Anak-anak Ternyata Punya Arti Penting di Film “Train to Busan”

Dalam sekuel pertama yakni Train to Busan dan sekuel keduanya Peninsula, anak-anak justru memiliki arti penting dalam kedua film ini. Mungkin banyak yang bertanya kenapa anak-anak yang selamat dibandingkan orang dewasa dalam film bercerita mengenai zombie di Korea Selatan?

Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

Sebab anak-anak menjadi pelajaran berharga dimana mereka adalah masa depan umat manusia sehingga ini sangat penting. Sutradara Yeon Sang-ho mengubah film zombie modern dengan menghadirkan cerita pertamanya yakni Train to Busan, yang mana dalam suasana sesak kereta komuter dengan penumpang berbagai usia, status dan berbagai latar pekerjaan.

Bahkan mereka juga memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, namun dipaksa untuk bersatu setelah wabah virus menyebabkan penumpang terinfeksi masuk ke dalam kereta. Hingga akhirnya hanya ada dua orang yang selamat yakni seorang ibu hamil dan anak perempuan yang akhirnya menemukan kamp tentara.

Sedangkan pada Peninsula menceritakan empat tahun setelah Train to Busan dan tidak ada pemain dari sekuel pertama ini yang berlanjut ke sekuel kedua. Dalam Peninsula lebih menggambarkan akhir yang memberikan harapan di mana lebih banyak yang selamat.

KabarPenumpang.com melansir dari laman screenrant.com (2/11/2020), ada empat orang yang selamat dua anak dan dua orang dewasa yang dijemput oleh helikopter PNN ke lokasi yang tidak dijelaskan dalam film. Dalam film ini cukup menegangkan di mana orang tua lebih mementingkan keselamatan anak dibandingkan dirinya sendiri.

Yang selamat dari Peninsula adalah Jung-seok (Gang Dong-won), Min-jung (Lee) Jung-hyun), Joon-i (Lee Re), dan Yu-jin (Lee Ye-won). Sedangkan ibu dan putrinya mengalami kehilangan yang sangat dalam dari kakek tercinta mereka sebelum mereka berhasil selamat, baik Min-jung maupun Jung-seok membuktikan bahwa mereka akan mengambil risiko apa pun dan membayar harga tertinggi untuk melihat kedua gadis itu meninggalkan pulau dengan selamat. Tidak hanya itu yang diinginkan kakek, dan dengan senang hati mempertaruhkan nyawanya sendiri, tetapi itu mirip dengan bagaimana Seok- woo (Gong Yoo) mempertaruhkan nyawanya untuk putrinya, Su-an, dan bahkan meninggalkannya di tangan orang asing hanya untuk memberinya kesempatan hidup lebih lama.

Hal ini karena anak-anak, yang sering dianggap sakral dalam film horor, menyajikan pandangan di masa depan tanpa mereka, kemungkinan besar tidak ada. Film zombie telah beredar di bioskop selama beberapa waktu, dan telah jauh dari Night of the Living Dead karya George A. Romero dalam hal konten tematik.

Meski begitu, Train to Busan dan Peninsula tahu cara bermain Acara seperti AMC’s The Walking Dead telah membuktikan bahwa ancaman zombie dan pengaturan kehancuran dibuat jauh lebih sukses dengan pengenalan karakter yang benar-benar diperhatikan orang. Dan tentang. Tanpa investasi emosional itu, hanya ada sedikit alasan untuk terus menonton situasi yang sebagian besa fiksi lengkap.

Anak-anak secara inheren dapat memunculkan kerentanan penonton, ada alasan mengapa banyak film horor tidak berani membunuh off anak-anak. Yang seperti penggambaran kematian tragis Gabe di Pet Sematary, langsung ditandai dengan tingkat keparahan ekstra untuk dimasukkannya konten tersebut.

Singkatnya, menempatkan anak-anak dalam bahaya adalah salah satu cara untuk menarik perhatian audiens, seperti halnya taruhan dapat ditingkatkan dengan menempatkan anjing dalam bahaya. Film horor di mana anjing tidak mati sering kali disukai oleh beberapa penonton, tetapi mereka yang mendengarkan cenderung mengharapkan hasil terbaik, dan akan lebih memperhatikan karena investasi emosional itu.

Namun, dengan hadirnya film Train to ke Busan dan {eninsula tidak hanya membahayakan anak-anak, mereka memberi mereka kekuatan dan pahala sendiri. Su-an banyak akal, berani, pintar, dan dapat diandalkan untuk berpikir cepat. Joon-i dan Yu-jin telah mengembangkan sistem dengan mobil yang dikendalikan dari jarak jauh yang mengeluarkan suara keras dan menyalakan lampu terang untuk memikat dan mengendalikan kerumunan zombie.

Baca juga: “Peninsula,” Jadi Sekuel Kedua Train to Busan, Tayang Musim Panas 2020

Joon-i juga telah belajar keterampilan mengemudi defensif dan ofensif yang sangat baik yang menyelamatkan hidup mereka lebih dari satu kesempatan. Kemampuan inilah yang membuat mereka lebih dari sekadar titik lemah bagi pemirsa. Anak-anak mengulangi bagaimana mereka mewakili harapan dan masa depan umat manusia. Sebab tanpa mereka, budaya, warisan, dan seluruh umat manusia tidak akan ada lagi. Pelajaran tentang kemampuan manusia untuk membangun kembali tidak peduli keadaan dunia adalah inti dari penggambaran kiamat zombie modern, dan film Train to Busan dijalankan itu sempurna.

Bukan Zeppelin, Kapal Udara Pertama di Dunia Adalah Star System Airship

Pada hari ini 123 tahun yang lalu, bertepatan dengan Rabu, 3 November 1897, kapal udara Star System berhasil terbang perdana. Kapal udara rancangan insinyur Austro-Hongaria David Schwarz keturunan Yahudi, dibuat oleh Carl Berg, dan diterbangkan oleh Ernst Jägels ini diklaim merupakan kapal udara pertama di dunia. Hal itu tentu bertolak belakang dengan informasi yang sudah masyhur di dunia, dimana kapal udara pertama di dunia adalah Zeppelin besutan Count Ferdinand von Zeppelin.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Dilansir jta.org, fakta Star System Airship adalah kapal udara pertama di dunia bisa dibuktikan dengan penerbangan perdana kapal udara Zeppelin. Britannica menyebut, Zeppelin LZ 1, sebagai kapal udara pertama Zeppelin dari 131 yang diproduksi sepanjang sejarah perusahaan berdiri, pertama kali terbang pada 2 Juli 1900, sekitar 2 tahun setelah Star System Airship karya David Schwarz terbang perdana.

Perdebatan terkait kapal udara pertama di dunia yang berhasil terbang perdana nampaknya memang tak terlalu menyita ketegangan alias perdebatan alot. Sebab, catatan sejarah begitu terang benderang. Namun, lain cerita dengan perdebatan terkait hubungan antara kapal udara Star System dengan kapal udara Zeppelin.

Selama ini, kita tahu bahwa kapal udara Zeppelin dirancang oleh ‘pangeran’ Jerman, Ferdinand Adolf Heinrich August Graf von Zeppelin. Tetapi, disebutkan, “Si Tua dari Bodensee” (der Alte vom Bodensee), sapaan akrab Graf von Zeppelin, membeli paten, termasuk bangkai kapal udara Star System, melalui istri mendiang David Schwarz, Melanie.

Schwarz diketahui meninggal akibat serangan jantung lantaran kaget, senang, bercampur haru bukan kepalang setelah mendengar perkembangan pesat kapal udara rancangannya, bersama kerajaan Prusia (kerjaan terbesar di Jerman). Ia akhirnya harus meregang nyawa di Zagreb, Kroasia, pada 13 Januari 1897 saat menginjak usia 44 tahun, atau sekitar 10 bulan sebelum kapal udara Star System melahap first flight-nya.

Penerbangan perdana kapal udara Star System tak berjalan mulus. Kapal udara itu kehilangan kendali dan jatuh. Foto: Ritstaalman

Namun, Schwarz mungkin tak akan kuat juga jika pun masih hidup dan menyaksikan penerbangan perdana kapal udara rancangannya. Sebab, momen tersebut tak berjalan lancar. Diketahui, penerbangan perdana kapal udara pada tahun 1894 ini bisa dibilang gagal. Usai terbang dan mencapai ketinggian, kapal udara yang kerangkanya dibuat dari alumunium tersebut sulit dikendalikan oleh Ernst Jägels.

Keadaan memburuk ketika angin kencang datang menghantam. Hal itu diperparah dengan minimnya pengetahuan pilot uji terhadap kapal udara. Alih-alih berusaha mengendalikan kapal udara, ia justru membuang terlalu banyak gas sehingga kapal udara jatuh dengan cepat dan menghantam daratan. Meski demikian, kerangka kapal udara Star System tak terlalu hancur dan masih bisa diselamatkan.

Kerangka atau bangkai kapal udara itulah yang kemudian dibeli beserta paten atau rancangannya, dan dibangun ulang oleh Graf von Zeppelin. Dilihat dari desain secara kasat mata, antara David Schwarz Airship dengan Zeppelin LZ-1 memang memiliki kemiripan. Hanya saja, kapal udara David Schwarz lebih gemuk, berisi, dan pendek, sedangkan Zeppelin LZ-1 dibuat lebih ramping namun lebih panjang.

Baca juga: Hari Ini, 89 Tahun Lalu, Kapal Induk Terbang Pertama di Dunia USS Akron ZRS-4 Mulai Beroperasi

Pembelian paten karya David Schwarz yang terdaftar di Austria selama 30 tahun oleh Zeppelin sebetulnya tak lepas dari penolakan pemerintah Jerman. Dalam sebuah dokumen keluaran 1924, disebutkan pemerintah Jerman menolak pengajuan paten atas kapal udara Zeppelin. Tak disebutkan dengan jelas alasan penolakannya. Namun, diduga penolakan itu lantaran kapal udara Zeppelin adalah saduran dari Star System Airship.

Walau bagaimanapun, kapal udara Star System, dengan panjang 47,55 m, diameter 13,49 m, ditenagai mesin Daimler 16 tenaga kuda yang menggerakkan empat baling-baling besar ini tetap dipercaya sebagian kalangan sebagai kapal udara pertama, sekaligus gen dari kapal udara Zeppelin.

Uber Elevate Gandeng GE Aviation Guna Wujudkan Taksi Udara eVTOL Ridesharing 2023

Uber Elevate punya gagasan besar di 2023 dengan memulai layanan ridesharing taksi udara Uber Air electric vertical takeoff and landing (eVTOL) di tiga kota, Los Angeles, Dallas, dan Melbourne. Percaya hal itu takkan mudah, Uber pun menggandeng GE Aviation, perusaahan besar dengan reputasi mentereng di jagat inovasi tekonologi penerbangan, untuk menjamin keamanan program tersebut.

Baca juga: Uber dan Hyundai Siap Luncurkan Layanan Taksi Udara di 2023

Dilansir Simple Flying, di masa mendatang, Uber ingin mengubah cara orang bepergian dari pinggiran atau pusat kota dalam skala besar. Perusahaan yang berdiri pada Maret 2009 ini ingin nantinya semua orang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam jarak yang tak terlalu jauh melalui udara sehingga membuat lalu lintas padat.

Selama ini, hal itu dimungkinkan dengan helikopter. Namun, Uber Air tak seperti helikopter yang bising, cukup besar, dan menggunakan energi tak ramah lingkunagn. Taksi udara Uber Air nantinya akan ditenagai oleh listrik, sehingga lebih senyap, mulus, hemat energi, lebih berkelanjutan, dan lebih aman. Jadi, bisa dibilang, Uber Air diproyeksikan untuk menggantikan helikopter untuk penerbangan jarak pendek dalam kota dengan segala kecanggihan dan keunggulannya.

Selain itu, kemitraan dengan GE Aviation juga akan fokus dalam memonitoring eVTOL Uber Air di tengah traffic. Caranya, perusahaan akan membuat program Flight Data Monitoring (FDM). Melalui program tersebut, seluruh penerbangan akan terekam secara rutin dan ditampung secara real time di sebuah big data.

Operator, setiap waktu, akan mengidentifikasi dan mencegah terjadinya bahaya. Selama dua dekade, program ini dinilai berhasil diterapkan pada kapal induk dan penerbangan komersial di seluruh dunia.

“Dari CEO kami, Andrew Coleman, hingga manajer produk kami, ilmuwan data kami, teknisi kami, ini adalah sesuatu yang sama sekali baru, dan karenanya menciptakan perasaan baru di internal kami,” kata Bob Whetsell, direktur program keselamatan GE Aviation Digital Solutions.

“Kami seperti anak kecil di toko permen, bermain dengan sesuatu yang baru jika Anda mau dan menjadi yang terdepan dalam mengembangkan teknologi baru dan, yang terpenting, mempromosikan keamanan di pasar ini. Karena ini adalah pasar baru, ini adalah platform baru, publik yang terbang harus diyakinkan bahwa menggunakan dan terbang dengan salah satu kendaraan ini sama amannya dengan di Cessna 172 kakek Anda atau bergeser ke helikopter, mengambil tur jalan-jalan di Las Vegas,” tambahnya.

Baca juga: Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Di antara tugas-tugas yang diemban GE Aviation, memonitoring baterai jadi salah satu yang terpenting. Sebab, Uber Elevate nantinya digadang akan sangat sibuk, mengantar satu penumpang ke penumpang lainnya tanpa henti. Dengan begitu, dimungkinkan Uber Air akan kehabisan baterai saat dalam penerbangan. Bila itu terjadi, tentu sangat berbahaya.

Karenanya, GE Aviation diplot untuk membuat perangkat lunak agar sistem mengatur hanya taksi udara dengan baterai yang cukup sajalah yang akan melayani penumpang, di samping tetap memantau kapasitas baterai secara real time melalui bantuan operator.

Bercumbu dengan Reporter Cantik di Kokpit Saat Pesawat Mengudara, Pilot Ini Diskors

Seorang pilot Iraqi Airways diskors oleh otoritas penerbangan sipil Irak (ICAA). Hal itu terjadi lantaran sang pilot mengizinkan seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai reporter sebuah media di Irak, Welyan Al-Baiaty. Tak tanggung-tanggung, Al-Baiaty diizinkan masuk dan mewawancarai sang pilot di kokpit saat penerbangan berlangsung, sesuatu yang sangat jelas melanggar peraturan.

Baca juga: Berlisensi Palsu dan Terbangkan Pesawat Berbadan Lebar, Pilot ini Dipidanakan

Dilansir middleeastmonitor.com, dalam rekaman video yang viral di media sosial, captain Rafii tampak menikmati betul momen ia bercumbu dengan Al-Baiaty. Jarak antar keduanya juga cukup dekat sehingga nampak begitu intim.

Dalam wawancara tersebut, Rafii bercerita tentang bagaimana mudahnya menerbangankan pesawat. Potongan video yang diyakini diambil pada September 2020 lalu itu kemudian menunjukkan pesawat mendarat dengan mulus di malam hari, yang mengindikasikan bahwa reporter tersebut tetap bertahan di kokpit bahkan sampai pesawat landing.

Dalam sebuah pernyataan, Otoritas Penerbangan Sipil Irak mengatakan, “Departemen Keamanan Udara di bawah Otoritas Penerbangan Sipil Irak menangguhkan salah satu pilot yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan nasional Irak, setelah mengizinkan seorang pekerja media wanita memasuki kokpit saat dalam penerbangan.”

“Itu merupakan pelanggaran undang-undang penerbangan sipil untuk mencegah kasus yang membahayakan nyawa para penumpang,” bunyi pernyataan lain.

Hanya saja, tak dijelaskan dengan detail status dari pilot tersebut. Entah ditangguhkan untuk sementara waktu, lisensinya dicabut namun masih diperbolehkan mengikuti lisensi ulang, atau ditangguhkan seumur hidup alias tak lagi bisa terbang sampai akhir hayat.

Kejadian itu pun menambah daftar catatan kelam pilot-pilot Iraqi Airways. Sebelumnya, pada 2018 lalu, maskapai tersebut sempat dilarang masuk Uni Eropa karena pelanggaran fatal. Kala itu, keamanan penerbangan maskapai dipertanyakan usai pilot dan co-pilot terlibat baku hantam saat tengah dalam penerbangan yang mengangkut 160 penumpang bersama Boeing 737.

Sebagai informasi, saat dalam penerbangan, kokpit wajib dalam keadaan terkunci. Selain itu, siapapun tak diizinkan masuk bahkan pramugari sekalipun, apalagi sipil yang tak ada hubungannya dengan penerbangan. Pramugari baru diizinkan masuk apabila pilot atau co-pilot memintanya untuk standby di kokpit ketika ingin ke toilet.

Setelah itu, pintu kembali dikunci rapat-rapat tanpa ada siapapun yang boleh masuk. Jangankan masuk, antara pilot dan co-pilot juga dilarang berbincang satu sama lain di bawah aturan sterile cockpit rule.

Sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.

Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.

JR East Gunakan Sistem Penomoran di Semua Stasiun di Tokyo

Jepang sebagai salah satu negara dengan aktivitas penduduk yang sibuk dan memiliki kereta sebagai salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan. Untuk memudahkannya, pada tahun 2016 lalu, operator kereta api Jepang yakni East Japan Railways Company atau yang dikenal dengan JR East memperkenalkan sistem penomoran di semua stasiun mereka yang berada di Tokyo.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

KabarPenumpang.com melansir dari laman soranews24.com, JR East memperkenalkan sistem penomoran untuk semua stasiunnya di Tokyo mulai bulan Oktober 2016. Penomoran tersebut dalam upaya untuk memfasilitasi navigasi bagi orang asing yang bepergian di dalam ibu kota menjelang Olimpiade dan Paralimpiade yang harusnya dilangsungkan pada tahun 2020 ini.

Untuk memudahkanya, JR East memberikan sistem penomoran dengan menggabungkan kombinasi dari dua huruf alfabet yang menunjukkan jalur kereta api yang mana dan dua digit angka. Ini juga akan memiliki kode nomor stasiun dan diapit kotak warna yang sama dengan yang ada di jalur kereta.

Misalnya Stasiun Shinjuku di Jalur Yamanote akan diberi kode kode JY17. Yang mana huruf J untuk JR dan Y untuk jalur Yamanote dan 17 menjadi nomor uniknya. Ini akan diwarnai dengan hijau muda yang melambangkan warna lingkaran garis.

Tak hanya itu, JR East juga mengatakan bahwa stasiun hub di mana banyak jalur berhenti akan diberi kode dengan tiga huruf alfabet termasuk UEN dan TYO untuk Stasiun Ueno dan Tokyo. Sedangkan untuk Stasiun Akihabara akan diberi kode AKB dan Stasiun Shinjuku dengan SJK.

Untuk memperjelas dan memudahkan pelancong asing, tanda stasiun akan mencantumkan nama stasiun dalam empat bahasa yakni Jepang, Inggris, Cina dan Korea. Sistem penomoran pada stasiun telah diperkenalkan oleh Tokyo Metro yang mengoperasikan sembilan jalur dan kereta bawah tanah Toei serta jalur kereta lainnya di Tokyo.

Baca juga: Terpecahkan! Misteri Platform No.3 di Stasiun Tokyo

Untuk diketahui, JR East akan mulai memperkenalkan sistem penomoran mulai 1 Oktober 2016, ke 276 stasiun di wilayah metropolitan Tokyo. Monorel Tokyo yang menghubungkan Bandara Haneda dengan pusat Tokyo berafiliasi dengan JR East, dan akan menerapkan sistem yang sama mulai 1 Oktober.

Petugas Keamanan Sita Lokomotif yang Tewaskan Dua Ekor Gajah di India

Gajah menjadi salah satu hewan yang dilindungi di India dan termasuk hewan di dalam Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar. Bahkan karena menabrak gajah, sebuah lokomotif bisa disita.

Baca juga: (Lagi) Gajah Tewas Tertabrak Kereta Api di India

Seperti belum lama ini, sebuah lokomotif kereta api di India disita karena menjadi penyebab tewasnya dua ekor gajah. Dilansir KabarPenumpang.com dari livemint.com (22/10/2020), penyitaan ini dilakukan oleh petugas kehutanan di Assam karena menabrak induk dan anak gajah di dalam kawasan hutan Cagar Lumding.

Lokomotif itu disita dari Lapangan Kereta Api Bamunimaidan berdasarkan Undang-undang Perlindungan Satwa Liar, 1972. Dalam hal ini dikatakan penyitaan tersebut adalah pertama kalinya dilakukan oleh pihak berwenang.

Padahal Zona North-East Frontier Railway (NFR) mengatakan dalam sebuah pernyataan yang menyebutkan insiden tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurut seorang pejabat senior kereta api NF, lokomotif disita untuk penyelidikan independen oleh pejabat kehutanan.

Bahkan Perkeretaapian India telah memulai penyelidikan terhadap para mangkir. Menurut rilis resmi, satu mesin kereta api yakni lokomotif 12440 WDG4 telah disita dari kepemilikan DME Senior / Diesel / Guwahati Baru, Chandra Mohan Tiwari di Lapangan Kereta Api Bamunimaidan, gudang lokomotif diesel karena membunuh dua gajah India di Jalur Kereta Api KM pos nomor 180/9 dan 181/9 antara Patharkhula dan Stasiun Kereta Lamsakhang pada 27 September 2020 tengah malam.

Seekor gajah dan anaknya dibunuh oleh mesin kereta barang di daerah Lumding Assam pada 27 September. Sebelumnya dalam hal ini, masinis Lokomotif dan asisten masinis lokomotif telah ditangguhkan oleh Kereta Api dan penyelidikan internal telah dilakukan.

Mesin lokomotif yang disita tersebut kemudian diberikan kembali mengingat kesinambungan pelayanan esensial kepada publik. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Assam, Parimal Suklabaidya mengatakan, pihaknya tidak boleh gagal untuk mengambil sikap tegas terhadap perkeretaapian.

Dia menambahkan bahwa pembunuhan gajah di rel kereta api harus segera dihentikan. Perkeretaapian India telah mengklarifikasi bahwa mereka telah mengambil banyak tindakan untuk mencegah pembunuhan gajah saat melintasi rel kereta api.

Baca juga: Halau Gajah dari Lintasan Rel, Indian Railways Gunakan Suara Dengungan Lebah

Dikatakan bahwa pada 2019 sekitar 268 gajah dan pada tahun ini 61 gajah telah diselamatkan dengan memberlakukan pembatasan kecepatan pada kereta api saat melewati koridor gajah dan juga menerapkan ide-ide inovatif seperti ‘Plan Bee’ dan menyediakan jalur landai di lokasi yang telah diidentifikasi.

Bandara Changi Buka Laboratorium Pengujian Covid-19 Pada Q1 2021

Pandemi hingga saat ini belum berakhir, bahkan beberapa negara mulai kembali menerapkan penguncian dan pelancong dari negara lain masih belum diperbolehkan untuk menikmati liburan mereka. Karena hal ini, berbagai negara mulai mengembangkan pengujian cepat untuk mendeteksi Covid-19.

Baca juga: Indonesia dan Singapura Siapkan “Reciprocal Green Lane” untuk Mudahkan Perjalanan Bisnis dan Resmi

Salah satunya yakni lab pengujian Covid-19 di Bandara Internasional Changi Singapura yang dijadwalkan akan dibuka pada kuartal pertama tahun depan. Mereka akan menggunakan kit pengujian yang dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk hasil dari 2,5 jam menjadi 1,5 jam.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (30/10/2020), waktu untuk mendapatkan hasil lebih pendek bagi pelancong dari negara-negara yang dianggap memiliki risiko infeksi Covid-19 yang lebih rendah. Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan, ini karena pihak berwenang telah mempelajari kelayakan untuk memperkenalkan tes yang kurang sensitif tetapi lebih cepat.

Ong Ye Kung mengatakan, Bandara Changi saat ini bisa menguji sampel hingga 10 ribu per hari dengan memanfaatkan laboratorium eksternal dan dapat menggandakan kapasitas ini jika diperlukan. Ong menjelaskan mempercepat proses pengujian Covid-19 menjadi pertimbangan utama dalam mendirikan lab baru.

“Anda tidak perlu mengangkut sampel dari Changi ke lab, yang menghemat banyak waktu. Setiap menit penting dalam kaitannya dengan operasi bandara,” katanya.

Ong menyebutkan, fasilitas lab pengujian baru akan menggunakan kit uji Resolute 2.0 polymerase chain reaction (PCR) yang dikembangkan bersama oleh DSO National Laboratories dan Agency for Science, Technology and Research. Alat tes PCR adalah standar emas dalam hal akurasi untuk tes Covid-19, tetapi lebih mahal dan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk diproses daripada opsi lain seperti tes cepat antigen atau tes breathalyser.

Untuk opsi lain dalam pengujian Ong mengatakan, selama alat tersebut cukup tinggi dalam hal sensitivitas maka akan berhasil. Sebab pada titik tertentu untuk negara-negara yang lebih aman bisa jadi diuji dengan alt pernapasan.

“Sudah sangat tidak mungkin para pelancong (dari negara-negara ini terinfeksi), jadi ini hanya tindakan pencegahan tambahan,” tambahnya.

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Tetapi dia juga mengakui bahwa tes breathalyser tidak seakurat tes PCR, misalnya, dan karenanya tidak dapat diterapkan untuk semua pelancong. Ong menjelaskan terkait subsidi biaya pengujian Covid-19 bagi para pelancong untuk membantu menghidupkan kembali lalu lintas penumpang, yang mana penerbangan selalu menjadi operasi komersial bagi seseorang yang memilih untuk bepergian, saya pikir itu adil untuk membayar ujian.

Di Tengah Pandemi, COMAC C919 Unjuk Gigi Perdana di Ajang Nanchang Flight Convention

Pesawat komersial buatan Cina, COMAC C919 dilaporkan berhasil unjuk gigi dalam perhelatan Nanchang Flight Convention pada 31 Oktober hingga 1 November 2020 lalu. Ajang tersebut merupakan partisipasi air show pertama pesawat twinjet lorong tunggal ini sejak sukses terbang perdana pada 2017 silam.

Baca juga: COMAC Serius Goyang Duopoli Airbus dan Boeing, Pesanan Nyaris 1.000 Unit Jadi Sinyal Kuat

Kantor berita Xinhua, sebagaimana dikutip Simple Flying, melaporkan Nanchang Flight Convention atau Konvensi Penerbangan Nanchang 2020 digelar di Bandara Yaohu, Nanchang, Provinsi Jiangxi, Cina. Selain menampilkan aksi akrobatik, acara tersebut juga menggelar pameran produk-produk aviasi terbaru Negeri Panda dan dunia.

Sejauh ini, sekalipun masih di tengah pandemi Corona, berbagai tim aerobatik dunia serta jet-jet menengah, termasuk COMAC C919, dilaporkan ikut meramaikan gelaran tersebut. Di antaranya, Diamond, Piper, dan Leonardo. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas apa saja produk-produk yang ditampilkan dan bagaimana air show tersebut berjalan.

Yang pasti, sejak pertama kali digelar pada tahun lalu, Nanchang Flight Convention memang sudah menarik minat pengunjung, khususnya warga lokal.

Kala itu, di antara berbagai pertunjukan, terdapat sekitar 800 drone yang menampilkan permainan cahaya indah. Selama beberapa menit, drone-drone tersebut terus memanjakan mata dengan berbagai formasi membentuk pesawat berbagai jenis secara 3D, baik dari militer maupun sipil; termasuk pesawat komersial kebanggan Cina, COMAC C919.

China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) belakangan memang digadang-gadang bakal menggoyang duopoli Boeing dan Airbus dalam percaturan produsen pesawat komersial global. Hal itu setidaknya bisa tercermin dari adanya pesanan nyaris 1.000 pesawat.

Pada Juni lalu, Reuters melaporkan, COMAC dan China Express Airlines atau biasa juga dikenal sebagai Huaxia Airlines meneken perjanjian pembelian total 100 pesawat penumpang ARJ21 dan C919. Tidak disebutkan dengan jelas berapa pembagiannya.

Bahkan, media propaganda Partai Komunis Cina (PKC), Global Times, menyebut COMAC hingga saat ini telah menerima pesanan 815 pesanan untuk C919 dari 28 maskapai domestik dan asing. Tak disebutkan apakah jumlah tersebut termasuk pesanan 100 pesawat oleh China Express Airlines atau berbeda. Bila berbeda, berarti pesanan COMAC sudah mencapai hampir 1.000 pesawat.

Baca juga: Rusia-Cina Ribut, Proyek Pesawat CR929 Batal?

Wu Guanghui, wakil Kongres Rakyat Nasional (NPC) sekaligus kepala desainer pesawat mengungkap, saat ini, total enam pesawat C919 sudah memasuki fase uji terbang dan sertifikasi kelaikan terbang dari otoritas penerbangan sipil Cina sejak tahun lalu. Hasilnya, proses uji coba yang dilakukan di Shanghai, Xi’an, Dongying, dan Nanchang berjalan dengan baik. Bila proses sertifikasi yang sempat tertunda beberapa tahun ini selesai, bukan tak mungkin, jumlah pesanan pesawat akan lebih meningkat dari sekedar 1.000 pesanan.

Menariknya, bukan hanya narrowbody, pangsa pasar widebody juga ingin disusupi COMAC. Wu mengungkapkan bahwa pesawat CR929 sekarang dalam tahap desain awal. Pesawat widebody jarak jauh itu dikembangkan bersama oleh COMAC dan United Aircraft Corporation milik Rusia. Pesawat tersebut diklaim akan memiliki jangkauan terbang sejauh 12.000 kilometer dan 280 kursi dalam tiga kelas.

Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Airbus A330 Sang Penantang Boeing 767 Terbang Perdana

Pada hari ini, 28 tahun lalu, bertepatan dengan 2 November 1992, Airbus A330 sukses terbang perdana. Pesawat widebody jarak menengah hingga jauh ini menjadi pertanda akan ancaman Airbus terhadap Boeing yang lebih kuat sejak pertama kali berdiri pada 18 Desember 1970. Pesawat twin jet itu diplot untuk meraup pasar widebody, bersaing ketat dengan Boeing 767-300ER ataupun Boeing 777-200 yang sedikit lebih besar.

Baca juga: Boeing 767, Pesawat Widebody dengan Lebar ‘Terkecil’ di Dunia

Dilansir dari Airwaysmag.com, konsep pembuatan Airbus A330 muncul tatkala Airbus mulai berencana untuk meningkatkan pesawat pertamanya, Airbus A300. Peningkatan itu ditujukan agar pabrikan asal Eropa ini bisa bersaing dengan pesawat lainnya, seperti McDonnell Douglas DC-10, Lockheed L-1011 TriStar, dan tentu saja Boeing 767.

Saat itu, program pengembangan atau peningkatan A300 terbagi menjadi dua, A340 dan A330. Tak seperti kompetitornya, kedua pesawat itu mulai disematkan fitur fly-by-wire, sebuah fitur berupa sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah, tetapi hal ini tidak berarti hanya sebatas mengganti peran manual manusia dalam mengontrol arah dan pergerakkan pesawat.

Fitur canggih pada zamannya yang belakangan sudah usang dan siap digantikan teknologi fiber optic fly by light ini pun jadi senjata ampuh untuk memaksa maskapai dunia melirik dua pesawat tersebut.

Spek A330. Foto: Tangkapan layar

Pada 27 Januari 1986, Airbus pun resmi merilis A330 ke publik. Sejurus kemudian, maskapai Perancis, Air Inter, tercatat jadi maskapai pertama yang memesan pesawat yang pada 2014 lalu sudah diproduksi sebanyak 1.055 unit ini, disusul Northwest Airllines sebagai maskapai kedua atau maskapai pertama Amerika Serikat (AS) yang memesan.

Usai terbang perdana, Airbus A330-300 tercatat menjadi pesawat widebody terbesar di dunia dengan kapasitas 250 hingga 440 penumpang dalam satu kelas, sedikit di atas Boeing 767 yang hanya menampung 181-375 penumpang. Adapun dalam tiga kelas, pesawat dengan panjang 63.66 meter ini mampu mengangkut sekitar 250-290 penumpang sejauh 11,750 km. Namun, gelar pesawat widebody terbesar yang disandang A330 harus sirna usai Boeing meluncurkan triple seven atau B777.

Airbus A330 ditawarkan dalam tiga varian mesin berbeda, yakni General Electric CF6, Pratt & Whitney PW4000, dan Rolls-Royce Trent 700. Dari ketiga itu, mesin Pratt & Whitney PW4000 menjadi varian A330 yang bisa dibilang tak terlalu mulus di awal kemunculan.

Betapa tidak, saat proses sertifikasi oleh Eropa melalui Joint Aviation Authorities (JAA) dan AS melalui Federal Aviation Administration (FAA) pada 21 Oktober 1993, pesawat itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari pabrik Airbus di Toulouse. Pesawat dilaporkan jatuh saat menguji fitur autopilot dalam skenario terbang satu mesin (ETOPS). Hasil penyelidikan, pesawat jatuh lantaran human error, bukan masalah pada pesawat itu sendiri.

Baca juga: Boeing 777X Kedua Sukses Terbang Perdana

Meskipun sempat jatuh, A330-300 akhirnya berhasil meraih ETOPS-90 dan secara perlahan meningkat di varian yang lebih canggih hingga mencapai ETOPS-240 dewasa ini.

Setelah sukses dengan A330-300, Airbus kemudian meluncurkan varian yang lebih kecil, yakni A330-200 dan versi kargo A330-200F, pada 1998. A330ceo (current engine option) dan versi pengembangannya hingga yang terakhir A330-900neo (new engine option) pada tahun 2020 ini tercatat sudah ada sekitar 1.818 pesanan, dimana 1.501 di antaranya sudah berhasil dikirim ke pelanggan dan 1.432 unit sudah beroperasi secara reguler di seluruh dunia. Turkish Airlines tercatat menjadi pelanggan A330 terbesar dengan total armada sebanyak 66 unit.

Dalam Waktu Enam Menit, Baterai Mobil Listrik Terisi 90 Persen

Ketika kendaraan listrik mulai memasuki era saat ini, berbagai teknologi pendukung terus dikembangkan. Salah satunya adalah model baterai baru yang mampu mengisi daya kendaraan lebih cepat hanya dalam waktu hitungan menit.

Baca juga: BlueSG Singapura Hadirkan Stasiun Pengisian Daya untuk Mobil Listrik Lain

Dengan hadirnya baterai yang lebih cepat terisi dengan daya yang lebih baik, akan memudahkan dalam pengoperasian serta waktu yang dimiliki dalam pengisian baterai. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber nationalheraldindia.com (26/10/2020), di Korea Selatan, sebuah tim penelitian belum lama ini telah mengembangkan teknologi cara pengisian daya yang lebih cepat.

Selain itu bahan baterai yang digunakan juga lebih tahan lama dan dapat mengisi daya mobil listrik hingga 90 persen hanya dalam waktu enam menit. Pengisian daya ini bahkan lebih cepat jika dibandingkan dengan pengisian daya untuk sebuah smartphone menggunakan fast charging. Tidak seperti mobil konvensional yang menggunakan mesin pembakaran dalam, mobil listrik hanya didukung oleh baterai lithium-ion.

Sehingga performa dari baterai akan menentukan performa mobil secara keseluruhannya. Diawal kehadiran mobil listrik ini, waktu pengisian lambat dan daya yang masih lemah menjadi hambatan yang harus diatasi. Apalagi jika mengurangi ukuran partikel akan memiliki kelemahan yaitu mengurangi kepadatan energi volumetrik dari baterai.

Hal inilah yang kemudian membuat tim penelitian mengkonfirmasi bahwa jika fase perantara dalam tansisi fase terbentuk selama pengisian dan secara efisien. Sehingga daya tinggi dapat dihasilkan tanpa kehilangan kepadatan energi yang tinggi atau mengurangi ukuran partikel melalui pengisian cepat dan elektrik.

Di mana ini memungkinkan pengembangan yang cukup panjang agar baterai Li-ion yang digunakan lebih tahan lama. Salah satunya yakni menggunakan metode sintesis yang dikembangkan oleh tim peneliti.

Baca juga: Gaet Perusahaan Swiss-Swedia, Cina Siap Hadirkan Bus Listrik dengan Daya Isi Ulang Super Cepat!

Yang mana seseorang dapat menginduksi fase perantara yang bertindak sebagai penyangga struktural yang secara dramatis mampu mengurangi perubahan volume antara dua fase dalam sebuah partikel.