Singapura Menjadi yang Pertama Gunakan Verifikasi Wajah dan Skema Identitas Nasional

Singapura akan menjadi negara pertama yang menggunakan verifikasi wajah dalam skema identitas nasionalnya. Di mana dengan pemeriksaan biometrik ini akan memberi warga Singapura akses aman ke layanan swasta maupun pemerintah. Verifikasi wajah ini sendiri sudah diuji coba di bank dan kini akan diluncurkan secara nasional. Pemeriksaan biometrik tersebut tidak hanya mengidentifikasi seseorang, tetapi memastikan bahwa mereka benar-benar hadir.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

“Anda harus memastikan bahwa orang tersebut benar-benar hadir saat mereka melakukan otentikasi, bahwa Anda tidak sedang melihat foto atau video atau rekaman yang diputar ulang atau deepfake,” kata Andrew Bud, pendiri dan kepala eksekutif iProov, Inggris yang dikutip KabarPenumpang.com dari bbc.com (25/9/2020).

Teknologi pemeriksaan biometrik tersebut akan diintegrasikan dengan skema identitas digital negara yakni Singpass. Sehingga masyarakat Singapura akan lebih udah mengakses pada layanan pemerintah. Andrew mengatakan, ini adalah pertama kalinya verifikasi wajah berbasis cloud yang digunakan untuk mengamankan identitas masyarakat dengan menggunakan skema digital nasional.

Singapura. Sumber: singaporeair.com

Pengenalan wajah dan verifikasi wajah sendiri bergantung pada pemindaian wajah subjek dan mencocokkannya dengan gambar di database yang ada untuk menetapkan identitas mereka. Perbedaan utama adalah verifikasi memerlukan persetujuan eksplisit dari pengguna sehingga mendapatkan sesuatu sebagai imbalan seperti akses ke ponsel atau aplikasi ponsel cerdas bank mereka. Sedangkan teknologi pengenalan wajah adalah sebaliknya di mana memungkinkan memindai wajah semua orang di stasiun kereta dan memberitahukan kepada pihak berwenang jika penjahat yang tengah dalam pencarian melintas dan tertangkap oleh kamera.

“Pengenalan wajah memiliki berbagai implikasi sosial. Verifikasi wajah sangat tidak berbahaya,” kata Andrew.

Pendukung privasi, bagaimanapun, berpendapat bahwa persetujuan adalah ambang batas rendah saat menangani data biometrik sensitif. Ioannis Kouvakas, petugas hukum di Privacy International yang berbasis di London mengatakan, persetujuan tidak berfungsi jika ada ketidakseimbangan kekuasaan antara pengontrol dan subjek data, seperti yang diamati dalam hubungan warga negara.

Saat ini perusahaan teknologi Amerika Serikat dan Cina ikut serta dalam verifikasi wajah. Ini terlihat seperti aplikasi perbankan yang mendukung Apple Face ID atau Google Face Unlock untuk Verifikasi. Sedangkan Alibaba di Cina memiliki aplikasi Smile to Pay. Banyak pemerintah telah menggunakan verifikasi wajah juga, tetapi hanya sedikit yang mempertimbangkan untuk memasang teknologi ke KTP. Dalam beberapa kasus, itu karena mereka tidak memiliki KTP sama sekali. Di AS, misalnya, kebanyakan orang menggunakan SIM yang dikeluarkan negara bagian sebagai bentuk identifikasi utama mereka.

Cina belum berusaha untuk menghubungkan verifikasi wajah dengan ID nasionalnya, tetapi tahun lalu memberlakukan aturan yang memaksa pelanggan untuk memindai wajah mereka ketika mereka membeli ponsel baru, sehingga mereka dapat diperiksa berdasarkan ID yang diberikan. Namun demikian, verifikasi wajah sudah tersebar luas di bandara, dan banyak departemen pemerintah yang menggunakannya, termasuk Kantor Dalam Negeri Inggris dan Layanan Kesehatan Nasional serta Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.

Teknologi Singapura sudah digunakan di kios-kios di cabang kantor pajak Singapura, dan salah satu bank besar Singapura, DBS, memungkinkan pelanggan untuk menggunakannya untuk membuka rekening bank online. Ini juga mungkin digunakan untuk verifikasi di area aman di pelabuhan dan untuk memastikan bahwa siswa mengikuti tes mereka sendiri dan juga akan tersedia untuk bisnis apapun dan memenuhi persyaratan pemerintah.

“Selama memenuhi persyaratan, kami tidak benar-benar membatasi bagaimana verifikasi wajah digital ini dapat digunakan. Dan persyaratan dasarnya adalah itu dilakukan dengan persetujuan dan dengan kesadaran individu,” kata Kwok Quek Sin, direktur senior identitas digital nasional di GovTech Singapura.

Baca juga: Osaka Metro Uji Gerbang Tiket Otomatis dengan Sistem Pengenalan Wajah

GovTech Singapore berpendapat bahwa teknologinya akan bagus untuk bisnis, karena mereka dapat menggunakannya tanpa harus membangun infrastruktur sendiri. Selain itu, kata Kwok, lebih baik untuk privasi karena perusahaan tidak perlu mengumpulkan data biometrik apa pun.

WHO Setujui Rencana Peluncuran 120 Juta Tes Diagnostik Cepat Covid-19

Faktanya, sampai saat ini belum ada alat untuk mengecek tes Covid-19 yang dapat mengeluarkan hasil dengan cepat dan akurat. Bila pun ada tes cepat mencari antigen, atau protein yang ditemukan di permukaan virus, umumnya dianggap kurang akurat meski jauh lebih cepat daripada tes genetik tingkat tinggi, yang dikenal sebagai tes PCR. Hal ini juga yang membuat beberapa negara kemudian mencoba untuk membuat vaksin dan alat tes untuk hasil dengan waktu yang cepat serta akurat.

Baca juga: Gelar Rapid Test, Bandara Vancouver dan WestJet Airlines Jadi Contoh Penanganan Covid-19 di Kanada

Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah menyetujui rencana untuk meluncurkan 120 juta tes diagnostik cepat untuk virus corona. Rencana ini bertujuan untuk membantu negara berpenghasilan rendah dan menengah dalam mengatasi kesenjangan pengujian dengan negara yang lebih kaya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari theguardian.com (28/9/2020), tes diagnostik cepat ini berbasis antigen yang dikeluarkan oleh WHO untuk daftar penggunaan darurat membuthkan  biaya sekitar sekitar €4,28 atau sekitar Rp74 ribu per unitnya. Awalnya program ini membutuhkan €513,9 juta dan belum sepenuhnya didanai tetapi akan dimulai paling cepat bulan depan untuk menyediakan akses yang lebih baik ke daerah yang lebih sulit dijangkau dengan tes PCR yang dilakukan di banyak negara kaya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memuji program tersebut sebagai “kabar baik” dalam memerangi Covid-19.

“Tes ini memberikan hasil yang dapat diandalkan dalam waktu sekitar 15 hingga 30 menit, bukan berjam-jam atau berhari-hari, dengan harga yang lebih rendah dengan peralatan yang kurang canggih. Ini akan memungkinkan perluasan pengujian, terutama di daerah yang sulit dijangkau yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau petugas kesehatan yang cukup terlatih untuk melakukan tes PCR,” kata Tedros.

“Kami memiliki kesepakatan, kami memiliki pendanaan awal dan sekarang kami membutuhkan dana penuh untuk membeli tes ini,” tambahnya.

Dr Catharina Boehme, kepala eksekutif sebuah kelompok nirlaba bernama Foundation for Innovative New Diagnostics, mengatakan peluncuran tersebut akan dilakukan di 20 negara di Afrika dan akan bergantung pada dukungan dari kelompok-kelompok termasuk Clinton Health Access Initiative. Dia mengatakan tes diagnostik akan diberikan oleh SD Biosensor dan Abbott.

Peter Sands, direktur eksekutif Global Fund, sebuah kemitraan yang bekerja untuk mengakhiri epidemi, mengatakan akan menyediakan €42,8 juta awal dari mekanisme respons Covid-19. Dia mengatakan penerapan tes diagnostik cepat antigen berkualitas akan menjadi “langkah signifikan” dalam membantu menahan dan memerangi virus corona.

Banyak negara kaya juga menghadapi masalah dalam melakukan pengujian yang akurat, dan pengujian itu sendiri bukanlah obat mujarab. Negara-negara seperti Prancis dan Amerika Serikat kadang-kadang menghadapi kemunduran dan masalah, dan tes cepat di Inggris dan Spanyol ternyata tidak akurat.

Baca juga: Keras! Syarat Rapid Test-Swab Test Penumpang Pesawat Dihapus, Pengamat: Pemerintah Merestui Herd Immunity

Tetapi meluncurkan pengujian di negara-negara miskin bertujuan untuk membantu petugas perawatan kesehatan mendapatkan pegangan yang lebih baik tentang di mana virus itu telah menyebar. Sands mengatakan negara-negara berpenghasilan tinggi saat ini melakukan 292 tes per hari per 100 ribu orang, sedangkan negara berpenghasilan terendah melakukan 14 per 100 ribu orang.

Dia mengatakan 120 juta tes akan mewakili “peningkatan besar-besaran” dalam pengujian, tetapi masih sebagian kecil dari apa yang dibutuhkan di negara-negara tersebut.

Jumlah Penumpang Turun, MRT Jakarta Lakukan Stategi Kontinuitas Bisnis

Beberapa pertanyaan kembali muncul setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB jilid dua diberlakukan. Salah satunya bagaimana dengan nasib moda transportasi baru yakni Moda Raya Terpadu atau MRT Jakarta? Apakah merugi atau baik-baik saja?

Baca juga: “MRTJ Accel,” Kolaborasi MRT Jakarta dan Startup untuk Jalankan Bisnis Anti-mainstream

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, penumpang sempat naik di bulan Juli dan Agustus setelah diberlakukannya PSBB transisi. Namun, dia mengaku pada PSBB jilid dua ini yang dimulai September, penumpang MRT Jakarta per harinya hanya sekitar 13.101.

“Di September karena pemberlakuan kembali PSBB jilid dua yang diperketat maka ridership kita penurunan,” ucap William dalam forum jurnalis virtual, Rabu (30/9/2020).

Bahkan William mengaku, MRT Jakarta juga mengubah jadwal operasionalnya dari jam 05.00 sampai 19.00 dengan jarak tunggu sepuluh menit. Selain itu, William menjelaskan, saat ini pihaknya melarang penumpang yang menggunakan masker scuba satu lapis untuk naik ke kereta. Pelarangan tersebut karena adanya kajian yang menyebutkan masker scuba satu lapis tak efektif dalam memproteksi seseorang dari paparan Covid-19.

“Penumpang diperbolehkan apabila penggunaan masker scuba tiga lapis atau menggunakan masker kain atau medis,” kata William.

Sedangkan peraturan lain yang ditetapkan MRT Jakarta seperti penumpang dilarang berbicara saat berada di kereta dan jaga jarak tetap diberlakukan. Dia menambahkan, pemeriksaan tubuh dan mendesinfeksi kereta setiap hari.

William menambahkan, pada masa pandemi ini, PT MRT Jakarta melakukan strategi kontinuitas bisnis. Dia mengatakan, dalam strategi ini ada tiga periode yang akan dilakukan pihaknya untuk tetap bertahan. Yang pertama adalah periode response, di mana PT MRT Jakarta akan tetap melakukan perlindungan karyawan selama masa pandemi dan akan membantu mereka yang tedampak.

Sebab karyawan adalah aset penggerak perusahaan. Kemudian tetap mengutamakan keandalan pelayanan dan operasional tetap seratus persen baik serta melakukan efisiensi anggaran agar fokus pelayanan transportasi berjalan dengan baik.

Baca juga: Daerah Cagar Budaya di Sepanjang Jalur Fase 2, Jadi Tantangan Tersendiri Bagi MRT Jakarta

“Kedua ada prinsip recovery, MRT Jakarta tetap menjalankan prinsip saat periode respons dan melakukan berbagai inovasi serta terobosan bisnis seperti konstruksi, operasi dan pengembangan bisnis. Ketiga prinsip periode response dan recovery tetap berjalan serta memastikan keberlanjutan korporasi,” jelas William.

Pro Kesetaraan Gender, Japan Airlines Tak Lagi Sebut “Bapak-Ibu”

Setelah tahun lalu melakukan uji coba penerbangan “LGBT Ally Charter” untuk pasangan sesama jenis berserta keluarga, dan telah mengubah aturan untuk memberikan tunjangan pasangan serta keluarga kepada pasangan sesama jenis, tahun ini, Japan Airlines (JAL) mulai melangkah lebih jauh untuk menunjukkan bentuk dukungan terhadap kesetaraan gender.

Baca juga: Tak Seperti Garuda Indonesia, Japan Airlines Mulai Realisasikan Drone Kargo di Perkotaan

Dilansir CNN International, maskapai nasional Jepang itu dikabarkan bakal mengganti frasa “ladies and gentlemen” atau “Ibu-bapak” menjadi salam ramah gender, seperti “selamat pagi” dan “selamat malam”. Sapaan ramah gender itu nantinya bakal diaplikasikan di seluruh penerbangan JAL, baik di bandara maupun saat on board, mulai Oktober 2020 besok.

Dengan keputusan tersebut, JAL didapuk menjadi maskapai besar pertama di Jepang. Bahkan, dalam skala lebih luas, JAL merupakan maskapai pertama di Asia yang menerapkan kebijakan ramah gender atau kebijakan mendukung kesetaraan gender.

JAL bukan maskapai kemarin sore terkait isu kesetaraan gender. Yutaro Iwasaki, humas JAL, mengatakan, “kami telah mempromosikan keragaman dalam komunitas sejak 2014, dan ini adalah salah satu tindakan kami yang diambil untuk memperlakukan semua orang (sama) tanpa memandang jenis kelamin.”

Mundur sedikit ke awal tahun, tepatnya di bulan Maret lalu, JAL telah lebih dahulu mengimplementasikan bentuk dukungan terhadap kesetaraan gender dengan memberikan pramugari pilihan lebih ketika berbusana, dalam hal ini antara penggunaan celana panjang dengan rok. Selain bentuk dukungan kesetaraan gender, keputusan tersebut juga bertujuan agar pramugari lebih nyaman dengan busana yang ia kenakan.

Meskipun Jepang relatif toleran terhadap homoseksualitas, namun hingga saat ini tidak ada perlindungan hukum khusus untuk kaum gay.

Populasi lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBTQ) Jepang telah berkampanye menuntut pengakuan yang lebih besar dari pemerintah. Tahun lalu, 13 pasangan sesama jenis mengajukan gugatan yang menuduh pemerintah Tokyo telah melakukan diskriminasi karena gagal mengakui pernikahan mereka. Mereka berharap pengadilan akan memutuskan posisi pemerintah melanggar konstitusional.

Selain fokus pada induk perusahaan, JAL juga mendorong kesetaraan gender ke anak perusahaan mereka. JAL Express, misalnya, bisa dibilang sebagai sebagai maskapai komersial pertama di Jepang yang mempekerjakan pilot wanita, Ari Fuji. Pilot wanita pertama maskapai komersial di Jepang itu mulai bekerja sejak tahun 2019 lalu usai mendapatkan lisensi pilot di Amerika Serikat.

Baca juga: Transgender Mau Jadi Pramugari Ditolak, Layangkan Gugatan ke Mahkamah Agung

Bagi Jepang, hal itu tentu luar biasa. Dari data Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), saat ini diperkirakan hanya ada sekitar 5 persen pilot wanita dari total keseluruhan pilot di dunia.

Di dunia, maskapai yang menunjukkan bentuk dukungan terhadap isu kesetaraan gender pertama kali disuarakan oleh Air Canada pada tahun 2019 lalu. Layaknya JAL sekarang, maskapai tersebut mengganti sapaan “ladies and gentlemen” atau “Ibu-bapak” menjadi salam ramah gender, seperti “selamat pagi” dan “selamat malam”. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh EasyJet, maskapai LCC asal Inggris.

Maskapai Indonesia Tatap Penerbangan Tanpa Tujuan, Traveller Siap-siap

Setelah Bandara Soekarno-Hatta menyatakan siap mendukung “flight to nowhere” atau terbang tanpa tujuan, publik, dalam hal ini traveller, mulai menanti-nanti langkah maskapai dalam negeri, terutama Garuda Indonesia dan Lion Group sebagai pemegang market share terbesar, untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Baca juga: Load Factor Maskapai Masih Melempem, Kemenhub: “Sangat Sangat Tidak Mudah”

Seperti masyhur terdengar sebelumnya, berbagai maskapai di dunia satu per satu mulai menjalankan program terbang tanpa tujuan dengan berbagai konsep. Maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) merupakan tiga maskapai awal yang meluncurkan penerbangan mirip joy flight tersebut.

Konsep yang ditawarkan tentu berbeda-beda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi.

Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama. Sedangkan penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines bisa dibilang mirip dengan Qantas, terbang keliling negeri, mengunjungi beberapa ikon dan wisata andalan dalam negeri.

Garuda Indonesia dan Lion Group sendiri saat ini masih malu-malu mengadopsi penerbangan tanpa tujuan. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan bahwa pihaknya masih menganalisis segalanya. “Kami masih analysis dan mempertimbangkan inisiatif,” terangnya kepada KabarPenumpang.com melalui pesan singkat, Rabu, (30/9).

Senada dengan Lion Group, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengungkapkan bahwa pihaknya mengaku belum tertarik ke arah sana. “Belum. Lagi review yang pas,” singkatnya kepada KabarPenumpang.com.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Sebelumnya, Executive General Manager (EGM) Bandara Soekarno-Hatta, Agus Hariyadi, mengatakan bahwa pihaknya siap memberikan fasilitas bagi maskapai yang mungkin membuka perjalan wisata terbang tanpa tujuan. “Pasti kami support, bagi Bandara paling tidak program ini bisa menumbuhkan keyakinan publik untuk terbang lagi,” kata dia saat dihubungi Kompas.com melalui pesan singkat, Senin (28/9).

Namun, lanjut Agus, hingga saat ini masih belum ada maskapai yang membuka program perjalanan wisata naik pesawat tanpa tujuan tersebut. “Sejauh ini belum ada yang mengajukan atau berencana,” katanya.

ART Indonesia Diputus Tak Bersalah Setelah Tuduhan Pencurian, Kepala Bandara Changi Terpaksa Mundur

Kepala Bandara Changi yang bernama Liew Mun Leong menuduh Parti Liyani mencuri pada tahun 2016. Sehingga membuat wanita asal Nganjuk, Indonesia ini dijatuhi hukuman dua tahun lebih setelah dinyatakan atas empat tuduhan pencurian dari mantan majikannya tersebut.

Baca juga: Bantu Petugas dan Penumpang, Bandara Changi Operasikan 47 Unit Robot

Meski begitu, Parti Liyani tak berputus asa sehingga akhirnya dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi Singapura dari semua tuduhan pencurian, lantaran penuntut gagal membuktikan kasusnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Parti Liyani awalnya mengalami petaka ini ketika majikannya yang merupakan bos di Bandara Changi tersebut meminta untuk bekerja di rumah Karl Liew, anak dari Liew Mun Leong.

Sayangnya Parti Liyani menolak karena dirinya terdaftar secara resmi hanya bekerja untuk Liew Mun Leong, bukan anaknya. Kemudian pada 28 Oktober 2016 dia dipecat karena tidak mengikuti perintah majikannya. Dia mengemas barang miliknya dan kembali ke Indonesia.

Ketika membereskan barang miliknya, dia dibantu dua pekerja lain dan ketika pulang ke Indonesia tidak membawa barangnya itu. Kemudian dia meminta untuk majikannya mengirimkan barang miliknya ke Indonesia tetapi pada 29 Oktober 2016, keluarga petinggi Bandara Changi tersebut menuduh Parti Liyani mengemas narkotika dan bom sehingga mereka membukanya.

Karena hal itu, keluarga Liew membuka kotak dan menemukan sejumlah barang milik mereka. Lalu, pada 30 Oktober 2016, Parti Liyani dilaporkan ke polisi oleh Liew Mun Leong. Dia dituduh mencuri barang milik keluarga Liew seperti dua unit ponsel, jam tangan bekas, pakaian wanita, selimut, dan barang lainnya dengan total nilai mencapai Rp340 juta.

Kotak itu tidak pernah dikirim ke Indonesia dan dijadikan barang bukti dalam kasus yang menjerat Parti Liyani. Pada 2 Desember 2016, Parti Liyani kembali ke Singapura guna mencari pekerjaan baru. Namun, dia langsung ditangkap saat tiba di Bandara Changi, Singapura.

Kemudian, dia divonis 2,5 tahun penjara atas kasus tuduhan pencurian itu. Namun Parti Liyani tak bergeming, dia kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Singapura. Selama proses hukum itu, Parti Liyani tinggal di tempat perlindungan dari yayasan HOME lantaran dia dilarang kembali ke Indonesia.

Setelah Parti Liyani diputuskan tidak bersalah dan dibebaskan oleh Pengadilan Tinggi Singapura, kemudian Liew Mun Leong mundur dari jabatannya sebagai kepala Bandara Changi.

Baca juga: Departemen Perhubungan Naikkan Permintaan Pajak Layanan, Maskapai Justru Lepas Tangan

Selain itu Tenaga Kerja Wanita ini meminta izin pengadilan untuk mengajukan gugatan disipliner pada dua jaksa yang menuntutnya bersalah dalam kasus pencurian. Melalui kuasa hukumnya, Anil Balchandani, Parti mengajukan gugatan terhadap dua jaksa yang bernama Tan Wee Hao dan Tan Yanying.

Jika Hyperloop Hadir di Bangalore, Kemacetan Parah Bisa Dikurangi

Baru-baru ini, Bangalore International Airport Limited (BIAL) dan Virgin Hyperloop menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk studi kelayakan dalam menghubungkan Bandara Internasional Kempegodwa (KIA) dengan kota melalui transportasi hyperloop berkecepatan super tinggi. Nantinya jika proyek ini berjalan dan berhasil, akan menjadi sistem transportasi hyperloop pertama di India.

Baca juga: Wow, Paris-Amsterdam Hanya 90 Menit dengan Hyperloop

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newindianexpress.com (28/9/2020), transportasi hyperloop sendiri akan menggunakan penggerak listrik dan levitasi elektromagnetik dalam kondisi hampir vakum. Transportasi hypreloop ini akan melaju hingga kecepatan 1080 km per jam dan mampu mengangkut ribuan penumpang per jamnya dari bandara ke kota atau sebaliknya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Selain itu, pelancong juga bisa mempersingkat perjalanan multimoda dengan check in yang mulus dan keamanan untuk hyperloop serta perjalanan udara di portal hyperloop yang berada di pusat. Kehadiran hyperloop di India juga akan membantu mengatasi kemacetan lalu lintas. Berdasarkan MoU tersebut, prastudi kelayakan yang fokus pada teknis, ekonomi dan perencanaan rute diharapkan selesai dalam dua tahap yang mana masing-masing tahap menghabiskan enam bulan.

“Pelaksanaan studi kelayakan untuk konektivitas hyperloop dari KIA merupakan langkah besar lainnya untuk membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menentukan mobilitas di masa depan, memungkinkan pergerakan orang yang efisien,” kata Sekretaris Utama Karnataka T M Vijay Bhaskar.

Sultan bin Sulayem, Chairman Virgin Hyperloop dan Group Chairman dan CEO DP World, mengatakan, pihaknya tengah mencari cara agar hyperloop dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi kemacetan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Bengaluru. Selain transit penumpang, bandara merupakan saluran penting untuk barang, terutama pengiriman yang sensitif terhadap waktu.

Bandara yang terhubung dengan hyperloop akan secara dramatis meningkatkan pengiriman kargo dan menciptakan rantai pasokan yang sangat efisien. MoU tersebut dipertukarkan secara virtual antara Sultan bin Sulayem dan Vijay Bhaskar yang juga merupakan Ketua Dewan Direksi BIAL, di hadapan Kapil Mohan, Sekretaris Utama, Departemen Pembangunan Infrastruktur, Karnataka.

“Inovasi teknologi adalah kunci untuk membangun dan mempertahankan pusat transportasi kelas dunia, dan studi (kelayakan) ini merupakan langkah maju yang penting,” kata Hari Marar, MD dan CEO, BIAL.

Baca juga: Inilah Penerapan “The New Normal” di Bandara Bengaluru Pasca Lockdown

Jay Walder, CEO Virgin Hyperloop mengatkan, bandara yang mendukung hyperloop tidak hanya akan memungkinkan perjalanan yang lebih cepat, tetapi juga akan menciptakan pengalaman penumpang abad ke-21 dan memperluas kapasitas bandara. KIA, pusat transit utama di selatan, akan terhubung dengan jalur kereta pinggiran kota dalam beberapa minggu dan akan memiliki konektivitas Metro dalam empat tahun.

Load Factor Maskapai Masih Melempem, Kemenhub: “Sangat Sangat Tidak Mudah”

Maskapai penerbangan seluruh dunia, termasuk maskapai dalam negeri, sangat terpukul akibat pandemi virus Corona. Hal itu setidaknya terlihat dari load factor maskapai yang terus-menerus berada di bawah level sebelum pandemi menerjang.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Novie Riyanto, mengaku tak mudah untuk mengembalikan load factor maskapai ke titik semula. Ada begitu banyak faktor, salah satunya kepercayaan penumpang.

“Untuk kembali seperti semula sangat-sangat tidak mudah,” terangnya, dalam webinar bertajuk Covid-19 and Aircraft Financing Industry yang diinisiasi oleh Masyarakat Hukum Udara, Selasa, (29/9).

“Tidak mudah kembalikan load factor karena kuncinya adalah kepercayaan penumpang,” lanjutnya.

Dari data yang disajikan dalam pemaparannya, diketahui rata-rata penurunan load factor selama pandemi virus Corona berlangsung sebesar 22,9 persen dibandingkan tahun lalu. Di tahun 2019, 12 maskapai nasional berhasil mencatat load factor mencapai 74,47 persen.

Sejalan dengan itu, jumlah penumpang domestik juga tercatat turun drastis. Penurunan terpantau mulai terjadi pada bulan Februari, dimana penumpang hanya mencapai 6,2 juta, turun sekitar 600 ribu pax dibandingkan bulan sebelumnya.

Di bulan berikutnya, penurunan meningkat menjadi sekitar 800 ribu pax. Setelah kasus virus Corona pertama di Indonesia dikonfirmasi, jumlah penumpang domestik pun anjlok tajam dengan jumlah kehilangan mencapai 4 juta pax, dari semula 5 juta penumpang di bulan Maret menjadi kurang dari 1 juta penumpang di bulan April.

Puncaknya terjadi di bulan Mei, dimana hanya ada kurang dari 80 ribu penumpang domestik sepanjang bulan tersebut. Padahal, penumpang domestik di Indonesia mencapai 80 persen.

Sekalipun di bulan Juni, Juli, dan Agustus jumlah penumpang pesawat udara mulai kembali meningkat, namun, jumlahnya tak cukup signifikan. Bahkan, lonjakan dari bulan Agustus ke September bisa dibilang cenderung stagnan berkisar di angka 2,3 juta penumpang. Jumlah pergerakan pesawat di bandara, dalam catatan Novie, juga masih rendah.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Penurunan tersebut memang dirasa cukup relevan dengan adanya pembelakuan SE 25 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Mudik dan Pengendalian transportasi, disusul dengan Surat Edaran 04 Tahun 2020 tentang pembatasan orang dan barang. Namun semua itu berakhir per tanggal 21 Mei 2020 dan dilanjutkan dengan Surat Edaran (SE) Permenhub 41 tahun 2020.

Secara aturan, SE tersebut sebetulnya tetap membatasi penumpang pesawat udara maksimal 70 persen dari kapasitas. Namun, ketidakjelasan SE tersebut pada akhirnya dengan mudah dilanggar maskapai. Terbukti, beberapa kali Lion Air menerbangkan pesawat penuh sesak saat SE tersebut masih berlaku. Sayangnya, sekalipun sudah dipayungi dengan SE abu-abu, faktanya penerbangan domestik masih tak kunjung melesat seperti sediakala.

Oktober 2020, Kereta Bawah Tanah Tercepat di Dunia Mengular di Guangzhou

Kereta bawah tanah melaju dengan kecepatan tinggi? Ya, ini sudah berhasil dilakukan oleh Cina. Di mana Negeri Tirai Bambu itersebut sudah memiliki kereta metro bawah tanah tercepat yang mampu melaju hingga 160 km per jam.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-9, Inilah Cerita Kereta Api Berkecepatan Tinggi Beijing-Shanghai

Kereta bawah tanah tersebut bakal melayani penumpang di jalur metro nomor 18 dan 22 di Guangzhou Metro yang berada di Provinsi Guangdong, Cina Selatan. Kereta metro bawah tanah ini akan mulai mengangkut penumpang pada Oktober mendatang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman metrorailnews.in (27/9/2020), beroperasinya kereta bawah tanah di dua jalur ini, akan memudahakn penumpang dari Kawasan Perdangan Bebas di Nansha yang menuju ke Stasiun Guangzhou Selatan. Perjalanan ini hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit. Sedangkan perjalanan dari Kawasan Perdagangan Bebas di Nansha menuju ke Stasiun Guangzhou Timur ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit.

Kedua jalur ini akan diperpanjang hingga ke Zhongshan, Dongguan dan Zhuhai yang berbatasan langsung dengan Makau. Kereta metro bawah tanah tersebut merupakan buatan CRRC Zhuzhou Locomotive Co LTD dan merupakan yang pertama dengan kecepatan 160 km per jam di kawasan Guangdong-Hong Kong-Makau.

Untuk diketahui, kereta tersebut menggunakan teknologi tercanggih dan inovatif karena bisa dioperasikan melalui sistem kendali berbasis Artificial intelligence atau AI. Tak hanya itu, perawatannya pun berbasis maha data dan sistem cloud atau yang biasa disebut komputasi awan.

Saat ini otoritas perkeretaapian Guangzhou telah memesan 40 rangkaian kereta metro bawah tanah tersebut untuk beroperasi di jalur 18 dan 22. Hingga saat ini, belum ada kereta metro bawah tanah dengan kecepatan 160 km per jam.

Baca juga: Punya 2 Ekstensi Baru, Metro Beijing Kukuhkan Jadi Jaringan Kereta Bawah Tanah Terpanjang

Sebab beberapa kota di Cina yang mengoperasikan kereta bawah tanah rata-rata hanya berkecepatan 80 sampai 100 km per jam. Di Cina yang memiliki jalur kereta bawah tanah terbanyak adalah Beijing yakni 20 jalur termasuk jalur khusus Bandara Internasional Ibukota Beijing atau BCIA dan Bandara Internasional Daxing.

Intip Kemampuan Truk Offroad Kelas Dunia Milik TNI AL, Tatrapan 6×6

Korps Marinir TNI AL bisa dibilang memiliki tugas berat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengingat luasnya wilayah perairan negara. Karenanya, dibutuhkan berbagai alutsista memadai, termasuk kendaraan taktis (rantis) yang tangguh di segala medan. Salah satunya seperti Tatrapan 6×6.

Baca juga: Seperti di Film James Bond “Golden Eye,” Rusia Kembali ‘Hidupkan’ Kereta Lapis Baja dengan Peluncur Rudal Balistik

Disarikan dari Indomiliter.com, kendaraan taktis besutan VYVOJ Martin ini mempunyai kemampuan melahap medan terjal berkat sasis truk offroad kelas dunia warisan pendahulunya, Tatra T815. Disebut kelas dunia, sebab, sasis tersebut berhasil mengantarkan sang empunya untuk meraih tahta tertinggi di kejuaraan Reli Dakar yang saat ini sudah memasuki tahun ke-42.

Sekalipun rantis TNI AL yang baru bergabung pada pertengahan 2016 lalu ini memiliki enam roda serta bobot seberat 24 ton lebih, namun medan terjal mudah baginya berkat kepemilikan one central differential and 3 lockable differentials, independen sprung, dan poros gardan yang berayun. Tak hanya itu, backbone frame pada Tatrapan juga dilengkapi tabung pendukung dengan excellent tensional rigidity dan inflasi ban yang terpusat.

Struktur rangka bagian bawah kendaraan juga sudah mengedepankan model V-shaped, layaknya kendaraan mewah di dunia, sehingga bila terjadi benturan keras ataupun terkena ledakan ranjau darat efek ledakan dapat diredam untuk keselamatan awaknya.

Selain bisa lazim digunakan sebagai kendaraan militer, truk Tatrapan 6×6 VYVOJ Martin juga terbuka untuk pemanfaatan secara luas di sektor sipil. Sebab, desain rantis ini memiliki dua bagian otonom, seperti halnya truk pada umumnya yang sering dijumpai di jalanan; di samping kemampuan offroadnya yang sangat memudahkan bila beroperasi sebagai kendaraan sipil.

Kompartemen pertama Tatrapan 6×6 tentu adalah bagain kepala truk, berisi sistem kemudi dan space untuk penumpang. Adapun kompartemen kedua merupakan superstruktur kendaraan bagian belakang yang dapat dimodifikasi untuk beragam aplikasi sesuai kebutuhan.

Dengan struktur bagian belakang yang dapat dikustomisasi, maka Tatrapan 6×6 dapat disulap untuk berbagai misi, seperti armoured personnel carrier, ambulance, command post, dan patrol vehicle. Varian dasarnya adalah Tatrapan T1 ZASA yang merupakan jenis APC yang bisa membawa 10 pasukan. Dengan kapasitas ruang interior yang besar, penambahan perangkat seperti radio electric combat, fire control system dan medical equipment masih dimungkinkan.

Baca juga: Bandara Internasional Moskow Gunakan Tank untuk Menderek Pesawat

Berbagai kemampuan taktis Tatrapan 6×6 juga diikuti oleh torsi besar di dapur pacu. Rantis yang secara teori mampu mengubah konfigurasi dari model umum ke model khusus ini dibekali dengan mesin Tatra T3-930-51 turbocharged air cooled diesel engine yang dapat menghasilkan 355 tenaga kuda.

Pilihan lainnya Tatrapan bisa juga menggunakan mesin diesel lansiran Deutz, yakni dari jenis KHD Deutz 6 silinder water cooled engine. Mesin ini mengadopsi transmisi otomatis TD 611175 (six forward and one reverse gear). Mesin ini punya tenaga yang lebih besar 450 tenaga kuda. Dengan bahan bakar penuh, Tatrapan dapat melaju sejauh 1.000 km dengan kecepatan maksimum di jalan raya hingga 80 km per jam.