Bagaimana Cara Mendirikan Maskapai Baru Sampai Berhasil? Ini Jawabannya

Sejak virus Corona diumumkan WHO menjadi pandemi global pada Maret 2020, tercatat sudah ada 9 maskapai baru yang lahir di berbagai negara. Menariknya, di saat yang bersamaan, ada kurang lebih 40 maskapai bangkrut lantaran permintaan penerbangan menurun.

Baca juga: 9 Maskapai Baru yang Lahir Selama Pandemi Covid-19, Dari Negara Mana Saja?

Sedang di masa normal saja mendirikan maskapai tidak mudah, apalagi di masa-masa seperti sekarang ini. Terlepas dari itu, sebetulnya, bagaimana langkah-langkah atau cara mendirikan maskapai baru agar sukses dan bertahan lama di pasar? Dilansir laman resmi Boeing, setidaknya ada enam langkah utama dalam memulai bisnis maskapai baru. Berikut ulasannya.

1. Analisis Pasar

Secara teori, mustahil mendirikan maskapai baru tanpa ada ceruk bisnis yang bisa diraup. Karenanya, sebelum memulai, pengusaha harus mengalisis pasar penerbangan komersial dan dalam negeri terlebih dahulu. Bila dirinci lebih jauh, analisis pasar di sini bisa berarti tiga; prospek pasar penerbangan komersial, prospek kargo udara, dan prospek pasar keuangan pesawat saat ini.

Oasis HongKong mungkin jadi salah satu contoh maskapai baru yang menganilisis pasar dengan sangat baik. Alhasil, maskapai ini hanya bertahan tiga tahun atau beroperasi tahun 2005 dan stop operasi pada tahun 2008.

2. Operating environment

Sebagai maskapai baru, penting untuk memulai segalanya dalam kerangka peraturan, standar, dan pedoman; termasuk informasi dasar tentang beberapa perjanjian dan program internasional yang pada akhirnya membentuk operating environment for commercial aviation.

3. Business plan

Setelah menganalisis pasar dan mempelajari operating environment, langkah mendirikan maskapai baru selanjutnya adalah membuat business plan. Ini mencakup banyak hal, mulai dari analisis pasar dan kompetisi, brand, peluang dan tantangan, detail operasi, membentuk manajemen, analisis risiko dan kendala, proyeksi keuangan, kapitalisasi plan, pengembangan brand, dan strategi implementasi.

Tak lupa, ditahap ini, calon maskapai baru juga sudah harus memiliki gambaran dari mana sumber keuangan mereka berasal dan seberapa besar jumlahnya.

JetBlue, misalnya, didirikan di saat yang tepat dengan modal yang sangat besar. Maskapai didirikan pada Agustus 1998 dengan sumber dana dari George Soros, elite global yang keuangan tak berseri. Sebelum diluncurkan pada tahun 2000, FAA setidaknya menyetujui berdirinya 17 maskapai baru meski dengan dana yang lebih sedikit.

4. Pemilihan pesawat

Setelah tiga di atas, calon maskapai baru seharusnya sudah memiliki target dan gambaran, pasar seperti apa yang akan dicoba dimaksimalkan. Ini pada akhirnya berpengaruh dengan pesawat jenis dan tipe mana yang akan dioperasikan. Selain itu, dalam memilih pesawat juga ada triknya.

Baca juga: Ini yang Dilakukan Maskapai Saat Terima Pesawat Baru

5. Sumber pesawat

Membeli pesawat baru sudah pasti sangat mahal. Andai calon maskapai baru memiliki dana terbatas, membeli atau menyewa pesawat dengan biaya sendiri pastinya akan menguras cost yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk memperkuat bisnis.

Karena itu, dalam memilih pesawat, perlu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, mulai dari pembiayaan, price list pesawat baru, sewa pesawat baru atau bekas, tarif sewa pesawat, sampai pesawat bekas yang disewa ke pihak ketiga.

6. Mengoperasikan maskapai baru

Dengan modal Air Operator Certificate (AOC) yang sudah dikantongi maskapai dan turunannya serta berbagai operatinf license lainnya, maskapai baru siap memulai debut.

7x Seminggu, Lion Air Buka Penerbangan ke Jayapura dari Makassar dan Biak Numfor

Ada kabar anyar dari Lion Air, yaitu per 5 Desember 2021 maskapai terbesar di Indonesia itu telah membuka dan melayani penerbangan berjadwal di rute dan destinasi baru dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan ke Kabupaten Biak Numfor melalui Bandar Udara Internasional Frans Kaisiepo, Papua. Penerbangan dilanjutkan menuju Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura, Papua.

Baca juga: Ikut Berikan Promo Tarif, Lion Air Punya Rute Penerbangan Langsung ke Jayapura dari Jakarta

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, disebutkan untuk tahap awal, Lion Air berencana mengoperasikan layanan penerbangan regular harian, frekuensi 7 (tujuh) kali dalam sepekan, atau satu kali setiap hari. Pada penerbangan perdana, Lion Air mengoperasikan pesawat dengan jenis Boeing 737-800NG dengan kapasitas penumpang 189 kursi kelas ekonomi.

Pihak Lion menyebut, Boeing 737-800 telah dilengkapi kabin Boeing Sky Interior. Memiliki kesan lebih lapang dan dinamis dengan penataan lampu Light -Emitting Diode (LED) pada interior kabin dan lampu baca. Selain itu, pesawat jenis ini memiliki tingkat kebisingan yang rendah. Seluruh armada Lion Air dilengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter atau penyaringan partikel yang kuat. HEPA filter membantu menjaga kebersihan udara di kabin dan menyaring lebih dari 99,9 persen jenis virus, kuman, serangga dan bakteri. Udara di dalam kabin pesawat diperbarui setiap 2-3 menit, sehingga lebih segar. Siklus udara dari toilet (lavatory) dan dapur (galley) langsung dialirkan ke luar pesawat.

Pada jadwal penerbangan perdana ini, setibanya Lion Air JT-3798 di Bandar Udara Internasional Frans Kaisepo, dilakukan tanda penda pendaratan dengan penyemprotan pada badan pesawat (water salute). Para penumpang disambut oleh Bupati Kabupaten Biak Numfor Herry Ario Naap berikut Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Baca juga: Setelah Batik Air, Giliran Lion Air Pastikan Semua Armadanya Telah HEPA Ready

Dari Biak, penerbangan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Sentani (DJJ). Setibanya Lion Air JT-3798 di Bandar Udara Sentani, pada badan pesawat dilakukan penyemprotan sebagai bentuk simbolisasi rute perdana ini.






















Hari Ini, 64 Tahun Lalu, Lockheed L-188 Electra Sang ‘Maut’ Andalan Garuda Indonesia Terbang Perdana

Pada hari ini, 64 tahun lalu, bertepatan dengan 6 Desember 1957, Lockheed L-188 Electra sukses melakukan penerbangan perdana. Sayangnya, produksi pesawat turboprop sayap rendah yang dibuat oleh Lockheed Corporation ini harus dihentikan lantaran dua kecelakaan beruntun dalam tempo tujuh bulan. Hal itu pun menjadi sekaligus menjadi pertanda redupnya pesawat yang pernah menjadi andalan Garuda Indonesia itu.

Baca juga: Ada Convair 990 Garuda Indonesia (Juga) dalam Komik Tintin

Dikutip dari airliners.net, proses pengembangan pesawat paling populer di dunia ini dimulai sejak tahun 1951. Saat itu, Lockheed didatangi Capital Airlines untuk mengembangkan sebuah pesawat turboprop baru yang diberi nama YC-130. Namun, maskapai lain tidak berminat. Alhasil, proyek tersebut dibatalkan.

Hal serupa kemudian kembali terulang pada 1954 saat American Airlines datang dan meminta pengembangan pesawat twin jet dengan spesifikasi tertentu. Meski sempat bergairah, proyek itu kemudian redup dan digantikan dengan desain lain yang juga diminati oleh banyak maskapai.

Desain itu kemudian dikenal sebagai Model 188 yang pada akhirnya berhasil terbang perdana pada tanggal tersebut sebagai Model 188A. Di sini, disebutkan, Lockheed sudah berhasil mendapat 129 unit. Karenanya, Lockheed L-188 Electra sempat digadang bakal memiliki masa depan yang cerah.

Usai penerbangan perdana selesai, Lockheed baru bisa mendapat sertifikasi penerbangan oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) setahun setelahnya dan baru bisa mengirim pesawat ke maskapai Eastern Airlines pada 8 Oktober 1958.

Sejak pengiriman pertama ke maskapai, pesanan terus membanjiri Lockheed sampai akhirnya kecelakaan perdana terjadi pada 29 September 1959. Saat itu, Lockheed L-188 Electra Braniff Airways dengan nomor penerbangan 542, jatuh saat dalam perjalanan antara Houston dan Dallas.

Pasca kecelakaan yang menewaskan 34 orang itu, pesanan tetap datang namun dengan ritme agak slow. Petaka datang tujuh bulan kemudian, ketika Lockheed L-188 Electra Northwest Orient fligh 710 mengalami kecelakaan pada 17 Maret 1960 saat menempuh rute Chicago – Miami dan menewaskan seluruh penumpang serta kru (63 orang).

Sejak kecelakaan tersebut, Lockheed sama sekali tak mendapat pesanan pesawat Lockheed L-188 Electra. Saking sepinya pesanan, perusahaan akhirnya menyetop produksi pesawat diangka 170 unit setahun setelahnya atau pada 1961.

Meski sudah mendapat akar permasalahan atas dua kecelakaan itu, dimana, menurut ahli dari NASA, kecelakaan terjadi akibat kegagalan desain serta mesin, Lockheed L-188 Electra tetap tidak dilirik maskapai. Justru, enam tahun berikutnya, Lockheed L-188 Electra semakin membuat dunia takut dengan serangkaian kecelakaan yang melibatkan banyak maskapai di dunia, termasuk kecelakaan Garuda Indonesia Airways flight (penerbangan) 708 pada 16 Februari 1967.

Saat itu, Lockheed L-188 Electra Garuda Indonesia Airways kecelakaan saat melakukan pendaratan di Manado, Sulawesi Utara dan mengakibatkan 22 dari 84 penumpangnya tewas.

Lockheed L-188 Electra diproduksi dalam enam versi, yakni L-188A, L-188AF (All Freight version), L-188PF (Passenger-Freight version), L-188C versi jarak jauh, L-188CF versi tak resmi kargo, dan YP-3A Orion versi uji coba yang pada akhirnya gagal.

Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956

Secara umum, spesifikasi pesawat punya kecepatan maksimal sampai 721 km per jam, jarak tempuh 3.450 km, serta kecepatan jelajah sampai 620 km per jam. Selain itu, pesawat dengan bentang sayap 30 m ini memakai empat mesin turboprop Allison T56.






















Seoul Luncurkan Layanan Taksi Otonom, Gratis Hingga Akhir Tahun Ini

Seoul di Korea Selatan baru saja meluncurkan layanan mobil komersial tanpa pengemudi pada Senin (29/11/2021). Ini adalah langkah pertama dalam rencana ambisius untuk membawa kendaraan otonom ke dalam kehidupan sehari-hari selama lima tahun ke depan. Peluncuran mobil otonom ini dilakukan walikota Seoul Oh Se-hoon di lingkungan barat Sangam-dong. Saat itu ada tiga sedan (taksi) otonom yang diluncurkan. Oh Se-hoon mengatakan, mengemudi secara otonom bukan lagi teknologi masa depan.

Baca juga: FedEx Gandeng Nuro, Kirim Paket dengan Kendaraan Otonom

“Itu sudah ada di sini bersama kami. Hari ini, kendaraan swakemudi umum sudah mulai melayani warga kami,” ujar Oh yang dikutip KabarPenumpang.com dari upi.com (29/11/2021).

Ketiga sedan tersebut akan membawa penumpang pada rute dengan luas sekitar 2,3 mil persegi, meliputi stasiun kereta bawah tanah yang sibuk, kompleks apartemen dan gedung perkantoran. Kota itu mengatakan akan menambah armada dengan tiga kendaraan lagi, termasuk bus, pada akhir Desember ini. Untuk mendapatkan kendaraan otonom ini, pengguna bisa menggunakan aplikasi khusus dan tidak akan dikenakan biaya selama bulan pertama layanan.

Nantinya pada Januari 2022, tarif akan mulai dikenakan, tetapi harga belum ditetapkan. Namun pejabat mengatakan biayanya tidak lebih dari $1 untuk bus dan $2,50 untuk naik mobil. Kendaraan tersebut dioperasikan oleh dua perusahaan swasta, 42dot dan SWM, di bawah lisensi dari pemerintah kota.

Pada tahun 2022, Pemerintah Seoul berencana untuk mulai memperluas layanan ke bagian lain kota, membawa taksi robot yang sepenuhnya otomatis ke Gangnam pada awal tahun dan menjalankan bus tanpa pengemudi di pusat kota pada bulan April. Kemudian tahun 2026, Seoul akan memiliki lebih dari 300 kendaraan otonom di jalan, dengan biaya $125 juta.

Walikota Oh menjadi penumpang pertama dari layanan self-driving baru pada hari Senin, menempuh perjalanan sejauh 1,8 mil melalui area di Sangam-dong yang dikenal sebagai Digital Media City, di mana beberapa penyiar dan perusahaan IT berada. Setelah itu, dia mengatakan kepada wartawan bahwa dia tidak melihat perbedaan besar dari perjalanan mobil biasa.

“Saya sedikit cemas pada awalnya. kendaraan mulai perlahan, dan ketika berhenti, saya merasa seperti berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh pengemudi yang sangat terampil. Sangat menyenangkan untuk memulai eksperimen seperti itu di tengah kota Seoul,” kata Oh.

Penonton mengatakan mereka tertarik untuk mencoba kendaraan baru untuk diri mereka sendiri.

“Saya sangat ingin tahu. Saya ingin belajar lebih banyak tentang teknologinya terlebih dahulu, tetapi saya pikir saya akan mencobanya jika ada kesempatan,” kata Lee Kwang-su, 65 tahun.

Walikota mengatakan bahwa data dan pengalaman dari proyek percontohan ini akan sangat berharga karena Seoul ingin menjadi salah satu kota teratas dunia untuk mengemudi otonom. Untuk diketahui, Seoul bukanlah kota pertama yang mengkomersialkan layanan tanpa pengemudi, sebab sudah ada proyek yang sedang berlangsung di tempat lain termasuk layanan ride hailing Waymo One Google di pinggiran Phoenix dan layanan robotaxi Baidu di Beijing.

Tetapi Korea Selatan memiliki pandangan untuk menjadi pemimpin global di seluruh industri mobilitas masa depan, dari kendaraan bertenaga listrik dan hidrogen hingga mobil terbang hingga mengemudi secara otonom. Sektor swasta Korea Selatan juga menghabiskan banyak uang untuk mobilitas masa depan, dengan investasi sekitar $50 miliar untuk dekade berikutnya.

Baca juga: Korea Selatan Berencana Luncurkan Taksi Terbang di 2025

Pada hari Senin lalu, pembuat mobil Hyundai memamerkan beberapa kendaraan konsep otonomnya sendiri dan mensponsori kompetisi mengemudi sendiri untuk tim universitas Korea dengan pemerintah Seoul.






















Melbourne Kini Punya Restoran Trem Keliling

Paul O’Brien, adalah pemilik Colonial Tramcar Restaurant yang ingin menghidupkan kembali trem kelas W yang berusia 70 tahun di Melbourne, Australia. Untuk hal ini pun dirinya telah menyelesaikan tindakan yang diambil perusahaannya terhadap Yarra Trans.

Baca juga: Coastal Tram – Jalur Trem Terpanjang di Dunia Sepanjang 67 Km

Meski pada 2018 pihak berwenang telah menarik layanan terakhirnya karena tidak memenuhi standar keselamatan modern, tetapi O’Brien mengatakan telah mempertahankan kontraknya untuk tetap menjalankan restoran trem keliling. Di mana restoran ini telah membaw pengunjung melewati pinggiran Melbourne selama lebih dari 30 tahun.

Restoran trem ini bahkan telah melayani sekitar 70 ribu pelanggan per tahun yang mana 50 persen di antaranya adalah pelancong luar negeri. KabarPenumpang.com melansir theage.com.au (23/11/2021), tetapi trem yang digunakan untuk restoran miliknya, dibangun antara tahun 1947 dan 1950 dan sekarang sudah tidak terpakai serta tidak dapat digunakan kembali. Dia mengaku ini mengecewakan tetapi dia tetap membuka pintu untuk melanjutkan layanan.

“Kami harus membangun trem baru, dan itulah masalahnya karena harganya sangat mahal dan kelayakan finansialnya tampaknya tidak menumpuk. Tapi itu tidak bisa dibayangkan,” ungkap O’Brien.

Meski tersandung masalah trem tua, O’Brien mengatakan ada kemungkinan restoran dapat menggunakan trem Kelas W8 yang dimodernisasi namun terlihat vintage, seperti yang saat ini digunakan pada rute City Circle di sekitar Melbourne CBD.

Adanya hal ini, Yarra Trams menolak berkomentar tentang masa depan restoran keliling, tetapi mengatakan keselamatan karyawan dan penumpangnya adalah prioritas utamanya. Seorang juru bicara Departemen Transportasi mengatakan pemerintah negara bagian sebelumnya telah menawarkan untuk menyediakan satu trem, ditingkatkan untuk memenuhi standar keamanan modern, untuk restoran fitout, tetapi pemilik restoran tidak menerima tawaran itu.

Tetapi O’Brien mengatakan menjalankan hanya satu trem tidak akan layak dan layanan tersebut membutuhkan setidaknya dua. Dia mengatakan Restoran Trem Kolonial telah menyelesaikan masalah hukum dengan Trem Yarra. Tram Kolonial telah mengambil tindakan karena tidak dapat menjalankan bisnisnya setelah trem dipindahkan.

Felicia Mariani, CEO Dewan Industri Pariwisata Victoria, mengatakan bahwa dia akan senang jika trem restoran kembali ke Melbourne. Mariani meminta pemerintah negara bagian untuk mempertimbangkan membuat versi Melbourne dari dana investasi pariwisata regional yang baru-baru ini diumumkan.

Untuk diketahui, versi regional akan mendistribusikan hibah hingga $10 juta per proyek untuk mendukung proyek infrastruktur pariwisata yang baru dan inovatif. Di antara banyak proyek Melbourne lainnya, pendanaan semacam itu dapat membantu membiayai kebangkitan trem restoran. Mariani mengatakan trem restoran adalah institusi Melbourne, dan itu sangat memilukan dan pukulan yang menghancurkan ketika mereka dimatikan.

“Jelas mereka menarik bagi pengunjung karena itu adalah cara yang unik untuk memiliki pengalaman bersantap di kota,” katanya. Dia mengatakan khusus untuk turis internasional, “itu dilihat sebagai malam yang sangat istimewa”.

Baca juga: Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi

Mariani mengatakan penting, muncul dari dua tahun pandemi, “untuk memiliki jenis pengalaman mendalam yang menarik pengunjung kembali ke kota kami,” kata Mariani.

British Airways Flight 9, Guratan Kelam Dunia Aviasi Akibat Abu Vulkanik

Sebagai bagian dari himpunan 129 gunung berapi di Indonesia, Gunung Galunggung pernah membuat maskapai British Airways Penerbangan 9 hampir mengalami kecelakaan. Pesawat yang bertolak dari Bandara Internasional Heathrow, London menuju Auckland tersebut mengalami kerusakan pada bagian mesinnya yang mengakibatkan keempat penggerak pesawat Boeing 747 mati total. Diketahui, pesawat tersebut menerobos awan abu letusan gunung Galunggung, 35 tahun silam.

Baca Juga: Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan

Setelah “tertidur” selama kurang lebih 63 tahun, Gunung di Tasikmalaya, Jawa Barat, itu mulai meletus kembali pada 5 Mei 1982. Letusan berupa dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.

Kala itu, pilot Eric Moody yang tengah membawa 263 penumpang tidak mengetahui bahwa Gunung Galunggung baru saja meletus. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman CNN (16/4/2010), Eric sontak kaget ketika mengetahui bahwa empat mesin pesawat yang tengah ia kendalikan tersebut tidak berfungsi, tepatnya ketika pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Ketika mengetahui insiden tersebut, pesawat tengah berada di ketinggian 36.000 kaki atau setara dengan 11.000 meter.

Tanpa berpikir panjang, Eric dan asistennya kemudian mengambil keputusan untuk segera melandaskan pesawat di bandara terdekat. Anehnya lagi, kru darat tidak mengetahui bahwa mesin pesawat tersebut mati. Namun, masalah belumlah usai, mereka berdua tidak bisa melihat pemandangan di luar lewat kaca depan dan sebagian dari panel elektronik untuk membantu pendaratan darurat tidak jalan. Sebagai kapten penerbangan, Eric berusaha untuk tetap tenang dalam mengendalikan pesawat mati tersebut.

Eric Moody (tengah). Sumber: airlineratings.com

Untungnya, ketika pesawat dengan nomor registrasi G-BDXH tersebut menyentuh ketinggian 13.000 kaki, tiga dari empat mesin kembali menyala, sehingga pesawat tersebut bisa melakukan pendaratan darurat di Jakarta, karena Eric mengaku, kota terdekat dari posisi pesawat adalah Jakarta. Terbayang bagaimana mencekamnya suasana di kabin kala itu. Sebuah pengalaman yang amat sayang untuk dilupakan oleh seluruh penumpang serta awak kapal. Maka dari itu, para penumpang penerbangan tersebut membentuk Galunggung Gliding Club, agar mereka bisa terus berkomunikasi satu sama lain.

Secara geografis, Indonesia dikenal sebagai lokasi yang dikelilingi oleh gunung berapi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ring of Fire. Ini tentu bukan kabar baik bagi dunia aviasi, bercermin pada kejadian yang menimpa British Airways pada tahun 1982 tersebut. Dilansir dari sumber lain, pada 9 November 2010 silam, Kementerian ESDM, Badan Geologi, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menandatangani nota Kesepakatan Bersama Pelayanan Informasi Awan Abu Vulkanik (Volcanic Ash Cloud) untuk Kegiatan Penerbangan.

Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Memorandum of Undestanding (MoU) ini merupakan upaya pemenuhan terhadap Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, serta rekomendasi International Civil Aviation Organization (ICAO), Universal Safety Oversight Audit Program (USOAP), serta implementasi dari Peraturan Menteri Nomor KM 52 Tahun 2010 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 174 tentang Pelayanan lnformasi Meteorologi Penerbangan yang telah ditandangani tanggal 14 September 2010.

Adapun tujuan lain dari MoU ini adalah sebagai bentuk kerjasama dalam pelayanan informasi awan abu vulkanik untuk kegiatan penerbangan guna mewujudkan keselamatan penerbangan dan untuk meminimalkan dampak awan abu vulkanik di atmosfer terhadap keselamatan penerbangan. Ruang lingkup Kesepakatan Bersama ini meliputi informasi perubahan aktivitas vulkanik sebelum letusan (pre-eruption) dan informasi kejadian letusan. Selanjutnya, alur pelayanan informasi awan abu vulkanik untuk kegiatan penerbangan ini dikirim oleh Badan Geologi.

Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan

Satu-satunya alasan mengapa pesawat selalu menghindari area yang terselimuti abu vulkanik adalah karena partikel berukuran mirko tersebut dapat merusak fungsi baling-balin dan bagian mesin lainnya. Dikhawatirkan, mesin akan mengalami masalah hingga kemungkinan paling buruknya adalah mesin gagal beroperasi yang bisa saja menyebabkan sebuah pesawat mengalami kecelakaan.

Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Kasus seperti ini pernah menimpa salah satu maskapai British Airways Boeing 747 pada tahun 1982 silam. Pesawat dengan rute penerbangan London menuju Auckland tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma setelah keempat mesin dari maskapai tersebut tidak berfungsi. Untungnya, kejadian menegangkan tersebut tidak menelan korban jiwa maupun korban luka.

Tidak hanya merusak bagian mesin, seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com, abu vulkanik juga bisa menutupi bagian kaca depan kokpit, menyelimuti badan pesawat dan lampu penerbangan, serta membuat massa pesawat menjadi semakin berat. Tidak hanya selama pesawat mengudara, ternyata kehadiran abu vulkanik di landas pacu pun akan memicu hal serupa, yaitu kemungkinan abu akan menyelinap masuk ke dalam bagian mesin.

Namun dilansir dari sumber, pesawat yang akan take-off maupun landing akan menerbangkan abu-abu tersebut ke angkasa dan dikhawatirkan akan mengurangi jarak pandang. Nantinya, abu-abu tersebut akan terlempar ke udara di ketinggian 6km hingga 11 km, dimana pada ketinggian tersebut biasanya pesawat mengudara. Dampak lainnya adalah kawasan bandara akan menjadi kotor, serta udara disekitarnya pun menjadi tidak sehat.

Baca Juga: Pengamat Menjawab 6 Permasalahan Antara Penumpang dan Maskapai Penerbangan

Satu masalah lain adalah bentuk fisik dari abus tersebut, dimana mereka sangatlah halus, dengan diameter kurang dari 2 mm. Itu menandakan abu-abu tersebut mudah sekali terbawa angin. Abu-abu ini seolah berdansa di udara dan terbang ke sana ke mari tergantung arah angin yang membawa mereka. Tidak hanya ditentukan oleh angin, ketinggian dari abu ini juga ditentukan oleh asal mula mereka, yaitu letusan gunung berapi. Abu-abu ini akan sering terlempar tinggi hingga mencapai ketinggian dari lalu lintas udara. Jadi akan semakin berisiko untuk sebuah pesawat melintasi daerah yang terselimuti oleh abu vulkanik.

Ketakutan akan abu vulkanik yang menimpa dunia aviasi memaksa Inggris melakukan pembersihan udaa dari siang hari hingga pukul 18.00 waktu setempat. Tentu saja ini merupakan bentuk tindakan pencegahan, yang bisa dibilang tidak masuk akal. Sekali abu masuk ke dalam mesin, maka mereka akan terkurung dalam waktu yang lama di dalam sana. Untuk membongkar bagian mesin pun bukan merupakan jawaban. Karena ukurannya yang sangat kecil dan halus, pihak maskapai akan sulit untuk membersihkannya, sekalipun bagian mesin sudah dibongkar.

Baca Juga: Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia

Menurut data yang dilansir dari laman sumber, secara keseluruhan sudah lebih dari 60 pesawat telah dihapusbukukan karena kerusakan yang ditimbulkan oleh abu. Karena hal sekecil abu bisa membawa dampak yang sangat besar, dunia aviasi sendiri terbagi menjadi sembilan wilayah, dimana masing-masing wilayah memiliki pusat penasihat abu vulkaniknya sendiri-sendiri. Mereka akan memberikan informasi mengenai eksistensi abu di udara, dan memberi himbauan jika kondisinya tidak memungkinkan untuk sebuah pesawat mengudara.

Perancis Akhirnya Izinkan Kendaraan Otonom Beroperasi

Sebuah perusahaan startup Perancis EasyMile telah menguji dan mengembangkan kendaraan otonom di berbagai lokasi di seluruh dunia. Bahkan kini menambah hal baru bagi perusahaan startup itu karena menjadi kendaraan pertama yang diizinkan untuk beroperasi tanpa pengemudi di jalanan umum Perancis.

Baca jug: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (28/11/2021), sejak pertama kali muncul kembali pada tahun 2015 dengan penggerak orang EZ10 box-on-wheels, telah melihat EasyMile menguji kendaraannya dalam uji coba di lebih dari 30 negara di seluruh dunia, banyak di antaranya tidak menampilkan manusia di dalamnya tetapi diawasi oleh operator jarak jauh.

Ini termasuk pengujian di Singapura, AS, Finlandia dan Australia, karena perusahaan berupaya memposisikan kendaraannya sebagai solusi transportasi otonom untuk kampus swasta, pabrik, bandara dan komunitas terencana. Versi terbaru EZ10 memiliki kapasitas untuk 15 orang, dengan tempat duduk empuk dan sabuk pengaman, sementara perusahaan juga baru-baru ini menambahkan ramp otomatis dan titik jangkar kursi roda untuk penumpang penyandang disabilitas.

Ini juga baru-baru ini meningkatkan suite sensor EZ10, dan bekerja sama dengan startup Jerman Sono Motors untuk mengintegrasikan sel surya dan memperluas jangkauan kendaraan. EasyMile telah menguji coba layanan antar-jemput tanpa pengemudi di kampus medis Oncopole di Toulouse, Prancis, yang beroperasi di antara pintu masuk utama dan tempat parkir sejauh 600 meter (2.000 kaki) di sepanjang rute lalu lintas campuran yang digunakan bersama dengan sepeda, pejalan kaki, mobil dan bus.

Setelah membuktikan keamanan dan keandalan layanan, perusahaan tersebut kini menjadi yang pertama di Eropa yang menerima otorisasi untuk otonomi Level 4 di jalan umum, yang diturunkan oleh pemerintah Prancis. Ini adalah otomatisasi tingkat tinggi yang memungkinkan kendaraan beroperasi tanpa manusia di dalamnya, dan persetujuan tersebut menjadikan jumlah total penerapan Level 4 EasyMile di seluruh dunia menjadi tujuh. Peraturan membuka jalan bagi kendaraan otonom untuk mulai beroperasi di jalan umum di Prancis pada September 2022.

Baca juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

“Ini merupakan langkah penting menuju komersialisasi nyata dari kendaraan otonom, baik di situs pribadi besar, maupun di jalan umum. Aplikasi untuk teknologi kami untuk memindahkan orang dan barang terus berkembang, terutama di lokasi seperti kampus, taman bisnis, lokasi industri, dan komunitas masterplan. Saya bersemangat tentang masa depan karena semakin banyak yang mengadopsi transportasi bersama yang cerdas,” kata General Manager EasyMile Benoit Perrin.

Ironi Pesawat Combi, Sempat Diandalkan Kini Ditinggalkan

Di awal tahun ini, Boeing begitu sumringah lantaran varian kargo, 737-800BCF (Boeing Converted Freighter) laris dipasaran. Begitu juga dengan perusahaan konveter, kebanjiran job konversi pesawat penumpang ke konsep Passenger-to-FlexCombi atau pesawat Combi.

Baca juga: Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

Meski trennya sempat meningkat di awal pandemi sampai kuartal I 2021, tetapi lambat laun pesawat Combi mulai benar-benar ditinggalkan. Pertanyaannya, mengapa?

Pesawat Combi sendiri adalah pesawat yang penggunaan kabinnya fleksibel untuk memuat penumpang dan kargo.

Biasanya, pesawat Combi ini memiliki tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, misalnya pada pesawat Boeing 737-700, pesawat Combi menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet.

Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.

Di masa-masa awal pandemi Covid-19, mayoritas perbatasan internasional tutup. Tidak ada penerbangan penumpang. Namun, kebutuhan peralatan dan perlengkapan medis justru meningkat di seluruh dunia, mendorong pesawat-pesawat keluar masuk satu negara ke negara lain untuk menjemput dan mengirim itu.

Saking tingginya permintaan perlengkapan dan peralatan medis, dan di saat yang bersamaan permintaan penerbangan penumpang jatuh ke titik terdalam, berbagai maskapai di dunia memenuhi kabin penumpang dengan kargo meski kursi-kursi belum dicopot alias masih dalam konfigurasi penumpang.

Sejak saat itu, berbagai maskapai mulai mengubah konfigurasi pesawat mereka menjadi pesawat Combi, semata untuk memaksimalkan pengangkutan kargo dan penumpang di kabin utama dalam sekali jalan.

Pesawat Combi rata-rata diisi oleh pesawat-pesawat Boeing; Boeing 747, Boeing 727, 737, dan 757. Pabrikan lain juga punya varian Combi, sebut saja ATR 42 Combi.

Menurut data ch-aviation.com, sejak tahun 2013, permintaan pesawat Combi terus menurun sampai tahun ini.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Namun yang utama adalah masalah usia pesawat itu sendiri. Boeing 747, 727, dan 757 adalah deretan pesawat terpopuler puluhan tahun lalu. Tetapi sekarang tidak.

Baca juga: Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!

Dari segi performa atau efisiensi, pesawat itu juga sudah tak begitu mendukung, sehingga wajar bila maskapai mulai meninggalkan pesawat-pesawat tua dan menggantinya dengan pesawat baru yang lebih canggih dan efisien.

Meski begitu, terkhusus untuk pesawat Combi Boeing 737, itu masih dapat diandalkan sampai saat ini.

Kereta Cepat Cina Resmi Terhubung dengan Laos, Selanjutnya Singapura

Pejabat Cina dan Laos meresmikan kereta cepat yang menghubungkan kedua negara pada hari ini, lima tahun sejak kontruksi pertama dimulai pada Desember 2016. Proyek senilai US$5,9 miliar atau sekitar Rp85 triliun (kurs 14.430) tersebut nantinya akan tersambung melewati Thailand, Malaysia, sampai Singapura, dengan tujuan akhir pelabuhan ekspor-impor Singapura yang sangat sibuk.

Baca juga: Desember 2021, Laos dan Cina Akan Terhubung dengan Jalur Kereta Api

Proyek yang merupakan bagian dari Belt and Road Initiative (BRI) Cina ini membentang sepanjang 414 kilometer, menghubungkan desa-desa tertinggal Cina di provinsi Yunnan, dengan ibu kota Laos Vientiane, melintasi 167 jembatan dan 75 terowongan. Cina memang sudah menyiapkan Yunnan sebagai garda terdepan hub pertukarang barang dari jalur ini.

Dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer, kereta cepat Cina-Laos diharapkan dapat mendongkrak perdagangan dan pariwisata antar kedua negara dan beberapa negara lainnya yang kelak tersambung dengan kereta api cepat Cina.

Sebelumnya, perjalanan darat antara dua wilayah tersebut bisa memakan waktu hingga lima jam. Dengan adaya kereta cepat Cina-Laos ini, itu berkurang menjadi hanya empat jam.

Sepanjang jalur dari Laos menuju ke Cina akan ada sepuluh stasiun, yakni Vientiane, Phonhong, Vangvieng, Kasy, Luang Prabang, Nga, Xay, Namor, Nateuy dan Boten. Tak hanya stasiun untuk penumpang, jalur ini juga punya 22 stasiun untuk bongkar muat barang.

Bagi Beijing, peresmian kereta cepat Cina-Laos ini, membuktikan kepada dunia bahwa proyek besar mereka membangkitkan kembali jalur sutera di bawah Belt and Road Initiative terus dikebut sekalipun mendapat pertentangan dari berbagai negara, utamanya barat.

Sedangkan di sisi Laos, terkurung daratan dan tidak mempunyai laut mau tak mau membuat mereka lebih terbuka agar bisa terhubung dengan negara lain. Muara dari itu, perdagangan dan pariwisata akan meningkat.

Hanya saja, itu (harapan kereta api cepat Cina-Laos mampu mendongkrak ekonomi negara) dipandang semu, andai pemerintah tak komitmen membuat akses dari daerah-daearah produksi dan industri ke jalur kereta cepat Laos-Cina.

Justru sebaliknya, bila pemerintah lamban mengejar ketertinggalan, maka kereta api cepat Laos-Cina hanya akan menjadi jalur transit dan lebih memudahkan Cina membanjiri barang-barang Made in China dengan harga murahnya ke Negeri Seribu Gajah itu.

“Dari sudut pandang Cina, ini memungkinkan Cina untuk melihat benua Asia Tenggara sebagai bagian dari pedalaman, dan mereka akan memiliki kontrol yang lebih baik, mereka akan memiliki akses yang lebih baik karena ada kereta api di sana,” kata Ruth Banomyon, seorang profesor di Thammasat Thailand.

Baca juga: Pemasangan Balok Jalur Kereta Cina-Laos Mulai Memasuki Tahap Akhir

“Perdagangan antara Cina dan Laos bukanlah volume yang besar dan Laos sebagai negara yang terkurung daratan membutuhkan lebih banyak poin untuk terhubung ke dunia luar, sehingga berpotensi ini dapat membantu Laos mengembangkan ekonominya dalam jangka panjang,” kata Li Mingjiang, associate professor S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura.

“Petani dan produsen kecil, bagaimanapun, hanya akan menuai keuntungan jika Laos berkomitmen untuk membangun jalan yang mereka perlukan untuk terhubung dengan kereta api baru. Jika tidak, kereta api hanya akan menjadi jalur transit yang melewati mereka,” tambahnya, seperti dikutip dari VOA News.