Sebanyak 182.000 Lebih Penumpang Gunakan Kereta Ekonomi Kerakyatan, KAI Terus Perkuat Evaluasi Pelayanan

Minat masyarakat gunakan jenis Kereta Ekonomi Kerakyatan terus dirasakan manfaatnya oleh penumpang kereta api. Apalagi fasilitas yang diberikan selama perjalanan terasa lebih baik dan lebih bermanfaat. Kereta Ekonomi Kerakyatan yang dijalankan dengan rute Stasiun Pasar Senen – Garut pulang pergi ini juga membawa dampak yang baik bagi semua kalangan, ditambah dengan tarif yang masih relatif murah, yakni Rp45.000.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat sebanyak 182.208 pelanggan telah memanfaatkan layanan Kereta Ekonomi Kerakyatan sejak mulai beroperasi pada 2026 hingga 9 September 2026. Jumlah tersebut berasal dari layanan K3 Kerakyatan sebanyak 181.900 pelanggan dan Kereta Petani dan Pedagang jarak jauh sebanyak 308 pelanggan pada relasi Garut–Pasar Senen dan Pasar Senen–Garut.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa layanan kereta ekonomi kerakyatan hadir untuk memberikan pilihan perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat. Hal ini membuat KAI terus melakukan evaluasi berdasarkan data perjalanan pelanggan untuk menghadirkan layanan kereta api yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Layanan K3 Kerakyatan pertama kali hadir melalui KA Tambahan relasi Lempuyangan–Pasar Senen dan Pasar Senen–Lempuyangan pada masa Angkutan Lebaran 2026, yaitu periode 11 Maret hingga 5 April 2026. Pada periode tersebut, layanan ini mencatat sebanyak 24.398 pelanggan. Sebagai rinciannya, perjalanan Lempuyangan menuju Pasar Senen melayani 12.262 pelanggan, sedangkan perjalanan Pasar Senen menuju Lempuyangan melayani 12.136 pelanggan.

Pun setelah periode Angkutan Lebaran, KAI melanjutkan layanan K3 Kerakyatan melalui KA Cikuray relasi Garut–Pasar Senen dan Pasar Senen–Garut mulai 11 Juni 2026. Hingga 9 September 2026, layanan tersebut telah melayani sebanyak 157.502 pelanggan.
Jumlah tersebut terdiri atas perjalanan Garut menuju Pasar Senen sebanyak 81.368 pelanggan dan perjalanan Pasar Senen menuju Garut sebanyak 76.134 pelanggan.

Selain layanan K3 Kerakyatan, KAI juga menghadirkan Kereta Petani dan Pedagang jarak jauh relasi Garut–Pasar Senen dan Pasar Senen–Garut mulai 11 Juni 2026. Hingga 9 September 2026, layanan tersebut telah melayani 308 pelanggan. Rinciannya, perjalanan Garut menuju Pasar Senen melayani 153 pelanggan, sedangkan perjalanan Pasar Senen menuju Garut melayani 155 pelanggan.

Anne menjelaskan bahwa data perjalanan pelanggan menjadi salah satu bahan evaluasi KAI dalam mengembangkan layanan kereta api, mulai dari pola perjalanan hingga kebutuhan mobilitas masyarakat. Tentunya, KAI terus memantau perkembangan jumlah pelanggan dan pola perjalanan sebagai bahan evaluasi layanan. Setiap pengembangan layanan dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, kenyamanan, serta kebutuhan masyarakat.

Hingga 9 September 2026, layanan Kereta Ekonomi Kerakyatan yang terdiri atas K3 Kerakyatan dan Kereta Petani dan Pedagang jarak jauh telah melayani 182.208 pelanggan. KAI akan terus melakukan pengelolaan layanan kereta api berdasarkan perkembangan mobilitas masyarakat agar perjalanan kereta api semakin memberikan kemudahan bagi pelanggan.

Naik Kereta Petani dan Pedagang di KA Cikuray Harus Registrasi Dulu, Simak Persyaratannya

Resmi Pensiunkan Seluruh Airbus A330, Qatar Airways Beralih Fokus dan ‘Kirim’ Pilot ke RwandAir

Qatar Airways secara resmi mengakhiri era pengoperasian pesawat widebody legendaris Airbus A330 dari jajaran armada penumpangnya. Langkah pensiunnya armada A330 ini dilakukan setelah pesawat tipe tersebut bertahan di jajaran armada Qatar Airways lebih lama dari rencana awal, menyusul penyesuaian strategi maskapai dalam menghadapi dinamika industri penerbangan global dan lonjakan harga bahan bakar.

Keputusan penarikan penuh ini diambil di tengah tekanan eksternal wilayah Teluk yang terus memicu lonjakan harga bahan bakar avtur (jet fuel). Dalam kondisi ekonomi penerbangan saat ini, mengoperasikan pesawat generasi lama yang kurang efisien secara konsumsi bahan bakar menjadi sangat mahal. Manajemen maskapai menilai memarkir pesawat tua jauh lebih ekonomis daripada mengoperasikannya di tengah melambungnya biaya operasional penerbangan.

Sebelumnya, maskapai asal Qatar ini sempat menyewa empat unit A330 dari Oman Air pada tahun 2025 yang direncanakan beroperasi hingga akhir 2026, meski pada akhirnya armada sewaan tersebut tidak pernah masuk ke layanan komersial secara penuh. Dua unit A330 yang tersisa di Doha kini dijadwalkan akan dikembalikan ke perusahaan penyedia jasa sewa (lessor) Jetran pada Oktober 2026. Kehadiran A330 sendiri sebelumnya menyumbang sekitar 7% dari total armada penumpang widebody Qatar Airways.

Untuk mengatasi nasib para penerbang dari armada yang dikandangkan, Qatar Airways menawarkan program penugasan sementara secara sukarela (short-term secondment) bagi puluhan pilot tersertifikasi A330 untuk diperbantukan ke maskapai Afrika, RwandAir. Penugasan ini memungkinkan para pilot tetap menjaga jam terbang dan keahlian operasional mereka selama masa transisi, sekaligus mendukung ekspansi operasional RwandAir yang tengah membangun armada A330 milik mereka sendiri.

Kerja sama penempatan pilot ini diperkuat oleh hubungan kemitraan erat antara kedua maskapai yang telah terjalin melalui perjanjian codeshare. RwandAir secara bertahap menerima unit A330 untuk mendukung operasionalnya, di mana salah satu pesawat yang diterima maskapai berbasis di Rwanda tersebut merupakan bekas armada milik Qatar Airways. Langkah ini membantu Qatar Airways mempertahankan kapasitas sumber daya manusianya sebelum nantinya merekrut dan memindahkan para pilot tersebut ke pesawat generasi baru.

Pensiunnya Airbus A330 merupakan bagian dari pembaruan armada secara menyeluruh dan bukan bentuk penurunan skala bisnis jangka panjang. Antara September 2026 hingga akhir 2027, Qatar Airways merencanakan pengeluaran enam pesawat tua dan penerimaan 19 pesawat baru.

Secara keseluruhan dalam lima tahun ke depan, maskapai ini menargetkan penerimaan 138 pesawat baru dari total pesanan mencapai 410 unit pesawat ke Airbus dan Boeing untuk mendukung pertumbuhan jaringan rutenya di masa depan.

Qatar Airways Umumkan Lebih dari 100 Pesawat Widebody Telah Dilengkapi Akses Internet Starlink

Indonesia Buka Peluang Cina Garap Kereta Api Trans-Kalimantan 2.772 Km dengan Kewaspadaan Tinggi

Pemerintah Indonesia tengah menjajaki peluang investasi asing untuk merealisasikan proyek raksasa jaringan kereta api Trans-Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer (1.722 mil) yang membentang di pulau yang kaya akan sumber daya alam tersebut. Langkah ini mengemuka menyusul rampungnya proyek jalur kereta cepat pertama di Asia Tenggara yang menghubungkan Jakarta dan Bandung.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mengeksplorasi potensi investasi asing untuk membangun jaringan rel di Kalimantan tersebut. Dua negara besar, yakni Cina dan Rusia, dilaporkan telah menyatakan minat resmi mereka untuk terlibat dalam proyek strategis ini.

Meski Cina menjadi salah satu kandidat kuat penyedia investasi dan teknologi perkeretaapian, para pengamat menilai bahwa kesepakatan komersial di masa depan akan dinegosiasikan secara sangat berhati-hati. Sikap waspada ini dipicu oleh pengalaman dari beban keuangan yang sempat membayangi pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, serta berbagai tantangan yang menyelimuti rencana proyek kereta bawah tanah (MRT) di Provinsi Bali.

Ketakutan akan potensi pembengkakan biaya (cost overrun) dan skema jeratan utang (debt trap) menjadi sorotan utama para analis ekonomi sebelum pemerintah mengetok palu kerja sama. Proyek infrastruktur berskala megah yang melintasi ribuan kilometer medan geografis berat di Kalimantan membutuhkan kepastian skema pembiayaan yang transparan, agar modal asing yang masuk tidak sampai membebani keuangan negara atau mengganggu stabilitas APBN di masa depan.

Di sisi lain, kehadiran jaringan rel Trans-Kalimantan diproyeksikan menjadi tulang punggung baru dalam mengakselerasi distribusi komoditas tambang, hasil bumi, hingga konektivitas penumpang antarprovinsi.

Keberadaan moda transportasi massal berbasis rel ini diharapkan sanggup memangkas biaya logistik secara signifikan sekaligus mengintegrasikan kawasan industri lokal dengan pusat pemerintahan baru di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pembangunan jaringan rel Trans-Kalimantan sendiri dinilai krusial untuk membuka aksesibilitas wilayah, memperlancar rantai pasok logistik, serta mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, guna menghindari potensi pembengkakan anggaran dan risiko finansial jangka panjang, pemerintah Indonesia diprediksi akan menerapkan syarat kerja sama yang lebih ketat, transparan, dan terukur sebelum menyepakati komitmen pendanaan final.

Sebelum Dibangun Trans Kalimantan, Ternyata di Kalsel Dulu Punya Jejak Sejarah Kereta Api yang Hampir Terlupakan

 

Kereta Ekonomi Kerakyatan akan Ditambah, Tarif Tiket Bisa Mencapai Rp80.000

Kereta Ekonomi Kerakyatan kini makin digemari maayarakat sebagai pengguna setia kereta api. Meskipun hanya digunakan pada rute Jakarta – Garut, namun keberadaan rangkaian tersebut biaa dinikmati penumpang dengan nyaman. Kereta Ekonomi Kerakyatan hadir dengan fasilitas dan pelayanan yang berbeda dark kelas ekonomi pada umumnya.

Hal ini membuat PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengonversi lebih dari 75 unit kereta untuk layanan Kereta Ekonomi Kerakyatan, kelas baru di bawah ekonomi komersial dengan kapasitas 93 tempat duduk per kereta. Okupansi kereta yang sudah berjalan menembus 155% dengan rata-rata 1.729 penumpang harian. KAI tengah mengupayakan layanan ini masuk skema subsidi Public Service Obligation (PSO) agar tarifnya turun ke kisaran Rp 80.000.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyatakan program konversi gerbong tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan menghadirkan pilihan perjalanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat menengah. Sejak diluncurkan pada awal tahun, respons penumpang terhadap layanan ini terbilang tinggi. Menurutnya, Kereta Kelas Ekonomi Kerakyatan dengan kapasitas harian 1.116 dan okupansinya luar biasa 155%. Rata-rata harian penumpang 1.729 dan total penumpang 142.566.

Pengembangan kereta ekonomi kerakyatan berkaitan dengan rencana penataan armada layanan PSO. KAI akan mengubah konfigurasi tempat duduk agar ruang yang tersedia dimanfaatkan lebih optimal, sekaligus memberikan posisi duduk yang searah dengan perjalanan kereta. Bobby menambahkan bahwa Kereta Ekonomi Kerakyatan ini atas arahan dari Bapak Presiden untuk kita mulai nanti mengganti kereta-kereta PSO yang sekarang per gerbongnya 106 tempat duduk itu menjadi 93 tempat duduk dan tempat duduknya itu searah dengan arah perjalanan kereta.

Model baru tersebut ditempatkan sebagai kelas tersendiri di antara layanan kereta yang sudah ada. Masyarakat memiliki pilihan perjalanan yang berada di bawah kelas ekonomi komersial dari sisi tarif, tetapi tetap memiliki kapasitas penumpang yang lebih besar. Salah satu layanan yang sudah berjalan adalah rute Pasar Senen-Lempuyangan. KAI mematok tarif Rp 125.000 untuk layanan tersebut dan tingkat keterisiannya disebut terus menunjukkan permintaan yang tinggi.

Keberadaan kereta ekonomi kerakyatan tidak berarti layanan PSO akan ditinggalkan. KAI tengah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan agar layanan baru tersebut nantinya juga dapat memperoleh dukungan subsidi pemerintah melalui skema Public Service Obligation (PSO). Dengan skema tersebut, tarif yang dibayarkan penumpang berpotensi turun dari tarif komersial yang berlaku saat ini. Bobby memperkirakan tarifnya dapat berada di kisaran tarif PSO yang selama ini dinikmati masyarakat.

Tentunya, KAI menyiapkan ekspansi layanan tersebut dengan mengubah lebih banyak rangkaian kereta. Langkah ini menjadi bagian dari rencana perseroan untuk memperluas akses masyarakat terhadap perjalanan kereta dengan tarif yang lebih rendah. Bagi penumpang, skema ini berpotensi menekan biaya perjalanan jarak menengah jika subsidi PSO benar-benar mengalir. Namun besaran tarif final masih menunggu hasil perhitungan bersama Kementerian Perhubungan.

Kereta Ekonomi Kerakyatan merupakan hasil pengembangan yang dikerjakan oleh insan KAI di Balai Yasa Manggarai. Pengembangan dilakukan melalui pembaruan interior, penataan ulang tempat duduk, serta penggunaan kursi yang dapat disesuaikan dengan arah perjalanan. Penataan tersebut memberikan posisi duduk yang lebih nyaman dan ruang perjalanan yang lebih baik bagi pelanggan, dengan tetap mempertahankan kapasitas layanan yang sesuai bagi kebutuhan transportasi publik.

Dampak Ekonomi KA Kahuripan: Kereta Termurah yang Hidupkan Jalur Selatan Jawa

Mewah! Singapore Airlines Gandeng Christofle dan Hadirkan 100+ Menu Baru untuk Pengalaman Bersantap di Udara

Singapore Airlines (SIA) mengumumkan transformasi besar-besaran pada layanan bersantap di dalam penerbangan (in-flight dining) bagi para penumpangnya. Langkah penyempurnaan skala besar ini mencakup peluncuran ratusan pilihan menu makanan dan minuman baru, penggunaan perangkat saji (serviceware) mewah khusus hasil kolaborasi bersama rumah desain ternama Perancis, hingga peningkatan sentuhan layanan yang lebih personal dari para awak kabin.

Inovasi kuliner ini menjadi salah satu pilar investasi strategis SIA dalam menyambut produk kabin generasi berikutnya, sistem hiburan KrisWorld, serta peningkatan fasilitas layanan udara dan darat yang akan mulai diimplementasikan secara menyeluruh pada November 2026.

Inti dari penyempurnaan kuliner ini ditandai dengan hadirnya kategori menu anyar bertajuk SIA Chefs’ Selection. Dikembangkan secara kolaboratif oleh tim koki internal SIA bersama enam koki tamu (guest chefs) internasional kenamaan—seperti Monica Galetti dari Inggris, Yoshihiro Murata dari Jepang, hingga Sanjeev Kapoor dari India—kategori ini menghadirkan lebih dari 100 hidangan pembuka, utama, hingga penutup baru di seluruh kelas kabin.

Sajian ini memadukan bahan segar musiman dari produsen lokal di berbagai destinasi SIA dengan teknik memasak khusus yang disesuaikan untuk lingkungan kabin pesawat. Di kabin Suites dan First Class, penumpang dapat menikmati hidangan berkelas seperti Poached Maine Lobster with Champagne Sauce dan Beef Short Rib Sambal Percik with Nasi Kerabu. Sementara untuk Business Class, hadir kreasi unik seperti Fusion Harmony Rojak, Jackfruit Opor with Blue Pea Rice untuk pilihan vegetarian, hingga Char Siew Wonton Noodle. Penumpang kelas Premium Economy dan Economy juga dimanjakan dengan variasi hidangan lezat seperti Irish Lamb Stew, Chicken Stroganoff, hingga Tandoor Roasted Paneer.

Kemewahan pengalaman bersantap di kabin premium semakin lengkap dengan kehadiran perangkat saji porselen dan gelas kristal yang dirancang khusus oleh merek perlengkapan meja makan mewah asal Prancis, Christofle. Kerja sama ini menjadikan SIA sebagai maskapai penerbangan pertama di dunia yang menghadirkan perangkat makan porselen Christofle di dalam penerbangannya.

Mengadaptasi desain elegan koleksi Malmaison Impériale yang dipadukan secara halus dengan motif batik khas Singapore Airlines, perangkat saji ini disiapkan khusus untuk penumpang di kabin Suites, First Class, dan Business Class. Khusus bagi penumpang Suites dan First Class, pengalaman minum diperkaya dengan gelas wine bertangkai panjang serta gelas sampanye berbentuk tulip guna mengoptimalkan aroma dan cita rasa minuman.

Melengkapi pilihan hidangan utama, SIA turut memperluas portofolio minumannya dengan mengurasi koleksi label wine dan champagne kelas dunia, seperti Krug Grande Cuvée, Louis Roederer Cristal, hingga Charles Heidsieck. Pilihan minuman beralkohol (spirit) baru juga ditambahkan, seperti whiskey campuran eksklusif dari Komoro Distillery Jepang, Bowmore 19 Year Old Single Malt, hingga Roku Botanical Kasane Edition gin.

Seluruh sajian fisik ini makin sempurna berkat sentuhan layanan personal dari awak kabin SIA yang dibekali pengetahuan khusus untuk memberikan rekomendasi paduan minuman (pairing) yang cocok.

Di kelas Suites dan First Class, awak kabin bahkan akan menyelesaikan tahap akhir penyajian (final plating) langsung di meja penumpang serta memberikan fleksibilitas penuh terkait waktu bersantap selama penerbangan. Penyajian menu baru SIA Chefs’ Selection telah mulai diperkenalkan secara bertahap, sementara fasilitas perangkat saji Christofle dan peningkatan layanan menyeluruh akan diluncurkan penuh mulai November 2026.

Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Jepang Mulai Operasikan Gate Tiket Face Recognition, Tapi Mengapa Penumpang Masih Enggan Menggunakannya?

Teknologi pemindai wajah (facial recognition) kini resmi melangkah dari layar ponsel pintar ke infrastruktur transportasi publik utama di Jepang. Sejumlah operator kereta api terkemuka di Negeri Sakura mulai menggelar uji coba dan pengoperasian pintu masuk stasiun (ticket gate) berteknologi pengenal wajah untuk menggantikan peran kartu pintar (IC Card) konvensional seperti Suica maupun Pasmo.

Langkah modernisasi ini digadang-gadang bakal menjadi standar baru mobilitas masa depan yang menawarkan kemudahan aksesibilitas bagi para pengguna jasa kereta api. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, muncul fenomena menarik di lapangan di mana sebagian besar penumpang ternyata masih enggan berpindah dan tetap memilih menempelkan kartu IC mereka saat melintasi pintu pembatas stasiun.

Sistem pintu masuk berbasis pengenal wajah ini sejatinya dirancang untuk memberikan pengalaman perjalanan tanpa hambatan (frictionless travel). Penumpang cukup mendaftarkan foto wajah dan mengaitkannya dengan akun pembayaran atau tiket elektronik mereka melalui aplikasi seluler sebelum melakukan perjalanan.

Saat berjalan melintasi gate, kamera bersensor tinggi akan memindai wajah penumpang secara real-time dalam hitungan detik tanpa perlu menghentikan langkah, mengeluarkan dompet, atau menyentuh permukaan mesin. Fitur ini dirancang sangat bermanfaat bagi penumpang yang membawa banyak barang bawaan, mendorong kereta bayi, atau pengguna kursi roda yang sering kali mengalami kesulitan merogoh kartu atau ponsel saat berada di area gerbang stasiun yang padat.

Meskipun menawarkan kepraktisan tingkat tinggi, tingkat adopsi fitur pemindai wajah di stasiun-stasiun Jepang belum menunjukkan lonjakan signifikan karena beberapa faktor kebiasaan dan kekhawatiran masyarakat lokal. Faktor utama terletak pada kecepatan transaksi kartu IC berbasis FeliCa yang digunakan di Jepang, di mana durasi pemrosesan tap berlangsung sangat instan di bawah 0,2 detik sehingga penumpang sudah sangat terbiasa dengan ritme berjalan cepat tanpa henti.

Di samping itu, masyarakat Jepang tergolong sangat sensitif terhadap perlindungan data biometrik, sehingga kekhawatiran akan potensi kebocoran data wajah serta pengawasan berbasis kamera membuat sebagian komuter ragu untuk mendaftarkan identitas visual mereka. Kebiasaan mengenakan masker di tempat umum yang masih melekat kuat juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengenai potensi kegagalan sistem dalam mengenali wajah ber-masker pada jam-jam sibuk (rush hour).

Fenomena uji coba yang dilakukan para operator kereta di Jepang ini memberikan pelajaran penting bagi dinamika modernisasi transportasi publik di kawasan Asia. Transisi menuju sistem pembayaran biometrik terbukti membutuhkan waktu adaptasi yang tidak singkat serta edukasi jaminan privasi yang matang sebelum benar-benar bisa menggeser dominasi kartu elektronik yang sudah teruji keandalannya.

Bagi para pengelola moda transportasi, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar menghadirkan perangkat keras yang canggih, melainkan bagaimana membangun kepercayaan publik (public trust) serta membuktikan bahwa teknologi face recognition mampu menawarkan efisiensi dan keamanan yang benar-benar melampaui kepraktisan kartu pintar konvensional.

Baca juga:

Headway KRL Lintas Rangkasbitung Dipangkas, Ini yang Bakal Dirasakan Penumpang

Setiap aktivitas masyarakat khususnya wilayah Jabodetabek sangat menghargai waktu. Bahkan transportasi umum kini menjadi andalan utama dalam menempuh jarak dari keberangkatan hingga tujuan untuk melakukan aktivitas keseharian. Salah satunya menggunakan perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter yang kerap kali menjadi acuan karena bisa memangkas waktu dengan cepat.

Kabar beredar bahwa ada salah satu perjalanan KRL kini dilakukan pemangkasan jarak (headway) KRL. Hal tersebut merupakan berita baik khususnya buat para penumpang KRL yang menggunakan di jalur tersebut. Pemangkasan ini akan mengurangi penumpukan dan desak-desakan saat menunggu kedatangan kereta. Menurutnya, jika waktu headway kereta dipangkas, makin banyak pilihan untuk anker sehingga tak terfokus pada satu kereta.

Penumpang mengaku sebelumnya saat menunggu KRL bisa mencapai 10 menit lebih. Bahkan saat 10 menit tersebut, penumpang kembali menumpuk di peron. Saat KRL tiba, berdesak-desakan pun tak terhindarkan di dalam rangkaian. Biasanya terjadi pada jam kerja mulai pukul 07.00 – 10.00 WIB. Bahkan saat pulang bekerja mulai pukul 17.00 WIB hingga malam hari pukul 21.00 WIB.

Kabar bahwa akan direalisasikan perjalanan dengan pemangkasan headway KRL, tentu penumpang merasa terbantu. Lebih banyak penumpang menanggapi dengan positif. Mereka menilai, pemangkasan ini bisa mempercepat perjalanannya menuju tempat kerja. Jarak KRL yang akan dipersingkat tersebut rencananya akan dilakukan setiap 5 menit sekali. Tentu tanggapan dari masyarakat pun lebih lega. Karena kedatangan kereta api bisa lebih cepat dan tidak terlalu berdesakan seperti sebelumnya.

Besarnya kebutuhan terhadap layanan greenline terlihat dari jumlah penumpang yang menggunakan lintas Rangkasbitung setiap harinya. KAI Commuter mencatat rata-rata pengguna mencapai 245.085 orang per hari. Volume pelanggan di lintas Rangkasbitung juga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jumlah pelanggan tercatat 43.317.716 orang.

Setahun kemudian, jumlah tersebut melonjak menjadi 62.085.471 pelanggan. Pada 2024, volumenya kembali meningkat menjadi 69.999.362 pelanggan dan pada 2025 mencapai 77.552.716 pelanggan. Sementara itu, sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33.397.420 orang.

Kepadatan pada lintas ini juga tergambar dari tingkat okupansi saat jam sibuk. Okupansi puncak Rangkasbitung Line saat ini mencapai sekitar 161 persen. Angka tersebut berada di atas okupansi puncak lintas Bogor yang sekitar 130 persen serta lintas Bekasi/Cikarang yang berada di kisaran 140 persen. Data tersebut menunjukkan tingginya tekanan kapasitas pada layanan KRL lintas Rangkasbitung.

Menjadi Saksi Sejarah Perang Kemerdekaan, Stasiun Rangkasbitung juga Sebagai Tombak Perekonomian

Bantalan Rel Jenis Ini Ternyata Bisa Tahan Segala Cuaca di Indonesia, Yuk Temukan Jawabannya

Menggunakan transportasi berbasis rel alias kereta api tentu didasari dengan kenyamanan dan keselamatan para penumpangnya. Setiap perjalanan tentunya didukung dengan infrastruktur serta perawatan yang sangat optimal dan maksimal. Tak hanya perawatan rangkaian kereta apinya saja, namun perawatan secara ketat dilakukab pada infrastruktur jalan rel.

Perawatan jalan rel menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga perjalanan kereta api tetap aman dan lancar. Di balik perjalanan kereta menuju berbagai tujuan, terdapat pekerjaan rutin untuk memastikan kondisi prasarana tetap terjaga. Berbagai wilayah yang berbeda pada kontur tanah yang dilewati kereta api tentu harus dilakukan perawatan secara rutin agar keselamatan perjalanan kereta api semakin terjaga.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini mengembangkan sejumlah inovasi dalam perawatan prasarana, mulai dari penggunaan bantalan sintetis hingga pemanfaatan peralatan berbasis baterai dan listrik. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kesiapan prasarana menjadi salah satu faktor yang mendukung perjalanan kereta api. Hal ini membuat KAI terus menghadirkan inovasi pada material dan teknologi perawatan agar prasarana tetap andal serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

Salah satu material yang digunakan adalah bantalan sintetis berbahan Fiber Reinforced Foamed Urethane sebagai alternatif bantalan kayu. Material tersebut memiliki umur teknis yang lebih panjang dibandingkan bantalan kayu serta lebih tahan terhadap cuaca dan kondisi lingkungan. Berdasarkan data KAI, pengadaan bantalan sintetis terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2022, KAI mengadakan 5.656 batang bantalan sintetis. Jumlah tersebut meningkat menjadi 16.353 batang pada 2023, kemudian 15.864 batang pada 2024, 13.789 batang pada 2025, dan 16.839 batang pada 2026.
Dengan demikian, total pengadaan bantalan sintetis sepanjang 2022 hingga 2026 mencapai 68.501 batang.

Dengan demikian, total pengadaan bantalan sintetis sepanjang 2022 hingga 2026 mencapai 68.501 batang. Menurut Anne, penggunaan bantalan sintetis dapat membantu memperpanjang masa penggunaan material sehingga frekuensi penggantian dapat dikurangi. Selain itu, penggunaan material tersebut juga mengurangi kebutuhan kayu sebagai bahan baku dan timbulan limbah akibat pergantian bantalan.

Sebelum digunakan pada jalur rel, bantalan sintetis menjalani sejumlah pengujian teknis. Pengujian meliputi kekuatan lentur, modulus Young, ketahanan beban lentur, kekuatan tekan longitudinal, kekuatan geser, kekuatan geser lekat, tegangan tembus arus, resistansi isolasi, hingga kekuatan cabut screw spike. Pengujian lainnya mencakup pengukuran dimensi, ketahanan api, ketahanan fatik, serta ketahanan terhadap cuaca.

Sejarah mencatat bahwa standarisasi bantalan rel di Indonesia mulai diperketat sejak era perusahaan nasional mulai melakukan modernisasi infrastruktur besar. Referensi dari buku sejarah perkeretaapian menjelaskan transformasi material ini sebagai langkah menuju sistem transportasi yang lebih modern dan aman. Ketelitian dalam pemasangan setiap keping bantalan menjadi kunci utama dalam menghindari risiko terjadinya anjlokan pada rangkaian kereta yang melintas.

Di Bangladesh, Baut Rel Kereta Diganti dengan Batang Bambu dan Pisang

Sanksi AS Sasar 27 Maskapai Penerbangan, Organisasi Penerbangan Sipil Iran Layangkan Protes Resmi ke ICAO

Organisasi Penerbangan Sipil Iran (Civil Aviation Organization of Islamic Republic of Iran / CAO.IRI) resmi melayangkan protes keras kepada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization / ICAO). Langkah hukum dan diplomasi udara ini diambil sebagai respons atas sanksi sepihak dari Amerika Serikat yang menyasar seluruh maskapai penerbangan sipil asal Iran beserta ekosistem pendukungnya di tingkat global.

Sanksi berskala masif yang dirilis pemerintah Amerika Serikat tersebut tidak hanya memblokir operasional 27 maskapai komersial Iran, tetapi juga menerapkan mekanisme sanksi sekunder (secondary sanctions).

Dampaknya, penyedia layanan navigasi, pemasok bahan bakar aviasi (avtur), pengelola bandara internasional, hingga perusahaan jasa perawatan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO) di luar negeri yang nekat menjalin kerja sama atau melayani penerbangan maskapai Iran turut terancam hukuman penalti dari AS.

Dalam dokumen pengaduannya ke ICAO, otoritas penerbangan sipil Iran menegaskan bahwa penerapan sanksi sekunder ini secara nyata melanggar regulasi penerbangan sipil internasional dan hukum kemanusiaan.

Langkah AS dinilai membahayakan keselamatan serta keandalan penerbangan komersial internasional (flight safety and security), mengingat pembatasan akses terhadap suku cadang asli dan layanan darat berisiko merugikan jutaan penumpang sipil yang menggunakan moda transportasi udara.

Tekanan sanksi yang meluas hingga ke bisnis penyedia jasa bandara dan avtur di berbagai negara ini diyakini akan memicu efek gentar (chilling effect) bagi industri aviasi global. Pengelola bandara internasional di kawasan Timur Tengah, Eropa, hingga Asia kini berada dalam posisi dilematis antara menjaga komitmen konektivitas udara internasional atau menghindari risiko terisolasi dari sistem keuangan dan pasar penerbangan Amerika Serikat.

Langkah Iran menyeret kasus ini ke forum tertinggi PBB di bidang penerbangan sipil menjadi ujian krusial bagi ICAO dalam menegakkan Prinsip Kedaulatan Udara dan Keselamatan Penerbangan Sipil Internasional sebagaimana tertuang dalam Konvensi Chicago 1944. Keputusan ICAO dalam merespons protes resmi ini diprediksi akan menjadi preseden penting bagi dinamika regulasi dan bisnis aviasi global di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia.

Meski Didera Berjuta Sanksi, Industri Penerbangan Iran Mampu Bertahan dengan Lima Maskapai Besar

Ada Bunyi ‘Gujes-gujes’ saat Kereta Api Berjalan? Ini Dia Rahasianya

Saat naik atau pun sekadar melihat kereta api melintas, tentu tahu bahwa ada suara yang berirama diantara rangkaiannya tersebut. Suara tersebut berasal dari roda yang bergesekan dari rel dan saat melewati celah rel akan menghasilkan bunyi yang unik. Bahkan bunyi tersebut yang membuat masyarakat menyukai kereta api.

Ya, bunyi seperti ‘gujes-gujes’ dari roda saat melewati celah rel memang sangat berirama, namun tahukah kalian apa fungsi dari celah rel tersebut? PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyampaikan bahwa keberadaan celah tersebut memiliki fungsi teknis yang sangat penting untuk keselamatan dan keandalan perjalanan kereta api.

Sambungan rel dengan celah tersebut bukanlah kesalahan konstruksi, melainkan bagian dari rekayasa teknik rel yang telah diperhitungkan secara cermat. Celah atau jarak pada sambungan rel bertujuan untuk mengantisipasi perubahan panjang rel akibat suhu. Besi atau baja sebagai bahan rel akan memuai saat panas. Jika tidak ada celah, maka rel bisa melengkung atau bahkan retak akibat tekanan termal.

Fenomena pemuaian dan penyusutan ini dikenal sebagai thermal expansion. Pada siang hari, suhu rel dapat meningkat tajam karena paparan sinar matahari langsung. Tanpa ruang pemuaian yang cukup, sambungan antar rel akan mengalami tekanan besar yang bisa menyebabkan track buckling atau pelengkungan rel, yang berisiko terhadap keselamatan perjalanan kereta api.

Menariknya, fungsi celah ini tidak hanya berlaku saat siang hari. Ketika malam tiba dan suhu turun drastis, logam mengalami penyusutan. Jika tidak ada celah, tekanan dari kontraksi bisa menimbulkan retakan atau kerusakan pada sambungan rel. Dengan adanya ruang kecil itu, rel dapat bergerak bebas mengikuti perubahan suhu, menjaga struktur jalur tetap aman.

Secara teknis, metode pemasangan tradisional yang dikenal sebagai jointed track menggunakan plat sambung atau fishplates di kedua sisi ujung rel. Di antara sambungan itu disisakan sedikit celah, yang berfungsi sebagai expansion joint. Celah ini memastikan rel dapat memuai atau menyusut tanpa saling menekan, sehingga jalur tetap lurus dan stabil.

Namun, teknologi terus berkembang. Pada sistem modern seperti continuous welded rail (CWR), sambungan fisik nyaris dihilangkan sehingga perjalanan menjadi lebih halus dan bising berkurang. Meski begitu, prinsip suhu netral tetap digunakan rel dipasang pada suhu rata-rata lokasi sehingga pemuaian dan penyusutan ekstrem bisa diminimalkan.

Di lokasi-lokasi kritis seperti jembatan atau terowongan, digunakan perangkat khusus bernama breather switch atau expansion joint. Bentuknya bisa diagonal atau bergerigi, yang memungkinkan rel bergerak lebih halus saat memuai, mengurangi suara dan getaran, sekaligus menjaga keselarasan jalur. Selain alasan fisik dan keselamatan, celah juga mempermudah proses perawatan. Pekerja perkeretaapian dapat mengganti potongan rel yang rusak tanpa harus membongkar keseluruhan jalur. Ini menghemat waktu, biaya, dan meminimalkan gangguan perjalanan.

Yang tak kalah penting, celah membantu mengurangi tekanan berlebih pada bantalan rel dan dudukan (sleeper). Tanpa celah, gaya tekan akibat pemuaian akan langsung diteruskan ke bantalan, yang bisa mempercepat kerusakan dan mempersingkat umur infrastruktur. Dengan desain sambungan yang tepat, beban terdistribusi merata, dan jalur bisa bertahan lebih lama.

Dari hal tersebut, KAI Kami ingin masyarakat memahami bahwa suara sambungan rel dan keberadaan celah adalah bagian dari sistem yang aman dan sudah sesuai standar internasional. Ini adalah bagian dari komitmen KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

Yuk, Kenali Jenis – jenis Bantalan Rel Kereta Api. Indonesia Sudah Punya Lengkap!