Dari Kecerdasan Buatan-Tinggalkan Botol dan Gelas Plastik di Pesawat, Ini Sederet Inovasi Maskapai AS

Sepinya penumpang selama pandemi Covid-19 mendorong beberapa maskapai di Amerika Serikat (AS) berinovasi. Itu dilakukan semata demiki kesiapan maskapai saat industri penerbangan sudah kembali ke titik normal pra pandemi.

Baca juga: Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Di antara mereka ada yang menerbangkan pesawat komersial pertama berpenumpang menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan yang terbuat dari air gula dan jagung, mengganti botol dan gelas plastik dengan yang terbuat dari kertas dan bambu, sampai melakukan pendekatan teknologi melalui kecerdasan buatan (AI).

Dilansir ABC News, Alaska Airlines mengklaim berhasil membuat armada Boeing 737 dan Airbus A320-nya lebih ringan. Bukan datang dari perubahan besar-besaran terhadap pesawat, karena itu mahal, melainkan mengganti botol, gelas, dan wadah plastik di pesawat dengan bahan-bahan daur ulang.

Selain berkontribusi mengurangi produksi sampah plastik, maskapai juga berkontribusi mengurangi emisi karbon. Bobot pesawat yang lebih ringan berarti mesin juga demikian dan membakar bahan bakar lebih sedikit dari biasanya.

Alaska Airlines diketahui menggandeng Boxed Water, yang terkenal eksis memproduksi gelas dan wadah dari kertas daur ulang, menjadikannya sebagai yang pertama di AS.

Pada prosesnya, itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Maskapai melakukan penelitian panjang terkait rasa, ketahanan makanan, dan tentu saja dari sisi kesehatan serta disempurnakan dengan feed back dari penumpang.

“Masalah terbesar yang kami alami adalah plastik sekali pakai. Bahkan jika Anda memiliki program daur ulang terbaik, persentase dari plastik itu akan berakhir di tempat pembuangan sampah dan bahkan ke laut. Berbasis di Pantai Barat, kehidupan laut dan keberlanjutan sangat penting bagi kami,” kata manager of guest products Alaska Airlines, Todd Traynor-Corey.

Tak berhenti sampai di situ, maskapai yang sudah berkomitmen mencapai netral karbon atau bebas emisi pada tahun 2040 tersebut juga berinovasi dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI). Teknologi itu disebut sebagai Flyways, berfungsi untuk menyarankan rute yang lebih cepat, lebih lancar, dan ebih sedikit menghabiskan bahan bakar ke lokasi tujuan.

“Flyways mungkin adalah hal paling menarik yang pernah saya temui dalam teknologi penerbangan sejak saya bergelut di bidang ini,” kata Pasha Saleh, head of corporate development Alaska Airlines.

Tak ingin tertinggal dengan Alaska Airlines, United Airlines juga melakukan beberapa inovasi selama pandemi virus Corona.

Baca juga: Wujudkan Bandara Ramah Lingkungan, Bandara Dubai Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai 

Disebutkan, belum lama ini maskapai itu berhasil menerbangkan pesawat komersial pertama berpenumpang menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan yang terbuat dari air gula dan jagung.

Meski harga bahan bakar berkelanjutan itu jauh lebih mahal, tetapi United Airlines tetap berkomitmen melakoni penerbangan itu sebagai bagian dari upaya bebas karbon pada 2050 mendatang, 10 tahun lebih lambat dibanding Alaska Airlines.

Gegara Pandemi, Perusahaan Bus di Jepang Ubah Armadanya Jadi Tempat Sauna

Sauna biasa dilakukan disebuah tempat khusus. Namun bagaimana jika ini dilakukan di dalam sebuah bus? Mungkin Anda tidak akan percaya, tetapi seperti biasa, Jepang punya hal unik. Di mana sebuah perusahaan bus di Negeri Sakura itu mengubah armadanya menjadi tempat sauna bergerak.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Perusahaan bus tersebut adalah Shinki Bus yang melayani kota Himeji dan sekitarnya. Shinki Bus sudah menjadi perusahaan transportasi bergengsi selama bertahun-tahun. Bahkan mereka memiliki maskot yakni Nikopa-chan dan ini menjadi finalis Kejuaraan Karakter Bus Nasional 2017 dan 2019.

Ruang bagian bus yang dibuat sauna.

Sayangnya, kontes tersebut sedang dalam jeda waktu yang tidak terbatas. Ini karena seluruh industri transportasi telah menerima pukulan besar dari pandemi. Meski menghadapi masa sulit dan adanya perubahan gaya hidup karena pembatasan pariwisata selama dua tahun terakhir Shinki Bus berencana untuk beradaptasi dengan melakukan diversifikasi ke pasar sauna yang belum ada sampai saat ini.

Dilansir KabarPenumpang.com dari japantoday.com (10/11/2021), layanan baru ini akan disebut dengan sabus yang adalah gabungan dari sauna dan bus. Daripada membiarkan ruang berharganya terbuang sia-sia, Shinki saat ini mengubah bus kota yang dinonaktifkan menjadi ruang uap penuh di atas roda.

Untuk mencapai hal ini perusahaan juga telah menciptakan anak perusahaan yang disebut “Ribahsu” yang dalam bahasa Jepang homonim dengan “kelahiran kembali” dan “re-bus.” Sebagian besar interior bus direnovasi dengan desain kayu yang menawan, dan beberapa tombol yang biasanya digunakan untuk meminta pemberhentian akan diubah fungsinya untuk menghasilkan uap.

Sabus nantinya akan diparkir di area yang luas untuk acara-acara khusus, tetapi kehadiran tali dan pegangan di kursi mungkin menunjukkan bahwa sauna bergerak yang sebenarnya mungkin ada. Rincian lebih lanjut tentang bagaimana Sabus akan berfungsi kemungkinan akan terungkap karena tanggal penyelesaian Februari 2022 yang diharapkan semakin dekat.

Baca juga: Pabrik Toyota di Tokyo Ubah Hiace Jadi Ambulans

Ini juga satu-satunya layanan bus repurposed pertama yang direncanakan Ribahsu seperti ruang penitipan anak atau stasiun pancuran dan bak mandi bergerak yang dapat memberikan dukungan yang berguna di daerah yang terkena bencana.






















IATA: Industri Penerbangan Global Mulai Membaik, Varian Omicron Datang dan Merusaknya

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap jenis baru Covid-19 varian Omicron yang notabene disebut WHO lebih menular. Pasalnya, industri penerbangan global baru saja perlahanan membaik dan varian Omicron berpotensi merusak segalanya.

Baca juga: Heboh Jadi Episenter Omicron, Afrika Selatan Ternyata Punya Hotel Unik dari Boeing 737

Meski begitu, IATA telah meminta pemerintah tidak gegabah menutup perbatasan dan melarang wisatawan masuk. Sebagai gantinya, pemerintah bisa menerapkan protokol kesehatan super ketat dan perjalanan internasinoal hanya berlaku untuk mereka yang sudah divaksin dua dosis.

Dalam pernyataan resminya, IATA membeberkan bahwa traffic penumpang yang diukur dalam revenue passenger kilometers (RPK) pada Oktober tahun 2021 turun kurang dari 50 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Itu secara global. Secara spesifik, perjalanan domestik di seluruh dunia pada Oktober tahun ini turun 21,6 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Sedangkan demand penerbangan internasional dunia pada Oktober tahun ini turun 65,5 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Menariknya, IATA memberikan penekanan bahwa persentase di atas besar kemungkinan meleset. Fakta di lapangan, traffic penumpang bisa jauh lebih meningkat.

“Kinerja lalu lintas bulan Oktober memperkuat bahwa orang akan bepergian ketika mereka diizinkan. Sayangnya, tanggapan pemerintah terhadap kemunculan varian Omicron membahayakan konektivitas global yang telah lama dibangun kembali,” kata Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh.

“Pencabutan pembatasan perjalanan AS dari sekitar 33 negara bulan lalu meningkatkan harapan bahwa lonjakan permintaan perjalanan yang terpendam akan meningkatkan lalu lintas selama musim dingin Belahan Bumi Utara yang akan datang,” tambahnya.

“Tetapi munculnya varian Omicron membuat panik banyak pemerintah untuk sekali lagi membatasi atau sepenuhnya menghapus kebebasan untuk bepergian — meskipun WHO dengan jelas menyarankan bahwa ‘larangan perjalanan selimut tidak akan mencegah penyebaran internasional, dan mereka menempatkan beban berat pada kehidupan dan mata pencaharian,” lanjut, bos IATA yang juga matan bos British Airways itu.

“Logika dari saran WHO terbukti dalam beberapa hari setelah identifikasi Omicron di Afrika Selatan, dengan kehadirannya sudah dikonfirmasi di semua benua. Larangan perjalanan yang keliru sama tidak efektifnya dengan menutup pintu gudang setelah kuda itu melesat,” tutupnya.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Bila di-breakdown, Eropa menjadi kawasan yang paling rendah persentase penurunan penerbangan internasional dibanding yang lain, dimana periode Oktober 2021 dibanding Oktober 2019 hanya turun 50,6 persen.

Berbanding terbalik dengan Eropa, kawasan Asia-Pasifik menjadi yang paling terpukul di sektor penerbangan internasional dengan penurunan 92,8 persen pada periode Oktober 2021 dibanding Oktober 2019.

Startup Singapura Luncurkan Aplikasi Sewa Minibus untuk Pekerja Migran

Sebuah startup di Singapura meluncurkan aplikasi pemesanan yang terbilang unik, yaitu pemesanan untuk penumpang, tapi ini bukan penumpang biasa, melainkan pemesana  minibus untuk mengangkut pekerja migran.

Baca juga: Kejar Efisiensi, Startup Asal Israel Kembangkan Pengelolaan Bus Berbasis “On-demand”

Kehadiran aplikasi ini diharapkan dapat memberikan alternatif minibus yang masih digunakan banyak perusahaan untuk mengangkut pekerja. Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (19/11/2021), aplikasi pemesanan minibus untuk angkutan pekerja imigran hadir karena awal tahun ini, kecelakaan yang melibatkan truk pengangkut kerja migran kembali menghadirkan perdebatan terkait keamanan transportasi itu. Namun perusahaan lokal, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), telah berulang kali mengatakan bahwa biaya menyewa bus untuk pekerja itu mahal.

Jean Christophe Li, pendiri Aespada, mengatakan bahwa layanan minibus aplikasi bertujuan untuk melayani perusahaan tersebut.

“Ini telah menjadi masalah selama satu dekade, dimana  banyak para pekerja yang bepergian dengan truk seperti ternak. Terutama, dalam beberapa minggu terakhir, hujan turun hampir setiap hari, Anda dapat melihat para pekerja mencoba berlindung di bawah kantong sampah. Apa yang kami tawarkan adalah opsi alternatif langsung bagi perusahaan di luar sana yang ingin menyediakan transportasi yang lebih baik dan lebih aman bagi pekerja mereka,” ujar Li.

Sementara perusahaan besar dengan lusinan atau ratusan pekerja mampu menyewa bus yang menampung sekitar 45 penumpang, ini tidak praktis bagi banyak kontraktor dan subkontraktor, yang melakukan perjalanan ad hoc dengan hanya selusin atau lebih sedikit pekerja setiap kali. Aplikasi Aespada yang diluncurkan tahun lalu, awalnya menghubungkan perusahaan ke jaringan kendaraan berat termasuk truk dan derek truk.

Bulan ini, ia menambahkan armada minibus ke platformnya, aplikasi ini dapat diakses 24/7 untuk memesan perjalanan ad hoc atau terjadwal untuk mengangkut pekerja mereka di sekitar wilayah Singapura. Bus dapat membawa 7 hingga 13 pekerja dan setiap perjalanan dihargai S$55 hingga S$65, tergantung pada jumlah pekerja.

Li mengatakan sekitar 25 perusahaan telah mendaftar sejauh ini, dan ada pertanyaan untuk perjalanan reguler jangka panjang serta untuk layanan ad hoc “sesuai permintaan”.

Saat ini ada 235 unit bus yang berkomitmen untuk bergabung dengan platform Aespeda dan onboarding akan berlangsung selama tiga bulan ke depan karena permintaan meningkat. Meskipun perusahaan tidak memiliki kendaraan, ia “mengkonsolidasikan” penyedia transportasi ukuran kecil dan menengah di platformnya untuk pemesanan, mirip dengan apa yang dilakukan Grab pada mobil sewaan pribadi.

Baca juga: IATA Kembangkan Aplikasi Seluler untuk Bantu Perjalanan di Masa Pandemi

Terence Lum, direktur eksekutif di Loh & Sons Paint Co, telah terdaftar di platform dan berharap dapat mengatasi beberapa masalah keamanan yang dimiliki perusahaan.
Dia pikir aplikasi itu akan berguna secara ad hoc ketika perusahaan perlu mengangkut pekerja ke lokasi kerja yang berbeda.

“Layanan seperti itu mungkin dapat menawarkan sarana transportasi yang lebih aman dan pada saat yang sama dapat menjaga biaya operasional tetap terkalibrasi,” katanya.






















Anti-Kecelakaan, Begini Teknologi ‘Kokpit’ Mobil di Masa Depan

Safety menjadi kata kunci dalam setiap pengembangan teknologi di dunia otomotif. Meski perubahan begitu cepat, namun, tak ada yang bisa memastikan seperti apa wujud interior atau kokpit mobil di masa depan.

Baca juga: Hindari Mabuk, Volvo Kembangkan Teknologi “Soundtrack” Agar Penumpang Mobil Otonom Nyaman

Akan tetapi, sebagaimana di awal, pengembangan teknologi dan inovasi di kokpit mobil tidak jauh-jauh dari safety.

Benar saja, dalam gelaran Automotive Tech Week focusing on vehicle cockpits in 2030, kokpit mobil di masa depan akan dilengkapi dengan berbagai fitur seperti pencahayaan inframerah, LED inframerah, laser, dan sensor ams OSRAM yang menjadi satu kesatuan fitur keselamatan dalam Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).

Teknologi ADAS akan memainkan peran vital dalam pemantauan pengemudi, eye tracking, dan hands-on detection.

Dilansir wardsauto.com, didorongnya ADAS sebagai teknologi yang harus ada di mobil merupakan tindak lanjut dari laporan pengemudi dari tahun ke tahun.

Disebutkan, pengemudi telah menjajal berbagai teknologi keamanan di mobil dari mulai autopilot, keterlibatan pengemudi, kemudahan penggunaan, pemberitahuan saat aman digunakan, dan pemberitahuan pengemudi yang tidak responsif.

Hasilnya, sistem pemantauan pengemudi secara langsung, mendorong keterlibatan pengemudi, dan mengetahui keadaan pengemudi setiap saat mendapat ranking tertinggi.

Tak heran bila tekonologi ADAS dan sistem pemantauan pengemudi dalam mengurangi kecelakaan diwajibkan di Uni Eropa pada kendaraan tertentu mulai tahun 2022.

Amerika Serikat (AS) juga tak mau ketinggalan, tetapi tidak juga mau gegabah menghadirkan sistem keselamatan dan keamanan di mobil.

Undang-undang infrastruktur baru mencakup langkah-langkah untuk meningkatkan keselamatan di jalan raya. RUU tersebut membutuhkan penelitian tentang cara untuk mengurangi gangguan pengemudi dan penerapan sistem mitigasi gangguan, seperti pemantauan pengemudi, dalam tiga tahun ke depan.

Sistem pemantauan pengemudi menggunakan cahaya invisible infrared untuk menerangi wajah pengemudi tanpa sedikitpun mengganggunya. Ini dilengkapi dengan kamera high speed untuk merekam sekitar 30-60 gembar per detik.

Baca juga: Tak Hanya Mobil, Motor pun Dilengkapi HUD yang Terintegrasi dengan Helm!

Gambar ini kemudian akan dianalisis oleh sistem akhir, mulai dari frekuensi kedipan driver sampai arah pandangan mata, untuk menentukan apakah pengemudi tetap fokus dan tidak ngantuk, kelelahan, dan sebagainya.

Dengan begitu, otoritas (bila itu kendaraan pribadi) ataupun manajemen (bila itu kendaraan perusahaan, seperti jasa logistik, transportasi, taksi, dan lain sebagainya) dapat memberikan penilaian langsung, berupa reward and punnishment, dengan berdasarkan data kinerja driver dengan akurat dan faktual.

Genjot Teknologi Ramah Lingkungan, Mesir Operasikan Bus Bertenaga Gas Alam di 2022

Perkembangan transportasi dunia, kini semakin modern. Bus yang dihadirkan bukan hanya bertenaga listrik, tetapi bertenaga surya atau bahan lainnya seperti gas alam pun mulai dilirik oleh beberapa negara. Hal ini pun dilakukan di Mesir yang juga ikut andil dalam penggunaan bahan bakar yang bukan dari minyak bumi tetapi dengan gas alam.

Baca juga: Toyota Motor Europe dan CaetanoBus Siap Luncurkan Bus Bertenaga Hidrogen

Hal ini dikatakan oleh Menteri Perusahaan Umum Hisham Tawfik. Dia menyebutkan bahwa Mesir akan meluncurkan armada bus pertama yang menggunakan tenaga alam tahun depan.

Tawfiq menjelaskan bahwa, sekitar 70 persen dari komponen yang digunakan dalam pembuatan bus akan dipasok secara lokal. Tawfiq menambahkan, pembuatannya pun bekerja sama dengan beberapa perusahaan di negara Mesir.

“Kami sudah mencapai tingkat konstruksi 60 persen, dan kami akan mulai memasang mesin mulai April mendatang,” kata dia yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman  arabnews.com (5/12/2021).

Tawfiq mengatakan bahwa armada akan mencakup bus yang dapat menampung 14 hingga 50 penumpang sekali jalan baik berdiri maupun duduk. Adapun tujuan dari proyek ini adalah untuk melokalisasi teknologi dan produksi transportasi.

“Strategi kami adalah menggarap produksi kendaraan ramah lingkungan, baik yang berbahan bakar gas alam maupun listrik,” tambahnya.

Delegasi dari Pabrik Otomotif Minsk Belarusia menandatangani kontrak untuk memasok bahan produksi untuk proyek tersebut. Produksi diharapkan dimulai pada pertengahan 2022, dengan target 250 bus selesai per tahun.

Baca juga: Dari London, Telah Meluncur Bus Tingkat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia

Tawfiq menyambut baik kerjasama dengan pihak Belarusia, terutama mengingat hubungan istimewa antara kedua negara, yang telah berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.






















Kereta Maglev Pertama di Dunia Cuma 11 Tahun Beroperasi, Kenapa?

Bandara Birmingham, West Midlands, Inggris, berhasil mengukir sejarah pada tahun 1984. Ketika itu, kereta Maglev komersial pertama di dunia resmi beroperasi sebagai shuttle bandara atau sejenis Skytrain yang menghubungkan stasiun kereta api Internasional Birmingham dengan berbagai terminal bandara.

Baca juga: TransLink Perluas Platform Stasiun SkyTrain, Penuhi Pertumbuhan Penumpang di Masa Depan

Sayangnya, popularitas kereta Maglev Bandara Birmingham meredup setelah beberapa tahun beroperasi. Puncaknya, di tahun 1995 atau 11 tahun pasca pertama kali beroperasi, kereta Maglev bandara resmi menyudahi operasinya dan digantikan shuttle bus sebagai transportasi penumpang dari stasiun ke terminal. Mengapa demikian?

Dilansi Maglev.net, tak seperti Automated People Mover System (APMS) atau yang lebih dikenal dengan nama Skytrain Bandara Soekarno-Hatta, yang notabene stop operasi sejak pandemi virus Corona mewabah dan lebih ke masalah cost leadership atau penghematan biaya, kereta Maglev komersial pertama di dunia di Bandara Birmingham stop operasi setelah 11 karena alasan teknis.

Disebutkan, kereta yang bergerak melayang atau mengambang dengan jarak 1,5 cm dari rel berkat gaya tolak-menolak antara kereta, ini dioperasikan secara otomatis di sepanjang guide track sepanjang 600 meter, menghubungkan stasiun kereta api Internasional Birmingham dengan berbagai terminal bandara.

Kereta Maglev Bandara Birmingham itu beroperasi dengan kecepatan rata-rata 26 mph atau 42 km per jam.

Setelah beroperasi secara gratis dan otomatis, kereta Maglev Bandara Birmingham mulai mengalami kendala teknis. Tidak berbahaya dan mencelakakan penumpang memang, tetapi kegagalan listrik mengenai sistem transit magnetik ini frekuensinya begitu sering sehingga mobilitas penumpang jadi terhambat.

Tak jarang penumpang juga sempat dibuat deg-degan lantaran takut ketinggalan pesawat saat kereta Maglev tersebut ‘mogok’ di tengah perlintasan dari stasiun ke terminal. Sedangkan proses evakuasi membutuhkan waktu yang tak sebentar.

Berkali-kali diprotes penumpang lantaran kesalahan yang sama, kereta Maglev komersial pertama di dunia di Bandara Birmingham akhirnya resmi stop operasi, 11 tahun setelah diluncurkan. Sebagai gantinya, pengelola Bandara Birmingham meluncurkan shuttle bus. Ini bertahan selama delapan tahun sejak 18 Juni 1995.

Setelah itu, shuttle bus bandara digantikan dengan SkyRail atau sekarang dikenal dengan sebutan Air-Rail Link. Setiap tahun, Air-Rail Link tidak kurang melayani sekitar tiga juta penumpang secara gratis dan otomatis.

Sayangnya, sebagaimana Skytrain Bandara Soekarno-Hatta, yang stop operasi lantaran sepi penumpang, Skytrain Bandara Birmingham juga demikian. Namun, seiring meningkatnya jumlah penumpang, Air-Rail Link Bandara Birmingham sudah beroperasi normal kecuali di pukul 00.30 – 02.00. Di jam tersebut AIR-Rail Link tidak beropeasi dan digantikan dengan shuttle.

Baca juga: Tak Benar Akan Dioperasikan PT LRT Jakarta, Skytrain Bandara Soetta Stop Beroperasi Karena Alasan Penghematan Biaya

Berbeda dengan Air-Rail Link Bandara Internasional Birmingham yang sudah beroperasi rutin, Skytrain Bandara Soekarno-Hatta justru berbanding terbalik.

VP Corporate Communication PT Angkasa Pura II (Persero), Yado Yarismano, kepada wartawan menyebut belum tahu kapan pihaknya mengoperasikan kembali Skytrain mengingat traffic penumpang di bandara masih di bawah 50 persen. Bila sudah jauh di atas itu, bukan tak mungkin Skytrain bakal dioperasikan kembali.

Cegah Gajah Tertabrak Kereta, India Hadirkan Sensor Pengaktif Lampu di Sepanjang Rel

Akhir bulan lalu, tepatnya 26 November 2021, tiga ekor gajah ditabrak kereta api tujuan Chennai dekat Coimbatore, India. Tertabraknya gajah-gajah itu karena tidak ada sistem apa pun di jalur kereta, sehingga tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghalau para gajah melintas di rel ketika malam hari.

Baca juga: Halau Rusa dan Hewan Liar Masuk ke Rel, JR East Pasang Shika Sonic

M Abraham Antony yang adalah fotografer konservasi yang bergegas di Coimbatore langsung ke lokasi setelah mendapat kabar kecelakaan. Dia bahkan bebicara pada orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi kejadian untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Anak gajah itu bermain-main dan memposisikan dirinya di trek. Kemudian induk jantan berdiri disebelahnya dan induk betina berusaha membuat bayi gajah bergerak,“ ujar Antony.

Insiden ini bukan sekali dua kali terjadi di saat malam hari. Untuk menghindarinya, M Ananda Kumar, ilmuwan di konservasi alam di MySore mengatakan, itu semua ada dalam kendali masinis. Dia menyebutkan, masinis harus peka dengan daerah yang dia lewati dan mengingat untuk memperlambat laju kereta di sepanjang habitat gajah.

Namun masalahnya adalah untuk mengurangi kecepatan lebih sulit dilakukan karena kereta meluntasi berbagai lanskap dan ketinggian. KabarPenumpang.com melansir laman thehindu.com (3/12/2021), solusi lainnya adalah dengan menggunakan sensor yang memicu lampu di sepanjang rel kereta api.

“Masinis merespons lampu tanpa sadar. Sebuah sistem di mana lampu memperingatkan mereka tentang pergerakan gajah akan membantu mereka memperlambat dan mungkin akan mengurangi kematian gajah di rel,” kata Ananda.

Tak hanya itu, Departemen Perkeretaapian dan Kehutanan harus bekerja dengan LSM lokal dan penduduk sekitar untuk mebuat langkah seperti itu. Ananda pun menyarankan agar lampu yang digunakan berwarna oranye. Sebab ketika menggunakan warna merah atau hijau bisa mengganggu sistem persinyalan kereta api.

“Kita bisa punya penyangga satu kilometer untuk masinis untuk mendapatkan isyarat. Kami memiliki insinyur yang bersedia bekerja sama untuk mengerjakan sistem pemantauan berbasis sensor ini yang berpotensi menyelamatkan nyawa,” kata Ananda.

“Kami tidak dapat mengusir gajah, tetapi kami dapat secara efektif menggunakan teknologi untuk mengurangi kematian di rel kereta api. Yang dibutuhkan hanyalah kerangka berpikir yang tepat untuk menemukan solusi atas masalah ini,” tambahnya.

Dua tahun lalu, proyek serupa dicoba di Taman Nasional Rajaji. “Institut Margasatwa India dan Organisasi Instrumen Ilmiah melakukan proyek percontohan yang menyebarkan sensor seismik untuk memperingatkan masinis tentang pergerakan gajah di rel kereta api. Proyek tahap selanjutnya, yaitu bagaimana mengirimkan sinyal ini ke masinis, belum dilakukan,” kata Bivash Pandav, Direktur, Masyarakat Sejarah Alam Bombay.

Idealnya, kata Bivash, jalan dan jalur kereta api tidak boleh memotong habitat gajah. Tetapi yang sudah ada tidak dapat dibatalkan, dan langkah-langkah untuk mengurangi konflik manusia-hewan adalah kebutuhan saat ini. Bersamaan dengan teknologi tersebut, dia merasa perlu ada tim yang kuat untuk memantau pergerakan gajah di area sensitif.

Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

Sementara itu di Coimbatore, pagar rel kini dibuat membentang di sepanjang jalur antara Kanjikode dan Madukkarai untuk mencegah penyeberangan gajah.






















Lebih Parah dari Siskaeee, Survei Membuktikan: 1 dari 10 Penumpang Berhubungan Seks di Bandara

Jagat media sosial belakangan heboh dengan video pamer payudara oleh akun Twitter Siskaeee di Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA, Kulon Progo, Yogyakarta. Ternyata, itu bak fenomena gunung es.

Baca juga: Video Tersebar Saat Berhubungan Seksual di Toilet Pesawat, Awak Delta Airlines di Skorsing

Hasil survei mebuktikan bahwa 1 dari 10 orang atau penumpang pesawat berhubungan seks di bandara sebelum naik ke pesawat. Sementara itu delapan persen penumpang telah bergabung dengan Mile High Club atau dengan kata lain berhubungan seks di toilet pesawat saat tengah mengudara.

Secara bahasa Mile High Club adalah kelab yang berada tinggi di atas awan. Tetapi, secara istilah, Mile High Club adalah kumpulan orang-orang (penumpang) yang bebas melakukan apa saja di pesawat, termasuk berhubungan intim atau berhubungan seks di pesawat.

Dilansir Daily Mail, orang-orang yang berhubungan seks di bandara tersebut 42 persennya mengaku berbuat hal tersebut di toilet bandara. Sedangkan 28 persennya berhubungan seks di lemari bandara. Namun, tak disebutkan dengan jelas, lemari seperti apa.

Sebanyak 14 persen penumpang mengaku berhubungan seks di bandara dengan memanfaatkan mantel musim dingin yang panjang sebagai media menutupi aktivitas mereka. 12 persen lainnya mengaku melakukan hubungan seks di lounge bandara.

Celakanya, dari segitu banyaknya orang-orang yang sudah berhubungan seks di bandara sebelum penerbangan berlangsung, hanya 17 persen dari mereka yang ditangkap petugas keamanan.

Survei tentang perilaku penumpang, lebih spesifik lagi tentang penumpang yang berhubungan seks di bandara sebelum penerbangan, dilakukan oleh platform flight shopping US.Jetcost.com, dengan jumlah 4.915 responden di Amerika Serikat (AS) berusia 18 tahun atau lebih yang telah terbang setidaknya sekali selama dua tahun terakhir. Survei tersebut dirilis pada tahun 2017 lalu.

Sama parahnya dengan penumpang yang berhubungan seks di bandara sebelum memulai penerbangan, penumpang yang berhubungan seks di pesawat saat penerbangan berlangsung atau dikenal dengan istilah Mile High Club, juga cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari yang diperkirakan.

Pada tahun 2010, sebuah survei menyebut bahwa tiga persen penumpang pesawat berhubungan mesra atau berhubungan seks selama penerbangan. Kalau ada tiga miliar penumpang terbang setiap tahun, itu artinya ada 10 juta orang yang berhubungan seks di pesawat setiap tahun.

Pramugari Norwegian Air, Grace, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, punya cerita terkait hal itu. Disebutkan, orang-orang yang bergabung dengan Mile High Club atau berhubungan seks di toilet pesawat selalu ada minimal satu kali setiap bulan dengan tingkat keberhasilan 30 persen.

Baca juga: Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Lebih lanjut, pramugari itu bahkan pernah menyaksikan ada penumpang yang baru saja bertemu di pesawat dan mereka pergi ke toilet bersama untuk melakukan hubungan seks di pesawat.

“Kami bahkan pernah melihat orang asing bertemu dalam penerbangan dan lari ke toilet bersama,” ungkapnya.

Airbus Luncurkan Kaca Elektrokromik Pertama di A350, Presiden Emirates: Ga Butuh

Airbus meluncurkan fitur kaca elektrokromik (dimmable windows) atau biasa juga disebut electronically dimmable windows (EDW) pertama di pesawat A350. Ini diharapkan dapat menjadi fitur andalan maskapai dalam meraih kepercayaan penumpang. Tetapi, fitur ini justru ditentang oleh Presiden Emirates, Tim Clark. Pihaknya menyebut itu tidak berguna dan mereka tak butuh itu.

Baca juga: Inilah Kaca Elektrokromik yang Bikin Jendela Pesawat Tak Perlu Tirai

Sebagai gantinya, ia lebih mengandalkan fitur serupa tapi tak sama, yaitu electric window shades atau tirai jendela pesawat lipat. Hal ini dinilai lebih mendapat respon positif dari pengunjung.

“Kami belum melihat jendela yang dapat diredupkan (dimmable windows) pada A350 tetapi untuk A350 kami, kami telah memesan tirai jendela elektrik lipat (electric window shades) ATG yang sama dengan yang kami miliki pada A380 dan Boeing 777,” katanya.

“Suasananya (kursi kelas premium yang dilengkapi dimmable windows atau kaca yang bisa redup tanpa tirai di jendela pesawat) melebihi apa yang saya bayangkan. Kami menerima sambutan hangat dari pelanggan kami,” tambahnya, seperti dikutip dari Airlinerating.com.

Saat ini, kaca elektrokromik di pesawat A350 Airbus sedang diuji coba di Toulouse, Perancis. Uji coba meliputi akselerasi kaca dari normal menjadi redup dan tak tembus sinar matahari serta tingkat keredupan kaca tersebut.

Cara mengoperasikan kaca elektrokromik (dimmable windows) ini bisa dibilang mudah. Penumpang cukup menyentuh tombol di bawah kursi dan mengatur tingkat keredupannya sesuai yang diinginkan.

Airbus bisa dibilang telat dalam menghadirkan kaca elektrokromik (dimmable windows). Sebelumnya, Boeing sudah lebih dahulu menghadirkan kaca, yang meski redup tetapi penumpang tetap bisa melihat pemandangan di luar, pada pesawat Boeing 787 Dreamliner.

Kendati sama-sama dipasok dari Gentex Corporation, namun keduanya berbeda. Disebutkan, kaca elektrokromik dari Airbus adalah versi baru dibanding versi lama yang digunakan pada pesawat Boeing 787 Dreamliner.

Gentex mengatakan bahwa EDW yang ditawarkan oleh Airbus ini memungkinkan penumpang untuk secara sefektif menggelapkan kaca sesuai yang diinginkan. Sekali lagi, kendati digelapkan, namun mereka masih bisa melihat pemandangan di luar pesawat.

Tidak seperti dimmable windows yang diperkenalkan oleh Boeing 787 Dreamliner, EDW milik Airbus ini mampu menghilangkan lebih dari 99,999 persen visible light secara efektif.

Baca juga: Gaet Gentex, Airbus Siap Tingkatkan Pengalaman Penumpang via Dimmable Windows

Bila tak ada aral melintang dan tetap mendapat respon positif dari maskapai, mengingat kaca model ini ditentang habis oleh Emirates, kaca elektrokromik Airbus bisa mulai dinikmati penumpang pada tahun 2022 mendatang.

Sayangnya, maskapai yang diklaim sudah memesan pesawat Airbus A350 dengan kaca elektrokromik ini masih dirahasiakan. Namun, clue-nya adalah, maskapai yang kelak mengoperasikan A350 yang sudah dilengkapi dimmable windows ini adalah maskapai yang juga sudah mengoperasikan pesawat Boeing 787 Dreamliner dengan dimmable windows. Itu berarti, maskapai tersebut adalah American Airlines.