“Jual Tiket Berdiri” di Pesawat, Awak Maskapai Pakistan Diperkerakan

Maskapai Pakistan International Airlines

Pesawat jelas berbeda dengan angkot (angkutan kota) yang memperbolehkan penjualan tiket berdiri. Karena alasan keamanan dan juga kenyamanan, serta regulasi internasional dalam dunia penerbangan, ada larangan keras untuk memasukkan penumpang ke dalam kabin tanpa memiliki kursi, yang artinya penumpang masuk ke pesawat tanpa data manifest yang jelas.

Namun, ada kabar yang mengejutkan datang dari maskapai penerbangan Pakistan, yakni Pakistan International Airlines (PIA). Dilansir KabarPenumpang.com dari aljazeera.com (26/2/2017) ada tujuh orang penumpang yang terpaksa berdiri selama empat jam penerbangan.Diketahui saat itu PIA PK-743 membawa 416 penumpang dalam penerbangan dari Karachi ke Madinah, Arab Saudi pada 20 Januari 2017 lalu. Padahal kapasitas pesawat ini hanya memiliki kapasitas 406 bangku termasuk tempat duduk lepas. Dari penelusuran, jenis pesawat diketahui adalah Boeing 777 yang termasuk wide body.

Baca juga: Gawat! Pilot Ini Tertidur Setelah Lepas Landas

Atas kejadian ini, pihak PIA melakukan penyelidikan insiden terkait adanya penumpang yang berdiri pada penerbangan di PIA PK-743 tersebut. Juru Bicara PIA, Danyal Gilani mengatakan, CEO PIA memerintahkan untuk menyelidiki masalah ini secara terinci. Setelah adanya laporan ini, kapten pesawat PIA PK-743 Anwer Adil memberikan pernyataan yang membantah kalau kesalahan ada di pihaknya. Dia mengatakan, tahu ada penumpang tambahan setelah pesawat lepas landas.

“Setelah lepas landas, ketika saya keluar dari kokpit, petugas kabin senior memberi tahu saya bahwa ada beberapa orang tambahan yang masuk oleh staf lalu lintas bandara. Saya juga memperhatikan bahwa beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang secara kategoris menolak kursi lompatan di loket check-in sebelum penerbangan,” kata Adil.

Baca juga: Akibat Tas Obat, Sepasang Suami Istri Diusir dari Pesawat

Dia mengatakan, saat pesawat sudah lepas landas, tidak memungkinkan kembali ke bandara lagi, sebab membutuhkan banyak bahan bakar yang tidak akan cukup untuk melanjutkan penerbangan. Akibat kejadian ini, Adil selaku kapten pesawat justru menyalahkan awak kabin senior. Menurutnya, awak kabin seniorlah yang bertanggung jawab untuk memastikan jumlah penumpang, jika ada tambahan awak kabin seharusnya tidak menerimanya.

Baca juga: Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya

Dari laporan lainnya, disebutkan penumpang tambahan tersebut memiliki tiket yang bukan dalam bentuk cetakan komputer, melainkan tulisan tangan dan tidak sesuai dengan manifest penerbangan resmi. Sebenarnya, terkait overload atau kepenuhan baik penumpang maupun barang di pesawat sudah diatur dalam buku pedoman keselamatan yang dikeluarkan oleh pihak FAA (Federal Aviation Administration). Pilot harus selalu waspada terhadap konsekuensi overloading. Pesawat yang kelebihan muatan mungkin tidak dapat meninggalkan landasan.

Baca juga: Gara-Gara Kebelet Buang Air Kecil, Penumpang Diturunkan dari Pesawat

Gilani mengatakan bahwa ia tidak dapat mengkonfirmasi jumlah pejabat yang diperiksa atau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penyelidikan tersebut, namun pihak PIA mengatakan bahwa maskapai tersebut akan “menghukum siapapun yang terbukti bersalah”.

Dia mengatakan bahwa kejadian overloading pesawat ini adalah yang pertama kali terjadi. Namun, maskapai nasional tersebut sebelumnya pernah dituduh membawa dua penumpang tambahan di toilet pesawat melalui rute domestik. Selama beberapa tahun terakhir, maskapai nasional Pakistan ini telah mengalami kerugian besar, dilaporkan melebihi $3 miliar, mendorong pemerintah untuk membahas pilihan lain untuk memprivatisasi maskapai tersebut, meskipun hal ini mendapat protes dari staf maskapai penerbangan.