dari varian baru virus Corona asal Inggris yang digadang menular 70 persen lebih cepat -meskipun tidak mematikan- kasus harian virus Corona di Jepang memang melonjak tajam. Beberapa hari lalu, Jepang mencetak 3.000 kasus positif Covid-19 harian, terbesar di bulan ini.

Baca juga: Arab Saudi Lockdown Gegara Virus Corona Jenis Baru! Ibadah Umrah Ditangguhkan

Angka tersebut disinyalir bakal terus melonjak seiring meningkatnya aktivitas warga dalam menyambut libur panjang natal dan tahun baru, dimana warga Tokyo biasanya banyak yang keluar kota dan sebaliknya, warga dari kota-kota lain banyak yang masuk ke Tokyo.

Sebetulnya himbauan untuk tetap di rumah sudah menggaung ke seantero Jepang. Namun, layaknya masyarakat di negara-negara lain, warga Jepang sudah tak tahan dan beberapa di antaranya sudah tak mau lagi diatur untuk tetap berada di rumah pasca lockdown berkepanjangan pada periode awal virus Corona menular ke seluruh dunia di kuartal I dan II tahun ini.

Dengan TKDN 44,69 Persen, Pesawat Turboprop N219 Raih Sertifikasi dari DKPPU Kemenhub

Setelah empat tahun semenjak uji terbang perdana (maiden flight) pada 16 Agustus 2017, akhirnya hari ini, pesawat turboprop N219 hasil kerjasama PT DI dan LAPAN telah meriah sertifikasi dari Kementerian Perhubungan RI. Dilakukan secara online, hari ini, 28 Desember 2020, N219 memperoleh sertifikat yang diberikan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kemenhub RI.

Baca juga: Tiga Tahun Setelah Bernama “Nurtanio,” Inilah Progres Sertifikasi Pesawat N219

Dikutip dari siaran pers PT Dirgantara Indonesia (28/12/2020), Type Certificate N219 diserahkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono kepada Direktur Utama PT DI, Elfien Goentoro, disaksikan oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi di Ruang Mataram, Gedung Kemenhub RI, Jakarta.

Proses sertifikasi merupakan proses terpenting untuk menjamin keamanan dan keselamatan, mengingat pesawat tersebut kedepannya akan digunakan oleh pengguna dan masyarakat umum. Sebagaimana hasil pengujian DKPPU, pesawat N219 dinyatakan telah memenuhi CASR Part 23 (Airworthiness Standards for Aeroplanes in the Normal, Utility, Acrobatic or Commuter Category).

“Prototype pesawat pertama (Prototype Design 1) N219 Nurtanio telah menjalani Flight Cycle sebanyak 250 cycle dan Flight Hours sebanyak 275 jam, sedangkan prototype pesawat kedua (Prototype Design 2) N219 telah menjalani Flight Cycle sebanyak 143 cycle dan Flight Hours sebanyak 176 jam. Sehingga secara total pesawat N219 telah menyelesaikan 393 Flight Cycle dan 451 Flight Hours dalam proses sertifikasi ini”, demikian penjelasan Gita Amperiawan, Direktur Teknologi & Pengembangan PT DI.

N219 Produksi PTDI. Sumber: Istimewa

Bukan pertama kali bagi PTDI melakukan pengembangan produk, pengembangan pesawat N219 dimulai pada tahun 2014 untuk tahap desain dan aplikasi Type Certificate, dilanjutkan dengan pembuatan prototype pesawat pertama pada tahun 2016 dan prototype pesawat kedua pada tahun 2017 bersamaan dengan proses integrasi sistem, dimana pada tahun tersebut merupakan awal mula proses pengujian untuk sertifikasi, hingga akhirnya di tahun 2020 berhasil memperoleh sertifikasi, untuk selanjutnya direncanakan masuk ke tahap komersialisasi pada tahun 2021.

Dengan selesainya sertifikasi, pesawat N219 diharapkan dapat menjadi awal dari kebangkitan kembali industri dirgantara Indonesia, yang kemudian dapat membantu mengisi kebutuhan penerbangan konektivitas dan perintis di pelosok Indonesia dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih merata.

“Betapa panjang dan rumitnya proses sertifikasi pesawat N219, diantaranya yaitu Document Certification, Conformity Inspection, Laboratory Test, Ground Test, Flight Test System & Performance. Ini akan menjadi kebanggaan bagi Indonesia, untuk pertama kali berhasil menyelesaikan sertifikasi dari pesawat yang sepenuhnya merupakan hasil karya anak bangsa.

Juga merupakan sebuah prestasi pertama dan luar biasa bagi PT DI dan DKPPU untuk dapat menyelesaikan evaluasi dan test bagi produk pesawat terbang nasional dengan kompleksitas sebesar ini. Ini semua merupakan prestasi bangsa dan akan menaikkan wibawa bangsa Indonesia di dunia penerbangan internasional.

Adapun untuk nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pesawat N219 berdasarkan hasil assessment oleh PT Surveyor Indonesia tahun 2019 adalah sebesar 44,69% dan PT DI dengan melibatkan berbagai industri komponen dalam negeri akan terus berupaya meningkatkan nilai TKDN pesawat N219 hingga mencapai lebih dari 50%, sehingga manfaat dari mengembangkan produk pesawat nasional dapat dimaksimalkan dan disebarkan pada industri UKM Nasional.

“Mudah-mudahan rantai nilai produksi atau industri pesawat indonesia bisa diwujudkan dan kita terus berharap meningkatkan TKDN yang saat ini hampir 50% mudah-mudahan kita bisa segera naikkan di atas 50%. Dan tentunya sekali lagi kita berharap pesawat N219 ini bisa menjadi awal kebangkitan industri Dirgantara di Indonesia”, kata Bambang Brodjonegoro saat meninjau pesawat N219 di PTDI pada tanggal 11 Desember 2020.

Produksi awal pesawat N219 akan dibuat 4 unit pesawat N219 dengan menggunakan kapasitas produksi yang saat ini tersedia, untuk selanjutnya PT DI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem produksi modern pada manufacturing, sehingga secara bertahap kemampuan output produksi akan terus dapat ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Baca juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

Saat ini pengembangan pesawat N219 amphibi sedang dalam tahapan Preliminary Design, untuk kemudian dilanjutkan ke tahapan Prototyping & Structure Test, Development Flight Test dan ditargetkan dapat diperoleh ATC Award pada tahun 2024.

Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang

Menunggu sarana transportasi umum di halte atau stasiun bukanlah sesuatu hal yang aneh nan unik, namun apa jadinya jika Anda menunggunya di dalam sebongkah batu besar, lengkap dengan tempat duduk dan bagian atap yang akan melindungi Anda dari serangan cuaca buruk, unik bukan? Tenang, Anda tidak sedang digiring menggunakan mesin waktu yang membawa Anda menuju jaman Flintstone, tapi halte unik ini memang benar-benar ada di era digitalisasi seperti saat ini.

Baca Juga: Parade Halte Unik Dengan Sokongan Promosi dan CSR

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman 3dprint.com (29/12/2017), perusahaan rekayasa, arsitektur, dan konstruksi asal Shanghai, Winsun, baru-baru ini mempresentasikan sebuah halte bus yang menggunakan teknologi cetak 3D pertama di dunia. Halte bus ini dapat ditemui di kota kuno Fengjing, Yinshan, tepatnya di nya di Fengjing Road Four.

Sebenarnya, Winsun telah lama mempromosikan penggunaan bahan daur ulang yang bersih untuk membangun infrastruktur dan interior rumah yang berkelanjutan yang dicetak tahun lalu dari limbah konstruksi daur ulang di Suzhou, sebagai bagian dari sebuah inisiatif untuk mempromosikan konstruksi rendah karbon.

Didasarkan pada konsep tersebut, Winsun lalu mengaplikasikan hal serupa pada halte bus 3D ini. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2003 ini menggunakan bahan limbah bangunan daur ulang mentah untuk membangun halte bus hanya dalam satu malam saja. Uniknya, para penumpang yang menggunakan halte ini tidak menyadari bahwa tempat yang tengah mereka singgahi merupakan hasil cetak 3D.

Halte 3D yang dicetak oleh Winsun merupakan bagian dari sebuah proyek baru yang berputar di seputaran ‘kota sains dan teknologi’ di Fengjing, yang juga sekaligus mempromosikan penerapan teknologi bagi perusahaan lokal. Nantinya, Winsun akan menjajal media lain yang turut menyertakan terknologi cetak 3D, seperti jalanan, technology town, hingga sebuah 3D printing technology experience garden.

Baca Juga: Perbaiki Halte Bus, Pramuka Ini Diganjar Gold Award!

Saat ini, Cina tengah meningkatkan fokusnya pada pencetakan 3D dan teknologi maju sebagai masalah kebijakan, dan besar kemungkinan, negara yang didaulat sebagai salah satu negara dengan populasi terpadat di dunia ini hanya akan melihat struktur dan pengembangan yang lebih inovatif saja.

Di luar konteks halte 3D ini, Winsun tengah berupaya untuk menjalin sebuah kerja sama kolaboratif dengan pemerintah Arab Saudi untuk mencetak 1,5 juta rumah 3D dalam waktu lima tahun ke depan, dan rencananya, musim panas ini Winsun akan menandatangani perjanjian pencetakan 3D senilai $1,5 miliar, untuk menyewakan 100 printer 3D-nya ke kontraktor di Arab Saudi.

GE CC200, Lokomotif Diesel Elektrik Perdana di Indonesia, Ikut Sukseskan KTT Asia Afrika 1955

Selalu saja ada pembahasan yang menarik tentang kereta api. Selain memiliki On Time Performance (OTP) yang bisa dibilang gemilang, tapi salah satu moda peninggalan jaman kolonial Belanda ini selalu diminati oleh banyak kalangan karena suguhan pemandangan ciamiknya selama perjalanan.

Baca Juga: INKA CC300, Mampu Lintasi Banjir, Inilah Lokomotif Diesel Karya Anak Bangsa

Seiring perkembangan jaman, bentuk dan performa perkeretaapian di Indonesia senantiasa meningkat, termasuk lokomotifnya. Sebelum melangkah jauh membicarakan lokomotif yang eksis di era modern seperti saat ini, perkenalkan, Lokomotif CC200, lokomotif diesel elektrik dual cabin pertama di Indonesia. Tidak hanya gelar di atas yang melekat di lokomotif ini, tapi CC200 ini juga termasuk ke dalam lokomotif diesel pertama yang dimiliki oleh Djawatan Kereta Api (DKA), cikal bakal PT KAI.

Lokomotif dengan nama pabrikan ALCO-GE UM 106T ini merupakan produksi dari General Electric (GE), salah satu perusahaan besutan Thomas Alva Edison.  Tahun 1953 menjadi kali pertamanya lokomotif ini menghiasi rel di Indonesia.

Saking kondangnya, DKA kala itu langsung memesan sebanyak 27 unit guna keperluan pengoperasian mereka. DKA menganggap pembelian lokomotof tersebut merupakan bentuk modernisasi lokomotif dari penggerak tenaga uap ke penggerak tenaga diesel. Selain itu, hadirnya CC200 ke Indoneaia bertujuan untuk menggantikan peran armada yang rusak akibat Agresi Militer Belanda.

Jika diperhatikan, ada hal unik yang terpampang dari lokomotif yang mampu berlari 100 km/jam pada kecepatan maksimum. Terdapat sepasang roda tanpa penggerak pada bagian tengah lokomotif. Roda tersebut berfungsi sebagai penyeimbang tekanan gandar dari lokomotif yang tidak dapat berterima dengan kondisi rel di Indonesia.

Selama masa operasinya, karir lokomotif berdaya mesin 1.750hp bisa dibilang cukup gemilang. Tidak hanya berperan sebagai ‘kepala’ dari bermacam gerbong penumpang dan barang, tapi lokomotif ini juga pernah membawa rombongan KTT Asia-Afrika dari Jakarta menuju  Bandung pada tahun 1955 silam.

Baca Juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Masuk periode 90-an, lokomotif ini perlahan mulai dipensiunkan karena dianggap performanya sudah tidak dapat mengimbangi permintaan PT KAI. Pada periode yang sama, banyak unit CC200 yang mulai di besituakan, hingga saat ini hanya tersisa 3 unit dari total 27 unit yang pernah menghiasi perkeretaapian Indonesia.

Jika Anda penasaran dengan penampakan dari lokomotif CC200 ini, silakan Anda kunjungi beberapa diantaranya yang berhasil diselamatkan di Kebun Balai Yasa Yogyakarta dan di Depo Lokomotif Ambarawa (Museum Kereta Api Indonesia).

Jembatan Tinggi Silaiang, Eksis Dilintasi Kereta Sejak 1818 Hingga Kini

Selain jembatan Cisomang, jembatan Cikubang dan jembatan Cirahong di Jawa Barat, masih ada beberapa jembatan kereta api di Tanah Air yang punya sejarah panjang dan tergolong fenomenal, lantaran dibangun sejak jaman kolonial Belanda dan hingga kini masih digunakan. Dan bergeser ke Provinsi Sumatera Barat, juga ada jembatan kereta yang layak menyandang gelar fenomenal, yakni jembatan Tinggi Silaiang, yang terlihat masih kokoh dan terkesan ‘perkasa’ pilar-pilar besinya jika dilihat langsung.

Baca juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Jembatan Tinggi Silaiang berada di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat. Tiang jembatan ini sendiri memiliki tinggi sekitar 20 meter dan dibangun pada masa kolonial Hindia Belanda tahun 1818. KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa laman sumber, bahwa jembatan single track ini memiliki bentuk yang unik dimana desainnya melengkung ke bawah dengan rupa setengah lingkaran. Dikatakan unik, karena bentuk jembatan kereta seperti ini hanya ada satu-satunya di Indonesia.

Jembatan Tinggi Silaiang tempo dulu

Jembatan yang masih kokoh ini walaupun peninggalan jaman Belanda, sebenarnya dibangun untuk menjadi penghubung jalur kereta api di perbukitan. Hal tersebut dikarenakan, Sumatera Barat dikelilingi perbukitan dan masuk dalam jajaran bukit barisan yang ada di kota Padang Panjang.

Tak hanya melalui kereta api, jalur Padang Panjang-Padang juga bisa melalui jalan raya yang letaknya tepat dibawah jembatan Silaiang tersebut. Selain itu, di bawah jembatan ini juga dialiri sungai Batang Anai yang bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan umum seperti becak motor, ojek, taksi, angkutan kota atau angkot hingga kendaraan tradisional delman atau biasa disebut bendi oleh masyarakat sekitar.

Baca juga: Cirahong, Jembatan Double Deck Satu-Satunya di Indonesia

Bukan hanya sebagai jalur lalu lintas kereta, jembatan Tinggi Silaiang sendiri bisa menjadi objek wisata yang murah meriah. Sebab, Anda tak perlu membayar untuk menikmatinya, apalagi sekitaran jembatan ini adalah pemandangan alam yang indah dan juga udara masih segar sehingga cocok untuk bersantai. Bagi penikmat fotografi, jembatan tua yang kokoh ini pun sebagai satu objek foto dengan alam indah sebagai pemanisnya.

“Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Saat mendengar nama Stasiun Baso, pikiran Anda mungkin akan langsung beranggapan bahwa yang dimaksud adalah lokasi kuliner, maklum ada kata ‘baso,’ yang menjadi sajian favorit di Tanah Air. Namun jangan salah kira, Stasiun Baso disini bukan menyiratkan sebuah restoran, melainkan memang nama stasiun, persisnya bekas stasiun kereta api di Sumatera Barat.

Baca juga: Tak Lagi Beroperasi, Stasiun Lama di Yogya Berubah Jadi Bengkel Hingga Warung Makan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata stasiun kereta ini berada di Jalan Raya Batusangkar, Bukittinggi No.184 di Canduang Koto Laweh, Canduang Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dari plang-nya masih nampak, diketahui Stasiun Baso berada di ketinggian +909 meter.

Nama stasiun Baso ternyata bukan diambil dari nama makanan, justru nama Stasiun Baso diambil dari nama sebuah kecamatan yakni Kecamatan Baso yang terletak di kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kecamatan Baso sendiri berada diantara kota Bukittinggi dan Payakumbuh.

Stasiun Baso kini bukanlah menjadi stasiun seperti dahulu melainkan beralih fungsi  sebagai tempat menjual aksesoris mobil dan cutting stiker. Mungkin bagi Anda penyuka kereta api akan asing mendengar nama ini, apalagi jejaknya yang tertinggal hanya sebuah papan nama tepat di atas nama toko aksesoris tersebut dan tak ada kabar jelasnya tentang stasiun ini.

Apalagi, untuk jalur keretanya sendiri pun kini hanya tertinggal bekas-bekasnya saja dan sudah tertimbun tanah. Jalur ini mati seperti jalur kereta yang ada di Bantul menuju Yogyakarta, hanya tersisa bangunan stasiun yang sudah beralih fungsi dan rel yang sudah tak terlihat lagi.

Stasiun ini dibangun pada masa Belanda yakni dengan rute Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh-Limbangan sepanjang 72 km. Dulunya jalur ini yang termasuk didalamnya stasiun Baso dioperasikan untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman Sumatera Barat.

Baca juga: Di Sawahlunto, Ternyata Juga Ada Museum Kereta Api

Semakin berkembangnya transportasi darat lainnya, kereta api mulai tersisih dan tak lagi beroperasi sejak 1973. Saat ini yang tersisa hanya jalur Padang-Pariama sepanjang 52 km yang beroperasi hingga kini.

Hari Ini, 112 Tahun Lalu, Pameran Dirgantara Pertama di Dunia Digelar di Paris

Pada hari ini, 112 tahun lalu, bertepatan dengan Kamis, 24 Desember 1908, pameran dirgantara pertama di dunia dihelat di Paris, Perancis. Pameran dirgantara terbesar dan tertua yang belakangan dikenal sebagai Paris Air Show ini sampai sekarang terus diselenggarakan setiap tahun ganjil, berbagi ruang dengan pameran dirgantara terbesar dan tertua lainnya di Inggris, Farnborough International Air Show, yang dihelat setiap tahun genap.

Baca juga: Dari Bandung ke Paris, N250 Jadi Pesawat Buatan Asia Pertama yang Lakoni Ferry Flight Lintas Benua

Sebelum lebih jauh, perlu diketahui, sebetulnya, gelar pameran dirgantara pertama dan tertua di dunia masih dalam perdebatan. Itu karena, Crystal Palace, Inggris, pernah mengadakan pameran dirgantara pada tahun 1868 atas inisiasi dari Royal Aeronautical Society, jauh sebelum penyelenggaraan Paris Air Show. Maka dari itu, pameran dirgantara di Crystal Palace, Inggris, itu juga dikenal sebagai pameran dirgantara pertama dan tertua di dunia.

Dilansir dari laman resmi Airbus, Paris Air Show sebagai pagelaran dirgantara terbesar dan tertua di dunia awalnya diselenggarakan secara gabungan dengan pameran Paris Motor Show. Saat itu, penyelenggaraan pameran dirgantara tercetus berkat penemuan pesawat biplane pertama yang lebih berat dari udara, berhasil ditemukan oleh ilmuan asal Perancis.

Di tahun 1909, barulah, Presiden Perancis mengizinkan terselenggaranya Annual Automobile Salon atau lebih dikenal dengan Paris Air Show, di Grand Palais, Paris, Perancis.

Meskipun baru pertama kali dihelat, pameran Paris Air Show pertama kala itu berhasil menarik 380 peserta pameran dan lebih dari 100 ribu pengunjung. Gelaran tersebut terus berlangsung rutin setiap tahun selama empat edisi sebelum terhenti akibat Perang Dunia I.

Paris Air Show dimulai kembali pada tahun 1919. Setelah sukses terselenggara beberapa edisi, kemudian diputuskan gelaran tersebut dihelat per dua tahun setiap tahun ganjil, bergantian dengan pameran dirgantara lainnya, Farnborough International Air Show setiap tahun genap di Inggris, sebelum terpaksa berhenti akibat Perang Dunia II. Pameran kemudian digelar kembali pada tahun 1949.

Sebelum tahun 1949, Paris Air Show terus diadakan di Grand Palais, sebelum akhirnya pindah ke bandara terbesar di Paris, Bandara Orly. Bandara yang terletak 14 km di selatan Kota Paris ini terus menjadi pusat penyelenggaraan Paris Air Show sebelum akhirnya berpindah tempat lagi ke Le Bourget atau Bandara Paris–Le Bourget sejak tahun 1953 sampai saat ini.

Sejak kemunculan pameran dirgantara Farnborough International Air Show, di Inggris, pada tahun 1932, sebetulnya, pamor Paris Air Show sempat meredup. Itu karena, Inggris memang sudah lama dikenal sebagai pusat dirgantara, dengan beragam penemuan-penemuan hebat. Sudah begitu, pameran dirgantara di Inggris juga didukung penuh oleh Aeronautical Society of Great Britain atau The Royal Aeronautical Society, komunitas dirgantara tertua di dunia yang telah berdiri sejak 1866.

Sudah begitu, Farnborough International Air Show juga kerap menjadi tempat kemunculan perdana beberapa pesawat hebat, seperti de Havilland Comet -pesawat jet komersial pertama dunia- pada 1949, pesawat dengan mesin piston Bristol Brabazon, serta berbagai pesawat lainnya.

Akan tetapi, pasca kemunculan pesawat supersonik Concorde dan jet superjumbo ikonik Amerika, Boeing 747 untuk pertama kalinya pada 1969, pamor Paris Air Show terus muncul dan perlahan benar-benar menjadikannya sebagai pameran dirgantara terbesar sekaligus tertua di dunia.

Bahkan, di tahun itu, bukan hanya menjadi tonggak sejarah untuk gelaran Paris Air Show, melainkan juga untuk Airbus.

Baca juga: Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator

Pada tanggal 29 Mei 1969, menteri transportasi Perancis, Jean Chamant, duduk bersama menteri ekonomi Jerman, Karl Schiller, untuk membuat mock-up kabin pesawat baru yang bertujuan menata kembali industri penerbangan, yang saat itu dikuasai Boeing. Kedua politisi tersebut pun menandatangani perjanjian secara resmi untuk meluncurkan A300, pesawat widebody bermesin ganda pertama di dunia.

Pesawat itu rencananya diproduksi oleh konsorsium Perancis-Jerman yang juga akan melibatkan Inggris dan Belanda. Keputusan untuk memberikan A300 lampu hijau adalah titik awal formal proyek Airbus hingga menjadi produsen pesawat terbesar di dunia bersama Boeing sampai detik ini.

Argo Sindoro, Kereta Kelas Eksekutif yang Rangkaiannya Sering Bertukar dengan Argo Muria

Kereta Api Argo Sindoro merupakan salah satu rangkaian kereta api jarak jauh dengan layanan kelas eksekutif. Argo Sindoro dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang yang melayani relasi Semarang Tawang menuju Gambir PP.

Baca juga: “Argo Muria Festival,” Upaya PT KAI Angkat KA Argo Muria Sebagai Ikon Semarang

Pada awal beroperasi kereta ini memiliki nama Argo Muria 1 dengan rangkaian Bogie K9. Namun pada 2002 rangkaian kereta berubah menjadi rangkaian eksekutif keluaran terbaru dari PT INKA sedangkan untuk rangkaian kereta berbogie K9 dipindahkan untuk KA Argo Lawu.

Nama Argo Sindoro mulai digunakan sejak 17 Maret 2007 dan masih digunakan hingga saat ini. Saat kereta Argo Muria mulai menggunakan rangkaian keluaran 2017, KA Argo Sindoro masih menggunakan rangkaian keluaran 2002.

Namun, 24 Oktober 2018 kereta Argo Sindoro sempat menggunakan rangkaian kereta eksekutif baja nirkarat keluaran 2018. Tetapi pada 8 April 2019 KA Argo Sindoro kembali menggunakan rangkaian dengan Bogie K9.

KA Argo Sindoro ketika awal kehadirannya melengkapi kereta eksekutif relasi Semarang – Jakarta yang sebelumnya sudah beroperasi KA Argo Muria dan KA Menoreh. Nama Sindoro sendiri diambil dari salah satu gunung berapi yakni Gunung Sindoro yang memiliki ketinggian 1.602 meter di atas permukaan yang lokasinya berada di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Pengaturan kursi penumpang dalam satu gerbong berisi 50 tempat duduk yang disusun dengan formasi 2-2 dan kursi bisa diputar seperti layanan kereta eksekutif lainnya. Satu rangkaian kereta api Argo Sindoro terdiri dari tujuh sampai sembilan kereta yang dilengkapi dengan empat kereta eksekutif, satu kereta makan, lima kereta kelas eksekutif dan satu kereta pembangkit.

Kereta ini ditarik oleh lokomotif CC 201, CC 203 ataupun CC206. KA Argo Sindoro sendiri mampu mengangkut 700-900 penumpang per hari sebelum pandemi Covid-19. Rangkaian KA Argo Sindoro sering bertukar dengan rangkaian KA Argo Muria.

Baca juga: KA Argo Bromo Anggrek, Sejarah Pertama Varian Keluarga Kereta “Argo”

Tarif kereta ini pun berkisar Rp210 ribu hingga Rp600 ribu tergantung pada jarak yang ditempuh oleh penumpang. Selain itu berlaku pula tarif khusus untuk perjalanan reguler yang hanya dapat dipesan mulai dua jam sebelum keberangkatan pada stasiun-stasiun yang berada dalam lintasan seperti dari Semarang Tawang menuju Tegal akan dikenakan tarif Rp85 ribu dan Cirebon menuju Jakarta Rp165 ribu.

Jadi Kiblat Kemajuan Kereta Api Dunia, Inilah Lima Jenis Kereta di Jepang

Jepang memiliki jaringan rel yang luas dan mencakup hampir setiap kota di negara tersebut. Bahkan jaringan kereta api di Negeri Sakura ini merupakan salah satu yang paling maju di dunia. Layanan transportasi kereta api Jepang disediakan oleh lebih dari 100 perusahaan swasta.

Baca juga: Inilah Sepuluh Kereta Cepat di Dunia

Karena memiliki jaringan yang luas, kereta api di Jepang bahkan dibedakan menjadi lima jenis yakni kereta lokal, kereta cepat, kereta ekspres, kereta ekspres terbatas dan shinkansen. Nah, berikut ini penjelasan terkait lima jenis kereta di Jepang yang sudah dirangkum KabarPenumpang.com dari trainspread.com.

Kereta Shinkansen
Kereta cepat ini dibuka pada 1964 dan dioperasikan oleh beberapa operator yakni JR East, JR West, JR Central, JR Hokkaido, JR Kyushu dan JR Shikoka. Memiliki sembilan jalur, shinkansen melaju di track dan platform terpisah dari jalur rel konvensional. Jalur pertama shinkansen yakni Tokaido Shinkansen yang menghubungkan, Tokyo, Nagoya dan Osaka.

Ini adalah sistem rel kecepatan tertinggi komersial pertama di dunia dengan kecepatan maksimum 320 km per jam. Kereta shinkansen ternyata memiliki level yang berbeda, di mana kecepatan melaju yang berbeda dan jumlah perhentian yang berbeda di sepanjang jalan. Setiap level, shinkansen memiliki nama sendiri yakni Nozomi, Hikari, Mizuho, Kodama, Hayabusa dan Sakura.

Kereta Limited Express atau Ekspres Terbatas
Ini adalah layanan kereta dengan pemberhentian terbatas di stasiun utama atau yang paling sering digunakan. Jalur ekspres terbatas mencakup lebih banyak kota daripada shinkansen.

Ini juga merupakan kereta tercepat selain shinkansen dan tarifnya lebih murah. Meski begitu, kereta ini memiliki kursi yang sama dengan shinkansen. Seperti kereta shinkansen, biaya tambahan akan ditambahkan ke tarif tiket saat membeli tiket di ekspres terbatas.

Kereta Ekspres
Kereta ini berhenti di beberapa perhentian dan lebih banyak daripada kereta ekspres terbatas. Perjalanannya membutuhkan waktu lebih lama daripada kereta ekspres terbatas meski melaju di jalur yang sama. Semua kereta ekspres dioperasikan oleh JR Group.

Baca juga: Tahan Gempa, Ini Kereta Berkecepatan Tinggi yang Baru di Jepang

Kereta Cepat atau Rapid
JR Group mengoperasikan kereta cepat ini dengan berhenti di lebih banyak stasiun. Untuk naik kereta ini, penumpang tidak akan dikenakan biaya tambahan seperti kereta ekspres.

Kereta Lokal
Merupakan jenis kereta yang paling lambat dan berhenti di setiap stasiun. Tarifnya pun standar dan tidak akan dikenakan biaya tambahan seperti kereta ekspres.

Masker F5 Serbaguna Bisa Jadi Hadiah Natal Pada Masa Pandemi

Liburan akhir tahun yang berbarengan dengan perayaan Natal identik juga dengan bertukar kado bersama keluarga. Nah, di masa pandemi ini, sepertinya hadiah yang cocok adalah masker wajah yang digunakan untuk mencegah tertular dari virus corona.

Baca juga: Penumpang Tak Gunakan Masker, Pengemudi Taksi Boleh Tolak Penumpang

Apalagi masker di masa pandemi menjadi barang wajib yang digunakan setiap keluar rumah. Namun, kerap kali penggunaan masker membuat seseorang merasa tak nyaman dan mengganggu aktivitas apalagi ketika berolahraga dan melakukan kegiatan diluar ruangan.

Meski begitu, beberapa perusahaan pembuat masker, saat ini membuatnya lebih nyaman ketika digunakan di luar ruangan seperti untuk berolahraga. Salah satu yang dibuat adalah masker serbaguna yang tak hanya digunakan sebagai penutup mulut dalam pencegahan tertular virus tetapi untuk ikat kepala, bandana, gelang, syal, pelindung leher dan banyak lainnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (16/12/2020), masker serbaguna ini bisa digunakan di mana dan kemana pun Anda pergi. Sebab, masker tersebut dirancang sesuai dengan filter lapisan F5 yang kuat sehingga bisa melindungi pengguna dari debu serta partikel dan membuat Anda tetap hangat dengan cuaca dingin seperti sekarang.

Masker ini sendiri bisa digunakan berulang kali dan hanya perlu mengganti filter jika sudah waktunya. Bahan masker serbaguna adalah kain yang lembut dan tahan lama serta memiliki cukup elastisitas demi kenyamanan dalam penggunaannya.

Ada empat warna netral masker serbaguna yakni abu-abu tua, abu-abu rami, hitam dan putih. Masker serbaguna ini bisa digunakan disemua jenis aktivitas luar ruangan seperti memancing, hiking, bersepeda, lari atau yang lainnya. Uniknya meski bentuk seperti pelindung leher, masker serbaguna ini memiliki bagian untuk dikaitkan di telinga.

Baca juga: Demi Bertahan Hidup, Etihad Produksi 1,3 Juta Masker untuk Dijual dan Dibagikan ke Pramugari

Sehingga penggunaannya disesuaikan dengan bentuk atau ukuran wajah pengguna. Dengan ukuran yang sama dengan pelindung leher, masker serbaguna akan dengan mudah menutupi hidung dan mulut Anda, serta semua area di sekitar leher. Untuk pencuciannya pun cukup mudah, masker ini bisa masuk ke dalam mesin pencuci dan untuk harganya $12,95 atau sekitar Rp183 ribu.