Pengemudi Bus Rela Memutar Arah Demi Penumpang yang Akan Bertemu Ibunya di Panti Jompo Setelah Pembatasan Covid-19

Seorang penumpang bus ketakutan tak bisa melihat ibunya yang berada di panti jompo karena waktu kunjungannya mepet. Apalagi saat itu, penumpang wanita tersebut salah naik bus. Karena hal tersebut, pengemudi bus bernama Alex Bailey yang biasa dipanggil Alec mengambil rute lain untuk menurunkan Jacqueline Mason di dekat panti jompo.

Baca juga: Pengemudi Bus di Jamaika Maafkan Penumpang yang Tularkan Covid-19

Jacqueline diketahui memesan kunjungan selama 30 menit di rumah perawatan Bradley Manor di Belfast, Irlandia, tempat ibunya tinggal pukul 15.30. Namun pukul 15.10 dirinya menyadari bahwa telah salah naik bus dan mulai menangis karena melewatkan slotnya.

Karena menyadari kesusahan penumpangnya, pengemudi bus Translink tersebut memutuskan untuk mengambil jalan memutar dan menurunkannya di dekat panti jompo. KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (12/12/2020), Alec memberitahu penumpang lainnya bahwa di dalam bus ada seorang wanita yang sudah lama tak bertemu dengan ibunya dan membutuhkan bantuan.

Untungnya penumpang lain menyetujuinya dan kemudian Alec menurunkan Jacqueline di rumah perawatan tepat pada waktunya untuk kunjungan. Namun, setelah mengantar penumpang tersebut, Alec tidak mengetahui apakah dia datang tepat waktu bertemu dengan ibunya sampai sebuah video menunjukkan wanita itu menjelaskan apa yang terjadi padanya sebelum dia bisa bertemu sang ibu.

“Saya mulai menangis. Saya tidak tahu sisi kota ini sama sekali dan dia bertanya kepada orang-orang di bus apakah mereka keberatan jika dia mengambil jalan memutar pendek dan dia membawa saya ke bundaran tepat di atas sini dan maka saya bisa sampai di sini tepat waktu untuk melihat mami. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak Alec, Anda telah membuat hari saya menyenangkan,” ujarnya dalam video.

Setelah video itu menjadi viral, kampanye diluncurkan untuk menemukan pengemudi bus yang telah membuat keputusan bijak.

Baca juga: Frank Hachem, Inilah Pengemudi Bus Tingkat Terpendek di Dunia

Untuk diketahui, para penghuni panti jompo di Irlandia telah berjuang melawan Covid-19 awal tahun ini dan menghabiskan waktu selama dua minggu untuk mendapatkan oksigen tambahan. Ibu Jacqueline yakni Eileen McGrugan bahkan mengalami serangan jantung dan selamat setelah mendapat perawatan. Tak hanya itu, Eileen akan menjadi penghuni pertama yang di Irlandia Utara yang menerima vaksin Pfizer atau BioNtech.

Tiket Penerbangan eVTOL Penumpang Pertama Volocopter di Singapura Ludes Terjual dalam Sekejap

Tiket penerbangan joyflight (joyride) electric Vertical Take Off and Landing (eVTOL) penumpang pertama Volocopter di Singapura ludes terjual dalam sekejap. Padahal, penerbangan itu baru akan terwujud sekitar dua hingga tahun mendatang.

Baca juga: Sukses di Jerman Hingga Dubai, Giliran Volocopter Unjuk Gigi di Singapura

Diketahui, pioneer Urban Air Mobility (UAM) asal Jerman ini memang sangat bersemangat untuk mengembangkan bisnisnya di Singapura. Tak seperti berbagai negara lainnya di Asia, Singapura dinilai sangat terbuka, mau, dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi baru, dalam hal ini teknologi taksi udara bertenaga listrik.

“Singapura terkenal karena peran utamanya dalam mengadaptasi dan menghidupkan teknologi baru. Kerja sama kami yang sukses dengan Dewan Pengembangan Ekonomi, Kementerian Transportasi, dan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura pada penerbangan kami sebelumnya telah menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang lebih baik di Asia untuk meluncurkan layanan taksi udara listrik kami selain di Singapura,” kata Florian Reuter, CEO Volocopter, seperti dikutip dari New Atlas.

“Lembaga penelitian kota yang melakukan Litbang memainkan bagian integral dalam hal ini. Topik seperti validasi rute untuk operasi otonom, ilmu material, dan penelitian terkait teknologi baterai sangat penting untuk kesuksesan bisnis jangka panjang kami,” tambahnya.

Untuk memuluskan cengkeramnya di Singapura, Volocopter secara bertahap bakal mempekerjakan 200 orang hingga tahun 2023 sambil terus menjual tiket penerbangan joyride Volocopter sejak dini. Putaran pertama tiket penerbangan VoloFirst yang belakangan ludes terjual habis dibanderol seharga US$365 atau Rp5,1 juta (kurs 14.077). Dengan mahar tersebut, penumpang berhak jalan-jalan keliling Singapura menggunakan taksi udara Volocopter selama 10-15 menit, ditemani oleh satu orang pilot.

Harga tersebut diklaim Volocopter cukup terjangkau bila dibandingkan dengan joy flight menggunakan helikopter. Disebutkan, joy flight (penerbangan wisata) menggunakan helikopter berkapasitas empat orang selama 45 menit setidaknya menghabiskan dana sekitar US$2.600 atau sekitar Rp36,7 juta (kurs 14.077). Itupun tidak boleh mengambil satupun gambar.

Volocopter memang bukan taksi drone atau taksi udara baru di Singapura. Pada Oktober tahun lalu, taksi udara ini pernah melakukan uji terbang di sekitar Marina Bay dengan melibatkan satu pilot (belum pada tahapan penerbangan otomatis karena harus mendapatkan lampu hijau dari otoritas setempat).

Saat itu, Volocopter berhasil mengudara selama kurang lebih dua menit – atau satu menit lebih cepat ketimbang yang diiklankan oleh pihak perusahaan. Ini bukan lantaran masalah teknis, melainkan karena faktor cuaca yang tidak mendukung saat uji coba.

Baca juga: Volocopter dan Grab Canangkan Uji Coba Taksi Udara di Asia Tenggara

Membahas sedikit tentang Volocopter ini sendiri, moda electric Vertical Take Off and Landing (eVTOL) ini menawarkan perjalanan udara yang aman, tenang, dan bebas emisi. Moda ini mampu mengangkut dua penumpang beserta barang bawaan mereka menuju jarak hingga 30 km dengan kecepatan 110 km per jam.

“Ini (uji penerbangan Volocopter) merupakan tonggak penting untuk pengenalan mobilitas udara perkotaan, karena kami memberikan gambaran kepada orang-orang terhadap moda udara modern dan betapa tenangnya itu (Volocopter) dalam penerbangan penuh,” jelas Reuter.

Lokomotif Diesel DD502 Dijual di Twitter, Harganya Lebih Murah Dibanding Ongkos Kirim

Ketika sebuah lokomotif tak lagi beroperasi kemanakah mereka? Dijual, dilelang atau disimpan untuk menjadi pajangan museum? Beberapa diantaranya bila masih bisa beroperasi akan digunakan ataupun dijual. Sedangkan yang tak lagi beroperasi akan menjadi pajangan di Museum.

Baca juga: Dongkrak Kunjungan Wisata, Perajut di Walhalla Buat ‘Kostum’ untuk Lokomotif Tua

Seperti di Indonesia, beberapa lokomotif tua masuk ke museum dan yang lainnya menjadi pajangan di depan stasiun kereta api baik di Yogyakarta maupun di Semarang. Nah, di Jepang, lokomotif diesel tua dipasarkan melalui Twitter dan dijual seharga dua juta yen atau sekitar Rp272 juta.

Hal ini kemudian menjadi viral di kalangan pecinta kereta api. Di mana mereka mengatakan bahwa biaya pengiriman lokomotif diesel tersebut lebih mahal dibandingkan harga jualnya sendiri. Perusahaan kereta yang akan menjual lokomotif diesel DD502 ialah Kanto Railway Company dan berbasis di Tsuchiura di Prefektur Ibaraki.

Kanto Railways bahkan tak mengira mereka akan menerima banyak pertanyaan seputar postingan di Twitter tentang penjualan lokomotif diesel tersebut. Untuk dketahui, lokomotif diesel DD502 memiliki panjang 11 meter, tinggi 3,8 meter, lebar 2,7 meter dan berat 33,7 metrik ton.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mainichi.jp (21/11/2020), lokomotif ini tidak lagi bisa berjalan kecuali menjalani perawatan dan bahkan saat ini mesin tidak lagi mau hidup. Kereta Api Joso Tsukuba, pendahulu dari Kereta Api Kanto, membeli lokomotif yang sekarang dijual, yang diproduksi pada tahun 1956 dan mengoperasikannya hingga tahun 2007.

Jika tercapai kesepakatan dengan pembeli dikatakan Kanto Railway Company, lokomotif dijadwalkan akan diserahkan di pangkalan gerbong kereta Mitsukaido di kota Joso, Prefektur Ibaraki. Tetapi biaya pengiriman diperkirakan sekitar 3,5 juta yen atau sekitar Rp476 juta.

Biaya ini jika pengiriman dilakukan di dalam prefektur dan kondisi jalan memungkinkan. Diperkirakan akan ada biaya tambahan sebesar satu juta yen atau sekitar Rp136 juta jika rel kereta api dengan panjang 13 meter juga disiapkan untuk lokomotif tersebut berdiri.

Baca juga: Lokomotif Diesel Hidraulik D301 22 Kini Jadi Koleksi Stasiun Tugu Yogyakarta

“Kami memposting ini hanya di Twitter karena kami tidak berpikir itu akan menarik banyak perhatian. Saya terkejut dengan skala tanggapan yang kami terima,” ujar poihak Kanto Railways Company.

Viral, Orang Gila Panjat dan Berjalan di Sayap Pesawat!

Seorang pria yang diduga mengidap gangguan jiwa berhasil ditangkap pihak berwenang setelah menaiki sayap pesawat Boeing 737 Alaska Airlines. Nahasnya, pria tersebut ditangkap setelah jatuh saat hendak menggapai winglet pesawat.

Baca juga: Katanya Gerah, Wanita ini Buka Pintu Darurat Pesawat dan Berjalan di Sayap

Insiden pria menaiki sayap pesawat di Bandara Internasional Las Vegas McCarran (LAS), Nevada, Amerika Serikat (AS) bermula dari sebuah laporan. Disebutkan, seorang pria mencurigakan itu tampak muncul dari arah yang tak seharusnya memunculkan seseorang selain petugas. Kuat dugaan, pria yang identitasnya tak diungkap dengan jelas itu memanjat pagar pembatas bandara.

Usai berhasil masuk ke area bandara, pria itu langsung menuju Boeing 737 Alaska Airlines yang tengah bersiap berangkat menuju Bandara Internasional Portland (PDX), Oregon, AS. Laporan Fox, sebagaimana dikutip Simple Flying, menyebutkan pria yang memakai celana olahraga berwarna khaki dan tas pinggang ini kemudian tak terbendung hingga berhasil menaiki sayap pesawat.

Sebelum berusaha memanjat winglet, terjatuh, dan ditangkap petugas, pria tersebut sempat merangkak maju mundur di sayap pesawat dan menyita perhatian penumpang. Tak sedikit dari mereka yang mendokumentasikan momen tersebut dan membagikannya ke media sosial hingga viral.

Sejauh ini, belum ada laporan pasti latar belakang pria itu melakukan aksinya. Demikian juga dengan kesehatannya mengingat ia terjatuh dari ketinggian sekitar tiga meter.

Akibat kejadian itu, penerbangan AS1367 antara Vegas dan Portland itu pun tertunda empat jam lebih. Sejatinya, pesawat dijadwalkan lepas landas pukul 12.30 waktu setempat dan di bandara tujuan sekitar pukul 14.58.

Insiden penumpang atau seseorang menaiki sayap pesawat tentu bukan kali pertama terjadi di dunia. Pada akhir Agustus lalu, seorang penumpang wanita viral di media sosial usai berjalan di atas sayap pesawat.

Baca juga: Telanjang di Kabin Pesawat, Pria Ini Diduga Trauma Pelecehan

Wanita tersebut berada di sayap pesawat setelah dirinya membuka pintu darurat dan naik ke sayap untuk menghirup udara segar tak lama setelah pesawat Boeing 737-86N milik Ukraine International Airlines (UIA) mendarat di Bandara Internasional Boryspil di Kiev, Ukraina.

Menurut laporan, wanita yang tak diketahui namanya tersebut berangkat dari Antalya Turki ke Kiev bersama anak dan suaminya. Saat itu, ketika pesawat tiba di Kiev, penumpang tak segera diizinkan keluar dari pesawat. Wanita itu berujar keras kepanasan dan ingin mencari udara segar. Kemudian dirinya membuka pintu darurat dan melenggang santai menyusuri sayap pesawat.

Pemprov Jawa Timur Minta PT INKA Ubah Gerbong Kereta Jadi Bangsal Perawatan Covid-19

Kereta api beberapa negara seperti India sudah dikonversi menjadi bangsal untuk isolasi pasien yang terinfeksi Covid-19. Hal tersebut pun kemudian diikuti oleh Indonesia yang juga mengubah kereta menjadi bangsal perawatan pasien Covid-19.

Baca juga: Selain Punya “Lifeline Express,” Indian Railways Sulap Gerbong Kereta Jadi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Ini terlihat dari postingan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di akun Twitternya. Di mana mantan Menteri Sosial ini bersama dengan Walikota Madiun bersama tim satgas Covid-19 mengunjungi PT Industri Kereta Api atau INKA untuk melihat kereta yang dikonversi menjadi bangsal perawatan tersebut.

Dalam laman Twitternya, Khofifah mengatakan, dirinya memastikan jumlah tempat tidur serta kebutuhan lainnya sebelum digunakan sebagai bangsal perawatan. KabarPenumpang.com kemudian menghubungi pihak PT INKA terkait gerbong kereta yang dikonversi tersebut.

Public Relation PT INKA Muhammad Advin menyebutkan kebenaran berita tersebut. Dia mengatakan, akan ada tiga trainset di mana satu trainsetnya memiliki delapan gerbong yang semuanya dikonversi menjadi bangsal perawatan dan menggunakan kereta bekas KRL.

“Dalam satu gerbong akan muat lima sampai sepuluh bed dan ini tergantung dengan space atau tempat yang ada. Sepuluh bed ini merupakan ranjang susun dan ranjang satuan,” ujar Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (14/12/2020).

Advin mengatakan, saat ini pihak PT INKA baru bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pembuatan gerbong kereta yang diubah menjadi bangsal perawatan. Dia menyebutkan, belum ada lagi yang memesan untuk pembuatan bangsal perawatan seperti ini.

Nantinya jika ada koordinasi dengan pihak lain seperti rumah sakit atau Pemerintah Daerah lainnya akan dibuatkan dan dikirim. Selain itu, Advin menambahkan bahwa operasionalnya akan berkoordinasi dengan PT KAI.

Baca juga: Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

“Untuk operasional kita koordinasi dengan PT KAI karena mereka yang punya jalur dan belum ada kerja sama untuk pembuatan bangsal perawatan Covid-19,” tutur Advin.

Naik Kereta di Stasiun Nakatsu Jalur Hankyu, Penumpang Jangan Kaget dengan Peron yang Super Sempit

Setiap stasiun memiliki peron atau platform tempat penumpang menunggu kereta yang akan mereka naiki. Biasanya para penumpang harus berdiri di belakang garis kuning untuk kemanan ketika menunggu kereta. Selain itu biasanya peron juga bisa menampung banyak orang.

Baca juga: JR East Gunakan Sistem Penomoran di Semua Stasiun di Tokyo

Namun bagaimana bila peron tersebut hanya bisa untuk satu orang? Di Jepang ada Stasiun Nakatsu yang letaknya di Osaka dan memiliki peron tersempit di Jepang. Meski begitu tidak ada catatan resmi yang menyatakan Stasiun Nakatsu memiliki peron tersempit di Jepang.

Hanya muat untuk berdiri satu orang, ini dia peron di Stasiun Nakatsu, Osaka (soranews24.com)

KabarPenumpang.com melansir laman japantoday.com (6/12/2020), letak stasiun ini hanya berjarak sepuluh menit dengan berjalan kaki dari Stasiun Umeda di pusat Osaka. Karena penasaran, para otaku kereta Jepang kemudian melakukan penelusuran pada stasiun ini.

Ternyata peron tersebut ada di lantai atas dan ketika menuju ke peron tiga dan empat, saat itulah terlihat jelas ukurannya. Di mana ruang tunggu yang lebih kecil dari yang bisa dibayangkan yakni peron pada umumnya.

Ketika penumpang berdiri di belakang garis kuning atau balok braille di peron dengan ukuran normal mungkin bisa banyak yang berdiri. Namun di peron Stasiun Nakatsu hanya bisa satu orang dan saat diukur jarak antara garis pada titik terlebar berukuran 38 cm.

Bisa dibayangkan bila stasiun ini penuh penumpang akan seperti apa kan? Untungnya stasiun ini tak terlalu ramai pada saat jam sibuk. Sebab, di peron ini hanya cukup untuk satu penumpang berdiri.

Meski begitu ada saja kendala yang terjadi, di mana saat harus berdiri di belakang garis kuning, di jalur sempit ini ada tempat mencuci tangan dan juga tempat sampah. Selain itu ada sandaran bangku atau penyangga belakang yang memungkinkan penumpang untuk mengistirahatkan punggung mereka sembari menunggu kereta.

Kemudian ada beberapa palang yang bahkan tidak memungkinkan penumpang untuk berdiri di antara garis. Yang mana tempat berdiri menyambung jadi satu dengan balok braille. Setelah menelusuri hingga ujung peron para otaku kembali ke tengah untuk menunggu kereta ke Stasiun Umeda di sisi peron nomor empat.

Baca juga: Terpecahkan! Misteri Platform No.3 di Stasiun Tokyo

Nah bila Anda melancong ke Negeri Sakura dan ingin melihat peron ini, jangan lupa kunjungi Stasiun Nakatsu di Jalur Hankyu dan jangan bingung dengan Stasiun Nakatsu bawah tanah di Jalur Midosuji yang memiliki peron normal.

 

 

Interceptors Berbentuk Kapal dengan Fungsi Sebagai Pembersih Sungai dari Sampah

Sampah plastik banyak sekali ditemukan di perairan baik laut maupun sungai, dan ini berdampak pada lingkungan. Salah satunya membuat biota perairan menerima dampak yang tak baik, seperti laut, ikan ada yang memakan plastik karena dikira ubur-ubur. Bahkan sampah plastik ini bisa mengarungi lautan dan terdampar di negara lain.

Baca juga: Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Karena banyaknya sampah di perairan, Ocean Cleanup kemudian melakukan pembersihan sampah plastik dari lautan dan mengubahnya menjadi produk konsumen. Ocean Cleanup merupakan organisasi nirlaba yang memiliki sejumlah kecil kapal sungai untuk menangani masalah polusi di sumbernya.


Interceptors bersihkan sungai dari sampah (newatlas.com)

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (10/12/2020), Ocean Cleanup tengah meningkatkan produksi Interceptors untuk membersihkan ribuan sungai paling berpolusi di dunia. Saat ini, organisasi nirlaba tersebut sudah memiliki tiga Interceptors yang mengambil sampah plastik di sungai Malaysia, Indonesia dan Republik Dominika.

Sedangkan Interceptors keempat sudah siap diluncurkan ke Vietnam, tetapi mengalami penundaan sehingga baru mulai beroperasi pada awal tahun depan. Cara kerja Interceptors yakni dengan ditambatkan ke dasar sungai dan menggunakan boom apung yang panjang untuk mengarahkan sampah plastik ke dalam lubang di depan dan ke ban berjalan yang memindahkan sampah ke dalam kelompok di tempat sampah.

Dengan sensor onboard, nantinya akan memberi tahu operator lokal ketika tempat sampah perlu dikosongkan, kemudian sampah plastik dialihkan ke fasilitas lokal untuk diproses. Untuk diketahui, The Ocean Cleanup telah menggunakan data dari operasi percontohan ini untuk menginformasikan desain Interceptors gelombang berikutnya, dengan peningkatan pada konveyor, pesawat ulang-alik, tempat sampah dan tongkang yang semuanya dimasukkan ke dalam desain generasi ketiga.

Kemitraan dengan Konecranes kini telah dibentuk untuk mempersiapkan perluasan global proyek Interceptor. Fasilitas MHE-Demag perusahaan di Klang, Malaysia, sudah mengerjakan pembuangan sampah sungai kelima dan keenam, dengan penyelesaian diharapkan pada Mei 2021.

Konecranes kemudian akan menangani produksi, pemasangan dan pemeliharaan kapal masa depan, dengan mitra lokal mengawasi operasi .

“Di akhir tahun yang sangat menantang, saya senang melihat produksi seri Interceptor dimulai,” kata CEO The Ocean Cleanup, Boyan Slat.

Dia mengatakan, ini adalah langkah penting bagi kami untuk mengatasi aliran global polusi plastik ke lautan dalam skala besar.

Baca juga: AmaMagna, Kemewahan Khas Kapal Sungai di Jalur Balkan

“Saya yakin Konecranes sangat cocok untuk pekerjaan itu dan kami berharap dapat melihat mereka membangun lebih banyak Interceptors di tahun-tahun mendatang. Saya bersyukur atas komitmen mereka untuk membersihkan lautan,” tambah Slat.

The Stargazer, Trijet Lockheed L-1011 TriStar yang Disulap Jadi Wahana Peluncur Satelit

Lockheed L-1011 TriStar boleh saja gagal bersinar di awal kemunculan pada dekade 70an sampai beberapa waktu lamanya. Namun, bukan berarti semuanya meredup. Memasuki tahun 90-an, pesawat trijet yang nyaris membuat Lockheed bangkrut itu pun mendadak jadi pusat perhatian setelah Orbital Sciences Corporation, sebuah perusahaan antariksa, menyulap dan menjadikannya sebagai kendaraan peluncur satelit (satellite launch vehicle atau SLV).

Baca juga: Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut

Dilansir Simple Flying, Lockheed L-1011 TriStar sebetulnya bisa dibilang bintang dari pesawat trijet. Hal itu tercermin dari berbagai teknologi canggih yang disematkan, sebagai jurang pemisah dengan pesawat trijet lainnya, terutama Douglas DC-10. Saking canggihnya, bahkan, Lockheed L-1011 TriStar disebut terlalu canggih untuk digunakan di zaman itu.

Bagaimana tidak, selain lebih efisien dan menampung penumpang lebih banyak, pesawat dengan panjang 54 meter ini juga sudah disematkan sistem avionik canggih AFCS (Avionic Flight Control system), mencakup autopilot, kontrol kecepatan, sistem kontrol penerbangan, sistem navigasi, sistem stabilitas, dan direct lift control system.

Yang paling spesial dari AFCS pesawat itu tentu sistem CAT-IIIB Autoland. Salah satu fitur penjualan utama Lockheed ini diklaim mampu mendaratkan pesawat secara otomatis, bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Teknologi yang mungkin masih cukup canggih untuk ukuran saat ini.

Meski canggih, faktanya dari target 500 penjualan pesawat hanya terjual kurang dari setengahnya. Salah satu customer terbesar ialah Air Canada, dengan total lebih dari 40 unit. Dari jumlah tersebut, satu pesawat terdaftar (diregistrasi) sebagai C-FTNJ. Awalnya, pesawat ini biasa-biasa saja, melayani penerbangan penumpang dan kargo antara 1974 dan 1992.

Northrop Grumman Stargazer sedang digrounded di Gurun Mojave. Foto: Vincenzo Pace | JFKJets.com

Ketika pesawat dirasa sudah usang dan Air Canada mulai mempertimbangkannya untuk pensiun, barulah Orbital Sciences Corporation of Mojave, California, menyelamatkannya. Pesawat kemudian diregistrasi ulang di Amerika Serikat (AS) sebagai N140SC dan diberi nama Stargazer, terinspirasi dari Star Trek.

Selain mengenakan livery baru, Lockheed L-1011 TriStar The Stargazer juga menjalani tugas baru sebagai kendaraan peluncur satelit di udara. Untuk tugas itu, pesawat pun dilengkapi dengan peralatan khusus di bawah perut. Alat tersebut memungkinkan The Stargazer membawa roket yang memuat satelit.

Menurut laman Travel Update yang dikutip Simple Flying, The Stargazer dapat mengangkut 23.000 kilogram muatan (roket) hingga di ketinggian 12.800 meter. Setelah itu, roket Pegasus diluncurkan dari udara menuju luar angkasa untuk menempatkan satelit ke orbit rendah bumi. Cara ini dinilai lebih efisien ketimbang meluncurkan roket dari darat.

Wahana peluncur roket di udara itu kemudian berganti nama menjadi Northrop Grumman Stargazer setelah Orbital Sciences Corporation diakuisisi oleh Northrop Grumman.

Baca juga: (Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Hingga Oktober 2019, tercatat Northrop Grumman Stargazer berhasil meluncurkan 44 roket di udara, dengan 39 di antaranya berjalan mulus.

Meskipun pandemi virus Corona sempat digadang bakal mematikan pesawat itu, nyatanya, pesawat tengah disimpan apik di Gurun Mojave. Tak jelas apa yang dilakukan pesawat itu di sana.

Setelah Tertunda 13 Tahun, Iran dan Afghanistan Akhirnya Terhubung dengan Jalur Kereta

Pembukaan jalur kereta pada dasarnya adalah hal yang biasa, namun menjadi spesial bagi negara-negara yang terkena pembatasan akses internasional dan embargo seperti Iran. Seperti belum lama ini, jalur kereta api yang menghubungkan kota Khaf di timur Iran dengan Herat, Afghanistan Barat baru saja selesai. Ini ditandai dengan pengiriman pertama ekspor Iran yang telah tiba di Afghanistan. Pengiriman ini juga sebagai uji coba untuk melihat ada atau tidaknya masalah di jalur kereta api tersebut.

Baca juga: Perang Siber Iran Vs Israel! Kereta Bawah Tanah Israel Jadi Korban, Iran: Ini Baru Permulaan

“Pengiriman barang pertama yang diimpor dari Iran termasuk 500 ton semen memasuki negara Afghanistan melalui kereta api Herat-Khaf,” kata seorang pejabat Provinsi Herat Afghanistan yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman caspiannews.com (5/12/2020).

Pembangunan jalur kereta api ini diketahui mulai pada April 2007 lalu dengan bantuan Iran yang mengeluarkan biaya US$75 juta dan di jadwalkan selesai dua tahun kemudian atau pada tahun 2009. Namun kenyataannya tak begitu, karena beberapa hal maka pembangunan jalur kereta api ditunda hingga tahun 2020.

Jalur kereta api ini akan diresmikan dalam beberapa hari mendatang oleh presiden kedua negara. Jalur kereta api ini juga akan menghubungkan Afghanistan dengan negara-negara di Asia maupun Eropa dengan melintasi Iran.

Tak hanya itu, jalur sepanjang 130 km dari Khaf ke Herat sangat strategis yang penting karena memberikan Afghanistan akses mudah ke Pelabuhan Iran di Chabahar dan Bandar Abbas. Menurut Otoritas Kereta Api Afghanistan, kehadiran kereta api yang melintasi jalur tersebut merupakan salah satu proyek konektivitas regional penting.

Sebab memberi negara yang tidak memiliki jalur laut seperti Afghanistan ke pelabuhan di Iran, menjadikan Afghanistan punya peluang ekspor ke Eropa dan negara-negara lain. Bahkan kehadiran jalur ini, membuat lalu lintas kargo diperkirakan sekitar dua juta ton per tahun, dengan impor termasuk minyak, bahan bangunan dan makanan dan ekspor termasuk biji-bijian, buah kering, tanaman serta barang-barang medis.

Sementara itu, pengoperasian layanan penumpang melalui jalur ini masih dipertimbangkan. Dari studi awal, jika digunakan untuk lalu lintas penumpang bisa mengangkut mencapai 321 ribu penumpang dalam setahun. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan pada 3 Desember bahwa sementara kereta api Khaf-Herat akan diresmikan dalam beberapa hari mendatang sebagai simbol kerja sama yang hebat antara kedua negara.

Ekspor Iran ke Afghanistan diproyeksikan mencapai $2,7 miliar pada Maret 2021. Teheran telah menghabiskan jutaan dolar untuk proyek pembangunan dan rekonstruksi di Afghanistan, membangun ratusan kilometer jalan raya, serta rel kereta api dan bendungan selama delapan tahun terakhir.

Baca juga: Meski dalam Tekanan Ekonomi, Iran Sukses Luncurkan Lokomotif Berbahan Bakar Ganda Pertama

Afghanistan juga sangat bergantung pada Iran untuk kebutuhan energinya. Pasokan energi Iran, termasuk listrik, sebagian besar tersedia di bagian barat Afghanistan di mana keamanan infrastruktur transfer dapat dijamin dengan baik.

CEO airBaltic: Airbus A220 Jadi Pesawat Sempurna Pasca Pandemi Corona, Gegara Hal Ini?

CEO airBaltic, Martin Gauss, meyakini bahwa Airbus A220 akan menjadi pesawat yang sempurna bagi maskapai pasca pandemi virus Corona. Dalam kasus maskapai yang dipimpinnya, efisiensi tinggi serta dimensi atau kapasitas yang tepat benar-benar telah memberikan dampak positif bagi maskapai asal Latvia itu. Karenanya, airBaltic berencana menambah 50 A220 lagi pada tahun 2025.

Baca juga: Hadapi ‘Ruwetnya’ Penerbangan 20 Tahun Mendatang, Airbus Optimis Produksi 4 Ribu Unit Seri A220

Dalam sebuah wawancara dengan Peter Harbison, CEO CAPA, baru-baru ini, Martin Gauss membeberkan sederet alasan mengapa Airbus A220 disebut jadi pilihan sempurna maskapai. Selain efisiensi bahan bakar sampai 20 persen -jauh lebih baik daripada pesawat sejenis- pesawat yang pertama kali terbang (first flight) pada 16 September 2013 lalu itu juga diperkuat dengan jangkauan menengah (sekitar tujuh jam perjalanan).

Terkait dua itu, pihak Airbus sendiri menyebut bahwa varian ini memang lebih efisien dalam hal penggunaan bahan bakar lantaran adanya perubahan perhitungan dari segi aerodinamikanya. Pun dengan bahan baku pembuatan pesawat yang lebih ringan, dan penggunaan jenis mesin baru.; termasuk juga dari segi jangkauan terbang.

Tak ayal, meskipun berstatus sebagai narrow body, secara umum, Airbus A220 dapat melakoni tugas yang sama dengan Boeing 787 Dreamliner.

Melengkapi dua itu, A220 juga dinilai jadi pilihan sempurna karena kapasitasnya yang pas untuk demand penumpang saat ini. Disebutkan A200 memiliki dua varian, A220-100 dengan kapasitas antara 108 dan 133 penumpang, serta A220-300 yang mampu menampung antara 130 dan 160 orang.

Kolaborasi efisiensi bahan bakar tinggi, jangkauan terbang menengah, serta efektivitas kursi-lah yang pada akhirnya membawa perubahan besar pada airBaltic. Maskapai memandang, di tengah pandemi seperti sekarang ini ataupun pasca pandemi nanti, penumpang cenderung akan bepergian tak terlalu jauh ke seberang benua. Sudah begitu, rata-rata dari mereka menginginkan penerbangan langsung point-to-point, bukan penerbangan transit atau sistem hub and spoke.

Dengan gambaran tersebut, mengoperasikan pesawat narrowbody dengan kemampuan setara widebody merupakan pilihan sempurna untuk mencetak keuntungan.

Baca juga: Airbus A220, Pesawat Narrow-Body yang Mampu Jabani Tugas Boeing 787 Dreamliner

“Jika Anda memiliki jumlah penumpang yang sangat, sangat tinggi, Anda lebih suka memiliki pesawat 239 kursi, karena dengan demikian biaya per kursi Anda turun. Tapi saat ini kami tidak melihatnya. Dan saya pikir cukup lama, jumlah penumpang yang sangat tinggi ini dari satu poin ke poin lainnya tidak ada, dan oleh karena itu saya lebih memilih 145 kursi. Saya sangat senang memiliki kelas bisnis dan ekonomi biaya sangat rendah digabungkan dalam satu pesawat,” jelas Martin Gauss, seperti dikutip dari Simple Flying.

Saat ini, airBaltic memiliki total 23 Airbus A220-300. Maskapai berencana mendatangkan kembali 50 pesawat twin jet yang sebelumnya dikenal sebagai Bombardier Cseries ini pada 2025 mendatang.