Sejarah Singkat Kereta di Pulau Jawa, Butuh 36 Tahun Untuk Hadirkan Jaringan Sepanjang 3.000 Km!

Seolah menjadi jantung dari Indonesia, semua yang Anda butuhkan dapat ditemui di Pulau Jawa, tidak terkecuali kelengkapan jaringan transportasinya. Nah, salah satu moda transportasi yang sudah melegenda dan memiliki penggemar fanatiknya sendiri adalah kereta api. Dibangun sejak jaman Belanda, si ular besi yang kini dikelola oleh PT KAI ini masih kokoh – bahkan menjadi sangat maju belakangan ini – mengantarkan setiap penumpangnya menuju berbagai daerah, baik di dalam maupun keluar propinsi.

Baca Juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kehadiran pertama kereta api di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda yang terkenal dengan Sistem Tanam Paksanya. Jumat, 10 Februari 1870, Desa Kemijen Jawa Tengah menjadi saksi bisu pembangunan pertama jaringan kereta api di Indonesia.

Pembangunan ini sendiri diprakarsai oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes. Adapun jalur kereta yang pertama kali dibangun adalah dari Kemijen menuju Desa Tanggung yang ada di Tulungagung dengan total jarak 26km dan lebar sepur 1435mm. Tiga tahun berselang setelah pembangunan pertama, jalur tersebut pun rampung dan menjadi titik awal dari keberhasilan PT KAI dalam melayani setiap penumpangnya saat ini.

Keberhasilan pihak swasta tersebut lalu berbuntut pada permintaan sejumlah daerah lain yang juga ingin memasang jalur kereta api. Permintaan tersebut semakin marak manakala NIS berhasil menghubungkan Semarang – Surakarta yang terpaku jarak sekitar 110km. Wajar saja jika pertumbuhan jalur kereta api terhitung sejak 1864 hingga 1900 sangatlah masif.

Dapat Anda bayangkan sendiri, pada tahun 1867 jalur kereta yang tersedia baru 26km, lalu pada tahun 1880 bertumbuh menjadi 405km, tahun 1890 menjadi 1.427km, dan jalur kereta yang tersedia pada tahun 1900 naik pesat ke angka 3.338km! Sangat-sangat signifikan.

Pada rentan 36 tahun pengadaan jaringan kereta di Pulau Jawa, pembangunannya sendiri sebenarnya dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Terhitung hingga tahun 1888, jaringan rel yang terbangun lebih berfokus di daerah barat dan tengah Jawa – diantaranya, Batavia – Buittenzorg (Bogor) – Sukabumi – Bandung – Cicalengka ; Batavia – Tanjung Priok dan Batavia – Bekasi ; Solo – Purwodadi – Semarang dan Semarang – Rembang ; Tegal – Balapulang.

Baca Juga: Kereta Pustaka Indonesia – Cerdaskan Bangsa di Usianya yang Senja

Sementara pada 1899, jaringan rel kereta yang sudah ada mencakup, Jogja – Cilacap ; Surabaya – Pasuruan – Malang ; Madiun – Solo ; Bekasi – Karawang ; Jogja – Magelang, dan masih banyak daerah lainnya yang didominasi oleh sebelah Timur Jawa.

Jangan dilupakan, hadirnya jaringan kereta api yang hebat dewasa ini tidak lepas dari perjuangan para pahlawan yang tergabung di dalam Djawatan Kereta Api Republik Indonesia.

 

 

Mengapa Pesawat Punya Dua Soket Audio? Inilah Alasannya

Di kabin pesawat maskapai full service , umumnya kursi penumpang dilengkapi dengan soket audio atau soket jack lebih dari satu; dua bahkan beberapa memiliki tiga soket, ketimbang satu soket yang ada pada pesawat-pesawat di era millennium. Mengapa demikian?

Baca juga: Air Canada Luncurkan Fitur baru IFE, Bisa Bagikan Film Terbaik ke Sosmed Saat di Udara

Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, agaknya kita harus menudur jauh ke belakang, terkait asal mula hadirnya inflight audio visual entertainment di pesawat.

Dikutip dari Simple Flying, soket audio mulai disematkan di pesawat sejak tahun 1960-an, seiring perluasan penerbangan komersial jarak jauh. Selain itu, maskapai juga mulai menghadirkan inflight audio and visual entertainment untuk pertama kali setahun setelahnya.

Saat itu, David Flexer, sang desainer ide tersebut (layanan inflight entertainment), mengungkapkan bahwa, “Perjalanan udara adalah moda transportasi yang paling maju sekaligus yang paling membosankan.” Tak heran bila pada akhirnya berbagai hiburan saat on board berusaha dihadirkan maskapai.

Pada inflight audio entertainment, maskapai sempat dibuat pusing dengan berbagai strategi hingga pada akhirnya dua soket audio (jack) jadi pilihan. Tak begitu jelas dasar maskapai memilih untuk menghadirkan dua soket audio.

Ada yang menyebut, alasan maskapai menghadirkan itu erat kaitannya dengan keuangan perusahaan dalam jangka panjang. Jika maskapai menyediakan inflight audio entertainment gratis menggunakan soket dua pin, untuk memastikan headphone atau headset tidak berguna di luar penerbangan pesawat, hal itu akan mengurangi keinginan penumpang untuk membeli headset tersebut.

Headset di zaman itu tentu tak seperti sekarang yang bisa didapat dengan harga murah. Tentu, penjualan headset di setiap penerbangan akan sangat menguntungkan maskapai.

Pendapat lain menyebutkan, bila maskapai menyediakan headphone secara terpisah, penumpang tidak bisa menggunakan headphone soket pin tunggal. Dengan begitu, otomatis penumpang akan membeli headphone atau headset dengan soket dua pin milik maskapai atau paling tidak menggunakan adaptor.

Akan tetapi, terlepas dari alasan ekonomi, sebetulnya headset dua jack memiliki keunggulan tersendiri dibanding headset satu jack. Umumnya, bila headset satu jack tak berfungsi dengan baik, penumpang sama sekali tak bisa menikmati inflight audio entertainment.

Baca juga: Panasonic dan Emirates Hadirkan Teknologi Hiburan Tingkat Tinggi di Boeing 777-300ER

Lain halnya dengan headset dua jack. Bila headset mengalami kerusakan, penumpang masih bisa menikmati inflight audio entertainment sekalipun tak terlalu sempurna. Hal itu dimungkinkan dengan sistem suara pneumatik atau headset (headphone) pneumatik.

Headset yang dikembangkan oleh perusahaan AS, Avid technology, dan pertama kali dipasang pesawat TWA pada tahun 1963 (yang kala itu masih menggunakan Boeing 707 dan 727 sebelum akhirnya kedatangan 747), diketahui membutuhkan dua jack karena sinyal suara kiri dan kanan harus dikirim secara terpisah, tidak seperti sekarang yang menggunakan sistem audio elektrik sehingga hanya membutuhkan satu audio jack.

Mengapa Pesawat Tri-Jet Tidak Se-Populer Twin-Jet dan Quad-Jet? Berikut Ulasannya

Pada tahun 1970-an, 80-an, dan 90-an pesawat penumpang dengan tiga mesin atau tri-jet hampir seluruhnya menjadi armada utama seluruh maskapai di dunia. Bukan Boeing atau Airbus, kala itu, pabrikan pesawat lainnya dari Amerika Serikat (AS), McDonnell Douglas, hampir merajai pangsa pasar pesawat komersial penumpang di dunia lewat DC-10 dan MD-11.

Baca juga: Parade Pesawat Trijet yang Pernah Beroperasi di Indonesia, Anda Pernah Coba?

Pesawat-pesawat tersebut kala itu memiliki andil besar sebagai pesawat jet widebody jarak jauh untuk maskapai dunia seperti American Airlines, Swissair, Garuda Indonesia, dan maskapai lainnya.

Walaupun mulai memasuki masa kejayaan pada tahun 70-an, pesawat tri-jet komersial pertama kali muncul pada 1960-an keluaran Hawker Siddeley dan Boeing berwujud HS-121 Trident dan 727. Kedua pesawat itu dirancang untuk melayani rute jarak jauh dengan kapasitas yang lebih rendah dibanding penantang di tahun selanjutnya.

Akan tetapi, dilihat dari sejarah, sebetulnya, salah satu faktor kemunculan masa kejayaan tri-jet bukan karena kemampuan pesawat dibanding twin-jet atau quad-jet, melainkan karena aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

Simple Flying menyebut, ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Sumber: Ed Coates Collection

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Dengan aturan tersebut, praktis, pergerakan pesawat-pesawat twin-jet sangat terbatas. Tak lebih dari rute domestik dengan jangkauan berkisar 60 menit perjalanan. Di saat itulah era tri-jet atau pesawat dengan tiga mesin dimulai. Saat itu, pesawat McDonnell Douglas DC-10 dan Lockheed L-1011 Tristar yang notabene memiliki tiga mesin menjadi primadona maskapai untuk mengantarkan penumpang ke belahan bumi lain atau jarak jauh.

Alasannya simpel, dilarang untuk menggunakan pesawat bermesin ganda untuk jarak jauh tetapi terlalu mahal ongkos operasional bila menerbangkan pesawat dengan empat mesin pada rute jarak jauh. Jadi, pilihan memang hanya jatuh pada pesawat tri-jet.

Perlahan tapi pasti, seiring perkembangan teknologi, ICAO mulai meningkatkan ambang batas ETOPS pada pesawat bermesin ganda menjadi 120 menit mulai tahun 1980-an hingga 180 menit di akhir dekade tersebut. Hal itupun pada akhirnya mendorong pengembangan pesawat twin-jet jarak jauh untuk mendapatkan efisiensi lebih dari yang ditawarkan tri-jet, baik efisiensi dalam segi operasional maupun perawatan dan produksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Saat itulah, Airbus dan Boeing memulai era duopoli di pasar widebody (juga narrowbody); ditandai dengan kebangkitan Airbus A310 dan Boeing 767, disusul Boeing 777 di kemudian hari sebagai pemilik gelar pesawat widebody bermesin ganda terpopuler dengan lebih dari 2 ribu pesanan. Singkat cerita, sepak terjang pesawat tri-jet bisa dikatakan miris dengan kemunculan didukung peraturan ETOPS dan berakhir juga karena aturan tersebut.

Akan tetapi, dengan mayoritas pesawat saat ini didominasi twin-jet dan quad-jet, berbagai pihak pun bertanya-tanya, akankan pesawat tri-jet benar-benar akan musnah dari dunia? Beberapa pihak menyebut hal tersebut mungkin tak akan terjadi. Paling tidak, tri-jet, sebagaimana quad-jet, akan tetap menjadi idola calon penumpang yang menginginkan keamanan lebih, dengan tambahan mesin menjadi tiga atau empat.

Mulai 13 Februari, Penumpang Angkutan Umum di Singapura Tak Wajib Gunakan Masker

Singapura akan mencabut pembatasan Covid-19 yang tersisa seperti mewajibkan masker di transportasi umum mulai Senin depan, ketika negara pulau tersebut menyesuaikan respons wabah penyakitnya ke level terendah.

Baca juga: Jumlah Sopir Bus Terinfeksi Covid-19 Melonjak, Singapura Canangkan Sopir Taksi Jadi ‘Cadangan’

Penurunan Kondisi Sistem Respons Wabah Penyakit (Disease Outbreak Response System Condition/Dorscon) dari kuning menjadi hijau terjadi karena situasi pandemi global dan lokal stabil dan penyakitnya ringan, terutama di antara individu yang divaksinasi.

Dikutip dari Straitstimes.com (9/2/2023), Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan pada hari Kamis, mencatat bahwa Covid-19 saat ini menimbulkan gangguan minimal terhadap kapasitas layanan kesehatan dan orang-orang.

Namun, Kementerian Kesehatan akan tetap mewajibkan penggunaan masker bagi pengunjung, staf, dan pasien di lingkungan perawatan kesehatan dan perumahan seperti bangsal rumah sakit, klinik, dan panti jompo, di mana terdapat interaksi dengan pasien, kata satuan tugas multi-kementerian yang menangani Covid-19 di sebuah konferensi media.

Vaksinasi akan terus ditawarkan secara gratis kepada semua warga negara Singapura, penduduk tetap, pemegang izin jangka panjang, dan pemegang izin jangka pendek tertentu.

Setiap orang yang berusia lima tahun ke atas masih harus mendapatkan perlindungan minimum – tiga dosis vaksin mRNA atau vaksin Novavax, atau empat dosis vaksin Sinovac – sementara Pemerintah akan merekomendasikan agar kelompok tertentu mengambil suntikan penguat setiap tahun.

Baca juga: Bus Party Bikin Happy, Tapi Bisa Gagalkan Upaya Singapura Cegah Penularan Covid-19 

Namun, subsidi pandemi akan semakin diperkecil karena Covid-19 diperlakukan sebagai penyakit endemik. Perawatan tidak lagi disubsidi penuh, dan pasien harus membayar untuk setiap tes Covid-19.

Mau Jadi Pramugari Tapi Takut Terbang, Ini Solusinya

Karir sebagai awak kabin atau pramugari merupakan impian bagi sebagian orang. Namun, banyak juga orang yang memiliki rasa takut terbang, lalu apa yang terjadi? Bisakah seseorang yang takut terbang mengatasinya dan menjadi awak kabin?

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Untuk itu perlu dicermati, yaitu dengan meneliti pekerjaan sebagai awak kabin secara mendetail. Penting untuk memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pekerjaan itu, karena gambaran mimpi mungkin sangat berbeda dari fakta. Memahami tugas, persyaratan dan harapan pekerjaan sangat penting. Jika pekerjaan sebagai awak kabin masih menarik, inilah saatnya untuk menggali lebih dalam.

Akar masalah
Ketakutan akan terbang sangat umum, dan seringkali hanya terkait dengan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Tentu saja, citra yang ditampilkan oleh film dan media bisa berdampak buruk.

Kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi, tetapi jika ada, liputan media sangat besar, yang dapat membuat penerbangan menjadi peristiwa yang menakutkan bagi banyak orang. Salah satu cara untuk meredam rasa takut tersebut adalah dengan mengikuti kursus takut terbang yang ditawarkan oleh sebuah maskapai penerbangan.

Memahami bagaimana pesawat terbang dan alasan di balik beberapa suara dan sensasi akan membantu. Terapi dan hipnosis juga dapat bekerja untuk beberapa orang. Pilihan lain adalah mengikuti kursus menjadi awak kabin dan mengungkap pekerjaan awak kabin. Hal ini memungkinkan orang untuk berbicara dengan awak kabin kehidupan nyata, belajar tentang kehidupan sehari-hari sebagai awak, dan mempraktikkan beberapa tugas mereka. Ini sendiri dapat menghilangkan rasa takut terbang bagi sebagian orang.

Lakukan Penerbangan 
Kedengarannya jelas, tetapi mengambil penerbangan yang sebenarnya dengan pengetahuan yang diperoleh dari suatu kursus akan mengubah reaksi kebanyakan orang untuk terbang dengan sangat cepat. Menonton awak kabin di pesawat dan melihat bahwa mereka bekerja tanpa rasa cemas sangat membantu.

Mengamati awak kabin di pesawat dan melihat bahwa mereka tenang saat lepas landas, mendarat, dan kemungkinan turbulensi bisa menjadi pengalaman yang berguna. Pada kenyataannya, awak kabin mengerjakan ratusan penerbangan dalam setahun dan kemungkinan terjadinya sesuatu sangat kecil. Ketakutan untuk terbang sering terjadi ketika orang menghindari penerbangan sama sekali atau sudah lama tidak terbang.

Baca juga: Mau Jadi Pramugari? Siap-siap 5 Risiko Besar Ini

Lihat realitas
Periksa faktanya, kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi, menempatkan rasa takut ke dalam perspektif dan mengetahui kenyataan adalah suatu keharusan. Peluang kecelakaan pesawat adalah satu banding 1,2 juta dan risiko kematian dalam kecelakaan udara adalah satu banding 11 juta.

Jaksa Kehabisan Petunjuk, Investigasi Tragedi Malaysia Airlines MH17 Ditangguhkan

Setelah delapan tahun berlalu, keluarga korban tragedi Malaysia Airlines MH17 belum juga mendapatkan keadalian, bahkan ada kabar bahwa investigasi atas insiden tragis tersebut terpaksa ditangguhkan setelah jaksa menyatakan telah kehabisan atas semua petunjuk.

Baca juga: Mengenang 12 WNI Korban MH17 yang Ditembak Jatuh Rudal Rusia

Persisnya, penyidik memutuskan untuk menghentikan sementara persidangan karena mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menuntut tersangka lebih lanjut. Penerbangan MH17 ditembak jatuh di atas Donetsk, Ukraina pada Juli 2014, menewaskan 283 penumpang dan 15 awak pesawat.

Saat itu, pesawat Boeing 777-200ER (9M-MRD) melakukan perjalanan dari Bandara Schiphol Amsterdam (AMS) ke Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL).

Dari beberapa media internasional, disebutkan Tim Investigasi Gabungan yang memimpin penyelidikan berharap untuk membuktikan identitas orang-orang yang bertanggung jawab meluncurkan rudal darat ke udara Buk, serta siapa yang berada dalam rantai komando, tetapi mengakui bahwa itu tidak mungkin untuk saat ini. Jaksa Belanda, Digna van Boetzelaer, mengatakan hal tersebut dalam sebuah pernyataan hari ini,

“Penyelidikan sekarang telah mencapai batasnya, semua petunjuk sekarang telah habis, oleh karena itu penyelidikan ditangguhkan,” ujar Jaksa Belanda.

Akhir tahun lalu, tiga pria – yakni dua orang Rusia dan satu orang Ukraina – dinyatakan bersalah atas pembunuhan in absentia atas keterlibatan mereka dalam serangan itu. Pengadilan Belanda menyimpulkan bahwa orang-orang tersebut salah mengira penerbangan MH17 sebagai pesawat militer Ukraina, dan dengan sengaja menembak jatuhnya. Itu juga memutuskan bahwa Rusia mengendalikan pasukan separatis yang bertempur di daerah itu pada waktu itu, tetapi putusan itu ditolak oleh Rusia.

Dalam sidang terakhir, Tim Investigasi Gabungan mengutip percakapan telepon yang direkam antara pejabat senior Rusia dan gerakan separatis pro-Rusia, meskipun diakui bahwa rekaman tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan peralatan yang digunakan untuk menembak jatuh penerbangan MH17. Tim Investigasi Gabungan menyatakan,

“Ada informasi konkret bahwa permintaan separatis diajukan kepada presiden, dan bahwa permintaan ini dikabulkan. Meskipun kami berbicara tentang indikasi kuat, bukti lengkap dan konklusif yang tinggi tidak tercapai. Selain itu, Presiden menikmati kekebalan dalam tugasnya jabatan sebagai Kepala Negara.”

Tim Investigasi Gabungan terdiri dari perwakilan dari negara-negara yang paling parah terkena dampak kekejaman – Belanda, Australia, Belgia, Malaysia, dan Ukraina. Dari 298 orang di dalamnya, 193 orang dari Belanda, 43 orang dari Malaysia (termasuk 15 awak kapal), dan 27 orang dari Australia.

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, menggambarkan investigasi ini sebagai “kekecewaan yang pahit”, tetapi menambahkan bahwa ini tidak berarti bahwa proses peradilan pidana telah berakhir.

Baca juga: Makin Panas, Belanda-Australia Tuntut Rusia ke ICAO Gegara Tembak Jatuh Pesawat Sipil MH17!

“Sejak 2014, kami menjadi terlalu akrab dengan pola penghalang, ketidakbenaran, dan ketidakadilan dari Rusia dan presidennya, Putin. Kami akan terus meminta Federasi Rusia untuk mempertanggungjawabkan perannya dalam tragedi ini,” ujar Mark Rutte.

Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

Sebagaimana layaknya moda transportasi yang mengandalkan pasokan tenaga dari mesin, sudah barang tentu pesawat identik dengan beragam ‘suara-suara.’ Dan yang paling mudah didengar dan paling masif terasa adalah suara denging dari mesin pesawat yang di luar kabin cukup memekakkan telinga. Untungnya teknologi kabin yang kedap, memungkinkan suara keras dari mesin dapat di reduksi semaksimal mungkin.

Baca juga: “Jual Tiket Berdiri” di Pesawat, Awak Maskapai Pakistan Diperkerakan

Namun saat Anda memasuki kabin pesawat dan saat tinggal landas, faktanya tak hanya suara dari mesin yang bakal terdengar. Semisal saart pesawat melaju menuju landas pacu, tak jarang akan muncul suara-suara dari atas rak/bagasi tas di atas tempat duduk. Selain itu masih ada suara-suara lain yang masih berpotensi Anda dengar. Tapi tahukah Anda, suara apa saja yang bisa menjadi patokan keselamatan dalam penerbangan?

Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, dua orang pakar penerbangan bisa membantu Anda untuk menjelaskan suara-suara apa saja yang ada dalam sebuah penerbangan. Marc Levy seorang insinyur yang bekerja pada Boeing mengatakan, asumsi logis bila segala sesuatu yang ada di pesawat terbang bersuara. “Ketika Anda memberi sedikit sentakan pesawat, semua barang di dalamnya adalah Akan menyesuaikan dan kadang saling bersentuhan dan menghasilkan suara,” ujar Levy.

Mike Leary mantan karyawan Boeing lainnya, mengatakan bila dari daftar pemeriksaan pesawat semua dinyatakan normal, maka seperti suara dengungan, biasanya suara ini dihasilkan dari tenaga pada bagian belakang pesawat. Leary mengatakan, perubahan suara akan terdengar jelas saat pintu pesawat di tutup.

Baca juga: Tidak Ada Korban Jiwa Dalam Insiden Jatuhnya Pesawat Piper PA32

“Saat pintu ditutup, para penumpang mungkin merasakan adanya perubahan suara, dan lampu akan berkedip.  Saat itu pilot memang mengalihkan sistem kelistrikan dari ground ke sistem pesawat terbang. Selanjutnya Anda akan mendengar mesin berbunyi seperti “rengekan spin-up” dan kemudian ‘raungan’,” ujar Leary. Adalagi suara gong-gongan, namun ini bukanlah suara anjing, melainkan bunyi suara perangkat untuk menghemat bahan bakar. Biasanya perangkat ini berada di Airbus bermesin ganda.

“Ini memastikan tekanan hidrolik seimbang saat mereka hanya menggunakan satu mesin saat push-back dan taksi. Semua maskapai ingin menghemat bahan bakar jadi ini pilihan mereka. Ini berisik dan agak mengerikan karena siklus dan mematikan, on dan off, on dan off karena fluktuasi tekanan. Kedengarannya seperti kulit kayu bernada tinggi untuk beberapa orang seperti mendengar woof-woof-woof-woof,” kata Leary.

Baca juga: Mendebarkan! Pesawat Ini Landing Tanpa Roda

Para penumpang pesawat Airbus juga akan mendengar dengingan yang berkepanjangan sebelum dan sesudah mendarat. Biasanya bunyi ini terdengar dari alat yang digunakan untuk membuka dan menutup pintu kargo. Suara dengungan lainnya bisa didengar sesaat sebelum lepas landas, dimana pilot akan membuat sayap terbuka atau tertutup dalam melakukan pengereman udara (air brake). “Anda bisa melihatnya drop down jika Anda duduk di dekat sayap,” jelas Leary.

Leary mengatakan, suara putaran roda juga bisa terdengar saat pesawat berjalan di landasan pacu. Menurutnya, setiap suara dari roda pesawat akan terdengar gulirannya dan saat roda masuk atau pun keluar akan terdengar suara sentakannya.

Saat awal pesawat akan lepas landas, kebisingan pada mesin juga akan terdengar jelas. Patrick Smith seorang pilot mengatakan setelah mendarat dan menaikkan landing gear, pilot akan mengikuti kecepatan dan ketinggian yang sudah ditentukan. Suara bising ini akan secara bertahap menghilang, saat pesawat akan mendarat dan melambat.

Meski jarang, penumpang juga kemungkinan akan mendengar suara lonceng atau bel, Smith mengatakan, suara tersebut adalah panggilan telepon dari tempat awak kabin dan kokpit seperti interkom. Selain itu lonceng juga akan berbunyi sebagai sinyal untuk awak kabin. Baru-baru ini, Qantas menulis di blognya, “Di pesawat Airbus kami, Anda akan mendengar suara ‘dong’ sesaat setelah lepas landas, suara ini memungkinkan awak kapal tahu bahwa landing gear ditarik kembali.

“Tergantung di mana Anda duduk, Anda mungkin bisa mendengar atau merasakannya bergerak, jika Anda berada di lantai bawah di ujung runcing salah satu pesawat Boeing 747, Anda pada dasarnya duduk tepat di atas roda pendaratan depan,” ujar Smith.

Bunyi dong kedua biasanya adalah untuk menandakan bahwa tanda sabuk pengaman dimatikan. Pesan prioritas dari pilot dengan membunyikan tiga lonceng. Biasanya ini memberitahu awak kabin bila ada kemungkinan turbulensi di depan, sehingga awak kabin bisa memindahkan gerobak makanan dan bersiap mengenakan sabuk pengaman bila lampu sabuk pengaman menyala.

Baca juga: Penumpang Wanita Ditemukan Tewas, Dibawa Keluar Pesawat dengan Diseret

Sedangkan untuk suara yang berbahaya, bila terdengar seperti suara ledakan keras. Ini bisa saja ada masalah serius yang terjadi pada pesawat. Sehingga awak kabin bisa waspada dan memperingatkan penumpang.

Hari ini Satu Tahun Lalu, Antonov An-225 Mriya Terbang untuk Terakhir Kalinya

Tanggal 24 Februari mendatang menandakan satu tahun invasi Rusia ke Ukraina, dan satu tahun lalu, pada hari-hari ini, pesawat angkut kargo terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya masih dapat mengudara. Menjelang invasi Rusia, wilayah perbatasan antara Ukraina dan Rusia sudah diliputi ketegangan dengan mobilisasi kekuatan militer kedua negara di perbatasan.

Baca juga: [Video] Bangkai Antonov An-225 Mriya Ditarik untuk di-scrap

Dan satu tahun lalu, Antonov An-225 tercatat melakukan penerbangan terakhirnya, kembali ke Bandara Gostomel, Ukraina. Yaitu setelah Antonov An-225 melakukan penerbangan terakhirnya, kembali dari penerbangan rute Cina ke Denmark untuk mengantarkan 90 ton alat uji Covid-19.

Sementara alasan kembalinya An-225 ke Bandara Gostomel, sejatinya tidak terkait dengan konflik Ukraina dan Rusia, melainkan untuk perbaikan mesin.

Nahas, kembalinya An-225 ke Gostomel, rupanya menjadi akhir dari debutnya. Pasalnya An-225 menjadi korban yang hancur dalam serbuan perdana pasukan Rusia yang menyasar instalasi penting Ukraina. An-225 yang berada di dalam hanggar, dalam kondisi total lost setelah 80 persen fuselage-nya terbakar.

Antonov An-225 Mriya terbang perdana pada 21 Desember 1988. Ketika itu, Uni Soviet masih eksis meski sudah mengalami beberapa kemunduran. Setelah Uni Soviet runtuh pada 26 Desember 1991, perusahaan Antonov Airlines, termasuk pesawat Antonov An-225 Mriya, jatuh ke tangan Ukraina, bukan Rusia.

Dmitry Antonov ditemani oleh perwakilan dari perusahaan pertahanan Ukraina Ukroboronprom saat mengecek langsung kerusakan Antonov An-225 Mriya di Bandara Hostomel pada 14 April lalu. Foto: Antonov

Mengingat posisinya yang rentah sebagai musuh Rusia, Ukraina pun mencoba bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutu di NATO. NATO sendiri coba memanfaatkan Ukraina untuk mendukung program SALIS atau Strategic AirLift International Solution melalui kerjasama stategis pada tahun 2018 lalu.

Kerjasama tersebut memberi NATO kemampuan transportasi kargo besar menggunakan pesawat An-22, An-225, dan IL-76, ke sembilan negara aliansi NATO, mulai dari Belgia, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Hongaria, Norwegia, Polandia, Slovakia, Slovenia, dan Slovenia.

Baca juga: Richard Branson Tawarkan Bantuan Untuk Bangun Versi Baru Antonov An-225 Mriya

Ukraina belakangan mulai merencanakan untuk membangun kembali An-225. Pabrikan Antonov mengumumkan bahwa pekerjaan desain An-225 Mriya baru telah dimulai dan pembangunan proyek pesawat itu akan menelan biaya sekitar 500 juta euro.

Turkish Airlines Diskon Harga Tiket Jadi Rp85 Ribu Bantu Terbangkan Korban Gempa dan Relawan

Mulai tujuh Februari 2023 kemarin, Turkish Airlines memberlakukan tarif statis atau harga tiket special sebesar TL100 atau sekitar Rp85 ribu. Hal itu ditujukan untuk memudahkan mobilitsasi korban gempa Turkiye, relawan, dan tim SAR serta bantuan kemanusiaan dari dan ke lokasi gempa di selatan negara tersebut. Terbukti, saat harga tiket itu berlaku, tak kurang dari 11 ribu relawan lokal diterbangkan ke lokasi gempa.

Baca juga: Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur

Sejak gempa besar mengguncang Turkiye pada Senin subuh, Turkish Airlines telah memfokuskan armadanya untuk integrasi penerbangan dari berbagai negara dan maskapai yang mengangkut relawan. Sedikitnya, di hari pertama terjadi gempa, maskapai nasional Turkiye itu sudah melakukan 80 penerbangan ke daerah terdampak gempa.

Maskapai juga berkoordinasi dengan Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD). Lewat AFAD, berbagai bantuan kemanusiaan dari negara sahabat dan dunia beserta relawan yang tiba di hub maskapai di Bandara Istanbul, dengan cepat dikirimkan Turkish Airlines ke lokasi bencana. Belum lagi relawan lokal yang membludak dan membanjiri Terminal Bandara Istanbul.

Sebelumnya, CEO Turkish Airlines, Bilal Ekşi, sangat berterima kasih kepada para relawan yang berbondong-bondong menyerbu bandara menanti diberangkatkan Turksih Airlines.

“Sekitar 11.780 warga relawan kami yang datang ke bandara kami untuk pergi ke zona gempa atas undangan AFAD (Disaster and Emergency Management Authority), dibawa ke Adana, Gaziantep, Adiyaman, dan Urfa dengan total 80 penerbangan pagi ini sampai 7 pagi,” jelasnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Upaya pengiriman bantuan kemanusiaan dan relawan sejak hari pertama terjadinya gempa bumi di Turkiye sempat terkendala akses. Diketahui seluruh akses darat seperti tol dan jalan raya hancur. Praktis akses utama hanya melalui udara. Sayangnya, bandara-bandara di lokasi bencana juga dilaporkan hancur. Salah satunya Bandara Hatay, dimana satu-satunya runway terbelah menjadi dua bagian.

Bandara Hatay lokasinya berada di ujung selatan Turkiye, sangat strategis untuk jadi pusat penyaluran bantuan dari sisi selatan ke lokasi bencana. Terlebih, kota terdekat, yaitu Osmaniye, Iskenderun, dan Antakya, banyak terjadi bangunan runtuh dan jalan hancur sehingga membutuhkan bantuan mendesak.

Praktis, Turkish Airlines dan penerbangan kemanusiaan lainnya hanya bisa mengakses Bandara Adana Sakirpasa dan Bandara Internasional Gaziantep Oğuzeli. Kedua bandara itu awalnya sempat ditutup tak lama setelah gempa bumi terjadi. Namun, dibuka kembali karena tidak ada kerusakan parah dan hanya melayani penerbangan kemanusiaan.

Baca juga: Bermula Dari DC-9, Inilah Rentetan Fakta Unik Seputar Turkish Airlines

Gempa bumi magnitudo 7,8 SR mengguncang Turkiye pada Senin pukul 4 subuh. Saat gempat pertama tingkat kehancuran tidak begitu parah. Tak lama kemudian, datang gempa susulan magnitudo 7,5 SR dan terjadi banyak bangunan runtuh di banyak kota, utamanya di Gaziantep dan Kahramanmaras yang sangat dekat dengan pusat gempa di kedalaman 10 km.

Sejauh ini, sudah lebih dari 5.000 orang tewas dan puluhan ribu lainnya luka-luka. Diperkirakan, jumlah korban akan terus meningkat sampai puluhan ribu seiring penyisiran oleh para relawan di lokasi bencana.

Bandara-bandara Rusak Parah Dihantam Gempa Turkiye Magnitudo 7,8 SR

Gempa Turkiye magnitudo 7,8 SR dan gempa susulan 7,5 SR pada Senin lalu menimbulkan kerusakan sangat parah di Turkiye dan Suriah bagian utara. Selain banyak bangunan runtuh dan menimbulkan korban cukup banyak, gempa juga menghancurkan banyak bandara di lokasi terdampak. Akibatnya, penyaluran bantuan kemanusiaan sempat terkendala.

Baca juga: Pria Depresi Tewas di Bandara Turki Setelah Batal Pulang ke Inggris

Sejak hari pertama gempa terbesar dalam 100 terakhir di Turkiye mengguncang pada Senin lalu, seluruh bandara di lokasi gempa ditutup untuk penerbangan apapun, baik sipil maupun penerbangan evakuasi medis dan penerbangan kemanusiaan.

Tak lama kemudian, beberapa bandara pun dibuka kembali untuk memudahkan mobiisasi bantuan kemanusiaan, relawan, dan korban.

Sedikitnya ada tiga bandara yang diandalkan pemerintah Turkiye dalam menyalurkan logistik bantuan, mengevakuasi korban, dan mengirim relawan SAR.

Pertama adalah Bandara Adana Sakirpasa. Bandara yang terletak di provinsi Adana, Turkiye selatan, ini dilaporkan mengalami kerusakan parah pada bagian terminal dan lainnya. Dilihat dari gelombang getaran gempa, sangat wajar Bandara Adana mengalami kerusakan parah mengingat posisinya yang tak jauh dari pusat gempa di Kahramanmaras, Gaziantep.

Meskipun sempat ditutup untuk penerbangan apapun, bandara dibuka kembali untuk memudahkan pengiriman bantuan ke lokasi bencana dari arah barat.

Kedua adalah Bandara Hatay, selatan Turkiye. Sama halnya dengan Bandara Adana, Bandara Hatay juga mengalami kerusakan parah. Bedanya, bila Bandara Adana hanya terbatas pada bangunan saja, Bandara Hatay juga mengalami kerusakan di bagian runway (landasan pacu). Celakanya, bandara tersebut hanya mempunyai satu runway dan kerusakannya pun sangat tidak memungkinkan pesawat mendarat.

Dilihat dari berbagai video yang beredar di media sosial, kerusakan pada runway Bandara Hatay terletak pada bagian tengahnya yang retak seolah terbelah menjadi dua. Patahan runway tersebut kemudian menjulang ke atas seolah membentuk gunung kecil yang berada persis di tengah runway, bukan di bagian ujung runway.

Karenanya, sampai saat ini, Bandara Hatay dilaporkan masih tertutup untuk penerbangan apapun karena tidak memungkinkan pesawat mendarat.

Baca juga: Mau Tengok Artefak di Turki? Yuk Mampir ke Museum di Bandara Istanbul

Ketiga adalah Bandara Internasional Gaziantep Oğuzeli. Bandara ini berjarak sangat dekat dengan pusat gempa di Kahramanmaras. Beruntung, tak terjadi kerusakan berarti di sini, begitu juga pada bagian landasan pacu bandara.

Kendati begitu, otoritas bandara tetap menutup penerbangan sipil dan hanya mengizinkan penerbangan evakuasi medis, penyaluran logistik bantuan, dan penerbangan kemanusiaan. Bandara ini menjadi pusat penyaluran logistik dan evakuasi lantaran berada di tengah-tengah wilayah terdampak gempa bumi Turkiye. Demikian dikutip dari Simple Flying.