Kena PHK, Mantan Pilot Malindo Air Rambah Bisnis Kuliner

Seorang pilot yang bekerja selama 20 tahun di tiga maskapai dengan jam terbang lebih dari 13 ribu terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK beberapa hari lalu. Meski begitu dirinya tak berpikir pendek dan langsung mengalihkan masalah itu dengan cara yang unik untuk mendapat penghasilan baru.

Baca juga: Demi Hidup di Masa Pandemi, Pilot Thai Airways Jadi Pengemudi Ojek Online

Kapten Azrin Mohamad Zawawi adalah pilot itu dan dia mengatakan pepatah ‘Jika ada kemauan, ada jalan’. Sebab setelah dirinya di PHK, Azrin memutuskan untuk menguji keterampilan kulinernya dalam gemerlap seragam pilot putih-hitam lengkap dengan tanda pangkat empat batang di pundaknya, topi, dasi dan celemek merah.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari nst.com.my (3/11/2020), Azrin membuka warung yang bernama Kapten Corner di Boom Town Cafe di USJ 11, Subang Jaya, Malaysia. Dia mengatakan meski terpukul keras dalam mengelola keuangan di kehidupannya, dirinya memutuskan untuk menggunakan keterampilan kuliner yang dipelajari setelah meninggalkan sekolah lebih dari dua dekade lalu.

“Daripada mengeluh tentang kehilangan pekerjaan dan menghadapi penderitaan yang tidak diinginkan, saya berkonsultasi dengan keluarga saya tentang bisnis kios, yang membutuhkan investasi yang dapat dikelola. Mereka semua mendukung dan inilah saya,” kata Azrin, yang akan berulang tahun ke-44 besok,” kata Azrin.

Ia menambahkan, ibu mertuanya, Rohime Abdul Rahman, adalah juru masak utama, sedangkan ia dan istrinya Latun Noralyani Meor Aminudin melengkapi dirinya dalam menjalankan warung tersebut. Bahkan, Azrin mengaku ayahnya, Mohamad Zawawi Ahmad, yang sangat mendukung idenya untuk mengelola warung sendiri.

“Ayah saya tahu betul bahwa tidak ada yang tahu seperti apa masa depan industri penerbangan akibat Covid-19. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia pesimis tentang situasi yang segera kembali normal dan kapan saya akan mengenakan seragam pilot saya lagi. Itulah mengapa saya memutuskan untuk mengenakan seragam lengkap saya untuk menjalankan bisnis warung saya yang menyajikan makanan lezat seperti kari mee, bihun sup, laksa utara dan rujak buah,” kata Azrin.

Bahkan sebelum dia menyadarinya, media sosial sudah ramai dengan kejenakaannya. Azrin mengungkapkan bahwa kiosnya hanya bisa mengumpulkan pendapatan kotor rata-rata RM1500 setiap hari, dibandingkan dengan perkiraan pendapatan pilot bulanan RM50 ribu.

“Tapi saya yakin bisnis akan meningkat dengan publisitas media sosial. Saya sangat ingin tetap bertahan karena biaya overhead saya sekitar RM30 ribu sebulan untuk memelihara rumah, mobil, sekolah pribadi anak-anak, pengeluaran pribadi, dan hal-hal tak terduga lainnya. Ini benar-benar peringatan untuk semua orang, termasuk saya dan keluarga saya. Saya tidak pernah menyangka skenario ini. Sebelumnya, kami mengalami pandemi SARS (sindrom pernafasan akut parah) yang hanya berlangsung satu tahun. Kami mengira Covid-19 akan sama, tapi tidak demikian,” kata Azrin.

Azrin termasuk di antara 2200 awak dan staf Malindo Air yang dilayani dengan surat pengunduran diri pada 30 Oktober. Begitu pula dengan puluhan ribu pilot di seluruh dunia yang telah di-PHK atau harus menerima pemotongan gaji yang besar dan hilangnya fasilitas.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Hidup, Dua Pilot Indonesia Alih Profesi Jadi Pedagang Mie Ayam dan Kopi Keliling

Azrin memulai karir terbangnya dengan MAS pada tahun 2000 sebagai co-pilot pertama di de Havilland Twin Otter, kemudian Fokker 50, Boeing B737-400 dan B777-200. Dia kemudian pindah ke Firefly pada tahun 2012 sebagai kapten di B737NG. Pada 2015, ia bergabung dengan Lion Air dan berbasis di Jakarta, Indonesia selama tiga tahun, sebelum terbang ke Malindo Air selama lima tahun enam bulan.

“Jabatan terakhir saya di Malindo sebagai pemeriksa rating tipe untuk B737NG,” ujarnya.

Kabar Baik dari Hasil Kajian Boeing: Industri Penerbangan Butuh 763.000 Pilot

Kabar baik untuk para pilot. Belum lama ini, Boeing merilis Pilot And Technician Outlook tahunan untuk 20 tahun ke depan. Hasilnya, diperkirakan industri penerbangan global membutuhkan 763.000 pilot baru.

Baca juga: Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?

Dilansir Forbes, jumlah tersebut turun lima persen dari perkiraan tahun lalu. Hal itu tentu saja akibat pandemi virus Corona yang membuat banyak maskapai meng-grounded armada mereka. Seharunsya, grounded besar-besaran membuat jumlah kebutuhan pilot ke depan jauh lebih merosot dari sekedar turun lima persen.

Namun, dengan adanya pilot-pilot yang pensiun, ditambah proyeksi pertumbuhan armada global di masa mendatang, persentase penurunan kebutuhan pilot di masa mendatang tak terlalu anjlok ke titik terdalam.

Pada tahun 2018, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037, naik dari angka yang ada saat ini dikisaran 4,5 miliar perjalanan penumpang. Dengan begitu, kebutuhan pilot di dunia akan tetap tinggi.

Akan tetapi, menurut beberapa kalangan, outlook Boeing akan kebutuhan pilot tersebut dinilai tidak relevan dengan kondisi yang ada. Kita tahu, saat ini teknologi otomatisasi sudah begitu marak. Bahkan, Airbus, melalui pesawat A350-1000, sudah beberapa kali menguji coba lepas landas, landing, dan taxi otomatis di 2020 ini. Meski demikian, paling tidak pesawat tetap harus dijaga oleh satu orang pilot dan sebaliknya menghapus keberadaan ko-pilot.

Bila proyek tersebut, baik oleh Airbus maupun oleh pihak-pihak lainnya, terus berjalan dan mencapai perkembangan signifikan, bukan tak mungkin kebutuhan pilot di 20 tahun mendatang akan turun dratis dari yang sudah diperkirakan Boeing. Disebutkan, menghapus satu ko-pilot dari 10 persen pertumbuhan pesawat di masa mendatang, sama dengan menghilangkan sekitar 50 ribu pilot baru.

Menurut Boeing, akan ada penambahan sekitar 48.400 pesawat pada tahun 2039. Dari sini, terbayang bukan, akan ada berapa banyak posisi pilot baru yang hilang. Di samping itu, terbanyang pula bukan, kaburnya relevansi Pilot And Technician Outlook Boeing untuk 20 tahun ke depan.

Celakanya, teknologi otomatisasi juga merambah banyak sektor di industri penerbangan, tak terbatas pada penerbangan komersial saja, seperti taksi udara, drone, dan lain sebagainya. Degan begitu, posisi pilot general aviation, seperti air taxi, parachute jumping, crop dusting (menyemprot tanaman), joy flight (jalan-jalan keliling) juga ikut terancam.

Baca juga: Tahun 2038: Dunia Butuh 804 Ribu Pilot Wanita

Lagi pula, berdasarkan statistik dari Bank Swiss UBS, seorang pilot diperkirakan mengendalikan penuh pesawat jet rata-rata hanya tujuh menit pada setiap penerbangan. Mereka juga mengklaim bahwa pesawat komersial dan kargo satu pilot dapat terwujud dalam lima tahun ke depan.

Salah satu bank ternama di dunia karena tingkat keamanannya yang tinggi tersebut juga mengklaim, sistem operasi satu pilot juga akan mengarah pada peluang penghematan biaya untuk industri pesawat komersial yang lebih besar, setidaknya $15 miliar atau sekitar Rp204 triliun, yang mencakup gaji pilot tahunan, pelatihan, bahan bakar, dan asuransi. Angka tersebut sudah pasti sangat menggiurkan, mengingat maskapai pada umumnya mengejar profit sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil mungkin.

Demi Bertahan Hidup, Singapore Airlines Bisnis Program Pelatihan SDM

Singapore Airlines (SIA) dikabarkan baru saja membentuk entitas bisnis baru bernama Singapore Airlines Academy atau Akademi Singapore Airlines. Akademi SIA bertujuan untuk membuat program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi perusahaan jasa dan perhotelan untuk meningkatkan kualitas pelayanan mereka.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Meskipun menyebut bisnis program pelatihan SDM melalui Akademi Singapore Airlines lahir atas permintaan dari berbagai perusahaan dan organisasi, namun, perusahaan tak menampik bahwa pihaknya memutuskan membuka bisnis baru itu untuk mencari keuntungan tambahan, jika tak ingin disebut demi bertahan hidup.

“SIA menerima banyak permintaan dari organisasi yang ingin mengetahui bagaimana kami mencapai reputasi kami untuk layanan terdepan di industri dan keunggulan operasional, dan untuk lebih memahami bagaimana kami mencapai transformasi digital yang sukses,” kata SVP of Human Resources, Vanessa Ng said, seperti dikutip dari Simple Flying.

“Akademi Singapore Airlines juga merupakan langkah strategis untuk SIA Group, dan berpotensi menambah sumber pendapatan baru di tahun-tahun mendatang,” tambahnya.

Akademi ini memanfaatkan pengalaman puluhan tahun yang telah dikumpulkan oleh pegawai SIA. Akademi ini memungkinkan penyesuaian paket pelatihan dalam memenuhi kebutuhan setiap perusahaan dan organisasi.

Akademi Singapore Airlines sendiri membagi program pelatihan SDM ke dalam dua kategori, yakni Service Excellence Programs dan Innovation and Digital Programs. Untuk program Service Excellence, Akademi Singapore Airlines menawarkan berbagai hal sesuai posisi masing-masing SDM.

Staf frontline atau supporting staff, misalnya, ditawarkan untuk pelatihan sepanjang hari, mencakup komunikasi yang efektif, perhatian, menangani pelanggan yang keras kepala, dan lain sebagainya. Tim leadership di program Service Excellence ini juga akan membina mereka melalui berbagai evaluasi dan pengembangan strategi layanan.

Sedangkan untuk Innovation and Digital Programs, pengembangan nilai-nilai fundamental dan membuat rencana tindakan yang mendorong inovasi dalam perusahaan akan menjadi fokus utamanya. Selain itu, Akademi Singapore Airlines juga menawarkan solusi untuk masalah khusus dari masing-masing perusahaan.

Baca juga: Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Seluruh pelatihan tersebut akan dilakukan secara daring oleh para ahli Singapore Airlines di berbagai bidang. Durasi program yang ditawarkan bervariasi. Namun, Akademi Singapore Ailrines juga menawarkan program pendampingan jangka panjang untuk membantu mencapai tujuan perusahaan.

“Fokus kami pada pengembangan sumber daya manusia dan investasi dalam pelatihan telah menjadi kunci untuk mencapai standar kelas dunia ini. Dengan senang hati, kami membagikan kompetensi kami melalui penawaran program pelatihan khusus kepada berbagai organisasi eksternal. Ini juga akan memungkinkan kami untuk berkontribusi pada tujuan nasional Singapura dalam pelatihan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja negara tersebut,” pungkas Vanessa Ng said.

Dianggap Rasis Karena Bebaskan Biaya Pengiriman Pada Restoran Milik Kelompok Kulit Hitam, Uber Eats Terima 8500 Tuntutan Arbitrase

Selama musim panas, Uber Eats dituduh telah melakukan diskriminasi setelah membebaskan biaya pengiriman untuk beberapa restoran milik kaum kulit hitam. Diketahui ada 8500 tuntutan arbitrase yang diterima perusahaan ini atas kebijakan tersebut.

Baca juga: Uber Eats, Serasa Tak Percaya Diri Masuk ke Pasar Indonesia

Juru bicara Uber mengatakan, pada bulan Juni kemarin, Uber mengumumkan akan membebaskan biaya pengiriman untuk restoran independen milik kaum kulit hitam. Ini dilakukan pihak Uber sebagai insentif bagi pelanggan yang telah memesan dari restoran tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari laman foxbusiness.com (1/11/2020), kebijakan ini dilakukan sebagai cara untuk mendukung komunitas kulit hitam setelah kasus pembunuhan George Floyd. CEO Uber, Dara Khosrowshasi mengumumkan kebijakan tersebut akan diperpanjang hingga akhir tahun 2020.

Karena kebijakan ini, para pemilik restoran lain yang di mana pelanggannya masih harus membayar biaya pengiriman, merasa tidak senang dan tidak adil. Apalagi satu dari 8500 klaim menuduh Uber Eats melanggan Unruh Civil Right Act yakni undang-undang California yang melarang adanya diskriminasi berdasarkan sejumlah faktor termasuk ras.

Tuduhan ini mengarah pada pengenaan biaya pengiriman diskriminatif berdasarkan ras pemilik restoran. Juru bicara Uber, Meghan Casserly mengatakan, perusahaan bermaksud untuk melanjutkan kebijakan tersebut.

“Kami bangga mendukung bisnis milik kaum kulit hitam dengan inisiatif ini, karena kami tahu mereka secara tidak proporsional terkena dampak krisis kesehatan. Kami mendengar dengan jelas dan jelas dari konsumen bahwa ini adalah fitur yang mereka inginkan dan kami akan terus menjadikannya sebagai prioritas,” kata Casserly.

Tak hanya tuntutan terkait ras pemilik restoran, ternyata Uber juga menghadapi masalah hukum lainnya. Di mana pada bulan lalu, pengadian banding California memutuskan Uber dan Lyft dengan mengatakan mereka harus mengklarifikasi ulang pengemudi mereka sebagai karyawan di negara bagian tersebut.

Baca juga: Iklan Sebut Pengemudi UberEats Bisa Hasilkan Rp1,4 Miliar Setahun, Tapi Kenyataan Berbeda

Namun, sebelum itu berlaku, orang California akan memberikan suara pada Proposition 22, tindakan yang didukung Uber dan Lyft yang akan mempertahankan pekerja pertunjukan sebagai kontraktor independen.

Taksi Listrik dengan Tenaga Pedal, Bisa Angkut Dua Penumpang

Electric Assisted Vehicle (EAV) dari Inggris memiliki kendaraan quadcycle dengan tenaga listrik yang menarik digunakan di lingkungan perkotaan. Saat ini kendaraan tersebut masih digunakan untuk pengangkutan kargo.

Baca juga: Mulai Beroperasi Mei 2019, Inilah Tarif Taksi Listrik Blue Bird

Namun kini perusahaan tersebut mulai berkembang dan bukan menjadikan kendaraan itu sebagai pengangkut kargo tetapi menjadi taksi yang dibuat untuk mengangkut orang di sekitar kota yang padat. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (29/10/2020), EAV menggunakan platform penggerak listrik dengan bantuan pedal untuk berjalan tanpa emisi.

Sedangkan taksi yang dibuat EAV terbaru juga menggunakan pedal assist yang dibangun di atas sasis yang sama. Tetapi perbedaannya adalah untuk mengangkut penumpang hingga dua orang bukan kargo pada bagian belakangnya.

Taksi tersebut nantinya akan dilengkapi dengan suspensi penuh dan pintu samping. Sedangkan tempat duduk yang dilengkapi dengan busa akan dipasang dibagian dalam bersama dengan tampilan video untuk melacak informasi perjalanan penumpang.

Sedangkan bagasi akan berada di bawah jok dan dapat diakses oleh penumpang dari bagian belakang atau samping. Bagian dalam taksi ini juga dilengkapi pemanas atau pendingin udara untuk menjaga suhu internal ke tingkat yang nyaman.

Taksi EAV memiliki panjang 2,7 meter, tinggi 2 meter dan lebar 1 meter, sedangkan kecepatan yang dibantu pedal atas terdaftar sebagai 25 km per jam (15,5 mph). Ini sebagai kendaraan yang sangat cocok untuk perjalanan singkat di kota-kota seperti London, di mana dikatakan sekitar 200 ribu orang naik taksi individu diambil setiap hari, biasanya menempuh jarak kurang dari lima mil atau sekitar delapan kilometer dan 65 persen di antaranya hanya membawa satu penumpang.

Perusahaan yakin, Taksi EAV tidak hanya dapat mengurangi kemacetan, tetapi juga berdampak besar pada kualitas udara dan penggunaan energi, bahkan jika dibandingkan dengan mobil listrik dan truk yang jauh lebih besar dan lebih berat.

“Kami 90 persen lebih ringan daripada mobil hibrida atau listrik mana pun dan, jika kami mengganti satu Uber hibrida dengan Taksi EAV, kami akan menghemat sekitar 9,2 metrik ton emisi karbon dioksida dalam satu tahun saja. Penggunaan energi kami hanya sebagian kecil dari taksi listrik dan kami tidak memerlukan infrastruktur untuk mengisi daya baterai kami, cukup soket steker biasa,” kata Nigel Gordon-Stewart, Pimpinan Eksekutif di EAV.

Baca juga: Gunakan Taksi Listrik, Langkawi Akan Turunkan Tarif Perjalanan Penumpang, Kok Bisa?

Menurut EAV, prototipe Taksi pertama akan diproduksi pada November 2020, dengan rencana untuk memulai pengiriman pada musim semi (Belahan Bumi Utara) tahun 2021.

Deretan Maskapai Dunia yang Masih Operasikan Fokker 100, Ada Maskapai Papua

Pesawat Fokker-100 sempat mengalami masa kejayaan di era 1980-an. Namun pesawat itu kemudian hilang pamor dan tidak lagi dilirik, hingga akhirnya dihentikan produksinya pada 1990an. Pesawat yang pertama kali diproduksi pada 1986, untuk menggantikan Fokker F28 Fellowship yang ukurannya lebih kecil ini ditenagai oleh dua mesin jet Rolls-Royce RB.183 Tay.

Baca juga: Fokker F-VII – Pesawat Legendaris ‘Pelaku’ Penerbangan Perdana Reguler Amsterdam-Batavia di Tahun 1924

Menurut situs Badan Penerbangan Sipil Finlandia, Finavia, ongkos operasional Fokker-100 sangat rendah sehingga maskapai bisa mendapatkan untung bahkan jika hanya 30 persen kursi yang terisi. Itulah salah satu alasan mengapa pamor pesawat besutan Anthony Fokker ini sempat naik daun pada masanya.

Akan tetapi, sekalipun era Fokker-100 sudah sirna, hal itu tak lantas menjadikan pesawat berkapasitas 122 penumpang dalam satu kelas itu lenyap dari muka bumi. Di tengah hegemoni duopoli Airbus Boeing seperti sekarang ini, masih ada belasan maskapai di dunia yang masih mengoperasikan pesawat yang terakhir kali dilaporkan jatuh di Kazakhstan itu.

Dilansir Simple Flying, Alliance Airlines tercatat menjadi maskapai terbesar yang masih mengoperasikan twin jet dengan jarak tempuh sejauh 2.700 km ini. Maskapai charter yang berbasis di Brisbane, Queensland, Australia ini tercatat memiliki 27 pesawat Fokker 100 dengan rata-rata umur pesawat mencapai 30 tahun.

Terpaut 10 pesawat, QantasLink menjadi maskapai kedua terbesar dengan mengoperasikan sebanyak 17 armada Fokker 100. Maskapai regional Australia yang juga anak perusahaan Qantas ini mengandalkan Fokker 100 untuk menghubungkan kota-kota besar di Australia serta timur dan barat Negeri Kanguru. Maskapai yang berbasis Sydney, Australia itu bersaing ketat dengan Virgin Australia Regional yang juga mengoperasikan sebanyak 14 unit Fokker 100, dengan ceruk pasar yang hampir sama.

Menariknya, diposisi keempat terbanyak, terselip maskapai asal tanah Papua, dalam hal ini Papua Nugini, dengan mengoperasikan sebanyak 7 pesawat. Air Niugini amat mengandalkan pesawat tangguh yang hingga tahun 1990-an silam sudah diproduksi sebanyak 300 unit ini untuk rute-rute ekstrem regional mereka. Sama dengan maskapai nasional Papua Nugini itu, Iran Aseman Airlines juga mengoperasikan tujuh pesawat.

Keduanya masih sedikit lebih banyak dari beberapa maskapai lain di dunia, seperti Karun Airlines dan Qeshm Airlines masing-masing empat unit, Iran Air dan Carpatair (Romania) tiga unit, Air Panama, Avanti Air, Skippers Aviation, dan Kish Airlines dua unit, serta Crossline (Georgia), Montenegro Airlines (Montenegro), Salaam Air Express (Somalia), dan Trade Air (Kroasia) satu unit.

Baca juga: Fokker F-27 Friendship, Pesawat Transisi Garuda Indonesia Menuju Era Jet Domestik

Di Indonesia, bila berbicara soal Fokker 100, mungkin sedikit banyaknya akan teringat ke salah satu maskapai legendaris sekaligus kontroversial, Sempati Air.

Maskapai milik Tommy Soeharto, putra bungsu dari keluarga presiden ke-2 Indonesia Soeharto -yang kali itu tengah berkuasa- ini tercatat pernah mengoperasikan sebanyak tujuh Fokker 100. Sejak medio 80-an, Sempati Air amat menikmati masa-masa kejayaannya bersama pesawat tersebut, sampai krisis moneter datang dan mulai menghancurkan bisnis keluarga Cendana ini.

Mobil Terbang KleinVision dengan Desain Sayap Gawang Sukses Terbang Perdana

September lalu, mobil terbang pertama di Jepang, SkyDrive SD-03 sukses terbang perdana. Hanya saja, mobil terbang itu bisa dibilang lebih mirip drone taksi, bukan mobil sungguhan yang bisa melesat di jalanan dan terbang saat dibutuhkan. Begitu juga dengan mobil terbang besutan pabrikan lainnya. Namun, tidak demikian dengan yang satu ini.

Baca juga: Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

Dilansir New Atlas, belum lama ini, mobil terbang AirCar besutan KleinVision sukses terbang perdana. Dalam sebuah teaser resmi perusahaan, nampak sebuah mobil bergaya sport berwarna putih dengan desain sayap gawang mirip pesawat Sukhoi Su-80 Multirole meluncur ke sebuah landasan pacu.

Namun, siapa sangka, sesaat setelah AirCar berhenti, mobil mulai berubah layaknya di film-film Hollywood semisal Transformer. Bedanya, jika mobil sport Transformer berubah menjadi robot, AirCar KleinVision berubah menjadi sebuah kendaraan layaknya pesawat perintis atau pesawat komuter.

Selain mendapat tambahan berupa sayap, perubahan mode juga menjadikan mobil terbang lebih panjang dari mode normal. Hal itu tentu saja untuk mendukung aerodinamika mobil terbang saat di udara ataupun saat ingin lepas landas dan mendarat. Proses perubahannya juga tak terlalu lama, sekitar kurang dari 3 menit.

Masih dalam teaser yang sudah ditonton nyaris 2 juta orang sejak diunggah pertama kali pada 27 Oktober 2020 lalu, mobil terbang rancangan Stefan Klein, orang yang juga merancang mobil terbang Aeromobil saat dipamerkan ke gelara Top Marques Monaco pada 2017 lalu itu, kemudian perlahan meluncur dan terbang mulus seiring perputaran baling-baling tunggal yang berada di tengah kendaraan, persis di depan sayap gawang. Layaknya pesawat sungguhan, kemudi mobil terbang AirCar juga menggunakan yoke, hal itu terlihat dari tarikan kemudi oleh pilot sebelum terbang.

Saat di udara, mobil terbang berkapasitas dua orang ini diklaim aman. Sebab, bodi komposit yang membalut mobil terbang dinilai mampu menahan tekanan saat ia melaju dalam kecepatan tinggi, baik di darat maupun udara.

Meskipun AirCar dengan dua seat sudah lebih dari cukup untuk membuat publik menunggu, KleinVision menyebut bahwa pihaknya akan membuat AirCar dalam beberapa versi, seperti twin prop atau dua baling-baling dengan tiga atau empat penumpang, serta versi amfibi layaknya flying boat.

Setelah sukses terbang perdana, mobil terbang AirCar KleinVision nantinya akan mendapat sentuhan akhir untuk penyempurnaan. Setelah itu, AirCar harus melalui proses sertifikasi sebelum bisa digunakan secara luas, baik sebagai kendaraan pribadi maupun taksi terbang.

Baca juga: Inilah “Link and Fly,” Kereta Terbang Besutan Perancis! Penumpang Bakal Dijemput Kabin Berjalan

Pada proses tersebut, AirCar dinilai akan mengalami kesulitan. Bukan karena teknologinya melainkan karena berbagai faktor di luar itu, seperti persoalan meluncur (lepas landas) di tengah kota atau jalan tol, kemungkinan sayap penyok karena berbagai benturan saat parkir, serta berbagai kemungkinan lainnya.

Dengan begitu, keinginan untuk melihat mobil terbang menguasai jalan-jalan kota di seluruh dunia mungkin masih harus menunggu hingga beberapa tahun mendatang.

Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Kereta otonom berbasis 5G saat ini tengah uji sistem kontrol di jalur uji komperhensif kereta api Osong. Uji coba ini dilakukan oleh The Korea Railroad Research Institute (KRRI). Pengujian dimulai pada April dan sistem memperpendek jarak aman antara kereta dengan memungkinkan komunikasi langsung antar kendaraan.

Baca juga: DoCoMo dan JR Central Uji Coba Jaringan 5G di Kereta Shinkansen Model N700S

KabarPenumpang.com melansir dari laman railjournal.com (12/10/2020), teknologi ini akan memperhitungkan posisi kereta sebelumnya di jalur dan variabel seperti posisi kereta. Bahkan teknologi baru tersebut juga akan memperhitungkan kecepatan serta jarak pengereman untuk memungkinkan penyesuaian otomatis margin keamanan.

KRRI menggunakan sistem ini karena akan beroperasi sesuai dengan model kontrol terdistribusi yang mana setiap kereta yang melintas akan dikontrol secara otomatis melalui komunikasi langsung antar kereta dan pelaporan posisi. Bila menggunakan sistem kontrol yang ada saat ini, pengambilan keputusan akan dilakukan melalui pusat kendali dan hanya kereta itu saja.

Sedangkan KRRI mengatakan, dengan sistem 5G akan menghasilkan pengurangan yang signifikan dalam jumlah peralatan persinyalan di sisi jalan yang diperlukan dan meningkatkan kapasitas di jalur hingga 30 persen. Selain itu, menurut institut, teknologi itu dapat mengurangi dampak kesalahan manusia, mengurangi investasi fasilitas biaya dan meningkatkan pekerjaan pemeliharaan.

Teknologi 5G yang berpotensi digunakan di masa depan bisa untuk mengontrol sakelar di persimpangan. KRRI mengatakan bahwa penggunaan komunikasi 5G akan mengurangi penundaan transmisi antar kereta, sekaligus meningkatkan kapasitas dan keandalan transmisi data hingga 20 kali lipat dibandingkan dengan GSM-R.

Pengujian dua kendaraan yang dilengkapi sistem tersebut mengikuti selesainya pembangunan jalur uji pada Maret 2019. Proyek tersebut dilakukan melalui perjanjian kemitraan publik-swasta (PPP) dengan SK Telecom, yang ditandatangani pada Januari tahun ini.

“Teknologi ini dapat mengurangi kemacetan selama jam perjalanan dan memungkinkan kereta untuk beroperasi lebih efisien. Di masa depan, kereta api akan dapat memanfaatkan inovasi cerdas untuk transportasi yang nyaman, melalui konvergensi inisiatif hijau dan digital,” kata Na Hee-seung, presiden KRRI.

“Kami akan melakukan pengujian tambahan seperti teknologi pengubahan rute untuk kereta, dan menerapkan teknologi pemisahan dan penggabungan kereta, serta kontrol lanjutan dari jarak kereta dan sistem komunikasi dan kontrol kereta-ke-trek,” kata ketua tim KRRI, Mr Jeong Rak -gyo.

Baca juga: Teknologi 5G, Apakah Aman untuk Perkeretaapian Dunia?

Tes tersebut merupakan bagian dari program pengembangan kereta otonom senilai 22,1 miliar won ($US28,76 juta) yang didukung oleh Dewan Riset Sains dan Teknologi Nasional Korea dari Kementerian Sains & TIK. Proyek ini akan berjalan selama sembilan tahun antara 2016 dan 2024.

Tecnam dan Rolls-Royce Bakal Bikin Pesawat Listrik Komuter

Produsen pesawat asal Italia, Tecnam, mengumumkan bakal menggandeng Rolls-Royce untuk mengembangkan pesawat listrik komuter. Nantinya, pesawat dengan motor ganda serba listrik “P-Volt” karya keduanya itu, akan menjadi pilihan baru penumpang untuk rute-rute komuter jarak pendek dan menengah (termasuk untuk kargo), evakuasi medis, dan berbagai misi khusus.

Baca juga: Prototipe Kedua Pesawat Listrik-Hybrid Terbesar di Dunia Ampaire Electric EEL Sukses Mengudara

“TECNAM dengan bangga mengumumkan desain dan pengembangan P-Volt,” kata CEO Tecnam, Paolo Pascale Langer, seperti dikutip dari avweb.com.

“Kita semua perlu melakukan upaya kita terhadap sistem yang berkontribusi pada dekarbonisasi. Dengan menggabungkan efisiensi dan energi terbarukan ke dalam sistem propulsi futuristik, kami tidak hanya akan mengurangi biaya, tetapi juga memberikan masa depan yang lebih hijau seiring semangat terbang kami,” tambahnya.

Selain menggandeng Rolls-Royce, pengembangan P-Volt juga melibatkan perusahaan dengan reputasi tinggi lainnya di dunia penerbangan. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut masih dirahasiakan. Pun demikian target penerbangan perdana pesawat tersebut. Yang jelas, perusahaan itu datang dari Amerika Utara dan Eropa. Lebih spesifik lagi, salah satu perusahaan yang dimaksud adalah maskapai penerbangan.

Tecnam memang sangat bersemangat sekali untuk membuat pesawat listrik. Sebelumnya, masih dalam kemitraan Inggris-Italia bersama Rolls-Royce, Tecnam juga mengembangkan versi hybrid-elektrik dari Tecnam P2010, pesawat mungil berkapasitas empat kursi, dalam balutan projek High Power High Scalability Aircraft Hybrid Powertrain (H3PS).

Dewasa ini perusahaan teknologi dunia memang tengah berlomba-lomba memproduksi pesawat listrik. Bahkan, di beberapa negara inovasi teknologi terkait pengembangan pesawat listrik juga didukung dengan penerapan kebijakan mendorong penggunaan energi hijau (ramah lingkungan) pada pesawat.

Ambil contoh Norwegia. Negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah mulai melakukan kajian-kajian untuk mewujudkan pesawat listrik menguasai udara di masa mendatang. Salah satunya melalui Norway Research Association.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Norway Research Association ditugaskan oleh pemerintah Norwegia, bekerjasama dengan beberapa negara lain, untuk mempelajari teknologi baterai yang pas dan mencari tahu persepsi publik terkait pesawat listrik, dengan nilai investasi US$1,65 juta atau Rp25,3 miliar (kurs 15,370). Meskipun belum menemukan hasil yang memuaskan, namun pemerintah sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek komuter dalam negeri Norwegia wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.

Sejalan dengan pemerintah, penduduk Norwegia yang berjumlah sekitar 5,4 juta orang juga sudah menyadari betapa pentingnya penggunaan energi terbarukan di dunia penerbangan. Tak hanya itu, mereka juga mulai mengkampanyekan “flight shaming”, guna membuat orang-orang di sekeliling mereka yang masih bepergian menggunakan pesawat agar merasa malu karena telah menyumbang percepatan pemanasan global dan mendorongnya untuk beralih ke moda transportasi lain, terutama kereta.

Gegara Video Ciuman dengan Rekan Kerja Tersebar Luas, Awak Kabin Gay Menggugat China Southern Airlines

Seorang awak kabin gay ditangguhkan tugasnya oleh China Southern Airlines. Ini lantaran rekaman awak kabin tersebut yang berciuman dengan seorang rekan pria bocor di dunia maya. Hal tersebut membuat awak kabin tersebut menggugat maskapai milik Negeri Tirai Bambu itu.

Baca juga: West Coast Avanti, Kereta Spesial di Inggris dengan Awak LGBT

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (2/11/2020), awak kabin pria bernama Chai tersebut ditangguhkan tugasnya selama enam bulan dan China Souther Airlines memotong gajinya. Pengacara Chai, Zhong Xialu mengatakan, bahwa kliennya digaji hanya sepuluh persen dari total gaji yang biasa di dapatkan selama penangguhan.

Bahkan bukan hanya itu, China Southern Airlines pun menolak untuk memperbarui kontraknya yang merupakan kontrak lima tahun dan yang harusnya diperpanjang pada April kemarin. Chai yang sudah bekerja di maskapai tersebut sejak 2015 mengaku sedih kehilang pekerjaan yang dicintainnya.

“Saya tidak ingin ada orang lain seperti saya yang akan diperlakukan seperti ini. Saya pikir saya benar-benar mewakili pekerja yang sangat, sangat umum, tapi hanya orang yang kebetulan minoritas seksual. Kita tidak boleh didiskriminasi, kita tidak boleh ditindas dan menerima perlakuan tidak adil ini, itulah mengapa saya memprotes,” katanya.

Chai mengaku bahwa dirinya juga mengerti apa artinya melawan perusahaan sebesar itu untuk memperjuangkan haknya. Sebab dirinya pun tidak akan bisa melakukan pekerjaan yang dicintainya tersebut. Diketahui, video tersebut menjadi viral setelah caption yang menyertainya mengklaim bahwa awak kabin itu melecehkan seorang rekan pria yang disebutkan sebai pilot yang tengah di bawah pengaruh alkohol.

Itu dilaporkan diterbitkan ke WeChat, aplikasi perpesanan populer di Cina, oleh kolega tanpa izin Chai. Chai menuduh rekan kerja tersebut menyebabkan kerusakan pada reputasinya dan mengajukan gugatan terhadapnya awal tahun ini. Pengadilan regional memutuskan kasus tersebut pada bulan Juni untuk mendukung Chai.

Pengadilan tersebut memerintahkan terdakwa, yang oleh pengadilan disebut sebagai Yu, untuk berhenti melanggar hak Chai, meminta maaf kepada Chai dan memulihkan reputasi Chai. Individu LGBT di Cina masih menghadapi diskriminasi yang meluas dan banyak yang tidak mengungkapkan orientasi seksual mereka di tempat kerja karena khawatir hal itu dapat memengaruhi karier mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa individu, dengan bantuan dari para aktivis, telah berhasil melobi kasus mereka di pengadilan. Banyak yang melakukannya melalui kasus-kasus yang dibawa di bawah undang-undang konsumen atau ketenagakerjaan, karena Cina tidak memiliki undang-undang khusus yang melarang diskriminasi berdasarkan pada seseorang. gender atau identitas seksual.

Chai sebelumnya membawa kasus ini ke arbitrase sebagai sengketa perburuhan, tetapi pengadilan arbitrase memenangkan maskapai tersebut pada bulan Agustus. Dia kemudian memutuskan untuk membawa perselisihannya ke pengadilan. Pada hari Senin, dia muncul di pengadilan Shenzhen untuk membantah bahwa perusahaan tersebut telah melanggar undang-undang ketenagakerjaan dengan menangguhkannya tanpa bukti yang masuk akal.

“Perusahaan sebesar ini dan sikap mereka terhadap minoritas seksual benar-benar mewakili seperti apa lingkungan tempat kerja bagi minoritas seksual di China,” kata Zhong.

Ini adalah kasus kedua dalam beberapa tahun terakhir di mana para aktivis melancarkan diskriminasi di tempat kerja bagi individu LGBT di China. Pada September 2018, seorang guru prasekolah di kota pesisir Qingdao menggugat mantan majikannya setelah dia dipaksa meninggalkan pekerjaannya ketika dia tersingkir di media sosial. Dia memenangkan kasus tersebut, tetapi hanya sebagai perselisihan perburuhan.

Baca juga: Komunitas LGBTI: Pelatihan Petugas Bandara Akan Mengembalikan Hak Transgender

“China tidak memiliki undang-undang anti diskriminasi dan tidak memiliki undang-undang anti diskriminasi di tempat kerja. Jadi ketika banyak orang bertemu dengan diskriminasi di di tempat kerja, mereka pada dasarnya tidak memiliki hukum untuk diandalkan,” kata Peng Yanzi, direktur LGBT Rights Advocacy China, sebuah kelompok aktivis.