JR East Pasang Safety Guards, Apa Sih Bedanya Dengan Platform Screen Doors?

Safety Guards. Sumber: asahi.com

Keselamatan penumpang merupakan aspek yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan dengan alasan apapun. Alih-alih mengambil tindakan preventif setelah sebuah kecelakaan terjadi, maka tidak heran jika belakangan ini banyak perusahaan yang bergerak di bidang transportasi mulai memasang instrumen keselamatan. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk meningkatkan pelayanan dan meningkatkan rasa aman kepada setiap para penumpang.

Baca Juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman asahi.com (7/3/2018), salah satu operator kereta asal Negeri Sakura Jepang, East Japan Railway Co. (JR East) menggelontorkan dana segar sekira US$4,7 miliar atau yang setara dengan Rp64,7 triliun untuk menghadirkan instrumen keselamatan berupa safety gates di 243 stasiun di Tokyo. Adapun upaya ini dilakukan JR East guna mencegah penumpang jatuh ke rel ketika menunggu kereta datang.

Menurut salah satu juru bicara dari pihak JR East, pekerjaan ini sudah mulai berjalan karena ditargetkan pemasangan safety gates ini rampung sepenuhnya pada tahun fiskal 2032. “Itu berarti semua stasiun yang berada di 24 jalur utama JR East dengan radius 50km ini sudah memiliki safety gates,” terangnya.

Dalam pemasangannya, pihak JR East memprioritaskan beberapa stasiun, seperti stasiun Tokyo, Shinbashi , Yokohama, Shinanomachi, dan Sendagaya. Hal tersebut dilandaskan pada letak stasiun yang berdekatan dengan National Stadium, lokasi utama dari perhelatan Tokyo Olympic and Paralympic Games 2020. “Safety gates harus terpasang terlebih dahulu di stasiun-stasiun tersebut,” tambah pihak JR East.

Dalam hal ini, kehadiran safety gates memiliki fungsi yang serupa dengan Platform Screen Doors (PSD) yang kerap ditemui di stasiun-stasiun jaringan kereta bawah tanah. Walaupun fungsinya sama, namun bentuk dan tugas yang diemban oleh kedua instrumen keselamatan ini berbeda.

Bisa kita bayangkan, PSD yang terpasang di stasiun bawah tanah tidak hanya berfungsi sebagai penahan penumpang agar tidak jatuh ke rel, melainkan berfungsi juga sebagai pengaturan sirkulasi udara dan penyesuaian suhu ruangan. Bentuknya yang  menjulang seperti tembok dan menutupi keseluruhan bangunan stasiun juga mampu meredam hempasan angin dan polusi suara yang ditimbulkan saat kereta lewat.

Berbeda dengan safety guards yang rencananya akan terpasang di sejumlah stasiun di Jepang. Mengingat kondisi stasiun yang kebanyakan outdoor, maka pemasangan PSD pun sepertinya terdengar terlalu muluk-muluk. Seperti yang sudah disinggung di atas, tugas yang diemban oleh safety guards ini tidaklah seberat PSD, hanya sebatas memberikan barikade tambahan agar penumpang tidak nyelonong ke dalam rel.

Baca Juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors

Dikaitkan dengan isu yang terjadi di dalam negeri, PT MRTJ, yang kini tengah disibukkan dengan beragam persiapan menjelang peluncuran layanan pertamanya pada bulan Maret 2019 mendatang pun pernah menegaskan bahwa nantinya stasiun-stasiun yang berada di bawah tanah akan dilengkapi dengan PSD.

Jika warga Ibukota masih bingung dengan konsep PSD yang nantinya akan diberlakukan oleh PT MRTJ, instrumen keselamatan ini hampir serupa dengan automatic doors yang pernah menjadi ‘pengaman’ di halte Bus TransJakarta pada awal kemunculannya. Namun seiring berjalannya waktu dan sifat buruk sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab, automatic doors yang semula dicanangkan untuk mencegah penumpang jatuh ke lintasan TransJakarta, kini sudah tidak berfungsi lagi dan dibiarkan terbengkalai begitu saja.