Peringatan 118 Tahun: Cornu Helicopter, Penerbangan Vertikal Bersejarah Pertama di Dunia

Hari ini, 13 November 2025, menandai peringatan 118 tahun penerbangan perdana Cornu Helicopter yang dirancang oleh insinyur asal Perancis, Paul Cornu. Meskipun hanya berlangsung singkat, momen pada tahun 1907 ini dicatat sejarah sebagai penerbangan bebas (un-tethered) pertama yang dilakukan oleh mesin vertical-lift bertenaga, membawa manusia sejengkal lebih dekat ke impian terbang vertikal.

Pada awal abad ke-20, setelah Wright bersaudara berhasil membuktikan penerbangan pesawat sayap tetap (fixed-wing), para penemu Eropa berlomba-lomba untuk memecahkan misteri penerbangan vertikal. Paul Cornu, seorang insinyur mekanik dari Lisieux, Perancis, adalah salah satu yang paling gigih.

Cornu Helicopter tidak terlihat seperti helikopter modern. Ia menggunakan konfigurasi rotor tandem (dua rotor besar yang diletakkan di depan dan belakang sumbu pesawat) yang berputar berlawanan arah untuk meniadakan torsi.

Cornu Helicopter ditenagai oleh mesin Antoinette 24 tenaga kuda (hp) yang relatif ringan, yang digunakan untuk menggerakkan kedua rotor.

Paul Cornu

Tantangan terbesar pada saat itu adalah kontrol. Cornu mencoba mengatasi torsi dan menyediakan dorongan ke depan menggunakan baling-baling yang dapat dimiringkan (swiveling vanes) yang ditempatkan di jalur udara rotor. Ini adalah mekanisme yang sangat primitif dari apa yang kita kenal sekarang sebagai kontrol cyclic dan collective.

Pada 13 November 1907, di Coquainvilliers, Perancis, Cornu memutuskan untuk melakukan uji coba terbang. Meskipun laporan kontemporer sering kali melebih-lebihkan ketinggian, sejarah mencatat bahwa Paul Cornu berhasil menerbangkan helikopter buatannya setinggi sekitar 30 sentimeter (satu kaki) dari tanah, membawa dirinya sendiri sebagai pilot.

Yang menjadikan penerbangan ini bersejarah adalah helikopter tersebut tidak diikat dengan kabel (un-tethered) dan kenaikan vertikal sepenuhnya didorong oleh tenaga mesin, bukan otot atau daya dorong eksternal.

Meskipun Cornu hanya mampu mempertahankan posisi melayang (hover) selama kurang dari satu menit dan tidak ada mekanisme kontrol yang efektif, ia telah membuktikan prinsip dasar bahwa rotor bertenaga dapat mengangkat berat badan manusia dan mesin ke udara.

Sayangnya, helikopter Cornu tidak pernah dikembangkan lebih lanjut menjadi mesin yang praktis. Masalah utamanya adalah kurangnya sistem kontrol yang memadai. Paul Cornu kesulitan mempertahankan stabilitas dan arah terbang. Mesin tersebut hanya dapat melayang singkat dan tidak dapat dikendalikan dalam arti operasional.

Penerbangan helikopter praktis yang sesungguhnya harus menunggu penemuan sistem cyclic dan collective pitch control yang lebih baik, yang kemudian berhasil dikembangkan oleh penemu-penemu seperti Juan de la Cierva (dengan autogiro-nya) dan, yang paling signifikan, Igor Sikorsky pada tahun 1930-an dan 1940-an.

Meskipun demikian, Paul Cornu tetap diabadikan sebagai salah satu pionir penerbangan vertikal. Eksperimennya pada tahun 1907 membuktikan bahwa teori penerbangan vertikal bisa diwujudkan. Ia membuka jalan bagi generasi insinyur yang kemudian berhasil memecahkan tantangan rumit dalam menciptakan kontrol dan stabilitas yang menjadikan helikopter alat yang tak tergantikan di dunia modern.

Lockheed Martin Rayakan 100 Tahun Inovasi Sikorsky – Pionir Produksi Helikopter Modern

KA Blambangan Ekspres, Kereta Jakarta–Banyuwangi 16 Jam 30 Menit Tanpa Transit

Merasakan perjalanan kereta api (KA) dari Jakarta ke Banyuwangi ataupun sebaliknya hingga kini sudah tak perlu repot lagi untuk transit. Dengan waktu yang sangat fleksibel karena keberangkatan dan kedatangan yang cocok, menggunakan KA ini sudah terasa nyaman dengan fasilitas yang disediakan.

Ya, menggunakan KA Blambangan Ekspres sudah menjadi solusi terbaik dan satu-satunya kereta api melayani dari barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Diketahui bahwa KA Blambangan Ekspres menjadi satu-satunya rute terpanjang. Kereta itu melaju selama 16 jam dan 30 menit.

Perjalanan dengan KA Blambangan Express dijanjikan nyaman untuk penumpang kendati dengan kereta api ekonomi. KAI menyebut KA Blambangan Express memiliki fasilitas standar kelas ekonomi, termasuk AC, reclining seat, dan toilet di dalam kereta.

Rute yang dilewati KA ini memiliki kecepatan diatas 90 km/jam, yaitu melewati sepanjang jalur utara. Tentu stasiun-stasiun yang disinggahi KA Blambangan Ekspres ini meliputi Stasiun Cirebon, Stasiun Tegal, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Bojonegoro, Stasiun Lamongan, dan Stasiun Surabaya Pasar Turi.

Setelah singgah di Stasiun Pasar Turi, KA Blambangan Ekspres pun berlanjut menuju Stasiun Surabaya Gubeng lalu melewati Stasiun Sidoarjo, Stasiun Bangil sampai berakhir di Stasiun Ketapang, Banyuwangi. Penumpang juga bisa menikmati layanan pembelian tiket online melalui aplikasi KAI Access atau loket stasiun, sehingga perjalanan menjadi lebih praktis dan efisien.

Harga tiket KA Blambangan Ekspress kelas ekonomi rute Jakarta-Banyuwangi adalah Rp505 ribu. Sedangkan untuk kelas eksekutif adalah Rp775 ribu. Keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen adalah pukul 12.10 WIB dan tiba di Stasiun Ketapang pukul 04.04 WIB. Lalu keberangkatan dari Stasiun Ketapang pukul 15.45 WIB dan tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 08.16 WIB.

Kereta api Blambangan Ekspres menyediakan rute pulang-pergi untuk Jakarta – Banyuwangi. Fasilitas yang ditawarkan KA ini pun cukup nyaman. Seperti pada kereta kelas ekonomi yang hingga kini menggunakan ekonomi new generation. Kelas ekonomi ini terdiri dari 19 baris dan 72 kursi dalam satu kereta.

Nah, kereta yang dimodifikasi itu memiliki leg room yang lebih luas, lalu tipe captain seat atau kursi terpisah, dan sandaran di kedua sisi, yang bisa diatur posisinya searah laju kereta atau berhadapan. Interior kereta juga dimodifikasi dengan warna yang lebih cerah, bagian bagasi didesain mirip dengan kereta eksekutif. Selain itu, toilet dibuat senyaman mungkin dan terdapat mushola di kereta restorasi.

Dengan harga yang wajar tapi memiliki fasilitas yang nyaman, pastinya penumpang bakal betah dengan rute perjalanan terjauh. KA Blambangan Ekspres tetap menjadi primadona yang menemani penumpang dari ujung barat sampai dengan ujung timur Pulau Jawa tanpa harus berpindah kereta api. Penumpang tinggal menikmati perjalanan dan fasilitas yang disediakan dengan baik.

Melihat Segitiga Pemutar Lokomotif yang Masih Bertahan di Ujung Timur Jawa

Meskipun Masih Gunakan Single Track, Headway Jalur Citayam–Nambo Bakal Ditingkatkan

Sebagai pengguna setia Kereta Rel Listrik (KRL) khususnya jalur selatan, kini patut lega. Ya, jalur yang biasa dikenal sebagai jalur sibuk ini ternyata bisa memiliki jarak yang lebih cepat dari biasanya. Karena baru-baru ini ada jalur KRL yang headway-nya makin ditingkatkan, yaitu pada jalur Citayam – Nambo.

Sebagaimana diketahui bahwa jalur yang biasa dilintasi KRL rute Cirayam – Nambo ini masih menggunakan jalur tunggal (single track). KRL yang melintas pun cukup banyak dengan rata – rata penumpang yang cukup ramai. Jalur Citayam – Nambo melewati 2 stasiun yaitu Stasiun Pondok Rajeg dan Stasiun Cibinong.

Dijuluki ‘Stasiun Rock Bottom’, Nambo Ternyata Memiliki Asal Usulnya Begini

Nah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tengah mempercepat penataan dan optimalisasi transportasi publik di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi. Salah satu fokus utamanya adalah optimalisasi jalur KRL lintas Nambo – Citayam, yang dinilai strategis untuk menambah kapasitas dan frekuensi perjalanan penumpang.

Mayoritas penumpang yang ramai gunakan KRL lintas tersebut terlihat di Stasiun Cibinong. Stasiun ini terlihat pada jam keberangkatan pagi hari dan kedatangan pada sore hingga malam hari. Volume kepadatan di Stasiun Cibinong sudah terbukti karena berada paling strategis dekat pemukiman, pasar, maupun jalan raya yang menghubungkan Bogor – Jakarta.

Jalur Citayam – Nambo Akan Beroperasi Satu Stasiun Baru, Apa Itu?

Saat ini pemerintah bersama jajaran direksi KAI tengah melakukan percepatan waktu perjalanan KRL di jalur tersebut. Diketahui bahwa lintas Citayam – Nambo memiliki headway satu jam lebih hanya untuk menunggu KRL tiba. Namun nantinya headway perjalanan KRL bisa mencapai setiap 15 menit.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, bahwa saat ini lintasan Nambo masih menggunakan jalur tunggal (single track) dengan frekuensi perjalanan sekitar satu jam sekali. Kondisi ini membatasi kapasitas angkut penumpang dari arah Bogor menuju Jakarta. Tapi kedepannya frekuensi bisa ditingkatkan menjadi setiap 15 menit.

Peningkatan ini juga diiringi dengan penyesuaian infrastruktur di sejumlah stasiun. Bobby menyebut saat ini panjang peron di beberapa stasiun di Bogor masih terbatas dengan panjang rangkaian 8 – 10 Stamformasi (SF), sehingga belum mampu menampung rangkaian KRL 12 kereta.

Jika menginginkan menjadi rangkaian KRL 12 SF pastinya akan ada perpanjangan peron agar memudahkan masyarakat untuk naik dan turun kereta. Langkah kolaboratif antara Pemda Provinsi Jawa Barat dan PT KAI ini diharapkan menjadi bagian dari transformasi transportasi publik menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan di wilayah metropolitan Jawa Barat.

Mengintip Jenis Commuter Line di Luar Jakarta

Jembatan Hongqi di Sichuan Runtuh Akibat Longsor, Infrastruktur Baru Cina Jadi Sorotan

Sebuah insiden kegagalan infrastruktur besar mengguncang Cina bagian barat daya setelah Jembatan Hongqi yang baru saja dibuka di Provinsi Sichuan ambruk sebagian pada hari Selasa sore (kemarin). Runtuhnya jembatan sepanjang 758 meter ini dipicu oleh longsor yang disebabkan oleh kondisi geologis yang tidak stabil di wilayah pegunungan yang curam.

Jembatan Hongqi merupakan bagian penting dari Jalan Raya Nasional 317, yang menghubungkan Cina bagian tengah dengan Tibet. Proyek ini rampung dan dibuka untuk lalu lintas umum pada awal tahun 2025 (dengan konstruksi bentangan utama selesai pada Januari 2025). Jembatan ini dirancang untuk mempermudah akses dan memangkas waktu perjalanan di daerah yang sulit tersebut.

Menurut laporan dari pemerintah Kota Maerkang, runtuhnya jembatan disebabkan oleh ketidakstabilan lereng gunung yang berada di dekatnya. Kondisi geologis memburuk, menyebabkan retakan besar pada lereng bukit dan jalan pendekatan di sisi kanan jembatan.

Cina Resmikan Stasiun Chongqing Timur – Stasiun Kereta Terbesar di Dunia, Luasnya Setara 170 Lapangan Sepak Bola

Beruntung, insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Pihak berwenang setempat telah mendeteksi retakan dan pergeseran tanah pada hari Senin sore (sehari sebelum kejadian). Berkat pemantauan cepat ini, Jembatan Hongqi segera ditutup total untuk semua lalu lintas dan pejalan kaki.

Rekaman video dramatis yang beredar luas di media sosial menunjukkan detik-detik ketika longsor besar menghantam dasar jembatan dan jalan pendekatan. Dalam hitungan detik, sebagian besar struktur beton, tiang penyangga, dan jalan pendekatan ambruk ke sungai di bawahnya, meninggalkan kepulan debu yang masif.

Jembatan ini berlokasi di dekat Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Shuangjiangkou, di Kota Maerkang, sebuah area yang dikenal dengan medan pegunungan yang sulit dan kondisi geologis yang rentan terhadap pergerakan tanah.

Meskipun pejabat daerah menyatakan bahwa runtuhnya jembatan ini dipicu oleh faktor lingkungan (longsor), bukan cacat struktural pada jembatan itu sendiri, insiden ini telah memicu kembali kekhawatiran publik mengenai kualitas dan durabilitas proyek-proyek infrastruktur besar Cina, terutama yang dibangun di provinsi barat yang memiliki aktivitas geologis tinggi.

Runtuhnya Jembatan Hongqi terjadi hanya beberapa bulan setelah selesai dibangun, menambah daftar insiden infrastruktur baru-baru ini di Cina. Saat ini, tim investigasi dan insinyur telah dikirim ke lokasi untuk menstabilkan lereng yang tersisa dan melakukan pemeriksaan teknis mendalam guna memastikan apakah ada faktor desain atau konstruksi yang turut berkontribusi terhadap bencana alam ini.

Hanya 2 Menit! Jembatan Tertinggi di Dunia Resmi Dibuka di Cina, Pangkas Waktu Tempuh 2 Jam

Memecah Jarak: Kereta Cepat Sydney-Newcastle Akhirnya Diberi Lampu Hijau

Proyek kereta cepat yang telah lama dinantikan di Australia, yang menghubungkan dua kota terbesar di New South Wales, Sydney dan Newcastle, kini semakin mendekati kenyataan. Setelah evaluasi positif dari Infrastructure Australia, koridor ini, yang akan menjadi tahap pertama dari jaringan Kereta Cepat Nasional (HSR) di Pantai Timur, siap untuk mengubah dinamika kehidupan, pekerjaan, dan perjalanan regional di Australia.

Pemerintah Australia memprioritaskan jalur Sydney-Newcastle (sekitar 194 km) karena adanya masalah dan peluang kritis di koridor tersebut. Koridor ini diperkirakan akan menampung tambahan 9,2 juta orang pada tahun 2061.

Dengan biaya perumahan yang sangat tinggi di Sydney, kereta cepat diharapkan dapat membuka kawasan regional seperti Central Coast dan Newcastle sebagai lokasi perumahan yang layak, mengurangi tekanan perumahan di kota metropolitan.

Perjalanan kereta saat ini memakan waktu lebih dari 2,5 jam. Kereta cepat yang mampu melaju hingga 320 km/jam (dan 200 km/jam di terowongan perkotaan) akan memangkas waktu tempuh menjadi hanya 1 jam antara Newcastle dan Sydney Central. Tujuan utamanya adalah menciptakan hubungan yang efisien antara pusat-pusat regional dengan ibu kota, mengubah dinamika komuter dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah regional.

Australia, Jadi Satu-satunya Benua Tanpa Kereta Cepat!

Layanan kereta cepat ini diperkirakan akan memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang masif, seperti penciptaan perumahan (Land Unlock). Sekitar 58% dari manfaat yang diproyeksikan berasal dari potensi dibukanya lahan (unlocking land) di wilayah regional, yang dapat menciptakan hingga 150.000 rumah baru. Juga memungkinkan penduduk di Newcastle dan Central Coast untuk mengakses peluang kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan di Sydney, tanpa harus pindah dari komunitas regional mereka.

Dengan kecepatan yang lebih kompetitif daripada mengemudi atau bahkan penerbangan pendek, kereta cepat diharapkan dapat mengurangi kemacetan jalan raya dan memindahkan penumpang dari moda transportasi yang kurang ramah lingkungan.

Meskipun potensi manfaatnya besar, proyek sebesar ini bukannya tanpa risiko dan tantangan, terutama dalam kaitannya dengan masyarakat regional, seperti risiko kenaikan harga properti. Kereta cepat akan menjadikan kawasan Central Coast dan Lake Macquarie sebagai kawasan komuter yang sangat menarik ke Sydney. Hal ini berpotensi menyebabkan kenaikan harga properti yang cepat di kota-kota kecil tersebut.

Jika Berkuasa, Partai Buruh Akan Buka Rute Kereta Berkecepatan Tinggi di Australia

Kenaikan harga ini dapat mengorbankan penduduk lokal yang sudah lama tinggal, di mana mereka mungkin tidak mampu lagi membeli atau menyewa di komunitas mereka sendiri karena masuknya komuter berkantong tebal dari Sydney.

Ada risiko bahwa kota-kota regional, seperti Central Coast, hanya akan berfungsi sebagai “kota tidur,” di mana penduduknya hanya pulang untuk tidur dan menghabiskan sebagian besar penghasilan dan waktu mereka di Sydney.

Kereta cepat hanya akan berhasil jika diikuti oleh investasi besar pada infrastruktur lokal (sekolah, layanan kesehatan, jalan lokal) untuk mendukung lonjakan populasi. Tanpa investasi ini, pertumbuhan regional dapat menyebabkan ketegangan sosial dan sistemik.

Jalur sepanjang 194 km ini memerlukan pembangunan yang kompleks, termasuk sekitar 115 km terowongan untuk melintasi pegunungan dan memasuki Sydney. Biaya konstruksi di area perkotaan padat akan sangat tinggi. Proyek HSR biasanya membutuhkan dukungan finansial dan politik yang masif dan berkelanjutan dari pemerintah federal. Keraguan atau perubahan pemerintahan di masa depan dapat menunda atau bahkan membatalkan proyek.

Saat ini, proyek Sydney-Newcastle berada dalam Fase Pengembangan, di mana Otoritas Kereta Cepat Tinggi akan menyelesaikan hingga 40% desain, mengamankan jalur koridor, dan memfinalisasi perkiraan biaya sebelum diserahkan untuk persetujuan konstruksi akhir oleh Pemerintah Federal.

Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal

Hore! Stasiun Jakarta Kota Bakal Punya Monumen KRL, Ini Kata Dirut KCI

Stasiun Jakarta Kota kembali diramaikan dengan acara spesial yang kembali membuat para pecinta kereta api ini hadir. Serangkaian acara termasuk pelepasan/purnatugas rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) yang telah dipilih, yakni seri 8500, 203 dan 7000.

Direktur Utama PT KAI Commuter, Asdo Artriviyanto mengatakan pada hari tersebut, ketiga seri KRL tersebut resmi pensiun melayani penumpang KRL Jabodetabek pada Selasa (11/11).

Pecinta kereta api melambaikan tangan dan berteriak “arigatou” saat purnatugas di wilayah Jabodetabek.

Dalam acaranya sendiri, KRL Seri 8500 menjadi KRL tertua di Jabodetabek saat ini, di mana sejak beroperasi di Jepang hingga di Indonesia, usianya sudah mencapai setengah abad atau 50 tahun. Namun di Indonesia, usianya sudah hampir 20 tahun.

Penjelasan sejarah secara singkat mengatakan, KRL Seri 8500 sendiri diproduksi oleh Tokyu Car Corporation pada 1975, di mana saat ini namanya sudah berubah menjadi Japan Transport Engineering Company (J-Trec). Di Jepang, KRL ini dioperasikan oleh Tokyu Corporation.

Acara pelepasan diwarnai sorak-sorai dan tepuk tangan panjang saat ketiga KRL terakhir kali masuk peron Stasiun Jakarta Kota. Sejumlah penumpang bahkan membawa poster bertuliskan “Terima Kasih KRL Jepang” dan bunga sebagai bentuk penghormatan.

PT KAI Commuter memastikan pensiunnya tiga rangkaian lawas ini tidak akan mengganggu jadwal perjalanan. Sebagai gantinya, perusahaan telah menyiapkan armada baru seri KRL INKA 2024 buatan dalam negeri yang mulai dioperasikan secara bertahap di lintas utama Jabodetabek.

Disela-sela wawancara daat konferensi pers, Asdo menambahkan bahwa berencana akan membuat hal yang menggembirakan bahkan ini menjadi pertama dalam sejarah Stasiun Jakarta Kota. Hal tersebut dikatakan bahwa rangkaian KRL yang sudah pensiun terutama bagian kabin, akan dijadikan monumen dan diletakkan bagian utara luar stasiun.

Hal ini menjadi kabar menggembirakan bahwa akhirnya Stasiun Jakarta Kota akan memiliki monumen KRL tersendiri untuk mengenang masa kejayaan saat bertugas di Jabodetabek. Selain itu KRL yang akan dipurnatugaskan akan dikonservasi di Stasiun Pasirbungur, Subang, Jawa Barat.

Pensiunnya tiga KRL eks Jepang di Stasiun Jakarta Kota menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah transportasi perkotaan Indonesia. Meski era baru dengan armada modern telah dimulai, kenangan dan jasa kereta-kereta lawas itu akan selalu hidup di hati para penumpang yang pernah merasakan perjalanan bersamanya.

“Bon Bon,” Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

‘Kill Switch’ dari Beijing? Norwegia Tarik Ratusan Bus Listrik Setelah Temukan Akses Jarak Jauh ke Cina

Revolusi transportasi hijau di Eropa baru-baru ini menghadapi guncangan keras. Otoritas transportasi publik di Oslo, Norwegia, Ruter, menemukan adanya kerentanan keamanan siber yang mengejutkan pada armada bus listrik buatan Cina.

Temuan ini—kartu SIM tersembunyi yang memungkinkan akses digital jarak jauh oleh produsen dari luar negeri—telah memicu kekhawatiran serius tentang potensi “sakelar pemutus” (kill switch) yang dapat mengganggu, bahkan menonaktifkan, bus dari jarak ribuan kilometer.

Kasus ini berpusat pada bus listrik Yutong, pabrikan raksasa Cina yang mendominasi pasar bus listrik di Eropa, termasuk Norwegia. Ruter, yang mengoperasikan sekitar 300 bus Yutong di wilayah Oslo dan Akershus, melakukan audit keamanan siber yang ketat setelah meningkatnya kekhawatiran geopolitik

Yutong, Manufaktur Bus Terbesar di Dunia, Pernah Melayani TransJakarta

Hasil pengujian menyingkap adanya kartu SIM aktif (dilaporkan berasal dari Rumania) yang terintegrasi di dalam modem sistem kontrol bus. SIM ini bukan untuk penumpang, melainkan memungkinkan produsen, Yutong, untuk secara rutin mengakses sistem kontrol bus.

Meskipun produsen mengklaim akses jarak jauh ini murni untuk tujuan diagnostik, pemeliharaan prediktif, dan pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA), Ruter menemukan potensi kerentanan yang tidak dapat diterima, akses jarak jauh yang tidak sepenuhnya dikontrol oleh operator lokal menciptakan potensi celah bagi pihak asing.

Ancaman Kill Switch dalam skenario terburuk, Ruter menyimpulkan bahwa akses tersebut secara teknis dapat digunakan untuk mengirimkan perintah yang mengganggu fungsi operasional atau menonaktifkan bus saat sedang bergerak, yang memiliki implikasi keamanan publik yang mengerikan.

Kekhawatiran Norwegia adalah tentang kedaulatan digital. Akses backdoor ini, meskipun tidak ada bukti penyalahgunaan saat ini, berpotensi mengubah bus menjadi target serangan siber state-sponsored yang dapat melumpuhkan jaringan transportasi penting.

Menanggapi risiko ini, Ruter mengambil langkah drastis, yaitu pencabutan SIM Card, seluruh kartu SIM yang memungkinkan koneksi jarak jauh segera dicabut dari bus-bus Yutong yang beroperasi di wilayah Oslo.

Bus-bus tersebut kini dipaksa beroperasi dalam mode lokal dan offline. Hal ini mengembalikan kontrol penuh kepada operator Norwegia tetapi sebagai konsekuensinya, bus tidak lagi menerima pembaruan perangkat lunak otomatis atau diagnostik jarak jauh yang dapat mengoptimalkan kinerja dan pemeliharaan.

Penemuan di Norwegia ini telah bergema di seluruh Eropa. Negara-negara yang memiliki armada bus listrik buatan Cina dalam jumlah besar, seperti Denmark dan Inggris, dilaporkan mulai meninjau dan mengaudit keamanan siber pada bus mereka.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi negara-negara Barat, ketika beralih ke teknologi hijau dari pemasok luar negeri, harga yang dibayar mungkin bukan hanya uang, tetapi juga potensi kedaulatan atas infrastruktur penting nasional. Peristiwa di Oslo ini menandai dimulainya era baru, di mana keamanan siber dan pengawasan siber menjadi syarat utama dalam setiap pengadaan kendaraan transportasi publik.

Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

Revolusi Langit: Starlink Bawa WiFi Berkecepatan Tinggi ke Pesawat Komersial

Koneksi internet yang lambat, mahal, dan sering terputus di pesawat kini terancam menjadi masa lalu. Layanan internet satelit Low Earth Orbit (LEO) dari SpaceX, Starlink, telah resmi merambah sektor penerbangan komersial, menjanjikan kecepatan yang setara dengan koneksi di rumah bahkan saat pesawat berada di ketinggian jelajah puluhan ribu kaki.

Maskapai-maskapai global, termasuk Qatar Airways, United Airlines, Hawaiian Airlines, dan Air France, berlomba-lomba memasang terminal Starlink di seluruh armada mereka, menjadikannya standar baru dalam pengalaman penumpang.

Dibandingkan dengan sistem WiFi pesawat tradisional yang menggunakan satelit Geostationary Orbit (GEO) yang jauh (sekitar 35.000 km), Starlink menawarkan beberapa keunggulan signifikan, di antaranya seperti kecepatan dan latensi rendah. Satelit LEO Starlink mengorbit hanya sekitar 550 km dari Bumi. Jarak yang sangat dekat ini mengurangi waktu perjalanan data (latency).

Kemudian kapasitas tinggi, jaringan mesh dengan ribuan satelit Starlink yang saling terhubung (termasuk menggunakan laser) mampu mengalokasikan bandwidth yang besar, memungkinkan setiap penumpang melakukan streaming video 4K, video call, atau bermain game online.Kapasitas mencukupi untuk streaming bagi setiap penumpang di pesawat.

Karena Starlink memiliki ribuan satelit LEO di berbagai orbit, koneksi dapat dipertahankan di hampir seluruh rute penerbangan global, termasuk rute laut dan kutub yang sering menjadi “titik buta” bagi satelit GEO. Pemasangan terminal Starlink Aviation diklaim membutuhkan waktu hanya sekitar 4 hari per pesawat, jauh lebih cepat dan sederhana dibandingkan perangkat keras IFC (In-Flight Connectivity) konvensional.

Meskipun keunggulannya luar biasa, adopsi Starlink di pesawat komersial menghadapi beberapa tantangan serius, pemasangan terminal Starlink (disebut Aero Terminal) pada setiap jenis pesawat memerlukan sertifikasi ketat dari regulator penerbangan, seperti FAA (Federal Aviation Administration) di AS atau EASA di Eropa. Proses sertifikasi ini membutuhkan waktu.

Meskipun biaya bulanannya kompetitif (untuk maskapai), biaya hardware awal untuk terminal aviasi Starlink sangat tinggi, berkisar antara $20.000 hingga lebih dari $100.000 per pesawat. Terminal Starlink (termasuk radome di atas pesawat) harus seringan mungkin agar tidak menambah bobot pesawat secara signifikan dan memengaruhi efisiensi bahan bakar.

Layanan Starlink memerlukan izin operasional dari setiap negara yang dilintasi atau diterbangi. Tantangan regulasi dan geopolitik dapat menciptakan celah layanan di rute-rute tertentu.

Dipelopori Lufthansa, Layanan In-Flight WiFi Kini Telah Berusia 20 Tahun

KAI Services Hadirkan Menu Sarapan di KA Pandanwangi, Jember–Ketapang (Banyuwangi)

KAI Services melalui unit bisnis Kuliner Kereta resmi menghadirkan berbagai pilihan menu sarapan di Kereta Api Pandanwangi relasi Jember–Ketapang (Banyuwangi) mulai 1 November 2025. Kehadiran layanan ini memberikan pengalaman perjalanan pagi yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi para penumpang.

Kini, pelanggan KA Pandanwangi dapat menikmati ragam menu sarapan favorit selama perjalanan, mulai dari Pop Mie hingga Bakso Enak yang hangat. Tidak hanya itu, tersedia pula aneka pilihan minuman seperti air mineral dan teh premium, yang dapat dinikmati langsung di Kereta Makan. Semua sajian dapat dipesan dengan mudah melalui Prama Prami yang siap melayani dengan ramah dan profesional.

Dengan adanya layanan untuk membeli menu sarapan ini, penumpang dapat memulai hari dengan hidangan tanpa perlu repot mencari makanan di pagi hari. Menyantap sajian hangat sambil menikmati panorama sepanjang perjalanan menuju Banyuwangi tentu memberikan pengalaman tersendiri.

Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menyampaikan bahwa penambahan layanan kuliner ini merupakan bentuk komitmen KAI Services dalam meningkatkan kenyamanan pelanggan.

“Kini penumpang dapat memesan sarapan sebagai langkah mengawali hari dalam perjalanan menggunakan KA Pandanwangi yang berangkat pukul 05.10 WIB dari Stasiun Jember menuju Stasiun Ketapang. Dengan hadirnya menu sarapan di KA Pandanwangi, penumpang tidak perlu khawatir untuk mencari sajian makanan di pagi hari karena sudah tersedia di kereta makan,” ujar Nyoman dalam keterangan resminya, Senin (10/11).

KA Pandanwangi Kembali Beroperasi di Daop 9 Jember

Masih Berdiri Kokoh, Dahulu Halte Kalimenur dapet Predikat Julukan Nama Unik

Meski tak terawat, bangunan ini masih berdiri kokoh dan tetap terlihat keseluruhan bangunan aslinya. Ya, Halte Kalimenur yang digadang-gadang memiliki panorama jalur kereta api yang eksotik ini ternyata mendapat predikat julukan nama unik. Padahal halte yang non aktif ini terlihat biasa saja.

Halte ini diperkirakan dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan rel kereta api Surabaya-Cilacap pada tahun 1887. Hingga masa revolusi, Halte Kalimenur menjadi tempat pemberhentian yang ramai penumpang di mana waktu itu kereta api masih menggunakan tenaga lokomotif uap.

Lantas, apa keunikan nama yang diberikan Haltr Kalimenur ini? Ya, halte ini dulu mendapat julukan Stasiun Tahu, karena mayoritas penumpang adalah para penjual tahu dari Desa Tuksono yang hendak berjualan tahu ke Kota Yogyakarta atau Kutoarjo.

Pada masa revolusi sekitar tahun 1948, Halte Kalimenur pernah dibom oleh Belanda hingga hancur. Djawatan Kereta Api (DKA) kemudian membangun kembali dan meresmikan Stasiun Kalimenur sebagai tempat pemberhentian kereta pada tahun 1954.

Namun sejak tahun 1974, Halte Kalimenur tidak beroperasi lagi. Posisinya dinilai tidak strategis, sepi penumpang, dan berada di tikungan besar. Walaupun sempat terkena bom, arsitektur bangunan Halte Kalimenur sampai sekarang masih asli peninggalan Belanda.

Plat bertuliskan Stasiun Kalimenur dengan aksara Jawa.

Bagusnya, halte ini masih dipertahankan karena masa kejayaan Indonesia saat itu menjadikan Kalimenur sebagai saksi bisu khususnya kereta api. Akses menuju Halte Kalimenur pun tidaklah sulit. Ada jalan desa tepat berada di samping halte yang memungkinkan bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda 2 maupun roda 4.

Tak heran banyak masyarakat pecinta kereta api tak bosan berkunjung di Halte Kalimenur hanya sekadar berfoto/video sekaligus saat kereta api melintas. Diketahui kereta api yang melewati Halte Kalimenur pun terbilang ramai, baik dari arah barat (Jakarta/Bandung) maupun daei timur (Yogyakarta/Malang/Surabaya).

Sempat terjadi kisah kelam yang membuat perjalanan kereta api dekat dengan Halte Kalimenur adalah insiden anjloknya Kereta Api Argo Semeru. Kejadian tersebut terjadi pada 17 Oktober 2023 di mana saat itu kereta tersebut beroperadi pada relasi Surabaya Gubeng – Gambir di km 520+4, tepatnya di depan Halte Kalimenur.

Maka tak heran, halte yang berlokasi di Sukoreno, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo menjadi bahan perbincangan di media sosial. Kini Halte Kalimenur masih digandrungi para pecinta kereta api dari berbagai wilayah yang turut mengabadikan kereta api melintas dengan latar belakang Halte Kalimenur yang bersejarah.

Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta