Tragedi Pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Buat Pulau Laki dan Pulau Lancang Jadi Sorotan

Pulau Laki dan Pulau Lancang baru-baru ini menjadi sorotan setelah tragedi pesawat Sriwijaya SJ-182 yang jatuh di perairan pulau ini pada 9 Januari lalu. Nah, karena hal tersebut kedua pulau ini menjadi sorotan dan akan dibahas satu persatu. Kedua pulau ini terletak di utara Pulau Jawa dan masuk kedalam wilayah Kepulauan Seribu.

Baca juga: Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

Secara geografis tepatnya masuk dalam kelurahan Pulau Pari Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Pulau Laki memiliki luas sekitar 30 hektar dan menjadi salah satu kawasan wisata laut dalam gugusan Kepulauan Seribu.

Pulau Laki dibuka dan diresmikan sebagai pulau wisata 33 tahun silam tepatnya pada 22 Oktober 1988 oleh Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi almarhum Soesilo Soedarman. Pulau ini merupakan pulau dengan dataran rendah berpasir putih dan ditumbuhi banyak pepohonan seperti mangrove, ketapang, kayu angin serta waru di bagian pinggir pantainya.

Pulau Laki memiliki 25 unit bungalow, kolam renang, lapangan tenis hingga lapang golf yang kini tak lagi digunakan. Kemudian pulau ini beralih fungsi sebagai salah satu lokasi yang digunakan untuk latihan tempur TNI Angkatan Laut, tepatnya sejak Desember 2001 Pulau Laki diberikan kepada TNI AL.

Untuk sampai di Pulau ini, pelancong naik kapal motor dari Pantai Mauk, Sepatan, Tangerang dan jika menggunakan speed boat hanya memakan waktu 25 menit. Di Pulau Laki ada tempat perkemahan yang bisa digunakan pelancong. Perarian di Pulau Laki diketahui memiliki kondisi arus ombak yang tidak begitu kencang dan menjadi spot para pemancing.

Sedangkan Pulau Lancang berbeda dengan Pulau Laki, sebab lebih sering dikunjungi pelancong untuk berlibur atau sekedar melepas penat. Letaknya 11 km dari pesisir Pulau Jawa dan memiliki luas 15 hektare. Memiliki panorama yang tak kalah dengan pulau lainnya, Pulau Lancang menjadi destinasi favorit di Kepulauan Seribu.

Daya tariknya adalah pemandangan pantai yang indah dengan air laut yang jernih. Bahkan, Pelancong bisa dengan jelas melihat dasar laut dengan bebatuan yang didalamnya. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Pulau Lancang yakni memancing, menjelajahi pulau, snorkeling dan diving.

Baca juga: Kapal Pelni KM Express Bahari Resmi Layani Rute Ke Kepulauan Seribu

Salah satu spot menarik di Pulau Lancang adalah Pantai Karma untuk menikmati senja. Untuk sampai ke pulau ini, pelancong bisa menyeberang dari Rawa Saban yang membutuhkan waktu 45 menit.

Jauh Sebelum Musibah Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Sudah Ingatkan Maskapai Soal Karat pada 737 Series

Jauh sebelum kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 terjadi, Boeing sudah memperingatkan adanya korosi di seluruh pesawat Boeing 737 all-series. Korosi yang diklaim bisa menyebabkan kegalalan kedua mesin pesawat itu timbul akibat pesawat terlalu lama digrounded.

Baca juga: Deretan Kisah Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 Selamat dari Kecelakaan Maut, Bikin Nangis!

Peringatan itu datang menyusul adanya empat temuan kerusakan pada katup pemeriksaan udara di pesawat Boeing 737 NG (seri 600 hingga 900) dan klasik (seri 737-300 hingga 737-500), dari 2.000 unit yang diperiksa, pasca lama digrounded maskapai oleh Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA). FAA mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut dapat menyebabkan stall pada kompresor dan kedua mesin kehilangan tenaga tanpa bisa di-restrart.

Oleh karenanya, Boeing menyarankan agar maskapai-maskapai di dunia, “Mengecek seluruh pesawat yang digrounded atau jarang digunakan karena sepinya penerbangan selama pandemi Covid-19 (terutama pada) katup (pemeriksaan udara) yang lebih rentan terhadap korosi (berkarat),” jelasnya pada pertengahan tahun lalu, seperti dikutip dari Global News.

Lebih lanjut, Boeing menekankan bahwa pesawat-pesawat 737 NG dan klasik yang dimaksud tak melulu harus digrounded dalam rentang waktu cukup lama untuk kembali diperiksa, melainkan sekurang-kurangnya tujuh hari atau lebih secara berturut-turut. Sesuatu yang sudah pasti dialami seluruh operator Boeing 737 NG dan klasik, termasuk Sriwijaya Air.

Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 17 ribu pesawat nganggur di seluruh dunia atau yang terendah sejak 26 tahun. Dari jumlah tersebut, Cirium mencatat ada sekitar 1.087 unit lebih pesawat 737 NG dan klasik di akhir Maret. Angka tersebut sudah pasti bakal melonjak bila dilihat dari data terbaru sebelum industri penerbangan kembali bergairah.

Dalam kondisi menganggur sekalipun, pesawat memang tetap harus mendapat perawatan agar pesawat siap beroperasi ketika digunakan, seperti pengecekan pada sistem hidrolik, sistem avionik pesawat, sistem pendingin udara, mesin, ban, komponen elektronik yang jumlahnya begitu banyak dalam sebuah pesawat, dan bagian-bagian lainnya.

Selain mesin serta bagian lain pesawat yang terdapat lubang, termasuk ban pesawat pun juga ditutup dengan kain, plastik, atau media lainnya. Interior pesawat juga tak luput dari perhatian. Selama pesawat digrounded, seluruh kaca pesawat ditutup dengan tirai. Fungsinya, akan sinar matahari tak masuk ke dalam dan membuat bagian dalam menjadi lembab. Lantai, in flight entertainmet, sistem penerangan, hingga sarung kursi pun juga tetap rutin dicek.

Terkait kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJ-182, pesawat diketahui baru mulai beroperasi pada 23 Oktober lalu setelah lama digrounded dan sudah pasti mendapat penanganan sebagaimana disebutkan di atas. Sebab, sebelum terbang, pesawat dibekali sertifikat kelaikan udara dari otoritas penerbangan.

Dalam sebuah wawancara di saluran televisi CNN Indonesia, Capt. Vincent menyebut, sebetulnya seberapa lama pun pesawat digrounded dan se-tua apapun usia pesawat, itu tidak terlalu berpengaruh bila segalanya dimanajemen dengan baik.

Baca juga: Dibalik Kecelakaan SJ-182, Sriwijaya Air Hanya Dapat Bintang 1 dari Airline Ratings!

Lebih lanjut, pilot yang juga seorang YouTuber itu juga mengungkap, tak ada masalah bila pun ada kerusakan pada pesawat selama pilot dibekali dengan minimum equipment list (MEL) yang dikeluarkan berdasarkan (MMEL). Sebab, karena banyaknya item-item kerusakan, sudah pasti pilot tak mengingatnya.

“Kita (pilot) tidak akan mau menerbangkan pesawat kalau kita tidak mempunyai referensi. Pertama terlalu banyak variabel kerusakan pesawat yang tidak kita ingat satu persatu. Karena yang tau detail ini sensor ini efeknya kemana. Kita tidak bisa inget itu semua. Makanya kita harus refer that minimum equipment list (MEL) kalau ada referensinya kata dia (MEL) bisa terbang secara legal kita entitle boleh terbang,” jelasnya.

Deretan Kisah Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 Selamat dari Kecelakaan Maut, Bikin Nangis!

Kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga dan kerabat korban. Namun, sebagaimana kisah kecelakaan pesawat sebelum-sebelumnya, dibalik kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 juga terdapat kisah penumpang selamat. Bukan dalam artian penumpang yang benar-benar berada dalam manifes penerbangan, melainkan penumpang yang seharusnya ada di pesawat itu namun batal ikut terbang karena satu dan lain hal.

Baca juga: Dibalik Kecelakaan SJ-182, Sriwijaya Air Hanya Dapat Bintang 1 dari Airline Ratings!

Dirangkum KabarPenumpang.com dari media sosial, kisah penumpang selamat kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJ-182 kita mulai dari akun Twitter @anakbaiqq. Dalam cuitannya, akun ini mengaku sang saudara kandung seharusnya menjadi penumpang pesawat nahas tersebut. Tetapi, berhubung ketinggalan pesawat, mereka masih bisa menghirup udara sampai saat ini.

“Ya Allah, untung kaka sama abang saya gajadi berangkat ke Pontianak karena ketinggalan pesawat itu dan alhamdulillah banget masih dikasih selamat,” cuitnya.

Senada dengannya, akun Twitter @hannymahesh juga mencuitkan kisah serupa. Bedanya, bila akun sebelumnya melibatkan sang saudara kandung, kali ini melibatkan ayah kandungnya. “Ayahku naik pesawat ini tapi tiketnya hangus karena telat. Beruntung banget masih diselamatkan,” jelasnya.

Serupa tapi tak sama, akun @bakulpentol juga mempunyai pengalaman pilu selamat dari maut. Ia seharusnya menjadi satu dari 62 orang, terdiri dari 50 penumpang (40 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi), dan 12 kru (termasuk extra kru Nam Air sebanyak enam orang yang hendak bertugas dari Pontianak), dalam kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJ-182 tersebut. Beruntung, ia masih diberi umur panjang berkat hasil test swabnya positif Covid-19.

“Seharusnya hari ini saya berangkat, namun ketika swab hasilnya positif akhirnya batal terbang. Allah memberikan teguran saya untuk selalu mengingatnya,” cuitnya.

Begitu juga dengan akun Twitter @kakdanial. Dalam postingan ini, ia mengangkat kisah dari akun TikTok @veragusman yang juga selamat dari maut karena terhalang regulasi, bukan karena positif mengidap Covid-19 melainkan karena kewajiban mempunyai hasil swab test.

Disebutkan, wanita muda ini semula sudah memiliki hasil tes negatif rapid antigen. Namun, entah apa yang terjadi, maskapai mengharuskan penumpang ini mempunyai hasil negatif swab. Sedangkan hasil swab test baru keluar dua hari setelah tes. Atas hal ini, ia pun sempat memohon-mohon kepada pihak terkait agar bisa diberangkatkan bersama penumpang lainnya di pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJ-182. Namun, hasilnya nihil.

Seketika, ia pun menjadi manusia yang merasa paling tidak beruntung karena tak bisa ikut terbang dan kemudian kembali ke kediamannya di Bandung. Tetapi, beberapa jam kemudian, dalam rentetan status whatsappnya, ia menujukkan pesawat yang harusnya ia tumpangi hilang kontak dan saat itu pulalah ia merasa menjadi orang yang paling beruntung.

“Ya Allah masih ingat tadi pagi mohon-mohon lari-lari atas bawah menghadap maskapai penerbangan Sriwijaya Air meminta kebijakannya biar bisa ikut terbang dan mereka nolak mentah-mentah. Dan di sana aku merasa kecewa pulang ke Bandung lagi dalam keadaan sedih. Masih ingat muka-muka mereka mengantre tadi pagi sama check in pesawat. Ya Allah terima kasih buat kasih sayangmu untukku dan anakku,” tulisnya di status whatsapp.

Baca juga: Sriwijaya Air SJ-182 Telah Berusia 26 Tahun, Masih Layakkah Mengudara?

Deretan kisah mengharukan penumpang pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air SJ-182 selamat dari maut rangkuman redaksi ditutup dari kisah lain yang agak berbeda. Bila sebelumnya batal ikut terbang dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182 karena positif virus Corona, terlambat, dan dokumen persyaratan terbang yang tidak lengkap, akun @Yoki Akhyar mengungkapkan bahwa dirinya batal ikut di pesawat itu lantaran memilih menumpangi pesawat dari maskapai lain.

“Yaa Allah hamba bersyukur karena dikasih kehidupan lagi. Kemarin mau pesan Sriwijaya tujuan JKT-Pontianak. Tapi dibatalkan dan milih Lion Air,” jelasnya.

KNKT: Ada 7 Tipe Black Box dengan Parameter Berbeda

Black box banyak terdapat di pesawat komersial baik itu pesawat besar, kecil hingga helikopter. Setiap pesawat akan menggunakan beberapa tipe black box, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjelaskan ada tujuh tipe black box yang digunakan dalam penerbangan. Black box yang digunakan pada setiap pesawat ataupun helikopter pastinya tidak akan sama satu dengan lainnya.

Baca juga: Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box?

Di pesawat berbada besar seperti Airbus, Boeing ataupun helikopeter komersial dengan berat di atas 7000 kg biasanya menggunakan tipe IA dan memiliki 78 atau lebih parameter yang akan di ukur dan di cek saat data dari black box di ambil untuk pendataan oleh maskapai. Biasanya, penggunaan black box tipe IA ini mampu bertahan dan merekam data selama 25 jam terbang.

Untuk tipe I, parameter yang akan di cek sebanyak 32 parameter, tipe II sebanyak 15 parameter. Tipe I dan II ini juga sama dengan tipe IA yang memiliki waktu penyimpanan data 25 jam terbang. Untuk tipe IIA, biasanya hanya 15 parameter yang akan di cek dengan waktu catatan terbang selama 30 jam. Untuk tipe IV akan di cek 48 parameter, tipe IVA 30 parameter dan tipe V hanya 15 parameter. Biasanya tipe IV sampai dengan tipe V ini adalah pesawat perintis dengan berat kurang dari 5700 kg dan hanya mampu menyimpan data selama 10 jam penerbangan.

Investigator Udara KNKT Ony Soeryo Wibowo mengatakan, parameter ini digunakan untuk mengecek data pada black box. Dia mengatakan parameter basic yang biasanya di cek oleh setiap maskapai minimal ada lima yakni tanggal, kecepatan, ketinggian,akselerasi, arah dan lainnya.

“Pengecekan parameter ini ada yang jumlahnya sampai 200 dan tergantung dengan maskapainnya. Untuk tipenya sendiri ada dua jenis yakni Air Transport dan General Aviation. Makanya parameternya berbeda-beda setiap pengecekan,”ujar Ony saat ditemui usai FGD di gedung KNKT (21/3/2017).

Dia mengatakan, data ini bisa di ambil setiap hari tergantung keinginan maskapai. Namun pengecekan rutin adalah 1 bulan sekali, di sini data akan di pindahkan ke perangkat melalui USB, kabel data ataupun micro SD (Memory). Menurutnya, dengan pengecekan ini, akan memudahkan maskapai untuk mengontrol dan mngoreksi kinerja pilot dalam mengemudikan pesawat terbang.

Ony menambahkan, bila dalam waktu 25 jam, maskapai tidak mengambil data tersebut dari black box, maka data tersebut akan di timpa pada jam berikutnya.

“Seperti ini contohnya, kalau maskapai mau mengambil data setiap hari bisa. Kalau Cuma Jakarta – Surabaya paling 2 jam ya, itu data kan nggak hilang kalau langsung di ambil. Yang jauh gini, kalau penerbangan dalam seminggu Jakarta – Surabaya PP selama 7 hari berarti kan 28 jam. Nah, kalau cuma menampung 25 jam, nanti pada jam ke 26 data 0 jam hilang, lanjut jam ke 27 data 1 jam pertama hilang. Begitu seterusnya,” jelas Ony.

Baca juga: Tragis! Black Box Ungkap Pilot dan Penumpang Pesawat Ukraina Tewas Setelah Tembakan Rudal Kedua

Hingga saat ini, black box hanya di gunakan pada penerbangan komersial saja, untuk penerbangan polisi atau militer tidak menggunakan. Sebab, dalam percakapan milik polisi atau militer biasanya bersifat rahasia dan tidak bisa di publikasi.

Dibalik Kecelakaan SJ-182, Sriwijaya Air Hanya Dapat Bintang 1 dari Airline Ratings!

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini pun jadi sorotan bukan hanya media nasional, melainkan media-media internasional; salah satunya ABC.

Baca juga: Sriwijaya Air SJ-182 Telah Berusia 26 Tahun, Masih Layakkah Mengudara?

Selain terus mengupdate lokasi kotak hitam atau black box yang sudah ditemukan, penemuan puing-puing pesawat PK-CLC, potongan tubuh dan barang-barang milik korban, seperti celana panjang dan KTP, serta kabar terkait keluarga korban, media asal Australia ini juga menyinggung reputasi maskapai yang tak terlalu bagus jika dilihat dari situs airline ratings.

Airlines rating sendiri, dilihat KabarPenumpang.com dari laman resminya, merupakan situs penyedia dan pengulas peringkat produk dan keselamatan maskapai terbaik di dunia. Media online ini juga menjadi wadah penilaian keselamatan dari para ahli pertama di dunia. Jadi, dilihat dari sudut manapun, nampaknya penilaian Airline Ratings bisa dipertanggungjawabkan, sekalipun perlu penelusuran lebih jauh terkait hal ini.

Secara keseluruhan, dari tiga kategori penilaian, yaitu terkait safety, product, dan Covid-19, Sriwijaya Air hanya mendapat bintang satu, masuk dalam jajaran terburuk dibanding maskapai regional carrier lainnya dari seluruh dunia.

Dalam daftar maskapai regional carrier sesama berawalan huruf “S” Sriwijaya Air bahkan jadi yang terburuk, di bawah SprintAir (bintang 5), Solomon Airlines (bintang 5), SkyTrans (bintang 7), SkyBahamas (bintang 6), Sky Express (bintang 6), Silver Airways (bintang 6), SilkAir (bintang 6), SATA Air Acores (bintang 7), dan SA Express (bintang 6).

Sriwijaya Air bahkan tak lebih baik dari maskapai StarPeru (bintang 5) dan SATENA (bintang 4) yang berasal dari Peru dan Kolombia, dimana kelas penerbangan kedua negara bisa dibilang masih berada di bawah Indonesia.

Ketika disandingkan dengan maskapai-maskapai di Indonesia pun, total perolehan rating Sriwijaya Air juga masih di bawah Lion Air (bintang 2), Citilink dan Garuda Indonesia (bintang 5), serta Batik Air (bintang 6).

Bila dilihat dari setiap rating di masing-masing kategori penilaian, maskapai yang pernah dikabarkan bangkrut pada tahun 2019 lalu ini bahkan tak mendapat bintang sama sekali dari tujuh terkait penanganan Covid-19 dalam operasional pnerbangan. Di dua kategori lainnya, maskapai regional carrier atau maskapai medium ini mendapat empat dari tujuh bintang dan tiga dari lima bintang.

Khusus di kategori safety, dimana penilaian didasarkan pada analisis komprehensif tentang kecelakaan dan data insiden serius terkait pilot yang dikombinasikan dengan audit dari badan pengatur penerbangan dunia (ICAO) dan asosiasi terkemuka (IATA) bersama dengan data kepatuhan Covid-19 terbaru, jika di breakdown, Sriwijaya Air hanya mendapat satu clearance atau centang hijau dari tujuh.

Baca juga: Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box?

Sriwijaya Air mendapat centang hijau di salah kolom incident rating dan mendapat tanda merah di semua kolom di kategori fatality free, audits, dan Covid-19 compliant.

Memang terlalu memaksakan bila insiden kecelakaan pesawat Boeing 737-500PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 diakibatkan bintang satu yang diterima maskapai di Airline Ratings. Namun, tak ada salahnya, bila penilaian ini menjadi bahan evaluasi maskapai (termasuk maskapai lainnya di seluruh dunia) untuk menyediakan penerbangan aman dan nyaman di kemudian hari.

Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box?

Black box atau sering kita kenal sebagai kotak hitam dalam pesawat. Sampai saat ini orang menganggap kotak hitam berwana hitam, padahal aslinya berwana jingga/oranye. Sebenarnya dikatakan black box atau kotak hitam karena ini adalah sesuatu yang mengandung misteri. Dibuat berwarna jingga karena mencolok dilihat mata sehingga mudah dicari bila terjadi sesuatu pada pesawat seperti kecelakaan.

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Kotak hitam merupakan sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi, umumnya lebih pada perekaman data penerbangan atau flight data recorder (FRD) dan perekam suara kokpit (cockpit voicer recorder/CVR) dalam pesawat terbang. Sebenarnya, fungsi kotak hitam ini untuk merekam pembicaraan pilot dengan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca saat penerbangan.

Kotak hitam ini pun tidak sembarangan diletakkan, namun mudah untuk ditemukan. Biasanya kotak hitam ini ada dua unit di setiap pesawat, satu CVR dan satu lagi FRD. Di abad 20 ini, pabrik pembuat kotak hitam ini menggabungkan CVR dan FRD yang populer dengan nama Combi Box Recorder yakni kobinasi dari data dan suara. Keduanya dipantau dari ruang kemudi, namun data rekaman yang terletak pada recorder data biasanya berada di bagian ekor pesawat.

Blog Teknisi
Blog Teknisi

Ini dikarenakan biasanya bagian yang utuh ditemukan adalah bagian ekor pesawat dan mudah terlepas dari struktur utama pesawat. Sering banyak terjadinya kecelakaan pesawat, ICAO memberikan rekomendasi baru yang mewajibkan perusahaan penerbangan mengimplementasikan Aircraft Tracking System.

Anda mungkin masih bingung bagaimana cara kotak hitam ini bekerja bila terjadi kecelakaan pada sebuah pesawat. Dilansir dari nationalgeographic.co.id, alat perekam ini memiliki sistem sinyal darurat berupa sinyal “PING” yang bisa digunakan untuk mendeteksi lokasi. Bila pesawat kecelakaan dan tenggelam di air, sinyal akan segera terkirim secara otomatis selama 30 hari atau tergantung kekuatan baterai. Para ahli memperhitungkan waktu 6-10 hari dari 30 hari setelah “PING” berbunyi hingga baterai melemah.

Kotak hitam yang hilang didalam laut, biasanya tim penari menggunakan bantuan mikrofon bawah air dan detektor sonar. Berbeda bila kotak hitam ini hilang di gunung, ada kemungkinan menemukannya akan lebih cepat dari di dalam air seperti hilang di laut.

Penasaran kenapa kotak hitam tidak bisa hancur? Penjelasannya bahwa kotak hitam sebenarnya berupa tabung, bentuk saat ini atau yang modern hanya seukuran kotak sepatu. Tabung kotak hitam tahan banting dari ketinggian yang tidak terkira dan kedap air sampai kedalaman 6000 meter serta tahan suhu panas lebih dari 1000 derajat celcius selama sedikitnya 30 menit.

Kotak hitam dibuat tahun 1953 oleh seorang ilmuan Aeronautical Research Laboratory (ARL) Australia bernama David Warren. Awalnya dia memberi gagasan alat perekam percakapan antara pilot dengan kru selama penerbangan. Pembuatan ini terinspirasi dari jatuhnya pesawat jet di India dan tak diketahui penyebab jatuhnya. Kemudian di tahun 1957, David merampungkan prototype alat tersebut yang diberinama ARL Flight Memory. Alat ini mampu merekam percakapan antara pilot dan kru selama 4 jam, namun sayangnya pihak Australia tidak berminat mengembangkan alat tersebut.

Kemudian di tahun 1958 Sekretaris United Kingdom Air Registration Board merasa tertarik dengan prototype yang diciptakan Warren. Pada tahun yang sama, Warren beserta tim diminta pihak Inggris membawa alat tersebut untuk mengembakannya. Alat ini kemudian disempurnakan dengan pembungkus kotak dari lempeng alumunium tipis, silica baja tahan karat yang mampu bertahan diberbagai keadaan ekstrim dan diberi nama Crash Survivable Memory Unit (CSMU). Alat ini dijual keberbagai negara untuk perlengkapan pesawat dan tahun 1960, Australia adalah negara pertama yang menerapkan aturan semua pesawat terbang harus memiliki kotak hitam.

Perkuat Sektor Logistik, ASDP Operasikan KMP Ferrindo 5 Layani Rute LDF Patimban-Panjang

PT ASDP Indonesia Ferry mendukung optimalisasi Pelabuhan Patimban, Subang melalui pelayaran ferry jarak jauh (long distance ferry/LDF) dengan tiga rute baru yakni Patimban-Panjang, Patimban-Pontianak dan Patimban-Banjarmasin yang akan dilayani dengan KMP Ferrindo 5.

Baca juga: Meski Tanpa Rapid Test, ASDP Perketat Protokol Kesehatan di Dalam Kapal Ferry

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi dalam pesan tertulis mengatakan, pengoperasian tahap awal lintasan LDF dari Pelabuhan Patimban,Subang menuju Pelabuhan Panjang, Lampung ini merupakan lintasan LDF keempat yang dilayani ASDP setelah lintasan Surabaya-Lembar, Jakarta-Surabaya, dan Ketapang-Lembar.

“Dengan dibukanya lintasan ini, menjadi salah satu alternatif rute bagi jalur angkutan barang yang akan memperkuat sektor logistik di Pulau Jawa dan Sumatera serta Pulau Kalimantan. Kita tahu selama ini jalur logistik Jawa dan Sumatera melalui penyeberangan terfokus di lintasan Merak-Bakauheni. Kini, dengan adanya layanan melalui Pelabuhan Patimban sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) Pemerintah yang diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi, yang tidak hanya di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Lampung, tetapi juga secara nasional,” tutur Ira di sela peluncuran lintasan Patimban-Panjang, di Pelabuhan Patimban, Minggu (10/1).

Rencananya, lintasan LDF Patimban-Panjang sejauh 210 mil dengan waktu tempuh pelayaran 19 jam ini akan dilayani oleh KMP Ferrindo 5 yang dioperasikan ASDP. Untuk lintas Patimban-Banjarmasin sejauh 444 mil dengan estimasi waktu tempuh 40 jam, dan lintas Patimban-Pontianak 420 mil dengan estimasi waktu tempuh 38 jam. KMP Ferrindo 5  memiliki spesifikasi teknis berukuran 3.566 GT, dengan panjang Kapal (LOA) 91,74 meter, dan lebar kapal 15,5 meter dengan kapasitas angkut 56 orang penumpang dan 109 unit kendaraan campuran.

“Pada pelayaran perdana Patimban-Panjang hari ini KMP Ferrindo 5 memuat 98 unit kendaraan kecil dan 1 truk besar bermuatan 40 unit sepeda motor,” tutur Ira merinci.

Layanan perdana Patimban-Panjang akan berangkat pada Minggu (10/1) pukul 13.00 WIB dari Pelabuhan Patimban dan estimasi tiba di Pelabuhan Panjang pada Senin (11/1) pukul 09.00 WIB. Lalu, kapal akan berangkat lagi dari Pelabuhan Panjang pada Senin (11/1)  pukul 20.00 WIB dan estimasi tiba di Pelabuhan Patimban kembali pada Selasa (12/1) pukul 06.00 WIB.

Selanjutnya, KMP Ferrindo 5 juga akan melayani lintas Patimban-Banjarmasin, yang akan berangkat dari Pelabuhan Patimban pada Jumat (15/1) pukul 14.00 WIB dan akan tiba di Pelabuhan Banjarmasin pada Minggu (17/1) pukul 11.00 WIB. Lalu, kapal akan berangkat kembali dari Pelabuhan Banjarmasin pada Minggu (17/1) pukul 20.00 WIB dan rencana akan tiba kembali di Pelabuhan Patimban pada Selasa (19/1) pukul 17.00 WIB.

Baca juga: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer

Terakhir, KMP Ferrindo 5 juga akan melayani lintas Patimban-Pontianak, yang akan berangkat dari Pelabuhan Patimban pada Jumat (22/1) pukul 14.00 WIB dan akan tiba di Pelabuhan Pontianak pada Minggu (24/1) pukul 11.00 WIB. Lalu, kapal akan berangkat kembali dari Pelabuhan Pontianak pada Minggu (24/1) pukul 20.00 WIB dan akan tiba kembali di Pelabuhan Patimban pada Selasa (26/1).

Bagaimana Awak Kokpit Mengatasi Situasi Darurat di Udara?

Sektor dirgantara memang merupakan sebuah bisnis yang sangat rumit. Tidak melulu soal harga tiket yang melambung, melainkan juga faktor teknis di dalamnya pun terbilang tidak mudah untuk dijalankan. Itulah mengapa seorang pilot memerlukan sebuah pelatihan khusus sebelum akhirnya bisa menerbangkan sebuah pesawat secara komersial. Bukan hanya dituntut untuk bisa dengan piawai mengendalikan si burung besi, melainkan juga para awak kokpit ini harus terlatih untuk mengatasi kondisi darurat – terutama ketika mereka tengah mengudara.

Baca Juga: Jika Terjadi Perkelahian di Kabin, Pilot Bisa Berlakukan Prosedur Pendaratan Darurat

Kembali ke tanggal 4 November 2010 silam, dimana salah satu mesin dari Airbus A380 yang dioperasikan oleh maskapai Qantas Airways dengan nomor penerbangan QF32 meledak sekira empat menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Changi di Singapura. Pesawat tersebut mengangkut 440 penumpang, 24 awak kabin, tiga kapten, dan dua kopilot di ruang kokpit. Ledakan tersebut berdampak pada rusaknya sistem kelistrikan dan hidrolik di dalam kabin, serta sistem kendali pesawat juga ikut terkendala.

Menurut Australian Transport Safety Bureau (ATSB), kondisi di ruang kokpit ketika situasi darurat tersebut sangatlah sulit. Tercatat dalam 20 detik setelah mesin meledak, awak kokpit menerima 36 peringatan di layar monitor. Seluruh awak kokpit harus saling bekerja sama untuk bisa mendaratkan pesawat nahas tersebut dengan selamat – termasuk membuang kapasitas bahan bakar sehingga pesawat dapat mendarat dengan aman. Beruntung, Qantas Airways QF32 berhasil mendarat dengan selamat.

Dari sini tercermin bahwa tugas yang diemban oleh awak kokpit tidaklah mudah – terlebih ketika menghadapi situasi darurat, dimana mereka harus tetap mengendalikan pesawat dengan baik dan benar, memikirkan langkah yang harus dilakukan, hingga berkomunikasi dengan menara pemantau untuk meminta ijin mendarat atau sekedar berkoordinasi dan memberitahu mereka bahwa pesawat yang dikemudikan mengalami kendala.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman hbr.org, hampir semua pilot yang diwawancarai mengenai situasi sulit yang ada di ruang kokpit ketika kondisi darurat mengatakan bahwa mereka akan meminta tolong kepada rekannya untuk memantau mereka semisal ada sesuatu yang terlewatkan. Ya, kondisi darurat yang mengancam ratusan nyawa ini menjadi tekanan tersendiri bagi para pilot dan situasi ini dapat dengan mudah membuyarkan konsentrasi mereka.

“Saya akan meminta tolong kepada rekan saya (kopilot) untuk mengawasi saya semisal ada sesuatu yang terlewat,” ujar seorang pilot berpengalaman asal Israel.

“Bahkan seorang pilot paling berpengalaman pun bisa saja melewatkan sesuatu, bekerja terlalu cepat, hingga kehilangan fokus,” sambungnya.

Baca Juga: Apa yang Dilakukan Pilot Ketika Salah Satu Mesin Pesawat Mati?

Dalam kondisi darurat semacam ini, komunikasi menjadi suatu hal penting yang tidak boleh terinterupsi sama sekali. Selain komunikasi, pembagian tugas juga menjadi kunci keselamatan selanjutnya – dimana seorang pilot tidak bisa mengatasi situasi darurat seorang diri, mereka harus bekerja sama dengan kopilot untuk bisa mendaratkan pesawat dengan selamat.

“Saya selalu meminta pendapat kopilot saya dulu. Saya tidak ingin dia menerima pandangan saya tanpa kritik, terutama jika saya salah,” imbuh pilot tersebut.

Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air

Anda masih ingat dengan peristiwa pendaratan darurat yang dilakukan oleh maskapai US Airways Flight 1549 di Sungai Hudson pada 15 Januari 2009 silam? Peristiwa yang sampai diangkat ke layar lebar dengan judul “Sully” ini merupakan salah satu momen pendaratan darurat di air (water landing) paling fenomenal sepanjang sejarah aviasi global. Nah, di sektor kedirgantaraan, peristiwa pendaratan darurat di air ini dikenal dengan istilah ditching. Bagi Anda yang baru pertama kali mendengar soal istilah ini, yuk simak ulasan singkatnya di bawah ini!

Baca Juga: Satu Dasawarsa Pasca Kejadian, Survivor Tragedi “Miracle on the Hudson” Langsungkan Reuni

Ya, sesuai dengan namanya, water landing merupakan kondisi dimana sebuah pesawat melakukan pendaratan – biasanya darurat di atas permukaan air, baik itu berupa danau, laut, atau sungai sekalipun. Namun, di sektor aviasi global, mereka memperhalus frasa water landing dengan istilah ditching. Selayaknya pendaratan darurat yang kerap menghiasi pemberitaan di media, ditching juga sebisa mungkin dilakukan dengan mulus oleh para pilot dengan dalih mengutamakan keselamatan penumpang.

Berbeda dengan pendaratan darurat di atas material solid seperti runway atau tanah lapang, ditching bisa dibilang memiliki tingkat kesulitannya tersendiri – mengingat landasannya merupakan bentuk yang tidak solid dan tentu ini akan menjadi masalah tersendiri bagi para pilot.

Hal lain yang meningkatkan level kesulitan dari ditching ini adalah karena pesawat penumpang komersial (jet atau propeller) didesain untuk melakukan pendaratan di medan yang bermaterial keras, lain halnya dengan seaplanes, flying boats, dan amphibious aircraft yang memiliki desain bagian bawah untuk melakukan pendaratan dan lepas landas dari air.

Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Mengacu kepada regulasi yang sudah ditetapkan oleh Federal Aviation Administration (FAA), para penerbang tidak diwajibkan untuk mengasah kemampuannya mendaratkan pesawat di air – melainkan melakukan proses evakuasi di dalam air merupakan suatu hal yang wajib dikuasai oleh pilot dan awak kabin.

Ditching Button. Sumber: wikipedia

KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, raksasa aviasi asal Eropa, Airbus sudah melengkapi sejumlah armadanya dengan “ditching button”, dimana jika tombolini ditekan, maka sejumlah lubang atau jalur yang memungkinkan air untuk masuk ke dalam kabin dapat tertutup. Hal ini dimaksudkan untuk memperlambat air masuk ke dalam kabin dan memperkeruh proses evakuasi.

 

Duduk di Kursi Belakang Bus Lebih Cepat Mabuk, Ini Dia Penyebabnya!

Walaupun popularitasnya sudah mulai tergusur oleh kereta api, namun bus masih menjadi primadona di sebagian kalangan. Selain tidak perlu repot-repot ke stasiun untuk membeli tiket dan memulai perjalanan, bus juga menawarkan rute yang lebih bervariasi ketimbang si ular besi. Tapi, penumpang bus memiliki satu kelemahan yang selalu diidentikkan dengan kursi di bagian belakang, yaitu mabuk. Jika ditelaah lebih jauh, kira-kira apa yang menyebabkan penumpang bus lebih mudah terserang mabuk perjalanan ketika duduk di kursi belakang?

Baca Juga: Tips Sopan Buang Angin Selama Perjalanan, Intinya Harus Tetap “Dicicil”

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman merdeka.com, ada dua penyebab utama mengapa duduk di kursi belakang bus dapat menimbulkan rasa mual. Pertama adalah sistem pergerakkan roda dan yang kedua adalah ketidakseimbangan otak. Hampir di semua moda darat termasuk bus memiliki sistem kendali roda depan yang akan bergerak mengikuti kemudi (stir). Sedangkan roda belakang berfungsi sebagai penggerak dimana mesin akan lebih dominan menggerakkan roda belakang.

Ketika bus melewati tikungan, orang yang duduk di baris depan tidak akan merasa pusing karena mereka akan ikut bersama alur roda depan (lebih statis), sedangkan orang yang duduk di bagian belakang akan terkena efek haluan mobil. Alasan ini pula yang menjelaskan mengapa orang lebih sering ‘terpental’ jika duduk di kursi belakang bus. Sejalan dengan pernyataan di atas, hasil penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli juga menuturkan bahwa medan berkelok dapat membuat seseorang lebih cepat mengalami fenomena mabuk darat.

Walaupun tidak menutup kemungkinan orang yang duduk di baris depan akan merasa mual, tapi setidaknya skala rasa mual yang dirasakan tidak sebesar orang yang duduk di kursi belakang.

Alasan kedua yang membuat orang lebih cepat mabuk ketika duduk di baris belakang bus adalah faktor ketidakseimbangan otak. Penumpang yang duduk di belakang cenderung tidak bisa melihat ke luar (di bagian depannya), sehingga otak mengalami kebingungan dalam mengoordinasikan panca indera. Di sisi lainnya, mata akan melihat benda-benda yang berada di sekitarnya berada dalam kondisi diam (statis), namun indera perasa lain menangkap bahwa adanya guncangan dan pergerakkan yang menandakan mereka tidak diam.

Baca Juga: Tips Kenalan “Ampuh” di Moda Transportasi, Intinya Tidak Boleh Dipaksakan!

Ketidakseimbangan ini menyebabkan otak mulai mendorong terjadinya rasa pusing. Tidak sedikit juga ditemukan kasus dimana mata jadi berkunang-kunang dan selanjutnya merasa mual ingin muntah. Kini, sudah jelas bukan alasan kenapa duduk di kursi belakang bus bisa menyebabkan mual?