Pertama di Dunia, Motor Listrik Bisa Dilipat dan Terbuat dari Baja Tahan Karat! Segini Harganya

Seiring waktu berjalanan, desain motor -entah motor listrik ataupun motor konvensional- semakin futuristik (jika tak ingin disebut aneh), seperti motor listrik satu ini, SUS1 e-scooter. Selain menggunakan baja anti karat (stainless steel) sebagai komponen utamanya, motor listrik buatan startup asal Swedia, STILride, tersebut juga bisa dilipat dan menjadikannya sebagai motor listrik pertama dengan kemampuan itu.

Baca juga: BMW Siap Hadirkan ‘Satu Paket Komplit’ Sepeda Motor Listrik

Kemampuan SUS1 e-scooter sebagai motor listrik lipat pertama di dunia tak terlepas dari teknologi blancforming yang terinspirasi dari industri origami, yakni teknik melipat kertas menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi. Proses pelipatan motor tersebut dilakukan oleh robot origami yang dijuluki Light Fold.

Menurut Jonas Nyvang dan salah satu pendiri STILride, Tue Beijer, proses ini bukan hanya mengurangi biaya produksi dan material secara signifikan serta menghasilkan tampilan yang benar-benar beda, tetapi juga membuatnya jadi lebih ramah lingkungan.

Hasil dari proses tersebut juga membuat SUS1 e-scooter memiliki permukaan logam yang halus, rata dan licin, serta ruang menarik yang menyeimbangkan antara kekokohan material dan desain yang lapang.

Sebelum benar-benar diproduksi, motor listrik pertama di dunia yang bisa dilipat itu mula-mula dibuat menggunakan gabungan kertas dan baja tahan karat. Desainnya adalah hasil kreasi Tue Beijer yang telah berkecimpung dalam bisnis desain kendaraan selama 20 tahun. Kecintaan Beijer pada skuter tua dan desain skuter listrik pertama STILride ini menginformasikan estetika konsep pertama perusahaan.

Setelah itu, barulah prototipe skuter yang beroperasi dengan listrik dan menggunakan motor yang terletak di roda belakang ini dibuat menggunakan stainless steel secara penuh dengan melibatkan robot Light Fold tadi dalam proses melibat motor.

Selain melibatkan robot origami Light Fold, komponen motor listrik lipat pertama SUS1 e-scooter, seperti footboard, juga dibuat menggunakan teknologi cetak 3D.

Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Bila tak ada aral melintang, Nyvang menyebut bahwa motor listrik pertama di dunia yang bisa dilipat ini bakal tersedia di pasaran pada 2022/2023 mendatang, dengan harga sekitar US$5.500 atau sekitar Rp78 juta (kurs 14.331).

Karena masih berupa prototipe, ia belum bisa membeberkan spesifikasi SUS1 e-scooter. Namun, ia berjanji bahwa “Motor itu akan luar biasa menarik dari segi jarak dan kecepatan,” jelasnya, seperti dikutip dari New Atlas.

Singapore Airlines Sukses Kirim Vaksin Pfizer-BioNTech Pertama, Makin Dekat Jadi Hub Distribusi Vaksin

Singapore Airlines sukses menjajaki pengiriman pertama vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech ke Singapura. Vaksin dibawa menggunakan pesawat kargo 747-400 dari Brussel, Belgia, transit di Uni Emirat Arab, sebelum akhirnya sampai di Singapura.

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

Meski tidak ada kendala, pengiriman vaksin pertama Pfizer-BioNTech ke Singapura tentu bukan tanpa tantangan.

Vaksin Covid-19 ini diketahui wajib selalu berada dalam suhu -70 ° C, sejak dari fasilitas penyimpanan vaksin di Belgia, di antar ke bandara menggunakan tronton, dimasukkan ke dalam pesawat, dikeluarkan dari pesawat dan diletakkan di fasilitas penyimpanan di Bandara Changi, dimuat ke dalam tronton kembali sampai akhirnya tiba di rumah sakit. Semuanya harus bisa menjaga suhu -70 ° C.

Atas tugas berat tersebut, Singapore Airlines, dalam hal ini sebagai pengangkut vaksin dari Bandara di Belgia ke Bandara Changi, Singapura, melakukan semacam latihan terlebih dahulu dengan rute yang sama, sehari sebelum hari H.

Dilansir Simple Flying, Singapore Airlines mengerahkan Boeing 747-400 kargo dengan nomor penerbangan SQ7979 pada pada 20 Desember pukul 21.24 waktu Brussel, menuju Singapura. Pesawat akhirnya tiba di Bandara Changi pada pukul 19.55 waktu setempat Senin, 21 Desember 2020, setelah sempat transit selama sejam di Sharjah, Uni Emirat Arab.

Mr. Chin Yau Seng, Senior Vice President Kargo Singapore Airlines mengungkapkan, bahwa keberhasilan pihaknya mengirim vaksin pertama ke Singapura merupakan salah satu capaian penting dalam perang melawan Covid-19. Selain itu, keberhasilan pengiriman vaksin pertama Pfizer-BioNTech ke Singapura juga makin menunjukkan posisi negara tersebut sebagai hub distribusi vaksin internasional; termasuk juga pengiriman vaksin ke Asia Tenggara.

“Pengiriman batch pertama vaksin Covid-19 ke Singapura merupakan tonggak penting dalam perang melawan Covid-19, dan kami merasa terhormat dapat berperan dalam hal ini. Ini juga berfungsi untuk menunjukkan kesiapan SIA dan hub udara Singapura untuk tugas yang sangat penting dalam mengangkut dan mendistribusikan vaksin Covid-19 secara internasional,” jelasnya.

Singapura adalah negara pertama di Asia yang menerima vaksin dari kedua perusahaan tersebut. Selain dengan kedua perusahaan itu, Singapura juga meneken perjanjian untuk kandidat vaksin, termasuk yang dikembangkan oleh Moderna dan Sinovac.

Baca juga: Mengenal Envirotainer, Kontainer Pembawa Vaksin Covid-19 Pertama Indonesia Buatan Sinovac

Karenanya, pasca pengiriman pertama vaksin Pfizer-BioNTech, diperkirakan bakal ada banyak penerbangan serupa (penerbangan kargo bermuatan vaksin) di bulan-bulan mendatang.

Selain karena posisi Singapura yang tengah berupaya menjadi pusat distribusi vaksin virus corona untuk kawasan Asia Tenggara, penerbangan kargo Singapore Airlines pembaga vaksin juga akan meningkat karena Singapura sendiri akan memulai kampanye vaksinasi massal beberapa bulan mendatang.

Ada ‘Kereta Hantu’ di Inggris, Bukannya Seram Tapi Justru Dianggap Boros Biaya Operasional

Kereta hantu yang satu ini bukanlah yang berjalan dan tiba-tiba menghilang. Tetapi merupakan sebuah kereta diesel besar yang melaju dari tikungan yang megah di Stasiun York dan melintasi tepian kanan Sungai Ouse, Inggris.

Baca juga: Silverpilen, Legenda Kereta Hantu Milik Warga Stockholm

Disebut kereta hantu karena setiap pukul 20.32 waktu setempat pada hari kerja, layanan CrossCountry bergerak ke utara dan berhenti di Darlington, Durham, Newcastle dan desa Alnmouth di Northumberland sembari melaju dalam perjalanan ke Edinburgh Waverlay. Seorang penumpang yang tak disebutkan namanya mengatakan, ketika dirinya menjadi salah seorang yang naik di dalam kereta, dia melihat sudut pandang konektivitas jaringan kota di sepanjang jalur utama pantai timur dengan kereta tengah malam.

Namun ketika dirinya menunggu keretanya berangkat untuk meninggalkan York, sebuah kereta LNER berhenti di sampingnya tanpa banyak penumpang dan bisa diktakan hampir kosong. KabarPenumpang.com melansir independent.co.uk (3/10/2020), tiga menit setelah layanan kereta tersebut menuju ke utara, kereta ekspres listrik itu juga berangkat mengikuti seperti bayangan.

Apalagi kereta itu mengular di rute dengan perhentian sama hingga tiba di Edinburgh dan peronnya berdekatan. Rasanya ini seperti menghabur-hamburkan uang publik dan membakar bahan bakar fosil karena mengirimkan kereta hatu seberat seratus ton lebih dengan perjalanan lebih dari 200 mil.

Bisa dikatakan perjalanan ini sangat boros dan seharusnya tidak perlu dilakukan. Penumpang itu mengaku awalnya kereta diesel CrossCountry yang berada di Edinburh ikut karena untuk layanan ke selatan esok paginya. Apalagi banyak kereta kosong diposisi yang tepat dan membawa penumpang.

Namun sekilas jadwal awal dari ibu kota Skotlandia menunjukkan pengaturan kereta hantu lain pada pukul 06.56 pagi, keberangkatan LNER ke York, diikuti lima menit kemudian oleh CrossCountry. Hal ini kemudian dipikirkan ini seperti persaingan, di mana pemerintah Inggris Raya memiliki dan menjalankan LNER, sedangkan CrossCountry adalah anak perusahaan kereta api negara Jerman, Deustche Bahn.

Di masa lalu, argumen itu ada manfaatnya yakni bersaing memperebutkan kebiasaan tentang kenyamanan, layanan dan harga. Tetapi privatisasi kereta api telah ditinggalkan sejak pandemi virus corona dimulai. Kereta api Inggris, baik yang dijalankan secara publik atau pribadi, semuanya ditentukan oleh Departemen Transportasi (DfT) dan sangat disubsidi oleh pembayar pajak.

Perjalanan kereta api hanya menyumbang dua persen dari perjalanan yang dilakukan di Inggris, tetapi menghabiskan 56 persen pengeluaran pemerintah untuk transportasi. Pelancong dan pembayar pajak perlu mengetahui mengapa DfT menggunakan uang publik untuk menjalankan kereta hantu ini dan ketika ditanyakan terkait masalah ini operator mengatakan ini urusan mereka.

Baca juga: Ngeri! Kereta Hantu Terekam CCTV ‘Melintas’ di Stasiun Baotou

Minggu ini departemen yang sama menolak untuk memperpanjang masa berlaku kartu kereta, meskipun membuat kartu diskon ini impoten selama empat bulan dengan mendesak orang untuk tidak bepergian dengan kereta api.

“Dengan pendapatan tarif yang turun menjadi kurang dari lima persen dari tingkat sebelum Covid, kami harus memastikan bahwa kami adil kepada pembayar pajak,” kata juru bicara DfT.

Gegara Miskomunikasi dengan Operator Bandara, Pesawat Buddha Air ‘Nyasar’ Salah Tujuan Pendaratan

Pernah tidak Anda membayangkan akan pergi ke Bali tetapi sampainya di Kalimantan? Mungkin tidak karena Anda yakin penerbangan yang dinaiki tepat dan tidak akan mengganti rute tanpa pemberitahuan. Tapi nyatanya hal tersebut terjadi pada 69 penumpang Buddha Air. Para penumpang ini akan pergi ke Janakpur dengan pemberangkatan dari Kathmandu, Nepal pada 18 Desember 2020 dengan nomor penerbangan U4505. Namun mereka bukannya tiba di tujuan tetapi di Pokhara yang letaknya 255 km dari Janakpur.

Baca juga: Alami Masalah Pada Hidrolik Roda Depan, Singapore Airlines SQ406 Mendarat Darurat di New Delhi

Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (21/12/2020), para penumpang ini terkejut ketika mereka tiba di Pokhara. Insiden kesalahan tujuan ini berawal dari cuaca tidak cukup baik untuk penerbangan hari Jumat lalu itu dan membuat operator ATC memanfaatkan setiap peluang yang tersedia untuk membawa pesawat secepat mungkin lepas landas.

Penerbangan itu sempat tertunda ketika akan lepas landas, namun dijadwalkan tiba di Janakpur pukul 15.15 waktu setempat. Setelah diperbolehkan kembali untuk lepas landas, nyatanya pesawat Buddha Air tiba di Pokhara.

Laporan awal mengatakan, karena masalah cuaca maka penerbangan yang diizinkan adalah ke Pokhara hingga pukul 15.00 di bawah aturan penerbangan visual (VFR). VFR adalah seperangkat peraturan di mana seorang pilot mengoperasikan pesawat dalam kondisi cuaca yang secara umum cukup jelas untuk memungkinkan pilot melihat ke mana arah pesawat tersebut.

“Cuaca sudah menyebabkan penundaan penerbangan dan untuk mengimbangi waktu terbang, pejabat Buddha Air memutuskan untuk terbang ke Pokhara terlebih dahulu,” kata seorang pejabat di perusahaan penerbangan tersebut.

Hal ini membuat nomor penerbangan diubah dan terjadi percampuran yang membuat Buddha Air mengaku mengalami penyimpangan yang serius. Birendra Bahadur Basnet, Direktur Pelaksana operator, mengatakan bahwa mereka telah membentuk komite untuk menyelidiki insiden tersebut.

“Perbedaan jadwal penerbangan antara Janakpur dan Pokhara adalah 15 hingga 20 menit. Staf darat memindahkan (di atas kertas) 69 penumpang penerbangan U4505 ke penerbangan U4607 yang sebenarnya telah diizinkan untuk Pokhara oleh pengawas lalu lintas udara,” kata seorang pejabat.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa semunya berada dalam urutan yang benar, tetapi staf darat dan awak kabin gagal memberitahu kapten dan co-pilot bahwa nomor penerbangan telah diubah, menurut pejabat itu.

“Awak kabin itu membuat pengumuman dalam penerbangan bahwa ia menuju ke Janakpur. Ada miskomunikasi antara staf darat dan pilot,” kata pejabat itu.

Baca juga: Akibat Kesalahan Sistem Alarm, Boeing 777 Air China Mendarat Darurat di Rusia Timur

Saat itu pun pilot juga tidak melihat manifes penumpangnya lagi. Pakar penerbangan mengatakan insiden seperti itu mungkin terjadi, tetapi jarang terjadi. Tri Ratna Manandhar, mantan direktur jenderal Otoritas Penerbangan Sipil Nepal, mengatakan ini adalah insiden kedua serupa dalam sejarah penerbangan Nepal dalam dua setengah dekade terakhir. Pada tahun 1993, Twin Otter dari Royal Nepal Airlines Corporation telah mendarat di bandara Simara yang seharusnya mendarat di bandara Bharatpur.

“Insiden Buddha Air terjadi karena miskomunikasi. Ini bukan bagian dari penyimpangan keselamatan tetapi penyimpangan yang serius di pihak manajemen,” kata Manandhar.

Ada Kerusakan Pada Uji Coba Kereta MRT Taichung, Kawasaki Heavy Industries Minta Maaf

Bulan lalu, MRT Taichung di Taipei mulai melakukan uji coba kereta di jalur. Namun ternyata ada kerusakan pada 21 November yang disebabkan oleh pemasangan jangkar yang tidak tepat untuk kopling sebagai penghubung gerbong.

Baca juga: Taipei Hadirkan Sistem Inframerah untuk Cek Suhu Tubuh Penumpang MRT

Karena hal ini, perwakilan Kawasaki Heavy Industries Hideki Ukita meminta maaf atas kesalahan besar yang ditemukan selama uji coba bulan lalu. Dia mengatakan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh cacat perakitan yakni pemasangan jangkar yang tidak tepat untuk kopling penghubung gerbong dan sekarang sedang diperbaiki.

Dilansir KabarPenumpang.com dari focustaiwan.tw (21/12/2020), Ukita mengatakan, rakitan yang tidak tepat mencegah poros gigi yang dipandu oleh kopling berfungsi stabil. Selain itu juga memberikan tekanan yang tidak semestinya pada mereka dan menyebabkannya putus selama uji coba.

Pada saat pengecekan, teknisi yang bertanggung jawab pada jalur Taichung menemukan dua poros roda gigi telah putus sedangkan 30 lainnya beserta rakitan kopling setelah diperiksa tidak ada yang putus. Ukita meminta maaf atas kerukasan yang terjadi dan menyebabkan otoritas Taichung menunda peluncuran operasi komersial Jalur Hijau MRT yang semula dijadwalkan pada 19 Desember.

Dia mengatakan perusahaannya akan mengganti kopling yang dibuat oleh pabrik China Wabtec Corporation yang berbasis di AS dengan yang dibuat di pabrik Wabtec di Prancis meskipun dia yakin asal kopling tidak ada hubungannya dengan kerusakan. Kopling buatan Prancis sedang diproduksi dan dijadwalkan untuk dikirim ke Taiwan pada 20 Januari 2021.

Ukita mengatakan, Kawasaki mengharapkan untuk mengganti kopling buatan Cina dengan yang dibuat Perancis pada 2 Februari dan menyelesaikan tes kelelahan yang diperlukan sebelum 9 Februari. Chang Tzer-h incred, kepala Departemen Sistem Transit Cepat (DORTS) Kota Taipei, yang bertanggung jawab untuk mengembangkan sistem MRT Taichung, mengatakan bahwa uji coba untuk jalur baru dapat dimulai suatu saat setelah 2 Februari.

Namun dia mengatakan jadwal pasti kapan operasi komersial jalur itu akan dimulai akan diputuskan oleh pemerintah Kota Taichung. Pemerintah Kota Taichung mengatakan menghormati pernyataan yang dibuat oleh Ukita dan Chang serta menegaskan kembali pendiriannya bahwa Jalur Hijau tidak akan beroperasi sampai terbukti aman.

Baca juga: Bagi-Bagi Hadiah! MRT Taipei Metro Rayakan Penumpang Ke-10 Miliar

Jalur Hijau, jalur pertama dari sistem MRT Taichung, menempuh jarak 16,71 kilometer dan melayani 18 stasiun antara Stasiun Utama Beitun di timur laut hingga Stasiun Kereta Api Kecepatan Tinggi Taichung di barat daya. Untuk diketahui, pembangunan Jalur Hijau dimulai pada tahun 2009 selama masa jabatan mantan Walikota Taichung Jason Hu. Proyek tersebut memiliki banderol harga NT$59,3 miliar (US$2,11 miliar), termasuk NT$32,8 miliar yang disediakan oleh pemerintah pusat.

Viral, Begini Kisah Pilot Cantik Berhijab Calon Pilot di Amerika! Pernah Bilang Jokowi Begini

Tahun 2019, menurut sebuah riset, ada lebih dari 333 ribu pilot komersial aktif di seluruh dunia. Namun, dari jumlah tersebut, sudah dipastikan, hanya segelintir pilot wanita. Lebih spesifik lagi, hanya sedikit dari mereka (pilot wanita) yang berhijab. Karenanya, kehadiran pilot wanita ataupun calon pilot wanita berhijab tentu menjadi sebuah daya tarik tersendiri; tak terkecuali Shifa Adelia Mumtaz.

Baca juga: Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Gadis muda berhijab itu belakangan viral di jagat media sosial Malaysia dan media-media online Indonesia, lantaran kisah perjuangannya dalam mewujudkan mimpi menjadi pilot di Amerika Serikat (AS).

Hingga berita ini diturunkan, sebuah unggahan berisi dua foto yang menggambarkan kisah perjuangan calon pilot berhijab berusia 20 tahun itu, sudah mendapat 53 ribu likes, hampir 5 ribu retweet, dan ratusan komentar.

Gadis cantik berhijab calon pilot di Amerika ini mengaku juga tak menyangka unggahannya viral di Twitter dan mendapat tanggapan sebanyak itu.

Cerita perjuangan Shifa Adelia Mumtaz sebagai pilot berhijab diketahui sudah sejak lama. Keinginannya menjadi pilot diakui datang dari ayah yang juga merupakan seorang pilot komersial. Ia pun tertarik dan bertekad untuk meneruskan profesi sang ayah, sekalipun sangat berbeda, dimana ia adalah seorang wanita berhijab yang jarang sekali berprofesi sebagai pilot.

https://twitter.com/4deliaa/status/1337592677571944448?s=20

Tak heran, dengan kondisi itu, ia sempat tak percaya diri. Meski demikian, ia tetap mengejar mimpinya menjadi pilot berhjab.

Dikutip dari mstar.com.my, setelah melewati perjalanan panjang di sekolah pilot Florida Flyers Flight Academy, St Augustine, Florida, Amerika Serikat, pertengahan Desember lalu, ia pun mengunggah dua buah foto, dimana satu foto ia ambil sebelum memulai penerbangan solo perdana dan foto lainnya diambil setelah merayakan keberhasilannya mencapai 230 jam terbang.

Capaian Shifa Adelia Mumtaz tentu sangat spesial. Selain mengenakan hijab dan sekolah penerbangan tempatnya menimba ilmu kebanyakan dihuni oleh laki-laki, Florida Flyers Flight Academy diketahui sebagai salah satu yang terbaik di AS. Disebutkan, lisensi dari sekolah penerbangan itu sudah diakui regulator penerbangan sipil AS (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Shifa Adelia Mumtaz berhasil mencapai 230 jam terbang. Foto: Twitter @4deliaa

Seiring berjalannya waktu, meskipun didera rasa takut atas berbagai keadaan di atas, ia berhasil menaklukkan rasa takut itu. “Tetapi sekarang saya sudah mengerti bahwa pekerjaan menerbangkan pesawat itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Tak peduli pria atau wanita,” katanya.

Baca juga: Penerbangan Bersejarah di Iran, Seluruh Kru Kokpit Perempuan

Saat ini, gadis muda cantik berhijab itu sedang menatap lisensi pilot PPL (Private Pilot License), sebelum lanjut ke lisensi CPL (Commercial Pilot License) agar bisa menerbangkan pesawat komersial atau bahkan IR (Instrument Rating); sekalipun ia tak menyinggung soal itu. Yang pasti, ia percaya lisensi pilot PPL akan segera digenggamnya.

Terlepas dari kisah perjuangan gadis cantik berhijab calon pilot ini, rupanya Indonesia tak begitu asing baginya. Ia kedapatan pernah memberikan tanggapan terkait kondisi terkini di bumi pertiwi. Lewat akun Twitter @4deliaa, ia menanggapi akun Presiden Jokowi saat menegaskan bahwa vaksin virus Corona gratis untuk masyarakat, dengan menyebut, “Thanks bestie.”

Sulap Pesawat Komersial Jadi Pesawat Militer Jadi Cara Terbaik Selamatkan Maskapai?

Mengkonfigurasi ulang (menyulap) pesawat komersial menjadi peruntukan militer tentu bukan barang baru. Namun, mengubahnya di momen yang tepat seperti di pandemi Covid-19 seperti sekarang ini tentu jarang. Padahal, langkah tersebut sangat dibutuhkan maskapai. Memang tidak menyelematkan bisnis mereka secara keseluruhan, tetapi sedikit memperbaiki kinerja keuangan. Seperti yang dialami Air India baru-baru ini.

Baca juga: Ngeri! Begini Detik-detik Pengisian Bahan Bakar Udara-ke-Udara Pertama Kali

Virus Corona membuat langit menjadi lebih sepi akibat turunnya frekuensi penerbangan. Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 17 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun.

Mayoritas dari mereka tersebar di banyak tempat di beberapa bandara di negara masing-masing. Bahkan, beberapa maskapai seperti Singapore Airlines dan British Airways, sampai harus menggrounded armada mereka ke bandara di negara lain, mulai dari Australia hingga Perancis, karena di negara mereka bandara yang ada tak lagi menampung saking banyaknya pesawat yang nganggur.

Padahal, dalam kondisi menganggur sekalipun, pesawat tetap harus mendapat perawatan agar pesawat siap beroperasi ketika digunakan, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak, dan bagian-bagian lainnya.

Tak cukup sampai di situ, untuk mencegah menumpuknya debu serta burung yang bersarang, mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian.

Selama pesawat di-grounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Maka dari itu, menggrounded pesawat akan membuat maskapai bak sudah jatuh tertimpa tangga. Sudahlah tidak menghasilkan dan perputaran bisnis melambat, pesawat yang digrounded tetap memaksa maskapai untuk mengeluarkan uang. Tentu akan sangat merugikan maskapai.

Karenanya, seperti dikutip dari Indomiliter.com, apa yang dialami oleh Air India, dimana maskapai menerima setidaknya Rs1,4 miliar atau sekitar US$19 juta dari Kemhan India, atas akuisisi enam unit A320 mangkrak milik Air India untuk dikonversi menjadi pesawat Airborne Early Warning & Control (AEW&C), tentu menjadi sebuah berkah serta langkah yang mungkin bisa diikuti oleh negara lain.

Disebutkan, oleh DRDO (Defence Research and Development Organisation), lembaga litbang di bawah Kementerian Pertahanan India, keenam pesawat itu akan dipasangkan radar dan sensor terintegrasi dengan otoritas pertahanan India.

Belum jelas, apakah keputusan mengonversi enam unit A320 milik AU India ini akan menggantikan rencana DRDO sebelumnya, dimana pada awalnya akan mengusung platform Airbus A330 sebagai pesawat tanker plus AWACS.

Baca juga: Pensiun Angkut Penumpang, Boeing 747-400 Dikonversi Jadi Pesawat Pemadam!

Bila kelak AU sukses mengonversi A320 menjadi pesawat AEW&C, maka ini menjadi yang pertama di dunia di keluarga A320, sekaligus menjadi pencapaian penting bagi pihak Airbus.

Bagi Air India, kerjasama ini jelas sangat memberikan dampak positif ke perusahaan. Sebelumnya, Air India sempat dikabarkan bakal bangkrut pada Juni lalu. Selain operasional terhenti akibat virus Corona, maskapai itu diketahui juga mempunyai utang dalam jumlah besar dan urgent untuk diselesaikan satu per satu.

EASA Akhirnya Izinkan Boeing 737 MAX Terbang di Eropa, Gegara Didesak AS?

Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) akhirnya mengizinkan Boeing 737 MAX beroperasi di Eropa. Kepastian itu didapat setelah pimpinan tertinggi EASA, Patrick Ky, menyebut 737 MAX aman pasca berbagai perubahan.

Baca juga: FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

Sejak diizinkan terbang (mendapat sertifikasi) kembali oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020 lalu, pasca grounded berkepanjangan sejak Maret 2019, berbagai maskapai dunia mulai mengatur jadwal penerbangan perdana mereka dengan Boeing 737 MAX.

American Airlines digandang bakal jadi maskapai perdana yang akan melakoni penerbangan penumpang perdana 737 Max secara komersial pada 29 Desember mendatang, dari Miami ke New York City, Amerika Serikat (AS). Namun, siapa nyana, maskapai bertarif rendah asal Brazil, GOL Linhas Aéreas Inteligentes, malah jadi maskapai pertama yang mengoperasikan Boeing 737 MAX secara komersial.

Sayangnya, hegemoni kembalinya Boeing 737 MAX, ditandai dengan penerbangan pertama MAX pasca grounded akibat dua kecelakaan fatal yang menewaskan total 346 orang, tidak diikuti dengan pengoperasian pesawat tersebut oleh maskapai-maskapai Eropa.

Sebab, EASA pada pertengahan November lalu, mengaku lebih memilih menjalani sertifikasi terhadap MAX secara mandiri. Langkah itu diambil semata untuk memastikan Boeing 737 MAX aman. Selama ini, EASA secara otomatis selalu memvalidasi arahan FAA.

“Ada cukup alasan untuk meminta tindakan tambahan tertentu, yang dianggap perlu untuk memastikan operasi yang aman dari (pesawat) yang terkena dampak, termasuk pelatihan pilot,” kata EASA, dalam sebuah pernyataan mengenai catatan non-adopsi. Hanya saja, notes EASA belum merinci detail spesifik, tetapi direction otoritas mungkin akan berbeda dari direction atau arahan FAA.

Akan tetapi, belum lama ini Direktur Eksekutif EASA, Patrick Ky, menyebut bahwa Boeing 737 MAX merupakan pesawat yang sangat aman untuk digunakan. Hal itu bukan tanpa dasar. EASA menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan proses pengecekan langsung secara mandiri, meliputi flight control, mesin, desain, software komputer, kabel, dan instrumentasi kokpit.

Selain itu, EASA juga menerbangkan seluruh pesawat serta melihat kinerja pilot usai diberi pelatihan ulang untuk memastikan MAX aman. “Saya berharap publik mempercayai kami ketika kami mengatakan kami yakin, bahwa pesawat itu aman untuk terbang,” jelas Patrick, seperti dilaporkan BBC International.

Kendati demikian, beberapa pihak meyakini bahwa keputusan EASA tentu tak terlepas dari Uni Eropa, yang pada akhirnya juga tak terlepas dari keterlibatan politik luar negeri AS, sebagai negara tempat Boeing, produsen pembuat MAX bernaung.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Terlpas dari hal itu, pasca dikeluarkannya izin terbang MAX di Eropa oleh EASA, sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari berbagai maskapai besar Eropa untuk memberikan kejelasan kapan akan menerbangkan MAX.

Negara-negara di Eropa, termasuk maskapai penerbangan, saat ini, memang tengah disibukkan dengan adanya virus Corona jenis baru yang ditemukan di Inggris, Denmark, dan Belanda, serta Afrika Selatan dan Australia untuk di luar Eropa. Virus dari hasil mutasi Covid-19 ini disebut 70 persen lebih menular dibanding virus Corona yang kita kenal selama ini. Hanya saja, beberapa ilmuan meyakini, virus Corona jenis baru itu tak lebih mematikan dibanding virus Corona pada umumnya.

Arab Saudi Lockdown Gegara Virus Corona Jenis Baru! Ibadah Umrah Ditangguhkan

Arab Saudi memutuskan lockdown atau melakukan penguncian total terhadap seluruh akses masuk mulai hari Minggu lalu. Bukan hanya penerbangan internasional, namun akses masuk dari darat seperti terminal dan laut seperti pelabuhan juga ditutup.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena merebaknya virus Corona jenis baru di Inggris, Denmark, Belanda, Australia, dan Afrika Selatan, yang disebut 70 persen lebih menular dibanding virus Corona yang dikenal selama ini.

“Kerajaan (Arab Saudi) sementara menangguhkan semua penerbangan internasional -kecuali dalam kasus luar biasa- untuk jangka waktu satu minggu, yang dapat diperpanjang seminggu lagi,” kata juru bicara kementerian dalam negeri Saudi, seperti dikutip dari ndtv.com.

“Masuk ke kerajaan (Arab Saudi) melalui pelabuhan darat dan laut juga akan ditangguhkan selama seminggu, yang dapat diperpanjang seminggu lagi,” tambahnya.

Selanjutnya, pihak Saudi juga menyebutkan bahwa seluruh pesawat, kapal laut, ataupun bus yang sudah berada di Arab Saudi akan tetap diizinkan untuk kembali ke negara masing-masing.

Selain melakukan lockdown total dan membuat layanan ibadah umrah terhenti sejenak -setelah baru beberapa pekan lalu dimulai kembali dengan kuota terbatas- Arab Saudi juga melakukan tracing ketat. Seluruh wisawatan ataupun warga negara Saudi yang bepergian dari Eropa mulai 8 Desember, akan diminta untuk melakukan isolasi atau karantina mandiri selama dua pekan serta melakukan tes PCR.

Sebetulnya, sejak pekan lalu, Arab Saudi sudah mulai menyuntikkan vaksin Covid-19 buatan Pfizer-BioNTech ke masyarakat. Tapi, belum adanya kejelasan apakah vaksin tersebut terbukti ampuh mencegah penularan virus Corona jenis baru di Inggris menjadikan negara kaya minyak itu melakukan langkah antisipasi ketat.

Baca juga: Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Sejauh ini, Arab Saudi sudah mencatat lebih dari 361.000 kasus virus Corona, termasuk lebih dari 6.000 kematian, tertinggi di antara negara-negara Teluk; meskipun kasus dan angka kematian tinggi juga diikuti dengan tingkat kesembuhan tinggi.

Dengan memberlakukan lockdown ketat, Arab Saudi bergabung dengan banyak negara lain dari seluruh dunia. Tercatat, sudah ada 33 negara di dunia yang menutup penerbangan dari dan ke Inggris atau travel ban serta empat negara yang masih memperbolehkan akses keluar masuk dari Inggris meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti hasil negatif tes PCR dan karantina mandiri 14 hari.

Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Inggris dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkonfirmasi bahwa telah ditemukan virus Corona jenis baru. Virus dari hasil mutasi Covid-19 ini disebut 70 persen lebih menular dibanding virus Corona yang kita kenal selama ini.

Baca juga: Masih Karena Covid-19, Arab Saudi Kembali Tutup Penerbangan Internasional, Garuda Indonesia Siapkan Antisipasi

Sekalipun vaksin virus Corona telah ditemukan, didistribusikan ke seluruh dunia, dan bahkan sudah mulai disuntikkan ke masyarakat di beberapa negara, termasuk Inggris yang notabene menjadi episenter penyebaran virus Corona jenis baru, dunia tak sekonyong-konyong menganggap ini remeh.

Sebab, sampai detik ini, belum ada ilmuan yang mengklaim bahwa vaksin Covid-19 Moderna-NIADI, Pfizer-Biontech, Astrazeneca-Oxford atau vaksin virus Corona lainnya terbukti ampuh melawan virus Corona jenis baru itu.

Karenanya, sejak Inggris resmi lockdown pada Sabtu lalu, belasan negara-negara di Eropa, Asia, Amerika Selatan, dan Timur Tengah telah melakukan larangan penerbangan atau pembatasan perjalanan dari dan ke Inggris.

Sekalipun virus Corona jenis baru yang sama dengan Inggris juga ditemukan di berbagai negara, seperti Belanda, Denmark, Australia, dan Afrika Selatan, sejauh ini, pembatasan perjalanan dari negara-negara di dunia baru berlaku hanya untuk Inggris; kecuali Arab Saudi yang benar-benar telah menutup pintu masuk dari seluruh wisatawan asing.

Agar lebih jelas, berikut daftar negara-negara di dunia yang telah mengambil langkah travel ban dari dan ke Inggris, seperti laporan CNN International.

Eropa
1. Belgia
2. Bulgaria
3. Republik Ceko
4. Denmark
5. Perancis
6. Jerman
7. Italia
8. Latvia
9. Lithuania
10. Luksemburg
11. Belanda
12. Republik Irlandia
13. Rusia
14. Spanyol
15. Swedia
16. Swiss

Asia
1. Hong Kong
2. India
3. Iran
4. Pakistan
5. Turki

Timur Tengah
1. Israel
2. Yordania
3. Kuwait
4. Oman

Afrika
1. Maroko
2. Tunisia

Benua Amerika
1. Argentina
2. Kanada
3. Cili
4. Kolombia
5. El Savador
6. Peru

Negara-negara yang tidak melakukan travel ban dan masih memperbolehkan penerbangan dari dan ke Inggris namun dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti hasil negatif tes PCR hingga karantina mandiri 14 hari.
1. Ekuador
2. Yunani
3. Portugal
4. Spanyol