Kapten Sully Kritik Habis Boeing 737 MAX, Crew Alerting System dan Sensor Ketiga AoA Jadi Sorotan

Kapten Chesley “Sully” Sullenberger atau dikenal juga Kapten Sully mengaku tak puas dengan progres perbaikan Boeing 737 MAX. Padahal, usai menjalani uji sertifikasi ulang awal Juli lalu, pesawat pesakitan itu digadang bakal kembali melayani penumpang akhir tahun ini.

Baca juga: Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual

Kapten Sully yang terkenal usai tragedi “Miracle on the Hudson”, sebuah insiden yang menimpa pesawat Airbus A320-214 US Airways flight 1549 akibat dihantam bird strike dan memaksa pesawat melakukan ditching atau mendarat di air, dalam sebuah wawancara, menyoroti crew alerting system atau sistem peringatan kru 737 MAX.

Menurutnya, pesawat perlu melakukan modifikasi tambahan untuk meningkatkan sistem peringatan kru dan menambahkan sensor ketiga untuk input data sensor angle of attack (AoA) pesawat. Saat ini, sensor AoA diketahui hanya ada dua dan dalam insiden 737 MAX yang menimpa Lion Air serta Ethiopian Airlines, dua sensor AoA MAX rusak dan tak bisa mengenali gerak pesawat.

“Saya tidak akan mengatakan, ‘Kita sudah selesai, cukup bagus, lanjutkan’. Orang-orang akan terbang di atasnya dan saya mungkin akan menjadi salah satunya,” kata Kapten Sully, seperti dilaporkan Seattle Times dan Military.com.

“MAX yang diperbarui mungkin akan seaman (model sebelumnya) 737 NG ketika mereka selesai menggunakannya. Tapi itu tidak sebaik yang seharusnya,” tambahnya.

Dengan kondisi keuangan yang agak kacau akibat pandemi virus Corona, proses perbaikan 737 MAX dan 737 NG diprediksi akan menemui kendala baru. Untuk perbaikan MAX saja, hingga Maret lalu, Boeing mengaku telah menghabiskan Rp268 triliun. Seiring berbagai inspeksi oleh otoritas, 737 NG pun ikut keseret dan pada akhirnya juga dituntut melakukan perbaikan.

Namun demikian, Kapten Sully, sang pilot kawakan di insiden Sungai Hudson, menekankan agar Boeing tak sayang uang demi kemanan dan keselamatan pesawat 737 MAX serta 737 NG. “Di MAX, desain sistem kontrol penerbangan tergolong cacat. Mereka telah secara tidak sengaja membuat perangkap (pesawat) maut. Itu masalah waktu sampai itu merenggut nyawa.”

Kapten Sully memang terkenal keras terkait insiden Boeing 737 MAX. Pada bulan Juni 2019, saat bersaksi pada sidang investigasi 737 MAX di hadapan Komite Transportasi DPR AS, ia mengkritik keras kegagalan desain Boeing dan pengawasan FAA.

Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

“Sangat penting bahwa input Aoa ketiga, atau synthetic airspeed, tersedia di pesawat ini,” kata Kapten Sully.

Atas kritikan keras dan masukan darinya, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) pun menekan Boeing agar menambahkan input ketiga AoA pada MAX. Meskipun hal tersebut tak mudah dilakukan, EASA menyebut Boeing siap menjalankan masukan itu pas MAX kembali beroperasi.

Tak Seperti Negaranya, Vietnam Airlines Rugi Rp6,7 Triliun Gegara Covid-19

Vietnam menjadi satu dari beberapa negara yang tak sekalipun mencatat pertumbuhan ekonomi di bawah nol. Padahal, di saat yang bersamaan, pandemi virus Corona telah menyeret berbagai negara maju ke dalam resesi. Sayangnya, prestasi Vietnam tak lantas diikuti oleh BUMN negara tersebut, seperti misalnya flag carrier nasional mereka, Vietnam Airlines.

Baca juga: Gantikan Armada Airbus yang Sudah Tua, Vietnam Airlines Berencana Pesan 100 Boeing 737 MAX

Selama sembilan bulan atau hingga kuartal ketiga 2020, maskapai yang berdiri sejak 1956 ini tercatat membukukan kerugian bersih sebesar US$463 juta atau Rp6,7 triliun (kurs Rp14.700). Hal ini tentu saja diakibatkan turunnya frekuensi penerbangan internasional serta kebijakan ketat pemerintah dalam menangkal Covid-19 ke negara yang sering disebut Vietnam Rose ini.

Dilansir Simple Flying, sejak akhir Januari, Vietnam Airlines telah menangguhkan semua penerbangan dari dan ke China. Sebanyak 70 ribu pengunjung antara kedua negara terdampak oleh kebijakan tersebut.

Dua bulan berselang, pemerintah memutuskan untuk menutup pintu internasional dari dan ke negara tersebut, kecuali beberapa penerbangan internasional yang sangat penting. Hal itu tentu saja semakin membuat maskapai berdarah-darah.

Memasuki bulan Juni, penerbangan domestik mulai berangsur pulih. Sekalipun di titik ini penerbangan internasional masih belum bisa diandalkan, setidaknya maskapai tetap bisa memutar uang bersamaan dengan jalannya rute domestik.

Sambil terus fokus di penerbangan domestik, Vietnam Airlines juga mengambil langkah-langkah efisiensi, seperti restrukturisasi utang, reorganisasi manejemen atau PHK karyawan, serta menahan pengeluaran yang tidak mendesak. Tentu saja semua langkah tersebut juga dilakukan oleh seluruh maskapai di dunia.

Dewi fortuna nampaknya juga berpihak ke maskapai yang beraliansi dengan SkyTeam ini. Hal itu tercermin dari tingginya mobilitas maskapai terhadap penerbangan charter khusus kargo, repatriasi, dan pemulihan rute domestik.

Pada penerbangan repatriasi, maskapai ini tercatat telah mengoperasikan lebih dari 100 penerbangan repatriasi dan membawa pulang lebih dari 30.800 warga negara ke berbagai tujuan, seperti Angola, Guinea Khatulistiwa, Amerika Serikat, Taiwan, negara-negara di Eropa, dan banyak negara lainnya di seluruh dunia.

Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

Penerbangan kargo pun demikian. Vietnam Airlines setidaknya telah mengoperasikan lebih dari 2.600 penerbangan kargo ke seluruh dunia. Beberapa dari penerbangan ini termasuk sumbangan peralatan dan perlengkapan medis serta berbagai barang bernilai ekonomi tinggi lainnya.

Vietnam Airlines dan anak usahanya, Pacific Airlines, merupakan pemegang market share terbesar di Vietnam dengan lebih 50 persen pangsa pasar domestik. Hingga kuartal ketiga, keduanya telah mengoperasikan 46.700 penerbangan dan mengangkut kurang dari 12 juta penumpang serta 146.000 ton kargo. Selain itu, khusus untuk Vietnam Airlines, maskapai juga telah meluncurkan 22 rute domestik baru dan saat ini menerbangi lebih dari 300 penerbangan per hari.

Hari ini, 17 Tahun Lalu, Wahana Roket Cina Shenzhou 5 Berhasil Terbangkan Astronot Pertama

Cina pada 17 tahun lalu akhirnya berhasil menyelesaikan misi antariksa berawak pertama mereka. Ini adalah roket Shenzhou 5 yang diluncurkan pada 15 Oktober 2003 dari program antariksa Cina. Pesawat antariksa Shenzhou tersebut diluncurkan dari wahana peluncuran Long March 2F.

Baca juga: Lihat Banyak Tempat Indah dari Luar Angkasa, Astronot Juga Butuh Liburan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Shenzhou 5 diluncurkan pada pukul 01.00 UTC (09.00 waktu setempat) dari kosmodrom Jiuquan tepatnya berada di Gurun Gobi. Kemudian pada pukul 01.10 UTC, orbit target mencapai ketinggian 343 km.

Bila ditotal secara keseluruhan Shenzhou 5 mendarat 21 jam kemudian setelah mengitari bumi sebanyak 14 kali sebelum akhirnya mendarat pukul 22.23 UTC tanggal 16 Oktober di Mongolia Dalam. Pendaratan ini sendiri meleset sekitar 4800 meter atau 4,8 km dari tempat peluncuran awal.

Sebelum Shenzhou 5 ada empat dari misi Shenzhou nirawak sejak tahun 1999 dan Cina menjadi negara ketiga di dunia yang memiliki kemampuan penerbangan antariksa berawak independen setelah Uni Soviet sekarang Rusia dan Amerika Serikat. Ternyata Shenzhou ini terdiri dari tiga modul yakni modul layanan berisi instrumentasi dan sistem propulsi, modul tengah berbentuk lonceng yang membawa awak selama peluncuran dan pendaratan serta modul orbital ke depan berbentuk silinder yang membawa eksperimen ilmiah dan militer.

Shenzhou 5 memiliki panjang 9,3 meter, beratnya mencapai 7.840 kilogram serta berdiameter 2,8 meter. Pesawat ini didukung dengan empat panel surya yang menghasilkan total daya 1500 watt. Dalam peluncurannya, Shenzhou 5 menggunakan roket peluncur Long March 2F dalam membantunya mencapai orbit bumi.

Penasaran siapa awak yang ikut dalam perjalanan antariksa Shenzhou 5? Dia adalah Yang Liwei seorang pilot umum dan militer besar serta China National Space Administration Astronot. Dia menjadi orang pertama yang dikirim ke luar angkasa dalam misi Shenzhou 5.

Dia sebelum menjadi awak Shenzhou 5, terpilih sebagai kandidat astronot pada 1998 dan telah berlatih untuk penerbangan luar angkasa sejak saat itu. Yang Liwei saat menjalankan misi berpangkat Letkol dan kemudian diangkat menjadi kolonel 20 Oktober 2003.

Baca juga: Sebelum Terbang dengan Kapsul Boeing CST-100 Starliner, Astronot Berlatih dengan VR

Setelah peristiwa itu, seorang pimpinan NASA, Sean O’Keefe menyebut Shenzhou 5 sebagai “pencapaian penting dalam eksplorasi manusia”. NASA juga berharap Cina “melanjutkan program penerbangan angkasa manusia yang aman”. Berkat pencapaiannya, Cina terus berinovasi lebih dan pada 16 Juni 2012, program Shenzhou 9 berhasil membawa astronot wanita China pertama.

Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Poimo, skuter listrik tiup yang mudah dibawa kemana-mana berkat fleksibilitasnya, sukses menggebrak pasar personal mobility vehicle pada bulan Mei lalu. Sebagaimana namanya, Poimo, akronim dari Portable and Inflatable Mobility, memang sangat memudahkan pengguna karena bisa dilipat dan dimasukkan ke ransel atau sebaliknya, dikeluarkan dari ransel, dipompa, dan dikendari kemanapun berkat motor listrik.

Baca juga: Poimo, Skuter Listrik Tiup dari Jepang

Seolah belum cukup, skuter listrik hasil kerja sama Mercari R4D dengan laboratorium Kawahara dan Niiyama dari Universitas Tokyo tersebut, belum lama ini dikabarkan telah meluncurkan versi custom-fit, memungkinkan produsen untuk menyesuaikan ukuran tubuh dengan Poimo.

Dilansir dari New Atlas, untuk mendapatkan Poimo yang sesuai dengan postur tubuh pengguna, mula-mula mereka perlu mengambil sejumlah gambar yang merepsentasikan posisi ideal saat mengendarai Poimo. Setelah itu, gambar-gambar tersebut akan dipilih dan dibuatkan model 3D skuter melalui sebuah software yang dirancang khusus untuk mengakomodir dimensi Poimo yang disesuaikan dengan pose dari gambar tadi.

Selain dalam bentuk menyerupai sepeda motor, Poimo juga menyediakan desain menyerupai kursi roda. Foto: Poimo

Tak hanya itu, software ini juga bisa mengakomodir calon pengguna yang agak rempong. Usai model 3D skuter listrik Poimo selesai dibuat, tentu saja berdasarkan pose yang dikirimkan, calon pengguna dimungkinkan untuk tetap menyesuaikan lagi desain Poimo sesuai keinginan mereka.

Seumpama, mereka menginginkan ukuran ban, body skuter, jok, pijakan kaki, rangka bagian depan Poimo, setang, dan pengontrol nirkabel bawaan yang lebih tinggi atau pendek, lebih kecil atau besar, software otomatis akan menyesuaikan bagian lainnya ketika dimensi satu bagian diubah, seperti pada video di bawah ini. Dengan begitu, kekuatan, stabilitas, dan tingkat kenyamanan pengoperasiannya tidak terganggu.

Skuter yang dibuat dari kain dropstitch yang relatif kuat dengan tujuh bagian, mulai dari roda sampai setang, tersebut diperkirakan memiliki bobot sekitar 9 kg. Skuter listrik tiup atau inflatable electric scooter Poimo diketahui bisa melaju hingga 6 km per jam, menempuh jarak sejauh puluhan km per satu jam pengisian daya.

Kreasi sekelompok mahasiswa di Universitas Tokyo dalam membuat Poimo berawal dari keinginan untuk menciptakan kendaraan baru. Idenya adalah menggunakan bahan lembut, ringan dan memudahkan pemiliknya. Walau bukan solusi mobilitas mikro pertama yang ada, Poimo bisa dibilang paling menarik karena secara efektif menyelesaikan masalah portabilitas. Buktinya skuter ini dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam ransel besar.

Baca juga: Walkcar, Skateboard Listrik yang Bisa Dijinjing dan Masuk ke Tas

“Poimo merupakan jenis mobilitas personal baru yang terbuat dari bahan lunak, ringan, dan dapat ditiup. Bodi lembut dan dimensi kecil memungkinkan interaksi pengguna lebih aman dengan pejalan kaki. Kami juga sudah melakukan tes mekanis untuk memverifikasi bahwa itu dapat menahan berat manusia,” kata Ryuma Niiyama, bagian dari tim pengembangan di Universitas Tokyo.

Skuter listrik Poimo diciptakan dengan teknik robotik lunak untuk menciptakan kendaraan listrik yang aman. Setidaknya dirancang untuk meminimalkan kecelakaan, terutama di ruang pejalan kaki yang padat seperti yang ada di Tokyo, Jepang. Ia juga termasuk kendaraan antirepot, karena jika terjadi tabrakan atau tusukan, tubuh yang menggembung dapat diganti atau diperbaiki tanpa masalah besar.

Bak Astronot, Penumpang Bisa Melayang di Dalam Pesawat Berkat Zero Gravity

Dunia antariksa memang selalu menarik perhatian publik. Selain bisa menikmati pemandangan ciamik luar angkasa, umumnya publik ingin mencicipi sensasi zero gravity atau tanpa gravitasi, dimana seluruh benda melayang dibuatnya. Sayangnya, untuk menjajal itu, miliaran rupiah sudah pasti harus keluar dari kocek seseorang.

Baca juga: Mau Jadi Astronot Selama Beberapa Jam? Yuk Jajal Wisata Unik Ala Novespace Ini!

Akan tetapi, keinginan untuk menjajal nol gravitasi tanpa harus jauh-jauh keluar dari atmosfer bumi serta merogoh kocek miliaran rupiah, sepertinya bukan lagi sebuah isapan jempol belaka. Adalah Zero Gravity Corporation, atau ZERO-G, perusahaan di balik “G-FORCE ONE,” sebuah pesawat Boeing 727 yang dimodifikasi untuk mampu menghasilkan penerbangan tanpa gravitasi. Dengan itu, penumpang dan seluruh benda apapun di dalamnya dapat melayang.

Dikutip dari Business Insider, penerbangan tanpa gravitasi ini bekerja dengan melakukan manuver aerobatik yang dikenal sebagai parabola. Pilot yang menerbangkan pesawat ini telah dilatih khusus dalam melakukan manuver aerobatik.

Pesawat Boeing 727 ZERO-G. Foto: Thomas Pallini/Business Insider

“Penumpang ZERO-G mengalami (penerbangan) tanpa bobot yang sesungguhnya,” kata CEO Zero Gravity Corp, Matt Gohd, dalam sebuah postingan.

Menurut Matt, sebelum memulai penerbangan tanpa gravitasi, pesawat akan terbang pada ketinggian 24.000 kaki. Kemudian, pilot mulai menerbangkan pesawat lebih tinggi lagi. Secara bertahap, dia meningkatkan sudut pesawat hingga sekitar 45 derajat ke langit sampai mencapai ketinggian 30.000 kaki.

Selama gerakan ini, penumpang akan merasakan kekuatan 1,8 Gs. Pesawat kemudian dengan lembut mendorong untuk menciptakan segmen gravitasi nol parabola yang berlangsung sekitar 20 -30 menit. Lalu, pesawat menarik diri dari pergerakan dan memungkinkan penumpang untuk kembali stabil di lantai pesawat.

Perusahaan telah menjamin keselamatan bagi penumpang. Namun, bagi penumpang sendiri ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Menurut Reno Gazzete Journal, penumpang disarankan untuk menghindari minuman dan makanan berminyak sebelum penerbangan.

Oleh sebab itu, saat sedang menunggu helikopter jemputan di Lounge Blade, West 30th Street Heliport, New York City, untuk diantar ke Bandara Internasional Newark Liberty dan menikmati penerbangan zero gravity, para peserta dihidangkan sarapan ringan penuh karbohidrat,croissant dan salad buah, untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Sebetulnya, penumpang tak diharuskan ke bandara pakai helikopter, hanya sekedar fasilitas tambahan saja.

Tak hanya penumpang, pilot pun menikmati momen penerbangan nol gravitasi. Foto: Space Frontiers/Getty

Usai menyantap sarapan, para peserta penerbangan nol gravitasi Boeing 727 besutan Zero Gravity Corporation (ZERO-G) juga akan dibekali dengan jumpsuit one-piece, mirip dengan jumpsuit pilot pesawat tempur, serta kaus kaki panjang. Di masa pandemi seperti sekarang ini, masker juga wajib dikenakan penumpang sebagai elemen keselamatan tambahan.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Tak hanya itu, semua penumpang juga perlu memeriksakan suhu dan kadar oksigen darah mereka sebelum keberangkatan melalui termometer dan oksimeter. Usai itu, penumpang diantar ke bandara dan menikmati penerbangan nol gravitas tanpa harus jauh-jauh ke luar angkas. Harga ZERO-G juga bervariasi, mulai dari sekitar USD 5.400 atau sekitar Rp 73.000.000 per orang, cukup murah bukan?

Selain New York, penerbangan nol gravitasi ini juga tersedia di Las Vegas, Los Angeles, Atlanta, Austin, Houston, Miami, Orlando, Fransisco, Seattle, Washington, D.C., dan beberapa wilayah di New England. Di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, penerbangan ZERO-G cukup banyak diminat penumpang yang rindu hiburan.

Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Sebelum beroperasi, sebuah pesawat terlebih dahulu harus didaftarkan atau diregistrasi di beberapa otoritas penerbangan, seperti Regulator Penebangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA). Umumnya, pesawat tak selalu terdaftar di negara tempatnya beroperasi.

Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Boeing 737 Ryanair, misalnya, terdaftar di tiga negara, mulai dari Irlandia, Inggris, dan Malta. Padahal, rute terbang pesawat menjangkau seluruh Eropa.

Pertanyaan kemudian muncul, sebetulnya, negara manakah yang paling banyak meregistrasi pesawat? Sebagian besar orang mungkin akan menjawab Amerika Serikat. Sebagian lagi mungkin Inggris -berkat pengaruh internasionalnya sejak dahulu- atau mungkin Cina yang belakangan muncul sebagai kekuatan baru dunia. Sayangnya, jawaban tersebut tak satupun benar, bila didasarkan pendapat CEO Ryanair, Eddie Wilson.

Dalam sebuah podcast bertajuk ‘Inside Ryanair’ belum lama ini, ia mengungkapkan, “Separuh pesawat di planet ini sebenarnya terdaftar (diregistrasi) di Irlandia. (Irlandia) dipandang sebagai suar untuk pesawat sewaan.”

Akan tetapi, ia tak menjelaskan dengan detail dasar pernyataannya tersebut. Padahal, bila disandingkan dengan data lain, tentu pandangan Wilson patut dipertanyakan.

Dilansir Simple Flying, pakar analisis perjalanan dan penerbangan Cirium baru-baru ini melakukan analisis armada global guna mencari tahu di negara mana saja pesawat diregistrasi dan dimiliki. Analisis dipecah berdasarkan jenis pesawat. Dalam analisisnya, Cirium mengamati sebanyak 5.715 pesawat turboprop regional, 4.513 jet regional, 18.126 jet narrowbody, dan 6.457 jet widebody. Totalnya, ada 34.811 pesawat.

Dari jumlah tersebut, 31,85 persen dimiliki di Amerika Serikat atau sekitar 11.087 pesawat. Namun, hanya 9.371 dari pesawat-pesawat tersebut yang benar-benar diregistrasi di Amerika Serikat. Data yang cukup kontras tentunya dengan pernyataan Wilson.

Irlandia sendiri, masih dari data Cirium, memiliki proporsi kepemilikan pesawat tertinggi kedua dengan 5.186 atau 14,9 persen. Namun, ini tidak terkait dengan jumlah pesawat yang diregistrasi di negara tersebut. Artinya, hanya ada 669 yang benar-benar diregistrasi di Irlandia, mewakili 1,9 persen dari armada global.

Dengan begitu, Cina dengan jumlah registrasi pesawat mencapai 4.081, Kanada (1333), Inggris (959), India (922), Bermuda (784), Jerman (709), Jepang (701), Australia (688), dan Indonesia (680), masih lebih banyak meregistrasi pesawat daripada Irlandia.

Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang

Berbicara lebih jauh tentang registrasi pesawat, rupanya hal lain yang lebih menarik muncul, tak sekedar mencari tahu dimana pesawat diregistrasi saja. Bila negara-negara lain meregistrasi atau memiliki pesawat dengan jumlah puluhan hingga belasan ribu, justru negara-negara ini sebaliknya, hanya memiliki tak kurang dari dua digit.

Negara-negara tersebut mulai dari San Marino, Belize, Bosnia-Herzegovina, British Virgin, Republik Afrika Tengah, Polinesia Perancis, Sao Tome dan Principe, Somalia, tercatat hanya memiliki satu pesawat di seantero negeri. Sisanya, tentu saja pesawat sewaan. Liechtenstein mungkin masih lebih baik. Negara yang tak memiliki bandara tersebut hanya mempunyai atau meregistrasi tiga pesawat, dua pesawat turboprop regional, dan satu pesawat narrowbody.

Daftar Maskapai Terdepan yang Gunakan Bahan Bakar Berkelanjutan, Tak Satupun dari Asia

Dunia berlomba-lomba untuk membuat penerbangan menjadi ramah lingkungan. Ditargetkan, tahun 2050 mendatang moda transportasi massal di dunia, termasuk pesawat, sudah bebas emisi.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia. Tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Perlahan tapi pasti, transisi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar berkelanjutan nan ramah lingkungan sudah dimulai maskapai sejak beberapa tahun lalu. Setidaknya, ada lebih dari 30 maskapai yang sudah memulai proyek hijau mereka. Namun, hanya ada beberapa maskapai yang konsisten menjalankannya sampai dunia benar-benar bisa bebas dari emisi.

Dilansir dari Simple Flying, beberapa maskapai yang konsisten untuk terus menguji coba atau sudah menggunakan bahan bakar berkelanjutan tersebut, termasuk American Airlines, Alaska Airlines, JetBlue Airways, United Airlines, Delta Air Lines, KLM, Finnair, dan SAS Scandinavian Airlines.

Musim panas tahun ini, produsen solar dan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) terbesar di dunia, Neste, mulai memasok bahan bakar nabati ke tiga maskapai besar AS, American Airlines, Alaska Airlines, dan JetBlue Airways, untuk penerbangan dari Bandara San Fransisco (SFO). Dalam proyek yang dikenal sebagai “climate quantum leap” ini, perusahaan asal Finlandia itu mulai mengirimkan SAF ke SFO melalui pipa.

Ketiga maskapai tersebut sudah menandatangani perjanjian untuk menggunakan bahan bakar ramah lingkungan yang terbuat dari limbah dan sisa makanan buatan Neste. Bahan bakar ramah lingkungan itu akan terus digunakan di setiap perjalanan udara dari SFO.

Selain ketiga maskapai AS itu, Neste juga bermitra dengan maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM. Maskapai yang belum lama ini merayakan hari jadinya yang ke-101 tersebut nantinya bakal menggunakan bahan bakar berkelanjutan buatan Neste mulai 2022 mendatang, usai pembelian 75.000 ton biofuel diteken. Bahan bakar ramah lingkungan KLM nantinya akan terpusat di Bandara Schiphol.

Selain bermitra dengan Neste, KLM juga mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan secara mandiri. Hal itu untuk memastikan beberapa penerbangan KLM menggunakan biofuel. Atas inisiatif tersebut, KLM tercatat sebagai satu-satunya maskapai penerbangan Eropa yang menggunakan biofuel di rute antarbenua, yakni Amsterdam – Los Angeles.

Tetapi, tak lama lagi, Finnair mungkin bakal mensejajarkan diri dengan KLM, mengingat maskapai tersebut sudah lama menguji coba penerbangan lintas benua, antara Helsinki – San Fransisco, menggunakan biofuel.

Maskapai penerbangan pada umumnya terkendala di biaya sebelum mulai menggunakan bahan bakar berkelanjutan. Sebab, investasinya empat kali lipat per penerbangan dari bahan bakar fosil. Namun, hal itu nampaknya bisa disiasati dengan baik oleh SAS Scandinavian Airlines.

Alih-alih mengeluarkan dana ekstra, maskapai tersebut justru memanfaatkan psikologi masyarakat Skandinavia yang selalu merasa bersalah atas kerusakan alam. Sejak September 2019, penumpang SAS diizinkan membayar lebih untuk mendorong maskapai menggunakan bahan bakar ramah lingkungan sebelum penerbangan dimulai. Cukup inovatif, bukan?

Baca juga: Meski Didera Badai Covid-19, Inilah Empat Maskapai Anti Bangkrut! Semuanya dari Asia

Bergeser kembali ke Negeri Paman Sam, pada tahun 2019, United Airlines mulai menguji coba biofuel di bawah program “Flight for the Planet” dari Chicago ke Los Angeles, menggunakan 70 persen bahan bakar fosil dan 30 persen biofuel.

Pada tahun yang sama, maskapai tersebut telah menganggarkan US$40 juta untuk proyek percepatan produksi biofuel. Selain itu, maskapai juga setuju untuk membeli hingga 10 juta galon SAF selama dua tahun ke depan. Rekan senegara maskapai itu, Delta Air Lines, juga telah menandatangani perjanjian untuk membeli 10 juta galon per tahun. Namun, hanya menyisihkan $2 juta untuk penelitian SAF.

Krumbach di Austria Punya Halte Bus Unik Buatan Tujuh Arsitek Internasional

Menunggu memang hal yang tidak menyenangkan apalagi bila menunggu bus di halte yang biasa saja. Namun bagaimana jika halte bus tersebut diubah lebih menarik, unik dan mungkin menjadi spot foto yang berbeda dari lainnya? Di Austria telah dibangun tujuh halte bus yang menarik dan mengalihkan pandangan dunia, yaitu di kota kecil Krumbach, distrik Bregenzerwald.

Baca juga: Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput

Halte-halte bus ini dirancang oleh tujuh orang arsitektur terkenal di seluruh dunia. Para arsitek ini berkolaborasi dengan tradisi, inovasi, nasional dan internasional. KabarPenumpang.com melansir laman archdaily.com, tujuh orang arsitek tersebut ialah Ensamble Studio Antón García-Abril dan Débora Mesa dari Spanyol, Arsitek de Vylder Vinck Taillieu dari Belgia, Arsitek Rintala Eggertsson dari Finlandia dan Norwegia, Alexander Brodsky dari Rusia, Wang Shu dari Cina, Sou Fujimoto dari Jepang dan Smiljan Radic dari Chili.

Desain halte bus (archdaily.com)

Tujuh arsitek yang membangun tujuh halte bus ini juga bekerja sama dengan pengrajin lokal sehingga struktur unik didapatkan untuk menampilkan kota kecil dengan seribu penduduk. Kurator Dietmar Steiner memuji komitmen mereka yang terlibat, dengan mengatakan, seluruh proyek berhasil karena didukung dengan cara yang paling dermawan oleh lebih dari 200 orang.

Ini termasuk para arsitek, yang mengambil proyek mereka hanya untuk liburan gratis di daerah tersebut dan kesempatan untuk terlibat dalam tantangan yang tidak biasa. Namun, Verena Konrad, Direktur vai Vorarlberger Architektur Institut, mencatat bahwa proyek itu penting untuk “sambungan infrastruktur dan mobilitas yang sukses untuk daerah pedesaan.”

Untuk diketahui, wilayah Bregenzerwald, terletak di titik pertemuan tiga negara, menawarkan pengunjung berbagai budaya, masakan, arsitektur, kerajinan tangan, fasilitas olahraga dan rekreasi yang sangat kaya dan padat untuk daerah pedesaan seperti itu. Arsitektur memainkan peran penting dalam menarik sekitar 30 ribu pelancong setiap tahun ke provinsi ini dan merupakan kelanjutan dari keahlian dan seni yang telah membentuk wilayah ini selama berabad-abad.

Dalam beberapa tahun terakhir, kota kecil Krumbach telah menyelesaikan beberapa bangunan arsitektural yang menarik termasuk pembangunan perumahan komunal, paviliun di rawa dataran tinggi, dan stasiun bus pedesaan pusat baru oleh arsitek lokal Hermann Kaufmann, Bernardo Bader dan Rene Bechter. Krumbach berharap dapat menciptakan hubungan antara desain ini dan proyek budaya membangun.

Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

Kunjungan situs dengan arsitek internasional telah dilakukan di Krumbach dan desain mereka ditunggu dengan penuh kegembiraan. Mendampingi proyek akan menjadi dokumentasi film dan foto, pameran dan publikasi. Halte bus Krumbach diharapkan akan menciptakan dorongan baru untuk pariwisata, bisnis, dan keahlian yang akan berdampak besar di luar kawasan.

Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Pada hari ini, 91 Tahun Lalu, bertepatan dengan Senin, 14 Oktober 1929, kapal udara buatan Inggris, R101 terbang perdana. Selain diplot sebagai pesaing kapal udara pertama di dunia, Zeppelin, kapal udara R101 Inggris tersebut juga diplot sebagai moda transportasi untuk menghubungkan Inggris dengan koloninya di seluruh dunia di bawah proyek British Imperial Airship Scheme tahun 1920-an.

Baca juga: Gagal Saat Uji Terbang, Hybrid Air Vehicle Tidak Gentar Komersialkan Airlander 10

Dilansir BBC, ide untuk membuat kapal udara R101 pesaing Zepplein Jerman muncul atas gagasan dari AH Ashbolt, pemimpin Tasmania, salah satu koloni Inggris, pada tahun 1921. Ia mengusulkan agar kerajaan Inggris membuat perusahaan Imperial Airship Company. Namun, usulan tersebut ditolak karena dinilai tak relevan.

Setahun berikutnya, perusahaan pembuat pesawat asal Inggris, Vickers, mengusulkan hal yang sama, melalui skema pengembangan kapal udara komersial. Kapal tersebut nantinya akan menyediakan layanan penumpang untuk menghubungkan negara-negara Kerajaan Inggris. Proyek tersebut dinamai “skema Burney” diambil dari sang insiator, Dennistoun Burney.

Skema tersebut merencanakan pembuatan enam kapal udara dengan perkiraan biaya £4 juta. Seluruh kapal udara Inggris tersebut nantinya akan diproduksi dan dioperasikan oleh Vickers.

R101 saat sedang diproduksi. Foto: Culture24

Sekalipun skema Burney sudah disetujui, namun, usai pemimpin baru Inggris terpilih melalui pemilu 1922, skema tersebut ditangguhkan akibat terlalu banyak menyerap anggaran. Untuk diketahui, seluruh dana dalam produksi kapal udara Inggris itu ditanggung oleh Australia, India, dan Inggris; termasuk dari warga melalui pengutan pajak.

Dua tahun berikutnya, partai konservatif yang menguasai Inggris sejak 1922 digusur oleh partai buruh. Skema Burney pun akhirnya ditolak mentah-mentah. Namun, semangat mengembangkan kapal udara Inggris terus melaju di bawah Imperial Airship Scheme atau Skema Pesawat Kekaisaran.

Skema tersebut didesain untuk memproduksi dua kapal udara Inggris, dimana satu kapal udara “Kapitalis” bernama R100 dikembangkan oleh Vickers di bawah komando Dennistoun Burney. Adapun kapal udara lainnya, R101 “Sosialis” dirancang oleh Royal Airship Works milik Pemerintah di Cardington, Bedfordshire, Inggris.

Spesifikasi kapal udara Inggris, R100 dan R101. Foto: Tangkapan layar

Sekalipun terlihat sama, dimana kapal udara sama-sama berkemampuan mengangkut 100 penumpang sejauh 57 jam penerbangan dengan kecepatan jelajah 101 jm per jam, namun, dua kapal udara Inggris tersebut sungguh berbeda. R100 “Kapitalis” yang dikembangkan oleh Vickers hanya memanfaatkan teknologi yang ada. Adapun R101 “Sosialis” dirancang sebagai wadah inovasi ilmuan terkait desain pesawat atau kapal udara.

Setelah menjalani proses produksi sejak Maret 1924, pada 14 Oktober 1929, kapal udara R101 yang ditenagai mesin diesel berhasil terbang perdana melintasi langit London. Pada Agustus 1930, kapal udara R100 yang dibekali mesin berbahan bakar bensin menyusul keberhasilan R101 usai melahap perjalanan trans-Atlantik ke Amerika Utara, menuju Quebec, Montreal, dan Toronto pada tahun 1930 selama 78 jam.

Setelah terbang perdana, R101 mengalami pengembangan di pertengahan 1930. Namun, proses pengembangan terus-menerus gagal. Tetapi, pengembang ngotot untuk bisa sesegera mungkin menguji coba kapal udara hasil pengembangan. Usai sertifikat kelaikan udara terbit, 5 Oktober 1930 kapal udara R101 terbang menuju India. Dalam kondisi cuaca buruk, penerbangan pembuktian itu tetap dipaksakan.

Kapal udara Inggris, R101 usai kecelakaan di Perancis. Foto: Getty

Pasca tujuh jam terbang, kapal udara itu dilaporkan jatuh dan terbakar di dekat Beauvais, Perancis utara, menewaskan 48 dari 54 penumpang; termasuk Lord Thomson, ketua DPR Inggris dan VC Richmond, kepala desain R101.

Baca juga: Banyak Perombakan, Wahana Udara Terbesar Airlander 10 Siap Komersial di 2024

Akan tetapi, kecelakaan tersebut tak membuat Inggris bergeming. Di awal tahun 1931, Inggris mengajukan layanan angkutan penumpang dari Cardington ke Karachi dan Montreal menggunakan R100 dan R101 (yang sudah dikembangkan). Proposal tersebut juga diikuti dengan pengembangan R102 dan R103 yang akan beroperasi pada 1934 dan 1935.

Keempat kapal udara tersebut akan menawarkan layanan pulang pergi bulanan ke Montreal dan Karachi, serta layanan mingguan ke Ismailia, Mesir. Layanan kapal udara ke Australia juga bakal dijajaki pada tahun 1936, bersamaan dengan sebuah kapal udara yang lebih besar, R104. Sayangnya, sebelum hal itu terwujud, pada 31 Agustus 1931, Kabinet Inggris memutuskan untuk meninggalkan pengembangan dan mengakhiri cerita kapal udara Inggris.

Rute Domestik Tersibuk di Dunia Ternyata Hanya 400 Km, Setara Jakarta-Semarang

AirAsia Indonesia boleh saja berbangga diri. Maskapai yang baru saja merilis logo baru tersebut diketahui mengoperasikan rute terpendek A320 di dunia, antara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasional Praya di Lombok dengan jarak sekitar 122 km atau 15 hingga 25 menit perjalanan. Namun, salah satu rute domestik terpendek di dunia itu bukanlah yang tersibuk.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Dilansir Simple Flying, dari daftar 10 rute domestik tersibuk di dunia, delapan di antaranya boleh saja berada di Asia, tetapi tak satupun melibatkan AirAsia. Menariknya, empat dari rute tersibuk domestik tersebut ada di Jepang.

Tak cukup sampai di situ, yang jauh lebih menarik lagi, dari ke-empat rute domestik tersibuk di dunia yang ada di Jepang, seluruhnya melibatkan Bandara Internasional Haneda, Tokyo; mulai dari Bandara Chitose Baru Sapporo-Haneda, Bandara Fukuoka-Haneda, Bandara Okinawa-Haneda, dan Bandara Internasional Haneda Tokyo-Bandara Internasional Itami Osaka.

Masuknya Bandara Chitose Baru Sapporo-Haneda, Bandara Fukuoka-Haneda, dan Bandara Okinawa-Haneda tentu tak terlalu mengejutkan, mengingat wilayah tersebut terpaut cukup Jauh. Haneda, Tokyo berada di tengah dari gugusan kepulauan di Jepang, sedangkan mereka, berada di atas dan di bawah Haneda. Namun, tidak demikian dengan salah satu rute domestik tersibuk di dunia antara Bandara Internasional Haneda Tokyo-Bandara Internasional Itami Osaka, yang juga sama-sama berada di tengah daratan Jepang.

Secara jarak, kedua bandara tersebut berjarak hanya sekitar 400 km atau kurang lebih setara jarak Jakarta-Semarang. Di tahun 2019 lalu, Official Airline Guide (OAG) sebagai penyedia data perjalanan global mencatat, ada sekitar 7.248.300 penumpang yang melakukan perjalanan antara kedua bandara ini. Dengan traffic sebanyak itu, rute tersebut pun bercokol di posisi ke-10 daftar rute domestik tersibuk di dunia.

Sejauh ini, ada dua maskapai yang aktif melayani rute tersebut, yakni Japan Airlines dan All Nippon Airways (ANA). Di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, jumlah traffic memang menurun dratis, namun, tetap bergairah. Hal itu setidaknya terlihat dari armada yang dikerahkan maskapai dalam rute tersebut.

Penerbangan di rute tersebut pada 27 Oktober, misalnya, dari 21 penerbangan oleh Japan Airlines dan ANA, hanya dua penerbangan yag menggunakan pesawat lorong tunggal (Boeing 737 dan Airbus A321). Sisanya, maskapai mengerahkan armada widebody mereka, seperti pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia Boeing 767 dan 787 Dreamliner.

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

Dari segi ekonomi, masuknya rute tersebut ke dalam daftar 10 rute domestik tersibuk di dunia tentu tak mengherankan, mengingat Osaka dan Tokyo merupakan dua kota berpenduduk terbesar di Jepang. Namun, bila dilihat dari segi kemudahan akses, tak seharusnya rute tersebut menduduki posisi seperti sekarang ini dalam kaitannya dengan rute domestik tersibuk.

Selain bisa ditempuh menggunakan pesawat, dengan jarak tempuh sekitar 1 jam 10 menit, Itami-Haneda juga bisa ditempuh dengan menggunakan kereta peluru atau Shinkansen selama 2 jam 30 menit. Tetapi, dalam kondisi tertentu, Shinkansen bisa melahap Itami-Haneda atau Osaka-Tokyo hanya dalam 10 menit. Belum lagi kemudahan keluar-masuk stasiun -dibanding bandara- seharusnya kereta lebih diminat, sekalipun dengan harga sedikit lebih mahal.