Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Lokomotif uap "Mak Itam"

Mak Itam, demikianlah julukan untuk lokomotif uap E1060 yang saat ini ‘kembali’ beroperasi Sawahlunto, Sumatera Barat. Penyebutan Mak Itam sendiri bagi masyarakat Minangkabau bukan hanya pada lokomotif tipe tersebut, melainkan seluruh lokomotif kereta api dan tidak hanya lokomotifnya melainkan kereta itu sendiri disebut Mak Itam.

Baca juga: Di Sawahlunto, Ternyata Juga Ada Museum Kereta Api

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber dan mendapatkan bahwa, Mak Itam E1060 adalah buatan Hartmann Chemnits Jerman tahun 1865. Mak Itam adalah satu-satunya lokomotif uap yang masih berfungsi dan berada di Sawahlunto.

Lokomotif ini sekarang beroperasi sebagai salah satu angkutan wisata dan pernah berada di Ambarawa tahun 1997 untuk perawatan dan perbaikan yang kemudian pada akhirnya 3 Desember 2007 silam Mak Itam kembali kerumahnya di Sawahlunto. Saat itu, sebenarnya bukan hanya untuk perbaikan dan perawatan melainkan untuk membantu lintasan bergigi di Ambarawa.

Sayangnya gigi lokomotif Mak Itam ini tidak cocok di rel kereta Ambarawa sehingga harus dilepas. Padahal tindakan melepas gerigi lokomotif ini mestinya tidak terjadi, apalagi diketahui geografis Sumatera Barat yang berlembah dan berbukit.

Tak hanya itu, Mak Itam juga sempat menjadi pajangan museum kereta api Ambarawa di antara 21 koleksi lokomotif uap lainnya. Pada awal masa kehadirannya di Sumatera Barat, lokomotif uap ini memiliki tugas untuk menarik atau mendorong rangkaian gerbong-gerbong dengan muatan batubara dari Sawahlunto ke Emmahaven atau Teluk Bayur di Padang.

Mak Itam sendiri sudah pernah melintas di jalur yang ada di Sumatera Barat. Mak Itam ini juga tak hanya sebagai angkutan barang kereta api melainkan juga mengangkut penumpang. Lokomotif ini mampu beroperasi hingga tahun 1984 dan perlahan pengabdiannya sebagai angkutan berakhir secara perlahan.

Sejak tahun 1950, Dinas Kereta Api (DKA) kemudian memodernisasi teknologi perkeretaapian dari uap ke diesel yang dianggap lebih efisien. Memang aktivitas lokomotif ini pensiun dari tugasnya yang membawa gerbong puluhan meter dengan isi batubara atau barang lainnya.

Baca juga: Gandeng Belanda Lestarikan Kereta Jadul, PT KAI Optimis Museum Ambarawa Jadi Yang Terbesar di Asia

Tetapi, aktivitas kerja mesin uap yang unik dengan tampilan klasik menjadikan lokomotif uap selalu mendapat perhatian. Memang Mak Itam sudah tak lagi beroperasi mengangkut batubara, kini fungsinya lebih ke wisata dengan menyusuri jalur Sawahlunto ke Muarokalaban (PP) dan melalui terowongan atau lubang kalam yang memiliki panjang 830 meter.

Bahkan lokomotif E1060 atau Mak Itam ini diusulkan untuk menjadi cagar budaya. Ini dikarenakan Mak Itam memiliki sejarah adanya aktivitas tambang batubara yang dikelola Belanda pada masa itu.