Bukan Nama Jet Tempur, Inilah Lokomotif Tejas yang Layani Kereta Ekspres dengan Kecepatan 160 Km Per Jam

Bagi sebagian kalangan, nama Tejas sudah terlanjur identik dengan nama jet tempur bermesin tunggal produksi dalam negeri India. Namun, kali ini nama Tejas rupanya juga digunakan untuk wahana lokomotif, persisnya pabrik lokomotif utama Indian Railways Chittaranjan Locomotive Works (CLW) meluncurkan lokomotif listrik Tejas Express batch pertama. Lokomotif ini dikembangkan oleh CLW untuk operasi ‘dorong-tarik’ dengan WAP-5 yang dirancang secara aerodinamis.

Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

Teknologi ‘dorong-tarik’ tersebut akan membantu lokomotif listrik penumpang untuk mengurangi tarikan udara dan memastikannya lebih stabil pada operasi kecepatan tinggi. KabarPenumpang.com melansir livemint.com (2/10/2020), lokomotif ini bertipe WAP-5 yang berkapasitas 6000 HP dan dilengkapi dengan sistem propulsi berbagis IGBT terbaru yang mampu melaju dengan kecepatan 160 km per jam.

Meja masinis pada Tejas Express dimodifikasi secara ergonomis untuk meningkatkan keterampilan manuver masinis lokomotif. Konverter komposit juga disediakan di lokomotif ini untuk langsung memasok daya ke gerbong dan gerbong pantry sehingga menghilangkan kebutuhan gerbong pembangkit tenaga diesel terpisah.

Dalam pengaturan ‘dorong-tarik’, setiap lokomotif terhubung ke setiap ujung kereta dan akan berkomunikasi melalui bus kereta kabel. Setiap lokomotif dirancang sedemikian rupa sehingga satu kabin berbentuk aerodinamis dan kabin lainnya yang menghadap ke sisi gerbong dibuat datar untuk mengurangi hambatan udara secara drastis pada kecepatan yang lebih tinggi.

Dengan begitu kesemuanya dapat meningkatkan efisiensi energi kereta dan membuatnya lebih stabil secara dinamis pada kecepatan yang lebih tinggi. Upaya traksi maksimum dari satu lokomotif WAP5 adalah 260 kN dan itu bisa mengangkut hingga 16 gerbong.

Pengaturan ‘dorong-tarik’ dengan maksimum 12000 HP memberikan solusi untuk kebutuhan kereta yang lebih panjang seperti Rajdhani dengan satu loko di depan disebut master dengan loco pilot dan yang lainnya di belakang disebut slave tanpa loco pilot. Hal ini juga mengurangi gaya coupler dan menghasilkan pengoperasian yang lebih aman.

Lebih jauh di bagian gradien yang curam, tidak ada banker loco yang diperlukan dan tidak ada waktu yang hilang untuk pemasangan dan pelepasan bankir. Untuk memudahkan pekerjaan Loco Pilot, karena dua lokomotif akan berjarak sekitar 600 meter dengan gerbong di antaranya, kunci BL (Loco Main Switch to Turn ON), LSDJ (Indikasi kondisi pemutus sirkuit vakum) dan BPFA (Indikasi/Acknowledgement of Fault) telah disediakan dalam duplikat di master loco yang menggambarkan kondisi slave loco.

Selain itu, perangkat lunak pada lokomotif telah ditingkatkan untuk kemudahan pengoperasian. Kaca pandang telah diperlebar untuk kenyamanan Loco Pilot yang lebih baik dan seluruh bodi loco dibalut dengan lapisan vinil dengan desain grafis.

Baca juga: Tejas Express, Kereta Api India Pertama yang Akan Dioperasikan Swasta

Ini adalah lokomotif hijau bebas kebisingan, bebas polusi dan ramah lingkungan yang lebih hemat energi dan membutuhkan lebih sedikit perawatan dan juga akan menghemat banyak waktu shunting lokomotif. Tejas Express akan mengurangi perjalanan Rajdhani Express antara Howrah dan New Delhi hingga 90 menit

Indonesia dan Singapura Siapkan “Reciprocal Green Lane” untuk Mudahkan Perjalanan Bisnis dan Resmi

Pemerintah Singapura dan Indonesia sepakat menyiapkan jalur hijau timbal balik atau reciprocal green lane (RGL) untuk bisnis penting dan perjalanan resmi antar dua negara. Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) mengatakan, aplikasi untuk RGL akan mulai dibuka pada 26 Oktober dan perjalanan akan segera dimulai setelahnya.

Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

Kesepakatan ini sendiri hanya direncanakan kurang dari dua bulan di mana pada 25 Agustus, Singapura dan Indonesia membicarakan hal tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (12/10/2020), MFA mengatakan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan dan Menlu Indonesia Retno Marsudi telah menegaskan bahwa hubungan yang sangat baik dan lama antara keduanya dalam percakapan telepon.

Pada diskusi Agustus lalu, keduanya membahas pentingnya memperkuat kerja sama yang saling menuntungkan dalam mengatasi tantangan bersama yang ditimbulkan oleh Pandemi Covid-19. Hal ini termasuk dimulainya kembali perjalanan penting sambil menjaga kesehatan dan keselamatan publik di kedua negara.

“Dalam konteks ini, para menteri menyambut baik hasil perundingan tersebut,” kata MFA.

MFA mengatakan, Indonesia sebagai pengatur koridor perjalanan dan memperbolehkan warga Indonesia serta Singapura melakukan bisnis atau perjalanan resmi jika memenuhi syarat untuk RGL. Untuk itu pelancong ataupun pebisnis harus menunjukkan bukti tes usap reaksi berantai polimerase (PCR) pra-keberangkatan dan pasca-kedatangan dari institusi kesehatan yang diakui bersama.

Selain itu untuk hal lainnya diktakan MFA akan diumumkan ketika sudah waktunya. Retno mengatakan, akan ada dua titik masuk di Indonesia untuk RGL yakni Terminal Ferry Batam Center dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta.

Sedangkan dua titik masuk ke Singapura adalah Terminal Ferry Tanah Merah dan Bandara Changi. Pelancong harus mengikuti tes PCR pertama 72 jam sebelum keberangkatan, dan tes kedua setelah tiba di bandara atau terminal ferry.

Retno menambahkan, pelancong yang memenuhi syarat juga harus mengunduh dan mendaftarkan diri di aplikasi seluler TraceTogether dan SafeEntry selama di Singapura, atau di aplikasi e-HAC dan Peduli Lindungi selama di Indonesia. Dia mengatakan, pelamar dari Indonesia harus memiliki sponsor dari lembaga pemerintah atau perusahaan di Singapura dan meminta tiket SafeTravel.

Sedangkan bagi warga Singapura yang ingin masuk ke Indonesia harus memiliki sponsor dari pemerintah atau badan usaha dan mengajukan visa online. Ketika Singapura semakin dibuka kembali di tengah pandemi Covid-19, pengaturan perjalanan khusus telah dibuat dengan beberapa negara dan wilayah.

Saat ini Singapura telah memiliki pengaturan jalur hijau timbal balik untuk bisnis penting dan perjalanan resmi dengan Cina, Malaysia, Brunei, Korea Selatan dan Jepang. Ini juga secara sepihak mencabut pembatasan perbatasan untuk beberapa pengunjung dari Australia, tidak termasuk negara bagian Victoria, Vietnam, Brunei dan Selandia Baru.

Baca juga: Desember 2020, Kereta Mewah Orient Express Tampil di Singapura

Awal bulan ini, Menteri Transportasi Singapura Ong Ye Kung mengatakan mengejar lebih banyak pengaturan jalur hijau dan menegosiasikan gelembung perjalanan udara dengan negara-negara yang memiliki tingkat infeksi Covid-19 yang rendah termasuk di antara rencana untuk “menghidupkan kembali” Changi Air Hub.

Ong mengatakan dalam pernyataan, sebuah fasilitas telah didirikan di Bandara Changi untuk menampung hingga 10 ribu penumpang sehari. Dalam beberapa bulan ke depan, ada rencana untuk mendirikan laboratorium penguji Covid-19 khusus di bandara untuk mendukung pemulihan penerbangan.

Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Qantas sukses menerbangkan penerbangan tanpa tujuan atau flight to nowhere akhir pekan lalu (10 Oktober 2020). Terjadi beberapa perubahan dalam penerbangan perdana flight to nowhere tersebut, dari semula 134 kursi menjadi total 150 kursi; dari semula rata-rata di ketinggian 30 ribu kaki, menjadi hanya di ketinggian 25 ribu kaki; dan dari semula hanya tujuh jam menjadi total 8,5 jam keliling Australia.

Baca juga: Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Di momen penerbangan tanpa tujuan perdana Qantas, pengunjung disuguhkan berbagai pemandangan menarik dari beberapa destinasi wisata andalan Negeri Kanguru. Tak hanya itu, penumpang juga disuguhkan sajian spesial flight to nowhere. Agar lebih jelasnya, berikut foto-foto momen penerbangan tanpa tujuan Qantas yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber.

1. Boeing 787 Dreamliner

Boeing 787 Dreamliner dengan nomor penerbangan QF787 lepas landas dari Bandara Sydney. Foto: Getty Images

Pesawat Boeing 787 Dreamliner Qantas yang membawa 150 penumpang pada penerbangan tanpa tujuan, berangkat pukul 10.43 pagi waktu setempat, dari Bandara Sydney, di sebelah Tenggara Benua Australia. Setelah itu, pesawat langsung menuju ke Utara, menyusuri sepanjang pantai di ketinggian 25 ribu kaki.

2. Gold Coast, Brisbane

Goald Coast. Foto: Tourism Australia

Setelah menyisir sepanjang pesisir Timur Australia, pesawat kemudian mulai menurunkan ketinggian di kisaran 2.800 kaki ketika sampai di Gold Coast, Brisbane. Di sini, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan pasir putih khas Australia, biru laut, serta beberapa gedung pencakar langit.

3. Sunshine Coast, Queensland

Sunshine Coast. Foto: Daily Queensland

Setelah melewati Gold Coast, pengunjung disuguhkan dengan pemandangan indah pantai yang nyaris serupa dengan pantai tersebut, Sunshine Coast. Bedanya, pantai ini tak terdapat gedung tinggi sehingga lebih memanjakan mata tanpa terhalang bangunan.

4. Coolum Beach

Coolum Beach. Foto: Qatas

Masih sepanjang garis pantai Timur Benua Australia, dengan kecepatan agak pelan dan ketinggian rendah, peserta penerbangan tanpa tujuan Qantas disuguhkan dengan pemandangan Coolum Beach. Menariknya, warga yang berada di pantai melakukan penyambutan kecil ke pesawat dengan mengukir pasir dan membentuk tulisan “Visit Us for Real” sebagai undangan tak resmi pengujung ke pantai tersebut di kemudian hari.

5. Hamilton Island

Hamilton Island. Foto: Reddit

Usai menyusuri tiga pantai, Boeing 787 Dreamliner Qantas dengan nomor penerbangan QF787 kembali melesat di kecepatan dan ketinggian normal. Ketika mendekati Hamilton Island, pesawat dengan nomor registrasi VH-ZND tersebut kembali menurunkan ketinggian di kisaran 1.475 kaki. Pengunjung pun disuguhkan dengan pemandangan indah landskap unik di sekitar pantai, biru laut, dan pasir putih tanpa adanya bangunan apapun.

6. Heart Reef

Heart Reef. Foto: Youtube

Belum usai decak kagum keindahan Hamilton Island, agak melenceng sedikit ke lepas pantai Australia di Timur Laut, peserta penerbangan tanpa tujuan dibuat tercengang dengan keindahan Heart Reef. Terumbu karang berbentuk hati itu merupakan bagian dari gugusan terumbu karang yang melintang di sepanjang Timur Laut Australia, tak jauh dari Hamilton Island. Di sini, pesawat sempat berkeliling sebelum terbang ke destinasi berikutnya.

7. Greet Barrier Reef

Greet Barrier Reef. Foto: GoEco

Melengkapi Hear Reef, pengunjung juga disuguhi dengan pemandangan Greet Barrier Reef. Sebagaimana namanya, terumbu karang ini seperti menjadi tameng sekitar pesisir Timur hingga Timur Laut Australia dari terjangan ombak.

8. Uluru, Ayers Rock

Uluru atau biasa juga disebut Ayers Rock. Foto: ABC

Usai mengunjungi cantiknya terumbu karang dan pantai pesisir Timur hingga Timur Laut Australia, pesawat meluncur ke tengah Australia dengan melahap lima jam perjalanan. Setelah itu, pengunjung diajak melihat formasi batu pasir besar, Uluru atau biasa juga dikenal Ayers Rock, dari ketinggian sekitar 3.900 kaki. Di sini, pengunjung dijelaskan oleh para ahli melalui sambungan telepon satelit layaknya tour guide. Begitu juga saat di destinasi sebelumnya. Setelah 30 menit, pesawat kemudian kembali ke Sydney dan mendarat pada pukul 19.09.

Sanggup Layani Kapal Ferry Bertonase 10.000 Ton, Dermaga IV Merak-Bakauheni Resmi Dibuka

Dermaga IV di pelabuhan Merak dan Bakauheni yang dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry diresmikan pada Senin (12/10/2020). Kehadiran dermaga ini diharapkan akan mampu mendukung layanan operasional angkutan Natal dan Tahun Baru mendatang.

Baca juga: Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, Dermaga IV Pelabuhan Merak dan Bakauheni ini merupakan peningkatan dari dermaga yang sudah ada sebelumnya. Dermaga IV juga bisa melayani kapal-kapal ferry dengan kapasitas 6000-10 ribu GRT.

“Kesiapan dermaga IV untuk beroperasi merupakan solusi agar kegiatan mobilisasi barang maupun manusia antara Pulau Jawa dan Sumatera berjalan lancar,” ujarnya Budi Setiyadi yang dikutip dari keterangan tertulis.

Dia mengatakan, pelabuhan memiliki peran vital dalam perekonomian nasional dan daerah untuk menjamin kelancaran, keamanan, ketertiban dan keselamatan berlayar. Sehingga dikatakan Budi Setiyadi, pemeliharaan fasilitas pelabuhan mutlak dilaksanakan.

“Hal ini juga harus menjadi perhatian ASDP selaku operator Pelabuhan bahwa pemeriksaan fasilitas pelabuhan secara rutin merupakan tools untuk dapat melaksanakan langkah tindak lanjut dalam melaksanakan pemeliharaan berkala. Dengan langkah ini diharapkan tidak akan terjadi kerusakan yang bersifat mayor dan gagal fungsi pada fasilitas Pelabuhan,” kata dia.

Budi Setiyadi menambahkan, bertambahnya dermaga, maka bertambah pula frekuensi keberangkatan maupun kedatangan kapal setiap hari. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan, dalam menunjang konsep Poros Maritim dan memenuhi tuntutan kebutuhan angkutan penyeberangan yang andal dan memadai, maka ASDP melakukan revitalisasi dan peningkatan kapasitas dermaga Moveable Bridge (MB) dermaga IV di Merak dan Bakauheni, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintasan tersibuk ini.

“Alhamdullilah, pembangunan dermaga IV Merak-Bakauheni telah rampung tepat waktu dalam satu tahun, yang diharapkan akan meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan di lintasan tersibuk ini.  Dalam waktu dekat, dermaga ini dapat mendukung operasional layanan Angkutan Natal dan Tahun Baru mendatang,” tutur Ira.

Proyek dermaga IV Merak-Bakauheni senilai Rp379 miliar ini dibangun oleh kontraktor PT PP Pembangunan Perumahan yang tentunya telah memenuhi syarat baik klasifikasi dan kualifikasi dalam pekerjaan proyek ini. Dermaga IV Merak dengan tipe Breasting Dolphin, memiliki panjang 120 meter dengan pola sandar buritan mampu disandari kapal ukuran 6000-10 ribu GRT.

Untuk dermaga Bakauheni, dengan tipe Quay Wall, panjang 150 meter dengan pola sandar haluan juga mampu disandari kapal ukuran 6000-10 ribu GRT. Ira menambahkan, keberadaan dermaga IV di Merak dan Bakauheni dengan asumsi masing-masing dapat disandari oleh lima kapal, akan menambah kapasitas minimal empat trip kapal per 24 jam atau 20 trip per dermaga dari satu sisi. Sehingga kini total kapasitas trip di Pelabuhan menjadi rata-rata maksimal 140 trip dari total 7 dermaga yang beroperasi per 24 jam.

Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

Ia menambahkan, Pelabuhan Merak dan Bakauheni menjadi salah satu prasarana vital dan penting dalam roda perekonomian di Tanah Air karena menghubungkan dua pulau besar yang menjadi pusat perekonomian di Indonesia. Penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi lintasan tersibuk yang dikelola ASDP dengan total sekitar 60 kapal yang standbye beroperasi di lintasan ini.

Kucurkan Rp2,2 Triliun, Mahasiswa 27 Tahun Jadi Pemilik Baru Maskapai El Al

Eli Rozenberg, mahasiswa Yeshiva University (institusi Yahudi utama dunia untuk pendidikan tinggi), resmi menjadi pemilik atau bos baru maskapai penerbangan nasional Israel, El Al. Hal itu terjadi usai satu-satunya tawaran dari mahasiswa berusia 27 tahun itu, senilai US$150 juta atau sekitar Rp2,2 trliiun (kurs Rp14.700) diterima oleh maskapai. Dana tersebut nantinya akan menjadi modal tambahan El Al untuk bertahan di tengah krisis akibat virus Corona.

Baca juga: Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal

Sebetulnya, selain Eli Rozenberg, David Sapir, seorang pengusaha pariwisata dan telekomunikasi berdarah Rusia-Israel dan Meir Gurvitz, seorang pengusaha real estate berdarah Inggris-Israel, juga ikut memperebutkan El Al. Hanya saja, sampai tenggat waktu penawaran terakhir ditutup, kedua pengusaha keturunan Yahudi itu tak mengajukan penawaran apapun.

Dilansir ynetnews.com, dengan kucuran dana segar sebesar itu (Rp2,2 trliiun), perusahaan mahasiswa Yahudi kelahiran New York, Amerika Serikat ini, Kanfei Nesharim Aviation (travel agen yang berbasis di Brooklyn, New York, dan Buenos Aires, Argentina dimana Amerika Latin dan Timur Tengah menjadi fokus utamanya), diketahui menjadi pemegang saham mayoritas sekitar 42,85 persen. Adapun sisanya dimiliki negara dan perusahaan lain.

“Negara, yang telah berkomitmen untuk membeli saham tak terencana sebagai bagian dari stimulus paket penyelamatan perusahaan, membeli sekitar $30 juta atau setara dengan 12-15 persen saham dari perusahaan,” tulis The Times of Israel.

Pada bulan Juni, Kementerian Keuangan Israel merumuskan stimulus bantuan sebesar NIS 1,4 miliar ($400 juta), dengan jaminan 75 persen dari total bantuan jika terjadi kredit macet atau gagal bayar. Hal itu terpaksa dilakukan mengingat keuangan maskapai sudah dalam kondisi kritis.

Meski demikian, pemerintah berargumen bahwa masalah maskapai ini, seperti tenaga kerja yang membengkak, gaji tinggi, dan neraca yang lemah, sudah dimulai jauh sebelum adanya pandemi Covid-19. Karenanya, Pemerintah Israel meminta maskapai El Al Israel Airlines untuk melakukan pembenahan, termasuk juga regulasi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Pembenahan tersebut juga menjadi syarat yang harus dipenuhi maskapai yang berpusat di Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv itu sebelum pemerintah Israel menyetujui untuk memberikan bantuan sebesar US$400 juta pada Juni lalu.

Sejak penerbangan internasional runtuh akibat pandemi virus Corona, El Al setidaknya sudah mem-PHK sebanyak 6.000 karyawan atau sekitar 90 persen dari total karyawan. Maskapai tersebut tak punya pilihan lain mengingat perusahaan tak mempunyai pangsa pasar penerbangan domestik yang kuat layaknya Indonesia, AS, Cina, Rusia, dan negara-negara lainnya.

Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi

Masa pandemi banyak membuat moda transportasi mengalami kemerosotan dalam hal pendapatan, seperti alah satunya adalah Damri yang sebagian besar sektor pemasukannya berasal dari layanan bus bandara. Dan ketika trafik dan jumlah penerbangan anjlok, maka otomatis berimbas pada kinerja keuangan pada BUMN tersebut.

Baca juga: Damri JA Connection Buka Rute Pondok Cabe – Bandara Soekarno-Hatta

Meski tengah menghadapi tantangan berat, Perum Damri perlahan mulai bangkut kembali dan baru-baru ini, menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengelola Keuangan Haji atau BPKH untuk menyediakan layanan transportasi bagi Jemaah Haji dan Umrah di Arab Saudi. Adanya hal ini sendiri merupakan bagian dari strategi ekspansi bisnis Damri ke luar negeri.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara mengatakan, akan memberikan layanan terbaik dan melakukan transformasi budaya kerja dengan telibat langsung di proyek internasional termasuk layanan ibadah Haji dan Umrah.

“Dengan keterlibatan Damri dalam proyek internasional bisa meningkatkan juga kapabilitas dan transformasi budaya Damri. Sehingga dari sisi kualitas layanan maupun kinerja, performance bisnis dan keuangan semakin baik,” ujar dia.

Sayangnya belum dibeberkan secara jelas kapan hal ini bisa terealisasi. Selain itu, Damri juga berkolaborasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry dalam hal penyediaan layanan angkutan bus bagi penumpang.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, nantinya layanan bus Damri akan tersedia bagi penumpang ferry yang akan melanjutkan perjalanan dari Pelabuhan Sosoro Merak menuju ke Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan kawasan pariwisata Tanjung Lesung, Banten.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Shelvy Arifin mengatakan, sinergsitas layanan angkutan dengan Damri ini sebagai wujud komitmen dalam mendukung layanan transportasi intermoda di lingkungan Pelabuhan Merak yang dikelola ASDP. Sebelumnya, telah ada integrasi layanan transportasi kapal dengan kereta api di Pelabuhan Merak, lalu dengan bus (melalui Terminal Terpadu Merak), dan kini bekerja sama dengan Damri menyediakan transportasi bagi penumpang yang akan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan kawasan wisata Tanjung Lesung.

“Kami berusaha agar pengguna jasa dari Pelabuhan Merak semakin mudah mengakses layanan transportasi dari dan ke bandara Soekarno-Hatta maupun ke Tanjung Lesung. Permintaan untuk ketersediaan layanan angkutan lanjutan ini memang cukup tinggi, dan kami berusaha untuk merespon pasar,” ujar Shelvy.

Selama bulan Oktober 2020 ini, ASDP dan Damri melakukan uji coba operasional layanan bus Damri dari Mal Sosoro Terminal Eksekutif Merak menuju Bandara Soetta dan Tanjung Lesung, yang dilayani setiap hari per 2-3 jam.  Untuk tujuan ke Bandara Soetta disiapkan moda bus dengan kapasitas 39 kursi, sedangkan untuk ke Tanjung Lesung disiapkan kendaraan jenis Elf dengan kapasitas lima kursi.

Lain dari itu, Damri juga mendukung Dinas Perhubungan di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menjadi operator bus ramah lansia, disabilitas dan lingkungan. Untuk trayeknya sendiri adalah kota Mataram yang akan melalui beberapa sekolah luar biasa dan sekolah umum serta melayani kaum disabilitas untuk beraktivitas.

Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Barat telah bekerja sama dengan Damri untuk mengoperasikan bus ramah difabel yang akan mulai beroperasi mulai 1 Oktober 2020 besok. Bus dengan merk Hino RK ini memiliki kapasitas 70 orang dilengkapi dengan fasilitas tangga hydraulic otomatis dan ruang khusus pengguna kursi roda sebanyak sepuluh titik. Memiliki karakteristik torsi yang tinggi sejak putaran rendah, dengan demikian dapat mengefisiensikan pemakaian bahan bakar.

Baca juga: Tak Lagi Repot ke Loket, Beli Tiket Bus Damri Bisa Pakai Damri Apps

Adapun waktu keberangkatan dari Pool Damri Sweta Mataram yakni pukul 06.30 WITA dengan waktu tiba di Sekolah Luar Biasa Selagalas pukul 08.00 WITA. Sedangkan untuk rute sebaliknya dari Sekolah Luar Biasa Selagalas yakni pukul 12.00 WITA dengan waktu tiba di Pool DAMRI Sweta Mataram pukul 14.00 WITA. Dengan tarif gratis.

Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

Singapore Airlines menawarkan sajian spesial sate non daging alias sate ramah vegetarian. Hidangan untuk kelas bisnis dan kelas satu yang hadir dengan saus kacang pedas merupakan bagian dari tiga inisiatif baru maskapai dalam balutan Discover Your Singapore Airlines. Dengan begitu, pelanggan bisa makan sate sepuasnya tanpa takut kolesterol atau darah tinggi.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Tiga itu, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, tur keliling fasilitas pelatihan maskapai terbaik di dunia pada tahun 2018 dan terbaik ke-2 tahun 2019 versi Skytrax ini, hingga layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan.

Dilansir situs resmi perusahaan, Singapore Airlines (SIA) membanderol makan siang selama tiga jam di kabin kelas ekonomi Airbus A380 hanya sebesar $50 atau sekitar Rp750 ribu (kurs 14.800).

Bagi pelanggan yang menginginkan berbagai hal lebih, mulai dari sajian mewah dari koki terkenal Singapura, Shermay Lee, pemandangan, servis, fasilitas, serta desain jauh lebih mewah dibanding kabin kelas ekonomi, mereka dapat menikmati makan siang mewah di ultra first-class suites A380 SIA dengan mahar sebesar $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800).

Tapi tenang, bila harga tersebut masih terlalu mahal, pengunjung bisa saja mendapatkan diskon di KrisShop, goodie bag edisi terbatas, dan hadiah tambahan jika datang ke restoran pop-up A380 Singapore Airlines menggunakan pakaian tradisional.

Layanan ini sudah bisa dipesan mulai 12 Oktober dan akan dibuka pada 24-25 Oktober mendatang. Di antara sajian mewah dalam restoran pop-up pesawat Airbus A380 yang di parkir di Bandara Changi ini, sate (satai) vegetarian atau Impossible Meat adalah salah satunya.

Sebagaimana namanya, satai yang disajikan tak menggunakan daging ayam, domba, dan sapi, tapi diganti dengan hidangan ramah vegetarian yang dibuat oleh Impossible Foods California untuk memberikan rasa dan tekstur yang sama.

Satai ini tidak hanya untuk vegetarian dan vegan. Namun, seperti pengganti daging modern lainnya, satai ini juga merupakan pilihan sesekali untuk karnivora yang sadar kesehatan. Pihak Singapore Airlines mengatakan satai dengan Impossible Meat ini dibuat secara khusus untuk melengkapi makanan vegetarian.

Selain tersedia di restoran pop-up Airbus A380 Singapore Airlines di Bandara Changi, sate (satai) vegetarian atau Impossible Meat satay tersebut juga tersedia dalam layanan SIA@HOME, sebuah layanan pesan-antar (delivery) makanan mewah yang biasa dihidangkan SIA untuk para penumpang kelas bisnis dan kelas satu (first- or business-class). Setiap menu menampilkan sate khas SIA. Hidangan sate khas SIA tersebut spesial buatan empat chef internasional SIA; Australia, Jepang, India, dan Perancis.

Untuk first class meals SIA, harganya dibanderol mulai dari $448 atau Rp6,6 juta (kurs 14.800). Adapun untuk business class meals SIA dalam program ini, dibanderol mulai $288 atau sekitar Rp4,3 juta (kurs 14.800). Layanan ini sudah bisa dinikmati mulai 5 Oktober 2020.

Baca juga: 14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis

Sebelum menyantap menu spesial sate khas SIA tersebut, pelanggan juga disuguhkan dengan first class atau business class amenity kit maskapai, seperti welcome videos, panduan cara memanaskan dan menghidangkan makanan, serta playlist kurasi spesial yang sudah di-create ulang untuk menghadirkan sensasi terbang di kabin pesawat SIA di rumah.

Edisi terbatas dalam program SIA@HOME juga memberikan kesempatan pada pelanggan untuk menikmati berbagai fasilitas di dalam pesawat SIA, seperti gelas kristal Lalique, pakaian tidur Lalique first class, perlengkapan makan Wedgwood dan Narumi, dan berbagai fasilitas lainnya.

Sulit Pompa ASI, Senator Tammy Duckworth Prakarsai Ruang Laktasi di Bandara Amerika Serikat

Apakah ruang laktasi dibutuhkan di bandara? Jawabannya ya, karena penumpang bandara juga banyak yang merupakan seorang ibu dan bepergian dengan bayi mereka. Para ibu ini membutuhkan ruang laktasi untuk menyusui bayi mereka atau sekedar memompa ASI (air susu ibu) sebagai persediaan.

Baca juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room

Ruang laktasi hadir di bandara Amerika Serikat setelah seorang Senator bernama Tammy Duckworth yang akan memompa ASI. Saat itu, dirinya disarankan untuk memompa ASI di toilet bandara. Hal itu terjadi ketika dia memiliki putri pertama pada tahun 2015 lalu.

Ruang laktasi di bandara (businessinsider.com)

Tammy saat itu kesulitan apalagi dirinya kerap kali bolak-balik antara Illinois dan Washington DC untuk bekerja dan masih memompa ASI untuk bayinya. KabarPenumpang.com melansir laman businessinsider.com (10/10/2020), kala itu, dirinya sering kali tidak dapat menemukan tempat untuk memompa ASI.

“Saya diberitahu untuk menggunakan kios orang cacat, toilet, yang menjijikkan. Anda tidak akan makan sandwich di sana. Mengapa Anda meminta saya untuk memompa ASI untuk putri saya? Itu tidak sehat,” kata Senator Tammy.

Karena kesulitannya ini, pada 2015, Tammy mensponsori RUU untuk membantu memasukkan ruang laktasi ke bandara. Namun, sayangnya upaya tersebut gagal dan pada 2018, Friendly Airport for Mother ATC yang disponsori Tammy diberlakukan.

Undang-undang baru memastikan bahwa bandara menengah dan besar dapat menggunakan dana dari program peningkatan bandara. Biasanya dana ini digunakan untuk perbaikan gedung terminal, perluasan lanadasan pacu. Tetapi saat ini juga digunakan untuk penamabahan area laktasi pribadi.

Tetapi bandara kecil yang diklasifikasi Federal Aviation Administration atau FAA sebagai bandara yang menerima 0,05 hingga 0,25 persen dari rencana komeriasl Amerika Serikat tahunan tidak dimasukkan dalam persamaan. Tammy mengatakan ini menjadi masalah karena banyak pelancong memulai perjalanan mereka dari bandara kecil sebelum mengambil penerbangan di hub yang lebih besar.

“Tempat terbaik [bagi para penumpang] untuk memeras ASI, ini benar-benar penerbangan awal. Dan itu adalah bandara kecil,” kata Tammy.

Baca juga: Megaproyek Kereta Peluru India, Dilengkapi Nursery Room dan Toilet Terpisah

Meskipun ada penundaan karena pandemi virus corona, Kongres awal bulan ini mengesahkan Undang-Undang Peningkatan Bandara Ramah Ibu, yang juga memperpanjang penggunaan pendanaan Perbaikan Bandara untuk ruang bersalin ke bandara kecil. Presiden Trump diharapkan untuk menandatanganinya menjadi undang-undang. RUU itu akan berlaku saat bandara dan pelancong keluar dari pandemi.

“Ketika kita mulai bepergian lagi, para ibu yang bekerja di luar rumah, dan keluarga yang bepergian, sebenarnya akan mendapatkan manfaat ini,” kata Tammy.

Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Kenapa pesawat komersial berjadwal dilarang terbang atau melintas Benua Antartika? Pertanyaan tersebut sering kali dijumpai saat membahas berbagai misteri dari benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi ini.

Baca juga: Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!

Sebagian kalangan mengaitkan, tidak melintasnya pesawat di atas benua yang hampir seluruhnya terletak di Lingkar Antarktika dan dikelilingi oleh Samudera Pasifik, Samudera Atlantik, dan Samudera Hindia ini dengan Admiral Byrd. Admiral Byrd adalah seorang penjelajah dari Amerika Serikat yang terkenal karena penjelajahannya pada benua Antartika dan lautan Arktik.

Pada saat melakoni ekspedisi di Benua Antartika menggunakan pesawat Fokker F-VII, ia mengaku melihat daratan lain sebesar Amerika Serikat, yang tak pernah dikunjungi manusia. Bagi penganut teori konspirasi Bumi Datar, Benua Antartika menyimpan sisi lain bumi yang tak diketahui dan tak boleh diakses oleh publik.

Terlepas dari itu, teka-teki larangan pesawat komersial berjadwal melintas masih terus membuat penasaran dunia. Namun, pendapat dari Leo Moran, tutor bahasa Inggris ini mungkin bisa sedikit menjawab teka-teki tersebut.

Dikutip dari express.co.uk, Moran mengatakan, “Selama Pemerintahan Reagan (Presiden AS ke-33 dengan masa jabatan mulai 20 Januari 1981 – 20 Januari 1989), Administrator FAA, J. Lynn Helms, memutuskan bahwa pesawat-pesawat yang terbang harus berjarak sekitar 1 jam penerbangan dari bandara terdekat jika terjadi keadaan darurat, sehingga pesawat bisa mendarat.”

Aturan tersebut kondang dikenal dengan sebutan “60-minute rule” atau dikenal juga Extended Range Operation Two-Engine Airplanes (ETOPS). Saat itu, ETOPS mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Akan tetapi, saat ini, pesawat sudah mampu mengudara selama berjam-jam lamanya sekalipun hanya dengan satu mesin. Airbus A330-900, misalnya, berhasil terbang 4 jam 45 menit dengan satu mesin saat meraih sertifikasi ETOPS. Faktanya, maskapai yang menggunakan pesawat tersebut atau pesawat lainnya dengan kemampuan setara atau di bawahnya tetap tak kunjung diizinkan untuk melayani penerbangan berjadwal melilntasi Benua Antartika.

Lebih lanjut, Moran menjelaskan, Benua Antartika tak boleh dilintas pesawat komersial berjadwal sebab, di sana terdapat medan magnet cukup kuat. “Terbang di wilayah kutub yang kuat magnet buminya adalah mimpi buruk bagi setiap pilot. Sebab, arah navigasi pada radar menjadi tidak berarti,” ujarnya.

Meski demikian, faktanya, penerbangan charter/joy flight tetap takdiperbolehkan melintas di benua tersebut. Jadi, alasan medan magnet membahayakan navigasi pesawat nampaknya tak sepenuhnya bisa diterima.

Sejauh ini, beberapa pesawat dengan ukuran yang kecil seperti pesawat perintis memang masih bisa terbang ke Antartika. Itu adalah pesawat-pesawat yang membawa para peneliti, serta yang membawa pendaki gunung untuk mendaki salah satu Seven Summit dunia, Vinson Massif.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terbang Lurus? Inilah 5 Alasannya

Sebelum benar-benar dilarang, sebetulnya, pesawat komersial berjadwal pernah melintas di atas Benua Antartika sampai akhirnya pesawat milik maskapai Air New Zealand mengalami kecelakaan di Antartika pada 28 November 1979. Akibat kecelakaan pesawat flight 901 tersebut, 257 orang tewas dilaporkan tewas. Insiden yang juga sering disebut Kecelakaan Mount Erebus ini usai jatuh di lereng Gunung Erebus, Pulau Ross, akhirnya menjadi awal dari larangan penerbangan melintasi Benua Antartika.

Pada dekade 1970, perjalanan udara ke Antartika memang sempat populer di kalangan wisatawan. Mereka penasaran untuk melihat-lihat panorama benua paling selatan di bumi tersebut. Salah satu jenis penerbangan yang terkenal adalah terbang mengelilingi Tebing Es Ross. Pemandangan indah di sekitar wilayah tersebut menjadi daya tarik utama.

Garuda Indonesia Rilis Boeing 737-800NG dengan Masker “Indonesia Pride”

Setelah beberapa waktu lalu menampilkan Airbus A330-900 Neo dengan livery masker pada bagian hidung, maka Garuda Indonesia kembali merilis pesawat kedua yang diberi livery masker, kali ini dengan tajuk “Indonesia Pride,” Garuda Indonesia mencat area hidung pada pesawat narrow body Boeing 737-800NG.

Baca juga: Pesawat Garuda Indonesia Pakai Masker, Maskapai Ini Sudah Lebih Dulu Loh

Desain livery masker tersebut merupakan karya dari Jailani pemenang kompetisi “Fly Your Design Through the Sky” tahap pertama yang diselenggarakan pada periode 1 Oktober 2020 hingga 9 Oktober 2020 lalu. Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Melalui kompetisi “Fly Your Design Through The Sky” ini, kami ingin mengajak masyarakat luas berperan aktif dalam menyuarakan pentingnya penggunaan masker pada masa pandemi, dengan menuangkan kreativitasnya pada desain masker yang akan terpasang di 4 (empat) pesawat Garuda Indonesia secara bertahap ini.”

Desain mask livery ini mengangkat tema kebanggaan atas kekayaan ragam budaya dan pesona alam Indonesia antara lain dengan menampilkan motif Barong Bali, simbol eksotisme candi, ikon fauna khas Indonesia – komodo serta berbagai representasi kekayaan budaya dan pesona alam nasional lainnya.”Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Artha Graha Peduli yang turut menduking kampanye penggunaan masker melalui Inisiatif program mask Livery Garuda Indonesia”, jelas Irfan.

Baca juga: Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan!

Kompetisi desain mask livery “Fly Your Design Through The Sky” akan diselenggarakan sepanjang bulan Oktober 2020 yang terbagi menjadi 4 tahap pengumuman pemenang yakni ; Pemenang ke-1: 12 Oktober 2020, Pemenang ke-2: 16 Oktober 2020, Pemenang ke-3: 23 Oktober 2020, dan Pemenang ke-4 : 9 November 2020.