Kementerian Perhubungan Usulkan Buka Trayek Bus ke Puncak

Sebanyak 41 trayek angkutan bus baru diusulkan oleh Kementerian Perhubungan atau Kemenhub untuk operasional bus di wilayah Jabodetabek. Dalam dokumen Kemenhub trayek baru ini tersebar di berbagai wilayah Jabodetabek dengan usulan rute ke Bogor sebanyak tujuh trayek, Depok 17 trayek, Tangerang dan Bekasi masing-masing tiga trayek.

Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera

Sedangkan delapan trayek lainnya termasuk dalam rute angkutan umum yang berdasarkan Rencana Umum Transportasi Jabodetabek atau RUJT dan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek atau RIJT. Rencana 41 trayek ini diusulkan diakomodasi melalui skema Buy the Service (BTS).

Dikutip KabarPenumpang.com dari cnbcindonesia.com (17/11/2020), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Buy the Service menjadikan suatu konsep di perkotaan seperti Bogor, Bekasi dan Tangerang. Sehingga masyarakat yang akan menggunakannya mendapatkan subsidi.

“Antara kemampuannya dengan cost itu kita subsidi sehingga swasta bisa masuk ke kegiatan itu dengan adanya subsidi pemerintah,” tambah Budi.

Budi menyebutkan, meski Buy the Service sudah diberlakukan di berbagai daerah, Jabodetabek sendiri bus-bus ini sempat dimanfaatkan untuk mengangkut calon penumpang KRL yang terdampak pembatasan kapasitas. Dia mencontohkan ketika kereta overloda, Kemenhub memberikan bus gratis dari Bogor ke Jakarta atau sebaliknya.

Dia juga mengatakan ada bus gratis dari Bekasi dan juga Tangerang. Budi menambahkan, tiga trayek akan secara khusus mengambil rute ke kawasan Puncak, Bogor. Adapun rute ke Puncak yakni Baranangsiang menuju Puncak, Kampung Rambutan tujuan Puncak dan Cibubur ke Puncak.

Kemenhub mencatat, waktu operasi diproyeksikan mulai pukul 05.00 hingga 21.00 WIB. Di antara jam operasional itu terdapat peak hour pukul 05.00 sampai 08.00 pagi dan pukul 16.00 hingga 19.00 sore. Ketika peak hour atau jam padat ini headway antar keberangkatan bus dilakukan per 15 menit.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Dari Layani Penumpang Hingga Turunkan Barang di Bagasi

Adapun dalam waktu off peak atau jam longgar, headway keberangkatan dilakukan per 30 menit. Off peak ini mulai pukul 08.00 sampai 16.00 dan pukul 19.00 hingga 22.00.
Trayek ini di bawah wewenang Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Anggaran sebesar Rp100 miliar disiapkan BPTJ untuk program Buy the Service ini. Subsidi tersebut membuat total pagu BPTJ bertambah dari Rp350 miliar menjadi Rp450 miliar di tahun 2021.

Terkait rute TransJakarta menuju ke Puncak, sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak TransJakarta setelah di hubungi KabarPenumpang.com, Selasa (29/12/2020).

Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

WeRide yang merupakan startup ride hailing otonom di Cina telah mengumpulkan US$200 juta dari pembuataan bus seri B1 dari Yutong Group yang merupakan induk dari produsen bus Zhengzhou Yutong Bus Co Ltd. Keduanya juga setuju untuk berkolaborasi dalam mengembangkan bus tanpa pengemudi.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

KabarPenumpang.com melansir dari laman kr-asia.com (23/12/2020), WeRide bahkan mengatakan dalam sebuah pernyataan keduanya telah mengembangkan mini robobus tanpa pengemudi yang dibuat untuk meluncur di jalan kota. Bus ini tidak akan ada kemudi atau setir, akselerator atau rem, tetapi sebagai gantinya dilengkapi dengan perangkat lunak serta perangkat keras dari WeRide.

“Investasi strategis Yutong Group adalah bukti kuat untuk teknologi WeRide yang kuat dan upaya terus-menerus kami untuk memperluas batasan industri,” kata Tony Han, salah satu pendiri dan CEO WeRide.

WeRide memulai operasi robotaxi pada November tahun lalu dan menyelesaikan 147.128 perjalanan, mengantar lebih dari 60 ribu penumpang dengan selamat ke tujuan mereka di tahun pertama layanannya dan masih dengan pengemudi cadangan. Meskipun WeRide hanya beroperasi di Guangzhou, Baidu telah menjalankan armada di beberapa kota termasuk Changsha, Cangzhou dan Beijing.

Baidu mulai memproduksi secara massal bus penggerak otonom Apolong pada awal 2018 dan bekerja sama dengan pabrikan yang berbasis di Xiamen, King Long. Robobus Apolong telah digunakan di 28 kota di Cina, termasuk Beijing dan Chonqqing, mengangkut lebih dari 100 ribu penumpang.

Untuk diketahui, sebelum putaran pendanaan baru, WeRide mendapatkan total investasi sebesar USD207 juta dari investor termasuk Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi dan CEO pembuat EV Cina, Xpeng Motors, He Xiaopeng tahun ini. WeRide mengejar standar otonom level 4, perusahaan memperoleh persetujuan pemerintah untuk meluncurkan program robotaxi percontohan di Guangzhou pada November 2019.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Ini kemudian menjadikannya start up self-driving pertama di Cina yang menerima lampu hijau dari pejabat. Yutong sendiri dulunya pernah digunakan oleh PT TransJakarta sebagai salah satu armada bus gandeng untuk beroperasi di Jakarta.

Namun bus Yutong tersebut harus dikandangkan karena terbakar pada 2014 lalu, padahal belum satu tahun beroperasi melayani rute BRT di Jakarta. Saat itu ada 30 bus yang harus dikandangkan untuk dilakukan penyelidikan terkait kebakaran yang terjadi saat beroperasi.

Pertama Kalinya, Singapore Airlines Buka Fasilitas Pelatihan untuk Umum! Satu Jam Tiket Ludes Terjual

Singapore Airlines (SIA) membuka fasilitas pelatihannya untuk umum selama empat hari. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi bertahan hidup maskapai di tengah pandemi virus Corona yang membuat industri penerbangan anjlok.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Singapore Airlines memang sangat mengandalkan penerbangan internasional dikarenakan maskapai tak mempunyai pasar penerbangan domestik. Praktis, kondisi tersebut tak bisa membuat perusahaan berharap banyak pada penerbangan.

Karenanya, sejak beberapa bulan lalu, maskapai terbaik dunia tahun 2019 versi Skytrax ini meluncurkan lini bisnis baru semata demi mencetak pundi-pundi uang, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan, program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) lewat Singapore Airlines Academy, serta tur keliling fasilitas pelatihan maskapai.

Dilansir Simple Flying, SIA menawarkan pengalaman seru berkeliling pusat pelatihan maskapai dengan biaya terjangkau, sebesar $15 atau sekitar Rp225 ribu (kurs 14.800) untuk anak-anak berusia 3-12 tahun dan $30 atau sekitar Rp450 ribu (kurs 14.800) untuk orang dewasa.

Disebut terjangkau, sebab, hanya dalam satu jam, tiket tur keliling fasilitas maskapai itu sudah ludes terjual. Selain harganya yang terjangkau, ini merupakan untuk pertama kalinya SIA membuka fasilitas pelatihan mereka bagi publik. Tak ayal, warga Singapura antusias menyambutnya.

Selama beberapa jam, peserta tur keliling fasilitas pelatihan Singapore Airlines akan disuguhkan rahasia sukses maskapai, mulai dari mengunjungi heritage center, wine appreciation room, etiquette training room, makeup training room, mockup pesawat, evacuation slides and wave pool, flight simulator, serta makan mewah di restoran A380 SIA.

Sebagaimana namanya, masing-masing ruangan di fasilitas pelatihan memiliki ciri khas tersendiri. Heritage center menampilkan sepak terjang Singapore Airlines sejak pertama kali berdiri pada 28 Januari 1972 dan masih dipandang sebelah mata, mulai diakui, sampai akhirnya menjadi langganan pemenang penghargaan tingkat dunia.

Di wine appreciation room, peserta memang hanya disuguhkan pemandangan ruangan berseta pernak-perniknya; begitu juga di etiquette training room, mockup pesawat, dan safety slide & pool. Namun, di sini (wine appreciation room), peserta tur juga dimungkinkan untuk mencicipi langsung wine khas maskapai, sebelum atau sesudah tur, dengan tambahan biaya sebesar SGD40.

Senada dengan wine appreciation room, peserta juga bisa turut merasakan sensasi menjadi kru SIA saat di ruang rias atau makeup training room dengan tambahan biaya sebesar SGD100. Dengan harga segitu, nantinya peserta tur akan dibukakan rahasia cantik dan anggun khas pramugari Singapore Airlines.

Pun demikian dengan flight simulator Singapore Airlines, peserta tur keliling fasilitas pelatihan maskapai juga bisa turut serta merasakannya, dengan biaya tambahan sebesar SGD535 selama 75 menit. Harga itu termasuk menjajal flight simulator 777, 737 MAX, dan 787. Sayangnya, itu tidak termasuk flight simulator pesawat-pesawat Airbus.

Baca juga: Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Tak lupa, SIA juga menunjukkan cara maskapai menghadirkan produk-produk atau penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan, baik di udara maupun di darat.

Sebetulnya, dari rangkaian tur keliling ini, ada satu ruangan penting namun tak termasuk paket tur. Ruangan itu adalah fasilitas gym staf SIA. Fasilitas gym diakui oleh SIA sebagai salah satu pendukung kesuksesan maskapai, dengan memperhatikan gizi, penampilan, di bawah bimbingan pelatih kebugaran dan konsultan nutrisi.

Trump Ingin Ganti Nama Bandara Ini Jadi Bandara Internasional Donald J. Trump

Happy ending, mungkin itulah alasan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald Trump, digadang tengah mencari salah satu bandara potensial untuk diubah menjadi namanya. Langkah tersebut juga menjadi sinyal bahwa Trump sudah mulai bersiap untuk mengakui kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020.

Baca juga: Potret Pesawat Pribadi Donald Trump, Dahulu Paling Mewah Sekarang Paling Butut

Dilansir Simple Flying, menurut sebuah sumber, Donald J. Trump disebut sudah meminta penasehat dan orang-orang di lingkarannya untuk memberikan saran bandara potensial mana yang bisa mengabadikan namanya; termasuk menanyakan kelengkapan dokumen-dokumen dan langkah-langkah yang dibutuhkan.

Meski Gedung Putih belum mengkonfirmasi hal itu, namun beberapa tokoh partai Republik justru seolah mengamini rumor tersebut dengan turut memberikan saran bandara potensial yang dimaksud kepada Trump.

Menurut Sun-Sentinel, Christian Ziegler, wakil ketua GOP Florida (underbow partai Republik), telah menyarankan Palm Beach International di Florida sebagai kandidat potensial. Bandara ini terletak hanya beberapa mil dari resor Mar-a-Lago Trump, dimana ia dan istrinya, Melania, bisa menikmati hari tua setelah lengser dari Gedung Putih sambil melihat Bandara International Donald J. Trump (jika jadi diubah) dipadati penumpang.

Sampai saat ini, juru bicara Bandara International Palm Beach mengaku belum dihubungi Gedung Putih terkait hal itu.

Akan tetapi, bila dilihat dari traffic penumpang, rasanya kemungkinan bandara tersebut diubah menjadi Bandara International Donald J. Trump sangat besar. Sebab, bandara tersebut tak begitu sibuk namun tak juga terlalu sepi atau tergolong sebagai bandara medium. Di masa mendatang, Florida, dengan segala daya tariknya, juga berpotensi mendatangkan banyak wisatawan dan menjadikan bandara itu ramai dikunjungi.

Selain secara administrasi tak akan begitu menyulitkan, dari segi kebanggaan juga bandara tersebut tak terlalu memalukan. Tentu, Trump tidak ingin bandara yang disematkan namanya merupakan bandara yang sepi dan tidak diminati pengunjung.

Dari data tahun 2018, Bandara International Palm Beach didatangi sebanyak 3 juta lebih pengunjung. Jumlah tersebut menempatkannya di posisi 54 bandara tersibuk di Amerika Serikat dari total ratusan bandara.

Sebelum Donald Trump, Presiden AS sebelum-sebelumnya juga pernah melakukan itu. Seperti bandara bandara di bawah ini:

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Bandara Abraham Lincoln Capital (SPI), Springfield, Illinois
Bandara Nasional Bill dan Hillary Clinton (LIT), Little Rock, Arkansas
Bandara Regional Dickinson Theodore Roosevelt (DIK), Dickinson, North Dakota
Bandara Interkontinental George Bush (IAH), Houston, Texas
Bandara Internasional Gerald R. Ford (GRR), Grand Rapids, Michigan
Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), Queens, New York
Bandara Nasional Ronald Reagan Washington (DCA), Washington, DC
Bandara Nasional (ICT) Wichita Dwight D. Eisenhower, Wichita, Kansas

Dari bandara-bandara di atas, Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), Queens, New York, menjadi bandara tersibuk yang disematkan nama Presiden AS dan berada di posisi ke-6 bandara tersibuk di AS pada tahun 2018 dengan 30 juta lebih pengunjung.

40 Tahun Lalu, Mercedes-Benz Luncurkan Airbag dan Sabuk Pengaman Pada S-Class

Pada tahun 1980, Mercedes-Benz meluncurkan airbag pengemudi dan sabuk pengaman yang pada masa itu merupakan inovasi mutakhir dalam teknologi keselamatan. Namun saat itu airbag dan sabuk pengaman masih terbatas yakni pada sedan S-class. Ini menjadi mobil seri pertama yang memiliki teknologi baru tersebut dan merupakan tonggak lain untuk keselamatan kendaraan pasif dalam barisan inovasi luar biasa Mercedes-Benz.

Baca juga: Pertama di Dunia, Mercedes-Benz Sematkan Fitur Airbag Depan-Belakang

Airbag tersebut merupakan pengembangan bersama antara Daimler-Benz AG dan Bosch dan lebih dari 100 kendaraan S-Class yang dilengkapi dengan sistem keselamatan baru diluncurkan dari jalur perakitan pada Januari dan Februari 1981. KabarPenumpang.com merangkum automotiveworld.com (22/12/2020), Mercedes-Benz mempresentasikan airbag pengemudi dan sabuk pengaman kepada publik di Geneva Motor Show.

Yang mana airbag dan sabuk pengaman tersedia pada 1982 sebagai tambahan opsional untuk semua mobil penumpang Mercedes-Benz. Pada tahun 1992, airbag pengemudi merupakan perlengkapan standar di semua model merek, diikuti oleh airbag penumpang depan sebagai fitur keselamatan standar pada tahun 1994. Meski begitu, banyak airbag lain mengikuti di tahun selanjutnya dengan airbag dipasangn di berbagai posisi kendaraan.

Ketika terjadi kecelakaan dan rem mendadak dengan benturan langsung yang parah, airbag akan mengembang dalam beberapa milidetik di depan penumpang. Di mana campuran gas yang dihasilkan, pada saat penemuan airbag terutama terdiri dari nitrogen, menggembungkan penutup kain berbentuk bantal airbag.

Ini menawarkan perlindungan terbaik yang mungkin dikombinasikan dengan sabuk pengaman, keduanya digunakan untuk melindungi tubuh bagian atas dengan lembut saat terlempar ke depan karena benturan. Empat dekade lalu, Mercedes-Benz memiliki inovasi lain dengan sabuk pengaman.

Pada akhir 1980-an, merek tersebut meluncurkan airbag pengemudi bersama dengan sistem pengekangan untuk penumpang depan, yang pada saat itu dikenal sebagai “pengencang sabuk”. Namun pada tahun 1984, seat belt tensioner, sebutan yang sekarang lebih dikenal dengan fitur keselamatan ini, sudah menjadi perlengkapan standar untuk kursi depan semua mobil penumpang Mercedes-Benz.

Ide dasar untuk airbag dikaitkan, antara lain, dengan penemu hobi, Walter Linderer yang pada tahun 1950-an, telah merancang apa yang dia gambarkan sebagai “wadah tiup dalam keadaan terlipat, yang secara otomatis mengembang jika terjadi bahaya. Pada tanggal 6 Oktober 1951, penemu kelahiran Munich mengajukan paten untuk “perangkat untuk melindungi orang di dalam kendaraan dari cedera jika terjadi tabrakan” dari Kantor Paten Jerman.

Meskipun dalam aplikasinya Linderer secara tepat menjelaskan prinsip airbag, persyaratan teknis untuk sensor dan juga untuk pembangkit gas cepat tidak ada pada masa itu. Udara tekan konvensional tidak cocok untuk menghasilkan tekanan karena butuh waktu terlalu lama untuk mengembang kantung udara. Bahan elastis dan sangat tahan air mata yang diperlukan untuk membuat kantung udara juga tidak tersedia pada saat itu dan ini tetap terjadi selama beberapa tahun. Lalu Mercedes-Benz kembali ke ide airbag pada tahun 1966 dan memulai uji coba awal untuk produksi gas efektif pada tahun 1967.

Di mana paten untuk “perangkat perlindungan benturan untuk penumpang kendaraan” (Paten No: DE 21 52 902 C2) diajukan oleh kemudian Daimler-Benz AG pada Oktober 1971. Kemajuan berkelanjutan: Setelah sekitar 250 uji tabrak, lebih dari 2.500 mobil uji luncur, dan ribuan uji coba pada masing-masing komponen, insinyur keselamatan Mercedes-Benz berhasil membawa teknologi tersebut ke kematangan produksi seri selama lima belas tahun ke depan.

“SRS airbag” (suplemental restraint system) yang melengkapi sabuk pengaman dan awalnya terlihat pada roda kemudi model Mercedes-Benz yang dilengkapi dengan teknologi ini. Peredam benturan di roda kemudi ini berukuran besar karena harus mengakomodasi penutup kain yang besar saat digelembungkan, kantung udara pengemudi pertama memiliki volume antara 60 hingga 70 liter.

Hingga akhirnya pada 2020, seri model 223 S-Class, yang memulai debutnya termasuk airbag baru tambahan seperti airbag belakang, yang merayakan penayangan perdana dunia mereka tahun ini. 40 tahun setelah peluncuran kantung udara pengemudi pertama, kantung udara belakang baru ini menggunakan konsep inflasi baru yang radikal dengan struktur tubular, dirancang untuk memasang kantung udara depan untuk kedua jok belakang luar untuk pertama kalinya.

Baca juga: Sabuk Pengaman Model “V,” Lambang Supremasi Teknologi Volvo

Sehingga jika terjadi tabrakan langsung yang parah, inovasi ini sangat mengurangi beban di kepala dan leher penumpang yang tertahan oleh sabuk pengaman di kursi ini. Sama seperti Mercedes-Benz S-Class membuka jalan dengan standar baru keselamatan 40 tahun yang lalu, generasi baru terus membawa keselamatan pengemudi dan penumpang ke tingkat yang benar-benar baru dan menetapkan standar baru tidak hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk industri secara keseluruhan.

Jalan-Jalan Ke Ancol Naik Kereta? Yuk Turunnya di Stasiun Ancol

Meski pada liburan Natal dan Tahun Baru kali ini, kawasan Ancol dan pusat hiburan di DKI Jakarta ditutup terkait pandemi Covid-19, namun, merencakan liburan ke Ancol tetap menjadi minat tersendiri bagi sebagian warga. Nah, untuk sampai ke Ancol, masih sedikit pelancong yang menggunakan jasa kereta api. Padahal pelancong bisa turun di Stasiun Ancol yang tak jauh dari pintu masuk taman rekreasi terbesar di utara Jakarta ini.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Stasiun Jakarta Kota Resmi Beroperasi

Stasiun Ancol merupakan stasiun yang berada di Jalan RE Martadinata tepatnya di Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara. Stasiun ini berada di ketinggian +4 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini termasuk dalam Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Stasiun Ancol merupakan stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil yang berada di jalur kereta CommuterLine yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dengan relasi KRL Stasiun Tanjung Priok menuju ke Stasiun Kota. Stasiun Ancol memiliki empat jalur kereta tanpa memiliki sepur belok sama sekali.

Yang mana jalurnya terdiri dari jalur dwiganda dengan jalur ganda di sisi utara yang mengarah dari Jakarta Kota menuju Kampung Bandan dan jalur ganda di sisi selatan yang mengarah dari Rajawali. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ke arah timur dari stasiun ini, tepatnya beberapa meter sebelum memasuki Stasiun Tanjung Priok, ada percabangan menuju ke Pasoso-Depot Pertamina Cilincing.

Sayangnya jalur yang menuju Depot Pertamina sudah ditutup sejak tahun 1990-an dan di jalur 4 Stasiun Ancol dulunya terdapat wesel menuju gardu listrik yang kini sudah dicabut. Dulunya Stasiun Ancol hanya dilintasi kereta baik KRL atau pun kereta lainnya.

Baca juga: Seutas Cerita di Balik Kelamnya Stasiun Kampung Bandan

Meski begitu saat itu belum ada KRL yang berhenti di Stasiun Ancol karena menunggu perpanjangan peron untuk mengangkut penumpang. Kemudian sejak 25 Juni 2016, PT KCJ yang kini menjadi KCI kembali mengoperasikannya untuk pelayanan penumpang.

Pembukannya Stasiun ini selain memudahkan pelancong yang menumpang kereta menuju ke Ancol juga mengurangi kepadatan di Stasiun Kota ataupun Kampung Bandan. Meski begitu stasiun ini tak terlalu banyak penumpang yang turun untuk menuju ke destinasi Ancol.

Hal terebut karena jalur menuju ke Ancol cukup menyeramkan tanpa ada jalur aman untuk pejalan kaki. Semoga saja kedepannya Pemprov DKI Jakarta memberikan kenyamanan untuk menyeberang pada penumpang kereta yang akan berlibur ke Ancol.

 

Bisakah MD-11 Tetap Terbang Bila Kedua Mesin di Sayap Rusak? Simak Jawabannya

McDonnell Douglas MD-11 memang hanya terjual 200 unit sejak pertama kali terbang perdana pada 10 Januari 1990; sangat sedikit bila dibandingkan dengan DC-10 sebanyak 400 unit atau trijet Boeing 727 sebanyak 1.832 unit. Namun, pesawat trijet pengembangan dari DC-10 ini nyatanya merupakan salah satu pesawat widebody terpopuler di zamannya.

Baca juga: McDonnell Douglas MD-12 – Calon Rival Queen of the Skies yang Tidak Laku di Pasar

Meski populer, publik sempat ragu untuk menumpangi MD-11. Umumnya keraguan itu muncul ketika kedua mesin sayap pesawat diasumsikan mengalami kerusakan dan hanya menyisakan satu mesin di bagian ekor, akankah MD-11 tetap bisa terbang setidaknya untuk melakukan pendaratan darurat atau sebaliknya, pesawat kehilangan ketinggian dan menghantam keras daratan?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, tidak ada salahnya kita membahas aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) terlebih dahulu. Sebab, keduanya (ETOPS dan pertanyaan di atas) sangat terkait.

Dilansir Simple Flying, ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) pada dekade 70an, saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Begitu juga dengan pesawat trijet dan quadjet, ETOPS, dikemudian hari, menantang mereka semua untuk terbang dengan satu mesin.

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satu atau seluruhnya kecuali menyisakan satu mesin, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Karena MD-11 merupakan pesawat yang muncul pada dekade 90an, sudah pasti ia sudah mendapat sertifikasi ETOPS. ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370 menit terbang dengan satu mesin. Adapun sertifikasi ETOPS MD-11 tidak disebutkan secara detail.

Atas pertanyaan di awal, MD-11 dipastikan tetap bisa terbang meskipun hanya dengan satu mesin. Persoalannya justru bukan tetap bisa terbang dengan satu mesin atau tidak, melainkan, berapa lama MD-11 bisa terbang hanya dengan satu mesin dan sayangnya tak ada jawaban pasti untuk ini karena keterbatasan informasi ETOPS pesawat itu.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Sekalipun kasusnya tak begitu persis dengan kenyataan di atas, MD-11 belum lama ini dilaporkan pernah mengalami kerusakan pada salah satu mesinnya. Disebutkan, FedEx MD-11F mengalami kerusakan mesin sebelah kiri tak lama setelah lepas landas dari Bandara Memphis, Tennessee, Amerika Serikat (AS). Dengan menyisakan kedua mesin, pesawat itu berhasil turn around dan mendarat mulus di bandara semula.

Menurut Aviation Safety Network, MD-11 telah terlibat dalam 32 kecelakaan sejak 1993. Namun, mayoritas dari jumlah tersebut berkenaan dengan sistem kontrol penerbangan pesawat, bukan kerusakan mesin.

Singapore Airlines Hadirkan Layanan Verifikasi Digital Covid-19 yang Juga Bisa Jadi ‘Paspor Vaksin’

Singapore Airlines (SIA) mulai melakukan uji coba layanan baru yang memungkinkan verifikasi hasil tes Covid-19 lebih cepat. Bahkan layanan ini memiliki potensi membuka jalan bagi pengenalan paspor vaksin. Nantinya kehadirannya memudahkan petugas imigrasi yang tak lagi memeriksa sertifikat kesehatan secara manual, melainkan dengan memindai kode QR melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Temasek.

Baca juga: GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI

Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (23/12/2020), maskapai asal Singapura ini mengatakan bahwa dengan layanan tersebut akan mempersingkat waktu bagi pelancong dalam penyelesaian imigrasi dan meningkatkan pengalaman perjalanan di masa pandemi. Tak hanya itu, layanan tersebut juga bisa digunakan untuk memverifikasi status vaksinasi Covid-19 para pelancong sehingga bertindak seperti paspor vaksin.

“Tes dan vaksinasi Covid-19 akan menjadi bagian integral dari perjalanan udara di masa mendatang. Kami menawarkan solusi digital yang memungkinkan verifikasi informasi ini dengan mudah dan aman, dan mendukung pemulihan industri yang aman dan terkalibrasi dari pandemi ini,” kata Wakil presiden senior maskapai penerbangan untuk perencanaan pemasaran JoAnn Tan

Sedangkan Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan hasil tes Covid-19 seorang pelancong dan status vaksinasi mungkin menjadi informasi yang sangat relevan untuk perjalanan lintas batas. Kehadiran layanan ini yang dilakukan SIA dengan kerja sama IATA, Ong mengatakan, Kementerian Trasnportasi dan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) akan mendukung serta membantu menjadikannya praktik regional atau internasional.

Uji coba layanan tersebut dilakukan SIA pada Rabu kemarin dengan para pelancong yang melakukan penerbangan dari Jakarta atau Kuala Lumpur. Di mana pelancong dua kota ini dapat memanfaatkan layanan tersebut dengan melakukan tes Covid-19 pra-masuk di klinik tertentu.

Nantinya klinik akan membiarkan pelancong masuk ke Singapura ketika hasil mereka negatif dan ini dibuktikan dengan hasil berupa sertifikat kesehatan digital atau kertas dengan kode QR yang memverifikasi keasliannya. Yang mana kode tersebut dapat dipindai oleh staf bandara setempat dan petugas imigrasi yang menggunakan aplikasi seluler.

Kedepannya jika uji coba berhasil, layanan verifikasi akan diluncurkan oleh SIA ke kota lain dan mereka berencana mengintegrasi izin ke dalam aplikasi seluler mulai Juni tahun depan. SIA adalah maskapai penerbangan pertama di dunia yang menyiapkan proses verifikasi seperti itu berdasarkan kerangka Travel Pass IATA.

Masih dalam pengembangan, platform IATA dimaksudkan sebagai paspor kesehatan digital internasional yang memberikan bukti bahwa para pelancong telah diuji atau divaksinasi Covid-19. Wakil presiden senior IATA untuk bandara, penumpang, kargo dan keamanan Nick Careen mengatakan bahwa kemitraan dengan SIA akan menunjukkan bahwa orang dapat melanjutkan perjalanan dengan keyakinan bahwa mereka memenuhi persyaratan masuk Covid-19 di negara tujuan mereka.

“Ini akan membantu memastikan bahwa pelanggan SIA akan menjadi yang pertama mendapatkan keuntungan karena pemerintah membuka kembali perbatasan mereka dengan persyaratan pengujian atau vaksinasi,” tambahnya.

Direktur Peraturan Operasi Bandara dan Keamanan Penerbangan CAAS Margaret Tan mengatakan uji coba merupakan langkah penting untuk memfasilitasi kembalinya perjalanan udara. Dia mengatakan pihak berwenang akan bekerja dengan mitranya untuk mengambil solusi semacam itu untuk membantu memulihkan perjalanan udara.

“Ini adalah pendekatan inovatif untuk memastikan perjalanan perjalanan yang mulus sambil memastikan bahwa badan-badan kesehatan dan perbatasan diyakinkan bahwa penumpang memiliki kredensial kesehatan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat. Kami berharap negara dan maskapai lain akan mempertimbangkan untuk mengambil pendekatan serupa,” tambahnya.

Baca juga: Singapore Airlines Sukses Kirim Vaksin Pfizer-BioNTech Pertama, Makin Dekat Jadi Hub Distribusi Vaksin

Analis penerbangan independen Brendan Sobie dari Sobie Aviation mengatakan pengenalan sistem verifikasi digital SIA akan membantu para pelancong memenuhi serangkaian persyaratan, tetapi tidak akan memfasilitasi pemulihan lalu lintas penumpang.

Inilah AeroMACS, Sistem Komunikasi Digital Bandara Karya NASA yang Bikin Pilot ‘Bisu’

Komunikasi merupakan harga mati dalam pengoperasian bandara di seluruh dunia. Karenanya, kesalahan teknis atau kerusakan pada sistem komunikasi bandara akan sangat merugikan secara bisnis maupun sosial akibat kemungkinan jatuhnya korban, luka maupun jiwa.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Sebelum tahun 2016, sistem komunikasi bandara mayoritas menggunakan frekuensi radio. Bukan hanya rentan error, frekuensi radio juga tak aman karena tidak terenskripsi. Bandara memang masih punya sistem komunikasi berbasis kabel, dalam hal ini telepon rumah. Namun, tetap saja, itu masih dianggap tertinggal.

Sebab, teknologi nirkabel yang tersedia bagi penumpang pada perangkat portabel mereka, entah itu ponsel, laptop, dan lain sebagainya mengalahkan bandwidth yang tersedia bagi pilot di kokpit untuk dapat berkomunikasi dengan baik.

Lagi pula, dengan perbedaan kultur, gaya bahasa, serta aksen, terkadang komunikasi suara antara pilot dan petugas menara kontrol justru menimbulkan miskomunikasi dan pada akhirnya acap kali malah membahayakan penerbangan.

Oleh karena itu, sejak beberapa tahun lalu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), melalui para insinyurnya berusaha mengembangkan apa yang disebut Aeronautical Mobile Aircraft Communication System (AeroMACS).

AeroMACS memungkinkan menara kontrol (ATC) bandara melakukan komunikasi dengan pilot di kokpit secara digital, bukan komunikasi suara seperti yang ada kebanyakan saat ini. Itu berarti, pilot bukan tak mungkin akan dibuat ‘bisu’ alias tak banyak bercakap-cakap, dalam kaitannya dengan menara kontrol, efek dari kehadiran ini. AeroMACS diklaim mampu membuat traffic di runway lebih sedikit karena prosesnya lebih cepat.

Dilansir Simple Flying, teknologi AeroMACS diklaim juga lebih aman (terenskripsi), berkecepatan tinggi serta lebih lengkap karena menampilkan data berbasis diagram, peta 3D, serta detail informasi dan petunjuk penerbangan.

“Jaringan data digital baru (AeroMCAS), terenkripsi, berkecepatan tinggi akan merampingkan komunikasi antara awak darat dan pengawas lalu lintas udara,” kata NASA di situs remsminya.

“Pesan yang dikirim ke pilot setelah pesawat berada di darat (bandara) dapat mencakup diagram dan peta bergaya GPS, serta instruksi teks untuk navigasi landasan pacu, detail tugas gerbang, dan arah navigasi permukaan,” bunyi lain tulisan NASA di laman resminya.

Sebelum kehadiran sistem komunikasi digital bandara AeroMACS besutan NASA, otoritas penerbangan di lebih dari 150 negara telah mengadopsi standar Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX). WiMAX yang digunakan sejak tahun 2007an menggunakan infrastruktur jaringan seluler yang dapat disesuaikan untuk frekuensi baru; kecuali spektrum 5091 hingga 5150 megahertz, yang line-nya sengaja ditahan untuk menghadapai penerbangan krusial.

Seiring tantangan teknologi yang begitu rumit, oleh NASA dan divisi Broadband Wireless Access (BWA) Alvarion Technologies (sekarang diakuisisi oleh Telrad Networks), hardware WiMAX kemudian dimodifikasi.

Baca juga: Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Bersiap Gantikan

Usai dimodifikasi, WiMAX pun menjadi AeroMACS dengan beberapa keunggulan, seperti lebih aman, cepat, efektif, efisien, dan tentu saja, lebih murah dioperasikan dibanding sistem biasa.

Saat ini, setelah empat tahun lalu untuk pertama kalinya NASA berhasil mengirimkan data penerbangan seperti informasi rute dan cuaca ke pesawat yang sedang taxiing melalui sistem komunikasi nirkabel (digital), AeroMACS sudah digunakan di lebih dari 50 bandara di 15 negara. Dibutuhkan, setidaknya dua dekade untuk membuat sekitar 40 ribu bandara menggunakan itu di seluruh dunia.

GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI

Banyak penelitian yang dilakukan untuk membuat alat pengecekan virus corona atau Covid-19 untuk memudahkan dan mendapatkan hasil yang akurat dan cepat. Salah satunya seperti yang dibuat oleh Universitas Gajah Mada (UGM). Para peneliti di UGM baru-baru ini siap meluncurkan alat pendeteksi virus corona bernama GeNose.

Baca juga: Biar Nggak Bingung, Ini Bedanya Rapid Tes Antibodi, Rapid Tes Antigen dan Swab PCR

Nah apa sih GeNose itu? KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, GeNose merupakan alat yang dirancang untuk mendeteksi serta mendiagnosis apakah seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak. Alat ini bekerja dengan mengambil sampel dari hembusan nafas dan cukup berbeda dari PCR swab yang menggunakan lendir dari nasofaring atau orofaring.

UGM mengklaim GeNose ini bekerja secara cepat dan akurat dalam mendeteksi Volatile Organic Compound atau VOC yang terbentuk karena infeksi virus corona. Dengan cara mengambil hembusan nafas seseorang, sensor yang ada pada GeNose akan bekerja dan data yang didapat akan diolah dengan kecerdasan buatan untuk pendeteksian serta pengambilan keputusan.

Menurut para peneliti, keunggulan GeNose adalah desainnya yang mudah digenggam tangan dan mudah dioperasikan secara efisien atau mandiri. Bahkan GeNose sendiri terhubung dengan sistem cloud computing untuk mendapatkan hasil diagnosis yang real time.

Para peneliti juga mengklaim GeNose mampu bekerja paralel melalui proses diagnosis yang terpusat dan validitas data pun dapat terjaga. Bahkan data yang terkumpul pun dimanfaatkan untuk pemetaan, pelacakan serta pemantauan penyebaran pandemi.

GeNose sebagai pendeteksi Covid-19 menjadi harapan baru di tengah pandemi dan alat yang lebih akurat, efisien serta hasil yang keluar lebih cepat sehingga memudahkan tim medis. Saat ini GeNose sudah diuji profiling dengan 600 sampel data valid dari RS Bhayangkara dan Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro, Yogyakarta.

Hasil uji ini menggembirakan dengan menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi yakni 97 persen dan akan melalui uji klinis secara bertahap di sejumlah rumah sakit. Ketua tim pengembang GeNose, Kuwat Triyana, mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan pertemuan dengan manajemen Kereta Api Indonesia. Poin pertemuan itu sendiri membahas mengenai penggunaan GeNose di stasiun kereta api.

“Saya baru saja melakukan meeting dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), kan GeNose ini nanti digunakan di moda transportasi,” ujar Kuwat yang dikutip dari sindonews.com.

Dia menambahkan saat ini sudah mendapatkan izin edar dari Kemenkes dan akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama. Kuwat Triyana mengatakan biaya tes deteksi Covid-19 menggunakan GeNose C19 cukup murah, yakni sekitar Rp15 ribu sampai Rp25 ribu.

VP Public Relation PT KAI Joni Martinus menambahkan, pihaknya mendukung semua kebijakan dan langkah untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia termasuk inovasi yang dihadirkan UGM dalam rangka menghadirkan layanan pengecekan yang terjangkau, cepat dan akurat.

“Kami tentu menyambut baik inovasi yang dihadirkan oleh UGM dalam rangka menghadirkan layanan pengecekan Covid-19 yang terjangkau, cepat dan akurat,” kata dia.

Untuk diketahui, meski bisa menjadi metode pengecekan alternatif Covid-19, penemuan ini masih perlu melakukan lebih banyak penelitian. Sebab sampai sekarang hasil dari tes PCR masih dianggap paling akurat untuk mendeteksi virus corona baru tersebut.

Baca juga: Bandara Changi Buka Laboratorium Pengujian Covid-19 Pada Q1 2021

“Sejauh ini, masih PCR yang masih gold standard-nya. Soalnya pemeriksaan ini spesifik dan sensitif untuk virus SARS-COV-2. Meski demikian, tentu temuan tim ahli lintas bidang ilmu di UGM ini perlu diapresiasi. Kita patut menantikan apakah GeNose ini bisa diproduksi secara massal dan membantu deteksi dan pelacakan virus corona lebih cepat dan akurat,” kata dr. Sepriani Timurtini Limbong.