Vietjet Buka Penerbangan Langsung Jakarta-Hanoi Mulai 10 Desember

Vietjet, maskapai berbiaya murah asal Vietnam, mengumumkan dimulainya rute baru yang menghubungkan Jakarta dengan ibu kota Vietnam, Hanoi. Penerbangan perdananya dijadwalkan akan berangkat pada tanggal 10 Desember 2023, menandai tonggak sejarah yang signifikan dalam komitmen Vietjet untuk memperkuat konektivitas antara kedua negara.

Baca juga: Vietjet Terima Pesawat ke-101 di Ho Chi Minh City, Airbus A321neo

Rute baru Jakarta – Hanoi akan menjadi rute langsung keempat Vietjet antara Indonesia dan Vietnam serta layanan langsung tunggal di pasar yang menghubungkan ibu kota kedua negara. Untuk merayakan momen bersejarah ini, Vietjet menawarkan penjualan super eksklusif mulai dari 1 November hingga 11 November, memungkinkan penumpang untuk mendapatkan tiket mereka ke Vietnam dengan tarif terbaik di pasaran.

Rute Jakarta-Hanoi akan menawarkan empat penerbangan pulang-pergi per minggu pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Dengan waktu penerbangan selama 4 jam dan 20 menit, penerbangan berangkat dari Jakarta pukul 14.00 dan mendarat di Hanoi pukul 18.15. Dari Hanoi, penerbangan berangkat pukul 8.40 dan mendarat di Jakarta pukul 13.00 (waktu lokal).

Untuk merayakan ekspansi jaringan dan memberi kebahagiaan kepada pelanggan selama musim liburan, Vietjet mengadakan “perayaan makanan lezat” dengan jutaan tiket mulai dari Rp900,000/sekali jalan dengan pajak dan biaya lainnya, mulai dari 1 November 2023 hingga 11 November 2023 di situs web www.vietjetair.com.

Hanoi, ibu kota Vietnam, memiliki daya tarik yang besar baik secara regional maupun global. Terkenal dengan keindahan yang abadi, warisan budayanya, dan masakan yang menggugah selera, Hanoi semakin populer di kalangan pengunjung berkat perpaduan pesonanya antara tradisi kuno dan perkembangan modern. Para pelancong dapat mengunjungi Hoan Kiem Lake, Ho Chi Minh Mausoleum, Temple Of Literature di Hanoi, menikmati pelayaran di Ha Long Bay, menikmati udara segar di Sapa Terrace, atau menikmati pemandangan Ninh Binh yang menakjubkan.

Baca juga: Kham Thien Street, Sebuah Cerita dari Pemukiman Pinggir Rel di Vietnam

Mulai bulan Desember, Vietjet juga akan mengoperasikan dua layanan internasional baru yang menghubungkan Hanoi dengan Siem Reap (Kamboja) dan Kota Ho Chi Minh dengan Shanghai (China), serta penerbangan domestik dari Kota Ho Chi Minh ke destinasi bersejarah Vietnam, Dien Bien.

Yemenia (Yemen Airways) – Makapai Nasional yang Eksis dari “Negeri Porak-porada” Yaman

Keterlibatan milisi Houthi dalam serangan rudal balistik ke Israel, secara langsung ikut membawa nama Yaman, pasalnya Houthi adalah kelompok bersenjata yang saat ini menguasai wilayah Yaman, termasuk mengendalikan pemerintahan dari ibu kota Sana’a. Lepas dari itu, Yaman adalah negara yang bergejolak dan telah mengalami tumpah darah selama beberapa tahun. Bahkan, Yaman bisa disebut sebagai salah satu negara gagal. Tapi uniknya, Yaman masih mengoperasikan flag carrier dan terbilang eksis meski terbatas.

Baca juga: El Al Israel Ogah Terbang ke Asia Lewat Arab Saudi-Oman, Ngeri Dirudal Yaman? 

Maskapai nasional Yaman tersebut adalah Yemenia (Yemen Airways). Dari sejarahnya, Yemenia didirikan pada tahun 1961. Maskapai ini adalah hasil dari kemitraan antara Pemerintah Yaman dan Saudi Arabian Airlines. Maskapai ini melayani rute domestik dan internasional.

Basis operasi utama Yemenia Yemen Airways terletak di Bandar Udara Internasional Sana’a (Sana’a International Airport) di Sana’a, ibu kota Yaman. Sementara pusat operasi (hub) berada di Bandar Udara Internasional Aden (Aden International Airport).

Saat ini, Yemenia mengoperasikan penerbangan ke sejumlah kota di dalam dan luar Yaman, serta ke beberapa destinasi internasional di Timur Tengah, Afrika, Asia, dan Eropa. Destinasi internasional mencakup kota-kota seperti Jeddah, Riyadh, Kairo, Abu Dhabi, dan Dubai.

Armada Yemenia terdiri dari berbagai jenis pesawat, termasuk Airbus A320, Airbus A330, dan pesawat turboprop seperti ATR 72.

Maskapai ini telah menghadapi berbagai tantangan, terutama karena konflik dan ketidakstabilan yang telah memengaruhi Yaman. Tantangan tersebut termasuk pembatasan operasional, perubahan jadwal, dan kesulitan operasional lainnya yang telah memengaruhi maskapai ini.

Baca juga: Dampak Perang Gaza, Maskapai Penerbangan dan Wisata di Timur Tengah Merugi

Dari hasil penelusuran, Yemenia mempunyai situs yang dikelola dengan cukup baik – yemenia.com. Namun, yang unik maskapai ini justru tidak menampilkan alamat meski berkantor pusat di Sana’a. Sementara kantor cabang maskapai di luar negeri, justru menampilkan alamat lengkap. Yang diduga kuat ini terkait dengan masalah keamanan, yang mana Yemenia tidak memiiki alamat definitf di kota asalnya.

Lounge Bandara Ini Super Eksotis, Dilengkapi Kolam Renang Yang Menghadap Ke Apron

Republik Dominika, negara kepulauan yang berada di gugusan kepulauan Laut Karibia, Amerika Tengah memiliki bandara yang cukup eksotis dan sudah berstatus bandara internasional. Bandara Punta Cana namanya, terletak di bagian timur Republik Dominika yang dibangun dengan gaya tradisional masyarakat Dominika sendiri. Terminal bandara ini cukup unik yang dibangun dengan atap menggunakan daun palem dan ruangan di udara terbuka alias tanpa pendingin udara.

Baca juga: Hadirkan The Sleep ‘n Fly Lounge, Bandara Dubai Penuhi Kebutuhan Tidur Pelancong

Punta Cana yang berada di negara tropis ini juga menjadi salah satu tempat pariwisata di Republik Dominika sendiri. Bagi Anda para pelancong yang berkunjung ke negara ini pastinya tidak akan melewatkan liburan yang sangat berharga, apalagi bandara Punta Cana sendiri akan membangun sebuah lounge baru dengan kolam renang terbuka di dekat area apron pesawat.

Lounge baru di Bandara Punta Cana (www.thrillist.com)

Dilansir dari thrillist.com, fasilitas baru ini menjadi bagian dari area lounge VIP dan memungkinkan para tamu istimewa membuat tempat ini menjadi perhentian sementara untuk bersantai, berenang dan bermain air sambil menunggu waktu keberangkatan. Tak hanya berenang, pengunjung juga bisa menyaksikan pesawat lepas landas dan mendarat di aspal landasan pacu yang berada tepat di luar dekat tepi kolam renang.

Memang pastinya Anda akan mencium bau asap dan mendengar suara mesin yang nyaring sehingga mengganggu relaksasi serta kenamanan Anda. Tetapi jika dibandingkan dengan melewati kerumunan orang di gate yang penuh sesak, lounge ini seperti surga kenyamanan yang tiada tara.

Baca juga: Lounge ini Hadirkan Nuansa Bawah Laut yang Kental

Sayangnya, untuk masuk ke sini Anda tidak bisa masuk tanpa izin dan seperti kebanyakan lounge bandara, Anda memerlukan status khusus untuk mendapat akses masuk. Nantinya saat pembukaan pada Desember 2017, lounge ini akan tersedia bagi penumpang kelas satu dan kelas bisnis dan anggota klub tertentu. Orang biasa pun bisa masuk ke sini dengan membayar US$125 per hari untuk merasakan lounge baru ini.

Lounge ini dilengkapi shower bergaya spa, bar pribadi dan area makan mewah seperti lounge bandara kelas atas di seluruh dunia. Bandara ini dirancang oleh seorang arsitek bernama Oscar Imbert dan diresmikan tahun 1983, Punta Cana juga menjadi bandara internasional pribadi pertama di dunia.

Dassault Falcon 50 “Suzanna” – Jet Bisnis yang Disulap Jadi Peluncur Rudal Anti Kapal Exocet

Secara teori, dapat saja pesawat jet bisnis dipersenjatai, namun, faktanya tidak mudah untuk mengintegrasikan suatu jenis senjata, sebut saja rudal jelajah anti kapal kapal ke jet bisnis. Diperlukan biaya besar untuk modifikasi, pengujian sistem, sertifikasi sampai regulasi untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Dan salah satu jet bisnis yang mampu menorehkan ‘tinta emas’ dengan menjadi peluncur rudal anti kapal, adalah Dassault Falcon 50 buatan Perancis.

El Al Israel Ogah Terbang ke Asia Lewat Arab Saudi-Oman, Ngeri Dirudal Yaman?

Maskapai El Al mengumumkan perubahan rute penerbangan ke Asia. Semula, penerbangan melintasi langit Arab Saudi dan Oman; termasuk buffer di Teluk Persia. Mulai Senin lalu, penerbangan memutar ke arah selatan melewati Laut Merah, Teluk Aden, dan Laut Arab. Menariknya, ini terjadi usai Yaman disebut-sebut mulai masuk ke Perang Israel-Palestina pada tanggal 28 Oktober lalu lewat serangan drone.

Baca juga: Bermarkas di Bandara Ben Gurion, Inilah El Al, Maskapai Nasional Israel dengan Awak Kabin Wajib Berdinas Militer

Maskapai nasional Israel tersebut, mengungkapkan, keputusan melewati rute memutar ke Selatan sebelum terbang ke Timur diambil demi keselamatan dan keamanan penerbangan, seiring meluas dan memanasnya perang Israel-Palestina (Hamas).

Rute memutar ke Selatan itu sebetulnya bukan barang baru melainkan rute konvensional Israel sebelum Arab Saudi dan Oman membuka ruang udaranya untuk Israel. Saat itu, penerbangan ke beberapa negara di Asia seperti Thailand dan Jepang via Laut Merah, Teluk Aden, dan Laut Arab memakan waktu 11 jam.

Begitu Arab Saudi dan Oman membuka ruang udaranya untuk Israel, penerbangan jauh lebih singkat menjadi 8,5 jam, seperti diungkap The Jerussalem Post.

Saat ini, setelah keputusan kembali melalui rute memutar ke Selatan dalam penerbangan ke Timur, El Al tetap tidak bisa memastikan bahwa penerbangan tetap akan berlangsung normal berdurasi 11 jam, sebagaimana dahulu.

Itu karena, penerbangan melewati Laut Merah masuk ke dalam ruang udara Yaman, yang notabene dikuasai Houthi dan pro-Palestina. Bagi El Al, itu sangat mengancam kesalamatan penerbangan.

Oleh sebab itu, maskapai terus terang bahwa kebijakan tersebut akan banyak mengalami delay dan durasi terbang yang lebih lama dari biasanya. Maskapai juga menyarankan penumpang untuk selalu mengecek jadwal penerbangan untuk menghindari adanya perubahan mendadak, seiring situasi geopolitik di kawasan.

Baca juga: Boeing 787 Terbaru El Al Dikirim Menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Maskapai El Al sendiri diketahui menjadi maskapai penerbangan komersial berjadwal paling aman di dunia. Bagaimana tidak, maskapai itu dilengkapi dengan sistem anti-rudal C-Music pertama dan satu-satunya di dunia yang dilengkapi sistem pertahanan udara (anti-rudal).

Biasanya, sistem anti rudal hanya digunakan di pesawat kenegaraan saja yang memuat penumpang VVIP seperti presiden dan wakil presiden, perdana menteri, raja dan ratu, menteri, dan lain sebagainya.

KCIC: Kereta Cepat Whoosh Tak Pernah Rusak, Kejadian di Bandung Karena Listrik Padam

Dua Kereta Cepat Whoosh diberitakan mogok di Batununggal, Kota Bandung, Selasa pagi. PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memastikan hal tersebut tidak benar. Seluruh sarana Kereta Cepat Whoosh yang beroperasi dalam kondisi andal serta laik operasi dan tercatat tidak pernah mengalami kerusakan sejak dilakukan ujicoba hingga kini telah dioperasikan secara resmi.

Baca juga: Catat, QR Code Tiket Kereta Cepat Whoosh Tidak Bisa Digunakan Lagi Jika Penumpang Mencetak Tiket Fisik 

Corporate Secretary PT KCIC, Eva Chairunisa, menjelaskan, pada Selasa 31 Oktober 2023 dua Kereta Cepat Whoosh sempat berhenti sekitar 15 menit. Bukan karena mogok, melainkan terdapat kendala suplai listrik dari PLN yang padam pada pukul 10.30 WIB di gardu listrik Kiaracondong – Gedebage.

Akibat listrik PLN padam tersebut, terdapat dua kereta yang sempat tertahan yakni Whoosh G1126 rute Tegalluar- Halim dan G1123 rute Halim – Padalarang. Pihaknya memohon maaf atas kejadian tersebut dan telah berkoordinasi dengan PLN agar kejadian serupa tidak terulang.

“KCIC memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang Kereta Cepat Whoosh atas kejadian ini. Menindaklanjut hal tersebut KCIC juga telah melakukan kordinasi bersama PLN untuk melakukan evaluasi agar kejadian tidak terulang kembali,” jelasnya.

Setelah berkordinasi dengan PLN dan suplai listrik kembali normal dan perjalanan Kereta Cepat Whoosh kembali normal pada pukul 10.45 WIB.

Meski terdapat baterai pada rangkaian Kereta Cepat Whoosh, itu tidak cukup untuk menggerakkan mesin kereta. Baterai pada kereta hanya menghidupkan kereta sistem komputer, airconditioner fan, lampu.

Meski sempat diragukan alias sepi penumpang, nyatanya, Kereta Cepat Whoosh banyak diminati masyarakat. Itu ditandai dengan terus meningkatnya jumlah perjalanan per hari sejak beroperasi.

Baca juga: Naik Kereta Cepat Whoosh Gratis Tiket Masuk Destinasi Wisata di Bandung, Ini Daftarnya: Belaku Sampai Oktober 2024

Berdasarkan data per 30 Oktober, terdapat sekitar 132 ribu tiket kereta cepat Whoosh yang terjual untuk perjalanan 17 Oktober s.d 4 November 2023. Dari jumlah tersebut ada sekitar 116 ribu penumpang yang telah berangkat pada 17 s.d 30 Oktober 2023. Rata-rata okupansi penumpang pada setiap rangkaian yang beroperasi mencapai 85 s.d 99% untuk setiap perjalanan, dengan angka penumpang tertinggi mencapai sekitar 14.200 per hari.

Adapun peningkatan jumlah penumpang tersebut juga diikuti dengan peningkatan jumlah perjalanan Kereta Cepat secara bertahap dari 8 perjalanan per hari dimasa Whoosh Experience Program, menjadi 14 s.d 25 perjalanan pada 18 s.d 31 Oktober, dan menjadi 28 perjalanan per hari mulai 1 November 2023.

Bukan Cuma Faktor Sejarah, Ini Alasan Kecepatan Kapal Diukur dalam “Knots”

Lazim yang kita dengar selama ini bahwa kecepatan kapal dukur dalam “knots” (nautical miles per hour). Mengingat netizen lebih banyak ‘hidup’ di darat, terbesit pertanyaan yang sangat mendasar, mengapa kecepatan kapal tidak diukur dalam “km per jam”?

Baca juga: Mayla FortyFour – Kapal Cepat Bertenaga Listrik yang Bisa Ngebut 130 Km Per Jam

Rupanya penggunaan knots berasal dari sejarah maritim yang panjang, dan telah diadaptasi secara luas di dunia kelautan. Nah, berikut beberapa alasan mengapa kecepatan kapal diukur dalam knots.

1. Historis
Pengukuran kecepatan dalam knots telah digunakan dalam navigasi maritim sejak abad ke-17. Pada saat itu, pelaut menggunakan instrumen seperti tali berbobot yang memiliki simpul (knots) pada jarak tertentu untuk mengukur kecepatan kapal. Ini adalah salah satu metode paling awal untuk mengukur kecepatan kapal.

2. Hubungan dengan Nautical Mile
Satu knot setara dengan satu nautical mile per jam. Nautical mile adalah satuan jarak yang digunakan dalam navigasi maritim dan setara dengan satu menit busur (satu derajat lingkar bumi dibagi 60). Ini membuat perhitungan navigasi seperti perhitungan jarak dan waktu lebih mudah karena satuan waktu dan jarak berada dalam kisaran yang sama.

3. Standar Internasional
Penggunaan knots sebagai satuan kecepatan kapal adalah standar internasional dalam navigasi maritim dan penerbangan. Ini membuat komunikasi dan pertukaran informasi lebih konsisten di seluruh dunia.

Baca juga: Kapal Ferry Listrik Terbesar di Dunia Berlayar Dua Tahun Lagi, Bisa Angkut 2100 Penumpang dan 226 Kendaraan

4. Praktis
Pengukuran kecepatan dalam knots juga praktis karena memberikan hasil yang mudah dibaca pada alat pengukur kecepatan kapal yang disebut “knotmeter” atau “log.”

Selain itu, perubahan dalam kecepatan kapal yang diukur dalam knots memberikan informasi yang lebih relevan untuk perencanaan dan navigasi kapal.

Sebelum Israel Menjajah, Palestina Pernah Punya Jaringan Kereta Api Terbesar

Sebelum era kendaraan bermotor datang, di masa lalu, negara-negara di dunia mengandalkan kereta api sebagai moda transportasi utama di darat, baik itu untuk pertukaran barang maupun orang. Tak terkecuali di Palestina, di bawah Kekaisaran Ottoman.

Baca juga: Bukan Cuma Bisa Mengecam, Indonesia Pernah Larang Pesawat PM Israel Lintasi Ruang Udara Indonesia

Jaringan kereta api yang dioperasikan oleh Palestine Railways itu bukan hanya melayani relasi lokal, melainkan juga internasional atau lintas negara, dalam hal ini menghubungkan Mesir, Transjordan atau Yordania, Suriah, Hijaz atau Arab Saudi, dan Lebanon, menjadikannya salah satu yang terbesar di Timur Tengah.

Sejarah pembangunan jaringan kereta api di Palestina tentu tak terlepas dari campur tangan Perancis pada tahun 1888. Ketika itu, Kota Mode itu memenangkan konsesi pembangunan jaringan perkeretaapian dari Jaffa ke Yerusalem, Palestina, oleh Kekaisaran Ottoman.

Setelah tiga tahun atau pada 1892, jalur sepanjang 54 mil pun rampung. Saat itu, Palestine Railways belum lahir. Karenanya, relasi Jaffa-Yerussalem dioperasikan oleh perusahaan Perancis, Société du Chemin de fer Ottoman de Jaffa à Jerusalem et Prolongements, sebagaimana dikutip dari railwaywondersoftheworld.com.

Dirasa belum cukup, jaringan perkeretaapian Kekaisaran Ottoman berkembang dengan dimulainya pembangunan Kereta Api Hijaz atau Hejaz Railway.

Peta jaringan perkeretaapian Palestine Railways. Foto: railwaywondersoftheworld.com

Semula, jaringan kereta Hejaz Railway ini dicanangkan untuk bisa mengular dari Damaskus sampai ke Laut Merah, namun rencana ini gagal karena Amir Mekkah kala itu mengatakan bahwa jaringan perkeretaan bakal mematikan bisnis transportasi unta yang menjadi salah satu tulang punggung transportasi di Jazirah Arab.

Pembangunan jalur kereta api ini sendiri sudah dilakukan pada tahun 1840 namun baru direalisasikan pada tahun 1908 – atau pada masa pemerintahan Usmaniyah Turki pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II.

Pembangunan jaringan kereta api ini tidak hanya memudahkan sarana transportasi di sana saja, melainkan menjadi salah satu program Pan Islamisme yang dilancarkan oleh Sultan Abdul Hamid II. Pan Islamisme merupakan paham politik yang lahir pada saat Perang Dunia II mengikuti paham yang tertulis dalam al-a’mal al-Kamilah dari Jamal-al-Din Afghani – seorang aktivis politik dan nasionalis Islam.

Meski konstruksi pembangunan jalur ini cukup sulit, karena melalui daerah kawasan gurun pasir yang memiliki rintangan cukup tinggi, namun, jalur kereta Hejaz Railway sepanjang 1.320 km akhirnya rampung pada 1908.

Usai wilayah Suriah-Lebanon-Yordania-Palestina-Hijaz atau Arab Saudi terhubung, Kekaisaran Ottoman mulai melirik jaringan perkeretaapian ke wilayah Terusan Suez yang dikuasai Inggris.

Baca juga: Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

Kendati penuh dengan perjuangan, jaringan kereta api yang menghubungkan Palestina dengan Mesir pun terwujud, dimulai dari Jaffa, Gaza, Rafah, El Arish, Kantara Timur, Port Said, Ismailia, Great Briter Lakes, Geneffe, dan berakhir di Suez.

Walaupun jalur kereta di Palestina, Hejaz, dan Transjordania sempat dioperasikan oleh beberapa operator berbeda, namun, pasca kehadiran Palestine Railways, seluruh jaringan perkeretaapian Kekaisaran Ottoman, dalam hal ini menghubungkan Mesir, Palestina, Arab Saudi, Yordania, Suriah, dan Lebanon mulai dioperasikan oleh operator ini mulai dari tahun 1920 hingga 1948.

Dampak Perang Gaza, Maskapai Penerbangan dan Wisata di Timur Tengah Merugi

Maskapai penerbangan di Timur Tengah mengatakan bahwa perang Israel-Gaza telah menyebabkan penurunan jumlah perjalanan udara ke wilayah tersebut. Konflik yang sedang berlangsung menjadi agenda utama ketika panel eksekutif maskapai penerbangan berbicara pada hari Selasa di pertemuan tahunan ke-56 Arab Air Carriers Organization, yang diadakan tahun ini di Arab Saudi.

Baca juga: Perang Israel vs Hamas Ancam Keselamatan Navigsi Penerbangan, Kok Bisa?

Dilansir thenationalnews.com (1/11/2023) Samer Al Majali, kepala eksekutif Royal Jordanian yang berbasis di Amman, menguraikan pengalihan penerbangan yang memakan banyak biaya karena alasan keamanan, tagihan bahan bakar yang mahal, dan penurunan pengunjung internasional. “Saat ini kita adalah negara yang paling dekat dengan kejadian baru-baru ini dan kita terkena dampak negatif dari semua yang terjadi,” katanya.

“Terbang ke arah barat saat ini sulit, meski wilayah udaranya terbuka, tapi kami tidak bisa terbang karena pertimbangan keamanan. Wilayah utara juga merupakan sebuah masalah. Yordania seperti terkurung,” ujar Samer. Sebagian besar penerbangan dari Yordania harus menuju ke selatan, ke Laut Merah, melintasi Sinai dan kemudian ke utara menuju Mesir dan kemudian ke Eropa.

“Ini merupakan masalah besar, sehingga menghabiskan lebih banyak biaya bahan bakar. Harga bahan bakar naik karena krisis. Dan kita telah melihat penurunan besar dalam pariwisata. Yordania sangat bergantung pada pariwisata dan kami telah melihat penurunan jumlah pemesanan dalam jumlah besar.”

Tiket ke Yordania mengalami penurunan sebesar 49 persen dari tahun ke tahun, menurut data perusahaan analisis perjalanan ForwardKeys. Destinasi di Yordania seperti Petra telah lama populer di kalangan wisatawan, yang terkadang bepergian ke Israel dan menambahkan tempat wisata di Yordania sebagai bagian dari paket tur.

“Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak, yang bisa naik menjadi $157 per barel dalam waktu dekat jika eskalasi ini mengakibatkan gangguan besar pasokan minyak mentah di Timur Tengah,” kata Bank Dunia.

Dalam skenario “gangguan besar”, yang sebanding dengan embargo minyak Arab pada tahun 1973, pasokan global akan menyusut sebesar 6 juta hingga 8 juta barel per hari, sehingga menaikkan harga ke kisaran $140 hingga $157 per barel, kata pemberi pinjaman dalam laporan terbarunya. Outlook Pasar Komoditas minggu ini.

Baca juga: Bandara Gush Katif, Bandara Satu-satunya di Jalur Gaza yang Hanya Tinggal Cerita

Sementara itu, Emirates telah menangguhkan semua penerbangannya ke dan dari Tel Aviv hingga 14 November dan “memantau dengan cermat situasi di Israel”, dan tetap melakukan “kontak dekat” dengan otoritas terkait, menurut situs webnya.

Ulang Tahun Ke-50, Air Niugini Borong Enam unit Airbus A220

Air Niugini, maskapai nasional Papua Nugini telah menandatangani kontrak pemesanan (firm order) dengan Airbus untuk enam pesawat lorong tunggal (narrow body) generasi terbaru A220-100, sebagai bagian dari program pemodernan armadanya. Selain itu, Air Niugini juga akan membeli tiga A220-300 dan dua A220-100 dari lessor pihak ketiga.

Baca juga: A220 – Generasi Narrow Body Terbaru Airbus Mendarat di Jakarta

Air Niugini akan mengoperasikan A220 untuk penerbangan di jaringan domestik dan regional, memanfaatkan keunggulan pesawat ini dalam hal jarak tempuh yang luar biasa jauh, tingkat konsumsi bahan bakar terendah, dan kabin terluas pada kategori pesawat berkapasitas 100-150 penumpang. Seluruh kemampuan tersebut akan memberikan Air Niugini kapasitas serta fleksibilitas pada setiap penerbangan di jaringan domestiknya, dan memungkinkan maskapai tersebut untuk terbang langsung dari ibu kota Port Moresby ke berbagai destinasi baru di wilayah Asia Pasifik.

“Ini adalah peristiwa penting bagi Air Niugini. Bertepatan dengan ulang tahun maskapai yang ke 50, Air Niugini memesan enam pesawat regional baru yang akan merevolusi penerbangan bagi masyarakat Papua Nugini. Saya tidak sabar untuk menyambut ‘People’s Balus’ (pesawat rakyat) di langit Papua Nugini,” ujar Hon. William Duma, Minister for State Enterprises Papua Nugini.

Air Niugini juga mengumumkan bahwa mereka telah memilih sistem pendukung perencanaan penerbangan dari anak perusahaan Airbus, NAVBLUE, yakni N-Flight Planning (N-FP). Solusi ini akan membantu maskapai mengoptimalkan konsumsi bahan bakar, waktu, dan biaya untuk memenuhi kebutuhan operasional, sekaligus memastikan keselamatan dan kepatuhan juga terus terpenuhi secara menyeluruh.

A220 adalah pesawat paling modern pada kategori ukurannya, dengan kapasitas 100 hingga 150 penumpang dan jarak tempuh hingga 3.450 mil laut (6.390 km). Tergantung pada konfigurasi kabin, A220-100 memiliki kapasitas 100-135 penumpang, sedangkan A220-300 yang berukuran lebih besar dirancang khusus untuk mengangkut 120-150 penumpang.

Pesawat ini ditenagai oleh mesin GTF™ generasi terbaru dari Pratt & Whitney. Sehingga pembakaran bahan bakar dan emisi CO2 menjadi 25% lebih rendah per kursi dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya. A220 juga memiliki kabin, kursi, dan jendela terbesar di kelasnya, memberikan kenyamanan yang maksimal bagi penumpang.

Seperti pesawat Airbus lainnya, A220 sudah dapat beroperasi dengan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) hingga 50%. Airbus menargetkan agar semua pesawatnya mampu beroperasi dengan 100% SAF pada tahun 2030.

Baca juga: Mesin Airbus A220 Mendadak “Shutdown” Saat Pendaratan, FAA Rilis Upgrade Perangkat Lunak FADEC

Hingga akhir September 2023, Airbus telah menerima lebih dari 800 pesanan dari sekitar 30 pelanggan untuk A220, di mana lebih dari 280 di antaranya telah dikirimkan. A220 telah beroperasi dengan sukses dengan 17 maskapai penerbangan di seluruh dunia.