Airbus Ternyata Juga Punya Paten Folding Wingtip Andalan Boeing 777X

Pada 25 Januari 2020 silam, Boeing 777X sukses terbang perdana. Selain pamornya mentereng karena didapuk menjadi pesawat komersial terpajang di dunia dengan 76.73 m dan menggunakan mesin terkuat di dunia GE9X, itu juga karena Boeing 777X karena fitur folding wingtipnya yang berbeda dari yang lain.

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Kendati demikian, usut punya usut, ternyata fitur folding wingtip atau ujung sayap lipat yang diusung Boeing 777X bukanlah satu-satunya yang sudah mendapat paten, melainkan ada folding wingtip lain gagasan Airbus yang baru mendapat paten pada tahun 2014 lalu, jauh lebih anyar dibanding folding wingtip Boeing yang sudah mendapat paten sejak tahun 1990-an.

Dikutip dari Simple Flying, laporan aeroTELEGRAPH menyebut sejak pertama kali dipatenkan pada tahun tersebut, Boeing sebetulnya sudah ingin mengembangkan pesawat dengan fitur ujung sayap lipat. Namun, karena kurangnya minat, pengembangan pesawat itu terus tertunda sampai beberapa tahun belakangan dimana Boeing 777X sukses menjalankan first flight.

Sebagai kompetitor utama, Airbus juga tak mau ketinggalan sehingga muncullah ide membuat folding wingtip sampai mendapat paten pada tahun 2014. Kita sudah sama-sama tahu, bahwa teknologi yang dipatenkan adalah teknologi baru dan belum ada teknologi lain yang serupa dengannya. Termasuk fitur folding wingtip. Karena fitur folding wingtip dari Airbus dan Boeing sama-sama sudah mendapat hak paten, itu berarti keduanya terdapat perbedaan.

Perbedaan dari folding wingtip Airbus dan Boeing sendiri terletak pada lipatan di ujung sayapnya itu. Bila ujung sayap Boeing terlipat ke atas, folding wingtip Airbus terlipat ke bawah. Sesimpel itu, bukan?

Meskipun terkesan hanya sekedar tak mau kalah dengan kompetitornya, Airbus mengklaim folding wingtip miliknya -yang notabene terlipat ke bawah- punya sederet keunggulan. Pertama, folding wingtip yang terlipat ke bawah diklaim lebih aman. Itu karena gaya aerodinamis dapat menyebabkan ujung sayap dapat terlipat ke atas dalam penerbangan sehingga membahayakan sifat aerodinamis pesawat.

Kedua, teknologi folding wingtip ini akan menggunakan apa yang disebut sebagai locking mechanisms dan aktuator yang lebih ringan daripada ujung sayap lipat ke atas milik Boeing.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Sekalipun memiliki setidaknya dua keunggulan dibanding folding wingtip ke atas milik Boeing, Airbus belum mengembangkan teknologi tersebut lebih jauh. Itu karena, pada saat mendaftarkan paten tersebut, tren pesawat penumpang berkapasitas besar masih akan mendominasi. Namun, seperti yang kita lihat saat ini, fakta justru sebaliknya.

Pesawat superjombo buatan Airbus yang jadi pesawat komersial terbesar di dunia, A380, justru menjadi usang. Itu karena maskapai penerbangan di dunia tidak lagi menjalankan model jaringan hub-to-hub yang menuntut kapasitas besar melainkan sudah point-to-point yang menuntut kapasitas besar namun juga efisiensi tinggi dengan dua mesin.

Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021

Penerbangan internasional Indonesia memang masih belum bisa diharapkan, namun tidak demikian dengan rute domestik. Dalam survei terbaru lembaga analisis penerbangan global OAG yang berbasis di Inggris di bulan Februari 2021, dua rute domestik Indonesia berhasil menempati posisi tujuh dan kesembilan tersibuk di dunia.

Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

Selain itu, Indonesia juga mencatat dua prestasi lainnya di bulan ini. Dua itu ialah menempati posisi ketujuh pada kategori 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal.

Dilansir dari laman resminya, posisi pertama rute domestik tersibuk di dunia bulan Februari 2021 ditempati oleh rute dari Bandara Internasional Jeju menuju Bandara Gimpo Seoul di Korea Selatan. Diperingkat kedua sampai keempat berturut-turut diisi oleh rute-rute di Asia, yaitu rute dari Bandara Hanoi ke Ho Chi Minh di Vietnam, Bandara Chitose Sapporo ke Haneda Tokyo, dan Bandara Fukuoka ke Haneda Tokyo di Jepang.

Masuk lima besar rute tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 masih ditempati oleh rute Asia, sekalipun bukan Asia Pasifik, melainkan Asia Barat atau Timur Tengah, yaitu rute Jeddah-Riyadh. Rute lain di Korea Selatan juga kembali masuk ke jajaran rute domestik tersibuk, diwakili oleh rute dari Bandara Gimpo Seoul-Busan.

Tetangga Korea Selatan, Jepang, juga menempati wakil lain di posisi ke-10 dalam jajaran tersebut, yaitu rute Tokyo Haneda-Okinawa Naha. Satu-satunya rute di luar Asia dalam jajaran rute domestik tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 ini adalah rute dari Bandara Cancun-Mexico City, Meksiko, yang menempat posisi kedelapan.

Sedangkan dua rute tersibuk di dunia dari Indonesia menempati posisi ketujuh dan kesembilan. Posisi ketujuh ada rute Jakarta-Medan Kualanamu dengan 382.975 kursi dan di posisi kesembilan diisi oleh rute Jakarta-Makassar dengan 370.931 kursi, jauh tertinggal memang dibanding posisi pertama dan kedua yang berturut-turut mencapai hampir 1,2 juta kursi dan 1,1 juta kursi.

Baca juga: Inilah 6 Negara dengan Jumlah Bandara Terbanyak di Dunia, Nomor 6 dari Asia! Indonesia, kah?

Di samping masuk jajaran rute domestik tersibuk di bulan Februari 2021, Indonesia juga masuk ke jajaran 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia, dimana Bandara Soekarno-Hatta menempati posisi ketujuh dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal, dimana Indonesia menempati posisi keempat, di bawah Amerika Serikat, Cina, dan India.

Kendati sederet prestasi ini hanya di bulan Februari, namun, bukan tak mungkin jika penanganan virus Corona jauh lebih baik dan perkembangan kasus aktifnya jauh menurun, industri penerbangan Indonesia akan lebih cerah dan mencetak sederet prestasi lainnya.

Kapal Tanker Listrik Pertama Akan Mengarungi Teluk Tokyo di 2022

Kendaraan listrik tidak hanya menyusuri perjalanan darat saja, tetapi moda transportasi laut pun sudah mulai menggunakan listrik. Selain kapal ferry dan kapal cepat, sebentar lagi sebuah kapal tanker listrik akan mulai mengarungi Teluk Tokyo, Jepang.

Baca juga: Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Kapal tanker ini disebut e5 dan yang menarik akan digunakan untuk mengirimkan bahan bakar konvensional ke kapal lain. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (15/2/2021), dua kapal tanker tersebut saat ini tengah dalam proses pembangunan oleh KOA Industry Co Ltd dan Imura Shipyard.

Rencananya kapal pertama akan memulai layanannya tahun depan dan kapal kedua menyusul di tahun 2023. Pengembangan proyek e5 merupakan konsorsium perusahaan pelayaran dan teknologi maritim.

Untuk diketahui, dua kapal tanker e5 yang tengah dalam pembangunan tersebut dipesan oleh Asahi Tanker dan Kawasaki Heavy Inudstries tengah merancang sistem propulsinya. Nantinya kapal yang memiliki panjang 62 meter tersebut akan digunakan untuk mengirim bahan bakar di Teluk Tokyo, Jepang.

Setiap kapal tanker e5 akan memiliki berat sekitar 499 ton dan akan menggunakan dua paket baterai lithium-ion 1.740-kWh Ocra ESS yang dibuat oleh Corvus Energy. Baterai ini berkapasitas gabungan 3.480 kWh atau 3,5 megawatt per jam.

Paket tersebut akan memberi daya pada dua motor pendorong azimuth 300 kW yang akan memberi kecepatan jelajah sekitar sepuluh knot atau sekitar 19 km per jam. Bahkan dengan baterai per pengisian daya saat ini dijelaskan bisa digunakan selama “berjam-jam”.

Karena menggunakan penggerak motor listrik, kapal tanker e5 tidak akan menghasilkan emisi gas buang. Selain itu dengan menggunakan motor listrik, laju kapal tanker tersebut seharusnya akan lebih mulus dan menghasilkan lebih sedikit getaran serta kebisingan dibandingkan dengan mesin tradisional.

Baca juga: e-Oshima, Kapal Ferry Bertenaga Listrik dengan Baterai Sejenis di Boeing 787 Dreamliner

Hal ini membuat kondisi onboar lebih nyaman bagi awak kapal. Tak hanya itu, bila terjadi bencana alam di kawasan Teluk Tokyo, maka kapal ini dapat menyediakan listrik untuk layanan darurat.

Toko Bebas Bea Pertama di Dunia ada di Bandara Shannon Irlandia

Para pelancong yang bepergian ke luar negeri sangat senang ketika berbelanja buah tangan apalagi jika membelinya di toko bebas bea. Biasanya toko bebas bea ini lebih banyak ditemukan di bandara dan barang yang dibeli harganya lebih murah dibandingkan di toko buah tangan lainnya karena tidak ada pajak.

Baca juga: Inggris Hapuskan Toko Bebas Bea di Bandara, Maskapai AS Hapus Penjualannya Saat di Udara

Namun, tahukah Anda bagaimana asal adanya toko bebas bea ini? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata toko bebas bea pertama di dunia didirikan Brendan O’Regan di Bandara Shannon di Irlandia tahun tahun 1947 dan masih beroperasi hingga hari ini.

Kehadiran toko bebas bea ini awalnya dirancang untuk menyediakan layanan bagi penumpang maskapai trans Atlantik yang biasanya melakukan perjalanan antar Eropa dan Amerika Utara. Di mana pesawat yang mengangkut para pelancong ini berhenti untuk mengisi bahan bakar.

Toko ini menjual linen Irlandia, parfum Prancis, porselen Jerman, dan minuman keras kepada penumpang yang menuju ke Amerika Utara. Bahkan 20 persen penjualan wiski penyulingan Irlandia dilakukan melalui tokobebas bea di Uni Eropa dan tempat lainnya.

Sehingga jika bebas bea intra Uni Eropa dihapuskan, maka perusahaan diperkirakan kehilangan bisnis senilai sekitar £10 juta. Untuk diketahui, tahun 1996, pasar bebas bea Irlandia bernilai £103 juta. Hanya tiga negara anggota, Finlandia, Luksemburg dan Swedia, yang lebih bergantung pada penjualan bebas bea intra-UE daripada Irlandia.

Kesuksesan toko bebas bea di Irlandia kemudian diikuti oleh negara lainnya yakni pada 13 tahun kemudian dua pengusaha Amerika, Charles Feeney dan Robert Warren Miller, mendirikan apa yang sekarang disebut Pembelanja Bebas Bea (Duty Free Shoppers atau DFS).) pada tanggal 7 November 1960.

DFS mulai beroperasi di Hong Kong dan menyebar ke Eropa dan tempat lain di seluruh dunia. Mengamankan konsesi eksklusif untuk penjualan bebas bea di Hawaii pada awal 1960-an merupakan terobosan komersial untuk DFS, yang memungkinkan perusahaan untuk fokus pada pelancong Jepang.

DFS terus berinovasi, berekspansi ke toko bebas bea di luar bandara dan ke toko besar di pusat kota Galleria yang kemudian tumbuh menjadi pengecer perjalanan terbesar di dunia. Pada tahun 1996 LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton mengakuisisi saham Feeney dan dua pemegang saham lainnya dan pada tahun 2012 bersama-sama memiliki DFS dengan Miller.

Dalam periode yang sama ini, beberapa daerah berkembang sebagai tujuan belanja bebas bea. Mereka dicontohkan oleh Saint Martin dan Kepulauan Virgin AS di Karibia, Hong Kong dan Singapura. Sedangkan yang lain mengklaim harga kompetitif untuk bebas bea.

Baca juga: “Duty Free” Pada Minuman Keras, Untung Yang Dihasilkan Sedikit

Umumnya, barang bebas bea dan dikenakan pajak atas impor untuk dijual di manapun di tujuan belanja. Pedagang dapat membayar inventaris, bisnis atau pajak lainnya, tetapi pelanggan mereka biasanya tidak membayar secara langsung. Tidak adanya bea atau pajak lain atas barang yang dijual tidak menjamin bahwa barang-barang tersebut merupakan barang murah. Biaya barang identik dari sumber bebas bea yang berbeda dapat bervariasi. Mereka sering bergantung pada ada atau tidaknya pesaing terdekat, misalnya toko bandara.

Banyak Ruginya, FGD PATLI Desak Pemerintah Kurangi Bandara Internasional

Tanpa disadari publik, Indonesia rupanya sudah mempunyai 30 bandara internasional yang tersebar di seluruh penjuru negeri, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Kualanamu, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Bandara Sultan Hasanuddin, Bandara Sam Ratulangi, Bandara Juanda, dan lain sebagainya.

Baca juga: Pemerintah Dianggap Langgar UU, FGD PATLI Ungkit Urgensi Pembentukan Majelis Profesi Penerbangan

Menurut Presiden Jokowi, 30 bandara internasional yang dimiliki Indonesia saat ini terlalu banyak. Padahal, di negara-negara lain tidak seperti itu.

Sejalan dengan itu, Desmon Ismael, dosen di Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, menyebut saat ini maskapai-maskapai di Indonesia sangat butuh campur tangan pemerintah. Di antaranya ialah mengurangi bandara internasional.

“Harusnya dibatasi saja jadi lima atau tiga bandara internasional,” jelasnya dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digagas Perkumpulan Ahli Transportasi & Logistik Indonesia (PATLI) dan ITL, Selasa (16/2).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, selain bagus untuk membantu maskapai, mengurangi bandara internasional juga bisa membuat iklim penerbangan di Indonesia lebih sehat. Sebab, di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, penerbangan domestik amat mendominasi.

Dengan mempersempit ruang gerak maskapai asing untuk beroperasi di bandara-bandara internasional yang ada, otomatis maskapai dalam negeri bisa lebih leluasa mengambil ceruk pasar itu.

Seperti sudah diketahui bersama, sejak tahun 2015 lalu, pemerintah telah menetapkan lima bandara internasional untuk menghadapi open sky policy atau SAM (Single Aviation Market). Sejak saat itu, perlahan, bandara internasional baru mulai bermunculan dengan maksud mendongkrak sektor pariwisata melalui rute internasionalnya.

Akan tetapi, munculnya banyak bandara internasional baru justru membuat risau sebagian kalangan, salah satunya, Heru Legowo. Menurut mantan Direktur PT. Gapura Angkasa yang juga pemerhati penerbangan ini, dengan mulai banyak bermunculannya bandara internasional, konsep hub & spoke atau bandara pengumpan, bandara pengumpul, dan bandara hub menjadi tidak konsisten.

“Amerika yang banget luas saja hanya beberapa bandara yang statusnya internasional. Selain proteksi, juga kalau hanya airline luar yang masuk dan kita gak punya flight sebaliknya, yang untung airline asing, kita melongo saja,” ujarnya.

Sekarang, lanjut Heru, dari bandara yang sebenarnya bandara pengumpan dapat langsung terbang ke Singapura, tanpa harus melalui Soekarno-Hatta (Soetta). Bila kondisi ini terus berlangsung, Bandara Soetta tidak lagi menjadi bandara hub.

Justru Bandara Changi di Singapura yang berfungsi sebagai hub-nya bandara-bandara di Indonesia. Tentu saja sangat disayangkan. Semestinya, Heru masih menjelaskan, jangan terlalu banyak bandara kita yang melayani penerbangan internasional. Jika airline kita tidak cukup mampu untuk bersaing, maka bandara-bandara itu menjadi sasaran empuk.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Dan yang menikmati kue pasar penumpang itu adalah airline regional. Airline kita jika tidak siap, bakal gigit jari saja. Meskipun demikian, ia tetap optimis untuk mencari cara guna mendongkrak wisatawan mancanegara yang bermuara pada tumbuhnya sektor pariwisata.

“Berarti bandara pendukungnya harus punya koneksi yang bagus dan anytime ada connecting flightnya,” Jelas Heru, saat ditanya perihal solusi untuk tetap mendongkrak wisatawan mancanegara tanpa harus besar-besaran menginternasionalisasi bandara.

ANA Uji Coba Bus Otonom Angkut Karyawan di Bandara Haneda

Bus otonom atau tanpa pengemudi, kini mulai wara wiri di area bandara, seperti belum lama ini All Nippon Airways atau yang dikenal dengan ANA mulai melanjutkan inovasi dalam teknologi otonom dengan mengandalkan serangkaian tes untuk prototipe bus tanpa pengemudi di Bandara Haneda Tokyo, Jepang.

Baca juga: Bus Otonom Pertama di Jepang Meluncur di Prefektur Ibaraki

Bahkan dari rangkaian uji coba ekstensif, ANA menjadi maskapai Jepang dan pertama di dunia yang menggunakan kendaraan ototnom untuk mengangkut karyawan di bandara. Bus membentuk komponen utama dari visi ANA untuk bandara “Sederhana & Cerdas” di masa depan yang akan dicapai melalui penerapan teknologi otonom berkelanjutan secara luas.

“Di ANA, kami terus mencari cara untuk memanfaatkan teknologi terbaru untuk meningkatkan efisiensi. Selain menandai langkah maju yang signifikan untuk bandara, bus otonom yang sepenuhnya bertenaga listrik akan menghasilkan lebih sedikit emisi dan penurunan jejak karbon di bandara,” kata Masaki Yokai, wakil presiden senior ANA yang dikutip KabarPenumpang.com dari aviationpros.com (1/2/2021).

Uji coba tersebut berlangsung pada 1-12 Februari kemarin dan mengangkut sebanyak 57 karyawan dalam satu waktu. Selain mengembangkan bus canggih, ANA sebelumnya sudah menguji teknologi otonom mereka di Bandara Kyusu Saga. ANA melakukan uji coba terbaru ini bekerja sama dengan inisiatif mobilitas BOLDLY Softbank, Advanced Smart Mobility, dan BYD Jepang.

Pengujian akan dibatasi pada area terlarang di Bandara Haneda tempat pesawat dan kendaraan kargo berada. Nantinya, jika uji coba ini berhasil, ANA menargetkan untuk menerapkan teknologi bus tanpa pengemudi di bandara-bandara lain pada tahun 2025. Pengujian putaran pertama dilakukan pada Februari 2018, dengan pengujian selanjutnya selama Q1 tahun 2019 dan 2020 untuk lebih menyempurnakan teknologinya.

Sistem otonom memberikan umpan balik waktu nyata yang dapat digunakan petugas operator untuk mengevaluasi status kendaraan setiap saat. Selain membantu menyempurnakan teknologi di balik bus otonom, pengujian tersebut akan membantu pengembang lebih memahami bagaimana penerapannya di bandara untuk efisiensi maksimum.

Baca juga: Bus Listrik Otonom Melenggang Mulus di Bandara Haneda

Tak hanya otonom, bus juga dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggeraknya agar lebih ramah lingkungan. Untuk diketagui, bus otonom ini adalah contoh terbaru ANA bekerja untuk menjadi yang terdepan dalam inovasi teknologi. Selain meringankan beban kerja karyawan Haneda, ANA bertujuan menciptakan layanan yang lebih efisien bagi mereka yang bepergian melalui bandara di masa depan.

Pemerintah Dianggap Langgar UU, FGD PATLI Ungkit Urgensi Pembentukan Majelis Profesi Penerbangan

Sederet pengamat penerbangan yang tergabung dalam Focus Group Discussion (FGD) Perkumpulan Ahli Transportasi & Logistik Indonesia (PATLI) mengungkit kembali pembentukan Majelis Profesi Penerbangan (MPP).

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Sebelum Semuanya Kembali Normal, Seluruh Maskapai Adalah LCC!

Sebagaimana diketahui, MPP ini merupakan amanat undang-undang yang termaktub dalam pasal 364 undang-undang (UU) No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Tetapi, sejak disahkan, MPP belum juga terbentuk sampai saat ini.

Mantan Direktur Operasional AirNav Indonesia, Wisnu Darjono, mengungkapkan, MPP bukan hanya penting untuk membuat penerbangan aman dan nyaman -terlebih selama pandemi virus Corona- tetapi juga penting karena itu sudah disahkan. Artinya, dikarenakan sampai sekarang MPP masih belum terbentuk, itu artinya pemerintah melanggar UU dan pastinya ada konsekuensi atas pelanggaran ini.

“Keselamatan penerbangan karena pandemi harus kita perhatikan sekali. Untuk menjamin keselamatan penerbangan harus ada pembenahan. Dari 2009 sampai sekarang majelis profesi penerbangan belum ada. MPP masuk undang-undang. Itu artinya pemerintah tidak melaksanakan UU. Kalau tidak melaksanakan UU, pemerintahan memiliki masalah besar. Apa konsekuensinya kalau pemerintah tidak menjalankan UU?” jelasnya.

Sejalan dengan itu, dalam forum yang sama, Capt. Toto Hardiyanto Subagyo, mengungkapkan bahwa keberadaan MPP ini akan memberikan kontribusi berarti terhadap keberlangsungan bisnis penerbangan Indonesia.

Dalam paparannya, tantangan bisnis penerbangan untuk mencapai keberhasilan yang bekelanjutan juga didukung setidaknya tiga faktor lain, seperti program next generation of aviation professionals (NGAP) yang digagas Internasional Civil Aviation Organizational (ICAO), aviation training & capacity building roadmap, dan competency-based training & training best practices.

Kembali ke soal MPP, pengamat penerbangan lain sebelumnya juga sudah banyak yang buka suara. Chappy Hakim, misalnya, Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia itu menyayangkan belum terbentuknya MPP yang di antara tugasnya menindaklanjuti laporan akhir KNKT dalam konteks corrective action yang harus dilakukan.

Di tempat terpisah, Ketua Masyarakat Hukum Udara dan Partner dari kantor Konsultan Hukum Hanafiah Ponggawa & Partners, Andre Rahadian membeberkan, pembentukan majelis profesi penerbangan ini urgensinya cukup tinggi dan diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan pada para penegak hukum dalam aspek penanggulangan kecelakaan maupun penegakan etika bagi pekerja maupun pihak terkait dalam penerbangan seperti pilot, engineer, navigasi dan juga airline.

Baca juga: Kata Pengamat Penerbangan: Secara Substansial Bisa Saja Garuda Dikatakan Bangkrut

Lebih lanjut, Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) itu mengatakan, majelis ini nantinya menjadi wadah terhadap para ahli untuk dapat menyampaikan pendapatnya kepada penegak hukum, dikarenakan banyaknya faktor yang dapat menjadi penyebab kecelakaan pesawat dan juga peraturan yang kini di terapkan di Indonesia merupakan hasil dari ratifikasi konvensi Internasional.

Hanya saja, Andre mengakui pembentukan majelis profesi penerbangan dalam hal ini sulit terealisasi dikarenakan adanya hambatan pada payung hukum pembentukan majelis tersebut. Sekalipun sudah terbentuk, MPP harus menjadi majelis independen, tidak dibawah Kemenhub namun tetap pada garis koordinasi seperti AirNav maupun KNKT.

Inggris Berlakukan Karantina Mandiri di Hotel Bagi Wisatawan Selama 10 Hari, Biayanya Rp124 Juta!

Inggris mulai berlakukan skema baru karantina mandiri di hotel bagi wisatawan. Skema ini mengharuskan wisawatan asing dari 33 negara yang masuk dalam daftar merah melakukan isolasi mandiri di hotel-hotel di dekat bandara selama 10 hari. Biayanya pun cukup fantastis, mencapai 6.400 pound atau sekitar Rp124 juta (kurs 19.360).

Baca juga: Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

Seruan Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) sejak Juni tahun lalu kepada pemerintah di seluruh dunia untuk tidak mengkarantina wisatawan asing saat tiba di negara mereka tampaknya tidak teralu berefek. Sebab, masih banyak negara-negara di dunia yang masih menerapkan karantina mandiri sesampainya di negara tujuan.

Menurut IATA, karantina mandiri tidak diperlukan karena sebelum naik pesawat, wisatawan telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

CEO IATA, Alexandre de Juniac menyebut, bila negara-negara di dunia masih menerapkan kebijakan tersebut, sektor perjalanan dan pariwisata mereka akan terus tertekan. Ujungnya, perekonomian nasional pun akan terus macet dan menimbulkan efek domino berupa PHK.

Akan tetapi, tentu saja negara-negara di dunia tidak ingin mengambil risiko. Pada akhrinya karantina mandiri tetap berjalan di banyak negara, tak terkecuali Inggris. Negeri yang terkenal memiliki liga sepak bola paling kompetitif di dunia tersebut bahkan bukan hanya menerapkan kewajiban karantina mandiri bagi wisatawan dari 33 negara yang masuk daftar merah, melainkan mematok harga sangat tinggi untuk itu, mencapai Rp124 juta.

Dikutip dari Simple Flying, sebetulnya, bila dirinci harganya tak semahal itu. Harga untuk karantina mandiri selama 10 hari hanya dipatok sebesar 1.750 pound atau sekitar Rp34 juta (kurs 19.360).

Biaya sebesar itu termasuk akomodasi, transportasi, kamar, tes Covid-19 (hari kedua dan ke-10), serta makanan dan minuman. Harga bisa berubah jika wisatawan membawa orang dewasa untuk berbagi kamar dengan tambahan sebesar £650 dan £325 untuk anak-anak.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Tak cukup sampai di situ, wisatawan juga akan dikenakan biaya tambahan berupa denda sebesar 4.000 pound Rp77 juta lebih (kurs 19.360), jika tidak memesan paket karantina mandiri di hotel sebelum keberangkatan pesawat.

Bagi wisatawan di luar 33 negara yang masuk ke dalam daftar merah, mereka tidak ikut menjalankan kewajiban karantina mandiri di hotel. Tetapi, mereka harus mengikuti tes Covid-19 dengan biaya £210 atau Rp4 juta (kurs 19.360). Bila hasilnya negatif, mereka bisa langsung melenggang bebas di Negeri Matahari yang Tak Pernah Tenggelam itu. Bila positif, mereka harus mengikuti kewajiban karantina mandiri selama 10 hari dan membayar 1.750 pound.

Etihad Daur Ulang Rongsokan Pesawat, Ada Baju dari Kulit Jok Sampai Replika Prestasi UEA

Bisnis pesawat purna tugas lama-kelamaan semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Melihat hal itu, riset di Eropa coba mencari teknik pembuangan yang paling ekonomis dan ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.

Valliere Aviation, salah satu raksasa daur ulang pesawat tua di Eropa, mengerti betul betapa menggiurkannya pesawat tua. Biasanya pesawat tua dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Seiring berjalannya waktu, alih-alih diserahkan ke pihak kedua, satu per satu maskapai mulai mengelola sendiri pesawat-pesawat purna tugas mereka. Di antara deretan maskapai itu, Etihad adalah salah satunya.

Dikutip dari Simple Flying, Etihad menggandeng seniman lokal, Azza Al Qubaisi dan Christine Wilson, untuk mengolah seluruh suku cadang pesawat-pesawat yang seharusnya berakhir di tempat pembuangan sampah.

Di antara berbagai suku cadang yang mungkin dikelola Azza Al Qubaisi, ia memilih fokus untuk mengelola dudukan kursi di pesawat. Rongsokan itu kemudian digabungkan dan menjadi formasi geometris simetris. Menurut Etihad, itu bisa diletakkan di lantai ataupun digantung di langit-langit sebagai hiasan.

Senimar kelahiran Irlandia yang menetap di Dubai, Christine Wilson, memillih untuk mengolah jendela, pintu, dan badan pesawat untuk dijadikan sebuah karya seni yang disebut Aintiqal, yaitu sebuah refleksi visual dari cakrawala Abu Dhabi. Foto: Etihad Airways

Selain itu, Al Qubaisi juga menyulap kulit jok kursi pesawat sebagai pakaian yang modis dan berkelas sekalipun sejatinya terbuat dari bahan-bahan bekas. Ia tampak begitu bangga berpose dengan karya seni buatannya yang dipajang di kantor pusat Etihad.

“Mengunjungi gudang suku cadang Etihad selama pandemi Covid-19 membawa kembali kenangan perjalanan keliling dunia dan menemukan budaya yang berbeda. Saya sangat senang memiliki akses tak terbatas ke materi luar biasa yang dapat saya ubah atau gabungkan menjadi seni,” kata Al Qubaisi.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A380 Dijual Rp415 Ribu!

Berbeda dengan Al Qubaisi, senimar kelahiran Irlandia yang menetap di Dubai, Christine Wilson, memillih untuk mengolah jendela, pintu, dan badan pesawat untuk dijadikan sebuah karya seni yang disebut Aintiqal, yaitu sebuah refleksi visual dari cakrawala Abu Dhabi. Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan identitas dan prestasi Uni Emirat Arab, seperti keberhasilan menjadi negara arab pertama yang berhasil mencapai Mars dan berbagai prestasi lainnya.

Direktur Eksekutif Guest Experience, Brand, and Marketing Etihad, Terry Daly, mengungkapkan tujuan Etihad memulai hal ini adalah untuk menampilkan hasil karya putra-putri terbaik negara itu. Diharapkan, kedepan akan lebih banyak lagi karya seni yang dihasilkan untuk mendukung upaya inovasi berkelanjutan demi lingkungan yang lebih hijau.

Kejar Efisiensi, Startup Asal Israel Kembangkan Pengelolaan Bus Berbasis “On-demand”

Transportasi umum seringkali dikiritik karena kurang dapat diandalkan dan tidak efisien apalagi jika menyangkut soal waktu. Ini sering terjadi pada transportasi umum di kota dan bisa menjadi lebih buruk lagi di daerah pinggiran kota atau pedesaan.

Baca juga: Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Bahkan di beberapa daerah yang memiliki penumpang sedikit seperti rute bus yang melalui gurun di Israel. Di mana bus hanya dapat mengangkut segelintir penumpang dalam satu kali putaran ke dan dari pusat kota utama.

Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofisrael.com (14/2/2021), untuk mengatasi masalah ini pada 2019, Shaked Karby mendirikan Operatti yang merupakan startup berbasis di Tel Aviv yang berfokus pada “transportasi umum pintar”. Idenya adalah untuk menciptakan layanan publik yang efisien dan andal, menggunakan optimalisasi kapasitas berbasis data.

Karby, yang kini menjadi kepala bagian pemasaran, melihat fakta bahwa bus sering kali kosong pada rute-rute yang melintasi ratusan mil di wilayah selatan Israel sebagai kegagalan pasar jika ada yang membutuhkan tumpangan. Hal ini menyebabkan polusi udara yang tidak perlu, memboroskan dana publik, dan dapat menyebabkan potensi kekurangan bus dan pengemudi di mana mereka dibutuhkan di tempat lain.

Aplikasi yang dikembangkan oleh startup tersebut memungkinkan penumpang untuk memesan angkutan umum terlebih dahulu di sepanjang rute yang telah ditentukan, dan kemudian mengirimkan kendaraan paling efisien untuk mengambilnya sesuai dengan sistem manajemen kapasitas waktu nyata. Jika ada hingga empat penumpang di lokasi tertentu di sepanjang rute, maka otoritas transportasi hanya akan mengirim taksi untuk menjemput mereka.

Namun jika lebih dari selusin orang yang meminta tumpangan pada rute tersebut akan diberi bus ukuran penuh, sementara minibus dapat menangani nomor di antaranya. Karby mengatakan, kendaraan yang lebih kecil untuk mengambil lebih sedikit pengendara lebih hemat biaya.

Dengan demikian, para penumpang dapat menikmati layanan yang lebih andal, sementara operator tak harus mengoperasikan bus di rute-rute yang hanya memiliki sedikit atau tanpa permintaan. Mitra Operatti dalam usaha itu adalah kementerian perhubungan, otoritas angkutan umum lokal dan operator transportasi.

“Kami tidak ingin melihat bus kosong “menempuh jarak ratusan mil. Kami hanya ingin melihat kendaraan yang paling efisien, yang termurah, dan yang paling nyaman bagi penumpang,” kata Karby.

Baca juga: Disebut Ilegal, Layanan Uber Dicabut di Tel Aviv

Berbeda dengan angkutan umum lainnya, seperti Moovit yang menunjukkan kepada pengguna angkutan umum rute terbaik menuju tempat tujuan, Operatti dimaksudkan untuk mengelola angkutan umum atas nama pihak berwajib dan bukan dengan mengubah rute melainkan mengalokasikan kendaraan yang paling efisien. Sebab di sepanjang rute itu, Operatti mengoptimalkan bahan bakar, berdasarkan berapa banyak penumpang yang sebenarnya akan dikumpulkan.