Ini Dia! Tips Mengemudi Aman ala National Advanced Driving Simulator Laboratories

Apakah Anda pernah mengalami gangguan ketika sedang berkendara? Nampaknya hampir semua pengendara tidak dapat menampik pertanyaan tersebut. Semua pengendara pasti pernah mengalami gangguan selama mereka tengah berkonsentrasi untuk mengemudikan kendaraannya. Tapi sepertinya pertanyaan kedua ini nampaknya akan menimbulkan banyak varian jawaban. Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara? Tentu setiap jawaban yang terlontar memiliki pembelaannya masing-masing.

Baca Juga: Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak

Ya, gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara bisa datang dari mana saja. Mulai dari pesan yang masuk ke ponsel Anda, mengatur ulang GPS Anda, hingga tangisan si kecil yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bagi sebagian dari Anda yang memanfaatkan keterampilan Multi-Tasking ketika berkendara, tentu hal tersebut akan sangat berbahaya bagi keselamatan Anda sendiri.

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thegazette.com, Direktur National Advanced Driving Simulator Laboratories, Dr. Daniel McGehee menyebutkan bahwa ada tiga jenis gangguan yang datang ketika Anda tengah berkendara: visual, manual, dan kognitif.

Segala macam gangguan yang memaksa Anda untuk memalingkan pandangan dari jalan disebut gangguan visual. Baik itu Anda mengecek ponsel untuk memperbaiki GPS, atau menenangkan si kecil yang menangis di bangku belakang.

Sementara itu, Dr. Daniel menyebutkan bahwa gangguan manual dimulai ketika Anda mulai melepaskan kemudi dari tangan Anda, untuk apapun itu masalahnya. Mulai dari memasukkan ulang koordinat GPS di ponsel hingga menggunakan make up ketika sedang terjebak macet atau berhenti di lampu lalu lintas.

Lebih lanjut, Dr. Daniel mendeskripsikan gangguan kognitif sebagai gangguan yang berasal dari pemikiran si pengemudi, seperti melamun, atau penggunaan aplikasi text-to-type dimana ponsel akan mengetik secara otomatis sesuai dengan kalimat yang Anda sebutkan. Namun menurutnya, gangguan semacam ini terbukti meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas.

“Dengan Anda berbicara selama berkendara, itu secara tidak langsung akan memecahkan konsentrasi Anda,” tutur Dr. Daniel. “Mungkin kebanyakan dari Anda merasa percaya diri ketika melakukan segala sesuatunya secara berbarengan, namun secara tidak disadari, hal tersebut memaksa otak kita untuk mengalihkan fokus secara cepat dan lama kelamaan itu akan membuyarkan konsentrasi otak yang dampaknya akan sangat berbahaya,” imbuhnya.

Berlandaskan pada penjelasannya, Dr. Daniel mengatakan bahwa ada baiknya untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kita mulai berkendara, mulai dari mempertimbangkan untuk menggunakan kacamata hitam, menyetel posisi bangku senyaman mungkin, memasukkan koordinat GPS dengan benar, atau bahkan mematikan ponsel Anda ketika hendak berkendara. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mengingkatkan konsentrasi selama berkendara.

Baca Juga: Penggunaan GPS Diperdebatkan, Inilah Tips Aman Menggunakannya!

Untuk gangguan dari si buah hati yang duduk dengan kursi khusus di jok belakang, persiapkanlah hal-hal yang dapat mencegah si kecil menangis selama kita sedang berkendara. “Karena dengan kesadaran akan keselamatan dan persiapan yang matang sebelum berkendara akan meningkatkan peluang Anda untuk tiba di tujuan dengan selamat.” Tutupnya.

Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?

Walaupun menawarkan kemudahan kepada para penumpang, namun pada kenyataannya kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi bukanlah menjadi jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah kemacetan. Ambil contoh di Jakarta, dimana hampir setiap hari ratusan pengemudi ojek online ‘mangkal’ di dekat stasiun demi lebih mendekatkan diri kepada para calon penumpangnya. Kehadirannya yang mungkin dinilai lebih mudah dijangkau oleh calon penumpang berimbas pada kemacetan di daerah sekitarnya.

Baca Juga: Riset INRIX: Setelah Jakarta, Bandung Jadi Kota Termacet Kedua di Indonesia

Padahal, kehadiran transportasi berbasis aplikasi ini pada awalnya ditujukan untuk mengurangi volume kendaraan pribadi di jalanan. Sebagaimana yang tertera di laman resmi Uber, menyebutkan bahwa lebih sedikit kendaraan menandakan bahwa lebih sedikit pula bahan bakar dan polusi udara yang dikeluarkan. Namun pada kenyataannya,kehadiran moda tranportasi berbasis aplikasi ini tidaklah membawa pengaruh positif pada volume kendaraan di Ibukota, malah sebaliknya.

Di sisi lain, kondisi transportasi berbasis massal pun bisa dibilang kurang memadai. Dapat dibayangkan Commuter Line Jabodetabek dan Bus TransJakarta yang selalu dijejali oleh penumpang dikala peak hours? Khusus untuk Bus TransJakarta, kondisi tersebut semakin diperparah dengan kemacetan yang dewasa ini sudah tidak bisa ditolerir lagi. Maka tidak heran jika kebanyakan masyarakat Jakarta dan sekitarnya lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi ketimbang menggunakan moda transportasi berbasis massal.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (12/3/2018), sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institute of Transportation of California menemukan bahwa peningkatan penggunaan aplikasi ride-sharing seperti Gojek, Uber, dan Grab berpengaruh pada pengurangan jumlah penumpang angkutan berbasis massal seperti Commuter Line dan Bus TransJakarta. Dengan begitu, tingkat polusi udara di kota terkait pun secara otomatis akan meningkat.

Untuk kasus pengadaan Electric Vehicles (EV) yang hingga saat ini masih digalakkan di beberapa negara di dunia nampaknya bisa menjadi solusi untuk masalah polusi udara yang sudah disebutkan di atas, namun tidak untuk masalah kemacetan. Banyak pengamat transportasi yang menilai bahwa hanya dengan beralih menggunakan transportasi umum sajalah yang mampu mengentaskan masalah kemacetan saat ini

Menurut Dirut Perum Damri yang juga merangkap sebagai pengamat transportasi, Setia N. Milatia Moemin, penggunaan sarana transportasi umum mampu menampung lebih banyak penumpnag dalam sekali perjalanan. “Semisal ada 100 orang, mungkin butuh 20 kendaraan pribadi (mobil) untuk menampung semuanya. Namun 100 orang tersebut bisa langsung berangkat dengan menggunakan satu buah LRT atau MRT,” tuturnya kepada KabarPenumpang.com, Kamis (1/3/2018) kemarin.

Baca Juga: Bicara Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Lebih Parah dari Jakarta!

Masalah ini benar-benar bergantung pada kesadaran seseorang untuk beralih menggunakan transportasi umum, dan bagaimana pemerintah dapat menarik minat masyarakat Ibukota untuk beralih meninggalkan kendaraan pribadinya.

Deutsche Bahn Adopsi Lampu LED ‘Luminous’ di Peron, Mudahkan Akses Penumpang Turun dari Kereta

Implementasi berbagai jenis peron di dunia perkeretaapian membuat para petugas di dalam ular besi harus memberi tahu para penumpang tentang pintu sebelah mana yang akan terbuka. Ambil contoh seperti di KRL Jabodetabek, dimana petugas akan mengumumkan pintu sebelah mana yang akan terbuka di pemberhentian selanjutnya. Semata-mata, tindakan ini dilakukan supaya penumpukkan penumpang yang terjadi di dalam kereta ketika tiba di satu stasiun dapat diminimalisir.

Baca Juga: Tanggapi Waktu Penumpang Yang ‘Terbuang,’ Deutsche Bahn Hadirkan Gym di Idea Train

Nah, sehubungan dengan hal tersebut, di Jerman, pengumuman pintu mana yang akan terbuka juga diketahui oleh penumpang yang hendak naik kereta lho! Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (8/3/2018), operator kereta di Negeri Bavaria, Deutsche Bahn (BD) meluncurkan sistem pencahayaan peron terbaru yang dapat menunjukkan darimana penumpang dapat masuk ke dalam kereta. Bisa dibilang, sistem seperti ini merupakan yang pertama di Jerman.

Pada awal Maret 2018 kemarin, DB meluncurkan sistem pencahayaan baru ini di Stasiun Bad-Cannstatt, Stuttgart, Jerman. Sebanyak 670 lempengan beton yang dilengkapi dengan lebih dari 2.000 lampu LED dipasang di peron sepanjang 210 meter, dimana peron tersebut melayani tiga jalur S-Bahn di kota itu. Kurang lebih dua menit sebelum kereta sampai di stasiun tersebut, lampu LED yang terpasang di peron akan menyala dan membentuk simbol yang menunjukkan di mana pintu kereta dapat diakses oleh para penumpang.

Guna melancarkan proyek percontohan enam bulan ini, DB menggaet SIUT, perusahaan asal Berlin yang akan menyediakan beton ringan sebagai ‘rumah’ dari lampu-lampu LED tersebut, dan OpenCapacity, sebuah perusahaan teknologi asal Inggris yang akan mengembangkan solusi untuk mengukur hunian gerbong kereta individu.

Dalam mengembangkan sistem ini, DB mengatakan bahwa pihaknya akan menyertakan sistem pengukuran beban pada tiga armada yang diuji coba. Nantinya, alat pengukur berat  tersebut akan mengirimkan sinyal kepada sistem lampu peron dan secara otomatis, lampu peron akan menyala yang mengindikasikan bahwa di situlah peluang tertinggi para penumpang untuk bisa mendapatkan tempat duduk.

“Dengan mengukur utilisasi di kereta dengan menggunakan sinyal WLAN, kamera dan beban gandar, sistem lampu peron ini akan menampilkan kapasitas masing-masing gerbong sebelum rangkaian kereta tiba di stasiun,” ungkap pendiri SIUT, Jörn Reinhold. “Lampu akan berkelip dalam berbagai warna, dimana masing-masing warna mengindikasikan kapasitas penumpang yang berbeda-beda di setiap gerbongnya,” imbuhnya.

Baca Juga: Berlin-Munich Kini Hanya Empat Jam dengan Intercity-Express Sprinter

Hadirnya sistem seperti ini semata-mata untuk meningkatkan kenyamanan kepada para penumpang yang hendak menggunakan layanan S-Bahn. Diharapkan, sistem lampu peron ini dapat meredakan sejumlah keterlambatan kereta yang kerap terjadi dan mampu untuk membantu penumpang menemukan tempat duduknya di dalam kereta. Keren, ya!

Moratorium, Operator Taksi Online Tak Boleh Tambah Pengemudi

Pernah terpikir jika mendaftar menjadi pengemudi taksi online akan ditolak? Hal tersebut akan terjadi, sebab baru-baru ini, pemerintah telah memutuskan untuk melakukan moratorium bagi pendaftaran pengemudi taksi online. Ini artinya dimana masyarakat tidak lagi bisa mendaftar menjadi pengemudi taksi online mulai sekarang.

Baca juga: Antisipasi Tindakan Negatif, Kota Cambridge Pasang CCTV di Taksi Online

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, keputusan pemerintah untuk menghentikan sementara perekrutan pengemudi taksi online adalah untuk menjaga penghasilan para penegemudi itu sendiri.

“Iya pendaftaran kita minta dibatasi, karena jumlah berlebih. Nanti akan menimbulkan masalah,” ujar Luhut.

Hal tersebut disampaikan Luhut, agar pengemudi taksi online bisa stabil membayar cicilan mobil mereka. Sebab saat ini 70 persen pengemudi taksi online berstatus mencicil kendaraan mereka.

“Karena 70 persen dari hasil studinya kendaraan-kendaraan itu dibeli pakai kredit. Nah kalau nanti jumlah penumpang dengan jumlah kendaraan tidak seimbang nanti dia nggak bisa bayar (cicilan),” kata dia.

Tak hanya itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi mengungkapkan, moratorium ini juga dilakukan lantaran jumlah pengemudi sudah melebihi kuota yang ditetapkan sebelumnya. Di Jabodetabek sendiri pengemudi taksi online sudah menembus angka 175 ribu.

“Tadi disampaikan saat ini sudah 175 ribu, makanya tadi pak Menko Maritim selaku pimpinan rapat menyampaikan sekarang berhenti semua enggak ada pendaftaran baru deh. Itu (175 ribu) satu aplikator di Jabodetabek,” kata Budi.

Pengawasan untuk menekan angka ini nantinya akan dilakukan melalui dashboard yang dijalankan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sambil melakukan perbaikan sistem. Budi mengatakan, adanya informasi yang diperoleh dari dashboard taksi online yang dibuat oleh Kominfo masih kurang. Dirinya berharap dengan perbaikan sistem informasi tersebut bisa lebih baik.

Namun, penghentian sementara pendaftaran pengemudi taksi online ini belum jelas sampai kapan dilakukan.

“Pokoknya sampai ada ketetapan berikutnya, ditetapkan ada moratorium dan belum tahu sampai kapan,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Baca juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini!

Langkah ini bukan hanya diterapkan di Jabodetabek melainkan seluruh wilayah Indonesia. Dimana semua operator taksi online yang ada dilarang menambah jumlah mitra pengemudinya.

Sebagai informasi, Kementerian Perhubungan sudah menetapkan kuota taksi online di Indonesia per daerah. Berikut jumlahnya :

1. Jabodetabek: 36.510 kendaraan
2. Jawa Barat: 15.418 kendaraan
3. Jawa Tengah: 4.935 kendaraan
4. Jawa Timur: 4.445 kendaraan
5. Aceh: 748 kendaraan
6. Sumatera Barat: 400 kendaraan
7. Sumatera Utara: 3.500 kendaraan
8. Sumatera Selatan: 1.700 kendaraan
9. Lampung: 8.000 kendaraan
10. Bali: 7.500 kendaraan
11. Sulawesi Utara: 997 kendaraan
12. Sulawesi Selatan: 7.000 kendaraan
13. Kalimantan Timur : 1.000 kendaraan
14. Yogyakarta: 400 kendaraan
15. Riau: 400 kendaraan

Total 91.953 kendaraan

Mau Tetap Cantik ke Pesta Meski Naik Kereta Komuter? Baca Tips Ini!

Kereta komuter seperti KRL (Kereta Rel Listrik) dan KRD (Kerete Rel Diesel) menjadi salah satu moda transportasi dengan ongkos murah dan juga cepat sampai ke tujuan. Namun dengan menggunakan KRL atau KRD Anda sebagai pengguna harus siap berdesak-desakan, terutama di kala jam-jam sibuk atau hari-hari tertentu di akhir pekan.

Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Tak hanya itu, meski sudah di lengkapi dengan pendingin udara, terkadang saking penuh dan sesaknya, penumpang juga harus rela berpanas-panasan dalam gerbong. Karena hal ini penampilan justru terlihat kurang rapi setelah sampai tempat tujuan.

Baju yang kusut, tubuh berkeringat, dandanan luntur atau wajah kusam hingga rambut ‘lepek’ menjadi masalah ketika menggunakan kereta. Tetapi bagaimana ketika Anda harus menghadiri pesta dan harus naik kereta?

Bagi Anda penumpang komuter wanita, pastinya sangat ingin tetap terlihat rapi, cantik dan wangi saat menghadiri pesta tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ada beberapa tips untuk wanita yang akan menghadiri pesta menggunakan kereta.

1. Pakai baju kasual
Untuk menghindari pakaian yang kusut karena berdesakan dalam kereta, sebaiknya gunakan pakaian kasual dan dress atau kebaya modern yang akan digunakan masukkan dalam tas. Jika tidak ingin repot bisa menggunakan legging dan setelah sampai di double dengan kain atau rok panjang.

2. Base maku up
Tidak mau make up luntur saat dikereta karena kepanasan? Bisa aplikasikan base make up seperti alas bedak, bedak dan lip gloss. Kemudian jangan lupa lengkapi alat make up di tas dan sempurnakan dandanan di toilet tempat Anda berpesta.

3. Gunakan alas kaki yang nyaman
Tidak disarankan untuk menggunakan sepatu hak tinggi saat bepergian naik kereta tak terkecuali saat ke pesta. Baiknya gunakan sepatu yang nyaman dan bawa sepatu hak tinggi Anda dalam tas, kemudian gunakan saat tiba di tujuan. Ini untuk memudahkan Anda dan membuat nyaman dalam perjalanan, apalagi jika Anda harus berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.

Baca juga: Berkereta Lebih dari 8 Jam, Siapkan Jurus Ini Agar Anda Survive!

4. Jepit rambut dengan jedai
Seorang wanita pasti sering menggunakan jepitan untuk menjepit rambut agar tidak berantakan. Jedai alias jepitan badai bisa digunakan dan menjadi cara ampuh untuk mengantisipasi rambut lepek karena keringat. Dengan jedai juga bisa membuat rambut lebih mengembang dan ikal alami setelah jepitan dilepas. Dijamin rambut akan cetar seperti badai.

Sambut Rute Perth – London, Qantas Bantu Penumpang Atasi Jetlag dengan Coklat, Cabai dan Teh Herbal

Jetlag biasanya dirasakan penumpang yang melakukan penerbangan jarak jauh dan memiliki perbedaan waktu dari negara asalnya. Namun, jetlag sendiri bisa hilang secara normal paling lama dua hari. Maskapai plat merah Australia, Qantas yang memiliki penerbangan jarak jauh dengan rute Perth menuju London membantu mengatasi jetlag pada penumpang.

Baca juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London

KabarPenumpang.com merangkum dari laman airlineratings.com (1/3/2018), para ilmuwan baru-baru ini menemukan cara untuk membantu penumpang mengatasi jetlag dengan coklat, cabai dan teh herbal. University of Sydney Charles Perkins Center dan pengalaman dalam dapur Qantas serta koki selebriti Neil Perry’s Rockpool baru saja menemukan pada Kamis (9/3/2018) kemarin.

Pilihan dan penyegaran baru pada hidangan yang bisa membantu penumpang tidur pada waktu yang optimal selama penerbangan. Salah satunya adalah teh herbal yang dikembangkan oleh produsen Qantas dan teh Dilmah dengan lemon verbena chamomile dan sereh untuk membatu dalam relaksasi.

The tuna poke salad dan Poached eggs with Kale, quinoa, grilled haloumi (Qantas)

Minuman yang baik pada malam hari adalah coklat panas atau gabungan susu dan coklat yang menghasilkan asam amino dimana mampu merangsang tidur. Ini bertujuan untuk membantu siklus tidur pada tubuh penumpang.

Hidangan yang disediakan pun bisa membantu dalam menghidrasi tubuh seperti sayur hijau, timun, stroberi, seledri dan beberapa jenis lainnya yang memiliki kandungan probiotik untuk membantu pencernaan. Makanan yang dicampur seperti salad tuna dan salad lainnya dan ditambahkan cabai sesuai waktunya menjadi makanan ringan yang bisa disantap penumpang.

Cabai sendiri sebenarnya bisa mengganggu tidur sehingga bisa dihindari pada menu makan malam, tetapi cabai juga bisa membantu orang bangun di pagi hari.

“Bekerja dengan spesialis tidur klinis, ahli gizi dan ilmuwan metabolik, kami telah merancang pilihan menu baru dengan menggunakan bahan-bahan lezat yang memiliki manfaat tambahan dari hidrasi, membantu tidur dan mengurangi jetlag. Menu yang kami uji di rute Perth ke London akan terus menawarkan pilihan favorit pelanggan namun memiliki beberapa penambahan dan pengecualian bahan khusus,” kata creative director of food, beverage & service, Perry.

Direktur akademik Charles Perkins Center Stephen Simpson mengatakan menu baru tersebut menggabungkan pengetahuan ilmiah terkini tentang nutrisi dan hidrasi. Simpson mengatakan bahwa tim pusat tersebut telah melakukan uji coba melalui literatur ilmiah untuk menemukan bukti makanan atau nutrisi dalam makanan yang dapat mendukung waktu tidur atau bantuan untuk membangunkan orang.

“Beberapa hal yang kami temukan, tampaknya didukung dengan baik oleh buktinya adalah jika Anda ingin mempromosikan awitan tidur maka kombinasi Tryptophan, yang merupakan salah satu asam amino yang ditemukan dalam protein, dengan karbohidrat adalah Cara terbaik,” katanya.

Para ilmuwan Charles Perkins Center juga ingin mengambil langkah selanjutnya yang melibatkan uji coba dengan sekelompok penumpang menggunakan teknologi serta hasilnya dapat dipakai. Teknologi ini akan digabungkan dengan aplikasi yang dirancang untuk mengumpulkan data tentang pola tidur dan aktivitas, keadaan mental, pola makan dan hidrasi sebelum, selama dan setelah penerbangan jarak jauh mereka.

Studi ini akan mempertemukan para peneliti melintasi bidang seperti nutrisi, aktivitas fisik dan tidur untuk memetakan strategi untuk melawan masalah perjalanan seperti jetlag. Ini akan melihat isu-isu seperti latihan dan gerakan on-board, desain menu dan waktu servis, persiapan pra dan pasca penerbangan serta waktu transit.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

Pemeriksaan lingkungan kabin juga akan melihat bagaimana faktor-faktor seperti pencahayaan dan suhu mempengaruhi penumpang. Simpson yakin ada potensi penemuan dan inovasi kesehatan, sains dan teknik yang luar biasa untuk keluar dari kemitraan yang bisa memberi banyak manfaat.

Lima Hari Dibuka, Penjualan Tiket Kereta Api Lebaran Baru 9-10 Persen

Meski Hari Raya Idul Fitri 2018 masih tiga bulan lagi, tetapi PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai berbenah untuk mengantisipasi lonjakan pembelian tiket. Sebab H-90 sebelum keberangkatan KAI sudah membuka pemesanan tiket.

Baca juga: Persiapkan Musim Mudik 2018, PT KAI Sudah Buka Pemesanan Tiket Sejak 1 Maret Kemarin!

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, Corporate Deputy Director of Passenger Transport Marketing and Sales PT KAI, Mukti Jauhari mengatakan pihaknya sudah menyadari sejak tahun lalu dimana server sempat mengalami gangguan. Hal ini lantaran banyak calon penumpang yang memesan tiket kereta.

Ternyata masalah tersebut tidak hanya terjadi pada sistem KAI tetapi pada mitra KAI yang juga menjual tiket.

“Mesin kami sudah modern dari tahun 2015. Selama ini juga tidak ada masalah. Kalau akses, memang diakui agen kami sangat unik. Jadi, lonjakan demand sangat tinggi dibanding hari biasa kalau menjelang lebaran. Tahun lalu tiket.com mengalami down. Karena tidak pernah antisipasi lonjakan demand yang masuk,” kata Mukti.

Dengan adanya perbaikan manajemen untuk atasi lonjakan pemesanan tiket, pihaknya optimis bisa melayani penjualan tiket tanpa ganguan.

“Memang mesin server kami cukup besar, tapi dampaknya karena tidak bisa memenuhi semua permintaan dalam waktu yang berdekatan, kami perbaiki manajemen antreannya di server kami. Jadi nanti ada yang timed out mungkin. Tapi mesin kami Insya Allah siap,” ujarnya.

Dari sisi teknis, Ia mengaku telah memperbesar kapasitas nilai konsumsi transfer data atau bandwidth dari 150 Mb menjadi 400 Mb untuk kelancaran akses pemesanan tiket agar tidak terjadi kerusakan atau down pada server saat terjadi lonjakan pemesanan online.

Selain kesiapan server untuk mengatasi momok lonjakan pembelian tiket Lebaran, KAI tahun ini menyiapkan kapasitas tempat duduk sebanyak 236.210 kursi per hari untuk arus mudik. Jumlah tersebut naik 3,5 persen dari tahun 2017 yang disiapkan sebanyak 228.158 kursi per harinya. Namun, hingga hari kelima ini, tiket yang baru terjual sembilan sampai sepuluh persennya saja.

“Untuk tiket yang terjual baru lima hari sejak penjualan dibuka, yang terjual masih sangat kecil belum ada sepuluh persen tepatnya ada di angka sembilan sampai sepuluh persen,” ujar Mukti.

Dia mengatakan, untuk tarif kereta tidak ada perubahan seperti tahun lalu. Untuk KA komersial angkutan lebaran pada H-9, pihaknya akan menarik tarif batas atas. Mukti juga menghimbau agar pengguna layanan KAI untuk mudik Lebaran 2018 tidak menggunakan jasa calo untuk membeli tiket. Sebab tiket bisa dipesan selama 24 jam melalui aplikasi KAI Access atau mitra.

Baca juga: Redam Lonjakan Penumpang KA Argo Parahyangan, PT KAI Hadirkan Empat Rangkaian yang Serba Baru!

“Tarif seperti tahun lalu untuk angkutan hari lebaran H-9 kami menarik batas atas. Sementara itu, tetap di batas atas tidak ada yang melewati ketentuan di batas atas. Antisiapasi calo, kami sudah tidak punya agen kecil tanpa ada badan usaha. Dulu kami pernah pakai agen kecil namun sekarang kami pakai business to business (B to B) semua. Agen kami berbadan hukum semua,” tegas Mukti.

Dalam mengantisipasi daerah rawan bencana, PT KAI juga menyiapkan alat metrial untuk siaga (AMUS) yang berfungsi untuk mengontrol dan memonitor kualitas rel.

Bosan Dengan Tampilan Google Street View? Coba Google Dog’s View!

Sebagai pelancong yang belum pernah mengunjungi suatu daerah, tentu Anda akan membutuhkan warga lokal yang siap untuk menjadi  tour guide Anda selama mengeksplorasi tempat tersebut. Namun, bagaimana jika peran warga lokal tersebut digantikan oleh anjing? Ya, walaupun anjing terkenal sebagai salah satu hewan peliharaan paling setia di dunia, namun apakah bisa binatang ini mengemban tugas sebagai tour guide?

Baca Juga: Ini Lho! Tampilan Baru Google Maps

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman wtsp.com (10/3/2018), salah satu mesin pencarian paling populer di dunia saat ini, Google, telah menjawab pertanyaan di atas. Melalui Google Jepang, perusahaan ini telah memungkinkan para calon pelancong untuk mengikuti ‘tur virtual’ yang dipimpin oleh seekor anjing. Untuk saat ini, sebut saja beragam tempat favorit di Kota Odate, prefektur Akita, Jepang dapat dinikmati oleh para calon pelancong dari sudut pandang si anjing.

Mungkin Anda akan sedikit kebingungan di sini, namun inilah yang terjadi. Melalui fitur teranyar dari Google Jepang ini, Anda mampu melihat pemandangan 360 derajat melalui kamera khusus yang terpasang di punggung si anjing. Jadi para peneliti dari Google Jepang membiarkan kamera tersebut merekam setiap tempat yang dikunjungi oleh si anjing. Sederhananya, fitur ini memiliki cara kerja yang sama persis dengan Google Street View, namun gambar yang ditampilkan diambil dari kamera yang terpasang di punggung anjing. Unik bukan?

Tapi, sehubungan dengan fitur ini dikembangkan di prefektur Akita, maka tidak heran jika anjing ras Akita-lah yang menjadi ‘aktor utama’ dari penelitian fitur Google Dog’s View terbaru ini. Lalu, jika kamera terpasang di punggung anjing, bukannya gambar yang dihasilkan akan terhalang oleh kepala si anjing? Tentu di sini letak keunikkannya! Anda akan merasa seolah-olah duduk di punggung anjing ras Akita dan diajak berjalan-jalan keliling kota yang diketahui sebagai sentral dari ras anjing ini.

Baca Juga: Mirip Hachiko, Seekor Anjing di India Menunggu di Peron Setiap Jam 11 Malam

Sebut saja beberapa titik terkenal dari kota ini seperti Akita Dog Museum, hingga replika tugu Hachiko yang ada di Shibuya menjadi beberapa titik henti perjalanan virtual Anda bersama si anjing. Ternyata, selain terkenal sebagai salah satu sahabat manusia paling setia, anjing juga dapat turut serta dalam pengembangan teknologi ya!

Penggunaan GPS Diperdebatkan, Inilah Tips Aman Menggunakannya!

Penggunaan Global Positioning System atau yang biasa disingkat GPS ini memang seperti koin yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, aplikasi ini sangat membantu para pengemudi yang masih asing dengan suatu daerah. Sementara di sisi lainnya mengatakan bahwa aplikasi ini berbahaya jika digunakan sembari mengemudi.

Baca Juga: Duh! Terlalu Sering Gunakan GPS Bisa Turunkan Kinerja Otak

Khusus di Indonesia, para pengemudi yang kerap menggunakan GPS sempat dibuat ketar-ketir karena pernyataan dari Kasubdit Bin Gakkum Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto yang menyebutkan bahwa penggunaan GPS ketika berkendara merupakan sebuah pelanggaran.

Namun Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Halim Pagarra menganggap penggunaan GPS tidaklah masalah selama digunakan secara bijaksana. Tapi sebenarnya, apa saja sih yang menyebabkan penggunaan GPS ini diperdebatkan?

Sebagaimana data yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman elkandelk.com, penggunaan GPS ketika mengemudi memaksa si sopir untukmemecah konsentrasinya ke dua fokus, pertama jalanan dan GPS yang terpasang di gadgetnya. Secara tidak langsung, ini membahayakan para pengguna jalan termasuk dirinya sendiri.

Belum lagi interaksinya dengan gadget semisal layar ponsel mati atau gangguan sinyal yang menghambat kinerja GPS tersebut, hal ini tentu menjadi masalah lanjutan dari poin pertama yang sudah disebutkan tadi. Lalu soal pencahayaan layar ponsel yang terlalu terang akan menimbulkan masalah tersendiri ketika si pengemudi berkendara pada malam hari.

Lalu bagaimana jika di tengah perjalanan, si pengemudi harus mencari rute alternatif karena macet atau masalah lain? Secara otomatis ia harus kembali berinteraksi dengan gadgetnya, dimana hal tersebut berarti memecah konsentrasinya.

Ketika sejumlah permasalahan tadi bermuara pada satu titik, yaitu memecahkan konsentrasi selama berkendara, lalu kira-kira, apa yang harus dilakukan agar si pengemudi bisa tetap fokus, walaupun daerah yang ia lewati masih asing untuknya?

Sebelum berkendara, ada baiknya jika si pengemudi mempelajari dan memahami terlebih dahulu seluk beluk rute yang sekiranya hendak ia lewati. Lebih baik jika ia sudah bisa merencanakan opsi rute lain, alih-alih rute utama dilanda kemacetan.

Lalu, si  pengemudi harus mengupayakan agar gadget yang ia gunakan untuk membuka aplikasi GPS terletak di posisi yang mudah untuk di lihat, semisal di samping kemudi (biasanya menggunakan alat khusus agar gadget bisa berdiri). Dengan begitu, ia tidak perlu terus-terusan melihat ke gadgetnya yang mungkin ia simpan di sela-sela paha atau di tempat lain yang memaksanya untuk mengalihkan pandangan dari depan.

Baca Juga: 1 April 2018, India Wajibkan Penggunaan GPS di Angkutan Umum, Indonesia Bagaimana?

Usahakan juga untuk memaksimalkan fitur voice command yang kini sudah tersedia di kebanyakan aplikasi GPS. Setidaknya dengan mengikuti petunjuk arah dalam bentuk suara, si pengemudi tidak harus memalingkan pandangan dari depan.

Terakhir, jikalau kondisinya sangat mendesak dan  memaksa driver untuk melihat aplikasi GPS-nya, maka menepilah di tempat yang aman terlebih dahulu.

Mudahkan Penumpang Cari Kursi Kosong, Mulai September 2018 Kereta Komuter Inggris Gunakan Sensor

Tak mendapat duduk di kereta komuter dan harus berdiri selama perjalanan panjang? Ini adalah hal yang tidak diinginkan semua orang dan terkadang banyak yang akhirnya memilih menunggu kereta selanjutnya agar bisa duduk nyaman dan tenang sampai tujuan.

Baca juga: Agar Tak Bikin Kecewa Penumpang, Bus Tingkat di London Hadirkan Monitor Sisa Kursi di Dek Atas

KabarPenumpang.com melansir dari laman telegraph.co.uk (16/2/2018), bahwa perkeretaapian Inggris akan memudahkan penumpang dengan membantu memberitahukan tempat duduk yang kosong. Nantinya sistem ini sendiri akan memberitahukannya secara real time sesuai kereta yang akan datang di stasiun.

Pemberitahuan tersebut akan dibuat secara teks pada stasiun kereta. Sehingga memudahkan penumpang yang akan naik kereta tahu bagian mana kursi kosong untuk diduduki.

Smart Train nama sistem tersebut dan pertama kali dijalankan di Inggris. Sistem ini akan menggunakan sensor yang ditempatkan di langit-langit gerbong kereta untuk menghitung orang-orang di dalam kereta dan mendeteksi tempat duduk yang diduduki penumpang baik yang terisi maupun kosong.

Untuk proyek sistem Smart Train ini, pemerintah Inggris mengucurkan dana hibah senilai £330.995 untuk mengembangkan konsep pada perusahaaan yang akan mengoperasikannya yakni Enable Internasional. Pemerintah Inggris berharap sistem ini dapat selesai pada akhir September 2018.

Arriva UK Trains merupakan sponsor utama dalam pengerjaan peluncuran komersial dengan operator kereta pada April 2019 mendatang. Uji coba Smart Train sendiri sudah dilakukan selama delapan minggu di Chiltern railway pada akhir 2017.

Disini sensor ditempatkan pada 24 gerbong sebagai uji cobanya. Sembilan dari sepuluh responden yang merasakan uji coba mengatakan, dengan akses real time, data ketersediaan kursi dipengaruhi dimana mereka berdiri di peron untuk mendapat tempat duduk. Adapun dana hibah yang diberikan pemerintah tersebut akan digunakan dalam pembuatan sistem pada berbagai jenis kereta.

Baca juga: Agar Tak Bikin Kecewa Penumpang, Bus Tingkat di London Hadirkan Monitor Sisa Kursi di Dek Atas

“Masalah besar yang dimiliki kereta pada saat ini pada umumnya adalah menawarkan pengalaman pelanggan yang terbatas bila dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Smart Train bertujuan untuk mendigitalkan perkeretaapian kita dan membawa mereka ke tingkat kencanggihan yang sama dengan departemen store serta menjadikan pengalaman perjalanan yang luar biasa,” ujar chief strategy officer di Enable International, Chirs Thompson.

Proposal Smar tTrain adalah satu dari 10 proyek yang akan mendapatkan sebagian dari uang tunai £3,5 miliar atau sekitar Rp66,9 triliun yang disisihkan untuk mendorong inovasi di industri perkeretaapian.