Semester Pertama 2020, Trafik Perjalanan Singapore Airlines Anjlok 98,9 Persen

Penurunan trafik perjalanan Singapore Airlines disebut mencapai 98,9 persen pada semester pertama tahun 2020. Hal tersebut akibat pembatasan perjalanan global yang membawa kerugian maskapai asal Negeri Singa ini sebesar S$3,4 miliar. Sedangkan pendapatan grup maskapai penerbangan turun 80,4 persen menjadi hanya S$1,6 miliar pada semester pertama tahun keuangan yang berakhir 30 September lalu.

Baca juga: Demi Bertahan Hidup, Singapore Airlines Bisnis Program Pelatihan SDM

KabarPenumpang.com merangkum airlineratings.com (7/11/2020), Singapore Airlines Group mengalami penurunan yang tajam pada penumpangnya saat pembatasan perjalanan internasional. Meski begitu, sebagian diimbangi oleh pendapatan kargo yang lebih kuat yang naik sebesar S$274 juta, atau 28,3 persen karena banyak negara-negara berusaha memulihkan rantai pasokan global.

Maskapai tersebut mengatakan bahwa pihaknya menanggapi permintaan dengan memaksimalkan pemanfaatan jasa kargo. Sementara pendapatan turun hingga 80,4 persen, belanja kelompok hanya turun 55,8 persen menjadi S$3,4 miliar.

Akibatnya, Grup ini mengalami kerugian operasional sebesar S$1,8 miliar untuk semester pertama, pembalikan S$2,2 miliar dari laba operasi sebesar S$413 juta tahun lalu. Untuk paruh pertama, grup melaporkan kerugian bersih sebesar S$3,4 miliar yang terutama didorong oleh penurunan kinerja operasi, serta beberapa item non tunai seperti penurunan S$1,3 miliar pada nilai tercatat pesawat generasi tua.

Selain itu 26 pesawat dianggap surplus untuk persyaratan armada setelah menyelesaikan tinjauan jaringan jangka panjang, keduanya ditunjukkan dalam Business Update yang dikeluarkan pada Juli 2020. Pesawat tersebut terdiri dari tujuh A380, empat 777-200 atau 200ER, empat 777-300, sembilan A320 dan dua A319.

Singapore Airlines Group telah mengumumkan pengurangan sekitar 4.300 posisi kerja di tiga maskapai penerbangan mereka. Langkah-langkah juga diambil untuk mengurangi jumlah staf yang akan terkena dampak pembebasan paksa, termasuk pemotongan gaji, pembekuan perekrutan, lowongan terbuka yang tidak diisi, skema pensiun dini dan skema pembebasan sukarela untuk staf.

Langkah-langkah ini mengurangi jumlah staf yang terkena dampak latihan rasionalisasi tenaga kerja menjadi sekitar 2000 orang. Singapore Airlines mengatakan telah menyelesaikan negosiasi dengan Airbus tentang jadwal pengiriman pesawat yang direvisi dengan menggabungkan penangguhan untuk sebagian pesawat yang dipesan.

Negosiasi dengan Boeing tentang pesawat yang saat ini dipesan berada pada tahap lanjutan termasuk 26 pesawat yang dianggap surplus.

Antara akhir Juni dan akhir September, Singapore Airlines meningkatkan tujuan penerbangan, dari 24 menjadi 30, SilkAir dari tiga menjadi lima, dan Scoot dari enam menjadi 16. Akibatnya, jaringan penumpang Grup telah meningkat dari 32 tujuan pada bulan Juni menjadi 43 tujuan, termasuk Singapura, pada akhir September.

Jaringan kargo Grup melayani 61 kota pada 30 September, naik dari 26 kota pada 1 April. Dalam beberapa bulan mendatang, Singapore Airlines dan SilkAir akan mengaktifkan kembali layanan penumpang ke Brunei, Dhaka, Fukuoka, Johannesburg, Kathmandu, Male dan Penang. Scoot juga akan melanjutkan layanan ke Melbourne.

Baca juga: Penerbangan Terpanjang di Dunia Singapore Airlines Beroperasi Lagi, Malah Bakal Lebih Panjang

Singapore Airlines juga telah mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan layanan tiga kali seminggu dari Singapura ke Bandara Internasional John F.Kennedy di New York mulai 9 November, menyediakan koneksi non-stop ke Pantai Timur AS dan mendukung lalu lintas kargo dan penumpang di rute tersebut. Namun, sisi positifnya sejak awal tahun finansial, Grup telah berhasil meningkatkan likuiditasnya sekitar S$11,3 miliar, melalui rights issue, memperoleh pembiayaan untuk pesawat A350-900 dan 787-10 serta pembiayaan tanpa jaminan.

Rel Paksa (Gongsol), Menjamin Lintasan Kereta Aman di Tikungan Tajam

Rel kereta dengan kontur berbelok tentu tak bisa dihindari, apalagi dalam kondisi geografis pegunungan seperti di Indonesia. Bukan sekedar berbelok biasa, namun tak jarang dijumpai belokan atau tikungan tajam pada rel kereta. Nah, rupanya untuk menjamin keselamatan operasional kereta pada tikungan tajam, diperlukan tools khusus.

Baca juga: Ternyata Ada Beragam Jenis Bantalan Rel, Indonesia Pakai Yang Mana?

Tools yang dimaksud adalah rel paksa, dan apa sih rel paksa itu? KabarPenumpang.com mengutip dari berbagai laman sumber, rel paksa juga sering dikenal dengan sebagtan rel gongsol. Ini merupakan rel tambahan yang dipasang pada lintasan rel dengan tikungan tajam dan memiliki jari-jari (radius) yang kecil atau kurang dari 250 meter.

Rel gongsol sendiri ternyata memiliki beberapa fungsi yakni untuk menjaga agar roda kereta api tidak terselip ketika melintas di tikungan tajam. Selain itu juga untuk mengurang tingkat keausan rel luar yang disebabkan oleh gaya sentrifugal kertika kereta api melintasi di jalur lengkungan rel.

Uniknya saat kereta api melintasi lengkung rel yang dilengkapi dengan rel gongsol, roda kereta akan bergesekan dengan rel gongsol sehingga mengeluarkan suara yang khas. Di Indonesia rel gongsol ini banyak ditemui di lintasan yang berkontur pegunungan, salah satunya seperti di Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Yang mana di Daop 2 ini memiliki banyak tikungan tajam dan tanjakan yang terjal. Selain di tikungan tajam dan tanjakan, rel gongsol juga bisa ditemui di lintasan datar yang memiliki jari-jari lengkung yang sangat kecil seperti di balloon loop di Dipo Lokomotif Sidotopo dan segitiga pembalik di dekat Stasiun Banyuwangi Baru.

Untuk diketahui, pemasangan rel gongsol diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No.24/2015 dengan ketentuan seperti dipasang pada lengkung horizontal kurang dari 250 meter. Kemudian lengkungan horizontal jalan rel berada pada kelandaian yang cukup tinggi atau di atas timbunan tinggi sehinga dianggap cukup berbahaya serta akan menyebabkan kerusakan serius bila terjadi anjlokan pada kereta.

Baca juga: Bunyi Lonceng Kereta di Perlintasan Sebidang, Antara Manfaat dan Penebar Polusi Suara

Terakhir adalah dipasang secara tetap dengan jarak 65 mm terhadap rel utama ditambah besarnya pelebaran jalan rel dan sepanjang 1,5 meter dari kedua ujung melebar secara bertahap sampai dengan 180 mm pada bagian terujung.

Rail Anchor, Komponen Penting untuk Cegah Pemuaian Pada Rel Kereta

Saat naik kereta api, cobalah perhatikan rel secara lebih detail, ya rel adalah batangan berbahan besi baja yang disusun secara paralel dengan jarak konstan antara dua sisi. Kemudian batang beji ini dikaitkan dengan bantalan yang disusun secara melintang untuk menjaga agar rel tidak bergeser atau renggang.

Baca juga: Ternyata Ada Beragam Jenis Bantalan Rel, Indonesia Pakai Yang Mana?

Nah untuk membangun trek (jalur rel) ternyata ada beberapa komponen yang mempengaruhi kualitas rel kereta api itu sendiri. Salah satunya adalah rail anchor. Ini apa ya? KabarPenumpang.com mencoba menelusuri rail anchor ini di berbagai laman sumber. Rail anchor atau anti creep digunakan pada rel yang disambung secara CWR atau Continuous Welded Rails. Fungsinya untuk menahan gerakan pemuaian batang pada rel karena pada sambungan CWR. Biasanya rail anchor dipasang di bawah permukaan batang rel, tepatnya disamping bantalan.

Rail anchor ini tidak dipasang pada rel yang ditambat dengan penambat elastis. Sebab fungsinya sudah sama seperti penambat elastis yakni mencegah gerakan pemuaian batang rel. Sehingga rail anchor akan dipasang bersama dengan penambat kaku pada bantalan kayu atau besi. Rail anchor ini dibuat dengan konstruksi satu bagian dari baja pegas.

Tak hanya itu, rail anchor juga dibuat untuk berat rel tertentu dan lebar alas yang bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu rail anchor drive on dan rail anchor tipe pegas. Cara kerja rail anchor adalah harus berada pada sisi pengukur alas rel terhadap permukaan pengikat yang sama pada rel yang berlawanan.

Baca juga: Di Bangladesh, Baut Rel Kereta Diganti dengan Batang Bambu dan Pisang

Rail anchor juga harus menahan alas rel dengan erat dan kuat serta memiliki bantalan penuh pada permukaan pengikat rel. Ini juga tidak boleh digerakkan dengan mendorongnya di sepanjang rel sehingga ikatan rel harus dijaga tetap lurus saat rail anchor dipasang.

“Clear of Bus Check,” Sistem Untuk Memeriksa Keselamatan Anak di Dalam Bus Sekolah

Banyak anak-anak yang sering tertinggal di dalam bus ketika mereka tanpa pendampingan. Hal ini kemudian membuat Transportme menghadirkan sebuah inisiatif baru yakni Clear of Bus Check. Ini merupakan sistem pemeriksaan keselamatan yang diluncurkan di 50 bus sekolah di Jalur Bus Warrnambool Victoria, Queensland, Australia.

Baca juga: Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus

KabarPenumpang.com melansir busnews.com.au, tujuan Transportme membuat sistem ini untuk mengatasi anomali abadi yang kerap terjadi, di mana anak-anak sering tertinggal di dalam bus. Bahkan awal tahun ini, di Queensland seorang balita meninggal karena terperangkap dalam minibus yang panas.

Karena takut terulang kembali peristiwa semacam ini, Transportme mempercepat teknologi Clear of Bus Check dan bekerja sama dengan Warrnambool Bus Lines dan Isanet. Mereka mengatakan, teknologi ini sangat mudah digunakan untuk operasional di dalam bus.

“Apa yang harus kami pastikan dan lihat saat mengembangkan Pemeriksaan Bebas Bus ini adalah kesalahan pengemudi dan rasa puas diri. Kami perlu memastikan bahwa jika pengemudi tidak menyelesaikan pemeriksaan ini dengan cara yang seharusnya yakni rantai komando diberitahukan dan dapat memperbaiki situasi,” kata direktur pelaksana Transportme Tooth.

Dia mengatakan, pihaknya tidak bisa menjelaskan secara rinci tentang bagaimana bisa mencapai hal ini karena keduanya cukup intens dan juga terkait dengan masalah IP. Tooth menyebutkan bahwa Isanet telah memberi mereka beberapa perangkat keras khusus penggunaan untuk memastikan pengembangan dapat terpenuhi.

Menurut Transportme, teknologi Clear of Bus Check akan memastikan pengemudi harus berjalan ke belakang untuk menyelesaikan pemeriksaan mereka di dalam bus. Tooth menambahkan, sistem akan memastikan manajemen dan pengemudi diberi tahu jika pemeriksaan harus diselesaikan.

Dia menyebutkan, pada dasarnya, ini menggunakan generator kode pin yang ditautkan di bagian belakang bus untuk memastikan pengemudi berjalan ke belakang, melihatnya dan memasukkan pin ke antarmuka di area pengemudi. Kode tersebut cukup kecil sehingga mereka harus cukup dekat untuk membacanya.

“Kami telah mendengar cerita tentang pengemudi yang menekan tombol di bagian belakang bus dengan sapu dan itulah jenis masalah yang kami tahu harus kami hadapi, oleh karena itu kami menghabiskan berjam-jam bekerja dengan Isanet tentang logika sistem, dan apa yang bisa terjadi jika seorang pengemudi melakukan X atau Y,” jelasnya.

“Pada akhirnya, kami sekarang memiliki sistem komprehensif yang akan memastikan pengemudi menyelesaikan pemeriksaan mereka dan akan secara drastis mengurangi kemungkinan anak atau penumpang tertinggal di dalam bus. Namun yang sama pentingnya, manajemen sepenuhnya menyadari bahwa pemeriksaan tersebut telah atau belum selesai,” tambahnya.

Tooth mengatakan, jika bisa menghindari tragedi seperti tewasnya balita di Queensland, maka ini adalah hal yang baik. Dia menyebutkan, pihaknya mendorong semua operator untuk melihat lbih dekat pada sistem mereka dan juga tahu bahwa pengemudi seratus persen melakukan pemeriksaan itu.

Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

“Ini adalah sesuatu yang harus mereka yakini, karena tidak ada yang ingin melihat terulangnya apa yang terjadi di Queensland,” kata Tooth.

KLM Cityhopper Jadi Maskapai Pertama Integrasikan Virtual Flight Deck dalam Pelatihan Pilot

Maskapai regional Eropa KLM Cityhopper, anak perusahaan dari maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi, KLM, mengumumkan minggu lalu bahwa pihaknya saat ini meluncurkan sistem virtual reality (VR) yang dikembangkan oleh tim pakar perusahaan untuk melatih pilot di pesawat Embraer 175 dan 190.

Baca juga: Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan

Dalam sebuah rilis, KLM mengatakan bahwa Cityhopper, “Adalah maskapai penerbangan pertama yang mengintegrasikan VR kedalam pelatihan pilotnya untuk pesawat Embraer. Tujuannya, perusahaan ingin mengukur kemampuan VR dalam upaya merespon kebutuhan pelatihan pilot yang di masa pandemi Corona seperti sekarang ini cenderung berbeda dan dengan cara yang lebih fleksibel.

“VR membuat pelatihan lebih mudah diakses. Ini sesuai permintaan dan tidak tergantung pada tempat. Pilot tidak harus berada di ruang kelas atau simulator pada waktu tertentu. Terlebih lagi, hal itu memungkinkan mereka untuk mengeksplore, sesuatu yang dapat mereka lakukan dengan aman di dunia virtual,” kata Sebastian Gerkens, Instruktur Senior Embraer di KLM Cityhopper, seperti dikutip dari flyingmag.com.

Lebih lanjut ia berujar bahwa “VR memungkinkan pilot untuk membiasakan diri dengan kokpit lebih awal, sehingga mereka dapat menggunakan waktu saat tes di simulator dengan lebih efektif.” Perusahaan yakin penggunaan VR juga akan menghemat biaya karena membuat jadwal pelatihan pilot lebih fleksibel dan mengurangi jumlah supplier eksternal.

Pelatihan VR untuk Embraer 175 dan 190 ini dikembangkan oleh pakar VR KLM bekerja sama dengan KLM Cityhopper. Modul pelatihan virtual flight deck maskapai terdiri dari tiga aplikasi yang semuanya adalah bagian dari Type Rating Course.

Modul kokpit virtual menempatkan pilot ke dalam kokpit melalui gambar panel kontrol interaktif yang dihasilkan komputer. Pilot juga menonton video 360 derajat POV dari sebuah penerbangan seolah-olah mereka sedang duduk di jump seat kokpit. Terakhir, ada panduan virtual melalui dan di sekitar pesawat, yang terdiri dari foto statis 360 derajat.

Werner Soeteman, manajer VR Centre Of Excellence di KLM IT mengatakan, “Untuk menghasilkan video dan foto 360 derajat, salah satu teknisi VR kami duduk di kokpit mengoperasikan kamera 360 derajat yang canggih selama penerbangan (VR). Perancang VR ini tidak tahu sama sekali tentang cara kerja Embraer, meskipun mereka telah belajar banyak.”

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Di masa pandemi, dimana pesawat banyak digrounded, pilot memang harus tetap ‘terbang’ untuk mempertahankan kemampuan mereka. “Pilot harus sering latihan dan meng-upgrade skill untuk dapat terus terbang,” kata Brian Strutton, salah seorang anggota British Airline Pilots Association (BALPA) yang menaungi seluruh pilot di Inggris, seperti dikutip dari CNN Internasional.

Celakanya, mengikuti kebijakan pembatasan atau karantina wilayah, banyak fasilitas simulator tutup. Oleh karenanya, Karlene Petitt, seorang pilot Boeing 777 mengatakan bahwa di masa pandemi ini, pilot tak punya pilihan lain kecuali terus mengupgrade skill mereka. Bila tidak, pilot bisa saja lupa atau kehilangan ‘sentuhan’ mereka ketika mulai kembali mengudara. Ia pun berbagi opsi bahwa pilot bisa mempertahankan skill dengan platform online.

Lima Inovasi ini Bikin Kereta Masa Depan Lebih Cepat dan Aman

Proyek pengembangan transportasi umum dengan teknologi terbaru terus berlanjut hingga saat ini. Di hampir semua belahan dunia bahkan mulai membuat pembaruan pada jaringan kereta api cepat mereka seperti kereta maglev di Cina dan Jepang serta Hyperloop yang belum terbukti buatan dari Elon Musk dan Richard Branson.

Baca juga: Tahun 2026, Rusia Akan Punya Kereta dengan Kecepatan 400 Km Per Jam

Meski terlihat lambat dalam pembangunannya untu merencanakan membangun jalur dan kendaraan baru, tetapi ada beberapa inovasi teknis yang jika diterapkan dapat membuat kereta masa depan lebih cepat dan aman. KabarPenumpang.com merangkum dari theconversation.com (19/10/2020), berikut lima inovasi teknis terbaru itu.

1. Sakelar mekatronika
Kegagalan sakelar hampir 20 persen dari total penundaan yang dialami oleh penumpang di perkeretaapian Inggris. Hal ini terjadi jika ada masalah dengan mekanisme yang memungkinkan kereta api berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain di persimpangan. Terlepas dari frekuensi masalah, teknologi yang digunakan dalam mekanisme ini hampir tidak berubah sejak desain pertama hampir 200 tahun yang lalu.

Meski begitu, proyek penelitian kolaboratif telah mengeksplorasi teknologi alternatif yang radikal seperti, satu desain inovatif yang disebut Repoint memiliki tiga motor independen yang dapat mengangkat dan menggeser rel, mengandalkan gravitasi untuk menguncinya kembali dan menyediakan redundansi jika satu atau dua motor rusak.

Ini kontras dengan sakelar ada yang menggeser rel ke samping dan dapat macet di tengah jalan, sehingga memiliki lapisan sensor dan protokol tambahan yang mahal untuk mengurangi risiko. Sakelar “mekatronika” generasi berikutnya bertujuan untuk bekerja lebih cepat, meningkatkan kemudahan perawatan, dan mengurangi risiko kegagalan melalui motor cadangannya.

2. Suspensi aktif
Sistem suspensi konvensional membatasi kecepatan kereta saat melaju di jalur melengkung, membatasi jumlah kereta yang dapat Anda jalankan di suatu rute. Sistem ini pada dasarnya bekerja seperti pegas besar, secara otomatis mengubah jarak antara roda dan gerbong saat kereta berjalan di atas tanah yang tidak rata untuk membuat perjalanan terasa lebih mulus.

Sistem suspensi aktif sekarang sedang dikembangkan dengan memperkenalkan sensor, aktuator dan pengontrol baru untuk mengubah jarak antara roda dan kereta secara lebih tepat. Sehingga menawarkan kenyamanan berkendara yang lebih baik dan memungkinkan kereta melewati tikungan melingkar dengan kecepatan dan stabilitas yang lebih baik dan dapat dikombinasikan dengan sistem untuk secara aktif memiringkan kereta saat membelok di tikungan, menawarkan peningkatan manfaat.

3. Mengemudi secara aktif
Pada rangkaian konvensional, kedua roda saling bertautan dan dihubungkan dengan poros tetap, mencegah rotasi relatif di antara keduanya. Saat kereta memasuki tikungan atau rute divergen di persimpangan, kereta harus melambat untuk memastikan roda diarahkan ke trek untuk mencegah getaran roda yang tidak diinginkan. Peneliti perkeretaapian sekarang mengembangkan roda yang berputar secara independen untuk memasukkan mekanisme penggerak terpisah yang dapat membantu mengarahkan rangkaian roda pada rute yang melengkung.

4. Pantograf aktif
Kereta listrik berkecepatan tinggi perlu menjaga kontak yang baik dengan kabel listrik melalui pantograf yang ada di atas kendaraan. Di jalur utama Inggris, ketinggian pantograf biasanya bervariasi sekitar dua meter untuk mengamankan sambungan di berbagai area seperti di terowongan, penyeberangan datar dan jembatan.

Para peneliti mulai mengembangkan pantograf aktif yang tingginya dan getaran yang diinduksi terlibat dalam transfer daya yang dikendalikan oleh aktuator. Pantograf aktif ini dapat meningkatkan gaya kontak dan menghilangkan masalah kehilangan kontak karena perubahan cepat pada ketinggian saluran udara dan gangguan lingkungan lainnya (seperti angin).

5. Kopling virtual
Jumlah kereta yang dapat berjalan pada suatu rute sebagian bergantung pada sistem persinyalan. Kebanyakan perkeretaapian menggunakan sistem blok tetap, yang membagi rel menjadi beberapa bagian, yang mana hanya satu kereta dalam satu waktu yang dapat berada di setiap bagian sehingga harus ada jarak yang signifikan antar kereta.

Tetapi beberapa perkeretaapian sekarang mulai menggunakan sistem persinyalan blok bergerak, dengan menentukan jarak yang diperlukan antar kereta berdasarkan jarak yang dibutuhkan untuk berhenti dalam keadaan darurat. Namun celah ini dapat dikurangi lebih jauh jika didasarkan pada informasi waktu nyata tentang apa yang dilakukan kereta di depan dan di mana kereta akan berhenti jika menginjak rem.

Baca juga: Inilah Sepuluh Kereta Cepat di Dunia

Ini dikenal sebagai “penggandengan virtual” dan melibatkan dua kereta api yang mengkomunikasikan informasi tentang perubahan kecepatan dan aktivitas pengereman sehingga mereka dapat mengurangi atau meningkatkan jarak di antara mereka seminimal mungkin. Dengan jarak yang lebih pendek di antara mereka, lebih banyak kereta dapat berjalan dengan aman pada suatu rute, meningkatkan kapasitas jaringan secara keseluruhan.

Pandemi Covid-19 Bikin Pelajaran Berharga Bagi Bandara dalam Ketahanan Operasional dan Finansial

Tahun 2020 menjadi sangat sulit untuk dunia penerbangan dan pariwisata, pasalnya Covid-19 memiliki efek yang menghancurkan bisnis perjalanan udara. Yang kemudian membuat bandara dan maskapai penerbangan mendapat beberapa pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri kedepannya jika ada hal tak terduga seperti ini kembali terjadi.

Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa Sulit

Selain itu juga mengajarkan untuk beradaptasi dengan cepat dan fleksibel terhadap perubahan yang tiba-tiba dan tidak dapat diubah. Keduanya ini dapat diringkas dalam satu konsep yakni ketahanan. Dirangkum KabarPenumpang.com dari passengerterminaltoday.com (4/11/2020), sejak awal, perjalanan udara telah menjadi industri yang tidak stabil.

Di mana pada awal dekade penerbangan sipil ketika teknologi dan model bisnis maskapai masih bermula di mana kedelakaan pesawat dan kebangkrutan menjadi hal biasa. Kemudian pada abad ke-20, industri ini semakin matang yang mana menghadapi banyak tantangan atas ulah manusia seperti terorisme dan deregulasi, yang keduanya secara mendasar mengubah cara kami merancang dan mengoperasikan bandara.

Sebaliknya, sejak 11 September 2001, sebagian besar gangguan berasal dari alam, kemudian letusan gunung berapi pada tahun 2010 menutup wilayah udara Eropa selama berminggu-minggu. Peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim yang semakin sering terjadi dan semakin merusak berpotensi melumpuhkan bandara dengan sedikit peringatan dini.

Krisis kesehatan masyarakat, seperti wabah SARS tahun 2003, dapat sangat merugikan seluruh jaringan transportasi global. Melihat ke belakang, SARS ternyata merupakan pratinjau diam-diam dari epidemi, ekonomi dan tantangan operasional yang saling terkait yang dihadapi bandara saat ini.

Tetapi pada pandemi Covid-19 telah menunjukkan pentingnya ketahanan. Ini juga menyoroti kesenjangan yang dalam antara pemain industri yang dapat beradaptasi dan mereka yang tidak. Bandara yang kurang berhasil menanggapi krisis dengan menyangkal hal itu terjadi, melanjutkan bisnis seperti biasa meski menjadi sangat jelas bahwa itu bukanlah pilihan.

Sebaliknya, bandara yang sukses menyadari bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi, dan mereka perlu beradaptasi dengan cepat untuk bertahan hidup. Sementara virus menyerang seluruh industri saat ini, beberapa bandara bekerja jauh lebih baik daripada yang lain. Itu karena mereka membuat rencana darurat dan mentalitas tempat kerja yang menempatkan ketahanan di depan dan di tengah.

Dalam ketahanan operasional ini mengacu pada kemampuan bandara untuk mempertahankan operasi setelah kejadian tak terduga. Hal tersebut bergantung pada dua jenis fleksibilitas yakni perangkat keras fleksibel. Di mana fleksibilitas yang dibangun ke dalam infrastruktur fisik bandara dan perangkat lunak fleksibel, yaitu kemampuan untuk dengan cepat menyesuaikan prosedur operasional saat terjadi gangguan.

Sebelum virus Corona, banyak bandara tidak memperhitungkan pandemi kesehatan sebagai risiko potensial, atau mereka menganggapnya sangat mustahil. Akibatnya, sebagian besar bandara tidak memiliki rencana permainan operasional ketika Covid melanda. Mereka berjuang dengan persyaratan jarak sosial, yang membatasi kapasitas antrian dan membatasi penjualan dari konsesi pada waktu yang paling buruk.

Beberapa dipersiapkan untuk logistik yang terlibat dalam pemasangan fasilitas pengujian Covid di tempat dan bandara lain beralih ke mode panik, memasang teknologi tanpa sentuh yang sangat mahal tanpa menganalisis bagaimana hal itu akan memengaruhi operasi atau keuntungan finansial mereka.

Itu menjadi ide yang bagus, tapi itu tidak bagus. Sebaliknya, bandara yang berhasil akan menyiapkan rencana darurat yang menekankan fleksibilitas operasional berfokus pada kemungkinan hasil, daripada kemungkinan penyebab, gangguan di masa depan.

Pada ketahanan finansial Covid-19 adalah krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Di mana dengan memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial, dapat melindungi diri dari virus. Jauh lebih sulit untuk melindungi diri dari kejatuhan finansial Covid. Pengangguran dan setengah pengangguran meroket tahun ini, serta lebih banyak orang akan kehilangan pekerjaan di bulan-bulan mendatang.

Bandara dan maskapai penerbangan menghadapi pertanyaan sulit dari pemegang saham, regulator, dan pemberi pinjaman. Beberapa secara terbuka skeptis tentang kemampuan jangka panjang industri untuk bertahan hidup. Ketahanan finansial bandara mengacu pada kemampuannya untuk terus menghasilkan pendapatan dalam menghadapi gangguan ekonomi, dan untuk mengumpulkan cadangan uang tunai yang dibutuhkan untuk melihat organisasi melalui siklus yang tidak menguntungkan. T

Sayangnya, pandemi mengungkapkan bahwa banyak bandara tidak memiliki pijakan finansial yang kuat untuk mempertahankan arus kas selama periode ketidakpastian yang berkepanjangan. Bandara yang sangat bergantung pada satu sumber pendapatan misalnya, biaya penumpang dan maskapai yang berasal dari satu maskapai penerbangan bernasib jauh lebih buruk tahun ini dibandingkan dengan bandara yang memiliki portofolio sumber pendapatan yang luas.

Itu karena bandara yang berhasil mencapai keseimbangan antara pendapatan terkait penumpang dan pendapatan non-penumpang. Seperti namanya, sumber pendapatan terkait penumpang seperti biaya fasilitas orang, parkir, sewa mobil, dan ritel perjalanan bergantung pada pertumbuhan pelancong udara. Ketika penumpang menghilang, pendapatan itu juga hilang. Sebaliknya, sumber pendapatan non-penumpang seperti kargo dan real estat kebal terhadap perubahan mendadak dalam jumlah penumpang. Ketika para pelancong menguap, mereka terus menghasilkan pendapatan untuk bandara.

Baca juga: Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Sehingga bisa dikatakan, ketahanan operasional dan finansial sama-sama penting untuk menjamin kemampuan bandara dalam menghadapi periode penuh tekanan yang tak terduga. Tetapi ketahanan bandara juga bergantung pada pelatihan tenaga kerja yang baik, dan pada kemampuan memelihara hubungan yang harmonis dengan mitra utama di sektor publik dan swasta.

Sebelas Cagar Budaya Akan Dilintasi MRT Jakarta Fase 2

Ketika Jakarta mulai pembangunan fase 2 Mass Rapid Transit atau MRT dari Bundaran Hotel Indonesia menuju ke Kota, banyak sekali melintasi kawasan cagar budaya. Nah ada berapa banyak sebenarnya cagar budaya yang dilintasi dan di mana saja letaknya?

Baca juga: Daerah Cagar Budaya di Sepanjang Jalur Fase 2, Jadi Tantangan Tersendiri Bagi MRT Jakarta

Saat ini yang baru di publikasi adalah Tugu Jam Thamrin dan Kawasan Monumen Nasional atau Monas. Ternyata selain dua itu ada lagi yang mulai dipublikasi oleh PT MRT Jakarta. Hal ini dikatakan Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim.

Silvia mengatakan bahwa MRT fase 2 akan melewati sebelas bangunan cagar budaya sehingga dalam pembangunan ini sangat hati-hati agar tetap menjaga kelestarian cagar budaya.

“Kesebelas cagar budaya tersebut adalah Tugu Jam Thamrin, Air Mancur Thamrin, Bank Indonesia, kawasan Monumen Nasional dan Monas, Museum Nasional, Istana Presiden RI, Menara BTN, Gedung Arsip Nasional, Museum Bank Mandiri, Gedung Candra Naya, serta Stasiun Jakarta Kota,” sebut Silvia yang dikutip KabarPenumpang.com dari beritasatu.com (5/11/2020).

Dia menjelaskan, saat ini pihaknya sudah melakukan investigasi terhadap cagar budaya yang dilewati konstruksi MRT Jakarta fase 2. Mereka juga melakukan konsultasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya dan Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI.

Selain itu MRT Jakarta juga membentuk tim terpadu untuk investigasi cagar budaya tersebut yang terdiri dari kontraktor, PT MRT Jakarta, Pemprov DKI Jakarta, pakar serta ahli cagar budaya. Silvia mengatakan, tim tersebut akan memberikan saran, masukan, analisis, investigasi, rekomendasi dan langkah selanjutnya jika pembangunan konstruksi MRT fase 2 ditemukan adanya cagar budaya sehingga tetap menjaga kelestarian cagar budaya.

“Proses pelestarian cagar budaya dalam pembangunan MRT fase 2 melalui beberapa tahapan yakni ekskavasi oleh kontraktor pelaksana MRT, ditemukan obyek yang diduga cagar budaya, dilakukan analisis oleh Tim Pengawas Arkeolog dengan melakukan identifikasi, klasifikasi, dan penilaian, rekomendasi penentu oleh Tim Ahli Cagar Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, melakukan modifikasi atau pelestarian dan penyimpanan cagar budaya serta melanjutkan konstruksi,” ungkapnya.

Dia memberikan contoh seperti temuan arkeologi Monas, antara lain struktur batu bata di Monas, fragmen keramik, dan fragmen piring. Itu akan dianalisis Tim Pengawas Arkeolog, lalu ada rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya untuk dilestarikan sehingga konstruksi MRT dilanjutkan.

Baca juga: Gagal Beberapa Kali Tender, Proyek MRT Jakarta Fase 2 Digarap Siapa?

Pembangunan MRT Jakarta Fase 2 ini terdiri dari fase 2A dan fase 2B. Fase 2A memiliki panjang lintasan kurang lebih 5,8 km sepanjang koridor Bundaran HI hingga Kota dan melewati tujuh stasiun, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Tipe konstruksi fase 2A adalah bawah tanah.

Sementara fase 2B memiliki panjang lintasan enam kilometer sepanjang koridor Kota hingga Ancol dan melewati dua stasiun, yakni Mangga Dua dan Ancol serta satu depo yang mana tipe konstruksinya adalah layang.

Etihad Kirim A380 ke ‘Kuburan’ Pesawat di Perancis

Setelah sejak Mei lalu menimbang-nimbang, Etihad Airways akhirnya mengirim Airbus A380 pertama ke ‘kuburan’ pesawat di Tarbes, Perancis. Pesawat itu disebut bakal digrounded dalam waktu lama, sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Baca juga: Transformasi Bisnis, Etihad Airways Pertimbangkan Pensiunkan A380 dan A350 Secara Permanen

Selain itu, pengiriman A380 Etihad ke kuburan pesawat Eropa itu juga didasari oleh transformasi bisnis maskapai. Transformasi bisnis yang dimaksud, Etihad berencana untuk mempensiunkan pesawat komersial terbesar di dunia itu secara permanen. Saat ini, Etihad diketahui mengoperasikan 10 A380.

Dilansir Simple Flying, pesawat yang dikirim ke Perancis tersebut adalah pesawat A380 pertama yang dikirim ke Etihad. Pesawat dengan nomor registrasi A6-APA itu terpantau di FlightRadar24 lepas landas dari Abu Dhabi, Uni Emirate Arab, pada 10.46 dan tiba pada pukul 14.30 atau sekitar enam jam 44 menit, melahap jarak sekitar 5.362 km.

Bila disandingkan dengan rencana besar perusahaan, ditambah adanya pandemi virus Corona, rasanya, tinggal menunggu waktu untuk melihat Airbus A380 Etihad lainnya yang dikirim ke kuburan pesawat di Perancis.

Terlebih, dalam sebuah podcast lansiran bulan lalu, CEO group Etihad, Tony Douglas, mengatakan bahwa pihaknya tak sabar menanti momen untuk mendepak A380 dari barisan armada mereka.

“Kami sangat sedih melihat 380 kami digrounded. Pertanyaannya, apakah mereka akan terbang lagi, terus terang saja, menurut saya sudah tidak ada peluang lagi. Saya pikir, A380 sangat tidak efisien dengan empat mesinnya, dan pesawat lain dapat melakukan pekerjaan itu jauh lebih efisien, jauh lebih ramah lingkungan dan menguntungkan,” jelasnya.

Keputusan membuang A380 dari barisan armada Etihad sudah pasti menimbulkan pro kontra bagi pelanggan setia. Sebab, Etihad Airways selama ini banyak diburu penumpang untuk merasakan sensasi terbang di First Class Apartment atau The Residence Etihad yang khusus tersedia di pesawat A380.

Bila kelas tertinggi tersebut dihilangkan, kemungkinan kecil mereka akan beralih ke first class di pesawat lain. Sebaliknya, menurut sebagian pengamat, besar kemungkinan mereka akan beralih ke layanan dan pesawat serupa milik maskapai lain.

Baca juga: Mengapa Airbus A380 Justru Tak Diminati Saat Industri Penerbangan Tumbuh Cepat? Ini Jawabannya

Akan tetapi, pendapat yang menyebut bahwa pelanggan setia A380 Etihad akan beralih ke A380 maskapai lain mungkin harus dikaji ulang. Sebab, bukan Etihad saja yang bakal membuang perlahan A380. Emirates, misalnya, saingan terberat Etihad dari Timur Tengah untuk menjadi yang terbaik di dunia, dikabarkan sejak pekan lalu mulai mengirim armada A380 mereka ke kuburan pesawat di Tarbes. Begitu pula dengan maskapai nasional Jerman, Lufthansa.

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya ketangguhan pesawat-pesawat twinjet untuk menyamai kemampuan A380 dengan efisiensi berlebih, pelan tapi pasti, maskapai lain yang mengoperasikan A380 besar kemungkinan juga akan menyisihkan pesawat itu dari barisan armada mereka.

Jelang Antar Habib Rizieq Shihab Pulang ke Indonesia, Saudia Digugat Rp6,5 Triliun

Saudi Arabian Airlines (Saudia) belum lama ini digugat oleh lessor, Alif Segregated Portfolio Company, sebesar US$460 juta atau sekitar Rp6,5 triliun (kurs 14.261). Gugatan itu didasari oleh tudingan bahwa Saudia telah melanggar perjanjian sewa atas 50 pesawat Airbus miliknya.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Selain dituduh telah melanggar perjanjian sewa, gugatan yang diajukan ke Pengadilan Tinggi London juga didasari oleh berbagai tuduhan lainnya, seperti melanggar pembayaran dan perjanjian maintenance, serta berbagai biaya lainnya.

Gugatan atas 50 pesawat Airbus itu bermula saat lessor Alif Segregated Portfolio Company sepakat mengucurkan dana sebesar US$8,2 miliar atau sekitar Rp116 triliun untuk membeli berbagai pesawat, dengan rincian 30 Airbus A320neos dan 20 Airbus A330-300 kepada Airbus. Pesawat-pesawat yang dibeli melalui entitas bisnis lain, Alif International Airfinance Corporation (IAFC) tersebut kemudian disewakan ke Saudia.

Berdasarkan dokumen perjanjian sewa yang dimiliki IAFC, Alif Segregated Portfolio Company, sebagai induk IAFC mengklaim bahwa maskapai yang belakangan banyak disebut-sebut di Indonesia lantaran akan menerbangkan pesawat yang ditumpangi Habib Rizieq Shihab (HRS) ini, telah gagal membayar sewa dasar pesawat setelah beberapa kali berusaha untuk menunda kewajiban pembayaran.

Tak hanya itu, Alif juga mengklaim bahwa maskapai nasional dari Arab Saudi itu juga terlibat dalam pergantian mesin secara ilegal, tanpa sepengetahuan Alif sebagai lessor atau pemilik pesawat.

“Kami saat ini sedang berdiskusi dengan lessor untuk menyelesaikan perbedaan kontrak, dan kami percaya bahwa akal sehat pada akhirnya akan menang,” kata juru bicara Saudia kepada Reuters, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Hanya saja, sekalipun gugatan tersebut telah diajukan, pihak lessor mengaku proses hukum belum berjalan. Meski demikian, seharusnya, saat gugatan sudah dilayangkan, lessor sudah berhak untuk melarang maskapai untuk menerbangkan pesawat atau notice of default and grounding. Kasus ini agaknya mirip seperti gugatan Goshawak Aviation Ltd ke Lion Air.

September akhir lalu, maskapai dengan market share terbesar di Indonesia ini juga digugat leasing pesawat, Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London. Gugatan dimaksudkan untuk menagih biaya sewa tujuh unit pesawat Boeing 737 senilai €10 juta atau setara Rp189 miliar (kurs Rp17.270) yang dilanggar oleh Lion Air.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

Perjanjian sewa tujuh pesawat Boeing 737 dilakukan secara terpisah dalam rentang tahun 2015 hingga 2020. Saat perjanjian, Lion Air membayar deposit setara 5,5 juta euro.

Goshwaks dan delapan perusahaan terafiliasi mengaku Lion Air memiliki tunggakan pembayaran berkisar USD1,76 juta – 2,5 juta euro per perusahaan. Para penggugat berharap bisa memenangkan gugatan dan memperoleh kompensasi akibat kontrak yang dilanggar oleh Lion Air sekitar 10 juta euro.