Kemenhub Ungkap 55 Persen Bus Pariwisata Tidak Sesuai Standar, Mayoritas Belum Perpanjang Uji Kir

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat berkomitmen dalam meningkatkan aspek keselamatan transportasi darat khususnya angkutan pariwisata. Pada momen libur panjang Hari Raya Waisak 2024, Ditjen Perhubungan Darat telah memeriksa sebanyak 984 bus pariwisata yang tersebar di wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, NTB serta sebagian Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Baca juga: Butuh Ruang Besar untuk Baterai, Bus AKAP dan Pariwisata Belum Bisa Gunakan Energi Listrik

“Dari 984 unit bus yang diperiksa, terdapat 445 bus atau 45 persen yang memenuhi aspek administrasi dan persyaratan teknis. Sementara didapati masih banyak bus yang tidak memenuhi aspek administrasi dan persyaratan teknis yaitu sebanyak 539 bus atau 55 persen dari total kendaraan yang diperiksa,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Hendro Sugiatno pada Senin (27/5).

Adapun ditemukan di lapangan, bus yang tidak memenuhi aspek administrasi dan persyaratan teknis tersebut sebagian besar karena tidak melakukan perpanjangan uji kir. Terhadap bus-bus yang belum melakukan perpanjangan uji kir saat pengawasan dilakukan rampcheck oleh para penguji kendaraan untuk kelayakan operasional serta diberikan sanksi tilang.

“Untuk yang hasil rampcheck-nya menunjukkan secara teknis kendaraan tidak laik jalan diminta untuk mengganti kendaraannya. Kemudian, tindakan selanjutnya yaitu kami akan memanggil perusahaan-perusahaan angkutan pariwisata yang tidak memenuhi persyaratan dan tidak sesuai ketentutan untuk diberi sanksi administratif dan dilakukan pembinaan,” tegasnya.

Pada kegiatan ini juga telah dilakukan sosialisasi kepada para penumpang atau pengguna jasa terkait penggunaan aplikasi Mitra Darat dan website mitradarat.dephub.go.id sebagai salah satu media pengecekan izin dan kelaikan armada bus.

“Ke depan pengawasan dan pemeriksaan secara acak atau random checking akan terus dilakukan di seluruh daerah melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). Tidak hanya memeriksa izin operasional dan kelaikan armada bus, melainkan juga akan dilakukan pengecekan dan pendataan karoseri beserta hasil produksinya,” ungkap Dirjen Hendro.

Apabila ditemukenali kendaraan yang dibuat, dirakit, atau dimodifikasi oleh karoseri tidak sesuai dengan Sertifikat Uji Tipe (SUT) dan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) maka akan ditindaklanjuti.

Baca juga: Mau Duduk Nyaman di Bus? Jangan Salah Pilih Kursi

Selain itu, akan dilakukan pengecekan secara acak (random checking) juga terhadap Unit Pelaksana Uji Berkala Kendaraan Bermotor (UPUBKB). “Kami akan tindak lanjut apabila ada pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Semuanya diharapkan bekerja dengan baik dan sesuai dengan aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Ia berharap semua pemangku kepentingan dapat terus berkoordinasi dan bekerja sama untuk melakukan monitoring, pemeriksaan, hingga penegakkan hukum pada PO Bus dan/atau pengemudi yang melanggar ketentuan yang berlaku agar memberikan efek jera.

‘On Time Performance’ Tak Cuma Milik Dunia Penerbangan

On time performance (OTP) atau ketepatan waktu dalam keberhasilan layanan merupakan salah satu hal penting yang harus diperlihatkan dalam kualitas transportasi. Mungkin bagi Anda lebih sering mendengar OTP ini pada industri penerbangan, padahal OTP tak khusus di dunia penerbangan saja, moda transportasi darat dan laut juga punya parameter OTP tersendiri.

Baca juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, setiap moda transportasi memiliki waktu OTP masing-masing dan bila dilanggar, maka OTP tak lagi berlaku. Sebab, bila terjadi keterlambatan, penumpang yang menggunakan moda transportasi tersebut harus menyesuaikan kembali jadwal mereka untuk sampai ke tujuan.

Pada transportasi darat seperti bus, keterlambatan secara internasional sebenarnya ‘hanya’ diperbolehkan lima menit. Tetapi, karena rata-rata bus menggunakan jalur yang sama dengan kendaraan lain alias berbaur di lalu lintas jalan maka bus kerap terlambat dan memiliki OTP yang buruk dimata masyarakat.

Namun, Bus Rapid Transit (BRT) memiliki ketepatan waktu dimana memiliki infrastruktur jalan yang dibangun secara khusus untuk kinerja waktu lebih baik, layanan kecepatan tinggi dan ini membedakan dengan bus biasa. Tak berbeda jauh dengan BRT, sistem perkeretaapian baik itu MRT, LRT maupun kereta commuter biasanya tidak akan terganggu masalah OTP. Kasus yang berbeda dengan BRT TransJakarta, karena tak semua lintasannya eksklusif, maka TransJakarta belum bisa menerapkan OTP.

OTP pada moda kereta api dipandang lebih baik dari bus, dengan basis rel maka molosnya OTP lebih bisa diminimalisir, hanya saja faktor-faktor teknis masih kerap menjadi batu sandungan, seperti anjloknya kereta dan masalah gangguan persinyalan.

Sedangkan untuk kapal laut dan kapal ferry, OTP juga sangat dibutuhkan, meski tak bisa berlaku secepat pesawat dan kereta, nyatanya OTP menjadi faktor yang amat diperhitungkan, maklum yang dibawa seperti kapal ferry tak hanya manusia, tapi juga berupa kendaraan berukuran besar dengan muatan bahan-bahan penting dan diutuhkan. Di musim Lebaran 2017, PT ASDP Indonesia Ferry memberikan batas waktu satu jam bagi kapal yang baru tiba untuk bongkar muat sebelum berlayar kembali.

Di lingkup maskapai penerbangan internasional, keterlambatan yang masih bisa ditolerir sekitar 15 menit dari waktu keberangkatan yang di jadwalkan. Waktu 15 menit ini biasanya sudah mempertimbangkan faktor-faktor di bandara seperti lepas landas di landasan pacu hingga kendali kontrol lalu lintas udara pada bandara tersebut. Bagi dunia penerbangan yang mengutip tarif lebih tinggi, keterlambatan atas OTP sudah menjadi perhatian serius, dibuktikan dengan peraturan ganti rugi kepada pengguna jasa atas keterlabatan penerbangan.

Baca juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan

Seperti baru-baru ini, Garuda Indonesia, mengatakan OTP pada pemberangkatan dan pemulangan jemaah Haji dari dan ke Tanah Air memiliki OTP yang baik. Dimana jika dibandingkan dengan tahun 2016 meningkat 2,34 dan dibandingkan dengan rata-rata capaian OTP layanan haji tahun 2016 sebesar 93 persen.

Hub transportasi yang menjadi tujuan transit juga menjadi satu hal yang bisa membuat moda transportasi memiliki ketepatan dalam kinerja atau OTP nya. Sebab, di dalam sebuah hub pastinya banyak moda transportasi yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke berbagai destinasi, apalagi sebagai hub besar transit penerbangan seluruh dunia. Biasanya OTP menjadi layanan yang paling utama dilakukan hub tersebut.

Bukan ‘On Time Performance’, Garuda Indonesia Intensifkan Mitigasi Keterlambatan Penerbangan Haji

On Time Performace (OTP) lazimnya menjadi kebanggaan bagi Garuda Indonesia dalam penyelenggaraan layanan Haji. Namun, berbeda dengan pelayanan Haji di tahun 2024. Garuda Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh calon jemaah haji yang terdampak keterlambatan penerbangan Haji.

Baca juga: Angkut Jamaah Haji, Boeing 747-400 Garuda Indonesia GA-1105 Return to Base di Makassar

Garuda Indonesia kini terus mengintensifkan berbagai langkah mitigasi dalam mengoptimalkan kelancaran penerbangan Haji pasca keterlambatan jadwal keberangkatan pada beberapa kloter penerbangan, menyusul penatalaksanaan prosedur safety armada guna memastikan fokus keselamatan penerbangan dapat terus terjaga.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan, “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan para calon jemaah haji di beberapa kloter keberangkatan yang mengalami keterlambatan penerbangan, serta kepada otoritas penerbangan haji yang terus bekerja dengan optimal dalam memastikan kelancaran layanan haji bagi masyarakat Indonesia.”

Irfan menambahkan, “Tidak dapat dipungkiri terdapat beberapa catatan krusial keterlambatan penerbangan pada keberangkatan sejumlah kloter dari beberapa embarkasi dimana salah satunya dikarenakan adanya sejumlah penyesuaian jadwal penerbangan pada kloter keberangkatan dari embarkasi Makassar beberapa waktu lalu. Kami pastikan manajemen beserta seluruh tim yang bertugas terus bekerja keras mengerahkan segala upaya untuk memperbaiki hal tersebut, termasuk dengan turut mengoptimalkan kesiapan armada penerbangan haji melalui penggunaan pesawat yang saat ini dioperasikan untuk penerbangan reguler,” ungkap Irfan.

”Lebih lanjut, kami sangat menghargai adanya teguran, peringatan serta masukan yang telah disampaikan berbagai stakeholders pelayanan penerbangan haji, baik itu dari Kementerian Agama RI, Kementerian Perhubungan RI, hingga Pemerintah Daerah. Kami memohon maaf karena tidak memberikan jawaban dan tanggapan mengenai berita yang muncul di publik, karena kami berupaya untuk meminimalisir polemik berkepanjangan tersebut. Oleh karenanya, saat ini kami lebih memfokuskan diri dalam memastikan proses percepatan corective actions berjalan dengan lancar”, jelas Irfan.

Irfan menambahkan, “Garuda Indonesia berkomitmen untuk menjaga dan meningkatkan tingkat ketepatan waktu penerbangan haji selaras dengan berbagai masukan yang disampaikan berbagai stakeholder terkait”.

Adapun bentuk corrective actions yang tengah Garuda Indonesia jalankan di antaranya melalui prosedur inspeksi berlapis terhadap kesiapan armada, peningkatan fungsi pengawasan yang turut dikolaborasikan bersama stakeholders terkait dalam memastikan program aircraft readiness berjalan optimal, penyediaan armada cadangan pada berbagai embarkasi guna menjaga kelancaran arus keberangkatan calon jemaah haji sesuai dengan waktu keberangkatan yang ditentukan, serta program service recovery yang turut kami berlakukan secara konsisten bagi seluruh penumpang calon jemaah haji.

“Dapat kami sampaikan hingga minggu kemarin (26/5), Garuda Indonesia tercatat telah memberangkatkan sekitar 152 kelompok terbang (kloter) dengan jumlah jemaah mencapai sedikitnya 57 ribu jemaah”, jelas Irfan.

Irfan menekankan, “Kami akan terus memantau secara berkala kelancaran operasional penerbangan haji, sekiranya memerlukan langkah mitigasi lanjutan yang diperlukan guna meminimalisir potensi keterlambatan lanjutan pada penerbangan haji yang kami layani. Hal ini yang turut kami optimalkan melalui sinergi bersama otoritas penerbangan terkait khususnya dalam menjaga level of safety and service yang merupakan prioritas utama kami pada seluruh penerbangan agar berjalan optimal.”

Dengan OTP 91,20 Persen, Garuda Indonesia Tuntaskan Fase Pemberangkatan Calon Jamaah Haji 2019

Dari Soal Teknis dan Bisnis, Inilah Alasan Airbus Tidak Mungkin Buka Kembali Jalur Produksi A380

Di tengah badai Covid-19 yang membuat terpuruknya bisnis penerbangan komersial, Airbus pada tahun 2021 resmi menutup jalur produksi pesawat penumpang terbesar A380. Meski begitu, debut A380 sampai saat ini masih banyak dioperasikan oleh beberapa maskapai besar. Dan setelah pandemi berlalu, dan permintaan penerbangan komersial jarak jauh kembali normal, kemudian mengundang pertanyaan, apakah Airbus akan membuka kembali jalur produksi A380?

Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Keputusan untuk menghentikan produksi diumumkan oleh Airbus pada Februari 2019, dengan rencana untuk menyelesaikan pesanan terakhir pada tahun 2021. Pesawat A380 terakhir dikirimkan kepada Emirates pada Desember 2021, menandai berakhirnya produksi salah satu pesawat penumpang terbesar dan paling ikonik di dunia.

Beberapa pengamat industri penerbangan menyebut bahwa tidak mungkin bagi Airbus untuk membuka jalur produksi A380 lagi. Semenjak jalur produksi ditutup, maka jig perakitan raksasa, peralatan, logistik, dan rantai pasokan yang besar sudah tidak ada lagi. Sebuah A380 terdiri dari 4 juta suku cadang yang diproduksi di 30 negara. Membangun sebuah pesawat A380 merupakan upaya yang luar biasa dan mendorong Airbus mencapai batasnya dalam hal tenaga kerja, sumber daya, logistik, dan uang.

Sementara lokasi perakitan akhir A380 saat ini telah berubah menjadi jalur perakitan pesawat A320.

Selain faktor teknis di atas, ada beberapa poin fundamental yang menyebabkan Airbus sulit atau tidak mungkin membuka kembali jalur produksi A380, yakni:

1. Kurangnya Permintaan Pasar
Permintaan pasar untuk pesawat besar seperti A380 tetap rendah. Maskapai penerbangan lebih memilih pesawat yang lebih kecil dan lebih efisien seperti Airbus A350 dan Boeing 787, yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.

2. Biaya Produksi yang Tinggi
Memulai kembali produksi A380 akan memerlukan investasi yang sangat besar. Biaya untuk memulai kembali produksi dan memastikan rantai pasokan yang stabil sangat tinggi, dan tidak sebanding dengan prospek penjualan yang rendah.

3. Kondisi Pasar Penerbangan
Pasar penerbangan telah berubah dengan signifikan. Ada pergeseran menuju pesawat yang lebih kecil dan efisien untuk rute point-to-point daripada pesawat besar untuk rute hub-and-spoke. Tren ini membuat pesawat seperti A380 kurang relevan.

4. Infrastruktur dan Sumber Daya
Banyak fasilitas dan infrastruktur yang digunakan untuk produksi A380 telah dialihkan untuk produksi pesawat lain yang lebih laris. Mengalihkan kembali sumber daya ini akan memakan waktu dan biaya yang signifikan.

5. Keberlanjutan Jangka Panjang
Pesawat yang lebih kecil dan efisien lebih sesuai dengan kebutuhan maskapai dalam hal fleksibilitas operasi, biaya operasional yang lebih rendah, dan efisiensi bahan bakar. A380 tidak bisa bersaing dengan keuntungan operasional dari pesawat yang lebih baru dan efisien.

6. Komitmen terhadap Pesawat Baru
Airbus telah berinvestasi dalam pengembangan dan produksi pesawat baru seperti A350 dan A321XLR yang lebih sesuai dengan permintaan pasar saat ini. Membuka kembali jalur produksi A380 akan bertentangan dengan strategi bisnis dan investasi mereka dalam pesawat yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Karena faktor-faktor ini, Airbus tidak melihat alasan bisnis yang kuat untuk membuka kembali jalur produksi A380, meskipun ada nostalgia atau keinginan dari sebagian kalangan untuk melihat pesawat ikonik ini kembali diproduksi.

(Video) Airbus A380 Terakhir Sukses Terbang Perdana

Flying Lifebuoy TY-3R – Konvergesi Drone Quadcopter dan Pelampung untuk Penyelamatan Korban di Lautan

Upaya penyelamatan di tengah laut bukan perkara mudah, meski korban yang posisinya telah diketahui, namun untuk menarik atau mengangkat korban ke kapal penolong kerap dilanda kesulitan, di antara tantangan yang menghadang seperti kondisi cuaca dan ketinggian gelombang harus dapat diatasi oleh tim SAR, sehingga penggunaan pelampung belum tentu mudah dilakukan.

Nah, guna mempermudah proses evakuasi (penyelamatan) dari korban (hidup) yang berada di permukaan laut, kini ada solusi berupa sebuah drone quadcopter yang berperan sekaligus sebagai pelampung, dan dapat mengangkat korban secara aman sampai ke kapal penolong.

SeeArch, Pelampung Penyelamat yang Dikemas Ergonomis dalam Tas Pinggang

Drone pelampung yang dimaksud adalah Flying Lifebuoy TY-3R, produksi perusahaan drone asal Cina, Didiok Makings. TY-3R pada dasarnya adalah persilangan antara quadcopter dan lifebuoy.

Idenya adalah ketika seorang perenang yang kesulitan ditemukan oleh penyelamat di pantai, mereka akan menyalakan drone, menerbangkannya ke orang tersebut dan mendaratkannya di air, di mana perenang akan menggunakannya sebagai alat pengapung. Penyelamat manusia yang bergerak lebih lambat kemudian akan melanjutkan perjalanan dengan perahu, untuk membawa orang tersebut kembali ke pantai.

TY-3R lepas landas dengan menekan sebuah tombol pada remote joystick yang disertakan, dan memberikan pilot pandangan real-time dari kamera 720p onboard yang dapat dimiringkan saat keluar.

Setelah perenang diangkat dan tidak lagi memerlukan drone untuk mengapung, penekanan tombol lainnya akan menyebabkan pesawat terbang kembali secara mandiri ke koordinat GPS lokasi lepas landasnya – helikopter mampu lepas landas dari air, serta mendarat di atasnya.

Menurut Didiok, TY-3R dapat melayang (membawa) hingga dua orang dewasa. Untuk jangkauan, drone ini memiliki jangkauan komunikasi 1,1 km (3,609 kaki), kecepatan tertinggi 47 km/jam dan waktu pengoperasian lebih dari 10 menit per pengisian baterai. Berat drone diklaim kurang dari 5 kg dan sepenuhnya tahan air IP68. Artinya, ia dapat bertahan terendam hingga kedalaman 1 m (3,3 kaki) selama 30 menit.

TY-3R mematikan motornya saat mendarat di air, ditambah lagi ia memiliki layar di atas baling-balingnya untuk lebih melindungi jari-jari perenang dan anggota tubuh lainnya. TY-3R kini tersedia melalui situs Didiok Makings dengan harga US$11.803.

Sejarah Life Jacket – Mulai dari Berbahan Gabus Sampai Berteknologi Hybrid Inflatable

Qatar Airways QR17 Dihantam Turbulensi 20 Detik, 12 Orang Terluka saat Waktu Penyajian Makanan

Dua belas orang terluka, termasuk delapan orang dilarikan ke rumah sakit, setelah penerbangan Qatar Airways QR017 dengan Boeing 787 Dreamliner dari Doha ke Irlandia mengalami turbulensi. Meski dihantam turbulensi, QR17 berhasil mendarat dengan selamat dan sesuai jadwal sebelum pukul satu siang waktu setempat pada hari Minggu (26/5/2024).

Baca juga: Diduga Jadi Penyebab Insiden Singapore Airlines SQ321, Inilah Asal Muasal Clear Air Turbulence (CAT)

“Saat mendarat, pesawat langsung ditangani oleh layanan darurat, termasuk Polisi Bandara dan Pemadam Kebakaran dan Unit Penyelamatan, karena enam penumpang dan enam awak di dalamnya melaporkan cedera setelah pesawat mengalami turbulensi saat mengudara di atas Turki,” kata otoritas Bandara Dublin mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Semua penumpang diperiksa cederanya sebelum turun dari pesawat. Delapan penumpang kemudian dibawa ke rumah sakit.”

Penyiar Irlandia RTÉ mengatakan insiden itu berlangsung kurang dari 20 detik dan terjadi saat waktu penyajian makan.

Seorang penumpang yang bernama Paul Mocc mengatakan kepada RTÉ bahwa dia melihat “orang-orang terhempas ke atap”, dan makanan serta minuman beterbangan ke mana-mana.

Wisatawan lain, Emma Rose Power, mengatakan kepada RTÉ bahwa setelah turbulensi, “beberapa pramugari yang saya lihat, ada goresan di wajahnya, ada es di wajahnya”

Qatar Airways mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “sejumlah kecil” penumpang dan awak mengalami luka ringan selama penerbangan dan menerima perawatan medis.

Pihak maskapai ini tidak secara langsung mengomentari turbulensi tersebut namun mengatakan masalah tersebut masih dalam penyelidikan internal.

“Keselamatan dan keamanan penumpang dan awak kami adalah prioritas utama kami,” katanya.

Insiden itu terjadi lima hari setelah penerbangan Singapore Airlines dari London ke Singapura terpaksa mendarat di Bangkok karena turbulensi parah, yang menewaskan seorang pria Inggris berusia 73 tahun dan menyebabkan 20 lainnya dalam perawatan intensif.

Kecelakaan penerbangan terkait turbulensi adalah jenis yang paling umum, menurut studi tahun 2021 yang dilakukan oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS.

Dari tahun 2009 hingga 2018, badan AS tersebut menemukan bahwa turbulensi menyumbang lebih dari sepertiga kecelakaan penerbangan yang dilaporkan dan sebagian besar mengakibatkan satu atau lebih cedera serius, namun tidak ada kerusakan pada pesawat.

Beberapa ahli meteorologi dan analis penerbangan mencatat bahwa laporan pertemuan turbulensi juga meningkat dan menunjukkan potensi dampak perubahan iklim terhadap kondisi penerbangan.

Lampu di Kabin Pesawat ‘Mati’ Saat Turbulensi, Jangan Keburu Panik, Ini Tujuannya

Sejarah Inflight Entertainment, Dari Model “Layar Bioskop” Hingga Personal Devices

Kecuali pada penerbangan Low Cost Carrier (LCC), maka Inflight Entertainment (IFE)  menjadi fasilitas standar pada maskapai full service. Meski bukan sesuatu yang baru, tak pelak IFE masih menjadi jurus pemikat maskapai untuk memanjakan penumpang, terutama untuk penerbangan jarak menengah dan jauh. Namun tahukan Anda, bagaimana sistem IFE dapat berjalan?

Putus Cinta dalam Penerbangan, Wanita ini Upgrade ke Kelas Bisnis, Tinggalkan Mantan dan Anaknya di Kelas Ekonomi

Seorang wanita berusia 30 tahun menjadi viral karena Ia mengambil keputusan untuk upgrade ke kelas bisnis untuk dirinya sendiri setelah putus cinta dengan pacarnya dalam perjalanan, dan meninggalkan sang pasangan dan putranya di kelas ekonomi.

Menulis secara anonim di Reddit, wanita tersebut mengatakan bahwa dirinya telah berkencan dengan pacarnya (yang Ia sebut sebagai “Matt” dalam postingan tersebut) selama sekitar satu tahun, dan dalam penerbangan tersebut sang kekasih membawa putranya “Alex” yang berusia di bawah dua tahun.

Mabuk dan Ngamuk Gegara Diputusin Pacar, Wanita ini Pukul Jendela Pesawat Sampai Retak

‘Sesekali saya menjaga Alex ketika Matt sedang bekerja (kami tidak tinggal bersama tetapi mereka sesekali tinggal di rumah saya),’ tulisnya.

Pasangan itu memutuskan untuk melakukan perjalanan 10 hari pada awal Mei dan, “karena beberapa drama keluarga,” membawa serta Alex. Setelah memesan penerbangan lebih dari delapan jam untuk ketiganya, wanita tersebut mengatakan perjalanannya tidak berjalan sesuai rencana.

“Selama penerbangan dan liburan aku menghabiskan hampir seluruh waktuku menjaga Alex, sementara Matt memiliki waktu dalam hidupnya. Beberapa hal menarik perhatianku (dia masih berkencan dengan mantannya) yang mengakibatkan kami putus,” tulisnya.

Setelah perpisahan dan dalam penerbangan kembali, ketiganya duduk di kelas ekonomi tulisnya, “seorang pramugari mendekati kami dan bertanya kepada mantan saya apakah Ia ingin naik kelas ke kelas bisnis.” Karena menjadi orang pertama yang membeli tiket, wanita itu dengan cepat menyela.

“Sebelum dia bisa mengatakan apa pun, saya menyebutkan bahwa sayalah yang membeli tiket dan menggunakan rekening saya sendiri untuk membayarnya, jadi saya harus mendapat upgrade,” tulis wanita itu, seraya menambahkan bahwa “pramugari pada awalnya mencoba berdebat.” karena dia berasumsi Alex adalah anakku.

Namun setelah penerbangan, dia mendapat kritikan – baik dari mantan pacarnya maupun sesama penumpang di pesawat.

Sesama pengguna Reddit telah mempertimbangkan di bagian komentar, dengan banyak yang menyarankan wanita tersebut mengirimi mantan pacarnya sebuah “tagihan terperinci” dari biaya yang dia dan putranya keluarkan selama perjalanan.

Yang lain mengatakan staf maskapai penerbangan yang awalnya menawarkan upgrade kepada mantan pacarnya juga salah.

Diduga Jadi Penyebab Insiden Singapore Airlines SQ321, Inilah Asal Muasal Clear Air Turbulence (CAT)

Clear Air Turbulence (CAT) diduga menjadi penyebab situasi kedaruratan pada Boeing 777-300ER (Extended Range) Singapore Airlines SQ321pada hari Selasa, 21 Mei 2024. Seperti diketahui, SQ321 dalam penerbangan London – Singapura, dan terpaksa melakukan pendaratan darurat pada pukul 15:45 waktu setempat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok.

Baca juga: Kenali Clear Air Turbulence yang Menghantam Emirates EK450 di Ketinggian 35.000 Kaki

Buntut dari CAT, seorang penumpang pria warga negara Inggris (73 tahun) diwartakan tewas, serta puluhan penumpang termasuk awak pesawat mengalami cedera serius dan harus mendapatkan perawatan itensif.

Meski investigasi tengah dijalankan, namun hadirnya CAT mengemuka, lantaran cuaca saat kejadian dalam kondisi cerah. Clear Air Turbulence (CAT) adalah turbulensi yang terjadi di atmosfer bebas dari awan, biasanya di ketinggian jelajah pesawat terbang (antara 20.000 hingga 40.000 kaki).

Berbeda dengan turbulensi yang terjadi di sekitar awan atau badai, CAT tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dan tidak terdeteksi oleh radar cuaca konvensional.

Secara umum, CAT disebabkan oleh perubahan mendadak dalam kecepatan angin di ketinggian tinggi, yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah:

Jet Streams
Aliran udara cepat yang berada di atmosfer atas sering kali menyebabkan perbedaan kecepatan angin yang tajam di sekitarnya, menciptakan kondisi yang ideal untuk CAT.

Wind Shear
Perubahan mendadak dalam kecepatan atau arah angin di jarak vertikal atau horizontal yang pendek dapat menyebabkan turbulensi.

Orographic Waves
Gelombang udara yang disebabkan oleh aliran angin di atas pegunungan dapat menyebar ke ketinggian yang lebih tinggi dan menyebabkan turbulensi.

Kelvin-Helmholtz Waves
Gelombang yang terjadi ketika ada perbedaan kecepatan antara dua lapisan udara yang bergerak dapat menyebabkan pola turbulensi.

Airbus A380 Emirates Rute Perth – Dubai Alami Turbulensi Parah, 14 Orang Cidera Serius

Garuda Indonesia Hadirkan Wireless Inflight Entertainment di Dua Unit Boeing 737-800

Garuda Indonesia mulai memperkenalkan layanan Wireless Inflight Entertainment (IFE) yang diimplementasikan pada 2 (dua) armada Boeing 737-800 NG dengan nomor registrasi PK-GUD dan PK-GUE.

Baca juga: Sejarah Inflight Entertainment, Dari Model “Layar Bioskop” Hingga Personal Devices

Dengan kehadiran layanan wireless IFE tersebut, para pengguna jasa Garuda Indonesia dapat menggunakan perangkat elektronik pribadi seperti tablet, laptop dan smart phone yang akan terhubung dengan jaringan wireless pesawat dan menikmati berbagai berbagai tayangan hiburan seperti film asal Indonesia, Hollywood blockbuster, music, serta berbagai layanan inflight entertainment.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa dihadirkannya layanan “Wireless Inflight Entertainment” ini merupakan upaya berkelanjutan Garuda Indonesia untuk terus memberikan nilai tambah bagi para pengguna jasa, utamanya dalam menghadirkan kenyamanan selama melaksanakan penerbangan dengan Garuda Indonesia.

“Mengusung konsep Bring Your Own Devices (BYOD), hadirnya layanan Wireless Inflight Entertainment merupakan bentuk komitmen kami dalam meningkatkan layanan penerbangan kami khususnya layanan inflight yang dapat diakses secara mandiri. Dengan kemudahan aksesibilitas serta variasi hiburan yang ditawarkan pada layanan ini, kiranya akan dapat meningkatkan pengalaman penerbangan para pengguna jasa ketika terbang bersama Garuda Indonesia,” jelas Irfan.

Irfan menambahkan bahwa layanan “Wireless Inflight Entertainment” ini nantinya akan diaplikasikan secara bertahap pada armada Garuda Indonesia, dimana pada akhir tahun ini Garuda Indonesia menargetkan dapat mengaplikasikan layanan ini pada seluruh armada yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Adapun dalam waktu dekat ini Garuda Indonesia juga akan mengaplikasikan layanan wireless inflight entertainment ini pada 1 (satu) armada berjenis A330-300 dengan nomor registrasi PK-GPF yang akan mulai diimplementasikan setelah layanan Haji.

Adapun untuk menikmati layanan tersebut, para pengguna jasa hanya perlu mengaktifkan mode pesawat pada perangkat yang akan digunakan dan selanjutnya menghubungkan ke Wifi Garuda Entertainment atau meng-scan pada barcode yang tersedia di pesawat.

“Kami memahami bahwa di tengah kemajuan teknologi yang cukup pesat, kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses berbagai konten hiburan menjadi kebutuhan yang tidak terelakan bagi masyarakat khususnya generasi millennial dan Z yang saat ini menjadi salah satu pangsa pasar Garuda Indonesia. Hadirnya layanan wireless inflight entertainment ini juga kami harapkan akan dapat memperkuat ekosistem digital yang saat ini terus dikembangkan oleh Perusahaan dalam memberikan pengalaman penerbangan yang seamless bagi seluruh pengguna jasa di setiap touch points layanan Garuda Indonesia, mulai dari pre-flight, in-flight hingga post-fligh.”, tutup Irfan.

Bukan Sembarang Putar, Begini Cara Maskapai Bayar Lisensi Film dalam Inflight Entertainment