Hari Ini, 59 Tahun Lalu, Short SC.7 Skyvan Terbang Perdana, Jenis Pesawat yang Punya Kenangan Bagi Megawati

Pada hari ini, 59 tahun lalu, bertepatan dengan 17 Januari 1963, pesawat angkut ringan berkemampuan STOL (Short Take Off and Landing), Short SC.7 Skyvan terbang perdana. Pesawat ini mempunyai sejarah panjang di Indonesia bersama TNI AU, termasuk bagi Megawati Soekarnoputri, yang kehilangan suami pertamanya, Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso, akibat kecelakaan di Biak, Papua.

Baca juga: Usai 56 Tahun, BN2 Islander Tetap Diproduksi! Pernah Ikut Operasi Seroja di Timor-Timur

Dilansir Indomiliter.com, sebagai negara kepulauan, Indonesia memang tidak pernah lepas dari kebutuhan pesawat perintis, termasuk pesawat buatan Short Brothers, Inggris, yang telah disebutkan di atas.

Beberapa maskapai perintis tercatat pernah mengandalkan pesawat yang dilengkapi pintu rampa (ramp door) tersebut, seperti Gatari, Deraya, dan Indonesia Air Transport.

Selain dioperasikan untuk kebutuhan sipil, pesawat Short SC.7 Skyvan juga dioperasikan untuk kebutuhan militer bersama TNI AU.

Disebutkan, TNI AU Skadron Udara 4 Angkut Ringan tercatat pernah mengoperasikan Short SC.7 Skyvan varian militer 3M-400. Di tangannya, pesawat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti supply dropping, assault transport, dropping paratroops, troop transport, cargo transport, casualty evacuation, dan SAR.

Untuk kebutuhan troop transport atau angkut pasukan, ruang kargo dapat dimuati 19 personel. Sedangkan untuk cargo transport, pesawat mampu mengangkut muatan sebesar 2,3 ton dan ruang kargonya bisa memuat satu sedan.

Pesawat yang terkenal dapat malahap unprepared runways itu pernah mempunyai catatan kelam bersama TNI AU. Lebih kelam lagi, karena turut melibatkan putri dari ayah sang Proklamator, Soekarno, yang juga Presiden Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Pada 1 Februari 1971 yang menyebabkan Skyvan dengan nomor T-701 dinyatakan hilang di Perairan Biak, Papua. Sang penerbang Skyvan T-701 tak lain adalah suami pertama mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri, yakni perwira pertama Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso.

Pencarian demi pencarian terus dilakukan, namun tak pernah membuahkan hasil dan membuat Megawati terpukul. Sebab, ketika itu, ia tengah mengandung anak kedua, yaitu Mohammad Prananda Prabowo, kakak dari Mohammad Rizki Pratama, putra pertama pasangan Megawati dan Surindro Supjarso.

Kecelakaan kedua terjadi pada 19 Desember 1972. Ketika itu, pesawat dengan nomor T-703 mengalami kecelakaan ringan.

Setelah dua kecelakaan tersebut, TNI AU masih terus mengoperasikan pesawat bermesin Garrett TPE331-201, mampu melesat di kecepatan 324 km per jam, jangkauan sejauh 1.117 km, dan ketinggian maksimum 6.858 meter itu sampai tahun 1985.

Baca juga: Pesawat Ilyushin Il-14 Avia, Sejarah TNI AU yang Nyaris Terlupakan! Pernah Jadi Pesawat Kepresidenan

Sepak terjang pesawat dengan wing span 19,79 meter, panjang 12,22 meter, dan tinggi 4,60 meter tersebut harus berakhir setelah Skadron Udara 4 batal memasukkan Short SC.7 Skyvan 3M-400 ke dalam barisan armada pada 5-8 April 1985, saat pindah home base dari Lanud Halim Perdanakusuma ke Lanud Abdul Rachman Saleh di Malang.

Menariknya, entah ketetulan atau tidak, setahun setelahnya, Short Brothers pun menghentikan produksi pesawat tersebut dengan total produksi mencapai 153 unit.

Pertama di Dunia, Halte Bus Dirancang Ramah Bagi Kawanan Lebah

Meski punya sengatan yang menyakitkan, lebah menjadi salah satu serangga yang banyak membawa memberi manfaat. Selain menghasilkan madu, lebah juga membantu untuk penyerbukan serbuk sari bunga dari bunga yang dihisap untuk mendapatkan sarinya. Bahkan lebah juga banyak digunakan untuk pengobatan tradisional.

Baca juga: Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput

Di Inggris tepatnya di Worcestershire menghadirkan sebuah halte bus yang ramah lebah untuk pertama kalinya. Halte ini memiliki atap yang ditanami sedum dan biji-bijian pilihan sebagai bagian dari upaya Dewan Kabupaten Worcestershire dalam rangka memperbaiki lingkungan.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman worcesternews.co.uk (19/8/2021), tempat perlindungan di perhentian Whites Road di Jalan Malvern adalah yang pertama dipasang di negara ini yang dipasang untuk menarik lebah dan serangga penyerbuk lainnya.

“Luar biasa melihat halte bus sedum baru di situ. Ini berkontribusi pada upaya kami untuk mengatasi tantangan lingkungan dengan menyerap CO2 dan mengurangi polusi udara. Mereka bagus untuk lebah dan serangga penyerbuk lainnya dan mereka juga terlihat bagus,” kata Anggota Dewan Alan Amos.

Dia menambahkan, adanya halte ini sebagai percontohan kecil untuk memperbaiki lingkungan di sekitar halte bus. Selain itu, pihaknya juga akan meluncurkan halte seperti ini sebanyak yang mereka bisa.

Tanaman yang ditanam di atap halte bus juga akan menyerap CO2 dan menyaring partikel debu halus sehingga membantu memurnikan udara. Tanaman juga akan mengurangi tingkat polusi, karena semuanya membawa sedikit alam ke dalam kota.

Baca juga: Halte Bus 3D Pertama di Dunia, Ternyata ada di ‘Kota Kuno’ Shanghai

Amos mengatakan, bahwa keberadaan halte bus baru itu diterima dengan baik dan memberikan peningkatan pada satwa liar yang diharapkan, maka halte lainnya akan dihadirkan ke lokasi lain di seluruh wilayah Worcestershire. Halte bus ini berkontribusi pada Strategi Penyerbuk Worcestershire, sebuah inisiatif untuk membantu mendukung populasi penyerbuk serangga, yang saat ini sedang menurun secara nasional dan global.

 

 

Ini Penyebab KRL Berjalan Perlahan di Petak Cilebut – Bojonggede

Bagi pengguna KRL tentu pernah merasakan bahkan bertanya–tanya saat melewati antara Stasiun Cilebut dengan Stasiun Bojonggede dari arah Bogor berjalan perlahan. Padahal tidak adanya perlintasan sebidang bahkan pemukiman warga yang sangat dekat dengan rel kereta api. Yang ada hanyalah pepohonan serta tebing yang cukup curam yang dibawahnya terdapat beberapa rumah yang berdiri tegak. Namun dijalur sebelahnya kecepatan KRL berjalan normal dan maksimal. Kira – kira kenapa, ya?

Baca juga: Kereta Api di Indonesia Masih Suka Telat, Ini Penyebabnya!

Setelah tim kabarpenumpang.com menelusuri area tersebut terdapat tanda batas kecepatan yang mengharuskan setiap kereta api yang melintas harus membatasi kecepatannya dibawah 20 kilometer per jam. Karena sebelum berada di lokasi KM 45+200 sampai KM 45+500 terdapat tanda isyarat Semboyan 2A dan Semboyan 2B. Semboyan 2A berupa satu tanda atau rambu berbentuk bulat yang berwarna kuning yang yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.

Beberapa ratus meter setelah Semboyan 2A terdapat Semboyan 2B yaitu dua rambu berbentuk bulat yang berwarna kuning yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam. Barulah melewati jalur yang diharuskan berjalan dibawah 20 kilometer per jam.

KRL akan memasuki jalur rawan dengan pemasabgan rambu Semboyan 2B dengan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam. (Foto: Sendy Prasetya)

Setelah jalur kereta api melewati titik aman terdapat pemasangan rambu Semboyan 2H yaitu semboyan tetap yang ditandai dengan papan hijau dengan huruf H berwarna putih yang menunjukkan bahwa kereta api mulai melaju dengan kecepatan yang diizinkan.
Tak hanya itu, di KM 45+300 terdapat bangunan minimalis di samping rel kereta api yang mengarah rute Bogor – Jakarta yaitu Pos Rawan. Bangunan ini merupakan area pemantauan rawan bencana alam seperti tanah longsor akibat curah hujan tinggi yang berada di area tersebut. Jadi semua kereta api yang melintas harus melambat kecepatannya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bencana Tanah Longsor, Hambat Perjalanan Kereta Api
Seperti di beritakan media pada 22 Nopember 2012 lalu jalur kereta api antara Stasiun Cilebut dan Stasiun Bojonggede alami bencana longsor hingga menyebabkan rel kereta api menggantung karena tanah yang amblas.

KRL berjalan perlahan melewati jalur rawan di KM 45+300 yang terdapat bangunan Pos Rawan. (Foto: Sendy Prasetya)

Tanah longsor terjadi di Desa Cilebut Tinur, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Amblasnya tanah yang membuat rel menggantung memiliki kedalaman 20 meter.
Menurut informasi bahwa longsor terjadi pada sore hari saat hujan lebat terjadi dikawasan tersebut karena penyempitan Sungai Kalibaru akibat adanya pemukiman di bantaran kali. Sehingga pas kejadian hujan besar membuat air meluap ditambah saluran irigasi sudah dangkal dan banyak sampah. Perjalanan KRL saat itu lumpuh total dan secara otomatis tidak bisa melanjutkan perjalanan dari Bogor ke Jakarta.

Longsor terjadi di KM 45+200 – KM 45+500 terjadi saat curah hujan tinggi. (Foto: Sendy Prasetya)

Hingga saat ini jalur kereta api di kawasan itu masih terus dipantau oleh beberapa pekerja dari KAI secara bergilir. Curah hujan yang cukup tinggi masih mengguyur di kawasan itu membuat pekerja dibidangnya harus ekstra fokus jika sewaktu – waktu ada hal yang tidak diduga terjadi. Area disekitaran jalur kereta api dan bekas longsor telah dibenahi dengan menambahkan batu dan beton guna mencegah longsor susulan terjadi.

Baca juga: Railfans Harus Tahu, Ini Jawaban Mengapa Jalur 1 atau 2 di Stasiun KRL Terkadang Berlawanan Arah

Perjalanan kereta api dari arah Bogor ke Jakarta tetap masih dibatasi kecepatannya. Selain rawan longsor, rel kereta api juga menikung tajam dan belum ditambahkan rel gongsol atau penahan roda saat ditikungan tajam. Seharusnya rel gongsol dipakai guna menghindari anjlok pada roda kereta api sehingga kereta api tidak keluar jalur. (PRAS – Cinta Kereta Api)






















Ngeri! Boeing 747 Aerolíneas Argentinas Flight 386 Jadi Pusat Penyebaran Kolera

Wabah Covid-19 dinilai sebagai salah satu yang paling mematikan di dunia. Sampai saat ini, sudah ada 320 juta orang yang terjangkit, dimana 5,52 juta di antaranya meninggal dunia. Tetapi, sampai saat ini, belum ada laporan pesawat menjadi klaster penyebaran Covid-19, justru wabah kolera-lah yang pernah menyebabkan itu terjadi.

Baca juga: Virus Demam Babi Afrika Mewabah di Indonesia, Peternak Dilarang Beri Makan Babi dari Sisa Makanan Penerbangan

Dilansir The New York Times, pada tahun 1991 kolera muncul secara tak terduga dan tanpa penjelasan di Peru, yang terletak di pantai barat Amerika Selatan.

Padahal di tempat ini kolera sempat menghilang selama 100 tahun. Kolera menyebabkan 3.000 kematian di Peru pada tahun pertama, dan segera menginfeksi Ekuador, Kolombia, Brasil, dan Chili dan melompat ke utara ke Amerika Tengah dan Meksiko.

Di tengah wabah kolera, pada 14 Februari 1992, maskapai Aerolíneas Argentinas mengoperasikan penerbangan komersial menggunakan Boeing 747-200 flight 386, dari Buenos Aires, Argentina, ke Los Angeles, Amerika Serikat, dengan transit di Lima, Peru.

Penerbangan tersebut mengangkut sebanyak 336 penumpang dan 20 kru. Dari jumlah tersebut, 297 di antaranya menuju ke Amerika Serikat, dan 39 penumpang sisanya, dua menuju ke Kanada dan 37 ke Jepang.

Selama penerbangan dari Argentina, penumpang tampak biasa-biasa saja tidak ada tanda-tanda mencurigikan. Begitu juga pasca transit di Lima, Peru, dan melanjutkan penerbangan ke AS. Semua tampak baik-baik saja. Sampai akhirnya salah satu dari penumpang, Anibal Cufre berusia 70 tahun, dilaporkan meninggal dunia akibat kolera beberapa hari setelah penerbangan.

Setelah itu, seluruh penumpang dan kru dalam penerbangan tersebut dicek dan 172 penumpang serta satu kru dinyatakan positif mengidap kolera. Tentu saja hal itu mengejutkan banyak pihak. Sebab, kolera diketahui tidak melalui udara atau airborne. Bukan pula melalui kontak. Karenanya, temuan penumpang sebanyak itu mengidap kolera dinilai janggal.

Pengecekan mendalam pun dilakukan. Tentu saja pihak maskapai, dibantu negara tempatnya beranaung, Argentina, berusaha melindungi kepetingan dirinya dan negara, dengan menuduh katering yang dibawa dari Lima, Peru, menjadi sumber penyebaran kolera. Tuduhan ini pun didukung dengan penelitian dari sejumlah pihak.

Baca juga: Wabah Campak Landa Hong Kong, Pramugari Cathay Pacific yang Hamil Memaksa Cuti

Sebaliknya, pihak Peru menyebut, penularan kolera di pesawat terjadi lantaran salah satu penumpang pesawat mengidap kolera saat berangkat dari Argentina.

Terlepas dari perseteruan tersebut, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menilai maskapai Aerolíneas Argentinas tidak bisa menyalahkan Peru dengan dalih katering yang dibawa dari Lima. Sebaliknya, bagaimanapun juga, maskapai nasional Argentina itu wajib bertanggung jawab atas katering yang disajikan ke penumpang, sekalipun itu dilakukan pihak ketiga.

Bus Lintas Medan – Aceh, “Naik Haji Bagi Para Penggemar Bus”

Bagi para penggemar bus yang doyan touring, maka satu rute yang tak boleh dilewatkan atau tidak dijajal adalah rute Medah – Aceh juga sebaliknya. Bahkan rute ini sering dikatakan sebagai “naik haji bagi para penggemar bus”.

Baca juga: Berusia 82 Tahun, PO NPM Jadi Salah Satu Perusahaan Otobus Tertua di Indonesia

Lintas Medan – Aceh tentu bukan lintas baru dengan para perusahaan otobus baru. Nyatanya, lintas ini sudah berumur lama dan perusahaan otobus di dalamnya juga merupakan nama-nama yang eksis dari dulu sampai saat ini.

Nama seperti KAP Group yang di dalamnya ada Kurnia, Anugerah, dan Pusaka dan juga nama seperti PMTOH merupakan beberapa nama yang sampai saat ini masih eksis dan sukses jadi penyintas perubahan.

Saat ini perusahaan otobus yang melayani lintas Medan – Aceh juga sebaliknya bisa dikatakan beragam. Ada Sempati Star, Royal Otobus, Kurnia, Anugerah, Pusaka, PMTOH, Putra Pelangi, CV Pelangi, Harapan Indah, dan JRG.

Waktu perjalanan yang anda tempuh ketika naik bus Medan – Aceh atau sebaliknya, menghabiskan 10 sampai 12 jam. Tergantung bus dan kelas yang anda naiki. Di lintas ini kelas yang cepat biasa disebut non stop. Dimana kelas non stop ini tidak banyak berhenti untuk mengambil penumpang, sehingga lebih efisien untuk urusan waktu.

Lintas Medan – Aceh dan sebaliknya juga memiliki segudang armada dengan sasis premium bahkan bus-bus tronton juga banyak anda temui di lintasan ini. Selain itu, bagi anda para penggemar kecepatan, maka bus lintas Medan – Aceh bisa jadi pilihan yang tepat karena bus-bus di lintasan ini terkenal dengan kecepatannya.

Lintasan jalan di rute Medan – Aceh memiliki aspal yang mulus dan juga bisa dibilang sepi ketika malam sudah datang. Hal inilah yang jadi salah satu faktor kenapa bus lintasan Medan – Aceh terkenal dengan kecepatannya.

Bus cepat bukan berarti tidak nyaman, karena bus-bus lintas Medan – Aceh juga memiliki kursi-kursi yang super tebal dan juga empuk. Hal ini tentunya membuktikan bahwa kenyamanan penumpang pun menjadi perhatian bagi para pengusaha bus di lintasan Medan – Aceh.

Tidak ada servis makan gratis dalam layanan bus Medan – Aceh, sebagai gantinya ada snack, dan juga bus akan berhenti di rumah makan yang menyajikan menu biasanya sate matang. Selain itu, bus di lintas Medan – Aceh juga akan berhenti di masjid ketika sudah masuk waktu shalat subuh.

Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera

Penggunaan tameng besi di kaca depan juga jadi hal yang umum bagi bus di lintasan Medan – Aceh. Penyebabnya adalah masih banyaknya orang yang melakukan pelemparan batu ke kaca bus, maka dari itu digunakanlah tameng besi sebagai pelindung kaca depan bus. Hal ini juga agar keamanan awak bus dan juga penumpang bisa tetap terjaga apabila terjadi pelemparan batu. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)






















Kereta Api Angkutan Barang Masih Jadi Andalan PT KAI

Transportasi kereta api di Jawa dan Sumatera sudah menjadi prioritas utama bagi masyarakat Indonesia untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Apalagi saat ini bisa dibilang kereta api sudah cukup nyaman dalam melakukan perjalanan baik siang maupun malam. Dan juga pelayanan yang diberikan kepada penumpang kereta api dirasa sudah cukup baik dan benar – benar prioritas utama. Namun selain keuntungan yang didapat KAI terhadap penggunanya terutama angkutan penumpang, ada pula keuntungan lainnya yaitu pada angkutan barang.

Baca juga: Jalur Maut Muaro-Pekanbaru, Dibangun Asal-asalan oleh Riyuko Sokyoku untuk Angkut Batu Bara

Angkutan kereta api barang hingga saat ini sudah mulai banyak jadwal perjalanannya. Tak kenal siang maupun malam, perjalanan kereta api barang makin hari makin banyak. Perjalanan reguler maupun fakultatif (perjalanan khusus) pun tetap dijalankan. Untuk perjalanan fakultatif sendiri tergantung dari unloading barang (petikemas) dari terminal angkutan barang, apakah jalan atau tidak.

Angkutan Batu Bara Masih di Puncak Tertinggi PT KAI
Menurut sumber KAI Logistik untuk angkutan petikemas pada tahun 2021, PT KAI mendapatkan volume total 4,1 juta atau 8 persen dari angkutan semen yang mendapatkan volume total 3,4 juta ton atau 6,8 persen dari total angkutan KAI. Namun untuk angkutan batu bara, PT KAI tetap mendapatkan puncak tertinggi dengan volume total 39,2 juta ton atau 77,1 persen dari total angkutan barang KAI.

Angkutan batu bara sendiri pun naik 18 persen dibanding tahun 2020 sebanyak 33,3 juta ton. Memang angkutan batu bara terutama di wilayah Divisi Regional (Divre) 4 Lampung semakin banyak perjalanannya hingga adanya penambahan gerbong KKBW yang baru – baru ini dikirim dari PT INKA Madiun. Dan akan dikirim rangkaian KKBW batu bara selanjutnya dibeberapa bulan kedepan.

Selain angkutan batu bara yang menjadi primadona perjalanan di Pulau Sumatera, angkutan BBM juga tercapai pada peningkatan volumenya. Pada 2021 angkutan BBM terdapat 2,2 juta ton, naik 7 persen dibanding tahun 2020 sebanyak 2,1 juta ton.

Baca juga: Kirim Gerbong Batubara Kini Tak Lagi via Truk

Selain beberapa angkutan barang yang disebutkan, selama tahun 2021 angkutan barang pengiriman oksigen secara cuma – cuma dalam penanggulangan pandemi Covid-19 juga dilakukan oleh PT KAI untuk keperluan kesehatan. Angkutan oksigen ini digabungkan pada rangkaian petikemas dari Surabaya ke Jakarta maupun sebaliknya. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Dramatis, Seekor Kuda Putih Melintasi Celah Sempit di Antara Dua Kereta

Seekor kuda yang terlihat melarikan diri berlari kencang di samping sebuah kereta bergerak di Mesir. Ini membuat penumpang yang ada di dalam kereta tersebut melihat kengerian saat kuda tersebut berlari melalui celah sempit antara kereta yang mereka tumpangi dan kereta yang tengah parkir di rel yang berdekatan.

Baca juga: Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”

KabarPenumpang.com melansir dailymail.co.uk (11/1/2022), kuda berwarna putih itu terus berlari sepanjang rel dan penumpang berteriak dengan waspada. Dalam sebuah video, memperlihatkan beberapa penumpang menjulurkan kepala mereka keluar dari jendela untuk melihat kudi putih yang berlari menjauh kedepan.

Para penumpang itu kemudian berteriak dan memanggil kuda tersebut daat berlari menuju kereta yang tidak bergerak di rel yang berdekatan. Dari video, kuda itu berlari di celah sempit antar dua kereta.

Meski begitu, kuda itu lari melesat melalui celah sempit dan berhasil keluar tanpa cedera. Melihat hal tersebut, penumpang pun bersorak-sorai karena kuda selamat dan keluar dari celah tanpa adanya cedera.

Kuda putih itu tidak jelas datang dari mana dan setelah divideokan tidak ada kabar terbaru. Untuk diketahui, kereta tersebut melintas di tengah celah kereta yang melaju dari Asyut ke Sohag.

Pada tahun 2018, seorang polisi mencoba menepi seekor kuda yang melarikan diri sebelum akhirnya ‘ditahan’ oleh enam petugas di Florida. Rekaman menunjukkan hewan itu berlari kencang di sepanjang jalan raya yang sibuk setelah kabur dari paddocknya.

Secara total, enam petugas terlibat dalam menyelamatkan kuda, yang diamankan di Highway 19, rute utara-selatan yang menghubungkan Teluk Meksiko dengan Danau Erie. Di Inggris pada tahun 2019, rekaman aneh menunjukkan kuda-kuda yang melarikan diri berlari ke arah yang salah di jalan raya di luar Bradford di West Yorkshire.

Baca juga: [Video] Kuda Mini Masuk Kabin, Jadi ‘Penumpang’ Unik di Penerbangan American Airlines

Pengemudi terpaksa berbelok keluar dari jalan dan menarik ke bahu yang keras saat hewan-hewan itu melesat melewati jalur cepat. Polisi mengatakan kuda-kuda itu tersesat di kedua jalur M606.

Maksa Mendarat di Tengah Kabut Tebal, Antonov An-225 Mriya Alami Kerusakan

Pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya mengalami kerusakan ringan pada landing gear sebelah kanan setelah baut yang menahan sensor patah. Hal itu terjadi lantaran pesawat yang hanya ada satu di dunia tersebut mendarat di Bandara Rzeszow, Polandia, di tengah kabut tebal.

Baca juga: Hari Ini, 33 Tahun Lalu, Pesawat Kargo Terbesar di Dunia Antonov An-225 Mriya Terbang Perdana

Mendarat di tengah kabut tebal memang diperbolehkan seiring adanya teknologi Instrument Landing Systems (ILS). Meski begitu, pesawat tetap diimbau tak mengudara atau tak mendarat di tengah kabut tebal, utamanya saat pesawat tiba di bandara dimana pandangan pilot benar-benar tergantung dari kaca depan pesawat.

Dalam kondisi tersebut, pilot harus benar-benar jeli untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain yang berada di lintasan, seperti pesawat lain atau pun mobil caddy.

Pernyataan itu dipertegas oleh juru bicara National Air Traffic Services (Nats), Richard Wright. “Ini bukanlah masalah pengendali lalu lintas udara, namun lebih kepada masalah saat mereka menyentuh landas pacu,” ujar orang yang juga memantau lalu lintas udara di sekitaran Inggris.

“Pesawat-pesawat tersebut membutuhkan ruang lebih ketika mereka sudah berada di landas pacu agar menghindari benturan dengan kendaraan lain,” tambah Richard.

Richard mengatakan alangkah baiknya jika pihak pengelola bandara mengosongkan landas pacu dan mensterilkannya sebelum pesawat lain mendarat. Tentu ini merujuk pada low visibility procedures yang mengatakan setiap pesawat yang mendarat di suatu bandara harus dipisahkan satu sama lain sejauh enam mil atau setara dengan 9,7 meter.

Meski begitu, pendaratan Antonov An-225 Mriya beberapa hari lalu tetap berjalan dengan mulus tanpa insiden apapun, kecuali kerusakan pada landing gear-nya.

Dalam sebuah pernyataan, Antonov menjelaskan, “Pada 9 Januari 2022, saat pesawat AN-225 mendarat di Bandara Rzeszów, Polandia, pada penyangga roda pendarat utama kanan, baut yang menahan sensor posisi roda pendarat ‘flight-ground’ rusak.”

“Kerusakan yang terdeteksi tidak mempengaruhi keselamatan penerbangan dan pendaratan pesawat. Setelah penggantian baut yang rusak, pesawat akan beroperasi penuh. An-225 akan melanjutkan penerbangan komersialnya.”

Baca juga: Selain Antonov An-225 Mriya, Ilyushin Il-62 Pernah Jadi Pesawat Terbesar di Dunia Buatan Soviet

Dari data Radarbox.com, Antonov An-225 Mriya diketahui cukup sibuk belakangan ingin. Bulan Desember bahkan tercatat sebagai waktu tersibuknya sepanjang tahun 2021 dengan mencatat total 22 penerbangan dan 123 jam terbang.

Pesawat terbesar di dunia itu mengangkut kargo jumbo dari dan ke 16 kota di 16 negara, mulai dari Almaty, Tianjin, Istanbul, Leipzig, dan lain sebagainya.

Sering Dilihat Tapi Jarang Orang Tahu, Inilah Arti “Yellow Box Junction”

Saat melintasi beberapa persimpangan jalan yang ada di ibu kota DKI Jakarta, sebagai pengendara atau penumpang, pernahkah Anda melihat garis kuning persegi dan memiliki ukuran besar di aspal? Mungkin sebagian besar pengendara sudah banyak tahu tentang garis kuning persegi itu.

Baca juga: Yuk, Kenali Marka Batas Berhenti Kereta Api

Namun masih banyak juga yang belum paham maksud dari garis kuning tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, garis kuning tersebut adalah Yellow Box Junction. Ini adalah marka jalan yang bertujuan mencegah terjadinya kepadatan lalu lintas di jalur dan berakibat tersendatnya arus kendaraan di jalur lain yang tidak padat.

Selain itu Yellow Box Junction juga berfungsi mencegah arus lalu lintas persimpangan tidak terkunci saat kepadatan terjadi. Sehingga ketika arus lalu lintas padat, pengendara tidak akan menerobosnya saat lampu berwarna merah.

Bisa dikatakan, ini adalah garis pembatas yang tidak boleh dilintasi pengendara ketika antrean kendaraan di area persimpangan sedang padat. Peraturannya, walaupun lampu lalu lintas sudah hijau, pengguna jalan yang belum masuk Yellow Box Junction harus berhenti jika masih ada kendaraan lain di dalam area kotak kuning itu.

Mereka baru bisa maju jika kendaraan di dalam Yellow Box Junction sudah keluar. Bagi pengendara yang tetap memaksa memasukkan kendaraannya ke dalam Yellow Box Junction, padahal masih ada kendaraan lain di dalamnya, maka akan ditindak karena sama saja melanggar marka jalan.

Untuk memudahkannya melihat pelanggaran, pihak kepolisian memasang CCTV yang memantau langsung persimpangan dengan marak Yellow Box Junction. Bahkan Yellow Box Junction, secara hukum menjadi marka prioritas yang fungsinya paling diutamakan dibanding alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lainnya.

Ini tertulis dalam UU No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), tepatnya pada Pasal 103 ayat 3 yang berbunyi, “Dalam hal terjadi kondisi kemacetan lalu lintas yang tidak memungkinkan gerak kendaraan, fungsi marka kotak kuning harus diutamakan daripada Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas yang bersifat perintah atau larangan.”

Baca juga: Flash Mobile, Marka Lalu Lintas Untuk Pengemudi Yang Mencoba Berponsel di Jalan Raya

Jika melanggar marka ini, pengguna jalan akan dikenai sanksi sebagaimana tertulis dalam undang-undang yang sama Pasal 287 ayat 2. Sanksi pelanggaran tersebut adalah pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu.

Bersaing Memikat Calon Penumpang, Modifikasi Pada Bus AKAP Jadi Kebutuhan

Melihat bus saat ini tentu berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Terlebih bus antar kota antar provinsi yang selalu dinamis mengikuti tren yang ada. Membicarakan variasi atau modifikasi dalam bus malam antar kota, tentu hal ini juga mengalami perubahan dari masa ke masa. Mungkin beberapa tahun yang lalu anda melihat bus hanya melakukan variasi sederhana seperti sticker di kaca depan dan itupun tidak banyak.

Baca juga: Ini Ternyata Kerjaan Admin Media Sosial Perusahaan Otobus

Semakin kesini, variasi atau modifikasi pada bus malam antar kota semakin beragam. Tren yang ada biasanya langsung ramai-ramai diikuti oleh perusahaan bus lainnya. Mereka biasanya tidak mau ketinggalan momen yang sedang ngetren di kalangan bus malam antar kota. Para kru pun memiliki kreatifitas masing-masing dalam hal melakukan variasi atau modifikasi pada armada bawaan mereka.

Mulai dari tren lampu kolong, lampu strobo bisa dibilang panjang umur sampai saat ini. Meskipun untuk penggunaan strobo sebenarnya dilarang dan dikatakan melanggar hukum, nyatanya semakin banyak armada bus yang mengikuti tren pemasangan strobo.

Dalam hal ini, biasanya kru mengeluarkan biaya pribadi untuk mempercantik armada busnya. Tentu modifikasi bus malam antar kota menelan biaya yang tidak sedikit. Para kru merogoh kocek pribadi dalam-dalam agar armada bus yang mereka kendarai menarik mata pengguna jalan lain.

Ketika malam tiba, armada bus yang mereka kendarai merupa warna-warni lampu di tengah kegelapan. Hal ini tentu mengundang perhatian banyak pengguna jalan lainnya. Banyak pengguna jalan yang menikmati tren modifikasi ala bus malam antar kota ini, terlebih jika modifikasi dilakukan di bagian lampu.

Gemerlap lampu pada body bus malam antar kota memang sedang menjadi tren modifikasi saat ini, tapi beberapa perusahaan otobus ada yang tidak mengijinkan kru untuk melakukan modifikasi yang berlebihan pada armada bus. Hal ini semata-mata untuk menjaga citra perusahaan di jalan raya. Selain itu, meski digemari kebanyakan penumpang bus masa kini, tren modifikasi termasuk modifikasi lampu pada bus malam antar kota, beberapa justru ada yang membahayakan pengguna jalan lain.

Ada saja beberapa bus yang memasang lampu di bagian belakang bus. Tentunya ini sangat berbahaya bagi pengguna jalan lain, terlebih yang ada di belakang bus tersebut. Ada juga yang memasang lampu strobo dengan jumlah yang banyak pada kaca depan armada bus. Padahal hal ini justru bisa mengganggu konsentrasi pengemudi dan juga pengendara yang berpapasan dengan bus dengan modifikasi seperti ini.

Baca juga: Bukan Nama Wanita, Rosalia Indah Kondang Sebagai Perusahaan Otobus

Memang, pada akhirnya variasi atau modifikasi bus malam antar kota tidak bisa dihindari, dimana semua bertujuan untuk menarik minat penumpang bus. Tapi, di satu sisi, modifikasi yang dilakukan seharusnya memang cukup sewajarnya saja dan tidak berlebihan. Jadi, bisa tetap menarik minat penumpang, menjadi perhatian di jalan raya dan tentunya tanpa mengganggu pengendara lainnya. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)