Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Beberapa pengamat dunia berpendapat bahwa penerbangan jarak jauh tergolong lama untuk pulih kembali. Hal itu disebabkan sulitnya meraih kembali kepercayaan penumpang, baik penumpang tujuan bisnis maupun penumpang liburan (traveller).

Baca juga: Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

“Perhatian utama tetap pada kepercayaan penumpang dalam melakukan perjalanan,” kata Joanna Lu, analis di Cirium, dalam webinar eGlobal Travel Media pekan lalu, seperti dikutip dari Simple Flying. “Ini adalah masalah bagi semua maskapai, khususnya bagi maskapai penerbangan kenamaan dunia,” tambahnya.

Selain itu, berbagai panelis lain juga berpendapat bahwa kunci untuk mendapatkan kembali kepercayaan penumpang dengan cara menunjukkan hal-hal baik kepada mereka, mulai dari prosedur disinfeksi ketat dibalut teknologi mutakhir, baik sesudah maupun sebelum pesawat beroperasi, membuktikan pesawat bebas Covid-19 berkat filter HEPA, serta berbagai kebijakan lainnya, pra penerbangan, saat on board, maupun pasca penerbangan.

Akan tetapi, di antara beberapa panelis, salah satunya menekankan, berbagai prosedur penerbangan ketat di masa pandemi virus Corona mungkin akan membuat penerbangan jarak pendek atau rute-rute regional lebih muda pulih dibanding penerbangan jarak jauh. Penerbangan tersebut (jarak jauh) baru akan pulih bila mana vaksin sudah tersedia. Tak ada pilihan lain.

Selama periode tersebut (tersedianya vaksin di pasaran) belum datang, praktis, maskapai hanya bisa menerapkan prosedur ketat pra hingga pasca penerbangan. Meski demikian, tak ada satupun orang yang mampu meyakinkan orang lainnya untuk berani terbang sekalipun vaksin sudah tersedia. Selain itu, regulasi baru oleh pemerintah pasca ketersediaan vaksin juga memegang peran penting.

“Satu hal yang saya yakini akan memberi kepercayaan konsumen untuk kembali terbang adalah vaksin. Sekali lagi, itu juga dipertanyakan. Itu tergantung pada berapa banyak orang yang menerima vaksin, dan apakah pemerintah akan mengeluarkan semacam paspor untuk mengatakan, ‘Saya telah divaksinasi, saya dapat bepergian dengan aman’?” jelas Joe Cusmano, salah satu travel blogger kenamaan dunia lewat laman straynomad.com miliknya.

Penerbangan jarak jauh tanpa adanya vaksin disebut hanya akan membuat kebanyakan penumpang khawatir bakal tertular virus Corona. Terlebih, bukti atas itu sudah ada di depan mata.

Belum lama ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menerbitkan hasil studi mencengangkan. Dari analisis data penerbangan rute Hanoi-London pada bulan Maret lalu, ditemukan setidaknya 12 penumpang tertular Covid-19 dari seorang penumpang first class.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Singkatnya, penerbangan regional hampir dipastikan jauh lebih aman dibanding penerbangan jarak jauh. Sekalipun penerbangan jarak jauh harus ditempuh, umumnya penumpang lebih nyaman dengan penerbangan transit.

Selama ini, penerbangan jarak jauh lebih bergantung pada perjalanan bisnis dibandingkan pelancong. Celakanya, penumpang perjalanan bisnis, kata CEO Air Canada, Calin Rovinescu, saat ini dan ke depan diprediksi akan lebih nyaman dengan the new era atau the new normal, meeting secara daring. Berbagai fakta tersebut pada akhirnya menjadi analisa tak terbantahkan dan masuk akal untuk menyimpulkan lambannya penerbangan jarak jauh untuk pulih kembali.

Rayakan HUT Ke-75, PT KAI Berganti Logo yang Terinspirasi dari Rel Kereta

Menjadi salah satu yang terpenting bagi identitas perusahaan, logo kerap kali berubah yang menandakan adanya perubahan baru. Seperti yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang mengubah logonya dengan tujuan untuk mempercepat integrasi bisnis dan menambah fleksibilitas ekspansi bisnis kedepannya.

Baca juga: Ternyata Kereta Api Indonesia Sudah Berganti Logo 3 Kali

Pada Hari Ulang Tahun ke-75 tahun pada 28 September 2020 kemarin, Direktur Utama Didiek Hartantyo mengatakan, perubahan logo ini sebagai langkah transformasi sebuah brand architecture yang efektif. Sehingga hal ini akan menciptakan keterpaduan di dalam KAI Group.

Didiek menyebutkan, logo KAI yang baru ini terinspirasi dari bentuk rel kereta yang digambarkan dengan garis menyambung ke atas pada huruf A. KAI diharapkan terus maju dan menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik yang terintegrasi, terpercaya, bersinergi dan kelak dapat menghubungkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

“Di samping itu, pergantian logo KAI diharapkan dapat semakin meningkatkan proses komunikasi terhadap semua stakeholders, serta dapat mengefisienkan anggaran. Perubahan logo ini dalam rangka menjawab tantangan yang ada dan selaras dengan visi KAI yang baru yaitu Menjadi Solusi Ekosistem transportasi terbaik untuk Indonesia,” kata Didiek yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id.

Dengan menggunakan typeface italic yang dinamis dan modifikasi pada huruf A menggambarkan karakter KAI yaitu progresif, berpikiran terbuka, dan terpercaya. Grafik yang tegas namun ramah dengan perbedaan warna pada huruf diharapkan dapat mencerminkan hubungan yang harmonis dan kompeten antara KAI dan seluruh pemangku kepentingan.

Sementara perpaduan antara warna biru tua yang menunjukkan stabilitas, profesionalisme, amanah, dan kepercayaan diri, yang ditambah dengan aksen warna oranye yang menunjukkan antusiasme, kreativitas, tekad, kesuksesan, dan kebahagiaan.

“Semoga dengan logo baru ini memberikan spirit baru bagi KAI untuk mewujudkan visi berlandaskan pada nilai-nilai utama yang baru yaitu AKHLAK: Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif,” kata Didiek.

Baca juga: GoJek Punya Logo Baru, Ungkap Bentuk Universal dari Beragam Solusi

Untuk diketahui, hingga saat ini dengan logo baru, PT KAI sudah mengganti logo sebanyak empat kali di mana yang pertama tahun 1953 hingga 1988, kedua tahun 1988 hingga 1990. Logo ketiga diganti pada 28 September 2011 tepat pada perayaan HUT KAI ke-66 tahun.

Pramugari dan Pilot Korean Air Bahu-Membahu Gagalkan Pembajakan Pesawat

Pramugari dan pilot Korean Air belum lama ini dikabarkan berhasil meredam salah satu penumpang dengan postur tinggi kekar saat melahap rute Seoul-Seattle. Meski tak bersenjata, warga negara Korea Selatan (penumpang) yang tinggal di Colorado, Amerika Serikat (AS) itu tetap saja mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan dengan mencoba menguasai pesawat.

Baca juga: Mengenang Korean Air 007, Korban Perang Dingin Soviet-AS yang Dirudal Gegara Insiden “Mata-mata”

Dilansir nypost.com, insiden tersebut bermula saat empat-lima pramugari sedang menjalankan tugas-tugas on board seperti sedia kala. Tiba-tiba, seorang penumpang meronta-ronta, bangkit dari kursi dan menuju pintu kokpit sambil berkata bahwa ia ingin pesawat diterbangkan ke Vancouver, Kanada. Alasannya, ia belum pernah berkunjung ke sana. Saat itu, para pramugari yang kalah postur tak bisa berbuat banyak.

Saat penumpang yang diketahui bernama Gyeong Jei Lee itu semakin menjadi-jadi dan mengganggu kenyamanan seisi pesawat, barulah seorang pramugari meminta tolong ke salah seorang penumpang kelas bisnis, Gene Parente, untuk membantu mereka menghentikan pengacau tersebut.

Gene Parente tak serta mereta langsung membantu pramugari. Sebab, di matanya, Lee begitu kacau. Di samping itu, postur mereka juga bisa dibilang sebanding, sama-sama memiliki tinggi sekitar 2 meter dengan tubuh kekar. “Itu adalah ketakutan terburuk saya pasca 11/9. Saya langsung panik,” kata Parente usai dimintai tolong oleh salah seorang pramugari.

Tak punya pilihan lain, Parente kemudian bangkit dan menatap tajam Lee. Keduanya kemudian terlibat baku hantam hingga terseret ke bagian tengah kabin utama. Tak lama kemudian, pilot dan co-pilot keluar dari kokpit untuk menghentikan kekacauan tersebut.

Baik Lee maupun Parente pun akhirnya berhenti saling pukul dan kembali ke kursi masing-masing. Keduanya sama-sama di kelas bisnis. Tak lama kemudian, Lee kembali menyerang Parente dan baku hantam kembali terjadi. Nampaknya Lee sudah tak mempedulikan tujuannya untuk mengambil alih pesawat dan lebih memilih fokus ke Parente. “Dia seperti binatang buas,” jelas Parente.

Di posisi inilah, para pramugari bertindak heroik. Mereka bahu-membahu mengambil tali untuk menghentikan Lee dan mengikatnya di kursi. Tentu saja dengan dibantu Parente dan kedua pilot. Setelah itu, penerbangan kembali dilanjutkan dengan lebih kondusif, sekalipun Lee terus meronta-ronta.

Baca juga: Mabuk dan Ngamuk Gegara Diputusin Pacar, Wanita ini Pukul Jendela Pesawat Sampai Retak

Setelah tiba di bandara, sekitar 30-an petugas, terdiri dari polisi bandara, bea cukai, petugas keamanan dan negeri serta tentu saja FBI, menjemput Lee dari pesawat dan langsung diamankan ke kantor polisi terdekat. Ia pun didakwa telah menggangu awak dan melakukan penyerangan di pesawat.

Meskipun Parente dinilai sebagai sosok penting di balik keberhasilan pramugari dan pilot dalam meredam permasalahan itu, ia justru mengalamatkan pujian tersebut ke mereka. “Para pramugari dan dua kapten Korean Air juga bertindak heroik,” pungkasnya.

14 Tahun Sudah Bandara Suvarnabhumi Layani Penerbangan Internasional

Bila Indonesia punya Soekarno-Hatta, maka Thailand punya Suvarnabhumi, yang notabene inilah bandara internasional utama yang berlokasi di Bangkok, Suvarnabhumi menggantikan posisi Bandara Don Mueang yang kini hanya melayani penerbangan regional untuk penerbangan berbiaya murah (LCC).

Dan tepat 14 tahun lalu, Suvarnabhumi resmi dibuka pada tahun 2006 untuk penerbangan terbatasnya pada 15 September 2006 dan membuka secara keseluruhan untuk rute domestik dan internasional pada 28 September 2006.

Baca juga: ‘Raja Garbarata’ Indonesia Menangkan Tender Pengadaan di Bandara Don Mueang Thailand

Suvarnabhumi terletak di Racha Thewa di distrik Bang Phli, Samut Parakan sekitar 25 km timur Bangkok. Nama Suvarnabhumi sendiri dipilih oleh Raja Bhumibol Adulyajed yang berarti tanah emas. Di desain oleh Helmut Jahn dari Murphy/Jan Architecs, bandara ini sudah berdiri selama 14 tahun dan memiliki menara kontrol (ATC) tertnggi di dunia yakni 132,2 meter.

Luas Bandara Suvarnabhumi 563 ribu meter persegi dan menjadikannya bandara dengan luas terminal tunggal kedua di dunia setelah Bandara Internasional Hong Kong. Bahkan juga menjadi bandara tersibuk keempat di Asia setelah Bandara Internasional Haneda, Bandara Internasional Beijing dan Bandara Internasional Hong Kong.

Dirangkum KabarPenumpang.com, bandara yang didesain oleh Helmut Jahn ini terlihat memiliki struktur dan imaji modernitas. Hal tersebut terlihat dengan warna metalik yang menjadi mayoritas dengan kerangka dan penyangga yang terbuka.

Selain itu warna siluet biru menghiasi kerangka logam dan nyalanya membuat pendar-pendar indah. Kaca menjadi struktur utama yang sangat berperan dalam menunjukkan gaya arsitekturnya. Tak hanya itu, kaca menjadi struktur utama yang sangat berperan dalam menunjukkan gaya arsitetur Bandara Suvarnabhumi.

Dalam mengimbangi ini, Bandara Suvarnabhumi menambahkan instalasi seni yang bergaya Thailand seperti di area keberangkatan yang akan segera terlihat setelah melalui imigrasi serta patung besar di area kedatangan. Menjadi bandara internasional di Thailand, Bandara Suvarnabhumi dilengkapi dengan fasilitas yang membuat pelancong cukup nyaman berada di sini.

Penasaran dengan fasilitasnya? Bandara Internasional Suvarnabhumi dilengkapi berbagai restoran siap saji dari berbagai negara baik makanan Asia, Thailand maupun lainnya dan buka 24 jam di area keberangkatan. Area ruang tunggu bahkan menyediakan lebih banyak pilihan lagi selain melimpahnya toko bebas pajak menjual berbagai produk bermerek internasional.

Telepon umum berbayar kartu kredit juga melimpah di area keberangkatan di lantai empat dan beberapa di lantai lainnya. Bagi pelancong muslim jangan khawatir untuk mendapat makanan halal karena ada beberapa toko yang khusus menjualnya (ada tiga atau empat) di keberangkatan dan tak perlu khawatir karena ada musholla yang sangat representatif di lantai tiga.

Baca juga: Nok Air, Terkenal dengan Logo Paruh Burung, Inilah LCC Khas Thailand

Bandara ini merupakan hub bagi maskapai penerbangan Thailand seperti Asia Atlantic Airlines, Bangkok Airways, Business Air, Jet Asia Airways, Orient Thai Airlines, Thai Airways International, dan Thai Smile. Apabila Anda bertolak dari Jakarta, Anda dapat mengakses bandara ini dengan memilih di antara beberapa maskapai di antaranya Bangkok Airways, Cathay Pacific, Garuda Indonesia, Malaysia Airlines, Qatar Airways, Singapore Airlines, dan TigerAIr.

Taksi Konsep Swakemudi Menangkan “Ford New Norm Mobility Award”

Jarak sosial yang diberlakukan di masa pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan baru untuk mobilitas masyarakat yang memengaruhi angkutan umum dan arus lalu lintas saat ini. Hal tersebut membuat lulusan desain transportasi dari Staffordshire University di Inggris mengembangkan solusi baru yang cukup unik.

Baca juga: Penggunaan Partisi dalam Taksi Rusia Masih Kontroversi

Dia membuat solusi yang dapat membantu orang-orang yang memiliki mobilitas terbatas untuk berjalan dengan aman dan terlindungi sambil tetap menjaga jarak sosial. Dilansir KabarPenumpang.com dari taxi-point.co.uk (19/9/2020), Marius Lochner mengembangkan konsep “muvone” dan memenangkan Ford “New Norm Mobility Award”.

Lochner menantang untuk mengembangkan konsep, ide dan solusi mobilitas yang menangani skenario baru yang dibuat karena pandemi. Sebagai salah satu taksi swakemudi atau mengemudi sendiri, konsep “muvone” mengutamakan kemanan mobilitas individu, memungkinkan orang untuk bepergian ke mana pun dan kapan pun mereka mau dengan nyaman.

“Krisis Covid-19 telah sangat memengaruhi kehidupan kita, mengubah cara orang dan barang bergerak, dan menciptakan ‘normal baru’ bagi semua orang. Ini membutuhkan ide-ide baru untuk aplikasi, fitur, desain dan mobilitas, pada saat kendaraan adalah ruang pribadi pilihan dan kesehatan pribadi menjadi lebih penting daripada sebelumnya,” kata Chris Hamilton, kepala desainer, Ford Eropa.

Konsep “muvone” menampilkan interior minimalis dengan permukaan datar dan bahan yang mudah dibersihkan sehingga kendaraan dapat didisinfeksi di sela-sela perjalanan. Ini dirancang untuk memungkinkan inklusi sosial yang lebih besar pada saat penyandang disabilitas sangat membutuhkannya, kemudahan aksesibilitas membuat “muvone” sangat cocok untuk warga lanjut usia dan orang dengan mobilitas terbatas.

Penghargaan ini merupakan bagian dari “Penghargaan Desainer Baru” yakni pertunjukan lulusan desain terbesar di Inggris Raya dan terbuka untuk mahasiswa lulusan desain. Tahun ini, pertunjukan digelar secara virtual dan untuk konsep kemenangannya, Lochner menerima £1000 (€1.120), ditambah satu semester pendampingan dari kepala desainer Ford Eropa Ernst Reim dan Sonja Vandenberk, yang merupakan bagian dari panel juri bersama dengan Hamilton dan Amko Leenarts, direktur Desain Eropa Ford.

Penghargaan ini dijalankan dalam kemitraan dengan Majalah Top Gear. Charlie Turner, direktur editorial Top Gear, adalah bagian dari panel juri dan memberikan umpan balik mendetail pada semua proposal desain.

“Luasnya dan kreativitas yang ditunjukkan dalam entri untuk tantangan ini sangat mengesankan dan mengartikulasikan kedalaman sebenarnya dari bakat generasi mendatang yang datang melalui sistem pendidikan. Namun, itu tidak membuat memilih pemenang sama sekali tidak mudah,” kata Turner.

Baca juga: Dulu Taksi Kondang dengan Cat Warna Kuning, Inilah Asal Muasalnya

Sebagai kendaraan cerdas untuk dunia cerdas yang menempatkan fokus pada privasi dan keamanan individu, “muvone” sangat erat dengan pendekatan desain Ford yang berpusat pada manusia. Bahasa desain konsep yang ramah, pencitraan merek yang cermat, dan kesesuaian untuk digunakan dengan infrastruktur perkotaan saat ini membantu mengangkatnya di atas entri lainnya.

Inggris Pasang “Orang-orangan Sawah” untuk Hindari Burung yang Ganggu Perjalanan Kereta Api

Sejak Desember tahun lalu, Avanti West Coast, perusahaan layanan kereta di Inggris, telah mengalami total 20 insiden di seluruh barat laut yang berkaitan dengan burung di saluran udara atau tertabrak kereta api. Salah satunya yakni sejumlah besar burung telah menyebabkan kerusakan pada pantograf kereta listrik Pendolino Avanti West Coast dan peralatan saluran udara yang memberi mereka tenaga di depot Alstom di Longsight, Manchester.

Baca juga: West Coast Avanti, Kereta Spesial di Inggris dengan Awak LGBT

Ini kemudian membuat Network Rail dan Avanti West Coast memasang perangkat baru yang bisa menakuti burung sambil melindungi mereka dari kemungkinan sengatan listrik. KabarPenumpang.com melansir dari railtechnologymagazine.com (1/9/2020), peralatan ini senilai £2000 dan telah diuji coba secara efektif dan dipasang oleh tim unit Pengiriman Pemeliharaan Manchester Network Rail.

Kehadirannya untuk mencegah burung menjauh dari depot yang berarti kereta jarak jauh yang akan berhenti tidak akan terganggu dan rusak tiba-tiba serta membuat mereka keluar dari layanan dan tertunda untuk perbaikan. Dengan adanya peralatan ini, membuat perjalanan penumpang jauh lebih baik bagi pelancong yang ingin berlibur atau pebisnis di masa mendatang.

Untuk diketahui, burung-burung ini diperkirakan bertengger di atas peralatan saluran udara dan kereta api yang tengah berhenti untuk mengangkut penumpang.

“Saat kami mulai menyambut kembali penumpang yang kembali ke jalur kereta North West, mereka ingin tahu bahwa layanan mereka dapat diandalkan dan tepat waktu. Burung di gudang Alstom telah menjadi gangguan nyata, tetapi solusi ini sama-sama menguntungkan, melindungi satwa liar dan kereta api dari bahaya,” kata Phil James, Direktur Rute North West Network Rail.

“Orang-orangan sawah elektronik adalah salah satu dari banyak metode yang kami terapkan di seluruh Barat Laut untuk membuat infrastruktur kami lebih andal, sehingga kami dapat memberikan layanan kereta tepat waktu yang dapat dibanggakan oleh orang-orang di Barat Laut,” tambah Phil.

Nick Westcott, Direktur Operasi di Avanti West Coast, mengatakan, pihaknya selalu menjajaki inisiatif aru untuk membuat rute mereka tahan terhadap berbagai skenario dan perjalanan pelanggan dapat lebih diandalkan.

Baca juga: Gegara Semprotan Tabir Surya, Kereta Cepat Cina Harus Berhenti Mendadak

“Burung dapat menunda kereta kami atau menyebabkan kerusakan pada mereka dan kabel di atasnya, jadi bekerja dengan Network Rail untuk memasang orang-orangan sawah elektronik akan membantu mencegah burung keluar dari rel kereta dan meningkatkan keandalan perjalanan pelanggan kami antara Manchester dan London,” kata Nick.

Kapten Kapal Selamat, Naskah Langka William Shakespeare Hilang di SS Arctic yang Tenggelam

Pada 27 September 1854, kapal SS Arctic yang dalam perjalanan dari Liverpool ke New York bertabrakan dengan SS Vesta di 50 mil atau 80 km di lepas pantai Newfoundland. Tabrakan ini karena adanya kabut tebal yang datang secara tiba-tiba dan dari sekitar 400 orang di kapal Artic hanya sekitar 80 orang yang selamat.

Baca juga: 1 September 1985, Bangkai Kapal Titanic Ditemukan, Banyak Barang Masih Utuh

Korban yang meninggal terbanyak yakni wanita dan anak-anak karena sekoci yang diturunkan dalam suasana panik dan kekacauan serta prinsip wanita dan anak-anak lebih dahulu diabaikan. Pada kecelakaan ini, pikiran pertama dari kapten James F. Luce adalah memberikan bantuan kepada SS Vesta yang terancam tenggelam.

Namun setelah diberitahu bahwa kapalnya sendiri mulai tenggelam dan air sudah mulai masuk, Luce memutuskan kabur ke daratan terdekat. Sayangnya upaya yang dilakukannya gagal, lambung SS Arctic terus terisi air laut.

Bahkan mesin berhenti ketika kapal masih cukup jauh dari daratan. Kapasitas sekoci SS Arctic sendiri pun hanya cukup untuk setengah penumpang. Karena masalah ini, Luce langsung memerintahkan agar sekoci diluncurkan tapi karena lupa aturan justru sekoci penuh dengan awak kapal dan penumpang yang lainnya.

Sisa penumpang justru ditinggalkan dengan rakit darurat dan yang lainnya tidak bisa meninggalkan kapal serta tenggelam bersama SS Arctic empat jam setelah tabrakan. Kapten Luce pun ikut tenggelam dengan kapalnya, tak sama seperti awak kapalnya yang melarikan diri dengan sekoci, namun dia berhasil selamat.

Dalam insiden ini dua dari enam sekoci yang meninggalkan SS Arctic selamat sampai pantai Newfoundland, satu diangkut kapal uap yang lewat dan menyelamatkan beberapa orang dari rakit buatan serta kapten Luce setelah berhasil menempel di reruntuhan kotak roda dayung selama dua hari, sedangkan tiga lainnya menghilang tanpa jejak.

Dari antara yang menghilang adalah istri Edward Collins dan dua anaknya, korban lain termasuk beberapa anggota keluarga Brown, yang merupakan pemilik Brown Brothers, telah membantu membiayai Collins Line. Frederick Catherwood, arsitek dan pelukis Inggris yang namanya secara misterius dihapus dari daftar korban resmi selama berminggu-minggu sampai upaya bersama oleh teman dan koleganya menghasilkan inklusi yang terlambat oleh pihak berwenang dan surat kabar.

Selain hilangnya nyawa manusia secara tragis, salinan langka William Shakespeare First Folio yang dibeli dan dikirim oleh pengacara New York dan kolektor Shakespeare Aldon W. Griswold dari Liverpool, hilang. Di antara yang terhilang juga terdapat Hari Mahlon, penerbit buku anak-anak dan publikasi bisnis terkemuka di New York, bersama istri dan putrinya.

Baca juga: Tas Besar Berisi Uang Iringi Penemuan Bangkai Kapal Pere Marquette 18 Setelah 110 Tahun

SS Arctic adalah kapal uap berbobot 2.856 ton, salah satu dari Collins Line , yang mengoperasikan layanan kapal uap penumpang dan pos transatlantik selama tahun 1850-an. Dia adalah yang terbesar dari empat armada, dibangun dengan bantuan subsidi pemerintah AS untuk menantang supremasi transatlantik Jalur Cunard yang didukung Inggris. Selama masa pelayanan empat tahun, kapal ini terkenal baik karena kecepatannya maupun kemewahan akomodasinya.

14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis

Memiliki cita-cita sebagai seorang perawat tapi harus memulainya dari menjadi seorang pramugari? Sepertinya tak masalah dan ini terjadi pada seorang pramugari Singapore Airlines yang memiliki cita-cita sebagai seorang perawat.

Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit

Kini setelah 14 tahun terbang dan melayani penumpang Singapore Airlines, Zabrina Kng memutuskan untuk berubah profesi. Ya, profesi ini menjadi sebuah perawat yang mana ini adalah minatnya seumur hidup menjadi perawat kesehatan.

Bagi Zabrina, menjadi seorang perawat kesehatan membuatnya memiliki lebih banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama orang tuanya yang sudah lanjut usia. KabarPenumpang.com melansir straitstimes.com (22/9/2020), Zabrina belajar tentang Program Konversi Profesional atau PCP Tenaga Kerja Singapura untuk perawat terdaftar pada 2017 dan mengarahkan pandangannya untuk melamar program dua tahun tersebut.

Namun, setelah mengetahui bahwa dirinya terlewat program tersebut, Zabrina terus bekerja sebagai pramugari selama satu tahun lagi. Dengan keterlambatannya bisa dikatakan, dia mampu menabung untuk mendaftar program dua tahun tersebut.

Zabrina mengatakan, saat kontrak dengan Singapore Airlines berakhir pada 2018 lalu, dia telah mengemat $12 ribu, yang dia gunakan untuk menambah tunjangan bulanan sekitar $2000 yang dia terima dari PCP dua tahun.

“Awalnya ketika saya pertama kali mulai, saya benar-benar harus menyesuaikan gaya hidup saya. Saya berkata pada diri saya sendiri bahwa sejak saya beralih ke perawatan, saya harus tekun,” tambahnya.

Selain itu, Zabrina memiliki tantangan lainnnya di mana dirinya harus kembali belajar di sekolah pada usia 30. Dia mengatakan ijazah akselerasi biasanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya.

“Jadi kurva belajarnya sangat curam bagi saya,” katanya.

Dia lulus dari program tersebut pada bulan April dan mulai bekerja untuk Woodlands Health Campus, meskipun dia ditempatkan sementara di Rumah Sakit Tan Tock Seng. Zabrina yakin pengalamannya sebagai bagian dari awak kabin sangat membantu dalam peran barunya.

Baca juga: 90 Tahun Lalu, Pramugari Pertama AS Bekerja Nyambi Jadi ‘Perawat’ di Pesawat

“Ada banyak kesamaan antara menjadi awak kabin dan perawat, seperti keterampilan komunikasi, empati, dan mampu bekerja dengan baik di bawah tekanan. Ini semua adalah soft skill yang saya peroleh selama bertahun-tahun sebagai awak kabin, dan saya pikir merupakan poin plus ketika Anda menghadapi seseorang yang baru lulus,” tutur Zabrina.

Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Kebijakan maskapai di setiap negara terhadap penggunaan masker pada anak-anak berbeda satu dengan lainnya. Ada yang menyebutkan anak dibawah lima tahun tidak diwajibkan menggunakan masker, ada pula yang mengatakan dibawah dua tahun tidak perlu menggunakan masker.

Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

Namun karena perbedaan kebijakan ini membuat berbagai masalah timbul pada keluarga yang membawa anak kecil bersama mereka. Seperti yang terjadi pada Rachel Starr Davis yang tengah dalam perjalan pulang ke New Hampshire dari Florida bersama ibu dan anaknya yang berusia dua tahun.

Mereka dikeluarkan dari penerbangan oleh maskapai American Airlines pada 17 September kemarin karena putranya tidak memakai masker wajah. Bahkan dalam penerbangan tersebut, Davis tetap memaksa sang anak untuk mengenakannya.

“Sampai-sampai saya menangis begitu keras, saya histeris, bahkan tidak bisa menarik napas dalam-dalam karena topeng saya terus-menerus menghisap ke dalam mulut saya. Dan kemudian saya gemetar memegang selembar kain ini ke wajah anak saya sehingga kami bisa lepas landas dan mereka (awak pesawat) berdiri di dekat saya di lorong sambil mengatakan mereka harus melihat saya berulang kali mengenakan topeng padanya,” ungkap Davis yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (23/9/2020)

Pihak maskapai mengatakan, masker diperlukan bagi anak berusia dua tahun ke atas. Ketika dia menuju ke kursinya di bagaian belakang pesawat, seorang awak kabin bertanya apakah dia memiliki tiket untuk puteranya dan mengatakan harus menggunakan masker.

Davis mengaku, dirinya tidak mengetahui kebijakan American Airlines yang mengharuskan puteranya menggunakan masker wajah saat di pesawat. Dia mengatakan, pada penerbangan sebelumnya, awak kabin tidak meminta putranya menggunakan masker.

Dalam penerbangan itu, Davis mencoba agar putranya menggunakan masker dengan memberikannya berbagai macam gamabr berbeda, tetapi sang putra tidak memilih satupun. Hingga seorang pria yang duduk disebelah mereka mencoba anak berusia dua tahun tersebut untuk menggunakan tetapi tetap saja tidak mau.

“Saya sangat ingin pulang, saya kelelahan. Ibuku dan aku tidak banyak tidur dan kami hanya perlu pulang, dan mereka memberitahuku jika kau tidak membuatnya menurut, kami akan membawamu turun dari pesawat,” jelasnya.

Karena insiden itu, semua orang disuruh turun dari pesawat, Davis, ibu dan putranya tidak diizinkan kembali serta pria yang berusaha menolong mereka. Davis mengatakan, mereka dianggap maskapai tidak menaati peraturan kebijakan masker wajah.

Menurut Davis, sebuah video beredar di media sosial yang menunjukkan adu mulut antara dia dan seorang manajer gerbang American Airlines membahas kebijakan masker dan diberi tahu bahwa maskapai akan memesannya pada penerbangan selanjutnya. Davis, ibu, dan putranya akan naik penerbangan American Airlines pada hari itu juga. Davis mengatakan putranya tidak diminta oleh awak pesawat untuk memakai masker selama perjalanan itu.

“Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan tim kami, American Airlines mewajibkan semua orang yang berusia 2 tahun ke atas untuk mengenakan penutup wajah yang sesuai sepanjang perjalanan mereka,” kata American Airlines dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

“Kebijakan ditegakkan dan penutup wajah yang disetujui tersedia di poin-poin penting selama perjalanan pelanggan. Kami telah menghubungi keluarga tersebut untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengalaman perjalanan terbaru mereka dan untuk mengatasi masalah mereka.”

Menipu Kematian, Begini Kisah Horror Penumpang Selamat dari Dua Kecelakaan Pesawat Terburuk

Senin, 25 September 1978, kecelakaan pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk terjadi akibat pilot kedua pesawat dan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional San Diego ceroboh. Padahal, saat itu cuaca sangat cerah dengan visibilitas mencapai 16 km.

Baca juga: Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh 

Akibat kejadian itu, sedikitnya 153 orang tewas; terdiri dari 128 penumpang dan 7 kru PSA, 2 kru Cessna, dan tujuh orang di darat. Di antara korban pesawat rute Sacramento-San Diego via Los Angeles itu, seharusnya, E. Jack Ridout jadi salah satunya. Namun, ia lagi-lagi menipu kematian untuk kesekian kalinya; termasuk dua udara kecelakaan terburuk di dunia.

Dilansir independent.co.uk, dalam kecelakaan pesawat terburuk di AS itu (tabrakan PSA flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk), Jack Ridout adalah salah satu daftar penumpang tersebut untuk rute Los Angeles-San Diego. Hanya saja, tiket untuk flight 182 ia batalkan berhubung AC rumah tempatnya bermukim rusak dan membuat tak nyaman di tengah terjangan gelombang panas.

Oleh karenanya, ia memutuskan untuk pulang lebih awal sehari sebelumnya. Alhasil, ia pun selamat. Begitu juga dengan 102 penumpang yang transit di Los Angeles.

Akan tetapi, itu bukan kali pertama momen Jack Ridout menipu kematian (red: selamat dari kecelakaan). Sekitar 18 bulan sebelumnya, bertepatan dengan Minggu 27 Maret 1977, ia juga berhasil menipu kematian atau lolos dari maut dalam tabrakan dua pesawat Boeing 747 Pan Am Flight 1736 vs KLM Flight 4805 di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol.

Seperti diberitakan surat kabar harian AS, The Evening Tribune terbitan 14 April 1977, sebelum kecelakaan udara terburuk sepanjang masa dengan korban tewas sedikitnya 583 orang itu terjadi, seseorang meminta bertukar tempat sehingga ia berada di kursi 4B kelas bisnis di dek atas pesawat bersama rekannya, Joan Devereau Holt (Joan Holt).

Tak lama berselang, dua pesawat bertabrakan dan orang tersebut tewas mengenaskan bersama pacarnya yang juga seorang mantan pramugari. Sedangkan Edgar Jack Ridout bersama rekannya itu berhasil selamat sekalipun menderita cedera cukup parah.

Tak hanya selamat, dalam insiden tersebut Edgar Jack Ridout juga membantu penumpang lain, sekitar 17 orang, untuk keluar dari puing-puing pesawat dengan cara ekstrem, melompat dari dek atas di ketinggian sekitar 5 meter dalam kondisi luka parah. Sebelumnya lagi, ia juga nyaris dijemput maut untuk membela AS perang melawan Vietnam. Namun, ia tak jadi ikut wajib militer usai mengalami kecelakaan mobil.

Cerita penumpang menipu kematian (korban selamat dari kecelakaan pesawat) juga pernah terjadi di Indonesia. Erwin Giasi, diketahui menjadi salah satu penumpang selamat dalam kecelakaan pesawat Casa 212-200 Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor registrasi PK-NYC terjadi pada Rabu, 30 Januari 1991.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Menariknya, usai selamat dari kecelakaan, ia bersama beberapa korban selamat lainnya tidak lantas mendapat pertolongan dari tim SAR ataupun warga sekitar, mengingat pesawat jatuh di hutan perbatasan antara Atinggola dan Bolangmongondow, Kabupaten Bolmut, Gorontalo, Sulawesi Utara.

Saat itu, teknologi informasi dan komunikasi pun belum secanggih sekarang. Lagi pula, sulitnya medan juga memperlambat proses evakuasi. Selagi menunggu tim SAR tiba, para penumpang selamat seperti sedang berpacu dengan maut. Setelah enam hari menunggu tanpa makanan, ia bersama yang lainnya pun akhirnya bisa benar-benar selamat setelah tim SAR berhasil mengjangkau lokasi.