Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Saat sebuah pesawat mengalami kecelakaan, black box sudah hampir pasti akan dibicarakan oleh semua orang. Sebab, misteri jatuhnya pesawat disebut ada di sana. Namun, tak bisa dipungkiri, sulit menemukan black box tanpa menemukan salah satu komponen terpenting pada pesawat; Emergency Locator Transmitter (ELT).

Baca juga: Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box?

Dikutip dari aircraftsystemstech.com, ELT menjadi kunci utama tim SAR dalam menemukan black box, sebab posisinya menempel pada bagian black box, baik cockpit data recorder (CVR) maupun dlight data recorder (FDR). Singkatnya, bila ELT ditemukan, besar kemungkinan CVR dan FDR juga akan ditemukan (sekalipun mungkin saja ELT terpisah dengan FDR dan CVR karena benturan atau alasan lainnya). Selain itu, bila CVR dan FDR merekam data-data selama penerbangan, ELT berfungsi sebagai penanda lokasi dengan cara mengirimkan sinyal ping atau sinyal digital per 50 detik selama kurang lebih 24 hingga 48 jam.

Cara kerjanya, mula-mulai, sinyal ELT 406 MHz dihitung dalam radius 2 hingga 5 kilometer. Normalnya, ELT didesain tahan dengan segala benturan atau kecelakaan, baik besaran g-force atau tabrakan maupun suhu ekstrem ketika terjadi ledakan ataupun saat berada di dalam air. ELT juga akan aktif secara otomatis bila terjadi benturan atau terendam air. Hanya saja, di beberapa kondisi, ELT nyatanya tidak berfungsi dengan baik karena satu dan lain hal. Itu sebabnya, fungsi ELT juga didukung oleh Underwater Locator Beacon (ULB), alat pemancar sinyal darurat lain yang menempel di black box pesawat.

Kembali ke ELT, bila kondisi menguntungkan, sinyal ELT akan ditangkap oleh satelit COSPAS-SARSAT. Sinyal kemudian diteruskan ke satelit LEOSAT (yang mengorbit rendah). LEOSAT atau satelit LEO kemudian meneruskan ke stasiun pemancar bumi yang biasa disebut local user terminal (LUT).

LUT kemudian meneruskan ke mission control center (MCC), kemudian diteruskan ke rescue coordination center (RCC) untuk mengidentifikasi pesawat melalui kode registrasi dan data-data pesawat lainnya dan kemudian diteruskan kembali ke tataran grassroot atau tim pelaksana di lapangan atau sejenis tim SAR. Dari temuan sinyal tersebut, tim SAR kemudian menuju lokasi sinyal dan melakukan penyelaman untuk memverifikasi keberadaan sinyal tersebut. Cukup panjang, bukan?

Baca juga: Inilah Lima Rangkaian Tes Ekstrem untuk Pastikan Pesawat Aman

Dilihat dari fungsi dan cara kerjanya, semua itu rasanya nyaris mustahil tanpa adanya beberapa komponen yang terdapat di ELT itu sendiri, seperti transmitter, integral battery pack, g-switch, antenna, ELT remote switch found on the left circuit breaker subpanel, cable assembly, buzzer, program adapter, dan antenna coaxial cable.

Semua komponen tersebut saling bekerjasama satu dengan yang lainnya, mulai dari memancarkan sinyal, mempertahankan kemampuan ELT untuk memancarkan sinyal, melindungi ELT dari segala macam kondisi, baik di darat maupun di lautan, baik saat benturan ataupun terjadi ledakan, menandakan lokasi dengan mengeluarkan suara, hingga menyimpan data identifikasi pesawat.

Sriwijaya Air SJ-182 Telah Berusia 26 Tahun, Masih Layakkah Mengudara?

Jagad dirgantara nasional kembali berduka, pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomer penerbangan SJ-182 mengalami hilang kontak sesaat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta pada Sabtu, 9 November 2020. Jatuhnya pesawat sesaat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, sontak mengingatkan pada tragedi Lion Air JT-610 yang jatuh di Perairan Karawang pada 29 Oktober 2018.

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Meski sama-sama melibatkan nama besar Boeing 737, namun ada perbedaan yang mencolok, bila Lion Air JT-610 menggunakan Boeing 737 Max 8 yang terbilang baru nan modern, maka sebaliknya Sriwijaya SJ-182 menggunakan Boeing 737-500. Mengutip sumber dari jetphotos.com, disebutkan usia pesawat ini sudah mencapai 26 tahun 7 bulan, lantaran diluncurkan dari pabriknya pada 13 Mei 1994.

Usia pesawat tentu terkait langsung dengan aspek keselamatan penerbangan, meski perlu jadi catatan, usia pesawat tak bisa jadi patokan soal keamanan dalam penerbangan, banyak faktor yang terkait, mulai dari sistem perawatan, perbaikan sampai penggantian suku cadang yang harus diperhatikan. Terlepas dari itu semua, tahukah Anda, bahwa usia operasional pesawat, khususnya pesawat komersial di Indonesia ada batasan masa pakainya.

Kilas balik ke tahun 2015, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memangkas usia pesawat penumpang yang boleh beroperasi di Indonesia dalam rangka menjamin keselamatan dan keamanan angkutan udara. Ketentuan baru ini kabarnya diundangkan sejalan dengan revisi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor KM 5 Tahun 2006 tentang peremajaan pesawat udara.

Dikutip dari CNNIndonesia.com (22/10/2015), dalam Permenhub Nomor KM 5 Tahun 2006 disebutkan usia pesawat penumpang yang bisa didaftarkan dan dioperasikan pertama kali di Indonesia maksimal 20 tahun dan jumlah pendaratannya tidak boleh lebih dari 50 ribu kali. Sementara itu, usia armada pesawat penumpang yang boleh beroperasi di Tanah Air maksimal adalah 35 tahun dan jumlah pendaratannya tidak boleh lebih dari 70 ribu kali.

Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Muzaffar Ismail di sela acara pertemuan tahunan Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) pada 22 Oktober 2015 menyebut, bahwa Dalam revisi Permenhub, pesawat yang pertama kali beroperasi di Indonesia tidak boleh lebih dari 10 tahun, sedangkan usia maksimal armada pesawat yang dizinkan beroperasi maksimal 30 tahun. “Kalau (pesawat) sudah (beroperasi) lebih dari 30 tahun tidak diizinkan,” ujar Muzaffar di situs CNNIndonesia.com.

Menurut Muzaffar, aturan peremajaan serupa juga diimplementasikan di negara lain. “Untuk Saudi Arabia itu (usia pesawat) 25 tahun, lebih dari 25 tahun tidak diizinkan (beroperasi),” jelasnya. Nah, jika menilik dari usia Sriwijaya SJ-182 yang sudah beroperasi 26 tahun, tentu masih dalam koridor layak mengudara secara ketentuan usia.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Dari informasi yang beredar, sebelum dioperasikan oleh Sriwijaya, Boeing 737-500 PK-CLC sebelumnya dioperasikan oleh Continental Airlines (1994), baru kemudian dijual pada United Airlines (2011), dan terakhir berpindah tangan ke Sriwijaya Air pada tahun 2012.

Bukan Twin Otter, Pesawat yang Dibakar KKB di Intan Jaya ialah Quest Kodiak

Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua kembali berulah. Belum lama ini, kelompok separatis yang dipimpin oleh Egianus Kogoya ini terlibat perusakan dan pembakaran pesawat milik maskapai penerbangan Mission Aviation Fellowship (MAF) di Bandara Pagamba, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada Rabu (6/1).

Baca juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

Kepala Polda Papua, Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw, menyebut kronologi kasus perusakan dan pembakaran pesawat terbang MAF nomor registrasi PK-MAX itu setelah pilot Alex Luferchek, warga negara Amerika Serikat, memberikan keterangan kepada kepala Polres dan kepala Satuan Reskrim Polres Nabire, di Nabire, Kamis (7/1), sebagaimana laporan kantor berita Antara.

Sempat diduga pesawat Twin Otter, Kanada, pesawat tersebut nyatanya merupakan single engine Quest Kodiak 100, buatan Quest Aircraft Daher, Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari laman resmi perusahaan, Quest Kodiak 100 ditenagai mesin turboprop PT6A-34 buatan PWC (Pratt & Whitney Canada) berdaya 750 hp. Kecepatan maksimumnya mencapai 339 km per jam dengan ketinggian terbang hingga 3.700 m. Jangkauan operasinya sejauh 2.096 km atau endurance selama kurang lebih 9-10 jam dengan muatan hingga 1.5 ton.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Pesawat ini dilengkapi dengan kemampuan short takeoff and landing (STOL) atau lepas landas dan mendarat di landasan pacu pendek sangat mumpuni untuk beroperasi di daratan Papua, dimana infrastruktur penerbangannya terbatas.

Pesawat ini dinilai sebagai yang tercanggih di kelasnya, mencakup desainnya yang nyaman, kapasitas tinggi, aman, dan tentu saja efisien ketika digunakan. Yang paling menarik dari pesawat ini tentu fleksibilitas kabinnya yang mudah diatur untuk kebutuhan penerbangan kargo, penumpang, ataupun keduanya; termasuk penerbangan premium dengan lima penumpang serta dua meja makan di bagian tengah kabin.

Baca juga: Dengan TKDN 44,69 Persen, Pesawat Turboprop N219 Raih Sertifikasi dari DKPPU Kemenhub

Dari sisi kontrol penerbangan, teknologi canggih yang tersemat di Quest Kodiak 100 juga sangat membantu kerja pilot, mengurangi kerja pilot, meningkatkan kesadaran situasional, membantu dalam proses lepas landas dan mendarat dengan bantuan autopilot terintegrasi, radar cuaca, visi sintetis, dan integrasi penuh platform digital dan komunikasi. Dengan berbagai kemudahan-kemudahan tersebut, tak ayal pesawat ini hanya membutuhkan single cockpit atau satu pilot.

Pesawat dengan luas kabin 1.37 meter, tinggi 1.45 meter, panjang 4.83 meter, bentang sayap sepanjang 13.7 meter ini dinilai menjadi pilihan tepat untuk operasional pesawat di wilayah-wilayah terpencil dan terjal, baik siang maupun malam hari.

Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

Di masa pandemi virus Corona, maskapai di seluruh dunia membutuhkan fleksibilas tinggi di setiap pesawat. Saat penerbangan penumpang sepi, maskapai bisa fokus untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari penerbangan kargo. Tetapi, bila waktu-waktu penerbangan penumpang ramai, maskapai bisa mengkonfigurasi ulang pesawat dengan mudah. Seperti yang ditawarkan Boeing 747 Combi.

Baca juga: Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!

Sejak terbang perdana dari Paine Field di Everett, Negara Bagian Washington, Amerika Serikat (AS) pada 9 Februari 1969, pamor Boeing 747 terus meningkat tajam. Dalam sekejap, pesawat itu sudah mudah ditemui di seluruh bandara di dunia dengan livery beragam maskapai.

Selain fokus menggarap pasar penerbangan penumpang, Boeing juga memproyeksikan Queen of the Skies Boeing 747 sebagai angkutan kargo andal melalui Boeing 747 Combi. Boeing resmi meluncurkan Boeing 747 Combi pada dekade 70an. Pesawat ini menjanjikan fleksibilitas tinggi dimana kombinasi ruang kargo dan penumpang bisa dibuat setara ataupun lebih besar di salah satunya, sesuai dengan permintaan.

Boeing 747-200M tercatat sebagai versi Combi pertama perusahaan. Pesawat ini menawarkan operator untuk mengangkut barang di bagian belakang pesawat lewat pintu samping sekaligus mengangkut penumpang maksimal 238 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Para penumpang tak perlu khawatir akan terganggu dengan adanya kargo tersebut. Sebab, antara penumpang dan kargo terdapat sekat partisi yang memisahkan suasana kabin penumpang dengan kargo.

Nyaris serupa dengan Boeing 747-200M, saudara kandungnya, Boeing 747-300M, juga menawarkan demikian. Maskapai dapat mengatur konfigurasi kargo dan penumpang dengan fleksibel. Bedanya, pesawat itu menawarkan akses masuk yang lebih mudah, seperti pintu kargo di belakang dan samping, serta pintu masuk penumpang di bagian depan. Selain itu, Boeing 747-300M Combi juga lebih membuat penumpang nyaman dengan keberadaan dek atas.

Tak puas dengan capaian yang ada, Boeing kembali tancap gas. Laporan Simple Flying, pabrikan asal AS ini meluncurkan Boeing 747-400M Combi dan dioperasikan untuk pertama kali oleh KLM, dua bulan setelah Queen of the Skies tercanggih dan terlaris, 747-400, itu dikirim pada Februari 1989 ke maskapai Northwest Airlines.

Baca juga: Terjadi Lagi, Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo Gegara Penerbangan Loyo

Sampai berita ini ditulils, ketiga pesawat, yakni 747-200M, -300M, 747-400M, masing-masing telah terjual sebanyak 78, 21, dan 61 unit. Pengguna terbanyak pesawat ini datang dari maskapai nasional Belanda, KLM, diikuti oleh Air France dan Lufthansa. Selain ketiganya, ada Air Canada, Air India, Alitalia, Qantas, SAA, dan Varig yang juga menjadi operator langganan Boeing 747 Combi.

Dari total 160 unit Boeing 747 Combi, saat ini, hanya ada 10 pesawat yang beroperasi dan semuanya dilakukan oleh KLM. Namun, karena pesawat sudah cukup tua, maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi ini berencana untuk mempensiunkan pesawat itu pada 2021 mendatang.

Jembatan Brooklyn, Inilah Jembatan Gantung Tertua di Amerika Serikat

Jembatan Brooklyn di New York, Amerika Serikat mulai dibangun pada 2 Januari 1870, ini merupakan jembatan gantung yang membentang di dari Brooklyn ke Manhattan dengan dibawahnya East River.

Baca juga: Jembatan Sungai Yalu – Jembatan Kereta Penghubung Cina dan Korea Utara

Jembatan ini merupakan salah satu jembatan suspensi tertua di Amerika Serikat yang dibangun selama 14 tahun dan selesai pada 1883. Selain itu juga menjadi jembatan suspensi terpanjang di dunia sejak pembukaannya hingga tahun 1903 dan juga menjadi jembatan suspensi kabel baja pertama.

Jembatan Brooklyn juga ditetapkan sebagai National Historic Landmark pada 1964 dan National History Civil Engineering Landmark tahun 1972. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, menurut catatan dalam pembangunannya, Jembatan Brooklyn mengakibatkan 21 pekerjanya yang sebagain besar imigran meninggal dunia.

Namun, asisten insinyur C.C. Martin mengatakan, pekerja yang meninggal sebanyak 27 orang ketika pembangunan Jembatan Brooklyn. Bahkan ada juga yang mengatakan jumlah yang tewas mencapai 40 orang. Meski begitu, korban pertama meninggal beberapa bulan sebelum konstruksi dimulai yakni sang perangcang jembatan tersebut John A Roebling saat mengamati lokasi menara jembatan.

Meski banyak memakan korban jiwa dalam pembuatannya, setelah selesai pembangunan, Jembatan Brooklyn mulai dibuka untuk umum pada 24 Mei 1883. Pada saat itu ribuan orang menghadiri pembukaan dan banyak kapal yang hadir di East River.

Orang pertama yang melintasi Jembatan Brooklyn adalah Emily Warren Roebling dengan menaiki kereta kuda menyeberang dari satu sisi sembari membawa ayam jantan sebagai simbol kemenangan. Jembatan ini memiliki panjang 486 meter dan menjadi jembatan terpanjang di dunia hingga penyelesaian jembatan kantilever Firth of Fourth di Skotlandia pada tahun 1890.

Menara jembatan Brooklyn dibangun dari batu kapur, granit dan semen. Deknya, didukung oleh empat kabel baja, untuk menyokong kepadatan lalu lintas mobil dan pejalan kaki. Kemegahan jembatan Brooklyn, menjadi inspirasi bagi banyak penyair, seperti Walt Whitman, Hart Crane, dan Marianne Moore.

Baca juga: Jembatan Bekasi – 130 Tahun Beroperasi dan Masih Setia Layani Lalu Lintas Kereta

Selain itu juga ada fotografer dan pelukis, termasuk Joseph Stella, John Marin, Berenice Abbott dan Alfred Eisenstaedt. Sejak pembangunannya, jembatan ini telah menjadi landmark penting bagi Kota New York, sebagai pencapaian arsitektur luar biasa yang masih dipuja di seluruh dunia.

Maskapai ini Tawarkan “Mystery Breaks,” Paket Perjalanan Tanpa Menyebutkan Tujuan

Perjalanan untuk liburan dan bisnis di masa pandemi masih belum bisa leluasa seperti sebelumnya. Hal ini kemudian membuat banyak maskapai menghadirkan penerbangan tanpa tujuan atau berbagai pilihan perjalanan lainnya.

Baca juga: Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Air New Zealand (ANZ) pada Oktober 2020, membuat paket misterius untuk menarik pelancong. Karena pariwisata domestik di negara tersebut mulai dibuka kembali dan pelancong diizinkan untuk berlibur di dalam negeri. ANZ meluncurkan paket Mystery Breaks.

Paket ini membuat para penumpang tidak tahu kemana tujuan mereka hingga dua hari sebelum keberangkatan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (22/10/2020), paket menarik ini menawarkan segalanya termasuk penerbangan domestik pergi pulang ke beberapa tujuan menakjubkan di Selandia Baru.

Para pelancong bisa bepergian ke Auckland, Queenstown, Invercargill, Wellington, Hamilton, Gisborne, Chistchurch, New Plymouth, North Island, Dunesin dan Timaru. Nah, untuk menikmati Mystery Breaks ini, ada tiga opsi yang bisa dipilih yakni Great Mystery Break dengan harga $599 atau sekitar Rp6 juta per orang untuk dua malam.

Pilihan Great Mystery Break termasuk menginap di hotel bintang tiga hingga empat dengan sarapan dan transfer kembali ke hotel. Paket kedua yakni Deluxe Mystery Break dengan tarif $699 atau sekitar Rp 7 juta per orang untuk dua malam yang termasuk dengan hotel bintang empat hingga 4,5.

Paket ini juga akan dilengkapi sarapan serta mobil sewaan Avis. Untuk paket ketiga yakni Luxury Mystery Break yang dimulai dari $1629 atau sekitar Rp16 juta per orang untuk dua malam dilengkapi dengan menginap di hotel bintang lima, sarapan, makan malam dan mobil sewaan Avis mewah.

ANZ menghadirkan berbagai macam paket misterius ini dengan harapan memikat para pelancong dan mendorong mereka untuk berlibur di negara sendiri. Paket ini pun sangat fleksibel dan memungkinkan orang untuk bepergian hingga akhir Maret 2021.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Selain itu, maskapai juga menyediakan voucher liburan yang bisa dibeli sebagai hadiah. Untuk diketahui pembatasan virus corona nasional dicabut pada bulan Juni dan membuat tidak adanya pembatasan untuk perjalnan domestik. Meski perbatasan negara tetap tertutup untuk hampir semua pengunjung diluar Selandia Baru, cara paling efektif untuk merangsang sektor pariwisata adalah dengan mendorong penduduk setempat untuk bepergian ke dalam negeri.

Gedung Capitol AS Dapat Ancaman Mau Ditabrak Pesawat! Ulah Pendukung Trump?

Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) belakangan menjadi sorotan lantaran diserang massa pendukung Presiden Donald Trump pada Rabu (1/6) waktu setempat. Penyerangan itu dilakukan untuk menolak pengesahan hasil Pilpres 2020. Menurut sumber seorang anggota Kongres AS, petugas kepolisian pengamanan objek vital langsung bersiaga dengan mencabut senjata api ketika massa Trump hendak menerobos ke ruang sidang.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Sumber itu mengatakan para pendukung Trump terus menggedor-gedor pintu masuk ruang sidang yang dikunci. Petugas keamanan Kongres dilaporkan menembakkan gas air mata untuk memaksa para pendukung Trump keluar dari Gedung Kongres.Tak berselang lama, bentrokan pun terjadi dan situasi berubah jadi mencekam.

Menariknya, sebelum penyerangan pendukung Presiden Donald Trump terjadi, Gedung Capitol AS, yang menjadi tempat anggota kongres, senat, dan parlemen AS bekerja, sudah lebih dahulu mendapat ancaman. Ancamannya bahkan jauh lebih parah dari yang terjadi Rabu lalu. Hanya saja, ancaman tersebut dikonfirmasi bukan datang dari massa pendukung Trump.

Salah satu stasiun televisi di AS, CBS News, mengklaim bahwa para pengawas lalu lintas udara (ATC) kota New York, pada hari Senin lalu menerima pesan suara dari gelombang radio berisi ancaman pembalasan atas kematian Jenderal Iran, Qasem Soleimani.

Disebutkan, sejumlah petugas ATC kota New York mendengar pesan suara bot berisi ancaman dari sebuah frekuensi radio yang digunakan seorang pilot. Pesan suara itu mengatakan, “Kami akan menerbangkan pesawat ke Capitol Building pada hari Rabu (6/1). Teror Soleimani akan dibalas.”

Menurut CBS News, tidak jelas siapa yang mengirim ancaman ini, sementara pejabat pemerintah Amerika menganggapnya sebagai ancaman fiktif dan sedang menyelidiki bagaimana pesan tersebut bisa menembus frekuensi radio petugas ATC.

Sumber yang dikutip CBS News mengatakan, Pentagon dan lembaga lain seperti FBI, FAA, dan TSA bekerja sama dengan National Counterterrorism Center (NCTC) sudah diberitahu soal ancaman ini. Menurutnya, ancaman ini adalah suara rekaman yang memberi informasi bahwa Gedung Capitol akan menjadi target serangan di hari ketika Kongres menggelar pertemuan untuk memutuskan hasil pemilu presiden Amerika.

Menurut sebuah laporan, selain didengar oleh ATC, pesan suara robot itu juga diterima di kokpit pesawat penumpang saat dalam perjalanan dari San Juan ke New York JFK. Selain itu, laporan lain menyebut bahwa pesawat JetBlue dengan nomor penerbangan 2304 juga mendapat pesan tersebut.

Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

Meski otoritas berwenang sudah memastikan bahwa ancaman itu datang dari sebuah wilayah di AS, bukan dari Iran, sebagaimana pengakuan dalam ancaman terhadap Gedung Capitol, tetap saja, hal itu sungguh meresahkan. Para pengamat mengaku khawatir dengan bocornya sinyal kontrol penerbangan karena ini bisa mempengaruhi kerja para pilot dalam menentukan mekanisme dan lokasi terbang.

Ancaman berupa menabrakkan pesawat ke gedung tentu bukan hal baru di AS. Negeri Paman Sam sebelumnya pernah mengalami peristiwa kelam pada 11 September 2001 silam atau lebih dikenal 9/11. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 2.977 tewas.

Inilah Airbus A340-8000, Pesawat Paling Unik Sedunia Khusus Buat Sultan! Sekarang Jadi Pesawat Operasional Pangeran

Selain mempunyai pesawat komersial terbesar di dunia, A380, Airbus juga mempunyai pesawat ikonik lainnya dan bergelar pesawat paling unik di dunia, Airbus A340-8000. Bagaimana tidak unik, pesawat ini merupakan satu-satunya di dunia yang dibuat khusus untuk saudara laki-laki Sultan Brunei.

Baca juga: Airbus A380-800, Istana Terbang yang Siap Manjakan Orang Tajir Melintir Dunia

Dilansir Simple Flying, laporan Flight Global menyebut pesawat paling unik di dunia ini merupakan versi pengembangan dari Airbus A340-200, yang pertama kali diluncurkan pada 1993. Pengembangan tersebut mencakup beberapa hal.

Dari segi jangkauan terbang, pesawat long range atau jarak jauh ini mampu menjangkau hingga 14.800 km, 2 ribu km lebih jauh (12.400 km), memungkinkannya mengangkut Sultan Brunei dan rombongan terbang dari negaranya ke Amerika Serikat atau Eropa non-stop.

Airbus A340-8000 juga dibekali kemampuan berat lepas landas maksimum (MTOW) seberat 275 ton, sedikit lebih tinggi dari versi komersial yang dijual ke maskapai, Airbus A340-300. Adapun dari segi kapasitas penumpang, pesawat paling unik di dunia ini bisa dibilang setara dengan saudara kandungnya berkisar 239 kursi.

Airbus secara resmi “mengirimkan” pesawat tersebut, dengan nomor seri pabrik (MSN) 204, pada November 1998. Namun, pesawat tak langsung menuju Brunei untuk melayani sang empunya, melainkan harus mendapat sentuhan interior terlebih dahulu oleh Lufthansa Technik di Lapangan Udara Schönefeld Berlin.

Sampai di sini, keberadaan A340-8000 sempat simpang siur dan mendapat isu miring. Pada tahun 2007 lalu, pesawat dilaporkan berada di Hamburg di bawah pengawasan Lufthansa Technik dengan nomor registrasi D-ASFB, berubah dari sebelumnya V8-AC3. Dari laporan tersebut, bisa dibilang, pesawat tak pernah sekalipun beroperasi untuk melayani Sultan Brunei dan keluarganya. Entah apa yang terjadi di balik itu.

Setelah itu, masih di tahun yang sama, pesawat tersebut berpindah tangan ke pemerintah Arab Saudi selama tiga tahun lamanya, sebagai HZ-HMS. Pada Desember 2010, pesawat kemudian didapuk menjadi pesawat khusus keluarga kerajaan, dengan nomor registrasi HZ-HMS2.

Baca juga: Gunakan Sayap Lipat nan Unik, Akankah Boeing 777X Jadi Pesawat Paling Efisien?

Sampai saat ini, pesawat tersebut masih berada di pangkuan keluarga kerajaan Arab Saudi. Agaknya, pesawat itu cocok untuk mereka. Sebab, sejak awal, pesawat itu didesain untuk Sultan Brunei dengan segala kemewahannya. Berhubung kedua negara memiliki sistem pemerintahan yang mirip -monarki- tak salah bila kerajaan menggunakan pesawat itu untuk mengangkut sang pangeran.

Pesawat mewah dan unik, jika dirunut ke belakang, sepertinya memang cukup melekat dengan pangeran Arab Saudi. Pesawat supermewah, Airbus ACJ380-800, pada tahun 2007 silam sempat menjadi pembicaraan warganet setelah dipesan untuk dijadikan istana terbang oleh Pangeran Alwaleed dari Arab Saudi, sekalipun pada akhirnya pesanan tersebut batal.

Lokomotif Tua Terdampar di Hutan Paraguay, Ingatkan Kejayaan Industri Glasgow

Ketika melihat sebuah lokomotif terdampar di sebuah hutan, apa yang terlintas di pikiran Anda? Sengaja diletakkan di situ atau memang dulunya ada jalur hingga ke dalam hutan tersebut. Lokomotif ini bisa dilihat di tengah hutan Paraguay dan bila terlihat dari foto, berada diantara akar pohon dan rerumputan.

Baca juga: 27 September 1825, Kereta Penumpang dengan Lokomotif Uap Pertama Kali Mengular

Bahkan ketika Anda melihat foto lokomotif di tengah hutan mengingatkan pada masa kejayaan industri Glasgow di Skotlandia, Inggris. Di mana saat itu sekitar seperempat lokomotif uap dunia dibangun di kota.

Apalagi ketika Glasgow berada di puncak kejayaan industri berat sebagai pembuat lokomotif dunia. Glasgow sendiri merupakan perusahaan lokomotif Inggris Utara yang mengekspor lokomotifnya ke jalur kereta api di seluruh dunia.

Bisa dikatakan, Glasgow merupakan perusahaan manufaktur terbesar di Eropa tepatnya di Springburn dan Polmadie. KabarPenumpang.com melansir dari laman glasgowlive.co.uk (4/1/2021), teronggoknya lokomotif di tengah hutan Paraguay tidaklah mengherankan.

Pasalnya lokomotif tersebut terdampat di hutan Paraguay yang letaknya sekitar 6500 mil dari tempat kelahirannya. Penemuan luar biasa tersebut dibuat dekat dengan kota Encarnación di selatan Paraguay dekat perbatasan Argentina.

Foto lokomotif nomor 230 yang tersebar di dunia maya tersebut diyakini diproduksi antara tahun 1910 dan 1912 oleh The North British Locomotive Co. Ltd. Foto tersebut ketika tersebar ditambahkan dengan keterangan, “Tahun-tahun pasti telah berlalu sejak ditinggalkan, dan hutan yang tumbuh di sekitarnya itu menyembunyikannya.”

Baca juga: Mallard, Lokomotif Uap Tercepat di Dunia Berusia 82 Tahun

Namun, tak ada dokumen yang jelas tentang penyebab lokomotif tersebut berada di tengah hutan. Penemuan lokomotif di tengah hutan ini setelah pada Mei tahun lalu ditemukan sebuah bangkai kapal uap yang dibangun di Glasgow.

Kalau ke Taiwan Dapat Taksi Ini, Jangan Lupa Menyanyi Biar Dapat Diskon

Unik, bahagia dan cukup menantang adalah hal yang akan dirasakan ketika naik dalam sebuah taksi di Taiwan. Ini karena setiap penumpang harus bernyanyi untuk dapat diskon, hadiah yang tunai. Pemilik taksi ini adalah Tu Ching Liang yang menhadirkan karaoke di dalam taksinya. Taksi kuning Tu dilengkapi, mikrofon, iPad dan speaker yang letaknya diluar taksi.

Baca juga: Unik, di Taiwan Ada Museum Taksi yang Dibuka Temporer

“Saya telah mengemudikan taksi selama 27 tahun, memberikan uang sebagai hadiah karena menyanyi karaoke selama delapan tahun, dan merekam video selama enam tahun. Saya telah merekam sepuluh ribu video,” katanya.

“Saya pernah tampil di acara TV dari sepuluh negara berbeda,” tambah Tu.

Ketika seorang penumpang naik taksi milik Tu, berarti membuat kesepakatan bernyanyi untuk pengemudi Anda. Jika tidak bernyanyi, penumpang tidak dapat diskon dan tidak akan memenangkan hadiah apapun. Tu berkata, banyak orang terlalu malu untuk bernyanyi, tetapi dia tetap memaksa mereka.

“Itu untuk melatih keberanian mereka. Untuk melatih mereka menjadi superstar,” jar Tu.

KabarPenumpang.com melansir theguardian.com (4/1/2021), saat penumpang akan menyanyi, Tu sesekali memberi peringatan bahwa speaker ada di luar mobil dan nyaring.

Ia hanya sesekali memberi peringatan terlebih dahulu bahwa speaker ada di luar mobil dan nyaring. Jika Tu menyukai upaya penyanyi, dia akan memberi diskon perjalanan untuk mereka, terkadang memberikan hadiah uang tunai di mana biasanya, orang memberi tip lebih banyak daripada yang seharusnya.

Apa yang dimulai hampir satu dekade lalu sebagai sebuah permainan, yang menawarkan diskon kepada penumpang jika mereka dapat menebak judul lagu, telah berkembang menjadi semacam kerajaan media sosial. Kamera di dalam mobil Tu merekam setiap pertunjukan yang baik, yang buruk, pemalu, pemabuk yang dia upload ke YouTube. Beberapa telah ditonton lebih dari dua juta kali.

“Saya seorang pemberi pengaruh internasional,” katanya.

Saat berkendara di sekitar distrik timur mencari penumpang, Tu menggulirkan beberapa penumpang favorit dan terkenalnya. Dia mengklaim telah menemukan karir menyanyi Edward Chen, seorang aktor Taiwan dan detak jantung yang diklaim Tu dengan beberapa lisensi kreatif diberi kontrak rekaman setelah pertunjukan taksi karaokenya.

“Orang-orang membayar untuk pergi ke konser dan melihat orang-orang bernyanyi, tetapi di sini mereka membayar saya untuk menyanyi untuk saya,” katanya.

Tu memiliki mimpi suatu hari nanti ada Ed Sheeran sebagai penumpang. Mobil berhenti di luar bar dan Tu mengeluarkan mikrofon. Pada hari-hari pandemi ini, kehidupan Taipei relatif normal menurut standar internasional hingga bulan lalu, kasus penularan lokal tidak tercatat sejak April tetapi tidak ada turis karena pembatasan perbatasan.

Tu mengatakan hal itu tidak terlalu memengaruhinya bahkan dengan pesaing yang berkeliling, dan dia sebagian besar bergantung pada bisnis lokal.

“Orang Taiwan suka menyanyi. Jadi lumayan banyak taksi dengan karaoke. Tapi sulit untuk memfilmkan dan menyanyi, seperti yang saya lakukan. Dan polisi bisa mendenda saya untuk pembicara di luar. Itu juga sulit,” katanya.

Baca juga: Taksi dengan Hiasan Lampu Natal di Raleigh Telah Kehilangan Pemiliknya

Pada akhirnya, Tu setuju untuk tidak melakukan pembunuhan saya atas lagu Titanic di internet, tetapi dia tidak bisa menahan tawa terakhirnya, dan saat dia mengusir ledakan rekaman melalui speaker eksternal taksi. Mungkin itu adalah keputusasaan yang disebabkan cuaca, atau mungkin semua orang terbiasa melihat Tu di kemacetan, tapi untungnya tidak ada yang memperhatikan.