Pemerintah Australia kini membuat aturan keselamatan penumpang yang baru untuk kapal komersialnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keselamat penumpang di kapal komersial Negeri Kangguru tersebut. Langkah-langkah pada aturan terbaru ini baru saja diumumkan oleh Pemerintah Australia.
Wakil Perdana Menteri Australia yang juga menjabat sebagai Menteri Infrastruktur, Transportasi dan Pembangunan Regional Michael McCormack mengatakan, adanya perubahan aturan tersebut juga untuk memperkuat persyaratan dalam memastikan keselamatan penumpang. Sehingga kapal komersial bisa mempertanggung jawabkan penumpang mereka selama dalam perjalanan di lautan.
McCormack mengatakan, perubahan ini mengacu pada pendekatan holistik untuk keselamatan penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber miragenews.com (28/2/020), selain itu mereka juga mengikuti konsultasi industri dan publik yang luas untuk menangani kompleksitas. Pertimbangan yang cermat dari beragam kebutuhan sektor kapal komersial Australia juga menjadi salah satunya.
“Kami telah dengan jelas menetapkan tanggung jawab bagi operator untuk memiliki prosedur yang efektif dalam memantau penumpang dan memiliki bukti tentang keselamatan serta prosedur darurat mereka untuk penumpang yang hilang dan tercatat dalam Sistem Manajemen Keselamatan mereka,” jelas McCormack.
Hal ini kemudian akan memastikan regulator, otoritas keselamatan maritim Australia (AMSA) agar bisa memverifikasi kepatuhan mereka terhadap aturan baru tersebut. Dengan itu, berdasarkan umpan balik industri, maka perubahan ini akan memungkinkan operator untuk menggunakan sistem teknologi keselamatan terbaik dalam operasional masing-masing.
Kemudian penghitungan on atau off, gelang elektronik, pemantauan CCTV atau alat lainnya juga akan digunakan untuk memastikan kru kapal agar dapat menanggapi insiden keselamatan penumpang secepat mungkin. Langkah selanjutnya yang terdapat dalam aturan baru adalah edukatif, yakni membantu pemilik dan operator di industri untuk mematuhi aturan yang akan mulai berlaku pada 31 Mei 2020 mendatang.
Di beberapa kondisi, drone mungkin menjadi sumber keluhan bagi industri penerbangan dan sudah banyak kasus yang memaksa tertundanya penerbangan karena mengancam keselamatan. Tetapi, bagaimana bila dengan penggunaan dan momentum yang tepat serta diikuti dengan komunikasi dengan otoritas bandar, apakah drone masih akan mengganggu?
Seperti dilansir airport-technology.com, Jumat, (28/2), rupanya drone tak selamanya mengganggu industri penerbangan. Justru sebaliknya, adanya drone dapat membantu penerbangan, khususnya dari ancaman bird strike. Terlebih, menurut International Civil Aviation Organization (ICAO) atau Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, serangan burung atau bird strike yang sangat mengancam keamanan penerbangan, 90persen di antaranya terjadi saat lepas landas dan mendarat.
Selain dapat menangkal kawanan burung di sekitaran bandara, drone juga sangat bermanfaat untuk melakukan beberapa pekerjaan yang erat kaitannya dengan kebandarudaraan, seperti inspeksi bandara dan aktivitas pengiriman barang atau biasa juga disebut drone deliveries atau drone kargo. Untuk lebih lengkapnya, berikut tiga manfaat drone di bandara.
1. Inspeksi bandara
Salah satu cara drone dapat mendukung operasi bandara dan mengurangi biaya adalah dengan melakukan kegiatan perawatan dan inspeksi di bandara. Inspeksi Path Approach Path Indicator (PAPI), misalnya, secara tradisional biasa dilakukan oleh pesawat inspeksi penerbangan, namun kini, drone dapat menggantikan peran tersebut untuk memeriksa unit PAPI mematuhi peraturan atau tidak, termasuk sudut transisi, simetri, dan horizontal, seperti yang diatur oleh ICAO.
Canard, sebuah perusahaan Inggris dan Spanyol, saat ini tengah melakukan inspeksi PAPI di berbagai bandara. Bahkan, lima di antaranya telah diinspeksi berkat bantuan drone, seperti bandara Paris-Orly Airport di Paris, Milano Linate Airport di Italia, Bandara Internasional Jenewa, dan Bandara Internasional Edmonton (EIA) atau bandara pertama yang diinspeksi dengan bantuan drone.
2. Menangkal bird strike
Burung, sekalipun hanya seberat sekitar 2 kg, faktanya dapat membuat burung besi seberat 40.000 kg tak berkutik. Oleh karenanya, seiring berjalannya waktu, segala macam cara terus dicoba untuk menghindari insiden bird strike berulang dan terus berulang. Salah satunya di, Bandara Internasional Edmonton, Kanada.
Tahun 2017 lalu, bandara tersebut resmi menghadirkan sebuah robot yang diprogram khusus untuk mengusir kawanan burung liar yang berada di sekitaran landas pacu bandara. Drone tersebut dikendalikan dari jarak jauh dan berhubungan langsung dengan otoritas bandara untuk memaksimalkan fungsinya. Teknologi ini pun didaulat menjadi pionir karena belum ada yang menggunakan The Robird, nama dari robot drone pengusir burung tersebut, dalam usaha meminimalisir angka kecelakaan di sekitaran landas pacu.
Dari segi desain, The Robird Drone ini menyerupai Elang Peregrine, yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung dalam jumlahbesar, seperti burung camar dan angsa. Bahkan, selain menakut-nakuti burung, The Robird Drone juga dapat ‘memaksa’ kawanan domba untuk menjauh dari bandara.
3. Drone kargo
Pasar drone komersial global diperkirakan akan tumbuh sebesar 26% setiap tahun dari 2016 untuk mencapai nilai $ 10.738 juta pada tahun 2022. Selain itu, tren e-commerce yang terus meningkat juga mendorong penggunaan drone kargo lebih massif. Tren ini menurut ahli lebih didorong oleh perubahan pola belanja konsumen.
Sebuah survei oleh McKinsey menemukan bahwa 25% konsumen akan membayar harga premium untuk pengiriman cepat dan jumlah ini cenderung meningkat. McKinsey memperkirakan bahwa di masa depan kendaraan otonom, termasuk drone, akan berkontribusi hampir 100% dari X2C (business to consumer) dan 80% dari semua item (model bisnis).
Belum lama ini beredar foto pesawat Garuda Indonesia yang livery-nya diubah menjadi pesawat kepresidenan. Usut punya usut, ternyata foto tersebut benar adanya. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengakui pesawat tipe Boeing 777-300ER bakal digunakan Presiden Jokowi untuk menghadiri ASEAN-US Summit 2020 di Las Vegas, Amerika Serikat, Maret mendatang.
Pasalnya, pesawat kepresidenan yang ada saat ini, Boeing Business Jet (BBJ) tipe 737-800, dinilai tak efisien jika digunakan untuk penerbangan jarak jauh. Selain harus transit berkali-kali, tingkat kenyamanan yang ditawarkan keduanya juga berbeda, mengingat 737 tergolong narrowbody atau berbadan sempit dan 777 (trilple) seven masuk dalam kategori widebody atau berbadan lebar yang punya tingkat kenyamana lebih baik, utamanya untuk penerbangan jarak jauh.
Meski demikian, terlepas dari Boeing 777-300ER yang disewa untuk agenda Presiden Jokowi Maret mendatang, sebetulnya, untuk ukuran Presiden RI, model pesawat manakah yang lebih cocok dimiliki pemerintah guna memudahkan orang nomer satu di Republik ini melakoni tugas-tugas kenegaraan? Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berikut ulasan untung rugi narrowbody vs widebody pesawat kepresidenan Indonesia.
1. Efisiensi
Sebetulnya masalah efisiensi masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Namun, bila bicara dari data yang ada, rata-rata kunjungan kenegaraan Presiden RI berada dikisaran 12-16 kunjungan per tahun. Misalnya, di tahun 2015 lalu, Presiden Jokowi tercatat melakukan kunjungan kerja sebanyak 16 kali. Sebagai pembanding, di tahun yang sama, Kanselir Jerman, Angela Merkel, tercatat melakukan kunjungan hingga 56 kali.
Airbus A340 ‘Konrad Adenaeur’. Sumber: aeronef.netGambaran kabin dari pesawat kenegaraan Jerman yang baru. Sumber: Lufthansa Technik
Dari perbedaan mencolok tersebut, beberapa pihak menilai sangat wajar bila Indonesia memutuskan untuk menggunakan pesawat narrowbody sebagai pesawat kepresidenan. Pasalnya, bila Indonesia memaksakan membeli pesawat widebody, dengan jumlah kunjungan mentok di angka belasan, hal itu dinilai justru akan menggerus anggaran dan sangat tak efisien.
Betapa tidak, untuk pesawat medium sekelas Boeing 737 saja, setidaknya membutuhkan kocek Rp43 miliar untuk perawatan rutin, mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Perawatan rutin tersebut bisa saja per bulan atau lebih, tergantung jam terbang dan frekuensi pemakaian. Bila pesawat narrowbody tersebut saja membutuhkan kocek sebesar itu, lantas, bagaimana dengan widebody? Pastinya jauh lebih besar.
Sedangkan, jika menyewa pesawat, untuk ukuran pesawat jet dengan kapasitas 13 penumpang saja, harganya berkisar Rp123 juta per jam. Tentu saja harga untuk menyewa sebuah pesawat 777-300ER yang notabene berbadan lebar, harganya bisa jauh lebih dari pada itu. Jika sudah begitu, dengan berbagai penjelasan di atas, lebih efisien mana, menyewa atau memiliki pesawat widebody sendiri?
2. Faktor Keselamatan
Sebagai pesawat sewaan, tentu saja fitur-fiturnya adalah fitur bawaan layaknya penerbangan komersial atau dalam hal ini tidak memiliki fitur penunjang keselamatan untuk standar pesawat kepala negara , seperti anti rudal atau biasa disebut CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System).
3. Risiko Saat Transit
Seperti sudah disebutkan di atas, meski kemewahan melengkapi pesawat narrrowbody kepresidenan, namun jarak jangkau yang terbatas untuk penerbangan jarak jauh, menjadikan pesawat kepresidenan harus transit untuk isi bahan bakar di suatu atau beberapa bandara. Selain transit akan melelahkan bagi rombongan VVIP, faktor keamanan juga menjadi risiko bagi pejabat negara.
4. Kebanggaan dan Identitas
Meskipun hanya mempunyai pesawat medium Boeing Business Jet (BBJ) tipe 737-800, Indonesia mungkin patut berbangga diri karena masih memiliki pesawat khusus kepresidenan. Tengoklah negara adidaya kedua di dunia, Cina, yang tidak mempunyai pesawat khusus kepresidenan. Padahal, dari segi teknologi, negara tersebut sudah mampu memproduksi pesawat sipil maupun militer sendiri.
Meski demikian, ketika butuh, maskapai domestik sudah menyiapkan armada khusus berupa Boeing 747-400 dan diubah sedemikian rupa hingga menyerupai kantor bahkan hotel. Tentu saja sebelumnya harus melewati pemeriksaan ketat.
Sebetulnya masalah kebanggaan dan identitas sangat tentatif. Saat pesawat-pesawat para pemimpin kepala dunia berkumpul, pada umumnya tidak melihat apakah pesawat tersebut menyewa atau tidak atau livery dari pesawat itu sendiri, sebab, saat pesawat disewa untuk tugas kenegaraan, biasanya livery-nya sudah disesuaikan dengan pesanan.
Hanya saja, yang membedakan tetaplah pada aspek keselamatan, mengingat, pesawat dengan kepresidenan idealnya sudah dilengkapi perangkat pertahanan udara terbatas. So, dengan berbagai penjelasan di atas, apakah Anda termasuk ke dalam kelompok pro pesawat kepresidenan atau kontra (menyewa pesawat hanya pada perjalanan jauh)?
Olimpiade Musim Panas di Tokyo yang akan berlangsung pada Juli 2020 ini, banyak sekali fasilitas yang dihadirkan. Kereta cepat hingga berbagai teknologi terbaru yang bisa menjadi pusat perhatian banyak orang.
All Nippon Airways (ANA) maskapai Negeri Sakura tersebut juga mengembangkan berbagai teknologi yang berfokus pada perjalanan untuk digunakan di bandara-bandara Jepang serta pusat perbelanjaan. ANA mengaku upaya yang lebih besar juga diperlukan bagi staf daratnya demi berkomunikasi secara efktif dengan semua penumpang di Bandara.
KabarPenumpang.com merangkum fastcompany.com (27/2/2020), di Bandara Jepang pengumuman biasanya menggunakan dua bahasa yakni Jepang dan Inggris. Namun, ANA memudahkannya dengan meluncurkan Pocketalk di Desember tahun lalu.
Pocketalk tersebut merupakan perangkat penerjemah dengan teknologi AI yang lebih kecil dari smartphone dan bisa berfungsi dalam 74 bahasa. Pocketalk bisa digunakan di gerbang keberangkatan dan lobi Bandara Internasional Osaka.
Dilengkapi dengan layar sentuh dan mikrofon peredam bising, perangkat ini juga bisa menangani pelancong yang berbicara dengan dialek, slag ataupun frasa idiomatik tertentu. Kepala operasi ANA di bandara, Shinici Abe mengatakan, perangkat ini terbukti sangat berguna dalam memberi informasi yang tepat waktu dalam situasi tak terduga.
Perangkat ini akan berada di tangan petugas ANA di akhir Maret 2020 dan terbagi di 50 bandara di Jepang yang dilayani maskapai ini. Dengan Olimpiade musim panas ini, ANA HD akan mengerahkan seribu avatar robot (dirancang bekerja sama dengan OhmniLabs) yang disebut “Newmes” di daerah-daerah dengan permintaan tinggi di Tokyo, termasuk pusat perbelanjaan, tempat wisata dan museum, serta rumah sakit dan fasilitas perawatan lansia.
Pikirkan Newmes seperti robot telepresence yang memungkinkan karyawan jauh untuk secara fisik berkeliaran di lorong kantor dan mengambil bagian dalam rapat, dengan hal ini, wajah pengguna muncul di layar video 10,1 inci yang terletak di atas silinder resin setinggi lima kaki.
Tetapi Newmes akan memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik dengan lengan robot (dan akhirnya aksesori yang dapat disesuaikan lainnya) yang dapat dikontrol untuk tindakan yang tepat, seperti menuangkan segelas air, memancing, atau bahkan memeluk nenek Anda di rumah pensiun. Jika Anda menggunakan Newmes yang terpasang di toko Jepang, Anda juga dapat melakukan pembelian yang di kirim langsung ke rumah Anda.
Tujuan jangka pendeknya adalah membuat avatar tersedia untuk publik Jepang dan untuk digunakan secara internal oleh perusahaan dan lembaga pemerintah. Pengguna akan dapat masuk ke platform (untuk diluncurkan pada bulan April tahun ini) di komputer pribadi, meskipun versi aplikasi seluler akan siap tahun depan. Akhirnya, orang-orang di seluruh dunia akan memiliki akses ke Newmes melalui portal global yang saat ini dalam pengembangan.
Namun, ketika Jepang tengah bersiap untuk Olimpiade 2020, Jepang ikut menjadi salah satu negara yang masyarakatnya terinfeksi virus corona. Bahkan selama 14 hari sebuah kapal pesiar Diamon Pricess dikarantina di lautan.
Kehadiran virus corona ini apakah akan membuat Olimpiade 2020 musim Panas di Jepang akan dibatalkan atau ditunda atau mungkin terus berjalan? Ternyata pihak penyelenggara yang khawatir akan masalah ini mengatakan kemungkinan terbesarnya adalah dibatalkan jika virus corona tidak teratasi hingga akhir Mei 2020.
“Jika virus corona yang menjangkiti masyarakat di Jepang belum bisa diatasai hingga akhir Mei, maka pengelenggara mungkin akan membatalkan Olimpiade 2020 musim Panas di Jepang,” kata sebuah laporan.
Diketahui, Jepang sudah menghabiskan US$12,6 miliar untuk penyelenggaraan Olimpiade 2020, namun tim audit mengatakan jumlah uang yang digelontorkan dua kali lipat dari yang dilaporkan. Olimpiade 2020 di Jepang akan berlangsung dari 24 juli hingga 9 Agustus 2020 di Tokyo dan sekitarnya.
Setelah artikel terdahulu mengupas bagian interior dari Airbus A380 milik British Airways, sekalipun sebetulnya tak cukup ruang untuk mengupas tuntas segala kelebihan, kemewahan, dan kemegahannya, kali ini tak ada salahnya kita fokus pada salah satu bagian terpenting dalam pesawat. Kokpit.
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com, Kamis, (27/2), rupanya kemegahan dan kemewahan pesawat Airbus A380, dalam hal maskapai British Airways (sebab mungkin saja maskapai lain mengubah dekorasi kokpit dengan tambahan fasilitas yang berbeda), tidak hanya terletak pada kabin saja penumpang saja, melainkan juga kokpit.
Betapa tidak, bila pada umumnya pilot tidak memiliki fasilitas khusus berupa kamar pribadi dan toilet privat, atau mungkin di beberapa pesawat pilot memiliki hal tersebut sekalipun harus melalui perjuangan ekstra mengingat lokasinya (kamar atau tempat tidur khusus untuk pilot) berada di atas kabin business class, pada Airbus A380 pilot tak perlu melakukan hal itu (bersusah payah mencapai kamar pribadi). Pasalnya, pilot diberikan fasilitas khusus berupa dua kamar pribadi dan toilet di dalam kokpit. Luas biasa, bukan?
Selain itu, begitu banyak tombol di beberapa panel, mulai dari navigation unit, flight information unit, hingga central unit (tersebar di panel bagian atas, panel instrumen bagian tengah, dan panel bagian bawah), yang dari ketiganya terdapat turunan indikator yang sangat banyak, bahkan, terlampau banyak untuk disebutkan seluruhnya.
Sebagai pesawat terbesar dengan harga selangit, kokpit Airbus A380 sudah barang tentu memiliki fitur-fitur canggih khas Airbus, sekaligus pembeda dengan pabrikan asal AS, Boeing, salah satunya terletak pada sistem kemudi, dimana Airbus menggunakan joystick adapun Boeing menggunakan kemudi seperti bentuk setir atau biasa disebut yoke.
Dalam hal keamanan atau safety, Airbus A380 juga dilengkapi dengan sejumlah fitur canggih, semisal sistem yang memungkin pilot terhindar dari kesalahan kecil akibat tidak sengaja mengangkat persneling, memencet tombol, dan sejenisnya.
Meski demikian, secanggih apapun sistem-sistem yang ada di Airbus A380, tetap saja, harus terhindar dari cairan apapun, mengingat, dari database ASRS dan safety reporting NASA, sudah banyak sekali insiden yang menyebabkan mesin pesawat mati mendadak akibat ketumpahan cairan, baik berupa kopi ataupun yang lainnya.
Pasalnya, kemewahan dan kemegahan Airbus A380 tetap saja tak membuat panel-panel di dalam kokpit, khususnya center pedestal belum mampu menghadirkan fitur anti tumpahan. Menurut Captain Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, sebetulnya, tanpa ada embel-embel alasan apapun, bisa saja dibuat instrument anti tumpahan. Namun, bila melihat beberapa pertimbangan, seperti bobot, biaya, dan komplikasi, hal itu masih sulit diterapkan.
Sejak virus corona menyebar dan bisa menjangkiti siapapun, banyak penumpang yang mulai melakukan pencegahan dengan menggunakan masker atau yang lainnya. Bahkan ada yang menggunakan helm untuk menghindari virus corona ini ketika berada di dalam kabin pesawat.
Namun hal aneh lainnya baru saja dilakukan seorang penumpang pesawat yang juga pebisnis. Di mana dirinya menggunakan under the weather pods ketika berada di dalam kabin pesawat.
Rick Pezcovitz membuat pods ini pada 2010 lalu dan sebenarnya untuk orang tua serta keluarganya yang ingin menonton pertandingan olahraga tanpa kebasahan ketika hujan tiba. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman today.rtl.lu (9/2/2020), Rick yang tinggal di Cincinnati, Amerika Serikat menggunakan salah satu pod tersebut untuk mencobanya sendiri.
David yang merupakan adik dari Rick menuliskan, banyak para pelancong mengambil langkah -langkah yang tidak biasa untuk melindungi diri mereka dari virus corona seperti menggunakan kendi air di kepala mereka hingga menutup dengan terpal plastik.
“Saudara lelaki saya berpikir untuk melihat bagaimana StadiumPod-nya akan bekerja pada Sebuah pesawat terbang,” tulisnya.
Bahkan David mengatkan, Rick bercerita bahwa pramugari dengan senang hati mengambil foto dirinya. Tak hanya itu, penumpang yang duduk disebelah Rick juga tidak memperhatikan.
StadiumPod sendiri dirancang agar pas dengan badan dan dikenakan saat duduk. Namun, banyak pertanyaan kemudian muncul, apakah ini bisa menghentikan virus corona menginfeksi penumpang dan berhasil?
Seorang pria berkomentar hal ini mungkin tidak untuk digunakan di baris keluar. Sedangkan yang lain bercanda dan mengatakan mereka akan menggunakannya untuk menjaga ruang pribadi.
Selain Rick, seorang penumpang yang tidak diketahui wajahnya menggunakan helm ketika berada di pesawat. Pria tersebut saat itu naik dalam penerbangan dari Cina menuju ke Australia.
Diketahui, virus corona pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2019 lalu. Saat ini sudah puluhan ribu orang terjangkit dan ribuan orang meninggal. Orang-Orang di Amerika Serikat bahkan tak mau menerima paket Amazon yang dikirim dari Cina karena takut tertular virus corona ini.
Siapa sebenarnya para pengurus truk atau petruk yang ada di pelabuhan penyeberangan baik Merak atau Bakauheni? Ada yang bilang bahwa para petruk ini adalah calo pembayaran tiket. PT ASDP Indonesia Ferry mengatakan bahwa petruk menawarkan tarif yang lebih murah dari yang sudah ditentukan.
Namun ternyata hal itu tidaklah semua benar. Sebab petruk ini ternyata adalah perpanjangan tangan para perusahaan kendaraan besar seperti truk kontainer atau ekspedisi. Mereka biasanya membantu para pengusaha tersebut untuk membayarkan tarif ke loket penyeberangan karena banyak supir truk yang sering menyelewengkan kelebihan uang pembayaran tiket.
Ini adalah salah satu tugas dari petruk itu sendiri. Namun KabarPenumpang.com yang mewawancarai salah seorang mantan petugas pelabuhan Bakauheni, ternyata mendapatkan fakta lainnya dimana para petruk tersebut bukan hanya membayarkan tarif dari pada truk-truk tersebut. Mereka juga mengurus truk tersebut keluar dari tempatnya hingga menyeberang di kapal ferry.
“Mereka itu sebenarnya ngurusin truk itu. Mereka yang bayarin dulu, dan biasanya punya invoice yang akan dikasih ke pengusaha dan dapat persenan yang tidak besar,” kata sumber KabarPenumpang.com.
Dia menambahkan, biasanya upah yang diberikan atau persenan itu hanya sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu atau tergantung kebijakan pengusaha truk masing-masing. Adanya permainan tarif sendiri sebenarnya bukan langsung dari para petruk, melainkan petugas loket pembayaran di pelabuhan juga turut memainkan peran.
“Petugas yang biasanya memainkan tarif, nah petruk ini cuma ngikut saja,” tambahnya.
Nah, ternyata petruk ini sudah ada sejak pelabuhan penyeberangan berpindah dari Pelabuhan Panjang di Bandar lampung ke Bakauheni tahun 1982 silam. Pelabuhan Bakauheni sendiri mengoperasikan penyeberangan kapal laut jenis ferry atau foll on roll off (Roro) dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya.
Meski sering dipandang sebelah mata dan dijadikan kambing hitam, para petruk ini ternyata tergabung dalam beberapa organisasi. Bahkan organisasi-organisasi ini memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD-ART) yang jelas dan umumnya kepemimpinan umumnya terstruktur.
Keberadaan Petruk tak lepas dari kontroversi, unjuk rasa akibat keberadaannya yang tak pernah dianggap penting oleh pihak lain mengakibatkan dalam kurun waktu 2015-2016 beberapa aksi demonstrasi kepada pihak pemilik pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, penyedia jasa penyeberangan (pemilik kapal) serta pihak lain. Adanya boikot dan aksi unjuk rasa tersebut berimbas ekonomi lumpuh dan kerugian diperkirakan mendekati miliaran rupiah.
Akibat aksi Petruk tersebut kemacetan panjang terjadi sebagai dampak boikot petruk yang tidak memperbolehkan kendaraan yang mereka urus menyeberang melalui Pelabuhan Bakauheni. Sehingga bisa dikatakan keberadaan petruk seperti “terekspos” sebagai sebuah entitas yang diperhitungkan karena memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional.
Seperti layaknya buruh yang bekerja pada perusahaan seorang pengurus pun memiliki kewajiban dan hak tertentu dan dibatasi dengan aturan aturan ketat dari federasi maupun dari organisasi tempatnya bernaung. Selain itu aturan ketat dari pemilik pelabuhan pun secara ketat diikuti sehingga Petruk bukan sebuah perkumpulan liar dan tak terstrukur.
Namun, bagaimana nasib para petruk saat pelabuhan sudah mulai menerapkan digitalisasi dalam standar pembayaran? Apakah mereka akan bertahan atau lenyap begitu saja? Tentu ini waktu yang akan menjawabnya.
Setelah beroperasi, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta kini mulai bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) membangun perusahaan patungan bernama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ). Perusahaan patungan ini sudah memiliki Direktur Utama yakni Tuhiyat yang dulunya Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi PT MRT Jakarta.
Kehadiran direktur utama baru untuk PT MITJ tersebut, kini sudah mulai progres untuk pembenahan empat stasiun yang akan terintegrasi. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, PT MITJ yang kehadirannya untuk mengelola transportasi perkeretaapian ini akan memegang 72 stasiun yang ada di Jabodetabek. Saat ini, William menjelaskan sudah dimulai penataan kawasan di empat stasiun yakni Stasiun Tanah Abang, Juanda, Senen dan Sudirman.
Empat stasiun integrasi yang dikerjakan PT MITJ (MRT Jakarta)
“Kita mulai langsung penataan di empat stasiun integrasi. Di Tanah Abang menjadi yang terparah karena lalu lintas yang tidak terkendali dan macet total. Untungnya PT KAI mau membuka lahan yang tidak terpakai untuk memperlancar arus lalu lintas di depan Stasiun Tanah Abang,” kata William yang ditemui dikantornya, Kamis (27/2/2020).
Dia menjelaskan, lahan kosong tersebut akan digunakan untuk tempat transit. Di mana bus milik TransJakarta akan masuk ke dalam kawasan stasiun dan halte serta kanopi akan dibuat untuk memudahkan penumpang yang menggunakan layanan integrasi antar moda tersebut.
“Kita kerja sama dengan berbagai pihak yakni Sarana Jaya akan membuat halte TransJakarta dan kanopinya. Binamarga akan mengaspal jalanan dan membuat trotoar untuk pejalan kaki. Sedangkan lahan kosong itu akan dipakai untuk masuknya angkutan umum seperti Mikrotrans, Bajaj dan ojol (ojek online),” jelasnya.
William menambahkan, akan ada jalur sepanjang 200 meter yang akan dibuat untuk pejalan kaki dengan kanopi diatasnya. Sedangkan untuk Stasiun Senen, PT MITJ mulai membuka jalan di bagian tengah untuk memudahkan akses pejalan kaki.
“Kita buka dibagian jalan tengah untuk pejalan kaki. Karena biasanya mereka masuk dari pintu yang cukup jauh untuk ke stasiun. Jalan ini memotong bagian tengah GOR dan kita buat halte TransJakarta dekat jalur tersebut,” kata William.
Untuk Stasiun Juanda, William menambahkan, akan mengelola ojol dan opang (ojek pangkalan) dan membuat titik penampungan dibelakang stasiun. Titik penampungan ini merupakan tempat bekas pengumpulan sampah dan saat ini sudah mulai dirapikan serta dibersihkan sehingga awal Maret diraharapkan sudah bisa difungsikan.
Stasiun keempat yakni Sudirman, akan di tata untuk kawasan ojol di bekas Pasar Blora. William mengatakan, ini dikarenakan kondisi sering macet di depan mini market karena ojol-ojol ini menurunkan penumpang.
“Kita koordinasi dengan KAI untuk menutup jalan tersebut dan minimarket akan dipindahkan. Pos polisi juga kita pindahkan, dan untuk sementara jalur ini akan dipagari,” jelas William.
Dia mengatakan, nantinya ojol akan menurunkan penumpang di pedestrian yang akan dibenahi saat ini. William menambahkan, PT MRT Jakarta juga akan bangun transport hub di pasar Blora setinggi 14 lantai dan bagian bawahnya digunakan untuk parkir TransJakarta.
Fase 2 Pembangunan MRT Jakarta
Setelah fase 1 selesai dan beroperasi, PT MRT Jakarta kini mulai melanjutkan pembangunan untuk fase 2 dari Bundaran Hotel Indonesia (HI) menuju ke Ancol Barat. William mengatakan, untuk pembangunan fase 2 ini akan dibagi menjadi dua tahap yakni fase 2a dan fase 2b. Di mana fase 2a pembangunan dari Bundaran HI menuju ke Kota sepanjang enam kilometer dan fase 2b dari kota ke Ancol Barat yang sekaligus akan menjadi Depo MRT Jakarta yang juga sepanjang enam kilometer sehingga bila ditotal akan sepanjang 12 km.
“Fase 2a untuk CP201 dari Thamrin ke Monas sudah mulai kontrak dengan panjang jalur 2,8 km. Untuk CP202 kita sudah dapat kontraktornya tapi dibatalkan dan tengah menarik berkas untuk tender ulang. Sedangkan CP203 dari Glodok hingga ke Kota juga mulai tender,” jelas William.
William menjelaskan Stasiun Thamrin yang akan dibangun berbeda dengan staisun lainnya. Sebab Stasiun Thamrin nanti akan menjadi stasiun interchange dengan jalur dari timur ke barat di fase 3.
Panjang stasiun ini pun lebih panjang dari yang lainnya yakni sekitar 500 meter atau tepatnya 490 meter. William menjelaskan, kedalaman Stasiun Thamrin yakni 30 meter atau sekitar tiga lantai untuk lift.
Dia mengatakan, MRT Jakarta baru pertama kali mempunyai intersection seperti hal tersebut. Untuk Stasiun Monas, akan ada ada hal yang unik di mana bangunannya akan dikelola oleh MITJ semua. Endtrans akan ada satu di pintu masuk barat daya Monas dan satu lagi di jalan museum yang akan terkoneksi dengan TransJakarta.
“Intinya fase 2a ini semuanya akan ada dibawah tanah dan kami bangun semuanya dengan perencanaan matang dan belajar dari bencana seperti banjir yang baru-baru ini terjadi,” jelasnya. William menambahkan, nantinya fase 2a akan mulai pengoperasian semuanya di Desember 2024 dimana instalasi sistem, rolling stok hingga testing commitioning.
Sejak pertama kali virus corona merebak, pereknomian Cina terus tergerus di berbagai sektor. Dari data salah satu pusat studi ekonomi dunia, perekonomian Cina memang terus mengalami penurunan, bahkan mencapai yang terburuk dalam 10 tahun terakhir. Diperkirakan tahun ini Cina hanya sanggup meraih angka pertumbuhan ekonomi dikisaran 5,3 persen, dari semula diperkirakan mencapai 6 persen, sebelum adanya kasus virus corona.
Di samping itu, pergerakan perdagangan Cina juga mencapai titik terendah setelah adanya virus corona. Puncaknya terjadi pada pertengahan Februari lalu, dengan angka perdagangan berkisar 30-50 persen. Begitu juga dengan sektor aviasi yang juga mengalami penurunan drastis akibat banyaknya maskapai yang menghentikan penerbangan dari dan ke Negeri Tirai Bambu itu. Meskipun otoritas setempat belum merilis angka resminya, namun, setidaknya jebloknya penerbangan di Cina dapat terlihat dari pergerakan pesawat tersebut di ruang udara Cina.
Seperti dilihat KabarPenumpang.com dari laman Instagram @nytimes, Jumat, (28/2), sebelum virus corona merebak, ruang udara Cina tampak memang sangat padat, dengan angka ribuan pergerakan pesawat setiap harinya. Namun setelah adanya virus corona di penghujung tahun lalu, ruang udara Cina tampak turun lebih dari separuhnya, berkisar 70-80 persen.
Menurut Flightradar24, hanya dalam tiga minggu, mulai 23 Januari hingga 13 Februari, jumlah keberangkatan dan kedatangan harian untuk penerbangan domestik dan internasional turun menjadi hanya 2.004, dari 15.072. Detailnya, pada 23 Januari lalu, sebelum maraknya pembatalan penerbangan dari dan ke Cina, pergerakan pesawat di negara tersebut mencapai 12,814 pergerakan dalam sehari. Pada 13 Februari lalu, setelah adanya pembatalan besar-besaran dari maskapai seluruh dunia, angkanya menjadi hanya 1,662 pegerakan pesawat dalam sehari. Singkatnya, ada lebih dari 13.000 penerbangan dalam sehari hilang akibat virus corona.
Data penerbangan di Cina. Sumber: FlightRadar24 via nytimes
International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $ 29 miliar atau Rp 417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Terlebih, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit lost) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik.
Hal itu setidaknya telah terbukti bila dilihat dari beberapa langkah yang dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem bisnis aviasi di beberapa negara, semisal HongKong yang harus menggelontorkan (melalui otoritas bandara HongKong) sebesar Rp 2,8 triliun atau Indonesia yang juga tengah mempersiapkan beberapa skema guna penyelamatan bisnis penerbangan.
Data penerbangan di empat tujuan favorit warga Cina. Foto: FlightRadar24 via nytimes
Akan tetapi, IATA tidak menampik, bahwa profit loss sebesar Rp 417 triliun tersebut sangat dimungkinkan bisa berkembang lebih besar, mengingat, dalam pengamatan IATA, virus corona jauh lebih mematikan, lebih besar (dampaknya), dan lebih merusak ekosistem bisnis penerbangan di Cina, yang saat ini tengah menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan mau tak mau (dengan posisinya sebagai raksasa perekonomian dunia tersebut) juga akan berimbas ke negara lain.
Lihat saja Jepang dan Singapura, sekalipun bukan menjadi negara endemik virus corona, namun perekonomian kedua negara tersebut dibuat rontok dan memasuki periode resesi karenanya. Sebaliknya, Cina hingga kini masih tergolong aman dari ancaman resesi, meskipun diprediksi mencatatkan pertumbuhan ekonomi terburuk dalam 10 tahun terakhir.
Sementara itu, dalam catatan IATA, wabah SARS sendiri, kala itu, merenggut sekitar $ 6 miliar atau sekitar Rp 86,5 triliun pendapatan tahunan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Selain itu, upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?
Kemacetan terkadang memang terasa begitu menyebalkan, khususnya saat seseorang tengah dalam keadaan terburu-buru, entah karena urusan kantor, bisnis, pertemanan, bahkan percintaan. Di saat yang bersamaan, akan lebih menyebalkan ketika melihat pejabat atau pihak berwenang bebas menggunakan rotator atau sirine hingga dapat menghindar dari kemacetan. Pasalnya, aturan perundang-undangan di negeri ini memang tidak memperbolehkan masyarakat sipil menggunakan rotator dan atau sirine atau sejenisnya di kendaraan pribadi.
Akan tetapi, bagi Anda yang bosan dengan keadaan seperti itu, mungkin, aplikasi ini bisa menjadi salah satu andalan. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman medpagetoday.com, Kamis, (27/2), belum lama ini muncul wacana dari sebuah perusahaan untuk menjalankan aplikasi ROSC Ambulance. Sesuai namanya, aplikasi tersebut memang mengoperasikan ambulans. Namun, bukan hanya untuk mengangkut mayat atau orang sakit, melainkan juga untuk mengangkut orang sehat.
Cara kerjanya sendiri sebetunya sangat mirip dengan GoJek, Grab, Uber, atau aplikator aplikasi ride hailing lainnya. Bedanya, ketika hendak mengorder kendaraan dari aplikasi tersebut, pengguna harus menentukan jenis layanan, untuk keadaan rill (sebagaimana fungsi ambulans pada umumnya) atau tidak.
Baik dalam keadaan rill maupun tidak, hal tersebut sebetulnya tidak berpengaruh dengan harga dan jenis layanan. Hanya saja aplikator tetap harus mengetahui jenis layanan yang digunakan pelanggannya. Di samping itu, bila demand lebih banyak dari suplai, atau bisa dibilang armada lebih sedikit dari permintaan, maka, aplikator akan mendahulukan layanan rill atau darurat, meskipun besar kemungkinan seluruh pengguna layanan tersebut tengah dalam keadaan darurat sekalipun darurat dalam kadar masing-masing, entah darurat karena takut terlambat naik pesawat atau lainnnya.
Lagi pula, selain menyediakan layanan pribadi, aplikasi tersebut juga melayani tumpangan. Jadi, tidak benar-benar dioperasikan untuk satu tujuan tertentu. Misalnya, ketika ambulans tengah mengantar orang sehat untuk sampai ke tempat tujuan dan di saat yang bersamaan terdapat pasien gawat darurat, maka pasien tersebut akan diantarkan terlebih dahulu.
Meskipun terdengar menyebalkan, namun, CEO ROSC Ambulance, Jeb Lance, berdalih bahwa dirinya hanya berusaha untuk menangkap peluang pasar. Artinya, dirinya bukanlah orang yang memulai hal tersebut (ambulans dijadikan taksi) melainkan hanya meneruskan fenomena yang ada. “Toh orang menggunakan ambulans sebagai taksi, jadi saya benar-benar ingin memanfaatkan pasar yang berkembang itu,” jelasnya.
Bila tidak ada halangan apapun, aplikasi tersebut diperkirakan akan mulai aktif memberikan layanan sekitar bulan September mendatang di wilayah New York, Amerika Serikat. Aplikasi tersebut dapat diunduh di Google Playstore ataupun IOS. Jeb Lance optimis idenya tersebut akan berjalan sesuai rencana dan bila itu terjadi, ia berencana untuk mengembangkan bisnisnya bukan hanya terpaku pada mobil, namun juga helikopter. Menarik ditunggu, apakah aplikasi serupa akan muncul di Indonesia?