Orkney Jadi Wilayah Pertama di Inggris yang Dilayani Drone Pengantar Surat/Parsel

Orkney, Kepulauan di utara Skotlandia, menjadi wilayah pertama di Inggris yang mengirimkan surat melalui drone. Layanan baru ini digelar oleh Royal Mail dan perusahaan drone Skyports untuk mendistribusikan surat dan parsel antar pulau.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

Dalam kemitraan tersebut, melibatkan Orkney Council Harbor Authority dan Loganair. Prosesnya surat akan diangkut dari kantor pengiriman Kirkwall Royal Mail ke Stromness. Dari sana, drone akan membawa barang/surat ke Graemsay dan Hoy di mana staf pos akan menyelesaikan rute pengirimannya.

Sementara layanan awalnya akan beroperasi selama tiga bulan, itu bisa dilanjutkan secara permanen di bawah kerangka peraturan yang ada karena pemandangan unik Orkney dan kedekatan pulau-pulau satu sama lain.

Layanan drone diharapkan secara signifikan meningkatkan layanan dan waktu pengiriman ke Graemsay dan Hoy, karena cuaca dan geografi dapat menyebabkan gangguan pada layanan pengiriman.

Dikutip dari BBC.com (31/7/2023), Penggunaan drone elektrik untuk pengiriman antar pulau juga akan membawa peningkatan keamanan yang signifikan dengan memastikan pekerja pos dapat melakukan pengiriman antar pelabuhan tanpa risiko.

Drone yang sepenuhnya bertenaga listrik akan membawa surat antar pulau, di mana staf akan menyelesaikan rute pengiriman yang biasa mereka lakukan. Skyports akan melakukan penerbangan antar pulau dengan Speedbird Aero DLV-2, yaitu drone multirotor yang mampu membawa muatan hingga 6 kg.

Baca juga: Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur

Proyek ini didanai oleh Dana Inovasi Pengangkutan Departemen Transportasi dan dilaksanakan oleh Connected Places Catapult. Layanan ini akan meningkatkan keselamatan dengan memastikan pekerja pos dapat mengirim antar pelabuhan tanpa risiko.

Garuda Indonesia Uji Coba Penggunaan Bioavtur di Pesawat Boeing 737-800NG

Garuda Indonesia berperan aktif mengurangi emisi gas rumah kaca, salah satunya dengan menjajaki penggunaan energi terbarukan bioavtur J2.4, yang merupakan bagian dari pengembangan konsep Sustainable Aviation Fuel (SAF). Uji coba penggunaan bioavtur tersebut telah dimulai pada pekan lalu, Rabu (26/7) melalui uji statis pada mesin pesawat CFM56-7B yang digunakan pada armada B737-800 NG Garuda Indonesia.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Uji coba tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan rangkaian uji lanjutan lainnya yakni berupa uji coba ground test dan flight test.

Bersama dengan Pertamina, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kementerian ESDM RI, dan pemangku kepentingan terkait lainnya, Garuda Indonesia telah menyelesaikan tahap awal uji coba bahan bakar terbarukan tersebut, yang dilakukan melalui uji statis dengan melihat respon mesin pesawat terhadap penggunaan material bioavtur.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan bahwa penjajakan penggunaan bioavtur ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Garuda Indonesia, sebagai maskapai pembawa bendera bangsa, dalam mendukung berbagai inisiatif dekarbonisasi. Hal itu, lanjutnya, sejalan dengan komitmen Garuda Indonesia dalam mendukung target Pemerintah yang memproyeksikan terwujudnya Net-zero Emission Indonesia 2060, dimana salah satunya akan melibatkan pengembangan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan dengan mengacu pada konsep Sustainable Aviation Fuel (SAF).

“Kami menyadari bahwa sebagai bagian dari ekosistem industri penerbangan, Garuda Indonesia tidak dapat terlepas dari emisi yang dihasilkan dari lini operasional kami. Untuk itu, inisiasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal kami untuk mendukung ekonomi hijau yang berkelanjutan, sekaligus menjadi pionir sebagai maskapai komersial pertama di Indonesia yang melaksanakan uji coba energi terbarukan, khususnya bioavtur,” papar Irfan.

Baca juga: Minyak Jelantah Bekas Goreng Kentang Sekarang Jadi Bahan Bakar Pesawat

Adapun Bioavtur J2.4 merupakan bahan bakar yang di antaranya terdiri dari komponen minyak inti kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil) sebanyak 2,4 persen. Produk ini merupakan hasil pengembangan dari Pertamina Group dan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kamera Pemantau di Bus Kota Dapat Dioptimalkan untuk ‘Atur’ Lalu Lintas

Untuk mengoptimalkan arus lalu lintas di jalan-jalan kota besar, maka otoritas pemerintah kota sering memasang kamera penghitung mobil atau sensor lain di beberapa ruas atau lokasi yang ditetapkan. Namun, sebuah studi baru menunjukkan bahwa menggunakan kamera yang dipasang di bus mungkin merupakan cara yang lebih optimal untuk memantau kondisi lalu lintas di perkotaan.

Baca juga: Spion Kamera di Bus, Siapa yang Paling Diuntungkan?

Pasalnya, sebagian besar bus kota sudah dilengkapi dengan kamera yang menghadap ke depan untuk alasan yang sama dengan banyak kendaraan pribadi, yakni untuk mendokumentasikan setiap kecelakaan yang mungkin melibatkan (pengemudi) mereka.

Uji coba penempatan kamera semacam itu telag digunakan di bus kampus The Ohio State University, yang ditata agak mirip kota kecil. Dari fakta yang ada di lapangan, tim Ohio State yang dipimpin oleh Prof. Keith Redmill mengembangkan algoritme berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis rekaman yang diambil oleh kamera tersebut.

Perangkat lunak ini menggunakan model pembelajaran mendalam yang dikenal sebagai YOLOv4 untuk mendeteksi dan melacak banyak objek dalam bingkai video individual. Kemampuan ini memungkinkannya untuk menentukan berapa banyak kendaraan yang ada di setiap bidikan, berapa banyak yang bergerak dibandingkan dengan yang diparkir di pinggir jalan, dan kecepatan/lintasan yang bergerak.

Memanfaatkan data ini – bersama dengan peta jalan digital dan data satelit GNSS yang ada – algoritme dapat menghasilkan peta overhead jalan-jalan yang dilalui bus, menunjukkan arus lalu lintas yang tercatat di setiap titik.

Sebaliknya, kamera yang dipasang di jalan hanya dapat memantau lalu lintas di sejumlah kecil lokasi yang ditetapkan.

Baca juga: PO Harapan Jaya Jadi yang Pertama Gunakan Kamera Sebagai Spion Bus

“Jika kami mengumpulkan dan memproses informasi spasial beresolusi tinggi yang lebih komprehensif tentang apa yang terjadi di jalan raya, maka unit perencana dapat lebih memahami perubahan permintaan, secara efektif meningkatkan efisiensi dalam sistem transportasi yang lebih luas,” kata Redmill.

Bukan Perancis atau Inggris, Pengguna Pertama Pesawat Tanker Airbus A330 MRTT adalah Australia

Dalam Misi Pegasus 2023 – tiga unit pesawat tanker Airbus A330 MRTT (Multirole Tanker Transport) milik Angkatan Udara Perancis tiba di Lanud Halim Perdanakusuma untuk mendukung kehadiran enam jet tempur Dassault Rafale. Tentang A330 MRTT dan kemampuannya sepertinya sudah banyak dikupas, lantaran pesawat ini berhasil menarik perhatian publik, seperti kabar bakal diakusisi oleh TNI AU.

Baca juga: Pesawat Tanker Airbus A330 MRTT Tiba di Jakarta, Bangkitkan Mimpi Konversi A330-200 Garuda Indonesia

Berbicata tentang A330 MRRT, tapi tahukah Anda, siapa operator perdana A330 MRTT? Meski Airbus diproduksi di Eropa dan telah dioperasikan oleh 12 negara, namun pengguna pertama pesawat tanker multiguna ini ternyata bukanlah negara Eropa.

Pengguna atau operator pertama A330 MRTT adalah Angkatan Udara Australia – Royal Australian Air Force (RAAF). Pada tahun 2004, Depertemen Pertahanan Australia memutuskan untuk mengakusisi A330 MRTT (kode untuk RAAF KC-30A) untuk mendukung air refueling jet tempur F/A-18F Super Hornet.

Pesanan dari Australia kemudian menginspirasi pengembangan pesawat tanker dan angkut berbasis A330 untuk memenuhi kebutuhan militer di pasar internasional. Dipesan sebanyak lima unit pada tahun 2004, unit perdana A330 MRTT untuk AU Australia diterima pada tahun 2011. Penyerahan tersebut merupakan hasil dari program pengembangan dan pengujian ekstensif untuk memproduksi pesawat tanker/transportasi generasi baru bersertifikat dan terbang pertama di dunia.

A330MRTT sedang bongkar muat di Getafe, Spanyol setelah kembali dari Cina untuk mengambil pasokan medis. Foto: AIRBUS

Kerja keras bertahun-tahun mendahului masuknya pesawat ke dalam layanan. Program akusisi A330 MRTT termasuk kontrak untuk mengubah lima unit A330 RAAF (varian penumpang) menjadi MRTT. Lebih khusus lagi, kontrak tersebut ditandatangani pada tanggal 20 Desember 2004, antara pemerintah Australia dan pendahulu Airbus Defense and Space – EADS-CASA. EADS adalah singkatan dari European Aeronautic Defense and Space Company, sedangkan Casa adalah singkatan dari Construcciones Aeronáuticas SA. Perusahaan-perusahaan tersebut pada akhirnya dikelompokkan kembali untuk membentuk Airbus Defence and Space.

Aviation Week mencatat bahwa MRTT A330 pertama, yang ditujukan untuk Australia, diluncurkan dari fasilitas EADS-CASA di Getafe, Spanyol, pada Juni 2007. Empat pesawat tersisa yang merupakan bagian dari pesanan awal kemudian dimodifikasi menjadi MRTT di Brisbane, Australia, dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Qantas Defense Services.

Airbus A330 Qantas

AU Australia diharapkan untuk menerima pengiriman pesawat pertama pada tahun 2008. Namun, ini diundur ke tahun 2011 karena penundaan akibat persyaratan kelaikan udara Australia. Saat ini, AU Australia mengoperasikan tujuh unit A330 MRTT, dengan dua pesanan terakhir berasal dari konversi A330-200 milik maskapai Qantas.

Penting untuk dicatat bahwa setiap Airbus A330 MRTT dimulai sebagai Airbus A330-200 reguler sebelum menjalani proses konversi khusus.

Sebagai Airbus A330-200 reguler, pesawat tersebut diproduksi di jalur perakitan akhir pesawat komersial perusahaan di Toulouse, Perancis. Setelah pembuatan awal selesai, pesawat diterbangkan ke fasilitas pesawat militer Airbus di Getafe, Spanyol. Di fasilitas ini, A330 dilengkapi dengan perangkat keras dan sistem pengisian bakar bakar udara-ke-udara (air refueling) dan untuk angkutan pasukan serta kargo.

Proses ini berarti pelanggan militer bahkan dapat mengamankan badan pesawat penumpang lama dari operator sipil untuk diubah menjadi pesawat MRTT. Misalnya, Kementerian Pertahanan Spanyol membeli tiga Airbus A330 Iberia untuk dikonversi menjadi MRTT.

Airbus menyatakan bahwa A330 MRTT dapat membawa muatan maksimum hingga 45 ton (99.000 lbs). Bergantung pada konfigurasi tempat duduk, ini bisa menampung hingga 300 penumpang. Namun, dalam tata letak kabin MedEvac, ini bisa berbeda. Airbus memberikan contoh 40 tandu, 20 kursi untuk staf medis, dan tempat duduk untuk 100 penumpang; Ini akan digabungkan dengan hingga 37 ton kargo di dek bawah.

Baca juga: Konversi dari Pesawat Penumpang ke Pesawat Kargo, Qantas Lelang Perlengkapan Airbus A330-200 

Sebagai kapal tanker, A330 MRTT dapat di-setting untuk membawa hingga 111 ton bahan bakar, yang menurut Airbus merupakan kapasitas tertinggi dari semua pesawat tanker, bahkan jika dibandingkan dengan pesawat dengan tangki bahan bakar tambahan di dek kargo.

Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Untuk meningkatkan keselamatan para tunanetra ada teknologi terbaru yang digunakan untuk keselamatan dan kenyamanan mereka saat menggunakan fasilitas kereta api. West Japan Railways Company atau JR West meluncurkan sistem navigasi terbarunya.

Baca juga: Perusahaan Bus di California Hadirkan Peta Audio dan Tactile Untuk Kaum Difabel

Mereka menggunakan kombinasi teknologi ponsel pintar dan kode QR dalam penyampaian informasi terkait stasiun kereta api. Hal ini terlihat di Sanyo Shinkansen di Stasiun Shin-Kobe, seorang pria yang menggunakan tongkat putih menggunakan ponsel pintarnya saat dengan mantap berjalan di atas paving taktl lantai.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp, kode QR ini terlihat di blok paving yang terletak di titik-titik penting salah satunya adalah menghubungkan gate tiket ke platform. Pria tunanetra ini tiba di salas satu titik yang ada kode QR dan sebuah suara kemudian terdengar dari ponsel pintarnya. Kemudian pria tersebut dibimbing suara itu ke tujuan yang sudah dimasukkan sebelumnya.

“Saya belum pernah menggunakan Stasiun Shin-Kobe sebelumnya, tetapi saya bisa berjalan-jalan di kecepatan normal. Saya merasa senang dan seperti sedang melakukan sesuatu yang baru,” kata pria itu.

Untuk diketahui, Progress Technologies merupakan perusahaan yang telah mengembangkan sistem navigasi yang digunakan di stasiun tersebut sejak 2016 lalu. Mereka juga sudah bekerja sama dengan Tokyo Metro Company di wilayah timur Jepang Kanto dan melakukan pengujian di tempat yakni sistem di stasiun kereta bawah tanah.

Di wilayah Kansai di Jepang bagian barat, perusahaan bermaksud melakukan pengujian untuk melihat apakah sistem dapat memberikan informasi yang akurat untuk kereta dengan jumlah gerbong yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Kepala perusahaan, Yuichi Konishi mengatakan, di masa depan pihaknya akan menggunakan kecerdasan buatan (AI), dan dapat mendeteksi lokasi blok taktil dan objek yang mungkin dimasuki orang.

Di balik perkembangan teknologi untuk membantu penyandang tunanetra adalah penggunaan ponsel pintar yang sekarang tersebar luas di masyarakat dan peningkatan dalam teknologi pengenalan gambar. Pada Februari 2020, Kyocera Corp. mengumumkan bahwa mereka mengembangkan “tongkat pintar”. Konsep ini melibatkan pemasangan pemancar sinyal di titik-titik tertentu, seperti di tepi platform dan bagian tempat gerbong kereta terhubung.

Sehingga jika pengguna tongkat pintar mendekati pemancar, mereka akan merasakan getaran pada tongkat, yang dilengkapi dengan penerima, dan mengeluarkan peringatan lisan tentang bahaya dari telepon orang tersebut. Karena proyek ini baru dimulai pada 2019, perusahaan tersebut melaporkan bahwa mereka ingin melakukan tes di lokasi di stasiun kereta.

Sejak Juni, Kintetsu Railway Co. telah melengkapi sistem AI di Stasiun Yamato-Saidaiji kota Nara di Jepang barat. Pintu masuk ke penghalang tiket memiliki kamera terpasang, dan AI secara otomatis memfoto ketika seseorang dengan tongkat atau pengguna kursi roda melewati lensanya. Setelah itu sistem memberi tahu anggota staf yang bertanggung jawab untuk membantu orang bahwa mereka ada di sana.

Baca juga: Serba-Serbi Rumble Strip, “Polisi Tidur Mini” Yang Kerap Dijumpai di Jalan Tol

Perusahaan kereta api mengatakan bahwa karena beberapa orang yang mungkin membutuhkan bantuan berjuang untuk mendekati orang lain untuk meminta bantuan, mereka berharap sistem baru itu akan “mencegah orang terlewatkan.” Ia juga mengatakan akan terus meningkatkan akurasinya dan akan menerapkannya di lebih banyak stasiun.

HarbourFront Singapura, Pelabuhan Masuknya Pelancong dari Batam

Pernah menyeberang ke Singapura menggunakan kapal dari Batam? Kalau pernah pasti Anda tidak asing dengan HarbourFront. Ini merupakan salah satu distrik tepi laut yang letaknya di bagian selatan Singapura. Dulu, area ini dikenal sebagai Seah Im tetapi juga disebut sebagai Jardine Steps.

Baca juga: Tak Perlu ke Pulau Sentosa di Singapura, Indonesia Mau Punya Bakauheni Harbour City

Namun setelah pelabuhan Singapura diperluas dan dikembangkan menjadi Maritime Square, kemudian berubah nama menjadi HarbourFront. Dirangkum KabarPenumpang.com dari wikipedia.com, nama HarbourFront sendiri hadir sejak awal tahun 2000-an.

Yang mana nama HarbourFront memberikan nuansa yang lebih berkelas pada area ini. Hadirnya HarbourFront sendiri awalnya dekat dengan titik paling selatan pulau utama Singapura dan akhirnya ada reklamasi lahan di Tanjong Pagar dan Tuas.

Lokasinya di perairan Pelabuhan Keppel yang terlindung membantu daerah tersebut berkembang sebagai area komersial yang berdekatan dengan Keppel Shipyards, terutama dengan pembangunan bekas World Trade Center pada tahun 1978. Tempat Pameran dan Konvensi besar pertama di Singapura, Kompleks Pameran World Trade Center, kemudian dibangun di samping World Trade Center, dan juga berfungsi sebagai simpul transportasi dengan ferry ke Sentosa dan tujuan regional lainnya seperti Batam.

Bahkan HarbourFront juga menjadi terminal kapal pesiar internasional di Negeri Singa. Pasalnya tahun 1991 silam, Singapore Cruise Center dibuka. Kemudian pembangunan besar-besaran kembali dilakukan di daerah itu setelah penutupan galangan kapal yang membuat nama HarbourFront ini diciptakan.

Kemudian HarbourFront Centre diluncurkan kembali yang mana bekas World Trade Center juga memiliki Kompleks Pameran tetangganya yang dihancurkan untuk memberi jalan bagi VivoCity, peningkatan Menara Kereta Gantung dan pembangunan dua blok perkantoran baru berdekatan dengannya.

Transportasi ke daerah tersebut meningkat pesat dengan dibukanya stasiun MRT HarbourFront dan perpanjangan Persimpangan Bus HarbourFront. Selain itu, jalur monorel baru ke Sentosa, Sentosa Express telah selesai dan dibuka pada 15 Januari 2007. Stasiun HarbourFront jalur Circle telah dibuka pada 8 Oktober 2011.

Baca juga: Pelabuhan Benoa Berbenah, Kapal Pesiar Ukuran Besar Akan Bisa Bersandar

Sebuah gedung perkantoran enam lantai baru juga sedang dikerjakan sebagai tambahan baru di HarbourFront Office Park. Situs baru ini dikenal sebagai HarbourFront Merrill Lynch, yang merupakan gedung enam lantai dan akan ditempati seluruhnya oleh bank Amerika Merrill Lynch dengan luas total 19 ribu meter persegi.

Pembangunan kantor lain sedang direncanakan di lokasi Gedung SPI saat ini. Selain itu, pengembangan perumahan dimungkinkan di masa depan. Singapore Cruise Centre akan diperluas untuk menampung lebih dari enam juta penumpang pada tahun 2010.

Serba-serbi Kapal Ferry Ro-Ro dan Pintu Rampa di Haluan-Buritan

Nama ferry Ro-Ro begitu sering disebut, namun sudahkah Anda tahu fungsi dari desainnya, dan mengapa sampai dijuluki “Ro-Ro”? Kapal ferry Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) disebut demikian karena desain dan fungsinya memungkinkan kendaraan bermotor untuk “roll-on” (naik) dan “roll-off” (turun) ke dan dari kapal dengan mudah melalui pintu rampa atau landasan miring.

Baca juga: Punya Beragam Peran dan Spesifikasi, Inilah Jenis-Jenis Kapal RoRo

Konsep Ro-Ro memungkinkan kendaraan untuk dengan cepat memasuki atau meninggalkan kapal tanpa perlu menggunakan derek atau kargo khusus untuk memuat dan membongkarnya.

Kebanyakan kapal ferry Ro-Ro memiliki dua pintu rampa, satu di haluan (depan) dan satu di buritan (belakang) kapal. Desain ini memungkinkan kapal ferry untuk berlayar mundur (berjalan mundur) saat masuk atau keluar dari pelabuhan, tanpa perlu memutar kapal saat sandar atau berlayar ke belakang seluruhnya.

Dengan menggunakan kedua pintu rampa, kapal ferry dapat melakukan manuver yang lebih efisien dan cepat saat berlabuh di pelabuhan. Kendaraan dapat masuk dan keluar dari kapal dengan mudah melalui dua pintu tersebut, tanpa perlu diarahkan atau dimundurkan dalam posisi yang khusus. Pintu rampa di haluan dan buritan juga memudahkan distribusi beban kendaraan di kapal untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas selama pelayaran.

Keuntungan dari desain ini adalah efisiensi waktu saat bongkar muat di pelabuhan, dan kapal dapat dengan cepat melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya tanpa memerlukan perputaran yang memakan waktu. Hal ini sangat penting dalam mengoperasikan kapal ferry yang melayani lintasan pendek antar pulau atau pelayaran dalam kawasan tertentu.

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua kapal ferry Ro-Ro memiliki dua pintu rampa. Beberapa kapal mungkin hanya memiliki satu pintu rampa di haluan atau buritan, tergantung pada desain dan kebutuhan operasionalnya.

Agar lebih jelas, berikut ini beberapa alasan mengapa kapal ferry mendapat julukan Ro-Ro

1. Efisiensi Pemuatan
Sistem Ro-Ro memungkinkan kendaraan untuk masuk ke kapal dengan cara yang efisien dan cepat. Kendaraan dapat mengemudi langsung ke atas kapal melalui landasan miring di pelabuhan dan menepi saat mencapai lokasi parkirnya. Hal ini memungkinkan kapal untuk mengisi dan mengosongkan muatan dengan cepat, mengurangi waktu berlayar dan mengoptimalkan penggunaan kapal.

2. Keanekaragaman Kargo
Kapal ferry Ro-Ro tidak hanya digunakan untuk mengangkut kendaraan penumpang, tetapi juga berbagai jenis kargo ro-ro, seperti truk, trailer, bus, dan lainnya. Karena desainnya yang serbaguna, kapal ferry Ro-Ro dapat digunakan untuk berbagai keperluan pengangkutan, termasuk kargo pribadi, angkutan umum, dan pengiriman komersial.

3. Penumpang dan Kendaraan
Selain melayani kendaraan, kapal ferry Ro-Ro juga menyediakan layanan transportasi penumpang. Penumpang dapat naik dan turun dari kapal melalui pintu penumpang yang terpisah dari pintu kendaraan, memisahkan pergerakan kendaraan dengan penumpang untuk keamanan dan kenyamanan.

Baca juga: Dari Insiden KMP Ihan Batak, Inilah Peran Penting “Ramp Door” di Kapal Ferry

4. Fleksibilitas
Sistem Ro-Ro memungkinkan kapal untuk beroperasi di pelabuhan yang tidak memiliki fasilitas khusus untuk memuat dan membongkar kendaraan. Hal ini menjadikan kapal ferry Ro-Ro lebih fleksibel dalam memilih rute dan destinasi yang dapat dilayani, memungkinkan akses ke pelabuhan yang lebih beragam.

Igor Sikorsky – Jadi Nama Bandara di Ukraina dan Amerika Serikat

Di dunia aviasi, tentu tidak asing lagi dengan nama seorang imigran asal Uni Soviet ini. Secara, ia merupakan perintis pembuatan helikopter dan pesawat bersayap multi-mesin pertama di dunia, Russky Vityaz pada tahun 1913 silam. Ya, dia adalah Igor Sikorsky. Pria dengan nama lengkap Igor Ivanovich Sikorsky ini lahir di Kiev – Ukraina pada 25 Mei 1889 dan meninggal pada 26 Oktober 1972 dalam usia 83 tahun. Sedikit banyaknya, ia telah berberpengaruh besar dalam perkembangan dunia penerbangan global.

Baca Juga: Nama Taufik Kiemas Menjadi Nama Bandara di Lampung

Ketertarikannya akan dunia aviasi membuat sulung dari lima bersaudara ini tidak ada hentinya untuk terus mencari ilmu. Namun, usahanya dalam mencari ilmu mengenai pesawat terbang tidak melulu berjalan lancar, terbukti pada tahun 1917, ia terpaksa melarikan diri dari tanah airnya akibat ancaman dari pemerintah baru yang akan membunuhnya. Akibat ancaman itu, Igor lalu bertolak ke Amerika dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Status Igor yang seolah menjadi pelarian perang di Amerika membuatnya berpikir untuk melakukan sebuah perubahan agar citranya tidak menjadi buruk dan ia tetap bisa mempelajari ilmu seputar dunia penerbangan. Tahun-tahun pertama Igor berada di negeri Paman Sam, ia memilih untuk menjadi tenaga pengajar di beberapa sekolah dan universitas, sembari tetap mencari kesempatan untuk dapat bekerja di industri penerbangan. Lalu tahun 1923, Igor mendirikan Sikorsky Manufacturing Company di Roosevelt, New York. Dalam mendirikan Sikorsky Manufacturing Company, ia mendapat bantuan dari beberapa mantan perwira militer Rusia.

Pada tahun 1928, Sikorsky menjadi warga negara naturalisasi Amerika Serikat. Juli 1929, Sikorsky Manufacturing Company pindah ke Stratford, Connecticut dan menjadi bagian dari United Aircraft and Transport Corporation atau yang kini dikenal dengan nama United Technologies Corporation. Perusahaan ini menunjukkan keseriusannya dengan memproduksi pesawat, seperti Clipper 42-s yang pernah digunakan oleh salah satu flagship Amerika kala itu, Pan Am untuk penerbangan trans-Atlantik.

Landas Pacu Sikorsky Memorial Airport. Sumber: Connecticut Post

Tidak sampai di situ, rasa cinta Igor yang besar terhadap dunia aviasi membuatnya semakin penasaran untuk membuat sebuah terobosan baru. Berbekal pengalaman yang pernah ia enyam sebelumnya, pada tahun 1942, Sikorsky mencatatkan namanya dengan menelurkan Vought-Sikorsky VS-300. Ini menjadi helikopter yang diproduksi massal di dunia. VS-300 lalu disempurnakan Igor dengan menggunakan rotor utama tunggal dan rotor ekor anti-torque tunggal. Helikopter ini merupakan jenis yang paling popular diantara yang lainnya. Oleh karena itu, nama Igor Sikorsky digalang-galang menjadi penemu helikopter modern.

Igos Sikorsky International Airport. Sumber: progressivemediagroup.com

Dedikasi Igor terhadap dunia aviasi tidak bisa dilupakan begitu saja. Walaupun ia sudah meninggal puluhan tahun lalu, namun namanya masih tetap menghiasi dunia penerbangan dewasa ini. Terbukti dengan dua bandara yang menggunakan namanya, Igor Sikorsky International Airport di Kiev, Ukraina, dan Sikorsky Memorial Airport di Stratford, Connecticut. Terlepas dari latar belakang apa yang mendorong penamaan dua bandara tersebut, namun jasa Igor Ivanovich Sikorsky dalam dunia penerbangan global akan selalu dikenang.

Here’s Why! Bahan Bakar Disimpan di Sayap Pesawat, Kamu Harus Tahu

Bahwa komponen sayap pesawat digunakan sebagai area tangki bahan bakar, tentu sudah jamak diketahu. Namun, tahukah Anda, mengapa tangki bahan bakar dirancang berada di bagian sayap? Bukankah sayap justru terlihat sebagai bagian dari pesawat yang ‘nampak rapuh’.

Baca juga: Bagaimana Sayap Pesawat Dipasang Sampai Bisa Menopang Mesin Berbobot Sangat Berat? Ini Rahasianya

Nah, penyimpanan bahan bakar pesawat di bagian sayap memiliki beberapa alasan dan keuntungan yang signifikan. Berikut adalah beberapa alasan teknis, mengapa bahan bakar pesawat umumnya disimpan di bagian sayap:

1. Pusat Berat
Sayap adalah salah satu bagian pesawat yang terletak cukup jauh dari titik pusat gravitasi pesawat (CG – Center of Gravity). Menyimpan bahan bakar di sayap membantu dalam menjaga pusat berat pesawat tetap stabil dan mengoptimalkan keseimbangan selama penerbangan. Seiring bahan bakar dikonsumsi, pergeseran pusat berat akan lebih stabil dan mudah dikendalikan daripada jika bahan bakar disimpan di bagian belakang atau depan pesawat.

2. Kekuatan Struktur
Sayap adalah salah satu bagian pesawat yang dirancang untuk menahan beban berat dan tekanan aerodinamis selama penerbangan. Sayap biasanya memiliki struktur kuat dan kokoh untuk menampung kapasitas bahan bakar yang besar tanpa mengorbankan keamanan dan integritas pesawat.

3. Ruang Tersedia
Sayap biasanya memiliki ruang yang cukup besar yang dapat menampung tangki bahan bakar dengan kapasitas besar. Dengan menyimpan bahan bakar di sayap, pesawat dapat membawa lebih banyak bahan bakar, yang berarti jarak terbang yang lebih jauh dapat dicapai tanpa perlu terlalu banyak modifikasi pada desain pesawat.

4. Stabilitas
Penyimpanan bahan bakar di sayap juga membantu meningkatkan stabilitas longitudinal (gerakan naik-turun) pesawat selama penerbangan. Dengan meletakkan bahan bakar di sayap, pusat berat yang lebih stabil dan perubahan pusat berat yang lebih lambat memungkinkan pesawat untuk tetap dalam posisi yang diinginkan oleh pilot tanpa perlu banyak koreksi.

5. Pengaruh Aerodinamis
Penyimpanan bahan bakar di sayap dapat memberikan pengaruh aerodinamis yang positif pada performa pesawat. Dengan memanfaatkan bentuk sayap dan pengaturan aliran udara di sekitarnya, pesawat dapat mencapai efisiensi yang lebih baik dan perlawanan yang lebih rendah selama penerbangan.

Baca juga: Untung-Rugi Mesin Pesawat di Sayap dan di Belakang, Mana Lebih Baik?

Namun, perlu dicatat bahwa desain pesawat dapat bervariasi, dan ada beberapa pesawat dengan konfigurasi penyimpanan bahan bakar yang berbeda.

Tenggelamnya MS Estonia, Kecelakaan Laut Terbesar Kedua di Abad ke-20

Titanic menjadi salah satu sejarah kecelakaan kapal di lautan yang masih terngiang hingga hari ini, bahkan sudah dijadikan film. Namun ternyata ada kecelakaan terbesar kedua yang terjadi pada kapal lainnya. Kecelakaan ini terjadi pada kapal ferry Estonia tanggal 28 September 1994 yang menewaskan 852 orang dan menjadi salah satu bencana maritim terburuk di abad ke-20.

Baca juga: 1 September 1985, Bangkai Kapal Titanic Ditemukan, Banyak Barang Masih Utuh

Kapal ini tenggelam di Laut Baltik tepatnya lepas pantai Finlandia yang berangkat dari Pelabuhan Tallin di Estonia menuju ke Stockhlom di Swedia. MS Estonia mengangkut 803 penumpang dan 186 awak di dalamnya dan berangkat pukul 18.30 waktu setempat pada 27 September serta akan tiba pukul 09.30 waktu Stockholm esok harinya.

Namun saat itu cuaca buruk dengan gelombang yang cukup tinggi hingga tanda pertama muncul di mana MS Estonia terdengar dentuman logam yang disebabkan oleh gelombang besar yang menghantam pintu haluan pukul 01.00 pagi waktu setempat. Kemudian ketika dilakukan inspeksi untuk memeriksa indikator lampu untuk ramp dan visor tidak menunjukkan masalah. Lalu sepuluh menit berikutnya suara sama dilaporkan penumpang dan awak kanin lainnya.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pada pukul 01.15 bow visor diketahui terlepas dari ujung kapal sehingga membuat badan MS Estonia miring ke kanan. Pukul 01.20 terdengar sebuah suara lemah dari seorang wanita “Häire, häire, laeval on häire” bahasa Estonia dari “Alarm, alarm, alarm berbunyi di dalam kapal” melalui saluran pengeras suara.

Beberapa saat kemudian baru terdengar tanda bahaya berbunyi dan prosedur menurunkan sekoci penyelamat mulai dilakukan. Sayangnya saat itu kapal sudah miring sekitar 30–40 derajat ke kanan mengakibatkan hampir tidak mungkin bisa berjalan dengan aman di dalam tubuh kapal.

Pintu dan aula berubah menjadi jebakan maut dan mereka yang berhasil selamat adalah orang-orang yg saat itu sudah berada diatas geladak kapal. Pesan “Mayday” dikirimkan awak kapal pada pukul 01.22, tapi pesan tersebut ternyata tidak sesuai dengan standard internasional.

Karena kehabisan tenaga posisi kapal menjadi sulit diketahui dan memperlambat upaya penyelamatan. Dari total 989 penumpang dan awak kapal hanya 138 orang yang selamat tetapi satu diantaranya meninggal dirumah sakit.

Baca juga: Inilah Serangkaian Faktor yang Menjadi Penyebab Tabrakan kapal di Laut

Salah satu korban tewas karena tenggelam adalah penyanyi Estonia Urmas Alender. Dalam insiden ini secara total 94 jenazah ditemukan dimana 93 diantaranya ditemukan setalah 33 hari dan korban terakhir ditemukan 18 bulan kemudian. Banyaknya korban dari tenggelamnya MS Estonia sendiri karena penumpang terperangkap di lambung kapal dan beberapa diantaranya terkena hipotermia.