Telanjang Bulat, Wanita Ini Bikin Heboh Stasiun MRT Singapura

Sistem transportasi MRT Singapura (SMRT) sempat menjadi sorotan publik dunia beberapa waktu yang lalu gegara salah satu penumpangnya didapati telanjang bulat di salah satu stasiun tulang punggung transportasi di Negeri Singa tersebut. Dalam beberapa buah gambar yang beredar luas di jejaring sosial Facebook dan Whatsapp pada awal bulan Juni ini, nampak seorang wanita ras Kaukasia tengah telanjang bulat tanpa diketahui penyebab dirinya melakukan aksi tersebut.

Baca Juga: Dua Pria Terlibat Duel Sengit di Gerbong SMRT, Kepolisian Masih Selidiki Penyebabnya

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, foto-foto ini sendiri tersebar sejak tanggal 7 Juni 2018 kemarin. Sempat terjadi kesimpangsiuran informasi dari berita yang beredar, ada yang menyebutkan bahwa kejadian ini terjadi di Stasiun Pioneer, ada pula yang menyebutkan kejadian ini terjadi di Stasiun Paya Lebar. Namun setelah diselidiki oleh pihak kepolisian, wanita ini telanjang bulat di Stasiun Pioneer.

Di dalam salah satu foto tersebut, tampak si wanita tengah ‘memiting’ salah seorang pria yang menggunakan celana pendek, dengan tangan satunya lagi berada di pinggul si pria. Di sebelah si wanita yang disinyalir berusia 35 tahun ini, tampak seorang wanita lain yang menggunakan pakaian normal, lengkap dengan sebuah kerudung hitam yang membalut kepalanya.

Sedangkan di foto yang lainnya, tampak si wanita yang mengenakan kerudung hitam tersebut tengah berusaha menutupi tubuh si wanita telanjang ini dengan sebuah kain besar menyerupai sebuah selimut, makanala dirinya tengah berbincang dengan pria yang tadi dia ‘piting’.

Terlepas dari semua asumsi yang berkembang di publik setelah melihat sejumlah foto ini, pihak SMRT yang turun tangan langsung menyebutkan bahwa kejadian ini terjadi pada Rabu (6/6/2018) kurang lebih pada pukul 22.30 waktu setempat. Dua orang berpakaian lengkap yang tampak di dalam foto-foto tersebut disinyalir sebagai petugas SMRT yang mencoba menginterogasi si wanita.

Baca Juga: Gas Freon di MRT Singapura Bocor, Gangguan Kesehatan Mengintai Penumpang

Karena butuh tindakan lebih lanjut, pihak SMRT pun menghubungi kepolisian dan menyerahkan wanita yang tidak diketahui namanya tersebut kepadanya dengan dasar dugaan gangguan kejiwaan. “Seorang wanita 35 tahun kemudian ditangkap di bawah Undang-Undang Kesehatan Mental,” ungkap salah satu petugas SMRT, dilansir dari laman stomp.straitstimes.com (7/6/2018).

Ekspor Seribu Bus ke Bangladesh, CV Laksana Torehkan Penjualan Bus Terbanyak di Indonesia

Setelah pemberitaan beberapa waktu yang lalu Indonesia melalui PT INKA siap mengekspor sejumlah rangkaian kereta ke Bangladesh, kini Putra-Putri Bangsa kembali membuktikan bahwa hasil produksian lokal sukses menarik minat negara lain. Kali ini giliran karoseri yang bermarkas di Ungaran, CV Laksana siap mengekspor 1.034 unit bus ke Bangladesh. Saking banyaknya, penjualan ini tercatat sejarah penjualan bus terbanyak sepanjang masa Ibu Pertiwi.

Baca Juga: PT INKA, Kepercayaan Dunia Dalam Industri Kereta di Dalam Negeri

Sebagaimana data yang berhasil dikumpulkan KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pembelian bus yang menembus rekor ini terjadi pada sebuah pameran Industri RI yang mendatangkan sejumlah investor dan pelaku usaha dari berbagai negara. Sayangnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Arlinda enggan merinci perihal pameran produk RI yang dimaksud.

“Jadi kita pameran dibeli oleh mereka (Bangladesh) sebanyak 1.034 bus,” ungkap Arlinda, dikutip dari laman detik.com (25/6/2018). “Transaksi terbesar dari bus,” tandasnya. Untuk urusan harga sendiri, Arlinda mengatakan satu bus dibanderol dengan harga Rp1,9 miliar. “Pokoknya kita dapat transaksi hampir US$179,79 miliar atau Rp 4,3 triliun antar ke 2 negara (RI-Bangladesh),” jelasnya.

Jika ditinjau lebih jauh, pembelian bus dari pihak Bangladesh ini tentu saja akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri, dan Badan Pusat Statistik (BPS) pun tidak menyangkal hal tersebut. Kendati begitu, pihak BPS sendiri belum mendata lebih rinci perihal ekspor bus tersebut. “Ekspor itu biasanya share-nya 21% ke PDB (Produk Domestik Bruto), kemudian dikurangi impor,” ungkap Kepala BPS, Suhariyanto, Senin (25/6/2018).

Sebagai salah satu karoseri yang sudah memakan asam garam, sepak terjang CV Laksana sudah tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan usianya yang sudah menyentuh kepala-4, ini bukanlah kali pertama karoseri asli Ungaran memproduksi untuk negara asing. Sebut saja pada tahun 2008 silam, mereka sudah mengirimkan bus rakitannya ke Fiji, sebuah negara kepulauan di selatan Samudra Pasifik.

Baca Juga: Sepak Terjang PT INKA di Mancanegara yang Harumkan Nama Ibu Pertiwi

Sedangkan untuk di dalam negeri, CV Laksana telah mengkontribusikan produksiannya untuk TransJakarta, terhitung sejak tahun 2006 silam, dan pada tahun 2010 mereka mulai merambah produksian bus gandeng (articulated bus) untuk Trans Jakarta. Tercatat pada tahun 2017, CV Laksana memiliki kapasitas produksi 1.200 bus per tahun untuk memenuhi permintaan dari dalam maupun luar negeri.

Ditemukan Tewas di Dekat Jalur Kereta Api, Ternyata Pemuda India Ini Hilang Sejak Sabtu

Seseorang hilang dan ditemukan tidak lagi bernyawa seringkali terjadi, bahkan terkadang alasan kehilangannya pun menjadi tanda tanya bagi keluarga. Apalagi jika ditemukannya dalam keadaan tewas di dekat jalur kereta api.

Baca juga: Lakukan Rekrutmen dan Tes Online, Perusahaan Kereta Api India Selamatkan Hutan

Baru-baru ini seorang pemuda India hilang dan ditemukan tewas di dekat jalur kereta api Bhopal. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailypioneer.com (25/6/2018), pemuda tersebut diketahui hilang sejak Sabtu (23/6/2018) dan ditemukan di dekat stasiun kereta api Bhopal peron 1 pada hari Minggu (24/6/2018).

Pemuda tersebut diduga tewas setelah terlindas kereta api yang melaju. Government Railway Police (GRP) Bhopal mengatakan, mayat pemuda tersebut ditemukan setelah penduduk sekitar melihatnya.

Kemudian pihak kepolisian mengidentifikasi mayat tersebut bernama Shubham Sahu dari Pooja Colony di Karond setelah mendapat laporan kehilangan pemuda tersebut. Kepala GRP Bhopal, Hemant Sharma mengatakan, tidak ada bukti yang jelas jika pemuda tersebut tewas karena bunuh diri.

Sharma menambahkan, untuk kepastian tewasnya Sahu tersebut, pihaknya menunggu laporan post mortem setelah penyelidikan awal pada mayat dan kasus tersebut kini berada dibawah bagian 174 dari CrPC untuk penyelidikan lebih lanjut. Sahu merupakan karyawan di toko Young Mobile di Karond dan pihak kepolisian tengah menyelidiki pemiliknya.

Dalam penyelidikan awal, polisi mendapatkan bahwa sebelum korban hilang dan meninggalkan rumah, dirinya ternyata sempat menerima panggilan telepon dari pemilik toko tersebut untuk masuk dan bekerja pada Sabtu itu. Sayangnya, setelah mendapat panggilan telepon dan keluar rumah, Sahu tidak pernah kembali hingga Minggu ditemukan tak lagi bernyawa.

Baca juga: Dua Hari Meninggal di Toilet Baru Ditemukan Karena Salah Nomor Kereta

Ketika mendapat kabar bahwa sebelum ditemukan tak bernyawa Sahu di telepon pemilik toko tempatnya bekerja, keluarga serta teman-temannya mengajukan protes. Mereka mengatakan, pemilik toko berada di balik kematian Sahu dan pihak kepolisian harus melakukan penindakan padanya.

Sebelumnya, seorang pria ditemukan tewas dalam sebuah toilet kereta api di India. Namun, dua hari kemudian ditemukan dikarenakan sang istri salah memberikan nomor kereta api yang dinaiki suaminya tersebut.

Aerofood Dipercaya Pasok Manakan Sehat di Para Games Invitational Tournament 2018

Seiring kepak sayap Garuda Indonesia di penerbangan domestik dan internasional, maka secara langsung turut mengangkat nama Aerofood ACS, sebagai anak perusahaan dari Garuda Indonesa Group yang memfokuskan bisnis pada layanan catering di kabin pesawat.

Dikenal mampu menghadirkan sajian dengan cita rasa lezat dan sehat berstandar internasional, rupanya membawa berkah dengan terpilihnya Aerofood ACS sebagai penyedia layanan makanan dan minuman sehat dan lezat bagi para atlet difabel pada ajang test event (uji coba) Asian Para Games 2018 yaitu Indonesia Para Games Invitational Tournament 2018 yang akan mulai efektif dari tanggal 25 Juni hingga 4 Juli 2018.

Baca juga: Di Bandara Schiphol, Calon Penumpang Bisa Pesan Makanan Online Yang Diantar via Kurir

Selain untuk atlet, Aerofood ACS melalui unit bisnis Industrial Services juga memproduksi makanan untuk panitia, staf keamanan dan transportasi serta media. Dikutip dari siaran pers (25/6/2018) yang diterima KabarPenumpang.com, Vice President Operation & Production Aerofood ACS S. Hartoto mengatakan ,”Nutrisi dan minuman menjadi perhatian khusus Aerofood ACS demi menjaga kesehatan dan stamina para atlet agar dapat bertanding dengan maksimal. Makanan yang disajikan telah memenuhi standard gizi dimana dalam sajian menu mengandung 60-70% karbohidrat, lemak 10-15%, protein 20-25% dari total energi yang dibutuhkan dengan tetap mempunyai rasa yang nikmat untuk dikonsumsi”.

“Berbagai jenis makanan termasuk special meals seperti vegetarian, gluten free meals dan lainnya disediakan untuk memenuhi kebutuhan para atlet yang disajikan dalam bentuk prasmanan, snack dan lunch box dengan beberapa kali sajian yaitu sarapan, makan siang, snack sore, light meals malam dan makan malam”, jelas Hartoto.

Hartoto juga menambahkan, “Selain itu keamanan dan kebersihan (higienitas) makanan juga menjadi faktor yang sangat penting dimana Aerofood ACS perduli akan hal ini dan sudah mempunyai sertifikat ISO 22000 : 2005 untuk Food Safety Management System, ISO 9001: 2008 Quality Management System, ISO 14001 : 2015 untuk Environmental Management System For Catering Services dan OHSAS 18000 : 2007 untuk Health & Safety Management System.”

Baca juga: Insiden di Gerbong Restorasi, Air dari Toilet ‘dicampur’ ke Dalam Minuman

“Aerofood ACS akan memproduksi makanan di tiga lokasi yaitu di fasilitas dapur cabang Cengkareng, dapur satelit di Jatake dan khusus di Kemayoran dibuka fasilitas dapur baru tepatnya di Wisma atlet Kemayoran. Dari ketiga lokasi ini makanan akan disajikan di wisma atlet Kemayoran dan didisribusikan langsung ke Gelora Bung Karno Senayan dan Gelanggang Olah Raga Otista”, papar Hartoto.

Sebanyak 200 orang personil terlatih dan berpengalaman dikerahkan untuk menjaga kelancaran ketersediaan makanan dari mulai persiapan, produksi, pelayanan, keamanan dan distribusi.

 

Mylo Electric Scooter, Moda Lipat Futuristik Mahakarya PIM Bicycles

Bagi para pekerja yang memilih untuk tinggal di pinggiran kota, tentu saja sarana transportasi umum seperti bus atau kereta dapat sangat membantu mobilitas mereka untuk bepergian. Namun apa jadinya jika jarak rumah mereka menuju stasiun atau halte terdekat terpaku jarak yang lumayan jauh? Tentu saja ini menjadi problematika tersendiri.

Baca Juga: Skuter Listrik Ini Bisa Dikendarai Sambil Duduk dan Berdiri Lho!

Hadirnya ojek online di Indonesia memang memberikan keuntungan tersendiri pada golongan orang seperti ini, dimana mereka bisa menggunakan jasa ojek online untuk tiba di stasiun atau halte terdekat. Bagi mereka yang lebih gemar berolahraga, mungkin berjalan kaki menjadi opsi pertama yang muncul ke permukaan. Nah, mengingat di luar negeri sana tidak ada jasa ojek online, maka sebuah perusahaan bernama PIM Bicycles merancang Mylo Electric Scooter.

Sumber: newatlas.com

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (12/6/2018), Mylo Electric scooter merupakan skuter listrik yang memiliki keunikan tersendiri, yaitu bisa dilipat layaknya sebuah sepeda! Dengan kelebihan yang dimilikinya ini, maka tidak heran jika PIM Bicycles menargetkan para komuter sebagai pasar utamanya.

Mylo Electric Scooter dapat dilipat menjadi ukuran 38cm x 51cm x 104cm (dengan berat keseluruhan sekitar 21 kg), jauh lebih kecil ketimbang ukuran aslinya, sehingga para komuter bisa membawa serta skuter inovatif ini ke dalam bus atau kereta yang mereka tunggangi. “Skuter ini cocok bagi mereka yang pulang-pergi ke kantor dengan menggunakan sarana transportasi umum,” ujar pihak perusahaan.

Berbeda dengan sepeda listrik biasa yang mampu mengisi daya ketika dikayuh, Mylo Electric Scooter sepenuhnya menggunakan tenaga baterai sehingga Anda hanya perlu menyandarkan kaki di sandaran yang sudah disediakan. “Jadi Anda harus memastikan baterai sudah sepenuhnya terisi sebelum berkendara,”

Baca Juga: Kiwano 01, Moda Beroda Tunggal yang Dilengkapi Teknologi Self-Balancing

Mylo Electric Scooter sendiri mampu menempuh jarak hingga 24km dalam kondisi baterai terisi penuh. Kendati skuter ini memiliki dua roda pada bagian depan dan satu roda pada bagian belakang, namun itu sama sekali tidak mempengaruhi mekanisme pengoperasiannya. Para pengguna mampu menggeber Mylo Electric Scooter ini hingga kecepatan maksimum 29km/jam. Pihak PIM Bicycles sendiri pun telah menyematkan lampu pada bagian depan dan belakang moda yang akan senantiasa menerangi perjalanan Anda.

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk memilikinya? Siapkan kocek senilai US$1.499 atau yang setara dengan Rp21,2 juta untuk satu unit skuter lipat futuristik ini!

“Wonderful Indonesia” Kini Hadir di Jalanan Moskow

Keindahan alam Indonesia kembali lagi dipamerkan di kancah internasional melalu gambar di bus-bus Eropa. Kali ini, Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018, juga ikut mempromosikan pariwisata Indonesia melalui livery pada bus hop on hop off dengan logo Wonderful Indonesia di Moskow.

Baca juga: Kampanye “Wonderful Indonesia” Meriahkan Transportasi di Paris

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tempo.co (5/6/2018), bus-bus ini terparkir di Red Square yang bersebelahan dengan Gran Kremlin Palace. Menampilkan salah satu keajaiban dunia yang ada di Indonesia yakni Candi Borobudur dan juga terkait Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Jakarta-Palembang, bus ini akan mengambil rute di jalan utama pada 1-20 Juni 2018 kemarin.

Namun, tenang saja, ternyata bus dengan logo Wonderful Indonesia yang menunjukkan tempat wisata lainnya seperti Bali juga akan beroperasi di seluruh kota. Selain itu, papan iklan dengan Wonderful Indonesia juga akan menyapa Moskow dan pelancong di dua tempat strategis yaitu Novy Arbat dan Yerevan Plaza selama sebulan dari 15 Juni-16 Juli 2018.

Program Wonderful Indonesia ini juga diiklankan di salah satu tujuan utama dunia dan kota terbesar kedua Rusia, St Petersburg. Dikota ini akan ada 17 bus besar yang akan menampilkan pariwisata Indonesia dan akan mulai beroperasi pada 18 Juni hingga 9 September 2018 mendatang.

Empat bus besar lainnya pada 18 Juni-9 Agustus 2018 serta empat minibus pada 18 Juni-15 Juli 2018 yang akan berkeliling di jalur utama dan tersibuk St Petersburg. Duta Besar Indonesia untuk Rusia dan Republik Balarus, M Wahid Supriyadi mengatakan, promosi ini sendiri dilakukan terus menerus di Rusia yang ditetapkan sebagai tuan rumah Piala Dunia pada Juni-Juli 2018.

Baca juga: Ada Gambar Penari Bali di Metro Caracas, Ada Apa Ya?

“Kami berharap orang-orang dan turis Rusia akan tergoda dan tertarik untuk mengunjungi Indonesia melalui Indonesia Luar Biasa ini. Dan juga, Festival ketiga Indonesia akan diadakan di Moskow pada 3-5 Agustus tahun ini,” ujar Wahid sembari mengenang beberapa acara yang diadakan pada April hingga Mei 2018 lalu di Rusia.

Rusia sendiri ternyata adalah negara potensial untuk pariwisata Indonesia. Jumlah pelancong Rusia yang telah masuk ke Indonesia pada 2017 lalu sebanyak 110.529 orang dan meningkat 37,28 persen dibanding tahun 2016 lalu sebanyak 80.514 orang.

“Death Railway,” Wisata Bersejarah dengan Kisah Kebrutalan Perang

Jalur kereta api dengan cerita menyeramkan selama pembangunannya tidak hanya lekat di Indonesia, tetapi di Negeri Gajah Putih juga punya ‘segudang’ cerita yang menyeramkan dalam pembangunannya. Salah satunya adalah “Death Railway,” warga Thailand yang antusias pun membutuhkan waktu satu hari untuk ‘mengenang’ sejarah Death Railway tersebut.

Baca juga: Jalur Nagreg: Meski Banyak Isu Gaib , Tetap Favorit Saat Musim Mudik

KabarPenumpang.com merangkum dari laman tielandtothailand.com, Death Railway merupakan julukan saat pembangunan kereta api dari Thailand menuju Burma (sekarang – Myanmar) yang dilakukan atas perintah penguasa Jepang saat Perang Dunia II. Julukan Death Railway didapat karena lebih dari seratus ribu pekerja tewas selama 16 bulan konstruksi antara tahun 1942 hingga 1943.

Kemudian setelah selesai pembangunan pada 1945, ternyata para pekerja pembangunan jalur kereta ini juga bertambah. Jalur kereta ‘maut’ ini membentang 250 mil (402,3 km) dari Ban Pong, Thailand ke Thanbuyuzayat di Burma.

Para pekerja pembangunan jalur tersebut sebagian besar meninggal karena kelelahan, disentri, infeksi dan malnutrisi. Mereka diantaranya 80 persen warga Burma, Melayu dan Tamil, sedangkan 20 persen lainnya berasal dari tahanan perang asal Amerika Serikat, Australia, Inggris, Belanda dan India.

(www.tielandtothailand.com)

Untuk menyusuri jejak sejarah jalur ini, Thailand membuka tur atau wisata Death Railway. Memulai dari Kota Kanchanaburi, wisata ini dari Sungai Kwai, Pemakaman Perang Kanchanaburi, Museum Death Railway, sungai yang menghadap ke Stasiun Tham Kra Sae dan museum Hellfire Pass Memorial.

Dalam perjalanan tersebut, jembatan di atas Sungai Kwai ini juga memiliki kereta kecil yang melayani pelancong untuk menikmati pemandangan disisi lain sungai. Saat berada di pemakaman perang Kachanaburi, pemakaman ini tempat peristirahatan terakhir dari 7.000 orang Australia, Inggris dan Belanda yang meninggal selama pembangunan Death Railway.

Awalnya para pekerja ini di kuburkan disepanjang rel kereta api, tetapi setelah ditemukan, dipindahkan pada pemakaman ini. Setelah itu, tur ini berlanjut ke Death Railway Museum dan pusat penelitian.

Dalam museum ini terdapat pameran kereta yang menghubungkan Thailand dengan Burma pada waktu itu. Pendirinya, Rod Beattie telah menhadirkan sejarah kereta api yang di Thailand.

Baca juga: Kim Jong Un Mulai Membuka Diri, Jalur Kereta Trans Siberia Diharapkan Bisa Berakhir di Seoul

Tak hanya kereta, ratusan foto hitam putih, artefak pembangunan jalur kereta api dari pekerja dan lainnya ada di sini. Sayangnya para pengunjung museum ini tidak diizinkan untuk mengambil gambar dan cukup menikmatinya untuk diri sendiri.

Hellfire Pass dan Walking Trail merupakan jalur kereta api yang dipotong tanpa bantuan alat berat melainkan dengan palu, sekop dan dinamit. Sayangnya yang tersisa hanya lorong batu ini sebagai salah satu bukti Death Railway.

Cina Siap Hubungkan Nepal via Jalur Kereta Anyar

Sebagai salah satu bentuk pengimplementasian dari kerja sama bilateral dengan Nepal, Cina diketahui akan segera membangun jalur kereta api yang menghubungkan wilayah barat Tibet dengan negara yang memiliki populasi terbanyak di dunia ini. Rencana pembangunan tersebut diumumkan pada Jumat (22/6/2018), setelah pada beberapa waktu yang lalu, Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Oli menyambangi Beijing untuk menandatangani nota kesepakatan kerja sama.

Baca Juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, nantinya jalur kereta tersebut akan menghubungkan Kota Xigaze di Tibet dengan Ibukota Nepal, Kathmandu. Tidak hanya satu, melainkan kurang lebih ada sekitar 10 perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, termasuk kerja sama di bidang teknologi, transportasi, infrastruktur, “hingga kerja sama politik antar kedua negara,” ujar Pemerintah Cina, dikutip dari laman China Daily.

“Jaringan konektivitas lintas Himalaya via jalur penerbangan, perdagangan peabuhan, jalan raya, dan telekomunikasi pun turut dikembangkan oleh kedua belah pihak,” ungkap Perdana Menteri Cina, Li Keqiang.

Di sisi lain, Perdana Menteri Khadga menegaskan bahwa konektivitas lintas batas ini merupakan prioritas utama Nepal, “Kami juga berharap kedua negara dapat bekerja sama untuk membangun kembali pembangkit listrik tenaga air di Nepal,” ungkapnya.

Diketahui, Nepal telah membatalkan kesepakatan senilai US$2,5 miliar atau yang setara Rp35,2 triliun dengan perusahaan milik negara Cina, Gezhouba Group untuk membangun fasilitas pembangkit listrik tenaga air di bagian barat negara itu.

Baca Juga: Tak Sampai 24 Jam, Cina Rampungkan Pembangunan Stasiun Ini!

Dilansir dari laman sumber lain, sebelumnya, baik Cina dan Nepal telah memberikan sinyal untuk memperluas jaringan kereta apinya sampai keluar perbatasan Nepal pada 2016 silam, namun belum ada kesepakatan yang diambil pada saat itu.

Guna menindaklanjuti kerja sama yang telah terjalin, otoritas Cina dikabarkan akan melakukan uji kelayakan pada bulan Agustus mendatang, sedangkan laporan persiapan proyek akan terbit dua tahun berselang. Jika tidak meleset, otoritas Negeri Tiongkok tersebut memprediksi pembangunan jalur kereta tersebut akan rampung dalam waktu lima tahun. “Kami percaya, jalur rel akan mencapai perbatasan Nepal pada tahun 2022 mendatang,” ungkap salah satu juru bicara otoritas Cina.

Sebelum Menyebrang ke Bakauheni, Yuk Main di Destinasi Ini!

Selama ini yang diketahui dari Banten hanya Anyer, Ujung Kulon, Tanjung Lesung dan lainnya sebagai daerah wisata saaat berlibur. Tapi ternyata di daerah Cilegon juga memiliki beberapa tempat wisata yang menarik untuk di kunjunginya.

Baca juga: Loket Gabungan di Pelabuhan Merak, Mudahkan Transaksi Tiket Rombongan Wisata

Mungkin yang diketahui pelancong Cilegon hanya Pelabuhan Merak untuk penyeberangan dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera. KabarPenumpang.com baru-baru ini mendapatkan beberapa destinasi yang bisa dikunjungi baik dekat Pelabuhan Merak atau Kota Cilegon hanya dengan menggunakan kereta api.

Sebagai pelancong yang juga gemar menggunakan kereta, untuk sampai ke sini, hanya menggunakan kereta dari Stasiun Tanah Abang turun di Stasiun Rangkas Bitung menggunakan KRL dan menyambung dengan kereta ekonomi biasa sampai di Stasiun Merak. Penasaran ada apa saja yang bisa di kunjungi di Pelabuhan Merak dan sekitarnya?

1. Pulau Merak Kecil
Pulau ini letaknya hanya 200 meter dari Pelabuhan Merak dan perjalanan menyeberanginya hanya sekitar lima menit dengan perahu nelayan. Sayangnya pulau ini tak bisa digunakan untuk menginap dan hanya untuk menikmati pemandangan saja. Untuk mencapai Pulau Merak Kecil, pelancong bisa menggunakan perahu nelayan dari Pantai Mabak.

Batu Lawang, Cilegon (Istimewa)

2. Pulau Merak Besar
Letaknya tepat di depan pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni dengan luas sekitar 20 hektar. Pulau ini merupakan Pulau Hutan Lindung yang dilestarikan dan berfungsi sebagai pelindung pelabuhan dan terminal terpadu Merak. Pulau ini juga sebagai penahan gelombang yang menuju Pelabuhan Merak. Untuk sampai ke sini, pelancong juga bisa menggunakan kapal nelayan dengan membayar sekitar Rp20 ribu-Rp30 ribu. Meski begitu baik Pulau Merak Besar dan Merak Kecil, keduanya tidak bisa ditinggali karena tidak ada penginapan.

3. Pantai Merak
Saat tiba di Stasiun Merak, pelancong bisa menemukan pantai yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Merak. Pantai Merak sendiri berada di Hotel Merak di jalan utama Pelabuhan Merak. Sebagai penikmat senja atau yang biasa di sebut sunset (waktu matahari tenggelam) tempat ini sangat cocok.

Baca juga: Loket Gabungan di Pelabuhan Merak, Mudahkan Transaksi Tiket Rombongan Wisata

4. Batu Lawang
Letaknya sekitar 25 menit dari pusat Kota Cilegon. Bagi pelancong yang menggunakan kereta bisa turun di Stasiun Merak kemudian menyambung dengan angkutan kota (angkot) dan turun di jalan menuju ke Cilegon. Kemudian naik ojek untuk masuk ke dalam dengan biaya Rp20 ribu-Rp25 ribu. Batu Lawang ini terletak di atas bukit di daerah Merak. Pemandangan perbukitan hijau serta panorama Kota Cilegon menjadi keunggulan tempat ini. Dari Batu Lawang, terlihat siluet Gunung Pinang di Kramatwatu, menara Masjid Agung Cilegon, Waduk Krenceng, bahkan siluet Gunung Karang di Pandeglang.

Jadi, kalau ke Merak jangan hanya menumpang untuk menyeberang dengan kapal ferry menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Sesekali, nikmati alam indah yang masih jarang tersentuh pelancong.

Kota Gudeg Punya Flying Fox Terpanjang di Asia Tenggara. Berani Coba?

Kendati libur Hari Raya telah usai, namun suasana dan nuansa liburan masih kental terasa. Tidak sedikit juga warga Indonesia yang merencanakan waktu berliburnya pasca pulang kampung kemarin. Nah, berbicara soal liburan, Yogyakarta memiliki salah satu wahana ekstrem yang mengharumkan nama bangsa. Kira-kira apa ya wahana tersebut?

Baca Juga: Pulau Sentosa, Eks Benteng Militer Yang Mendunia Karena Wisata

Bagi Anda semua yang hobi memacu adrenalin, tampaknya wahana flying fox sudah masuk ke dalam daftar permainan yang tidak boleh Anda lewatkan, terutama yang ada di Kota Gudeg. Pasalnya, wahana flying fox yang terdapat di Green Village Gedangsari ini disinyalir menjadi yang terpanjang di Asia Tenggara. Wow!

Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, para pengunjung dapat merasakan sensasi meluncur di atas sebuah tali sepanjang 625m dengan kecepatan mencapai 80km/jam. Anda hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu menit untuk sampai di ujung lintasan flying fox ini. Selain terkenal dengan wahana flying fox terpanjangnya ini, nama Green Village Gedangsari sendiri sudah mahsyur sejak pertengahan tahun 2016 silam, karena para pengunjung akan disuguhkan pemandangan ciamik dari lokasi yang berada di daerah Gunungkidul ini.

https://www.youtube.com/watch?v=G0CLwMrye3Y

“Ini salah satu flying fox terpanjang di Asia Tenggara, baru diresmikan Agustus 2017 kemarin,” kata Manajer Green Village Gedangsari, Riyadi, dikutip dari laman detik.com. Selama berada di atas wahana ngebut ini, Anda juga dapat menyaksikan secara langsung wilayah Klaten yang berada di Jawa Tengah, lho!

Walaupun kesan ektrem tidak bisa dipisahkan dari wahana flying fox ini, namun Anda semua tidak perlu khawatir dengan poin keselamatannya. Tidak tanggung-tanggung, peralatan dengan standar internasional ‘dipekerjakan’ di wahana yang menjadi daya tarik wisatawan ini. “Ini juga (sarana) flying fox kami ngambil dari luar semua, termasuk lintasannya. Makanya kami berani menjamin aman,” tandas Riyadi.

Baca Juga: Lima Daerah Reklamasi Ini Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara

Bagaimana, apakah adrenalin Anda sudah mulai terpanggil? Bagi Anda yang tertarik untuk menjajal wahana ini, cukup sediakan Rp100 ribu untuk WNI dan Rp150 ribu untuk WNA. Perlu dicatat, Anda harus menyediakan kocek Rp50 ribu tambahan jika Anda ingin merekam pengalaman naik flying fox ini.

Akses menuju lokasinya pun tidak terlalu sulit. Dari Kota Yogyakarta, Anda bisa mengambil rute Yogyakarta – Wonosari menuju arah Patuk Gunungkidul. Sesampainya di sana, cukup ikuti papan penunjuk arah menuju Kecamatan Gedangsari dan tinggal mengikuti rute menuju Green Village. Selamat memacu adrenalin!