Makin Panas, Kereta Pakistan ‘Hilang’ di India Setelah Peristiwa Berdarah

Kereta api Pakistan dilaporkan ‘hilang’ dari India. Hal itu terjadi setelah otoritas perkertaapian di Gujarat, India, menghapus gambar kereta Pakistan dari aplikasi, untuk keselamatan penumpang yang baru diluncurkan, setelah viral di media sosial. Banyak netizen yang mengomentari, bahwa foto tersebut disebut-sebut dengan jelas menampilkan kereta Pakistan di dalamnya. Hal itu tentu sangat sensitif di tengah kisruh yang terjadi di india.

Baca juga: Ikuti Jejak Indonesia, Peraturan Penumpang di Kereta India Dipertegas, Ribuan Orang Terkena Sanksi

Dilansir thenews.com.pk, Senin, (3/3), menurut kantor berita di India, NDTV, otoritas setempat menghapus foto setelah netizen di media sosial India menunjukkan bahwa mesin kereta api berwarna hijau, yang muncul di dashboard bertuliskan “Surakshit Safar” atau “Perjalanan yang Aman”, adalah sebuah kereta api Pakistan. Tanpa pikir panjang, mereka pun menghapus foto tersebut.

Dalam penjelasannya, Wakil Inspektur Jenderal Polisi, CID-Crime and Railways, Gautam Parmar, menyatakan bahwa pengembang atau aplikator awalnya hanya ingin membuat tampilan aplikasi menjadi lebih menarik dengan menyertakan beberapa foto. Setelah vital, pengembang barulah menyadari bahwa foto tersebut bukanlah kereta India.

“Untuk membuat aplikasi lebih menarik, pengembang aplikasi telah menaruh beberapa gambar kereta api. Dalam prosesnya, ia secara tidak sengaja menggunakan foto kereta Pakistan. Setelah mengetahui tentang hal itu, kami telah meminta pengembang untuk menghapusnya. Itu adalah suatu kesalahan yang tidak disengaja,” katanya, pekan lalu.

Dengan dihapusnya foto kereta Pakistan di aplikasi tersebut, media-media Pakistan pun ramai memberitakan hal tersebut, selain memberitakan berbagai kekejaman oknum masyarakat di India terhadap kelompok minoritas Muslim di negara tersebut. Hal ini menjadi menarik, mengingat aplikasi ini diluncurkan oleh Kementerian Dalam Negeri India, Pradeepsinh Jadeja, pada 29 Februari silam atau bertepatan dengan peristiwa berdarah di negara tersebut dan baru ‘sadar’ setelah peristiwa berdarah tersebut mereda.

Terlepas dari kisruh di antara kedua negara yang menyebabkan dihapusnya foto tersebut, sebetulnya, dengan bantuan aplikasi itu, penumpang kereta api di India dapat terhubung langsung dengan kantor kepolisian terdekat, tanpa harus repot-repot mencari dan menelepon kantor polisi dengan cara manual.

Baca juga: Dekatkan Telinga Ke Rel, Remaja Pakistan Tewas dengan Luka Bakar!

Aplikasi tersebut juga terpantau secara real time sehingga penangan lebih cepat dan akurat. Jadi, jika sewaktu-waktu penumpang tak memiliki kesempatan, akibat keaadaan yang mendesak, untuk menghubungi polisi, penumpang yang membutuhkan bantuan akan tetap bisa terlacak dengan hanya menekan bagian lain dari tombol di dalam aplikasi tersebut dan langsung bisa didatangi oleh petugas dengan melacak sinyal ponsel atau bisa juga dilacak berdasarkan GPS.

Sebagaimana yang umum diketahui, India, termasuk juga Pakistan, memiliki kultur perkeretaapian yang kuat. Layaknya di Indonesia, di negara tersebut juga terdapat istilah mudik di bulan-bulan tertentu. Bahkan, di beberapa momen, kondisi perkeretaapian di sana jauh lebih rumit, dengan tingkat pelecehan dan kejahatan tinggi, dibanding dengan kondisi perkeretaapian di Indonesia.

Kereta Shinkansen Jepang Hadirkan Tiket Kereta Elektronik

Menghilangkan tiket kertas dan menggantinya dengan sebuah kartu atau e-ticketing menjadi salah satu hal yang sudah banyak dilakukan di berbagai moda transportasi. Kali ini Jepang menawarkan eticketing untuk jalur Shinkansen yang akan dimulai pada 14 Maret 2020.

Baca juga: DoCoMo dan JR Central Uji Coba Jaringan 5G di Kereta Shinkansen Model N700S

KabarPenumpang.com melansir asia.nikkei.com (29/2/2020), tiga operator kereta api regional Negeri Sakura ini yakni East Japan Railway, West Japan Railway and Hokkaido Railway mulai menawarkan layanan ini. Sehingga memungkinkan penumpang yang menggunakan kartu IC terdaftar untuk naik kereta Shinkansen tanpa tiket kertas.

Central Japan dan JR West sudah sudah mengoperasikan layanan serupa yang disebut Smart Ex serta berencana memasukkan Kyushu Railway ke dalam layanan baru pada musim semi 2022. Tujuan ini adalah membuat kereta api penumpang Jepang terkenal di dunia menjadi lebih nyaman.

Jalur Shinkansen Hokkaido dan Hokuriku yang melayani Jepang utara khususnya dengan tujuan untuk menjadi lebih kompetitif dengan maskapai penerbangan. Layanan e-tiket baru mencakup semua jalur shinkansen yang dioperasikan oleh tiga perusahaan yakni di jalur Tohoku, Joetsu, Hokuriku, Yamagata dan Akita.

Perjalanan shinkansen tanpa tiket akan tersedia melalui salah satu dari sepuluh kartu IC yang populer di kalangan pelanggan, termasuk JR East’s Suica; Pasmo, dikeluarkan oleh operator kereta bawah tanah Tokyo Metro; dan Icoca, kartu IC untuk pelanggan kereta komuter di wilayah Osaka. Saat ini, penumpang dapat memesan dan naik kereta shinkansen menggunakan aplikasi ponsel cerdas Suica, tetapi tidak dengan kartu IC.

Kurangnya e-ticketing mengarah ke antrean panjang di loket tiket dan mesin penjual otomatis, terutama selama musim liburan yang sibuk. Tiga perusahaan JR memprediksi bahwa tiket yang lebih cepat dan lebih mudah akan mendorong lebih banyak orang untuk menggunakan jalur Hokkaido dan Hokuriku shinkansen, yang menghadapi persaingan ketat dari maskapai.

Untuk menggunakan layanan ini, pelanggan mendaftarkan kartu IC mereka di situs pemesanan tiket Ekinet JR East atau situs web JR West e5489. Setelah kartu terdaftar, pengendara cukup memesan kursi secara online, tap kartu pada pembaca di gerbang dan papan. ternyata layanan e-ticketing bukan sistem kartu pintar pertama yang dirancang untuk shinkansen.

JR Central dan JR West telah memiliki layanan Smart EX, yang mencakup jalur Tokaido dan Sanyo shinkansen, sejak 2017. Penumpang yang menggunakan JR East dan operator shinkansen lainnya telah lama berharap untuk hal seperti itu. Meskipun layanan baru telah lama datang, ia menawarkan peningkatan atas layanan Smart EX.

Sistem baru menggunakan teknologi cloud untuk otentikasi tiket, menyederhanakan perawatan dan pembaruan. Dengan Smart EX, gerbang tiket di setiap stasiun memproses informasi pemesanan dan data lain yang disimpan pada kartu IC. Sistem baru menggunakan server pusat untuk mengelola dan mengotentikasi data.

Ketika penumpang memegang kartu di atas pembaca, pembaca menghubungi server, memverifikasi bahwa informasi pemesanan cocok dengan informasi yang dikodekan pada kartu IC. Jika ada perbedaan, gerbang ditutup dan server pusat lebih mudah dirawat dan diperbarui daripada gerbang tiket individu, menghemat waktu dan uang.

Layanan baru ini menjadikan pengalaman pelanggan yang lebih baik juga. Smart EX mengharuskan penumpang untuk mencetak tiket kertas di mesin tiket ketika bepergian dengan kelompok atau dengan anak-anak, layanan baru ini memungkinkan hingga enam orang dalam satu pemesanan, dengan setiap orang dapat naik menggunakan kartu IC mereka sendiri. Anak-anak usia sekolah dasar atau lebih muda dapat menggunakan kartu IC anak mereka.

JR East akan menghentikan layanan tiket Mobile Suica shinkansen ketika layanan baru berlaku. Tapi itu akan melanjutkan layanan Touch de Go yang memungkinkan anggota naik di kursi non-cadangan untuk jalur shinkansen Tohoku, Joetsu, dan Hokuriku menggunakan kartu IC yang diisi dengan uang elektronik. Layanan ini mencakup area terbatas di dekat Tokyo dan memiliki banyak pelanggan bisnis. Ini akan dipertahankan secara paralel dengan layanan tanpa tiket yang baru.

“Kami ingin membuat 50 persen dari penggunaan shinkansen tanpa tiket pada akhir tahun fiskal 2022,” kata Presiden JR East Yuji Fukasawa.

Perusahaan percaya bahwa peralihan ke perjalanan tanpa tiket akan mengurangi kemacetan di stasiun dan menghasilkan pelanggan yang lebih puas. Ia juga mengatakan biaya pemeliharaan akan turun dan memungkinkan penggunaan ruang stasiun yang lebih efisien. Akan ada dua layanan tanpa tiket berbeda untuk jalur shinkansen yang dimulai pada bulan Maret akan mencakup Jepang utara yakni jalur Tohoku, Hokkaido, Joetsu, Hokuriku, Yamagata, dan Akita shinkansen.

Baca juga: Shinkansen Pacu Kecepatan Antara Tokyo ke Sapporo, Namun ‘Terhalang’ Terowongan Seikan

Layanan untuk jalur Tokaido dan Sanyo Shinkansen, yang berjalan melalui Jepang tengah dan barat, akan diperluas ke pulau selatan Kyushu pada musim semi 2022. Interkoneksi antara kedua layanan tersebut kemungkinan akan menjadi langkah berikutnya, meskipun ada relatif sedikit penumpang yang pindah dari satu jalur shinkansen ke yang lain.

Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

Virus corona yang sudah menginveksi puluhan ribu orang dan menyebabkan hampir tiga ribu orang meninggal dunia membuat dunia penerbangan mulai mengurangi jadwal ke negara-negara terdampak. Karena hal ini pula, maskapai melakukan langkah-langkah lain dengan mendesinfeksi pesawat dan melengkapi kru dengan masker wajah serta melakukan pengecekan suhu badan pada penumpang sebelum diizinkan naik ke pesawat.

Baca juga: 130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

International Air transport Association (IATA) juga menerbitkan pedoman untuk melindungi penumpang dan awak dari virus. Dirangkum KabarPenumpang.com dari businesstraveller.com (2/3/2020), sejumlah maskapai mendesinfeksi pesawat dan ruang tunggu mereka lebih sering.

Menurut Organisasi Kesahatan Dunia (WHO), tidak jelas berapa lama virus ini bertahan di permukaan bisa beberapa jam atau mungkin beberapa hari. WHO mengatakan, untuk membersihkan permukaan dengan desinfektan sederhana bisa membunuh virus. Nah bagaimana pandangan dan upaya apa yang diambil maskapai untuk mencegah penyebaran virus corona? Cathay Pacific terkait hal ini mengatakan mengambil langkah pencegahan yang berbeda di kabin maupun ruang tunggu bandara.

Maskapai Hong Kong ini membersihkan dan mendesinfeksi kabin, kursi, dapur dan toilet. Penyemprotan disinfektan juga pada laya IFE, meja makan, meja keranjang bayi, sandaran tangan di kabin setelah selesai melakukan penerbangan. Para penumpang yang bepergian ke Hong Kong dengan Cathay Pacific akan mendapat siaran pesan kesehatan yang diperbarui untuk memastikan penumpang dan awak memiliki informasi terbaru.

“Siaran ini mengingatkan semua orang di atas kapal tentang situasi saat ini dan tindakan yang diperlukan yang diperlukan,” kata maskapai itu.

Cathay juga telah mengurangi penerbangan ke dan dari daratan Cina sekitar 90 persen hingga akhir Maret 2020. Di sisa penerbangan Cina daratan, Cathay telah membatalkan layanan troli di kelas bisnis dan kelas satu. Mereka juga menyajikan makanan pada satu nampan saja pada kelas bisnis dan kelas satu, sedangkan kelas ekonomi dan ekonomi premium akan mendapatkan tas makanan ringan sekali pakai.

Cathay juga menghilangkan handuk panas, bantal, selimut, majalah dan penjualan bebas bea dalam penerbangan juga telah ditangguhkan sementar untuk rute-rute ini. Maskapai ini juga telah menginstal sistem penyaringan pesawat HEPA (High Efficiency Particulate Arresters) di kabinnya yang katanya dapat menyaring 99,999 persen partikel debu dan kontaminan di udara seperti virus dan bakteri.

“Filter HEPA menawarkan tingkat kinerja yang sama dengan yang digunakan untuk menjaga kebersihan udara di ruang operasi rumah sakit dan ruang industri yang bersih,” Cathay.

Selain kabin, lounge atau ruang tunggu khusus milik Cathay ada tiga yang ditutup di Bandara Internasional Hong Kong yakni The Bridge, The Deck dan The Pier First Class Lounge. Ini karena kurangnya permintaan ditengah merebaknya virus corona. Sedangkan Kelas Wing, Lounge Kelas Bisnis Pier, dan Lounge Kelas Bisnis akan tetap terbuka.

Maskapai ini mengatakan bahwa pihaknya juga mengambil tindakan pencegahan di ruang tunggu di Hong Kong, Shanghai Pudong dan Beijing dengan membersihkan permukaan di kamar mandi, lift, dan area lain yang digunakan “lebih sering”. Itu juga telah menghapus semua majalah dari lounge. Bahkan makanan prasmanan digantikan dengan sajian tunggal yang sudah disiapkan sebelumnya serta alat makan sekali pakai di lounge Beijing dan Shanghai Pudong.

Penumpang yang terbang ke atau dari Hong Kong dengan Cathay akan dikenakan pemeriksaan suhu di Bandara Internasional Hong Kong. Penumpang juga dapat menemukan pembersih tangan di seluruh Bandara Internasional Hong Kong, termasuk di konter check in Cathay, titik-titik pemeriksaan imigrasi dan keamanan, area keberangkatan terbatas, gerbang boarding, kedatangan dan di Skypier. Lounge-lounge Cathay di Hong Kong, Shanghai Pudong, dan Beijing juga menyediakan sanitiser di meja resepsionis.

Tak hanya Cathay Pacific, Singapore Airlines (SIA) menggunakan desinfektan untuk membersihkan permukaan seperti meja baki, jendela dan layar IFE pada semua pesawat yang terbang ke Hong Kong dan Cina daratan. Praktik pembersihan SIA sebelum wabah koronavirus untuk semua pesawat yang tiba di Singapura termasuk menghilangkan limbah makanan, mengganti sandaran kepala, sarung bantal, seprei dan selimut dengan “set baru”, serta membersihkan permukaan seperti meja nampan dan karpet penghisap debu.

Baca juga: Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

Untuk pesawat yang tiba dari Cina melalui langkah pembersihan mendalam yang dikenal sebagai fogging. Sebelum prosedur, tim kebersihan dari penyedia layanan penerbangan SATS memasuki pesawat untuk menghapus semua selimut untuk mempersiapkan kabin untuk fogging. Linen yang kotor dan tidak terpakai dikeluarkan dari pesawat dan didesinfeksi sebelum dikirim ke binatu untuk “pencucian suhu tinggi”. Prosedur fogging memakan waktu sekitar 90 menit untuk pesawat A380, dan 60 menit untuk semua jenis pesawat lainnya.

Dampak Krisis Corona, Cathay Pacific Group ‘Parkirkan’ Setengah dari Jumlah Armada

Beberapa maskapai dunia sudah mulai mengurangi jadwal penerbangan mereka ke beberapa negara terdampak virus corona atau Covid-19. Mereka juga mengandangkan armada-armada mereka karena pengurangan jadwal tersebut. Cathay Pacific Group yang memiliki 120 pesawat telah memarkirkan sekitar setengah dari jumlah keseluruhan armadanya.

Baca juga: Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Selain itu juga membatalkan lebih dari tiga perempat penerbangan mingguan pada bulan Maret. Bahkan kemungkinan jumlah armada yang akan di parkir juga akan bertambah ketika Cathay mengingatkan tentang pemangkasan lebih lanjut pada jadwal penerbangan.

“Kami terus menerus menilai penyebaran armada untuk menyelaraskan kapasitas dengan permintaan pasar,” ujar Cathay.

Pekan lalu, Cathay mengatakan 75 persen staf atau 25 ribu karyawan grup akan mengambil cuti yang tidak dibayar. Jadwal penerbangan maskapai untuk bulan Maret juga menunjukkan penurunan sekitar 75 persen menurut sebuah studi yang dilakukan South China Morning Post.

Dilansir dari bangkokpost.com (2/3/2020), awalnya sebanyak 1470 penerbangan perminggu dijadwalkan pada Maret untuk Cathay Pacific fan Cathay Dragon. Namun jumlah itu kini sudah dikurangi lebih dari 1120. Padahal pada masa virus SARS menyebar di tahun 2003, Cathay mengurangi jadwal penumpangnya sebesar 45 persen dan memarkir 22 pesawat dari 80 armadanya.

Krisis di Cathay, maskapai yang paling parah di luar China, direplikasi secara global karena maskapai besar menerapkan penghematan biaya darurat untuk memotong penerbangan secara menyeluruh. Ketakutan bepergian bertepatan dengan epidemi virus corona yang menyebar di luar Asia ke Eropa dan Amerika Serikat. Kasus Covid-19 yang menyebar cepat di luar China, terutama di Italia, Iran dan Korea Selatan.

Saham maskapai penerbangan telah jatuh dalam sepekan terakhir, minggu terburuk bagi pasar keuangan sejak krisis keuangan 2008, menghapus miliaran dari nilai perusahaan-perusahaan ini. American Airlines, maskapai terbesar di dunia, melihat sahamnya jatuh 21,6 persen selama lima hari. IAG, perusahaan induk dari British Airways, anjlok 17 persen.

“Wabah adalah jenis dampak makro yang sangat sulit bagi maskapai penerbangan untuk merencanakan. Selama wabah, semua itu runtuh karena orang tidak peduli titik harga yang mereka tidak mau lagi terbang,” kata analis Bocom International Luya You.

Langkah-langkah yang diadopsi oleh maskapai lain juga termasuk menyimpan, menjual pesawat atau menunda pengirimanjet baru, menempatkan staf pada cuti atau pemotongan yang tidak dibayar, membekukan pekerjaan ditambah mencari pemotongan dalam pengeluaran diskresioner dan proyek-proyek non-kritis, dan menekan pemasok. CEO Singapore Airlines Goh Choon Phong telah melangkah lebih jauh, mengambil potongan gaji 15 persen dari 1 Maret.

Pada hari Jumat, United Airlines memperluas pemotongan penerbangan Asia ke Korea Selatan, Jepang dan Singapura, mencatat permintaan untuk penerbangan transpasif turun 75 persen. Lufthansa Group, yang telah menerbangkan 23 pesawat jarak jauh, mengatakan akan memotong penerbangan jarak pendek dan menengah sebesar seperempat karena Covid-19 kasus naik di Eropa, mendorong permintaan untuk turun.

Kelompok perdagangan maskapai IATA memperkirakan pada 21 Februari bahwa maskapai penerbangan global akan kehilangan pendapatan US$29,3 miliar. Namun jumlahnya bisa lebih besar mengingat penyebarannya ke lebih banyak negara.

Baca juga: 130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

“Virus ini memiliki dampak yang lebih global. Pembatalan berbagai konferensi dan acara bersama dengan penghentian perjalanan korporat yang tidak penting telah memperburuk penurunan permintaan ini. Tren ini akan sangat sulit bagi maskapai penerbangan karena perpanjangan virus akan mempengaruhi musim panas yang akan datang untuk perjalanan,” kata pakar penerbangan David Yu, seorang profesor keuangan di New York University Shanghai.

Setelah Pamor Meroket di 2009, Mungkinkah 2020 Jadi Tahun Terakhir Boeing 787 Dreamliner?

Sejak pertama kali terbang perdana pada 5 Desember 2009, Boeing 787 Dreamliner berhasil melesat dengan lebih dari 800 pesawat yang melayani berbagai maskapai di seluruh dunia. Tak hanya itu, Dreamliner juga telah tumbuh menjadi salah satu terlaris Boeing dengan lebih dari 1.400 pesanan.

Baca juga: Musibah Virus Corona Justru Selamatkan Boeing 787 dan Rolls-Royce

Selain itu, Dreamliner juga berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah penerbangan, sebagai pesawat dengan pesanan terbesar untuk pesawat jet penumpang baru, setelah pada tahun 2004 All Nippon Airways Jepang memesan US$6 miliar untuk 50 pesawat baru.

Dilansir dari laman businessinsider.com, Senin, (2/3), melesatnya Boeing 787 Dreamliner hingga berhasil mencatatkan rekor tersebut, tentu tidak mengherankan, mengingat Boeing telah mempromosikan pesawat tersebut secara masif, dengan segala kelebihannya. Saat masih pada fase pengembangan, Dreamliner disebut-sebut akan menggunakan bahan komposit termasuk serat karbon untuk membuat pesawat lebih ringan dan fitur mesin yang efisien dari Rolls Royce dan General Electric yang akan memberikan jangkauan yang lebih luas sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar.

Di samping itu, Dreamliner juga dinilai lebih ‘mengerti’ (untuk mencapai efisiensi) maskapai dengan dimensi yang ditawarkannya. Alih-alih mengejar kapasitas, seperti kompetitornya, Airbus, yang meluncurkan pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380, Dreamliner justru tampil beda, dengan mengusung mesin twinjet (dua mesin) serta konfigurasi penumpang dikisaran 200-330 penumpang, dari total tiga varian yang ada, 787-8, 9, dan10.

Meskipun berhasil digandrungi banyak maskapai di seluruh dunia, Boeing 787 Dreamliner bukan tanpa masalah. Hingga kini, bahkan, maskapai-maskapai yang menggunakannya harus memutar otak akibat permasalahan pada mesin Rolls-Royce-nya.

Di antaranya ada Air New Zealand’s yang menangguhkan layanan penerbangan Auckland ke Shanghai dengan menggunakan Dreamliner. Ada juga British Airways yang biasa menerbangkan 787-9 ke Beijing dan Shanghai. Kemudian LOT Polish Airlines menggunakan Dreamliner untuk penerbangan ke Beijing dari Tallinn (ibukota Estonia) dan Warsawa (ibukota Polandia) hingga Virgin Atlantic Airways yang mengoperasikan penerbangan hariannya ke Shanghai dengan 787-9.

Jauh sebelum permasalah pada mesin muncul, Boeing 787 Dreamliner juga pernah memiliki riwayat permasalahan pada sistem oksigen. Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas. Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.

Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian. Dekompresi sebetulnya jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.

Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia. Adapun penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat. Masalah tersebut, walaupun tidak masif, namun cukup membuktikan bahwa permasalahan Dreamliner yang dilaporkan oleh John Barnett, eks manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing, benar adanya.

Baca juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner

Dengan dua masalah di atas, banyak kalangan menilai bahwa 2020 mungkin akan menjadi tahun revolusi bagi Dreamliner atau dalam artian menjadi tahun penentuan. Terlebih, tahun ini juga menjadi tahun kelahiran varian anyar jenis pesawat paling laris di dunia, Boeing 777X, yang sebagian besar mengadopsi banyak sisitem dari Boeing 787 Dreamliner. Bisa dibilang juga Boeing 777X adalah Boeing 787 Dreamliner yang ditingkatkan.

Jika sudah begitu, tentu saja banyak maskapai akan beralih ke Boeing 777X, dengan berbagai kelebihannya, di samping, Boeing 787 Dreamliner juga tergolong usang bila dibandingkan dengan kompetitornya, Airbus, yang melahirkan A350 xwb pada 2013 dan A330neo pada 2017. Menarik ditunggu, akankah Boeing 787 Dreamliner berhasil bertahan di tengah kondisi penerbangan global yang lesu akibat diterjang virus corona?

Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

Virus Corona ‘akhirnya’ sampai di Indonesia, setelah dua warga asal Depok dinyatakan positif mengidap Covid-19, mengingat, sebelum benar-benar ditemukan kasus WNI positif virus corona, terlebih dahulu sudah ada beberapa warga negara asing yang positif mengidap virus tersebut sepulang dari Indonesia atau mempunyai riwayat perjalanan ke Indonesia.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Dengan positifnya WNI mengiap virus corona, bagi dunia penerbangan, hal tersebut tentu sangat berdampak sangat buruk, mengingat, pemerintah, melalui berbagai kementerian dan pelaku bisnis aviasi, tengah berjuang menghadapi terpaan badai virus yang diklaim berasal dari Wuhan tersebut.

Dihimpun KabarPenumpang,com dari berbagai sumber, Sabtu lalu, dengan pemberian insentif kolaborasi berbagai pihak, seperti Pemerintah, AP I dan II, Airnav Indonesia, dan Pertamina, maskapai pun akhirnya bisa sedikit bernapas lega, setelah Februari lalu ‘terpaksa’ menutup rute internasional dari dan ke Cina hingga batas yang belum dapat dipastikan, mengikuti perkembangan virus corona di negara tersebut. Insentif tersebut dinilai dapat membuat maskapai menurunkan harga tiket pesawat hingga 40-50 persen.

Benar saja, bak gayung bersambut, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, misalnya, mulai Minggu (1/3) mengumumkan telah memberlakukan potongan harga pada sejumlah rute yaitu dari dan ke Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Toba (Silangit), Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang. Pemberlakuan potongan harga ini merupakan tindak lanjut kebijakan pemberian insentif dari Pemerintah untuk menurunkan tarif penerbangan ke 10 Destinasi Wisata.

Sesuai keputusan Pemerintah, skema pemberian potongan (diskon) harga tiket ke 10 destinasi wisata dilaksanakan selama 3 bulan kedepan dimulai tanggal 1 Maret hingga 31 Mei 2020, dimana Pemerintah menetapkan besaran insentif untuk maskapai adalah dengan potongan harga tiket hingga 50 persen. Hanya saja, diskon tersebut hanya untuk 25 persen dari total jumlah penumpang, bukan untuk seluruhnya, atau sekitar 40 seat untuk program tersebut. Bila ditotal, dalam sebulan, seat yang tersedia untuk program itu sekitar 65.700 seat.

Akan tetapi, bagi sebagian pengamat, seberapa besar pun diskon yang ditawarkan, ketika masyarakat tengah was-was, sekalipun belum ada pernyataan dari pemerintah bahwa Indonesia darurat virus corona, tetap saja mereka (masyarakat) memilih untuk menahan diri bepergian ke sana sini. Singkatnya, jika bukan karena urusan super penting, masyarakat mungkin akan urung bepergian apalagi ke daerah wisata, sebagaimana destinasi yang ditawarkan pada diskon tersebut.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Wikipedia)

Akibatnya, tentu saja berdampak pada penurunan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan. Seperti di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, misalnya, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto, menyebut pergerakan pesawat di bandara ini menurun dari semula 470-480 pergerakan pesawat menjadi hanya kurang lebih 400 pergerakan.

Hal itu baru pergerakan, belum spesifik ke okupansi di masing-masing penerbangan dari total 400 pergerakan tersebut. Sangat mungkin jumlahnya juga menurun karena banyak turis yang cenderung menghindari penerbangan ke Asia. Jika pergerakan pesawat menurun, pertanyaan yang paling mungkin adalah, kemana kah pesawat-pesawat yang biasa melayani penumpang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebetulnya redaksi KabarPenumpang.com sudah berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pihak Garuda Indonesia dan Lion Grup. Namun, keduanya belum memberikan tanggapan spesifik. Pasalnya, dari kedua maskapai tersebut, ada banyak penerbangan internasional. Rute internasional ke Cina, misalnya, setidaknya terdapat 75 penerbangan dari kedua maskapai tersebut, 30 penerbangan milik Garuda Indonesia dan sisanya milik Lion Air.

Dengan ditutupnya rute tersebut (dari dan ke Cina), pesawat widebody yang biasa digunakan untuk terbang ke sana bukan tak mungkin mangkrak di apron bandara. Sebetulnya, bisa saja dipaksakan terbang dengan dua pilihan. Pertama, mengalihkan pesawat-pesawat tersebut ke rute-rute internasional lainnya. Namun, pilihan tersebut rasanya sulit, mengingat, maskapai-maskapai Indonesia bisa dibilang masih sulit bersaing di rute internasional melawan maskapai raksasa dengan reputasi tinggi, seperti Singapore Airlines, Qatar, Emirates, dan Etihad, di samping iklim penerbangan global yang tengah tak baik. Ditambah memang demand sedang rendah ke tujuan-tujuan yang dimaksud.

Pilihan kedua, pesawat-pesawat widebody yang biasa melayani rute internasional putar haluan menjadi melayani rute dalam negeri. Pilihan tersebut rasanya juga sulit, mengingat butuh perjuangan ekstra keras. Pasalnya, bila okupansi rendah, menggunakan pesawat widebody untuk rute domestik dengan jarak tempuh singkat justru malah membuat maskapai rugi besar.

Nyatanya, gairah penumpang untuk menggunakan pesawat pun juga tengah menurun. Selain konektivitas darat dan laut yang sudah mulai membaik, persoalan tiket masih dikeluhkan penumpang, di tengah perlambatan ekonomi global, termasuk Indonesia, akibat berbagai hal. Tahun lalu, misalnya, penumpang pesawat tercatat turun 19,14 persen atau turun sebanyak 17,5 juta orang.

Sebetulnya, di luar kedua pilihan tersebut, maskapai masih bisa tertolong dengan pilihan lainnya, yakni penerbangan khusus umroh. Namun, harapan tersebut pupus, mengingat pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menyetop layanan umroh. Akibatnya, calon pesawat mangkrak pun jadi bertambah meskipun belum jelas ada berapa pesawat yang akan terdampak.

Kemudian, pilihan untuk memarkirkan pesawat di apron bandara pun juga bukan pilihan bagus, mengingat, pesawat tetap harus membayar biaya parkir pesawat dan tetap harus melaksanakan perawatan rutin. Setidaknya, setiap pesawat membutuhkan kocek sebesar Rp43 miliar untuk perawatan rutin, mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

Hanggar 4 GMF. Sumber: Twitter

Pada dasarnya, perawatan rutin tidak melihat pesawat digunakan atau tidak. Tentu, hal tersebut akan sangat menyedihkan maskapai. Sudah pesawat tidak menghasilkan (karena tidak melayani penumpang), namun di sisi lain tetap harus mengeluarkan uang untuk membayar biaya parkir dan perawatan pesawat. Kondisi yang sangat sulit bagi maskapai.

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $29 miliar atau Rp417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Celakanya, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit loss) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia.

Baca juga: Penutupan Rute dari dan ke Seluruh Cina Daratan, Berpotensi Hanguskan Triliunan Rupiah

Menariknya, berkaca pada peristiwa serupa (wabah SARS), upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Jika sudah begini, bagaimana kah strategi maskapai untuk memaksimalkan armadanya yang mangkrak akibat penutupan rute dari dan ke Cina, rute umroh, serta rute-rute internasional lainnya yang juga terdampak akibat virus corona sampai iklim penerbangan global benar-benar pulih kembali? Khusus untuk Garuda Indonesia, di tengah kewajiban membayar utang sebesar Rp6,8 Triliun yang sudah jatuh tempo, bagaimana kah upaya maskapai pelat merah tersebut? Akankah bernasib sama dengan anak perusahaannya, Merpati Airlilnes?

Di Inggris, Penyandang Tuna Netra dan Tuna Rungu Semakin Terancam di Moda Kereta Komuter

Penyandang disabilitas seperti tuna netra dan tuna rungu (tuli) kerap kali menjadi yang terkesampingkan ketika terkait masalah kereta komuter di Inggris. Bahkan terkesan dianggap seperti penumpang normal lainnya yang bisa dengan jelas tahu keadaan stasiun dan keterlambatan kereta.

Baca juga: Di Inggris, Penyandang Disabilitas Tak Terlayani dengan Baik di Stasiun dan Kereta

Hal ini membuat mereka seringkali tertekan karena tidak tahu dengan jelas kondisi stasiun dan perjalanan kereta. Tak hanya itu, bahkan anjing penuntun mereka sering terinjak dan terdorong tas.

Para tuna netra ini juga sering di dorong penumpang lainnya dan di dalam kereta sering duduk di lantai. KabarPenumpang.com melansir birminghammail.co.uk (24/2/2020), karena hal ini manajer kebijakan dan kampanye regional Guide Dogs, Alexandra Jones mengatakan, meningkatnya ketakutan dan ketidakpastian terkait pengguna kereta api, membuat banyak orang dengan tuna netra dan tuli terkena dampak.

Hal inilah yang membuatnya kemudian membagikan kisah-kisah para disabilitas tersebut di sebuah audiensi publik yang diadakan oleh Polisi West Midlands dan Komisaris Kejahatan David Jamieson. Alexandra bergabung dengan David Smith dan anjing penuntunnya Darcy pada pertemuan 21 Februari 2020 kemarin.

“Secara tradisional, ini telah menjadi mode transportasi penyandang tuna netra dan tuli. Ini cukup nyaman dan mereka percaya diri saat menggunakannya. Namun sekarang kami mulai melihat banyak orang mengatakan bahwa mereka sekarang mulai merasa semakin tidak aman atau tidak pasti dengan penggunaan jaringan keret api di wilayah tersebut,” ujar Alexandra.

Dia menambahkan satu dari lima orang memberitahu mereka bahwa banyak yang aktif menghindari perjalanan kereta api karena ada begitu banyak ketidakpastian di sekitar mereka. Pengguna layanan di wilayah tersebut memberitahu Alexandra bahwa mereka harus melakukan perubahan pada kehidupan sehari-hari termasuk hal-hal seperti mempertimbangkan untuk berhenti bekerja atau mengubah jam kerja demi menghindari kereta yang penuh sesak dan tekanan terkait dengan pembatalan, keterlambatan dan gangguan.

“Kami benar-benar prihatin dengan hal ini di Guide Dogs karena kami sudah tahu bahwa tingkat pengangguran untuk orang yang tuna netra sangat tinggi. Mereka jauh lebih tinggi jumlahnya daripada kelompok penyandang disabilitas lainnya dan 75 persen populasi usia kerja,” tambah Alexandra.

Baca juga: Tak Dapat Kursi, Inilah Derita Penumpang Tunanetra di Kereta Komuter Inggris

Anjing pemandu melakukan panggilan untuk pengalaman dari pengguna kereta api tuna netra yang terlihat di Midlands. Alexandra mengatakan, kepadatan menjadi masalah besar dan pihaknya memandu pemilik anjing untuk berbicara tentang duduk di lantai.

130 Kasus Virus Corona di Perancis, Museum Louvre Ditutup

Virus corona yang kini sudah menyebar ke lebih dari 60 negara membuat museum terkenal di Perancis yakni Museum Luovre harus tutup pada hari Minggu kemarin. Penutupan ini setelah kasus virus corona meningkat di seluruh Eropa dan sekitarnya.

Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Musemu Louvre sendiri menjadi yang paling banyak dikunjungi pelancong di dunia dan beberapa pelancong yang datang pada Minggu sore mengeluh karena penutupan tersebut. KabarPenumpang.com melansir laman alkhaleejtoday.co (1/3/2020), keluhan tersebut karena pelancong telah memesan tiket pada pagi yang sama tanpa ada pemberitahuan apapun terkait penutupan museum.

Diketahui, di Perancis sendiri sudah ada 130 kasus yang dikonfirmasi dan dua yang meninggal dari virus corona ini. Negara yang terkenal dengan menara Eiffelnya ini melarang pertemuan lima ribu orang atau lebih. Mereka juga menutup sekolah dan membatalkan layanan keagamaan di beberapa zona yang terdampak.

Ternyata pada hari Minggu kemarin, tak hanya Museum Louvre yang tutup tetapi pagelaran marathon di Paris juga dibatalkan. Dua kasus yang dikonfirmasi di Perancis pada hari Minggu adalah anak-anak berusia satu dan lima tahun serta ibu mereka yang berusia 27 tahun di kota Strasbourg timur.

Namun, meski begitu, di Perancis tidak ada anak di bawah sepuluh tahun yang dilaporkan meninggal karena virus corona itu. Virus corona saat ini juga telah mengguncang pasar global dan mendorong langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintah yang berebut untuk menanggulangi wabah tersebut.

Saat ini World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia sudah memperingatkan dan menghimbau seluruh dunia akan bahayanya virus ini. Di Amerika Serikat dan Australia mengumumkan kematian akbiat virus corona pertama mereka selama akhir pekan.

Sedangkan Cina melaporkan adanya 573 infeksi baru pada hari Minggu. Virus corona sendiri menyebar dengan cepat melintasi perbatasan dengan Korea Selatan, Italia dan Iran yang saat ini menjadi salah satu negara terbanyak yang terinfeksi.

Dalam beberapa hari terakhir, epidemi telah menyebar ke Afrika sub-Sahara, sementara Armenia dan Republik Ceko melaporkan kasus pertama mereka pada hari Minggu, dan kasus-kasus di Jerman berlipat ganda. Pada hari Minggu, Kementerian Kesehatan Kerajaan Bahrain mengatakan telah mendaftarkan tujuh kasus baru yang dikonfirmasi dari virus corona, meningkatkan total kasus yang dikonfirmasi menjadi 33.

Semua orang yang berhubungan dengan pasien yang terinfeksi juga telah dikarantina sebagai upaya pencegahan. Qatar, Ekuador, Luksemburg dan Irlandia semuanya mengkonfirmasi kasus pertama mereka pada hari Sabtu ketika virus melanjutkan pawai globalnya di luar perbatasan China.

Negara yang paling terpukul di Eropa Italia mengatakan pada hari Minggu pihaknya akan mengirimkan 3,6 miliar euro ($4 juta) dalam bantuan darurat untuk sektor-sektor yang terkena virus. Italia mengalami lonjakan kasus baru pada Sabtu, sehingga jumlah total infeksi mencapai di atas seribu, dengan 29 kematian.

Wabah ini juga memaksa penundaan lima pertandingan di liga sepak bola Serie A teratas Italia, termasuk pertandingan kelas berat antara juara Juventus dan Inter Milan. Bahkan di Indonesia hari ini, Senin (2/3/2020) mengumumkan dua orang positif terinfeksi virus corona dan sudah masuk dalam ruang isolasi serta rumah sakit dan orang-orang yang berhubungan dengan dua pasien ini sudah di karantina.

Kekhawatiran memuncak bahwa penyakit ini dapat membahayakan ekonomi global. Pasar saham di negara-negara Teluk yang kaya minyak anjlok pada hari Minggu setelah bursa global terpuruk minggu lalu, merosot ke level terendah sejak krisis keuangan 2008.

Ekonomi Cina juga terpukul ketika pabrik-pabrik tutup dan jutaan orang tinggal di rumah setelah pemerintah memberlakukan tindakan penguncian di seluruh petak negara.
Dengan kematian dari virus corona yang terdaftar di AS, Thailand dan Australia selama akhir pekan dan kasus-kasus baru masih melonjak di Italia dan Iran, para pedagang memulai minggu ini dengan gelisah.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Ekonom Goldman Sachs sekarang memperkirakan virus itu akan menimbulkan “kontraksi global jangka pendek” pada ekonomi dunia yang memaksa The Fed untuk memangkas suku bunga di babak pertama. Ketua Fed Jerome Powell telah membuka pintu untuk penurunan suku bunga, mengutip “risiko yang berkembang” yang ditimbulkan pada ekonomi AS dari virus, dalam sebuah pernyataan langka yang dikeluarkan pada hari Jumat.

United Airlines Larang Awak Kabinnya ikut #OverheadBinChallenge

Masuk ke dalam bagasi kabin pesawat sepertinya sudah dilakukan oleh para awak kabin beberapa dekade lalu. Namun baru-baru ini kembali viral karena dibagikan ke beberapa platform media sosial.

Baca juga: Tim Fisikawan Internasional Temukan Cara Terbaik Minimalisir Kepadatan Dalam Kabin

Bahkan ada tagar yakni #OverheadBinChallenge yang makin memudahkan untuk mencari foto para awak kabin yang tengah berada di dalam tempat penyimpanan barang bawaan penumpang tersebut. Viralnya challenge ini kemudian membuat banyak awak kabin mengikutinya dan mengunggah di media sosial mereka masing-masing.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman paddleyourownkanoo.com (29/2/2020), berbagai pose terlihat begitu menarik. Salah satunya adalah foto badan awak kabin yang masuk ke tempat penyimpanan dengan kaki yang menggantung keluar.

Posisi seperti orang tidur tengkurap pun menjadi yang populer lainnya. Di Instagram dengan kata kunci pencarian #OverheadBinChallenge, Anda bisa menemukan foto-foto viral tersebut.

Dari penelusuran yang dilakukan KabarPenumpang.com melalui #OverheadBinChallenge ternyata yang melakukannya lebih banyak adalah pramugari. Karena hal ini, maskapai United Airlines kemudian melarang para awak kabinnya untuk mengikuti challenge tersebut.

Faktor utama pelarangan tersebut adalah untuk keselamatan para awak kabin itu sendiri. Manajemen maskapai mengatakan, agar awak kabin mereka tidak berpikir untuk memposting gambar-gambar semacam itu di media sosial untuk menjaga sikap profesional mereka.

Untuk saat ini, United Airlines telah memutuskan untuk menghindari proses disiplin formal untuk pelanggaran pertama jika ada awak kabinnya yang mengikuti #OverheadBinChallenge. Jika pelanggaran berulang maka akan ada sanksi yang lebih tegas lagi dari pihak United Airlines.

“Kami mengharapkan foto mereka yang diposting di media sosial menunjukkan hubungan dengan maskapai untuk menjadi profesional,” ujar maskapai tersebut.

Baca juga: Intip Secret Airplane Bedrooms, Tempat Awak Kabin Melepas Penat

Seiring dengan foto-foto overhead bin, United Airlines juga telah melarang lokasi foto favorit anggota kru lainnya seperti bagian dalam penutup mesin pesawat terbang. Namun ternyata bukan hanya United Airlines yang melarang foto semacam ini. Lagi pula, maskapai sebenarnya meminta karyawan untuk mempromosikan perusahaan di saluran media sosial mereka.

 

 

Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

Lebih dari 13.000 penerbangan dalam sehari hilang akibat virus corona. Menurut Flightradar24, hanya dalam tiga minggu, mulai 23 Januari hingga 13 Februari, jumlah keberangkatan dan kedatangan harian untuk penerbangan domestik dan internasional turun menjadi hanya 2.004, dari 15.072.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Bila dilihat dari sisi negatif, turunnya frekuensi penerbangan tersebut tentu sangat banyak. Sebut saja pendapatan para pilot dan pramugari (sebab mereka dibayar mengikuti banyaknya jam terbang), pendapatan pengelola bandara, pengelola ruang udara (air navigation charge), pengelola ground handling, bahkan berbagai perusahaan jasa, seperti bus, kereta (bandara), taksi, hingga wrapping sekalipun, yang kesemuanya mengalami penurunan pendapatan. Namun, dibalik banyaknya sisi negatif, ternyata juga terdapat sisi positif.

Dikutip dari laman bbc.com, Senin, (2/3), sepinya ruang udara rupanya membuat tingkat polusi di Cina menurun. Hal itu diketahui dari hasil potret satelit milik Badan Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA) yang menunjukkan kadar polusi gas nitrogen dioksida berkurang drastis. Gas ini biasanya dihasilkan oleh fasilitas industri dan asap kendaraan. Termasuk di dalamnya emisi karbon yang dihasilkan oleh pesawat.

Pasalnya, perjalanan udara selama ini juga disinyalir turut menyumbang emisi peningkatan emisi karbon dunia. Menurut NASA, untuk pertama kalinya fenomena ini terjadi, dengan tingkat penurunan drastis serta melibatkan area penurunan yang lebih luas.

“Ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan penurunan dramatis tingkat polusi pada area yang luas karena kejadian tertentu,” kata Fei Liu, peneliti kualitas udara NASA.

Menurut NASA biasanya tingkat polusi memang akan berkurang setiap awal tahun akibat perayaan imlek. Namun demikian hal tersebut tidak berlangsung lama karena orang-orang akan kembali beraktivitas seperti biasa.

“Pengurangan tingkat polusi tahun ini lebih signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan lebih lama,” lanjutnya.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Meski demikian, maraknya langkah-langkah preventif dari berbagai negara di dunia dalam mencegah penyebaran virus corona, salah satunya seperti mengurangi penerbangan dari dan ke Cina, membuat ia tak terlalu kaget atas bukti turunnya polusi dari citra satelit tersebut.

“Saya tidak terkejut karena banyak kota di seluruh negeri telah mengambil tindakan untuk meminimalkan penyebaran virus.”