April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London

Sumber: Mumbrella

Tidak terbayangkan bagaimana rasanya jika Anda menghabiskan lebih dari 20 jam mengudara dalam sekali penerbangan, tanpa transit untuk mengisi bahan bakar dan meregangkan kaki Anda yang terus melipat selama perjalanan. Tentu kasus seperti ini patut untuk diteliti lebih dalam mengingat keuntungan serta kerugian yang akan penumpang rasakan layaknya mata koin yang memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang.

Baca Juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin

Hipotesa tersebut muncul setelah CEO Qantas Airways, Alan Joyce mengutarakan rencananya untuk memiliki sebuah penerbangan marathon dari Australia menuju London. Penerbangan non-stop Sydney menuju London tersebut akan menjadi jalur penerbangan komersial terpanjang di dunia dengan estimasi waktu perjalanan 20 jam 20 menit. Tentu ini bukanlah perjalanan sebentar, namun keuntungan yang akan diperoleh oleh penumpang adalah waktu tempuh yang lebih cepat ketimbang harus transit terlebih dahulu di Timur Tengah untuk mengisi bahan bakar.

Rencananya, Alan ingin menghadirkan direct flight ke London dan New York pada tahun 2022 mendatang. Seperti yang KabarPenumpang.com lansir dari laman nzherald.co.nz (27/8/2017), salah satu tembok penghalang Qantas dalam mengadakan jalur ini adalah kesiapan armada yang diketahui belum mampu untuk menempuh jarak Sydney – London dalam sekali penerbangan tanpa henti. Maka dari itu, Alan menantang pihak Boeing dan Airbus untuk mengembangkan pesawat yang sesuai klasifikasi dala jangka waktu lima tahun ke depan.

Yang sudah di depan mata dan sudah dipromosikan, Qantas akan meluncurkan penerbangan jarak jauh non-stop perdananya pada April 2018 dengan rute Perth – London. Diperkirakan, direct flight menggunakan Airbus A380 tersebut akan memakan waktu 17 jam perjalanan dengan jarak 14.498 km. Ini jelas menunjukkan perkembangan yang terjadi di dunia aviasi, ketika jauh sebelum rencana Alan untuk mengadakan penerbangan langsung jarak jauh, pihak Qantas pernah menyediakan perjalanan rute Kangguru menuju London pada tahun 1947, dimana perjalanan tersebut memakan waktu empat hari dengan sembilan kali pemberhentian.

Dari peluncuran penerbangan jarak jauh perdananya pada April 2018 mendatang, Qantas tidak akan  menyia-nyiakan  kesempatan ini untuk melihat respon penumpang terhadap rute penerbangan jarak jauh ini. Sebenarnya, rute penerbangan antar benua seperti Australia – Eropa ini sangat kompetitif, tercatat ada sekitar dua lusin maskapai penerbagan yang menawarkan penerbangan ruter serupa. Qantas berharap layanan yang akan mereka buka ini akan menjadi pembeda dengan maskapa lainnya, dimana maskapai-maskapai tersebut harus berhenti di Timur Tengah atau Asia untuk mengisi bahan bakar.

Baca Juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia

Tidak hanya itu, rute baru Qantas ini juga akan menjadi bahan penelitian bersama University of Sydney tentang penerbangan jarak jauh yang tidak begitu menyenangkan. Adapun fokus penelitian ini adalah tentang strategi untuk melawan jetlag, persiapan pra dan pasca penerbangan, lingkungan kabin termasuk pencahayaan dan suhu, hingga waktu pelayanan.

Lagi, terlepas dari semua keuntungan yang ditawarkan oleh pihak Qantas, berlangsungnya layanan ini ditentukan oleh para penumpangnya sendiri. Mungkin sebagian lapisan masyarakat yang menggunakan layanan penerbangan jarak jauh akan lebih senang jika mereka transit terlebih dahulu, dengan alasan kenyamanan selama mengudara. Namun ada saja yang lebih ingin cepat sampai dan tidak terlalu memikirkan kondisi mereka selama perjalanan. Kira-kira, Anda masuk kategori penumpang yang mana?