Yuk Kenali Fasilitas Kamar Mandi Area Stasiun Kereta Api yang Wajib Kalian Tahu, Ini Daftar Lokasinya

Menempuh perjalanan yang cukup jauh menggunakan kereta api terkadang melelahkan. Apalagi saat tiba di kota tujuan dan biasanya ingin sekali langsung ke lokasi penginapan untuk menyegarkan diri pergi ke kamar mandi. Namun tak semua masyarakat yang tiba di lokasi tujuan dengan kereta api tiba pada jam-jam check in di penginapan. Bahkan mereka tiba di malam hari atau pun pagi hari, karena biasanya untuk memasuki penginapan haru menunggu hingga jam 2 siang.

Nah, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) memang telah membuat terobosan dan solusi bagi penumpang kereta api jarak jauh tiba di tujuan jauh sebelum jam check in penginapan. Ya, di beberapa stasiun sudah ada fasilitas kamar mandi bagi masyarakat yang ingin membersihkan diri saat turun dari kereta api. Apalagi lelahnya perjalanan jauh selama di kereta api serasa ingin cepat-cepat mandi.

Melalui KAI Wisata, kini telah menyediakan fasilitas tempat mandi sekaligus penitipan barang berbayar dengan nama Shower and Locker. Fasilitas yang disediakan ini cukup lengkap, terdiri dari kamar mandi yang bersih serta tempat untuk menyimpan barang-barang. Sayangnya, tak semua stasiun kereta api punya fasilitas kamar mandi yang memadai untuk mandi.

Nah, berikut ini daftar stasiun kereta api yang memiliki fasilitas Locker and Shower:

1. Stasiun Gambir
Fasilitas Shower and Locker bisa digunakan jika kalian berada di Stasiun Gambir yang berada di lantai 1 dekat dengan fasilitas Rail Transit Suite Gambir. Shower and Locker Stasiun Gambir mematok tarif Rp70 ribu untuk mandi. Dengan harga segitu, kalian bisa mendapatkan fasilitas berupa amenities (handuk, sabun, dan sampo), air hangat, hair dryer, serta steamer atau setrika uap jika membutuhkan. Tak perlu khawatir hilang atau basah, saat mandi kalian bisa menitipkan barang bawaanmu di loker.

Namun, jika hanya ingin menitipkan luggage tanpa mandi, Shower & Locker Stasiun Gambir juga menyediakan fasilitas tersebut dengan tarif yang bervariasi, mulai dari Rp100 ribu untuk loker, tergantung dari seberapa besar ukuran luggage dan durasi penitipan. Shower & Locker Stasiun Gambir beroperasi 24 jam dan melayani pembayaran non tunai.

2. Stasiun Pasar Senen
Sama halnya dengan Stasiun Gambir, Stasiun Pasar Senen juga menyediakan fasilitas Shower & Locker bagi para penumpang kereta api. Disini kalian bisa menemukan fasilitas ini di area pintu keluar kendaraan. Untuk tarif mandi adalah Rp50 ribu dengan fasilitas berupa amenities (handuk, sabun, dan sampo), ruangan ber-AC yang nyaman untuk menunggu, serta Wi-Fi. Kemudian, jika hanya ingin menitipkan barang bawaan, maka berikut rincian tarifnya:
• Loker M
– Paket 1 jam = Rp10 ribu
– Paket 2 jam = Rp20 ribu
– Paket 12 jam = Rp60 ribu
– Paket 24 jam = Rp80 ribu

• Loker L
– Paket 1 jam = Rp15 ribu
– Paket 2 jam = Rp30 ribu
– Paket 12 jam = Rp90 ribu
– Paket 24 jam = Rp120 ribu

• Loker XL
– Paket 1 jam = Rp20 ribu
– Paket 2 jam = Rp40 ribu
– Paket 12 jam = Rp100 ribu
– Paket 24 jam = Rp140 ribu
Fasilitas tersebut menerima pembayaran non tunai dengan jam operasional mulai 05.00—23.00 WIB.

3. Stasiun Yogyakarta
Sebagai stasiun kereta api utama di Yogyakarta, PT Kereta Api Pariwisata juga menyediakan fasilitas Shower and Locker yang bisa ditemukan dengan mudah di Slasar Malioboro, masih di dalam kompleks stasiun. Begitu turun dari kereta api, kalian bisa menyegarkan diri di sini sebelum jalan-jalan keliling Yogyakarta. Untuk harga serta fasilitas yang kalian dapatkan di Shower and Locker sama seperti di lokasi Shower and Locker lainnya. Selain itu, di sini juga bisa menitipkan barang bawaan jika kalian sedang menunggu waktu check in penginapan.

4. Stasiun Surabaya Gubeng
Diresmikan pada Juli 2024 lalu, Shower and Locker bisa ditemukan di Stasiun Surabaya Gubeng, tepatnya di stasiun Surabaya Gubeng Baru. Buka 24 jam, kalian bisa sewaktu-waktu memanfaatkan fasilitas ini ketika turun dari kereta api. Untuk tarifnya pun terjangkau, yakni Rp50 ribu, di mana sudah bisa mendapatkan amenities (handuk, sabun, dan sampo) serta bisa meminjam hair dryer. Namun, jika hanya ingin menitipkan barang, bisa dengan tarif yang sama dengan Shower and Locker lainnya. Pembayaran pun dilakukan non tunai, sehingga sangat praktis dan efisien.

Adanya fasilitas Shower and Locker yang tersebar di beberapa stasiun kereta api pulau Jawa sungguh bisa mengakomodasi kebutuhan penumpang kereta api dengan mobilitas tinggi. Tentunya masyarakat berharap setelah di stasiun-stasiun di atas, ada lagi penambahan fasilitas Shower and Locker di stasiun lainnya.

Yuk Disimak, Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Kita Naik Kereta Api

Ramah Hewan Peliharaan Tapi Larang Sepeda, Cek Aturan Baru Kereta Penumpang Etihad Rail UEA

Layanan kereta api penumpang nasional Uni Emirat Arab (UEA), Etihad Rail, resmi memulai debut operasional rute perdana yang menghubungkan Abu Dhabi dan Fujairah pada akhir Juni 2026. Di tengah antusiasme masyarakat menyambut moda transportasi masal modern ini, pihak operator merilis panduan regulasi bagasi dan fasilitas di atas kereta (passenger charter) yang cukup menyita perhatian publik.

Langkah ini dirancang guna memastikan kenyamanan dan keselamatan perjalanan di dalam kereta yang mampu melesat hingga kecepatan 200 kilometer per jam tersebut. Kebijakan ini membawa angin segar bagi para pemilik hewan peliharaan, namun di sisi lain memberikan batasan ketat bagi para pengguna moda transportasi mikro (micro-mobility).

Bagi para pencinta binatang, Etihad Rail secara resmi mengumumkan kebijakan pet-friendly yang mengizinkan penumpang membawa hewan peliharaan domestik ke dalam gerbong kereta komersial mereka. Tidak tanggung-tanggung, hewan yang diperbolehkan mencakup anjing, kucing, hingga burung elang (falcon) yang memang menjadi bagian dari simbol budaya masyarakat UEA.

Kabar Gembira, Etihad Rail Mulai Operasikan Tahap Awal Kereta Penumpang per 30 Juni

Kendati demikian, operator menetapkan sejumlah syarat ketat: hewan wajib dimasukkan ke dalam kandang transit (carrier) yang disetujui dengan dimensi maksimal 55 x 40 x 23 sentimeter dan harus berada di bawah kendali pemilik sepanjang perjalanan. Penting dicatat bagi penumpang, kandang hewan ini akan dihitung sebagai kuota bagasi kabin standar (standard carry-on). Artinya, jika Anda membawa hewan peliharaan, Anda tidak diperkenankan lagi membawa tas kabin terpisah secara gratis. Pengecualian khusus diberikan untuk anjing pemandu (assistance dogs) tersertifikasi yang boleh mendampingi penyandang disabilitas dengan syarat wajib dikonfirmasikan terlebih dahulu ke pusat kontak Etihad Rail saat reservasi tiket.

Berbanding terbalik dengan kebijakan ramah hewan peliharaan, Etihad Rail justru menerapkan larangan ketat terhadap alat transportasi personal. Semua jenis sepeda konvensional, skuter listrik (e-scooters), hingga sepeda listrik (e-bikes) dilarang keras untuk dibawa masuk ke dalam layanan kereta penumpang. Kebijakan ini diambil demi aspek keselamatan dan efisiensi ruang gerbong, mengingat operasional kereta berkecepatan tinggi menuntut koridor yang bebas dari potensi bahaya baterai litium berkapasitas besar serta struktur kendaraan roda dua yang dapat mengganggu alur evakuasi darurat.

Di luar aturan hewan dan sepeda, maskapai kereta nasional UEA ini tetap berupaya akomodatif terhadap kebutuhan keluarga dan kelompok disabilitas. Pihak operator mengizinkan setiap keluarga untuk membawa satu kereta dorong bayi lipat (folded pushchair) per anak tanpa dikenakan biaya tambahan. Sementara itu, bagi pengguna kursi roda, gerbong kereta telah dirancang ramah aksesibilitas dengan ruang khusus terdedikasi, asalkan penumpang telah melakukan pemesanan dan memilih opsi kursi roda sejak awal proses booking tiket.

Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah

Rute Abu Dhabi menuju Fujairah ini memakan waktu tempuh sekitar 1 jam 45 menit, memangkas waktu perjalanan darat secara signifikan melalui jaringan rel yang membelah wilayah perbukitan batu dan gurun UEA.

Peluncuran koridor pertama ini menandai fase awal dari mega-proyek jaringan kereta penumpang Etihad Rail yang ditargetkan akan menghubungkan 11 kota dan wilayah strategis di seluruh penjuru Uni Emirat Arab pada fase-fase berikutnya. Melalui penerapan regulasi bagasi yang jelas sejak hari pertama beroperasi, Etihad Rail berambisi menetapkan standar baru transportasi publik regional yang aman, inklusif, dan tertib.

 

Hari Ini 37 Tahun Lalu: Mengenang Momen Penerbangan Perdana Boeing 737-500 dan Jejak Emasnya di Indonesia

Tepat pada hari ini, 30 Juni 1989, salah satu jet komersial berbadan sempit (narrowbody) paling andal di dunia, Boeing 737-500, sukses melaksanakan penerbangan perdana (first flight). Mengambil tempat di fasilitas pabrik Boeing di Renton Field, Washington, Amerika Serikat, burung besi yang menjadi bagian dari keluarga Boeing 737 Classic ini mengudara untuk pertama kalinya guna menguji seluruh sistem aerodinamika dan propulsi barunya.

Penerbangan perdana yang bersejarah ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam 16 menit, berjalan dengan sangat mulus dan sukses memenuhi semua parameter uji teknis dasar yang ditetapkan oleh tim insinyur pabrikan sebelum akhirnya mendarat dengan aman di Boeing Field, Seattle. Keberhasilan uji terbang ini langsung membuka jalan bagi sertifikasi ketat dari otoritas penerbangan federal (FAA) hingga akhirnya varian ini resmi dikirimkan ke konsumen pertamanya, Southwest Airlines, pada awal tahun 1990.

Awal pengembangan seri Boeing 737-500 didasari oleh strategi pabrikan asal AS tersebut untuk menawarkan pengganti langsung yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan bagi varian Boeing 737-200 yang sangat populer namun mulai menua. Dipasarkan sebagai varian terkecil dari keluarga Boeing 737 Classic (bersama dengan seri -300 dan -400), seri -500 sengaja dirancang memiliki bodi yang lebih pendek daripada seri -300 untuk mempertahankan kapasitas penumpang yang serupa dengan seri -200, yakni berkisar antara 108 hingga 132 kursi. Pendekatan ini sangat disukai oleh maskapai penerbangan dunia pada masanya karena mereka dapat mengoperasikan rute-rute regional berjarak pendek hingga menengah dengan volume penumpang yang tidak terlalu padat secara jauh lebih ekonomis.

Apa yang menjadi ciri khas dan keunggulan utama Boeing 737-500 dibanding seri-seri pendahulunya terletak pada lompatan teknologi dapur pacu dan efisiensi kokpit. Seri -500 menanggalkan mesin turbofan silinder kurus Pratt & Whitney JT8D yang bising pada seri -200, dan menggantinya dengan mesin turbofan high-bypass CFM International CFM56-3.

Mesin baru ini tidak hanya menghasilkan daya dorong yang lebih besar, tetapi juga jauh lebih senyap dan mampu menghemat konsumsi bahan bakar hingga 25 persen. Selain itu, keunggulan lainnya adalah adopsi teknologi glass cockpit modern yang sebagian besar telah terdigitalisasi, sistem manajemen penerbangan (FMS) yang canggih, serta peningkatan aerodinamika pada sayap dan sirip tegak yang membuat performa terbangnya jauh lebih stabil dan ekonomis.

Sejarah Boeing 737-500 (737-1000), Seri 737 Klasik Paling Tidak Laku!

Di kancah internasional saat ini, eksistensi Boeing 737-500 secara komersial berjadwal sudah sangat langka dan sebagian besar telah dipensiunkan oleh maskapai-maskapai besar dunia, digantikan oleh keluarga Boeing 737 Next Generation (NG) maupun MAX yang jauh lebih modern.

Kendati demikian, sejumlah kecil armada 737-500 masih mempertahankan nafasnya di beberapa kawasan, terutama dioperasikan oleh maskapai regional di Eropa Timur, Afrika, serta beberapa operator piagam (charter) dan militer yang memanfaatkan ketangguhan pesawat ini untuk mendarat di landasan pacu yang relatif pendek.

Di Indonesia sendiri, Boeing 737-500 memiliki ikatan sejarah yang sangat erat dan pernah menjadi tulang punggung transportasi udara domestik di era keemasan pertumbuhan penerbangan nasional. Beberapa maskapai besar Indonesia yang tercatat pernah mengoperasikan varian legendaris ini antara lain adalah maskapai bendera nasional Garuda Indonesia, yang menggunakannya untuk rute-rute domestik sebelum meremajakan armadanya.

Selain itu, Sriwijaya Air bersama anak perusahaannya, NAM Air, menjadi salah satu operator 737-500 paling setia dan menjadikannya andalan untuk membuka rute-rute perintis ke bandara dengan landasan terbatas. Maskapai nasional lain seperti Merpati Nusantara Airlines, Batavia Air, Kalstar Aviation, hingga Trigana Air juga tercatat pernah mempercayakan lini operasional mereka pada ketangguhan jet komersial yang hari ini merayakan hari jadinya yang ke-37 sejak pertama kali mengepakkan sayap di angkasa.

Menakar Kesalahan Prosedur Perawatan Pesawat Nahas Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182

Ini Dampak Aktivitas Ekonomi Masyarakat dari Keberadaan KA Kertanegara

Perjalanan kereta api yang satu ini ternyata membuat masyarakat sebagai pengguna setia kereta api cukup terbantu. Tentunya dalam perjalanan yang menghubungkan baik dari Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur maupun sebaliknya. Hal tersebut mendorong dengan adanya kereta api dengan rute yang tentunya banyak digemari masyarakat. Salah satu rute yang kini menjadi sorotan adalah Kereta Api (KA) Kertanegara.

Mulai dioperasikan pada 10 Maret 2021, kereta ini diperkenalkan satu bulan setelah peluncuran grafik perjalanan kereta api tahun 2021. Nama Kertanegara diambil dari raja terakhir Kerajaan Singasari, yaitu Kertanagara, yang memerintah sekitar tahun 1268–1292. Pengoperasian kereta api ini melibatkan perluasan rute perjalanan kereta api Malioboro Ekspres, yang sebelumnya hanya mencapai Yogyakarta.

Rute perjalanan Kereta api Kertanegara dimulai dari Malang dan berakhir di Purwokerto, mencakup jarak tempuh sejauh 559 km dengan waktu tempuh rata-rata 8 jam 48 menit. Frekuensi perjalanan kereta ini adalah satu kali setiap hari. Sejak 10 Maret 2021, KA Kertanegara menggunakan rangkaian kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) yang terdiri dari empat kereta eksekutif, empat kereta ekonomi premium, satu kereta makan (M), dan satu kereta pembangkit (P).

PT KAI mencatat jumlah pelanggan KA Kertanegara relasi Malang–Purwokerto pergi pulang (pp) mencapai 168.085 orang sepanjang Januari hingga Mei 2026, atau naik 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 159.637 pelanggan.

Menurut Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan jumlah pelanggan tersebut menunjukkan KA Kertanegara semakin menjadi pilihan masyarakat untuk bepergian antarkota di wilayah Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Tengah. Menurut dia, layanan tersebut turut memperkuat konektivitas di lintas tengah Jawa sekaligus mendukung berbagai aktivitas masyarakat.

Lonjakan penumpang paling tinggi terjadi pada Maret 2026. Pada bulan tersebut, KA Kertanegara melayani 41.282 penumpang atau meningkat 65,94 persen dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebanyak 24.877 penumpang. Sementara itu, pada Mei 2026 jumlah penumpang mencapai 35.807 orang, naik dari 31.811 penumpang pada Mei tahun sebelumnya.

Anne menuturkan keberadaan KA Kertanegara juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di daerah yang dilalui. Meningkatnya mobilitas penumpang dinilai berpotensi mendorong sektor transportasi lanjutan, usaha mikro, kuliner, penginapan, hingga destinasi wisata di sekitar stasiun. Setiap stasiun pemberhentian memiliki cerita dan manfaat bagi daerahnya. Ada penumpang yang menuju kampus, bertemu keluarga, bekerja, berwisata, atau menjalankan usaha.

Diketahui bahwa KA Kertanegara menghubungkan sejumlah kota seperti Malang, Blitar, Kediri, Madiun, Solo, Yogyakarta, Kebumen, hingga Purwokerto, sehingga menjadi salah satu alternatif transportasi bagi masyarakat untuk keperluan pendidikan, pekerjaan, maupun wisata. Tentunya, KAI ingin perjalanan dengan KA Kertanegara terasa menyenangkan sejak berangkat, nyaman selama di perjalanan, dan memberi nilai bagi kota-kota yang dilalui.

KAI juga mengimbau kepada masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal, terutama menjelang akhir pekan dan masa liburan sekolah, mengingat tingginya minat masyarakat menggunakan layanan KA Kertanegara. Informasi mengenai jadwal, tarif, dan ketersediaan tempat duduk dapat diakses melalui kanal resmi penjualan KAI.

KAI Luncurkan Entertainment on Board Gratis di KA Taksaka, Syaratnya Harus Aktifkan “Flight Mode” di Ponsel

Kisah Panjang Stasiun Gambir di era Kolonial, Hingga Wacana Kembalinya Layanan KRL

Rasanya tak ada habisnya berbagai platform media sosial membahas tentang stasiun nasional yang menjadi tulang punggung kedatangan dan keberangkatan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Apalagi berbagai wacana yang salah satunya pengoperasian layanan Kereta Rel Listrik (KRL) akan diberlakukan di stasiun nasional ini. Ya, Stasiun Gambir bakal terus menjalani revitalisasi besar-besaran pada tahun 2028 mendatang.

Rencana tersebut mengingatkan kembali perjalanan panjang Stasiun Gambir yang pernah melayani KRL sebelum akhirnya fokus sebagai stasiun KAJJ. Diketahui Stasiun Gambir adalah sebuah stasiun kelas besar tipe A yang berada di Jakarta Pusat. Terletak di ketinggian +16 meter di atas permukaan laut, Stasiun Gambir masuk dalam Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta.

Stasiun Gambir Jadi Stasiun Nasional, Pemberhentian KRL dan KAJJ Bakal Berdampingan

Melalui informasi akun resmi KAI, cikal bakal Stasiun Gambir bermula dari sebuah halte sederhana bernama Halte Koningsplein yang berdiri pada 1871. Halte ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) di kawasan yang saat itu masih berupa tanah rawa, tepatnya di sekitar Lapangan Raja atau Koningsplein yang kini menjadi kawasan Silang Monas.

Halte tersebut melayani perjalanan kereta Batavia menuju Buitenzorg atau Bogor. Seiring meningkatnya jumlah penumpang, NISM kemudian membangun Stasiun Weltevreden pada 4 Oktober 1884 di lokasi Stasiun Gambir saat ini. Bangunan baru itu memiliki konstruksi yang lebih kokoh dengan atap besi yang ditopang tiang besi cor.

Menurut keterangan KAI, pengelolaan Stasiun Weltevreden beralih kepada Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1913. Setelah itu dilakukan renovasi besar pada 1928 sehingga bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur art deco dengan perluasan atap di sisi utara. Kemudian pada tahun 1937, nama stasiun berubah menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Saat itu, stasiun tersebut menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Hindia Belanda karena hampir seluruh perjalanan kereta api jarak jauh singgah di lokasi tersebut.

KAI juga menjelaskan bahwa penyebutan nama Stasiun Gambir diduga mulai populer sekitar 1922 ketika masyarakat lebih sering menyebut kawasan Koningsplein sebagai Lapangan Gambir. Nama itu kemudian terus digunakan hingga setelah Indonesia merdeka. Namun di sisi lain, ada pula yang mengatakan kalau namanya diambil dari nama seorang Letnan Belanda keturunan Prancis bernama Gambier. Konon ia ditugaskan oleh Daendels untuk membuka jalan ke arah selatan.

Transformasi besar kembali terjadi pada 1988 ketika pemerintah membangun jalur layang Jakarta Kota-Manggarai. Bangunan lama Stasiun Gambir dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru yang diresmikan pada 5 Juni 1992. Bangunan tiga lantai dengan empat jalur kereta itu mengadopsi bentuk atap bergaya Joglo yang masih menjadi ciri khas hingga sekarang.

Setelah diresmikan sebagai stasiun layang, Stasiun Gambir masih melayani perjalanan KRL selama beberapa tahun. Namun, layanan KRL di Stasiun Gambir resmi dihentikan pada 2012. Pemberhentian KRL kemudian dialihkan ke Stasiun Gondangdia dan Stasiun Juanda, sementara Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun utama yang melayani perjalanan kereta api jarak jauh.

Wacana mengembalikan layanan KRL di Stasiun Gambir kembali mencuat seiring rencana transformasi kawasan stasiun. Meski sudah beberapa kali dibahas dalam beberapa tahun terakhir, hingga kini rencana tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum direalisasikan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan transformasi Stasiun Gambir agar dapat melayani kereta api jarak jauh sekaligus KRL. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari program beautifikasi untuk memperkuat konektivitas transportasi perkeretaapian.

Kehadiran layanan KRL di Stasiun Gambir tidak akan mengurangi peran Stasiun Manggarai sebagai simpul utama perkeretaapian. Sebaliknya, kedua stasiun akan memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga perpindahan penumpang antarmoda menjadi lebih mudah. Apabila terealisasi, Stasiun Gambir akan kembali melayani KRL setelah lebih dari satu dekade berhenti menjadi pemberhentian kereta komuter.

Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Bukan Cuma Indonesia, Tiga Negara Tetangga Ini Juga Punya Kereta Panoramic Mewah

Kehadiran Kereta Panoramic yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, KAI Wisata, telah sukses mencuri perhatian para pencinta moda transportasi rel di tanah air. Dengan kaca jendela berukuran ekstra besar di kedua sisi dan atap kaca (sunroof) otomatis yang dapat dibuka-tutup, kereta ini memberikan pengalaman visual yang memukau sepanjang perjalanan menembus lanskap hijau Pulau Jawa.

Keberhasilan konsep ini ternyata sejalan dengan tren pariwisata berbasis rel (rail tourism) yang sedang berkembang pesat di kawasan regional. Selain Indonesia, sejumlah negara di Asia Tenggara ternyata juga menghadirkan layanan kereta serupa yang mengandalkan desain jendela panorama untuk memanjakan mata para pelancong.

Vietnam menjadi salah satu negara yang paling agresif dalam menggarap pasar kereta wisata premium berkonsep panorama. Melalui kerja sama dengan grup perhotelan mewah Anantara, negara ini menghadirkan layanan bernama The Vietage. Kereta mewah ini melayani rute pesisir tengah Vietnam yang menghubungkan Da Nang, Quy Nhon, hingga Nha Trang.

Setiap bilik pribadi di dalam kereta didesain dengan jendela-jendela besar yang memberikan pandangan tak terbatas ke arah hamparan sawah, perbukitan hijau, dan garis pantai Laut China Selatan selama enam jam perjalanan. Selain The Vietage, Vietnam juga memiliki SJourney Express yang menawarkan konsep luxury rail tour lintas utara-selatan, menggunakan gerbong berdesain klasik yang dilengkapi jendela panorama berukuran besar untuk menikmati keindahan pedesaan Vietnam yang ikonik.

Tidak ketinggalan, Thailand melalui otoritas kereta apinya, State Railway of Thailand (SRT), juga aktif merestorasi dan memodifikasi armada mereka demi mendukung sektor pariwisata. Salah satu andalan terbaru mereka adalah SRT Royal Blossom, gerbong wisata premium yang didesain ulang secara khusus dengan jendela kaca yang dibuat jauh lebih lebar, tinggi, dan minim sekat masif. Kereta ini secara berkala dioperasikan untuk rute-rute wisata domestik dari Bangkok menuju kota-kota bersejarah atau destinasi alam. Selain itu, SRT juga mengoperasikan kereta legendaris KiHa 183 hasil hibahan dari JR Hokkaido Jepang.

Penumpang Kian Meningkat, Ternyata Ini Keunggulan yang Bikin Kereta Panoramic Makin Digemari

Keunikan dari KiHa 183 ini terletak pada posisi kabin masinis yang berada di lantai atas (elevated), sehingga penumpang yang duduk di barisan paling depan dapat menikmati pandangan panoramic ke arah depan lintasan rel, menyajikan sensasi perjalanan yang sangat mirip dengan kereta wisata di negeri sakura.

Bagi mereka yang mencari kemewahan kelas dunia di atas rel, jalur lintas batas yang menghubungkan Singapura dan Malaysia menawarkan pengalaman legendaris melalui Eastern & Oriental Express yang dikelola oleh operator ternama Belmond. Kereta mewah ini membawa penumpang menerobos lebatnya hutan tropis, perkebunan kelapa sawit, dan pemukiman tradisional di sepanjang semenanjung Malaya.

Daya tarik utama dari kereta ini adalah keberadaan gerbong observasi (Observation Car) yang ditempatkan di bagian paling belakang rangkaian. Gerbong ini mengombinasikan area semi-terbuka dengan jendela melengkung berukuran raksasa yang menyuguhkan pemandangan lanskap Asia Tenggara secara 180 derajat tanpa halangan, lengkap dengan tiupan angin alami yang menambah kesan petualangan romantis masa lalu.

Melalui berbagai inovasi tersebut, negara-negara di Asia Tenggara membuktikan bahwa perjalanan dengan kereta api kini bukan lagi sekadar urusan berpindah dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah destinasi pariwisata itu sendiri. Jika Indonesia unggul dengan keunikan atap kaca komersial regulernya, negara-negara tetangga berhasil mengemas konsep jendela panorama ini ke dalam paket wisata premium dan kereta charter eksklusif. Kehadiran kereta-kereta panoramic ini semakin memperkaya pilihan bagi para pelancong domestik maupun internasional untuk mengeksplorasi kekayaan alam dan budaya Asia Tenggara dengan cara yang lebih lambat, mendalam, dan tentu saja, estetis.

Dongkrak Sektor Pariwisata, Thailand Gandeng Raksasa Perhotelan Garap Jaringan Kereta Mewah Kelas Dunia

Termasuk Indonesia, UEA Berikan Fasilitas Visa on Arrival untuk Empat Negara Asia Tenggara

Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi melakukan manuver besar dalam kebijakan imigrasinya demi mendongkrak arus kunjungan wisatawan dan pebisnis global ke negaranya. Pemerintah UEA mengumumkan pemberian fasilitas Visa on Arrival (VoA) bagi warga negara dari empat negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Kebijakan strategis ini memungkinkan para pelancong dari keempat negara tersebut untuk memperoleh visa kunjungan langsung di seluruh pintu perlintasan udara, laut, maupun darat sesaat setelah mereka mendarat di emirat-emirat utama seperti Dubai maupun Abu Dhabi, tanpa perlu lagi melakukan proses pengurusan visa yang rumit dari negara asal.

Berdasarkan regulasi terbaru yang dirilis oleh Otoritas Identitas, Kewarganegaraan, Bea Cukai, dan Keamanan Pelabuhan Federal (ICP) UEA, fasilitas Visa on Arrival yang diberikan ini berlaku untuk jangka waktu tinggal maksimal selama 30 hari. Kebijakan ini dirancang dengan fleksibilitas tinggi bagi para pengguna jasa transportasi udara, di mana para pelancong dapat memperpanjang masa tinggal tersebut untuk jangka waktu 30 hari berikutnya dengan membayar biaya administrasi yang telah ditentukan secara resmi oleh pihak otoritas setempat. Kemudahan ini tentu menjadi angin segar, khususnya bagi para pelancong mandiri (backpacker) maupun wisatawan korporat yang seringkali membutuhkan mobilitas dinamis ke wilayah Timur Tengah.

Kendati memberikan kelonggaran besar, Pemerintah UEA tetap menerapkan sejumlah persyaratan standar kepatuhan imigrasi demi menjaga keamanan nasional mereka. Dokumen wajib yang harus dipersiapkan oleh setiap penumpang dari empat negara Asia Tenggara tersebut saat berada di konter imigrasi bandara meliputi paspor dengan masa berlaku minimal enam bulan dari tanggal kedatangan.

Selain itu, para pelancong juga diwajibkan untuk menunjukkan tiket penerbangan pulang-pergi (return ticket) yang valid, serta bukti akomodasi yang jelas selama berada di UEA, baik berupa pemesanan hotel terkonfirmasi maupun surat undangan resmi jika menginap di kediaman kerabat.

Langkah akomodatif yang diambil oleh UEA ini dipandang para analis industri penerbangan sebagai strategi jitu untuk bersaing memperebutkan kue pasar pariwisata premium di kawasan Asia Tenggara yang tengah tumbuh pesat. Dengan memangkas birokrasi visa, UEA berambisi menjadikan kota-kota seperti Dubai dan Abu Dhabi tidak sekadar sebagai titik transit penerbangan internasional (hub airport), melainkan sebagai destinasi akhir yang wajib dikunjungi.

Kebijakan ini juga diproyeksikan akan memberikan stimulus positif secara langsung terhadap tingkat keterisian kursi (load factor) maskapai-maskapai raksasa lokal seperti Emirates dan Etihad Airways yang melayani rute langsung ke Jakarta, Manila, Bangkok, hingga Hanoi.

Bagi para pengguna jasa transportasi udara dan pencinta pelesiran di tanah air, keputusan ini secara otomatis memotong biaya perjalanan pengurusan visa yang selama ini kerap menjadi kendala psikologis sebelum terbang. Dengan berlakunya aturan baru ini, merencanakan liburan menyaksikan kemegahan Burj Khalifa atau menjelajahi eksotisme gurun pasir di Dubai kini menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan ekonomis.

Dongkrak Sektor Pariwisata, Thailand Gandeng Raksasa Perhotelan Garap Jaringan Kereta Mewah Kelas Dunia

Pemerintah Thailand terus melakukan manuver agresif untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata utama di Asia Tenggara. Langkah terbaru yang diambil tidak lagi berfokus pada moda transportasi udara, melainkan membidik optimalisasi infrastruktur rel melalui pengembangan layanan kereta api wisata mewah berkelas dunia (luxury train services).

Kementerian Transportasi Thailand kini tengah mempercepat rencana strategis tersebut untuk menarik segmen pelancong internasional kelas atas (high-spending travelers) serta mendorong pemerataan ekonomi di wilayah-wilayah pelosok. Langkah ambisius ini diambil dengan memanfaatkan momentum regulasi baru, yakni Undang-Undang Transportasi Kereta Api (Rail Transport Act) 2026, yang membuka pintu lebar-lebar bagi keterlibatan sektor swasta dalam kepemilikan dan pengoperasian armada di jaringan rel milik negara.

Guna mengeksekusi visi besar ini, Kementerian Transportasi Thailand telah melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Minor International Public Company Limited (MINT), salah satu raksasa industri perhotelan dan hospitalitas global yang terkenal lewat jaringan hotel mewah seperti Anantara. Kolaborasi strategis ini dipimpin langsung oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn. Melalui kemitraan pemerintah-swasta (Public-Private Partnership / PPP) ini, keahlian Minor Group dalam menyajikan pelayanan premium akan dikombinasikan dengan kapabilitas teknis State Railway of Thailand (SRT). Proyek ini juga disinergikan dengan proyek domestik milik SRT, “Siamese Train”, yang berfokus pada restorasi dan modifikasi interior gerbong kereta agar memiliki fasilitas setara hotel berbintang, lengkap dengan sentuhan seni dari pengrajin lokal Thailand.

Kehadiran Undang-Undang Perkeretaapian yang baru diundangkan pada tahun 2026 ini menjadi katalis penting yang mengubah peta industri transportasi di Negeri Gajah Putih. Regulasi ini melakukan deregulasi mendasar yang untuk pertama kalinya mengizinkan perusahaan swasta untuk berinvestasi, ikut memiliki, dan mengoperasikan layanan kereta di atas jalur rel SRT. Bagi pemerintah Thailand, skema ini merupakan solusi cerdas untuk memaksimalkan utilitas aset infrastruktur rel ganda (double-track) yang telah dibangun secara masif, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi SRT guna mendukung penyehatan fiskal jangka panjang sang operator pelat merah tersebut.

Berbeda dengan layanan kereta komuter reguler yang berfungsi sebagai sarana mobilisasi harian, rute-rute kereta mewah ini didesain sebagai mesin penggerak distribusi kekayaan ke wilayah pedesaan. Kementerian Transportasi Thailand berencana menggandeng Kementerian Pariwisata dan Olahraga serta Tourism Authority of Thailand (TAT) untuk merancang rute-rute tematik yang menarik. Jaringan kereta ini nantinya tidak hanya menghubungkan kota-kota wisata utama (primary destinations), tetapi juga menembus kota-kota sekunder (secondary-tier provinces) yang kaya akan potensi wisata budaya dan sejarah namun selama ini minim akses. Setiap perjalanan akan dikonsep secara unik dengan mengangkat narasi lokal, kuliner khas daerah, dan pengalaman budaya langsung guna meningkatkan daya pikat bagi para turis.

Pada akhirnya, transformasi layanan kereta api menjadi moda pariwisata premium ini diyakini akan memberikan dampak rembesan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat akar rumput. Kehadiran turis asing berkantong tebal di sepanjang jalur perkeretaapian akan memicu permintaan yang tinggi pada sektor akomodasi lokal, pemandu wisata, pusat perbelanjaan, hingga konsumsi produk pertanian dan kerajinan tangan daerah.

Dengan strategi penyelarasan antara transportasi, perdagangan, dan hospitalitas ini, Thailand tidak hanya sekadar meng-upgrade sistem perkeretaapian nasionalnya, melainkan juga menciptakan ekosistem pariwisata berkualitas tinggi yang mampu meningkatkan daya saing global negara tersebut dalam jangka panjang.

Dobrak Monopoli Abadi: Thailand Resmi Buka Jaringan Kereta Nasional untuk Operator Swasta

Simbol Konektivitas Jawa dan Sumatra, Jejak Ratusan Tahun Stasiun Merak yang Tak Pernah Padam

Sebagai jalur kereta api paling barat Pulau Jawa, tentu menyimpan cerita bersejarah mengenai kereta api yang melintas. Apalagi sangat dikenal sejak jaman Kolonial Belanda yang digunakan sebagai penghubung jalur perdagangan maupun angkutan masyarakat. Bahkan hingga kini jalur tersebut masih banyak digunakan untuk menyambung aktivitas dari berbagai kota khususnya wilayah Banten dan sekitarnya.

Ya, jalur ini cukup terkenal antara Stasiun Rangkasbitung hingga paling akhir di Stasiun Merak. Bahkan stasiun yang digadang-gadang memiliki aset bersejarah ini pun merupakan transportasi penghubung antara Jawa dan Sumatra. Stasiun Merak yang bangunannya terlihat sederhana ini sudah tak asing lagi dengan aktivitas kereta api yang dikenal sebagai lokalnya jalur barat. Masyarakat pun tentunya sangat terbantu dengan transportasi kereta api tersebut dengan tarifnya yang terjangkau dan murah.

Diketahui Stasiun Merak diresmikan pada 1 Desember 1914 oleh Staatsspoorwegen Hindia Belanda. Sejak awal, stasiun ini dibangun untuk mendukung pergerakan penumpang dan barang, khususnya bagi masyarakat yang akan menyeberang ke Sumatra melalui jalur laut. Terletak di pesisir Cilegon, Banten, Stasiun Merak menjadi titik temu penting antara jalur rel dan jalur laut.

Hingga kini, arsitektur bergaya Indische Klasik masih dipertahankan, menjadikan Stasiun Merak bagian penting dari sejarah perkeretaapian nasional. Keunggulan utama Stasiun Merak adalah lokasinya yang bersebelahan langsung dengan Pelabuhan Penyeberangan Merak–Bakauheni. Integrasi ini memudahkan penumpang berpindah moda transportasi dengan cepat, baik menuju kapal laut, bus antarkota, maupun angkutan lokal.

Stasiun Merak sekarang ini melayani perjalanan KA Commuter Line Merak dengan relasi Merak-Rangkasbitung (pp) sebanyak 14 perjalanan setiap hari. Volume pelanggan mencapai rata-rata 1.300 orang per hari atau sekitar 40.000 pelanggan per bulan. Sebagian besar adalah pengguna komuter harian, sementara sisanya merupakan wisatawan dan penumpang yang akan melanjutkan perjalanan dengan kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak.

Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Berbagai fakta tentunya bisa ditemukan di Stasiun Merak. Diketahui bahwa pada dekade 1890-an, perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) memiliki rencana untuk membangun jalur kereta api yang menghubungkan wilayah Duri hingga Serang, melalui Tangerang dan Cikande. Tujuan utama dari proyek ini adalah meningkatkan mobilitas penumpang dari Batavia ke kawasan Banten, sehingga perjalanan dapat berjalan lebih lancar dan terkoneksi secara efisien melalui jalur kereta api yang direncanakan.

Sejarah menyebutkan pada Stasiun Merak ini awalnya memiliki kanopi kayu dan berdekatan langsung dengan laut dan dermaga. Diperkirakan, kanopi ini dihancurkan pada masa kemerdekaan. Bangunan ini sebelumnya dilengkapi dengan turntable dan jalur cabang menuju Pelabuhan Indah Kiat untuk kereta api angkutan bubur kertas, namun fasilitas tersebut telah dibongkar dan tidak lagi ada.

Fakta lainnya adalah bangunan stasiun asli telah dihancurkan pada akhir 1980-an untuk pembangunan terminal penyeberangan kapal feri, yang sekarang menjadi kantor Pelabuhan ASDP Merak. Pada masa lalu, antara Stasiun Merak dan Stasiun Krentjeng (Krenceng), terdapat Halte Rangkamila dan Halte Tegalwangi, tetapi keduanya tidak aktif lagi.

Hingga kini, Stasiun Merak menjadi contoh nyata bagaimana aset bersejarah dapat terus berperan dalam sistem transportasi modern. Melalui inovasi digital seperti aplikasi Access by KAI, masyarakat kini dapat memesan tiket, mengecek jadwal perjalanan secara real-time, memilih tempat duduk, hingga mengakses informasi promo dengan lebih mudah. Meski usianya lebih dari seratus tahun, Stasiun Merak tetap menjadi nadi transportasi dan simbol keterhubungan antarpulau, menjembatani masa lalu dan masa depan perkeretaapian Indonesia.

Stasiun Krenceng, Kecil Namun Memiliki Keunikan

Penumpang Kian Meningkat, Ternyata Ini Keunggulan yang Bikin Kereta Panoramic Makin Digemari

Dalam melakukan perjalanan kereta api, tentu yang menarik perhatian adalah menikmati pemandangan dari balik jendela. Apalagi jalur kereta api yang membentang melewati pesona alam Indonesia yang memiliki berbagai lokasi yang terbaik dan terlihat kagum. Ya, menggunakan kereta api sambil melihat indahnya pemandangan alam jika disuguhkan dari atas kereta wisata yang hingga kini masih terbilang populer. Kereta wisata Panoramic ternyata makin hari makin digemari masyarakat untuk melakukan perjalanan yang istimewa.

Menurut data yang diterima dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mencatat pertumbuhan penumpang Kereta Panoramic periode Januari-Mei 2026 meningkat 62,32% secara tahunan. VP Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan jumlah penumpang Kereta Panoramic mencapai 79.933 orang pada Januari-Mei 2026. Adapun, pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 49.244 orang.

Peningkatan tersebut sejalan dengan tren pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata mencatat sepanjang Januari-November 2025 lalu jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1,09 miliar perjalanan atau tumbuh 18,95% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi pergerakan wisata domestik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Anne menuturkan pertumbuhan pelanggan Kereta Panoramic mencerminkan perubahan preferensi masyarakat dalam menikmati perjalanan kereta api. Perjalanan kini menjadi bagian dari pengalaman wisata dan penumpang ingin menikmati setiap momen selama perjalanan.

Saat ini Kereta Panoramic hadir pada rangkaian Kereta Api (KA) Argo Wilis relasi Bandung – Surabaya Gubeng (PP), KA Turangga relasi Bandung – Surabaya Gubeng (PP), KA Pangandaran relasi Gambir – Banjar (PP), KA Papandayan relasi Gambir – Garut (PP), KA Parahyangan relasi Gambir–Bandung (PP), serta KA Manahan relasi Gambir – Solo Balapan (PP). Nah, dari berbagai kereta api yang menghadirkan Panoramic ternyata memiliki keunggulan yang hingga kini digemari masyarakat.

Sejak pertama kali diluncurkan, kereta ini langsung mencuri perhatian para pelancong karena tampilannya yang beda dari kereta api pada umumnya. Layanan ini didesain khusus untuk memberikan pengalaman sightseeing atau melihat pemandangan secara maksimal selama perjalanan. Serta bertujuan agar penumpang tidak hanya sampai ke tujuan, tapi juga menikmati setiap jengkal keindahan alam di sepanjang jalur rel.

Kereta Panoramic menyuguhkan jendela kaca yang ukurannya sangat besar di kedua sisi kabin. Tidak hanya itu, bagian paling istimewa adalah atap kaca (panoramic roof) yang membentang dari depan ke belakang. Karena didominasi oleh kaca, suasana di dalam kabin terasa sangat lega dan tidak membuat merasa terkurung dalam kotak besi.

Kursi yang di desain pada Kereta Panoramic pun memiliki keunikan, salah satunya bisa diputar menghadap jendela. Jadi, jika bosan melihat ke depan, penumpang tinggal memutar kursi untuk langsung menghadap ke pemandangan luar yang memukau. Tentunya inovasi ini membuktikan bahwa kereta api kini bukan hanya sekadar moda transportasi, tetapi telah bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata yang unik dan berkesan.

KAI mencatat antusiasme pelanggan terhadap Kereta Panoramic terus meningkat. Fitur 90 derajat menjadi salah satu pengalaman khas yang memperkuat posisi layanan ini sebagai premium scenic train di Indonesia. Dan yang pasti, dukungan serta kepercayaan masyarakat menjadi motivasi bagi KAI untuk terus berinovasi dan menghadirkan layanan kereta api yang tidak hanya memenuhi kebutuhan transportasi, tetapi juga memberikan pengalaman perjalanan yang berkesan dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Kereta Panoramic Belum Bisa Dioperasikan Secara Reguler, Kenapa? Ini Jawaban dari PT KAI